Anda di halaman 1dari 20

Pertanyaan

1. Ada berapa pita yang terbentuk ? Jelaskan !


Pita yang terbentuk pada sampel ada 1 yaitu 3,3 cm. Sedangkan pita
marker yang terbentuk mulai dari 1-7 adalah 1,5 cm, 2,1 cm, 2,7 cm, 2,9
cm, 3,2 cm, 3,4 cm, dan 4 cm. Panjang pita yang terbentuk tergantung
dari kecepatan migrasi protein pada sampe, dimana protein-protein
pemisah berdasarkan berat molekulnya. Protein dengan berat molekul
yang lebih kecil akan bergerak lebih cepat dibandingkan protein dengan
berat molekul yang lebih besar.
2. Apakah kepekatan warna pita berkaitan dengan konsentrasi protein ?
Iya, larutan pewarna dapat berikatan dengan asam amino, sehingga
konsentrasi protein dapat dilihat dari kepekatan warna pada pita oleh karena
itu semakin pekat warna pada pita maka konsentrasi protein semakin tinggi,
dan sebaliknya apabila warna pita tidak pekat, maka konsentrasi protein
rendah (Ripani, 2010).
3. Bagaimana cara mengidentifikasi jenis protein yang membentuk pita pada
gel elektroforesis?
Menggunakan marker protein, yaitu dengan melihat bentuk molekul
pada marker dan mencocokannya dengan sampel serta literatur. Marker
merupakan senyawa yang terdapat dalam bahan alam dan dideteksi untuk
keperluan khusus , yang merupakan campuran molekul dengan ukuran
berbeda-beda dapat digunakan untuk menentukan ukuran molekul dalam
pita sampel dengan meng-elektroforesis marker tersebut pada lajur di gel
yang paralel dengan sampel. Pita-pita pada lajur marka tersebut dapat
dibandingkan dengan pita sampel untuk menentukan ukurannya. Jarak pita
dari sumur gel berbanding terbalik terhadap logaritma ukuran molekul
(Ripani,2010).
4. Apakah fungsi penambahan merkaptoetanol pada persiapan sampel ?

Pengikatan protein dengan SDS akan menyebabkan dua hal. Yang pertama
yaitu terputusnya ikatan disulfida yang menentukan protein folding dengan
kata

lain

struktur

sekunder

protein

rusak.

Yang

kedua

yaitu

akan

menyebabkan bagian luar molekul protein terselubungi oleh muatan negatif


dari

SDS

sehingga

molekul

protein

akan

terseparasi

semata-mata

berdasarkan berat molekulnya saja bukan berdasarkan besar dan jenis


muatannya karena semua molekul protein sekarang bermuatan negatif.
Disosiasi ini terjadi dengan bantuan pemanasan dan penambahan disulfide
reducing agent seperti -merkaptoetanol atau 1,4-dithiothretol (Fatchiyah,
2012).
5. Apakah fungsi pemanasan sampel protein ?
Fungsi pemanasan sampel protein adalah untuk mempercepat proses
denaturasi protein pada sampel atau bertujuan untuk mengoptimalkan
pendenaturasian protein pada sampel (Anam,2009).
6. Mengapa pH sangat berpengaruh pada metode elektroforesis protein ?
pH sangat berpengaruh pada metode elektroforesis protein karena pH
mempengaruhi titik isoelektrik pada protein sehingga mempengaruhi tingkat
dan arah pergerakan protein. apabila pH larutan berada di atas pI akan
mempengaruhi waktu perpindahan protein dan pH larutan berada di atas pI
protein akan bermuatan negatif. Sementara itu, apabila pH larutan berada di
bawah pI maka protein akan bermuatan positif (Anam,2009).
7. Reagen apa yang berfungsi untuk mempolimerisasi gel ?
Untuk polimerisasi gel, digunakan beberapa reagen yang fungsinya
saling berhubungan satu sama lain yaitu akrilamida, APS, dan TEMED.
Akrilamid dapat membentuk rantai polimer panjang yang dikenal sebagai
poliakrilamida, yang juga karsinogenik. Polimer ini dipakai dalam pengental
karena ia akan membentuk gel bila tercampur air. Dalam laboratorium
biokimia poliakrilamida dipakai sebagai fase diam dalam elektroforesis gel
(PAGE atau SDS-PAGE) (Fatchiyah, 2012). Elektroforesis untuk makromolekul
memerlukan matriks penyangga untuk mencegah terjadinya difusi karena
timbulnya panas dari arus listrik yang digunakan. Gel poliakrilamid dan

