Anda di halaman 1dari 14

TUGAS TATA KELOLA PERUSAHAAN

Masalah Korupsi di Indonesia


dalam Good Public Governance

KELOMPOK :

ANANDA RIZKY RAMADHAN


BAGUS NURGROHO
BONNY ADHISAPUTRA
NORMAN SUHARYANTO

PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2013

STATEMENT OF AUTHORSHIP
Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa laporan terlampir adalah
murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan
tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk laporan pada mata
ajaran lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menggunakannya.
Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Kuliah

: Tata Kelola Perusahaan

Judul Tugas

: Masalah Korupsi di Indonesia dalam Good Public Governance

Tanggal

: 27 November 2014

Dosen

: Aria Farahmita

Nama

: Ananda Rizky Ramadhan

NPM

: 1306483990

Tandatangan

Nama

: Bagus Nugroho

NPM

: 1306484122

Tandatangan

Nama

: Bonny Adhisaputra

NPM

: 1306484160

Tandatangan

Nama

: Norman Suharyanto

NPM

: 1306484974

Tandatangan

Daniel Kaufmann, Aart Kraay, and Massimo Mastruzzi ( 2005 )


Korupsi biasanya didefinisikan sebagai penyalahgunaan kekuasaan untuk kepentingan
pribadi. Sedangkan Tata kelola adalah sebuah konsep yang lebih luas yaitu pelaksanaan
wewenang melalui formal dan tradisi informal serta institusi untuk kepentingan umum. Tata
kelola meliputi proses memilih, memonitor dan menggantikan pemerintahan. Hal ini
termasuk dalam kapasitas memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan dengan
asumsi terdapat kepatuhan dari masyarakat.
Tata kelola yang baik juga lebih dari sekedar kapasitas sektor publik dan mencakup
kaidah aturan yang menciptakan suatu legitimasi, kerangka kerja yang efektif dan efisien
dalam melaksanakan kebijakan publik. Lebih lanjut, tata kelola yang baik juga mencakup
partisipasi dalam pembuatan kebijakan publik yang efektif, penegakan hukum dan sistem
peradilan yang independen, checks and balances melalui pemisahan kekuasaan dan adanya
lembaga-lembaga pengawas yang efektif.
Jurnal ini menyajikan update terbaru dari agregat indikator pemerintah, pentingnya
perubahan diukur dari waktu ke waktu dalam pemerintahan, dan peran pendapatan per kapita
dalam perbandingan pemerintahan lintas negara.
Dalam kerangka di jurnal ini, tata kelola dapat di pisahkan dalam enam komponen
yang disebut unbundling governance yaitu :
1. Suara dan akuntabilitas
2. Ketidakstabilan politik
3. Keefektifan pemerintah
4. Kualitas peraturan
5. Supremasi hukum
6. Pengendalian korupsi

Resume Undang-undang KPK


Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah lembaga negara yang dalam
melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh
kekuasaan manapun yang yang dibangun melalui Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada 27
2

Desember 2002 oleh Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarno Putri. KPK dibentuk
dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak
pidana korupsi melalui asas :
a. Kepastian hukum
Asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan perundangundangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan menjalankan tugas dan
wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi
b. Keterbukaan
Asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang
benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi
dalam menjalankan tugas dan fungsinya
c. Akuntabilitas
Asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan Komisi
Pemberantasan Korupsi harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau
rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku
d. Kepentingan Umum
Asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif,
akomodatif, dan selektif;
e. Proporsionalitas
Asas yang mengutamakan keseimbangan antara tugas, wewenang, tanggung jawab,
dan kewajiban Komisi Pemberantasan Korupsi.

