Anda di halaman 1dari 42

BAB I

REKAM MEDIK
1.1

1.2

Identifikasi Pasien
Nama

: An. RI

Umur

: 11 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status Perkawinan

: Belum kawin

Agama

: Islam

Alamat

Kebangsaan

: Indonesia

NO RM

: 874009

Lrg. Sikam 2, No. 135 A, Kalidoni, Palembang

Anamnesis (Alloanamnesis pada tanggal 23 Februari 2015)


Keluhan Utama : Pasien ingin memasang kawat gusi dengan riwayat bibir
sumbing sejak lahir.
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak lahir, penderita memiliki celah pada bibir, gusi dan langit - langit
mulutnya. Pasien sering tersedak jika makan atau minum, keluar air dari
hidung (+), tidak bisa menyusu pada ibu, maupun menggunakan dot.
Riwayat trauma (-), pasien lalu dibawa berobat ke RSMH Palembang.
Di RSMH Palembang pasien kemudian di operasi sebanyak 5 kali.
Operasi pertama pada saat usia 1 tahun 2 bulan, operasi ke dua usia 6
tahun, operasi ke tiga usia 7 tahun, operasi ke empat 8 tahun 4 bulan,
operasi terakhir usia 8 tahun 7 bulan.
Setelah operasi terakhir, masih didapatkan sedikit celah pada langit
langit mulut, pasien masih sering tersedak jika makan dan minum, keluar

air dari hidung jika berkumur, bicara sengau, dan pelafalan bicara kurang
jelas. Pasien kemudian dikonsulkan kepada bagian gigi dan mulut untuk
pemasangan kawat gusi sebelum dilakukan operasi penanaman tulang
pada langit langit mulutnya.
a. Riwayat Penyakit atau Kelainan Sistemik
Penyakit atau Kelainan Sistemik

Ad

Disangkal

a
Alergi : debu, dingin
Penyakit Jantung
Penyakit Tekanan Darah Tinggi
Penyakit Diabetes Melitus
Penyakit Kelainan Darah
Penyakit Hepatitis A/B/C/D/E/F/G/H
Kelainan Hati Lainnya
HIV/ AIDS
Penyakit Pernafasan/paru
Kelainan Pencernaan
Penyakit Ginjal
Penyakit / Kelainan Kelenjar ludah
Epilepsy

b. Riwayat Penyakit Dahulu


Penderita didiagnosis Labiognatopalatoscizis bilateral komplit sejak lahir.
c. Riwayat Penyakit Gigi dan Mulut Sebelumnya
-

Penderita belum pernah melakukan perawatan gigi sebelumnya.

d. Riwayat Kebiasaan
-

Penderita suka mengkonsumsi permen.

Penderita menyikat gigi 1x-2x sehari.

1.3

Pemeriksaan Fisik
a. Status Umum Pasien
1. Konsultasi

: Pasien ingin memasang kawat gusi

dengan riwayat bibir sumbing


2. Keadaan Umum Pasien

: Kompos Mentis

3. Berat Badan

: 36 kg

4. Tinggi Badan

: 140 cm

5. Vital Sign
-

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

RR

: 24 x/menit

: 36,7 0C

b. Pemeriksaan Ekstra Oral


-

Wajah

: simetris

Mata

: simetris, RC +/+, 3mm/3mm

Hidung

: simetris

Bibir

: tampak scar operasi labioplasti

KGB

: kanan dan kiri tidak teraba dan tidak terasa sakit

TMJ

: Tidak ada dislokasi dan clicking

c. Pemeriksaan Intra Oral


-

Protrusi

: ada, maksillaris 10mm

Debris

: ada, minimal

Plak

: tidak ada

Kalkulus

: ada, 3.1, 3.2, 4,1

Persistensi

: ada, 1.III

Gingiva

: gingivitis (-)

Mukosa

: tidak ada kelainan

Palatum

: terdapat celah pada palatum durum

Lidah

: tidak ada kelainan

Dasar Mulut

: tidak ada kelainan

Hubungan Rahang

: ortognati

d. Status Lokalis
Gigi
1.6
1.II
2.III
2.IV
2.V
3.V
3.IV
3.III
4.III
4.IV
4.V

Lesi
D3
D3

D3

Sondase

Perkus

Palpasi

CE

Diagnosis/ ICD

Terapi

i
-

Karies Email
Dental Root
Karies Email
Dental Root
Dental Root
Dental Root
Dental Root
Karies Email
Dental Root
Dental Root
Dental Root

Pro Konservasi
Pro Ekstraksi
Pro Konservasi
Pro Ekstraksi
Pro Ekstraksi
Pro Ekstraksi
Pro Ekstraksi
Pro Konservasi
Pro Ekstraksi
Pro Ekstraksi
Pro Ekstraksi

e. Temuan Masalah
a. Kalkulus pada gigi 3.1, 3.2, 4,1
b. Karies Email Lesi D3 pada gigi 1.6, 2.III, 3.III
c. Dental Root pada gigi 1.II, 2.IV, 2.V, 3.V, 3.IV, 4.III, 4.IV, 4.V
d. Persistensi 1.III
e. Palatoscizis
f. Protusi maksillaris
f. Pemeriksaan Penunjang

g. Perencanaan Terapi
a. Pro Periodonsi

Scaling pada gigi 3.1, 3.2, 4,1

b. Pro Ekstraksi

Ekstraksi Dental Root 1.II, 2.IV, 2.V, 3.V,


3.IV, 4.III, 4.IV, 4.V

c. Pro Konservasi

Tumpatan pada gigi 1.6, 2.III, 3.III

d. Pro Orthodonti

Pemasangan Obturator palatum

h. Diagnosis
Labiognatopalatoscizis bilateral komplit post labioplasti dan palatoplasti pro
pemasangan obturator palatum.

i. Prognosis
Quo ad vitam
: dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia

j. Tampak Klinis

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

EMBRIOLOGI OROMAKSILOFASIAL

Pertumbuhan dan Perkembangan Rongga Mulut


Pertumbuhan dan perkembangan oromaksilofasial (muka & rongga mulut) dimulai
pada minggu ke-3 intra uterin. Mula-mula masih terbentuk tube dan terdiri dari 3
unsur yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm/entoderm.
Pertumbuhan dan perkembangan oral/mulut dimulai dengan proses invaginasi lapisan
ektoderm di bagian caudal dan Processus Prontonasalis dan disebut Stomodeum
(Primitive Oral Cavity). Di samping itu terjadi pula proses invaginasi pada lapisan
endoderm yang disebut Primitive Digestive Tract. Selanjutnya POC dan PDT saling
mendekat hingga bertemu pada membran yang tipis disebut membrana bucco
pharyngeal. Membran tersebut akhirnya pecah dan terjadilah hubungan yang
sempurna antara POC dan PDT.
Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Apparatus
Selain proses tersebut terjadi pula pula proses pertumbuhan dan perkembangan
pembentukan Branchial Apparatus, yaitu terdiri dari :
Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Arches Llengkungan)
Mula-mula dibentu Branchial Arch I / Pharyngeal Arch I, kemudian dibentuk
Branchial Arch I hingga IV, namun Branchial Arch V rudimenter / hilang sehingga
Branchial Arch IV bergabung dengan Branchial IV. Dari Branchial Apparatus inilah
akan dibentuk organ-organ, rahang atas, rahang bawah, lidah larynx, pharynx, os
hyoid, otot-otot wajah, ligamentum, arteri, vena, nervus, dll.

Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Pouches (Konjungsi)


Yang pertama dibentuk adalah cavum tympanica, antrum, mastoideum, telinga
tengah, tuba eustachii, lalu lapisan Endoderm berdiferensiasi membentuk Tonsila
Palatina dan Fossa Supratonsilaris. Bagian Dorsal berdirensiasi membentuk glandula
parathyroid inferior lalu bermigrasi ke arah dorsal glandula thyroid. Sedangkan
bagian ventral berdiferensiasi membentuk primordial glandula thymus kemudian
bermigrasi kea rah Caudal & Medial selanjutnya bagian kanan & kiri berfusi
membentuk glandula thymus.
Bagian dorsal berdirensiasi membentuk glandula parathyroid superior kemudian
bermigrasi ke dorsal glandula thyroid. Bagian ventral berdiferensiasi membentuk
ultimo branchial body lalu bermigrasi dan berfusi dengan glandula thyroid.
Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Groove (Celah)
Branchial Groove I akan membentuk meatus acusticus externus, sedangkan Branchial
Groove yang lain akan hilang sehinga leher rata.
Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Membrane (Selaput)
Branchial Membrane I akan membentuk membrane tympanica sedangkan branchial
membrane yang lain menghilang.
Pertumbuhan dan Perkembangan Fasial (Muka)
Pertumbuhan dasn perkembangan fasial (muka) berasal dari 5 buah Fasial Promordia,
yaitu :
1. Sebuah tonjolan Processus Fronto Nasalis di atas Stomodeum
2. Sepasang tonjolan Processus Maxillaris yang berasal dari Branchial Arch I,
terletak di Cranio Lateral Stomodeum.

3. Sepasang tonjolan Processus Mandibularis yang juga berasal dari Branchial


Arch I, terletak di Caudal Stomodeum.
Pertumbuhan dan Perkembangan Processus Fronto Nasalis
Dimulai pada minggu ke-4, yaitu sebagai dua buah penebalan ektoderm yang terletak
di latero processus fronto dan di atas stomodeumm disebut Nasal Placode. Setelah
embrio berumur 5 minggu, terjadi lagi dua buah penonjolan yang mengelilingi Nasal
Placoda yang berbentuk tapal kuda yang disebut :
Processus Nasalis Medialis (medial)
Processus Nasalis lateralis (lateral)
Selanjutnya Nasal Placoda akan menjadi dasar lekukan ke dalam dan membentuk
Nasal Pit yang nantinya akan merupakan lubang hidung atau Nostril. Sedangkan
kedua Processus nasalis medialis akan berfusi membentuk intermaxillary segment.
Intermaxillary

segmente

akan

mengalami

pertumbuhan

dasn

pertumbuhan

perkembangan dalam 2 arah yaitu :


-

Ke arah caudal akan membentuk Phitrum


Ke arah medial akan membentuk Septum nasi, Palatum Primer (processus
palatinus medialis), Premaxilla (yaitu tulang rahange atas bagian tengah yange

menunjang gigi-gigi
Sedangkan processus nasalis lateralis akan membentuk Ala Nasi (yang akan
dipisahkan dari processus maxillaries oleh sulcus naso lacrimalis).

Pertumbuhan dan Perkembangan Cavum nasi


Dimulai pada embrio umur kurang dari 6 minggu, sebagai proses invaginasi pada
nasal placode sebagai dasar lekukannya. Mula-mula dibentuk nasal pit, kemudian
lekukan semakin meluas membentuk Saccus Nasalis. Soccus nasalis ini masih belum
berhubungan dengan cavum oris karena masih dipisahkan oleh membrane oro nasal.

Setelah embrio berusia 7 minggu itu., membrane oro nasal pecah, hingga terjadilah
hubunan antara Cavum nasi dan Cavum oris. Batas hubungan cavum nasi dan cavum
oris di belakang palatum primer disebut primitive choanae.
Selain proses tersebut di atas, pada dinding Cavum nasi terbentuk pula tonjolantonjolan yang disebut:
-

Concha Nasalis Superior


Concha Nasalisi Medius
Concha Nasalis Inferior

Dan dinding epitel atas Cavum nasi (lapisan ektoderm) juga mengalami diferensiasi
membentuk serabu-serabu syaraf nervus olfaccorlus. Setelah palatun sekunder kanan
dan kiri selesai berfusi dengan septum nasi, maka terbentuklah cavum nasi yang
sempurna. Dengan demikian batas hubungan cavum nasi dan cavum oris kini di
belakang palatum sekunder dan disebut Definitive Chonchae.
Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Atas
Tulang rahang atas (os maxilla) berasal dari Branchial Arch I bagian atas, disebut
juga processus maxillaris. Pusat ossifikasi terletak pasda percabangan nervus infra
orbitalis menjadi nervus alveolaris superior anterior dan nervus alveolaris superior
medius. Kemudian proses ossifikasinya berlanjut mula-mula ke arah posterior
membentuk processus zygomaticus ossis maxillaris, kemudian ke arah caudal
membentuk processus alveolaris ossis maxillaris dan ke arah medial membentuk
processus palatinus ossis maxillaris. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan
tersebut, dibagian pusat ossifikasinya membentuk corpus maxillia, hingga
terbentuklah os maxilla yang lengkap.
Pertumbuhan dan Perkembangan Palatum
Pertumbuhan dan Perkembangan palatum terjadi melalui beberapa tahap, yaitu

10

Palatum Primer (Processus Palatinus Medialis)


Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa palatum primer dibentuk oleh
intermaxillary segment (fusi dari processus nasalis medialis) yang berkembang ke
arah medial dan caudal membentuk palatum primer, septum nasi, premaxilla (tulang
rahang atas yang menunjang gigi, phitrum (alur vertikal pada bagian tengah bibir
atas).
Palatum Sekunder (Processus palatines lateralis)
Palatum sekunder (processus palatines lateralis) berasal dari processus maxillaries.
Mula-mula palatum sekunder berkembang ke arah bawah karena masih adanya lidah
embrional. Namun setelah rahang bawah (os mandibula) berkembang, maka ruang
bertambah besar, sehingga lidah turun ke bawah. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan
dan perkembangan palatum sekunder dapat berkembang ke arah mid line dan berfusi.
Selain itu septum nasi juga mengadakan fusi tangan kedua palatum sekunder (kanan
dan kiri).
Pertumbuhan dan Perkembangan Selanjutnya dari Paltum Sekunder
1. Dorsal palatum primer
Terjadi proses ossifikasi disebut Processus Palatinus Ossis Maxillaris.
2. Dorsal ad.1
Terjadi pula ossifikasi disebut Os Palatinum
3. Dorsal ad.2
Pertumbuhan dan perkembangan pada dorsal ada 2 yang tidak mengalami
proses ossifikasi disebut Palatum Molle dan Uvulia.

