Anda di halaman 1dari 69

SKENARIO 4

BISIKAN GAIB
Laki-laki 25 tahun, dibawa ke IGD RSJ karena memukul ibunya dan memecahkan kaca jendela.
Alasannya ada bisikan bisikan gaib didekat telinganya yang memerintahkannya melakukan
tindakan tersebut. Sudah dua pecan ini pasien mengalami insomnia dan menarik diri, kadang
bicara sendiri yang bila ditegur marah (iritabel). Pasien pernah mengalami gejala seperti ini satu
tahun yang lalu, setelah dirawat di RSJ seminggu pasien dibolehkan pulang, tapi tak mau berobat
jalan dan jadi pemalas. Pada pemeriksaan psikiatrik; kesadaran compos mentis, kontak psikik
tidak wajar, sikap kurang kooperatif; afek tumpul tidak serasi; fungsi kognitif seperti atensi,
konsentrasi, orientasi dan memori tidak terganggu; terdapat waham kejar dan halusinasi
auditorik. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan peninggian metabolit dopamine pada urin.
Dokter menduga pasien menderita gangguan skizofrenia sebagai bentuk gangguan psikotik yang
disertai proses kemunduran (deteriorasi). Akhirnya, dokter memberikan injeksi psikotropika
yang akan dilanjutkan dengan program psikoterapi, sosioterpai dan rehabilitasi. Dokter
menanyakan apakah sebagai muslim pasien bisa melaksanakan ibadah mahdhoh.

1 | Page

KATA-KATA SULIT
1.
2.
3.
4.

Atensi
: pengamatan, proses sejumlah informasi kecil
Waham kejar
: percaya bahwa dirinya selalu dikejar-kejar orang
Halusinasi auditorik : merasa mendengar suara-suara tertentu
Gangguan skizofrenia : gangguan psikotik kronik yang tidak bisa membedakan realita
dengan baik
5. Gangguan psikotik : kondisi abnormal dari pikiran-pikiran
6. Ibadah mahdhoh
: aktivitas, perbuatan yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya
seperti sholat, puasa, haji

PERTANYAAN
1.
2.
3.
4.
5.

Kenapa bisa terjadi insomnia pada pasien?


Bagaimana pelaksanaan ibadah mahdhoh untuk pasien?
Kenapa bisa ditemukan dopamin pada urin?
Kenapa dokter menduga pasien menderita gangguan skizofrenia?
Apa yang dimaksud dengan proses kemunduran yang terjadi pada pasien?

JAWABAN
1. Karena pasien mengalami halusinasi audtorik sehingga terdengar suara-suara
ditelinganya yang membuatnya susah tidur
2. Karena salah satu syarat ibadah adalah sadar, pada kondisi ini pasien bisa dikategorikan
untuk tidak wajib melaksanakan ibadah mahdhoh
3. Karena jumlahnya yang sangat meningkat didalam tubuh sehingga juga keluar didalam
urin
4. Karena pasien mengalami waham kejar dan halusinasi auditorik, itu merupakan salah satu
gejala penderita skizofrenia
5. Pasien tidak dapat menjalankan aktivitasnya sama seperti pada orang umumnya sehingga
secara tidak langsung bisa terjadi proses kemunduran pada diri pasien baik dalam berfikir
ataupun yang lainnya
HIPOTESA
Pasien laki-laki umur 25 tahun, mengalami gangguan skizofrenia yang ditandai dengan
terdapatnya waham kejar dan halusinasi auditorik sehingga pasien tidak diwajibkan dalam
menjalan ibadah mahdhohnya

2 | Page

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Sistem Limbik
2. Memahami dan Menjelaskan Psitopatologi Psikotik
3. Memahami dan Menjelaskan Skizofrenia
3.1 Definisi
3.2 Etiologi
3.3 Klasifikasi
3.4 Psikopatologi
3.5 Manifestasi klinis
3.6 Diagnosis
3.7 Diagnosis banding
3.8 Tatalaksana
3.9 Prognosis
3.10 Komplikasi
3.11 Pencegahan
4. Memahami dan Menjelaskan Ibadah Mahdhoh

3 | Page

PEMBAHASAN
1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Sistem Limbik

Sistem limbik terletak di bagian tengah otak, membungkus batang otak ibarat kerah baju.limbik
secara harfiah diartikan sebagai perbatasan. Sistem limbik itu sendiri diartikan keseluruhan
lintasan neuronal yang mengatur tingkah laku emosional dan dorongan motivasional. Bagian
utama sistem limbik adalah hipothalamus dan struktur-strukturnya yang berkaitan. Bagian otak
ini sama dengan yang dimiliki hewan mamalia sehingga sering disebut dengan otak mamalia.
Komponen limbik antara lain hipotalamus, thalamus, amigdala, hipocampus dan kortes
limbik. Sistem limbik berfungsi mengendalikan emosi, mengendalikan hormon, memelihara
homeostasis, rasa haus, rasa lapar, seksualitas, pusat rasa senang, metabolisme dan juga memori
jangka panjang.
Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah yang lazim
disebut sebagai otak emosi. Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai Alam Bawah Sadar atau
ketaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti menolong orang, dan
perilaku tulus lainnya. LeDoux mengistilahkan sistem limbik ini sebagai tempat duduk bagi
semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, respek dan kejujuran.
Sistem Limbik yang terdiri dari Amigdala, Thalamus dan Hipothalamus ini berperanan sangat
penting dan berhubungan langsung dengan sistem otonom maupun bagian otak penting lainnya.
Karena hubungan langsung sistem Limbik dengan sistem otonom, jadinya bila ada stimulus
emosi negatif yang langsung masuk dan diterima oleh sistem Limbik dapat menyebabkan
berbagai gangguan seperti : gangguan jantung , hipertensi maupun gangguan saluran cerna.
Tidak heran saat seseorang marah , maka jantung akan berdetak lebih cepat dan lebih keras dan
tekanan darah dapat meninggi .
Stimulus emosi dari luar ini dapat langsung potong jalur masuk ke sistem Limbik tanpa
dikontrol oleh bagian otak yang mengatur fungsi intelektual yang mampu melihat stimulus tadi
secara lebih obyektif dan rasional. Hal ini menjelaskan kenapa seseorang yang sedang
mengalami emosi kadang perilakunya tidak rasional. Permasalahan lain adalah pada beberapa
keadaan seringkali emosi negatif seperti cemas dan depresi timbul secara perlahan tanpa disadari
dan individu tersebut baru menyadari saat setelah timbul gejala fisik , seperti misalnya
hipertensi.

4 | Page

Hipothalamus
Di sekeliling hipotalamus terdapat terdapat subkortikal lain dari sistem limbik yang meliputi
septum, area paraolfaktoria, epithalamus, nukleianteriorthalamus, gangglia basalis hipocampus
dan amigdala. Di sekeliling area subkortika limbik terdapat korteks limbik, yang terdiri atas
sebuah cincin korteks serebri pada setiap belahan otak yang dimulai dari area orbitofrontalis
pada permukaan ventral lobus frontalis, menyebar ke atas ke dalam girus sub kalosal, kemudian
melewati ujung atas korpus kalosum ke bagian hemisferium serebri dalam girus singulata dan
akhirnya berjalan ke belakang korpus kalosum dan ke bawah menuju permukaan ventro medial
lobus temporalis ke girus parahipokampal dan unkus. Lalu pada permukaan medial dan ventral
dari setiap hemisferium serebri ada sebuah cincin terutama merupakan paleokorteks yang
mengelilingi sekelompok struktur dalam yang menagtur perilaku dan emosi. Sebaliknya, cincin
korteks limbik ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi dua arah dan merupakan tali
penghubung antara neokorteks dan struktur limbik lain yang lebih rendah.
Jalur komunikasi yang penting antara sistem limbik dan batang otak adalah berkas otak depan
bagian medial (medial forebrain bundle) yang menyebar ke regio septal dan orbito frontal
korteks serebri ke bawah melalui bagian tengah hipotalamus ke formasio retikularis batang otak.
Berkas ini membuat serabut-serabut dalam dua arah, membentuk garis batang sistem
komunikasi. Jalur komunikasi yang kedua adalah melalui jaras pendek yang melewati formasio
retikularis batang otak, thalamus, hipothalamus, dan sebagian besar area lainnya yang
berhubungan dengan area basal otak.
Hipotalamus meskipun berukuran sangat kecil hanya beberapa sentimeter kubik mempunyai
jaras komunika dua arah yang berhubungan dengan semua tingkat sistem limbik. Sebaliknya,
hipotalamus dan struktur yang berkaitan dengannya mengirimkan sinyal-sinyal keluaran dalam
tiga arah:
a. ke belakang dan ke bawah menuju batang otak terutama di are retikular mesenfalon,
pons, dan medula dan dari area tersebut ke saraf perifer sistem saraf otonom.
b. ke atas menuju bagian besar area yang lebih tinggi di diensefalon dan serebrum
khususnya bagia anterior talamus dan bagian limbik korteks serebri.
c. infundibulum hipotalamus untuk mengatur atau mengatur secara sebagain dari fungsi
sekretorik pada sebagian posterior dan anterior kelenjar hipofisis.
Pengaturan fungsi vegetatif dan fungsi endokrin Hipotalamus
Pada setiap hipotalamus tampak adanya suatu area hipotalamik lateral yang besar. Area ini
berguna untuk pengaturan rasa haus, rasa lapar, dan sebagian besar hasrat emosional.
a. Pengaturan kardiovaskular menimbulkan efek neurogenik pada sistem kardiovaskular
yang telah dikenal meliputi kenaikan tekanan arteri, penurunan arteri, peningkatan dan
penurunan frekuensi denyut jantung.
b. Pengaturan suhu tubuh. Bagian anterior hipotalamus khususnya area preoptik
berhubungan dengan suhu tubuh. Peningkatan suhu darah yang mengalir melewati area
ini meningkatkan aktivitas neuron-neuron suhu. sebaliknya penurunan suhu darah akan
menurunkan aktivitasnya.
c. Pengaturan cairan. Hipotalamus mengatur cairan tubuh melalui dua cara.
1) dengan mencetuskan sensasi haus yang menyebabkan seseorang atau hewan minum
air.

5 | Page

2) mengatur ekskresi air ke dalam urine. Di hipotalamus bagian lateral terdapat area
pusat rasa haus.
d. Pengaturan kontraktilitas uterus dan pengeluaran air susu oleh payudara. Perangsangan
nuklei paraventrikular menyebabkan sel-sel neuronnya mensekresi hormon oksitosin
yang menyebabkan peningkatan kontraktilitas uterus serta kontraksi sel-sel mioepitelial
yang mengelilingi alveoli payudara yang selanjutnya alveoli mengosongkan air susu
melalui puting susu.
e. Pengaturan gastrointestinal dan hasrat makan. Yang berhubungan dengan rasa lapar
terdapat di area hipotalamus lateral. Sedangkan pusat rasa kenyang terletak di nuklei
ventromedial.
f. Pengaturan hipotalamik sekresi hormon endokrin oleh kelenjar hipofisis anterior.
Fungsi perilaku dari hipotalamus dan fungsi limbik yang berkaitan
1. Perangsangan hipotalamus lateral pada hewan, tidak hanya merangsang timbulnya rasa
haus dan nafsu makan, tetapi juga kadangkala menyebabkan timbu rasa marah yang
sangat hebat dan keinginan untuk berkelahi.
2. Perangsangan nukleus ventromedial menimbulkan rasa kenyang, menurunkan nafsu
makan, dan hewan juga tenang.
3. Perangsangan zone tipis dari nuklei paraventrikular, yang terletak sangat berdekatan
dengan ventrikel ke tiga biasanya menimbulkan rasa takut dan reaksi terhukum.
4. Dorongan seksual terjadi bila ada rangsangan pada hipotalamus khususnya sebagian
besar bagian anterior dan posterior.
Beberapa prinsip sebagai bentuk kecerdasan emosi yang diperankan sistem limbik antara lain:
Mempengaruhi sistem belajar manusia.
Sistem limbik ini mengontrol kemampuan daya ingat, kemampuan merespon segala informasi
yang diterima pancaindera.
Mengontrol setiap informasi yang masuk.
Sistem limbik ini mengontrol setiap informasi yang masuk dan memilih informasi yang berharga
untuk disimpan dan yang tidak berharga akan dilupakan. Oleh karena itu sistem limbik
menentukan terbentuknya daya ingat jangka panjang yang berguna dalam pelayanan pendidikan
anak.
Otak tidak akan memberikan perhatian jika informasi yang masuk mengabaikan sistem
limbik.
Suasana belajar yang membosankan membuat sistem limbik mengkerut dan kehilangan daya
kerjanya. Oleh karena itu suasana belajar yang menyenangkan akan memberi pengaruh positif
pada kerja sistem limbik.
Fungsi spesifik bagian bagian lain sistem limbik ;
I.
Fungsi hipokampus
Hipokampus merupakan bagian korteks serebri yang memanjang melipat ke dalam untuk
membentuk lebih banyak bagian dalam ventrikel lateralis. Hipokampus merupakan saluran
tambahan yang dilewati oleh sinyal sensorik yang masuk, yang dapat memulai reaksi perilaku
dengan tujuan yang berbeda.

6 | Page

Seperti halnya halnya pada struktur-struktur limbik lain, perangsangan pada berbagai area dalam
hipokampus hampir selalu dapat menyebabkan salah satu dari berbagai pola perilaku, misalnya
rasa marah, ketidak pedulian, atau dorongan seks yang berlebihan.
Hal-hal yang berasal dari ingatan jangka pendek dapat diubah untuk disimpan menjadi ingatan
jangka panjang oleh hipokampus. Hipokampus (terletak diantara lobus temporal otak) dan bagian
media lobus temporal (bagian yang terletak paling dekat dengan garis tengah badan) juga
berperan dalam proses penggabungan ingatan (memory consolidation).
Untuk mengingat sesuatu, seseorang harus berhasil melaksanakan 3 hal, yaitu mendapatkan
informasi, menahan/meyimpannya dan mengeluarkannya. Bila kita lupa akan sesuatu, maka
gangguan dapat terjadi pada bagian mana saja dari ke 3 proses tersebut. Memory adalah proses
aktif, karena ilmu pengetahuan berubah terus, selalu diperiksa dan diformulasi ulang oleh pikiran
otak kita.
Ingatan mempunyai beberapa fase yaitu :
1) Waktunya sangat singkat (extremely shortterm)/ingatan segera (immediate memory):
Item hanya dapat disimpan dalam beberapa detik
2) Ingatan jangka pendek (short term): Item dapat ditahan dalam beberapa menit
3) Ingatan jangka panjang (long term): Penyimpanan berlangsung beberapa jam sampai
seumur hidup.
Ingatan jangka panjang dihasilkan oleh perubahan struktural pada system saraf, yang terjadi
karena aktifasi berulang terhadap lingkaran neuron (loop of neuron). Lingakaran tersebut dapat
dari korteks ke thalamus atau hipokampus, kembali lagi ke korteks.
Aktifasi berulang terhadap neuron yang membentuk loop tersebut akan menyebabkan synaps
diantara mereka secara fungsional berhubungan. Sekali terjadi hubungan, maka neuron tersebut
akan merupakan suatu kumpulan sel, yang bila tereksitasi pada neuron tersebut akan terjadi
aktifasi seluruh kumpulan sel tersebut.
Dengan demikian dapat disimpan dan dikembalikan lagi oleh berbagai sensasi, pikiran atau
emosi yang mengaktifasi beberapa neuron dari kumpulan sel tersebut. Menurut Hebb perubahan
struktural tersebut terjadi di sinaps.
Peran Hipokampus dalam pembelajaran
Fungsi teoritis hipokampus pada pembelajandapat menyebabkan timbulnya dorongan untuk
mengubah in gatan jangka pendek menjadi ingatan jangka panjang. Artinya, hipokampus
menjalarkan sinyal-sinyal yang tampaknya membuat pikiran berulang-ulang melatih informasi
baru sampai menjadi ingatan yang disimpan permanaen.
II.
Fungsi Amigdala
Amigdala merupakan kompleks beragam nukleus kecil yang terletak tepat di bawah korteks
serebri dari tiang (pole) medial anterior setiap lobus temporalis. Amigdala mempunyai banyak
sekali hubungan dua jalur dengan hipothalamus seperti juga dengan daerah sistem limbik
lainnya. Amigdala menerima sistem neuronal dari semua bagian korteks limbik seperti juga dari
neokorteks lobus temporalis, parietalis, dan ksipitalis terutama dari area asosiasi auditorik dan
area asosiasi visual. Oleh karena hubungan yang multiple ini, amigdala disebut jendela , yang
dipakai oleh sistem limbik untuk melihat kedudukan seseorang di dunia. Sebaliknya, amigdala
menjalarkan sinyal- sinyal :
1)
kembali ke area kortikal yang sama ini,
2)
ke hipokampus,
3)
ke septum,
7 | Page

4)
5)

ke thalamus, dan
khususnya ke hipothalamus.

Efek perangsangan amigdala hampir sama dengan efek perangsangan langsung pada
hipothalamus, ditambah dengan efek lain. Efek yang diawali dari amigdala kemudian dikirim
melalui hipotalamus meliputi :
1) peningkatan dan penurunan tekanan arteri,
2) meningkatkan atau menurunkan frekuensi denyut jantung
3) meningkatkan atau menurunkan motilitas dan sekresi gastrointestinal,
4) defekasi atau mikturisi
5) dilatasi pupil atau kadangkala kontriksi,
6) piloereksi,
7) sekresi berbagai hormon hipofisis anterior terutama hormon gonadotropin dan
adrenokortikortopik.
Disamping efek yang dijalarkan melalui hipotalamus ini, persangsangan amigdala juga dapat
menimbulkan beberapa macam gerakan involunter yakni:
1) pergerakan tonik seperti mengangkat kepala atau membungkukkan badan,
2) pergerakan melingkar melingkar,
3) kadangkala pergerakan klonik, ritmis, dan berbagai macam pergerakan yang berkaitan dengan
penciuman dan makan sperti menjilat, mengunyah, dan menelan. Selain itu, perangsangan pada
nukleo amigdala tertentu dapat menimbulkan pola marah, melarikan diri, rasa terhukum, nyeri
yang sangat, dan rasa takut seperti pola rasa marah yang dicetuskan oleh hipotalamus.
Fungsi keseluruhan amigdala
Amigdala merupakan area perilaku kesadaran yang bekerja pada tingkat bawah sadar. Amigdala
juga tampaknya berproyeksi pada jalur sistem limbik seseorang dalam berhubungan dengan alam
sekitar dan pikiran. Amigdala dianggap membuat respon perilaku seseorang sesuai dengan tiap
kedaan.
III.
korteks limbik
Bagian dari sistem limbik yang sedikit dimengerti adalah cincin korteks limbik, yang
mengelilingi struktur subkortikal limbik. Korteks ini berfungsi sebagai zona transisional yang
dilewati oleh sinyal-sinyal yang dijalarkan oleh sisa korteks otak ke dalam sistem limbik dan
juga ke arah yang berlawanan. Bagian dari sistem limbik yang sedikit dimengerti adalah cincin
korteks limbik, yang mengelilingi struktur subkortikal limbik. Korteks ini berfungsi sebagai zona
transisional yang dilewati oleh sinyal-sinyal yang dijalarkan oleh sisa korteks otak ke dalam
sistem limbik dan juga ke arah yang berlawanan. Oleh karena itu. Korteks limbik berfungsi
sebagai area asosiasi serebral untuk mengatur perilaku.
Korteks limbik ini dimulai dari :
Otak area orbito frontalis pada permukaan ventral lobus frontalis, menyebar ke atas ke dalam
girus subkalosal, kemudian melewati ujung atas korpus kolosum ke bagian medial hemisferum
serebri dalam girus singulata, dan akhirnya berjalan di belakang korpus kolosum dan ke bawah
menuju permukaan ventromedial lobus temporalis ke girus parahipokampal dan unkus. Lalu
pada permukaan medial dan ventral dari setiap hemisferum serebri ada sebuah cincin, terutama
8 | Page

merupakan paleokorteks, yang mengelilingi sekelompok struktur dalam yang sangat berkaitan
dengan prilaku dan emosi. Sebaliknya, cincin korteks ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi
dua arah dan merupakan tali penghubung antara neokorteks dan struktur limbik yang lebih
rendah.
Perangsangan pada berbagai regio korteks limbik akan meinggagalkan fungsi korteks limbik ini.
Namun, seperi halnya regio-regio lain dari sitem limbik, pola perilaku tersebut dapat juga
dicetuskan dengan merangasang daerah spesifik dalam korteks limbik. Demikian juga ablasi
beberapa area korteks limbik dapat menimbulkan perubahan yang persisten pada perilaku
hewan,misalnya hewan menjadi liar, mau menyelidiki segala objek, mempunyai dorongan
seksual yang besar tehadap hewan yang tidak sesuai atau terhadap benda- benda mati.
Peran Dopamin dan Perilaku
Dopamin memiliki rumus kimia C 6 H 3 (OH) 2-CH 2-CH 2-NH 2. Nama kimianya adalah "4 - (2aminoethyl) benzen-1 ,2-diol" dan singkatan adalah "DA." Sebagai anggota keluarga
katekolamin, dopamin adalah prekursor norepinefrin (noradrenalin) dan kemudian epinefrin
(adrenalin) dalam jalur biosintesis untuk neurotransmitter ini.
Dopamin terdapat pada striatum, hipothalamus, system limbic, median eminence, dan
interneuron pada retina. Pada beberapa ganglia otonom dan bagian-bagian tertentu di otak seperti
substansia nigra, sintesis katekolamin hanya sampai pada pembentukan dopamine. Baik di
susunan saraf pusat maupun di susunan saraf perifer, dopamin juga menjadi precursor untuk
pembentukan NE dan epinefrin.
Sintesis dan Penyimpanan
Sintesis dopamine seperti halnya dengan sintesis NE berasal dari asam amino tirosin. Dopamin
disentesis dalam tubuh (terutama oleh jaringan saraf dan medula kelenjar adrenal) pertama oleh
hidroksilasi asam amino L-tirosin untuk L-dopa melalui monooxygenase 3 tyrosine enzim-, juga
dikenal sebagai hidroksilase tirosin, dan kemudian oleh dekarboksilasi L-dopa oleh
dekarboksilase asam L-amino aromatik (yang sering disebut sebagai dekarboksilase dopa).
Dalam beberapa neuron, dopamin lebih lanjut diolah menjadi dopamin-norepinefrin oleh
hidroksilase beta.
Pengaturan sintesis dopamine tergantung dari aktivitas enzim tirosin hidroksilase dan dopa
dekaroboksilase. L-dopa ditranspor secara aktif ke dalam neuron pada susunan saraf pusat
dimana ia akan dikonversi menjadi dopamine oleh enzim dopa dekarboksilase. Dopamin akan
tersimpan di dalam vesikel dan sebagian lagi diambil oleh sel glia. Sel glia tidak dapat
menyimpan dopamine secara efisien sehingga dopamine akan berdifusi ke luar untuk
merangsang reseptor dopamine atau dire-uptake oleh neuron dopaminergik. Bila terjadi
degenerasi neuron dopamine (seperti pada penyakit Parkinson), maka peranan dopamine yang
berasal dari sel-sel glia menjadi sangat penting.
Sekresi
Seperti halnya NE, dopamin disekresi ke celah sinaptik melalui proses eksositosis dimana proses
ini membutuhkan ion Ca. Sekresi dopamine ditingkatkan oleh tiramin, amfetamin,
methilamfetamin, dan juga nomifensin.
Mekanisme Kerja
9 | Page

