Anda di halaman 1dari 9

2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Flotasi
Flotasi adalah salah satu proses konsentrasi (meningkatkan kadar mineral) yang

menggunakan perbedaan sifat kimia dan fisik mineral, sifat fisik disini adalah sifat
permukaan mineral itu. Mineral dengan permukaan yang suka dengan air disebut
hidrofilik, sedangkan mineral dengan permukaan yang tidak suka dengan air disebut
hidrofobik. Mineral hidrofilik biasanya adalah mineral pengotor (gangue), ini adalah jenis
mineral yang akan dibuang menjadi tailing, sebaliknya mineral hidrofobik biasanya adalah
mineral berharga yang nantinya akan ditampung menjadi konsentrat.
Proses flotasi telah dikenal pada awal abad revolusi industri mineral, yang
dianggap sebagai langkah utama dalam kemajuan teknologi manusia. Hingga 25 tahun
berikutnya alat ini menjadi sering digunakan di Australia. Saat ini flotasi adalah salah satu
proses konsentrasi mineral yang dominan digunakan dalam industri, flotasi dapat
digunakan untuk mengolah hampir semua jenis mineral, baik sulfida namun sangat
digunakan dalam mengolah mineral non-sulfida dan batu bara. Flotasi dapat diaplikasikan
untuk bijih dengan kadar rendah serta bijih yang memerlukan fine grinding untuk
mencapai keadaan bebas
Flotasi memisahkan mineral dengan cara mengapungkan mineral tersebut, dan
diberi gelembung udara. Nama lain dari pemisahan ini adalah flotasi buih. Sesuai dengan
penjelasan sebelumnya, bahwa berdasarkan sifat permukaannya mineral dibagi menjadi
dua, yaitu mineral yang mudah dibasahi (hidrofilik) dan mineral yang sukar dibasahi
(hidrofobik). Pada saat mineral ini berada di dalam air, kemudian akan diberi gelembung
udara, mineral dengan sifat hidrofobik akan terangkat sampai ke permukaan, sebaliknya
mineral dengan sifat hidrofilik akan tetap berada di dalam air. Untuk lebih jelasnya, dapat
dilihat pada gambar ilustrasi di bawah ini.

Mineral hidrofobik
Mineral hodrofilik
Gelembung udara

Gambar 2.1 Perbedaan sifat mineral dalam air saat proses flotasi
2.2

Prinsip Kerja Flotasi


Prinsip kerja mesin ini adalah dengan memisahkan mineral berdasarkan sifat

kimia-fisika nya, mineral dipisahkan beradasarkan perbedaan sifat mineral yang dimiliki
oleh mineral itu sendiri. Mineral dengan permukaan suka air disebut hidrofolik sedangkan
mineral dengan permukaan tidak suka air disebut hidrofobik. Pada mesin flotasi, mineral
akan dimasukan ke dalam air, kemudian dibagian atas dari alat ini akan disiram dengan air,
dibagian tengah dari alat ini ada alat yang berbentuk seperti tabung yang dibagian atas dari
tabung itu diberi aliran udara, sehingga air akan terisi udara dan membentuk gelembung.
Gelembung dapat terjadi karena adanya putaran impeler. Gelembung ini yang nantinya
akan memisahkan mineral berharga dengan mineral pengotor. Pemisahaan akan terjadi
karena mineral berharga yang cenderung bersifat hidrofobik (tidak suka air) akan terbawa
oleh gelembung tadi dan diapungkan pada permukaan, sebaliknya mineral pengotor yang
bersifat hidrofilik (suka air) akan terus berada di dalam air sampai dan keluar dibagian
yang telah disediakan sebagai penampungan tailing. Agar memudahkan proses flotasi
sebaiknya bijih mineral yang digunakan memiliki ukuran yang kecil. Walau mineral
berukuran kecil memiliki berat jenis yang besar, ukuran mineral kecil akan menyebabkan
berat jenis asosiasiHal itulah yang akan berat jenis gelembung lebih kecil dari berat jenis
air, sehingga partikel dapat mengapung dengan baik. Untuk lebih memahami prinsip kerja
mesin flotasi, maka dapat dilihat pada gambar ilustrasi di bawah ini.

