Anda di halaman 1dari 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sabun
2.1.1 Pengertian Sabun
Sabun adalah bahan yang digunakan untuk mencuci dan mengemulsi,
terdiri dari dua komponen utama yaitu asam lemak dengan rantai karbon C16 dan
sodium atau potasium. Sabun merupakan pembersih yang dibuat dengan reaksi
kimia antara kalium atau natrium dengan asam lemak dari minyak nabati atau
lemak hewani. Sabun yang dibuat dengan NaOH dikenal dengan sabun keras
(hard soap), sedangkan sabun yang dibuat dengan KOH dikenal dengan sabun
lunak (soft soap). Sabun dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan
proses netralisasi minyak. Proses saponifikasi minyak akan memperoleh produk
sampingan yaitu gliserol, sedangkan proses netralisasi tidak akan memperoleh
gliserol. Proses saponifikasi terjadi karena reaksi antara trigliserida dengan alkali,
sedangkan proses netralisasi terjadi karena reaksi asam lemak bebas dengan alkali
(Qisti, 2009).
Sabun merupakan senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti
natrium stearat, C17H35COO-Na+. Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan
dari kekuatan pengemulsian dan kemampuan menurunkan tegangan permukaan
dari air. Konsep ini dapat di pahami dengan mengingat kedua sifat dari anion
sabun (Achmad, 2004).

4
Universitas Sumatera Utara

2.1.2 Komposisi Sabun


Sabun konvensional yang dibuat dari lemak dan minyak alami dengan
garam alkali serta sabun deterjen saat ini yang dibuat dari bahan sintetik,
biasanya mengandung surfaktan, pelumas, antioksidan, deodorant, warna,
parfum, pengontrol pH, dan bahan tambahan khusus.
a. Surfaktan
Surfaktan adalah molekul yang memiliki gugus polar yang suka air
(hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sehingga dapat
memperasatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air yang bekerja
menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan merupakan bahan terpenting dari
sabun. Lemak dan minyak yang dipakai dalam sabun berasal dari minyak kelapa
(asam lemak C12), minyak zaitun (asam lemak C16-C18), atau lemak babi.
Penggunaan bahan berbeda menghasilkan sabun yang berbeda, baik secara fisik
maupun kimia. Ada sabun yang cepat berbusa tetapi terasa airnya kasar dan tidak
stabil, ada yang lambat berbusa tetapi lengket dan stabil. Jenis bahan surfaktan
pada syndet dewasa ini mencapai angka ribuan (Anonima, 2013; Wasitaatmadja,
1997).
b. Pelumas
Untuk menghindari rasa kering pada kulit diperlukan bahan yang tidak saja
meminyaki kulit tetapi juga berfungsi untuk membentuk sabun yang lunak, misal:
asam lemak bebas, fatty alcohol, gliserol, lanolin, paraffin lunak, cocoa butter,
dan minyak almond, bahan sintetik ester asam sulfosuksinat, asam lemak
isotionat, asam lemak etanolamid, polimer JR, dan carbon resin (polimer akrilat).
5
Universitas Sumatera Utara

Bahan-bahan selain meminyaki kulit juga dapat menstabilkan busa dan berfungsi
sebagai peramas (plasticizers) (Wasitaatmadja, 1997).
c. Antioksidan dan Sequestering Agents
Antioksidan adalah senyawa atau zat yang dapat menghambat, menunda,
mencegah, atau memperlambat reaksi oksidasi meskipun dalam konsentrasi yang
kecil. Untuk menghindari kerusakan lemak terutama bau tengik, dibutuhkan
bahan penghambat oksidasi, misalnya stearil hidrazid dan butilhydroxy toluene
(0,02%-0,1%). Sequestering Agents dibutuhkan untuk mengikat logam berat yang
mengkatalis oksidasi EDTA. EHDP (ethanehidroxy-1-diphosphonate) (Anonimb,
2013; Wasitaatmadja, 1997).
d. Deodorant
Deodorant adalah suatu zat yang digunakan untuk menyerap atau
mengurangi bau menyengat. Deodorant dalam sabun mulai dipergunakan sejak
tahun 1950, namun oleh karena khawatir efek samping, penggunaannya dibatasi.
Bahan yang digunakan adalah TCC (trichloro carbanilide) dan 2-hidroxy 2,4,4trichlodiphenyl ester (Anonimc, 2013; Wasitaatmadja, 1997).
e. Warna
Kebanyakan sabun toilet berwarna cokelat, hijau biru, putih, atau krem.
Pewarna sabun dibolehkan sepanjang memenuhi syarat dan peraturan yang ada,
pigmen yang digunakan biasanya stabil dan konsentrasinya kecil sekali (0,010,5%). Titanium dioksida 0,01% ditambahkan pada berbagai sabun untuk