Dalam

melaksanakan

tugasnya,

KPK

berwenang

melakukan

penyelidikan,

penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang memiliki karakteristik berikut :
a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada
kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hokum
atau penyelenggara Negara.
b. Mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
c. Menyangkut kerugian Negara paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)

Gratifikasi
Setiap pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang menerima gratifikasi wajib
melaporkan kepada KPK. Pengertian Gratifikasi menurut penjelasan pasal 12B Ayat (1) UU
3

No.31 Tahun 1999 juncto UU No.20 Tahun 2001 adalah pemberian dalam arti luas, yakni
meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket
perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan Cuma-Cuma, dan fasilitas
lainnya.Pemberian tersebut diberikan kepada penyelenggara Negara atau pegawai negeri
untuk kepentingan yang berhubungan dengan jabatan atau pekerjaanya.Salah satu kebiasaan
yang berlaku umum di masyarakat adalah pemberian tanda terima kasih atas jasa yang telah
diberikan oleh petugas, baik dalam bentuk barang atau bahkan uang.Hal ini dapat menjadi
suatu kebiasaan yang bersifat negatif dan dapat mengarah menjadi potensi perbuatan korupsi
di kemudian hari.Potensi korupsi inilah yang berusaha dicegah oleh peraturan UU. Oleh
karena itu, berapapun nilai gratifikasi yang diterima Penyelenggara Negara atau Pegawai
Negeri, bila pemberian itu patut diduga berkaitan dengan jabatan/kewenangan yang dimiliki,
maka sebaiknya Penyelenggara Negara/Pegawai Negeri tersebut segera melapor ke KPK atau
apabila suatu instansi telah bekerja sama dengan KPK dalam bentuk Program Pengendalian
Gratifikasi (PPG) dapat dilaporkan kepada insttansi terkait selanjutnya dilaporkan ke KPK
untuk dianalisa lebih lanjut dalam kurun waktu kurang dari 30 hari kerja terhitung sejak
tanggal gratifikasi diterima. Landasan hukum tindak gratifikasi diatur dalam UU 31/1999 dan
UU 20/2001 Pasal 12 dimana ancamannya adalah dipidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit 200 juta
rupiah dan paling banyak 1 miliar rupiah.
Tata cara pelaporan penerimaan gratifikasi yang diatur dalam Pasal 16 huruf a
Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, menyebutkan bahwa laporan disampaikan secara tertulis dengan mengisi formulir
sebagaimana ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dengan melampirkan dokumen
yang berkaitan dengan gratifikasi.Pasal ini mensyaratkan bahwa setiap laporan harus
diformalkan dalam formulir gratifikasi , adapun formulir gratifikasi bisa diperoleh dengan
cara mendapatkannya secara langsung dari kantor KPK, mengunduh (download) dari situs
resmi KPK (www.kpk.go.id), memfotokopi formulir gratifikasi asli atau cara-cara lain
sepanjang formulir tersebut merupakan formulir gratifikasi; sedangkan pada huruf b pasal
yang sama menyebutkan bahwa formulir sebagaimana dimaksud pada huruf a sekurangkurangnya memuat:

Nama dan alamat lengkap penerima dan pemberi gratifikasi

Jabatan pegawai negeri atau penyelenggara Negara


4

Tempat dan waktu penerimaan gratifikasi

Uraian jenis Gratifikasi yang diterima

Nilai gratifikasi yang diterima

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan


Tindak Pidana Korupsi
Rangkuman Kasus PT Duta Graha Indah Tbk Wisma Atlet
PT Duta Graha Indah Tbk, atau yang sekarang berganti nama menjadi PT Nusa
Konstruksi Enjiniring Tbk, merupakan perusahaan konstruksi yang berdiri pada tahun 1982.
Kronologis Kasus Wisma Atlit Korupsi Wisma Atlit terbongkar setelah dilakukan
penyadapan oleh tim penyelidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan diketahui
kronologis kasus sebagai berikut: Nazaruddin selaku anggota DPR RI telah mengupayakan
agar PT Duta Graha Indah Tbk menjadi pemenang yang mendapatkan proyek pembangunan
wisma atlet dengan mendapat jatah uang sebesar Rp4,34 miliar dengan nilai kontrak senilai
Rp 191.672.000.000. jatah Nazarudin diberikan dalam bentuk empat lembar cek dari PT DGI
yang diberikan oleh Idris. Idris yang mempunyai tugas mencari pekerjaan (proyek) untuk PT
DGI, bersama-sama dengan Dudung Purwadi selaku Direktur Utama PT DGI.
Nazaruddin sendiri lalu bertemu dengan SesMenPora Wafid Muharam dengan
ditemani oleh anak buahnya Rosa. Dalam pertemuan yang terjadi sekitar Agustus 2010 di
sebuah rumah makan di belakang Hotel Century Senayan itu, Nazaruddin meminta Wafid
untuk dapat mengikutsertakan PT DGI dalam proyek yang ada di Kemenpora. Singkat cerita,
setelah mengawal PT DGI Tbk untuk dapat ikut serta dalam proyek pembangunan Wisma
Atlet, Rosa dan Idris lalu sepakat bertemu beberapa kali lagi untuk membahas rencana
pemberian success fee kepada pihak-pihak yang terkait dengan pekerjaan pembangunan
Wisma Atlet. Pada Desember 2010, PT DGI Tbk pun akhirnya diumumkan sebagai
pemenang lelang oleh panitia pengadaan proyek pembangunan Wisma Atlet. Kemudian
dalam persidangan di Pengadilan Tipikor, Mindo Rosalina Manulang, eks direktur marketing
Permai Group, perusahaan Nazaruddin mengatakan bahwa Angelina Shondak dan I Wayan
Koster juga menerima uang suap senilai Rp 5 miliar karena juga termasuk pihak-pihak terkait
dalam pemenangan tender.

Berdasarkan sumber yang telah diperoleh, kasus korupsi Wiama Atlit dilakukan
secara terstruktur dalam wadah perusahaan dan melibatkan penyelenggara negara. Kasus
penyuapan yang terjadi merupakan upaya memuluskan agar tender jatuh kepada perusaan
tertentu. Penulis meyakini semua rumusan unsur dalam definisi kejahatan korporasi singkron
dengan kejahatan korupsi Wisma Atlit dengan pertimbangan sebagai berikut: Pertama Tindak
pidana dilakukan oleh orang orang yang bertindak untuk dan atas nama korporasi,
berdasarkan hubungan kerja atau berdasarkan hubungan lain dalam lingkup usaha korposari
tersebut baik sendiri sendiri atau bersama sama. Pemikirannya adalah, bahwa proyek
tersebut merupakan proyek besar yang memakan biaya senilai Rp 191.672.000.000 yang
tidak mungkin struktur tertinggi dalam korporasi tidak mengetahui jika PT DGI bagi-bagi
Suap Wisma Atlet. Bukti tersebut sebetulnya sudah cukup kuat untuk membuat dugaan
bahwa, apa yang dilakukan PT DGI dikategorikan sebagai kejahatan korporasi karena bagibagi uang suap kepada beberapa pihak diketahui oleh petinggi-petinggi PT DGI, seperti
Direktur Utama Dudung Purwadi. Bukan hanya itu, fakta lain yang mendukung tuduhan itu
adalah cek yang diberikan PT DGI ke pada pihak pihak terkait pemenangan tender
termasuk yang diberikan kepada Wafid Muharram ditandatangani bagian keuangan PT DGI.
Kemudian untuk unsur Kedua yaitu: bahwa perbuatan tersebut termasuk dalam
lingkup usahanya sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar atau ketentuan lain yang
berlaku bagi korporasi yang bersangkutan. Dimana Analoginya adalah proyek tersebut adalah
proyek negara, yang tidak mungkin diberikan kepada perusaan yang tidak legal. Perusahaan
yang di menangkan dalam tender oleh Kementrian Pemuda dan olahraga pasti mempunyai
spesifikasi sesuai dengan kebutuhan proyek, termasuk yang menyangkut masalah
kelengkapan administrasi perusahaan. Oleh karena itu, rumusan unsur Ketiga yaitu
pertanggungjawaban pidana dikenakan terhadap korporasi dan atau pengurusnya dapat
diterapkan dalam kasus ini. Mengacu pada asumsi demikian, penulis memiliki pemikiran
bahwa seluruh pihak terkait kasus tersebut, dapat dikenakan pidana berdasarkan rumusan
delik pada KUHP atau dengan Undang-Undang KPK sesuai dengan perannya asing-masing.
Kemudian untuk korporasi yang terlibat dapat dijatuhi sanksi sesuai aturan dalam
kejahatan korporasi misalnya digugat perdata ataupun penutupan operasional perusahaan.
Sehingga, seharusnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak memeriksa para saksi dan
tersangka kasus suap wisma atlet dalam kapasitas sebagai individu, tetapi sebagai pengurus
korporasi agar korporasi juga bisa dijatuhi sanksi karena bentuk penjatuhan sanksi kepada
korporasi merupakan bagian kontrol pemerintah kepada korporasi. Dalam konteks negara,
seharusnya keseriusan negara dalam memberantas korupsi juga harus dipertanyakan, dimana
6

