Anda di halaman 1dari 36

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Keperawatan Jiwa
2.1.1 Pengertian Kesehatan Jiwa
Pengertian kesehatan jiwa banyak dikemukakan oleh para ahli
termasuk oleh organisasi, diantaranya menurut :
1.

WHO
Kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa,
melainkan mengandung berbagai karakteristik yang positif yang
menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang
mencerminkan kedewasaan kepribadiannya.

2.

UU Kesehatan Jiwa No 3 tahun 1996


Kondisi
intelectual,

yang

emocional

memungkinkan
secara optimal

perkembangan
dari

seseorang

fisik,
dan

perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain.


3.

Stuart & Laraia


Indikator sehat jiwa meliputi sifat yang positif terhadap diri
sendiri, tumbuh, berkembang, memiliki aktualisasi diri, keutuhan,
kebebasan diri, memiliki persepsi sesuai kenyataan dan kecakapan
dalam beradaptasi dengan lingkungan

4.

Rosdahl

Kondisi jiwa seseorang yang terus tumbuh berkembang dan


mempertahankan keselarasan, dalam pengendalian diri serta
terbebas dari stress yang serius.
2.1.2 Kriteria Sehat Jiwa
1. WHO, mengemukakan bahwa kriteria sehat jiwa terdiri dari:
a. Sikap positif terhadap diri sendiri
Hal ini dapat dipercayai jika melihat diri sendiri secara
utuh/total. contoh: membendingkan dengan teman sebaya pasti
ada kekurangan dan kelebihan. Apakah kekurangan tersebut
dapat diperbaiki atau tidak. Ingat, jangan mimpi bahwa anda
tidak punya kelemahan.
b. Tumbuh dan berkembang baik fisik dan psikologis dan
puncaknya adalah aktualisasi diri
c. Integrasi
Harus mempunyai satu kesatuan yang utuh. Jangan
hanya menonjolkan yang positif saja tapi yang negatif juga
merupakan bagian anda. Jadi seluruh aspek merupakan satu
kesatuan.
d. Otonomi
Orang dewasa harus mengambil keputusan untuk diri
sendiri dan menerima masukan dari orang lain dengan
keputusan sendiri sehingga keputusan pasienpun bukan diatur
oleh perawat tapi mereka yang memilih sendiri
e. Persepsi sesuai dengan kenyataan
Stressor sering dimulai secara tidak akurat. Contoh:
putus pacar karena perbedaan adat
2. A. H. Maslow
Bila kebutuhan dasar terpenuhi maka akan tercapai
aktualisasi diri. Cirinya adalah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Persepsi akurat terhadap realitas


Menerima diri orang lain, dan hakekat manusia tinggi
Mewujudkan spontanitas
Promblem centered yang akhirnya memerlukan self centered
Butuh privasi
Otonomi dan mandiri

g. Penghargaan baru, hal ini bersifat dinamis sehingga mampu


h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

memperbaiki diri
Mengalami pengalaman pribadi yang dalam dan tinggi
Berminat terhadap kesejahteraan manusia
Hubungan intim dengan orang terdekat
Demokrasi
Etik kuat
Humor/tidak bermusuhan
Kreatif
Bertahan atau melawan persetujuan asal bapak senang

3. Yahoda
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Sikap positif terhadap diri sendiri


umbuh kembang dan aktualisasi diri
Integrasi (keseimbangan/keutuhan)
Otonomi
Persepsi realitas
Environmental Mastery (kecakapan dalam adaptasi dengan
lingkungan)

2.1.3 Rentang Sehat Jiwa


1. Dinamis bukan titik statis
2. Rentang dimulai dari sehat optimal-mati
3. Ada tahap tahap
4. Adanya variasi tiap individu
5. Menggambarkan kemampuan adaptasi
6. Berfungsi secara efektif: sehat
2.1.4 Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa
1) Menurut Dorothy, Cecelia
Perawatan Psikiatric/Keperawatan Kesehatan Jiwa adalah proses
dimana

perawat

membantu

individu/kelompok

dalam

mengembangkan konsep diri yang positif, meningkatkan pola


hubungan antar pribadi yang lebih harnonis serta agar berperan
lebih produktif di masyarakat.
2) Menurut ANA
Keperawatan Jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan
yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan
menggunakan diri sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan,
mempertahankan, memulihkan kesehatan mental klien dan
kesehatan mental masyarakat dimana klien berada
3

3) Menurut Kaplan Sadock


Proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan
mempertahankan prilaku yang akan mendukung integrasi. Pasien
atau klien dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi
atau komunitas
4) Caroline dalam Basic Nursing, 1999
Keahlian perawat kesehatan mental adalah merawat seseorang
dengan penyimpangan mental, dimana memberikan kesempatan
kepada perawat untuk mengoptimalkan kemampuannya, harus
peka, memiliki kemampuan untuk mendengar, tidak hanya
menyalahkan, memberikan penguatan atau dukungan, memahami
dan memberikan dorongan.
5) Menurut Stuart Sundeen
Keperawatan mental adalah

proses

interpersonal

dalam

meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang berpengaruh


pada fungsi integrasi. Pasien tersebut biasa individu, keluarga,
kelompok,

organisasi

atau

masyarakat.

Tiga

area

praktik

keperawatan mental yaitu perawatan langsung, komunikasi dan


management.
2.1.5 Peran Perawat Kesehatan Jiwa
Menurut Weiss (1947) yang dikutip oleh Stuart Sundeen
dalam Principles and Practice of Psychiatric Nursing Care (1995),
peran perawat adalah sebagai Attitude Therapy, yakni:
1. Mengobservasi perubahan, baik perubahan kecil atau menetap yang
2.
3.
4.
5.
6.

terjadi pada klien


Mendemontrasikan penerimaan
Respek
Memahami klien
Mempromosikan ketertarikan klien dan beradaptasi dalam interaksi
Sedangkan menurut Peplau, peran perawat meliputi:
a) Sebagai pendidik

b) Sebagai pemimpin dalam situasi yang bersifat lokal, nasional


dan internasional
c) Sebagai surrogate parent
d) Sebagai konselor.

Dan yang lain dari peran perawat adalah:


a) Bekerjasama dengan lembaga kesehatan mental
b) Konsultasi dengan yayasan kesejahteraan
c) Memberikan pelayanan pada klien di luar klinik
d) Aktif melakukan penelitian
e) Membantu pendidikan masyarakat.
2.1.6 Konseptual Model Keperawatan Kesehatan Jiwa
Model

View Of

Therapeutic

Roles Of

Behavioral

Proces

Patient &

Psychoan

Deviation
Ego tidak

alitycal

mampu

(Freud,

mengontrol

Erickson)

ansietas,

mimpi
o Transferen

konflik

untuk

mimpi

tidak sesuat

memperbaiki

Terapist:

traumatik

menginterpret

masa lalu

asi pikiran

o Asosiasi bebas
& analisis

Therapist
Pasien:
mengungkap
kan semua
pikiran dan

dan mimpi
Interperso

Ansietas

o Building

nal

timbul &

feeling

(Sullivan,

dialami

Peplau)

secara

security
o Trusting

pasien
Pasien:
share
anxieties
Terapist: use

interpersona

relationship

empathy &

l, basic fear

&

relationship

is fear of

interpersonal
satisfation

Social

rejection
Social &

(Caplan,

environmen

manipulation

menyampaika

Szasz)

tal factors

& social

n masalah

create

support

menggunkan

o Environmental

Pasien:

stress,

sumber yang

which cause

ada di

anxiety &

masyarakat

symptom

Terapist:
menggali
system social

Existensia

Individu

gagal

in

berperan

(Ellis,

menemukan

relationship

serta dalam

Rogers)

& menerima

,conduction

pengalaman

in group
o Encouraged

yang berarti

to accep

mempelajari

self &

diri

control

Terapist:

behavior

memperluas

diri sendiri

o Experience

klien
Pasien:

untuk

kesadaran
o Menguatka

diri klien
Pasien:

