Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan yang sering di jumpai pada wanita usia
subur adalah timbulnya mioma uteri (20-25%). Biasanya penyakit ini
ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaaan rutin atau saat sedang
melakukan medical check up tahunan.
Mioma uteri (myom,mioma) adalah tumor jinak yang tumbuh pada rahim.
Disebut fibromioma uteri, leiomioma, atau uterine fibroid dalam istilah
kedokterannya. Mioma uteri merupakan tumor kandungan yang terbanyak
pada organ reproduksi wanita.
Mioma dapat bervariasi dalam ukuran dan jumlahnya, mulai dari beberapa
gram sampai mencapai lebih 45 kg serta jumlahnya bisa tunggal atau lebih
dari satu. Mioma merupakan penyebab gangguan kesuburan sebesar 27 % dan
sebagai salah satu penyebab diangkatnya rahim seorang wanita. Di USA,
perdarahan rahim berlebih akibat mioma merupakan salah satu indikasi
dilakukannya tindakan pengangkatan rahim dan diperkirakan 600.000 kasus
pengangkatan rahim di lakukan setiap tahun.
Jumlah penderitanya belum diketahui secara pasti karena banyak yang
tidak merasakan keluhan sehingga tidak periksa ke dokter, namun
diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20-30% dari seluruh wanita. Di
Indonesia kasus mioma uteri di temukan sebesar 2,39 -11,7% pada semua
pasien kebidanan yang di rawat. Mioma 3-9 kali lipat lebih sering pada wanita
kulit hitam dibandingkan wanita kulit putih. Data statistik menunjukkan 60%
mioma uteri terjadi pada wanita yang tidak pernah hamil atau hamil hanya
satu kali.
Mioma paling sering ditemukan pada usia 35-45 tahun, jarang di temukan
pada usia 20 tahun juga setelah menopause. Kejadian mioma uteri sebesar 2040% di temukan pada wanita yang berusia lebih dari 35 tahun. Mioma
cenderung membesar ketika hamil dan mengecil ketika menopause. Apabila
pertumbuhan mioma semakin membesar setelah menopause maka kecugiaan
ke arah keganasan harus dipikirkan.
Adanya komplikasi pada kasus mioma uteri, maka perawat berperan
penting untuk mencegah komplikasi yang lebih parah. Adapun peran perawat
dalam penanganan kasus mioma utri terbagi atas, prefentiv yaitu mencegah

terjadinya komplikasi dari penyakit mioma uteri agar tidak menjadi lebih
parah, promotif yaitu memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit
mioma uteri dan penanggulanganya dan rehabilitative yaitu perawat berperan
memulihkan kondisi kesehatan sesuai dengan masalah yang dihadapi.
Hal demikian yang mendasari kelompok menulis makalah ini, pada
makalah ini akan diuraikan tentang Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan
Mioma Uteri.
B. Tujuan Penulisan
Diharapkan Mahasiswa mampu dan dapat memahami terhadap konsep
dasar kasus dan pemberian asuhan keperawatan.
C. Ruang Lingkup
Dalam pembuatan makalah ini kelompok berfokus pada kasus Asuhan
Keperawatan dengan Mioma Uteri
D. Metode Penulisan
Dalam makalah ini kelompok menggunakan study literature dan informasi
dari internet dengan mendiskripsikan hasil study literature kedalam bentuk
makalah
E. Sistematika Penulisan
Bab I : (Pendahuluan, Tujuan, Ruang Lingkup, Metode Penulisan, dan
Sistematika Penulisan ).
Bab II Landasan Teori : ( Definisi, Etiologi, Gambaran Klinis,
Patofisiologi, Komplikasi dan Penatalaksanaan).
Bab III (Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Mioma Uteri). Bab IV K
esimpulan

BAB II
LANDASAN TEORI
A.

Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus (tumor jinak
uterus yang berbatas tegas) dan jaringan ikat yang menumpangnya sehingga

berbentuk padat karena jaringan ikatnya dominan dan lunak serta otot
rahimnya dominan. Selain itu memiliki kapsul, terbentuk dari otot polos
yang imatur dan elemen jaringan penyambung fibrosa sehingga dapat
disebut juga leiomioma, fibromioma, atau fibroid (Wiknjosastro, 2005).
Leiomyoma atau mioma uteri adalah tumor jinak uterus yang berbatas
tegas, disebut juga fobroid, mioma, fibroma, dan fibromioma (Pierce, 2005)
Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya,
sehingga dapat dalam bentuk padat karena jaringan ikatnya dominan dan
B.

lunak serta otot rahimnya dominan ( Manuaba, 2007).


Etiologi
Menurut Manuaba (2007), faktor-faktor penyebab mioma uteri belum
diketahui, namun ada 2 teori yang menjelaskan faktor penyebab mioma uteri,
yaitu:
1.

2.

Teori Stimulasi
Berpendapat bahwa estrogen sebagai faktor etiologi dengan alasan :
a. Mioma uteri sering kali tumbuh lebih cepat pada masa hamil
b. Neoplasma ini tidak pernah ditemukan sebelum menarche
c. Mioma uteri biasanya mengalami atrofi sesudah menopause
d. Hiperplasia endometrium sering ditemukan bersama dengan
mioma uteri
Teori Cell nest atau Genitoblas
Terjadinya mioma uteri tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat

pada cell nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen.
Selain teori tersebut, menurut Muzakir (2008) faktor risiko yang
menyebabkan mioma uteri adalah:
a. Usia penderita
Mioma uteri ditemukan sekitar 20% pada wanita usia reproduksi dan
sekitar 40%-50% pada wanita usia di atas 40 tahun. Mioma uteri jarang
ditemukan sebelum menarche (sebelum mendapatkan haid). Sedangkan pada
wanita menopause mioma uteri ditemukan sebesar 10%.
b. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil
dari hasil histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa
hormon esterogen endogen pada wanita-wanita menopause pada level yang

rendah/sedikit (Parker, 2007). Otubu et al menemukan bahwa konsentrasi


estrogen pada jaringan mioma uteri lebih tinggi dibandingkan jaringan
miometrium normal terutama pada fase proliferasi dari siklus menstruasi
(Djuwantono, 2005).
c. Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita
mioma uteri mempunyai 2,5 kali kemungkinan untuk menderita mioma
dibandingkan dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri.
Penderita mioma yang mempunyai riwayat

keluarga penderita mioma

mempunyai 2 (dua) kali lipat kekuatan ekspresi dari VEGF- (a myomarelated growth factor) dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak
mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri (Parker, 2007).
d. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini
mungkin

berhubungan

dengan

konversi

hormon

androgen

menjadi

esterogen oleh enzim aromatease di jaringan lemak (Djuwantono, 2005).


Hasilnya terjadi peningkatan jumlah

esterogen

tubuh yang mampu

meningkatkan pprevalensi mioma uteri (Parker, 2007).


e. Makanan
Beberapa penelitian menerangkan hubungan antara makanan dengan
prevalensi atau pertumbuhan mioma uteri. Dilaporkan bahwa daging sapi,
daging setengah matang (red meat), dan daging babi menigkatkan insiden
mioma uteri, namun sayuran hijau menurunkan insiden mioma uteri.
Tidak diketahui dengan pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen
berhubungan dengan mioma uteri (Parker, 2007).
f.

Kehamilan

Kehamilan dapat mempengaruhi mioma uteri karena tingginya kadar


esterogen dalam kehamilan dan bertambahnya vaskularisasi ke uterus
kemungkinan dapat mempercepat terjadinya pembesaran mioma uteri
(Manuaba, 2007).
g. Paritas

