Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2011 menunjukkan
pemberian air susu ibu (ASI) di Indonesia saat ini memprihatinkan, persentase
bayi yang menyusu secara eksklusif sampai dengan 6 bulan hanya 15,3%
sedangkan untuk target tahun 2011 adalah 61,5%.1 Berdasarkan hasil penelitian
World Breastfeeding Trends Initiative (WBTI) tahun 2012, hanya 27,5 persen saja
ibu di Indonesia yang berhasil memberi ASI eksklusif. Menurut Riskesdas tahun
2013 cakupan pemberian ASI di Indonesia baru mencapai 42% masih kurang jika
dibandingkan dengan target WHO yaitu sebesar 50%. Dengan hasil tersebut,
Indonesia berada di peringkat 49 dari 51 negara yang mendukung pemberian ASI
eksklusif. Hasil ini masih jauh dari target Kementerian Kesehatan RI. Hal ini
disebabkan karena kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan
pemberian ASI ekslusif masih relatif rendah. Pada tahun 2014 ditargetkan jumlah
ibu di Indonesia yang memberi ASI eksklusif adalah 80 persen.2
Data dari Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru menunjukkan bahwa persentase
bayi yang menerima ASI eksklusif tahun 2013 di Kota Pekanbaru hanya 51,52%,
sedangkan persentase pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Rawat Inap
Sidomulyo Pekanbaru adalah 76,61 %.3
Hasil penelitian Harianto tahun 2010 menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan pada tingkat pengetahuan ibu, tingkat konsumsi ibu, dan status gizi
bayi pada ibu yang memberikan ASI eksklusif maupun yang tidak memberikan

ASI eksklusif.5 Sedangkan hasil penelitian Wenas tahun 2011 menunjukan tidak
ada hubungan bermakna antara pengetahuan dan pemberian ASI eksklusif dan ada
hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif,4 dan Alveriza tahun 2012
mengungkapkan pengetahuan ibu yang memberi ASI eksklusif lebih baik dari
pada ibu yang tidak memberi ASI eksklusif.6
Pemberian ASI secara eksklusif dapat menekan angka kematian bayi hingga
13% sehingga dengan dasar asumsi jumlah penduduk 219 juta, angka kelahiran
total 22/1000 kelahiran hidup, angka kematian balita 46/1000 kelahiran hidup
maka jumlah bayi yang akan terselamatkan sebanyak 30 ribu.7
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Utami Roesli, fenomena kurangnya
pemberian ASI eksklusif disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya
pengetahuan ibu yang kurang memadai tentang ASI eksklusif, beredarnya mitos
yang kurang baik, serta kesibukan ibu bekerja dan singkatnya cuti melahirkan
merupakan alasan yang diungkapkan oleh ibu yang tidak menyusui secara ekslusif
sangat sulit dilaksanakan sesuai harapan.7
Perilaku menyusui berkaitan dengan pengetahuan yang kurang, kepercayaan
atau persepsi dan sikap yang salah dari ibu mengenai ASI. Dukungan suami,
keluarga, tenaga kesehatan dan masyarakat sangat diperlukan agar ibu dapat
menyusui secara eksklusif. Ibu sebagai bagian dalam keluarga memegang peranan
sangat penting dalam upaya ini.8 Stimulus yang diterima melalui pendidikan
kesehatan dan adanya kebijakan pemerintah yang mendukung terjadinya
perubahan perilaku ini merupakan proses untuk meningkatkan pengetahuan.9
Pengetahuan menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap. Sikap akan
menimbulkan respon lebih jauh lagi yaitu berupa tindakan terhadap stimulus tadi.

Perubahan sikap akan tergantung pada sejauh mana komunikasi itu diperhatikan,
dipahami dan diterima. Pengaruh orang lain yang dianggap penting merupakan
salah satu komponen yang dapat mempengaruhi sikap.9 Pembentukan sikap juga
dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap
penting, media massa, institusi atau lembaga tertentu serta faktor emosi dalam diri
individu yang bersangkutan.5
Walaupun pendidikan kesehatan terhadap ibu telah dilakukan dalam
program promosi kesehatan namun perilaku pemberian ASI eksklusif ternyata
masih rendah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk
melihat hubungan antara pengetahuan, sikap ibu, dan aktivitas ibu terhadap
tindakan pemberian ASI eksklusif.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang dapat disusun rumusan masalah tentang
apakah ada hubungan tingkat pengetahuan, sikap Ibu dan Aktivitas Ibu terhadap
tindakan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Sidomulyo Pekanbaru.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui apakah ada hubungan tingkat pengetahuan, sikap ibu, dan
aktivitas ibu terhadap tindakan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Rawat Inap
Sidomulyo Pekanbaru.