6
Universitas Sumatera Utara

menimbulkan efek berkilau. Akhir-akhir ini dibuat sabun tanpa warna dan
transparan (Wasitaatmadja, 1997).
f. Parfum
Isi sabun tidak lengkap bila tidak ditambahkan parfum sebagai pewangi.
Pewangi ini harus berada dalam pH dan warna yang berbeda pula. Setiap pabrik
memilih bau dan warna sabunbergantung pada permintaan pasar atau masyarakat
pemakainya. Biasanya dibutuhkan wangi parfum yang tidak sama untuk
membedakan produk masing-masing (Wasitaatmadja, 1997).
g. Pengontrol pH
Penambahan asam lemak yang lemah, misalnya asam sitrat, dapat
menurunkan pH sabun (Wasitaatmadja, 1997).
h. Bahan tambahan khusus
Menurut Wasitaatmadja (1997), berbagai bahan tambahan untuk memenuhi
kebutuhan pasar, produsen, maupun segi ekonomi dapat dimasukkan ke dalam
formula sabun. Dewasa ini dikenal berbagai macam sabun khusus, misalnya:
1. Superfatty yang menambahkan lanolin atau paraffin.
2. Transparan yang menambahkan sukrosa dan gliserin.
3. Deodorant, yang menambahkan triklorokarbon, heksaklorofen, diklorofen,
triklosan, dan sulfur koloidal.
4. Antiseptik (medicated = carbolic) yang menambahkan bahan antiseptic,
misalnya: fenol, kresol, dan sebagainya.
5. Sabun bayi yang lebih berminyak, pH netral, dan noniritatif.

7
Universitas Sumatera Utara

6. Sabun netral, mirip dengan sabun bayi dengan konsentrasi dan tujuan yang
berbeda.
7. Apricot, dengan sabun menambahkan apricot atau monosulfiram.
2.1.3 Fungsi Sabun
Fungsi sabun dalam anekaragam cara adalah sebagai bahan pembersih.
Sabun menurunkan tegangan permukaan air, sehingga memungkinkan air itu
membasahi bahan yang dicuci dengan lebih efektif, sabun bertindak sebagai suatu
zat pengemulsi untuk mendispersikan minyak dan gemuk; dan sabun teradsorpsi
pada butiran kotoran (Keenan, 1980).
Kotoran yang menempel pada kulit umumnya adalah minyak, lemak dan
keringat. Zat-zat ini tidak dapat larut dalam air karena sifatnya yang non polar.
Sabun digunakan untuk melarutkan kotoran-kotoran pada kulit tersebut. Sabun
memiliki gugus non polar yaitu gugus R yang akan mengikat kotoran, dan gugus
COONa yang akan mengikat air karena sama-sama gugus polar. Kotoran tidak
dapat lepas karena terikat pada sabun dan sabun terikat pada air (Qisti, 2009).
2.1.4 Efek Samping Sabun pada Kulit
Sabun digunakan untuk membersihkan kotoran pada kulit baik berupa
kotoran yang larut dalam air maupun yang larut dalam lemak. Namun dengan
penggunaan sabun kita akan mendapatkan efek lain pada kulit, pembengkakan
dan

pengeringan

kulit,

denaturasi

protein

dan

ionisasi,

antimikrobial,

antiperspiral, dan lain sebagainya (Wasitaatmadja, 1997).

