Anda di halaman 1dari 11

Daftar Isi

Kerutan Usus di Luar Badan


Tujuan Praktikum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
Teori Dasar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
Alat dan Sediaan Bahan Kimia . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
Tata Kerja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pengaruh Epinefrin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
Pengaruh Asetilkolin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
Pengaruh Ion Kalsium . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
Pengaruh Pilokarpin . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
Pengaruh Suhu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9
Pengaruh Ion Barium . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10

Hasil Praktikum . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 10
Kesimpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .10
Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .11

SISTEM GASTROINTESTINAL
KERUTAN USUS DI LUAR BADAN
Tujuan Praktikum
Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat :
1. Memasang peralatan perfusi usus dan pecatat gerakan usus
2. Memasang sediaan usus dalam tabung perfusi dan menghubungkannya dengan pencatat
sehingga kerutannya dapat di catat pada kimograf.
3. Menjelaskan pengaruh berbagai factor di bawah ini pada frekuensi dan amplitude
kerutan serta tonus sediaan usus dalam tabung perfusi:
a. Epinefrin
b. Asetilkolin
c. Ion Kalsium
d. Pilokarpin
e. Ion Barium
Teori Dasar
Kontrol Saraf Terhadap Fungsi Gastrointestinal-Sistem Saraf Enterik
Traktus gastrointestinal memiliki sistem persarafan sendiri yang disebut sistem saraf
enterik. Sistem ini seluruhnya terletak di dinding usus, mulai dari esofagus dan memanjang
sampai ke anus. Jumlah neuron pada sistem enterik ini sekitar 100 juta, hampir sama dengan
jumlah pada keseluruhan medula spinalis; Sistem saraf enterik yang sangat berkembang ini
bersifat penting, terutama dalam mengatur fungsi pergerakan dan gastrointestinal.
Sistem saraf enterik terutama terdiri atas dua pleksus:
1. pleksus bagian luar yang terletak diantara lapisan otot longitudinala dan sirkular,
disebut pleksus mienterikus atau pleksus Auerbach
2. satu pleksus bagian dalam, disebut pleksus submukosa atau pleksus meissner yang
terletak di dalam submukosa.
Pleksus mienterikus terutama mengatur pergerakan gastrointestinal, dan pleksus
submukosa terutama mengatur sekresi gastrointestinal dan aliran darah lokal. Selain itu, terdapat
serabut-serabut simpatis dan parasimpatis ektrinsik yang berhubungan ke kedua pleksus
mienterikus dan submukosa. Walaupun sistem saraf enterik dapat berfungsi dengan sendirinya,
tidak bergantung dari saraf-saraf ekstrinsik ini, perangsangan oleh sistem parasimpatis dan
simpatis dapat sangat meningkatkan atau menghambat fungsi gastrointestinal lebih lanjut.
Pada ujung-ujung saraf simpatis yang berasal dari epitelium gastrointestinal atau dinding
usus dan mengirimkan serabut-serabut aferen ke kedua pleksus sistem enterik, dan (1) ke
ganglia prevertebra dari sistem saraf simpatis, (2) ke medula spinalis, dan (3) ke dalam saraf
vagus menuju ke batang otak. Saraf-saraf sensoris ini dapat mengadakan refleks-refleks lokal di
2

dalam dinding usus itu sendiri dan refleks-refleks lain yang disiarkan ke usus baik dari ganglia
prevertebra maupun dari daerah basal otak.
Jenis-Jenis Neurontransmiter yang Disekresi oleh Neuron-Neuron Enterik
Dalam usaha untuk lebih memahami berbagai fungsi sistem saraf enterik gastrointestinal,
para peneliti dari seluruh dunia telah mengidentifikasikan selusin atau lebih zat-zat
neurontransmiter yang berbeda yang dilepaskan oleh ujung-ujung saraf dari berbagai tipe neuron
enterik. Dua dari neurontransmiter yang telah kita kenal adalah (1) asetilkolin, dan
(2) norepinefrin. Yang lain adalah (3) adenosin trifosfat, (4) serotonin, (5) dopamin,
(6) kolisistokinin, (7) substansi P, (8) polipeptida intestinal vasoaktif, (9) somatostatin, (10) leuenkefalin, (11) metenkefalin, dan (12) bombesin. Fungsi-fungsi khusus dari banyak
neurontransmiter ini tidak terlalu dikenal untuk dibahas disini, selain pembahasan hal berikut:
Asetilkolin paling sering merangsang aktivitas gastrointestinal. Norepinefrin, hampir
selalu menghambat aktivitas gastrointestinal. Hal ini juga berlaku pada epinefrin, yang mencapai
traktus gastrointestinal terutama lewat aliran darah setelah disekresikan oleh medula adrenal ke
dalam sirkulasi. Substansi transmiter lain yang disebutkan tadi adalah gabungan dari bahanbahan eksitator dan inhibitor.
Asetilkolin (Ach) merupakan neurontransmiter yang dikeluarkan oleh semua serat
praganglion otonom, serat pascaganglion parasimpatis, dan neuron motorik.
Epinefrin hormon primer yang dikeluarkan oleh medula adrenal
Tempat pengeluaran Asetilkolin dan Norepinefrin
ASETILKOLIN
NOREPINEFRIN
Semua ujung (terminal) praganglion Sebagian besar ujung pascaganglion
system saraf otonom
simpatis
Semua ujung pascaganglion parasimpatis
Medulla adrenal
Ujung pascaganglion simpatis di kelenjanr Susunan saraf pusat
keringat dan sebagian pembuluh darah di
otot rangka
Ujung neuron aferen yang mempersarafi
otot rangka (neuron motorik)
Susunan saraf pusat

