Anda di halaman 1dari 34

LBM 3 MODUL TUMBUH KEMBANG

SGD 15

STEP 3
1. Mengapa anak didapatkan keluhan belum bisa jalan dan bicara?
Gangguan perkembangan bahasa
Kemampuan
bahasa
merupakan
kombinasi
seluruh
system
perkembangan anak. Kemampuan berbahasa melibatkan kemapuan
motorik, psikologis, emosional, dan perilaku (Widyastuti, 2008).
Gangguan perkembangan bahasa pada anak dapat diakibatkan
berbagai faktor, yaitu adanya faktor genetik, gangguan pendengaran,
intelegensia rendah, kurangnya interaksi anak dengan lingkungan,
maturasi yang terlambat, dan faktor keluarga. Selain itu, gangguan
bicara juga dapat disebabkan karena adanya kelainan fisik seperti bibir
sumbing dan serebral palsi. Gagap juga termasuk salah satu gangguan
perkembangan bahasa yang dapat disebabkan karena adanya tekanan
dari orang tua agar anak bicara jelas (Soetjingsih, 2003).
Secara garis besar faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya GPN
dapat dibagi
menjadi 3 :
1. Faktor pranatal
Termasuk dalam golongan ini adalah faktor-faktor genetik yaitu
defek gen/kromosom, misalnya trisomi 21 pada sindrom Down.Terdapat
banyak
defek
kromosom
yang
dapat
menyebabkan
GPN.
Penyimpangan-penyimpangan ini sudah ada sejak dini dan dalam
bermacam-macam fase, yang dapat menyebabkan malformasi serebral
tergantung gen/ kromosom yang bersangkutan. Kesehatan ibu selama
hamil, keadaan gizi dan emosi yang baik, ikut mempengaruhi keadaan
bayi sebelum lahir. Faktor pranatal lain yang dapat mempengaruhi
terjadinya GPN adalah penyakit menahun pada ibu hamil seperti :
tuberkulosis, hipertensi, diabetes mellitus, anemia ; termasuk pula
penggunaan narkotika, alkohol serta merokok yang berlebihan. Usaha
menggugurkan kandungan sering berakibat bayi yang lahir cacat, yang
selanjutnya dapat menyebabkan GPN. Infeksi virus pada ibu hamil
seperti rubella, sitomegalovirus (CMV) dan toksoplasmosis dapat
mengakibatkan kerusakan otak yang potensial sehingga otak
berkembang secara abnormal. Anoksia dalam kandungan, terkena
radiasi sinar-X dalam kehamilan, abruptio placenta, plasenta previa
juga dapat mempengaruhi timbulnya GPN.

2. Faktor perinatal
Keadaan-keadaan penting yang harus diperhatikan pada masa
perinatal berkaitan
dengan GPN adalah :
a. Asfiksia
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan dimana bayi tidak dapat
bernafas secara spontan, teratur dan adekuat pada saat lahir atau
beberapa saat setelah lahir. Bila keadaan ini berat dapat menyebabkan
kematian atau kerusakan permanen otak, sehingga bayi dapat
mengalami GPN bahkan menderita cacat seumur hidup.
b. Trauma lahir
Beberapa faktor risiko terjadinya trauma lahir antara lain :
primigravida, partus presipitatus, letak janin abnormal, penilaian fetopelvik yang meragukan dan oligohidramnion. Demikian pula dengan
cara dan jenis persalinan akan turut menentukan berat ringannya
trauma lahir. Trauma lahir merupakan salah satu faktor potensial
terjadinya GPN karena terdapat risiko terjadinya kerusakan otak
terutama akibat perdarahan.
c. Hipoglikemia
Dikatakan hipoglikemia bila kadar glukosa darah <45 mg/dL (2,6
mmol/L) atau pendapat lain mengatakan bila kadar glukosa darah <20
mg% pada bayi preterm atau <30 mg% pada bayi aterm. Keadaan ini
bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menyebabkan kerusakan
otak berat bahkan kematian.
d. Bayi berat lahir rendah (BBLR/berat lahir <2500 gram)
BBLR tergolong bayi risiko tinggi karena mempunyai angka morbiditas
dan
mortalitas
tinggi.
Prognosis
tumbuh-kembang
termasuk
perkembangan neurologis pada bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)
lebih jelek dibanding bayi sesuai masa kehamilan (SMK). Hal ini
disebabkan pada KMK telah terjadi retardasi pertumbuhan sejak
didalam kandungan, terlebih jika tidak mendapat nutrisi yang baik
sejak lahir.
e. Infeksi
Bayi baru lahir terutama BBLR sangat peka terhadap infeksi termasuk
potensi
untuk terjadinya infeksi intrakranial. Infeksi pada bayi umumnya
merupakan infeksi berat dengan mortalitas tinggi, sehingga
pencegahan menjadi hal yang sangat penting. Pencegahan
dititikberatkan pada cara kerja aseptik, memberi kesempatan ibu untuk
menyusui seawal mungkin dan melaksanakan rawat gabung. Infeksi
berat dapat memberi dampak gejala sisa neurologis yang jelas seperti :
hidrosefalus, buta, tuli, cara bicara yang tidak jelas dan retardasi
mental. Gejala sisa yang ringan seperti gangguan penglihatan,
kesukaran belajar dan kelainan tingkah laku dapat pula terjadi.
f. Hiperbilirubinemia

Hiperbilirubinemia akan berpengaruh buruk apabila bilirubin indirek


telah melalui sawar otak, sehingga terjadi ensefalopati biliaris
(Kernicterus) yang dapat mengakibatkan kematian atau GPN
dikemudian hari.
3. Faktor Pasca natal
Banyak faktor pasca natal yang dapat menimbulkan kerusakan otak
dan selanjutnya mengakibatkan terjadinya GPN, diantaranya adalah
infeksi (meningitis, ensefalitis, meningoensefalitis dan infeksi pada
bagian tubuh lain yang menahun), trauma kapitis, tumor otak,
gangguan pembuluh darah otak, epilepsi, kelainan tulang tengkorak
(misalnya kraniosinostosis), kelainan endokrin dan metabolik,
keracunan otak, sosial ekonomi rendah, tidak adanya rangsangan
mental serta malnutrisi.
Pada penelitian neuropatologis, didapatkan otak anak dengan
malnutrisi lebih kecil daripada otak normal seumurnya, jumlah sel
neuron berkurang dan jumlah lemak otak juga berkurang. Namun umur
yang paling rentan terhadap terjadinya GPN belum diketahui pasti.
SUMBER : Jurnal GANGGUAN PERKEMBANGAN NEUROLOGIS
PADA
BAYI
DENGAN
RIWAYAT
HIPERBILIRUBINEMIA
NEURODEVELOPMENTAL DISORDER AMONG BABIES WITH
HISTORY OF HYPERBILIRUBINEMIA,Tesis, Untuk memenuhi
sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2
dan
memperoleh keahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak , oleh
Baginda P Hutahaean , PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER
ILMU BIOMEDIK DAN PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
I
ILMU
KESEHATAN
ANAK
UNIVERSITAS
DIPONEGORO,
SEMARANG, 2007
GANGGUAN BICARA
2.1 Perkembangan bahasa normal5
Pengertian antara berbicara (speech) dan bahasa (language)
sering kali membingungkan, tetapi keduanya memiliki perbedaan.
Berbicara (speech) adalah ekspresi verbal dari bahasa yang meliputi
artikulasi sebagai sarananya sehingga terbentuk kata-kata yang dapat
kita dengar.
Bahasa (language) memiliki penertian yang lebih luas, meliputi seluruh
sistem pengekspresian dan penerimaan informasi yang memiliki
makna. Bahasa dapat dimengerti secara pasif dan aktif melalui
komunikasi verbal, non verbal, dan tertulis.
Di bawah 12 bulan
Penting pada anak-anak usia ini untuk diobservasi bahwa mereka
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan lingkungan