agarosa merupakan matriks penyangga yang banyak dipakai untuk separasi


protein dan asam nukleat. Akrilamid ini dikatalisator oleh TEMED sehingga
dapat digunakan dalam pemisahan protein. Sedangkan peran APS adalah
sebagai inisiator yang mengaktifkan akrelamid supaya bereaksi dengan
akrelamid lainnya
8. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pergerakan protein dalam gel
elektroforesis ?
Faktor faktor yang mempengaruhi pergereakan protein dalam gel

elektroforesis adalah:
Suhu : memepengaruhi denaturasi protein , dimana protein dengan

struktur primer akan lebih cepat pergerakannya


Ukuran dan berat molekul: semakin besar ukuran molekul semakin
lambat pergerakan molekul. Dibandingkan dengan ukuran molekul yang
lebih kecil. Bentuk molekul tersier atau sekunder akan lebih lambat

daripasa bentuk primer.


pH : mempengaruhi titik isoelektrik protein sehingga mempengaruhi

tingkat dan arah pergerakan protein.


Voltase: semakin tinggi voltase maka semakin cepat pergerakan protein,
dan sebaliknya, semakin rendah voltasenya maka pergerakan protein

semakin lambat.
Konsentrasi
enzim:

bertambahnya kecepatan reaksi pada konsentrasi substrat tertentu.


Konsentrasi substrat : umumnya konsentrasi substrat akan menaikkan

konsentrasi

enzim

bertambah

dengan

kecepatan reaksi, akan tetapi pada batas tertentu tidak mengalami

peningkatan reaksi meskipun konsentrasi substrat diperbesar.


Inhibitor : adanya zat inhibitor ini akan menghalangi sisi aktif enzim
untuk bergabung dengan substrat enzim, sehingga reaksi terganggu
(Anam,2009).

4. Hasil dan Pembahasan

Pembuatan Gel

Dalam

praktikum

kali

ini

Hal

yang

pertama

dilakukan

adalah

pembuatan gel. Pada pembuatan gel ini dilakukan 2kali, yaitu pembuatan gel
Separating (gel yang berada dibawah) dan gel Stacking (gel yang berada
diatas). Pada pembuatan gel separating , pertama-tama yang dilakukan
adalah menyiapkan alat dan bahan dahulu setelah itu dilakukan persiapan
bahan APS dengan pertama-tama menimbang ammonium perisulfat yang
diletakkan

dalam

alumunium

foil

(APS

10%)

sebanyak

0.1

gram

menggunakan timbangan analitik, sebelum digunakan timbangan dikalibrasi


terlebih dahulu agar didapatkan hasil yang sesuai. Setelah ditimbang, APS
dimasukan kedalam mikrotube kemudian ditambahkan akuades sebanyak
1mL dengan menggunakan pipet ukur dan bulb. Setelah itu digojok hingga
APS tercampur jadi satu dengan akuades, tujuan digojok agar homogen.
Setelah menyiapkan APS kemudian ambil 1700l larutan APS yang ada di
dalam mikrotube kedalam gelas beaker yang berukuran 100mL, lalu ambil
akrilamid

sebanyak

2000l

dimasukkan

kedalam

gelas

beaker

yang

berukuran 100mL, lalu ditambahkan 1300l LGB dengan menggunakan


mikropipet (untuk mengambil bahan cair atau larutan secara tepat dan pas
ukuran mL yang dibutuhkan). Setelah itu dikocok dengan memutar-mutarkan
beaker

glass,

tujuannya

adalah

agar

larutan

homogen.

Setelah

itu

ditambahkan dengan APS 10% sebanyak 400l dan ditambahkan TEMED


sebayak 350l secara bersamaan dengan menggunakan mikropipet kedalam
gelas beaker ukuran 100 ml. Penambahan APS 10% dan TEMED ke dalam
gelas beaker ini dilakukan secara bersama-sama, karena apabila dilakukan
satu persatu / tidak dilakukan secara bersamaan maka akan terbentuk gel
lebih cepat atau terlebih dahulu. Setelah ditambahkan APS 10% dan TEMED
gelas beaker dikocok selama 20 detik agar larutan homogen, dan gel
separating pun sudah jadi dan siap untuk dimasukkan kedalam laca loading.
Untuk memasukkan gel separating dalam kaca loading dilakukan dengan
mengambil secara cepat larutan gel separating menggunakan mikropipet
kemudian

