Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FOTOMETER NYALA

I.

TUJUAN PERCOBAAN

Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :

1.
2.

II.

Menggunakan alat spektrofotometer nyala;


Menganalisis cuplikan secara spektrofotometer nyala.

ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

Alat yang digunakan :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Alat Fotometer Nyala untuk Na dan K


Tabung LPG
Gelas Kimia 100 Ml
Gelas Kimia 250 mL
Labu Takar 100 mL
Pipet Volum 1 mL dan 5 mL
Botol semprot

Bahan yang digunakan :


1.
2.
3.

III.

Larutan standar Na dan K


Sampel yang mengandung Na dan K
Aquadest

DASAR TEORI

Sebuah fotometer nyala adalah alat yang digunakan dalam analisis kimia anorganik
untuk menentukan konsentrasi ion logam tertentu, di antaranya natrium, kalium, lithium, dan
kalsium. Fotometri nyala adalah suatu metoda analisa yang berdasarkan pada pengukuran
besaran emisi sinar monokromatis spesifik pada panjang gelombang tertentu yang di
pancarkan oleh suatu logam alkali atau alkali tanah pada saat berpijar dalam keadaan nyala
dimana besaran ini merupakan fungsi dari konsentrasi dari komponen logam tersebut.

Misalkan logam natrium menghasilkan pijaran warna kuning, kalium memancarkan


warna ungu seadngkan litium memancarkan sinar merah bila dibakar dalam nyala. Hal inila
telah dimanfaatkan untuk maksud identifikasi unsur alkali tersebut. Besaran intensitas sinar
pancaran ini ternyata sebanding dengan tingkat kandungan unsur dalam larutan, sehingga
metoda flame fotometer digunakan untuk tujuan kuantitatif dengan mengukur intensitasnya
secara relatif. Metoda ini menggunakan foto sel sebagai detektornya dan pada kondisi yang
sama digunakan gas propana atau elpiji sebagai pembakarnya untuk membebaskan air
sehingga yang tersisa hanyalah kandungan logam.

Fotometri nyala didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar unsur akan
tereksitasi dalam suatu nyala pada suhu tertentu serta memancarkan emisi radiasi untuk
panjang gelombang tertentu. Eksitasi terjadi bila lektron dari atom netral keluar dari
orbitalnya ke orbital yang klebih tinggi. Dan bila terjadi eksitasi atom,ion molekul akan
kembali ke orbital semula dan akan memancarkan cahaya pada panjang gelombang tertentu.
Prinsip dari fotometri nyala ini adalah pancaran cahaya elektron yang tereksitasi yng
kemudian kembali kekeadaan dasar.
Dipancarkannya warna sinar yang berbeda-beda atau warna yang khas oleh tiap-tiap
unsur adalah disebabkan oleh karena energi kalor dari suatu nyala-nyala elektron dikulit
paling luar dari unsur-unsur tersebut tereksitasi dari tingkat dasar ke tingkat yang lebih tinggi,
yang dibolehkan.Pada waktu elektron-elektron tereksitasi kembali ke tingkat dasar, akan
diemisikan foton yang energinya. Oleh karena tingkat-tingkat energi eksitasi tersebut adalah
khas atau spesifik untuk suatu unsur logam tertentu,maka sinar yang dipancarkan oleh suatu
atom unsur logam tersebut adalah khas pula. Dasar ini digunakan untuk analisa kualitatif
unsur-unsur logam secara reaksi nyala.

Prinsip Kerja Filter Fotometer Nyala


Prinsip kerja filter fotometer nyala adalah eksitasi atom. Oleh karenasetiap atom
memiliki konfigurasi elektron yang berbeda, maka energi yang dibutuhkan setiap atom untuk
tereksitasi juga berbeda.Besarnya energi yang digarap oleh atom-atom kemudian
yangdibebasakan kembali dalam bentuk pancaran (emisi), inilah yang disebut dengan prinsip
kerja dari alat ini. Semua atom dapat menyerap energi (kalor), namunkalor ini disesuaikan
dengan tingkat energi eksitasi agar tidak terjadi ionisasi.Contoh : atom Na menyerap energi

dari nyala sebesar 2,2 elektron volt. Energi inisesuai dengan energi eksitasi atom Na. Atomatom yang lain tidak akan bisamenyerap energi yang sama dengan atom Na

Flame fotometer dibedakan atas dua yaitu :

Filter flame fotometer


Hanya terbatas untuk analisa unsur Na,K dan Li

Spektro flame fotometer


Digunakan untuk analisa unsur K,Ca,Mg,Sr,Ba dll.
Perbedaan alat ini terletak pada monokromatornya,dimana alat pertama menggunakan
filter sebagai monokromatornya dan alat kedua yang berfungsi sebagai
monokromatornya adalah pengatur panjang gelombang.