Supportive

Faktor

Therapy(

biopsikososi

n respon

terlibat dalam

Wermon,

al & respon

koping

identifikasi

Rockland

maladaptif

adaptif

coping

saat ini

Terapist:
hubungan
yang hangat
o Pemeriksaan

dan empatik
Pasien:

Medical

Combinatio

(Meyer,

n from

diagnostic,

menjalani

Kraeplin)

physiologic

terapi

prosedur

al, genetic,

somatic,

diagnostic &

environmen

farmakologik

terapi jangka

tal & social

& tehnik

panjang

interpersonal

Terapist:
therapy,
repport
effects,
diagnose
illness,
therapeutic
approach

Berdasarkan konseptual model keperawatan , maka dapat


dikelompokan ke dalam 6 model yaitu:
1. Psychoanalitycal (Freud, Erickson)
Model ini menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi
pada

seseorang

apabila ego(akal)

mengontrol id (kehendak

nafsu

atau

tidak

berfungsi

insting).

dalam

Ketidakmampuan

seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata


tertib, peraturan, norma, agama (super ego/das uber ich), maka
mendorong

terjadinya

penyimpangan

perilaku

(deviation

of

behavioral).
Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah
adanya konflik interpsikis terutama pada masa anak-anak. Misalnya
ketidakpuasan pada masa oral dimana anak tidak mendapatkan air
susu secara sempurna, tidak adanya stimulus untuk belajar berkatakata, dilarang dengan kekerasan untuk memasukan benda pada
mulutnya pada fase oral dan sebagainya. Hal ini akan menyebabkan
traumatik yang membekas pada masa dewasa.
Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode
asosiasi bebas dan analisa mimpi, transferen untuk memperbaiki
traumatik masa lalu. Misalnya klien dinbuat dalam keadaan ngantuk
yang sangat. Dalam keadaan tidak berdaya pengalaman bawah
sadarnya digali dengan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali
traumatik masa lalu. Hal ini lebih dikenal dengan metode hypnotik
yang memerlukan keahlian dan latihan yang khusus

Dengan cara demikian, klien akan mengungkapkan semua


pikiran

dan

mimpinya,

sedangkan

terapist

berusaha

untuk

menginterprestasi pikiran dan mimpi pasien. Peran perawat adalah


berupaya melakukan assessment atau pengkajian melalui keadaankeadaan traumatik atau stressor yang dianggap bermakna pada masa
lalu

misalnya

(pernah

disiksaorang

tua,

pernah

disodomi,

diperlakukan secara kasar, diterlantarkan, diasuh dengan kekerasan,


diperkosa pada masa anak-anak), dengan menggunakan pendekatan
komunitasi terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya).
2. Interpersonal (Sullivan, Peplau)
Menurut model konsep ini, kelainan jiwa sesorang bisa muncul
akibat adanya ancaman. Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan
(anxiety). Ansietas timbul dan dialami seseorang akibat adanya
konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal).
Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adanya
ketakutan ditolak atau tidak diterima oleh orang disekitarnya. Sebagai
contoh dalam kasus seorang anak yang tidak dikehendaki (unwanted
child. Dimana seorang anak yang dilahirkan dari hasil hubungan
gelap, ibunya pernah berupaya untuk membunuhnya karena merasa
malu dan melanggar norma, lingkungannya tidak menerima dengan
hangat karena dianggap anak yang harap, teman-temannya mengejek,
ayahnya tidak pernah memberikan kasih sayang, maka ia akan tumbuh
menjadi anak yang tidak diterima oleh orang lain.
Proses terapi menurut konsep ini adalah build feeling
security (berupaya

membangun

rasa

aman

bagi

klien), trusting relationship and interpersonal satisfaction (menjalin


hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam
berrgaul dengan orang lain dehingga klien merasa berharga dan
dihormati.
Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya
melakuan sharing mengenai apa-apa yang dirasakan klien, apa yang
biasa dicemaskan oleh klien saat berhubungan dengan orang
lain), therapist use empathy and relationship (perawat berupaya
bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh

klien). Perawat memberikan respon verbal yang mendorong rasa aman


klien dalam berhunbungan dengan orang lain seperti: saya senang
berbicara dengan anda, saya siap membantu anda, anda sangat
menyenangkan bagi saya.
3. Social (Caplan, Szasz)
Menurut konsep ini, seseorang akan mengalami gangguan jiwa
atau penyimpangan perilaku apabila banyaknya faktor sosial dan
faktor lingkungan yang akan memicu munculnya stress pada
seseorang (social and environmental factors create stress, which
cause anxiety and symptom). Akumulasi stressor yang ada pada
lingkungan seperti: bising, macet, tuntutan persaingan pekerjaan,
harga barang yang mahal, persaingan kemewahan, iklim yang sangat
panas atau dingin, ancaman penyakit, polusi, sampah akan mencetus
stress pada individu.
Sterssor dari lingkungan diperparah oleh stressor dalam
hubungan sosial seperti atasan yang galak, istri yang cerewet, anak
yang naka, tetangga yang buruk, guru yang mengancam atau teman
sebaya yang jahat akan memunculkan berbagai sterssor dan
membangkitkan kecemasan. Prinsif proses terapi yang sangat penting
dalam konsep model ini adalah environmen manipulation and social
support (pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya dukungan
sosial). Sebagai contoh dirumah harus bersih, teratur, harum, tidak
bising, ventilasi cukup, panataan alat dan perabotan yang teratur.
Lingkungan kantor yang asri, bersahabat, ada tanaman, tata lampu
yang indah, hubungan kerja yang harmonis, hubungan suami istri
yang memuaskan. Peran perawat dalam memberikan terapi menurut
model ini adalah paien harus menyampaikan masalah menggunakan
sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman sejawat, atasan,
keluarga atau suami-istri. Sedangkan terapist berupaya: menggali
sistem sosial klien seperti suasana di rumah, di kantor, di sekolah, di
masyarakat atau tempat kerja.
4. Existensial (Ellis, Rogers)
Menurut teori model eksistensial gangguan perilaku atau
gangguan jiwa terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan

tujuan hidupnya. Individu tidak memiliki kebanggaan akan dirinya.


Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam body imagenya.
Prinsip dalam proses terapinya adalah: mengupayakan individu
agar berpengalaman bergaul dengan orang lain, memahami riwayat
hidup orang lain yang dianggap sukses atau dapat dianggap sebagai
panutan (experience in relationship), memperluas kesadaran diri
dengan cara intropeksi (self assessment), bergaul dengan kelompok
sosial dan kemanusiaan (conduction in group), mendorong untuk
menerima jati dirinya sendiri dan menerima kritik atau feed
back tentang perilakunya dari orang lain(encouraged to accept self
and control behavior).
Prinsip keperawatannya

adalah:

klien dianjurkan

untuk

berperan serta dalam memperoleh pengalaman yang berarti untuk


mempelajari dirinya dan mendapatkanfeed back dari orang lain,
misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Terapist beruapaya untuk
memperluas kesadaran diri klien melalui feed back, kritik, saran
ataureward & punishment
5. Supportive Therapy (Wermon, Rockland)
Penyebab gangguan jiwa dalam konsep model ini adalah: faktor
biopsikososial dan respon maladaptif saat ini. Aspek biologisnya
menjadi maslah seperti: sering sakit maag, migrain, batuk-batuk.
Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti :mudah
cemas, kurang percaya diri, perasaan bersalah, ragu-ragu, pemarah.
Aspek sosialnya memiliki masalah seperti: susah bergaul, menarik
diri, tidak disukai, bermusuhan, tidak mampu mendapatkan pekerjaan
dan sebagainya. Semua hal tersebut terakumulasi menjadi penyebab
gangguan jiwa. Fenomena tersebut muncul akibat ketidakmampuan
dalam beradaptasi pada masalah-masalah yang muncul saat ini da
tidak ada kaitannya dengan masa lalu. Stressor pada saat ini misalnya
berupa PHK atau ujian yang dianggap penting sekali seperti ujian
PNS,

ujian

saringan

masuk

PTN,

tes

masuk

pekerjaan.