kejahatan tersebut banyak melibatkan penyelenggara negara serta kebijakankebijakan atau


regulasi yang dikeluarkan oleh negara kerap membuat celah terjadinya korupsi. Hal ini
mengisyaratkan bahwa negeri ini belum mampu membuat regulasi dan sistem yang kebal
terhadap korupsi. Romany mengatakan, seharusnya negara dengan kekuasaan politiknya, bisa
menjamin terselenggaranya kebijakan dan kinerja yang efektif bersih, bukan sebaliknya,
melalui pejabat publiknya dan jajarannya bertindak melawan hukum dan tidak berpihak pada
kepentingan rakyat.
Kendati demikian, negara bukan termasuk korporasi yang tidak bisa dimintai
pertanggung jawaban layaknya korporasi, namun pejabatpejabatnya yang terkait kejahatan
bisa dipidana.
Menurut Yenti Garnasih, pakar hokum pidana, ada tiga konsekuensi yang akan diterima PT
Duta Graha Indah jika memang terbukti melakukan kejahatan korporasi.
1. Semua pengurus, termasuk pimpinan dan memegang decision maker. Untuk
kemungkinan pertama, sudah ada yang menjadi korban. Manajer Pemasaran PT DGI
Mohammad El Idris divonis dua tahun penjara. Selain itu El Idris didenda Rp 200
subsider enam bulan kurungan.
2. Korporasinya yang dihukum. Sanksinya, perusahaan tersebut bisa dibekukan dan
dijatuhi denda,
3. Kombinasi keduanya, yakni pihak korporasi dan pengurusnya sama-sama dihukum

PERTANYAAN DAN JAWABAN SILABUS


Pertanyaan A : Diskusikan tantangan Infosys dalam lingkungan bisnis yang korup
Tantangan Infosys dalam lingkungan bisnis yang korup.
India terkenal sebagai negara korup sejak dulu, dan hal itu mempengaruhi usaha yang
dijalankan Infosys. Tantangan pertama yang dihadapi Infosys terjadi pada tahun 1984,
dimana pada saat itu Infosys memutuskan untuk mengimpor super minicomputer agar Infosys
dapat segera mengembangkan software untuk klien di luar negeri. Ketika super minicomputer
tersebut sampai di Bandara Bangalore, petugas setempat menolak untuk mengurusnya kecuali
jika Infosys mau memberikan semacam sogokan untuk meloloskannya. Satu-satunya cara
untuk meloloskannya dengan bersih (tanpa korup) hanyalah dengan membayar biaya sebesar
135% dari yang seharusnya, walaupun pada akhirnya Infosys harus membayar dua kali lipat
7