Transmisi dopaminergik nampaknya hanya terdapat pada susunan saraf pusat. Dopamin bekerja
melalui reseptor dopamine yang terdapat pada neuron postsinaptik. Beberapa jaringan perifer
dapat memberi respon terhadap pemberian dopamine tetapi tidak ditemukan persarafan
dopaminergik pada jaringan-jaringan tersebut (misalnya, jantung, pembuluh darah dan usus). Hal
ini menunjukkan bahwa pada jaringan perifer juga terdapat reseptor dopamine. Reseptor
dopamine yang telah diisolasi strukturnya adalah reseptor dopamine 1 (D 1) dan reseptor
dopamine 2 (D2). Akhir-akhir ini ada bukti yang menunjukkan bahwa reseptor dopamine yang
terdapat dalam jaringan lebih dari dua. Reseptor D 1 bekerja dengan jalan mengaktifkan enzim
adenilat siklase melalui Gs dan reseptor D 2 bekerja dengan jalan menghambat enzim adenilat
siklase dengan mengaktifkan Gi.
Pada susunan saraf perifer, reseptor dopamine ditemukan pada beberapa ganglia sinaptik,
kelenjar eksokrin, saluran cerna dan otot polos pembuluh darah. Pada susunan saraf pusat
terdapat pada daerah nigrostriatal, daerah limbic seperti amigdala dan hippocampus serta daerah
tubero-infundibular seperti nucleus arkuatus dan hypothalamus.
Inaktivasi
Seperti halnya dengan NE, inaktifasi dopamine terjadi dengan proses re-uptake neuronal dan
proses enzimatik. Enzim MAO dan COMT akan memetabolisasi dopamine menjadi bentuk yang
tidak aktif seperti 3,4-dihidroksi-phenulacetic acid (DOPAC) dan homovanilic acid (HVA).
Aspek Farmakologis
Dopamin terlibat di dalam proses terjadinya penyakit Parkinson, dimana pada penyakit ini terjadi
kekurangan dopamine akabat degenerasi neuron dopaminergik pada substansia nigra dan
striatum.
Kelebihan dan kekurangan dopamin
Dopamin yang berlebihan dapat menyebabkan skizofrenia dan bila kekurangan dapat
menyebabkan penyakit parkinson.
Pada penelitian menunjukkan penderita parkinson kehilangan 80% lebih sel-sel saraf penghasil
dopamine pada substansia nigra. Kekurangan dopamine akan mengganggu keseimbangan antara
dopamin dengan neurotransmitter lainnya, seperti asetilkolin. Kekurangan dopamin
menyebabkan sel-sel saraf pada striatum kehilangan fungsi kontrol, sehingga penderita tidak
dapat mengatur atau mengontrol gerakan-gerakan normal.
Abnormal transmisi dopaminergik tinggi telah dikaitkan dengan psikosis dan skizofrenia.
Peningkatan aktivitas fungsional dopaminergik, khususnya di jalur mesolimbic, ditemukan pada
individu skizofrenia
2. Memahami dan Menjelaskan Psitopatologi Psikotik
Psikopatologi adalah fungsi kepribadian yang abnormal. Psikopatologi merupakan cabang ilmu
kedokteran jiwa yang mempelajari :
- Gejala2 dalam tingkah laku / pikiran / perasaan dan lain-lain fungsi psikis
- Variasi dalam kelainan pola reaksi total dari individu ialah dalam bentuk gangguan
kepribadian

10 | P a g e

Halusinasi Sumber penyebab gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor-faktor pada ketiga unsur itu
yang terus menerus saling mempengaruhi, yaitu :
Faktor-faktor somatik (somatogenik)
a.
b.
c.
d.
e.

Neroanatomi
Nerofisiologi
Neurokimia
Tingkat kematangan dan perkembangan organik
Faktor-faktor pre dan peri - natal

Faktor-faktor psikologik ( psikogenik) :


a. Interaksi ibu anak : normal (rasa percaya dan rasa aman) atau abnormal
berdasarkan kekurangan, distorsi dan keadaan yang terputus (perasaan tak percaya
dan kebimbangan)
b. Peranan ayah
c. Persaingan antara saudara kandung
d. Inteligensi
e. Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan dan masyarakat
f. Kehilangan yang mengakibatkan kecemasan, depresi, rasa malu atau rasa salah.
g. Konsep dini : pengertian identitas diri sendiri lawan peranan yang tidak menentu.
h. Keterampilan, bakat dan kreativitas
i. Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya
j. Tingkat perkembangan emosi
Faktor-faktor sosio-budaya (sosiogenik)
a.
b.
c.
d.
e.

Kestabilan keluarga
Pola mengasuh anak
Tingkat ekonomi
Perumahan : perkotaan lawan pedesaan
Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan,
pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
f. Pengaruh rasial dan keagamaan
g. Nilai-nilai
Sebagian besar tanda dan gejala yang terdaftar di bawah ini dapat dipahami sebagai nilai yang
bervariasi dari berbagai gambaran spektrum perilaku yang berkisar antara normal sampai
abnormal. Sangat sulit untuk menemukan suatu gejala atau tanda patognomonik ( khas ) dalam
psikiatri. Sebagai pembanding, pada pengobatan secara internal masih lebih mudah untuk
menemukan tanda yang dapat menunjukkan adanya indikasi suatu penyakit atau gangguan
tertentu, sebagai contoh, tanda cincin Kayser-Fleischer pada penyakit Wilson's atau refleks
Babinski pada penyakit gangguan jalur piramidal.

11 | P a g e

A. Tanda : Pengamatan dan penemuan penyakit / gangguan oleh seorang dokter, seperti
adanya suatu penyumbatan atau retardasi psikomotorik.
B. Gejala : pengalaman pribadi yang dirasakan dan diuraikan oleh pasien, sering
dinyatakan dalam bentuk keluhan, seperti suasana hati tertekan atau kehilangan energi.
C. Sindrom : suatu kelompok tanda dan gejala yang bersama-sama menyusun suatu
kondisi tertentu yang dapat dikenal, namun lebih samar-samar dibanding suatu
gangguan / penyakit yang spesifik.
Tanda dan Gejala Gangguan Psikiatri
A. Kesadaran : Status kesadaran ( istilah sensorium kadang-kadang digunakan sebagai suatu
sinonim untuk kesadaran).
1. Gangguan kesadaran
a. Disorientasi : Gangguan orientasi dalam hal waktu, tempat, atau orang.
b. Kesadaran berkabut : kesadaran yang tidak sempurna dengan gangguan persepsi dan
sikap.
c. Stupor : ketiadaan reaksi dan tidak mengenal lingkungan.
d. Delirium : reaksi kebingungan, disorientasi, gelisah yang berhubungan dengan ketakutan
dan halusinasi.
e. Koma : Derajat tingkat keadaan pingsan yang dalam.
f. Koma vigil / terjaga : keadaan koma di mana pasien nampak seperti tertidur tetapi siap
untuk dibangunkan (dikenal sebagai mutisme akinetik).
g. Status kesadaran senjakala : gangguan kesadaran dengan halusinasi
h. Status seperti mimpi : sering digunakan sebagai sinonim untuk bangkitan parsial
kompleks atau epilepsi psikomotorik.
i. Somnolen : keadaan mengantuk yang abnormal.
j. Kebingungan : Gangguan kesadaran di mana reaksi ke stimuli lingkungan tidak sesuai;
yang dinyatakan dengan disorientasi dalam hal waktu, tempat, atau orang.
k. Keadaan mengantuk : suatu status kesadaran lemah berhubungan dengan suatu keinginan
atau kecenderungan untuk tidur.
l. Terbenamnya matahari : sindrom pada orang lanjut usia yang umumnya terjadi pada
malam hari dan ditandai oleh keadaan mengantuk, kebingungan, kehilangan
keseimbangan dan jatuh karena dalam pengobatan sedatif, yang disebut sindrom
sundowner's.
2. Gangguan perhatian : perhatian adalah sejumlah usaha yang digunakan dalam
memperhatikan dan fokus terhadap suatu hal tertentu dari suatu pengalaman; kemampuan untuk
fokus pada satu aktivitas; dan kemampuan untuk berkonsentrasi.
a. Distraktibilitas : Ketidakmampuan untuk konsentrasi dalam memberi perhatian; keadaan
di mana perhatian ditarik menuju stimuli eksternal yang tidak relevan atau tidak penting.
b. Inatensi selektif : Perhatian yang terbatas hanya pada berbagai hal yang menghasilkan
ketertarikan.
c. Hypervigilans : perhatian berlebihan yang terpusat pada semua stimuli internal dan
eksternal, terjadi sekunder pada delusi atau paranoid; berhubungan dengan hyperpragia:
aktivitas mental dan pemikiran berlebihan.
12 | P a g e

d. Trans : perhatian yang terpusat dan kesadaran berubah, umumnya dilihat pada keadaan
hipnosa, gangguan disasosiasi, dan pengalaman religius yang sangat menggembirakan.
e. Disinhibisi : Perpindahan efek inhibisi, yang mengakibatkan orang hilang kendali ketika
dalam keadaan mabuk oleh alkohol.
3. Gangguan Sugestibilitas : respon tanpa kritik dan mengalah terhadap suatu ide / pendapat
yang mempengaruhi.
a. Folie a deux ( folie a trois) : gangguan komunikasi emosional antara dua ( atau tiga)
orang.
b. Hipnosa : modifikasi kesadaran yang ditandai oleh suatu peningkatan sugestibilitas.
B. Emosi: status perasaan yang kompleks termasuuk didalamnya faktor psikis, somatis, maupun
prilaku yang berhubungan atau dapat mempengaruhi suasana hati.
1. Afek : ungkapan emosi yang dapat diamati, yang mungkin dapat berbeda dengan apa yang
dikeluhkan oleh pasien.
a. Afek yang sesuai : kondisi di mana ungkapan emosi selaras dengan pikiran, ide maupun
perkataan ; dapat diuraikan lebih lanjut sebagai afek yang yang diekspresikan secara
wajar.
b. Afek tidak sesuai : ketidaksesuaian antara ungkapan emosi yang dirasakan dengan
pikiran, ide maupun perkataan.
c. Afek tumpul : gangguan afek yang ditandai oleh adanya pengurangan sejumlah besar
intensitas ungkapan emosi / perasaan secara eksternal .
d. Afek terbatas : pengurangan dalam intensitas ungkapan emosi / perasaan; lebih sedikit
dibanding Afek tumpul namun tetap jelas adanya pengurangan.
e. Afek datar : Ekspresi afeksi yang bisa ada ataupun tidak ada: ditandai dengan suara yang
monoton, wajah tak bergerak ( tanpa ekspresi ).
f. Afek labil : perubahan yang kasar dan cepat dalam ungkapan emosional, tidak
berhubungan dengan stimuli eksternal.
2. Suasana hati ( Mood ) : suatu pengalaman subyektif yang menggambarkan dan mendukung
emosi / perasaan yang dapat disampaikan oleh pasien dan yang dapa diamati oleh orang lain;
misalnya adanya tekanan, kegembiraan, dan kemarahan.
a. Mood Disforik : suatu suasana hati tak enak.
b. Mood Eutimik : cakupan suasana hati normal, menyiratkan tidak adanya perasaan
tertekan atau persaan senang berlebihan.
c. Mood ekspansif ( leluasa ) : ungkapan seseorang yang merasakan kebebasan, biasanya
dengan suatu pengakuan akan arti penting dari diri sendiri.
d. Mood sensitif ( mudah marah ): suatu keadaan pada seseorang yang mudah merasa
terganggu dan cepat marah.
e. Mood berayun ( labil ) : perpaduan suasana hati antara bahagia dan tertekan atau cemas
berlebihan.
f. Mood terangkat ( naik ) : suasana hati yang terisi oleh kenikmatan dan kepercayaan diri;
suatu suasana hati yang lebih gembira dari biasanya.
g. Euforia : Suasana hati yang terangkat dan penuh kegembiraan.
h. Ekstasi : Suasana hati yang terlalu gembira diluar kewajaran.
13 | P a g e

i. Tekanan : Perasaan sedih yang bersifat Psikopatologik.


j. Anhedonia : hilangnya minat dan ketertarikan terhadap segala kegiatan / aktifitas
yangbiasanya menyenangkan, sering berhubungan dengan adanya tekanan.
k. Duka cita Atau Perkabungan : Kesedihan yang sesuai dengan kondisi karena
meninggalnya seseorang yang dikasihi, juga disebut kehilangan.
l. Alexithymia : ketidakmampuan seseorang untuk menguraikan atau kesulitan di dalam
menggambarkan secara sadar emosi / perasaan dan suasana hatinya.
m. Keinginan bunuh diri : Pemikiran tentang ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
n. Kegembiraan : perasaan sukacita, senang, bahagia, kemenangan, kepuasan dan
optimisme.
o. Hypomania : Kelainan suasana hati ( mood ) dengan karakteristik mania yang kwalitatif,
tetapi intensitasnya lebih sedikit.
p. Mania : Status suasana hati yang ditandai oleh kegembiraan, hiperaktif, gelisah,
hiperseks, dan yang dipercepat oleh pemikiran dan perkataannya sendiri.
q. Melankolia : keadaan perasaan yang sangat tertekan; digunakan dalam istilah melankolia
involusional, yang juga berhubungan dengan intensitas tekanan.
r. Sikap acuh tak acuh : sikap yang tidak menunjukkan kepedulian / perhatian terhadap
kelemahan atau kekurangan seseorang.
3. Emosi lainnya:
a. Ansietas ( kecemasan ) : perasaan takut yang disebabkan oleh adanya bahaya yang dapat
terjadi, bisa berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar.
b. Kecemasan mengambang : ketakutan yang tidak terpusat pada satu hal tertentu.
c. Takut : Kecemasan yang disebabkan oleh kesadaran akan suatu bahaya yang nyata dan
dikenal.
d. Agitasi ( gelisah ) : kecemasan yang dalam berhubungan dengan kegelisahan motorik;
serupa dengan iritabilitas ( sifat lekas marah ) yang mudah dicetuskan oleh kemarahan
atau gangguan.
e. Ketegangan : Peningkatan aktifitas motorik yang tidak menyenangkan berhubungan
dengan faktor psikologis.
f. Panik : serangan kecemasan yang berlebihan, bersifat episodik, yang dapat berhubungan
dengan gangguan sistem saraf otonom, juga oleh karena perasaan ngeri yang hebat.
g. Apati : ketumpulan emosi yang berhubungan dengan sikap acuh tak acuh.
h. Ambivalen : adanya dua hal yang saling bertentangan ( berbeda ) dalam diri seseorang
yang dialami dalam waktu bersamaan.
i. Abreksi : pelepasan emosional atau membebaskan ingatan ingatan terhadap
pengalaman yang menyakitkan.
j. Malu : Perasaan gagal untuk mengerjakan sesuatu yang diharapkan.
k. Rasa bersalah : Emosi sekunder yang timbul setelah melakukan sesuatu yang dianggap
kesalahan.
l. Pengendalian diri : Kemampuan untuk menahan diri terhadap godaan, dorongan hati atau
hasutan yang diikuti suatu tindakan.
m. Inefabilitas : keadaan sangat gembira pada seseorang yang tak terlukiskan, sulit
digambarkan, dan mustahil untuk disampaikan kepada orang lain.
n. Akateksis : ketiadaan perasaan terhadap sesuatu yang menjadi beban secara emosi; pada
kateksis dapat dihubungkan dengan perasaan.
14 | P a g e

o. Dekatesis : melepaskan emosid dari pemikiran, gagasan, atau para orang.


4. Gangguan fisiologis berhubungan dengan suasana hati ( Mood ) :
Tanda-tanda gangguan somatis ( biasanya otonomik ), paling sering berhubungan dengan depresi
/ tertekan ( disebut juga tanda vegetatif ).
a. Anorexia : hilangnya atau penurunan selera makan.
b. Hiperfagia : Peningkatan nafsu makanan.
c. Insomnia : ketidakmampuan atau kesulitan untuk tidur.
- Awal : kesukaran dalam upaya untuk tidur.
- Pertengahan : Kesukaran untuk tidur sepanjang malam tanpa terbangun dan
kesukaran untuk dapat tidur kembali.
- Terminal : terbangun pagi-pagi benar.
d. Hipersomnia : tidur yang berlebihan.
e. Variasi Diurnal ( siang hari ) : secara teratur suasana hati terburuk pada pagi hari, sesaat
setelah bangun, dan mulai membaik pada jam-jam berikutnya.
f. Penurunan Libido : penurunan minat / ketertarikan seksual, tindakan dan pencapaiannya ;
g. (peningkatan libido sering dihubungkan dengan negara status manik).
h. Fatig ( kelelahan ) : suatu perasaan keletihan, lemah dan mengantuk, atau iritabilitas yang
menyertai suatu aktifitas tubuh maupun mental.
i. Pika : keinginan untuk mengkonsumsi benda yang bukan makanan, seperti cat dan tanah
liat.
j. Pseudosiesis : kondisi yang jarang terjadi di mana seseorang yang tidak hamil namun
mempunyai tanda dan gejala kehamilan, seperti distensi abdominal, payudara membesar,
pigmentasi, amenore ( tidak turun haid ) dan mual pagi hari.
k. Bulimia : rasa lapar yang tak terpenuhi dan keinginan berlebihan untuk makan; dapat
dilihat pada bulimia nervosa dan depresi atipik.
l. Adinamia : Kelemahan dan kelelahan ( Fatig ).
C. Perilaku Motorik : Aspek psikis yang meliputi dorongan hati, motivasi, berbagai keinginan,
rangsangan, naluri, dan hasrat, yang dinyatakan oleh aktivitas motorik atau perilaku seseorang.
1. Ekopraksia : Gangguan / penyakit pada orang yang suka meniru orang lain.
2. Katatonia dan Kelainan Postural : terlihat pada Schizofrenia katatonik dan beberapa kasus
gangguan otak, seperti encephalitis.
a. Katalepsi : istilah umum untuk suatu posisi diam / tak bergerak yang dilakukan secara
konstan.
b. Rangsangan katatonik : agitasi / gelisah, aktifitas motorik yang tak bertujuan dan tidak
dipengaruhi oleh stimuli eksternal.
c. Stupor katatonik : aktivitas motorik yang lamban, sering sampai pada batas imobilitas
dan tampak acuh pada lingkungan sekitar.
d. Kekakuan / Rigiditas katatonik: asumsi volunter pada postur / posisi tubuh yang kaku,
berupaya untuk melawan semua usaha untuk dipindahkan.
e. Postur katatonik : pengambilan suatu posisi atau sikap tubuh yang tidak biasa / ganjil
dalam waktu yang lama.
f. Cereafleksibilitas ( fleksibilitas sepertii lilin): kondisi dimana seseorang yang diatur
dalam suatu posisi tertentu untuk dirawat / diperiksa; ketika si pemeriksa memindahkan
15 | P a g e

atau menggerakkan salah satu anggota tubuh pasien, maka bagian tersebut terasa seperti
terbuat dari lilin.
g. Akinesia : ketiadaan pergerakan fisik, seperti pada Schizofren Katatonik ; bisa juga
terjadi sebagai efek samping ekstrapiramidal dari pengobatan antipsikosis.
3. Negativisme : Pertahanan diri untuk dipindahkan atau penolakan terhadap semua instruksi
yang diberikan.
4. Katapleksi : hilangnya kekuatan otot secara temporer dan kelemahan yang dipicu oleh
berbagai beban emosi.
5. Stereotipik: Pengulangan secara seksama suatu pola atau bentuk aksi fisik maupun perkataan
tertentu.
6. Manerisme ( Lagak ) : pergerakan involunter ( tidak disengaja ) yang sudah menjadi
kebiasaan.
7. Otomatisme : suatu tindakan atau penampilan otomatis yang biasanya mewakili aktivitas yang
tidak disadari.
8. Perintah Otomatis : kepatuhan untuk melakukan suatu perintah secara otomatis.
9. Mutisme : seseorang yang tidak dapat bicara atau mengeluarkan suara tanpa adanya kelainan
struktural.
10. Aktifitas berlebihan :
a. Agitasi Psikomotorik : aktifitas motorik dan kognitif yang berlebihan, biasanya
nonproduktif dan merupakan respon terhadap ketegangan dari dalam diri sendiri.
b. Hiperaktif ( hiperkinesis) : tidak bisa diam, agresif dan destruktif yang sering
dihubungkan dengan adanya kelainan pada otak.
c. Tik : pergerakan motorik spasmodik / tak teratur dan tanpa disengaja.
d. Somnabulisme ( berjalan saat tidur): aktivitas motorik selama tidur
e. Akathisia : perasaan subyektif berupa ketegangan otot sekunder karena obat antipsikotik
maupun obat yang lain, yang dapat menyebabkan kegelisahan, serta mengulangi posisi
duduk dan berdiri; dapat keliru dianggap sebagai gangguan jiwa agitasi.
f. Kompulsi : dorongan hati yang tak dapat dikendalikan untuk melakukan suatu tindakan
secara berulang.
( 1) Dipsomania : kompulsi untuk minum alkohol.
( 2) Kleptomania : kompulsi untuk mencuri.
( 3) Nimfomania : kebutuhan yang memaksa dan berlebihan untuk berhubungan seks di
pada seorang perempuan.
( 4) Satiriasis : kebutuhan yang memaksa dan berlebihan untuk berhubungan seks pada
seorang laki-laki.
( 5) Trikotillomania : kompulsi untuk mencabut rambut.
( 6) Ritual : aktivitas otomatis, kompulsi secara alamiah, ansietas terhadap suatu
perubahan.
g. Ataksia : Kegagalan koordinasi otot; ketidakteraturan tindakan otot.
h. Polifagi : kelainan berupa makan secara berlebihan.
i. Polidipsi : kelainan berupa minum secara berlebihan.
16 | P a g e

j. Tremor : perubahan irama pergerakan, pada umumnya gemetaran lebih cepat dari satu
detik; bersifat khas atau tipikal, akan berkurang selama periode relaksasi dan tidur dan
akan meningkat dalam keadaan marah atau tegang.
k. Flosilasi : gerakan memilin tanpa tujuan, biasanya pada pakaian, sprei maupun sarung
bantal ; dapat terlihat pada Delirium.
11. Hipoaktifitas ( hipokinesis) : penurunan aktifitas motorik dan kognitif seperti pada retardasi
psikomotor ; keterlambatan dalam berpikir, berbicara dan bergerak.
12. Suka meniru: aktivitas motori pada masa kanak-kanak suka meniru gerakan sederhana.
13. Agresi: kekuatan penuh dalam berbagai tindakan yang bertujuan baik secara fisik maupun
dalam berbicara; merupakan kendali motorik yang terhadap amukan, kemarahan, atau
permusuhan.
14. Berakting ( pemeranan ): ekspresi keinginan bawah sadar atau rangsangan terhadap suatu
tindakan; prilaku yang timbul oleh karena fantasi bawah sadar.
15. Abulia: penurunan rangsangan dalam bertindak dan berpikir, berhubungan dengan sikap acuh
tak acuh; merupakan salah satu akibat dari defisit neurologis.
16. Anergia: ketiadaan energi.
17. Astasia Abasia : ketidakmampuan untuk berdiri atau berjalan secara normal, meskipun
pergerakan kaki normal dapat dilakukan pada saat duduk atau posisi berbaring. Gaya berjalan
atau melangkah terlihat ganjil namun bukan disebabkan oleh karena suatu lesi organik yang
spesifik; terlihat pada kelainan konversi.
18. Koprofagia : suka makan kotoran atau tinja.
19. Diskinesia : Kesukaran dalam melakukan pergerakan volunter, seperti pada kelainan
ekstrapiramidal
20. Kekakuan Otot : keadaan dimana otot sulit digerakkan; terlihat pada Skozofrenia.
21. Berputar-putar : suatu tanda pada anak-anak autistik yang secara terus menerus memutarkan
badan searah putaran kepala mereka.
22. Bradikinesia : kelambatan aktifitas motorik ditandai dengan suatu penurunan pergerakan
spontan yang normal.
23. Korea : pergerakan cepat, tersentak-sentak yang tak bertujuan dan dilakukan tanpa sadar.
24. Konvulsi : involunter, suatu kontraksi hebat atau spasme otot.
a. Konvulsi klonik : konvulsi dimana otot akan berkontraksi dan relaksasi secara bergantian.
b. Konvulsi tonik : Konvulsi dimana otot akan terus- menerus berkontraksi.
25. Bangkitan : suatu serangan mendadak dari gejala tertentu, seperti konvulsi, hilangnya
kesadaran, dan gangguan psikis maupun sensoris; terlihat pada epilepsi dan bisa juga karena
rangsangan lain.