8
Universitas Sumatera Utara

a. Daya Alkalinisasi Kulit


Daya alkalinisasi sabun dianggap sebagai faktor terpenting dari efek
samping sabun. Reaksi basa yang terjadi pada sabun konvensional yang
melepaskan ion OH sehingga pH larutan sabun ini berada antara 9-12 dianggap
sebagai penyebab iritasi pada kulit. Bila kulit terkena cairan sabun, pH kulit akan
naik beberapa menit setelah pemakaian meskipun kulit telah dibilas dengan air.
Pengasaman kembali terjadi setelah 5-10 menit, dan setelah 30 menit pH kulit
menjadi normal kembali. Alkalinisasi dapat menimbulkan kerusakan kulit bila
kontak berlangsung lama, misalnya pada tukang cuci, dokter, pembilasan tidak
sempurna, atau pH

sabun yang sangat tinggi. Efek alkalinisasi pada sabun

sintetik sudah jauh berkurang karena sabun sintetik memakai berbagai bahan
yang tidak alkalis. Berbagai penelitian mengenai daya iritasi sabun pada kulit
akibat pH sabun yang tinggi telah banyak dilakukan. Pada tahun-tahun terakhir
beberapa peneliti membuktikan bahwa sifat iritasi sabun berada di kulit setelah
dibilas dan bagaimana absorpsi kulit terhadap sabun (Wasitaatmadja, 1997).
b. Daya Pembengkakan dan Pengeringan Kulit
Kontak air (pH) pada kulit yang lama akan menyebabkan lapisan tanduk
kulit membengkak akibat kenaikan permeabilitas kulit terhadap air. Cairan yang
mengandung sabun dengan pH alkalis akan mempercepat hilangnya mantel asam
pada lemak kulit permukaan sehingga pembengkakan kulit akan terjadi lebih
cepat. Marchionini dan Schade (1928), yang meneliti hal tersebut menyatakan
bahwa kelenjar minyak kulit berperan dalam membentuk keasaman kulit dengan
pembentukan lapisan lemak permukaan kulit yang agak asam. Seperti air dan

9
Universitas Sumatera Utara

sabun, deterjen sintetik juga dapat mengganggu lapisan lemak permukaan kulit
yang agak asam. Seperti air dan sabun, deterjen sintetik juga dapat mengganggu
lapisan lemak permukaan kulit dalam kapasitas yang lebih kecil. Besarnya
kerusakan lapisan lemak kulit yang terjadi bergantung pada: temperatur,
konsentrasi, waktu kontak, dan tipe kulit pemakai. Kerusakan lapisan lemak kulit
dapat meningkatkan permeabilitas kulit sehingga mempermudah benda asing
menembus ke dalamnya. Bergantung pada lama kontak dan intensitas
pembilasan, maka cairan sabun dapat diabsorpsi oleh lapisan luar kulit sehingga
dapat tetap berada di dalam kulit sesudah dibilas. Kerusakan lapisan lemak kulit
dapat menambah kekeringan kulit akibat kegagalan sel kulit mengikat air.
Pembengkakan kulit inisial akan menurunkan pula kapasitas sel untuk menahan
air sehingga kemudian terjadi pengeringan yang akan diikuti oleh kekenduran dan
pelepasan ikatan antarsel tanduk kulit. Kulit tampak kasar dan tidak elastis.
Terjadi pula peningkatan permeabilitas stratum korneum terhadap larutan kimia
yang iritan. Inilah yang sering dirasakan pada kulit oleh mereka yang sering dan
lama berhubungan dengan deterjen (rasa deterjen). Penambahan sabun/deterjen
dengan

bahan-bahan

pelumas

(superfatty)

dapat

mengurangi

efek

ini

(Wasitaatmadja, 1997).
c. Daya Denaturasi Protein dan Ionisasi
Reaksi kimia sabun dapat mengendapkan ion kalsium (K) dan magnesium
(Mg) di lapisan atas kulit. Pada kulit yang kehilangan lapisan tanduk,
pengendapan K+ dan Mg+ akan mengakibatkan reaksi alergi. Pengendapan K+ dan
Mg+ di atas lapisan epidermis akan menutup folikel rambut dan kelenjar palit