Gambar 2.2 Prinsip Kerja Mesin Flotasi


Kemampuan apung mineral ini bisa juga disebut sebagai floatability. Dalam hal
ini yang disebut kemampuan apung adalah kemampuan mineral untuk menempel pada
permukaan gelembung udara. Floatability sangat di pengaruhi oleh sifat permukaan
mineral yang akan diolah, untuk mensiasati hal ini sifat permukaan mineral dapat diubah
dengan memberikan reagent kimia. Reagent-reagent yang dapat digunakan dalam proses
flotasi ini dapat dibedakan menjadi beberapa golongan:
1. Frother
Jenis dari frother adalah DOWFROTH Flotation Frother Series, MIBC, dan
Polyalkoxyparaffin. Ini adalah jenis zat kimia yang dapat digunakan untuk
menstabilkan gelembung udara, dimana gelembung udara menjadi tidak mudah
pecah. Gelembung udara tidak boleh mudah pecah karena gelembung harus dapat
bergerak di dalam mineral dan membawa mineral berharga ke permukaan.
2. Collector
Jenis dari reagent kimia collector ini dibagi menjadi dua, mineral sulfida dan nonsulfida. Untuk mineral sulfida Xanthate, dan Dithiophosphate, sedangkan mineral
non sulfida adalah Fatty Acid (jenuh dan tidak jenuh).

Jenis zat kimia ini

digunakan untuk membuat mineral menjadi hodrofilik (suka udara). Permukaan


mineral yang bersifat polar dilapisi dengan reagent, sehingga permukaan mineral
berubah menjadi non-polar dan mineral akan menempel pada gelembung udara.
3. Modifier

Reagent kimia jenis ini digunakna untuk mengembalikan mineral ke sifat


permukaan aslinya. Hal ini dilakukan agar meningkatkan selektifitas. Jenis reagent
ini dibagi mejadi tiga, yaitu:
a. Aktivator
Aktivator digunakan untuk meningkatkan aktivitas permukaan mineral
sehingga dapat berinteraksi dengan kolektor.
b. Depresant
Depresant

digunakan

untuk

mencegah

pengapungan

mineral

tanpa

menghalangi mineral lainnya. Reagent jenis ini akan digunakan jiga


kemampuan apung mineral pengotor sama dengan mineral berharga.
c. Regulating dan Dispersing
Regulor digunakan untuk mengendalikan PH, Pengaruh slime, koloid, serta
garam laut. Sedangkan Dispersing digunakan utnuk melepaskan slime dari
permukaan mieneral.
Setelah mineral melekat pada permukaan gelembung udara, maka akan terjadi yang
namanya kesetimbangan tegangan. Gelembung udara yang berada di dalam air akan
membentuk kesetimbangan tegangan antarmuka pada titik kontak di tiga fasa,

T ag
GELEMBUNG
UDARA

T sg

MINERAL

T sa

Gambar 2.3 Ilustrasi Tegangan Antarmuka


Atau secara sistematis dapat dituliskan sebagai berikut,
=

..............................................................................................(2.1)
=

...........................................................................................(2.2)

= cos ......................................................................................................(2.3)
Dimana,
= tegangan antarmuka mineral dengan gelembung
= tegangan antarmuka mineral dengan air
= tegangan antarmuka air dengan gelembung
= sudut antara permukaan gelembung dengan mineral (sudut kontak)
o jika = 0o, maka seluruh permukaan mineral diselimuti oleh air disebut
hidrofobik
o jika =180o , maka udara menutupi partikel ini disebut hidrofilik
pada keadaan sudut kontak 60o flotasi sudah dapat berlangsung dengan baik, sudut
kontak maksimum yang sebenarnya dicapai saat proses flotasi adalah 110 o. Untuk
memperbesar sudut kontak, nilai sudut cos haruslah kecil. Maka dari itu untuk
memperbesar nilai sudut kontak nilai

harus diperkecil. Dalam hal ini, sudut kontak

digunakan sebagai pengukut kehidrofobiaan permukaan mineral.