mereka. Tertawa dan mengoceh adalah fase awal dari perkembangan


berbicara. Seiring dengan pertambahan usia bayi (sekitar usia 9 bulan),
mereka mulai merangkai suara-suara, menggabungkan kata-kata
dengan nada yang berbeda, dan mengucapka kata-kata seperti
mama dan dada (tanpa mengetahui makna dari kata-kata
tersebut). Sebelum usia 12 bulan, anak-anak seharusnya sudah peka
terhadap suara. Bayi yang pandangannya fokus sekali tetapi tidak
bereaksi terhadap suara mungkun memiliki gangguan pada
pendengarannya.
12 sampai 15 bulan
Anak pada usia ini pada normalnya harus mengoceh lebih banyak lagi
dan sedikitnya mengeluarkan satu atau lebih kata yang bermakna
(tidak termasuk mama dan dada). Kata benda biasanya muncul
lebih awal seperti baby dan ball. Anak seharusnya juga mampu
untuk memahami dan menuruti satu perintah (contoh, tolong
ambilkan mainanmu.).
18 sampai 24 bulan
Anak sudah memiliki sekitar 20 perbendaharaan kata pada usia 18
bulan dan 50 atau lebih kata-kata yang belum sempurna saat usia
mereka mencapai 2 tahun. Ketika usia 2 tahun, anak-anak sudah
belajar untuk mengombinasikan dua kata, seperti adik nangis atau
ayah besar. Seorang anak yang berusia 2 tahun harus sudah mampu
untuk melaksanakan dua buah perintah (seperti "tolong ambilkan
mainanmu dan ambil gelasmu ).
2 sampai 3 tahun
Pada usia ini anak akan mengalami perkembangan bahasa yang pesat
dan perbendaharaan kata yang amat meningkat. Mereka sudah bisa
menggabungkan tiga atau lebih kata-kata menjadi satu kalimat.
Kemampuan anak dalam memahami bahasa juga meningkat pada usia
3 tahun. Mereka mulai memahami apa maksud dari taruh di meja itu
atau taruh itu di bawah tempat tidur. Anak juga sudah harus mulai
bisa menyebutkan warna dan memahami konsep deskriptif (contonya
membedakan besar dan kecil).
2.3 Etiologi2
Penyebab kelainan berbahasa ada bermacam-macam yang
melibatkan berbagai faktor yang dapat saling mempengaruhi; antara
lain kemampuan lingkungan, pendengaran, kognitif, fungsi saraf, emosi
psikologis dan lain sebagainya. Seorang anak mungkin kehilangan
pendengaran sensoneural dari sedang sampai berat. Sedangkan yang
lain mungkin kehilangan pendengaran konduksi berulang, sehingga
kemampuan bicara keseluruhannya menurun. Demikian pula suatu
gangguan bicara (disfasia) dapat terjadi tanpa adanya cedera otak

atau keadaan lainnya. Blagger (1981) membagi penyebab gangguan


bicara dan bahasa sebagai berikut:
Penyebab

Efek pada perkembangan bicara

1. Lingkungan
a. Sosial ekonomi kurang

Terlambat

b. Tekanan keluarga

Gagap

c. Keluarga bisu

Terlambat pemerolehan bahasa

d. Di rumah menggunakan
bahasa
bilingual

Terlambat
bahasa

pemerolehan

struktur

2. Emosi
a. Ibu yang tertekan

Terlambat pemerolehan bahasa

b. Gangguan
orang tua

serius

pada

Terlambat
atau
perkembangan bahasa

gangguan

c. Gangguan
anak

serius

pada

Terlambat
atau
perkembangan bahasa

gangguan

3. Masalah pendengaran
a. Kongenital

Terlambat/gangguan bicara yang


permanen

b. Didapat

Terlambat/gangguan bicara yang


permanen

4. Perkembangan terlambat
a. Perkembangan lambat

Terlambat bicara

b. Perkembangan
tetapi masih

Terlambat bicara

lambat,

dalam batas rata-rata


c. Retardasi mental

Pasti terlambat bicara

5. Cacat bawaan
a. Palatoschizis

Terlambat
dan
kemampuan bicaranya

b. Sindrom down

Kemampuan
rendah

terganggu

bicaranya

lebih

6. Kerusakan otak
a. Kelainan neuromuskular

Mempengaruhi
mengisap, menelan,

kemampuan

mengunyah, dan akhirnya timbul


gangguan bicara
dan artikulasi seperti disartria
b. Kelainan sensorimotor

Mempengaruhi
mengisap

kemampuan

dan
menelan,
menimbulkan gangguan

akhirnya

artikulasi, seperti dispraksia


c. Palsi serebral

Berpengaruh pada
makan dan timbul

pernafasan,

juga masalah artikulasi yang dapat


mengakibatkan
dispraksia
d.Kelainan persepsi

disartria

Kesulitan
membedakan
mengerti bahasa,
simbolisasi,
akhirnya

mengenal

dan
suara,

konsep,

menimbulkan kesulitan belajar di


sekolah
Perkembangan bahasa yang lambat dapat bersifat familial. Oleh
karena itu harus dicari dalam keluarga apakah ada yang mengalami
keterlambatan bicara juga. Di samping itu kelainan bicara juga lebih
banyak pada anak laki-laki daripada perempuan. Hal ini karena pada
perempuan, maturasi dan perkembangan fungsi verbal hemisfer kiri
lebih baik. Sedangkan pada laki-laki perkembangan hemisfer kanan
yang lebih baik, yaitu untuk tugas yang abstrak dan memerlukan
keterampilan.
Sedangkan Aram DM (1978), mengatakan bahwa gangguan
bicara pada anak dapat disebabkan oleh kelainan di bawah ini:
1. Lingkungan sosial anak
Interaksi antar personal merupakan dasar dari semua komunikasi dan
perkembangan bahasa. Lingkungan yang tidak mendukung akan
menyebabkan gangguan bicara dan bahasa pada anak.

