Anda di halaman 1dari 30

2.

2 Mastikasi
2.2.1 Definisi Mastikasi
Pengunyahan (Mastikasi) adalah suatu proses penghancuran partikel makanan di dalam
mulut dengan bantuan dari saliva untuk mengubah ukuran dan konsistensi makanan yang pada
akhirnya akan membentuk bolus sehingga mudah untuk ditelan. Proses penghancuran makanan
tersebut dilakukan oleh gigi-geligi dibantu dengan otot-otot mastikasi dan pergerakan dari
kondilus melalui artikulasi temporomandibula.

2.2.2 Organ-Organ Mastikasi


Proses pengunyahan terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap membuka mandibula, tahap
menutup mandibula dan tahap berkontaknya gigi antagonis satusama lain atau kontak antara gigi
dengan bolus makanan, dimana setiap tahap mengunyah berakhir 0,5-1,2 detik. Organ-organ
dalam proses mastikasi juga terbagi menjadi organ aktif dan organ pasif. Organ aktif mastikasi
antara lain otot-otot pengunyahan (m. pterygoideus lateralis, m. pterygoideus medialis, m.
masseter, m. digastricus, m. buccinator, m. temporalis) dan otot-otot tambahan (lidah, palatum,
pipi dan bibir).

2.2.2.1 Organ-organ Aktif Mastikasi


Selama proses pengunyahan otot yang berperan aktif dalam gerakan membuka mandibula
adalah m. pterygoideus lateralis, pada saat membuka mandibula tersebut m. pterygoideus
lateralis berkontraksi sedangkan m. pterygoideus medialis, m. masseter dan m. temporalis berada
dalam keadaan relaksasi. Begitu pula pada gerakan menutup mandibula terjadi berkebalikan dari
proses membuka mandibula yaitu m. masseter, m. temporalis dan m. pterygoideus medialis

berkontraksi sedangkan m. pterygoideus lateralis dalam keadaan relaksasi. Sementara mandibula


tertutup perlahan, m. temporalis dan m. masseter juga berkontraksi untuk membantu gigi-geligi
saling berkontak pada oklusi normal.

2.2.2.1.1 M. Pterygoideus Lateralis


Caput Superior Origo

: Facies infratemporalis dan Crista infratemporalis ala magna ossis


sphenoidalis

Caput Inferior Origo

: Facies lateral lamina lateralis proc pterigoideus

Insersio

: Sebagian capsula dan discus articularis proc articularis


mandibula,dan sebagian fovea pterygoideus dari colum mandibula

Fungsi

: Otot utama untuk gerakan membuka mulut.

Inervasi

: N. V (Trigeminus)

2.2.2.1.2 M. Digastricus
Venter posterior

: dari fossa digastrica ke os hyoid

Venter anterior

: dari os hyoid ke incisura mastoidea

Intermediate tendon

: terikat pada cornu majus os hyoid oleh jaringan apeneurotica

Fungsi

: membantu gerakan membuka mulut

2.2.2.1.3 M. Buccinator
Origo

: pterygomandibular raphae, tepi alveolar maxilla dan mandibula

Insersio

: beberapa serabut mencampurkan dan menyediakan origo untuk orbicularis


oris dan beberapa serabut bercampur dalam bibir atas dan bawah

Fungsi

: mastikasi menjaga bolus diantara pipi dan gigi, membantu memaksa


mengeluarkan udara atau menciptakan aksi penghisapan

Inervasi

: facial (cabang buccal)

2.2.2.1.4 M. Pterygoideus Medialis


Caput Superficial Origo : Lamina lateralis proc pterigoideus facies medialis dan proc
pyramidalis ossis palatini
Caput Profundus [lebih besar] Origo : Proc pyramidalis ossis palatini dan tuber maxilla
Insersio : Tuberositas pterygoidea pada bagian dalam angulus mandibula
Fungsi: Otot utama untuk gerakan menutup mulut
Inervasi: N. V (Trigeminus)

2.2.2.1.5 M. Temporalis
Origo

: Fossa temporalis, caudal dari linea temporalis inferior dan fascia temporalis

lapisan yang profundus


Insersio : Processus coronoideus dan tepi ventral ramus mandibula
Fungsi : membantu gerakan menutup mulut
Inervasi : N. V (Trigeminus),N. auriculotemporalis
2.2.2.1.6 M. Masseter
Lapisan Superficial [lebih besar] Origo : Processus zygomaticus ossis maxillae,2/3 ventral
dari

tepi

caudal

arcus

zygomaticus

Insersio :Tuberositas maseterica


Lapisan Profundus Origo : 1/3 dorsal dari tepi caudal arcus zygomaticus,permukaan dalam
arcus zygomaticus
Insersio :1/2 cranial ramus mandibula dan processus muskularis

Fungsi: membantu gerakan menutup mulut


Inervasi: N. V (Trigeminus)

2.2.2.2 Organ Aktif Mastikasi: Otot-otot Tambahan


Selain Otot-otot pengunyahan, terdapat beberapa otot-otot tambahan yang merupakan
organ aktif mastikasi diantaranya adalah lidah, palatum, pipi dan bibir.