Mioma uteri lebih banyak terjadi pada wanita dengan multipara


dibandingkan dengan wanita yang mempunyai riwayat frekuensi melahirkan 1
(satu) atau 2 (dua) kali.
h. Kebiasaan merokok
Merokok dapat mengurangi insiden mioma uteri. Diterangkan dengan
penurunan bioaviabilitas esterogen dan penurunan konversi androgen
menjadi estrogen dengan penghambatan enzim aromatase oleh nikotin
(Parker, 2007).
C. Manifestasi Klinis
Faktor-faktor yang menimbulkan gejala klinis ada 3, yaitu :
1. Besarnya mioma uteri,
2. Lokalisasi mioma uteri,
3. Perubahan pada mioma uteri.
Gejala-gejala yang timbul tergantung dari lokasi mioma uteri (cervikal,
intramural, submucous), digolongkan sebagai berikut :
1. Perdarahan abnormal
Perdarahan abnormal yaitu menoragia, menometroragia dan metroragia.
Perdarahan sering bersifat hipermenore dan mekanisme perdarahan tidak
diketahui benar. Faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu telah meluasnya
permukaan endometrium dan gangguan dalam kontraktibilitas miometrium.
2.

Rasa nyeri pada pinggang dan perut bagian bawah, dapat terjadi jika

a.
b.
c.
d.
3.

:
Mioma menyempitkan kanalis servikalis
Mioma submukosum sedang dikeluarkan dari rongga Rahim
Adanya penyakit adneks, seperti adneksitis, salpingitis, ooforitis
Terjadi degenerasi merah
Tanda-tanda penekanan/pendesakan

Terdapat tanda-tanda penekanan tergantung dari besar dan lokasi mioma


uteri. Tekanan bisa terjadi pada traktus urinarius, pada usus, dan pada
pembuluh-pembuluh darah. Akibat tekanan terhadap kandung kencing ialah
distorsi dengan gangguan miksi dan terhadap ureter bisa menyebabkan hidro
uretre.

4. Infertilitas
Infertilitas bisa terajadi jika mioma intramural menutup atau menekan pors
interstisialis tubae.
5. Abortus
Abortus menyebabkan terjadinya gangguan tumbuh kembang janin dalam
rahim melalui plasenta.
6. Gejala sekunder
Gejala sekunder yang muncul ialah anemia karena perdarahan, uremia,
desakan ureter sehingga menimbulkan gangguan fungsi ginjal.
D. Patofisiologi
Myoma merupakan tumor yang paling umum pada traktus genitalia.
Myoma terdiri atas serabut-serabut otot polos yang diselingi dengan untaian
jaringan ikat dan dikelilingi kapsul yangn tipis. Tumor ini dapat berasal dari
setiap bagian duktus Muller, tetapi paling sering terjadi pada miometrium.
Disini beberapa tumor dapat timbul secara serentak. Unkuran tumor dapat
bervariasi

dari

sebesar

kacang

polong

hingga

sebesar

bola

kaki.

Penyebab terjadinya myoma uteri tidak diketahui. Tumor ini mungkin berasal
dari sel otot yang normal, dan otot imatur yang ada di dalam miometrium atau
dari sel embrional pada dinding darah uteri. Apapun asalnya, tumor dimulai
dari benih-benih multiple yang sangat kecil dan tersebar pada miometrium.
Benih ini tumbuh sangat lambat tetapi progresif (bertahun-tahun, bkan dalam
hitungan bulan), di bawah pengaruh estrogen sirkulasi, dan jika tidak
terdeteksi dan diobati dapat membentuk tumor dengan berat 10 kg atau lebih.
Namun sekarang, sudah jarang karena cepat terdeteksi. Mula-mula tumor
berada intramural, tetapi ketika tumbuh dapat berkembang ke berbagai arah.
Setelah menopause, ketika estrogen tidak lagi disekresi dalam jumlah yangn
banyak, maka myoma cenderung mengalami atrofi. Jika tumor dipotong, akan
menonjol diatas miometrium sekitarnya karena kapsulnya berkontraksi.
Warnanya abu-abu keputihan, tersusun atas berkas-berkas otot jalin menjalin
dan melingkar-lingkar di dalam matriks jaringan ikat. Pada bagian perifer