2. Sistem masukan/input
Adalah sistem pendengaran, penglihatan dan integritas taktil-kinestetik
dari anak. Pendengaran merupakan alat yang penting dalam
perkembangan bicara. Anak dengan otitis media kronis dengan
penurunan daya pendengaran akan mengalami keterlambatan
kemampuan menerima ataupun mengungkapkan bahasa. Gangguan
bicara juga terdapat pada tuli oleh karena kelainan genetik dan
metabolik (tuli primer), tuli neurosensorial (infeksi intra uterin: sifilis,
rubella, toksoplasmosis, sitomegalovirus), tuli konduksi seperti akibat
malformasi telinga luar, tuli sentral (sama sekali tidak dapat
mendengar), tuli persepsi/afasia sensorik (terjadi kegagalan integrasi
arti bicara yang didengar menjadi suatu pengertian yang menyeluruh),
dan tuli psikis seperti pada skizofrenia, autisme infantile, keadaan
cemas dan reaksi psikologis lainnya.
Pola bahasa juga akan terpengaruh pada anak dengan gangguan
penglihatan yang berat, demikian pula dengan anak dengan defisit
taktil-kinestetik akan terjadi gangguan artikulasi.
3. Sistem pusat bicara dan bahasa
Kelainan susunan saraf puast akan mempengaruhi pemahaman,
interpretasi, formulasi dan perencanaan bahasa, juga pada aktivitas
dan kemampuan intelektual dari anak. Gangguan komunikasi biasanya
merupakan bagian dari retardasi mental, misalnya pada Sindrom
Down.
4. Sistem produksi
Sistem produksi suara seperti laring, faring, hidung, struktur mulut, dan
mekanisme neuromuskular yang berpengaruh terhadap pengaturan
nafas untuk berbicara, bunyi laring, pembentukan bunyi untuk
artikulasi bicara melalui aliran udara lewat laring, faring, dan rongga
mulut.
2.4 Patofisiologi8
Terdapat dua aspek untuk dapat berkomunikasi: pertama, aspek
sensorik (input bahasa), yang melibatkan telinga dan mata, dan kedua,
aspek motorik (output bahasa), yang melibatkan vokalisasi dan
pengaturannya.
Urutan proses komunikasi-input bahasa dan output bahasa adalah
sebagai berikut:
1. sinyal bunyi mula-mula diterima oleh area auditorik primer yang
nantinya akan menyandikan sinyal tadi dalam bentuk kata-kata
2. kata-kata lalu diinterpretasikan di area Wernicke
3. penentuan buah pikiran dan kata-kata yang akan diucapkan juga
terjadi di dalam area Wernicke

4. penjalaran sinyal-sinyal dari area Wernicke ke area Broca melalui


fasikulus arkuatus
5. aktivitas program keterampilan motorik yang terdapat di area Broca
untuk mengatur pembentukan kata
6. penjalaran sinyal yang sesuai ke korteks motorik untuk mengatur otototot bicara.
Apabila terjadi kelainan pada salah satu jalannya impuls ini, maka akan
terjadi kelainan bicara.

Apek sensorik pada komunikasi


Bila ada kerusakan pada bagian area asosiasi auditorik dan area
asosiasi visual pada korteks, maka dapat menimbulkan
ketidakmampuan untuk mengerti kata-kata yang diucapkan dan katakata yang tertulis. Efek ini secara berturut-berturut disebut sebagai
afasia reseptif auditorik dan afasia reseptif visual atau lebih umum , tuli
kata-kata dan buta kata-kata (disebut juga disleksia).
Afasia Wernicke dan Afasia Global
Beberapa orang mampu mengerti kata-kata yang diucapkan atau pun
kata-kata yang dituliskan namun tak mampu menginterpretasikan
pikiran yang diekspresikan. Keadaan ini sering terjadi bila area
Wernicke yang terdapat di bagian posterior hemisfer dominan girus
temporalis superior mengalami kerusakan atau kehancuran. Oleh
karena itu, tipe afasia ini disebut afasia Wernicke.
Bila lesi pada area Wernicke ini meluas dan menyebar (1) ke belakang
ke regio girus angular, (2) ke inferior ke area bawah lobus temporalis,
dan (3) ke superior ke tepi superior fisura sylvian, maka penderita
tampak seperti benar-benar terbelakang secara total (totally
demented) untuk mengerti bahasa atau berkomunikasi, dan karena itu
dikatakan menderita afasia global.

Aspek motorik komunikasi


Proses bicara melibatkan dua stadium utama aktivitas mental:
(1) membentuk buah pikiran untuk diekspresikan dan memilih katakata yang akan digunakan, kemudian (2) mengatur motorik vokalisasi
dan kerja yang nyata dari vokalisasi itu sendiri. Pembentukan buah
pikiran dan bahkan pemilihan kata-kata merupakan fungsi area asosiasi
sensorik otak. Sekali lagi, area Wernicke pada bagian posterior girus
temporalis superior merupakan hal yang paling penting untuk
kemampuan ini. Oleh karena itu, penderita yang mengalamai afasia
Wernicke atau afasia global tak mampu memformulasikan pikirannya
untuk dikomunikasikan. Atau, bila lesinya tak begitu parah, maka
penderita masih mampu memformulasikan pikirannya namun tak
mampu menyusun kata-kata yang sesuai secara berurutan dan
bersama-sama untuk mengekspresikan pikirannya. Seringkali,
penderita fasih berkata-kata namun kata-kata yang dikeluarkan tidak
beraturan.
Afasia motorik akibat hilangnya Area Broca
Kadang-kadang, penderita mampu menentukan apa yang ingin
dikatakannya, dan mampu bervokalisasi, namun tak dapat mengatur
sistem vokalnya untuk menghasilkan kata-kata selain suara ribut. Efek
ini, disebut afasia motorik, disebabkan oleh kerusakan pada area bicara
Broca, yang terletak di regio prefontal dan fasial premotorik korteks
kira-kira 95 persen kelainannya di hemisfer kiri. Oleh karena itu, pola
keterampilan motorik yang dipakai untuk mengatur laring, bibir, mulut,
sistem respirasi, dan otot-otot lainnya yang dipakai untuk bicara
dimulai dari daerah ini.
Artikulasi
Kerja artikulasi berarti gerakan otot-otot mulut, lidah, laring, pita
suara, dan sebagainya, yang bertanggung jawab untuk intonasi, waktu,
dan perubahan intensitas yang cepat dari urutan suara. Regio fasial
dan laringela korteks motorik mengaktifkan otot-otot ini, dan
serebelum, ganglia basalis, dan korteks sensorik semuanya membantu
mengatur urutan dan intensitas dari kontraksi otot, dengan mekanisme
umpan balik sereberal dan fungsi ganglia basalis. Kerusakan setiap
regio ini dapat menyebabkan ketidakmampuan parsial atau total untuk
berbicara dengan jelas.
2.5 Manifestasi Klinik2,3
Terdapat bermacam-macam klasifikasi disfasia, tergantung dari
cara pandang mana. Kebanyakan sistem klasifikasi berdasarkan atas
model input-output. Beberapa telah didefinisikan dengan

menggunakan tes yang telah distandarisasi. Ada yang menggunakan


model didasari pendengaran dan ada pula yang berdasarkan
patofisiologi terjadinya disfasia.
Klasifikasi kelainan bahasa pada anak menurut Rutter (dikutip
dari Toback C.), berdasarkan atas berat ringannya kelainan bahasa
sebagai berikut:
Klasifikasi kelainan bahasa menurut Rutter.
Ringa
n

Keterlambatan akuisisi dari bunyi katakata, bahasa normal

Dislalia

Seda
ng

Keterlambatan lebih berat dari akuisisi


bunyi kata-kata

Disfasia
ekspresif

dan perkembangan bahasa terlambat


Berat

Sang
at
berat

Keterlambatan lebih berat dari akuisis


dan bahasa,

Disfasia
reseptif

gangguan pemahaman bahasa

dan
persepsi

Ganggauan pada seluruh kemampuan


bahasa

Tuli
dan

persepsi

tuli sentral
Sedangkan Rapin dan Allen (dikutip dari Klein,1991) berdasar
patofisiologi, membagi kelainan bahasa pada anak mejadi 6 subtipe,
yaitu:
1. 2 primer ekspresif:
- disfraksia verbal
- gangguan defisit produksi fonologi
2. defisit represif dan ekspresif
- gangguan campuran ekspresif- represif
- disfasia verbal auditori agnosia
3. 2 defisit bahasa yang lebih berat
- gangguan leksikal-sintaksis
- gangguan semantik-pragmatik
Anak dengan disfraksi verbal (afraksia verbal atau gangguan
perkembangan bicara ekspresif) mengerti segala sesuatu yang
dikatakan padanya, mereka lebih sering menunjuk dari pada bicara.
Banyak yang mempunyai riwayat prematur, beberapa menderita
disfraksia oromotor (anak ini mengeluarkan air liur dan mempunyai
kesulitan mengikuti gerakan mulut). Jika mereka bicara, lebih banyak

tuli

menggunakan suara vokal dengan gangguan pengucapan konsonan.


