Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Peran perawat dalam kehidupan manusia adalah meberikan bantuan pada
manusia mulai konsepsi ,

sejalan dengan siklus kehidupan manusia , pelayanan

keperawatan adalah membantu individu dan atau masyarakat untuk sembuh dari
penyakitnya dan mencapai derajat kesehatannya yang optimal. Bentuk pelayanan
keperawatan tersebut adalah pelayanan komfrehensif menacakup bio psiko sosio
spiritual

. Dalam memberikan pelayanan keperawatan ,perawat dituntut

memberikan pelayanan secara profesionalisme ( Lokakarya keperawatan Nasional


1983 ).
Perawat professional dalam menjalankan peran dan fungsinya harus mengacu
pada standar profesi , standar profesi yang berlaku mencakup

beberapa aspek

diantaranya standar Ilmu keperawatan , standar akuntabilitas , standar pelaksanaan


asuhan keperawatan. Pada aspek standar akuntabilitas maka perawat dihadapkan
pada tanggung jawab dan tanggung gugat dengan demikian

pendokumentasian

praktik keperawatan menjadi unsur penting dalam semua pelaksanaan aspek standar
professional keperawatan .
Beberapa item standar akuntabilitas yang berhubungan dengan dokumentasi praktik
keperawatan antara lain :
Standar Akuntabilitas Profesional keperawatan ( DPP PPNI tahun 1999 )
1.

Berfungsi sejalan dengan legislasi dan standar praktek keperawatan yang sesuai

2.

dengan tingkat pendidikannya.


Menunjukan minat , empati , percaya , jujur dan hangat pada saat bertinteraksi

3.

dengan klien.
Bertindak sebagai perwakilan klien dengan membantu klien memahami

4.

informasi yang relevan.


Bertindak sebagai perwakilan klien dengan melindungi dan meningkatkan hak
hak klien untuk :
a. Memperoleh informasi yang sah.
1

b. Menyepakati secara sadar akan asuhan keperawatan , pengobatan dan peran


sertanya dalam kegiatan penelitian.
c. Privasi dan dan kerahasiaan.
d. Pengobatan yang sesuai dengan manusia sebagai individu.
e. Berpartisipasi dalam membuat keputusan yang mempengaruhi asuhan
keperawatan yang ditujukan padanya.
5. Bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan .
6. Menunjukan kemampuan dalam hal pengetahuan yang mutakhir pada saat
7.

menjalankan praktek.
Mencari bantuan dan bimbingan bila tidak dapat melaksanakan tugas tugas

8.
9.
10.
11.

nya secara kompenten.


Menghindari mempraktekkan hal hal diluar batas kemampuan.
Bekerjasama sesama anggota profesi.
Bekerjasama dengan anggota kesehatan lain.
Membuat pertimbangan dalam menjalankan rencana keperawatan yang bersifat

multidisplin yang telah disusun.


12. Berbagi pengetahuan dan keahlian dengan orang lain.
13. Melakukan tindakan pada kondisi dimana keamanan atau kesejahteraan klien
tidak diperhatikan / terancam.
14. Melaporakan kejadian tentang praktek yang tidak benar atau kekeliruan dalam
menjalankan pelayanan keperawatan oleh tenaga lain ( bukan perawat ) kepada
yang berwenang.
15. Membantu mengembangkan kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan
asuhan klien.
16. Membantu pengembangan keperawatan atau sistem pelayanan keperawatan.

B.

Tujuan Penulisan
Secara umum tujuan pembahasan aspek legal etik dan manajemen resiko dalam
dokumentasi keperawatan adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
dalam pemberian pelayanan yang konfrehensif dan optimal pada individu , keluarga
dan masyarakat.

Tujuan khusus :

1. Meningkatkan pelayanan keperawatan melalui analisis pendokumentasian


pelayanan keperawatan.
2. Memberikan perlindungan malpraktik pada masyarakat.
3. Memberikan perlindungan hukum pada perawat.
4. Memudahkan kerjasama antar profesi dalam bidang kesehatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Untuk mempermudah dan kesamaan persefsi dalam penulisan makalah ini
kelompok menyajikan beberapa istilah yang prinsip antara lain :

1. Aspek legal Etik adalah cara pandang dalam mengkaji , menganalisa ,


menempatkan

sikap dan tindak keperawatan dipandang dari sisi etika serta

landasan aturan norma hukum yang berlaku.