17 | P a g e

a. Bangkitan tonik-klonik umum: serangan berupa gerakan tonik-lonik anggota tubuh, lidah
yang tergigit, dan inkontinensia yang berangsur-angsur akan sadar dan pulih; disebut juga
bangkitan Grand Mal dan bangkitan psikomotorik.
b. Bangkitan parsial sederhana : bangkitan yang terlokalisir pada bagian iktal tanpa
perubahan dalam kesadaran.
c. Bangkitan parsial kompleks : bangkitan yang terlokalisir pada bagian iktal yang disertai
perubahan kesadaran.
26. Distonia : kelambatan, kontraksi dari batang tubuh dan anggota gerak; terlihat pada distona
karena pengobatan tertentu.
27. Aminia : Ketidakmampuan untuk membuat bahasa tubuh / gestur sendiri atau untuk
memahami gestur yang dibuat orang lain.
D. Pemikiran: merupakan arus gagasan, lambang / simbol, dan asosiasi bertujuan yang
diaktifkan oleh suatu masalah atau tugas yang menghasilkan kesimpulan berdasarkan kenyataan;
ketika suatu peristiwa logis terjadi, maka secara normal kita akan berpikir; parapraksis
( kehilangan motivasi logika tanpa disadari, disebut juga Freudian Slip) yang dianggap sebagai
bagian dari pemikiran yang normal. Pemikiran abstrak adalah kemampuan untuk menggapai halhal yang penting secara utuh, untuk memisahkannya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, dan
untuk membedakannya dari pandangan umum.
1. Gangguan umum dalam proses berpikir
a. Gangguan Mental : secara klinis perilaku yang timbul atau sindrom psikologis yang
terjadi berhubungan dengan penderitaan dan kecacatan, bukan hanya respon yang tidak
diharapkan untuk menjawab peristiwa tertentu atau membatasi hubungan antara
seseorang dan masyarakat sekitar.
b. Psikosis : Ketidakmampuan untuk membedakan kenyataan dan khayalan; dengan
menciptakan suatu kenyataan baru ( berbeda dengan neurosis: gangguan mental di mana
kenyataan yang sebenarnya tetap utuh; perilaku yang tidak melanggar berbagai norma
sosial, tetapi akan cenderung kumat dan berlangsung kronis bila tanpa perawatan.
c. Uji realitas : merupakan evaluasi dan penilaian yang obyektif terhadap dunia diluar diri
sendiri .
d. Gangguan Pikiran formal : lebih mengarah kepada gangguan dalam bentuk pikiran dan
bukan isi pikiran; pemikiran yang ditandai oleh hlangnya asosiasi, pembentukan kata
baru / neologisme, dan hal-hal konstruktif tapi tidak masuk akal; gangguan proses
berpikir, dan orang tersebut dikategorikan sebagai psikosis.
e. Pemikiran yang tidak masuk akal: pemikiran yang berisi kesimpulan yang salah atau
pertentangan secara internal; dapat dianggap sebagai gangguan psikis bila tanda-tandanya
jelas dan bukan disebabkan oleh defisit intelektual atau nilai-nilai budaya.
f. Dereisme : Aktivitas mental yang tidak sesuai kenyataan dan pengalaman.
g. Pemikiran Autistik : Keasyikan dengan diri sendiri, dunia pribadi; istilah yang terkadang
disama artikan dengan dereisme.
h. Pemikiran gaib : suatu bentuk pikiran dereistik; pemikiran yang serupa dengan pemikiran
pada tahap anak-anak (Jean Piaget), di mana pemikiran, kata-kata, atau tindakan yang
menunjukkan kekuasaan ( sebagai contoh, menjadi penyebab atau pencegah suatu
peristiwa hebat).
18 | P a g e

i. Proses berpikir primer : istilah umum untuk pemikiran dereistik, tidak masuk akal, dan
gaib; ditemukan secara normal dalam mimpi, secara tidak normal pada psikosis.
j. Pengertian emosional yang dalam: tingkat kesadaran atau pemahaman yang tinggi pada
seseorang yang dapat mendorong untuk melakukan hal-hal positif dalam prilaku dan
kepribadiannya.
2. Gangguan spesifik dalam bentuk pikiran
a. Neologisme : kata-kata baru yang diciptakan oleh pasien, sering dengan kombinasi suku
kata dari kata-kata yang lain, untuk pertimbangan psikologis idiosinkratik
b. Salad kata-kata : campuran kata-kata yang tidak logis dan tidak bertautan dengan kalimat.
c. Sirkumstantial : Kalimat yang tak langsung mencapai tujuan / maksud yang sebenarnya
tetapi berputar-putar pada kalimat yang lain; yang ditandai oleh suatu detail yang
tumpang-tindih dan keterangan sambil lalu.
d. Tangential : Ketidakmampuan untuk membentuk asosiasi pikiran yang bertujuan;
pembicara tidak mendapat tujuan yang diingankan.
e. Ketidaksesuaian : pada umumnya apa yang dipikirkan tak dapat dimengerti / dipahami;
pemikiran dan perkataan yang berjalan bersama namun tidak saling berhubungan,
menghasilkan tatabahasa yang tidak beraturan.
f. Perseverasi : mempertahankan respon terhadap stimulus yang sebelumnya setelah suatu
stimulus baru diberikan; sering berhubungan dengan gangguan kognitif.
g. Verbigerasi : pengulangan kata-kata atau ungkapan tertentu yang tidak mengandung arti.
h. Ekolalia : psikopatologis berupa pengulangan kata-kata atau kalimat dari seseorang
kepada yang lain; pengulangan yang dipertahankan; dapat disampaikan dalam bentuk
ejekan maupun dengan intonasi yang keras.
i. kondensasi : Peleburan berbagai konsep menjadi satu.
j. Jawaban tidak relevan : Jawaban yang tidak selaras dengan pertanyaan yang diajukan
1. ( seseorang yang mengabaikan atau tidak mempedulikan pertanyaan yang dimaksud ).
k. Kehilangan asosiasi : arus berpikir di mana berbagai gagasan bergeser dari satu topik ke
topik yang lain dan tidak saling berkaitan; pada keadaan yang lebih berat, terjadi
ketidaksesuaian dalam perkataan.
l. Penyimpangan : terjadi deviasi mendadak dalam pikiran tanpa dapat dihentikan;
terkadang digunakan sebagai sinonim dari kehilangan asosiasi.
m. Flight of idea ( ide yang berterbangan ): perkataan yang cepat dan beruntun, ide / gagasan
yang berpindah-pindah, dengan tujuan untuk dapat dihubungkan; pada keadaan yang
lebih ringan masih dapat diikuti oleh orang yang mendengarkan.
n. Asosiasi klang : asosiasi kata-kata dengan bunyi yang sama tetapi tanpa arti; kata-kata
yang tidak mempunya koneksi logis; termasuk sajak dan permainan kata-kata.
o. Bloking ( Ganjalan ) : interupsi / hadangan keras terhadap pikiran sebelum pikiran atau
ide tersebut dapat diselesaikan; setelah jeda itu, orang tersebut tidak dapat mengingat lagi
apa yang sudah dikatakan atau yang baru akan dikatakan ( disebut juga deprivasi
pikiran ).
p. Glossolalia : Ungkapan suatu pesan atau pewahyuan melalui kata-kata yang tak dapat
dipahami ( dikenal sebagai bahasa lidah); tidak berhubungan dengan suatu gangguan
pikiran jika hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari kegiatan spiritual ( Gereja
Pantekosta ); dikenal juga sebagai criptolalia, suatu bahasa yang khusus.
3. Gangguan spesifik dalam isi pikiran
19 | P a g e

a. Kemiskinan isi : pikiran yang hanya memberi sedikit informasi oleh karena
ketidakjelasan, tidak ada pengulangan kata-kata, atau ungkapan yang tidak jelas.
b. Ide berlebihan : tidak masuk akal, mempertahankan kepercayan terhadap sesuatu yang
salah, lebih kuat dibandingkan suatu khayalan / delusi.
c. Delusi ( khayalan ) : kepercayaan palsu, berdasarkan pada kesimpulan salah tentang
kenyataan diluar, tidak sesuai dengan tingkat kecerdasan pasien dan latar belakang
budaya; namun tidak bisa dikoreksi dengan alasan lain.
1) Delusi Ganjil : tidak masuk akal, sangat mustahil, kepercayaan yang aneh dan
salah ( contohnya, penyerbu dari ruang angkasa telah menanamkan elektroda
dalam otak seseorang).
2) Delusi yang diatur : kepercayaan palsu yang berhubungan dengan tema atau
peristiwa tertentu ( sebagai contoh, seseorang telah dianiaya oleh CIA, FBI, atau
Mafia).
3) Delusi sesuai mood : khayalan yang dihubungkan dengan isi suasana hati
seseorang (contohnya, seorang pasien depresi percaya bahwa dia yang bertanggung
jawab atas kehancuran dunia).
4) Delusi tidak sesuai mood : Khayalan yang tidak memiliki hubungan dengan isi
suasana hati atau kondisi mood yang stabil ( sebagai contoh, seorang pasien
depresi berkhayal sebagai pemegang kendali pikiran atau pikiran tentang
penyiaran).
5) Delusi nihilistik : perasaan yang salah tentang menyatakan diri sendiri, orang lain,
atau dunia ini adalah hampa atau akan segera berakhir.
6) Delusi kemiskinan : kepercayaan yang salah dari seseorang bahwa dia telah atau
akan kehilangan semua harta miliknya.
7) Delusi somatis : kepercayaan yang salah pada seseorang yang berhubungan
dengan fungsi tubuh ( sebagai contoh, ia percaya bahwa otaknya melebur atau
meleleh ).
8) Delusi paranoid : meliputi khayalan tentang penganiayaan, pengendalian, dan
kekuasaan (dibedakan dari pikiran paranoid , yang kecurigaannya lebih sedikit
daripada delusional).
a). Delusi penyiksaan: kepercayaan palsu dari seseorang bahwa dia telah
diganggu, ditipu, atau dianiaya; sering ditemukan pada pasien yang mempunyai
kecenderungan patologis untuk mengambil tindakan sah secara hukum oleh
karena penganiayaan dibayangkan.
b). Delusi kekuasaan / kehebatan: konsep berpikir yang berlebihan dari
seseorang yang menganggap dirinya penting, berkuasa dan terkenal.
c) Delusi acuan: kepercayaan palsu dari seseorang bahwa perilaku orang lain
lain mengacu pada dirinya; peristiwa tertentu, obyek, atau orang lain hanya
memiliki kemampuan yang biasa atau kemampuan yang berdampak negatif;
berdasarkan ide acuan ini, pasien menganggap bahwa orang lain sedang
membicarakannya ( sebagai contoh, ia percaya bahwa orang yang bekerja di
stasiun televisi maupun radio sedang membicarakan dirinya ).
9) Delusi tuduhan : perasaan bersalah dan menyesali kesalahan diri sendiri.
10) Delusi kendali : perasaan bahwa kehendak, pemikiran, bahkan perasaan seseorang
dikendalikan oleh kekuatan diluar dirinya.

20 | P a g e

a). Penarikan Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang telah dipindahkan oleh
orang lain atau kekuatan tertentu.
b). Penyisipan Pikiran: Khayalan bahwa pikiran tertentu telah ditanamkan dalam
otak seseorang oleh orang lain atau kekuatan tertentu.
c). Penyiaran Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang dapat didengar oleh
orang lain melalui penyiaran di udara.
d). Pengendalian Pikiran: Khayalan bahwa pikiran seseorang sedang dikendalikan
oleh orang lain atau kekuatan tertentu.

d.
e.
f.
g.
h.
i.

j.
k.

11) Delusi ketidaksetiaan ( delusi kecemburuan): kepercayaan palsu yang diperoleh


dari kecemburuan yang patologis tentang ketidaksetiaan seseorang terhadap
kekasihnya.
12) Erotomania : Delusi Kepercayaan, terjadi lebih banyak pada perempuan dibanding
laki-laki, yang menganggap bahwa seseorang sangat mencintainya ( dikenal
sebagai Clerembault Kadinsky kompleks ).
13) Pseudologia Fantasika : suatu tipe kebohongan dimana seseorang percaya bahwa
kfantasi / khayalannya adalah sesuatu yang nyata dan benar-benar mereka alami;
berhubungan dengan sindrom Munchausen, selalu berpura-pura sakit.
Kecenderungan atau Keasyikan pikiran: memusatkan isi pikiran pada suatu hal tertentu,
berhubungan dengan afek yang kuat, seperti paranoid atau kecenderungan untuk
menyiksa atau membunuh diri sendiri.
Egomania : kecenderungan memikirkan kepentingan sendiri yang patologis.
Monomania : kecenderungan untuk asyik pada suatu obyek tertentu.
Hipokondria : perhatian yang berlebihan terhadap kesehatannya berdasarkan kelainan /
patologi yang tidak nyata, namun membuat interpretasi tentang tanda dan gejala
penyakit yang dibuat-buat.
Obsesi : ketekunan pikiran yang patologis terhadap sesuatu yang dianggap menarik yang
tidak dapat dibatasi oleh akal sehat; berhubungan dengan ansietas.
Kompulsi : kebutuhan untuk melakukan sesuatu karena dorongan hati yang patologis
dan bila tidak terpenuhi akan mengalami ansietas / kecemasan; , tindakan yang
dilakukan berulang-ulang oleh karena obsesi yang tidak akan pernah berakhir bila tidak
segera dihentikan.
Koprolalia : Ucapan-ucapan kompulsif yang berisi kata-kata yang fulgar.
Fobia : perasaan yang tidak masuk akal tapi tetap dipertahankan, berupa ketakutan yang
berlebihan terhadap suatu hal atau situasi tertentu; sehingga berusaha untuk menghindari
sumber ketakutan tersebut.
(1) Fobia spesifik : perasaan ngeri yang terbatas pada suatu situasi atau obyek
tertentu (contoh, perasaan takut pada laba-laba atau ular).
(2) Fobia sosial : Perasaan ngeri dipermalukan didepan umum, seperti takut
berbicara dan tampil bahkan makan di tempat umum.
(3) Akrofobia : Perasaan ngeri berada di tempat tinggi.
(4) Agorafobia : Perasaan ngeri berada di tempat terbuka.
(5) Algofobia : Perasaan ngeri terhadap rasa sakit.
( 6) Ailurofobia : Perasaan ngeri pada kucing.
( 7) Erythrofobia : Perasaan ngeri terhadap warna merah ( seperti ketakutan
menjadi merah karena malu ).
( 8) Panfobia : Perasaan ngeri terhadap segala sesuatu.

21 | P a g e

( 9) Klaustrofobia : Perasaan ngeri berada di tempat tertutup.


(10) Xenofobia : Perasaan ngeri terhadap orang asing.
(11) Zoofobia : Perasaan ngeri terhadap binatang.
(12) Fobia jarum : ketakutan patologik terhadap suntikan; disebut juga fobia
suntikan darah.
l. Noesis : perasaan tentang dibukanya suatu rahasia ( pewahyuan ) bahwa seseorang telah
dipilih menjadi pemimpin untuk memerintah.
m. Mistis : perasaan tentang adanya kekuatan mistik yang bersatu dengan suatu kekuatan
tak terbatas yang berhubungan dengan agama atau kebudayaan tertentu.
E. Perkataan / Pembicaraan: Gagasan, pemikiran, dan perasaan yang dinyatakan melalui
bahasa; komunikasi yang menggunakan kata-kata dan bahasa.
1. Gangguan dalam berkata-kata / berbicara
a. Tekanan dalam perkataan : perkataan yang cepat dan semakin banyak yang sulit untuk
disela.
b. Volubilitas ( Logorrhea) : perkataan yang logis, saling berhubungan dan dapat dipahami.
c. Kemiskinan perkataan : pembatasan dalam jumlah perkataan yang digunakan;
memberikan jawaban dengan suku kata yang sama.
d. Perkataan yang tidak spontan: tanggapan lisan yang diberi hanya ketika diminta untuk
berbicara secara langsung; tidak ada inisiatif untuk mulai berbicara terlebih dahulu.
e. Kemiskinan isi perkataan : perkataan dalam jumlah yang hanya cukup untuk
menyampaikan sedikit informasi karena ketidakjelasan, kekurangan kata-kata, atau
meniru-niru ungkapan.
f. Disprosodi : hilangnya melodi / irama kata-kata yang normal ( disebut prosodi).
g. Disarthria : Kesukaran dalam artikulasi, bukan dalam mencari kata-kata atau tata
bahasanya.
h. Suara yang terlalu lembut atau nyaring: hilangnya modulasi volume suara normal; dapat
mnenggambarkan adanya gangguan psikosis menjadi depresi kemudian menjadi tuli.
i. Bicara menggagap : perpanjangan atau pengulangan suatu bunyi atau suku kata, yang
mengakibatkan gangguan kelancaran bicara.
j. Perkataan kacau balau : Perkataan yang tak seirama dan tidak menentu, berentetan secara
cepat dan tidak teratur.
k. Akulalia : perkataan yang tidak masuk akal yang berhubungan dengangangguan
kesesuaian.
l. Bradilalia : perkataan lambat yang abnormal.
m. Disfonia : kesulitan atau nyeri saat berbicara.
2. Gangguan Afasik : Gangguan dalam berbahasa.
a. Afasia Motorik : gangguan bicara yang disebabkan oleh adanya gangguan kognitif di mana
pasien dapat memahami namun sulit untuk menyampaikan dalam bentuk kata-kata; sering
berhenti, perlu banyak tenaga, dan suara yang tidak akurat ( disebut juga Broca, nonfluen,
dan afasia ekspresi )
b. Afasia snsorik : hilangnya kemampuan organik untuk memahami arti dari kata-kata;
mengalir dengan spontan namun tidak saling berhubungan dan tidak ada arti yang jelas
( disebut juga Wernicks Fluent dan afasia reseptif ).