Anak-anak ini setelah dewasa menjadi afemia. Anak dengan disfraksia
verbal kadang-kadang disertai dengan gangguan tingkah laku
(autisme). Rehabilitasi pada anak ini lebih memerlukan terapi wicara
yang intensif.
Beberapa anak bicara dengan kata-kata dan frase yang sulit
dimengerti, bahkan pada orang-orang yang selalu kontak dengannya.
Sehingga mereka sering marah dan frustasi karena merasa bahwa
kata-katanya sulit dimengegerti oleh sekitarnya. Mereka ini tidak ada
gangguan dalam pengertian, tetap terdapat gangguan defisit fonologi.
Anak yang bicaranya sulit dipahami yang juga menunjukkan
adanya gangguan pemahaman terhadap apa yang dikatakan
kepadanya, menunjukkan gangguan campuran ekspresifreseptif.
Mereka bicara dalam kalimat yang pendek dan banyak dari mereka
yang autistik. Setelah dewasa mereka menjadi afasia (afasia Broca),
hanya sedikit yang diketahui bagaimana hal ini bisa terjadi.
Beberapa anak mengerti sedikit pada apa yang dikatakan
kepadanya, walaupun kadang-kadang mereka mengikuti suatu
pembicaraan dengan cara lain, misalnya dengan memperhatikan apa
yang dilihatnya. Mereka sangat miskin dalam artikulasi kata-kata.
Mereka ini dinamakan disfasia verbal auditori agnosia. Mereka ini
termasuk afasia yang didapat, dimana mereka sebelumnya sering
kejang dan kehilangan kemampuan berbicara setelah periode
perkembangan bahasa yan normal (sindrom Landau Kleffner). Pada
EEG anak dengan sindrom ini, akan tampak bitemporal spike. Anak
dengan disfasia jenis ini, memproses suara suara yang didengarkan di
pusat dengar berbeda dengan anak normal. Stimulasi bahasa akan
meperbaiki keadaan, walaupun hasil akhirnya masih belum pasti.
Anak dengan gangguan leksikal-sintaksis mempunyai kesulitan
dalam menemukan kata-kata yang tepat khususnya saat bercakapcakap. Mereka tidak gagap dan tidak menghindar untuk berbicara.
Gejalanya seperti orang dewasa dengan afasia konduksi, dimana
mereka akan berhenti bicara seentar untuk menemuka kata-kata yang
tepat. Anak ini biasanya bicara dengan menggunakan kalimat-kalimat
yang pendek untuk umurnya. Terapi bicara akan membantu melatih
anak mencari kata-kata yang tepat pada saat bicara, tetapi prognosis
selanjutnya masih belum banyak diketahui.
Beberapa anak ada yang bicaranya lancar dan dapat
menggunakan kata-kata yang tepat, tetapi mereka bicara tanpa henti
mengenai satu topik. Mereka tidak mengerti tata bahasa. Gejalanya
mirip gangguan bicara pada anak denga hidrosefalus dan oleh Rapi dan
Allen disebut gangguan semantik pragmatik. Anak ini pada umumnya
menderita gangguan hubungan sosial dan didiagnosis sebagai
gangguan perkembangan pervasif. Mereka punya sedikit teman sebaya
dan tidak pernah mau belajar aturan permainan dan bicara dari teman

sebayanya. Ada baiknya anak ini diajar keterampilan berbicara, bahkan


diperlukan psokolog dan ahli terapi tingkah laku.
Aram DM (1978) dan Towne (1983), mengatakan bahwa dicurigai
adanya gangguan perkembangan kemampuan bahasa pada anak,
kalau ditemukan gejala-gejala seperti berikut:
1. Pada usia 6 bulan anak tidak mampu memalingkan mata serta
kepalanya terhadap suara yang datang dari belakang atau samping.
2. Pada usia 10 bulan anak tidak memberi reaksi terhadap panggilan
namanya sendiri.
3. Pada umur 15 bulan tidak mengerti dan memberi reaksi terhadap katakata jangan, da-da, dan sebagainya.
4. Pada usia 18 bulan tidak dapat menyebut 10 kata tunggal.
5. Pada usia 21 bulan tidak memberi reaksi terhadap perintah (misalnya
duduk, kemari, berdiri).
6. Pada usia 24 bulan tidak bisa menyebut bagian-bagian tubuh
7. Pada usia 24 bulan belum mampu mengetengahkan ungkapan yang
terdiri dari 2 buah kata.
8. Setelah usia 24 bulan hanya mempunyai perbendaharaan kata yang
sangat sedikit/tidak mempunyai kata-kata huruf z pada frase.
9. Pada usia 30 bulan ucapannya tidak dapat dimengerti oleh anggota
keluarga.
10.Pada usia 36 bulan belum dapat mempergunakan kalimat-kalimat
sederhana.
11.Pada usia 36 bulan tidak bisa bertanya dengan kata tanya yang
sederhana.
12.Pada usia 36 bulan ucapannya tidak dimengerti oleh orang di luar
keluarganya.
13.Pada usia 3,5 tahun selalu gagal untuk menyebutkan kata akhir (ca
untuk cat, ba untuk ban, dan lain-lain).
14.Setelah berusia 4 tahun tidak lancar berbicara/gagap.
15.Setelah usia 7 tahun masih ada kesalahan ucapan.
16.Pada usia berapa saja terdapat hipernasalitas atau hiponasaliatas yang
nyata atau mempunyai suara yang monoton tanpa berhenti, sangat
keras dan tidak dapat didengar serta terus-menerus memperdengarkan
suara yang serak.
2.6 Diagnosis2
1. Anamnesis
Pengambilan anamnesis harus mencakup uraian mengenai
perkembangan bahasa anak. Autisme setelah berumur 18 bulan dan
bicara yang sulit dimengerti setelah berumur 3 tahun, paling sering
ditemukan. Dokter anak harus curiga bila orang tua melaporkan bahwa
anaknya tidak dapat menggunakan kata-kata yang berarti pada umur
18 bulan atau belum mengucapkan frase pada umur 2 tahun. Atau
anak memakai bahasa yang singkat untuk menyampaikan maksudnya.
Kecurigaan adanya gangguan tingkah laku perlu
dipertimbangkan kalau dijumpai gangguan bicara dan tingkah laku
yang bersamaan. Kesulitan tidur dan makan sering dikeluhkan orang