GANGGUAN GANGGUAN DALAM FOTOMETRI NYALA


Cara intensitas langsung untuk analisa fotometri langsung akan memberikan hasil
yang baik hanya apabila tidak ada gangguan gangguan yang dapat mempengaruhi intensitas
pancaran sedemikian rupa sehingga nilai intensitas yang dibaca akan lebih rendah atau lebih
tinggi daripada nilai intensitas yang sesuai dengan konsentrasi unsur.
Apabila terdapat gangguan-gangguan tersebut maka analisa tidak dilakukan secara
intensitas langsung melainkan dengan salah satu cara dari kedua cara yang lain yaitu, cara
penambahan standar atau dengan cara standar dalam. Gangguan-gangguan dalam fotometri
sumber dan sifatnya dapat dibagi dalam beberapa golongan, antara lain :

a).

Gangguan spektral

Ialah gangguan yang disebabkan oleh spektrum unsur-unsur lain yang terdapat
bersama unsur yang dicari. Gangguan ini dijumpai terutama kalau dipakai filter untuk
memperoleh panjang gelombang yang akan diukur intensitasnya. Dengan monokromator
seperti prisma dsb. Gangguan ini akan berkurang.

Contoh gangguan spektral ini misalnya : Pita jingga dari CaOh mengganggu
pengamatan intensitas garis Na pada 590 mu gangguan ini sukar diatasi walaupun dengan

monokromator bukan filter karena Sisitin Ca tumpang suh ( overlap) dengan panjang
gelombang Na. Suatu keuntungan adalah bawa kebanyakan garis-garis spektrum yang
berguna dalam fotometri nyala terdapat dalam daerah biru dan ultra lembayung, sedang
kebanyakan pita spektrum molekul dan spektrum kontinu yang mengganggu terdapt didaerah
hijau dan daerah merah spektrum tampak.

Gangguan spektral jenis lain disebabkan karena garis unsur pengganggu berimpit
dengan garis spektrum unsur yang akan diselidiki. Kedua garis spektrum dapat berimpit
(overlap) sebagian saja atau keseluruhan. Intensitas yang dibaca adalah intensitas keduaduanya, Cara mengatasi gangguan spektral ini dapat dengan memilih panjang gelombang
pancaran lain dari unsur lain yang akan dianalisa jika tidak ada dilakukan pemisahan unsur
yang dianalisa dari unsur pengganggu dengan pertolongan cara-cara pemisahan seperti
ekstraksi pelarut, penukaran ion, pengendapan dll. Gangguan spektral jenis lain adalah
intensitas pancaran latar belakang atau background.

b).

Gangguan karena variasi karena sifat-sifat fisik larutan

Variasi sifat fisik dari larutan dapat memperkecil atau membesar intensitas sinar yang
akan dianalisa, sehingga intensitas yang terbaca tidak sesuai dengan konsentrasi yang akan
dianalisa.
Gangguan gangguan sifat fisik yang dimaksud antara lain adalah
1

viskositas ini mempengaruhi kecepatan larutan atau kabut larutan mencapai nyala.
Semakin besar viskositas dari suatu larutan yang dianalisa, maka semakin lambat larutan
mencapai nyala, sehingga intensitas pancaran pada alat akan semakin kecil dan tidak
sesuai dengan konsentrasi unsur yang kita analisa.

tekanan uap dan tegangan permukaan larutan mempengaruhi ukuran tekanan kabut
larutan. Terutama pada alat-alat filter fotometer nyala, dimana atomizer (pengabut) tidak
menjadi satu dengan pembakar. Tetesan tetesan kabut yang besar menyebabkan tetesan
tetesan kabut tersebut mencapai nyala, sehingga intensitas yang dibaca lebih kecil
daripada intensitas yang sesuai dengan konsentrasi yang dicari.

garam-garam yang ditanmbahkan kedalam larutan yang akan dianalisa secara fotometri
akan memperlambat penguapan pelarut yang akan mengurangi intensitaspancaran
sehingga tidak sebanding lagi dengan konsentrasi unsur.
c).