serabut otot tersusun atas lapisan konsentrik, dan serabut otot normal yang
mengelilingi tumor berorientasi yang sama. Antara tumor dan miometrium
normal, terdapat pseudokapsul, tempat masuknya pembuluh darah ke dalam
myoma.
Pada pemeriksaan dengan mikroskop, kelompok-kelompok sel otot
berbentuk kumparan dengan inti panjang dipisahkan menjadi berkas-bebrkas
oleh jaringan ikat. Karena seluruh suplai darah myoma berasal dari beberapa
pembbuluh darah yang masuk dari pseudokapsul, berarti pertumbuhan tumor
tersebut selalu melampaui suplai darahnya. Ini menyebabkan degenerasi,
terutama pada bagian tengah myoma. Mula-mula terjadi degenerasi hialin,
atau klasifikasi dapat etrjadi kapanpun oleh ahli ginekologi pada abad ke-19
disebuut sebagai batu rahim. Pada kehamilan dapat terjadi komplikasi
jarang (degenerasi merah). Ini diikuti ekstravasasi darah diseluruh tumor, yang
memberikan gambaran seperti daging sapi mentah. Kurang dari 0,1% terjadi
perubahan tumor menjadi sarcoma.
Jika myoma terletak sub endometrium, mungkin disertai dengan
menorhagia. Jika perdarahan yang hebat menetap, mungki akan mengalami
anemia.saat uterus berkontraksi, dapat timbul nyeri. Myoma sub endometrium
yang bertangkai dapat menyebabkan persisten dari uterus.
Dimanapun posisinya di dalam uterus, myoma besar dapat menyebabkan
gejala penekanan pada panggul, disuria, sering kencing dan konstipasi atau
nyeri punggung jika uterus yang membesar menekan rectum. (Manuaba,
2007)
E. Komplikasi
Manuaba (2007) berpendapat bahwa mioma uteri dapat berdampak pada
kehamilan dan persalinan, yaitu:
1. Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil, terutama pada
mioma uteri submukosum.
2. Kemungkinan abortus bertambah.
3. Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar
dan letak subserus.

4. Menghalang-halangi lahirnya bayi, terutama pada mioma yang


letaknya di serviks.
5. Inersia uteri dan atonia uteri, terutama pada mioma yang letaknya di
dalam dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma.
6. Mempersulit lepasnya plasenta, terutama pada mioma yang submukus
dan intramural.
Menurut manuaba (2007), kehamilan dan persalinan juga dapat berdampak
pada mioma uteri, yaitu:
1. Tumor bertumbuh lebih cepat dalam kehamilan akibat hipertrofi dan
edema, terutama dalam bulan-bulan pertama, mungkin karena
pengaruh hormonal. Setelah kehamilan 4 bulan tumor tidak bertambah
besar lagi.
2. Tumor menjadi lebih lunak dalam kehamilan, dapat berubah bentuk,
dan mudah terjadi gangguan sirkulasi di dalamnya, sehingga terjadi
perdarahan dan nekrosis, terutama ditengah-tengah tumor. Tumor
tampak merah (degenerasi merah) atau tampak seperti daging
(degenerasio karnosa). Perubahan ini menyebabkan rasa nyeri di perut
yang disertai gejala-gejala rangsangan peritonium dan gejala-gejala
peradangan, walaupun dalam hal ini peradangan bersifat suci hama
(sterile). Lebih sering lagi komplikasi ini terjadi dalam masa nifas
karena sirkulasi dalam tumor mengurang akibat perubahan-perubahan
sirkulasi yang dialami oleh wanita setelah bayi lahir.
3. Mioma uteri subserosum yang bertangkai dapat mengalami putaran
tangkai akibat desakan uterus yang makin lama makin membesar. Torsi
menyebabkan gangguan sirkulasi yang nekrosis yang menimbulkan
gambaran klinik perut mendadak (acute abdomen).
F. Penatalaksanaan
Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor
Penanganan mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran
tumor, dan terbagi atas :
1. Penanganan konservatif, yaitu dengan cara :
a. Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6
bulan,

b. Monitor keadaan Hb,


c. Pemberian zat besi,
d. Penggunaan agonis GnRH, agonis GnRH bekerja dengan
menurunkan regulasi
hipofisis anterior.

gonadotropin

yang

dihasilkan

oleh

Akibatny fungsi ovarium menghilang dan

diciptakan keadaan menopause yang reversibel. Sebanyak 70%


mioma mengalami reduksi dari ukuran uterus telah dilaporkan
terjadi dengan cara ini, menyatakan kemungkinan manfaatnya
pada

pasien

perimenopausal

dengan

menahan

atau

mengembalikan pertumbuhan mioma sampai menopause yang


sesungguhnya

mengambil

alih.