10
Universitas Sumatera Utara

sehingga menimbulkan infeksi oleh kuman yang larut dalam minyak. Berbeda
dengan sabun, deterjen sintetik tidak menimbulkan pengendapan itu, namun
iritasi kulit dapat terjadi karena adanya gugus SH akibat denaturasi keratin. Pada
keratin normal tidak ada gugus merkapto (SH) bebas, dan adanya deterjen dapat
melepas gugus ini dari sistein dan sistin (Wasitaatmadja, 1997).
d. Daya Antimikrobial
Sabun yang mengandung surfaktan, terutama kation, mempunyai daya
antimikroba, apalagi bila ditambah bahan antimikroba. Daya antimikroba ini
terjadi pula akibat kekeringan kulit, pembersihan kulit, oksidasi di dalam sel
keratin, daya pemisah surfaktan, dan kerja mekanisme air (Wasitaatmadja, 1997).
e. Daya Antiperspirasi
Kekeringan kulit juga dibantu oleh penekanan perspirasi. Pada percobaan
dengan larutan natrium lauril sulfat, didapat penurunan produksi kelenjar keringat
antara 25-75% (Wasitaatmadja, 1997).
f.

Lain-lain
Efek samping lain berupa dermatitis kontak iritan, dermatitis kontak

alergik, atau kombinasi keduanya. Sabun merupakan iritan lemah. Penggunaan


yang lama dan berulang akan menyebabkan iritasi, biasanya mulai di bawah
cincin yang tidak dicuci bersih, dan terjadi di dalam rumah tangga, bartender,
hairdresser, sehingga disebut sebagai soap atau housewife contact dermatitis.
Pembuktian efek iritasi sering kontroversial. Uji tempel konvensional dengan
larutan sabun tidak adekuat sebab menimbulkan reaksi eritema monomorfik

11
Universitas Sumatera Utara

dengan intensitas yang bervariasi. Reaksi alergi terhadap deterjen sintetik lebih
jarang, lebih mungkin terjadi secara kumulatif akibat penggunaan yang berulang
pada kulit yang sensitif (Wasitaatmadja, 1997).
2.1.5 Proses Pembuatan Sabun
Sabun dapat dibuat melalui dua proses, yaitu:
1. Saponifikasi
Saponifikasi melibatkan hidrolisis ikatan ester gliserida yang menghasilkan
pembebesan asam lemak dalam bentuk garam dan gliserol. Garam dari asam
lemak berantai panjang adalah sabun (Stephen, 2004).
Reaksi kimia pada proses saponifikasi adalah sebagai berikut:

2. Netralisasi
Netralisasi adalah proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak
atau lemak, dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau
pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (Ketaren, 2008).
Reaksi kimia pada proses saponifikasi adalah sebagai berikut:

12
Universitas Sumatera Utara

2.2 Sabun Mandi Padat


2.2.1 Pengertian Sabun Mandi Padat
Sabun mandi merupakan garam logam alkali (Na) dengan asam lemak dan
minyak dari bahan alam yang disebut trigliserida. Lemak dan minyak mempunyai
dua jenis ikatan, yaitu ikatan jenuh dan ikatan tak jenuh dengan atom karbon 8-12
yang berikatan ester dengan gliserin. Secara umum, reaksi antara kaustik dengan
gliserol dan sabun yang disebut dengan saponifikasi. Setiap minyak dan lemak
mengandung asam-asam lemak yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut
menyebabkan sabun yang terbentuk mempunyai sifat yang berbeda. Minyak
dengan kandungan asam lemak rantai pendek dan ikatan tak jenuh akan
menghasilkan sabun cair. Sedangkan rantai panjang dan jenuh menghasilkan
sabun yang tak larut pada suhu kamar (Andreas, 2009).
Sabun mandi merupakan senyawa natrium atau kalium dengan asam
lemak yang digunakan sebagai bahan pembersih tubuh, berbentuk padat, berbusa,
dengan atau penambahan lain serta tidak menyebabkan iritasi pada kulit (SNI,
1994).
Menurut Keenan (1980), dalam pembuatan sabun, lemak dipanasi dalam
ketel besi yang besar dengan larutan natrium hidroksida dalam air, sampai lemak
itu terhidrolisis sempurna. Pereaksi semacam itu sering disebut penyabunan
(latin, sapo adalah sabun), karena reaksi itu telah digunakan sejak zaman Romawi
kuno untuk mengubah lemak dan minyak menjadi sabun. Persamaan untuk reaksi
itu adalah:
(RCO2)3C3H3 + 3NaOH
Lemak