dari harga super minicomputernya itu sendiri. Infosys memilih melakukan cara bersih
tersebut, walaupun sebenarnya mereka tidak mempunyai uang dan harus melakukan
pinjaman untuk itu, daripada harus melakukan hal korup seperti menyogok.
Tantangan korup kedua adalah ketika di masa-masa awal berdirinya Infosys. Infosys bid
kontrak senilai $1juta dari suatu perusahaan besar dalam keadaan perekonomian yang sedang
berkembang. CIO perusahaan tersebut kemudian mengundang Narayana Murthy makan
malam. Dalam acara makan malam itu CIO tersebut meminta sogokan berupa mobil mewah
agar bid Infosys diterima. Narayana kemudian menolak permintaan sogokan tersebut, dan
Infosys pada akhirnya tetap memenangkan bid.
Tantangan utama dalam lingkungan bisnis seperti yang dijelaskan dalam wawancara
dengan Narayana Murthy adalah banyaknya praktik korupsi. Saingan usaha, petugas
pemerintah, bahkan pegawainya sendiri seringkali melakukan korup, dalam wawancara ini
disebutkan tindakan korup yang paling sering adalah sogokan (bribe), tidak membuat Infosys
melakukan hal seperti itu pula. Infosys selalu berpegang teguh pada values perusahaan,
mengikuti aturan hukum yang berlaku, dan tetap memiliki etika dalam menjalankan
bisnisnya. Hal ini tidak membuat Infosys terpuruk, justru memberi keuntungan dengan
semakin dipercayanya Infosys oleh para klien. Kepercayaan ini membuat klien tidak segan
untuk memberikan proyek yang lebih besar skalanya dibandingkan perusahaan saingan
Infosys. Lingkungan bisnis yang korup memang menjadi tantangan besar Infosys, tetapi
dengan values (yang memegang teguh etika) yang terus ditanamkan kepada pegawainya
membuat Infosys dapat bertahan dan bahkan menjadi perusahaan yang dihormati.

Pertanyaan B : Diskusikan kunci keberhasilan Infosys dalam mengatasi tekanan untuk


terlibat korupsi dan membalikkan situasi yang dihadapi sehingga dapat menjadi
perusahaan global
Infosys selalu transparan terhadap para stakeholders, tidak ada informasi yang
disembunyikan, kecuali jika informasi tersebut apabila diumumkan akan menimbulkan
asimetri informasi dan berujung pada insider trading. Sikap transparansi ini dilakukan tidak
hanya ketika Infosys mengalami keuntungan, tetapi juga pada saat perusahaan mengalami
rugi besar-besaran seperti yang terjadi pada tahun 1995, dimana pada saat itu Infosys
menderita kerugian besar akibat investasi yang buruk di pasar saham.
Infosys menjalankan tiga langkah penting untuk mempertahankan values dalam diri
setiap pegawai: communication, engagement, and enablement. Para petinggi perusahaan pun
8

berusaha untuk memperkuat values tersebut, contohnya dengan menghabiskan waktu istirahat
makan siang bersama pegawai-pegawai baru dan masih muda untuk mendiskusikan values
perusahaan.

Pertanyaan C : Bandingkan tantangan yang dihadapi Infosys di India dengan


tantangan yang dihadapi perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Tantangan Infosys di India

Tantangan Perusahaan di Indonesia

Pada tahun 1981, Infosys menghadapi Perusahaan di Indonesia juga mengahdapi


berbagai tantangan pada saat pendiriannya tantangan yang sama.
di India, diantaranya korupsi, nepotisme Angka korupsi di Indonesia masih menjadi
dan profiteering.

salah satu yang tertinggi


Indonesia

menjadi

di dunia.

Negara

dengan

peringkat korupsi nomor 114 dari 177


negara.
Pada

Februari

1984,

ketika

Infosys Sama halnya seperti di India, perusahaan

melakukan impor mesin untuk perawatan yang

beroperasi

di

Indonesia

juga

software dari luar negeri, petugas pajak di menghadapi tantangan dalam halpungutan
airport mempersulit hal ini dan meminta liar. Praktik perpajakan bea cukai di
suap agar jalan Infosys dipermudah.

