Anda di halaman 1dari 23

PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, PROFITABILITAS DAN SOLVABILITAS

TERHADAP HARGA SAHAM PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR PADA ILQ45


A. LATAR BELAKANG
Seiring dengan terus tumbuhnya laju perekonomian di Indonesia membuat
tingkat persaingan dalam dunia bisnispun semakin ketat, perusahaan yang tidak
mampu menjaga persaingan dengan lawan-lawannya tidak akan dapat bertahan dan
akan tersingkir dengan sendirinya. Persaingan yang sedemikian ketatnya membuat
perusahaan-perusahaan yang ada terus dipacu untuk dapat terus berkembang.
Perkembangan perusahaan dapat dilihat dari peruluasan usaha dan peningkatan
kapasitas produksi atau singkatnya melakukan kegiatan ekspansi.
Kegiatan ekspansi yang dilakukan dalam rangka terus memacu tumbuh
kemabangnya perusahaan bukanlah sesuatu yang murah. Kegiatan ini memerlukan
dana besar dalam penerapannya, beberapa perusahaan besar sekalipun tidak
mampu menyediakan dana untuk kegiatan ekspansi mereka.
Dengan besarnya dana yang dibutuhkan, membuat sebuah perusahaan yang
tidak mampu menyediakan dana, tentu akan memilih sumber pendanaan dari luar.
Salah satu sumber pendanaan dari luar yang banyak dipilih oleh sebuah perusahaan
adalah dengan meluncurkan saham di pasar modal. Dengan banyaknya investor
yang berkeliaran dan besarnya dana yang beredar di pasar modal membuat banyak
perusahaan tergiur untuk ambil bagian di dalamnya.
Bagi para investor yang akan melakukan kegiatan investasi, menanamkan
modal bukanlah hal sepele. Para investor akan melakukan penilaian yang mendalam
sebelum menentukan saham mana yang akan dibeli. Bagi para investor yang berani

menanggung resiko yang besar tentu akan lebih memilih bermain di capital gain
untuk medapatkan keuntungan besar dalam waktu yang lebih singkat, kegiatan
penilaian ini menjadi bagian yang sangat penting sebelum memutuskan untuk
membeli saham.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada harga saham menjadi bagian penting
dalam penilaian pemilihan saham yang akan dibeli, karena dalam permainan
investasi yang berorientasi pada capital gain setiap perubahan harga saham yang
terjadi akan sangat berpengaruh pada kegiatan investasi mereka.
Oleh karena itu para investor harus tepat dalam menanamkan modal yang
mereka miliki. Artinya adalah modal yang di tanamkan akan memberikan
keuntungan di waktu yang akan datang. Dari beberapa penilaian yang dapat
dilakukan oleh seorang investor, salah satunya adalah analisis fundamental. Artinya
seorang investor meramalkan masa depan portofolio yang dipilihnya berdasarkan
pada kondisi perusahaan yang digambarkan dari data sekunder perusahaan yaitu
berupa neraca, laba-rugi, perubahan modal, arus moda dan laporan pendukung
lainnya.
Di dalam dalam analisis fundamental, terdapat jenis analisis rasio keuangan.
Rasio keuangan merupakan salah satu cara yang paling sering digunakan dalam
analisis laporan keuangan untuk menilai kinerja keuangan sebuah perusahaan oleh
investor. Untuk mengukur kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dilakukan
dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Diantaranya Likuiditas, Solvabilitas
dan Profitabilitas.
Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan
untuk membayar hutang-hutang jangka pendek yang dimiliki. Apabila perusahaaan

dinilai memiliki cukup kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya


maka perusahaan tersebut dapat disebut likuid. Sebaiknya jika perusahaan dalam
keadaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendekya maka perusahaan
tersebut dikatakan ilikuid (tidak likuid).
Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban
jangka panjangnnya. Suatu perusahaan dikatan solvable yaitu perusahaan tersebut
memiliki kekayaan yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya di masa yang
akan datang.
Profitabilitas adalah kemampuan dari suatu perusahaan untuk menghasilkan
laba dalam suatu periode tertentu.
Melihat betapa pentingnya dari analisis rasio likuiditas, solvabilitas dan
profitabilitas yang dijelaskan dari uraian di atas, maka dipilihlah judul PENGARUH
RASIO LIKUIDITAS, PROFITABILITAS DAN SOLVABILITAS TERHADAP HARGA
SAHAM PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR PADA ILQ45
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi masalah
yang muncul yaitu :
1. Bagaimanakah pengaruh rasio likuiditas terhadap harga saham pada
perusahaan yang terdaftar pada ILQ45 ?
2. Bagaimanakah pengaruh rasio solvabilitas terhadap harga saham
pada perusahaan yang terdaftar pada ILQ45 ?
3. Bagaimanakah pengaruh rasio profitabiliitas terhadap harga saham
pada perusahaan yang terdaftar pada ILQ45 ?
C. TUJUAN PENELITIAN