tua pada awal gangguan autisme. Pertanyaan bagaimana anak


bermain dengan temannya dapat membantu mengungkap tabir
tingkah laku. Anak dengan autisme lebih senang bermain dengan huruf
balok atau magnetik dalam waktu yang lama. Mereka dapat saja
bermain dengan anak sebaya, tetapi dalam waktu singkat menarik diri.
2. Instrumen penyaring
Selain anamnesis yang teliti, disarankan digunakan instrumen
penyaring untuk menilai gangguan perkembangan bahasa. Misalnya
Early Language Milestone Scale (Copelan dan Gleason), atau DDST
(pada Denver II penilaian pada sektor bahasa lebih banyak dari pada
DDST yang lama) atau Receptive-Expressive Emergent Language
Scale. Early Language Milestone Scale cukup sensitif dan spesifik untuk
mengidentifikasi gangguan bicara pada anak kurang dari 3 tahun.
3. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dapat digunakan untuk mengungkapkan
penyebab lain dari gangguan bahasa. Apakah ada mikrosefali, anomali
telinga luar, otitis media yang berulang, sindrom William (fasies Elfin,
perawakan pendek, kelainan jantung, langkah yang tidak mantap),
celah palatum, dan lain-lain.
Gangguan oromotor dapat diperiksa dengan menyuruh anak
menirukan gerakan mengunyah, menjulurkan lidah dan mengulang
suku kata PA, TA, PA-TA, PA-TA-KA. Gangguan kemampuan oromotor
terdapat pada verbal apraksia.
4. Pengamatan saat bermain
Mengamati anak saat bermain dengan alat permainan yang
sesuai dengan umurnya, sangat membantu dalam mengidentifikasi
gangguan tingkah laku. Idealnya pemeriksa juga bermain dengan anak
tersebut dan kemudian mengamati orang tuanya saat bermain dengan
anaknya. Tetapi ini tidak praktis dilakukan pada ruangan yang ramai.
Pengamatan anak saat bermain sendiri, selama pengambilan
anamnesis dengan orang tuanya, lebih mudah dilaksanakan. Anak
yang memperlakukan mainannya sebagai objek saja atau hanya
sebagai titik pusat perhatian saja, dapat merupakan petunjuk adanya
kelainan tingkah laku.
5. Pemeriksaan laboratorium
Semua anak dengan gangguan bahasa harus dilakukan tes
pendengaran. Jika anak tidak kooperatif terhadap audiogram atau
hasilnya mencurigakan, maka perlu dilakukan pemeriksaan auditory
brainstem responses.

Pemeriksaaan laboratorium lainnya dimaksudkan untuk


membuat diagnosis banding. Bila terdapat gangguan pertumbuhan,
mikrosefali, makrosefali, terdapat gejala-gejala dari suatu sindrom
perlu dilakukan CT-scan atau MRI, untuk mengetahui adanya
malformasi. Pada anak laki-laki dengan autisme dan perkembangan
yang lambat, skrining kromosom untuk fragil-X mungkin diperlukan.
Skrining terhadap penyakit-penyakit metabolik baru dilakukan kalau
terdapat kecurigaan ke arah itu, karena pemeriksaan ini sangat mahal.
6. Konsultasi
Pemeriksaan dari psikolog atau/neuropsikiater anak diperlukan
jika ada gangguan bahasa dan tingkah laku. Pemeriksaan ini meliputi
riwayat dan tes bahasa, keampuan kognitif dan tingkah laku. Tes
intelegensia dapat dipakai sebagai perbandingan fungsi kognitif anak
tersebut. Masalah tingkah laku dapat diperiksa lebih lanjut dengan
menggunakan instrumen seperti Vineland Social Adaptive Scale
Revised. Child Behaviour Checklist, atau Childhood Autism Rating
Scale. Konsultasi ke psikiater anak dilakukan bila ada gangguan tingkah
laku yang berat.
Ahli patologi wicara akan mengevaluasi cara pengobatan anak dengan
gangguan bicara. Anak akan diperiksa apakah ada masalah anatomi
yang mempengaruhi produksi suara.
Pada halaman selanjutnya adalah diagram yang juga dapat digunakan
untuk mendiagnosa seorang anak dengan keterlambatan bicara. 9

Bentuk normal, tidak dapat bermain dengan simbol, komunikasi ya

Tidak normal
Pendengaran

Autisme

Tuli
Gangguan dalam berbicara

2.7 Penatalaksanaan
Deteksi dan penanganan dini pada problem bicara dan bahasa
pada anak, akan membantu anak dan orang tua untuk menghindari
atau memperkecil kelainan pada masa sekolah.2
Dalam diagnosa dan penanganannya diperlukan ahli yang beragam
seperti dokter, ahli terapi: ahli terapi bicara dan ahli fisioterapi,
psikolog, perawat, dan pekerja sosial.9
2.8 Prognosis2
Menetap
Tidak menetap
Prognosis gangguan bicara pada anak tergantung pada
penyebabnya.
Dengan
masalah
medis seperti
Perkembangan
yangperbaikan
tidak sempurna,
retardasi
mentaltuli konduksi
dapat menghasilkan perkembangan bahasa yang normal pada anak
yang tidak retardasi mental. Sedangkan perkembangan bahasa dan
kognitif pada anak dengan ganguan pendengaran sensoris bervariasi.
Dikatakan bahwa anak
dengan gangguan fonologi biasanya
Dispraksia
prognosisnya lebih baik. Sedangkan gangguan bicara pada anak yang
intelegensinya normal perkembangan bahasanya lebih baik dari pada
anak yang retardasi mental. Tetapi anak dengan
gangguan
yang
Terdapat
kelainan
multipel, terutama dengan gangguan pemahaman, gangguan bicara
ekspresif, atau kemampuan naratif yang tidak berkembang pada usia 4
tahun, mempunyai gangguan bahasa yang menetap pada umur 5,5
tahun.
2.9 Pencegahan10

Immatur,
Ada beberapa
hal yang harus diperhatikan dan dihindari untuk
disartria
untuk mencegah adanya masalah keterlambatan bicara pada anak - di
luar adanya kelainan organik dan bawaan pada anak.
Hal yang perlu diperhatikan:
Immatur, perkembangan yang tidak sempurna,
Masalah pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua
Masalah komunikasi dan interaksi dengan orang tua tanpa
disadari memiliki peran yang penting dalam membuat anak
mempunyai kemampuan berbicara dan berbahasa yang tinggi. Banyak
orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi
dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak
perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, analisa
atau membuat kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana
sekali pun.
Sering orang tua malas mengajak anaknya bicara panjang lebar dan
hanya bicara satu dua patah kata saja yang isinya instruksi atau
jawaban sangat singkat. Selain itu, anak yang tidak pernah diberi
kesempatan untuk mengekspresikan diri sejak dini (lebih banyak
menjadi pendengar pasif) karena orang tua terlalu memaksakan dan
memasukkan segala instruksi, pandangan mereka sendiri atau
keinginan mereka sendiri tanpa memberi kesempatan pada anaknya