pelabuhan dan airport

sangat marak

dengan tindakan suap menyuap. Dari data


Transparency

International,angka

penyuapan di Indonesia bernilai 7,1 dari


skala 10 yang menandakan praktik suap
masih sangat tinggi.
Ketika harus bernegosiasi dalam proyek Seperti yang diketahui, di Indonesia
yang melibatkan perusahaan asing, Infosys praktik negosiasi dengan suap sangat
juga menghadapi tantangan yang sama marak terjadi seakan-akan sudah menjadi
yaitu paktik penyuapan, terutama pada budaya dalam birokrasi di Indonesia.
negara-negara berkembang.
Infosys tidak ingin bertindak dalam Contoh di Indonesia dalam praktik abupraktik
melakukan

abu-abu,
praktik

sepert

misalnya abu seperti ini kerap terjadi dalam dunia

perpajakan

yang perpajakan. Dalam kaca mata hukum

curang dan merugikan negara tapi dalam melakukan hal tersebut tidak ilegal, tetapi
kaca

mata

hukum

hal

tersebutlegal. dalam konsep etika, hal tersebut dianggap

Karena Infosys selalu berpegang teguh tidak sesuai dengan etika.


pada nilai yang dibawa, Infosys pun
menghindari hal ini.
Pada

tahun

1995,

ketika

Infosys

mengalami kerugian finansial, Infosys


secara gamblang mengungkapkannya di
dalam laporan keuangan. Investor melihat
hal

ini

sebagai

transparansi

yang

sinyal

positif

akan

dipraktikkan

oleh

Infosys

Pertanyaan D : Evaluasi apakah praktik CG yang baik dapat membantu perusahaan


dalam mengatasi tekanan untuk terlibat korupsi
Konsep Good Corporate Governance (GCG) diharapkan dapat melindungi pemegang saham
dan kreditur agar dapat memperoleh kembali investasinya. Penelitian yang dilakukan oleh
Asian Development Bank (ADB) menyimpulkan penyebab krisis ekonomi di Negara-negara
Asia, termasuk Indonesia, adalah (1) mekanisme pengawasan dewan komisaris dan komite
audit suatu perusahaan tidak berfungsi dengan efektif dalam melindungi kepentingan
pemegang saham dan (2) pengelolaan perusahaan yang belum professional. Penerapan
konsep GCG di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan
pemegang saham tanpa mengabaikan kepentingan stakeholders. Sehingga ke depannya
tindakan yang dikhawatirkan melibatkan perusahaan untuk terlibat korupsi dapat
diminimalisir.

Pertanyaan E : Di beberapa Negara maju, seperti AmerikaSerikat, perusahaan


dilarang untuk terlibat korupsi, tidak hanya di dalam negeri, tapi juga di luar negeri.
Beberapa perusahaan yang menemukan praktik penyuapan yang dilakukan oleh
perusahaan di luar negeri biasanya segera melaporkan ke SEC untuk menghindari
hukuman yang lebih berat. Salah satu contohnya adalah Monsanto di Indonesia.
Bandingkan dengan UU Pemberantasan Korupsi di Indonesia dan UU serta peraturan
pasar modal Indonesia.
10