2.2.2.2.1 Lidah
Lidah ikut berperan serta pula pada proses pengunyahan karena lidah berfungsi
membawa makanan diantara permukaan oklusi gigi-geligi, membuang objek seperti biji, benda
asing, fragmen tulang, dan substansi yang tidak enak rasanya serta berfungsi untuk membawa
massa makanan yang sudah dikunyah ke palatum sebelum akhirnya ditelan.
Selain itu lidah juga berperan penting dalam mempertahankan kebersihan mulut yaitu
untuk menghilangkan debris makanan pada gingiva, vestibulum dan dasar mulut.
Otot-otot lidah terdiri dari 2 yaitu:
1. Otot-otot intrinsik lidah
a) Muskulus genioglossus: menarik lidah ke depan dan menjulurkan ujung lidah ke sisi
yang berlawanan. Bila kedua otot berkontraksi bersama, lidah akan menjulur
bersama. Otot ini juga mendepresi lidah
b) Muskulus styloglossus: menarik lidah ke atas dan ke belakang
c) Muskulus palatoglossus: menarik radix linguae ke atas dan ke belakang
d) Muskulus hyoglossus: untuk depresi lidah
2. Otot-otot ekstrinsik lidah

Otot-otot ekstrinsik lidah terdiri dari muskulus vertikal, musculus transversal, dan
muskulus longitudinal superior dan inferior.

2.2.2.2.2 Palatum
Palatum memiliki beberapa peranan dalam proses mastikasi diantaranya adalah
bersama lidah menumbuk makanan dan membedakan makanan yang keras dan yang halus.

2.2.2.2.3 Pipi dan Bibir


Pipi dan Bibir juga berperan penting dalam membantu proses mastikasi dengan cara
berikut, vestibulum berfungsi untuk menampung makanan dan bibir berfungsi sebagai alat
sensoris (temperatur, taktil) dan alat mekanis (membantu memasukan makanan kedalam mulut)
Otot-otot bibir dan pipi yang berperan dalam proses penelanan:
1. Otot spincter bibir
Adalah orbicularis oris yang membentuk sebagian jaringan pada bibir. Memiliki
koneksi yang luas terhadap muskulus-muskulus yang terdapat dalam rongga mulut.
Origo dan insersio : Serat-serat berjalan melingkari orificium oris di dalam substansi
bibir. Beberapa serat berawal di tengah garis maxilla dan berjalan serong ke membran
mukosa permukaan dalam bibir. Umumnya serat-serat ini berasal dari muskulus
buccinator.
Fungsi : Merapatkan bibir
2. Otot dilator bibir
a) M.levator labii superior

b) M.zygomaticus mayor dan minor


c) M.levator anguli oris
d) M.risorius
e) M.depressor anguli oris
f) M.depressor labii inferior
g) M.mentalis
3. Otot pipi
M. buccinator berada di maksila dan mandibula pada daerah molar dan masuk ke
dalam muskulus-muskulus di dekitar sudut mulut. Membentuk sebagian besar dinding
lateral pipi. Menyimpan makanan di dalam rongga mulut pada saat proses mastikasi.

2.2.2.3 Organ Pasif Mastikasi


Organ-organ yang termasuk dalam organ pasif mastikasi adalah gigi geligi,
temporomandibular joint serta mandibula.

2.2.2.3.1 Gigi Geligi


Peranan dari gigi-geligi pada proses pengunyahan juga sangat berpengaruh.Susunan
gigi-geligi yag lengkap pada oklusi sangat penting karena menghasilkan proses pencernaan
makanan yang baik, dimana dengan penghancuran makanan oleh gigi-geligi sebelum penelanan
akan membantu pemeliharaan kesehatan gigi yangbaik. Oklusi yang baik dan penggantian gigi
yang hilang dengan gigi tiruan akan menjaga estetis dan kesehatan rongga mulut. Dikatakan juga
oleh Larsen (1957) bahwa dengan mengunyah dan memberikan latihan untuk otot-otot dalam
mempertahankan fungsi dan kesehatan jaringan periodontal.

Tonjol gigi pada arkus dentalis superior dan inferior terletak pada posisi oklusi yang
normal, dimana hal ini akan menghasilkan kontak yang maksimal antara tonjol dan fossa serta
interkusipidasi maksimal. Oklusi umunya bervariasi anatara individu satu dengan yang lainnya,
sehingga ada beberapa individu yang benar-benar mempunyai oklusi ideal. Oklusi ideal dimana terdapat
hubungan yang tepat dari gigi-gigi molar pertama tetap pada bidang sagital. Selama proses
pengunyahan gigi-geligi cenderung kembali ke posisi istirahat, dimana pada posisi ini semua otot
yang mengontrol posisi mandibula berada dalam keadaan istirahat, disebut free way space dan
dalam upaya mencapai keadaan tersebut gigi-geligi akan memberikan efek mekanis yang maksimal
terhadap bahan makanan.

2.2.2.3.2 Temporomandibular Joint


Selain organ yang telah disebutkan diatas, sendi temporomadibula juga berperan
penting dalam proses pengunyahan. Selama gerakan mandibula, kondilus mandibula melakukan
gerakan memutar dan meluncur, hal ini mengakibatkan mandibula membuka dan menutup.
Pergerakan kondilus terjadi pada saat kondilus bergerak ke bawah dan ke atas sepanjang
eminansia artikularis dari tulang temporal. Kondilus dan tulang temporal dipisahkan oleh rongga
persendian dan meniskus, dimana meniskus terbagi atas rongga bagian atas dan bawah.

2.2.2.3.3 Mandibula
Pergerakan

dari

pembukaan

mandibula

diikuti

oleh

peluncuran

dari

processus kondilaris dan meniskus ke depan dan ke belakang sepanjang tuberkulum artikularis di
dalam fossa mandibula bersama dengan pergerakan serat. Pergerakan dari memajukan mandibula

terjadi karena tertariknya kondilus dan meniskus ke depan sepanjang tuberkulum artikularis.
Pergerakan dari memundurkan mandibula oleh serat-serat posterior dari muskulus temporalis
yang menarik kondilus dan meniskus ke belakang dan ke atas sepanjang tuberkulum artikularis,
muskulus masseter mempertahankan kontak gigi-geligi. Pergerakan mandibula ke samping oleh
aktivitas muskulus pterygoideus medialis dan muskulus pterygoideus lateralis pada satu sisi,
dimana processus kondilaris dan diskus artikularis akan terdorong ke depan dan ke eminansia
artikularis.