Pengaturan Otonom Traktus Gastrointestinal


Jalur saraf otonom terdiri dari suatu rantai dua neuron, dengan neurotransmitter terakhir
yang berbeda antara saraf simpatis dan parasimpatis. Setiap jalur saraf otonom yang berjalan
dari SSP ke suatu organ terdiri dari SSP ke suatu organ terdiri dari suatu rantai yang terdiri dari
dua neuron. Badan sel neuron yang pertama di rantai tersebut terletak di SSP. Aksonnya, serat
preganglion, bersinaps dengan badan sel neuron kedua, yang terdapat di dalam suatu ganglion di
luar SSP. Akson neuron kedua, serat pascaganglion, mempersarafi organ-organ efektor.
Sistem saraf otonom terdiri dari dua divisi-sistem simpatis dan parasimpatis. Serat-serat
saraf simpatis berasal dari daerah torakal dan lumbal korda spinalis. Sebagian besar serat
preganglion simpatis berukuran sangat pendek, bersinaps dengan badan sel neuron
pascaganglion didalam ganglion yang terdapat di rantai ganglion simpatis yang terletak di
kedua sisi korda spinalis. Serat pascaganglion panjang yang berasal dari rantai ganglion itu
berakhir di organ-organ efektor. Sebagian serat praganglion melewati rantai ganglion tanpa
membentuk sinaps dan kemudian berakhir di ganglion kolateral simpatis yang terletak disekitar
separuh jalan antara SSP dan organ-organ yang dipersarafi, dengan serat pascaganglion
menjalani jarak sisanya.
Serat-serat praganglion parasimpatis berasal dari daerah cranial dan sacral SSP. Seratserat ini berukuran lebih panjang dibandingkan dengan serat praganglion simpatis karena seratserat itu tidak terputus sampai mencapai ganglion terminal yang terletak di dalam atau dekat
dengan organ efektor. Serat-serat pascaganglion yang sangat pendek berakhir di sel-sel organ
yang bersangkutan itu sendiri.
Serat-serat praganglion simpatis dan parasimpatis mengeluarkan neurotransmitter yang
sama, yaitu asetilkolin (Ach), tetapi ujung-ujung pasca ganglion kedua system ini mengeluarkan
neurotransmitter yang berlainan (neurotransmitter yang mempengaruhi organ efektor). Seratserat pasca ganglion parasimpatis mengeluarkan asetilkolin. Dengan demikian, serat-serat itu
bersama dengan semua serat praganglion otonom, disebut serat kolinergik. Sebaliknya sebagian
besar
serat
pasca
ganglion
simpatis
disebut serat
adrenergic,
karena
mengeluarkan noradrenalin, lebih umum dikel sebagai norepinefrin. Baik asetilkolin maupun
norepinefrin juga berfungsi sebagai zat perantara kimiawi di bagian tubuh lainnya.
Persarafan Parasimpatis
Persarafan parasimpatis ke usus dibagi atas divisi kranial dan divisi sakral. Kecuali untuk
beberapa serabut parasimpatiske regio mulut dan faring dari saluran pencernaan, serabut
saraf parasimpatis kranial hampir seluruhnya di dalam saraf vagus. serabut-serabut ini memberi
inervasi yang yang luas pada esofagus, lambung, pankreas, dan sedikit usus sampai separuh
bagian pertama usus besar.
4