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif di
Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.
b. Mengetahui gambaran sikap ibu terhadap tindakan pemberian ASI
eksklusif di Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.
c. Mengetahui gambaran pekerjaan ibu terhahap tindakan pemberian ASI
eksklusif di Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.
d. Mengetahui gambaran tindakan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif di
Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.
e. Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap tindakan
pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.
f. Mengetahui hubungan sikap ibu terhadap tindakan pemberian ASI
eksklusif di Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.
g. Mengetahui hubungan pekerjaan ibu terhadap tindakan pemberian ASI
eksklusif di Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai masukan agar dapat meningkatkan pelayanan tentang ASI
ekslusif.
2. Bagi Kaum Perempuan
Sebagai informasi agar masyarakat lebih meningkatkan pengetahuan
tentang ASI eksklusif serta dapat melakukannya dalam kehidupan seharihari.

1.5 Orisinalitas Penelitian


Tabel 1.1 Orisinalitas Penelitian
Autor, Judul Penelitian, Tahun

Desain

Hasil

penelitian
4

Winly

Wenas

Hubungan Cross

Hasil

penelitian

menunjukan

antara pengetahuan dan sikap Sectiona

tidak ada hubungan bermakna

ibu

antara

menyusui

dengan l

pengetahuan

dan

pemberian ASI eksklusif di

pemberian asi eksklusif dan ada

wilayah

hubungan antara sikap dengan

kerja

Puskesmas

Tompaso Kecamatan Tompaso,

pemberian ASI eksklusif.

2011.
Ervina Rachmah Hariawan /

Hasilpenelitian

Perbedaan tingkat pengetahuan Cross

bahwa tidak terdapat perbedaan

ibu, tingkat konsumsi ibu, dan sectional

pada tingkat pengetahuan ibu,

status gizi bayi (0 - 6 Bulan)

tingkat konsumsi ibu, dan status

pada ibu yang memberikan

gizi

ASI eksklusif dan ibu yang

memberikan

tidak

maupun yang tidak memberikan

memberikan

ASI

bayi

menunjukkan

pada
ASI

ibu

yang

eksklusif

eksklusif, 2010.

ASI eksklusif.

Fatwa Alveriza / Perbedaan

Hasil penelitian menunjukkan

pengetahuan ibu yang memberi Cross

pengetahuan ibu yang memberi

ASI eksklusif dan yang tidak sectional

ASI eksklusif lebih baik dari

memberi ASI eksklusif tentang

pada ibu yang tidak memberi

ASI eksklusif di Puskesmas

ASI eksklusif.

Tenayan Raya, 2012.


Perbedaan penelitian ini dengan sebelumnya adalah dalam hal variabel,
wilayah, lokasi penelitian dan sampel penelitian. Penelitian ini akan dilakukan di
wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru dengan sampel
penelitian adalah ibu-ibu yang memiliki anak usia 6 bulan 5 tahun yang
datang ke Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ASI Eksklusif


2.1.1 Definisi ASI Eksklusif

Menurut WHO Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif adalah bayi
hanya diberi ASI saja, tanpa cairan atau makanan padat apapun kecuali vitamin,
mineral atau obat dalam bentuk tetes atau sirup sampai usia 6 bulan. ASI
merupakan makanan pertama, utama dan terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah.
ASI mengandung berbagai zat gizi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan
dan perkembangan bayi.10,11
Pemberian ASI secara dini dan ekslusif sekurang-kurangnya 4-6 bulan akan
membantu mencegah berbagai penyakit anak, termasuk ganguan lambung dan
saluran nafas, terutama asma pada anak. Hal ini disebabkan adanya antibody
penting yang ada dalam kolostrum ASI (dalam jumlah lebih sedikit), akan
melindungi bayi baru lahir dan mencegah timbulnya alergi. Untuk alasan tersebut,
semua bayi baru lahir harus mendapat kolostrum.11