22 | P a g e

c. Afasia nominal : kesulitan dalam mengenal nama suatu objek ( istilah lain anomia dan
afasia amnestik ).
d. Afasia sintaksis : ketidakmampuan untuk menyusun kata-kata dalam urutan yang sesuai.
e. Afasia Jargon : semua kata yang dihasilkan merupakan neologistik; kata-kata omong
kosong yang diulangi dengan intonasi dan nada suara yang berbeda.
f. Afasia global : kombinasi antara afasia nonfluent dan afasia fluent yang berat.
g. Alogia : Ketidakmampuan untuk berbicara oleh karena gangguan mental atau fase
demensia.
h. Koproprasia : penggunaan bahasa yang fulgar; terlihat pada sindrom Tourett dan beberapa
kasus skizofrenia.
F. Persepsi: Proses pemindahan rangsangan fisik ke dalam informasi psikologis; suatu proses
mental dimana rangsangan sensorik dibawa ke alam sadar.
1. Gangguan persepsi
a. Halusinasi : persepsi sensorik palsu yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dari luar;
dapat merupakan atau bukan merupakan suatu interpretasi khayalan dari pengalaman dalam
halusinasi .
(1) Halusinasi Hipnagogik : persepsi sensorik palsu yang terjadi saat tidur; biasanya
dianggap nonpatologik.
(2) Halusinasi Hipnopompik : persepsi palsu yang terjadi saat bangun tidur; biasanya
dianggap nonpatologik.
(3) Halusinasi Auditorius : persepsi palsu tentang bunyi, biasanya suara tertentu atau
keributan lainnya, seperti musik: halusinasi tersering dalam gangguan psikiatri.
(4) Halusinasi visual : persepsi palsu tentang penglihatan: dalam bentuk yang berwujud
(contohnya orang-orang) dan yang tak berwujud ( misalnya kilatan cahaya); paling sering
pada gangguan determinasi kesehatan.
(5) Halusinasi Olfaktorius : persepsi palsu tentang bau; paling sering pada gangguan
kesehatan.
(6) Halusinasi Gustatorius : persepsi palsu dalam pengecapan, seperti rasa yang tidak
sedap, disebabkan oleh suatu bangkitan uncinate: paling sering pada gangguan kesehatan.
(7) Halusinasi taktil : persepsi palsu tentang perabaan, seperti pada kasus amputasi
anggota tubuh; tearsa seperti ada sesuatu yang merayap di bawah kulit.
(8) Halusinasi Somatik : sensasi palsu yang dirasakan dalam tubuh, paling sering pada
organ visceral ( dikenal sebagai halusinasi Senestetik ).
(9) Halusinasi Lilliput : persepsi palsu di mana objek terlihat dalam ukuran yang lebih
kecil ( disebut juga mikropsia ).
(10) Halusinasi berdasarkan Mood: Halusinasi berkaitan dengan suatu perasaan tertekan
atau manik; sebagai contoh, seorang pasien depresi mendengar suara-suara yang
mengatakan bahwa dirinya adalah orang jahat; seorang pasien manik mendengar suarasuara yang mengatakan bahwa dirinya penuh dengan pengetahuan dan kekuasaan serta
harga diri yang tinggi.
(11) Halusinasi tidak berdasar Mood: Halusinasi yang tidak berdasarkan suasana hati
yang tertekan maupun manik ( contohnya, pada keadaan depresi halusinasi tidak
berhubungan dengan beberapa hal seperti rasa bersalah, hukuman yang setimpal, atau
ketidakmampuan; pada mania, halusinasi tidak berhubungan dengan adanya kekuatan
atau harga diri ).
23 | P a g e

(12) Halusinosis : berhalusinasi, paling sering pada pendengaran, yang dihubungkan


dengan penyalahgunaan alkohol tanpa gangguan sensorik, berbeda dengan delirium
tremens, halusinasi terjadi disertai gangguan sensorik.
(13) Sinesthesia : sensasi halusinasi disebabkan oleh sensasi lain ( sebagai contoh, sensasi
pendengaran yang disertai oleh tercetusnya sensasi visual; suatu bunyi; sensasi
pendengaran yang dapat dilihat atau sebaliknya sensasi penglihatan yang dapat
didengar ).
(14) Fenomena jejak : kelainan persepsi yang berhubungan dengan obat-obatan
halusinogenyang menyebabkan objek terlihat sebagai suatu gambaran yang terangkai.
(15) Halusinasi Perintah : persepsi palsu yang mennyebabkan seseorang berkewajiban
untuk mematuhi perintah dan tidak boleh membantah.
b. Ilusi : persepsi atau interpretasi yang salah terhadap rangsangan sensorik yang nyata dari luar.
2. Gangguan berhubungan dengan kelainan kognitif dan kondisi kesehatan
a. Agnosia : ketidakmampuan untuk mengenali dan menginterpretasikan arti / kesan dari suatu
rangsangan sensorik.
b. Anosognosia ( Ketidaktahuan tentang penyakit ) : ketidakmampuan seseorang untuk
mengenali suatu gangguan neurologik yang terjadi pada dirinya.
c. Somatopagnosia ( Ketidaktahuan tentang tubuh ): ketidakmampuan seseorang untuk
mengenali salah satu bagian tubuhnya sendiri (disebut juga Autotopagnosia).
d. Agnosia visual : Ketidakmampuan untuk mengenali objek atau orang.
e. Astereognosis : ketidakmampuan untuk mengenali objek melalui sentuhan / perabaan.
f. Prosopagnosia : Ketidakmampuan untuk mengenali wajah.
g. Apraksia : Ketidakmampuan untuk menyelesaikan tugas spesifik.
h. Simultagnosia : Ketidakmampuan untuk memahami lebih dari satu unsur visual pada waktu
yang sama atau untuk mengintegrasikan beberapa bagian menjadi satu.
i. Adiadokokinesia : Ketidakmampuan untuk melaksanakan pergerakan cepat secara
berurutan.
j. Aura : Sensasi peringatan seperti otomatisme, perut yang kenyang, wajah merona,
perubahan dalam pernafasan, sensasi kognitif, dan status afeksi yang biasanya dialami
sebelum terjadi serangan; suatu sensasi awal yang mendahului suatu nyeri akibat migrain.
3. Gangguan yang berhubungan dengan fenomena disosiatif dan konversi: somatisasi dari materi
yang ditekan atau pengembangan gejala fisik dan penyimpangan otot-otot volunter atau organ
pengindraan khusus; yang tidak dikendalikan oleh volunter dan yang tak dapat dihubungkan
dengan gangguan fisik manapun.
a. Anesthesia histerikal : hilangnya unsur-unsur sensorik sebagai hasil dari konflik emosi.
b. Makropsia : anggapan bahwa suatu objek terlihat dalam ukuran yang lebih besar dari
biasanya.
c. Mikropsia : anggapan bahwa suatu objek terlihat dalam ukuran yang lebih kecil dari
biasanya (makropsia dan mikropsia dapat dihubungkan dengan kondisi organik yang jelas
seperti bangkitan parsial kompleks).
d. Depersonalisasi : sensasi subyektif pada seseorang yang merasakan adanya keanehan,
tidak nyata dan perasaan asing.
e. Derealisasi : suatu sensasi subyektif yang menganggap ada keanehan pada lingkungan
sekitar dan terasa tidak nyata .
24 | P a g e

f. Fugue ( Fuga ) : menggunakan identitas yang baru karena mengalami amnesia terhadap
identitas yang lama; sering melakukan perjalanan dan pengembaraan ke tempat-tempat
yang baru.
g. Kepribadian ganda : seseorang yang muncul dalam waktu yang berbeda dengan dua atau
lebih karakter dan kepribadian yang berbeda ( disebut disosiatif identitas yang terdapat
dalam edisi revisi dari Diagnostic and statistical Manual of Mental Disorders [DSM-IVTR] ).
h. Disosiasi : mekanisme pertahanan dibawah sadar yang disertai oleh sekelompok proses
mental dan prilaku yang merupakan bagian akhir dari aktifitas fisik seseorang; yang
membutuhkan pemisahan antara suatu gagasan / ide dengan ungkapan emosinya, seperti
yang terlihat pada gangguan disosiasi dan konversi.
G. Memori
Berperan melaui informasi dan data yang tersimpan dalam otak yang selanjtnya akan
dimunculkan kembali dalam bentuk ingatan dalam keadaan sadar. Orientasi adalah kondisi /
status normal dalam diri seseorang maupun lingkungan sekitar seperti waktu, tempat dan orang.
1. Gangguan Memori
a. Amnesia : ketidakmampuan total maupun parsial untuk mengingat kembali pengalaman
yang terjadi sebelumnya; dalam bentuk peristiwa maupun perasaan yang nyata.
a. ( 1) Anterograde : hilang ingatan sesaat setelah suatu peristiwa tertentu terjadi.
b. ( 2) Retrograde : hilang ingatan untuk peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum
satu waktu tertentu.
b. Paramnesia : Pemalsuan memori oleh adanya distorsi dalam ingatan.
a. Fausse reconnaissance : pengenalan palsu.
b. Pemalsuan retrospektif : Memori yang terjadi tanpa disengaja ( tidak disadari )
yang didistorsikan melalui suatu penyaringan terhadap kondisi emosi, kognitif,
dan pengalaman dari seseorang.
c. Konfabulasi : perasaan adanya celah dalam memori yang tanpa disadari dan
disebabkan oleh bayangan akan suatu pengalaman yang tidak benar-benar terjadi
namun dipercayai oleh orang tersebut tanpa ada dasar bukti yang nyata: paling
sering berhubungan dengan penyakit organik.
d. Dj vu : Ilusi tentang pengenalan visual di mana adanya memori terhadap suatu
situasi baru yang dianggap merupakan pengulangan dari peristiwa yang terjadi
sebelumnya .
e. Deja Entendu : Ilusi tentang pengenalan yang berhubungan dengan pendengaran.
f. Deja Pense : Ilusi tentang suatu pikiran baru yang dikenali sebagai pikiran yang
sudah dirasakan sebelumnya dan sudah dinyatakan.
g. Jamais vu : perasaan asing dengan suatu situasi nyata yang sudah dialami oleh
seseorang.
h. Memori palsu : kepercayaan dan ingatan seseorang terhadap suatu peristiwa yang
tidak nyata terjadi.
c. Hipermnesia : derajat daya dan tingkat ingatan yang berlebihan.
d. Gambaran Eidetik : memori visual yang hampir menjadi halusunasi yang hidup.
e. Memori Tabir : suatu memori yang disadari dapat menjadi tabir pelindung terhadap
memori lain yang menyakitkan.
25 | P a g e

f. Represi : suatu mekanisme pertahanan yang ditandai oleh ketidaksadaran untuk


melupakan rangsangan atau gagasan yang tidak dapat diterima.
g. Lethologika : ketidakmampuan temporer untuk mengingat suatu benda atau nama.
h. Blackout : Hilang ingatan tentang perilaku selama dalam keadaan mabuk pada seorang
peminum alkohol; umumnya menunjukkan telah terjadi kerusakan pada otak.
2. Tingkat memori
a. Segera : reproduksi atau daya ingat terhadap beberapa hal tertentu dalam hitungan detik
sampai menit.
b. Yang Terbaru : daya ingat terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lewat beberapa hari.
c. Masa lampau terbaru : daya ingat terhadap peristiwa yang telah lewat beberapa bulan.
d. Remote : daya ingat terhadap peristiwa-peristiwa yang telah lama berlalu.
H. Kecerdasan/Inteligensia:
Kemampuan untuk memahami, mengingat, mengarahkan, dan mengintegrasikan secara
konstruktif pelajaran sebelumnya saat berada dalam situasi yang baru.
1. Retardasi Mental: ketiadaan inteligensia sampai batas tertentu yang melibatkan lembaga
khusus dalam masyarakat: ringan (IQ 50 - 55 sampai sekitar 70), sedang ( IQ 35 - 40 sampai 50 55), IQ yang rendah 20 - 25 sampai 35 - 40, atau IQ yang sangat rendah dibawah 20 - 25; istilah
jaman dulu disebut idiot ( kapasitas otak sesuai usia kurang dari 3 tahun), imbesil ( sesuai usia 3 7 tahun), dan pandir (sesuai usia kira-kira 8 tahun).
2. Demensia: kemunduran fungsi intelektual secara menyeluruh tanpa kesadaran berkabut.
a. Diskalkulia ( Akalkulia): hilangnya kemampuan untuk berhitung; bukan disebabkan oleh
ansietas atau gangguan konsentrasi.
b. Disgrafia ( Agrafia): hilangnya kemampuan untuk menulis kata-kata; hilangnya struktur
kata.
c. Aleksia: hilangnya kemampuan membaca yang sebelumnya telah dikuasai; tidak dapat
dihubungkan dengan gangguan penglihatan.
3. Pseudodimensia: corak klinis mirip dimensia yang tidak disebabkan oleh suatu gangguan
organik; paling sering disebabkan oleh depresi ( sindrom dimensia karena depresi).
4. Pemikiran Konkrit: pemikiran harafiah; membatasi penggunaan kiasan tanpa memahami arti
yang tersirat; pikiran satu dimensi .
5. Pemikiran Abstrak: kemampuan untuk menangkap arti yang tersirat; pikiran multidimensi
dengan kemampuan untuk menggunakan kiasan dan hipotesis yang sewajarnya.
I. Pengertian yang mendalam:
Kemampuan seseorang untuk memahami maksud / arti dan penyebab yang sesungguhnya dari
suatu peristiwa ( seperti satu set gejala ).
a. Intelektual yang dalam: Pemahaman tentang hal-hal nyata dalam satu situasi tertentu tanpa
kemampuan untuk menerapkan pemahaman tersebut menjadi sesuatu yang berguna dalam
upaya untuk mengasai situasi yang ada.

26 | P a g e

b. Pengertian benar yang mendalam : Pemahaman tentang hal-hal nyata dalam situasi tertentu,
kemudian digabungkan dengan motivasi dan dorongan emosi untuk dapat menguasai
situasi yang ada.
c. Pengertian mendalam yang lemah: kurangnya kemapuan untuk memahami hal-hal nyata
dari satu situasi tertentu.
J. Pertimbangan:
Kemampuan untuk menilai suatu situasi dengan tepat dan mengambil tindakan yang sewajarnya
dalam situasi tersebut.
1. Pertimbangan kritis: Kemampuan untuk menilai, melihat dengan tajam, dan memilih di antara
beberapa opsi dalam satu situasi tertentu.
2. Pertimbangan otomatis: Capaian refleks dari suatu tindakan yang disesuaikan dengan situasi
saat itu.
3. Pertimbangan lemah: kurangnya kemampuan untuk memahami dengan benar dan mengambil
tindakan yang tepat dalam satu situasi tertentu.
Macam-macam gangguan jiwa (Rusdi Maslim, 1998): Gangguan mental organik dan simtomatik,
skizofrenia, gangguan skizotipal dan gangguan waham, gangguan suasana perasaan, gangguan
neurotik, gangguan somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan
fisiologis dan faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa, retardasi mental,
gangguan perkembangan psikologis, gangguan perilaku dan emosional dengan onset masa kanak
dan remaja.
A. Skizofrenia.
Skizofrenia merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi
personalitas yang terbesar. Skizofrenia juga merupakan suatu bentuk psikosa yang sering
dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Meskipun demikian pengetahuan kita tentang sebabmusabab dan patogenisanya sangat kurang (Maramis, 1994). Dalam kasus berat, klien tidak
mempunyai kontak dengan realitas, sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan
penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas, tetapi sekali-kali bisa timbul
serangan. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya
berakhir dengan personalitas yang rusak cacat (Ingram et al.,1995).
B. Depresi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam
perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu
makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh
diri (Kaplan, 1998). Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan
pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup,
perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya (Hawari, 1997). Depresi adalah suatu
perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan. Dapat berupa serangan yang
ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam (Nugroho, 2000). Depresi adalah
gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan,
sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri, pesimis, putus asa, ketidak
berdayaan, harga diri rendah, bersalah, harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan
datang. Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai
akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. Sebagai ganti rasa
27 | P a g e

ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan
dengan tanda depresi (Rawlins et al., 1993). Individu yang menderita suasana perasaan (mood)
yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang
menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktiftas (Depkes, 1993). Depresi dianggap
normal terhadap banyak stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan
peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai
pulih (Atkinson, 2000).
C. Kecemasan
Kecemasan sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami oleh setiap
orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-baiknya,
Maslim (1991). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari
ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993). Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak
diketahui atau tidak dikenali. Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan
sampai tingkat berat. Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan
kedalam empat tingkatan yang meliputi, kecemasn ringan, sedang, berat dan kecemasan panik.
D. Gangguan Kepribadian
Klinik menunjukkan bahwa gejala-gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan gejala-gejala
nerosa berbentuk hampir sama pada orang-orang dengan intelegensi tinggi ataupun rendah. Jadi
boleh dikatakan bahwa gangguan kepribadian, nerosa dan gangguan intelegensi sebagaian besar
tidak tergantung pada satu dan lain atau tidak berkorelasi. Klasifikasi gangguan kepribadian:
kepribadian paranoid, kepribadian afektif atau siklotemik, kepribadian skizoid, kepribadian
axplosif, kepribadian anankastik atau obsesif-konpulsif, kepridian histerik, kepribadian astenik,
kepribadian antisosial, Kepribadian pasif agresif, kepribadian inadequat, Maslim (1998).
E. Gangguan Mental Organik
Merupakan gangguan jiwa yang psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh gangguan
fungsi jaringan otak (Maramis,1994). Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh
penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau yang terutama diluar otak. Bila bagian otak
yang terganggu itu luas , maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak
tergantung pada penyakit yang menyebabkannya bila hanya bagian otak dengan fungsi tertentu
saja yang terganggu, maka lokasi inilah yang menentukan gejala dan sindroma, bukan penyakit
yang menyebabkannya. Pembagian menjadi psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan
kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit tertentu daripada pembagian akut dan menahun.
F. Gangguan Psikosomatik
Merupakan komponen psikologik yang diikuti gangguan fungsi badaniah (Maramis, 1994).
Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian besar atau semata-mata
karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. Gangguan
psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang dinamakan dahulu neurosa organ. Karena
biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu, maka sering disebut juga gangguan
psikofisiologik.

28 | P a g e

G. Retardasi Mental
Retardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang
terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan selama masa perkembangan, sehingga
berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh, misalnya kemampuan kognitif, bahasa,
motorik dan sosial
H. Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja.
Anak dengan gangguan perilaku menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan permintaan,
kebiasaan atau norma-norma masyarakat (Maramis, 1994). Anak dengan gangguan perilaku
dapat menimbulkan kesukaran dalam asuhan dan pendidikan. Gangguan perilaku mungkin
berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya, akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling
mempengaruhi. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang
umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Pada gangguan otak seperti trauma
kepala, ensepalitis, neoplasma dapat mengakibatkan perubahan kepribadian. Faktor lingkungan
juga dapat mempengaruhi perilaku anak, dan sering lebih menentukan oleh karena lingkungan
itu dapat diubah, maka dengan demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dicegah.
3. Memahami dan Menjelaskan Skizofrenia
3.1 Definisi
Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul ketidakseimbangan pada dopamine, yaitu
salah satu sel kimia (neurotransmitter) dalam otak. Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik
paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik
hubungan antarpribadi normal. Seringkali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan
halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang panca indera).
3.2 Etiologi
Organobiologik
Gangguan jiwa Skizofrenia tidak terjadi dengan sendirinya. Ada banyak faktor yang berperan
serta bagi munculnya gejala-gejala Skizofrenia. Hingga sekarang banyak teori yang
dikembangkan untuk mengetahui penyebab (etiologi) Skizofrenia, antara lain:
Faktor genetik (turunan/pembawa sifat)
Auto-antibody
Virus
Malnutrisi (kekurangan gizi)
Sejauh manakah peran genetik pada Skizofrenia? Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai
berikut:
Studi terhadap keluarga menyebutkan bahwa pada orang tua 5,6%; saudara kandung
10,1%; anak-anak 12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9% (Gottesman, Shields,
1982).
Studi terhadap orang kembar menyebutkan pada kembar identik (monozygote) fraternal
(dizygote) adalah 15,2% (Kendler, 1983)

29 | P a g e

Meskipun diakui bahwa ada peran gen pada transmisi (pemindahan) Skizofrenia namun
ternyata tidak sepenuhnya memenuhi hukum Mendel. Sebagai contoh misalnya kalau
benar bahwa Skizofrenia itu diturunkan (ditransmisikan) sepenuhnya melalui dominant
gene, maka 50% dari anak-anaknya akan menderita Skizofrenia. Namun dalam
kenyataannya angka ini jauh lebih rendah. Sebaliknya jika Skizofrenia itu diturunkan
sepenuhnya melalui recessive gene, maka diharapkan 100% dari anak-anaknya akan
menderita Skizofrenia, manakala orang tuanya menderita Skizofrenia. Namun dalam
kenyataannya angka ini hanya 36,6%. Dengan demikian jelaslah bahwa transmisi gen
pada Skizofrenia sangan kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya.
Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga
mempunyai peran dalam timbulnya Skizofrenia di kelak di kemudian hari. Ganguan
perkembangan otak ini muncul misalnya karena virus, malnutrisi, infeksi, trauma, toksin
dan kelainan hormonal yang terjadi selama kehamilan.
Perihal adakah hubungan antara faktor gen dengan gangguan perkembangan otak janin,
penelitian mutakhir menyebutkan bahwa meskipun ada gen yang abnormal, Skizofrenia
tidak akan muncul kecuali disertai faktor-faktor lainnya yang disebut faktor epigenetik.
Kesimpulannya adalah bahwa gejala Skozofrenia baru muncul bila terjadi interaksi
antara gen yang abnormal dengan:

Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat mengganggu perkembangan
otak janin.
Menurunnya auto-immune yang disebabkan infeksi selama kehamilan
Berbagai macam komplikasi kandungan.
Kekurangan gizi yang cukup berat terutama pada trisemester pertama kehamilan.

Hingga sekarang masih terjadi pertanyaan dan masih dalam penelitian perihal faktor
genetik (turunan) pada Skizofrenia. Beberapa pertanyaan berikut ini masih belum dapat
dijawab tuntas;
Apakah Skizofrenia ini merupakan penyakit keluarga.
Sejauh mana peran serta gen dan lingkungan sebagai faktor penyebab
(etiology) Skizofrenia.
Andaikan penyakit ini diturunkan, bagaimana mekanisme transmisi
penyakit ini dalam keluarga.
Bagaimana mekanisme genetik dan lingkungan pada Skizofrenia.
Dimana lokasi gen yang dimaksud.
Sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan di atas, para ahli melakukan berbagai
penelitian untuk mendapatkan jawabannya antara lain:
Studi tentang riwayat keluarga (Family history Studies).
Studi keluarga (family history).
Studi adopsi (adoption studies).
Studi kembar (twin studies).
Studi terkait (linkage studies).
30 | P a g e

Studi tentang biologi molekuler (molecular biology).