Parasimpatis sakral bersal darisegmen sakral kedua, ketiga, dan keempat dari medula
spinalis serta berjalan melalui saraf pelvis ke seluruh bagian distal usus besar dan sepanjang
anus. Arean sigmoid, rektum, dan anus diperkirakan mendapat persarafan parasimpatis yang
lebih baik daripada nagian usus yang lain. Fungsi serabut ini terutama untuk menjalankan reflak
defekasi.
Neuron-neuron postganglionik dari sistem parasimpatis gastrointestinal terletak terutama
di pleksus mienterikus dan pleksus submukosa. Perangsangan saraf parasimpatis ini
menimbulakan peningkatan umum dari aktivitas seluruh sistem saraf enterik. Hal ini kemudian
akan memperkuat aktivitas sebagian besar fungsi gastrointestinal.
Persarafan Simpatis
Serabut-serabut simpatis yang berjalan ke traktus gastrointestinal bersal dari medula
spinalis antara segmen T-5 dan L-2. Sebagian besar serabut preganglionik yang mempersarafi
usus, sesudah meninggalkan medula, memasuki rantai simpatis yang terlatak di sisi lateral
kolumna spinalis, dan banyak dari serabut ini kemudian berjalan melalui rantai ke ganglia yang
terletak jauh seperti ganglion seliaka dan berbagai ganglion mesenterica. Kabanyakan badan
neuron simpatik postganglionik berada di ganglia ini, dan serabut-serabut post ganglionik lalu
menyebar melalui saraf simpatis postganglionik ke semua bagian usus. Sistem simpatis pada
dasarnya menginervasi seluruh traktus gastrointestinal, tidak hanya meluas dekat dengan rongga
mulut dan anus, sebagaimana yang berlaku pada sistem parasimpatis. Ujung-ujung saraf simpatis
sebagian besar menyekresikan norepinefrin dan juga epinefrin dalam jumlah sedikit.
Pada umumnya, perangsangan sistem saraf simpatis menghambat aktivitas traktus
gastrointestinal, menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh
sistem parasimpatis. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1) pada tahap
yang kecil melalui pengaruh langsung sekresi norepinefrin untuk menghambat otot polos traktus
intestinal (kecuali otot mukosa yang tereksitasi oleh norepinefrin), dan (2) pada tahap yang besar
melalui pengaruh inhibisi dari norepinefrin pada neuron-neuron pada seluruh sistem saraf
enterik.
Perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menginhibisi peregerakan motor usus
begitu hebat sehingga dapat benar-benar menghentikan pergerakan makanan melalui traktus
gastrointestinal.

Efek sistem saraf otonom pada pada berbagai organ


ORGAN
Saluran
pencernaa
n

Jenis reseptor simpatis

, 2 (organ-organ)

Efek stimulasi simpatis

motilitas
(gerakan)

Efek
stimulasi
parasimpatis

motilitas

Alat Sediaan dan Bahan Kimia yang Diperlukan


1.
2.
3.
4.
5.

Kaki tiga + kawat kasa + pembakar Bunsen dengan pipa karet + statip
Gelas beker pireks 600 cc + tabung perfusi usus dengan klemnya
Pipa kaca bengkok untuk perfusi usus + balon rangkap + thermometer kimia
Pencatat gerakan usus + sinyal maknit + kawat listrik + kimograf rangkap
Sepotong usus halus dengan panjang 5 cm ( ini akan dibagikan oleh asisten yang
bertugas)
6. Larutan :
a. Locke biasa dan locke bersuhu 350 C
b. Epinefrin 1 : 10000
c. Locke tanpa kalsium
d. CaCl2 1 %
e. Asetilkolin 1 : 1.000.000
f. Pilokarpin 0.5 %
g. BaCl2 1 %
7. Es + Waskom
8.