2.1.2 Komposisi ASI12


ASI selalu mengalami perubahan selama beberapa periode tertentu.
Perubahan ini sejalan dengan perubahan bayi.
a. Kolostrum
Kolostrum terbentuk selama periode terakhir kehamilan dan minggu pertama
setelah bayi lahir. Merupakan ASI yang keluar dari hari pertama sampai hari ke-4
yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi. Kandungan protein tiga kali lebih
banyak dari ASI matur. Cairan ini encer dan seringkali berwarna kuning atau
dapat pula jernih yang mengandung sel hidup yang menyerupai sel darah putih
yang dapat membunuh kuman penyakit. Kolostrum merupakan mencahar yang
ideal untuk membersihkan mekonium dari usus bayi yang baru lahir. Volumenya

bervariasi antara 2 dan 10 ml per feeding per hari selama 4 hari pertama,
tergantung dari paritas ibu.
b. ASI peralihan /transisi
Merupakan ASI yang dibuat setelah kolostrum dan sebelum ASI mature
(kadang antara hari ke 4 dan 10 setelah melahirkan). Kadar protein makin
merendah, sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin tinggi. Volumnya juga
akan makin meningkat.
c. ASI matur
ASI matang merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 dan seterusnya,
komposisi relative konstan. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI cukup, ASI
merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai
umur enam bulan, tidak menggumpal jika dipanaskan.
Ada dua tipe ASI matang, yaitu12 :
1. Fore-milk
Jenis ini dihasilkan selama awal menyusui dan mengandung air, vitaminvitamin dan protein.
2. Hind-milk
Jenis ini dihasilkan setelah pemberian awal saat menyusui dan
mengandung lemak tingkat tinggi dan sangat diperlukan untuk pertambahan berat
bayi.
2.1.3 Kandungan nutrisi dalam ASI 13
ASI mengandung komponen makro dan mikro nutrisi. Yang termasuk
makronutrien adalah karbohidrat, protein dan lemak sedangkan mikronutrien
adalah vitamin dan mineral.
a. Karbohidrat

Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah
satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir dua
kali. rasio jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalah 7 : 4 sehingga ASI terasa
lebih manis dibandingkan dengan PASI, Hal ini menyebabkan bayi yang sudah
mengenal ASI dengan baik cenderung tidak mau minum PASI. Karnitin
mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang diperlukan untuk
mempertahankan metabolisme tubuh. Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat
ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula.
Hidrat arang dalam ASI merupakan nutrisi yang penting untuk
pertumbuhan sel syaraf otak dan pemberi energi untuk kerja sel-sel syaraf. Selain
itu karbohidrat memudahkan penyerapan kalsium mempertahankan faktor bifidus
di dalam usus (faktor yang menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan
menjadikan tempat yang baik bagi bakteri yang menguntungkan) dan
mempercepat pengeluaran kolostrum sebagai antibodi bayi.
b. Protein
Protein dalam ASI lebih rendah dibandingkan dengan PASI. Namun
demikian protein ASI sangat cocok karena unsur protein di dalamnya hampir
seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi yaitu protein unsur whey.
Perbandingan protein unsur whey dan casein dalam ASI adalah 65 : 35, sedangkan
dalam PASI 20 : 80. Artinya protein pada PASI hanya sepertiganya protein ASI
yang dapat diserap oleh sistem pencernaan bayi dan harus membuang dua kali
lebih banyak protein yang sukar diabsorpsi. Hal ini yang memungkinkan bayi
akan sering menderita diare dan defekasi dengan feces berbentuk biji cabe yang
menunjukkan adanya makanan yang sukar diserap bila bayi diberikan PASI.

c. Lemak
Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat
jumlahnya. Lemak dalam ASI berubah kadarnya setiap kali diisap oleh bayi dan
hal ini terjadi secara otomatis. Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan
akan berbeda dengan hari kedua dan akan terus berubah menurut perkembangan
bayi dan kebutuhan energi yang diperlukan.
Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang
dibutuhkan oleh sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna karena mengandung
enzim Lipase. Lemak dalam bentuk Omega 3, Omega 6 dan DHA yang sangat
diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel jaringan otak.
d. Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap walaupun kadarnya relatif rendah,
tetapi bisa mencukupi kebutuhan bayi sampai berumur 6 bulan. Zat besi dan
kalsium dalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan mudah diserap dan
jumlahnya tidak dipengaruhi oleh diet ibu. Dalam PASI kandungan mineral
jumlahnya tinggi tetapi sebagian besar tidak dapat diserap, hal ini akan
memperberat kerja usus bayi serta mengganggu keseimbangan dalam usus dan
meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan sehingga mengakibatkan
kontraksi usus bayi tidak normal. Bayi akan kembung, gelisah karena obstipasi
atau gangguan metabolisme.
e. Vitamin
ASI mengandung vitamin yang lengkap yang dapat mencukupi kebutuhan
bayi sampai 6 bulan kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir ususnya belum

10

mampu membentuk vitamin K. Kandungan vitamin yang ada dalam ASI antara
lain vitamin A, vitamin B dan vitamin C.