Sesuai dengan permasalahan dan pertanyaan penelitian yang diajukan, maka


tujuan penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut :
1. Menguji pengaruh rasio likuiditas terhadap harga saham pada
perusahaan yang terdaftar pada ILQ45
2. Menguji pengaruh rasio solvabilitas terhadap harga saham pada
perusahaan yang terdaftar pada ILQ45
3. Menguji pengaruh rasio profitabiliitas terhadap harga saham pada
perusahaan yang terdaftar pada ILQ45
D. MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan ini, antara lain :
1. Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk memperluas wawasan
mengenai laporan keuangan dan pengaruhnya terhadap harga saham.
2. Bagi investor, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam
pengambilan keputusan investasi agar dapat memperoleh keuntungan.
3. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu
perusahaan dalam penentuan pengambilan kebijakan yang lebih baik.
4. Bagi penulisan selanjutnya, dapat dijadikan bahan pembanding dalam
penulisan sejenis.
E. KERANGKA TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
1. LANDASAN TEORI
Tujuan dari setiap investasi yang dilakukan oleh investor adalah untuk
mencari laba. Menurut Tandelin dalam Ardi Hamzah (2005) yang dimaksud dengan
investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang
dilakukan pada saat ini dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa
yang akan datang
Terdapat 2 pendekatan dasar dalam memilih saham untuk investasi, yaitu
dengan menggunakan analisis teknikal dan analisis fundamental. Pada penelitian
ini, analisis fundamental adalah pendekatan yang coba untuk diungkap. Analisis
fundamental menurut Suad Husnan dalam Ardi Hamzah (2005) menyatakan
analisis fundamental mencoba untuk memperkirakan harga saham dimasa yang

akan datang dengan mengestimasi faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi


harga saham di masa yang akan datang dan menerapkan hubungan variabel
variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham.
Faktor fundamental perusahaan dapat diartikan sebagai faktor-faktor internal
perusahaan yang digambarkan sebagai kinerja keuangan perusahaan yang
dituangkan kedalam bentuk laporan keuangan. Untuk mengukur kinerja keuangan
perusahaan ini diperlukan alat analisis yaitu rasio untuk mengukur kekuatan dan
kelemahan perusahaan. Rasio ini bisa dianalisis dengan cara membandingkan
secara historical untuk mengamati kecenderungan yang terjadi yang sering disebut
dengan tren analysis atau cara lainnya adalah dengan membandingkan rasio
keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya yang masih dalam industri
sejenis serta pada periode tertentu yang biasa disebut common size analysis.
profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan
keputusan (Brigham dan Houston dalam Haryanto 2005). Rasio profitabilitas
menunjukan

keberhasilan

perusahaan

dalam

menghasilkan

keuntungan.

Perusahaan yang mampu terus meraup keuntungan yang menjanjikan setiap


periodenya yang dapat dilihat dari laporan keuangannya, tentu akan menarik
perhatian para calon investor di pasar bursa, terlebih lagi keuntungan yang didapat
selalu stabil berorientasi naik bahkan dalam kondisi perekonomian yang sulit. Hal
tersebut dapat membuat para calon investor merasa perusahaan tersebut memiliki
kekuatan pasar yang baik sehingga perusahaan dapat berjalan stabil. Ketertarikan
yang kemudian diikuti oleh eksekusi beli oleh para investor tentu askan membuat
harga saham naik. Akan tetapi disisi lain, keuntungan yang terlalu fluktuatif atau
ekstrim pergerakannya, seperti misalkan keuntungan yang baik di quartal 1 namun

mengalami kerugian besar dikurtal 2, dapat membuat para investor malah bertanyatanya dan ragu akan kemampuan manajemen dan stabilitas perusahaan. Keraguan
yang muncul apalagi berlebihan atau yang biasa disebut dengan sentimen negatif
tentu dapat menjatuhkan harga saham di pasar bursa.
Likuiditas
Likuiditas adalah rasio yang menunjukan tingkat kemampuan perusahaan
untuk membayar hutang-hutang jangka pendek yang dimiliki. Artinya perusahaan
yang mimiliki tingkat likuiditas yang tinggi, kemampuan membayar hutang jangka
pendeknyapun tinggi, bisa dikatakan perusahaan yang mimiliki tingkat likuiditas
tinggi menunjukan perusahaan dalam kondisi yang baik, sehingga dapat
meningkatkan permintaan saham perusahaan yang berakibat pada naiknya harga
saham perusahaan tersebut. Di sisi lain, perusahaan yang mimiliki tingkat likuiditas
yang terlampau tinggi justru akan membuat harga saham turun. Para investor
menganggap akan menganggap yang sudah terlalu likuid, artinya perusahaan
tersebut malahan terlalu banyak menimbun aktiva produktif yang seharusnya dapat
dimanfaatkan. Aktiva yang tidak dimanfaatkan tersebut tentu hanya menambah
beban perusahaan yang harus tetap membayar biaya perwatan ditambah dengan
biaya penyimpanan terus-menerus.