2.2.3 Mekanisme Mastikasi


Beberapa fungsi dari mastikasi adalah:
a. Membuat bolus makanan mudah untuk ditelah
b. Meningkatkan pencernaan makanan dengan memperkecil ukuran partikel untuk
meningkatkan area permukaan dalam aktivitas enzim dan menstimulasi sekresi enzim
pencernaan (saliva dan enzim lambung)
c. Mencampur makanan dengan saliva, mengawali pencernaan dengan aktivitas amilase
salive
d. Mencegah iritasi oleh sistem gastrointestinal dengan massa makanan yang besar
e. Memastikan pertumbuhan dan perkembangan yang sehat dari jaringan mulut.
Gigi sudah dirancang dengan sangat tepat untuk mengunyah, gigi anterior (insisivus)
menyediakan kerja memotong yang kuat dan gigi posterior (molar), kerja menggiling. Semua
otot rahang bawah yang bekerja bersama-sama dapat mengatupkan gigi dengan kekuatan sebesar
55 poind pada incisivus dan 200 pound pada molar.
Pada umumnya otot-otot pengunyah dipersarafi oleh cabang motorik dari saraf kranial
kelima, dan proses mengunyah dikontrol oleh nukleus dalam batang otak. Perangsangan daerah
retikularis spesifik pada pusat pengecapan batang otak akan menimbulkan pergerakan

mengunyah yang ritmis. Demikian pula, perangsangan area di hipotalamus, amigdala, dan
bahkan di korteks serebri dekat area sensoris untuk pengecapan dan penghidu seringkali dapat
menimbulkan gerakan mengunyah.
Kebanyakan proses mengunyah disebabkan oleh suatu refleks mengunyah, yang dapat
dijelaskan sebagai berikut:
Adanya bolus makanan di dalam mulut pada awalnya menimbulkan penghambat refleks
otot untuk mengunyah, yang menyebabkan rahang bawah turun ke bawah. Penurunan ini
kemudian menimbulkan refleks regang pada otot-otot rahang bawah yang menimbulkan
kontraksi rebound. Keadaan ini secara otomatis mengangkat rahang bawah yang menimbulkan
pengatupan gigi, tetapi juga menekan bolus melawan dinding mulut, yang menghambat otot
rahang bawah sekali lagi, menyebabkan rahang bawah turun dan kembali rebound pada saat yang
lain, dan ini terjadi berulang-ulang.
Mengunyah bersifat penting untuk pencernaan semua makanan, tetapi terutama sekali
untuk sebagian besar buah dan sayur-sayuran mentah karena zat-zat ini mempunyai membran
selulosa yang tidak mudah dicerna. Membran ini melingkupi bagian-bagian zat nutrisi sehingga
harus diuraikan sebelum makanan dapat dicerna. Selain itu, mengunyah akan membantu
pencernaan makanan untuk alasan sederhana berikut: Enzim-enzim pencernaan hanya bekerja
pada permukaan partikel makanan; karena itu, kecepatan pencernaan seluruhnya bergantung
pada total area permukaan yang terpapar dengan sekresi pencernaan. Selain itu, menggiling
makanan hingga menjadi partikel-partikel dengan konsistensi sangat halus akan mencegah
ekskoriasi traktus gastrointestinal dan meningkatkan kemudahan pengosongan makanan dari
lambung ke dalam usus halus, kemudian ke semua segmen usus berikutnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mastikasi:

a. Temporomandibular Joint
TMJ pada manusia menyebabkan terjadinya 3 tipe perpindahan:
1. Pembukaan dan penutupan sendi di sekitar sumbu horizontal imajiner di kondilus
mandibula. Perpindahan ini berguna saat menggigit makanan.
2. Gerak protrusi mandibula. Pergerakan terjadi pada tahap awal mastikasi dan
memungkinkan terjadinya sliding action, atau translasi dari kondilus mandibula
pada posterior slope dari articular eminence os temporal.
3. Gerakan lateral atau sideways movement. Terjadi saat makanan dikunyah di antara
gigi posterior dan saat aksi penggilingan makanan.
b. Peran Lidah
Beberapa fungsi lidah dalam proses mastikasi
1. Menghancurkan makanan halus melawan palatum keras
2. Mencampur makanan dengan saliva dan mentransfer makanan dari satu sisi ke sisi
lainnya, menyeleksi permukaan oklusi yang tepat dan menjamin semua bagian
makanan terkunyah dengan baik.
3. Akhiran sensorik pada permukaan dorsal dapat membedakan antara bagian
makanan yang siap untuk ditelan dan bagian yang masih membutuhkan proses
mastikasi lebih jauh.
4. Fungsi higienis, yaitu dengan memindahkan residu makanan dari gigi-gigi dan
vestibulum oral dengan sweeping action.
c. Peran Palatum Keras
Karena kekasarannya, palatum akan mencegah pergeseran dan perpindahan yang salah pada
makanan, palatum keras merupakan permukaan ideal untuk menghancurkan makanan lunak oleh
lidah.
Sejumlah besar akhiran sensitif pada palatum keras memiliki peran penting dalam mengukur
kekasaran makanan dan membantu lidah menyeleksi bagian mana yang siap untuk proses
penelanan.
d. Peran Bibir dan Pipi
1. Fungsi sensoris lidah, khususnya pada suhu dan sentuhan, memastikan bahan
berbahaya dicegah untuk memasuki mulut.