dimasukkan

kedalam

kaca

loading

yang

telah

disiapkan,

memasukkannya dilakukan dari bagian ujung kaca loading dan dibiarkan


selama 15 menit dalam suhu ruang agar gel terpolimerisasi. setelah itu gel
separating diberi akuades diatas permukaan yang bertujuan untuk meratakan
gel separating. Setelah itu akudes dihilangkan dengan menyerapnya dengan

tissue. . Fungsi dari bahan-bahan yang digunakan antara lain Amonium


Perisulfat (APS) sebagai inisiator yang mengaktifkan akrilamid agar bereaksi
dengan muatan akrilamid lainnya sehingga membentuk rantai polimer yang
panjang. TEMED, berfungsi sebagai katalisator reaksi polimerisasi akrilamid
menjadi gel poliakrilamid sehingga dapat digunakan dalam pemisahan
protein. Akrilamid, berfungsi sebagai mencegah terjadinya difusi karena
timbulnya panas dari arus listrik yang digunakan. LGB dan UGB berfungsi
sebagai memberikan muatan negatif pada protein karena mengandung SDS.
Yang selanjutnya adalah membuat stacking gel prosedurnya sama dengan
pembuatan separating gel, hanya beda pada separating gel menggunakan
LGB tapi dalam stacking gel menggunakan UGB sebanyak 625 l.
Hasil dari pembuatan gel separating ini adalah setelah mengalami
proses pencampuran seperti tahapan diatas menjadi larutan kental hampir
membentuk gel, dengan memasukkan larutan kental tersebut kedalam kaca
loading dan didiamkan selama 15 menit akhirnya terbentuk gel berwarna
putih bening yang padat dalam kaca loading. Akan tetapi pada percobaan
kami, pembuatan gel separating ini dilakukan pengulangan karena pada
pembuatan gel yang pertama terjadi kesalahan kurang rapatnya kaca loading
sehingga menyebabkan kebocoran yang mengharuskan untuk mengulang
untuk kedua kalinya.
Literatur:
Menurut literatur wujud dari separating gel juga padat setelah dimasukkan
dalam kaca Larutan gel yang telah dibuat dimasukkan dalam plate untuk
mencetak gel, lalu pemberian aquades diatas separating gel yang setengah
padat bertujuan untuk membuat permukaan separating gel datar. Setelah
padat aquades diserap agar dapat dilakukan proses selanjutnya yaitu
penambahan stacking gel diatas separating gel Separating gel ini berfungsi
untuk memisahkan atau menseparasi protein berdasarkan berat molekulnya,
bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu akrilamid 30% sebagai bahan
untuk

membentuk

pori-pori

dalam

gel

berdasarkan ukurannya (Sudarmanto,2008).

agar

protein

dapat

terpisah

(Pembentukan Gel Poliakrilamid melalui Inisiasi TEMED dan Ammonium


Persulfat)

(Skema Mekanisme Separasi Protein Berdasarkan Berat Molekul dengan SDS


PAGE)
(Fatchiyah, 2012).

Persiapan Sampel
Setelah mempersiapkan separating dan stacking gel, dilanjutkan
dengan pembuatan sampel. Langkah pembuatan sampel ini diawali
dengan mempersiapkan pepsin yang telah terbungkus oleh aluminium
foil

dengan

konsentasi

(0,005;0.0075;0.01;0.0125;0.015),

larutan

yang
buffer,

berbeda-beda
mikropipet,

dan

mikrotube. Pepsin yang terbungkus oleh aluminium foil dibuka, lalu

ambil larutan buffer sebanyak 500 l menggunakan mikropipet. Lalu


alirkan larutan buffer pada masing-masing pepsin dengan konsentrasi
yang berbeda-beda menuju mikrotube. Pembilasan langsung dengan
sampel buffer pada aliminium foil bertujuan untuk mencegah adanya
kehilangan berat sampel meskipun hanya sedikit karena dapat
mempengaruhi hasil. Sedangkan penambahan sampel buffer itu sendiri
bertujuan untuk mereduksi protein dalam sampel pepsin. Masingmasing mikrotube yang telah berisi sampel dengan sampel buffer
ditempatkan pada gabus agar mikrotube dapat mengambang ketika
ditempatkan dalam permukaan air. Setelah mikrotube terpasang
dengan baik dalam gabus, dimasukkan kedalam air dan dipanaskan
diatas kompor listrik dengan suhu 90 C selama 5 menit. Pemanasan
sampel ini bertujuan untuk denaturasi protein yang memilki struktur
sekunder atau tersier menjadi struktur primer agar lebih mudah unuk
dianalisis dengan metode SDS-PAGE ini. Setelah pemanasan selesai
dikakukan, dilakukan pendinginan pada sampel sebelum siap untuk
digunakan. Sampel yang telah siap untuk digunakan dimasukkan pada
sumuran yang ada pada gel. Analisis hasil Dari persiapan sampel yang
dilakukan didapatkan hasil sampel yang baik dan sesuai dengan yang
dinginkan