Tata Kerja
Tata Kerja Praktikum
1. Susunlah alat menurut gambar
2. Hangatkan air dalam gelas beker pireks sehingga larutan locke di dalam tabung perfusi
mencapai suhu 350C
3. Mintalah sepotong usus halus kelinci kepada asisten yang bertugas
4. Pasang sediaan usus sebagai berikut:
a. Ikatkan dengan benang salah satu ujung sediaan usus pada ujung pipa gelas
bengkok
b. Ikatkan ujung yang lain pada pencatat usus. (usahakan dalam hal ini supaya
sediaan usus tidak terlampau teregang )
5. Alirkan udara kedalam larutan locke dalam tabung perfusi dengan memompa balon dan
mengatur klem, sehingga gelembung udara tidak terlalu menggoyangkan sediaan usus
yang telah dipasang itu. Selama percobaan, perhatikan suhu larutan locke dlaam tabung
perfusi yang harus di pertahankan pada suhu 350C, kecuali bila ada petunjuk-petunjuk
lain
6. P-V.1.1 apa tujuan pengaliran udara kedalam cairan perfusi? Agar gelembung udara
tidak terlalu menggoyangkan sediaan usus yang telah dipasang
7.
I. PengaruhEpinefrin
1. Catat 10 kerutan usus sebagai control pada tromol yang berputar lambat, tetapi setiap
kerutan masih tercatat terpisah
2. Catat waktunya dengan interval 5 detik
3. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 5 tetes larutan Epinefrin 1 : 10.000 kedalam cairan
perfusi
4. Teruskan pencatatan, sampai pengaruh epinefrin terlihat jelas.
P-V.1.2 Apa pengaruh epinefrindalam percobaan ini? Epinefrin menurunkan peristaltik
usus
5. Hentikan tromol dan cucilah sediaan usus untuk menghilangkan pengaruh epinefrin
sebagai berikut:
a. Pindahkan pembakar Bunsen, kaki tiga + kawat kasa dan gelas beker pireks dari
tabung perfusi
b. Letakkan sebuah Waskom dibawah tabung perfusi
c. Bukalah sumbat tabung perfusi sehingga cairan perfusi keluar sampai habis
d. Tutup kembali tabung perfusi, dan isilah dengan larutan Locke yang baru ( tidak
perlu yang bersuhu 35oC) dan besarkan aliran udara sehingga usus bergoyang
goyang.
e. Buka lagi sumbat untuk mengeluarkan larutan lockenya
f. Ulangi hal di atas 2 kali lagi, sehingga dapat dianggap sediaan usus telah bebas
dari pengaruh epinefrin
g. Sesudah selesei hal hal diatas, tutup kembali tabung perfusi, dan isila dengan
larutan
7

locke baru yang bersuhu 350 C ( disediakan ) serta atur kembali aliran udaranya.
h. Pasang kembali gelas beker pireks kaki tiga + kawat kasa dan pembakar Bunsen.
i.
II. PengaruhAsetilkolin
1. Catat 10 kerutan usus sebagai control
2. 2. Tampa menghentikan tromol, teteskan 2 tetes larutan asetilkolin 1: 1000000 beri tanda
saat penetesan.
3. Teruskan dengan pencatatan sampai pengaruh asetilkolin terlihat jelas.
4. Hentikan tromol dan cucilah sediaan usus untuk menghilangkan pengaruh asetilkolin
seperti pada ad I.
P-V.1.3 Apa pengaruh asetilkolin pada sediaan usus? Asetilkolin meningkatkan motilitas
usus
III. Pengaruh Ion Kalsium
1. Catat 10 kerutan usus sebagai control
2. 2. Hentikan tromol dan gantilah larutan locke dalam tabung perfusi dengan larutan locke
tanpa Ca yang bersuhu 350 C (disediakan )
3. Jalankan kembali tromol dan catatlah terus sampai kekurangan ion Ca terlihat jelas
4. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 1 tetes CaCl2 1% kedalam cairan perfusi, Beri
tanda saat penetesan.
5. Teruskan dengan pencatatan, sampai terjadi pemulihan. Bila pemulihan tidak sempurna,
gantikanlah cairan dalam tabung perfusi dengan cairan locke baru yang bersuhu 350 C.
P-V.1.4 Apa pengaruh kekurangan ion Ca2+ terhadap kerutan usus? Ion kalsium
meningkatkan motilitas usus.
IV. Pengaruh Pilokarpin
1. Catat 10 kerutan usus sebagai kontrol.
2. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 2 tetes larutan pilokarpin 0.5% kedalam cairan
perfusi. Beri tanda saat penetesan.
3. Teruskan dengan pencatatan, sehingga pengaruh pilokarpin terlihat jelas.
P-V.1.5. Apa pengaruh pilokarpin terhadap kerutan usus? Pilokarpin menurunkan
motilitas usus.
4. Hentikan tromol dan cucilah sediaan usus untuk menghilangkan pengaruh pilokarpin
seperti pada ad.14.
5.

