Anda di halaman 1dari 4

ETIKA BISNIS & PROFESI

JAWABAN KASUS
DISKRIMINASI GENDER DI IKEA

Oleh
NI PUTU NONIK HARIASIH
1391662017
12

Program Magister Akuntansi


Fakultas Ekonomi & Bisnis
Universitas Udayana
2015

KASUS DISKRIMINASI GENDER DI IKEA


IKEA merupakan perusahaan furniture dan peralatan rumah tangga yang terletak di
Swedia serta memiliki 364 toko di 41 Negara, termasuk Indonesia tepatnya di Tangerang Banten.
Perusahaan ini didirikan oleh Ingvar Kamprad pada 1943. IKEA merupakan singkatan dari
namanya, Ingvar Kamprad; tempat ia dilahirkan, Elmtaryd; dan desanya, Agunnaryd. IKEA
bergerak dalam bidang furniture dan memasarkannya dengan harga yang lebih murah, desain
sederhana namun elegan. Keberhasilan IKEA dalam bisnis ini, menobatkanya sebagai peritel
dunia terbesar untuk produk furniture.
Sekitar tahun 2012, IKEA sebagai salah satu perusahaan furniture dan peralatan rumah
tangga terbesar di dunia, mendapatkan kritik atas keputusan mereka meniadakan figur
perempuan dalam iklan cetak mereka yang disebar di Arab Saudi. IKEA membuat iklan yang
kemudian disebar ke seluruh dunia, namun khusus bagi Arab Saudi, IKEA menghapus semua
model wanita yang ada pada gambar. Keputusan ini kemudian dianggap sebagai bentuk
diskriminasi pada perempuan, yang dilakukan oleh IKEA sekaligus pemerintah Arab Saudi.
Masalahnya yang dihapuskan hanyalah sosok wanita saja, sementara sosok pria tetap dibiarkan
terlihat. Bahkan desainer wanita IKEA sendiri dihapus wajahnya dalam iklan tersebut, sementara
ketiga rekan lelakinya tetap berada dalam iklan.
Atas kejadian ini, pihak IKEA pun segera menyampaikan permohonan maaf atas
penghapusan sosok wanita tersebut. Dan menyatakan bahwa, bukan pihak pengecer yang
meminta gambar tersebut diubah. Namun terjadi kesalahan saat proses kerja di Kantor Pusat, dan
pihak IKEA mengakui tidak berhati-hati dalam mengawasi draft katalog IKEA versi Arab Saudi.
Dan menurut juru bicara IKEA, peristiwa ini sebenarnya telah bertentangan dengan nilai nilai
dan konsep bisnis IKEA, dimana IKEA mendorong perlakuan yang adil dan kesempatan kerja
yang sama tanpa memperhatikan ras, agama, jenis kelamin, fisik (cacat/tidak), dan orientasi
seksual.

Pro dan kontra dalam kasus katalog IKEA tersebut, dalam aspek :
a) Aspek Deontologi
Pro: Secara Deontologi, tindakan IKEA berkaitan erat dengan masalah isu budaya
dan norma yang berlaku di Arab Saudi. Dimana di Arab Saudi masih kental dengan
adanya budaya patrilineal, serta diskriminasi gender merupakan hal yang sering
terjadi. Oleh karena itu kaum wanita yang berada di Arab Saudi biasanya melakukan
aksi protes dan menuntut kesetaraan gender, karena mereka diperlakukan secara tidak
adil. Berdasarkan hal tersebut IKEA ingin menyesuaikan diri dengan keadaan
masyarakat Arab Saudi dengan menghapus gambar wanita, sehingga dapat dikatakan
merupakan sebuah motivasi yang baik dan dapat dikatakan etis.
Kontra: IKEA tentunya memiliki nilai-nilai etika yang wajib dijalankan yang
bertujuan untuk mendorong terciptanya perlakuan yang adil dan kesempatan kerja
yang sama tanpa memandang ras, etnis, agama, gender, fisik (cacat/tidak), usia, dan
orientasi seksual. IKEA sendiri telah menghilangkan gambar wanita dalam katalog
yang diterbitkan di Arab Saudi sehingga tindakan IKEA ini dapat dikatakan tidak etis
karena tidak sesuai dan melanggar nilai-nilai etika dan aturan yang diterapkannya.

b) Aspek Utilitarianisme

Pro: Dalam teori utilitarianisme dinyatakan bahwa sebuah tindakan dapat dikatakan
etis apabila memberikan kepuasan kepada pihak-pihak yang relevan. Dalam kasus ini
customers IKEA yang berada di Arab Saudi merupakan salah satu pihak yang relevan.
Dengan menghilangkan gambar wanita dari katalog IKEA akan membuat Customer
merasa dihormati budaya serta adat kebiasaan di negara mereka. Hal ini dapat
dikatakan etis karena dapat meningkatkan kepuasan customer.
Kontra: Tindakan IKEA bertentangan dengan salah satu aspek didalam Teori
Utilitarianisme yang diaman mengajarkan bahwa suatu tindakan yang baik yaitu
memaksimalkan kegunaan, kebahagiaan dan mengurangi penderitaan baik bagi diri
sendiri / orang lain. Disini tindakan IKEA tidak etis karena hanya memaksimalkan
kegunaan dan kebahagian untuk mereka sendiri, dan disisi lain ada pihak yang
dirugikan contohnya pemegang saham. Para pemegang saham ini tentunya
menginginkan produk yang dapat digunakan oleh pria maupun wanita sehingga
menghasilkan profit yang tinggi sehingga memperoleh deviden yang tinggi pula.
Dengan menghilangkan gambar wanita dapat menjadi bad news bagi para pemegang
saham IKEA, dan dapat mengurangi kepuasan yang dirasakan pemegang saham.

c) Aspek Virtue Ethics (Etika Moralitas)

Pro: Pihak IKEA secara jujur telah mengakui bahwa penghilangan gambar wanita
dari katalog produk mereka merupakan sebuah kesalahan dan bertentangan dengan
nilai-nilai perusahaan. IKEA bersedia bertanggung jawab atas tindakan tersebut dan
telah meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan. Tindakan IKEA ini telah
sesuai dengan aspek dari etika moralitas dimana berfokus pada karakter moral dari si
pembuat keputusan.
Kontra: IKEA telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai etika
perusahaan yang seharusnya ia terapkan dengan melakukan diskriminasi ras, agama
dan gender, serta bertentangan dengan aspek etika moralitas. Tindakan tersebut tidak
seharusnya dilakukan karena dapat memperparah masalah isu gender yang ada diArab
Saudi.

Perusahaan mengubah metode kampanye pemasaran, untuk menghindari bias yang mungkin
terjadi di berbagai negara di mana perusahaan menjalankan bisnisnya:
Sebelum menetapkan strategi bisnis yang akan dijalankan diberbagai negara, sebaiknya
IKEA memperhatikan faktor budaya serta adat istiadat masyarakat setempat karena disetiap
daerah dimasing-masing negara memiliki kebiasaan, budaya serta adat istiadat yang berbeda.
Harus difikirkan strategi apa yang pantas dilakukan, etis atau tidakkah tindakan tersebut,
dengan demikian tidak akan menimbulkan protes dari berbagai pihak, serta tidak merugikan
perusahaan.