Ketidakmampuan beradaptasi dan menerima apapun hasilnya setelah


berupaya maksimal, menyebabkan individu menjdi stress.
10

Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon coping


adaptif, individu diupayakan mengenal terlebih dahulu kekuatankekuatan apa yang ada pada dirinya; kekuatan mana yang dapat
dipakai alternatif pemecahan masalahnya.
Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi
coping yang dimiliki dan yang biasa yang digunakan klien. Terapist
berupaya menjalin hubungan yang hangat dan empatik dengan klien
untuk menyiapkan coping klien yang adaptif.
6. Medical (Meyer, Kraeplin)
Menurut konsep ini gangguan jiwa cenderung muncul
akibat multifactor yang komplek meliputi: aspek fisik, genetik,
lingkungan dan faktor sosial. Sehingga focus penatalaksanaannya
harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostik, terapi somatik,
farmakologik dan teknik interpersonal. Perawat berperan dalam
berkolaborasi dengan tim medis dalam melakukan prosedur
diaognostik dan terapi jangka panjang, terapist berperan dalam
pemberian terapi, laporan mengenai dampak terapi, menetukan
diagnosa,

dan

menentukan

jenis

pendekatan

tarapi

yang

digunakan. (therapy, repport effects, diagnose illness, therapeutic


approach)
2.1.7 Prinsip Dasar Upaya Pencegahan Dalam Keperawatan Jiwa
1. Upaya promotif/preventif (pencegahan primer)
Usaha-usaha ini meliputi usaha promosi dan pencegahan
terjadinya gangguan mental dengan kegiatan-kegiatan berikut:
a. Pendidikan kesehatan tentang prinsip-prinsip kesehatan mental
b. Usaha-usaha untuk meningkatkan kondisi kehidupan, bebas
dari kemiskinan dan peningkatan pendidikan kesehatan
c. Pengkajian terhadap stres-stres yang potensial dari perubahanperubahan kehidupan dimana dapat menimbulkan gangguan
mental serta merujuk ke unit pelayanan yang sesuai
d. Membantu pasien-pasien di rumah sakit umum untuk usahausaha pencegahan masalah psikiatrik
e. Bekerjasama dengan keluarga/kelompok untuk mendorong
anggota-anggota keluarga/kelompok dapat berfungsi dengan
baik

11

f. Berperan serta dalam kegiatan masyarakat dan politik yang ada


kaitannya dalam bidang kesehatan jiwa
2. Upaya kuratif (pencegahan sekunder)
Usaha yang meliputi pengurangan, jumlah angka kesakitan
dengan deteksi dini dan pengobatan, dengan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan skrining test dan mengevaluasi hasil
b. Kunjungan rumah untuk persiapan perawatan dan pemberian
pengobatan
c. Pelayanan pengobatan gawat darurat dan pelayanan psikiatri di
d.
e.
f.
g.
h.
i.

rumah sakit umum


Menyelenggrakan milieu therapy
Supervisi pada pasien yang mendapatkan pengobatan
Pelayanan pencegahan bunuh diri
Memberikan konseling terbatas/sederhana
Menyelenggarakan intervensi krisis
Pelayanan psikoterapi kepada individu, keluarga, kelompok

dari berbagai tingkatan umur


j. Berintegrasi dengan organisasi-organisasi dan masyarakat
dalam mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan jiwa
3. Upaya rehabilitatif (pencegahan tertier)
Yaitu usaha untuk mengurangi gejala sisa dan atau bahaya
akibat

adanya

penyakit/gangguan

dengan

kegiatan-kegiatan

sebagai berikut:
a. Peningkatan latihan vokasional dan rehabilitasi
b. Penyelenggaraan program latihan (after care) bagi pasien
setelah pulang dirawat ke masyarakat
c. Menyelenggarakan partial hospitalization
2.2 Stres, Adaptasi dan Mekanisme Koping
2.2.1 Stress
A. Definisi
Stress adalah sebagai keadaan atau kondisi yang tercipta
bila transaksi seseorang yang mengalami stress dan hal yang
dianggap mendatangkan stress membuat orang yang bersangkutan
melihat ketidaksepadanan antara keadaan stsu kondisi dan sistem
sumber daya biologis, psikologis, dan sosial yang ada padanya
(Hardjana, 1994).

12

Stress adalah gangguan atau kekacauan mental dan


emosional yang disebabkan oleh faktor luar atau ketegangan dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2007).
Stres adalah segala situasi di mana tuntutan non-spesifik
mengharuskan seseorang individu untuk berespons atau melakukan
tindakan (Selye,1976).
Dapat disimpulkan bahwa stress adalah suatu reaksi atau
respon dari tubuh karena kekacauan emosional, mental dan tekanan
psikologis terhadap lingkungan yang dapat memproteksi diri kita
dan merupakan sebuah proses penyelamatan diri secara alami yang
B.

membuat seseorang tetap hidup.


Proses Terjadi Stres
Stres adalah reaksi dari tubuh (respons) terhadap lingkungan
yang dapat memproteksi diri kita yang juga merupakan bagian dari
sistem pertahanan yang membuat kita tetap hidup. Stres adalah
kondisi yang tidak menyenangkan dimana manusia melihat adanya
tuntutan dalam suatu situasi sebagai beban atau di luar batasan
kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan tersbut. Pandangan
dari Patel (1996), stres merupakan reaksi tertentu yang muncul
pada tubuh yang bisa disebabkan oleh berbagai tuntutan, misalnya
ketika manusia menghadapi tantangan-tantangan (challenge) yang
penting, ketika dihadapkan pada ancaman (threat), atau ketika
harus berusaha mengatasi harapan-harapan yang tidak realistis dari
lingkungannya. Dengan demikian, bisa diartikan bahwa stres
merupakan suatu sistem pertahanan tubuh di mana ada sesuatu
yang mengusik integritas diri, sehingga mengganggu ketentraman
yang dimaknai sebagai tuntutan yang harus diselesaikan.
Disamping itu, keadan stres akan muncul apabila ada tuntutan yang
luar biasa sehingga mengancam keselamatan atau integritas
seseorang.
C. Jenis Stress
Ada dua jenis stres, yaitu baik dan buruk. Strs
melibatkan perubahan fisiologis yang kemungkinan dapat dialami
13

sebagai perasaan yang anxiousness (distres), atau pleasure


(eustres).
1. Stres yang baik atau eustres
adalah sesuatu yang positif. Stres dikatakan berdampak
baik apabila seseorang mencoba untuk memenuhi tuntutan
untuk

menjadikan

orang

lain

maupundirinya

sebdiri

mendapatkan sesuatu yang baik dan berharga. Dengan stress


yang baik, semua pihak merasa diuntungkan. Dengan begitu,
stres

yang

baik

akan memberikan

kesempatan untuk

berkembang dan memaksa seseorang mencapai performanya


yang lebih tinggi. Stres yang baik terjadi jika setiap sytimulus
mempunyai

arti

sebagai

hal

yang

dirasakan

seseorangmemberikan arti sebuah pelajaran, dan bukan sebuah


tekanan. Tahu diri sendiri, tahu menempatkan diri, dan tahu
membawa diri akan menempatkan kita pada suasana yang baik
dan menyenangkan, terutama dalam menghadapi suatu
stimulus yang masuk merupakan suatu pelajaran yang berharga
dan mendorong seseorang untuk selalu berfikir dan berprilaku
bagaimana agar apa yang akan dilakukan selalu membawa
manfaat dan bukan bencana. Stimulus yang merupakan
manifestasi dari timbulnya masalah itu pasti ada dan tidak
perlu dihindari, tetapi harus dihadapi dan disikapi. Oleh karena
itu, perlu ada standar yang ideal diri sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki. Untuk menjadikan stres sebagai sesuatu yang
positif, maka perlu ads sikap bahwa masalah harus dicarikan
penyelesaiannya(problem solving). Salah satunya dengan
mencari

dukungan

menyelesaikan

dari

maslaah,

orang

lain

terutama

untuk

bila

membantu

masalah

sulit

deselesaikan. Apabila tetap tidak bisa diselesaikan cukup


dengan diambil hikmahnya.
2. Stres yang buruk atau distres
adalah stres yang bersifat negatif. Distres dihasilkan
dari sebuah proses yang memaknai sesuatu yang buruk,
dimana respons yang digunakan selalu negatif dan ada indikasi
14