2.1.4 Volume ASI


Pada bulan-bulan terakhir kehamilan sering ada sekresi kolostrum pada
payudara ibu hamil. Setelah persalinan apabila bayi mulai mengisap payudara,
maka produksi ASI bertambah secara cepat. Dalam kondisi normal, ASI
diproduksi sebanyak 10- 100 cc pada hari-hari pertama. Produksi ASI menjadi
konstan setelah hari ke 10 sampai ke 14. Bayi yang sehat selanjutnya
mengkonsumsi sebanyak 700-800 cc ASI per hari. Namun kadang-kadang ada
yang mengkonsumsi kurang dari 600 cc atau bahkan hampir 1 liter per hari dan
tetap menunjukkan tingkat pertumbuhan yang sama. Keadaan kurang gizi pada
ibu pada tingkat yang berat, baik pada waktu hamil maupun menyusui dapat
mempengaruhi volume ASI. Produksi ASI menjadi lebih sedikit yaitu hanya
berkisar antara 500-700 cc pada 6 bulan pertama usia bayi, 400-600 cc pada bulan
kedua dan 300-500 cc pada tahun kedua usia anak.14

2.1.5 Manfaat ASI


a. Manfaat ASI bagi bayi
Banyak manfaat pemberian ASI khususnya ASI ekslusif yang dapat dirasakan
yaitu:15
1. ASI sebagai nutrisi
2. ASI meningkatkan daya tahan tubuh

11

3.
4.
5.
6.

Menurunkan risiko mortalitas, risiko penyakit akut dan kronis


Meningkatkan kecerdasan
Menyusui meningkatkan jalinan kasih sayang
Sebagai makanan tunggal untuk memenuhi semua kebutuhan

pertumbuhan bayi sampai usia selama enam bulan


7. Mengandung asam lemak yang diperlukan untuk untuk pertumbuhan
otak sehingga bayi yang diberi ASI Ekslusif lebih pandai
8. Mengurangi resiko terkena penyakit kencing manis, kanker pada anak
dan mengurangi kemungkinan menderita penyakit jantung
9. Menunjang perkembangan motorik
b. Manfaat ASI bagi ibu16
1. Pemberian ASI memberikan 98% metode kontrasepsi yang efisien
selama 6 bulan pertama sesudah kelahiran bila diberikan hanya ASI saja
2.
3.
4.
5.
6.

(ekslusif) dan belum terjadi menstruasi kembali


Menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium
Membantu ibu menurunkan berat badan setelah melahirkan
Menurunkan risiko DM Tipe 2
Pemberian ASI sangat ekonomis
Mengurangi terjadinya perdarahan bila langsung menyusui setelah

melahirkan
7. Mengurangi beban kerja ibu karena ASI tersedia dimana saja dan kapan
saja
8. Meningkatkan hubungan batin antara ibu dan bayi
c. Manfaat ASI bagi keluarga16
Adapun manfaat ASI bagi keluarga:
1.

Tidak perlu uang untuk membeli susu formula, kayu bakar atau minyak

2.

untuk merebus air, susu atau peralatan


Bayi sehat berarti keluarga mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat)
dalam perawatan kesehatan dan berkurangnya kekhawatiran bayi akan

3.
4.

sakit
Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi dari ASI ekslusif
Menghemat waktu keluarga bila bayi lebih sehat

12

5.

Pemberian ASI pada bayi berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI
selalu siap tersedia

d. Manfaat Pemberian ASI bagi Ayah


1. Ekonomis, ASI akan sangat mengurangi pengeluaran keluarga tidak saja
pengeluaran untuk member susu formula serta perlengkapan untuk
membuatnya, tetapi juga biaya kesehatan untuk bayi. Bayi ASI eksklusif
telah dibuktikan hampir tidak pernah sakit dibanding dengan bayi yang
diberi susu formula, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
2. Praktis dan tidak merepotkan, karena tidak perlu membuat susu formula di
malam hari dan tidak harus mencari warung atau toko yang buka pada
tengah malam saat kehabisan persediaan susu.
3. Jika bepergian dengan bayi ASI eksklusif akan lebih mudah dan tidak
perlu repot membawa bermacam peralatan menyusui.
e. Manfaat Pemberian ASI bagi Negara
1. Penghematan devisa untuk pembelian susu formula, perlengkapan
menyusui, serta biaya menyiapkan susu.
2. Penghematan untuk biaya sakit terutama sakit muntah, diare, dan sakit
saluran nafas.
3. Penghematan obat-obatan, tenaga, dan sarana kesehatan.
4. Menciptakan generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas
untuk membangun negara.
5. Langkah awal untuk mengurangi bahkan menghindari kemungkinan
terjadinya generasi yang hilang khususnya Indonesia.
f. Manfaat Pemberian ASI bagi Lingkungan

13

ASI akan mengurangi bertambahnya sampah dan polusi di dunia.