Tidak terdapat

resiko

penggunaan agonis GnRH jangka panjang dan kemungkinan


rekurensi mioma setelah terapi dihentikan tetapi, hal ini akan
segera didapatkan dari pemeriksaan klinis yang dilakukan.
2. Penanganan operatif
Intervensi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah:
a. Perdarahan uterus abnormal yang menyebabkan penderita anemia,
b. Nyeri pelvis yang hebat,
c. Ketidakmampuan untuk mengevaluasi adneksa (biasanya karena
d. Pertumbuhan mioma setelah menopause,
e. Infertilitas,
f. Meningkatnya pertumbuhan mioma.
Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
a. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan
rahim/uterus. Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma uteri
secara umum. Suatu studi mendukung miomektomi dapat dilakukan pada
wanita

yang

masih

ingin

bereproduksi tetapi

belum ada

analisa pasti tentang teori ini tetapi penatalaksanaan ini paling disarankan
kepada wanita yang belum memiliki keturunan setelah penyebab lain
disingkirkan.
b. Histerektomi
Histerektomi
mengangkat

adalah

rahim, baik

tindakan

operatif

sebahagian

yang

(subtotal)

dilakukan

tanpa serviks

untuk
uteri

ataupun

seluruhnya

(total)

berikut serviks uteri. Histerektomi dapat

dilakukan bila pasien tidak menginginkan anak lagi, dan pada penderita
yang memiliki mioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala.
Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) dalam Chelmow (2005) untuk histerektomi adalah sebagai berikut :
Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat
terabadari luar dan dikeluhkan oleh pasien.
Perdarahan uterus berlebihan, meliputi

perdarahan

yang

banyak dan bergumpal-gumpal atau berulang-ulang selama lebih


dari 8 hari dan anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri
hebat dan akut, rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian
bawah yang kronis dan penekanan pada vesika urinaria
mengakibatkan frekuensi miksi yang sering.
Penatalaksanaan

mioma

uteri

pada

wanita

hamil

Selama kehamilan, terapi awal yang memadai adalah tirah baring,


analgesia dan observasi terhadap mioma. Penatalaksanaan konservatif
selalu lebih disukai apabila janin imatur. Namun, pada torsi akut atau
perdarahan intra abdomen memerlukan interfensi pembedahan. Seksio
sesarea

merupakan

indikasi

untuk

kelahiran

apabila mioma

uteri

menimbulkan kelainan letak janin, inersia uteri atau obstruksi mekanik.


G. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Mansjoer (2002), pemeriksaan yang dilakukan pada kasus mioma
uteri adalah :
Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb turun, Albumin turun, Lekosit
turun/meningkat, Eritrosit turun.
USG : terlihat massa pada daerah uterus
Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa,
konsistensi dan ukurannya.
Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma
tersebut.
Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat
menghambat tindakan operasi.

10

ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat


mempengaruhi tindakan operasi.
Ultrasonografi Ultrasonografi transabdominal

dan

transvaginal

bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi


transvaginal terutama bermanfaat pada uterus yng kecil. Uterus atau
massa

yang

paling

besar

paling

baik

diobservasi

melalui

ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri secara khas menghasilkan


gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur
maupun pembesaran uterus. Adanya kalsifikasi ditandai oleh fokusfokus hiperekoik dengan bayangan akustik. Degenerasi kistik ditandai
adanya daerah yang hipoekoik.
Histeroskopi Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat adanya mioma
uteri submukosa, jika tumornya kecil serta bertangkai. Tumor tersebut
sekaligus dapat diangkat.
MRI (Magnetic Resonance Imaging) MRI sangat akurat dalam
menggambarkan jumlah,ukuran dan lokasi mioma, tetapi jarang
diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap terbatas
tegas dan dapat dibedakan dari miometrium yang normal. MRI dapat
mendeteksi lesi sekecil 3 mm yang dapat dilokalisasi dengan jelas,
termasuk

mioma

submukosa.