Solvabilitas
Rasio Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan membayar hutang jangka
panjangnya. Rasio Solvabilitas merupakan suatu indikator untuk mengukur
perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik perusahaan dengan dana yang
berasal dari kreditor perusahaan (dibelanjai dari hutang). Rasio Sovabilitas atau
biasa disebut juga rasio manajemen hutang

(leverage ratio) karena merupakan

rasio pengungkit yaitu menggunakan uang pinjaman (debt) untuk memperoleh


keuntungan (penggunaan pembiyaan menggunakan hutang). Perusahaan yang
solvabel memanfaatkan utang yang mereka miliki untuk meraup keuntungan dan
juga menggunakannya untuk pembiyayaan. Namun disisi lain, penggunaan hutang
yang berlebih membuat perusahaan memiliki beban yang juga besar, beban yang
terlalu besar ini bisa saja menimbulkan bencana apabila terjadi krisis yang datang
secara tiba-tiba dan hutang perusahaan akan semakin membengkak yang membuat
perusahaan berpotensi untuk bangkrut. Hal ini jelas sangat dicermati oleh para
investor, mereka tidak akan mau menanamkan modal pada perusahaan yang
memiliki potensi kerugian dan kebangkrutan yang mengerikan, namun disisi lain
sejauh penggunaannya optimal, maka hal itu dapat dipandang sebagai potensi
keuntungan yang menjanjikan.
Saham
Saham adalah tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas seperti yang telah
diketahui bahwa tujuan pemodai membeli saham untuk memperoleh penghasilan
dari saham tersebut. Masyarakat pemodal itu dikategorikan sebagai investor dan
speculator. Investor disini adalah masyarakat yang membeli saham untuk memiliki
perusahaan dengan harapan mendapatkan deviden dan capitat gain dalam jangka
panjang, sedangkan spekulator adalah masyarakat yang membeli saham untuk
segera dijual kembali bila situasi kurs dianggap paling menguntungkan seperti yang
telah diketahui bahwa saham memberikan dua macam penghasilan yaitu deviden
dan capital gain.
Ada berbagai definisi saham yang telah dikemukakan oleh para ahli maupun
berbagai buku-buku teks, antara lain:
a) Menurut Gitman:

Saham adalah bentuk paling murni dan sederhana dari kepemilikan perusahaan.
(Gitman:2000,

7)

b) Menurut Bernstein:
Saham adalah selembar kertas yang menyatakan kepemilikan dari sebagian
perusahaaan. (Bernstein:1995, 197)
c) Menurut Mishkin:
Saham adalah suatu sekuritas yang memiliki klaim terhadap pendapatan dan asset
sebuah perusahaan. Sekuritas sendiri dapat diartikan sebagai klaim atas
pendapatan masa depan seorang peminjam yang dijual oleh peminjam kepada yang
meminjamkan, sering juga disebut instrumen keuangan. (Mishkin:2001, 4).

Jenis Saham :
Dalam transaksi jual-beli di Bursa Efek, saham atau sering pula disebut shares
merupakan instrumen yang paling dominan diperdagangkan. Saham tersebut dapat
diterbitkan dengan cara atas nama atau atas iinjuk. Selanjutnya saham dapat
dibedakan antara saham biasa (common stoks) dan saham preferen (preffered
stocks).
a. Saham Biasa (Common Stock)
Saham biasa adalah efek dari penyertaan pemilikan (equity security) dari badan
usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas. Saham biasa memberikan jaminan untuk
turut serta daiam pembagian laba daiam bentuk deviden, apabila perusahaan
tersebut memperoleh laba.
Menurut Dahlan Siamat (1995:385), ciri - ciri dari saham biasa adalah sebagai
berikut:

1)

Dividen

dibayarkan

sepanjang

perusahaan

memperoleh

laba.

2) Memiliki hak suara (one share one vote).


3) Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan apabila bangkrut dilakukan
setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.
b. Saham Preferen (Preferred Stock)
Merupakan saham yang mempunyai sifat gabungan antara obligasi dan saham
biasa.
Adapun ciri - eiri dari saham preferen menurut Dahlan Siamat (1995:385)adalah:
1) Memiliki hak paling dahulu memperoleh deviden.
2) Tidak memiliki hak suara,
3) Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan
pengurus.
4) Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu
setelah kreditur apabila perusahaan dilikuidasi.

Harga Saham :
Saham merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam
suatu perusahaan, selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan
bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemiliknya (berapapun porsinya/jumlahnya)
dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut. Seiembar saham
mempunyai niiai atau harga. Menurut Sawidji Widoatmojo (1996;46) harga saham
dapat dibedakan menjadi 3 (tiga):

a. Harga Nominal

Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oieh emiten untuk
menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besaraya harga nominal
membenkan arti penting saham karena deviden minimal biasanya ditetapkan
berdasarkan nilai nominal.
b. Harga Perdana
Harga ini merapakan pada waktu harga saham tersebut dicatat di bursa efek.
Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi
(underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa harga saham
emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya imtuk menentukan harga
perdana.
c. Harga pasar
Kalau harga perdana merapakan harga jual dari perjanjian emisi kepada investor,
maka harga pasar adalah harga jual dari irwestor yang satu dengan investor yang
lam. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa. Transaksi disini
tidak lagi melibatkan emiten daii penjamin emisi harga ini yang disebut sebagai
harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili harga
perusahaan penerbitnya, karena pada transaksi di pasar sekunder, kecil sekali
terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari
diumumkan di surat kabar atau media lain adalah harga pasar.
A. ILQ45
ILQ45 merupakan suatu forum yang didalamnya berisi perusahaan
perusahaan yang saham sahamnya memiliki tingkat likuiditas dan kapitalisasi
pasar yang tinggi. Tidak sembarang perusahaan yang dapat masuk dalam kriteria

ILQ45. Perusahaan perusahaan yang ingin masuk dalam daftar ILQ45 harus
memiliki berbagai kriteria yang harus dipenuhi, antara lain :
a. Saham tersebut harus masuk dalam rangking 60 besar dari total transaksi saham di
pasar regular (yang dilihat adalah rata-rata nilai transaksi selama 12 bulan terakhir).
b. Saham tersebut juga harus masuk ke dalam jajaran teratas dalam peringkat
berdasarkan kapitalisasi pasar (yang dilihat adalah rata-rata kapitalisasi pasar
selama 12 bulan terakhir).
c. Saham tersebut harus tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama miniman 3
bulan.
d. Keadaan keuangan perusahaan dan prospek pertumbuhan dari perusahaan pemilik
saham harus baik begitu juga frekuensi dan jumlah hari perdagangan transaksi di
pasar regulernya juga harus baik.
Duduk di jajaran LQ45 merupakan suatu kehormatan bagi sebuah perusahaan
karena itu berarti pelaku pasar modal sudah mengakui dan percaya bahwa tingkat
likuiditas dan kapitalisasi pasar dari perusahaan ini baik. Namun bagi yang sudah
berada di dalamnya harus tetap bekerja keras untuk mempertahankannya, karena
saham-saham ini akan dipantau setiap 6 bulan sekali dan akan diadakan review
yang biasanya berlangsung pada awal Februari dan awal Juli. Saham yang masih
berada dalam kriteria akan tetap bertahan dalam jajaran LQ 45 sedangkan yang
sudah tidak memenuhi kriteria akan diganti dengan yang lebih memenuhi syarat.
Pemilihan saham saham LQ45 harus wajar, oleh karena itu BEI mempunyai komite
penasihat yang terdiri dari para ahli di BAPEPAM, Universitas dan Profesional di
bidang pasar modal.
Terdapat pula faktor faktor yang berperan dalam pergerakan indeks LQ45, yaitu

a. Tingkat suku bunga SBI sebagai dasar portofolio investasi di pasar keuangan
Indonesia.
b. Tingkat toleransi investor terhadap resiko.
c. Saham saham penggerak indeks yang merupakan saham berkapitalisasi pasa
besar di BEI.
Adapula faktor faktor yang berpengaruh terhadap naiknya indeks LQ45, yaitu :
a. Penguatan bursa global dan regional menyusul penurunan harga minyak mentah
dunia.
b. Penguatan nilai tukar rupiah yang mampu mengangkat indeks LQ45 ke zona positif.
Tujuan dari indeks LQ45 adalah sebagai pelengkap IHSG dan khususnya untuk
menyediakan sarana yang obyektif dan terpercaya bagi analisis keuangan, manajer
investasi, investor dan pemerhati pasar modal lainnya dalam memonitori pergerakan
harga dari saham saham yang aktif diperdagangkan.