3RCO2Na + C3H5(OH)3

Basa

Sabun

Gliserol

13
Universitas Sumatera Utara

Jika lemak/minyak dihidrolisis, akan terbentuk gliserol dan asam lemak


yang dengan adanya Na(NaOH) akan terbentuk sabun karena sabun merupakan
garam Na atau K dari asam lemak. Sabun Na dan K larut dalam air, sedangkan
Ca dan Mg tidak larut. Sabun Na (sabun keras) digunakan untuk mencuci dan
sabun K (sabun lunak) digunakan untuk sabun mandi (Panil, 2008).
2.2.2 Syarat Mutu Sabun Mandi
Syarat mutu sabun mandi menurut Standar Nasional Indonesia 06-32351994 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Syarat Mutu Sabun Mandi
No.

Uraian

Satuan

Tipe I

Tipe II

Superfat

1.

Kadar air

maks. 15

maks. 15

maks. 15

2.

Jumlah asam

> 70

64 70

> 70

maks. 0,1

maks. 0,1

maks. 0,1

maks. 0,14

maks. 0,14

maks. 0,14

< 2,5

< 2,5

2,5 7,5

negatif

negatif

Negatif

lemak
3.

Alkali bebas
-

Dihitung
sebagai NaOH

Dihitung
sebagai KOH

4.

Asam lemak bebas


dan atau lemak
netral

5.

Minyak mineral

Acuan SNI 06-3235-1994


1. Kadar Air
Kadar air merupakan bahan yang menguap pada suhu dan waktu tertentu.
Maksimal kadar air pada sabun adalah 15%, hal ini disebabkan agar sabun yang

14
Universitas Sumatera Utara

dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien dalam pemakaian dan sabun tidak
mudah larut dalam air. Kadar air akan mempengaruhi kekerasan dari sabun
(Qisti, 2009).
2. Jumlah Asam Lemak
Jumlah asam lemak merupakan jumlah total seluruh asam lemak pada
sabun yang telah atau pun yang belum bereaksi dengan alkali. Sabun yang
berkualitas baik mempunyai kandungan total asam lemak minimal 70%, hal ini
berarti bahan-bahan yang ditambahkan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan
sabun kurang dari 30%. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi proses
pembersihan kotoran berupa minyak atau lemak pada saat sabun digunakan.
Bahan pengisi yang biasa ditambahkan adalah madu, gliserol, waterglass, protein
susu dan lain sebagainya. Tujuan penambahan bahan pengisi untuk memberikan
bentuk yang kompak dan padat, melembabkan, menambahkan zat gizi yang
diperlukan oleh kulit (Qisti, 2009).
3. Alkali Bebas
Alkali bebas merupakan alkali dalam sabun yang tidak diikat sebagai
senyawa. Kelebihan alkali bebas dalam sabun tidak boleh lebih dari 0,1% untuk
sabun Na, dan 0,14% untuk sabun KOH karena alkali mempunyai sifat yang
keras dan menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali bebas pada sabun
dapat disebabkan karena konsentrasi alkali yang pekat atau berlebih pada proses
penyabunan. Sabun yang mengandung alkali tinggi biasanya digunakan untuk
sabun cuci (Qisti, 2009).

15
Universitas Sumatera Utara

4. Asam Lemak Bebas


Asam lemak bebas merupakan asam lemak pada sabun yang tidak terikat
sebagai senyawa natrium atau pun senyawa trigliserida (lemak netral). Tingginya
asam lemak bebas pada sabun akan mengurangi daya membersihkan sabun,
karena asam lemak bebas merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam
proses pembersihan. Sabun pada saat digunakan akan menarik komponen asam
lemak bebas yang masih terdapat dalam sabun sehingga secara tidak langsung
mengurangi kemampuannya untuk membesihkan minyak dari bahan yang
berminyak (Qisti, 2009).
5. Minyak Mineral
Minyak mineral merupakan zat atau bahan tetap sebagai minyak, namun
saat penambahan air akan terjadi emulsi antara air dan minyak yang ditandai
dengan kekeruhan. Minyak mineral adalah minyak hasil penguraian bahan
organik oleh jasad renik yang terjadi berjuta-juta tahun. Minyak mineral sama
dengan minyak bumi beserta turunannya. Contoh minyak mineral adalah: bensin,
minyak tanah, solar, oli, dan sebagainya. Kekeruhan pada pengujian minyak
mineral dapat disebabkan juga oleh molekul hidrokarbon dalam bahan (Qisti,
2009).
2.3 Alkali Bebas
2.3.1 Pengertian Alkali Bebas
Alkali bebas merupakan alkali dalam sabun yang tidak diikat sebagai
senyawa. Kelebihan alkali bebas dalam sabun tidak boleh lebih dari 0,1% untuk