MRI

dapat

menjadi

alternatif

ultrasonografi pada kasus -kasus yang tidak dapat disimpulkan.

11

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN MIOMA UTERI

Seorang ibu berusia 38 tahun, datang dengan keluhan perdarahan


menstruasi yang lama dan banyak sejak beberapa tahun lalu. Ia mengeluhkan
adanya dismenor dan tekanan pelvik yang semakin dirasakan berat. Riwayat
melahirkan 3 kali, dan tidak ingin lagi hamil. Pemeriksaan fisik: TTV TD 110/80
mmHg, P 18 x/m, N 78 x/m, S 36.8OC; Pemeriksaan spekulum tampak serviks
normal, tidak ditemukan lesi; pembesaran uterus + 14 cm dengan pemeriksaan
bimanual; adneksa tidak teraba, edema ekstremitas bawah (-) Lab: Hb 9.2 g/dL;
serum iron 12 ng/mL; ferritin 8 ng/mL, USG: gambaran uterus adanya massa
multipel submukosa, intramural, dan sub serosa, besar + 6 cm.Kesimpulan
patologi: biopsi endometrium menunjukkan keganasan jaringan tanpa hiperplasia;
Direncanakan histerektomi

Istilah 2
1.adneksa : jarinagan yang berada di sekitar rahim terdiri dari ovarium dan
tubapalovi,bersama dengan pembuluh darah yang terikat lisimen jarinagn ikat dll
2.miomauteri : tumor jinak pada dinding rahim
3.biopiendometrium: sebuah prosedur dmn sample jararingan di peroleh melalui
tabung yang dimasukan ke dalam rahim

12

4.hiperplasia: peningkatan abdormal dalam jumlah sel dalam suatau organ


/jarinagn
5.post histerektomi: : bedah pengangkatan rahim atau uterus

Preoperatif
A. Pengkajian
1. Aktivitas istirahat
kelelahan dan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat dan janin
biasanya tidur pada malam hari, adanya faktor yang mempengaruhi tidur.
Tanda: nyeri, ansietas
2. Eliminasi
adanya rasa nyeri pada saat buang air besar dan buang air kecil, penekanan
pada kandung kemih akan menyebabkan poliuri, uretra dapat menyebabkan
retensi, urine pada ureter dapat menyebabkan hidronereter dan
hidronefrosis, pada rectum dapat menyebabkan obstipasi dan renensimia.
3. Nutrisi
membran mukosa yang kering (pembatasan) masukan/periode puasa pra
operatif, anorexia, mual, muntah
tanda: perubahan kelembaban, turgor kulit
4. Integritas ego
faktor stress, cara dalam mengatasi stress, masalah dalam mengatasi
penampilan
tanda: menarik diri, marah
5. Sirkulasi
Tanda: takikardi, hipotensi.
6. Nyeri/ kenyamanan
7. Seksualitas
Masalah seksualitas atau kelemahan dampak pada hubungan, perubahan
pada tingkat kepuasan disebabkan rasa sakit akibat penekanan uterus yang
membesar.

13

8. Interaksi sosial
Ketidakadekuatan sistem pendukung
9. Neurosensori
pusing, sinkope
10. Penyuluhan/ pembelajaran
11. potensial terjadi penarikan din, pasca operasi.
B. Analisa data
No
1

Data
Etiologi
Ds : menstruasi yang
Kehilanagn volume
lama dan banyak
cairan aktif

Masalah
Resiko kekurangan
volumer cairan

Do : TTV TD 110/80
mmHg,
P 18 x/m,
N 78 x/m,

Volume cairan

Resiko kekurangan
volume cairan

S 36.8OC
-Hb 9.2 g/dL; serum
iron 12 ng/mL; ferritin
8 ng/mL
2

Ds: Ia mengeluhkan
adanya dismenor dan
tekanan pelvik yang
semakin dirasakan
berat