11

Pertumbuhan dan Perkembangan Os Palatinum


Berasal dari bagian medial tulang rawan nasal capsul. Nasal capsul merupakan tulang
rawan yang pertama kali dibentuk di daerah muka atas dan analog dengan tulang
rawan Meckel rahang bawah. Atas nasal capsul, bagian lateral membentuk Os
Ethmoidale, bagian posterior membentuk septal cartilage (pars perpendicularis ossis
ethmoidalis). Keduanya mengalami ossifikasi setelah lahir. Bawah nasal capsul
bagian lateral membentuk concha nasalis inferior sedangkan di antaranya mengalami
atropi bagian medial membentuk os palatinum.
Ossifikasi terjadi pada minggu ke 7-8, lokasinya di dekat nervus Palatinus
Descendeus. Ossifikasi ke arah vertical disebut pars perpendicularis ossis palatine,
yang akan berfusi dengan os maxillaries membentuk dinding medial sinus
maxillaries. Ossifikasi ke arah horizontal disebut pars horizontal ossis palatine yang
akan berfusi dengan prosessus palatines ossis maxillaries.
Pertumbuhan dan Perkembangan Sinus Maxillaris
Pada bulan ke-4 intrauterin, mula-mula terbentuk kantong mukosa kecil di daerah
lateral cavum nasi. Kantong tersebut mula-mula terpisah dari maksila oleh tulang
rawan nasal capsul. Setelah nasal capsul bagian bawah atropi, kantong mukosa
tersebut menerobos masuk ke dalam os maxilla di atas processus palatines lateral
sehingga terbentuk maxillaries. Sinus ini akan terus berkembang hingga ukuran
dewasa. Perkembangan seterusnya ke arah processus alveolaris.
Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Bawah
Tulang rahang bawah (os mandibula) berasal dari Branchial Arch I bawah atau
mandibula Arch dan disebut pula Processus Mandubularis. Awalnya dibentuk tulang
rawan Meckel di bagian lingual Processus Mandibularis. Pertumbuhan dan
perkembangan tulang Meckel ini berada dekat dengan pembentukan N. Mandibularis.
Pada saat N. Mandibularis dibentuk mencapai 1/3 dorsal tulang rawan Meckel,

12

kemudian bercabang menjadi N. Alveolaris inferior ke arah anterior dan bercabang


lagi menjadi N.Mentalis dan N. Incisivus. Di Tempat lateral percabangan inilah
jaringan ikat pada fibrosa mengalami ossifikasi (minggu ke-7). Pusat ossifikasinya
sekitar foramen Mentale. Kemudian pertumbuhan dan perkembangan posterior
membentuk rumus mandibula hingga terbentuk mandibula hingga terbentuk
mandibula yang lengkap, sedang tulang rawan Meckle menghilang.
Pertumbuhan dan Perkembangan Temoro Mandibular Joint
Mula-mula os temporalis masih terpisah jauh dari os mandibula. Setelah pertumbuhan
conovius mandibula jaringan, dibentuk jaringan ikat padat yang tipis disebut Discus
Articularis. Selanjutnya Tuberculum Articulare baru tampak pada saat lahir.
Bentuknya khas setelah pembentukan gigi sulung.
Pertumbuhan dan Perkembangan Lidah
Pertumbuhan dan perkembangan lidah dimulai pada akhir minggu ke-4. Mula-mula
dibentuk sebuah tonjolan di dasar pharynx, anterior foramen caecum disebut
Tuberculum Impar. Kemudian dibentuk pula 2 tonjolan di daerah lateral dari
Tuberculum Impar, disebut Tonjolan Lateral Lidah. Ketiga tonjolan tersebut berasal
dari Branchial Arch I.5 Kemudian tonjolan lateral lidah berfusi membentuk 2/3
anterior lidah dengan garis fusi pada :
-

Sulcus lingualis media (luar)


Septum lingual (dalam)

Pertumbuhan dan perkembangan Papilla dan Taste Buds pada Lidah


Mula-mula dibentuk papilla filiformis tanpa ada induksi syaraf sehingga tidak ada
taste buds. Saat umur 54 hari dibentuk Papilla Circum Vallatae, lalu Papilla Foliatae
Fungiformis yang diinduksi oleh chorda tympani (N. VII). Ketiganya terdapat taste
buds.

13

Pertumbuhan dan Perkembangan Kelenjar Saliva


Pada embrio minggu ke 6-7 dibentuk Glandula Parotis yang berasal dari jaringan
ektodermal berlokasi di tepi stomodeum. Sel-sel berpoliferasi membentuk tali padat
dan ujung bulat. Tali tersebut berkembang membentuk tumen dan selanjutnya
terbentuk duktus, sedangkan ujung yang bulat berdiferensiasi membentuk acini
(khusus

menghasilkan

saliva)

yang

akan

mengeluarkan

secret.5

Glandula Submandibularis yang berasal dari jaringan endodermal berlokasi di dasar


mulut di latero-caudal lidah. Cara pembentukannya sama dengan GI. Parotis.
Glandula sublingualis berkembang agak akhir, juga berasal dari jaringan endodermal
sebagai multiple buds yang nantinya membentuk lobus mayor dan lobus minor.
Lokasinya di latero-caudal lidah.
Pertumbuhan dan Perkembangan Glandula Thyroid
Glandula Thyroid dari penebalan jaringan endodermal di belakang tuberculum impar
kemudian melekuk ke caudal yang disebut thyroid diverticulum yang lalu bermigrasi
(lidah berkembang) ke caudal. Pada saat bermigrasi ke caudal terbentuklah Ductus
Thyroglossus. Ductus Thyroglossus ini akan tersisa sebagai foramen caecum dan
lobus Pyramidalis GI. Tyroidea. Bagian ductus yang lain menghilang sedangkan
Thyroid Diverticulum yang bermigrasi ke caudal membentuk 2 lobus yaitu GI
Thyroidea dan akhir migrasinya berada di antara lateral Trachea.
Sedangkan tuberculum impar tidak membentuk bangunan yang khas. Pertumbuhan
dan perkembangan 1/3 posterior lidah dimulai dengan dibentuknya tonjolan Copula
(berasal dari pharyngeal arch ke II) kemudian dibentuk lagi tonjolan Hypobranchial
(Branchial Arch III IV). Caudal dari foramen Caecum. Namun proses selanjutnya
tonjolan Copula mengalami rudimeter dan menghilang. Sedangkan tonjolan
Hypobranchial tetap berperan membentuk 1/3 posterior lidah dan selanjutnya berfusi
dengan 2/3 anterior lidah. Garis fusinya pada Sulcus Terminalis Linguae. Sehingga

14

terbentuklah lidah yang lengkap dan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya ke


arah atas dan depan.

2.2

ODONTOGENESIS
Odontogenesis adalah proses terbentuknya gigi. Pembentukan dari trakturs

gastrointestinalis, termasuk kavitas oral dan gigi, adalah serangkaian peristiwa yang
kompleks. Pada embrio, traktus gastrointestinalis dimulai dari tabung endodermik.
Pada periode yang pendek, struktur ini terlipat untuk membentuk tiga bagian: foregut,
midgut, dan hindgut. Foregut akan menjadi faring, esophagus, gaster, duodenum,
traktus respiratorius, liver, empedu, dan pancreas. Midgut menjadi jejunum, ileum,
sekum, apendiks, kolon asending, dan beberapa bagian dari kolon transversum.
Hindgut menjadi bagian lain dari kolon tarnsversum, rectum, dan kanalis analis.
Kavitas oral terbentuk dari ujung faring foregut sebagai oral plate. Dari sini, maksila,
mandibula, dan struktur-struktur lainnya terbentuk.