Gangguan ionisasi

Gangguan ini disebabkan karena menggunakan suhu nyala yang lebih tinggi. Logam
alkali dan alkali tanah yang mudah terionisasi, akibat dari adanya ionisasi akan mengurangi
jumlah atom netral. Akibatnya intensitas dari spektrum atom akan berkurang dan tidak sesuai

dengan konsentrasi yang akan kita amati. Nyala yang dihasilkan dari campuran oksigen dan
gas akan mempunyai energi yang dapat mengionisasi logam alkali dan alkali tanah hal ini
menggakibatkan terjadinya penurunan jumlah atom yang akan diekstraksi. Adanya atom yang
lebih mudah terionisasi akan memberikan sejumlah elektron kedalam nyala sehingga akan
mendesak ion menjadi atom.

d).

Gangguan karena absorbsi sendiri

Sinar pancaran yang berasal dari atom-atom unsur yang dianalisa dapat diabsorbsi
kembali oleh atom-atom lain unsur yang sama yang ada dalam nyala, taetapi masih ada dalam
keadaan belum tereksitasi. Dengan sendirinya gangguan ini akan menyebabkan intensitas
yang yang dipancarkan oleh unsur tersebut, dan yang dibaca pada alat akan lebih rendah
dengan yang sesuai dengan konsentrasi unsur ybs. Gejala absorbsi sendiri ini terutama nyata
sekali kalu intensitas yang diukur intensitasnya adalah panjang gelombang yang sesuai
dengan perpindahan elektron antara tingkat energi dasar ( ground state) dan tingkat energi
tereksitasi pertama diatasnya. Gejala absorbsi sendiri ini dapat dihindari dengan
menggunakan konsentrasi rendah.

e). Gangguan dari anion

Intensitas pancara logam akan turun (hingga tidak sesuai lagi dengan
konsentrasinya) apabila tercampur dengan asam-asam HNO3, H2SO4, H3PO4 dan atau
garam dari asam-asam tersebut dalam jumlah yang besar. Gangguangangguan analisa
fotometri secara intensitas langsung adalah segala gangguan atau hal dan peristiwa-peristiwa
yang dapat mempengaruhi intensitas pancaran unsur yang kita analisa, sehingga nilai
intensitas pancaran yang dihasilkan tersebut tidak lagi sesuai dengan unsur yang sebenarnya.

Beberapa masalah yang ditemui dalam analisa kuantitatif secara flame fotometri :
a.

Radiasi dari unsure


Jika terdapat garis spektrum yang berdekatan dengan garis spectrum logam yang
ditentukan sehingga memungkinkan terjadinya interferensi.

b.

Penambahan kation
Dalam nyala tinggi,beberapa atom logam mungkin terionisasi,misalnya :

Na Na + e
Ion tersebut mempunyai spektrum emisi tersendiri dengan frekuensi- frekuensi yang
berbeda dari atomnya sehingga akan mengurangi tenaga radiasi dari emisi atomnya.
c.

Interferensi anion
Pada percobaan ini dilakukan penentuan kadar logam natrium dan kalium dengan cara
pengukuran intensitas nyala masing-masing logam alkali tersebut. Karena intensitas
nyala merupakan fungsi dari konsentrasi atau kadar unsur dalam sampel.

FOTOMETRI NYALA DENGAN CARA STANDAR DALAM DAN DENGAN CARA


PENAMBAHAN STANDAR
Beberapa point yang harus diperhatikan pada cara standar dalam :
1
2
3
4
5
6
7

Cuplikan unsur yang dianalisa ,maupun kepada larutan standar unsur tersebut
ditambahkan jumlah yang sama dari unsur standar dalam.
Unsur standar dalam itu disemprotkan dan diexitasi di dalam nyala
Ditetapkan juga intensitas background pada panjang gelombang yang dipakai
Alurkan grafik log (Ix-Hx)/(Is-Hs)terhadap log konsentrasi larutan standar
Kurva tersebut sebagai kurva kalibrasi yang digunakan mencari konsentrasi lar.X
Larutan X tersebut disemprotkan pada nyala,lalu ditentukan Ix pada panjang
gelombangnya.
Dari data no 6.tentukan Log (Ix-Hx)/(Is-Hs)untuk lar X.