karena

telah

melakukan

preparasinya

sesuai

dengan

prosedur yang telah didapatkan. Sampel yang dibuatpun telah


memiliki konsentrasi yang sesuai dengan yang diinginkan.

Pewarnaan Protein
Setelah dilakukan pemisahan protein dengan elektroforesis, dilanjutkan
dengan pewrnaan gel. Pewarnaan gel ini bertujuan untuk membantu dalam
pengamatan band protein. Pertama-tama menyiapkan alat dan bahan
terlebih dahulu, kemudian dihentikan listrik pada elektroforesis, diambil kaca
loading dari tank, lalu gel diambil secara perlahan agar tidak sobek sehingga
hasil yang didapatkan nanti maksimal dan diletakkan kedalam sebuah
wadah. Setelah itu dituangkan larutan pewarna bromophenol blue hingga gel
terendam, larutan pewarna ini dibuat dengan mencampurkan 0.125 gram
croomasic brilliant blue, 22.7 ml methanol, 4.6 ml asam asetat glasial, dan
aquabides hingga volume total 50 ml. Setelah dituangkan larutan pewarna

diletakkan diatas shaker selama 15menit, dilakukan shaker pada gel ini
bertujuan agar warnanya meresap kedalam gel . Kemudian, larutan pewarna
dibuang hingga hanya tersisa gel dalam wadah. Selanjutnya, dimasukkan
larutan penghilang warna, yang berfungsi untuk menghilangkan warna dari
larutan pewarna Bromophenol Blue. Larutan penghilang warna dibentuk dari
metanol sebanyak 14 ml, asam asetat glasial 14 ml, dan ditambahkan
aquades hingga volume total 200 ml. Setelah dilakukan penambahan larutan
penghilang warna, wadah berisi gel diletakkan pada shaker kembali selama
10 menit yang bertujuan untuk memaksimalkan dalam penghilangan warna.
Selanjutnya, larutan penghilang warna dibuang dan gel dibilas menggunakan
aquades. Kemudian, larutan pembilas dituang pada gel dan diberi beberapa
potong kertas saring kecil untuk membantu mengikat sisa-sisa pewarnaan
dari Bromophenol Blue tadi kemudian didiamkan selama 10-15 menit.
Terakhir, larutan pembilas yang lama diganti dengan yang baru hingga
terlihat pita-pita protein pada gel,

gel pun jadi dan dapat diamati

hasilnya.Pada pewarnaan protein pada gel ini menggunakan larutan pewarna


bromophenol blue, serta melakukan pembilasan dengan larutan penghilang
warna dan larutan pembilas didapatkan warna dari sampel.
Dapat dilihat hasil yang didapatkan terbentuk 7 pita yang terbentuk
sebagai hasil separasi elektroforesis oleh matriks penyangga gel poliakrilamid
dibawah pengaruh tegangan listrik, dimana protein protein pemisah
berdasarkan berat molekulnya. Protein dengan berat molekul yang lebih kecil
akan bergerak lebih cepat dibandingkan protein dengan berat molekul yang
lebih besar
Literatur:
Dalam satu sampel protein bisa lebih dari satu bahkan puluhan band
dalam gel poliakrilamida. Dalam kondisi tidak diwarnai, protein tersebut tidak
terlihat karena memang protein dalam sampel tidak berwarna. Setelah
diwarna dengan staining solution yang mengandung Coomassie brilliant blue
R-250, protein yang tidak berwarna tersebut menjadi berwarna biru karena
mengikat

Coomassie

blue.

Dalam

kondisi

ini

kita

bisa

mengetahui

keberadaan dan mengukur mobilitas protein untuk kemudian ditentukan


berat molekulnya (Fatchiyah, 2012).