V. Pengaruh Suhu
1. Catat 10 kerutan usus sebagai control pada suhu 350o C

2. Hentikan tromol dan turunkan suhu cairan perfusi sebanyak 50C dengan jalan
memindahkan pembakar Bunsen dan mengganti air hangat didalam Gekas pireks dengan
air biasa.
3. Segera setelah sampai suhu 300 C ,jalankan tromol kembali dan catatlah 10 kerutan usus.
4. Hentikan tromol lagi dan ulangi percobaan ini dengan setiap kali menurunkan suhu cairan
perfusi sebanyak 5 C, sampai tercatat 200 C dengan jalan memasukkan potonganpotongan es kedalam gelas beker pireks. Sangen demikian didapat pencatatan keaktifan
berturut-turut pada suhu 350 C, 300 C ,250 C dan 200 C.
5. Hentikan tromol perfusi dan naikkan suhu cairan perfusi sampai 350 C dengan jalan
mengganti air es didalam gelas beker pireks dengan air biasa kemudian memanasakan air
itu.
6. Segera setelah suhu mencapai 350 C, jalankan tromol kembali dan catatlah 10 kerutan
usus.
P-V.1.6 Apa pengaruh suhu pada keaktifan suhu? Suhu dingin menurunkan motilitas usus
Catatan :
Pengaruh suhu secara perlahan-lahan akan memberikan hasil yang memuaskan.
Penaikan suhu sehingga normal boleh dilakukan lebih cepat dari pada penurunan suhu.
Koefisien suhu untuk setiap perbedaan 100C (Q10) Merupakan perbandingan
antara frekuensi pada (t0 100 ) Sebagai berikut :
Frekuensi pada t0
Q10 = ---------------------------------Frekuensi pada (t0 100 )
Tetapi pengukuran yang paling baik ialah dengan membandingkan kerja (Work Output)
pada t0 dengan kerja pada (t0 100 )
Menurut ilmu pesawat :
Kerja = Jarak x Beban
Oleh karena beban disini dianggap selalu sama (yaitu berat alat pencatat), maka yang
diperbandingkan disini ialah jarak yaitu : frekuensi per menit x amplitudo rata-rata, sehingga :
Frekuensi / menit x amplitudo rata-rata pada t0
Q = --------------------------------------------------------------Frekuensi / menit x amplitudo rata-rata (t0 100 )
10

Ini akan memberikan gambaran mengenai perbandingan kerja pada t 0 dengan kerja pada suhu (t0
100 ).

VI. Pengaruh Ion Barium


1. Catat 10 kerutan usus sebagai kontrol.
9

2. Tanpa menghentikan tromol, teteskan 1 tetes larutan BaCL2 1 % kedalam cairan


perfusi. Bila 1 tetes tidak memberikan hasil setelah 5-10 kerutan, lanjutkan penambahan
BaCI2 tetes demi tetes yang diberikan setiap setiap sesudah 5-10 kerutan yang tidak
jelas.
P-V.1.7 Apa pengaruh yang diharapkan terjadi pada penambahan larutan BaCL2? Ion
barium meningkatkan motilitas usus.
Hasil Praktikum
1. Pemberian Epinefrin
Dari hasil praktikum diatas dapat terlihat bahwa dengan pemberian larutan epinefrin akan
menghasilkan penurunan frekuensi dan amplitudo jika dibandingkan dengan kontrolnya
Hal ini dapat terjadi karena epinefrin memberikan efek simpatis pada otot usus sehingga
menghasilkan penurunan motilitas usus.
2. Pemberian Asetilkolin
Pada pemberian larutan asetilkolin akan terlihat adanya peningkatan frekuensi dan
amplitudo dari peregangan usus. Karena asetilkolin merupakan neurotransmitter yang
dihasilkan pada pasca ganglion saraf parasimpatis yang berpengaruh terhadap
peningkatan motilitas usus.
3. Pemberian Ion Kalsium
Terjadi peningkatan frekuensi kerutan usus.
4. Pemberian Pilokarpin
Terjadi penurunan frekuensi kerutan usus.
5. Pemberian Es
Semakin menurun suhu semakin menurun frekuensi dan amplitudo kerutan usus.
6. Pemberian Ion Barium
Terjadi peningkatan frekuensi dan amplitudo kerutan usus.
Kesimpulan
Kerja saraf simpatis pada saluran cerna adalah menghambat kerja otot polos serta menghambat
pergerakan makanan.
Saraf parasimpatis adalah untuk peningkatan umum dari seluruh aktivitas system saraf enteric
dan meningkatkan pula kegiatan otot polos saluran cerna

Daftar Pustaka
Despopoulos. Agamemnon. Stefan Sibernagl. Color atlas of physiology. 5th Edition. New York;
Thieme Stuttgart. 2003

10

Dorland, N. Kamus kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta; EGC. 2002


Ganong, WF. Review of medical physiology. 20th Edition. USA; McGraw-Hill. 2001
Guyton, AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta; EGC. 2007
Sherwood, L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 2. Jakarta; EGC. 2001

11