15

1. Formasi Gigi
Gigi berasal dari kumpulan sel-sel mesenkimal dari ektoderm sepanjang
epitelium mandibula dan maksila pada bagian-bagian spesifik. Berbagai faktor
pertumbuhan berinteraksi dengan folikel tersebut untuk membentuk tunas gigi.
Pada cap stage, saraf dan pembuluh darah mulai terbentuk dan memasuki dentin
yang sedah bertumbuh, yang kemudian menjadi pulpa gigi. Bell stage kemudian
terjadi dan mulailah diferensiasi menjadi komponen-komponen gigi dari dentin
dan email. Akhirnya, crown stage atau fase mahkota, email terbentuk oleh
mineralisasi odontoblas. Ameloblas membantu pembentukan email ke permukaan
luar dari gigi yang sedang tumbuh tersebut. Odontoblas bergerak kea rah tengah
gigi membentuk dentin. (Dentin sekunder terus terbentuk pada gigi permanen
sepanjang hidup menyebabkan penyempitan pada chamber pulpa.) Cementoblast
membentuk sementum pada fase akhir dari pertumbuhan gigi.

2. Erupsi
Banyak teori yang terdapat pada mekanisme erupsi gigi. Tiga teori terbaru
adalah:
-

Formasi akar: ketika akar gigi terbentuk, akar tersebut memanjangkan gigi
melalui jaringan gingiva; namun, gigi tanpa akar juga tetap tumbuh.

16

Remodeling tulang alveolar: Formasi tulang pada apeks gigi dan resorpsi
tulang pada ujung koronal pada folikel gigi berinteraksi untuk membuat
penetrasi mukosa.

Ligamen periodontal: Formasi dan pembaharuan ligamen periodontal terlibat


dalam pertumbuhan gigi pada spesies tertentu (misalnya kelinci); namun,
belum terbukti pada spesies hewan dengan dua set gigi. Jika tidak terdapat
jalan untuk erupsi gigi, gigi dapat terhalang sehingga terjadi impaksi. Gigi
impaksi tersebut menghalangi tulang untuk erupsi. Jaringan lunak
menghalangi erupsi gigi. Jika terjadi disrupsi tunas gigi pada pertumbuhan,
dapat tumbuh pada lokasi abnormal sehingga terjadi kista dentigerous.

3. Gigi Tetap (permanen)


Pada sisi labial setiap lamina dentis terjulur ke luar suatu massa sel
ektodermal dan membentuk lamina suksesional. Sel-sel lamina dentis menggali
ke belakang dan bakal gigi molar permanen berturut-turut terlepas. Bakal gigi
molar kedua dan ketiga tidak dibentuk sampai sesudah lahir
4. Pertumbuhan dan perkembangan gigi sulung dan gigi tetap
Pertumbuhan dan perkembangan dari gigi geligi seperti halnya organ lainnya telah
dimulai sejak 4 5 bulan dalam kandungan. Pada waktu lahir, maksila dan
mandibwula merupakan tulang yang telah dipenuhi oleh benih-benih gigi dalam
berbagai tingkat perkembangan. Tulang alveolar hanya dilapisi oleh mucoperiosteum
yang merupakan bantalan dari gusi. Pada saat lahir, tulang maksila dan mandibula
terlihat mahkota gigi-gigi sulung telah terbentuk dan mengalami kalsifikasi,
sedangkan benih gigi-gigi tetap masih berupa tonjolan epitel. Pada umur 6 7 bulan
telah terjadi erupsi dari gigi sulung dan pada umur 12 bulan gigi insisif pada maksila
dan mandibula telah erupsi. Pada umur 2 - 3 tahun semua gigi sulung telah erupsi
dan email gigi-gigi sulung telah terbentuk sempuna.

17

GIGI SULUNG

Rahang Gigi

Pembentukan

Erupsi

Akar lengkap

Atas Insisif pertama

4 bl inutero

7 bl

1 th

Insisif kedua

4 bl inutero

9 bl

2 th

Caninus

5 bl inutero

18 bl

3 th

Molar pertama

5 bl inutero

14 bl

2 th

Molar kedua

6 bl inutero

24 bl

3 th

Bawah Insisif pertama

4 bl inutero

7 bl

1 th

Insisif kedua

4 bl inutero

7 bl

1 th

Caninus

5 bl inutero

16 bl

3 th

Molar pertama

3 bl inutero

12 bl

2 th

Molar kedua

6 bl inutero

20 bl

3 th

GIGI TETAP

18

Rahang Gigi

Mulai terbentuk

Erupsi

Akar lengkap

Atas Insisif pertama

3 4 bl

7 8 th

10 tahun

Insisif kedua

10 12 bl

8 9 th

11 tahun

Caninus

4 5 bl

1 12 th

13 15 th

Premolar pertama

18-21 bl

10 12 th

12 14 th

Premolar kedua

3033 bl

10 12 th

12 14 th

Molar pertama

0 3 bl

6 7 th

9 10 th

Molar kedua

27 36 bl

12 13 th

14 16 th

Molar ketiga

7 9 th

17 21 th

18 25 th

Bawah Insisif pertama

3 4 bl

6 7 th

9 th

Insisif kedua

3 4 bl

7 8 th

10 th

Caninus

4 6 bl

9 10 th

12 14 th

Premolar pertama

18 24 bl

10 12 th

12 13 th

Premolar kedua

24 30 bl

11 12 th

13 14 th

Molar pertama

0 3 bl

6 7 th

9 10 th

Molar kedua

2 3 th

11 13 th

14 15 th

Molar ketiga

8 10 th

17 21 th

18 25 th

2.4

ANATOMI GIGI

Bagian-bagian gigi
Gigi merupakan bagian terkeras dari tubuh, gigi tersusun atas beberapa
bagian. Berikut bagian-bagian yang menyusun gigi:
a. Akar gigi adalah bagian dari gigi yang tertanam di dalam tulang rahang
dikelilingi (dilindungi) oleh jaringan periodontal.
b. Mahkota gigi adalah bagian dari gigi yang dapat menonjol di atas gusi sehingga
dapat dilihat.
c. Leher gigi adalah tempat bertemunya mahkota dan akar gigi

19

Gambar 1. Anatomi gigi normal


Struktur Jaringan Gigi
Gigi terdiri dari beberapa jaringan pembentuk. Secara garis besar, jaringan
pembentuk gigi ada 3, yaitu email, dentin, dan pulpa.
1. Email
Email adalah lapisan terluar yang melapisi mahkota gigi. Email berasal dari
epitel (ektodermal) yang merupakan bahan terkeras pada tubuh manusia dan paling
banyak mengandung kalsium fosfat dalam bentuk Kristal apatit (96%).
Email merupakan jaringan semitranslusen, sehingga warna gigi bergantung
kepada warna dentin di bawah email, ketebaan email, dan banyaknya stain pada
email. Ketebalan email tidak sama, paling tebal di daerah oklusal atau insisal dan
makin menipis mendekati pertautannya dengan sementum.
2. Dentin