mengganggu integritasdiri sehingga bisa diartikan sebagai


sebuah ancaaman. Distres akan menempatkan pikiran dan
perasaan kita pada tempat dan suasana yang serba sulit. Hal
tersebut dikarenakan cara memandang suatu masalah hanya
dilihat dari sisi yang semoitdan merugikan saja. Belum pernah
dieksplorasi betapa sebuah kejadian ini membawa makna yang
luas sebagai suatu suatu pelajaran yang berharga dan bermakna
untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain. Dengan
demikian distres terjadi apabila suatu stimulus diartikan
sebagai sesuatu yang merugikan dirinya sendiri dalam hal
kenikmatan sajadan biasanya terjadi pada saat itu juga, di mana
sebuah stimulus dianggap mencoba untuk menyerang dirinya.
Hal ini berdampak pada suatu penentuan sikap untuk mencoba
mengusir stimulus tersebut dengan cara menyalahkan diri
sendiri, menghindar dari maslaha, atau menyalahkan orang
lain.
Distres dipicu oleh sebuah tuntutan tidak sesuai dengan
kenyataan atau apa yang diharapkan tidak sesuai dengan
kenyataan yang dihadapi. Hans Selye (1982) menyebutkan
distres adalah tubuh jika dihadapkan pada tuntutan yang
berlebihan, sedangkan menurut Dadang Hawari (2001), distres
dimaknai sebagai sebuah reaksi tubuh yang menyebabkan
fungsi organ tubuh tersebut sampai terganggu. Hal yang
mengejutkan adalah ternyata sedikit tekanan, kita mungkin
hanya berusaha sedikit sehingga performa kita kurang optimal.
Sebaliknya,

tingkat

stres

yang

tinggi

membuat

sulit

berkonsentrasi sehingga performa juga menjadi kurang efektif


dan efisien. Dengan stres yang tidak baik, dapat dipastikan ada
salah satu pihak yang akan dirugikan, bisa mengenai diri
sendiri, maupun orang lain.
Suatu stres yang dikatakan baik dan buruk
bergantung pada sweberapa besar perasaan dan respons kita
terhadap sumbr stres tersebut atau bagaimana kita memaknai

15

sebuah sumber stres. Stres sudah ada sejak kita dalam


kandungan dan tak pernah lepas dari kehidupan kita. Stres
adalah suatu kondisi normal pada waktu menghadapi
perubahan dan ancaman dengan respons yang dapat adaptif.
Menurut Patel (1996), stres tidak selalu bersifat negatif,
namun juga tidak selalu positif, bergantung pada kemampuan
kita untuk mengukur masalah dengan menggunakan standar
ideal diri. Pada kondisi eustres hendaknya dapat disadari ketika
kondisi tubuh dan pikiran dalam keadaan santai atau rileks.
Ketika sudah melampaui tahapan eustres, individu akan
merasa lelah, cemas, agresif serta defensif.
Ditinjau dari penyebabnya, maka stres dibagi menjadi tujuh
macam, di antanya :
1. Stres fisik
Stress yang disebabkan karena keadaan fisik seperti karena
temperatur yang tinggi atau yang sangat rendah, suara yang
bising, sinar matahari atau karena tegangan arus listrik.
2. Stres kimiawi
Stres ini disebabkan karena zat kimia seperti adanya obatobatan, zat beracun asam basa, faktor hormon atau gas dan
prinsipnya karena pengaruh senyawa kimia.
3. Stres mikrobiologik
Stres ini disebabkan karena kuman seperti virus, bakteri, atau
parasit.
4. Stres fisiologik
Stres yang disebabkan karena gangguan fungsi organ tubuh
diantaranya gangguan dari struktur tubuh, fungsi jaringan,
organ, dan lain-lain.
5. Stres pertumbuhan dan perkembangan
Stres yang disebabkan karena proses pertumbuhan dan
perkembangan seperti pubertas, perkawinan, dan proses
lanjut usia.
6. Stres psikis atau emosional
Stres yang disebabkan karena gangguan situasi psikologis
atau

ketidakmampuan

kondisi

psikologis

untuk

menyesuaikan diri seperti hubungan interpersonal, sosial


budaya atau faktor keagamaan.

16

D. Sumber Stres
Stresor adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang
mengakibatkan terjadinya respons stres. Stresor dapat berasal dari
berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial
dan juga muncul pada situasi kerja, dirumah, dalam kehidupn
sosial, dan lingkungan luar lainnya (Patel, 1996). Secara garis
besar, stresor bisa dikelompokkan menjadi dua :
1. Stresor mayor, yang berupa major live events yang meliputi
peistiwa kematian orang yang disayangi, masuk sekolah untuk
pertama kali, dan perpisahan.
2. Stresor minor, yang biasanya berawal dari stimulus tentang
masalah

hidup

sehari-hari,

misalnya

ketidaksenangan

emosional terhadap hal-hal tertentu sehingga menyababkan


munculnya stres (Brantley, dkk, 1988, dalam Isnawarti, 1996).
Sumber stres yang biasa terjadi dalam kehidupan :
1. Sumber stres di dalam diri
Sumber stres dalam diri pada umumnya dikarenakan konflik
yang terjadi antara keinginan dan kenyataan berbeda, dalam
hal ini adalah berbagai permasalahan yang terjadi yang tidak
sesuai dengan dirinya dan tidak mampu diatasi, maka dapat
menimbulkan suatu stress.
2. Sumber Stres didalam keluarga
Sumber ini bersumber dari ,asalah keluarga ditandai dengan
adanya perselisihan masalah keluarga, masalah keuangan serta
adanya tujuan yang berbeda diantara keluarga permasalahan ini
akan selalu menimbulkan suatu keadaan yang dinamakan stres.
3. Sumber stres di dalam masyarakat dan lingkungan
Sumber stres ini dapat terjadi di likngkungan atau masyarakat
pada umumnya, seperti lingkungan pekerjaan, secara umum
disebut sebagai stres pekerja karena lingkungan fisik,
dikarenakan

kurangnya

hubungan

interpersonal

serta

kurangnya adanya pengakuan di masyarakat sehingga tidak


dapat berkembang.
Selain sumber stres diatas, adapun faktor pemicu timbulnya
stres (stresor) yang biasanya disebut faktor presipitasi antara lain :

17

1. Stres Bioekologi
Stres bioekologi adalah stres yang diakibatkan perubahan
lingkungan biologis. Stres Bioekologi terdiri dari empat
macam, diantaranya : waktu dan ritme tubuh, perbedaan
waktu, kebiasaan makan dan minum, polusi suara, perubahan
iklim dan ketinggian.
2. Stres Psikososial
Stres Psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang
menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga
orang itu dipaksa mengadakan adaptasi atau penyesuain untuk
menanggulanginya (Satriyo, 2005). Dalam Stres psikososial ini
ada lima masalah yang berkaitan yaitu perubahan, frustasi,
overload, bosan dan menyendiri, dan dinamika antara keempat
masalah sebelumnya.
3. Stres Pekerjaan
Stres Pekerjaan adalah stres yang berasal dari dunia pekerjaan.
Ada banyak banyak sumber stres dari dunia kerja. Ada dua
masalah yang terkait diantanya tekanan organisasi, tekanan
individu
E. Tanda-Tanda Reaksi Stres
Tanda-tanda Reaksi Stres Manusia dibagi menjadi empat,
diantaranya:
1. Tanda-tanda Fisik Stres
Banyak tanda fisik stres yang langsung bisa dikenali. Umumnya
tanda-tanda itu beruba sakit yang tidak biasa. Sakit ini hanya
terjadi secara temporer pada saat stres. Namun demikian, kalau
stres tersebut berlangsung lama, tidak ditangani secara serius,
dan penderitanya juga tidak menjaga kesehatan secara
menyeluruh, bukan tidak mungkin penyakit tersebut menjadi
penyakit yang menetap. Penyakit-penyakit tersebut antara lain
sebagai berikut :
a. Sakit hati
b. Pertambahan tekanan darah
c. Keluar keringat secara berlebihan
d. Sakit kepala
e. Bernafas berat atau kesulitan bernafas
2. Tanda Emosi Stres