untuk memberi umpan balik, juga menjadi faktor yang mempengaruhi


kemampuan bicara, menggunakan kalimat dan berbahasa.
Pengaruh televisi
Sejauh ini, terlalu banyak menonton televisi pada anak-anak usia
batita merupakan faktor yang membuat anak lebih menjadi pendengar
pasif. Pada saat menonton televisi, anak akan akan lebih sebagai pihak
yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang
masuk. Belum lagi suguhan yang ditayangkan berisi adegan-adegan
yang seringkali tidak dimengerti oleh anak dan bahkan sebenarnya
traumatis (karena menyaksikan adegan perkelahian, kekerasan,
seksual, atau pun acara yang tidak disangka memberi kesan yang
mendalam karena egosentrisme yang kuat pada anak dan karena
memampuan kognitif yang masih belum berkembang). Akibatnya,
dalam jangka waktu tertentu yang mana seharusnya otak mendapat
banyak stimulasi dari lingkungan/orang tua untuk kemudian
memberikan feedback kembali, namun karena yang lebih banyak
memberikan stimulasi adalah televisi (yang tidak membutuhkan respon
apa-apa dari penontonnya), maka sel-sel otak yang mengurusi masalah
bahasa dan bicara akan terhambat perkembangannya.
Sedikitnya latihan dalam berinteraksi dengan orang lain
Pastikan bahwa anak tidak kurang mendapat kesempatan untuk
berinteraksi dengan orang lain guna melatih kemampuan komunikasi
mereka.
Hal yang perlu dihindari:
Peran yang terlalu pasif dalam kehidupan sosial
Kebanyakan anak lebih sering ditempatkan dalam posisi menerima
dan tidak memberi dalam hubungannya dengan orang lain. Hal ini
mengakibatkan tidak terbiasanya mereka berpartisipasi secara aktif;
hal yang dibutuhkan dalam perkembangan bicara mereka.
Cara komunikasi kuno yang sudah terlalu nyaman dipakai
Beberapa anak, khususnya dalam hubungan di dalam keluarganya,
terbiasa dengan nyaman berkomunikasi menggunakan gerakan,
bahasa tubuh maupun bunyi-bunyian saja. Hal ini boleh jadi merupakan
cara komunikasi yang efektif di dalam rumah, namun tidak dalam
lingkup masyarakat, di mana anak butuh menggunakan bahasa secara
verbal sampai ke tingkat kata-kata yang rumit.
Tidak menganggap bahwa anak mampu
Banyak orang dewasa tidak melibatkan anak dalam berkomunikasi,
karena memiliki pemikiran bahwa anak tersebut belum mampu
berpartisipasi aktif ataupun mengerti pembicaraan yang berlangsusng.
Orang dewasa bicara atas nama mereka

Seringkali orang dewasa berbicara atas nama anak, sehingga mereka


kelihatan tidak berbicara.
Terlalu banyak rangsangan
Sekalipun untuk niat dan tujuan yang baik, seringkali anak dijejali
dengan terlalu banyak bahasa, sehingga mereka kewalahan. Rasanya
seperti anak yang sedang belajar menangkap bola, lalu dilempari
beberapa bola sekaligus.
Terlalu banyak bahasa sekolah, kurang bahasa yang
komunikatif
Kebanyakan anak pada awal usianya diajarkan bahasa yang mencakup
warna, angka, yang sebetulnya tidak terlalu bermanfaat dalam
komunikasi sehari-hari. Anak membutuhkan rangsangan bahasa yang
sifatnya praktis; mencakup kosa kata yang berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari, karena mereka akan melatih kemampuan
berbahasanya melalui kehidupan sehari-hari.
Kurangnya obrolan sosial
Kebanyakan anak menggunakan bahasa untuk menunjukkan
kemampuannya meniru sesuatu kepada orang dewasa; apakah itu
sajak pendek, syair lagu, mengulang cerita yang didongengkan kepada
mereka, dll. Hanya sedikit yang mendapatkan kesempatan untuk
mengobrol dan bertanya jawab secara santai, sehingga terbangun
hubungan pertemanan dengan orang yang berkomunikasi dengan
mereka.
Terlalu banyak bermain sendiri
Tentunya anak belajar banyak melalui permainannya dengan boneka,
robot atau mainan lainnya. Namun untuk melatih kemampuannya
berkomunikasi, ia akan membutuhkan juga manusia yang melakukan
pembicaraan timbal balik sesuai dengan kemampuan anak.
DAFTAR PUSTAKA
1. Caroline Bowen. Speech And Language Development In Infants And
Young Children, dalam Caroline Bowen Phd Speech-Language
Pathologist. Didapatkan dari URL: http://www.speech-languagetherapy.com/devel1.htm. Diakses pada tanggal 22 Mei 2007.
2. Soetjiningsih. Gangguan Bicara dan Bahasa Pada Anak, dalam
I.G.N.Gde Ranuh (ed): Tumbuh Kembang Anak. EGC, Surabaya, 18, 237247.
3. Behrman Kliegmar Jenson. Disorders of Hearing, Speech, and
Language, dalam Nelson Textbook of Pediatrics, 17th. Saunders,
Philadelphia, 2004.
4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. Gangguan Bicara Pada Anak, dalam Buku Kuliah 1 Ilmu
Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 1985, 6, 102-105.

5. Nemours Foundation. Delayed Speech Or Language Development,


dalam Kids Health For Parents. Didapatkan dari URL:
http://www.kidshealth.org/parent/growth/communication/not_talk.html.
Diakses pada tanggal 22 Mei 2007.
6. Screening for Speech and Language Delay in Preschool Children:
Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force,
dalam Official Journal Of The American Academy Of Pediatrics.
Didapatkan dari URL:
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/content/full/117/2/e298.
Diakses pada tanggal 22 Mei 2007.
7. Come Unity. Children with Communication Disorders, dalam Childrens
Disabilities And Special Needs. Didapatkan dari URL:
http://www.comeunity.com/disability/speech/communication.html.
Diakses pada tanggal 22 Mei 2007.
8. Arthur C. Guyton, John E. Hall, Neurofisiologi Motorik dan Integratif,
dalam Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC, Jakarta.
9. Forfar and Arneils. Psychomotor and Intellectual Development, dalam
A.G.M. Campbell, Neil Mc Intosh (eds): Textbook of Paediatrics, 4 th.
10.Ganguan Keterlambatan Bicara, dalam Pontianak Post. Didapatkan dari
URL: http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?
berita=Konsultasi&id=126200. Diakses pada tanggal 22 Mei 2007.
11.A.H. Markum. Gangguan Perkembangan Bahasa, dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Anak Jilid 1. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1991, 2, 65.
2. Perbedaan pertumbuhan dan perkembangan?
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam
besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu,
yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran
panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolic (retensi
kalsium dan nitrogen tubuh).
Pertumbuhan berdampak pada aspek fisik
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill)
dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang
teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
Disini menyangkut adanya proses deferensiasi dari sel-sel tubuh, jarngan
tubuh, organ-organ dan system organ yang berkembang sedemikian rupa
sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga
perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi
dengan lingkungannya.
Perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ/individu.
(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC, 1995)
Ciri-ciri pertumbuhan

Secara

garis

besar

terdapat

kategori

perubahan

sebagai

ciri

pertumbuhan, yaitu :
1) Perubahan ukuran
Perubahan ini terlihat secara jelas pada pertumbuhan fisik yang dengan
betambahnya umur anak terjadi pula penambahan berat badan, tinggi
badan, lingkaran kepala, dll. Organ tubuh seperti jantung, paru-paru atau
usus akan bertambah besar, sesuai dengan peningkatan kebutuhan
tubuh.
2) Perubahan proporsi
Selain

bertambahnya

perubahan

proporsi.