20

Dentin merupakan komponen terbesar jaringan keras gigi yang terletak di


bawah email. Di daerah mahkota ditutupi oleh email, sedangkan di daerah akar
ditutupi oleh sementum. Secara internal, dentin membentuk dinding rongga pulpa.
Dentin membentuk bagian terbesar dari gigi dan merupakan jaringan yang
telah mengalami kalsifikasi sama seperti tulang, tetapi sifatnya lebih keras karena
kadar garam kalsiumnya lebih besar (80%) dalam bentuk hidroksi apatit. Zat antar sel
organic (20%) terutama terdiri atas serat-serat kolagen dan glikosaminoglikans, yang
disintesis oleh sel yang disebut odontoblas. Odontoblas membentuk selapis sel-sel
yang terletak di pinggir pulpa menghadap permukaan dalam dentin.
Dentin peka terhadap rasa raba, panas, dingin, dan konsentrasi ion hydrogen.
Diperkirakan bahwa rangsangan itu diterima oleh serat dentin dan diteruskan olehnya
ke serat saraf di dalam pulpa.
3. Pulpa
Pulpa gigi adalah jaringan lunak yang terletak di tengah-tengah gigi. Pulpa
berisi pembuluh darah, saraf, dan pembuluh limfe. Tugas dari pulpa adalah mengatur
nutrisi/makanan agar gigi tetap hidup, menerima rangsang, membentuk dentin baru
bila ada rangsangan panas, kimia, tekanan, atau bakteri yang dikenal dengan dentin
sekunder. Pulpa terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
a) Ruang atau rongga pulpa, yaitu rongga pulpa yang terdapat pada bagian tengah
korona gigi dan selelu tunggal. Sepanjang kehidupan pulpa gigi mempunyai
kemampuan untuk mengendapkan dentin sekunder, pengendapan ini mengurangi
ukuran dari rongga pulpa.
b) Tanduk pulpa, yaitu ujung dari ruang pulpa.
c) Saluran pulpa atau saluran akar, yaitu rongga pulpa yang terdapat pada bagian
akar gigi. Pada kebanyakan kasus, jumlah saluran akar sesuai dengan jumlah
akar, tetapi sebuah akar mungkin mempunyai lebih dari sebuah saluran.
d) Foramen apikal, yaitu ujung dari saluran pulpa yang terdapat pada apeks akar
berupa suatu lubang kecil.

21

e) Supplementary canal. Beberapa kar gigi mungkin mempunyai lebih dari satu
foramen, dalam hal ini, saluran tersebut mempunyai 2 atau lebih cabang dekat
apikalnya yang disebut multiple foramina / supplementary canal.
f) Orifice, yaitu pintu masuk ke saluran akar gigi. Saluran pulpa dihhubngkan
dengan ruang pulpa. Adakalanya ditemukan suatu akar mempunyai lebih dari
satu saluranpulpa, misalnya akar mesio-bukal dari M1 atas dan akar mesial dari
M1 bawah mempunyai 2 saluran pulpa yang berakhir pada sebuah foramen
apikal.
Jaringan Pendukung Gigi
Keberadaan gigi didukung oleh jaringan-jaringan lain yang berada di dalam
mulut yang disebut jaringan periodontal yang terdiri dari empat komponen, yaitu
sementum, gusi, tulang alveolar, dan ligament periodontal.
1. Sementum
Sementum merupakan jaringan keras gigi yang menyelubungi akar. Bila ada
rangsangan yang kuat pada gigi maka akan terjadi resorpsi/penyerapan sel-sel
sementum pada sisi yang terkena rangsangan dan pada sisi lainnya akan terbentuk
jaringan sementum baru. Pembentukan sementum yang baru mengarah ke arah luar.
2. Gingiva
Gingiva atau gusi adalah jaringan lunak yang menutupi leher gigi dan tulang
rahang, baik yang terdapat pada rahang atas maupun rahang bawah. Fungsi gingival
adalah melindungi jaringan di bawah perlekatan terhadap lingkungan rongga mulut.
Gingiva sehat biasanya berwarna merah muda, tepinya runcing seperti pisau, tidak
mudah berdarah dan tidak sakit. Gingiva banyak mengandung pembuluh darah
sehingga sangat sensitive terhadap trauma atau luka. Secara anatomi, gingiva dibagi
atas tiga daerah :
a. Marginal gingiva (unattached gingiva), merupakan bagian gingiva yang
mengelilingi gigi seperti kerah baju dan tidak melekat langsung pada gigi, biasa
juga disebut juga dengan free gingiva

22

b. Attached gingiva merupakan lanjutan dari marginal gingival dan disebut juga
mukosa fungsional.
c. Interdental gingival, merupakan bagian gingival yang

mengisi

ruang

interproksimal antara dua gigi yang bersebelahan.


3. Ligamentum Periodontal
Ligamnetum periodontal merupakan struktur jaringan konektif yang
mengelilingi akar gigi dan mengikatnya ke tulang (menghubungkan tulang gigi
dengan tulang alveolar). Ligamen periodontal merupakan lanjutan jaringan gingiva
yang berhubungan dengan ruang sumsum tulang melalui saluran vaskuler. Fungsinya
seperti bantalan yang dapat menopang gigi dan menyerap beban yang mengenai gigi.
4. Tulang alveolar
Tulang alveolar disebut juga prosesus alveolaris yg mencakup tulang rahang
secara keseluruhan, yaitu maksila dan mandibula yg berfungsi membentuk dan
mendukung soket (alveoli) gigi.
2.3

Bentuk-bentuk Gigi Permanen


Orang dewasa biasanya mempunyai 32 gigi permanen, 16 di tiap rahang. Di

tiap rahang terdapat:


a. Empat gigi depan (gigi insisivus) Bentuknya seperti sekop dengan tepi yang
lebar untuk menggigit, hanya mempunyai satu akar. Gigi insisivus atas lebih
besar daripada gigi yang bawah.
b. Dua gigi kaninus yang serupa di rahang atas dan rahang bawah. Gigi ini kuat
dan menonjol di sudut mulut. Hanya mempunyai satu akar.
c. Empat gigi pre-molar/gigi molar kecil Mahkotanya bulat hampir seperti
bentuk kaleng tipis, mempunyai dua tonjolan, satu di sebelah pipi dan satu di
sebelah lidah. Kebanyakan gigi pre-molar mempunyai satu akar, bebrapa
mempunyai dua akar.

23

d. Enam gigi molar Merupakan gigi-gigi besar di sebelah belakang di dalam


mulut digunakan untuk menggiling makanan. Semua gigi molar mempunyai
mahkota persegi, seperti blok-blok bangunan. Ada yang mempunyai tiga, empat,
atau lima tonjolan. Gigi molar di rahang atas mempunyai tiga akar dan gigi
molar di rahang bawah mempunyai dua akar.

Gambar 2. Gigi Permanen

Aspek pada gigi permanen


Macam-macam aspek pada gigi permanen:
Aspek incisal

:tepi gigitan gigi geligi depan

Aspek oklusal

:permukaan gigit.

Aspek labial

:permukaan luar gigi geligi depan yang berkontak dengan


bibir.

Aspek radix

:bagian gigi yang dilapisi jaringan sementum dan

ditopang
oleh tulang alveolar dari maksila dan mandibulla.
Aspek palatal

:permukaan dalam gigi geligi atas yang berkontak dengan


palatum. Digunakan juga istilah lingual.

Aspek bukal

:permukaan gigi geligi belakang.

24

Aspek mesial

:permukaan proksimal gigi yang lebih dekat ke garis


tengah.

Aspek distal

:bagian gigi yang terjauh dari garis tengah.

Aspek lingual

:permukaan dalam gigi yang berkontak dengan lidah.

Aspek proksimal

:permukaan gigi yang berkontak dengan gigi tetangganya,


biasa disebut permukaan distal.1,2

2.5

LABIOPALATOSCIZIS

Definisi
Labiopalatoshizis atau cleft lip dan cleft palate adalah Suatu kelainan kongenital
dimana keadaan terbukanya bibir dan langit langit rongga mulut dapat melalui
palatum durum maupun palatum mole, hal ini disebabkan bibir dan langit-langit tidak
dapat tumbuh dengan sempurna pada masa kehamilan..