18

Orang yang mengalami stres pasti secara emosi tidak


stabil. Orang yang stres biasanya juga dapat dikenali dari sisi
emosionalnya, antara lain :
a. Mudah marah
b. Kecemasan
c. Menyendiri, antisosial
d. Tidak sabaran, mudah emosi
e. Tidak memilik gairah
3. Tanda Kognitif Stres
Tindakan kognitif seseorang yang stres juga sering
sangat merisaukan orang-orang lain di sekitarnya. Misalnya
mudah lupa. Tentu ini sangat mengganggu aktivitasnya secara
keseluruhan. Berikut ini tindakan kognitif orangyang mengalami
stres :
a. Pelupa
b. Kekhawatiran berlebih
c. Pengambilan keputusan sering salah
d. Kurang kreatif
e. Kurang konsentrasi
4. Tanda Tingkah Laku Stres
Orang yang stres juga sering terlihat dari tingkah
lakunya yang tidak seperti biasanya. Inilah tingkah laku orang
yang stres :
a. Pendirian tidak tetap
b. Tindakan agresif
c. Tidak punya pedoman untuk hidup
d. Mudah mengalami kecelakaan karena ceroboh
e. Tidak sabaran
F. Tingkatan Stres
Setiap individu mempunyai persepsi dan repon berbedabeda terhadap stres. Persepsi seseorang didasarkan pada keyakinan
dan norma, pengalaman dan pola hidup, faktor lingkungan, struktur
dan fungsi keluarga, pengalaman masa laludengan stres serta
mekanisme koping. Berdasarkan studi literatur, ditemukan
tingkatan stres ada lima tingkatan, antara lain :
1. Stres Normal
Stres normal yang dihadapi secara teratur dan merupakan
bagian alamiah dari kehidupan. Seperti dalam situasi kelelahan
setelah mengerjakan tugas, takut tidak lulus ujian, merasakan

19

detak jantung berdetak lebih keras setelah aktivitas (Crowford


& Henry, 2003).Stres normal alamiah dan menjadi penting,
karena setiap orang pasti pernah mengalami stres. Bahkan
sejak dalam kandungan.
2. Stres Ringan
Stres ringan adalah stresor yang dihadapi secara teratur yang
dapat berlangsung beberapa menit atau jam. Situasi seperti
banyak tidur, kemacetan atau dimarahi dosen. Stresor ini dapat
menimbulkan gejala antara lain bibir kering, kesulitan bernafas
(sering terengah-engah), kesulitan menelan, merasa goyang,
merasa lemas, berkeringat berlebihan ketika temperaturtidak
panas dan tidak setelah beraktivitas, takut tanpa alasan yang
jelas, tremor pada tangan, dan merasa sangat lega ketika itu
berakhir (Psychology Foundation of Australi 2010).
3. Stres Sedang
Stres ini terjadi lebih lama, antara beberapa jam sampai
beberapa hari. Misalnya maslah perselisihan yang tidak dapat
diselesaikan. Stresor ini dapat menimbulkan gejala, antara lain
mudah marah, bereaksi berlebihan terhadap suatu situasi, sulit
untuk beristirahat, merasa lelah karena cemas, tidak sabar
ketika mengalami penundaan dan menghadapi gangguan
terhadap hal yang sedang dilakukan, mudah tersinggung,
gelisah, dan
menghalangi

tidak dapat memaklumi hal apapun yang


ketika

sedang

mengerjakan

sesuatu

hal

(Psychology Foundation of Australi 2010).


4. Stres Berat
Stres Berat adalah situasi kronis yang dapat terjadi dalam
beberapa minggu sampai beberapa tahun, seperti perselisihan
dengan dosen, atau dengan teman-teman secara terus-menerus,
kesulitan finansial yang berkepanjangan, dan penyakit fisik
yang berkepanjangan. Makin sering dan lama situasi stres,
makin tinggi resiko stres yang ditimbulkan.Stresor ini dapat
menimbulkan gejala antara lain : merasa tidak dapat merasakan
perasaan positifmerasa tidak kuat lagi melakukan kegiatan,

20

merasa tidak ada hal yang dapat diharapkan lagi di masa


depan, sedih dan tertekan, putus asa, kehilangan minat akan
segala hal, merasa kurang berharga sebagai manusia, berfikir
bahwa hidup tidak bermanfaat,
5. Stres Sangat Berat
Stres sangat berat adalah situasi kronis yang dapat terjadi
dalam beberapa bulan, dan dalam waktu yang tidak dapat
ditentukan. Seseorang yang stres sangat berat tidak memiliki
motivasi untuk hidup dan cenderung pasrah. Seseorang dalam
tingkatan stre ini biasanya teridentifikasi mengalami depresi
berat.
G. Cara Mengukur Tingkat Stres
Tingkat stres adalah hasil penilaian terhadap berat
ringannya stres yang dialami seseorang (Crowford & Henry, 2003).
Tingkat stres diukur dengan menggunakan Depression Anxiety
Stres Scale (DASS 42) oleh Lavibond & Lavibond (1995).
Instrumen DASS 42 ini terdiri dari 42 pernyataan yang
mengidentifikasi skala subjektif depresi, kecemasan dan stres.
H. Respons Stres
Taylor (1991), dalam Videbeck (2008), menyatakan bahwa
stres dapat menghasilkan berbagai respons. Berbagai penelitian
telah membuktikan bahwa respons-respons tersebut dapat berguna
sebagai indikator terjadinya stres pada individu dan mengukur
tingkat stres yang dialami individu. Respons stres dapat terlihat
dalam berbagai aspek sebagai berikut:
1. Respons fisiologis
Dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak
jantung, nadi, dan sistem pernapasan.
2. Respons kognitif
Dapat terlihat melalui terganggunya proses kognitif individu,
seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi,
pikiran berulang dan pemikiran tidak wajar.
3. Respons emosi
Dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin
dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah dan
sebainya.
4. Respons tingkah laku
21

Dapat dibedakan menjadi fight, yaitui melawan situasi yang


menekan dan flight yaitu menghindari situasi yang menekan.

2.2.2 Adaptasi
A. Pengertian
adalah suatu perubahan yang menyertai individu dalam
berespons terhadap perubahan yang ada di lingkungan dan dapat
mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun
psikologis yang akan menghasilkan perilaku adaptif.
B. Macam-Macam Adaptasi
Macam-macam adaptasi antara lain:
1) Adaptasi fisiologis merupakan proses penyesuaian tubuh
secara alamiah atau secara fisiologis untuk mempertahankan
keseimbangan dan berbagai faktor yang menimbulkan atau
mempengaruhi keadaan menjadi tidak seimbang contohnya
masuknya kuman penyakit, maka secara fisiologis tubuh
berusaha untuk mempertahankan baik dari pintu masuknya
kuman atau sudah masuk dalam tubuh. Adaptasi secara
fisiologis dapat dibagi menjadi dua yaitu: apabila kejadiannya
atau proses adaptasi bersifat lokal, maka itu disebut dengan
LAS (Local Adaptation Syndroma) seperti ketika daerah
tubuh atau kulit terkena infeksi, maka di daerah kulit tersebut
akan terjadi kemerahan, bengkak, nyeri, panas dan lain-lain
yang sifatnya lokal atau pada daerah sekitar yang terkena.
Akan tetapi apabila reaksi lokal tidak dapat diatasi dapat
menyebabkan

gangguan

secara

sistemik

tubuh

akan

melakukan proses penyesuaian seperti panas seluruh tubuh,


berkeringat dan lain-lain, keadaan ini disebut sebagai GAS
(General Adaption Syndroma).
2) Adaptasi psikologis merupakan proses penyesuaian secara
psikologis akibat stresor yang ada, dengan memberikan
mekanisme pertahanan dari dengan harapan dapat melindungi
atau bertahan diri dari serangan atau hal-hal yang tidak
22

