Anda di halaman 1dari 27

NAMA

: RIDHO
RIZKILLAH
NIM : 14080067
EMAIL
:
ridhorizkillah1408@gmail.
com

BAB 5
TAHAPAN MEMBUAT PETA GEOLOGI

Seorang geologist harus akrab dengan alam, oleh sebab itu


geologist harus sering ke lapangan tidak terkecuali geologist junior.
Pengalaman kerja di lapangan membuktikan banyak data geologi yang
tidak terbaca oleh geologist junior,namun berhasil di baca oleh
geologist senior. Hal ini benar adanya, karena data geologi tidak pernah
berbicara dan tidak pernah berbisik atau berteriak serta tidak pernah
menonjlkan diri. Data geologi harus anda baca, cari tahu dan perhatikan
dengan cermat manfaatkan indra anda. Seoran geologist junior harus
memanfaatkan semua indra yang dimiliki, tidak terkecuali indra
penglihatan. Daya cermat indra penglihatan dapat dilatih dengan banyak
pergi ke lapangan bersama-sama dengan geologist senior. Melihat dan
bertanya, melihat dan bertanya lagi. Oleh sebab itu geologist di tuntut
memiliki daya ingat tinggi, tidak pelupa, dan titenan. Dalam kasus khusus
indra penciuman juga perlu difungsikan, sedang indra perasaan
merupakan salah satu sinyal untuk hal-hal yang sifatnya lebih khusus lagi,
dalam kasus yang bernuansa pada hal-hal yang tidak terlihat oleh mata
biasa. Ini adalah suatu kenyataan, yang kadang sulit dijelaskan secara
ilmiah namun sungguh-sungguh terjadi di lapangan. Ketajaman indra
dimiliki oleh semua geologist, dengan tingkat sensitivitas yang berbeda,
namun semuanya itu dapat dilatih dengan banyak pergi kelapangan.
Apabila anda termasuk orang yang senang membaca buku atau
senang bergaul dengan orang-orang tua, dan pemuka masyarakat,anda
pasti mendengar cerita, seorang masuk di pekarangan orang lain tanpa
permisi, atau dengan kata-kata yang singkat akan berbuat jahat masuk
di wilayah orang lain, tidak dapat keluar dari lingkungan itu, padahal
tidak ada pagar yang dapat dilihat secara fisik. Kejadian ini, sulit
dimengerti oleh logika, tetapi ini merupakan suatu kenyataan di dunia
nyata. Disarankan , bagi geologist junior sewaktu bertugas di lapangan.
Juga jangan pelit bertegur sapa dengan masyarakat setempat. Disamping
memanfaatkan kemampuan melihat singkapan, kadang-kadang anda juga
akan terbantu dengan indra penciuman. Memanfaatkan indra penciuman
akan dapat membantu dalam mengenal data geologi yang belum sampai

terlihat. Kadang-kadang indra penciuman bermanfaat dan dapat


membantu dalam mengantisipasi kemungkinan adanya bahaya.
5.1 MELATIH KETAJAMAN INDRA
Dalam melakukan observasi geologi di lapangan di perlurkan
ketajaman indra, baik indra penglihatan, penciuman atau indra rasa. Tentu
saja ketajaman indra tersebut wajib di bekali dengan penguasaan konsepkonsep dasar geologi dan aplikasinya. Uraian di bawah ini akan mampu
memperjelas pernyataan tersebut di atas.
(1). Indra penglihatan yang terlatih dapat dengan mudah melihat:

Singkapan batuan yang di lihat itu masih insitu atau sudah


berpindah tempat atau merupakan hasil longsoran di tempat lain.
Perbedaan batuan beku dengan batuan sedimen ataupun batuan
metamorf.
Perbedaan pelapukan batuan beku, batuan sedimen atau batuan
metamorf
Perbedaan antara hasil pelapukan batuan beku jenis diorite dan
batuan beku jenis andesite.
Perbedaan antara batuan intrusi dan ekstrusi.
Perbedaan antara batuan lempung dan batu pasir berutir halus.
Perbedaan batu gamping dan marmer.
Perbedaan antara batuan gamping klastik dan non klastik.
Mengenal bintik-bintik warna hijau kebiruan, menunjukan batuan
yang mengandung mineral logam tembaga.
Gejala baking effect akibat intrusi batuan beku.
Perbedaan struktur silang siur dengan gejala patahan.
Kenampakan breksiasi akibat patahan pada batuan breksi.
Perbedaan antara oilseepage dalam mata air.
Perbedaan antara fosil foraminifera kecil plantonik dan benthonik.
Perbedaan antara fosil mollusca, coelentarata, brachiopoda.
Perbedaan antara fosil discocyclina dan nummulites.
Perbedaan antara fosil tulang dan fosil gading.
Perbedaan antara kayu dan silicified wood.
Perbedaan antara fosil flora dan fauna
Perbedaan antara lignit dan bituminous.
Perbedaan antara mineral kalsit dan mineral gypsum.
Perbedaan antara mineral gypsum dan mineral barite.
Perbedaan antara mineral hartz dan kalsit.
Perbedaan antara mineral kalsit dan barite.
Perbedaan antara mineral kuarsa dan kuarsit.
Perbedaan antara mineral hornblende dan piroksen.
Mengenal mineral asbes di lapangan.
Mengenal batuan meta sedimen dalam bentuk batuan karbonat.

Membedakan dengan mineral pyrite dengan mineral logam emas di


lapangan.
Melihat imprint tulang daun pada batu lempung di daerah endapan
batubara.
Perbedaan antara perlapisan batuan sedimen dan sheeting joint.
Perbedaan antara triangle facet dan kenampakan seperti tiangle
facet sebagai akibat erosi.
Melihat struktur sedimen cross bed (silang siur) skala mega pada
peta geologi.
Lapisan minyak yang bewarna kebiru-biruan pada oil seepages.
Mengenal daerah karst dari pandangan mata burung.

Pernah dan sering terjadi mahasiswa semester pertama yang kuliah


di Teknik geologi, Teknik pertambangan, maupun teknik perminyakan,
di ajak berjalan-jalan di lapangan, selalu berkomentar wah
panoramanya baik sekali, pemandanganya sangat indah dan udaranya
segar belum terkena polusi, namun terjadi terbengong-bengong
apabila diajak berjalan- jalan menaiki bukit melewati jalan setapak,
menyusuri sungai-sungai kecil, untuk mencari singkapan batuan,
menyebrangi sungai dengan kaki tetap memakai sepatu, tidak boleh
duduk bila sedang melihat singkapan. Keadaan yang demikian
adalah suatu hal yang wajar, karena para mahasiswa itu belum
mengetahui dan mempelajari konsep-konsep ilmu geologi. Belum lagi
selama dalam perjalanan lebih banyak berhentinya untuk minum air,
berjalan kaki sambil makan makanan kecil, berjalan santai dengan
nafas tersenggal-senggal, keluar banyak keringat, beberapa
mahasiswa mukanya tampak pucat. Hal-hal tersebut merupakan
kejadian biasa karena para mahasiswa belum mempunnyai
pengalaman bekerja sebagai seorang geologist.
(2). Indra penciuman juga dapat menuntun anda untuk mencermati
pada gejala:

Bau belerang sebagai akibat proses mineralisasi yang


membentuk mineral pyrite.
Bau belerang dari endapan batubara.
Bau belerang yang mengindikasikan adanya intrusi batuan beku.
Keberadaan endapan phospat di dalam gua.
Bau endapan bahan galian mangan.
Bau belerang pada mata air panas.
Bau belerang akibat meningkatnya kegiatan vulkanisme.
Mengenal suber air panas, membedakan dengan mata air biasa.
Mengenal gas alam (methane) di lapangan.
Mengenal bau gas H2S dari endapan gambut.
Keberadaan daerah gambut dengan bau yang khas.

Bau seperti bangkai sebagai indikasi daerah berbahaya.