2. Fungsi mekanisnya bibir, menyebabkan bibir mampu mentransfer makanan


(khususnya cairan) ke dalam mulut.
3. Dengan menutup mulut, bibir mencegah keluarnya cairan dan makanan
4. Pipi mentransfer makanan yang sudah masuk ke vestibulum selama mastikasi
untuk kembali ke mulut dengan aksi otot.
e. Kontak oklusal Antar Gigi yang Berlawanan
Pola pengunyahan:
1. Makanan dihaluskan di antara gigi posterior yang beroklusi.
2. Makanan dapat didorong ke depan oleh lidah melawan palatum keras dan
beberapa dibawa ke beberapa gigi anterior untuk pengolahan yang lebih halus.
3. Proses diselesaikan oleh gigi posterior.
4. Siklus pengunyahan jarang terjadi secara unilateral, kecuali pada individu dengan
gigi yang sakit pada satu sisi, atau karena kebiasaan
f. Perpindahan Gigi Individual
1. Gigi bergerak di soketnya, kalau tidak gigi dapat rusak karena mendapat tekanan
oklusal akibat aksi dari otot pengunyahan.
2. Ligamen periodontal dan sistem vaskular menyerap beberapa tekanan yang
diberikan pada gigi.
Aksi pada mastikasi dimulai saat terjadinya setting system oleh indra penglihatan, perasa,
penciuman untuk menerima makanan. Terlibanya indra perasa (taktil) dapat dapat berkisar dari
mengambil makanan untuk menangkap makanan dengan gigi seri. Ketika makanan masuk ke
dalam mulut, bibir, lidah dan periodontal berfungsi untuk memperkirakan ukuran, kekerasan, dan
karakteristik lain yang berhubungan dengan perilaku saat melakukan pengunyahan. Informasi
yang mengatur program pengunyahan terdapat dalam pattern generator, termasuk kemudian
berhubungan dengan pengaruh central dan peripheral. Reseptor orofasial seperti mekanoreseptor
periodontal dapat memonitor tekanan oklusal dan otot penutup rahang. Pengunyahan dapat
diubah tergantung pada tahap pengunyahan atau saat merespon informasi daari area spesifik
seperti palatal mucosa dan lidah. Irama pengunyahan dapat berhenti karena stimulus yang
berbahaya. Hal ini mungkin karena irama dan pengulangan proses pengunyahan terganggu oleh

keadaan disfungsi pada oklusi dan TMJ ketika bolus bergeser pada posisi dekat dengan kontak
yang kuat antara gigi-makanan. Siklus pengunyahan dapat muncul tanpa perkembangan dari
power stroke yang sebenarnya dalam keadaan disfungsi.
2.2.4 Mekanisme Pergerakan Rahang
Saat pergerakan rahang, condylus mandibula bergerak rotasi dan translasi, sehingga rahang
dapat membuka dan menutup. Translasi dari condyles terjadi saat condyles bergerak kebawah
dan ke depan di sepanjang eminensia articular dari tulang temporal. Kombinasi dari gerak rotasi
dan translasi menyebabkan pergerakaan rahang, ditambah juga pengaruh dari otot yang terdapat
pada condyles dan mandibular.
Tiap chewing cycle berlangsung selama 0.5 sampai 1.2 detik dan terdiri dari jaw-opening
phase, closing phase dan contact phase, dimana gigi saling berkontak dengan gigi antagonisnya
atau dengan bolus makanan. Mastikasi tidak hanya terjadi karena gerak membuka dan menutup
rahang, tetapi juga gerak protrusi, retrusi dan lateral dari rahang.
1 Gerakan protrusi
Gerakan prostrusi terjadi karena bagian inferior pterigoideus lateral berkontraksi diikuti dengan
sedikit kontraksi otot masseter dan pterigoideus medial, sedangkan otot temporalis sama sekali
tidak berkontraksi. Otot pterigoideus lateral menarik kondilus mandibular dan diskus artikularis
ke anterior menyusuri eminentia artikularis. sementara itu otot-otot penutup rahang dan pembuka
rahang menjaga kestabilan posisi mandibular terhadap maksila.
2 Gerakan retrusi
Gerakan retrusi terjadi karena kombinasi kontraksi otot temporalis bagian tengah dengan otototot pembuka rahang diikuti oleh berbagai aktifitas otot-otot penutup rahang. sementara itu otot
suprahyoid yang berfungsi untuk membuka rahang dinetralisir oleh aktifitas otot penutup rahang.
3 Gerakan pembukaan rahang
Terjadi karena kontraksi otot milohyoid, otot digastrikus dan bagian inferior otot pterigoideus
lateralis. Gerakan ini bertujuan untuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Gerakan

pembukaan rahang kadang-kadang diikuti oleh proses pemotongan makanan yang menyebabkan
mandibular bergerak ke anterior lalu kembali ke posisi semula setelah makanan terpotong.
4 Gerakan lateral
Dihasilkan oleh variasi asimetris gerak protrusi yang disebabkan oleh kombinasi kerja otot
pterigoideus lateral di sisi pengimbang dengan otot-otot penutup rahang. sementara itu bagian
tengah otot temporalis di sisi kerja menjaga gerakan tmj agar kondilus tidak maju ke anterior.
5 Gerakan penutupan rahang
Saat mandibula sedang elevasi perlahan-lahan, tanpa kontak dari gigi,

tidak

ada

aktivitas yang jelas dalam setiap bagian dari otot temporalis.

Elevasi

tanpa kontak atau resistensi disebabkan oleh kontraksi otot

masseter

dan

pterygoideus

medial.

Otot

temporalis,

masseter,

dan

pterygoideus medial mempengaruhi elevasi terhadap resistensi. Otot-otot


bertindak

sebagai

antagonis

dari

otot

elevasi.

Penutupan

intercuspation maksimal (oklusi sentris) mungkin melibatkan kontraksi

otot
suprahyoid
ke
otot-otot

wajah dan leher.