menyenangkan.
Dalam adaptasi secara psikologis terdapat dua cara untuk
mempertahankan diri dari berbagai stresor yaitu dengan cara
melakukan koping atau penanganan diantaranya berorientasi
pada tugas (task oriented) yang di kenal dengan problem
solving strategi dan ego oriented atau mekanisme pertahanan
diri.
3) Adaptasi sosial budaya merupakan cara untuk mengadakan
perubahan dengan melakukan proses penyesuaian perilaku
yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat,
berkumpul

dalam

masyarakat

dalam

kegiatan

kemasyarakatan.
4) Adaptasi spiritual. Proses penyesuaian diri dengan melakukan
perubahan perilaku yang didasarkan pada keyakinan atau
kepercayaan yang dimiliki sesuai dengan agama yang
dianutnya. Apabila mengalami stres, maka seseorang akan
giat melakukan ibadah, seperti rajin melakukan ibadah.
2.2.3 Mekanisme Koping
A. Pengertian
Mekanisme koping adalah suatu pola untuk menahan
ketegangan yang mengancam dirinya (pertahanan diri/maladaptif)
atau untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi (mekanisme
koping/adaptif). Adanya masalah-masalah yang mengancam
pribadi dan kehidupan akan memunculkan reaksi adaptif atau
maladaptif,

dimana

masalah

tersebut

akan

memunculkan

kecemasan pada individu. Pada kecemasan ringan, maka


mekanisme koping yang dipergunakan masih dalam taraf normal
atau adaptif/positif.
Ketika kecemasan menjadi kecemasan sedang atau
lebih/hebat, maka kecemasan tersebut seringkali dihadapi dengan 2
tipe mekanimse koping yaitu reaksi atas orientasi tugas
(menyelesaikan masalah) dan mekanisme pertahanan ego (tanpa
kesadaran dan pemikiran yang tidak rasional/maladaptif/negatif).

23

Reaksi atas orientasi tugas adalah kesadaran, berorientasi


atau berekasi untuk mencoba mempertemukan keinginan yang
realistik dari situasi stres yang terjadi pada dirinya. Mekanisme
pertahanan ego adalah salah satu penyesuaian diri terhadap stres
pada tingkat ketidaksadaran tertentu dan melibatkan tingkat-tingkat
penipuan diri sendiri dan atau penyimpangan atas realitas yang ada.
B. Fungsi Coping
Proses coping terhadap stres memiliki 2 fungsi utama yang
terlihat dari bagaimana gaya menghadapi stres, yaitu :
1. Emotional-Focused Coping
Coping ini bertujuan untuk melakukan kontrol terhadap
respon emosional terhadap situasi penyebab stres, baik dalam
pendekatan secara behavioral maupun kognitif. Lazarus dan
Folkman (1986) mengemukakan bahwa individu cenderung
menggunakan Emotional-Focused Coping ketika individu
memiliki persepsi bahwa stresor yang ada tidak dapat diubah
atau diatasi.
2. Problem-Focused Coping
Coping ini bertujuan untuk mengurangi dampak dari
situasi stres atau memperbesar sumber daya dan usaha untuk
menghadapi stres. Lazarus dan Folkman (1986) mengemukakan
bahwa individu cenderung menggunakan Problem-Focused
Coping ketika individu memiliki persepsi bahwa stressor yang
ada dapat diubah.
C. Jenis Reaksi Atas Orientasi Tugas
1. Menyerang/agresif yaitu berusaha untuk menghilangkan atau
mengatasi rintangan dengan cara aktif, partisipatif atau
menghadapi

masalah

secara

bertanggung

jawab

untuk

memuaskan kebutuhan/untuk emosinya secara masuk akal


dalam menghadapi masalah.
2. Kompromi yaitu mengubah perjalanan suatu cara atau tujuan
dengan posisi tawar-menawar (bargaining) untuk memuaskan

24

keinginan/emosinya dan bagaimana caranya mencapai suatu


tujuan yang sama-sama menguntungkan.
3. Menarik diri yaitu berupaya untuk menghilangkan sumbersumber ancaman secara fisik atau memuaskan keinginan/emosi
tanpa melibatkan diri dalam mengatasi masalah tersebut. Cara
ini termasuk maladaptif.
D. Jenis Mekanisme Pertahanan Ego
1. Kompensasi adalah mengalihkan kelemahan dirinya dengan
menonjolkan/

mengunggulkan/menggantikan

keberhasilan-

keberhasilan aspek lainnya yang dianggap sebagai aset dirinya.


2. Pengingkaran/denial
adalah
menghindarkan
diri
dan
mengabaikan realitas yang tidak menyenangkan terhadap
dirinya, menolak untuk mengenalinya atau tidak setuju.
3. Displacement adalah pengalihan emosi pada objek lain atau
orang lain yang lebih ringan risikonya/bahayanya atau yang
lebih netral.
4. Identifikasi adalah berupaya menjadi orang yang dikagumi
dengan mengambil ide-ide dan atau pemikiran/pendapat orang
lain yang disukasinya tersebut (contohnya mencoba menjadi
seperti idolanya).
5. Rasionalisasi adalah memberikan alasan yang kuat/masuk akal
agar diterima oleh orang lain sebagai pengganti untuk menutupi
peran perilaku dan motivasi yang tidak dapat diterima orang lain
untuk menyesuaikan diri terhadap impuls, perasaan dan perilaku
orang lain.
6. Introjeksi adalah mengidentifikasi perilaku yang kuat atau
bersemangat mengambil nilai/norma dari orang lain untuk
diterapkan pada dirinya atau ke dalam struktur egonya sendiri
(tipe identifikasi yang hebat).
7. Isolasi adalah memisahkan diri secara emosional dari suatu
pemikiran atau permasalahn yang sedang terjadi saat ini bisa
terjadi

sementara/temporer

atau

menetap

dalam

jangka

panjang/lama.
8. Proyeksi adalah memindahkan pemikiran, dorongan, rangsangan
emosional atau motivasi kepada orang lain atau objek lain,

25

biasanya dengan menyalahkan orang lain atas ketidakberhasilan


dirinya dalam suatu hal.
9. Over kompensasi adalah pola perkembangan sikap dan perilaku
yang berlainan dengan dorongan yang ada pada dirinya dan
biasanya tidak sesuai dengan realitas sebagai upaya kompensasi
namun berlebihan, seperti bekerja/belajar secara berlebihan.
10. Regresi adalah menghindari keterangan dengan kemunduran
karakter perilaku pada tingkat perkembangan sebelumnya.
11. Represi adalah menekan dorongan yang tidak dapat diterima
secara sadar/tidak disadari menekan pikiran, perasaan, kemauan,
kemampuan, dan dorongan pada dirinya akibat dari adanya halhal yang menyakitkan/konflik sebagai pertahanan ego secara
primer.
12. Pemisahan/splitting
lain/situasi

adalah

dalam

dua

memandang/membagi

penggolongan

yaitu

orang

kelompok

baik/positif/negatif dalam dirinya.


13. Penghalus/sublimasi adalah mengganti suatu tujuan untuk suatu
tujuan tertentu yang tidak dapat diterima oleh orang lain/sosial
dengan tujuan tertentu yang bisa diterima secara sosial dengan
perilaku yang biasanya bersifat menekan perasaannya sendiri.
14. Disosiasi adalah pemisahan diri sekelompok mental/proses
perilaku dari keseluruhan kesadaran/identitas.
15. Intelektualisasi adalah alasan/logika yang berlebihan yang
digunakan untuk menghindari perasaan yang mengganggu
dirinya.
16. Supresi yaitu analog dengan represi dengan cara menekan
perasaan dengan suatu kesadaran dan bertujuan untuk menunda
suatu

tindakan

sampai

ada

suatu

mengekspresikan.
17. Undoing yaitu bertindak/berkomunikasi

kesempatan
secara

untuk

sebagian-

sebagian/meniadakan tindakan/ informasi yang sebelumnya ada,


hal ini sebagai pertahanan diri yang primitif.
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan Jiwa
1. Pengkajian

26

Perawat perlu mengkaji data demografi, riwayat kesehatan dahulu,


kegiatan hidup klien sehari-hari, keadaan fifik, status mental, hubungan
interpersonal serta riwayat personal dan keluarga.
a.