Denganhanya memberi ASI manusia tidak memerlukan kaleng susu, karton dan
kertas pembungkus, botol plastik, dan dot karet.
ASI tidak menambah polusi udara, karena untuk membuatnya tidak
memerlukan pabrik yang mengeluarkan asap, alat transportasi yang juga
mengeluarkan asap, juga tidak perlu menebang hutan untuk membangun pabrik
susu yang besar-besar.

2.1.6

Dampak Kesehatan Pada Anak yang Tidak Diberikan ASI Eksklusif 17


1. Mudah terkena gangguan pencernaan (diare)
2. Mudah terkena gangguan pernafasan
3. Mudah terkena alergi
4. Obesitas
5. Terhambatnya pertumbuhan anak

2.1.7 Tanda Bayi Cukup ASI


Begitu air susu keluar, sejumlah tanda akan dapat menunjukkan apakah bayi
mendapat cukup ASI. Sebagian besar bayi yang mendapat cukup air susu akan
menunjukkan tanda-tanda positif sebagai berikut9 :
1. Menyusu dengan kuat setidaknya 8-12 kali dalam 24 jam.
2. Mengeluarkan air kemih yang membasahi enam atau lebih popok kain
dalam waktu 24 jam.
3. Buang air besar dua kali atau lebih dalam waktu 24 jam begitu air susu
keluar.
4. Tampak puas sesudah menyusu.
2.1.7 Frekuensi Menyusui
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan
menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan

14

menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi


menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar
ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat
dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung
bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola
yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2
minggu kemudian.18

2.1.8 Langkah Keberhasilan ASI Eksklusif


Langkah-langkah keberhasilan ASI eksklusif antara lain5 :
1.
2.
3.
4.

Mempelajari ASI dan tatalaksana menyusui.


Menciptakan dukungan keluarga, teman, dan sebagainya.
Memilih tempat melahirkan yang sayang bayi.
Memilih tenaga kesehatan yang mendukung pemberian ASI secara
eksklusif.
Mencari ahli persoalan menyusui seperti klinik laktasi dan atau

5.

konsultasi laktasi, untuk persiapan apabila kita menemui kesukaran.


6.
Menciptakan suatu sikap yang positif tentang ASI dan menyusui.

2.1.9 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif


Alasan ibu untuk tidak menyusui terutama yang secara eksklusif sangat
bervariasi. Namun yang paling sering dikemukakan sebagai berikut :
1. Pengetahuan Ibu
Pengetahuan ibu dapat diperoleh dari beberapa faktor baik formal seperti
pendidikan yang didapat di sekolah maupun non formal. Pengetahuan seseorang
terhadap

objek

mempunyai

intensitas

atau

tingkat

yang

berbeda-

beda.6Pengetahuan ibu tentang pemberian ASI Eksklusif dapat juga di peroleh

15

melalui penyuluhan. Namun, penyuluhan kurang dilaksanakan salah satu


faktornya adalah karena kurangnya petugas sehingga masyarakat kurang
mendapat penerangan dan dorongan tentang manfaat ASI.19
2. Kecukupan ASI
Alasan ini tampaknya merupakan alasan utama para ibu untuk tidak
memberikan ASI secara eksklusif. Walaupun banyak ibu-ibu yang merasa ASI-nya
kurang, tetapi hanya sedikit sekali (2-5%) yang secara biologis memang kurang
produksi ASI-nya. Selebihnya 95-98% ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup
untuk bayinya.19
3. Ibu bekerja
Bekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif, karena waktu
ibu bekerja, bayi dapat diberi ASI perah yang diperah sehari sebelumnya.20
4. Sikap Ibu
Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita.
Adanya anggapan para ibu bahwa menyusui akan merusak penampilan.
Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi selalu mengubah payudara,
walaupun menyusui atau tidak menyusui.21

Tekanan batin
Ada sebagian kecil ibu mengalami tekanan batin di saat menyusui bayi
sehingga dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama
menyusui bayinya, bahkan mengurangi menyusui.21

2.2 Pengetahuan
2.2.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga,

16

dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan sehingga


menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian
dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh
melalui indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengetahuan
seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbedabeda.9