Bagian-bagian dari fotometer nyala yaitu :


1.

Atomizer

Udara pada tekanan tertentu (atm), masuk ke dalam pembungkan cuvet oleh pipa kecil.
Hisapan oleh udara menyebabkan larutan contoh terhisap ke dalamruangan pengabut dalam
bentuk kabut-kabut yang halus

2.

Mixing Chamber

Kabut yang berasal dari atomizer masuk ke dalam ruangan pencampur alat pembakar, disini
akan bertemu dengan gas pembakar yang masuk dengantekanan tertentu

3.

Flame

Campuran udara dengan gas pembakar menghasilkan nyala dan ke dalamnyala ini pula kabut
halus dari larutan contoh menguap. Kalor nyalamenyebabkan larutan contoh menguap,
sehingga contoh berubah menjadi butir-butir halus padat (garam). Molekul-molekul garam ini
(uap) selanjutnyaakan terdisosiasi menjadi atom-atom netral. Atom-atom netral ini
akanmenyerap energi kalor dari nyala sehingga tereksitasi dan kemudian memancarkan sinar
pancaran yang terdiri dari berbagai panjang gelombang

4.

Reflektor

Sinar pancaran yang keluar dari nyala akan dipantulkan kembali ke nyala.

5.

Optical Lens

Lensa pancaran yang bersifat polikromatik akan difokuskan oleh lensa melaluisuatu celah
(diafragma).

6.

Filter

Filter akan meneruskan cahaya sinar pancaran dengan panjang gelombangyang khas dan
berintensitas tinggi dari unsur yang dianalisis dan akanmenyerap sinar-sinar lain yang berasal
dari nyala.

7.

Photo Tube

Intensitas sinar pancaran tersebut oleh photo tube diubah menjadi arus listrik yang besarnya
berbanding lurus dengan intensitas sinar pancaran tersebut.

8.

Amplifier

Arus listrik yang berasal dari photo tube, oleh amplifier akan diperkuat danditeruskan ke
recorder.

9.

Recorder

Output dari amplifier dicatat oleh recorder yang skalanya terkalibrasi oleh suatu intensitas.
Aplikasi dalam Oceanologi

Untuk contoh air laut yang homogen, kadar logam-logam alkali dapatdilakukan
langsung tanpa pemisahan terlebih dahulu. Bila kadar-kadar logamtersebut terlalu rendah,
maka analisa dapat dilakukan dengan pemekatan terlebihdahulu. Pemekatan ini dapat
dilakukan dengan cara, yaitu penguapan, distilasi,ekstraksi, dsb. Untuk air yang tidak
homogen, harus didestruksi terlebih dahuludengan asam-asam kuat, misalnya asam nitrat dan
asam sulfat. Untuk contoh padat, harus didestruksi dengan destruksi basah dengan
menggunakan asam nitrat,asam sulfat, dan asam perklorat. Sedangkan destruksi kering
dengan cara pengabuan kemudian dilarutkan dalam air atau asam-asam kuat (encer)
yangcocok. Analisa logam alkali dan alkali tanah dengan menggunakan filter fotometrinyala
dapat dilakukan dengan cepat dan praktis karena mampu mendeteksi kadar-kadar yang
rendah (ppb) dan analisis pendahuluannya tidak rumit.

Flame fotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran
besaran emisi sinar monokromatis dengan panjang gelombangtertentu yang dipancarkan oleh
suatu logam alkali / alkali tanah dalam keadaan berpijar atau bernyala. Misalnya, natrium
menghasilkan pijaran warna kuning,kalium memancarkan sinar ungu dan litium
memancarkan sinar merah biladibakar dalam nyala. Besaran ini merupakan fungsi dari
konsentrasi darikomponen logam tersebut. Metoda ini dimanfaatkan untuk identifikasi
unsur alkali tersebut.Fotometri nyala berdasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar
unsur yang tereksitasi dalam suatu nyala pada suhu tertentu akan memancarkan emisiradiasi
untuk panjang gelombang tertentu. Eksitasi terjadi bila elektron dari atom netral keluar dari
orbitalnya ke orbital yang lebih tinggi.