Bilateral, symmetric chewing kurang umum daripada unilateral chewing, karena hanya
salah satu sisi dari rahang yang biasanya digunakan pada proses mastikasi. Saat opening phase,
terdapat pergeseran lateral ke yang disebut dengan working side atau functional side, yaitu sisi
dimana bolus makanan dihancurkan. Mandibula kemudian bergerak kembali saat closing phase
ke posisi intercuspal. Saat dilihat dari bidang frontal, chewing cycle mempunyai tear-shaped
movement pattern.
Apabila dilihat dari bidang sagittal, terdapat gerak retrusif saat opening phase dan gerak
protrusive saat closing phase. Tetapi terkadang kurva opening dan closing saling bersilangan
satu sama lain, membentuk figur seperti angka 8.

Kepala condyles dan corpus mandibular bergerak saat chewing cycle. Condylus yang
terdapat pada working side bergerak secara lateral saat opening phase, dan condyles pada
balancing / non-functional side bergerak secara medial, ke bawah dan ke atas. Condylus pada
working side dengan cepat kembali pada posisi semula saat awal dari closing phase, sedangkan
condylus pada balancing side bergerak kembali pada fossa lebih lama, yaitu pada akhir closing
phase.
Pola pergerakan rahang saat mastikasi berbeda-beda tiap individu. Terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi perbedaan ini, yaitu dentitional state, diet, konsistensi dari bolus makanan,
mastikasi individu dan instruksi yang diberikan kepada individu.

2.2.5 Kontrol Neurologis Mastikasi


Brain Stem Control Mastication
Brainstem atau batang otak adalah bagian bawah dari otak, lanjutan dari spinal cord. Brain
stem mencakup inervasi motorik dan sensorik utama bagi wajah dan leher via nervus cranialis.
Brain stem merupakan bagian yang penting karena beberapa hubungan nervus dari sistem saraf
motorik dan sensorik melewati brain stem.

Brain stem

brain stem tersusun dari 3 bagian :


-medulla oblongata (myelencefalon)
-pons varoli (metencefalon)
-bagian terbesar otak tengah (mesencefalon)

3 region ini mengandung beberapa nuclei neuron penting (nervus cranialis)

Berikut adalah tabel yang menunjukkan regio brain stem dan nervus cranial di dalamnya.

Pergerakan mandibula memerlukan pergerakan dari seluruh otot mastikasi. Seluruh proses
dikontrol oleh nuclei brainstem trigeminal, hypoglossal, facial, dan nuclei brain stem kinetik
lainnya. Kordinasi nuclei-nuclei ini bergantung pada impuls abductory dari kavitas pral, yang
berakhir pada trigeminal dan tractus soliter nucleus.

Trigeminal sensory nucleus


Trigeminal sensory nucleus terdiri dari kumpulan neuron dari brainstem ke spinal cord.
Regio rostral dari nucleus dinamakan primary sensory nucleus, yang lainnya dinamakan
trigeminal spinal nucleus. Trigeminal spinal nucleus akan bercabang menjadi subdivisi nucleus
oralis, interpolaris, dan nucleus caudalis.
Bagian tengah trigeminal sensory nucleus bercabang jadi cabang ascending dan descending atau
masuk ke brain stem di mana akan membentuk trigeminal bundle.
Regio anterior trigeminal pack berhubungan dengan primary sensory nucleus, sementara regio
caudal membentuk trigeminal prinal bundle.
Trigeminal sensory nucleus terdiri dari beberapa kategori neuron :
-local circuit neurons
-neuron-neuron yang meluas ke brain stem

-neuron-neuron yang berguna untuk interkoneksi di dalam trigeminal sensory nucleus


Primary sensory nucleus terletak pada tataran trigeminal kinetic nucleus. Neuron trigeminal
sensory nucleus bertanggung jawab atas inervasi wajah bagian rostral dan ventral.

Trigeminal mesencephalic nucleus


Trigeminal mesencephalic axis utamanya tersusun dari badan sel mekanoreseptor dari otot
membuka ranag, ligamen periodontal, gingival, dan palatum.
Neuron trigeminal mesencephalic nucleus adalah unipolar dan tersusun dari cabang central
dan perifer. Cabang central turun ke trigeminal kinetic nucleus, sementara cabang perifer berjalan
ke regio kavitas oral.

Trigeminal kinetic nucleus


Trigeminal kinetic nucleus terdiri dari neuron yang mengontrol otot mastikasi. Neuronneuron ini terdiri dari neuron kinetic gamma dan alfa. Neuron kinetic yang bertanggung jawab
untuk mengontrol otot membuka rahang ditemukan di permukaan dorsal dari trigeminal kinetic
nucleus, sementara neuron yang bertanggung jawab untuk menutup rahang terletak di permukaan
ventral nucleus.

Hypoglossal kinetic nucleus


Hypoglossal kinetic nucleus mengontrol otot lidah. Secara struktural, hypoglossal kinetic
nucleus lebih homogen daripada trigeminal kinetic nucleus. Hypoglossal kinetic nucleus tersusun

atas neuron kinetik multipolar besar dan neuron intermediate yang lebih kecil. Proyeksi dendrit
neuron kinetic yang memanjang masuk ke formasi retikuler yang berdekatan.
Facial kinetic nucleus
Facial kinetic nucleus tersusun dari 3 kolom neuron : lateral, medial, dan intermediate yang
memisahkan materal dan medial.
Otot yang mengontrol bibir atas, nostril, dan cavitas nasalis berhubungan dengan neuron pada
kolom lateral facial kinetic nucleus. Sistem otot bibir bagian bawah dikontrol oleh neuron kinetic
pada kolom intermediate. Neuron kinetic pada kolom medial mengontrol regio facial dan telinga.