2.2.2 Tingkat Pengetahuan


Pengetahuan terbagi dalam 6 tingkatan, yakni9:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Misalnya: tahu bahwa buah tomat banyak
mengandung vitamin C, jamban adalah tempat membuang air besar, penyakit
demam berdarah ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti, dan sebagainya.
Untuk mengetahui atau mengukur bahwa orang tahu sesuatu dapat menggunakan
pertanyaan-pertanyaan misalnya: apa tanda-tanda anak yang kurang gizi, apa
penyebab penyakit TBC, bagaimana cara melakukan PSN (Pemberantasan Sarang
Nyamuk), dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat mengintrepretasikan
secara benar tentang objek yang diketahui tersebut. Misalnya orang yang
memahami cara pemberantasan penyakit demam berdarah, bukan hanya sekedar
menyebutkan 3 M (mengubur, menutup, dan menguras), tetapi harus dapat

17

menjelaskan mengapa harus mengubur, menutup dan menguras tempat-tempat


penampungan air tersebut.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui
tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah paham tentang
proses pencernaan, ia harus dapat membuat perencanaan program kesehatan di
tempat ia bekerja atau di mana saja. Orang yang telah paham metodologi
penelitian, ia akan mudah membuat proposal penelitian di mana saja, dan
seterusnya.
4. Analisis (analysis)
Analisis

adalah

kemampuan

seseorang

untuk

menjabarkan

atau

memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang


terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa
pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila
orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan,
membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
Misalnya, dapat membedakan antara nyamuk Aedes aegepty dengan
nyamuk biasa, dapat membuat diagram (flow chart) siklus hidup cacing kremi,
dan sebagainya.

5. Sintesis (synthesis)

18

Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau


meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun formulasi dari formulasi-formulasi yang telah ada. Misalnya
dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat sendiri tentang halhal yang telah dibaca atau didengar, dan dapat membuat kesimpulan tentang
artikel yang telah dibaca.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan
sendirinya didasarkan pada suatu objek kriteria yang ditentukan sendiri atau
norma-norma yang berlaku di masyarakat. Misalnya seorang ibu dapat menilai
atau menentukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak, seseorang dapat
menilai manfaat ikut keluarga berencana bagi keluarga, dan sebagainya.

2.3 Sikap (attitude)9


Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu stimulus atau objek.Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat,
tetapi hanya dapat ditafsirka terlebih dahulu dar perilaku yang tertutup.Dalam
kehidupan sehari- hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus social. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap merupakan reaksi terhadap
objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
2.4 Pekerjaan 22

19

Pekerjaan adalah suatu kegiatan atau aktivitas seseorang untuk


mendapatkan penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Wanita yang
bekerja seharusnya diperlakukan berbeda dengan pria dalam hal pelayanan
kesehatan terutama karena wanita hamil, melahirkan, dan menyusui. Wanita yang
bekerja mendapat perhatian agar tetap memberikan ASI eksklusif sampai 6 bulan.
(Pusat kesehatan kerja Depkes RI, 2005). Beberapa alasan ibu memberikan
makanan tambahan yang berkaitan dengan pekerjaan adalah tempat kerja yang
terlalu jauh, tidak ada penitipan anak, dan harus kembali kerja dengan cepat
karena cuti melahirkan singkat.
Banyak ibu terpaksa memberi bayinya susu formula karena ASI perah tidak
cukup. Bekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI eksklusif, karena waktu
ibu bekerja bayi dapat diberi ASI perah yang diperah minimum 2 kali selama 15
menit. Bagi ibu yang bekerja dianjurkan untuk menabung ASI perah sebelum
masuk kerja. Semakin banyak tabungan ASI perah, semakin besar peluang
menyelesaikan program ASI eksklusif.

2.5 Tindakan 9

20

Definisi tindakan adalah mekanisme dari suatu pengamatan yang muncul


dari persepsi sehingga ada respon untuk mewujudkan suatu tindakan.
Tindakan mempunyai beberapa tingkatan yaitu :
a. Persepsi (perception) yaitu mengenal dan memilih berbagai objek yang
akan
dilakukan.
b. Respon terpimpin yaitu melakukan segala sesuatu sesuai dengan urutan
yang benar.
c. Mekanisme yaitu melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis
d. Adaptasi yaitu suatu praktek atau tindakan yang yang sudah berkembang
dan dilakukan dengan baik.

2.6 Kerangka Teori


Pengetahuan Ibu

Sikap Ibu

Tindakan pemberian
ASI Eksklusif

Ibu Bekerja
Kecukupan ASI

Gambar 2.1 Kerangka teori

2.7 Kerangka Konsep

21

Pengetahuan Ibu

Tindakan Pemberian
ASI Eksklusif

Sikap Ibu

Ibu Bekerja

Gambar 2.2 Kerangka konsep

2.8 Hipotesis
1. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan tindakan pemberian
ASI eksklusif.
2. Ada hubungan antara sikap ibu dengan tindakan pemberian ASI eksklusif
3. Ada hubungan antara ibu yang bekerja dengan tindakan pemberian ASI
Eksklusif

BAB III
METODE PENELITIAN

22

3.1 Desain Penelitian


Desain Penelitian yang digunakan adalah studi cross sectional

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Sidomulyo Pekanbaru dan dilakukan pada bulan April Juni 2014.