2. HASIL PENELITIAN TERDAHULU


Pada penelitian terdahulu, Natarsyah (2000) mengemukakan bahwa ROA,
ROE, DPR, DER dan BVS berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap harga
saham. Demikian juga indeks beta sebagai pengukur resiko sistematis juga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham, sehingga dapat dikatakan
bahwa analisis fundamental berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham
perusahaan kelompok industri barang konsumsi yang go public di pasar modal. Dari

penelitian tersebut, Natarsya mengemukakan bahwa pengaruh terbesar datang dari


nilai koofisien regresi BVS. Disisi lain, dari penelitian tersebut juga didapat fakta
bahwa para pemodal sudah beralih dari berorientasi terhadap deviden menjadi
berorientasi terhadap capital margin. Disamping itu, dinyatakan bahwa perubahan
harga saham juga dipengaruhi oleh aspek psikologi pasar. Ketidakstabilan emosi
para pemodal juga turut menyebabkan reaksi pasar sehingga mempengaruhi harga
saham.
Berikutnya, pada penelitian Meily Suryanti dalam Dipo Satria Alam
menyatakan bahwa rasio sovabilitas dengan harga saham. Ia mengemukakan
bahwa semakin tinggi rasio solvabilitas, menunjukan tingkat pengembalian yang
semakin kecil dan berakibat pada turunnya harga saham.
Dan penelitian terakhir adalah Indah Nurmalasari yang menyatakan bahwa
Pengaruh Return On Asset (ROA) Terhadap Harga Saham
Return On Asset (ROA) adalah perbandingan antara laba sebelum bunga dan pajak
dengan total aktiva. Hasil dari Uji-t diketahui bahwa Return On Asset (ROA)
terhadap harga saham mempunyai pengaruh yang signifikan dan hubungan positif.
Saat laba sebelum bunga dan pajak naik dan total aktiva turun maka ROA akan naik,
semakin besar ROA semakin besar tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan. Ini
menunjukkan bahwa manajemen dapat menggunakan total aktiva perusahaan
dengan baik (aktiva lancar dan aktiva tetap) dan pada akhirnya akan meningkatkan
harga saham perusahaan sehingga menarik banyak investor untuk menanamkan
modalnya di perusahaan LQ45.
Pengaruh Return On Equity (ROE) Terhadap Harga Saham
Return On Equity (ROE) adalah perbandingan antara laba bersih dengan modal
sendiri. Hasil dari Uji-t diketahui bahwa Return On Equity (ROE) terhadap harga

saham tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Saat laba bersih turun dan modal
naik maka ROE akan turun. Hal ini berarti dari total modal yang ada tidak dapat
mempengaruhi perubahan harga saham. Dengan jumlah equity yang tinggi maka
mengakibatkan banyak dana yang kurang produktif sehingga perlu adanya
pengalokasian dana yang dapat menghasilkan keuntungan, seperti memperluas
lahan usaha atau menambah peralatan pabrik.
Pengaruh Net Profit Margin (NPM) Terhadap Harga Saham
Net Profit Margin (NPM) adalah perbandingan antara laba bersih perusahaan
dengan pendapatan operasional perusahaan. Hasil dari Uji-t diketahui bahwa Net
Profit Margin (NPM) terhadap harga saham tidak memiliki pengaruh yang signifikan
dan hubungan negatif. Saat laba bersih naik, total penjualan pun akan naik hal ini
disebabkan karena tingginya biaya yang dikeluarkan sehingga NPM tidak memiliki
pengaruh terhadap harga saham. Hal ini berarti manajemen mengalami kegagalan
dalam hal operasional (penjualan) dan ini akan mengakibatkan mengurangnya
kepercayaan investor untuk berinvestasi dalam perusahaan LQ45.
Pengaruh Earning Per Share (EPS) Terhadap Harga Saham
Earning Per Share (EPS) adalah keuntungan setelah dikurangi pajak pendapatan,
dengan cara membagi jumlah keuntungan yang tersedia untuk pemegang saham
biasa dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar. Saat laba bersih naik dan
jumlah lembar biasa turun maka EPS naik.Hasil dari Uji-t diketahui bahwa Earning
Per Share (EPS) terhadap harga saham mempunyai pengaruh yang signifikansi dan
hubungan positif. Semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk mendistribusikan
pendapatan kepada pemegang sahamnya, semakin besar keberhasilan usaha yang
dilakukannya.