16
Universitas Sumatera Utara

sabun Na dan 0,14% untuk sabun KOH karena alkali mempunyai sifat yang keras
dan menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali bebas pada sabun dapat
disebabkan karena konsentrasi alkali yang pekat atau berlebih pada proses
penyabunan. Sabun yang mengandung alkali tinggi biasanya digunakan untuk
sabun cuci (Qisti, 2009).
Mutu sabun sangat ditentukan oleh kadar alkali bebas di dalamnya. Jika
terlalu basa alkali bebas dapat merusak kulit bila dipakai. Oleh karena itu, kadar
alkali bebasnya tidak boleh lebih dari 0,1% untuk sabun Na dan 0,14% untuk
sabun KOH. Kadar alkali bebas juga dapat dipakai sebagai indikator dari tidak
sempurnanya proses penyabunan (Nandawai, 2009).
2.3.2 Efek Samping Alkali pada Kulit
Alkali juga dapat merusak kulit dibandingkan dengan menghilangkan
bahan berminyak dari kulit. Sungguh pun demikian dalam penggunaan sabun
dengan air akan terjadi proses hidrolis sehingga mendapatkan sabun yang baik
maka diukur sifat alkalisnya yakni pH 5,8-10,5. Pada kulit yang normal
kemungkinan pengaruh alkali lebih banyak. Beberapa penyakit kulit sensitif
terhadap reaksi alkalis, dalam hal ini pemakaian cairan sabun merupakan kontra
indikasi. pH kulit normal antara 3-6, tetapi bila dicuci dengan sabun pH menjadi
9, walaupun kulit cepat bertukar kembali menjadi normal mungkin ini tidak
diinginkan pada penyakit kulit tertentu (Sari, 2003).

17
Universitas Sumatera Utara

2.3.3 Kandungan Alkali pada Sabun


Kandungan alkali yang cukup besar menandakan bahwa produk sabun
yang dihasilkan memiliki kualitas yang kurang baik, karena semakin besar
kandungan / kadar alkali dalam produk sabun yang dihasilkan maka kualitas
produk yang dihasilkan pun semakin menurun kualitasnya. Akan tetapi, produk
sabun yang bebas alkali pun tidak berarti bahwa kualitasnya lebih baik. Sabun
yang bebas alkali justru dapat menyebabkan kerusakan kulit (Zaelana, 2011).
2.4 Metode Titrimetri
Titrimetri atau analisis volumetri adalah pemeriksaan jumlah zat yang
didasarkan pada pengukuran volume larutan pereaksi yang dibutuhkan untuk
bereaksi secara stoikiometri dengan zat yang ditentukan (Rivai, 1995).
2.4.1 Penggolongan Titrimetri
Analisis secara titrimetri (volumetri) dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Berdasarkan reaksi kimia
Berdasarkan reaksi yang terjadi selama titrasi, volumetri dapat
dikelompokkan menjadi 4 jenis:
1. Reaksi asam-basa (asidi-alkalimetri = netralisasi)
Penetapan kadar ini berdasarkan pada perpindahan proton dari zat
yang bersifat asam atau basa, baik dalam lingkungan air ataupun dalam
lingkungan bebas air (TBA = titrasi bebas air).