ukuran-ukuran,
Anak

bukanlah

tubuh
dewasa

juga

memperlihatkan

kecil,

tubuh

anak

memperlihatkan perbedaan proporsi bila dibandingkan dengan tubuh


orang dewasa. Proporsi tubuh seorang bayi baru lahir sangat berbeda
dibandingkan tubuh anak ataupun orang dewasa. Pada bayi baru lahir,
kepala relatif mempunyai proporsi yang lebih besar dibanding dengan
umur-umur lainnya. Titik pusat tubuh bayi baru lahir kurang lebih setinggi
umbilikus, sedangkan pada orang dewasa titik pusat tubuh terdapat
kurang lebih setinggi simpisis pubis.
3) Hilangnya ciri-ciri lama
Selama proses pertumbuhan terdapat hal-hal yang terjadi perlahan-lahan,
seperti

menghilangnya

kelenjar

timus,

lepasnya

gigi

susu

dan

menghilangnya refleks-refleks primitif


4) Timbulnya ciri-ciri baru
Timbulnya ciri-ciri baru ini adalah sebagai akibat pematangan fungsifungsi organ. Perubahan fisik yang penting selama pertumbuhan adalah
munculnya gigi tetap yang menggantikan gigi susu yang telah lepas, dan
munculnya tanda-tanda seks sekunder seperti tumbuhnya buah dada
pada wanita, dll.
Ciri-ciri Perkembangan
1) Perkembangan melibatkan perubahan
Karena perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan, maka
setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan
sistem reproduksi misalnya, disertai dengan perubahan pada organ
kelamin, perkembangan intelegensia menyertai pertumbuhan otak dan

serabut saraf. Perubahan-perubahan ini meliputi perubahan ukuran tubuh


secara umum, perubahan proporsi tubuh, berubahnya ciri-ciri lama dan
timbulnya ciri-ciri baru sebagai tanda kematangan suatu organ tubuh
tertentu.
2) Perkembangan awal menentukan pertumbuhan selanjutnya
Seseorang tidak akan bisa melewati satu tahap perkembangan sebelum ia
melewati tahapan sebelumnya. Sebagai contoh : seorang anak tidak akan
bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Karena itu, perkembangan awal ini
merupakan

masa

kritis

karena

akan

menentukan

perkembangan

selanjutnya.
3) Perkembangan mempunyai pola yang tetap
Perkembangan fungsi organ tubuh terjadi menurut 2 hukum yang
tetap, yaitu :

Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah kepala, kemudian menuju ke

arah kaudal. Pola ini disebut pola Sefalokaudal.


Perkembangan terjadi lebih dahulu di daerah proksimal (gerakan kasar)
lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang mempunyai
kemampuan dalam gerakan halus. Pola ini disebut Proksimodistal.

4) Perkembangan memiliki tahap yang berurutan


Tahap ini dilalui seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan,
tahap-tahap tersebut tidak bisa terbalik, misalnya anak terlebih dahulu
mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak,
berdiri sebelum berjalan, dsb.
5) Perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.
Seperti

halnya

pertumbuhan,

perkembangan

berlangsung

dalam

kecepatan yang berbeda-beda. Kaki dan tangan berkembang pesat pada


awal

masa

remaja,

sedangkan

bagian

tubuh

yang

lain

mungkin

berkembang pesat pada masa lainnya.


6) Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian,
terjadi peningkatan mental, ingatan, daya nalar, asosiasi, dll.
(Moersintowarti B., Narendra, dkk.2002.Buku Ajar Tumbuh kembang Anak
dan Remaja Edisi Pertama.Jakarta:Sagung Seto)
3. Jelaskan tahapan tahapan/ periode pertumbuhan dan perkembangan!

Milestone perkembangan : tingkat perkembangan yang harus


dicapai anak pada umur tertentu
Motorik kasar
Lahir-3bulan
- Belajar mengangkat kepala
- Kepala bergerakdari kiri ke kanan mengikuti
anda
Usia 3 4 bulan
- Menegakkan
kepala
90
derajat
dan
mengangkat dada dengan bertopang dada
- Menoleh ke arah suara
Usia 6 9 bulan
- Duduk tanpa dibantu
- Dapat tengkurap dan berbalik sendiri
- Merangkak meraih benda atau mendekati
seseorang
Usia 9 12 bulan
- Merangkak
- Berdiri sendiri tanpa dibantu
- Dapat berjalan dengan dituntun
Usia 12 13 bulan
- Berjalan tanpa dibantu
Usia 13 18 bulan
- Berjalan
mengekplorasi
rumah
dan
sekelilingnya
Usia 18 24 bulan
- Naik turun tangga
Usia 2 3 tahun
- Belajar meloncat, memanjat, melompat,
dengan satu kaki
- Mengayuh sepeda roda tiga
Usia 3 4 tahun
- Berjalan pada jari kaki
Usia 4 5 tahun
- Melompat dan menari
Motorik halus
Lahir-3bulan
- Mengikuti obyek dengan matanya
- Menahan barang yang dipegangnya
Usia 3 6 bulan
menyentuhkan tangan satu ke tangan
lainnya
belajar meraih benda dalam dan di luar
jangkauannya
menaruh benda di mulut
Usia 6 9 bulan
- Memindahkan benda dari satu tangan ke
tangan yang lainnya
- Memegang benda kecil dengan ibu jari dan
telunjuk

- Bergembira dengan melempar benda - benda


Usia 9 12 bulan
- Ingin menyentuh apa saja dan memasukkan
benda ke mulut
Usia 12 18 bulan
- Menyusun 2-3 balok/kubus
Usia 18 24 bulan
- Menyusun 6 kubus
- Menunuk mata dan hidung
- Belajar makan sendiri
- Menggar garis di kertas atau pasir sepanjang
2,5 cm
Usia 2 3 tahun
- Menggambar lingkaran
- Membuat jembatan dengan 3 balok
Usia 3 4 tahun
- Belajar berpakaian dan membuka pakaian
sendiri
- Menggambar orang hanya kepala dan badan
Usia 4 5 tahun
- Menggambar orang terdiri dari kepala, badan
dan lengan
- Mampu menggambar segiempat dan segitiga
Bahasa/kognitif
Lahir-3bulan
- Mengoceh spontan atau bereaksi dengan
mengoceh (cooing)
Usia 3 6 bulan
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak main
Usia 6 9 bulan
- Mengeluarkan kata-kata yang tak berarti
(bubbling ), da da, ta - ta
Usia 9 12 bulan
- Menirukan suara
- Dapat mengulang bunyi yang didengarnya
- Belajar menyatakan satu atau dua kata
Usia 12 18 bulan
- Mengatakan 5 10 kata
Usia 18 24 bulan
- Menyusun 2 kata membentuk kalimat
- Menguasai sekitar 50 200 kata
Usia 2 3 tahun
- Mampu menyusun kalimat lengkap
- Menggunakan kata- kata saya, bertanya,
mengerti kata-kata yang ditujukan kepadanya
Usia 3 4 tahun
- Mampu bicara dengan baik
- Mampu menyebut namanya, jenis kelamin,
dan umur
- Bertanya tanya