Monsanto, perusahaan yang didirikan pada tahun 1901 dan bergerak di bidang
bioteknologi. Monsanto melakukan penyuapan dalam dua periode, yaitu periode 1998-2002
sebesar US$ 700 ribu, dan periode 1999-2003 sebesar US$ 50 ribu. Suap diperkirakan
diterima oleh 140 pejabat negara. Kasus penyuapan ini ditemukan oleh internal audit
perusahaan pada sekitar tahun 2005. Monsanto segera melaporkan kasus ini untuk
memperoleh keringanan hukuman. SEC dan Departemen Kehakiman memberikan sanksi
denda kepada Monsanto masing-masing sebesar US$ 500 ribu dan US$ 1 juta.
Berdasarkan dokumen SEC yang dikutip oleh Majalah Tempo, penyuapan pada
periode kedua sebesar US$ 50 ribu dilakukan oleh pegawai PT Harvest International
Indonesia kepada pejabat tinggi Kementerian Lingkungan Hidup. PT Harvest International
Indonesia merupakan konsultan investasi dari anak perusahaan Monsanto di Indonesia, yaitu
PT Monagro Kimia, dengan fee US$ 30 ribu per bulan.
KPK tidak dapat menetapkan tersangka kasus ini. KPK menyerahkan kasus ini ke
Kejaksaan dengan alasan pelaksanaan suap terjadi pada tahun 1999, sebelum KPK didirikan.
Kejaksaan kembali melakukan pemanggilan dan pemeriksaan kepada sejumlah pejabat. Pada
akhir bulan Januari 2008, Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kemas Yahya Rahman
menyatakan akan segera mengumumkan hasil penyelidikan kasus Monsanto ini. Sebelumnya
di berbagai media massa telah diberitakan bahwa mantan menteri pertanian Soleh Solahudin
merupakan satu-satunya calon tersangka.
Setelah itu tidak terdapat berita mengenai kelanjutan kasus ini sampai dengan bulan
April 2009 ketika Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menggugat Kejaksaan Agung
karena tak pernah melimpahkan kasus suap Monsanto ini . Padahal, Kejaksaan Agung sudah
menetapkan dua tersangka dalam kasus suap ini, yakni Soleh Solahuddin dan Presiden
Direktur PT Monagro Kimia Johannes Andrianus Bijlmer. MAKI menuduh Kejaksaan telah
mencabut status tersangka Soleh Solahuddin karena telah salah menetapkan tersangka.
Namun Kejaksaan menyatakan tak pernah menerbitkan Surat Perintah Penghentian
Penyidikan (SP3) atas dugaan suap itu.
Lembaga seperti Ditjen Pajak, KPK dan Kejaksaan Agung perlu meningkatkan
kemampuannya untuk memeriksa kasus-kasus suap dan korupsi, sehingga lebih banyak kasus
yang dapat diproses. Apalagi kasus-kasus yang sudah jelas pelaku penyuapannya. Lembagalembaga tersebut mungkin dapat mengajak partisipasi masyarakat untuk mengawasi proses
penyidikan kasus-kasus korupsi dengan lebih transparan dan terbuka menyediakan informasi
atas seluruh kasus yang masih dalam proses dan tingkat keberhasilan menghukum pelaku
korupsi.Lembaga-lembaga ini diharapkan juga lebih akuntabel dengan memberikan
11

penjelasan atas kasus- kasus yang gagal dan memberikan sanksi kepada pejabat/petugas yang
bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.
Departemen Kehakiman (DoJ) dan Pengawas Pasar Modal (SEC). Selaku regulator
yang ada di Amerika dapat dengan cepat menentukan keputusan dan sanksi. Sedangkan di
Indonesia negara yang juga memiliki peraturan UU Pemberantasan Korupsi di Indonesia dan
UU serta peraturan pasar modal Indonesia. Tidak dapa dengan cepat memutuskan hukuman
dan sanksi yang harus diberikan

12

DAFTAR PUSTAKA

http://kpk.go.id/gratifikasi/index.php/informasi-gratifikasi/tanya-jawab-gratifikasi

http://nasional.inilah.com/read/detail/1779488/wafid-ditangkap-berdasar-penyadapanidris-dudung
http://humareg.blogspot.com/2014/06/tata-kelola-perusahaan-masalah-korupsi.html
http://www.tribunnews.com/nasional/2014/03/28/telusuri-gratifikasi-proyek-pt-dgi-dangaruda-kpk-periksa-dirut-marrel-mandiri
http://www.solopos.com/2014/11/20/kasus-wisma-atlet-mantan-dirut-pt-duta-graha-indahdiperiksa-kpk-hari-ini-553620
http://nasional.kompas.com/read/2014/11/19/1129469/kasus.wisma.atlet.kpk.periksa.el.idris.
Kauffman, Daniel. Myths and Realities of Governance and Corruption.
October 2005.
https://hbr.org/2011/11/why-dont-we-try-to-be-indias-most-respected-company
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002

13