Etiologi
Ada beberapa etiologi yang dapat menyebabkan terjadinya kelainan Labio
palatoschizis, antara lain:
1. Faktor Genetik

25

Merupakan penyebab beberapa palatoschizis, tetapi tidak dapat ditentukan dengan


pasti karena berkaitan dengan gen kedua orang tua. Diseluruh dunia ditemukan
hampir 25 30 % penderita labio palatoscizhis terjadi karena faktor herediter. Faktor
dominan dan resesif dalam gen merupakan manifestasi genetik yang menyebabkan
terjadinya labio palatoschizis. Faktor genetik yang menyebabkan celah bibir dan
palatum merupakan manifestasi yang kurang potensial dalam penyatuan beberapa
bagian kontak.
2. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional, baik
kualitas maupun kuantitas (Gangguan sirkulasi foto maternal).
Zat zat yang berpengaruh adalah:
- Asam folat
- Vitamin C
- Zn
Apabila pada kehamilan, ibu kurang mengkonsumsi asam folat, vitamin C dan Zn
dapat berpengaruh pada janin. Karena zat - zat tersebut dibutuhkan dalam tumbuh
kembang organ selama masa embrional. Selain itu gangguan sirkulasi foto maternal
juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang organ selama masa embrional.
3. Pengaruh obat teratogenik.Yang termasuk obat teratogenik adalah:
1.Obat obatan yang dapat menyebabkan kelainan kongenital terutama labio
palatoschizis. Obat obatan itu antara lain :

Talidomid, diazepam (obat obat penenang)

Aspirin (Obat obat analgetika)

Kosmetika yang mengandung merkuri & timah hitam (cream pemutih).


Sehingga penggunaan obat pada ibu hamil harus dengan pengawasan
dokter.

2.kontrasepsi hormonal

26

Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi kontrasepsi hormonal, terutama untuk
hormon estrogen yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya hipertensi sehingga
berpengaruh pada janin, karena akan terjadi gangguan sirkulasi fotomaternal.
3. Faktor lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menyebabkan Labio
palatoschizis, yaitu:
a.Zat kimia (rokok dan alkohol)
Pada ibu hamil yang masih mengkonsumsi rokok dan alkohol dapat berakibat terjadi
kelainan kongenital karena zat toksik yang terkandung pada rokok dan alkohol yang
dapat mengganggu pertumbuhan organ selama masa embrional.
b.Gangguan metabolik
Untuk ibu hamil yang mempunyai penyakit diabetes sangat rentan terjadi
kelainan kongenital, karena dapat menyebabkan gangguan sirkulasi fetomaternal.
Kadar gula dalam darah yang tinggi dapat berpengaruh pada tumbuh kembang organ
selama masa embrional.
c. Penyinaran radioaktif
Untuk ibu hamil pada trimester pertama tidak dianjurkan terapi penyinaran
radioaktif, karena radiasi dari terapi tersebut dapat mengganggu proses tumbuh
kembang organ selama masa embrional.
4. Infeksi, khususnya virus (toxoplasma) dan klamidial . Ibu hamil yang terinfeksi
virus (toxoplasma) berpengaruh pada janin sehingga dapat berpengaruh terjadinya
kelainan kongenital terutama labio palatoschizis.
Dari beberapa faktor tersebut diatas dapat meningkatkan terjadinya Labio
palatoshizis, tetapi tergantung dari frekuensi dari frekuensi pemakaian, lama
pemakaian, dan wktu pemakaian.
suatu hipotesa terjadinya sumbing yaitu karena kegagalan fusi antara prosessus
maksilaris dengan prosessus nasomedialis yang lebih lanjut dijelaskan secar skematis
oleh Patten:

27

a. Pertama terjadi pendekatan masing masing prosessus


b. Setelah prosessus bertemu terjadi regresi lapisan epitel
c. Mesoderm saling bertemu dan mengadakan fusi.
Teori terjadinya labio atau palatoschisis adalah sebagai berikut :
a.Labioschisis : Perkembangan abnormal dari prosessus nasomedialis dan
maksilaris
b.palatoschisis : Kegagalan fusi antara 2 prosessus palatina

keterangan

gambar:

(12mm),C.Wajah

A.Embrio

waktu

lahir:

minggu

(6mm),B.Embrio

prosessufrontonasalis,prosessus

28

minggu
nasaliis

medial,prosessus

nasalis

lateral,mata,prosessus

maksilaris,prosessus

mandibularis,prosessus brankiogenik,stomadeum

D.Patofisiologi
Sekitar separuh dari semua kasus cleft melibatkan bibir atas dan langit-langit
sekaligus.Celah dapat hanya terjadi pada satu sisi (unilateral) atau pada kedua sisi
(bilateral) bibir.Cleft lip dan cleft palate terbentuk saat bayi masih dalam
kandungan.Proses terbentuknya kelainan ini sudah dimulai sejak minggu-minggu
awal kehamilan ibu.
Saat usia kehamilan ibu mencapai 6 minggu, bibir atas dan langit-langit ronggamulut
bayi dalam kandungan akan mulai terbentuk dari jaringan yang berada di keduasisi
dari lidah dan akan bersatu di tengah-tengah. Bila jaringan-jaringan ini gagalbersatu,
maka akan terbentuk celah pada bibir atas atau langit-langit rongga mulut.Sebenarnya
penyebab mengapa jaringan-jaringan tersebut tidak menyatu dengan baik belum
diketahui dengan pasti. Akan tetapi faktor penyebab yang diperkirakan adalah
kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan seperti obat-obatan, penyakit
atauinfeksi yang diderita ibu saat mengandung, konsumsi minuman beralkohol
ataumerokok saat masa kehamilan.Resiko terkena akan semakin tinggi pada anakanak yang memiliki saudara kandungatau orang tua yang juga menderita kelainan ini,
dan dapat diturunkan baik lewat ayahmaupun ibu. Cleft lip dan cleft palate juga dapat
merupakan bagian dari sindroma
penyakit tertentu. Kekurangan asam folat juga dapat memicu terjadinya kelainan
ini.Kelainan sumbing selain mengenai bibir juga bisa mengenai langit-langit dan
gusi.Berbeda pada kelainan bibir yg terlihat jelas secara estetik, kelainan sumbing
langit2dan gusi lebih berefek kepada fungsi mulut seperti menelan, makan, minum,

29

dan bicara.Pada kondisi normal, langit2 menutup rongga antara mulut dan hidung.
Pada bayi yanglangit-langitnya sumbing barrier ini tidak ada sehingga pada saat
menelan bayi bisa tersedak.
Kemampuan menghisap bayi juga lemah, sehingga bayi mudah capek pada
saatmenghisap, keadaan ini menyebabkan intake minum/makanan yg masuk menjadi
kurangdan jelas berefek terhadap pertumbuhan dan perkembangannya selain juga
mudahterkena infeksi saluran nafas atas karena terbukanya palatum tidak ada batas
antarahidung dan mulut, bahkan infeksi bisa menyebar sampai ke telinga.
Patofisiologinya antara lain:
a.Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama
faseembrio pada trimester I.
b.Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial
danmaksilaris untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu.
c.Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan
olehkegagalan penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
d. penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan
Klasifikasi.
1. Labioschisis Berdasarkan lengkap atau tidaknya celah yang terbentuk:
Komplit
Inkomplet

2. Berdasarkan lokasi/jumlah kelainan :

30

a.Unilateral Incomplete Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu sisi
bibir dan tidak memanjang hingga ke hidung.
b.Unilateral complete Apabila celah sumbing terjadi hanya di salah satu bibir
dan memanjang hingga kehidung.
c.Bilateral complete Apabila celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan
memanjang hingga ke hidung.