2. Dokumentasi keperawatan adalah merupakan catatan otentik atau semua warkat
asli yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam persoalan hukum dalam
bidang keperawatan.
3. Praktik keperawatan adalah seluruh tindakan keperawatan secara profesional
yang memerlukan pengetahuan khusus ( biologi , fisika, perilaku , psikologi ,
sosiologi dan ilmu keprewatan ) dalam melaksanakan pengkajian , menegakkan
diagnosa

melakukan

intervensi

dan

evaluasi

dalam

rangka

upaya

mempertahankan dan meningkatkan kesehatan individu dan masyarakat serta


pengelolaan masyalah kesehatan.
4. Legal dalam bidang keperawatan adalah kerangka aturan atau norma yang
secara etik dan hukum dalam bentuk fisik atau moral yang berlaku secara wajar
dalam memberikan perlindungan pada perawat dan klien.
5. Manajemen Resiko adalah upaya

pengololaan manajerial resiko asuhan

keperawatan yang meliputi perencanaan , pengorganisasian , pelaksanaan dan


evaluasi.
6. Resiko asuhan keperawatan adalah bentuk ancaman dan atau dampak dalam
pemberian asuhan keperawatan

yang muncul akibat dari pemberian asuhan

keperawatan itu sendiri serta unsur lain ( luar ) yang mengintervensinya.

B. Aspek Legal, Etika Komunikasi dan Managemen Kasus


Dokumentasi memegang peranan yang penting dalam asuhan keperawatan.
Dokumentasi keperawatan tidak hanya penting dikalangan keperawatan, tetapi juga
pelayanan kolaboratif dengan profesi lain, misalnya dengan dokter. Jika tidak ada
dokumentasi pesan dokter (tugas limpah atau kolaboratif), pada saat yang dibutuhkan
4

untuk kesaksian hukum, perawat tetap dipermasalahkan. Untuk itu, dibutuhkan dasar
hukum (aspek legal) dari tindakan yang dicatat dalam catatan perawatan, etika
komunikasi antar tenaga perawat atau tenaga kesehatan lainnya, dan manajemen kasus
jika terjadi kasus-kasus tertentu.

C. Aspek Legal Keperawatan


Aspek legal yang sering pula disebut dasar hukum praktik keperawatan
mengacu pada hukum nasional yang berlaku disuatu Negara. Hukum adalah aturan
tingkah laku yang ditetapkan dan diberlakukan oleh pemerintahan suatu masyarakat.
Hukum

bermaksud

melindungi

hak

publik,

misalnya

undang-undang

keperawatan bermaksud melindungi hak publik dan kemudian melindungi hak


keperawatan. Jadi, hukum dapat dipandang sebagai standar prilaku yang melindungi
hak publik dan memungkinkan orang banyak hidup bersama secara damai. Filsafat
ilmu hukum ini disebut juris prudensi.

D. Sumber Hukum
Pada umumnya, ada 4 sumber hukum yang utama, yaitu sebagai berikut:
1. Konsitusi. Konstitusi adalah suatu aturan yang mengemukakan prinsip dan
ketentuan pembentukan undang-undang tertentu. Sebagai contoh, konstitusi
federal dan Negara bagian di Amerika serikat menunjukan bagaimana
pemerintahan dibentuk dan diberi wewenang.
2. Badan legeslatif. Lembaga legislative ini disebut kongres ditingkat federal dan
ditingkat Negara bagian.
3. Sistem peradilan (yudikatif). Sekali suatu keputusan ditetapkan didalam
peradilan hukum, keputusan itu menjadi aturan yang perlu dicontoh jika timbul
kasus-kasus serupa. Kasus pertama yang menetapkan aturan keputusan ini disebut
preseden. Keputusan peradilan ini dapat diubah jika ada alasan yang kuat.
Misalnya,

mahasiswa

keperawatan

yang

dikendalikan

di

rumah

sakit

diperlakukan sebagai pegawai rumah sakit.