Dan bila terjadi eksitasiatom, ion molekul akan kembali ke orbital semula dan akan
memancarkan cahaya pada panjang gelombang tertentu.Prinsip dasar dari flame fotometri ini
adalah pancaran cahaya elektronyang tereksitasi yang kemudian kembali ke keadaan dasar.
Besaran intensitassinar pancaran ini sebanding dengan tingkat kandungan unsur dalam
larutan.Maka hal ini digunakan dalam flame fotometri untuk tujuan kuantitatif pengukuran
intensitas secara relatif, menggunakan detektor fotosel dan gas bahan bakar berupa propana /
Elpiji dan gas pembakarnya udara.Suhu nyala merupakan salah satu variabel yang paling
penting dalamfotometri nyala. Ini ditentukan oleh sifat bahan bakar dan laju
penyediaanya, penyediaan udara atau oksigen dan perencanaan alat pembakar. Nyala
hydrogendan oksigen digunakan secara luas untuk memberikan energi bagi banyak keperluan
dan nyala apinya menghasilkan radiasi dengan latar belakang sangatsedikit yang dapat
mengahalangi pengamatan spektrum.Sebagian besar unsur akan tereksitasi dalam suatu nyala
pada suhu tertentuserta memancarkan emisi radiasi untuk panjang gelombang tertentu.
Eksitasiterjadi bila elektron dari atom netral keluar dari orbitnya ke orbit yang energinyalebih
tinggi, dan bila terjadi eksitasi atom, ion molekul akan kembali ke orbitsemula dan akan
memancarkan cahaya pada panjang gelombang tertentu.

Dengan fotometer nyala kebanyakan atom berada dalam keadaan dasar (ground state
energy), sehingga mempunyai kecenderungan untuk menyerapenergi yang dipancarkan oleh
atom yang tereksitasi ketika kembali ke keadaandasar. Peristiwa ini disebut dengan self
absorption. Untuk mendapatkan kondisinyala yang optimum dipergunakan pengaturan untuk
mengendalikan tekanan gasdengan cermat dan pengukur untuk memonitor laju alir.

Filter dapatmenggantikan monokromator dalam suatu instrumen yang menggunakan


sumber bertemperatur rendah.Penerapan fotometri nyala yang paling penting adalah yang
menyangkutanalisa yang sukar atau tidak mungkin dilakukan dengan cara yang lain,
palingtidak apabila kecepatan jauh lebih penting daripada ketepatan. Penggunaanfotometri
nyala sangat penting dalam riset biomedis, analisa air, pengetahuan, gizi, dan bidang-bidang
lain yang perlu untuk menetukan suatu logam alkali.

IV.

1.
2.
3.
4.
5.
6.

PROSEDUR KERJA

Menyambungkan selang gas LPG ke tabung LPG


Memastikan tidak ada kebocoran gas LPG
Menyalakan alat dengan menekan tombol MAIN ke atas
Menyalakan air compressor dengan menekan tombol COMP ke atas
Menekan tombol IGN dan menahannya, sambil memutar tombol IGNITION pelan-pelan
kearah kiri.
Melihat nyala api pada pada prosedur 5, jika nyala api sudah ada, memutar tombol GAS
VALUE ke kiri kurang lebih 6x putaran.

7.
8.
9.
10.
11.
12.

13.
14.
15.
16.
17.
18.

Memutar tombol IGNITION pelan-pelan sampai api besar menyala.


Memutar tombol IGNITION ke kanan sampai batas minimal tidak bisa diputar lagi,
setelah api besar menyala.
Mengatur nyala api dengan mengatur/memutar-mutar GAS VALUE. Nyala yang bagus
adalah nyala biru tanpa ada warna kuning atau merah.
Memasukkan Blanko, memilih range 1, 2 atau 3, mengatur jarum penunjuk keposisi 0
dengan memutar tombol 0.
Memasukkan standar ppm, mengatur jarum penunjuk supaya menunjukkan angka 100%
dengan memutar tombol 100 %
Menganalisis sampel dan mencatat skala pembacaan, membandingkan dengan skala
pembacaan standar 10ppm, misalnya terbaca 13% artinya konsentrasi sampel adalah 1,3
ppm
Mengusahakan melakukan analisis blanko 1x setiap melakukan analisis 2 sampel.
Mengulangi langkah no.11 setelah melakukan analisis sampel sebanyak 10 atau 15.
Melakukan analisis blanko selama 5 menit untuk membersihkan sisa-sisa sampel dalam
alat setelah selesai melakukan analisis sampel.
Mematikan nyala api dengan memutar tombol GAS VALUE ke kanan sampai full.
Mematikan air compressor dengan menekan tombol COMP, kemudian mematikan alat
dengan menekan MAIN setelah api mati.
Melepaskan sambungan KPG.

