Anda di halaman 1dari 11

ASPEK MEDIKOLEGAL PADA TRAUMA AIRBAG

PENDAHULUAN

Teknologi airbag pertama kali diajukan oleh Jordanoff awal tahun 1952, sementara Clark
dkk melakukan percobaan airbag dengan manusia pada awal tahun 1960. Perdebatan
mengenai perlu tidaknya dibuat aturan mengenai perlu atau tidaknya pemakaian airbag
menjadi perdebatan yang paling panjang selama sejarah dibandingkan waktu yang
diperlukan untuk merumuskan aturan mengenai alat-alat perlindungan kendaraan
bermotor lainnya seperti sabuk pengaman. Tetapi perdebatan itu bukan mengenai
masalah kerugian dan keuntungan pemakaian airbag atau teknologinya itu sendiri
melainkan mengenai faktor sosioekonominya. 1
Airbag sudah ada sejak lebih dari 40 tahun yang lalu dan selalu diliputi oleh
kontroversi. Tidak seperti alat perlindungan lainnya, airbag yang dapat mengembang
meningkatkan jumlah energi yang dikeluarkan selama benturan sehingga meningkatkan
frekuensi dan keparahan trauma yang didapat ketika benturan. Airbag yang terletak di
bagian depan pengendara telah diberlakukan pada semua kendaraan di Amerika Serikat
sejak tahun 1991, termasuk mobil, truk dan van. Faktanya, pada tahun 1999 hampir
semua kendaraan di Amerika Serikat dilengkapi dengan airbag baik pada kursi
pengendara maupun pada kursi penumpang sesuai dengan National Highway Traffic
Safety Administration, Mei 1998, bahkan diperkirakan pada 15 tahun ke depan, rasionya
akan menjadi 100%.2
Dari penelitian didapatkan penurunan tingkat kematian dengan penggunaan alat
perlindungan di mobil seperti airbag dan sabuk pengaman. Penggunaan airbag
menurunkan angka kesakitan sebesar 25% sementara menggunakan sabuk pengaman
menurunkan angka kesakitan sebesar 30%. Kombinasi penggunaan keduanya dapat
menurunkan resiko kesakitan sebesar 80%. Tetapi sejak airbag diperkenalkan banyak
dilaporkan trauma yang fatal maupun yang tidak fatal yang disebabkan oleh
pengembangan kantong airbag termasuk trauma pada mata, wajah, extrimitas atas, dan
toracoabdominal. Tetapi yang paling menonjol adalah tingginya angka kematian terkait
airbag pada anak-anak. 3

1
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Airbag
Airbag berfungsi sebagai pelindung dalam berkendara dan dikombinasikan dengan sabuk
pengaman. Airbag terdiri dari satu atau lebih sensor yang dapat mendeteksi perubahan
kecepatan secara longitudinal selama benturan, unit elektronik yang memonitor sistem,
sebuah inflator dan kantong udara, tetapi disainnya tergantung pada model dan tahun
pembuatan kendaraan tersebut. 4
Prinsip airbag itu sendiri adalah sebagai ruangan antara pengendara dengan
interior di dalam mobil yang berupa kantong udara bertekanan rendah yang fungsinya
sebagai bantalan untuk meredam energi yang dilepaskan sewaktu terjadi benturan dan
menyebarkan energi tersebut area tubuh secara maksimal.4
Teorinya ketika tubuh yang bergerak membentur benda yang diam, energi yang
dihasilkan akan memberikan kerusakan terhadap jaringan tubuh yang terkena benturan
tersebut, sementara jika tubuh terhalangi oleh sesuatu yang tidak padat atau bagian tubuh
yang terkena benturan tersebut bersifat elastis maka waktu benturan menjadi lebih
panjang dan dampak benturan menjadi berkurang.1

Gambar 1. Mekanisme Kerja


Airbag

2
Ketika sensor pada mobil mendeteksi bahwa akan terjadi benturan, sensor
tersebut akan mengirimkan gelombang listrik langsung melalui kabel. Kabel akan
memanas dan perubahan pada inflator akan menyebabkan reaksi kimia yang akan
memproduksi gas kemudian dengan cepat mengembangkan kantung airbag dalam waktu
kurang dari 1/20 detik. 4
Mekanisme pengembangan airbag adalah dengan oksidasi pyroteknik sodium
azide oleh beberapa agen oksidasi menghasilkan gas nitrogen yang akan mengembangkan
airbag. Hasil dari reaksi ini adalah aerosol sodium metalik yang bereaksi dengan uap air
dan karbon dioksida dan akan menghasilkan sodium hidroksida, dan akan berubah
dengan cepat menjadi sodium karbonat. Reaksi ini akan mengembangkan airbag pada
kecepatan 50-138 mph dan menghasilkan gelombang kejut (shock wave) pada 200
km/jam dimana dimana kekuatan benturan tersebut akan memberikan dampak kerusakan
pada tubuh manusia.5