4. Peraturan administrative. Kumpulan dari peraturan perundang-undangan disebut
undang-undang administrative.
E. Peraturan Perundang Undangan Di Bidang Keperawatan

Untuk melindungi masyarakat dan perawat dalam praktik keperawatan, perlu


disusun peraturan perundang-undangan keperawatan sebagai aspek legal dari profesi
keperawatan. Perundang-undangan yang mengatur praktik keperawatan disebut
undang-undang atau peraturan praktik keperawatan. Bentuk perundang-undangan
tersebut diatur sesuai dengan kebutuhan dan jenjang peraturan perundang-undangan.
Dalam hal praktik keperawatan, perlu diperhatikan peraturan perundangan
tentang pendidikan keperawatan dan peraturan perundangan setelah lulus pendidikan
keperawatan sebagai berikut:
1. Peraturan perundangan tentang pendidikan keperawatan. Peraturan perundangan
ini memuat aturan yang mengatur penyelenggaraan pendidikan keperawatan, baik
perangkat keras maupun perangkat lunaknya. Program yang perlu diatur, antara
lain sebagai berikut:
a. Program vokasional dengan jenjang pendidikan setingkat sekolah lanjutan
tingkat atas (SLTA), misalnya sekolah perawat kesehatan.
b. Program diploma dengan jenjang pendidikan D3 keperawatan dan D4
keperawatan.
c. Program bakaloriat dengan jenjang pendidikan perguruan tinggi difakultas atau
diuniversitas. Program bakaloriat ini terdiri atas program sarjana strata satu,
sarjana strata dua (master), dan program sarjana strata tiga (doctor).
d. Program pendidikan berkelanjutan atau pelatihan yang dapat diprogramkan
sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada.
e. Program rumah sakit dan puskesmas untuk praktik mahasiswa pendidikan
keperawatan, yang memuat standar perawatan dan tenaga minimal untuk
tempat praktik mahasiswa keperawatan yang dapat menjamin mutu prakti yang
optimal.
2. Peraturan perundangan yang mengatur setelah lulus pendidikan keperawatan. Dalam
kaitan dengan praktik keperawatan ini,

disiapkan peraturan perundangan yang

mengatur penempatan dan praktik keperawatan, antara lain sebagai berikut:


a. Peraturan perundangan tentang sistem penempatan tenaga perawat, baik didalam
negeri maupun luar negeri.
b. Peraturan perundangan tentang kewenangan praktik keperawatan yang dikaitkan
dengan sertifikasi registrasi dan lisensi keperawatan.
c. Peraturan perundangan tentang etika profesi keperawatan yang dikeluarkan oleh
organisasi profesi dan pemerintah.
d. Peraturan perundangan tentang standar profesi keperawatan sesuai dengan
undang-undang kesehatan No.23 tahun 1992, pasal 53 ayat 1-4 yang diatur oleh
peraturan pemerintah. Peraturan perundangan ini pada hakekatnya mencegah
6

pelanggaran dan kejahatan dalam praktik keperawatan. Jika pelanggaran terjadi


dengan alasan tertentu, peraturan perundangan ini juga mengatur bagaimana
mengatasinya dan sangsi-sangsinya.
Pelanggaran yang sering terjadi dalamvperawatan, yaitu sebagai berikut:
1. Pelanggaran adalah perlakuan seseorang yang dapat merugikan orang lain berupa
harta atau milik lainnya. Secara disengaja atau tidak disengaja. Jika ada tuntutan
hukum, biasanya diselesaikan secara perdata dengan mengganti kerugian tersebut.
Contoh: menghilangkan barang titipan klien atau merugikan nama baik klien.
2. Kejahatan adalah suatu perlakuan merugikan orang lain, tetapi perbuatan tersebut
dianggap merugikan public. Karena terlalu paarah, kejahatan yang dianggap
tindakan perdata (tort) dapat digolongkan tindakan criminal (tindakan pidana).
Tindak criminal/ pidana ini dapat dijatuhi hukuman denda atau penjara, atau
kedua-duanya. Contoh:
a. Kecerobohan luar biasa yang menunjukan bahwa pelaku tidak mengindahkan
sama sekali nyawa orang lain (korban). Kejahatan ini dapat dikenakan tindak
perdata maupun pidana.
b. Kealpaan mematuhi undang-undang

kesehatan

yang

mengakibatkan

tewasnya orang lain atau mengonsumsi/mengedarkan obat-obatan terlarang.