Data Hasil Praktikum (DHP)

Protein Marker

BM (Kda)

Panjang Pita

Log BM

Rf

225

1,5

2,352

0,288

150

2,1

2,176

0,403

100

2,7

0,461

75

2,9

1,875

0,557

50

3,2

1,698

0,615

35

3,4

1,544

0,653

25

1,397

0,769

Gambar Gel SDS PAGE

Perhitungan Data Hasil Praktikum (DHP)

Panjang Separating Gel = 5.2 cm

Rumus (RF) =

panjang pita terbentuk


panjang separating gel

Perhitungan RF

1. RF =

1.5
=0.288
5.2

2.

RF =

2.1
=0.403
5.2

RF =

2.7
=0.519
5.2

4. RF =

2.9
=0.557
5.2

5. RF =

3.2
=0.615
5.2

6. RF =

3.4
=0.653
5.2

7. RF =

4
=0.769
5.2

3.

Panjang pita sampel = 3.3 cm

RF =

3.3
=0.634
5.2

= -2.081 x + 2.976
= -2.081 (0.634) + 2.976
= 1.656

= log BM
= antilog 1.656
= 45.2 kDA

Kurva standar
Rf
0.288

Log BM
2.352

0.403

2.176

0.461

0.557

1.875

0.615

1.698

0.653

1.544

0.769

1.397

Kurva hubungan RF (sumbu x) dengan Log BM (sumbu y)


2.500
2.000

f(x) = - 2.08x + 2.98


R = 0.98
log bm

1.500

Linear (log bm)


Linear (log bm)

1.000
0.500
0.000
0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

Pembahasan
Dari data hasil praktikum, dapat dilihat bahwa ada 7 protein marker yang
digunakan. Protein marker digunakan sebagai standart untuk menentukan berat
molekul dari sampel. Pada protein marker 1 didapat berat molekulnya sebesar
225 kDA, pada protein marker ke 2 didapatkan berat molekulnya sebesar 150

kDA, lalu pada protein marker yang ke-3 dihasilkan berat molekul sebanyak 100
kDA pada protein marker yang ke-4 berat molekulnya sebesar 75 kDA,
sedangkan pada protein marker yang ke-5 didapat berat molekulnya sebesar 50
kDA, pada protein marker yang ke-6 berat molekulnya sebesar 35 kDA dan yang
terakhir pada protein marker yang ke-7 dihasilkan berat molekul sebesar 25 kDA.
Pergerakan dari protein di dalam gel mengikuti persamaan Rf = 1 / BM (berat
molekul) dimana Rf adalah mobility. Intrepetasi dari SDS-PAGE dapat dibaca
dengan membuat persamaan regresi linier dari pita marker sebagai standart
acuan setelah mendapatkan persamaan regresi linier dari marker. Kita dapat
menghitung berat molekul dari sampel dengan cara memasukkan pada
persamaan tersebut. Persamaan regresi linier dari marker : y = -2.081 x +

2.976. Y menunjukkan panjang jarak dari bagian atas gel sampai pita protein
yang akan diukur. Sedangkan x menunjukkan Rf. Dengan panjang pita sampel
3,3 cm maka dapat kita hitung Rfnya dengan cara :

Dan didapatkan hasil Rfnya sebesar 0,634. Lalu nilai Rf yang didapat ini
dimasukkan ke persamaan y = -2.081 x + 2.976 sehingga diperoleh nilainya
sebesar 1.656. Karena y = log BM, maka untuk mencari berat molekulnya kita
harus menganti log y dan didapatkan antilog y sebesar 45.2 kDA. Lalu dari
kurva hubungan antara berat molekul dan nilai rf dapat kita simpulkan bahwa
semakin besar nilai rfnya maka akan semakin kecil log berat molekulnya.
Literatur:
Pada saat elektroforesis berlangsung, protein akan bergerak dari elektroda
negatif

menuju

poliakrilamid

elektroda

tergantung

positif
pada

sampai

berat

pada

jarak

molekulnya.

tertentu

Semakin

pada

rendah

gel

berat

molekulnya maka semakin jauh pula protein bergerak dengan kata lain
mobilitisnya tinggi. Sebaliknya, protein dengan berat molekul lebih besar akan
bergerak pada jarak yang lebih pendek dengan kata lain mobilitisnya rendah.
Berbagai jenis protein pada suatu sampel akan terseparasi (terpisah-pisah) pada
gel poliakrilamida tergantung pada mobilitasnya. Protein dengan mobilitas tinggi
akan berhenti bergerak pada bagian yang lebih bawah gel, sedangkan protein
dengan mobilitas rendah cenderung berhenti bergerak pada bagian atas gel.