Control of mastication
Nucleus sensorik dan kinetik dari brain stem memiliki peran penting dalam kontrol
mastikasi.
Pergerakan ritmikal mastikatori mandibula dihasilkan pada regio brainstem tertentu. Fungsi
mastikasi dihasilkan oleh impuls sensorik aferen ke nuclei brainstem. Sinkronisasi seluruh proses
ini dilakukan oleh cerebral center.

Aktivitas brainstem
Refleks mastikatori dibagi menjadi :
-refleks membuka dan menutup rahang
-refleks lidah
-refleks wajah

*Refleks membuka dan menutup rahang


Refleks rahang ialah termasuk kontraksi otot mandibula secara vertikal (membuka dan
menutup), secara horizontal, atau secara protrusif-retrusif. Pada otot-otot membuka dan menutup
rahang, terdapat banyak network dari neuron kinetik yang meluas dari trigeminal kinetic nucleus.
Pengecualian untuk regio kaudal otot digastricus, di mana neuron kinetic meluas dari accesoru
facial nucleus.

a) Refleks membuka rahang


Refleks ini dapat dihasilkan secara monosinaps, baik setelah stimulasi dari reseptor
otot membuka rahang atau setelah stimulasi dari trigeminal mesencephalic nucleus.
Refleks membuka rahang dapat dihasilkan setelah mengetuk dahu.
Mengetuk

dahu

menyebabkan

stimulasi

otot

membuka

rahang

dan

mekanoreseptornya, yang menghasilkan aktivasi serat aferen. Serat aferen lewat


hubungan monosinapsnya dengan -trigeminal kinetic neuron menyebabkan kontraksi
otot membuka rahang. Refleks membuka rahang dapat dihasilkan setelah stimulasi
mekanoreseptir yang terletak pada jaringan periodontal, TMJ, mukosa mulut, atau bahkan
kulit.

b) Refleks menutup rahang


Refleks menutup rahang dapat dihasilkan setelah stimulasi mekanik dari ligamen
periodontal atau mekanoreseptor mukosa mulut. Relfeks ini bukan refleks monosinaps.
Refleks ini dapat juga dihasilkan setelah stimulasi dari nervus cranial lainnya.

*Refleks hypoglossal kinetic nucleus


Refleks ini dihasilkan setelah stimulasi reseptor lidah atau laring.

*Refleks facial
Refleks membuka dan menutup kelopak mata dihasilkan setelah stimulasi reseptor kornea
yang diinervasi pleh cabang nervus trigeminal.

Impuls sensorik aferen ke nuclei brainstem


Jenis dan tekstur makanan menentukan tipe pergerakan mastikasi. Hal ini didapat lewat
feedback sensorik pada pusat mastikasi batang otak. Stimulasi dari regio yang berbeda dari
kavotas oral menghasilkan jenis pergerakan mastikasi yang berbeda juga. Setelah inisiasi
mastikasi, produksi ritmis muatan elektrik tampak oada reseptor otot membuka rahang. Karena
mekanoreseptor ligamen periodontal, peningkatan muatan elektrik secara tiba-tiba pada awal dan
akhir pergerakan membuka rahang tampak saat gigi berkontak dan berlanjut selama tekanan
oklusal meningkat. Peningkatan muatan elektrik secara tiba-tiba juga tampak pada
mekanoreseptor sudut mulut.

Sinkronisasi pergerakan mastikasi oleh higher cerebral centers


Stimulasi elektrik dari bagian lateral pada regio kinetic korteks otak menghasilkan
pergerakan ritmis repetitif dari mandibula dan lidah.

Stimulasi elektrik dari korteks menyebabkan perubahan jangka pendek pada otot menutup rahang
dan rangsangan rendah pada neuron kinetik membuka rahang. Penampakan ini menghasilkan
kesimpulan bahwa higher cerebral center membantu inisiasi proses mastikasi.
Stimulasi elektrik dari korteks menyebabkan pergerakan lidah dan regio orofacial lainnya.
Korteks otak menyinkron aktivitas kelompok otot yang terlibat dalam proses mastikasi.

2.2.6 Perkembangan Mastikasi


Perkembangan proses mastikasi awal jarang dipelajari walaupun sebenarnya hal ini penting
diketahui agar dapat memahami bagaimana memberikan makanan yang baik untuk anak-anak,
serta mengetahui apakah terdapat gangguan penelanan. Studi tentang perkembangan mastikasi
dini ini jarang dilakukan karena pencatatan aktivitas otot rahang dan pergerakan rahang pada
anak-anak sulit dilakukan. Proses mastikasi itu sendiri tentunya berkaitan dengan pergerakan
rahang. Pergerakan rahang untuk proses mastikasi mengalami reorganisasi (perubahan) yang
cukup besar pada anak usia dini, seperti perubahan pada perkembangan anatomis dan fisiologis
serta pengenalan progresif dari konsistensi makanan yang padat.
Perkembangan mastikasi diawali dari tahap mastikasi awal (early chewing) sampai menjadi
mastikasi matang (mature chewing). Proses transisi menuju perkembangan mastikasi matang
ditandai oleh pergeseran dari pola vertikal ke pola rotasi pada pergerakan rahang. Perubahan
pada pola mastikasi ini terjadi terutama selama 24 bulan pertama kehidupan, yang kemudian
diikuti oleh suatu periode penyempurnaan. Perkembangan mastikasi dikarakteristikkan menjadi
beberapa tahapan berikut:
1. Proses mastikasi awal (early chewing) ditandai dengan pola teratur dari aktivasi timbal
balik antara pasangan otot antagonisnya. Menurut Green, organisasi koordinatif umum
telah dibentuk saat usia 12 bulan, tetapi akan terus disempurnakan selama perkembangan

awal. Menurut Sheppard dan Mysak, proses mastikasi awal terdiri dari siklus elevasi dan
depresi mandibula ditambah kombinasi dengan berbagai gerakan bibir dan lidah.
2. Tahap berikut pada perkembangan mastikasi ditandai dengan munculnya pergerakan
rahang lateral. Menurut Adverson, Rodgers, dan Brodsky, pergerakan rahang terjadi
bergantian antara vertikal dan lateral.
3. Tahap terakhir dari perkembangan mastikasi ditandai dengan munculnya gerakan rotasi
pada rahang. Adanya gerak rotasi pada rahang ini menjadi ciri khas dari proses mastikasi
matang dan telah terlihat sejak usia 18 bulan kehidupan, kemudian akan disempurnakan
pada usia 24-30 bulan kehidupan.