3.3 Populasi Penelitian


Populasi Target adalah semua ibu yang mempunyai bayi berusia 6 bulan

5 tahun di Kota Pekanbaru


Populasi Terjangkau adalah ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan 5
tahun di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Sidomulyo Pekanbaru.

3.4 Sampel dan Cara Pengambilan Sampel


Sampel penelitian ini adalah sebagian populasi terjangkau yang memenuhi
kriteria inklusi. Cara pengambilan sampel menggunakan teknik Non-probability
sampling dengan jenis Accidental / Consecutive Sampling.

3.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.5.1.

3.5.2

Kriteria Inklusi
Ibu yang mempunyai bayi usia 6 bulan - 2 tahun.
Bersedia menjadi responden melalui informed consent.
Kriteria Eksklusi
Responden tidak mengizinkan untuk diteliti.
Responden yang anaknya sakit berat.

23

3.6 Besar Sampel


Besar sampel ditentukan sesuai dengan rumus mencari besar sampel dalam
studi cross sectionaldengan jumlah populasi tidak diketahui.16

Z 2 1 . p .(1 p)
2
n=
2
( d)
Keterangan :
n = besar sampel
Z = nilai baku distribusi normal (Z=1,96)
p = proporsi (p = 0.5)
d = presisi (derajat akurasi) 10%
Berdasarkan rumus diatas didapatkan sampel :
n = (1,96)2 x 0,5 x 0,5
0.01
n= 96,04 97
Dengan pembulatan keatas maka jumlah sampel penelitian adalah 97
responden.
3.7.
Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
3.7.1. Variabel Penelitian
Variabel Bebas : Pengetahuan, Sikap dan Pekerjaan Ibu
Variabel Terikat: Tindakan Pemberian ASI eksklusif
3.7.2. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel
No

Variabel

Defenisi
Operasional

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala

24

1.

Pengetahuan
Ibu

Segala sesuatu
yang diketahui
responden
tentang ASI
eksklusif.

Kuesioner
(15 pertanyaan)

1.Tinggi
Ordinal
(skor 11-15)
2.Sedang
(skor 6-10)
3.Rendah
(skor 0-5)

2.

Sikap Ibu

Tanggapan ibu
dalam bentuk
pernyataan
setuju atau
tidak setuju
terhadap
pemberian ASI
eksklusif.

Kuesioner
(10 pertanyaan)

1. Baik
(skor > 5)
2. Buruk
(skor < 5)

3.

Ibu Bekerja

Kegiatan ibu
untuk
mendapatkan
penghasilan
guna
memenuhi
kebutuhan
hidupnya.

Kuesioner
(1 pertanyaan)

4.

Tindakan
pemberian
ASI
Eksklusif

Kuesioner
Kegiatan ibu
(1 pertanyaan)
dalam
pemberian ASI
pada bayinya
mulai saat
kelahiran
hingga 6 bulan
tanpa diberi
makanan/minu
man tambahan.

Ordinal

1. Bekerja
2. Tidak
Bekerja

Nominal

1. Ya
2. Tidak

Nominal

3.8.
Instrumen Penelitian
3.8.1. Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Pengukuran tingkat pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif berdasarkan
jawaban pertanyaan yang diberikan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner
25

dengan

jumlah

pertanyaan

15 pertanyaan.

Skor

dari

jawaban

pasien

diklasifikasikan agar lebih mudah diinterpretasikan, dalam rentang dari skor


terkecil sebesar 0sampai skor tertinggi sebesar 15 memiliki interval: 19
Interval = (skor tertinggi skor terendah) / jumlah kelompok
= (15-0) / 3
=5
Sehingga diperoleh klasifikasi jawaban:
Tabel 3.2. Klasifikasi Tingkat Pengetahuan
Interval

Klasifikasi

05
6 10
11-15

Rendah
Sedang
Tinggi

3.8.2. Pengukuran Sikap


Pengukuran sikap ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif berdasarkan
jawaban pertanyaan yang diberikan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner
dengan

jumlah

pertanyaan

10 pertanyaan.