3. HIPOTESIS
Rasio profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan
keputusan (Brigham dan Houston dalam Haryanto 2005). Rasio profitabilitas
menunjukan

keberhasilan

perusahaan

dalam

menghasilkan

keuntungan.

Perusahaan yang mampu terus meraup keuntungan yang menjanjikan setiap


periodenya yang dapat dilihat dari laporan keuangannya, tentu akan menarik
perhatian para calon investor di pasar bursa, terlebih lagi keuntungan yang didapat
selalu stabil berorientasi naik bahkan dalam kondisi perekonomian yang sulit. Hal
tersebut dapat membuat para calon investor merasa perusahaan tersebut memiliki
kekuatan pasar yang baik sehingga perusahaan dapat berjalan stabil. Ketertarikan
yang kemudian diikuti oleh eksekusi beli oleh para investor tentu askan membuat
harga saham naik. Akan tetapi disisi lain, keuntungan yang terlalu fluktuatif atau
ekstrim pergerakannya, seperti misalkan keuntungan yang baik di quartal 1 namun
mengalami kerugian besar dikurtal 2, dapat membuat para investor malah bertanyatanya dan ragu akan kemampuan manajemen dan stabilitas perusahaan. Keraguan
yang muncul apalagi berlebihan atau yang biasa disebut dengan sentimen negatif
tentu dapat menjatuhkan harga saham di pasar bursa.
Dari penjelasan diatas, dapat ditarik hipotesis:
H1 : rasio profitabilitas berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan yang
terdaftar pada ILQ45.

Likuiditas adalah rasio yang menunjukan tingkat kemampuan perusahaan


untuk membayar hutang-hutang jangka pendek yang dimiliki. Artinya perusahaan
yang mimiliki tingkat likuiditas yang tinggi, kemampuan membayar hutang jangka
pendeknyapun tinggi, bisa dikatakan perusahaan yang mimiliki tingkat likuiditas

tinggi menunjukan perusahaan dalam kondisi yang baik, sehingga dapat


meningkatkan permintaan saham perusahaan yang berakibat pada naiknya harga
saham perusahaan tersebut. Di sisi lain, perusahaan yang mimiliki tingkat likuiditas
yang terlampau tinggi justru akan membuat harga saham turun. Para investor
menganggap akan menganggap yang sudah terlalu likuid, artinya perusahaan
tersebut malahan terlalu banyak menimbun aktiva produktif yang seharusnya dapat
dimanfaatkan. Aktiva yang tidak dimanfaatkan tersebut tentu hanya menambah
beban perusahaan yang harus tetap membayar biaya perwatan ditambah dengan
biaya penyimpanan terus-menerus.
Dari penjelasan diatas, dapat ditarik hipotesis:
H2 : rasio likuiditas berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan yang
terdaftar pada ILQ45.

Rasio Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan membayar hutang jangka


panjangnya. Rasio Solvabilitas merupakan suatu indikator untuk mengukur
perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik perusahaan dengan dana yang
berasal dari kreditor perusahaan (dibelanjai dari hutang). Rasio Sovabilitas atau
biasa disebut juga rasio manajemen hutang

(leverage ratio) karena merupakan

rasio pengungkit yaitu menggunakan uang pinjaman (debt) untuk memperoleh


keuntungan (penggunaan pembiyaan menggunakan hutang). Perusahaan yang
solvabel memanfaatkan utang yang mereka miliki untuk meraup keuntungan dan
juga menggunakannya untuk pembiyayaan. Namun disisi lain, penggunaan hutang
yang berlebih membuat perusahaan memiliki beban yang juga besar, beban yang
terlalu besar ini bisa saja menimbulkan bencana apabila terjadi krisis yang datang
secara tiba-tiba dan hutang perusahaan akan semakin membengkak yang membuat

perusahaan berpotensi untuk bangkrut. Hal ini jelas sangat dicermati oleh para
investor, mereka tidak akan mau menanamkan modal pada perusahaan yang
memiliki potensi kerugian dan kebangkrutan yang mengerikan, namun disisi lain
sejauh penggunaannya optimal, maka hal itu dapat dipandang sebagai potensi
keuntungan yang menjanjikan.
Dari penjelasan diatas, dapat ditarik hipotesis:
H3 : rasio solvabilitas berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan yang
terdaftar pada ILQ45.
RASIO PROFITABILITAS
(X1)

BERPENGARUH

RASIO SOLVABILITAS
(X2)

HARGA SAHAM (Y)

RASIO LIKUIDITAS (X3)

4. MODEL PENELITIAN
Model penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu penelitian yang di
dasarkan atas survey terhadap objek penelitian yang menggambarkan suatu
fenomena berkaitan dengan populasi penelitian atau estimasi proporsi populasi yang
mempunnyai karakteristik tertentu (Cooper dan Emory, dalam Ardi).