2.2 Trauma Airbag


Sejak tahun 1970 peneliti dari Harvard School of Public Centre di Boston, Amerika
Serikat telah mengevaluasi kerja airbag. Evaluasi tersebut fokus pada efek airbag dalam
mencegah kematian. Perkiraan awal penurunan tingkat kematian dengan menggunakan
airbag yang dikombinasikan dengan sabuk pengaman dari penilaian para ahli dan
percobaan-percobaan adalah sebesar 18-55%. Data yang lebih baru lagi menyebutkan
bahwa dengan penelitian pada data kecelakaan-kecelakaan fatal di dunia terdapat
penurunan tingkat kematian sebesar 19% pada pemakai sabuk pengaman serta terjadi
penurunan tingkat kecelakaan berat dan sedang yang menyebabkan trauma pada kepala,
muka dan tubuh bagian atas pada korban trauma frontal. Sebaliknya ada beberapa
penelitian yang menyatakan airbag sebagai penyebab trauma. Sudah ada 57 pengendara
mobil yang meninggal didapatkan dari National Highway Traffic Safety Assosiation,
National Center for Statistics ang Analysis (NCSA) online, serta banyak luka-luka dengan
derajat keparahan yang berbeda, meliputi abrasi kornea, ruptur aorta, kontusio paru,
trauma tumpul abdomen, dan patah tulang terbuka di daerah lengan. 2
Trauma karena airbag dihubungkan dengan faktor disain seperti berapa jumlah
energi yang dilepaskan saat mengembangkan kantung udaranya, kecepatan pengempisan

3
kantong udara, volume, bentuk dan teknik melipat kantong udara. Dari hasil penelitian
juga didapatkan bahwa perempuan lebih sering mengalami trauma karena airbag
dibandingkan dengan laki-laki. Sebagai tambahan, trauma airbag parah lebih sering
didapatkan pada benturan kecepatan rendah dibandingkan dengan benturan kecepatan
tinggi. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pengembangan balon airbag diperlukan
pada sebagian benturan. Airbag didisain untuk mengembang pada benturan sebesar12-26
km/jam bervariasi menurut bentuk dan model airbagnya atau setara dengan menabrak
tembok bata dengan kecepatan 10-15 mph. Level pengembangan airbag yang rendah
berimplikasi pada semakin tingginya insiden trauma yang disebabkan oleh airbag. 2
Trauma karena airbag terjadi karena setelah kantong airbag mengembang dalam
waktu 0,3 detik kantong itu didisain untuk segera mengempis kembali sehingga pada
penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman tetap akan terjadi benturan ke arah
interior mobil. Selain juga trauma yang disebabkan karena benturan langsung tubuh
dengan kantong yang mengembang yang biasanya mengenai wajah atau leher karena
aibag didisain untuk ukuran tubuh diatas persentil 95 pada wanita dan dibawah persentil
95 pada laki-laki. Sehingga anak-anak dan orang dewasa yang bebadan kecil dapat
terhantam dibagian wajah oleh kantong airbag yang sebenarnya didesain untuk
menghantam dada orang dewasa. Selain itu pada anak-anak biasanya mereka duduk
dengan posisi kursi dimajukan mendekati dashboard sehingga apabila kantong airbag
mengembang maka akan memenuhi ruang yang lebih sedikit dibandingkan seharusnya
sehingga tekanan dalam balon lebih tinggi dan lebih mudah menyebabkan trauma yang
parah. Oleh sebab itulah penemuan kematian pertama yang berhubungan dengan trauma
karena airbag adalah pada anak kecil yaitu pada tahun 1993 di Amerika Serikat. 6,7,8
Diperkirakan airbag pada sisi penumpang lebih banyak membuat anak kecil
meninggal dibandingkan dengan menyelamatkannya. Diperkirakan terjadi 128 kematian
pada anak kecil setiap tahunnya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Commitee on
Commerce, science, and Transportation, United State Senate pada tahun 1997 berkaitan
dengan dikeluarkannya aturan yang mewajibkan setiap kendaraan memasang airbag.
Pada bayi, trauma yang paling sering terjadi adalah trauma pada kepala yang meliputi
fraktur tengkorak maupun kontusio atau pendarahan otak. Sementara pada anak-anak,