Perkembangan pada pergerakan rahang untuk mastikasi ini tidak hanya menunjukkan
perubahan pada kontrol mastikasi, tetapi juga respon anak-anak terhadap tekstur dan sifat
viskoelastisitas dari makanan baru. Beberapa studi menunjukkan konsistensi memberikan
kontribusi signifikan terhadap durasi mastikasi pada anak-anak, contohnya durasi untuk
mengunyah bolus padat lebih lama daripada bolus halus.

2.3 Deglutasi
2.3.1 Definisi Deglutasi

Deglutasi merupakan proses menggerakan makanan dari faring menuju esophagus. Adapun
jaringan pendukung seperti pipi, lidah, bibir yang membantu makanan di dalam mulut menjadi
Bolus.

2.3.2 Fase Deglutasi


Aksi penelanan meliputi 3 fase yaitu :
1. Fase oral
Lidah menekan palatum keras saat rahang menutup dan menghantarkan bolus ke
arah orofaring
2. Fase Faring (involunter)
Bolus makanan dalam faring merangsang reseptor orofaring yang mengirim impuls
ke pusat menelan dalam medulla dan batang otak bagian bawah. Pada saat yang
bersamaan terjadi refleks (penutupan semua lubang kecuali esofagus sehingga makanan
bisa masuk)
Fungsi faring yaitu sebagai air passage waktu bernafas dan sebagai food passage
waktu menelan makanan
3. Fase Esofagus (Involunter)
Sfingter

esofagus

bawah

setelah

melakukan

gelombang

peristaltik

dan

memungkinkan makanan terdorong ke dalam lambung. Sfingter kemudian berkontraksi


(mencegah regurgitasi (refluks) isi lambung ke dalam esophagus).

Fungsi esofagus yaitu menggerakan makanan dari faring ke lambung melalui gerak
peristalsis.

2.3.3 Proses Deglutasi


Pergerakan makanan dari mulut menuju lambung diperoleh dari proses penelanan atau juga
disebut deglutasi. Deglutasi difasilitasi oleh sekresi saliva dan mucus serta melibatkan mulut,
faring dan esophagus. Proses penelanan terjadi dalam tiga fase:
(1) Fase Oral atau Buccal, fase volunter ketika bolus menuju orofaring;
(2) Fase faringeal, fase involunter bolus dari faring menuju esophagus
(3) Fase Esofageal, fase involunter bolus dari esophagus menuju lambung.
Bolus adalah makanan yang telah halus dan lembab oleh saliva dan siap ditelan.
Proses penelanan berawal ketika bolus didorong kearah belakang kavitas oral dan orofaring
oleh gerakan lidah ke atas dan ke belakang menekan palatum durum. Kontraksi otot mylohyoid
dan otot-otot intrinsik lidah (genioglosus, styloglossus, palatoglossus), memungkinkan gerakan
tersebut bisa terjadi,serta terangkatnya tulang hyoid. Selanjutnya, ujung depan lidah naik, dan
menekan daerah palatum, tepat dibelakang gigi anterior (incisor), diikuti dengan kontraksi dari
otot buccinators untuk melewatkan setiap sisa-sisa makanan dari vestibulum ke kavitas oral, dan
disatukan bersama bolus. Bibir menutup rapat menyebabkan mulut tertutup. Dan bolus siap di
transfer ke orofaring. Semua proses ini terdapat pada fase oral penelanan, yang terjadi secara
volunter. Fase volunter berakhir saat bolus menyentuh entrance faring.
Dengan masuknya bolus ke orofaring, fase faringeal yang terjadi secara involunter dimulai
(gambar 24.10b). Bolus menstimulasi reseptor pada orofaring, yang mengirim impuls-impuls
pada pusat penelanan di medulla oblongata, pons bagian bawah pada batang otak. Impuls yang
kembali menyebabkan palatum molle dan uvula bergerak ke atas untuk menutup nasofaring,

yang akan mencegah bolus masuk ke dalam traktus respiratorius. Saat fase ini terjadi, seseorang
tidak bisa bicara atau bernafas (apnoea of deglutition). Dasar lidah beretraksi , menekan bolus ke
orofaring. Otot-otot di belakang mulut berkontraksi dan bersama dasar lidah yang terangkat,
menyempitkan pembukaan di belakang bolus. Dua gerakan dasar yang dimiliki oleh faring,
selurung tabung pharyngeal dielevasi oleh otot-otot slylopharyngeus dan palatopharyngeus,
diikuti dengan gerakan peristaltis dari otot pharyngeal konstriktor yang mendorong bolus
bergerak dari orofaring dan laringofaring. Ketika sfingter esophageal atas relaksasi, bolus
bergerak menuju esophagus.
Pada fase faringeal ini, adanya kontraksi otot-otot stylohyoid dan digastrikus mengangkat
tulang hyoid dan laring ke bawah lidah, sehingga epiglottis tertekan ke bawah yang
menyebabkan pembukaan laring menutup. Aksi ini mencegah setiap makanan/ minuman masuk
ke trakea.