Kejahatan ini dapat dianggap sebagai tindakan criminal (lepas dari kenyataan
disengaja atau tidak).
3. Kecerobohan dan praktik sesat. Kecerobohan adalah suatu perbuatan yang tidak
akan dilakukan oleh seseorang yang bersikap hati-hati dalam situasi yang sama.
Dengan kata lain, perbuatan yang telah dilakukan diluar koridor standar
keperawatan yang telah ditetapkan dan dapat menimbulkan kerugian. Apabila hal
tersebut terjadi dan ada penuntutan hakim/juri biasanya menggunakan saksi ahli
(orang yang ahli dibidang tersebut). Contoh :
a. Sembarang mengurus barang pribadi klien (pakaian, uang, kacamata, dll)
sehingga rusak atau hilang.
b. Tidak menjawab panggilan klien yang dirawat sehingga klien mencoba
mengatasinya sendiri dan terjadi cidera.
c. Tidak melakukan tindakan perlindungan pada klien yang mengakibatkan
klien cidera, misalnya tidak mengambilkan air panas dari dekat klien yang
mengakibatkan air tersebut tumpah kena klien dank lien mengalami luka
bakar.
7

d. Gagal melaksanakan perintah perawatan, gagal memberi obat secara tepat


atau melaporkan tanda/gejala yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak
menyelidiki perintah yang meragukan sebelumnya sehingga dengan
kelalaian/ke gagalan tersebut menimbulkan cidera.
Selanjutnya, secara professional dikatakan bahwa kecerobohan sama dengan
pelaksaan praktik buruk, praktik sesat, atau mal praktik.
4. Pelanggaran penghinaan, yaitu suatu perkataan atau tulisan yang tidak benar
mengenai seseorang sehingga orang tersebut merasa terhina dan dicemooh. Jika
pernyataan tersebut dalam bentuk lisan, disebut slander dan jika berbantuk
tulisan, disebut libel. Contoh:
a. Pernyataan palsu
b. Menuduh orang secara keliru
c. Member keterangan paslu kepada klien
Orang yang didakwa dengan tuduhan slander atau libel tidak dapat diancam
hukuman jika ia dapat membuktikan kebenaran pernyataannya (lisan/tulisan).
Tuduhan ini dapat dibela dengan kominikasi berprivilese, yakni komunikasi yang
didasarkan pada anggapan bahwa petugas professional tidak dapat member
pelayanan yang baik tanpa pembeberan fakta secara lengkap mengenai masalah
yang dihadapinya. Jadi, informasi berprivilese merupakan informasi rahasia antar
petugas professional dengan kliennya, misalnya antara perawat/dokter dengan
kliennya, antara pengaca dengan kliennya, antara kiai dengan pemeluk agamanya.
5. Penahan yang keliru adalah penahanan klien tanpa alasan yang tepat atau
pencegahan gerak sesorang tanpa persetujuannya, misalnya menahan klien pulang
dari rumah sakit guna mendapat perawatan tambahan tanpa persetujuan dari klien
yang bersangkutan, kecuali jika klien tersebut mengalami gangguan jiwa atau
penyakit

menular

yang

apabila

dipulangkan

dari

rumah

sakit

akan

membahayakan masyarakat. Untuk itu, rumah sakit mempunyai formulir khusus


yang ditandatangani klien/keluarga, yang menyatakan bahwa rumah sakit yang
bersangkutan tidak bertanggung jawab apabila klien cidera karena meninggalkan
rumah sakit tersebut.
6. Pelanggaran privasi, yaitu tindakan mengespos/memamerkan/menyampaikan
seseorang (klien) kepada public, baik orangnya langsung, gambar, ataupun
rekaman, tanpa persetujuan orang/klien yang bersangkutan, kecuali ekspos klien
tersebut memang diperlukan menurut prosedur keperawatannya. Contoh:

a. Menyebar gossip atau member informasi klien kepada orang yang tidak
berhak memperoleh informasi itu.
b. Member perawatan tanpa memperhatikan kerahasiaan klien, yaitu klien
dilihat/didengar orang lain sehingga klien merasa malu.
7. Ancama dan pemukulan ancaman (assault) adalah suatu percobaan/ancaman,
melakukan kontak badan dengan orang lain tanpa persetujuannya. Pemukulan
(batter) adalh ancama yang dilaksanakan. Setiap orang diberi kebebasan dari
kontak badan dengan orang lain, kecuali jika ia telah menyatakan persetujuannya.
Contoh: Jika klien dioprasi tanpa persetujuan yang bersangkutan/keluarganya,
dokter/rumah sakit tersebut dapat dituntut secara hukum.
8. Penipuan adalah pemberian gambaran salah secara sengaja yang dapat
mengakibatkan atau telah mengakibatkan kerugian atau cidera pada seseorang
atau hartanya. Contoh: member data yang keliru guna mendapat lisensi
keperawatan.

F. Managemen Kasus
Dalam kaitan aspek legal dan standar keperawatan, perlu dijembatani dengan
manajemen keperawatan. Salah satu manajemen yang perlu dipahami adalah
menjemen kasus. Menurut brokopp (1992), manajemen kasus adalah sistem yang
dirancang sebagai proses kontinu identifikasi dan penyelesaian masalah dengan tujuan
memengaruhi biaya dan kualitas populasi klien atau pasien tertentu. Manajemen kasus
mengalami pengembangan. Menurut Cesta (1993), perkembangan manajemen kasus
dipengaruhi oleh :
1. Perubahan pada pendekatan yang lebih berorientasi konsumen terhadap
pelayanan kesehatan.
2. Pembayaran prospektif yang mengubah pencepatan lingkup dan finansial dari
pemberian pelayanan kesehatan
3. Makin meningkatnya pendidikan konsumen perawatan kesehatan dengan
penghargaan perawatan akan lebih meningkat
4. Kenytaan bahwa teknik yang berhasil dimasa lampau tidak lagi layak secara
finansial
9

Manajemen kasus sangat perlu dipahami oleh tenaga perawat karena menurut Bower
(1993), ada 20%total populasi klien atau pasien yang memerlukan manajemen
kasus. Kriteria yang membutuhkan manajemen kasus menurut Bower adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Perawatan dengan biaya yang tinggi


Klien tidak terprediksi atau tidak terpolakan yang diantisipasi
Masuk rumah sakit berulang secara kronis
Adanya varian bermakna
Faktor sosio ekonomi risiko tinggi
Keterlibatan banyak doktek atau disiplin ilmu
Populasi yang ditargetkan dengan misi strategis, misalnya jalur produk

Perawat yang melakukan manajemen kasus disebut perawtan manajer kasus (Nurse
Case Manager/ NCM) yang terdiri atas 3 tipe yaitu :
1. Perawat primern dengan kontak langsung dan harian dengan klien dan
keluarganya
2. Setiap anggota tim keperawatan, misalnya perawat klinis spesialis
3. Perawat spesilis dalan manajemen kasus (Taban, 1993).
ANA (1992) merekomendasikan tingkat sarjana dalam keperawatan sebagai tingkat
pendidikan minumum untuk NCM. Cronin dan Maklebust (1989) melaporkan NCM
dengan tingkat sarjana mempunyai kesulitan mengembangkan kebutuhan keperawatan
klien langusng dan manajemen kasus oleh karena itu, disimpulkan bahwa cukup
perawat yang mendidik dan berpengalaman dalam manajemen kasus (Cronin, 1989)
DIMENSI PERAN PERAWAT MANAGER KASUS
Kasus pada situasi perawatan akut
1. Klinis
a. Melakukan pengkajian srining penerimaan
b. Merencanakan perawatan, misalnya alur kritis
c. Mengidentifikasi variasi
d. Mengawasi perawatan yang diberikan
e. Memastikan kontinuitas askep
f. Memantau kepatuhan klien
g. Mengevaluasi kemajuan klien
h. Merevisi askep sesuai kebutuhan
i. Berkolaborasi dengan pemberi perawatan kesehatan lain untuk
mengatasi variasi
j. Melakukan perencanaan ulang
2. Manajerial
a. Bertindak sebagai penghubung komunikasi diantara semua disiplin
yang telibat
b. Memudahkan pencapaian hasil
c. Mengevaluasi kesiapan untuk pulang
10