Data demografi
Pengkajian data demografi meliputi nama, tempat dan
tanggal lahir klien, pendidikan, alamat orang tua, serta data lain yang
dianggap perlu diketahui. Riwayat kelahiran, alergi, penyakit dan
pengobatan yang pernah diterima klien, juga perlu dikaji. Selain itu
kehidupan sehari-hari klien meliputi keadaan gizi termasuk berat
badan, jadwal makan dan minat terhadap makanan tertentu, tidur
termasuk kebiasaan dan kualitas tidur, eliminasi meliputi kebiasaan
dan masalah yang berkaitan dengan eliminasi, kecacatan dan

b.

keterbatasan lainnya.
Fisik
Dalam pengkajian fisik perlu diperiksa keadaan kulit,
kepala

rambut,

mata,

telinga,

hidung,

mulut,

pernapasan,

kardiovaskuler, musculoskeletal dan neurologis klien. Pemeriksaan


fisik lengkap saat diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
pengaruh gangguan fisik terhadap perilaku klien. Misalnya klien
yang menderita DM atau asma sering berperilaku merusak dalam
usahanya untuk mengendalikan lingkungan. Selain itu hasil
pemeriksaan fisik berguna sebagai dasar dalam menentukan
pengobatan

yang

diperlukan.

Bahkan

untuk

mengetahui

kemungkinan bekas penganiayaan yang pernah dialami klien.


c.

Status mental
Pemeriksaan

status

mental

klien

bermanfaat

untuk

memberikan gambaran mengenai fungsi ego klien. Perawat


membandingkan perilaku dengan tingkat fungsi ego klien dari waktu
ke waktu. Oleh karena itu status mental klien perlu dikaji setiap
waktu dengan suasana santai bagi klienPemeriksaan status mental
meliputi: keadaan emosi, proses berfikir dan isi pikir, halusinasi dan
persepsi, cara berbicara dan orientasi, keinginan untuk bunuh diri
dan membunuh. Pengkajian terhadap hubungan interpersonal klien

27

dilihat dalam hubungannya dengan orang lain yang penting untuk


mengetahui kesesuaian perilaku dengan usia. Pertanyaan yang perlu
diperhatikan perawat ketika mengkaji hubungan interpersonal klien
antara lain:
1. Apakah klien berhubungan dengan orang lain dengan usia
sebanya dan dengan jenis kelamin tertentu.
2. Apa posisi klien dalam struktur kekuasaan dalam kelompok
3. Bagaimana ketermpilan sosial klien ketika menjalin dan

d.

berhubungan dengan orang lain.


4. Apakah klien mempunyai teman dekat.
Riwayat personal dan keluarga
Riwayat personal dan keluarga meliputi faktor pencetus
masalah, tumbuh kembang klien, biasanya dikumpulkan oleh tim
kesehatan. Data ini sangat diperlukan untuk mengerti perilaku klien
dan membantu menyusun tujuan asuhan keperawatan.
Pengumpulan data keluarga merupakan bagian penting dari
pengkajian melalui pengalihan focus dari klien sebagai individu ke
sistem keluarga. Tiap anggota keluarga di beri kesempatan untuk
mengidentifikasi siapa yang bermasalah dan apa yang telah
dilakukan oleh keluarga untuk menyelesaikan masalah tersebut.

2. Diagnosa keperawatan
Untuk menegakan diagnosa keperawatan, data yang telah
dikumpulkan kemuadian dianalisa sebagai dasar perencanaan asuhan
keperawatan selanjutnya.
3. Perencanaan
Setelah pengkajian selesai dan maslah utama yang dialami klien
telah

teridentifikasi,

rencana

perawatan

dan

pengobatan

yang

komprehensif. Untuk klien yang dirawat di unit perawatan jiwa, tujuan


umumnya adalah sebagai berikut:
a. Memenuhi kebutuhan emosi klien dan kebutuhan untuk dihargai
b. Mengurangi ketegangan pada anak dan keutuhan untuk berperilaku
defensive.
c. Membantu klien menjalan hubungan positif dengan orang lain
d. Membentu mengembangkan identitas diri klien

28

e. Memberikan klien kesempatan untuk menjalin kembali tahapan


perkembangan terdahulu yang belum terseleseikan secara tuntas
f. Membantu klien untuk berkomunikasi secara efektif
g. Mencegah anak untuk menyakiti baik dirinya maupun diri orang lain
h. Membantu klien memelihara kesehatan fisiknya.
4. Implementasi.
Berbagai bentuk terapi pada klien dan keluarga dapat diterapkan,
antara lain:
a.

Terapi bermain
Pada umumnya merupakan media yang tepat bagi klien untuk
mengekspresikan konflik yang belum terselesaikan, selain juga
berfungsi untuk:
1) Menguasai dan mengasimilasi kembali pengalaman lalu yang
tidak dapat dikendalikan sebelumnya
2) Berkomunikasi dengan kebutuhan yang tidak disadari
3) Berkomunikasi dengan orang lain
4) Menggali dan mencoba belajar bagaimana hubungan dengan diri
sendiri, dunia luar dan orang lain.
5) Mencocokan tuntutan dan dorongan dari dalam diri dengan

b.

realitas
Terapi keluarga
Semua anggota keluarga perlu diikutsertakan dalam terapi
keluarga. Orang tua perlu belajar secara bertahap tentang peran
meraka dalam permasalahan yang dihadapi dan bertanggungjawab
terhadap perubahan yang terjadi pada klein dan keluarga. Biasanya
cukup sulit bagi keluarga untuk menyadari bahwa keadaan dalam
keluarga turut menimbulkan gangguan pada anggota keluarganya.
Oleh karena itu perawat perlu berhati-hati dalam meningkatkan

c.

kesadaran keluarga.
Terapi kelompok
Terapi kelompok dapat berupa suatu kelompok yang
melakukan kegiatan atau berbicara. Terapi kelompok ini sangat
bermanfaat untuk meningkatkan uji realitas, mengendalikan impuls
(dorongan internal), meningkatkan harga diri, memfasilitasi
pertumbuhan,

kematangan

dan

keterampilan

sosial

klien.

Kelompok dengan lingkungan yang terapeutik memungkinkan

29

anggotanya untuk menjalin hubungan dan pengalaman sosial yang


positif dalam suatu lingkungan yang terkendali.
d.

Psikofarmakologi
Walaupun belum sepenuhnya diterima dalam psikiatri,
tetapi bermanfaat untuk mengurangi gejala (hiperaktif, depresi,
impulsive dan ansietas) dan membantu agar pengobatan lain lebih
efektif. Pemberian obat ini tetap diawasi oleh dokter dan

e.

menggunkan pedoman yang tepat


Terapi individu
Ada berbagai terapi individu, terapi bermain psikoanalisa,
psikoanalitis

berdasarkan

psikoterapi

dan

terapi

bermain

pengalaman. Hubungan antara klien dan terapist memberikan


kesempatan pada klien untuk mendapatkan pengalaman mengenai
hubungan positif dengan orang lain dengan penuh kasih sayang.
Pendidikan pada orang tua
Pendidikan pada orang tua merupakan hal penting untuk

f.

mencegah gangguan kesehatan jiwa klien, begitu pula untuk


peningkatan kembali penyembuhan setelah dirawat. Orang tua
diajarkan tentang tahap tumbang klien, sehingga orang tua dapat
mengetahui perilaku yang sesuai dengan klien. Keterampilan
berkomunikasi juga meningkatkan pengertian dan empati antara
g.

orang tua dan anaknya.


Terapi lingkungan
Konsep terapi lingkungan dilandaskan pada kejadian dalam
kehidupan sehari-hari yang dialami klien. Lingkungan yang aman
dan kegiatan yang teratur dan terprogram, memungkinkan klien
untuk mencapai tugas terapeutik dan rencana penyembuhan dengan
berfokus pada modifikasi perilaku. Kegiatan yang terstruktur
secara formal seperti: belajar, terapi kelompok dan terapi rekreasi.