4
bukan hanya trauma pada kepala yang menonjol, melainkan trauma pada tulang belakang
servikal dan trauma pada craniofasial.7,8
Ada berbagai jenis trauma yang disebabkan oleh airbag yang pernah dilaporkan,
maoritas bersifat trauma minor berupa eritema, abrasi, dan kontusio pada wajah, leher
anterior, dan dada depan. Trauma lain yang lebih serius berupa kerusakan pada mata,
tulang belakang leher, saraf fasial, sendi temporomandibular, tulang tengkorak wajah,
dan saluran pernafasan bagian atas.6,9

2.3 Aspek Medikolegal Trauma Airbag


Dalam melakukan pemeriksaan terhadap orang yang menderita luka akibat kekerasan
dimana dalam hal ini adalah trauma karena airbag adalah kekerasan tumpul, pada
hakikatnya, dokter diwajibkan dapat memberikan kejelasan mengenai jenis luka apa yang
terjadi, jenis kekerasan apa yang terjadi dan bagaimana klasifikasi luka tersebut.
Pengertian kualifikasi luka-luka ini semata-mata merupakan pengertian ilmu kedokteran
forensik yang baru bisa dipahami setelah mempelajari pasal-pasal dalam Kitab Undang-
undang Hukum Pidana. Menurut ilmu kedokteran forensik, luka-luka dapat dibagi
menjadi tiga yaitu luka derajat pertama jika luka tidak berakibat penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian, luka derajat kedua jika luka
berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian
namun hanya sementara waktu saja dan derajat ketiga jika luka tersebut termasuk dalam
pengertian luka berat seperti pada pasal 90 KUHP yaitu jatuh sakit atau mendapat luka
yang memberi harapan akan bahaya sembuh sama sekali, atau yang menimbulkan bahaya
maut, tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan
pencaharian, kehilangan salah satu panca indra, mendapat cacat berat (verminking),
menderita sakit lumpuh, terganggunya daya pikir selama empat minggu atau lebih dan
gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. 10
Pasal-pasal mengenai penganiyaan tidak bisa dimasukkan disini karena istilah
penganiyaan merupakan istilah hukum dimana berarti dengan sengaja melukai atau
menimbulkan perasaan nyeri pada seseorang. Tetapi pada trauma karena airbag tidak ada
aspek dengan sengaja melukai atau menyakiti karena pada prinsipnya airbag memang

5
diciptakan untuk melindungi pengendara kendaraan bermotor dari luka-luka yang
mungkin terjadi yang disebabkan oleh benturan pengendara dengan interior dalam mobil.
Tetapi ada pasal-pasal yang berkaitan dengan klasifikasi luka pada trauma airbag
yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengemudi lain selain
korban dikaitkan dengan faktor kealpaan penabrak yaitu KUHP Bab XXI Menyebabkan
mati atau luka-luka karena kealpaan.
Pasal 359
”Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam
dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan palinng lama satu
tahun.”
Pasal 360
(1) Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain
mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun
atau pidana kurungan paling lama satu tahun
(2) Barangsiapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain luka-
luka sedemikian rupa sehingga timbul penyakit atau halangan menjalankan
pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu tertentu, diancam dengan pidana
penjara paling lama sembilan bulan atau pidana kurungan paling lama enam bulan
atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 361
”Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam menjalankan suatu
dicabut haknya untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan kejahatan dan hakim
dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan.”
Pemerintah Amerika Serikat memiliki aturan yang berkaitan dengan penggunaan
airbag yang isinya antara lain mewajibkan penggunaan airbag pada mobil dan truk yang
dimulai pada tanggal 1 September 2002. Dimana airbag ini harus memenuhi persyaratan-
persyaratan tertentu dalam hal ukuran dan disain tertentu. Peraturan ini tercantum dalam
NHTSA Reauthorization Act tahun 1998. 11