Energi antarmuka ini dibentuk oleh mineral, air, dan gelembung dapat ditentukan
dengan pedekatan energi bebas pada dua keadaan tersebut. Yaitu, energi bebas sebelum
gelembung menyatu dengan mineral dan yang energi bebas saat gelembung telah menyatu
dengan mineral. Penurunan energi akan membuat gelembung dan mineral menempel.
Perubahan energi antarmuka dapat dituliskan secara sistematis sebagai berikut,
W = T ag..............................................................................................................(2.4)
2.3

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Cara Kerja Flotasi


Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi cara kerja dari flotasi, faktor-faktor

itu adalah,
1) Persen Padatan
Hal ini tergantung dari bijih yang akan di proses lebih lanjut. Flotasi dapat
digunakan untuk mengolah bijih dengan ukuran besar dengan persen kepadatan

yang besar, flotasi juga dapat digunakan untuk mengolah mineral dengan ukuran
halus. Pada flotasi mineral sulfida, persen padatan yang digunakan cukup besar
yaitu 45%, sedangkan untuk cleaner hanya 25%
2) Feeding (Laju Pengumpanan)
Laju pengumpanan sangat memengaruhi kapasitas dan jeda waktu. Laju
pengumpanan yang tinggi akan membuat kapasitas alat juga akan tinggi, sehingga
perolahan akan menjadi rendah. Hal ini terjadi karena jeda waktu yang sebentar
akan membuat mineral yang diumpankan tidak sempat menempel dengan
gelembung udara, banyak mineral berharga yang akhirnya masuk sebagai tailing.
Karenanya harus dicari laju pengumpanan yang paling baik.
3) Aliran Udara (Air Flow)
Udara dalam flotasi memiliki fungsi sebagai pembuat gelembung yang nantinya
gelembung itu akan menarik mineral keatas permukaan. Pengendalian aliran udara
adalah salah satu hal yang dapat dipergunakan untuk mengatur nilai recovery atau
kadar yang diinginkan.
4) Ukuran Mineral
Semakin kecil ukuran mineral akan semakin besar luas permukannya. Sehingga
mineral dengan ukuran sangat halus akan memiliki luas permukaan yang lebih
spesifik. Mineral dengan ukuran halus juga akan mudah berinteraksi dengan
mineral lainnya (mineral pengotor). Mineral dengan ukuran kecil dan mengapung
ddipermukaan akan menyebabkan kadar konsentrat yang diperoleh rendah.
5) Ukuran Gelembung Udara
Faktor ini akan berpengaruh langsung terhadap luas total permukaan bijih. Untuk
mengatur ukuran gelembung udara, kita dapat mengatur kecepatan impeller.
semakin luas permukaan gelembung maka kemungkinan mineral menempel pada
gelembung akan semakin besar.
6) Ketebalan Lapisan Buih
Lapisan buih adalah salah satu hal yang sangat penting dalam proses flotasi.
Apabila lapisan buih terlalu tipis, maka mineral hidrofilik akan terperangkap dalam
lapisan buih, hal ini sangat buruk karena tailing dapat terbawa dan tertampung
menjadi konsentrat.
7) Laju Air Pembilasan
Seperti halnya laju udara yang digunakan dalam flotasi, begitupun dengan laju air.
Dalam hal ini air berfungsi membantu aliran konsentrat ke dalam penampungannya.
Pemakaian air ini adalah hal yang membedakan flotasi kovensional dan flotasi kolom.

2.4

Alat-Alat Flotasi
Proses konsentrasi dengan menggunakan flotasi dibagi menjadi dua variable. Yang

pertama adalah kondisi kimia: interaksi mineral dengan bahan kimia untuk memisahkan
mineral hidrofobik. Yang kedua: kondisi fisika-mekanik yang mana ditentukan oleh
karakteristik mesin flotasi.
Walaupun ada banyak bentuk mesin flotasi, namun semua itu memiliki fungsi
utama yang sama , yaitu gelembung udara mengangkat mineral hidrofobik sampai pada
permukaan dan mendorongnya ke tempat penampungan konsentrat. Ini semua dapat terjadi
jika mesin flotasi,
1. partikel tetap berada dalam suspensi. Ini diperukaan kecepatan pulp ketas lebih
cepat dibanding kecepatan pulp yang berada di dasar dari semua parikel yang
ada (termasuk yang paling berat atau paling besar)
2. memastikan bahwa semua mineral yang masuk ke dalam mesin flotasi samasama memiliki kesempatan untuk di proses, mineral dengan keadaan berputar
harus diminimalisir. Begitu juga dengan bagian yang tidak dapat diisi oleh
mineral, karena hal ini akan mengurangi efektivitas volume pada mesin.
3. Penyebaran buih yang melewati pulp. Luas tempat masuk udara (penganginan)
yang diperlukan tergantung pada sistem mineral tertentu dan massa yang akan
di flotasi.
4. Meningkatkan jumlah buih sehinggal mineral hidrofobik akan menempel pada
permukaan buih dan naik ke atas permukaan. Hal ini dapat dilakukan dengan
mengatur aliran countercurrent atau menyebarkan udara presipitasi.
5. Mengupayakan pulp diam berada di dalam suatu wilayah langsung di bawah,
untuk meminimalisir pulp tidak menempel pada buih dan gangguan turbulen
dari lapisan buih.
6. Menyediakan busa yang cukup untuk memungkinkan drainase penempelan
mineral yang terjadi.
2.4.1