(3). Indra rasa juga dapat membantu anda dalam mengenal gejala
geologi:
Menentukan arah gerakan struktur patahan geologi dengan
meraba slicken side (gores garis) pada bidang permukaan
patahan.
Membedakan antara mineral barite dan mineral kalsit berdasar
pada perbedaan berat.
Membedakan antara mineral kuarsit dengan mineral kalsit
berdasarkan atas perbedaan tingkat kekerasan.
Membedakan antara kaolin dan talk.
Membedakan antara pumice dan tuff.
Membedakan antara silicified wood dengan batang kayu
berdasarkan atas perbedaan berat.
Membedakan antara batu lempung dan napal dengan jilatan
lidah.
Membedakan mineral talk dan napal.
Rasa pahit pada air yang mengandung belerang.
Rasa asin pada mata air yang merupakan seepages.
(4). Perasaan heran berkaitan dengan informasi masyarakat
Sering kali perasaan heran disertai informasi dari masyarakat
dapat menuntun keinginan anda untuk mengetahui lebih lanjut
gejala-gejala geologi yang terdapat di daerah tersebut. Beberapa
contoh pengalaman lapangan adalah sebagai berikut:
Di daerah aliran sungai grindulu di daerah kabupaten wonogiri,
jawa tengah di arah hulu sungai masyarakat selalu memandikan
ternak sapinya, tetapi arah hilir kebiasaan masyarakat seperti itu
tidak pernah di lakukan, dengan alasan ternak sapinya tidak mau
minum. Kejadian itu dimata seorang geologist sangat menarik
perhatian. Sesudah dilakukan penelitian lebih lanjut, ternyata di
tempat ke arah hilir di sepanjang tebing sungai terjadi proses
alterasi hydrotermal yang menghasilkan mineral pyrite dengan
bau khas yaitu bau belerang. Air sungai yang mengandung
belerang pasti dihindari oleh ternak.
Tokoh masyarakat mengatakan orang usia dewasa di wilayah
saya, selalu mengidap kencing batu. Bagi seorang geologist
senior segera dapat mengambil kesimpulan, masyarakat di
daerah tersebut memanfaatkan air minum yang diambil dari air
sumur di daerah batu gamping.
Seorang guide lapangan mengatakan, di daerah bukit A banyak
orang mengambil tanah dari dalam gua untuk pupuk tanaman
dan ternyata tanamanya menjadi subur dan bebrbuah lebat. Bagi
geologist senior, berita itu langsung dapat di tangkap bahwa di

tempat itu merupakan daerah penyebaran batu gamping dengan


endapan phospat.
Seorang peternak sapi mengatakan saya selalu mencampur
makanaan ternak saya dengan tepung. Tepung tersebut saya buat
dengan menumbuk batu yang bewarna abu-abu kehijauan. Ternak
saya selalu senang makan, cepat menjadi gemuk, kotoranya tidak
berbau dan tidak cair, kata peternak lebih lanjut. Bagi geologist
senior, dari informasi tersebut segera dapat emnyimpulkan
bahwa tepug tersebut berasal dari zeolite. Selanjutnya anda
tinggal menanyakan dimana zeolit itu di ambil.
Informasi dari penduduk, yang mengatakan bila masyarakat
mencuci pakaian dengan ar sungai disini, walaupun sudah
memakai sabun, namun sabun cukup sulit berbusa. Bagi seorang
geologist senior, informasi tersebut dapat segera ditangkap
bahwa air tersebut mempunyai sifat seperti air asam tambang
batubara yang pH-nya relatif rendah(antara 4-6). Air yang
mempunyai sifat demikian antara lain berasal dari daerah gambut
atau daerah batubara.
Seorang guide mengatakan: bapak di lereng bukit x, pak lurah
pernah mendapatkan logam bewarna kuning seperti emas.
Logam itu terdapat di daerah penambangan batu kapur.
Ditempat itu juga didapatka mineral batu kaca yang relatif lunak,
bentuknya persegi memanjang. Warnanya putih, seperti gula
batu, tetapi tidak manis. Bagi geologist senior, informasi seperti
itu dapat di tangkap bahwa mineral logam yang warnanya
kuning seperti emas itu tidak lain adalah mineral pyrite.
Tidak jarang di lapangan anda mengenal tempat-tempat yang
angker atau berbahaya yang seyogyanya tidak anda datangi
dengan petunjuk:

Bulu kuduk terasa berdiri.

Membedakan antara kucing hutan dan harimau akar.

Mengenal jejak perjalan ular di hutan.

Mengenal jejak perjalanan harimau di hutan.

Mengenal aum harimau dan membedakan dengan


gonggongan anjing.

Mengenal suara gerombolan monyet pada saat di hutan.

Mengenal tempat-tempat di sungai yang dalam pada saat


akan menyebrang.

Mengenali tempat-tempat yang gembur di daerah meander


sungai.

5.2. BERBAGAI MACAM PETA

Pada dasarnya di kenal 2 macam peta, yaitu peta situasi dan peta
thematik. Masing-masing peta mempunyai ciri khas, di samping
penggunaanya yang berbeda pula.
(1). Peta situasi
Peta ini sering di manfaatkan sebagai peta dasar untuk membuat
peta thematik. Peta ini relatif sangat sederhana, merupakan gambaran
permukaan bentang alam pada selembar kertas yang padanya di
cantumkan informasi alami dan non alami (hasil rekayasa manusia).