Proses pembedahan

Nyeri akut

Kerusakan jaringan

Menekan ujung saraf

Do : Pemeriksaan
spekulum tampak
serviks normal
- gambaran uterus
adanya massa multipel
submukosa,
intramural, dan sub
serosa, besar + 6 cm

nyeri

nyeri

14

Ds : Riwayat

situasi fungsional

Kesiapan meningkatkan

melahirkan 3 kali, dan

konsep diri

tidak ingin lagi hamil

Perubahan diri

Do : Pemeriksaan
spekulum
tampak serviks
normal, tidak
ditemukan lesi;
pembesaran uterus +
14 cm dengan
pemeriksaan
bimanual; adneksa
tidak teraba, edema
ekstremitas bawah (-)

Kesiapan meningkatan
konsep diri

- gambaran uterus
adanya massa multipel
submukosa,
intramural, dan sub
serosa, besar + 6 cm

C. Diagnosa
1. Resiko kekuranga volume cairan b.d kehilangan volume cairan aktif
2. Nyeri akut b.d peroses pembedahan
3. Kesiafan meningkatkan kondep diri b.d situasi pungsional
D. Nursing care planing
No Dignosa
1
Resiko
kekuranga
volume cairan

Tujuan
Volume cairan

Intervensi
-awasi tekanan

Rasional
-menunjukan efek

tidak terjadi

darah dan

pendarahan

prekuensi jantung

b.d kehilangan
volume cairan

-infeksi mukusa

- menunjukan efek

aktif

untuk peterkie,

pendarahan

15

area ekimotif
warna darah

-kolaborasi

-meningkatakan

tranpusi darah

keadekutan darah
- Nyeri dirasakan

Nyeri akut b.d

Setelah

dan suplemen PE
-Dorong pasien

peroses

diberikan

untuk melaporkan ,dimanifestasikan,

pembedahan

asuhan

tipe, lokasi, fdan

dan ditoleransi

keperawatan,

intensitas nyeri,

secara individual

diharapkan

rentang skala 0-

nyeri dapat

10

teratasi, dengan

- Observasi

- Petunjuk non

criteria hasil :

cemas, mudah

verbal dapat

kaien

terangsang,

mengidentifikasika

mengatakan

menangis,gelisah,

n adanya derajat

nyerinya

gangguan tidur

nyeri yang dialami

pasien tampak

- Pantau tanda-

-Dapat

rileks, skala

tanda vital

mengindikasikan

berkurang,

nyeri 0

rasa sakit akut dan


tidak nyaman
- Identifikasi atau

- Bantal atau

tingkatkan posisi

gulungan selimut

nyaman

berguna untuk

menggunakan

menyokong

alat bantu bila

ekstremitas,

perlu

mempertahankan
postur tubuh, dan
penahan insisi
untuk menurunkan

16

tegangan otot atau


meningkatkan
kenyamanan
-Dapat
- Berikan

meningkatkan

tindakan nyaman

relaksasi

seperti pijatan
punggung dan
3

Kesiapan

Harga diri

perubahan posisi
-doraong

meningkatkan

teratasi

pernyatan tentang

pandangan pasien

konsep diri b.d KH:

situasi saat ini

tentang dirinya

situasi

menunjukan

dan harapan yang

pungsional

gerakan kearah

akan datang.