Catatan:
1.
2.

V.

Larutan yang akan dianalisis harus tidak mengandung endapan, jika ada endapan lakukan
penyaringan terlebih dahulu
Jika pembacaan sampel melebihi skala % (melebihi 100%) lakukan pengenceran sampel
sampai pembacaan di bawah 100%

DATA PENGAMATAN

No

Sampel

Pembacaan
Standar

Pembacaan
Sampel

Konsentrasi
Sampel

Aquadest

0%

Larutan kalium
10 ppm

100 %

10

Larutan kalium 2
ppm

15 %

1,5

Larutan kalium 4
ppm

36 %

3,6

Larutan kalium 6
ppm

54 %

5,4

Larutan kalium 8
ppm

70 %

7,0

No

Sampel

Konsentrasi sampel
Pembacaan sampel (%)
(ppm)
1

Air hujan

<0%

<0%

Aqua

<0%

<0%

Daira

<0%

<0%

Alfa

<0%

<0%

Air sumur
bor

>100 %

> 10

Air sisa

28 %

2,8

VI.

PERHITUNGAN

Pembuatan larutan standar

1.

100 ppm K dari larutan 1000 ppm K


M1 .V1 = M2 . V2
(100 ppm).(100 ml) = (1000ppm). V2
V2 = 10 ml
Pembuatan larutan standar

2.

2 ppm K dari larutan 100 ppm K


M1 .V1 = M2 . V2
(100 mol/ml).V1 = 2 ppm. 50ml
V1 = 1 ml

4 ppm K dari larutan 100 ppm K


M1 .V1 = M2 . V2
(100 mol/ml).V1 = 4 ppm. 50ml
V1 = 2 ml

6 ppm K dari larutan 100 ppm K


M1 .V1 = M2 . V2
(100 mol/ml).V1 = 6 ppm. 50ml
V1 = 3 ml

3.

8 ppm K dari larutan 100 ppm K


M1 .V1 = M2 . V2
(100 mol/ml).V1 = 8 ppm. 50ml
V1 = 4 ml

10 ppm k dari larutan 100 ppm k


M1 .V1 = M2 . V2
(100 mol/ml).V1 = 10 ppm. 50ml
V1 = 5 ml

Konsentrasi sampel
K 2 ppm
M = 15 % x 10 = 1,5 ppm

K 4 ppm
M = 36 % x 10 = 3,6 ppm

K 6 ppm
M = 54 % x 10 = 5,4 ppm

K 8 ppm
M = 70 % x 10 = 7,0 ppm

K 10 ppm
M = 100 % x 10 = 10 ppm

Air Hujan
M = < 0 % x 10 = 0 ppm

Aqua
M = <0 % x 10 = < 0 ppm

Daira
M = < 0 % x 10 = < 0ppm

Alfa
M = < 0 % x 10 = < 0ppm

Air sumur bor


M = > 100% x 10 = > 10 ppm

Air sisa
M = 28 % x 10 = 2,8ppm

4. Persen Kesalahan
K 2 ppm

% kesalahan =
=

teori praktek
x 100
teori
2 ppm1,5 ppm
x 100
2 ppm

= 25 %

K 4 ppm
% kesalahan =
=

teori praktek
x 100
teori
4 ppm3,6 ppm
x 100
4 ppm

= 10 %

K 6 ppm
% kesalahan =
=

teori praktek
x 100
teori
6 ppm5,4 ppm
x 100
6 ppm

= 10 %

K 8 ppm
% kesalahan =
=

teori praktek
x 100
teori
8 ppm7,0 ppm
x 100
8 ppm

= 12,5 %

K 10 ppm
% kesalahan =
=

teori praktek
x 100
teori
10 ppm10 ppm
x 100
10 ppm

=0%
VII. ANALISA DATA

VIII.
IX.

KESIMPULAN

GAMBAR ALAT

Alat fotometer nyala

Erlenmeyer

Labu takar

Gelas Kimia

DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet.2012.Penuntun Praktikum Kimia Analitik Instrument.Politeknik Negeri


Sriwijaya.Palembang.