F. METODE PENELITIAN
1. OBJEK PENELETIAN
Objek dari penelitian ini adalah saham-saham yang terdaftar pada Bursa Efek
Indonesia sebagai saham yang digolongkan pada ILQ 45 pada periode 2007 - 2011.
2. JENIS DATA

Menurut sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder yaitu data yang telah dikumpulkan pihak lain. Periset hanya memanfaatkan
data yang ada untuk penelitiannya (Istijanto, dalam Ardi)
Menurut bentuknya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka atau bilangan.

3. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL


Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability sampling
yaitu teknik pengambilan sampel yang memberi peluang atau kesempatan tidak
sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi saampel.
Pemilihan sampel data dilakukan secara purposive sampling.
4. KRITERIA SAMPEL
Terdaftar sebagai saham yang digolongkan kedalam ILQ45 pada 2007

2011
Saham tersebut harus masuk dalam rangking 60 besar dari total transaksi
saham di pasar regular (yang dilihat adalah rata-rata nilai transaksi

selama 12 bulan terakhir).


Saham tersebut juga harus masuk ke dalam jajaran teratas dalam
peringkat berdasarkan kapitalisasi pasar (yang dilihat adalah rata-rata

kapitalisasi pasar selama 12 bulan terakhir).


Saham tersebut harus tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama
miniman 3 bulan.

5. TEKNIK PENGUMPULAN
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini dengan melakukan teknik
dokumentasi yaitu dengan mencatat atau mengkopi data yang tercantum dalam
Bursa Efek Indonesia (BEI / Pojok BEI)selamaperiode 2007 - 2011.

6. DEFINISI OPRASIONAL DAN VARIABEL

B. Rasio profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah hasil bersih dari serangkaian kebijakan dan
keputusan (Brigham dan Houston dalam Haryanto 2005). Rasio profitabilitas
menunjukan

keberhasilan

perusahaan

dalam

menghasilkan

keuntungan.

Perusahaan yang mampu terus meraup keuntungan yang menjanjikan setiap


periodenya yang dapat dilihat dari laporan keuangannya, tentu akan menarik
perhatian para calon investor di pasar bursa, terlebih lagi keuntungan yang didapat
selalu stabil berorientasi naik bahkan dalam kondisi perekonomian yang sulit. Hal
tersebut dapat membuat para calon investor merasa perusahaan tersebut memiliki
kekuatan pasar yang baik sehingga perusahaan dapat berjalan stabil. Ketertarikan
yang kemudian diikuti oleh eksekusi beli oleh para investor tentu askan membuat
harga saham naik. Akan tetapi disisi lain, keuntungan yang terlalu fluktuatif atau
ekstrim pergerakannya, seperti misalkan keuntungan yang baik di quartal 1 namun
mengalami kerugian besar dikurtal 2, dapat membuat para investor malah bertanyatanya dan ragu akan kemampuan manajemen dan stabilitas perusahaan. Keraguan
yang muncul apalagi berlebihan atau yang biasa disebut dengan sentimen negatif
tentu dapat menjatuhkan harga saham di pasar bursa.
Rasio profitabilitas yang digunakan adalah Gross Profit Margin. Gross Profit
Margin rasio ini membandingkan antara laba kotor dengan penjualan bersih, dan
rasio ini menunjukan berapa dari bagian penjualan bersih yang merupakan laba
kotor. Semakin tinggi rasio ini maka semakin menguntungkan bagi perusahaan, dan
jika rasio ini rendah berarti proporsi biaya produksi tinggi dan proporsi laba kotornya

rendah, sehingga hal ini tidak menguntungkan perusahaan karena biaya yang lain
belum tertutup.
aktiva lancar
Gross Profit Margin = hutanglancar

x 100%

C. Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah rasio yang menunjukan tingkat kemampuan perusahaan
untuk membayar hutang-hutang jangka pendek yang dimiliki. Artinya perusahaan
yang mimiliki tingkat likuiditas yang tinggi, kemampuan membayar hutang jangka
pendeknyapun tinggi, bisa dikatakan perusahaan yang mimiliki tingkat likuiditas
tinggi menunjukan perusahaan dalam kondisi yang baik, sehingga dapat
meningkatkan permintaan saham perusahaan yang berakibat pada naiknya harga
saham perusahaan tersebut. Di sisi lain, perusahaan yang mimiliki tingkat likuiditas
yang terlampau tinggi justru akan membuat harga saham turun. Para investor
menganggap akan menganggap yang sudah terlalu likuid, artinya perusahaan
tersebut malahan terlalu banyak menimbun aktiva produktif yang seharusnya dapat
dimanfaatkan. Aktiva yang tidak dimanfaatkan tersebut tentu hanya menambah
beban perusahaan yang harus tetap membayar biaya perwatan ditambah dengan
biaya penyimpanan terus-menerus.
Adapun perhitungan rasio Likuiditas yang sering digunakan adalah Current
Ratio. Current Ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan
membayar kewajiban jangka pendek atau hutang yang segera jatuh tempo pada
saat ditagih dengan menggunakan aktiva lancar yang dimiliki. Semakin besar
perbandingan aktiva lancar dengan hutang lancar maka semakin tinggi kemampuan
bank atau perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Current Ratio =