-mengagali

penerimaan diri
-indentifikasi

-dapat menyatakan

masalah peran

bagaimna

sebagai

pandangan diri

wanita,istri

pasien telah

maupun ibu

berubah

-dorong pasien

-kehilangan bagian

untuk

tubuh,dan

mengekpresikan

menerima

persan

kehilngan hastrat
seksual menambah
proses kehilangan
yang
membutuhkan
penerimaan

17

-diskusikan tanda
dan gejala depresi -menilai dan
dengan pasien

mengukur reaksi

atau orang

umum terhdap

terdekat

prosedur

-Berikan
penguatan positip

-mendorong

untuk

kelanjutan prilaku

meningkatkan

sehat

perbaikan dan
parsipsi
perawatan diri
-intruksikan
keluarga

-meningkatkan

memprilakun

harga diri

pasien secara
normal

18

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Mioma uteri adalah neoplasma yang berasal dari otot uterus dan jaringan
ikat yang menumpangnya sehingga dapat disebut juga leiomioma, fibromioma,
atau fibroid.
Etiologi dari mioma uteri menurut Manuaba (2007), ada 2 teori yaitu teori
stimulus dan teori cellnest. Sedangkan menurut Muzakir (2008), yaitu usia
penderita, hormon endogen, riwayat keluarga, IMT, makanan, kehamilan, paritas
dan kebiasaan merokok.
Manifestasi dari mioma uteri yaitu perdarahan abnormal, rasa nyeri pada
pinggang dan perut bagian bawah, tanda-tanda penekanan/pendesakan,
infertilitas, abortus, dan gejala sekunder.
Patofisiologi dari mioma uteri yaitu reseptor estrogen yang lebih banyak
sehingga menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur. Mioma
uteri terdiri dari otot polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi
pseudokapsul. Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifaf
degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke mioma uteri.
Komplikasi dari mioma uteri yaitu :
1.

Mengurangi kemungkinan wanita menjadi hamil, terutama pada mioma

uteri sub mukosum.


2.

Kemungkinan aborrtus bertambah.

3.

Kelainan letak janin dalam rahim, terutama pada mioma yang besar dan

letak subserus.

19

4.

Menghalang-halangi lahirnya bayi, terutama pada mioma yang letaknya di

serviks.
5.

Inersia uteri dan atonia uteri, terutama pada mioma yang letaknya di dalam

dinding rahim atau apabila terdapat banyak mioma.


6.

Mempersulit lepasnya plasenta, terutama pada mioma yang submukus dan

intramural.
Penatalaksanaan dari mioma uteri yaitu kalau menurut usia, lokasi, dan ukuran
tubuh, maka dengan penanganan konservatif dan operatif. Jenis operasi yang
bisa dilakukan adalah miomektomi dan histerektomi. Sedangkan pada wanita
hamil adalah dengan tirah baring, analgesia dan observasi terhadap mioma.
Pemeriksaan penunjang dari mioma uteri yaitu pemeriksaan darah lengkap (Hb,
Albumin, Lekosit, Eritrosit), USG, vaginal toucher, sitologi, rontgen, ECG,
ultrasonografi, histeroskopi, dan MRI.
Asuhan keperawatan pada mioma uteri yaitu :
Pengkajian :
Data umum, keluhan utama, riwayat reproduksi, data psikologi, status
respiratori, tingkat kesadaran, status urinari, dan status gastrointestinal.
Diagnosa :
1)

Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan otot dan system saraf yang

di tandai dengan keluhan nyeri, ekpresi wajah neyeringai.


2)

Retensi urine berhubungan dengantrauma mekanik, manipulasi pembedahan

adanya edema pada jaringan sekitar dan hematom, kelemahan pada saraf
sensorik dan motorik.
3)

Gangguan konsep diri berhubungan dengan kekhawatiran tentang

ketidakmampuan memiliki anak, perubahan dalam masalah kewanitaan, akibat


dari hubungan seksual.
4)

Kurang pengetahuan tentang efek pembedahan dan perawatan selanjutnya

berhubungan dengansalah dalam menafsirkan imformasi dan sumber imformasi

20

yang kurang benar.


5) Resiko tinggi kekurngan volume cairan tubuh berhubungan dengan
perdarahan pervaginam berlebihan
B.
1

Saran
Pada wanita yang mulai haid (menarke) untuk memeriksakan alat

reproduksinya apabila ada keluhan-keluhan haid/menstruasi untuk dapat


menegakkan diagnosis dini adanya mioma uteri.
2 Wanita yang mempunyai faktor-faktor risiko untuk terjadinya mioma uteri
terutama wanita berusia 40-49, wanita yang sering melahirkan (multipara) tahun
agar waspada dan selalu memeriksakan diri kepada tenaga ahli secara teratur.

21