Mesin Flotasi Mekanik


Mesin flotasi mekanik dari jenis sel adalah mesin yang paling umum

digunakan dalam proses konsentrasi secara flotasi dan yang paling sering
digunakan dalam mengolah mineral logam. Jenis mesin lainnya (mesin flotasi
individual) memiliki impeller yang berpurat dengan cepat . udara yang melewati
impeller akan disebar dengan baik dan pengadukan yang cukup yang menyebabkan
buih menjadi banyak.

Desain impeller dan penyebaran dipertimbangkan dari satu mesin dengan


mesin lainnya. Dalam suatu mesin, turbulensi tinggi dianggap perlu agar mineral
dengan gelembung udara dapat menempel. Perbedaan desain ini adalah untuk
menciptakan wilayah yang lebih jelas.
Mesin flotasi mekanik dengan tangki tunggal tidak terlalu sering
digunaakan namun sukses digunakan pada jenis mineral tertentu.
2.4.2

Mesin Flotasi Pneumatik


Dalam mesin flotasi pneumatik baik tangki tunggal ataupun tipe sel,

keduanya sama-sama mencampurkan udara dengan pulp terjadi pada mulut tangki.
Pada gambar 2.4 pada kolom flotasi, aliran countercurrent memperlihatkan bagian
yang lebih rendah dari kolom. Bila semprotan air digunakan pada bagian atas dari
kolom buih, mempertinggi dreinase partikel dari biuh. Walaupun telah diuji secara
luas, kolom flotasi belum bisa di terima dalam bidang industri.

Gambar 2.4 (a) flotasi kolom (b) mesin flotasi davcra


Metode lain juga digunakan untuk memperkenalkan udara untuk
pengolahan mineral. Walau umumnya terbatas pada aplikasi pengolahan diluar
pengolahan mineral secara tradisional, seperti pengolahan limbah industri. Flotasi
air-terlarut, melibatkan penyebaran udara (atau gas lain) saat sedang berada dalam
tekanan, diikuti dengan pengendapan gelembung diatas partikel yang diikuti
dengan perubahan kembali menjadi tekanan atmosfir.
Dalam tabung flotasi, larutan jenuh dengan udara pada tekanan atmosfir,
kemudian tabung digunakan untuk mendapatkan hasil yang sama dengan yang

10

telah dibahas diatas. Metode yang ketiga adalah elektroflotasi, yang mana
gelembung gas dihasilkan dari proses elektrolisis.
2.5

Macam-Macam Sel Flotasi


Sel flotasi adalah alat yang digunakan untuk menerima pulp (umpan yang dicampur

dengan air) yang selanjutnya akan dilakukan proses flotasi. jenis sel dibedakan
berdasarkan cara pemasukan udaranya, dibedakan menjadi,
1. Sub Aeration Cell
Pada alat ini udara masuk karena adanya gaya tarik dari impeller, impeler adalah
alat pengaduk yang berputar dengan cepat. Alat ini adalah alat yang terbilang
praktis, sehingga sering digunakan.
2. Agitation Cell
Walaupun memiliki kemampuan yang sama dengan sub aeration cell, namun alat
ini lebih dulu ditemukan dibanding sub aeration cell. Seiring dengan
perkembangan jaman, alat ini tidak lagi digunakan, orang lebih sering
menggunakan sub aeration cell.
3. Vacuum and Preasure Cell
Pada alat ini udara masuk ke dalam tangki karena tangki dibuat vacuum oleh
pompa untuk mengisap. Udara akan dimasukan oleh pompa injeksi.
4. Pneumatik Cell
Pada alat ini udara akan langsung masuk ke dalam sel, namun sayangnya alat ini
jarang sekali digunakan dalam industri.
5. Casade Cell
Pada alat ini udara akan masuk karena jatuhnya mineral.