Hasil penelitian yang telah dilakukan untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan di atas,
antara lain:
Studi keluarga (1982) perihal resiko sakit, yaitu pada orang tua 5,6%; saudara kandung
10,1%; anak-cucu 12,8%; dan pada keluarga generasi kedua 2,4% - 4,2%.
Perkawinan antar keluarga Skizofrenia meningkatkan resiko untuk penyakit: Skozofrenia,
Psikosis non afektif lainnya, gangguan Skizoafektif dan gangguan Skizotipal.
Studi pada anak adopsi (Adoption Studies) bahwa anak-anak adopsi yang dirawat oleh
ibu-ibu penderita Skizofrenia mempunyai resiko 16,6% (Heston, 1966); sedangkan pada
ibu-ibu yang normal resikonya 0%. Studi yang dilakukan oleh Kety Etal, (1968),
menyebutkan pada orang tua kandung penderita Skizofrenia resiko anak adopsi 21,1%;
sedangkan pada orangtua angkat, resiko anak adopsi 1,6%. Disimpulkan bahwa anak dari
keluarga yang orang tuanya penderita Skizofrenia, beresiko lebih besar menderita
Skizofrenia daripada anak adopsi yang tidak ada hubungan darah dengan orang tua
angkatnya baik yang menderita Skizofrenia ataupun yang normal. Anak kandung dari
orangtua normal bila diadopsi oleh orangtua angkat penderita Skizofrenia, resiko
menderita Skzofrenia tidak besar.
Studi kembar manyatakan bahwa faktor gen sebagai penyebab Skizofrenia lebih besar
pada anak monozygote dibandingkan dengan dizygote. Faktor lingkungan mempunyai
implikasi 50% pada pasangan monozygote. Diperkirakan kecenderungan faktor gen 70%
bagi terjadinya Skizofrenia. Analisa matematika (hukum Mendel misalnya) tidak
sepenuhnya mendukung sebagai model tunggal bagi transmisi gen Skizofrenia. Di sini
peran dominant gene dan recessive gene tidak sepenuhnya berlaku.
Pada analisa studi keterkaitan (Linkage Alalysis) disebutkan bahwa pada waktu terjadi
pembelahan kromosom(meiosis) merupakan kesempatan bagi proses silang gen
(crossing). Sesudah terjadi silang gen tersebut kemungkinan terjadinya rekombinasi
adalah 50%. Gen yang letaknya berjauhan dalam kromosom transmisinya mandiri,
merupakan gen dari kromosom yang berbeda. Keterkaitan terjadi manakala gen-gen
dimaksud berdekatan satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga silang gen tidak
terjadi. Dua gen yang saling terkait erat ditransmisikan bersama diantara anggota
keluarga.
Dewasa ini studi genetika terhadap berbagai penyakit yang diduga diturunkan sedang
berkembang dan ilmu yang mendalaminya adalah biologi molekuler (molecular biology)
atau genome project. Tubuh manusia terdiri dari sel, di dalam sel tersebut terdapat
molekul, di dalam molekul ada inti (nucleus), di dalam nucleus terdapat kromosom dan di
dalam kromosom terdapat gen (pembawa sifat). Dalam studi ini dipelajari mekanisme
transmisi gen terhadap keluarga yang salah satu atau lebih mengidap Skizofrenia. Dengan
mengetahui modus mekanisme transmisi gen tersebut di atas diharapkan dapat dilakukan
upaya pencegahan sehingga penyakit yang dimaksud tidak berkembang atau dengan kata
lain transmisi gen pembawa Skizofrenia dapat dicegah.
31 | P a g e

PSIKOSOSIAL
Stresor psikososial adalah setiap keadaan yang menyebabkan perubahan dalam
kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan penyesuaian diri
(adaptasi) untuk menanggulangi stresor (tekanan mental) yang timbul. Pada umunya
jenis stresor psikososial dapat digolongkan sebagai berikut:
Perkawinan.
Berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stres yang dialami oleh
seseorang; misalnya pertengkaran, perpisahan (separation), perceraian (divorce),
kematian salah satu pasangan, kesetiaan dan lain-lain. Stresor perkawinan ini dapat
menyebabkan orang jatuh sakit.
Problem orang tua
Permasalahan yang dihadapi orangtua, misalnya tidak punya anak, kebanyakan anak,
kenakalan anak, anak sakit dan hubungan yang tidak baik dengan mertua, ipar, besan,
dan sebagainya. Permasalahan tersebut jika tidak bisa diatasi oleh yang bersangkutan
dapat merupakan sumber stres yang pada gilirannya seseorang dapat jatuh sakit.
Hubungan interpersonal (antar pribadi)
Gangguan ini dapat berupa hubungan dengan kawan dekat yang mengalami konflik, atau
konflik dengan kekasih, konflik dengan rekan sekerja, antara atasan dan bawahan dan
sebagainya. Konflik antar pribadi ini merupakan sumber stres bagi seseorang yang bila
tidak dapat diatasi pada gilirannya akan menyebabkan jatuh sakit.
Pekerjaan
Gangguan ini misalnya karena kehilangan pekerjaan (PHK), pensiun (post power
syndrome), pekerjaan terlalu banyak, pekerjaan tidak cocok, mutasi jabatan dan
sebagainya, yang bila tidak dapat diatasi akan mengakibatkan sakitnya seseorang.
Lingkungan Hidup
Faktor ini tidak hanya diselihat dari lingkungan itu bebas polusi, sampah dan lain
sejenisnya tetapi terutama kondisi lingkungan sosial dimana seseorang itu hidup.
Contohnya: masalah perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup dalam
lingkungan yang rawan dan lain sebagainya. Rasa tidak aman dan tidak terlindung
membuat jiwa seseorang tercekam sehingga mengganggu ketenangan dan ketentraman
hidup yang lama-kelamaan daya tahan seseorang turun sehingga jatuh sakit.
Keuangan
Kondisi sosial-ekonomi yang tidak sehat, misalnya pendapatan jauh dari pengeluaran,
terlilit hutang, bangkrut, soal warisan dan sebagainya; kesemuanya itu dapat
menyebabkan sumber stres pada seseorang yang bila tidak dapat ditanggulangi yang
bersangkutan akan jatuh sakit.
Hukum

32 | P a g e

Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum, misalnya tuntutan hukum, pengadialan,


penjara dan lain sebagainya dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit.
Perkembangan
Yang dimaksud perkembangan di sini adalah masalah perkembangan baik fisik maupun
mental seseorang, misalnya masa remaja, masa dewasa, menopouse, usia lanjut dan lain
sebagainya. Kondisi seperti itu tidak selalu dilewati dengan baik; ada sementara orang
yang tidak mampu sehingga jatuh sakit karenanya.
Penyakit fisik atau cidera
Sumber stres yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa seseorang antara lain penyakit
(terutama penyakit kronis), jantung, kanker, kecelakaan, operasi, aborsi dan lain
sebagainya.
Faktor keluarga
Yang dimaksud adalah faktor stres yang dialami oleh anak remaja karena kondisi
keluarga (sikap orang tua) yang tidak baik, antara lain:
Hubungan kedua orangtua yang dingin atau penuh ketegangan atau acuh tak acuh.
Kedua orangtua jarang di rumah dan tidak ada waktu dengan anak-anak.
Komunikasi antara orangtua dan anak tidak baik.
Kedua orangtua berpisah atau bercerai.
Salah satu orangtua menderita gangguan jiwa/kepribadian.
Orangtua dalam mendidik anak kurang sabar, pemarah, keras dan otoriter, dan
lain sebagainya.
Lain-lain
Stresor kehidupan lainnya juga dapat menimbulkan gangguan kejiwaan (stres pasca
trauma) adalah antara lain bencana alam, huru-hara, peperangan, kebakaran, perkosaan,
kehamilan di luar nikah, aborsi dan sebagainya.
3.3 Klasifikasi
1. Skizofrenia Paranoid
Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia
Sebagai tambahan :
Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi
auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit, mendengung, atau bunyi tawa.
Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh
halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of
control), dipengaruhi (delusion of influence), atau Passivity (delusion of passivity), dan
keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas.Gangguan afektif,
dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif tidak nyata / menonjol.
Pasien skizofrenik paranoid biasanya berumur lebih tua daripada pasien skizofrenik
terdisorganisasi atau katatonik jika mereka mengalami episode pertama penyakitnya. Pasien yang
33 | P a g e

sehat sampai akhir usia 20 atau 30 tahunan biasanya mencapai kehidupan social yang dapat
membantu mereka melewati penyakitnya. Juga, kekuatan ego paranoid cenderung lebih besar
dari pasien katatonik dan terdisorganisasi. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang
lambat dari kemampuanmentalnya, respon emosional, dan perilakunya dibandingkan tipe lain
pasien skizofrenik.
Pasien skizofrenik paranoid tipikal adalah tegang, pencuriga, berhati-hati, dan tak ramah.
Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenik paranoid kadang-kadang
dapat menempatkan diri mereka secara adekuat didalam situasi social. Kecerdasan mereka tidak
terpengaruhi oleh kecenderungan psikosis mereka dan tetap intak.
2. Skizofrenia Hebefrenik
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
Diagnosis hebefrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda
(onset biasanya mulai 15-25 tahun).
Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan senang menyendiri (solitary),
namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis.
Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu
selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini
memang benar bertahan :
Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta mannerisme; ada
kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan hampa
tujuan dan hampa perasaan;
Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai oleh
cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendirir (selfabsorbed smiling), atau oleh sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai
(grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases);
Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta
inkoheren.
Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya
menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting
and fragmentary delusions and hallucinations).

Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran
ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa
tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose).
Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat
dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.
Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.
3. Skizofrenia Katatonik
Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia
Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran klinisnya :
stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan
serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara)

34 | P a g e

Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan, yang tidak dipengaruhi
oleh stimuli eksternal)
Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan
posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh);
Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau
upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang berlawanan);
Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya menggerakkan
dirinya);
Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam
posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan secara otomatis terhadap
perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat.
Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku dari gangguan katatonik,
diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai
tentang adanya gejala-gejala lain.
Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk
skizofrenia. Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau
alkohol dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.
Selama stupor atau kegembiraan katatonik, pasien skizofrenik memerlukan pengawasan yang
ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis
mungkin ddiperlukan karena adanya malnutrisi, kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang
disebabkan oleh dirinya sendiri.
4. Skizofrenia tak terinci (Undifferentiated).
Seringkali. Pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan kedalam salah
satu tipe. PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci. Kriteria
diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:
Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau
katatonik.
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.
5. Depresi Pasca-Skizofrenia
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :
Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis umum
skizzofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;
Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi gambaran
klinisnya); dan
Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit kriteria untuk
episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling sedikit 2 minggu.
Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis menjadi episode depresif.
Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari
subtipe skizofrenia yang sesuai.
35 | P a g e

6. Skizofrenia Residual
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua :
Gejala negative dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan psikomotorik,
aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan
dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam
ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja
sosial yang buruk;
Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi
kriteria untuk diagnosis skizofenia;
Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi
gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan
telah timbul sindrom negative dari skizofrenia;
Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain, depresi kronis atau
institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negative tersebut.
Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus menerus adanya gangguan
skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau gejala yang cukup untuk
memenuhi tipe lain skizofrenia. Penumpulan emosional, penarikan social, perilaku eksentrik,
pikiran yang tidak logis, dan pengenduran asosiasi ringan adalah sering ditemukan pada tipe
residual. Jika waham atau halusinasi ditemukan maka hal tersebut tidak menonjol dan tidak
disertai afek yang kuat.
7. Skizofrenia Simpleks
Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada
pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan progresif dari :
gejala negative yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi,
waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik, dan disertai dengan perubahanperubahan perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minat
yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara
sosial.
Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe skizofrenia lainnya.
Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis
simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir
biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini timbulnya
perlahan-lahan sekali. Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang memperhatikan
keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia makin mundur dalam
pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya menjadi pengangguran, dan bila tidak ada orang yang
menolongnya ia mungkin akan menjadi pengemis, pelacur, atau penjahat.
8. Skizofrenia lainnya
Selain beberapa subtipe di atas, terdapat penggolongan skizofrenia lainnya (yang tidak
berdasarkan DSM IV TR), antara lain :
Bouffe delirante (psikosis delusional akut).
Konsep diagnostik Perancis dibedakan dari skizofrenia terutama atas dasar lama gejala yang
kurang dari tiga bulan. Diagnosis adalah mirip dengan diagnosis gangguan skizofreniform
didalam DSM-IV. Klinisi Perancis melaporkan bahwa kira-kira empat puluh persen diagnosis
36 | P a g e

delirante berkembang dalam penyakitnya dan akhirnya diklasifikasikan sebagai media


skizofrenia.
Skizofrenia laten.
Konsep skizofrenia laten dikembangkan selama suatu waktu saat terdapat konseptualisasi
diagnostic skizofrenia yang luas. Sekarang, pasien harus sangat sakit mental untuk mendapatkan
diagnosis skizofrenia; tetapi pada konseptualisasi diagnostik skizofrenia yang luas, pasien yang
sekarang ini tidak terlihat sakit berat dapat mendapatkan diagnosis skizofrenia. Sebagai
contohnya, skizofrenia laten sering merupakan diagnosis yang digunakan gangguan kepribadian
schizoid dan skizotipal. Pasien tersebut mungkin kadang-kadang menunjukkan perilaku aneh
atau gangguan pikiran tetapi tidak terus menerus memanifestasikan gejala psikotik. Sindroma
juga dinamakan skizofrenia ambang (borderline schizophrenia) di masa lalu.
Oneiroid.
Keadaan oneiroid adalah suatu keadaan mirip mimpi dimana pasien mungkin pasien sangat
kebingungan dan tidak sepenuhnya terorientasi terhadap waktu dan tempat. Istilah skizofrenik
oneiroid telah digunakan bagipasien skizofrenik yang khususnya terlibat didalam pengalaman
halusinasinya untuk mengeluarkan keterlibatan didalam dunia nyata. Jika terdapat keadaan
oneiroid, klinisi harus berhati-hati dalam memeriksa pasien untuk adanya suatu penyebab medis
atau neurologist dari gejala tersebut.
Parafrenia.
Istilah ini seringkali digunakan sebagai sinonim untuk skizofrenia paranoid. Dalam pemakaian
lain istilah digunakan untuk perjalanan penyakit yang memburuk secara progresif atau adanya
system waham yang tersusun baik. Arti ganda dari istilah ini menyebabkannya tidak sangat
berguna dalam mengkomunikasikan informasi.
Pseudoneurotik.
Kadang-kadang, pasien yang awalnya menunjukkan gejala tertentu seperti kecemasan, fobia,
obsesi, dan kompulsi selanjutnya menunjukkan gejala gangguan pikiran dan psikosis. Pasien
tersebut ditandai oleh gejala panansietas, panfobia, panambivalensi dan kadang-kadang
seksualitas yang kacau. Tidak seperti pasien yang menderita gangguan kecemasan, mereka
mengalami kecemasan yang mengalir bebas (free-floating) dan yang sering sulit menghilang.
Didalam penjelasan klinis pasien, mereka jarang menjadi psikotik secara jelas dan parah.
Skizofrenia Tipe I.
Skizofrenia dengan sebagian besar simptom yang muncul adalah simptom positif yaitu asosiasi
longgar, halusinasi, perilaku aneh, dan bertambah banyaknya pembicaraan. Disertai dengan
struktur otak yang normal pada CT dan respon yang relatif baik terhadap pengobatan.
Skizofrenia tipe II.
Skizofrenia dengan sebagian besar simptom yang muncul adalah simptom negative yaitu
pendataran atau penumpulan afek, kemiskinan pembicaraan atau isi pembicaraan, penghambatan
(blocking), dandanan yang buruk, tidak adanya motivasi, anhedonia, penarikan sosial, defek
kognitif, dan defisit perhatian. Disertai dengan kelainan otak struktural pada pemeriksaan CT dan
respon buruk terhadap pengobatan.

3.4 Psikopatologi

37 | P a g e

Tanda awal dari skizofrenia adalah simtom-simtom pada masa premorbid. Biasanya simtom ini
muncul pada masa remaja dan kemudian diikuti dengan berkembangnya simtom prodormal
dalam kurun waktu beberapa hari sampai beberapa bulan. Adanya perubahan social / lingkungan
dapat memicu munculnya simtom gangguan. Masa prodormal ini bisa langsung sampai bertahuntahun sebelum akhirnya muncul simtom psikotik yang terlihat.
Perjalanan penyakit skizofrenia yang umum adalah memburuk dan remisi. Setelah sakit
yang pertama kali, pasien mungkin dapat berfungsi normal untuk waktu lama (remisi), keadaan
ini diusahakan dapat terus dipertahankan. Namun yang terjadi biasanya adalah pasien mengalami
kekambuhan. Tiap kekambuhan yang terjadi membuat pasien mengalami deteriorasi sehingga ia
tidak dapat kembali ke fungsi sebelum ia kambuh. Kadang, setelah episode psikotik lewat, pasien
menjadi depresi, dan ini bisa berlangsung seumur hidup.Seiring dengan berjalannya waktu,
simtom positif hilang, berkurang, atau tetap ada, sedangkan simtom negative relative sulit hilang
bahkan bertambah parah.
Faktor-faktor resiko tinggi untuk berkembangnya skizofrenia adalah Mempunyai anggota
keluarga yang menderita skizofrenia, terutama jika salah satu orang tuanya/saudara kembar
monozygotnya menderita skizofrenia, kesulitan pada waktu persalinan yang mungkin
menyebabkan trauma pada otak, terdapat penyimpangan dalam perkembangan kepribadian, yang
terlihat sebagai anak yang sangat pemalu, menarik diri, tidak mempunyai teman, amat tidak
patuh, atau sangat penurut, proses berpikir idiosinkratik, sensitive dengan perpisahan,
mempunyai orang tua denga sikap paranoid dan gangguan berpikir normal, memiliki gerakan
bola mata yang abnormal, menyalahgunakan zat tertentu seperti amfetamin, kanabis, kokain,
Mempunyai riwayat epilepsi, memilki ketidakstabilan vasomotor, gangguan pola tidur, control
suhu tubuh yang jelek dan tonus otot yang jelek.
3.5 Manifestasi klinis
Gejala Predromal dan Residual Skizofrenia
Sebelum seseorang secara nyata aktif (manifes) menunjukkan gejala-gejala Skizofrenia, yang
bersangkutan terlebih dahulu menunjukkan gejala-gejala awal yang disebut sebagai gejala
prodromal. Sebaliknya bila seseorang penderita skizofrenia tidak lagi aktif menunjukkan gejalagejala skizofrenia, maka yang bersangkutan menunjukkan gejala-gejala sisa yang disebut gejala
residual.
1)Penarikan diri atau isolasi dari hubungan sosial (withdrawn), enggan
bersosialisasi dan bergaul.
2)Hendaya (impairment) yang nyata dalam fungsi peran sebagai pencari nafkah
(tidak mau bekerja), siswa/mahasiswa (tidak mau sekolah/kuliah) atau pengatur
rumah tangga tidak mampu menjalankan urusan rumah tangga, kesemuanya
karena malas.
3)Tingkah laku aneh dan nyata, misalnya mengumpulkan sampah, menimbun
makanan, senyum dan tertawa sendiri, atau berbicara tanpa mengeluarkan suara
(komat-kamit).

38 | P a g e

4)Hendaya yang nyata dalam higiene khususnya perawatan diri, tidak mau mandi
dan berpakaian kumal.
5)Afek (alam perasaan) yang tumpul atau miskin, mendatar, dan tidak serasi
wajahnya tidak menunjukkan ekspresi dan terkesan dingin
6)Pembicaraan yang melantur (disgressive)
7)Ide atau gagasan yang aneh dan tak lazim atau pikiran magis, seperti takhayul,
telepati, indera keenam, orang lain dapat merasakn perasaannya.
8)Penghayatan persepsi yang tak lazim, seperti ilusi yang selalu berulang, merasa
hadirnya suatu kekuatan atau seseorang yang sebenarnya tidak ada. Catatan ;
berbeda dengan halusinasi, yang dimaksudkan ilusi adalah pengalaman panca
indera dimana ada sumber atau stimulus, namun ditafsir salah.
Gejala Positif Skizofrenia
a) Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak masuk akal).
Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa keyakinan itu tidak rasional, namun
penderita tetap meyakini kebenarannya.
b) Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa ada rangsangan (stimulus). Misalnya
penderita mendengar suara-suara/bisikan di telinganya padahal sebenarnya tidak ada
sumbernya.
c) Kekacauan alam pikir, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya. Misalnya bicaranya
kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.
d) Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara dengan semangat dan
gembira berlebihan.
e) Merasa dirinya Orang Besar, merasa serba bisa, serba mampu dan sejenisnya.
f) Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman terhadap dirinya.
g) Menyimpan rasa permusuhan.
Gejala Negatif Skizofrenia
a) Alam perasaan (affect) tumpul dan mendatar. Gambaran perasaan ini terlihat dari
wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi.
b) Menarik diri atau mengungsikan diri (with-drawn) tidak mau bergaul atau kontak
dengan orang lain, suka melamun (day dreaming).
c) Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.
d) Pasif dan apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
e) Sulit dalam berpikir abstrak.
f) Pola pikir stereotip.
g) Tidak ada/kehilangan dorongan kehendak (avolition) dan tidak ada inisatif, tidak ada
upaya dan usaha, setra tidak ingin apa-apa dan serba malas (kehilangan nafsu)
Gejala-gejala negatif Skizofrenia sebagaimana diuraikan di atas seringkali tidak disadari atau
kurang diperhatikan oleh pihak keluarga, karena dianggap tidak mengganggu sebagaimana
halnya pada penderita Skizofrenia yang menunjukkan gejala-gejala positif. Oleh karenanya pihak
39 | P a g e

keluarga seringkali terlambat membawa penderita untuk berobat.Dalam pengalaman praktek,