6
Tabel 1. Ketentuan Airbag Menurut NHTSA Reauthorization Act tahun 1998

Sementara di Indonesia belum ada aturan yang mewajibkan penggunaan airbag


pada setiap kendaraan roda empat, tetapi aturan mengenai alat-alat keselamatan lain
seperti sabuk pengaman dan helm sudah tercantum dalam Undang-Undang yaitu Undang-
Undang Republik Indonesia no 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan pasal
23 ayat 1 huruf e, Undang-Undang Republik Indonesia no 14 tahun 1992 tentang Lalu
Lintas Angkutan Jalan pasal 23 ayat 2, Undang-Undang Republik Indonesia no 14 tahun
1992 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan pasal 61 ayat 2, dan Undang-Undang Republik
Indonesia no 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan pasal 61 ayat 3.
Analisis forensik terhadap trauma berhubungan dengan deskripsi luka dan
menghubungkan luka tersebut dengan kemungkinan penyebabnya. Ahli forensik
dipanggil karena temuan ilmiah terhadap luka tersebut akan dihubungkan dengan proses
hukum (aspek legal). Lebih jauh lagi ternyata temuan ahli-ahli forensik terhadap luka
dapat menjadi dasar penelitian mengenai penyebab, terapi dan pencegahan kecelakaan. 1
Trauma adalah segala sesuatu yang menyebabkan kesakitan dengan atau tanpa
kerusakan fisik. Ketika ada kerusakan fisik berarti ada luka baik itu luka lecet, luka
memar maupun luka terbuka. Dampak trauma tergantung dari aselerasi dan deselerasi
penyebabnya serta dari durasi kontak. Trauma karena airbag dapat digolongkan menjadi
trauma karena kekerasan tumpul.10
Menganalisa korban trauma karena airbag sama seperti menganalisa trauma
karena kecelakaan lalu lintas lainnya, ada empat fase untuk menganalisa traumanya yaitu
analisis tempat kejadian perkara, riwayat kejadian, pemeriksaan luar dan dalam dan

7
toksikologi. Kemudian penemuan dari keempat fase-fase diatas disatukan dan dicapai
suatu kesimpulan mengenai penyebab dan cara kematiannya. 1
Idealnya tempat kejadian perkara juga harus diobservasi mengenai kendaraannya,
lokasi benturan dan posisi korban ketika ditemukan. Tetapi hal ini jarang dilakukan di
Indonesia karena hal ini merupakan kewenangan penyidik. Selain itu harus dicari apakah
korban memiliki riwayat menderita problem medis tertentu seperti sakit jantung, kejang,
gangguan pembekuan darah atau diabetes, apakah korban sedang dalam pengaruh obat
atau apakah ada bukti bahwa korban dalam kondisi depresi. Tetapi hal ini juga jarang
dilakukan di Indonesia. 1
Yang menjadi kewenangan dokter adalah melakukan pemeriksaan luar dan
pemeriksaan dalam. Dari pemeriksaan-pemeriksaan tersebut harus dapat mengungkapkan
penyebab luka, arah kekerasan, cara terjadinya luka dan hubungan antara luka-luka
dengan sebab kematian. 1
Ketika airbag mengempis biasanya ditemukan residu kapur karena pembuat
kantung airbag menggunakan kapur sebagai pelicin sehingga kantong dapat mengembang
dan mengempis dengan cepat. Fakta ini dapat membantu saat dilakukan pemeriksaan luar
pada korban. 4
Keika dilakukan pemeriksaan dalam, banyak hal yang bisa menjadi sebab
kematian pada korban dengan trauma airbag. Menurut hasil penelitian, trauma yang
paling sering adalah trauma dada sehingga biasanya ditemukan perforasi jantung dengan
tamponade perikardial, fraktur iga multipel dengan flail chest, laserasi pada arteri
brankiocephalika, laserasi pada vena kava inferior dan kontusio jantung. Hal ini
disebabkan karena pada pengembangan airbag, kekuatan yang terfoks pada sternum
adalah sebesar 20 kN yaitu sekitar enam kali lebih besar dari toleransi yang bisa ditahan
manusia. 9
Ketika terjadi pengembungan kantong airbag, tidak tertutup kemungkinan terjadi
kebocoran atau bahkan pecahnya kantong airbag. Hal tersebut dapat menyebabkan
barotrauma karena masuknya udara dalam jumlah yang banyak ke dalam saluran nafas
korban. Gambaran yang bisa ditemukan adalah pneumothorak sehingga pada
pemeriksaan dalam prosedur pemeriksaan pneuthorak tidak bisa dilupakan. Kematian

8
juga bisa terjadi pada korban dengan status asmatikus karena kandungan gas dan aerosol
yang terdapat didalam airbag berbahaya pada korban dengan asma.5