Fase esophageal penelanan dimulai ketika bolus masuk ke esophagus. Selama fase ini,
gerak peristalsis, gerak yang mengkoordinasi kontraksi dan relaksasi dari lapisan muskularis
sirkuler dan longitudinal, mendorong bolus kedepan menuju lambung (gambar 24.10c).
Kontraksi terjadi berulang-ulang dalam gerakan yang menggerakan makanan menuju lambung.

Selama bolus mendekat pada ujung esophagus, sfingter esophageal bagian bawah berelaksasi dan
bolus bergerak menuju lambung.

Mucus disekresikan oleh glandula esophageal yang

melubrikasi bolus dan mengurangi friksi. Jalan makanan yang solid atau semisolid dari mulut ke
lambung terjadi selama 4 8 detik; makanan yang sangat lembut dan liquid (cairan) melewatinya
selama 1 detik, dengan kata lain, pergerakan cairan lebih cepat dibandingkan solid atau
semisolid.

Rangkuman mengenai aktivitas pencernaan pada faring dan esophagus terdapat pada tabel
dibawah ini:

2.3.4 Kontrol Neurologis Deglutasi


Pada tahap menelan, daerah posterior mulut dan faring merupakan daerah yang paling
sensitif. Daerah taktil paling sensitif dari bagian posterior mulut dan faring untuk mengawali fase
penelanan pada faring terletak pada suatu cincin yang mengelilingi pembukaan faring, dengan
sensitivitas terbesar pada tiang tiang tonsil. Impuls dijalankan dari bagian ini melalui bagian
sensoris saraf trigeminal dan glossofaringeal ke dalam daerah medulla oblongata yang berada di
dalam atau berhubungan erat dengan traktus solitarius, yang terutama menerima semua impuls
sensoris dari mulut.
Tahap berikutnya dari proses menelan secara otomatis diatur dalam urutan yang teratur oleh
daerah daerah neuron di batang otak yang didistribusikan ke seluruh substansia retikularis
medulla dan bagian bawah pons. Urutan refleks penelanan ini sama dari satu penelanan ke
penelanan berikutnya, dan waktu untuk seluruh siklus juga tetap sama dari satu penelanan ke

penelanan berikutnya. Daerah di medulla dan pons bagian bawah yang mengatur penelanan
secara keseluruhan disebut pusat penelanan atau deglutisi.
Impuls motorik dari pusat menelan ke faring dan esophagus bagian atas menyebabkan
penelanan dijalarkan oleh saraf cranial V (trigeminus) ,IX (glossofaringeal), X (vagus) dan XII
(hypoglossus) serta beberapa saraf servikal superior.

Saraf facial (saraf cranial VII) untuk mengatur pengerekan bibir dan otot buccinators.

Saraf hypoglossal (saraf cranial XII) untuk mengatur otot-otot lidah.

Saraf trigeminal (saraf cranial V) untuk mengatur otot mylohyloid yang merupakan
dasar mulut dan juga otot palatal.

Saraf glossopharyngeal (saraf cranial IX) & vagus (saraf cranial X) untuk mengatur
otot-otot faring & esofagus.

Ringkasnya, tahap faringeal dari penelanan pada dasarnya merupakan suatu refleks. Hal ini
hampir tidak pernah dimulai oleh rangsangan langsung pada pusat penelanan dari daerah yang
lebih tinggi di sistem saraf pusat. Sebaliknya, hampir selalu diawali oleh gerakan makanan secara
volunteer masuk ke bagian belakang mulut yang kemudian merangsang reseptor reseptor
sensoris yang menimbulkan refleks menelan.
Gelombang sekunder sebagian dimulai oleh sirkulasi saraf intrinsik dalam sistem saraf
mienterikus esophagus dan sebagian oleh refleks-refleks yang dihantarkan melalui serat-serat
aferen vagus dari esophagus ke medulla dan kemudian kembali lagi ke esophagus melalui serat
serat eferen vagus.
Susunan otot faring dan sepertiga bagian atas esophagus adalah otot lurik. Karena itu,
gelombang peristaltic di daerah ini hanya diatur oleh impuls saraf rangka dalam saraf
glossofaringeal dan saraf vagus. Pada duapertiga bagian bawah esophagus, ototnya merupakan

otot polos, namun bagian esophagus ini juga secara kuat diatur oleh saraf vagus yang bekerja
melalui hubungannya dengan sistem saraf mienterikus. Sewaktu saraf vagus yang menuju
esophagus terpotong, setelah beberapa hari pleksus saraf mienterikus esophagus menjadi cukup
terangsang untuk menimbulkan gelombang peristaltic sekunder yang kuat bahkan tanpa bantuan
refleks vagal. Karena itu,sesudah paralisis refleks penelanan, makanan yang didorong dengan
cara lain ke dalam esophagus bagian bawah tetap siap untuk masuk ke dalam lambung.

Berkovitz B.K.B,dll. 2002. Oral Anatomy, Histology and Embryology 3rd. Elsevier: Mosby.
Bradley, RM. 1995. Essentials of Oral Physiology. Mosby: St. Louis.
Guyton dan Hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Hartcourt.Int.ed
Markopoulos, Anastasios K. 2010. A Handbook of Oral Physiology and Oral Biology. Greece.
Bentham Science Publishers.
Moore,K.L. & Anne M.R. Agur. 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta:Hipokrates.
Nelson and Ash. 2011. Wheelers Dental Anatomy, Physiology, and Occlusion. St Louis:
Saunders.
Peterson L.G. 1998. Contemporary of Oral and Maxillofacial Surgery. 3th ed. Mosby.
Roth G. And Calmes R. 1981. Oral Biology. Mosby. St. Louis.
Rensburg, BGJ. 1999. Oral Biology. Quistessence Publ. Chicago.