gejala positif Skizofrenia baru muncul pada tahap akut. Sedangkan pada stadium kronis
(menahun) gejala negatif Skizofrenia lebih menonjol. Tetapi tidak jarang baik gejala positif atau
negatif muncul berbauran, tergantung pada stadium penyakitnya.
Selain itu, gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kelompok menurut Bleuler, yaitu
primer dan sekunder.
Gejala-gejala primer :
1. Gangguan proses pikiran (bentuk, langkah, isi pikiran).
Pada skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses pikiran. Yang terganggu terutama
ialah asosiasi. Kadang-kadang satu ide belum selesai diutarakan, sudah timbul ide lain. Atau
terdapat pemindahan maksud, umpamanya maksudnya tani tetapi dikatakan sawah.
Tidak jarang juga digunakan arti simbolik, seperti dikatakan merah bila dimaksudkan berani.
Atau terdapat clang association oleh karena pikiran sering tidak mempunyai tujuan tertentu,
umpamanya piring-miring, atau dulu waktu hari, jah memang matahari, lalu saya lari.
Semua ini menyebabkan jalan pikiran pada skizofrenia sukar atau tidak dapat diikuti dan
dimengerti. Hal ini dinamakan inkoherensi. Jalan pikiran mudah dibelokkan dan hal ini
menambah inkoherensinya.
Seorang dengan skizofrenia juga kecenderungan untuk menyamakan hal-hal, umpamanya
seorang perawat dimarahi dan dipukuli, kemudian seorang lain yang ada disampingnya juga
dimarahi dan dipukuli. Kadang-kadang pikiran seakan berhenti, tidak timbul ide lagi. Keadaan
ini dinamakan blocking, biasanya berlangsung beberapa detik saja, tetapi kadang-kadang
sampai beberapa hari.
Ada penderita yang mengatakan bahwa seperti ada sesuatu yang lain didalamnya yang berpikir,
timbul ide-ide yang tidak dikehendaki: tekanan pikiran atau pressure of thoughts. Bila suatu
ide berulang-ulang timbul dan diutarakan olehnya dinamakan preseverasi atau stereotipi pikiran.
Pikiran melayang (flight of ideas) lebih sering inkoherensi. Pada inkoherensi sering tidak ada
hubungan antara emosi dan pikiran, pada pikiran melayang selalu ada efori. Pada inkoherensi
biasanya jalan pikiran tidak dapat diikuti sama sekali, pada pikiran melayang ide timbul sangat
cepat, tetapi masih dapat diikuti, masih bertujuan.
2. Gangguan afek dan emosi
Gangguan ini pada skizofrenia mungkin berupa :
o Kedangkalan afek dan emosi (emotional blunting), misalnya penderita menjadi acuh
tak acuh terhadap hal-hal penting untuk dirinya sendiri seperti keadaan keluarganya dan
masa depannya. Perasaan halus sudah hilang.
o Parathimi : apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira, pada penderita
timbul rasa sedih atau marah.
o Paramimi : penderita merasa senang dan gembira, akan tetapi ia menangis. Parathimi
dan paramimi bersama-sama dalam bahasa Inggris dinamakan incongruity of affect
dalam bahasa Belanda hal ini dinamakan inadequat.
40 | P a g e

o Kadang-kadang emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan,


umpamanya sesudah membunuh anaknya penderita menangis berhari-hari, tetapi
mulutnya tertawa. Semua ini merupakan gangguan afek dan emosi yang khas untuk
skizofrenia. Gangguan afek dan emosi lain adalah :
Emosi yang berlebihan, sehingga kelihatan seperti dibuat-buat, seperti penderita yang
sedang bermain sandiwara.
Yang penting juga pada skizofrenia adalah hilangnya kemampuan untuk melakukan
hubungan emosi yang baik (emotional rapport). Karena itu sering kita tidak dapat
merasakan perasaan penderita.
Karena terpecah belahnya kepribadian, maka dua hal yang berlawanan mungkin
terdapat bersama-sama, umpamanya mencintai dan membenci satu orang yang sama ;
atau menangis dan tertawa tentang satu hal yang sama. Ini dinamakan ambivalensi pada
afek.
3. Gangguan kemauan
Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat
mengambil keputusan., tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan. Mereka selalu memberikan
alasan, meskipun alasan itu tidak jelas atau tepat, umpamanya bila ditanyai mengapa tidak maju
dengan pekerjaan atau mengapa tiduran terus. Atau mereka menganggap hal itu biasa saja dan
tidak perlu diterangkan.
Kadang-kadang penderita melamun berhari-hari lamanya bahkan berbulan-bulan. Perilaku
demikian erat hubungannya dengan otisme dan stupor katatonik.
- Negativisme : sikap atau perbuatan yang negative atau berlawanan terhadap suatu
permintaan.
- Ambivalensi kemauan : menghendaki dua hal yang berlawanan pada waktu yang
sama, umpamanya mau makan dan tidak mau makan; atau tangan diulurkan untuk
berjabat tangan, tetapi belum sampai tangannya sudah ditarik kembali; hendak
masuk kedalam ruangan, tetapi sewaktu melewati pintu ia mundur, maju mundur.
Jadi sebelum suatu perbuatan selesai sudah timbul dorongan yang berlawanan.
- Otomatisme : penderita merasa kemauannya dipengaruhi oleh orang lain atau
tenaga dari luar, sehingga ia melakukan sesuatu secara otomatis.
4. Gejala psikomotor
Juga dinamakan gejala-gejala katatonik atau gangguan perbuatan. Kelompok gejala ini oleh
Bleuler dimasukkan dalam kelompok gejala skizofrenia yang sekunder sebab didapati juga pada
penyakit lain.
Sebetulnya gejala katatonik sering mencerminkan gangguan kemauan. Bila gangguan hanya
ringan saja, maka dapat dilihat gerakan-gerakan yang kurang luwes atau yang agak kaku.
Penderita dalma keadaan stupor tidak menunjukkan pergerakan sama sekali. Stupor ini dapat
berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan dan kadang-kadang bertahun-tahun lamanya pada
skizofrenia yang menahun. Mungkin penderita mutistik. Mutisme dapat disebabkan oleh waham,
ada sesuatu yang melarang ia bicara. Mungkin juga oleh karena sikapnya yang negativistik atau
karena hubungan penderita dengan dunia luar sudah hilang sama sekali hingga ia tidak ingin
mengatakan apa-apa lagi.
41 | P a g e

Sebaliknya tidak jarang penderita dalam keadaan katatonik menunjukkan hiperkinesa, ia terus
bergerak saja, maka keadaan ini dinamakan logorea. Kadang-kadang penderita menggunakan
atau membuat kata-kata yang baru: neologisme.
Berulang-ulang melakukan suatu gerakan atau sikap disebut stereotipi; umpamanya menariknarik rambutnya, atau tiap kali mau menyuap nasi mengetok piring dulu beberapa kali. Keadaan
ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa tahun. Stereotipi pembicaraan dinamakan
verbigerasi, kata atau kalimat diulang-ulangi. Mannerisme adalah stereotipi yang tertentu pada
skizofrenia, yang dapat dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau keanehan berjalan dan
gaya.
Gejala katalepsi ialah bila suatu posisi badan dipertahankan untuk waktu yang lama. Fleksibilitas
cerea: bila anggota badan dibengkokkan terasa suatu tahanan seperti pada lilin. Negativisme :
menentang atau justru melakukan yang berlawanan dengan apa yang disuruh. Otomatisme
komando (command automatism) sebetulnya merupakan lawan dari negativisme : semua
perintah dituruti secara otomatis, bagaimana ganjilpun.Termasuk dalam gangguan ini adalah
echolalia (penderita meniru kata-kata yang diucapkan orang lain) dan ekophraksia (penderita
meniru perbuatan atau pergerakan orang lain).
Gejala-gejala sekunder :
1. Waham
Pada skizofrenia, waham sering tidak logis sama sekali dan sangat bizarre. Tetapi penderita tidak
menginsafi hal ini dan untuk dia wahamnya adalah fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun.
Sebaliknya ia tidak mengubah sikapnya yang bertentangan, umpamanya penderita berwaham
bahwa ia raja, tetapi ia bermain-main dengan air ludahnya dan mau disuruh melakukan pekerjaan
kasar. Mayer gross membagi waham dalam dua kelompok yaitu waham primer dan waham
sekunder, waham sistematis atau tafsiran yang bersifat waham (delutional interpretations).
Waham primer timbul secara tidak logis sama sekali, tanpa penyebab apa-apa dari luar.
Menurur Mayer-Gross hal ini hampir patognomonis buat skizofrenia. Umpamanya istrinya
sedang berbuat serong sebab ia melihat seekor cicak berjalan dan berhenti dua kali, atau seorang
penderita berkata dunia akan kiamat sebab ia melihgat seekor anjing mengangkat kaki terhadap
sebatang pohin untuk kencing.
Waham sekunder biasanya logis kedengarannya dapat diikuti dan merupakan cara bagi
penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain. Waham dinamakan menurut
isinya :waham kebesaran atau ekspansif, waham nihilistik, waham kejaran, waham sindiran,
waham dosa, dan sebagainya.
2. Halusinasi
Pada skizofrenia, halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan hal ini merupakan gejala
yang hampir tidak dijumpai dalam keadaan lain. Paling sering pada keadaan sskizofrenia ialah
halusinasi (oditif atau akustik) dalam bentuk suara manusia, bunyi barang-barang atau siulan.
Kadang-kadang terdapat halusinasi penciuman (olfaktorik), halusinasi citrarasa (gustatorik) atau
halusinasi singgungan (taktil). Umpamanya penderita mencium kembang kemanapun ia pergi,
atau ada orang yang menyinarinya dengan alat rahasia atau ia merqasa ada racun
42 | P a g e

dalammakanannya Halusinasi penglihatan agak jarang pada skizofrenia lebih sering pada psikosa
akut yang berhubungan dengan sindroma otak organik bila terdapat maka biasanya pada stadium
permulaan misalnya penderita melihat cahaya yang berwarna atau muka orang yang menakutkan.
Diatas telah dibicarakan gejala-gejala. Sekali lagi, kesadaran dan intelegensi tidak menurun pada
skizofrenia. Penderita sering dapat menceritakan dengan jelas pengalamannya dan perasaannya.
Kadang-kadang didapati depersonalisasi atau double personality, misalnya penderita
mengidentifikasikan dirinya dengan sebuah meja dan menganggap dirinya sudah tidak adalagi.
Atau pada double personality seakan-akan terdapat kekuatan lain yang bertindak sendiri
didalamnya atau yang menguasai dan menyuruh penderita melakukan sesuatu.
Pada skizofrenia sering dilihat otisme : penderita kehilangan hubungan dengan dunia luar ia
seakan-akan hidup dengan dunianya sendiri tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.
Oleh Bleuler depersonalisasi, double personality dan otisme digolongkan sebagai gejala primer.
Tetapi ada yang mengatakan bahwa otisme terjadi karena sangat terganggunya afek dan
kemauan.
Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menilai simptom dan gejala klinis skizofrenia
adalah:
(1). Tidak ada symptom atau gejala klinis yang patognomonik untu skizofrenia. Artinya tidak ada
simptom yang khas atau hanya terdapat pada skizofrenia. Tiap simptom skizofrenia mungkin
ditemukan pada gangguan psikiatrik atau gangguan syaraf lainnya. Karena itu diagnosis
skizofrenia tidak dapat ditegakkan dari pemeriksaan status mental saat ini. Riwayat penyakit
pasien merupakan hal yang esensial untuk menegakkan diagnosis skizofrenia.
(2). Simptom dan gejala klinis pasien skizofrenia dapat berubah dari waktu ke waktu. Oleh
karena itu pasien skizofrenia dapat berubah diagnosis subtipenya dari perawatan sebelumnya
(yang lalu). Bahkan dalam satu kali perawatanpun diagnosis subtipe mungkin berubah.
(3). Harus diperhatikan taraf pendidikan, kemampuan intelektual dan latar belakang sosial
budaya pasien. Sebab perilaku atau pola pikir masyarakat dari sosial budaya tertentu mungkin
dipandang sebagai suatu hal yang aneh bagi budaya lain. Contohnya memakai koteka di Papua
merupakan hal yang biasa namun akan dipandang aneh jika dilakukan di Jakarta. Selain itu hal
yang tampaknya merupakan gangguan realitas mungkin akibat keterbatasan intelektual dan
pendidikan pasien.
3.6 Diagnosis
PEDOMAN DIAGNOSTIK BERDASARKAN PPDGJ III
1. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. Thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya
(tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda, atau

43 | P a g e

- Thought insertion or withdrawal = isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya
(insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan
- Thought broadcasting = isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya
mengetahuinya.
b. Delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar atau
- Delusion of influence = waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar atau
- Delusion of passivity = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu
kekuatan dari luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan tubuh/anggota gerak
atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus).
- Delusion perception = pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi
dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. Halusional Auditorik ;
- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku pasien .
- Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara
atau
- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar
dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu atau kekuatan
dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau
berkomunikasi dengan mahluk asing atau dunia lain)
Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh waham yang
mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun
disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari
selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation) yang berakibat
inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang menumpul
tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunya
kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau
medikasi neureptika.
* adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau
lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal);
* Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall
quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai
44 | P a g e

hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self
absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial.
Perjalanan Gangguan Skizofrenik dapat diklasifikasi dengan menggunakan kode lima karakter
berikut: F20.X0 Berkelanjutan, F20.X1 Episodik dengan kemunduran progresif, F20 X2 episodik
dengan kemunduran stabil, F20.X3 Episode berulang , F20. X4 remisi tak sempurna, F20.X5
remisi sempurna, F20.X8. lainnya, F20.X9. Periode pengamatan kurang dari satu tahun.
F.20 Skizofrenia Paranoid
Pedoman diagnostik
1. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
2. Sebagai tambahan:
- Sebagai tambahan :
* Halusinasi dan/ waham arus menonjol;
(a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau halusinasi
auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling), mendengung (humming), atau
bunyi tawa (laughing).
(b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual , atau lain-lain perasaan
tubuh, halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
(c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control),
dipengaruhi (delusion of influence) atau passivity (delussion of passivity), dan keyakinan
dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang paling khas;
Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik secara relatif
tidak nyata / tidak menonjol.
Diagnosa Banding :
- Epilepsi dan psikosis yang diinduksi oleh obat-obatan
- Keadaan paranoid involusional (F22.8)
- Paranoid (F22.0)
F20.1 Skizofrenia Hebefrenik
Pedoman Diagnostik
- Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia
- Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda
(onset biasanya 15-25 tahun).
- Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak
harus demikian untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini
- Untuk meyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya,
untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :perilaku yang
tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan, serta manerisme, ada kecenderungan untuk
menyendiri (solitaris) dan perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan. Afek pasien
yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering disertai oleh cekikikan (gigling) atau
perasaan puas diri (self-satisfied), senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling) atau sikap
tinggi hati (lofty manner), tertawa menyerigai, (grimaces), manneriwme, mengibuli secara
bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang
diulang-ulang (reiterated phrases), dan proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan
pembicaraan yang tak menentu (rambling) dan inkoherens

45 | P a g e

- Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir biasanya menonjol,
halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol ) fleeting and fragmentaty delusion and
hallucinations, dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determnation) hilang serta
sasaran ditinggalkan, sehingga prilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of
purpose) Tujuan aimless tdan tampa maksud (empty of puspose). Adanya suatu preokupasi yang
dangkal, dan bersifat dibuat-buar terhadap agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin
mempersukar orang memahami jalan pikirannya.
F20.3 Skizofrenia Tak terinci (undifferentiated )
Pedoman diagnostik :
(1) Memenuhi kriteria umu untuk diagnosa skizofrenia
(2) Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia paranoid, hebefrenik, katatonik.
(3) Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skiszofrenia
F20.5 Skizofrenia Residual
Pedoman diagnostik:
Untuk suatu diagnostik yang menyakinkan , persyaratan berikut harus di penuhi semua:
(a) Gejala Negatif dari skizofrenia yang menonjol misalnya perlambatan psikomotorik,
aktifitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan ketidak adaan inisiatif, kemiskinan
dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk, seperti ekspresi muka,
kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri, dan kinerja sosial yang buruk.
(b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang memenuhi
kriteria untuk diagnosa skizofrenia
(c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala
yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul
sindrom negatif dari skizofrenia
(d) Tidak terdapat dementia, atau penyakit/gangguan otak organik lainnya, depresi kronis atau
institusionla yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut.
F20.6 Skizofrenia Simpleks
Pedoman diagnostik
- Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada pemantapan
perkembangan yang berjalan berlahan dan progresif dari: (1) gejala negatif yang khas dari
skizofrenia residual tanpa didahului riwayat halusinasi waham, atau manifestasi lain dari episode
psikotik. Dan (2) disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna,
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu tanpa tujuan
hidup, dan penarikan diri secara sosial.
- Gangguan ini kurang jelas gejala psokotiknya dibanding dengan sub type skisofrenia lainnya.
KRITERIA DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual - IV).
A. Khas / Karakteristik : 2 gejala berikut atau lebih dari yang berikut ini, masing-masing
ditemukan pada bagian waktu yang bermakna selama periode 1 bulan : (gejala tahap aktif
psikosis)
a Delusi / waham : satu gejala ini sudah cukup bila wahamnya bizarre
b Halusinasi : satu gejala ini sudah cukup bila halusinasi berupa pendengaran/ bisikan yang
terus mengomentari perilaku dan pikiran pasien, atau beberapa orang terdengar
membicarakan pasien
46 | P a g e

c
d
e

Disorganized speech (bicara kacau, sering ngelantur atau inkoheren, tidak nyambung)
Perilaku kacau atau katatonik
Gejala negatif : misal
a. Emosi mendatar, dingin, tak hangat, acuh
b. Alogia : diam seribu bahasa
c. Avolition : malas, tak ada aksi/kerja
Hanya 1 gejala kriteria A yang diperlukan jika waham kacau atau halusinasi terdiri dari
suara yang terus menerus mengomentari perilaku / pikiran pasien / dau atau lebih suara
yang saling bercakap.

B. Disfungsi Sosial/Okupasional : untuk jangka waktu yang cukup lama, salah satu area fungsi
sosial/okuparsional terganggu, yaitu:
1 pekerjaan
2 hubungan interpersonal
3 perawatan diri tidak yang memadai
(atau bila onset pada anak anak atau remaja, gagal mencapai tingkat pencapaian
interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan )
C Lamanya Gangguan : sedikitnya 6 bulan terus menerus; Periode 6 bulan ini harus termasuk
paling kurang 1 bulan (atau kurang jika berhasil diobati) gejala yang memenuhi kriteria A
(gejala fase aktif) dan dapat termasuk perode gejala prodromal atau residual. Selama periode
prodromal atau residual ini, tanda dari gangguan mungkin dimanifestasikan oleh hanya
gejala negative atau dua atau lebih gejala yang tercantum pada kriteria A yang timbul dalam
bentuk yang kurang jelas (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yag tidak
lazim)
D Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood : gangguan skizoafektif dan
gangguan mood dengan ciri psikotik, disingkirkan karena salah satu dari (1) tidak ada
episode Depresi Mayor, Manik, atau campuran yang terjadi secara bersamaan dengan gejala
fase aktif, atau (2) jika episode mood terjadi selama gejala fase aktif, durasi seluruhnya
relative singkat dibandingkan durasii periode aktif dan residual.
E Penyingkiran zat / KMU : gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari zat (misalnya
penyalahgunaan zat, pengobatan) atau suatu kondisi medis umum.
F Hubungan dengan gangguan pervasif : jika terdapat adanya riwayat gangguan autistik /
gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosa tambahan skizofren dibuat hanya jika
waham / halusinasi yang menonjol juga ditemukan sekurang-kurangnya satu bulan (atau
kurang jika diobati dengan berhasil)
G Perjalanan Penyakit Skizofrenia :
Setelah episode serangan skizofrenia yang pertama, pasien skizofrenia akan memiliki periode
pemulihan yang bertahap, yang dapat memakan waktu yang lama untuk menuju pada periode
fungsi dasar yang relatif normal. Dalam periode pemulihan menuju keadaan relative normal
tersebut, kekambuhan (relaps) biasanya terjadi. Masing-masing relaps akan diikuti oleh
pemburukan lebih lanjut pada fungsi dasar pasien. Semakin sering relaps, semakin sulit
kembali ke fungsi dasar semula. Pada akhirnya, pasien skizofrenia menyadari adanya
47 | P a g e

kesulitan atau kegagalan untuk kembali ke fungsi dasar semulanya, dan keadaan inilah yang
membuat pasien menyimpulkan bahwa kehancuran yang bermakna pada kehidupannya telah
terjadi akibat gangguan ini.
Tipe Paranoid :
A Preokupasi dengan satu atau lebih waham atau halusinasi dengar yang berulang kali.
B Gejala berikut tidak menonjol : bicara yang kacau, perilaku yang kacau atau katatonik, afek
yang mendatar atau tidak wajar (inappropriate)
Tipe Disorganisasi / Kacau :
A. Semua gejala berikut menonjol :
1. bicara kacau
2. perilaku kacau
3. afek tidak memadai/wajar atau mendatar
B. Tidak memenuhi kriteria untuk type katatonik
Tipe Katatonik : Didominasi oleh sedikitnya dua gejala berikut
1. immobilitas motorik : sebagai katapleksi (termasuk waxy flexibility) atau stupor
2. aktivitas motorik yang berlebihan, tak bertujuan dan tidak berkaitan dengan stimuli external
3. negativisme yang mencolok (resistensi tanpa motif terhadap semua instruksi, atau
mempertahankan posisi tubuh secara kaku terhadap usaha untuk mengubahnya), atau mutisme
(diam seribu bahasa)
4. kejanggalan dalam gerakan-gerakan sadar, misalnya posturing (secara sadar mengambil posisi
tubuh yang tidak wajar atau bizarre), gerakan-gerakan stereotipik, mannerisme yang mencolok,
atau senyum yang tak wajar (prominent grimacing)
5. ekolalia (latah) atau ekopraksia (latah gerakan)
Tipe Tak Tergolongkan
Ada gejala-gejala A tetapi tidak memenuhi kritera untuk tipe paranoid, disorganisasi maupun
katatonik.
Tipe Residual
Tidak dijumpai delusi, halusinasi, bicara yang kacau, dan perilaku yang amat kacau atau
katatonia.
Secara kontinu menunjukkan adanya gangguan, misal : gejala-gejala negatif, atau adanya 2-3
gejala type A dalam derajat lebih lemah, misal odd beliefs, unusual perceptual experiences
Akut Delusional Psikosis
Latent Skizofrenia : bila pasien tidak memenuhi kritera yang jelas untuk skizofrenia; mencakup
misalnya kasus-kasus borderline skizoid dan gangguan kepribadian skizotipal. Pasien-pasien ini
sekali-sekali menunjukkan perilaku yang ganjil, atau kelainan pikiran, tapi tidak secara konsisten
menunjukkan gejala-gejala psikotik. Pada waktu yang lalu sindroma ini disebut juga Borderline
skizofrenia.
Oneiroid : individu berada seolah dalam mimpi, tidak sepenuhnya sadar akan waktu dan tempat
(disorientasi waktu dan tempat). Istilah ini digunakan dalam oneiroid schizophrenia dalam mana
48 | P a g e

pasien sangat asyik terlibat dalam halusinasinya sehingga seolah terlepas dari keterlibatan
dengan dunia nyata. Bila terjadi keadaan ini, dokter harus hati-hati sekali memeriksa pasien
untuk kemungkinan sebab-sebab medis-fisik atau kondisi neurologis sebagai penyebab gejala
tersebut.
Paraphrenia : digunakan untuk menggambarkan salah satu gejala skizofrenia tipe paranoid, atau
untuk menunjukkan perjalanan penyakit yang deterioratif (makin parah) atau adanya sistem
waham yang sistematis. Istilah yang dianjurkan tidak digunakan lagi.
Pseudoneurotic Schizophrenia :
Kadang-kadang pasien yang biasanya menunjukkan gejala-gejala ansietas, fobia,
obsesi dan kompulsi kemudian mengembangkan gejala kelainan pikiran dan psikosis. Secara
khas pasien menunjukkan pananxiety, panphobia, panambivalence dan kadang2 sexualitas yang
kacau. Berbeda dengan pasien gangguan cemas, pasien pseudoneurotic menunjukkan freefloating anxiety yang jarang berkurang. Dalam klinik pasien jarang menjadi amat parah atau
amat psikotik. Kondisi ini dalam DSM-IV-TR akan didiagnosis sebagai gangguan kepribadian
ambang.
Simple Schizophrenia (Skizofrenia simplex; simple deteriorative Disorder) :
Tanda khas : hilangnya secara lambat laun ambisi dan dorongan kehendak pasien. Pasien tidak
psikotik secara overt, juga tidak menunjukkan gejala delusi dan halusinasi yang menetap. Gejala
utama adalah penarikan diri dari situasi terkait lingkungan sosial dan kerja.
Depresi Pasca-Skizofrenia.
Gejalanya dapat mirip dengan gejala-gejala tahap residual skizofrenia atau efek samping
daripada obat-obat antipsikotik yang umum digunakan, istilah lain : post schizophrenic
depression (ICD-X), merupakan hasil akhir episode skizofrenia. Ini terjadi pada sekitar 25 %
pasien dengan skizofrenia dan makin sering berhubungan dengan risiko bunuh diri.
Skizofrenia Onset Dini (Early-Onset)
Sebagian pasien mulai mendapat skizofrenia pada masa kanak-kanak, kadang-kadang sulit
dibedakan dengan retardasi mental atau gangguan autistik. Diagnosis berdasarkan gejala-gejala
yang sama dengan skizofrenia pada orang dewasa. Mulanya biasanya perlahan (insidious),
cenderung berjalan kronis dan prognosisnya tidak baik.
Skizofrenia Onset Lanjut (Late-Onset).
Mulanya sesudah usia 45 tahun. Lebih sering menyerang wanita dan biasanya gejala
paranoid lebih menonjol. Prognosis biasanya baik dan respons baik terhadap antipsikotika.