31

Klasifikasi yang diusulkan oleh Veau dibagi dalam 4 golongan yaitu :

Golongan I : Celah pada langit-langit lunak (gambar 1).

Golongan II : Celah pada langit-langit lunak dan keras dibelakang foramen


insisivum (gambar 2).

Golongan III : Celah pada langit-langit lunak dan keras mengenai tulang
alveolar dan bibir pada satu sisi (gambar 3).

Golongan IV : Celah pada langit-langit lunak dan keras mengenai tulang


alveolar dan bibir pada dua sisi (gambar 4).

32

Gambar 1. A. Celah pada langit-langit lunak saja. B. Celah pada langit-langit lunak
dan keras. C. Celah yangmeliputi langit-langit dan lunak keras juga alveolar pada satu
sisi. D. Celah yang meliputi langit lunak dan keras juga alveolar dan bibir pada dua
sisi. (Young & Greg).

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari kelainan labioschisis antara lain
A.Masalah asupan makanan
Asupan makanan merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita
labioschisis. Adanya labioschisis memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan
hisapan pada payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan
labioschisis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan oral. Keadaan
tambaha nyang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek menelan pada bayi dengan
labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak udara
pada saat menyusui.

33

B.Masalah Dental
Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang
berhubungan dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada
arean dari celah bibir yang terbentuk
C.Infeksi telinga
Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena
terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan
dan penutupan tuba eustachius.
D.Gangguan berbicara
Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada
perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat
menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suaradengan kualitas
nada yang lebih tinggi (hypernasal quality of speech). Meskipun telahdilakukan
reparasi palatum, kemampuan otot-otot tersebut diatas untuk menutup ruang/rongga
nasal pada saat bicara mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal.Anak
mungkin mempunyai kesulitan untuk menproduksi suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g,
s,sh,and ch", dan terapi bicara (speech therapy) biasanya sangat membantu.
E.Distorsi nasal sehingga bisa menyebabkan gangguan pernafasan.
Pada Labio skisis

Distorsi pada hidung

Tampak sebagian atau keduanya

Adanya celah pada bibir

Pada Palato skisis

34

Tampak ada celah pada tekak (unla), palato lunak, keras dan faramen incisive.

Ada rongga pada hidung.

Distorsi hidung

Teraba ada celah atau terbukanya langit-langit saat diperiksadengan jari

Kesukaran dalam menghisap/makan.

Komplikasi
Gangguan bicara dan pendengaran
Terjadinya otitis media berulang,
Infeksi telinga
Gangguan pendengaran
Aspirasi
Distress pernafasan
Resiko infeksi saluran nafas
Pertumbuhan dan perkembangan terhambat serta kekurangan gizi.
Pemeriksaan Diagnostik
1.Anamnesa
2.pemeriksaan fisik
3 .Pemeriksaan Laboratorium
4.pemeriksaan tambahan
1)Foto Rontgen
2)MRI untuk evaluasi abnormal.
PENATALAKSANAAN

35

Terapi atau tindakan pada labiopalatoschisis adalah dengan tindakan bedah,operasi


ini berguna untuk memperbaiki bentuk bibir,pada kasus kasus pada usia
manapun,tetapi pada bayi bayi semuanya dilakukan pada usia dini,umumnya diusia
3 bulan dengan memperhatikan rumus Rule Of Ten sebagai berikut:
1.Berat Badan sekurang-kurangnya 10 pon (4,5kg)
2.umurnya sekurang-kurangnta 10 minggu
3.kadar Hb > 10gr%
4.jumlah lekosit <10.000/mm3
Mengunakan cara millard
Pada palatoplasty,pembedahan pada palato dilakukan pada waktu 6 bulan dan 2 tahun
disaat anak mulai belajar bicara, tergantung pada derajat kecacatan. Awal fasilitas
penutupan adalah untuk perkembangan bicara.
Operasi untuk labioplasty bertujuan untuk penampilan bentuk anatomik serta fungsi
yang mendekati normal,untuk mencapai tujuan tadi perlu diperhatikan beberapa
patokan yaitu:
1.memperbaiki cuping hidung agar bentuk dan letaknya simetris
2.memberi bentuk dasar hidung yang baik
3.memperbaiki bentuk dan posisi columella
4.memperbaiki bentuk dan fungsi bibir atas
5.mengisap dan makan tanpa terjadi regurgitasi nasal
6.pertumbuhan gigi yang baik
7.pembicaraan yang normal
8.pendengaran yang normal
WAKTU PEMBEDAHAN
Celah Bibir

: minimal usia 3 bulan

Celah Langit-langit

: minimal usia 18 bulan

Langit-langit Lunak

: minimal usia 10 bulan

Langit-langit Keras

: minimal usia 5 tahun

36

Bone Graft

: minimal usia 10 tahun

Bedah Ortognatik

: minimal usia 18 tahun

Terapi Non-bedah
LabioPalatoschisis merupakan suatu masalah pembedahan, sehingga tidak ada terapi
medis khusus untuk keadaan ini. Akan tetapi, komplikasi dari labiopalatoschisis yakni
permasalahan dari intake makanan, obstruksi jalan nafas, dan otitis media
membutuhkan penanganan medis terlebih dahulu sebelum diperbaiki.
3 Perawatan Umum Pada Cleft Palatum Pada periode neonatal beberapa hal yang
ditekankan dalam pengobatan pada bayi dengan cleft palate yakni:
a. Intake makanan
Intake makanan pada anak-anak dengan cleft palate biasanya mengalami kesulitan
karena ketidakmampuan untuk menghisap, meskipun bayi tersebut dapat melakukan
gerakan menghisap. Kemampuan menelan seharusnya tidak berpengaruh, nutrisi yang
adekuat mungkin bisa diberikan bila susu dan makanan lunak jika lewat bagian
posterior dari cavum oris. pada bayi yang masih disusui, sebaiknya susu diberikan
melalui alat lain/ dot khusus yang tidak perlu dihisap oleh bayi, dimana ketika dibalik
susu dapat memancar keluar sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu
besar sehingga membuat pasien menjadi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat
asupan nutrisi menjadi tidak cukup. Botol susu dibuatkan lubang yang besar sehingga
susu dapat mengalir ke dalam bagian belakang mulut dan mencegah regurgitasi ke
hidung. Pada usia 1-2 minggu dapat dipasangkan obturator untuk menutup celah pada
palatum, agar dapat menghisap susu, atau dengan sendok dengan posisi setengah
duduk untuk mencegah susu melewati langit-langit yang terbelah atau memakai dot
lubang kearah bawah ataupun dengan memakai dot yang memiliki selang yang
panjang untuk mencegah aspirasi. (5)

37

b. Pemeliharaan jalan nafas


Pernafasan dapat menjadi masalah anak dengan cleft, terutama jika dagu dengan
retroposisi (dagu pendek, mikrognatik, rahang rendah (undershot jaw), fungsi
muskulus genioglossus hilang dan lidah jatuh kebelakang, sehingga menyebabkan
obstruksi parsial atau total saat inspirasi (The Pierre Robin Sindrom)
c. Gangguan telinga tengah
Otitis media merupakan komplikasi yang biasa terjadi pada cleft palate dan sering
terjadi pada anak-anak yang tidak dioperasi, sehingga otitis supuratif rekuren sering
menjadi masalah. Komplikasi primer dari efusi telinga tengah yang menetap adalah
hilangnya pendengaran. Masalah ini harus mendapat perhatian yang serius sehingga
komplikasi hilangnya pendengaran tidak terjadi, terutama pada anak yang
mempunyai resiko mengalami gangguan bicara karena cleft palatum.