Dengan demikian, pada jalur pergerakan protein akan didapatkan jajaran protein
(disebut sebagai band atau pita protein) yang sudah terseparasi berdasarkan
berat molekulnya (Fatchiyah, 2012).

(Estimasi Berat Molekul menggunakan SDS-PAGE)

(Fatchiyah, 2012).

Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah didapatkan 7 pita yang terbentuk.
Panjang pita masing- masing yang diukur dengan menggunakan penggaris yaitu

1,5 cm, 2,1 cm, 2,7 cm, 2,9 cm, 3,2 cm, 3,4 cm, dan 4 cm. Tiap pita terbentuk
karena adanya perbedaan berat molekul sehingga protein berhenti di posisi
masing- masing sesuai berat molekulnya dan apabila kita lihat grafik yang
terbentuk dapat kita simpulkan bahwa semakin besar nilai rfnya maka akan
semakin kecil log berat molekulnya.
Prinsip elektroforesis SDS-Page adalah memisahkan protein berdasarkan
berat molekul dengan menggunakan matrik penyangga akrilamid, protein
terseparasi

dalam

medan

listrik

dan

melanjutkan

dengan

pewarnaan,

penghilangan warna, dan pembilasan gel. Pembacaan berat molekul dilakukan


dengan melihat pita yang terbentuk oleh marker.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan protein dalam gel elektroforesis


yaitu Ukuran dan bentuk molekul, Konsetrasi gel, pH, voltase, Suhu.

Daftar Pustaka Tambahan

Fatchiyah. 2012. Analisis Biologi Molekuler. Laboratorium Biomol: Malang

Ripani, M. 2010. Diagnostik Molekuler. Teknologi Laboratorium Kesehatan (TLK) di


Fakultas
Farmasi Universitas Hasanuddin: Makassar
Sudarmanto, Arie. 2008. Protein. www.ariebs.staff.ugm.ac.id. Diakses tanggal 25
Mei 2014
pukul 7.08
Penilaian
Komponen
Pre-test
Aktivitas
Hasil
dan
Pembahasan

B. Diagram Alir Elektroforesis


1. Pembuatan separating gel 12%
Aquadest 1700
L

Nilai

30%
akrilamid
2000 L

LGB 1300L

Dimasukkan ke beaker glass dan diaduk


APS 10% 35
L
TEMED 3,5 L

Diaduk hingga tercampur merata

dituang pada cetakan gel dengan mikropipet hingga tinggi tertentu (beri sisa
tempat untuk stacking gel)

dibiarkan hingga 15-30 menit pada suhu ruang

dituang aquades dengan mikropipet pada permukaan gel

aquadest dibuang dengan menyerapkan tissue

Hasil

2. Persiapan sampel
Sampel 0,1 %

dilarutkan dalam sampel buffer

dipanaskan suhu 900 C selama 5 menit

Hasil
3.

Pembuatan stacking gel 3%


Aquadest 1475
L

30%
UGB 625L
akrilamid 400
L
Dimasukkan ke beaker glass dan diaduk
APS 10% 20
L
TEMED 2 L
aduk hingga tercampur merata

dituang diatas gel pemisah

sisipkan gigi sisir pada stacking gel dalam perlahan jangan sampai terbentuk
gelembung

biarkan hingga 15-30 menit pada suhu ruang

ambil sisir secara perlahan dari gel

pindahkan gel secara perlahan dalam tank elektroforesis

masukkan buffer tank ke dalam tank elektroforesis

Hasil

4. Pemisahan protein dengan elektroforesis

10 L sampel

dimasukkan dalam sumuran

pasang elektroda sesuai dengan warnanya

gel dijalankan pada tegangan 200 v selama 45 menit atau hingga sampel mencapai
bagian dasar

Hasil

5. Pewarnaan gel
Hentikan listrik

pindahkan gel dari tank

pindahkan glass plate dari gel kedua sisi

tuangkan larutan pewarna pada gel dalam wadah

tutup dengan plastik dan letakkan diatas shaker selama 15-30 menit

pindahkan larutan pewarna dari sel

bilas gel dengan aquadest

tuangkan larutan pembilas

biarkan selama 10-15 menit diatas shaker

ganti larutan pembilas dengan yang baru hingga terlihat pada gel adalah pita
protein

Hasil