aktiva lancar
hutanglancar

x 100%

D. Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan membayar hutang jangka
panjangnya. Rasio Solvabilitas merupakan suatu indikator untuk mengukur
perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik perusahaan dengan dana yang
berasal dari kreditor perusahaan (dibelanjai dari hutang). Rasio Sovabilitas atau
biasa disebut juga rasio manajemen hutang

(leverage ratio) karena merupakan

rasio pengungkit yaitu menggunakan uang pinjaman (debt) untuk memperoleh


keuntungan (penggunaan pembiyaan menggunakan hutang). Perusahaan yang
solvabel memanfaatkan utang yang mereka miliki untuk meraup keuntungan dan
juga menggunakannya untuk pembiyayaan. Namun disisi lain, penggunaan hutang
yang berlebih membuat perusahaan memiliki beban yang juga besar, beban yang
terlalu besar ini bisa saja menimbulkan bencana apabila terjadi krisis yang datang
secara tiba-tiba dan hutang perusahaan akan semakin membengkak yang membuat
perusahaan berpotensi untuk bangkrut. Hal ini jelas sangat dicermati oleh para
investor, mereka tidak akan mau menanamkan modal pada perusahaan yang
memiliki potensi kerugian dan kebangkrutan yang mengerikan, namun disisi lain
sejauh penggunaannya optimal, maka hal itu dapat dipandang sebagai potensi
keuntungan yang menjanjikan.
Solvabilitas suatu perusahaan dapat diukur dengan Debt to Asset Ratio. Debt
to Asset Ratio membandingkan total jumlah aktiva disatu pihak dengan jumlah
hutang (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang) di lain pihak. Rasio ini
menunjukan sejauh mana hutang dapat ditutupi oleh aktiva, lebih besar rasionya

lebih aman (solvabel). Bisa juga dibaca berupa porsi hutang dibanding dengan
aktiva. Supaya porsi hutang terhadap aktiva harus lebih kecil.
Debt to Asset Ratio =

aktiva lancar
hutanglancar

x 100%

7. UJI HIPOTESIS DAN ANALISIS DATA


Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang digunakan, yaitu:
a. Variabel tidak bebas (Dependent Variabel)
Penulis menentukan harga saham (Y) sebagai varibel tidak bebas, karena harga
saham yang berubah-ubah sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
b. Variabel bebas (Independent Variabel)
Penulis menentukan Ratio Likuiditas menggunakan Current Ratio, Ratio Solvabilitas
menggunakan Debt to Asset Ratio, dan Ratio Profitabilitas menggunakan Gros Profit
Margin.
Variabel-variabel diatas akan dianalisis dengan Analisis Regresi Linier Berganda dan
Korelasi Brerganda menggunakan software SPSS versi 17, kemudian dilakukan uji
koefisien regresi sederhana (Uji t) untuk menguji apakah hubungan yang terjadi itu
berlaku untuk populasi.
1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda adalah hubungan secara linier antara satu variabel
independent (X1,X2,X3) dengan variabel dependent (Y). Analisis ini untuk
mengetahui arah hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent
apakah positif atau negatif. Rumus regresi linier berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3
Keterangan:
Y= Variabel dependent

X1 = Variabel independent ( ratio likuiditas)


X2 = Variabel independent (ratio solvabilitas)
X3 = Variabel independent (ratio profitabilitas)
a = Konstanta (nilai Y apabila X = 0)
b = Koefisien regresi ( nilai peningkatan atau penurunan)

Alat analisis fundamental yang dipergunakan adalah rasio keuangan yang berupa :
a. Rasio Likuiditas
Current Ratio =

aktiva lancar
hutanglancar

x 100%

b. Rasio Solvabilitas
Debt to Asset Ratio =

aktiva lancar
hutanglancar

x 100%

c. Rasio Profitabilitas
aktiva lancar
Gross Profit Margin = hutanglancar

x 100%