KESIMPULAN

Dengan diberlakukannya aturan yang berkaitan dengan penggunaan airbag di Amerika


Serikat yang isinya antara lain mewajibkan penggunaan airbag pada mobil dan truk yang
dimulai pada tanggal 1 September 2002, trauma yang dikaitkan dengan airbag semakin
meningkat. Terkait dengan banyaknya kontroversi mengenai keuntungan dan kerugian
airbag, perlu diingat bahwa dari hasil penelitian, airbag masih tetap efektif sebagai alat
perlindungan terhadap trauma akibat benturan tubuh dengan bagian interior mobil. Tetapi
mungkin dapat lebih diperhatikan dalam menyusun kriteria standar airbag yang diterima
secara internasional terutama berkaitan dengan penggunaannya pada anak dibawah umur
dan orang dewasa yang memiliki bentuk badan dibawah atau diatas rata-rata.
Hantaman airbag dimaksudkan untuk mengenai bagian dada pada orang dewasa
berukuran rata-rata, tetapi efeknya adalah pada orang yang lebih pendek, hantaman akan
mengenai daerah wajah. Pada sisi penumpang, airbagnya berukuran lebih besar sehingga
dampaknya sangat berbahaya pada orang-oran yang memiliki tinggi kurang dari 5’4”,
anak-anak dan orang-orang yang memiliki penyakit medis seperti osteoporosis, sakit
jantung dan kondisi medis lainnya.
Pada visum et repertum korban dengan luka yang disebabkan oleh airbag yang
dibuat oleh dokter, hanya akan mencantumkan derajat luka bila ada luka dengan obyektif
serta jenis kekerasan yang menimbulkannya, tetapi tidak dapat mencantumkan dengan
pasti bahwa airbaglah penyebab dari luka tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Nahum. Alan M, Melvin. John, The Biomechanic of Trauma, Appleton Century


Crofts, Norwalk Connecticut.1985.
2. Maria Segui-Gomez. Driver Air Bag Effectiveness by Severity of the Crash, dalam:
AmJ Public Health. 2000;90:1575–1581

9
3. Cameron S. Crandall, Lenora M. Olson, and David P. Sklar. Mortality Reduction with
Air Bag and Seat Belt Use in Head-on PassengerCar Collisions, dalam: American
Journal of Epidemiology Vol. 153, No. 3, 2001, h: 219-223
4. Anonim. Air Bag Injury. Terdapat: http://www.airbaginjury.com/howtheywork.htm.
Diunduh: 17 Januari 2008
5. Kenneth Morgenstern, Raymond Talucci, Marla S. Kaufman and Louis E. Samuels.
Bilateral Pneumothorax Following Air Bag Deployment, Dalam: American College
of Chest Physicians, Chest 1998; h:624-625, 2007
6. Anonim. Airbag Danger - More information on the danger of air bag. Terdapat:
http://www.airbagonoff.com/airbag_danger__more_information.htm Diunduh : 17
Januari 2008
7. Kelley W. Marshall, Bernadette L. Koch, and John C. Egelhoff. Air Bag–Related
Deaths and Serious Injuries in Children: Injury Patterns and Imaging Findings,
Dalam: AJNR Am J Neuroradiol 19, h:1599–1607, October 1998
8. David B. Hackney. The Danger of Air Bags for Children in the Front Seat, dalam:
University of Pennsylvania Medical CenterPhiladelphia,h:1591,1996
9. Smock William. Protecting yourself from Air Bag Injuries. Terdapat:
http://www.airbagonoff.com/dr_smock's_research.htm. Diunduh: 17 Januari 2008
10. Idries, Abdul Mun’im, Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik edisi pertama, Binarupa
Aksara, 1997
11. National Highway Traffic Safety Administration.. Federal Motor Vehicle Safety
Standards.Terdapat:Http://www.airbagonoff.com/Advanced%20Airbags
%20Rule.htdDiunduh: 17 Januari 2008
12. Payman Simoni, MD; Robert Ostendorf; Artemus J. Cox III. Effect of Air Bags and
Restraining Devices on the Pattern of Facial Fractures in Motor Vehicle Crashes,
dalam: Arch Facial Plast Surg. 2003;5:113-115
13. Stefan M. Duma, PhD; M. Virginia Jernigan, BS; Joel D. Stitzel, MS; Ian P. Herring,
DVM; John S. Crowley, MD; Fred T. Brozoski, MS; Cameron R. Bass. The Effect of
Frontal Air Bagson Eye Injury Patterns in Automobile Crashes, dalam: Arch
Ophthalmol. 2002;120:1517-1522

10
11