3.7 Diagnosis banding

Gangguan Psikotik Sekunder dan Akibat Obat


Gejala psikosis dan katatonia dapat disebabkan oleh berbagai macam keadaan medis
psikiatrik dan dapat diakibatkan oleh berbagai macam zat. Jika psikosis atau katatonia
disebabkan oleh kondisi medis nonpsikiatrik atau diakibatkan oleh suatu zat, diagnosis yang
49 | P a g e

paling sesuai adalah gangguan psikotik akibat kondisi medis umum, atau gangguan katatonia
akibat zat. Manifestasi psikiatrik dari banyak kondisi medis nonpsikiatrik dapat terjadi awal
dalam perjalanan penyakit, seringkali sebelum perkembangan gejala lain. Dengan demikian
klinisi harus mempertimbangkan berbagai macam kondisi medis nonpsikiatrik dii dalam
diagnosis banding psikosis, bahkan tanpa adanya gejala fisik yang jelas. Pada umumnya, pasien
dengan gangguan neurologist mempunyai lebih banyak tilikan pada penyakitnya dan lebih
menderita akibat gejala psikiatriknya daripada pasien skizofrenik, suatu kenyataan yang
dapatmembantu klinisi untuk membedakan kedua kelompok tersebut.
Saat memeriksa seorang pasien psikotik, klinisi harus mengikuti tiga pedoman umum
tentang pemeriksaan keadaan nonpsikiatrik. Pertama, klinisi harus cukup agresif dalam mengejar
kondisi medis nonpsikiatrik jika pasien menunjukkan adanya gejala yang tidak lazim atau jarang
atau adanya variasi dalam tingkat kesadara. Kedua, klinisi harus berusaha untuk mendapatkan
riwayat keluarga yang lemgkap, termasuk riwayat gangguan medis, neurologist, dan psikiatrik.
Ketiga, klinisi harus mempertimbangkan kemungkinan suatu kondisi medis nonpsikiatrik,
bahkan pada pasien dengan diagnosis skizofrenia sebelumnya. Seorang pasien skizofrenia
mempunyai kemungkinan yang sama untuk menderita tumor otak yang menyebabkan gejala
psikotik dibandingkan dengan seorang pasien skizofrenik.
Berpura-pura dan Gangguan buatan
Baik berpura-pura atau gangguan buatan mungkin merupakan suatu diagnosis yang
sesuai pada pasien yang meniru gejala skizofrenia tetapi sebenarnya tidak menderita skizofrenia.
Orang telah menipu menderita skizofrenia dan dirawat dan diobati di rumah sakit psikiatrik.
Orang yang secara lengkap mengendalikan produksi gejalanya mungkin memenuhi diagnosis
berpura-pura (malingering); pasien tersebut biasanya memilki alasan financial dan hokum yang
jelas untuk dianggap gila. Pasien yang kurang mengendalikan pemalsuan gejala psikotiknya
mungkin memenuhi diagnosis suatu gangguan buatan (factitious disorder). Tetapi, beberapa
pasien dengan skizofrenia seringkali secara palsu mengeluh suatu eksaserbasi gejala psikotik
untuk mendapatkan bantuan lebih banyak atau untuk dapat dirawat di rumah sakit.
Gangguan Psikotik Lain
Gejala psikotik yang terlihat pada skizofrenik mungkin identik dengan yang terlihat pada
gangguan skizofreniform, gangguan psikotik singkat, dan gangguan skizoafektif. Gangguan
skizofreniform berbeda dari skizofrenia karena memiliki lama (durasi) gejala yang sekurangnya
satu bulan tetapi kurang daripada enam bulan. Gangguan psikotik berlangsung singkat adalah
diagnosis yang tepat jika gejala berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan
dan jika pasien tidak kembali ke tingkat fungsi pramorbidnya. Gangguan skizoafektif adalah
diagnosis yang tepat jika sindroma manik atau depresif berkembang bersama-sama dengan gejala
utama skizofrenia.Suatu diagnosis gangguan delusional diperlukan jika waham yang tidak aneh
(nonbizzare) telah ada selama sekurangnya satu bulan tanpa adanya gejala skizofrenia lainnya
atau suatu gangguan mood.
Gangguan Mood
Diagnosis banding skizofrenia dan gangguan mood dapat sulit, tetapi penting karena
tersedianya pengobatan yang spesifik dan efektif untuk mania dan depresi. Gejala afektif atau
mood pada skizofrenia harus relative singkat terhadap lama gejala primer. Tanpa adanya
informasi selain dari pemeriksaan status mental, klinisi harus menunda diagnosis akhir atau
50 | P a g e

harus menganggap adanya gangguan mood, bukannya membuat diagnosis skizofrenia secara
prematur.
Gangguan Kepribadian
Berbagai gangguan kepribadian dapat ditemukan dengan suatu cirri skizofrenia;
gangguan kepribadian skizotipal, schizoid, dan ambang adalah gangguan kepribadian dengan
gejala yang paling mirip. Gangguan kepribadian, tidak seperti skizofrenia, mempunyai gejala
yang ringan, suatu riwayat ditemukannya gangguan selama hidup pasien, dan tidak adanya onset
tanggal yang dapat diidentifikasi.
3.8 Tatalaksana
Psikofarmaka
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik
bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia.
Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau
kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertama
diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk
mengobati Skizofrenia. Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu
antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril (Clozapine)
a. Antipsikotik Konvensional
Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional. Walaupun
sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh
obat antipsikotik konvensional antara lain :
1) Haldol (haloperidol)
2) Mellaril (thioridazine)
3) Navane (thiothixene)
4) Prolixin (fluphenazine)
5) Stelazine ( trifluoperazine)
6) Thorazine ( chlorpromazine)
7) Trilafon (perphenazine)
Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak
ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.-Ada 2 pengecualian
(harus dengan antipsikotok konvensional). Pertama, pada antipsikotik konvensional tanpa efek
samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian
antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler.
Prolixin dan Haldol dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval
2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan
terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistemdepot formulation
ini tidak dapat digunakan pada newer atypic antipsycotic.
b. Newer Atypcal Antipsycotic
Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya berbeda, serta
sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional.
51 | P a g e

Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain :


Risperdal (risperidone)
Seroquel (quetiapine)
Zyprexa (olanzopine)
Para ahli banyak merekomendasikan obat-obat ini untuk menangani pasien-pasien dengan
Skizofrenia.

c. Clozaril
Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Clozaril
dapat membantu 25-50% pasien yang tidak merespon (berhasil) dengan antipsikotik
konvensional. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat
serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel darah
putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus
memeriksakan kadar sel darah putihnya secara reguler. Para ahli merekomendaskan penggunaan
Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.

Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran


No.
1.

Nama Generik
Klorpromazin

2.

Haloperidol

3.
4.
5.
6.

Perfenazin
Flufenazin
Flufenazin dekanoat
Levomeprazin

7.
8.
9.

Trifluperazin
Tioridazin
Sulpirid

10.
11.

Pimozid
Risperidon

Sediaan
Tablet 25 dan 100 mg,
injeksi 25 mg/ml
Tablet 0,5 mg, 1,5 mg,
5 mg
Injeksi 5 mg/ml
Tablet 2, 4, 8 mg
Tablet 2,5 mg, 5 mg
Inj 25 mg/ml
Tablet 25 mg
Injeksi 25 mg/ml
Tablet 1 mg dan 5 mg
Tablet 50 dan 100 mg
Tablet 200 mg
Injeksi 50 mg/ml
Tablet 1 dan 4 mg
Tablet 1, 2, 3 mg

Dosis
150 - 600 mg/hari
5 - 15 mg/hari
12 - 24 mg/hari
10 - 15 mg/hari
25 mg/2-4 minggu
25 - 50 mg/hari
10 - 15 mg/hari
150 - 600 mg/hari
300 - 600 mg/hari
1 - 4 mg/hari
2 - 6 mg/hari

Cara penggunaan
o Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klnis) yang sama pada
dosis ekivalen, perbedaan terutama pada efek samping sekunder.
o Pemilihan jenis obat anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek
samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekivalen.
o Apabila obat anti psikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis yang sudah
optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat psikosis lain (sebaiknya
dari golongan yang tidak sama), dengan dosis ekivalennya dimana profil efek samping belum
tentu sama.
52 | P a g e

o Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis sebelumnya jenis obat antipsikosis tertentu
yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek sampingnya, dapat dipilih kembali
untuk pemakaian sekarang
o Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan:
Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu
Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam
Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari)
Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek samping (dosis pagi kecil,
dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu kualitas hidup pasien
o Mulai dosis awal dengan dosis anjuran dinaikkan setiap 2-3 hari sampai mencapai dosis
efektif (mulai peredaan sindroma psikosis) dievaluasi setiap 2 minggu dan bila perlu dinaikkan
dosis optimal dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi) diturunkan setiap 2 minggu
dosis maintanance dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi drug holiday 1-2
hari/mingu) tapering off (dosis diturunkan tiap 2-4 minggu) stop
o Untuk pasien dengan serangan sndroma psikosis multi episode terapi pemeliharaan dapat
dibarikan palong sedikit selama 5 tahun.
o Efek obat psikosis secara relatif berlangsung lama, sampai beberapa hari setelah dosis terakhir
yang masih mempunyai efek klinis.
o Pada umumnya pemberian oabt psikosis sebaiknya dipertahankan selama 3 bulan sampai 1 tahun
setelah semua gejala psikosis mereda sama sekali. Untuk psikosis reaktif singkat penurunan obat
secara bertahap setelah hilangnya gejala dalam kueun waktu 2 minggu 2 bulan.
o Obat antipsikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun diberikan dalam
jangka waktu yang lama, sehingga potensi ketergantungan obat kecil sekali.
o Pada penghentian yang mendadak dapat timbul gejala Cholinergic rebound yaitu: gangguan
lambung, mual muntah, diare, pusing, gemetar dan lain-lain. Keadaan ini akan mereda dengan
pemberian anticholinergic agent (injeksi sulfas atrofin 0,25 mg IM dan tablet trihexypenidil 3x2
mg/hari)
o Obat anti pikosis long acting (perenteral) sangat berguna untuk pasien yang tidak mau atau sulit
teratur makan obat ataupun yang tidak efektif terhadap medikasi oral. Dosis dimulai dengan 0,5
cc setiap 2 minggu pada bulan pertama baru ditingkatkan menjadi 1 cc setap bulan. Pambarian
anti psikosis long acting hanya untuk terapi stabilisasi dan pemeliharaan terhadap kasus
skizofrenia.
o Penggunaan CPZ injeksi sering menimbulkan hipotensi ortostatik pada waktu perubahan posisi
tubuh (efek alpha adrenergik blokade). Tindakan mengatasinya dengan injeksi nor adrenalin
(effortil IM)
Haloperidol sering menimbulkan sindroma parkinson. Mengatasinya dengan tablet
trihexyphenidyl 3-4x2 mg/hari, SA 0,5-0,75 mg/hari.
ANTIPSIKOSIS GENERASI PERTAMA
1. Klorpromazin

53 | P a g e

2-klor-N-(dimetil-aminopril)-fenotiazin
Indikasi : antipsikosis tipikal dengan mekanisme kerja dalam menghambat berbagai reseptor adrenergik, muskarinik, histamine H1 dan reseptor serotonin 5HT2 dengan
afinitas yang berbeda.
Efek samping : Sedasi, gejala ekstrapiramidal ( distonia akut, akatisia, parkinsonisme dan
sjndrom neuroleptik malignant ), hiperprolaktinemia, hpeotensi ortostatik and
gejala idiosinkrasi(ikterus, dermatitis,dan leucopenia)
Interaksi obat :Chlorpromazine dapat menghambat metabolism hati dari asam valproat yang
dapat berakibat toksik.
2. Fluphenazin

Indikasi
: antipsikosis atipikal
Efek samping :Sedasi,hiperprolaktinemia,efek samping ekstrapiramidal
Interaksi obat : Karbamazepin dapat menginduksi enzim hati cytokrom P450 yang dapat
meningkatkan metabolism dari obat antipsikosis seperti haloperidol,clozapin,flupenasin.
3. Haloperidol

Indikasi
: antipsikosis yang kuat dan efektif untuk fase mania penyakit mania depresif dan
skizofrenia.
farmakokinetik
: cepat diserap di saluran pencernaan,Cp max dalam waktu 2-6
jam,ekskresinya lewat ginjal lambat,kira-kira 40 % dikeluarkan selama 5 hari.
Efek samping : reaksi ekstrapiramidal, leucopenia dan agranulositosis
Kontraindikasi: sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil.
Interaksi Obat : Karbamazepin dapat menginduksi enzim hati cytokrom P450 yang dapat
meningkatkan metabolism dari obat antipsikosis seperti haloperidol,clozapin,flupenasin,
olanzapin.

54 | P a g e

4. Loxapin

Indikasi
: mengobati skizofenia dan psikosis lainnya, disamping itu memiliki efek
antiemetic, sedative, antikolinergik dan anti adrenergic.
Farmakokinetik
: Diabsorpsi baik per oral, Cp max 1 jam (IM) dan 2 jam (oral),t nya 3
jam.
Efek samping : insidens reaksi ekstrapiramidal
Kontraindikasi: harus hati-hati penggunaannya bagi pasien dengan riwayat kejang.
5. Molindon

Indikasi
: antipsikosis, anti emetic,meningkatkan efek stimulasi dari dihidroksifenilalanin
dan 5-hidroksitriptopan tanpa inhibitor MAO.
Farmakokinetik
: Cepat diabsorbsi gi GI,76 % molidon yang terikat pada protein plasma,
t nya 2 jam.
Efek samping :
Sedasi,hiperprolaktinemia,efek
samping
ekstrapiramidal,efek
endokrin,pigmentasi kulit.
Kontraindikasi: Dikontraindikasikan bagi oasien comatose, pasien yang mengalami depresi SSP
dan mengalami hipersensitivitas.
Interaksi Obat : Menghambat absorpsi bersama dengan fenitoin atau tetrasiklin.
6. Mesoridazine,Pherphenazin, Thioridazine,ThiothixeneTrifluoperazine
Indikasi
: antipsikosis, skizofrenia
Efek samping :Pruritus,fotosensitifitas,eosinofilia,
trombositopenia.Hiperprolaktinemia,konstipasi,dyspepsia,reaksi ekstrapiramidal.
Kontraindikasi: Dikontraindikasikan bagi oasien comatose, pasien yang mengalami depresi
SSP,kerusakan otak subkortikal, kelainan sumsum tulang.
Interaksi Obat :
Biasanya
dikombinasikan
dengan
depresan
SSP
seperti
opiate,analgetik,barbiturate dan sedative untuk menghindari efek sedasi yang tinggi atau depresi
SSP.
ANTIPSIKOSIS GENERASI KEDUA
1. Klozapin

55 | P a g e

Indikasi
: mengontrol gejala-gejala psikosis dan skizofrenia baik yang positif(iritabilitas)
maupun yang negative.(personal neatness).
Farmakokinetik
: diabsorpsi secara cepat dan sempurna, Cp max nya 1,6 jam, t nya 11,8
jam.
Efek samping : agranulositosis, hipertrmia, takikardia, sedasi, pusing kapala, hipersalivasi.
Kontraindikasi: penggunaan dibatasi hanya pada pasien yang resisten atau tidak dapat
mentoleransi psikosis yang lain.
Interaksi Obat : Kombinasi klozapin dan karbamazepin tidak direkomenasikan karena
kemungkinan terjadi supresi sumsum tulang dengan kedua agen tersebut.
2. Risperidon

Indikasi
: terapi skizofrenia baik untuk gejala negative maupun positif.disamping itu
diindikasikan pula untuk ganggua bipolar, depresi ciri psikosis dan Tourette syndrome
Farmakokinetik
: bioavailabilitas oral 70 %, ikatan protein plasma 90 %, dan dieliminasi
lewat urin dan sebagian lewat feses.
Efek samping :insomnia,agitasi, ansietas, somnolen, mual,muntah, peningkatan berat
badan,hiperprolaktinemia dan reaksi ekstrapiramidal yaitu tardiv diskinesia.
Interaksi Obat : Paraoxetin dilaoprkan dapat meningkatkan total risperidon dalam plasma
sebanyak 76 % kalinya.
Olanzapine

Indikasi
: terapi skizofrenia baik untuk gejala negative maupun positif dan sebagai antimania.
Farmakokinetik
: Diabsorpsi baik pada pemberian oral, Cp 4-6 jam, ekskresi lewat urin.
Efek Samping : reaksi ekstrapiramidal yaitu tardiv diskinesia, peningkatan berat badan,
intoleransi glukosa ,hiperglikemia ,hiperlipidemia.
Interaksi Obat : Karbamazepin dapat menginduksi enzim hati cytokrom P450 yang dapat
meningkatkan metabolism dari obat antipsikosis seperti haloperidol,clozapin,flupenasin,
olanzapine

56 | P a g e

Quetiapin

Indikasi
: Terapi skizofrenia baik untuk gejala negative maupun positif
Farmakokinetik : Absorpsi cepa, Cp max 1- 2 jam, ekskresi sebagian besar lewat urin dan
sebagian kecil lewat feses.
Efek samping
: Sakit kepala, somnolen dan dizziness,efek samping
ekstrapiramidalnya rendah peningkatan
berat
badan,hiperprolaktinemia
Interaksi Obat : Jika penghambat CYP 3A4 (seperti cimetidine, ketoconazole, nefazodone, jus
anggur dan erythromycin) dtkombinasikan dengan quetiapin maka peningkaan efek samping
(seperti sedasi,ortostatik) mungkin dapat terjadi
5. Ziprasidon

Indikasi
: mengatasi keadaan akut skizofrenia dan gangguan bipolar
Farmakokinetik
: Absorbsinya cepat dan ikatan protein plasmanya 99 %.
Efek Samping : Sakit kepala, somnolen dan dizziness,efek samping ekstrapiramidalnya rendah
peningkatan berat badan,hiperprolaktinemia
Interaksi Obat : Kombinasi antara antipsikosis dengan pengkonduksi miokardial dapar
meningkatkan efek samping dari antipsikosis.

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama


Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode
pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive
dyskinesia lebih rendah.Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk
mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat
lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama
pada Clozaril)
Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk
mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang penderita berhenti
minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi,
dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan
obat lain yang efek sampingnya lebih rendah.
57 | P a g e

Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral
dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan
injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah
mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya
dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer
atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal
lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan
diatas gagal.
Pengobatan Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh.
Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang behenti minum obat setelah episode
petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia
episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba
menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum
sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat,
bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya
penyakit.
Efek Samping Obat-obat Antipsikotik
Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting
untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan
tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan)
pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini
pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak
(berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang
dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan
obat antikolinergik (biasanya benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah
atau mengobati efek samping ini.
Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan
mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan
terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari
obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami
tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan
antipsikotik atipikal.
Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, sehingga
banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk
mengatasinya biasanya dokter akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan
newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit.
Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia yang memakan obat.
Hal ini sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga
dapat membantu mengatasi masalah ini.Efek samping lain yang jarang terjadi adalah
neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang
juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini
membutuhkan penanganan yang segera.