Kegiatan ruti meliputi: bangun pagi hari, makan dan jam tidur.
5. Evaluasi
Pada umumnya pengamatan perawat berfokus pada perubahan
perilaku klien. Apakah klien menunjukan kesadaran dan pengertian
tentang dirinya sendiri melalui refleksi diri dan meningkatnya

30

kemampuan untuk membuat keputusan secara rasional. Aspek yang perlu


dievaluasi antara lain:
1) Keefektifan intervensi penaggulangan perilaku
2) Kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain secara wajar
3) Kemampuan untuk melakukan asuhan mandiri
4) Kemampuan untuk menggunakan kegiatan program sebagai
rekreasi dan proses belajar
5) Respon terhadap peraturan dan rutinitas
6) Status mental secara menyeluruh

2.4 Konsep Strategi Pelaksanaan


A. Definisi Strategi
1. Pengertian umum: strategi adalah proses penetuan rencana para
pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang
organisasi, serta penyusunan suatu cara atau upayabagaimana agar
tujuan tersebut dapat tercapai.
2. Pengertian khusus: merupakan tindakan yang bersifat incremental
(senantiasa meningkat) dan terus menerus, serta dilakukan
berdasarkan

sudut

pandang

apa

yang

diharapkan

oleh

pelanggan/klien dimasa depan.


B. Perumusan Strategi
Perumusan strategi merupakan proses penyusunan langkahlangkah ke depan yang dimaksudkan untuk membangun visi dan misi
organisasi, menetapkan tujuan strategis. Beberapa langkah yang perlu
dilakukan menurut (Hariadi, 2005) adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi lingkungan serta menetapkan tujuan yang akan
dicapai
2. Melakukan analisis terhadap lingkungan yang mempengaruhi
3. Merumuskan faktor-faktor yang menunjang keberhasilan sehingga
tujuan dapat tercapai
4. Menentukan tujuan dan target serta mempertimbangkan berbagai hal
yang mendukung
5. Memilih strategi yang paling sesuai dengan keadaan
31

C. Contoh Bentuk Strategi Pelaksanaan Tindakan


a) Strategi Pelaksanaan Tindakan
Masalah : Harga diri rendah
Pertemuan : I (satu)
PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
2. Diagnosa Keperawatan
3. Tujuan khusus
Tuk 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya
4. Tindakan Keperawatan
Tuk 1 : Klien dapat membina hubungan saling percaya
a. Sapa klien dengan ramah, baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang
disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
b) Strategi Pelaksanaan Tindakan Fase Orientasi
Salam Terapeutik
Selamat pagi pak. Nama saya Wayan Darsana biasa dipanggil
wayan Saya MahasiswaSTIKES Wira Medika PPNI Bali. Saya
Sekarang saya di sini dari jam 08.00-14.00 Witautuk membantu
dan merawat Bapak. Nama Bapak siapa ? Senang dipanggil apa?
Validasi Bagaimana persaan Bapak hari ini ?Bagaimana tidurnya
semalam ? Nyenyak ? ApakahBapak masih ingat mengapa Bapak
dibawa kesini ?
Kontrak
Topic : Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita berbincangbincang tentang hobi ataukegiatan yang Bapak sukai ?
Tempat : Mau dimana kita berbincang-bincang ?, Bagaimana
kalau di ruangan ini.
Waktu : Mau berapa lama ? Bagaimana kalau 10 menit.
c) Strategi Pelaksanaan Tindakan Fase Kerja

32

Sekarang Bapak Saya ajak Ngobrol-ngobrol ya! Bapak tidak usah


malu saya ngajak ngobrol, Bapak ungkapkan saja apa yang Bapak
Rasakan?
Bapak berasal dari mana ?
Bapak sudah berapa lama di sini?
Bapak ingat tidak, siapa yang mengajak Bapak kesini?
Menurut Bapak, dibawa kesini karna apa?
Selama disini setiap hari apa saja yang Bapak lakukan?
Bagaimana perasaan Bapak saat melakukan kegiatan tersebut?
Kalau boleh tahu, hobi Bapak apa ?
Kegiatan apa yang sering Bapak lakukan dirumah ?
Apakah Bapak sering melakukan kegiatan tersebut ?
Bagaimana perasaan bapak saat ini?
d) Strategi Pelaksanaan Kegiatan Fase Terminasi
1) Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi Subyektif : Bagaimana perasaan Bapak setelah kita
bercakap-cakap ?
Evaluasi Obyektif
Klien mampu mengungkapkan atau mengulang kembali
pembicaran
Klien mampu mempertahankan kontrak
Klien mau melakukan aktivitas yang sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki.
2) Rencana Tindak Lanjut: Pak kalau nanti ada yang mau Bapak
ceritakan atau ditanyakan kepada saya, Bapak bisa sampaikan saat
kita bertemu lagi
3) Kontrak: Saya kira, sekian dulu perbincangan kita hari ini. Nanti
kita lanjutkan dengan membahastentang kemampuan yang Bapak
miliki baik itu dirumah, di sini ataupun ditempat lain.Menurut
Bapak kita berbincang-bincang jam berapa ? bagaimana kalau
jam 10 besok setelah kegiatan rehabilitasi.Dimana tempatnya ?
Bagaimana kalau di kursi belakang.

33

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan
mengandung berbagai karakteristik yang positif yang menggambarkan
keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan
kepribadiannya (WHO, 2010).
Keperawatan Jiwa adalah area khusus dalam praktek keperawatan
yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia sebagai dasar dan
menggunakan

diri

sendiri

secara

terapeutik

dalam

meningkatkan,

mempertahankan, memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental


masyarakat dimana klien berada (ANA, 2002).
Stress adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang
disebabkan oleh faktor luar atau ketegangan dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Balai Pustaka, 2007).
Pandangan dari Patel (1996), stres merupakan reaksi tertentu yang
muncul pada tubuh yang bisa disebabkan oleh berbagai tuntutan, misalnya
ketika manusia menghadapi tantangan-tantangan (challenge) yang penting,
ketika dihadapkan pada ancaman (threat), atau ketika harus berusaha
mengatasi harapan-harapan yang tidak realistis dari lingkungannya. Dengan
demikian, bisa diartikan bahwa stres merupakan suatu sistem pertahanan
tubuh di mana ada sesuatu yang mengusik integritas diri, sehingga

34

mengganggu ketentraman yang dimaknai sebagai tuntutan yang harus


diselesaikan.
Adaptasi adalah suatu perubahan yang menyertai individu dalam
berespons terhadap perubahan yang ada di lingkungan dan dapat
mempengaruhi keutuhan tubuh baik secara fisiologis maupun psikologis yang
akan menghasilkan perilaku adaptif.
Mekanisme koping adalah suatu pola untuk menahan ketegangan yang
mengancam dirinya (pertahanan diri/maladaptif) atau untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi (mekanisme koping/adaptif). Adanya masalahmasalah yang mengancam pribadi dan kehidupan akan memunculkan reaksi
adaptif atau maladaptif, dimana masalah tersebut akan memunculkan
kecemasan pada individu. Pada kecemasan ringan, maka mekanisme koping
yang dipergunakan masih dalam taraf normal atau adaptif/positif. Ketika
kecemasan menjadi kecemasan sedang atau lebih/hebat, maka kecemasan
tersebut seringkali dihadapi dengan 2 tipe mekanimse koping yaitu reaksi atas
orientasi tugas (menyelesaikan masalah) dan mekanisme pertahanan ego
(tanpa kesadaran dan pemikiran yang tidak rasional/maladaptif/negatif).
3.2 Saran

35

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. (2002). Pedoman Umum Tim Pembina, Tim Pengaruh, Tim Pelaksana
Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM). Jakarta: Direktorat Jenderal
Bina Kesehatan Masyarakat
Keliat, B.A. dkk. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas: CMHN
(Basic Course). Jakarta: EGC
Subandi, Utami, M.U. (1996). Pola Prilaku Mencari Bantuan Pada Keluarga
Pasien Gangguan Jiwa. Jurnal psikologi

36