18
Universitas Sumatera Utara

2. Reaksi oksidasi-reduksi (redoks)


Dasar yang digunakan adalah perpindahan elektron. Penetapan kadar
senyawa

berdasarkan

permanganometri,

reaksi

ini

serimetri,

digunakan

secara

iodi-iodometri,

luas

iodatometri,

seperti
serta

bromatometri.
3. Reaksi pengendapan (presipitasi)
Penetapan kadar berdasarkan pada terjadinya endapan yang sukar larut
misalnya pada penetapan kadar secara argentometri.
4. Reaksi pembentukan kompleks
Dasar yang digunakan adalah terjadinya reaksi antara zat-zat
pengkompleks organik dengan ion logam menghasilkan senyawa
kompleks yang mantap. Penetapan kadar yang menggunakan prinsip ini
adalah metode kompleksometri.
b. Berdasarkan cara titrasi
Teknik volumetri berdasarkan cara titrasinya dapat dikelompokkan
menjadi:
1. Titrasi langsung
Cara ini dilakukan dengan melakukan titrasi langsung terhadap zat
yang akan ditetapkan. Cara ini mudah, cepat, dan sederhana.
2. Titrasi kembali
Dilakukan dengan cara penambahan titran dalam jumlah berlebihan,
kemudian kelebihan titran dititrasi dengan titran lain. Pada cara ini ada 2
sumber kesalahan karena menggunakan 2 titran sehingga kesalahan

19
Universitas Sumatera Utara

menjadi lebih besar. Disamping itu cara ini juga memakan waktu yang
lama.
c. Berdasarkan jumlah sampel
Menurut Rohman (2007), berdasarkan jumlah sampel, teknik volumetri
dibedakan menjadi:
1. Titrasi makro
-

Jumlah sampel

: 100 1000 mg

Volume titran

: 10 100 ml

Ketelitian buret

: 0,02 ml

2. Titrasi semi mikro


-

Jumlah sampel

: 10 100 mg

Volume titran

: 1 10 ml

Ketelitian buret

: 0,001 ml

3. Titrasi mikro
-

Jumlah sampel

: 1 100 mg

Volume titran

: 0,1 1 ml

Ketelitian buret

: 0,001 ml

2.4.2 Asidimetri-Alkalimetri
Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara
ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa
untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan
sebagai reaksi antara donor proton (asam) dengan penerima proton (basa)
(Rohman, 2007).

20
Universitas Sumatera Utara

Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap


senyawa-senyawa yang bersifat basa dengan menggunakan baku asam.
Sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar senyawa-senyawa yang bersifat
asam dengan menggunakan baku basa (Rohman, 2007).
Titrasi Langsung Asam-Basa Dalam Larutan Air
1. Titrasi asam kuat/basa kuat
Pada awal titrasi perubahan nilai pH berlangsung lambat sampai
menjelang titik ekivalen. Pada saat titik ekivalen, nilai pH meningkat secara
drastis. Untuk mengamati titik akhir titrasi dapat digunakan indicator atau
menggunakan metode elektrokimia.
Suatu indikator merupakan asam atau basa lemah yang berubah warna
diantara bentuk terionisasinya dan bentuk tidak terionisasinya. Kisaran
penggunaan indikator adalah 1 unit pH disekitar nilai pKa-nya. Sebagai contoh
fenolftalein (pp), mempunyai pKa 9,4 (perubahan warna antara pH 8,4 10,4).
Struktur fenolftalein akan mengalami penataan ulang pada kisaran pH ini karena
proton dipindahkan dari struktur fenol dari pp sehingga pH-nya meningkat
akibatnya akan terjadi perubahan warna. Metil orange (MO) mempunyai pKa 3,7
(perubahan warna antara pH 2,7 dan pH 4,7), mengalami hal yang serupa terkait
dengan perubahan warna yang tergantung pada pH. Kedua indikator ini berada
pada kisaran titik balik (titik infeksi) pada titrasi asam kuat dan basa kuat.
2. Titrasi asam lemah dengan basa kuat dan titrasi basa lemah dengan asam kuat
Jika sejumlah kecil volume asam kuat atau basa kuat ditambahkan pada
basa lemah atau asam lemah maka nilai pH akan meningkat secara drastis sekitar

21
Universitas Sumatera Utara

1 unit pH, di bawah atau di atas nilai pKa. Seringkali pelarut organik yang dapat
campur dengan air, seperti etanol ditambahkan untuk melarutkan analit sebelum
dilakukan titrasi.
3. Titrasi tidak langsung dalam pelarut air
Titrasi tidak langsung ini dapat dilakukan untuk titrasi asam kuat/basa
kuat, titrasi asam lemah dengan basa kuat, ataupun titrasi basa lemah dengan
asam kuat. Contoh yang paling umum dilakukan adalah titrasi asam lemah
dengan basa kuat (Rohman, 2007; Watson, 2009).

22
Universitas Sumatera Utara