58 | P a g e

Psikoterapi
Terapi kejiwaan baru dapat diberian apabila penderita dengan terapi psikofarma sudah
mencapai tahapan dimana kemampuan menilai realitas sudah kembali pulih dan pemahaman
diri semakin baik. Psikoterapi ini banyan macam dan ragamnya tergantung dari kebutuhan dan
latar belakang penderita sebelum sakit (pramorbid), sebagai contoh :
a. Psikoterapi suportif
Jenis psikterapi ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan, semangat dan motivasi agar
penderita tidak merasa putus asa dan semangat juangnya fighting spirit) dalam menghadapi
hidup ini tidak kendur dan menurun
b. Psikoterapi re-edukatif
Jenis terapi ini dimaksudkan untuk memberikan pendidikan ulang yang maksdunya
memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu dan juga dengan pendidikan ini dimaksudkan
mengubah pola pendidikan lama dengan yang baru sehingga penderita lebih adaptif terhadap
dunia luar.
c. Psikoterpai re-konstruktif
Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang telah
mengalami keretakan menjadi kepribadian utuh seperti semula sebelum sakit.
d. Psikoterapi kognitif
Jeni terapi ini dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi kognitif.
e. Psikoterapi psikodinamik
Jenis psikoterapi ini dimaksudkan untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika
kejiwaan yang dapat menjelaskan seseorang jatuh sakit dan upaya untuk mencari jalan
keluarnya. Dengan psikoterapi ini diharapkan penderita dapat memahami kelebihan dan
kelemahan dirinya dan mampu menggunakan mekanisme pertahanan diri dengan baik.
f. Psikoterapi perilaku
Jenis psikoterapi ini dimaksdukan untuk memulihkan gangguan perilaku yang terganggu
menjadi perilaku yang adaptif. Kemampuan adaptasi penderita perlu dipulihkan agar penderita
mampu berfungsi kembali secara wajar dalam kehidupannya sehari hari baik dirumah, di
sekolah/kampus, ditempat kerja dan lingkungan sosial
g. Psikoterpai keluarga
Jenis terapi ini dimaksdukan untuk memulihkan hubungan penderita dengan keluarganya.
59 | P a g e

Secara umum tujuan psikoterapi adalah untuk memperkuat struktur kepribadian (maturing
personality), memperkuat ego (ego strength), meningkatkan citra diri (self esteem), memulihkan
kepercayaan diri (self confidence), yang kesemuanya untuk mencapai kehidupan yang berarti
dan bermanfaat (meaningfulness of life)
Psikososial
Ada beberapa macam metode yang dapat dilakukan antara lain :

Psikoterapi individual
o

Terapi suportif

Sosial skill training

Terapi okupasi

Terapi kognitif dan perilaku (CBT)

Psikoterapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan
dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara
psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi
sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia.
Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya
paling membantu bagi pasien skizofrenia

Psikoterapi keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan
remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari
terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera,
topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama
dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak
saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana
yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari
penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien
mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah
menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps. Didalam penelitian
terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga
sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga.

Manajemen kasus

Assertive Community Treatment (ACT)


60 | P a g e

Psikoreligius
Terapi keagamaan berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berddoa,
memanjatkan puji pujian kepada tuhan, ceramah keagamman dan kajian kitab suci dan lain
sebagainya. Sehubungan dengan hal ini maka bagi umat beragama berdoan dan berdzikir dikala
sedang menhadapi musibah merupakan upaya yang amat dianjurkan guna memperolah
ketenangan dan penyembuhan penyakit.
Rehabilitasi
Bagi penderita gangguan jiwa skizofrenia yang berulang kali kambuh dan berlanjut kronis
dan menahun selain program terapi sebagaimana diuraikan, diperlukan program rehabilitasi
sebagai persiapan penempatan kembali kekeluarga dan masyarakat. Program rehabilitasi
sebagai persiapan kembali kekeluarga dan ke masyararakat meliputi berbagai macam kegiatan,
antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Terapi kelompok
Menjalankan ibadah keagamaan bersama
Kegiatan kesenian
Terapi fisik berupa olah raga
Keterampilan
Berbagai macam kursus
Berocok tanam
Rekreasi
Dll

3.9 Prognosis
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari periode 5 sampai 10 tahun
setelah perawatan psikiatrik pertama kali di rumah sakit karena skiofrenia, hanya kirakira 10-20 % pasien dapat digambarkan memliki hasil yang baik.Lebih dari 50% pasien
dapat digambarkan memiliki hasil yang buruk, dengan perawatan di rumah sakit yang
berulang, eksaserbasi gejala, episode gangguan mood berat, dan usaha bunuh diri.
Walaupun angka-angka yang kurang bagus tersebut, skizofrenia memang tidak selalu
memiliki perjalanan penyakit yang buruk, dan sejumlah faktor telah dihubungkan
dengan prognosis yang baik.
Rentang angka pemulihan yang dilaporkan didialam literatur adalah dari 10-60% dan
perkiraan yang beralasan adalah bahwa 20-30% dari semua pasien skizofrenia mampu
untuk menjalani kehidupan yang agak normal. Kira-kira 20-30% dari pasien terus
mengalami gejala yang sedang,dan 40-60% dari pasien terus terganggu scara bermakna
oleh gangguannya selama seluruh hidupnya.
Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada:
1. Usia pertama kali timbul ( onset): makin muda makin buruk.
2. Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik.
3. Tipe skizofrenia: episode skizofrenia akut dan katatonik lebih baik.
61 | P a g e

4. Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat.


5. Ada atau tidaknya faktor pencetusnya: jika ada lebih baik.
6. Ada atau tidaknya faktor keturunan: jika ada lebih jelek.
7. Kepribadian prepsikotik: jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek.
8. Keadaan sosial ekonomi: bila rendah lebih jelek.
Prognosis penderita skizofrenia baik bila:
1. Onset akut
2. Faktor pencetusnya jelas
3. Riwayat sosial dan pekerjaan premorbid yang baik (termasuk kemunculan di usia
lanjut)
4. Subtipe paranoid
5. Menikah
6. Riwayat keluarga dengan gangguan alam perasaan
7. Predominasi gejala positif
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Prognosis penderita skizofrenia buruk bila:


Onset pada usia lebih muda
Faktor pencetus tidak jelas dan bersifat insidius
Riwayat sosial dan pekerjaan premorbid buruk
Perilaku menyendiri
Subtipe disorganisasi dan nondiferensiasi
Tidak menikah
Riwayat keluarga dengan skizofrenia
Adanya tanda dan gejala neurologic
Predominasi gejala negatif
Prognosis untuk skizofrenia pada umumnya kurang begitu menggembirakan.Sekitar 25%
pasien dapat kembali pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali pada tingkat
prodromal (sebelum munculnya gangguan tersebut). Sekitar 25% tidak akan pernah
pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. Sekitar 50% berada
diantaranya, ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi
dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat.(Imam Setiadi daam Skizofrenia,
Refika Aditama, 2006).
Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis skizofrenia
1.
Keluarga
Skizofrenia tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi individu penderitanya, tapi
juga bagi orang-orang terdekat kepadanya. Biasanya, keluarganyalah yang paling
terkena dampak dari hadirnya skizofrenia. Pasien membutuhkan perhatian dari
masyarakat, terutama dari keluarganya. jangan membeda-bedakan antara orang
yang mengalami Skizofrenia dengan orang yang normal, karena orang yang
mengalami gangguan Skizofrenia mudah tersinggung.
2.

62 | P a g e

Inteligensi
Pada umumnya pasien Skizofrenia yang mempunyai Inteligensi yang tinggi akan
lebih mudah sembuh dibandingkan dengan orang yang inteligensinya rendah.

Karena orang yang mempunyai inteligensi tinggi biasanya mudah diberi


pemahaman, mudah mengerti akan pentingnya pengobatan.
3.

Pengobatan
Obat memiliki dua kekurangan utama. Pertama hanya sebagian kecil pasien
(kemungkinan 25%) cukup tertolong untuk mendapatkan kembali jumlah fungsi
mental yang cukup normal. Kedua antagonis reseptor dopamine disertai dengan
efek merugikan yang mengganggu dan serius. Namun pasien skkizofrenia perlu di
beri obat Risperidone serta Clozapine.

4.

Reaksi Pengobatan
Dalam proses penyembuhan skizofrenia, orang yang bereaksi terhadap obat lebih
bagus perkembangan kesembuhan daripada orang yang tidak bereaksi terhadap
pemberian obat.

5.

Stressor Psikososial
Dengan semakin bertambah meningkatnya perkembangan teknologi, akan
mempengaruhi juga pada proses penyembuhan penyakit skizofrenia. Biasanya
negara berkembang, penderita skizofrenia bisa lebih cepat disembuhkan karena
adanya dukungan dari masyarakat sekitar. Sedangkan pada Negara-negara maju,
prognosis lebih susah dikarenakan, biasanya pada Negara-negara maju
masyarakatnya cenderung individual, tidak mengenal tetangga, dan tidak perdui
terhadap lingkungan sekitar.
Apabila stressor dari skizofrenia ini berasal dari luar, maka akan mempunayi
dampak yang positif, karena tekanan dari luar diri individu dapat diminimalisir atau
dihilangkan. Begitu pula sebaliknya apabila stressor datangnya dari luar individu
dan bertubi-tubi atau tidak dapat diminimalisir maka prosgnosisnya adalah negatif
atau akan bertambah parah.

6.

Kekambuhan
penderita skizofrenia yang sering kambuh prognosisnya lebih buruk. Dengan
seringnya penderita skizofrenia kambuh maka akan semakin lemah pula system
yang ada pada dirinya.

7.

Gangguan Kepribadian
Pada gangguan kepribadian ini, orang yang mempunyai tipe introvert lebih susah
dideteksi apakah ia mempunyai gejala skizofrenia karena orang tersebut cenderung
menutup diri. Prognosis untuk orang yang mempunyai gangguan kepribadian akan
sulit disembuhkan. Besar kecilnya pengalaman akan memiliki peran yang sangat
besar terhadap kesembuhan.

8.

Onset
Jenis onset yang mengarah ke prognosis yang baik berupa onset yang lambat dan
akut, sedangkan onset yang tidak jelas memiliki prognosis yang lebih baik.

63 | P a g e

9.

Proporsi
Orang yang mempunyai bentuk tubuh normal (proporsional) mempunyai prognosis
yang lebih baik dari pada penderita yang bentuk tubuhnya tidak proporsional.

10.

Perjalanan penyakit
Pada penderita skizofreniayang masih dalam fase prodromal prognosisnya lebih
baik dari pada orang yang sudah pada fase aktif dan fase residual.

11.

Kesadaran
Kesadaran orang yang mengalami gangguan skizofrenia adalah jernih. Hal inilah
yang menunjukkan prognosisnya baik nantinya.

3.10

Komplikasi

Penyalahgunaan alkohol dan narkoba skizofrenia dengan memperburuk gejala. Dua puluh
persen menjadi tujuh puluh persen dari individu yang memiliki skizofrenia memiliki masalah
dengan narkotika. Tekanan, pengangguran, kemiskinan, dan tempat tinggal lain-lain komplikasi
yang mungkin. Pasien skizofrenia adalah 3 kali lebih mungkin untuk merokok sebagai
masyarakat umum, dan oleh itu terkena risiko kesehatan merokok terkait termasuk penyakit
jantung dan kanker. Sepuluh persen dari pasien dengan skizofrenia memiliki resiko yang tinggi
bunuh diri
3.11

Pencegahan

Organobiologik
Untuk menghindari kemungkinan adanya faktor genetik (turunan), maka perlu diteliti
riwayat atau silsilah keluarga, misalnya :
- Bila dalam silsilah suatu keluarga ditemukan salah seorang menderita skizofrenia
maka hendakknya bila ia ingin menikah sebaiknya dengan orang dari keluarga jauh
yang dalam silsilah keluarganya tidak ada anggota keluarga yang menderita
skizofrenia.
- Meskipun dalam silsilah keluarga tidak ada anggota keluarga yang menderita
skizofrenia, bila salah seorang keluarga hendak menikah dengan orang lain yang juga
dalam silsilah keluarganya tidak ada yang menderita skizofrenia, maka sebaiknya
kedua keluarga tadi merupakan keluarga jauh bukan keluarga dekat yang masih
bertalian darah.
- Sesama penderita atau mantan skizofrenia sebaiknya tidak saling menikah
PSIKO-EDUKATIF
Perkembangan jiwa/kepribadian anaka tergantung bagaimana kedua orangtua
mendidiknya (faktor psiko-edukatif). Kedua orang tua merupakan tokoh imitasi dan
identifikasi anak. Pendidikan anak hendaknya sedemikian rupa sehingga dapat dihindari
terbentuknya sifat atau ciri kepribadian yang rawan atau rentan bagi terjadinya gangguan
jiwa skizofrenia, misalnya yang tergolong kepribadian pramorbid (kepribadian paranoid,
skizoid, skizotipal dan ambang). Dalam hali ini terjadinya kelainan dalam perkembangan
jiwa/kepribadian anak lebih tergantung dari faktor cara orang tua mendidik dan contoh
64 | P a g e

dari suri tauladan yang diberikannya, atau dengan kata lain faktor parental example lebih
penting daripada parental genes.
Psikoreligius
D.B. larson, dkk (1992) dalam penelitiannya sebagaimana termuat dalam religious
commitment and health (APA,1992), menyatakan antara lain bahwa agama (keimanan)
amat penting dalam pencegahan agar seseorang tidak mudah jatuh sakit, meningkatkan
kemampuan seseorang dalam mengatasi penderitaan bila ia sedang sakit serta
mempercepat penyembuhan selain terapi medis yang diberikan. Sementara itu snyderman
(1996) menyatakan bahwa terapi medis tanpa agama (doa dan dzikir), tidak lengkap,
sebaliknya agama (doa dan dzikir) saja tanpa terapi medis, tidak efektif
Psikososial
Skizofrenia hendaknya dapat dihindari atau ditanggulangi. Adapula bentuk stesor
psikososial yang dapat dialami oleh anak selama tumbuh kembangnya dalam keluarga,
yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perkembangan jiwa/kepribadian anak.
Seyogianya anak tumbuh kembang dalam keluarga sakinah yaitu keluarga yang
harmonis, sehat dan bahagia dan buan hidup dan dibesarkan dalam keluarga yang
mengalami disfungsi. Dsifungsi keluarga yang dimaksud, adalah kondisi keluarga dengan
ciri-ciri sebagai berikut :
- Keluarga tidak utuh (broken home), misalnya kematian salah satu atau kedua
orangtua, kedua orangtua berpisah (separate) atau bercerai (divorce)
- Kehidupan perkawinan kedua orangtua tidak baik (poor marriage). Hubungan
orangtua dan anak tidak baik (poor parent-child relationship)
- Suasana rumah tangga yang tegang dan tanpa kehangatan (high tension and low
warmth). Orangtua sibuk (busy) dan jarang dirumah (absence)
- Salah satu atau kedua orangtua mempunyai kelainan kepribadian atau gangguan
kejiwaan (perconality or psychological disorders).

4. Memahami dan Menjelaskan Ibadah Mahdhoh


Secara etomologis diambil dari kata abada, yabudu, abdan, fahuwa aabidun. Abid,
berarti hamba atau budak, yakni seseorang yang tidak memiliki apa-apa, hatta dirinya sendiri
milik tuannya, sehingga karenanya seluruh aktifitas hidup hamba hanya untuk memperoleh
keridhaan tuannya dan menghindarkan murkanya. Manusia adalah hamba Allah Ibaadullaah
jiwa raga haya milik Allah, hidup matinya di tangan Allah, rizki miskin kayanya ketentuan Allah,
dan diciptakan hanya untuk ibadah atau menghamba kepada-Nya:

65 | P a g e



Tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali hanya untuk beribadah kepadaKu
(QS. 51(al-Dzariyat ): 56).
Ditinjau dari jenisnya, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua jenis, dengan bentuk dan sifat
yang berbeda antara satu dengan lainnya; Ibadah Mahdhah, artinya penghambaan yang murni
hanya merupakan hubungan antara hamba dengan Allah secara langsung. Ibadah bentuk ini
memiliki 4 prinsip:
a. Keberadaannya harus berdasarkan adanya dalil perintah, baik dari al-Quran
maupun al- Sunnah, jadi merupakan otoritas wahyu, tidak boleh ditetapkan oleh akal
atau logika keberadaannya.
b. Tatacaranya harus berpola kepada contoh Rasul SAW. Salah satu tujuan diutus
rasul oleh Allah adalah untuk memberi contoh:
64
Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul kecuali untuk ditaati dengan izin Allah(QS.
4: 64).
7
Dan apa saja yang dibawakan Rasul kepada kamu maka ambillah, dan apa yang
dilarang, maka tinggalkanlah( QS. 59: 7).
Shalat dan haji adalah ibadah mahdhah, maka tatacaranya, Nabi bersabda:
. . .
Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat. Ambillah dari padaku tatacara haji
kamu
Jika melakukan ibadah bentuk ini tanpa dalil perintah atau tidak sesuai dengan praktek
Rasul saw., maka dikategorikan Muhdatsatul umur perkara meng-ada-ada, yang
populer disebut bidah: Sabda Nabi saw.:
. .
.
.
.
Salah satu penyebab hancurnya agama-agama yang dibawa sebelum Muhammad saw.
adalah karena kebanyakan kaumnya bertanya dan menyalahi perintah Rasul-rasul
mereka:

.

66 | P a g e

c. Bersifat supra rasional (di atas jangkauan akal) artinya ibadah bentuk ini bukan
ukuran logika, karena bukan wilayah akal, melainkan wilayah wahyu, akal hanya
berfungsi memahami rahasia di baliknya yang disebut hikmah tasyri. Shalat, adzan,
tilawatul Quran, dan ibadah mahdhah lainnya, keabsahannnya bukan ditentukan oleh
mengerti atau tidak, melainkan ditentukan apakah sesuai dengan ketentuan syariat,
atau tidak. Atas dasar ini, maka ditetapkan oleh syarat dan rukun yang ketat.

d. Azasnya taat, yang dituntut dari hamba dalam melaksanakan ibadah ini adalah
kepatuhan atau ketaatan. Hamba wajib meyakini bahwa apa yang diperintahkan
Allah kepadanya, semata-mata untuk kepentingan dan kebahagiaan hamba, bukan
untuk Allah, dan salah satu misi utama diutus Rasul adalah untuk dipatuhi:
Jenis ibadah yang termasuk mahdhah, adalah :
1) Wudhu,
2) Tayammum
3) Mandi hadats
4) Adzan
5) Iqamat
6) Shalat
7) Membaca al-Quran
8) Itikaf
9) Shiyam ( Puasa )
10) Haji
11) Umrah
12) Tajhiz al- Janazah
Rumusan Ibadah Mahdhah adalah
KA + SS
(Karena Allah + Sesuai Syariat)
Ibadah Ghairu Mahdhah, (tidak murni semata hubungan dengan Allah) yaitu ibadah
yang di samping sebagai hubungan hamba dengan Allah juga merupakan hubungan atau
interaksi antara hamba dengan makhluk lainnya . Prinsip-prinsip dalam ibadah ini, ada 4:
a. Keberadaannya didasarkan atas tidak adanya dalil yang melarang. Selama
Allah dan Rasul-Nya tidak melarang maka ibadah bentuk ini boleh diseleng garakan.
b. Tatalaksananya tidak perlu berpola kepada contoh Rasul, karenanya dalam
ibadah bentuk ini tidak dikenal istilah bidah , atau jika ada yang menyebut nya,
segala hal yang tidak dikerjakan rasul bidah, maka bidahnya disebut bidah
hasanah, sedangkan dalam ibadah mahdhah disebut bidah dhalalah.
c. Bersifat rasional, ibadah bentuk ini baik-buruknya, atau untung-ruginya, manfaat
atau madharatnya, dapat ditentukan oleh akal atau logika. Sehingga jika menurut
logika sehat, buruk, merugikan, dan madharat, maka tidak boleh dilaksanakan.
67 | P a g e

d. Azasnya Manfaat, selama itu bermanfaat, maka selama itu boleh dilakukan.

Rumusan Ibadah Ghairu Mahdhah


BB + KA
(Berbuat Baik + Karena Allah)
4.1 Memahami dan Menjelaskan Hikmah Ibadah Madhah
Pokok dari semua ajaran Islam adalah Tawhiedul ilaah (KeEsaan Allah) , dan
ibadah mahdhah itu salah satu sasarannya adalah untuk mengekpresikan ke Esaan Allah
itu, sehingga dalam pelaksanaannya diwujudkan dengan:
a. Tawhiedul wijhah (menyatukan arah pandang). Shalat semuanya harus
menghadap ke arah kabah, itu bukan menyembah Kabah, dia adalah batu tidak
memberi manfaat dan tidak pula memberi madharat, tetapi syarat sah shalat
menghadap ke sana untuk menyatukan arah pandang, sebagai perwujudan Allah
yang diibadati itu Esa. Di mana pun orang shalat ke arah sanalah kiblatnya (QS. 2:
144).
b. Tawhiedul harakah (Kesatuan gerak). Semua orang yang shalat gerakan pokoknya
sama, terdiri dari berdiri, membungkuk (ruku), sujud dan duduk. Demikian halnya
ketika thawaf dan sai, arah putaran dan gerakannya sama, sebagai perwujudan Allah
yang diibadati hanya satu.
c. Tawhiedul lughah (Kesatuan ungkapan atau bahasa). Karena Allah yang
disembah (diibadati) itu satu maka bahasa yang dipakai mengungkapkan ibadah
kepadanya hanya satu yakni bacaan shalat, tak peduli bahasa ibunya apa, apakah dia
mengerti atau tidak, harus satu bahasa, demikian juga membaca al-Quran, dari sejak
turunnya hingga kini al-Quran adalah bahasa al-Quran yang membaca terjemahannya
bukan membaca al-Quran.

DAFTAR PUSTAKA
1. Agus D, Pendekatan holistik terhadap Skizofrenia, dalam majalah psikiatri, Jakarta,
2005:1.

68 | P a g e

2. Buchanan RW, Carpenter WT, Schizophrenia : introduction and overview, in: Kaplan and
Sadock comprehensive textbook of psychiatry, 7th ed, Philadelphia: lippincott Williams
and wilkins :2000: 1096-1109.
3. Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jenderal Pelayanan Medik,

Departemen

Kesehatan RI: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan jiwa di Indonesia III,
1993
4. Ganong, William F.2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran,edisi 20, Jakarta,EGC
5. Hawari, Dadang.2006.Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa.Jakarta:FKUI
6. http://ms.mdhealthresource.com/disability-guidelines/schizophrenia/complications
7. Kaplan, Hl, Sadock BJ, Grebb JA, Skizofrenia, dalam : Sinopsis psikiatri, ed 7, vol 1,
1997 : 685-729.
8. Kumala, Poppy dan Nuswantari.1998.Kamus Saku Kedokteran Dorland,edisi 25, Jakarta,
EGC
9. Maramis, WF: Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa,Cetakan I, Airlangga University Press,
Surabaya,1995
10. Maslim R, skizofrenla, gangguan skizotipal dan gangguan waham, dalam PPDGJ III,
Jakarta, 1998 :46-57.
11. Maslim,

Rusdi.2003.Diagnosis

Gangguan

Jiwa

Rujukan

Ringkas

PPDGJ

III.Jakarta:Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.


12. Prof. Amin Syukur MA.Pengantar Studi Islam. Semarang :CV. Bima Sakti,2003, Hlm.
80.
13. Uddin, Jurnalis: Anatomi Susunan Saraf Manusia, Cetakan 2, Universitas Yarsi, Jakarta,
2006.

69 | P a g e