Skor

dari

jawaban

pasien

diklasifikasikan agar lebih mudah diinterpretasikan, dalam rentang dari skor


terkecil sebesar 0 sampai skor tertinggi sebesar 10 memiliki interval: 19
Median = (skor tertinggi skor tertinggi) / jumlah kelompok
= 10/2
=5
Sehingga diperoleh klasifikasi jawaban:
Tabel 3.2. Klasifikasi Tingkat Pengetahuan
Interval

Klasifikasi

<5
>5

Buruk
Baik

3.8.3. Pengukuran Tindakan Pemberian


Pengukuran tindakan pemberian ASI Eksklusif berdasarkan jawaban
pertanyaan yang diberikan. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dengan
satu pertanyaan.
3.8.4. Pekerjaan Ibu
26

Pengukuran pekerjaan ibu berdasarkan jawaban pertanyaan yang


diberikan. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan satu pertanyaan.

3.9. Pengumpulan dan Pengolahan Data


3.9.1. Pengumpulan Data
Data primer yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti sendiri dengan cara
wawancara

tertutup

menggunakan

checklist

yang

diisi

langsung

oleh

respondendari variabel bebas (tingkat pengetahuan dan sikap) dan variabel terikat
(tindakan pemberian ASI Eksklusif). Data dikumpulkan pada waktu bersamaan
untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap
tindakan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Sidomulyo Pekanbaru. Alat pengumpul data yang dibuat peneliti terdiri dari
lembar kuesioner untuk responden.

3.9.2. Pengolahan Data


Data dimasukkan dan diolah dengan menggunakan komputerisasi setelah
kuisioner terisi dan dilakukan verifikasi data, pengeditan dan coding jawaban
pertanyaan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.

Editing (pemeriksaan)
Proses untuk memeriksa kelengkapan pengisian jawaban, relevansi
jawaban dan konsistensi jawaban pada kuesioner.

2.

Koding (pengkodean)
Proses untuk memberikan kode pada variabel yang ada pada
penelitian ini untuk mempermudah pengolahan data. Pada variabel

27

independent (tingkat pengetahuan dan sikap) digunakan kode sebagai


berikut:

a. Tingkat Pengetahuan Ibu


Kode 1 = untuk kategori Tinggi
Kode 2 = untuk kategori Sedang
Kode 3 = untuk kategori Rendah
b. Sikap Ibu
Kode 1 = untuk kategori Baik
Kode 2 = untuk kategori Buruk
c. Pekerjaan Ibu

Kode 1 = Bekerja

Kode 2 = Tidak Bekerja


Sedangkan pada variabel dependent (tindakan pemberian ASI
eksklusif) digunakan kode sebagai berikut:
Kode 1 = untuk kategori Ya
Kode 2 = untuk kategori Tidak
d. Tindakan Pemberian ASI
Kode 1 = Ya
Kode 2 = Tidak

1.

Entry (memasukkan data)


Setelah data dikumpulkan kemudian data disimpan untuk
selanjutnya dimasukkan kedalam analisis data.

2.

Cleaning (merapikan data)


Melakukan pengecekan kembali data yang sudah dimasukkan, apakah

terdapat kesalahan entry atau tidak.


3.

Processing (pengolahan data)

28

Kemudian selanjutnya data diproses dengan mengelompokkan data


kedalam variabel yang sesuai.
4.

Analyzing (penilaian)
Dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat.

3.9.3. Analisis Data


Analisis data dilakukan dengan program komputerisasidan perhitungan
manual. Data yang telah diolah akan dianalisis menggunakan:
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk tiap-tiap variabel penelitian
yaitu tingkat pengetahuan dan sikap ibu dengan tindakan pemberian ASI
eksklusif, melalui distribusi frekuensi dan persentase yang ditampilkan
dalam bentuk tabel.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui apakah ada
hubungan diantara variabel independen (tingkat pengetahuan, sikap dan
pekerjaan) dengan variabel dependen (tindakan pemberian ASI eksklusif).
Analisis data menggunakan uji chi-square karena variabel yang
dihubungkan berbentuk kategorik (ordinal) dan kategorik (nominal)
dengan derajat kemaknaan 95%. Dua variabel mempunyai hubungan
bermakna apabila p<0,05.

3.10. Prosedur Penelitian


a. Responden pada penelitian ini adalah ibu-ibu yang mempunyai anak
berusia 6 bulan 5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap
Sidomulyo Pekanbaru.

29

b. Responden diberikan kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan tentang


tingkat pengetahuan ibu, sikap ibu, aktivitas ibu dan tindakan pemberian
ASI eksklusif.
c. Data yang didapat dari masing-masing responden dihitung dan
diklasifikasikan sesuai dengan skor penilaian dan kemudian dianalisis.

30