d. Bertindak sebagai narasumber


e. Penerapan prinsip perbaikan kualitas
f. Memastikan bahwa satandar perawatan diimplementasikan
g. Berpastisipasi dalam konferensi manajemen perawatan unit
3. Finansial
a. Menunjukkan pengetahuan yang terkait dengan kelompok diagnostik
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

yang berhubungan (KDB), lama perawatan, dan pergantian biaya


Menunjukkan pengetahuan modalitas tindakan yang biasa untuk KDB
Mengontrol duplikasi dan fragmentasi perawatan
Mengontrol alokasi sumber
Mengontrol atau mencegah lama tinggal dirumah sakit yang tidak tepat
Bekerja keras untuk memperkirakan lama rawat klien
Mengidentifikasi masalah sistem rumah sakit
Mengidentifikasi masalah sistem keperawatan

Di kalangan keperawatan alur kritis dikembangkan tahun 1985 oleh Kathleen


Bower dan Karen Zandex di New England Medical Center. Sejak itu, kritis ini sudah
berkembang cepat dengan beberapa versi, antara lain caremag, alur kritis,
Collaborative Action Track, dan Mileston Action Plans.
Alur kritis adalah suatu proses pengantisipasi dan menggambarkan terlebih
dahulu keadaan klien yang dirawat pada tipe kasus khusus dan kemudian status
antisipasi tersebut dibandingkan dengan status aktual klien (Bower, 1993). Jadi
sebelum menentukan alur kritis, perawat harus mengidentifikasi standar perawatan
pada populasi yang sama.
Standar perawatan untuk populasi harus mencakup:
1. Urutan prioritas diagnosis keperawatan dan masalah kolaborasi yang dipresiksi
yang membutuhkan intervensi keperawatan selama kurun waktu tertentu
2. Hasil yang dapat dicapai dan realisitis
3. Intervensi yang berkaitan realistis
Alur kritis merupakan kegiatan multidisiplin yang dapat menjadi standar pada
disiplin lain untuk penambahan intervensi spesifik pada standar tersebut, misalnya
terapi pernapasan, terapi fisik, terapi nutrisi, dll.
Setelah diidentifikasi, alur kritis dibandingkan dengan standar perawatan. Pada
dasarnya, alur kritis tidak dapat memuat diagnosis keperawatan atau masalah
kolaboratif tambahan yang ada dan memerlukan intervensi keperawatan. Akan tetapi
diperlukan untuk memajukan kesehatan klien.
11

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dokumentasi memegang peranan yang penting dalam asuhan keperawatan.
Dokumentasi keperawatan tidak hanya penting dikalangan keperawatan, tetapi juga
pelayanan kolaboratif dengan profesi lain, misalnya dengan dokter. Jika tidak ada
dokumentasi pesan dokter (tugas limpah atau kolaboratif), pada saat yang dibutuhkan
untuk kesaksian hukum, perawat tetap dipermasalahkan. Hukum bermaksud
melindungi hak publik, misalnya undang-undang keperawatan bermaksud melindungi
hak publik dan kemudian melindungi hak keperawatan. Untuk melindungi masyarakat
dan perawat dalam praktik keperawatan, perlu disusun peraturan perundang-undangan
keperawatan sebagai aspek legal dari profesi keperawatan. Perundang-undangan yang
mengatur praktik keperawatan disebut undang-undang atau peraturan praktik
keperawatan. Bentuk perundang-undangan tersebut diatur sesuai dengan kebutuhan
dan jenjang peraturan perundang-undangan. Dalam kaitan aspek legal dan standar
keperawatan, perlu dijembatani dengan manajemen keperawatan. Salah satu
manajemen yang perlu dipahami adalah menjemen kasus.

B. Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca , khususnya untuk mahasiswa
keperawatan.

12

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2014. Dasar-Dasar Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC.


Sumijatun. 2011. Membudayakan Etika dalam Praktik Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika.

13