Usia 4 5 tahun
- Pandai bicara jarinya
- Mampu menyebut hari hari dalam seminggu
- Berminat pada kata baru dan artinya
- Mampu menghitung jari
- Memprotes bila dilarang apa yang diinginkan
- Mendengan dan mengulang hal penting dan
cerita

Sosial
Usia 3 4 bulan
- Mampu menatap mata anda
- Tersenyum bila diajak bicara/ senyum
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak main
Usia 6 9 bulan
- Mulai berpartisipasi dalam tepuk tangan dan
petak umpet
Usia 9 12 bulan
- Berpartisipasi dalam permainan
Usia 18 24 bulan
- Memperlihatkan minat kepada anak lain dan
bermain main dengan mereka
Usia 2 3 tahun
- Bermain bersama anak lain dan menyadari
adanya lingkungan lain diluar keluarganya
Usia 4 5 tahun
- Bermain bersama anak lain, dan dapat
mengikuti aturan permainan
Emosi
Lahir-3bulan
- Bereaksi terhadap suara/bunyi
Usia 3 6 bulan
- Tersenyum melihat gambar/mainan lucu atau
binatang peliharaan
- Tertawa dan menjerit gembira bila diajak
bermain
Usia 6 9 bulan
- Mengenal anggota keluarga dan takut
terhadap orang asing
Usia 9 12 bulan
- Memperlihatkan minat yang besar terhadap
sekitarnya
Usia 12 18 bulan
- Memperlihatkan rasa cemburu dan bersaing
Usia 18 24 bulan
- Menaruh minta pada apa yang dikerjakan
orang dewasa
Usia 3 4 tahun
- Menunjukan rasa sayang kepada saudaranya

SUMBER : Tumbuh Kembang Anak, oleh dr. Nur


Faizah
MILESTONE PERKEMBANGAN
4 bulan

8 bulan

12 bulan

18 bulan

24 bulan

Deteksi Dini
Pertumbuhan
BB
TB
Lingkar kepala,lingkar lengan, lipat kulit
Penglihatan
pendengaran

SUMBER
:
Jurnal
GANGGUAN
PERKEMBANGAN
NEUROLOGIS
PADA
BAYI
DENGAN
RIWAYAT
HIPERBILIRUBINEMIA NEURODEVELOPMENTAL DISORDER
AMONG
BABIES
WITH
HISTORY
OF
HYPERBILIRUBINEMIA,Tesis, Untuk memenuhi sebagian
persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 dan memperoleh
keahlian dalam bidang Ilmu Kesehatan Anak , oleh Baginda
P Hutahaean , PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER ILMU
BIOMEDIK DAN PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS I

ILMU
KESEHATAN
SEMARANG, 2007

ANAK

UNIVERSITAS

DIPONEGORO,

4. Apa saja factor


perkembangan?

factor

yang

mempengaruhi

pertumbuhan

dan

5. Jelaskan tahapan tahapan milestone! Dari awal usia lahir dst.


6. Sebutkan
ciri
ciri
developmental
delay!

termasuk
neurodevelopmental disorder
Keterlambatan dalam adaptasi social, motorik halus, motorik kasar,
dan verbal.
7. Mengapa didapatkan anak mirip sindrom down dan microsephali?
Ibu punya kerusakan genetic?
Lingkar kepala mencerminkan volume intracranial.Dipakai untuk menaksir
pertumbuhan otak. Apabila otak tidak tumbuh normal maka kepala akan
kecil. Sehingga pada lingkar kepala (LK) yang lebih kecil dari normal
(mikrosefali), maka menunjukkan adanya retardasi mental.Sebaliknya
kalau ada penyumbatan pada aliran cairan serebrospinal pada
hidrosefalus akan meningkatkan volume kepala,sehingga LK lebih besar
dari normal.

(Soetjiningsih, Tumbuh Kembang Anak, Jakarta : EGC, 1995)


Mikrosefali diklasifikasikan kedalam tiga kelompok, se- suai
penyebabnya:
1. Mikrosefali primer jinak berkaitan dengan faktor ge- netik. Mikrosefali
genetik ini termasuk mikrosefali fa- milial dan mikrosefali akibat
aberasi khromosom.
2. Mikrosefali akibat penutupan sutura prematur (krani- osinostosis). Jenis
mikrosefali ini berakibat bentuk kepala abnormal, namun pada
kebanyakan kasus tak ada a- nomali serebral yang jelas.
3. Mikrosefali sekunder terhadap atrofi serebral. Mik- rosefali sekunder
dapat disebabkan oleh infeksi intra- uterin seperti penyakit inklusi
sitomegalik, rubella, sifilis, toksoplasmosis, dan herpes simpleks;
radiasi, hipotensi sistemik maternal, insufisiensi plasental; a- noksia;
penyakit sistemik maternal seperti diabetes me- llitus, penyakit renal
kronis, fenilketonuria; dan ke- lainan perinatal serta pascanatal seperti
asfiksia, in- feksi, trauma, kelainan jantung kronik, serta kelainan paruparu dan ginjal. Jenis mikrosefali ini berhubungan dengan retardasi
mental dalam berbagai tingkat.

The backward flopping of the head that occurs when an infant is placed in
a sitting position. Head lag is obvious in a newborn because the neck
muscles are still weak, but by 4 months the baby can hold his or her head
upright
BMA llustrated Medical Dictionary Copyright 2007 Dorling Kindersley
Definition
o

Head lag is what it sounds like: When a baby goes from lying down to
sitting up, her head will naturally lag, or droop, forward or backward. As
she grows stronger, she can control her neck muscles more easily and her
head lag should disappear.
Measuring Head Lag

Doctors watch for head lag by lying a baby on his back, then pulling him
gently by the arms into a sitting position. The level of control the baby has
over his neck muscles can be assessed by the severity of his head lag.
Milestones

According to Tufts University, a newborn should have complete head lag,


while it should be only slight at 12 weeks of age. At 20 weeks, the head
lag should disappear altogether, and at 28 weeks she should be able to
sit, with her head erect, without support.
Developmental Delays

According to Tufts University, "children who cannot move normally show


higher levels of frustration, dependence and lack of social interactions."
This is why it is important for doctors to track head lag and for parents to
help children develop muscle strength at an early age.
Muscle Development

Parents can help children develop muscle strength and reduce head lag.
Giving baby supervised time on his tummy encourages him to lift his head
and strengthen his neck muscles, so eventually he will be able to willfully
move his neck in other directions, too.

8. Interpretasi dari tonus ke empat ekstremitas hipotoni dan head lag


positif?
Kelainan otot? Kelainan saraf perifer?
9. Apa hubungan gejala di scenario dengan organ yang terkait seperti
SSP, pendengaran dan penglihatan?
10.Bagaimana seseorang bisa bicara dan berjalan?
Fisiologis bicara?

11.Apa saja macam macam dari gangguan berbicara?


12.Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kelainan organ terkait?
13.Apa saja deteksi dini pemeriksaan sederhana dengan KPSP?
14.DD

STEP 4
Embriogenesis

Selama 3-4
minggu

Sistem Imun
(Neuroinflamasi)

OTAK
Etiologi

Multi organ
(Neuroinflamasi)
Gangguan Berjalan
Gangguan Berbicara

Genetik
Manifestasi Klinis

Infeksi
Paparan XRay

Segera

Lambat

Anamnesis dan Pemeriksaan


Fisik

dll