BAB III
ANALISA KASUS
An. RI, 11 tahun datang ke Poli Gigi dan Mulut RSMH dengan
keluhan ingin melakukan pemasangan kawat gusi dengan riwayat bibir
sumbing sejak lahir.

38

Dari riwayat penyakit, sejak lahir penderita memiliki celah pada bibir,
gusi dan langit - langit mulutnya. Pasien sering tersedak jika makan atau
minum, keluar air dari hidung jika minum (+), tidak bisa menyusu pada ibu,
maupun menggunakan dot. Riwayat trauma (-), pasien lalu dibawa berobat ke
RSMH Palembang.
Di RSMH Palembang pasien kemudian di operasi labioplasti dan
palatoplasti sebanyak 5 kali. Operasi pertama pada saat usia 1 tahun 2 bulan,
operasi ke dua usia 6 tahun, operasi ke tiga usia 7 tahun, operasi ke empat 8
tahun 4 bulan, operasi terakhir usia 8 tahun 7 bulan. Setelah operasi terakhir,
masih didapatkan sedikit celah pada langit langit mulut, pasien masih sering
tersedak jika makan dan minum, keluar air dari hidung jika berkumur, bicara
sengau, dan pelafalan bicara kurang jelas. Pasien kemudian dikonsulkan
kepada bagian gigi dan mulut untuk pemasangan kawat gusi sebelum
dilakukan operasi penanaman tulang pada langit langit mulutnya.
Pada pemeriksaan fisik keadaan umum pasien dalam batas normal.
Pemeriksaan ekstra oral didapatkan scar post operasi labioplasti.
Pada pemeriksaan intra oral didapatkan bahwa terdapat debris yang
minimal, kalkulus pada gigi 3.1, 3.2, 4,1, protusi (+) 10mm, persistensi (+)
pada gigi 1.III, dan terdapat celah pada palatum durum.
Pada

pasien

dengan

labiognatopalatoscizis

terdapat

kelainan

penutupan tulang sejak intrauterin, sehingga terdapat celah pada bibir, gusi,
dan langit-langit mulut. Kelainan pada rahang tersebut dapat menyebabkan
kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi. Karena itu, pada pasien ini
ditemukan adanya protusi maksillaris dan ketidakteraturan susunan gigi pada
gusi. Selain itu, celah pada langit-langit mulut yang terhubung ke rongga nasal
(komplit), menyebabkan gangguan dalam aktivitas seperti berkumur, makan
dan minum serta bicara. Pada saat berkumur, air akan mengalir keluar dari
hidung, pasien juga masih sering tersedak saat makan ataupun minum, dan

39

suara yang sengau serta pelafalan yang kurang baik pada saat pasien
berbicara.
Pada pasien ini juga ditemukan debris dan karies. Hal ini menjadi
faktor resiko terjadinya infeksi karena apabila oral hygiene yang buruk jumlah
bakteri yang berkolonisasi di gigi meningkat 2-10 kali lipat dan
memungkinkan lebih banyak bakteri melewati jaringan dan masuk ke
pembuluh darah, menimbulkan peningkatan prevalensi dan besarnya
bakteremia. Pada pasien ini juga ditemukan kalkuklus. Kalkulus adalah
deposit plak pada gigi yg mengeras akibat demineralisasi. Jika kalkulus
dibiarkan, maka akan banyak bakteri patogen yang hidup di dalam gigi.
Untuk tatalaksana pada kasus ini, celah pada langit-langit mulut harus
ditutup dengna menggunakan obturator palatum, gigi yang mengalami karies
akan dilakukan konservasi, dental root dan persistensi akan di ekstraksi, serta
kalkulus pada gigi dilakukan scalling. Selain itu, pasien bisa dikonsultasikan
pada bagian rehabilitasi medik untuk dilakukan terapi wicara.
Prognosis pada pasien ini adalah bonam.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sandler

NA.

Odontogenic

infections.

Diunduh

dari:

http://www1.umn.edu/dental/courses/oral_surg_seminars/odontogenic_infecti
ons.pdf, 20 april 2014).

40

2. Stanley J. Nelson and Major M. Ash. Wheelers Dental Anatomy, Physiology,


and Occlusion. 9th Ed. Missouri : Saunders Elsevier. 2010:256-8
3. Lix, Kolltveit, Tronstad L, Olsen I. Systemic diseases caused by oral
infection. Clinical Microbiology Reviews 2000 Oct; 547-58.
4. Peterson
LJ.
Odontogenic
infections.
Diunduh

dari:

http://famona.erbak.com/OTOHNS/Cummings?cumm069.pdf, 29 Juni 2009).


5. Sonis ST, Fazio RC, Fang L. Principles and practice of oral medicine. 2 nd ed.
Philadelphia: WB Saunders Company; 1995. p.399-415.
6. Kidd A.E.M. 2005. Essentials of Dental Caries Third edition. Oxford
University Press Inc: United States.
7. Murrsy JJ. The Prevention of Dental Disease. 2nded. New York, Oxford
University Press; 1989: 441-7
8. Shidu HK, Ali A. Ankylosis and Infraocclusion: Report of a Case Restored
With a Fibre-Reinforeed Ceromeric Bridge. http://www.nature.com/cgitaf/journal.htm
9. Tjut Rostina. Oklusi, Maloklusi, Etiologi Maloklusi.Bagian Ortodonti
Fakultas Kedokteran Gigi USU: 2003: 75-2
10. Rock WP, Andlaw RJ, A Manual of Paedodontics. 2nded. United State of
america, Churchill Livingstone Inc; 1999: 123,131
11. Salzmann JA. Orthodontics: Practice and Technics. Philadelphia, WB
Saunders Co; 2000: 30-3
12. Veronika W, Gross JC. Malposition, Malocclusion of Teeth Buds.
http://hoag.myelectronicmd.com/screening/partners_3.shtml.
13. Tooth

Eruption.

http://www.adandental.com.au/tooth_eruption_dates.htm

[diakses 23 Februari 2015]


14. Converse JM, hogan VM, McCarthy JG.Cleft Lip and Palate, Introduction.
Dalam: Reconstructive Plastic Surgery, ed. 11, vol. 4. Philadelphia:
WBSaunders
15. Nelson. 1993. Ilmu Kesehatan Anak bagian 2. Jakarta; Fajar Interpratama

41

16. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al. Sumbing Bibir dan Langitan. Dalam:
Kapita Selekta. Jilid 2. Jakarta:Media Aesculapius.FK UI. 2005.
17. Sjamsuhidajat R, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jilid 2.
Jakarta:EGC.2005.

42