Informasi alami antara lain: keberadaan sungai, rawa atau danau,


laut dan gunung. Sungai di gambarkan dengan garis lurus ataupun
berkelok-kelok non skala. Non skala di maksudkan tebal garis tidak
mengikuti skala peta yang tercantum pada lembar peta. Sungai
mitten digambarkan dengan garis putus-putus,non skala sedangkan
sungai permanent di lambangkan dengan garis menerus. Sungai
kecil digambar sebagai satu garis yang semakin mengecil ke arah
hulu. Sungai besar di gambarkan dengan dua garis yang searah,
yang jaraknya makin melebar ke arah hilir, dan makin menyempit
ke arah hulu, dan akhirnya menyatu menjadi satu garis yang makin
lama garis tersebut makin kecil dan di gambarkan semakin menipis.
Rawa atau danau, kadang-kadang di sebut sebagai situ (dalam
bahasa luasaanya. Semuanya itu di gambarkan non skala. Garis
pantai di lukiskan sebagai garis yang membatasi luasan darat dan
bentang laut. Gunung di gambarkan sebagai segitiga sama kaki,
non skala disertai dengan besaran nilai angka ketinggianya.
Informasi non alami, antara lain jaringan jalan, jalan kereta api,
desa, batas wilayah, titik triangulasi, tempat makam, dan
sejenisnya, semuanya non skala. Jalan digambarkan sebagai dengan
garis lurus, jalan setapak digambarkan dengan titik-titik menerus ,
dan desa digambarkan sebagai polygon tertutup dilukis dengan
garis tegas yang membatasi luasanya. Batas-batas wilayah
kecamatan atau distrik, kabupaten atau provinsi digambarkan
dengan garis putus-putus agak panjang, non skala.

Peta tersebut di gambarkan pada selembar kertas dalam besaran


nilai skala tertentu, misal skala 1:10.000; 1:25.000; 1:50.000;
1:100.000; 1:250.000 dan seterusnya.
(2). Peta thematik
Merupakan peta dengan tema tertentu, misal peta thematik dengan
tea geologi (disebut sebagai peta geologi), peta thematik dengan
penyebaran penduduk (disebut sebagai peta demografi), peta thematik
dengan tema intesitas curah hujan (disebut sebagai peta intesitas
curah hujan), peta thematik lokasi stasiun kereta api ( disebut peta
lokasi stasiun kereta api), peta thematik dengan tema geohidrologi
(disebut sebagai peta geohidrologi), peta thematik dengan tema garis

kontur (disebut sebagai peta peta topografi). Peta dasar untuk


membuat peta thematik di pilih peta situasi.
Peta-peta thematik tersebut di tampilkan denga simbol-simbol
tertentu yang sudah disepakati bersama dan digambarkan pada peta
dasar dalam bentuk peta situasi dengan besaran nilai tertentu. Tentang
skala peta sudah ada kesepakatan bersama bahwa:

Makin besar angka perbandingan skalanya misal 1:1.000.0000,


disebut dengan jenis peta skala kecil

Makin kecil angka perbandingan skalanya, misal 1:5.000, disebut


dengan jenis peta skala besar
Standar luasan peta yang diterbitkan di indonesia pada saat ini
masih merujuk standar luasan peta yang di ternitkan oleh US. Army,
yaitu antara lain, satu sheet atau lebar topografi skala 1:50.000 dan
skala 1:25.000 yang diterbitkan oleh Direktorat Geologi Bandung
(sekarang berubah nama menjadi pusat penelitian dan pengembangan
geologi [P3G]) yang beralamat di jalan diponegoro no. 57, bandung,
mempunyai ukuran 18 km x 18 km untukk peta skala 1:50.000, dan
mempunyai ukuran 9 km x 9km untuk peta skala 1:25.000. Dengan
demikian 1 sheet peta topografi skala 1:50.000, akan menjadi 4 sheets
peta topografi skala 1;25.000. Peta dengan ukuran panjang dan lebar
masing-masing 9 km, bila dikonversi menjadi derajat: 9 km=5 (dibaca
5 menit). Dengan demikian secara umum dapat dimengerti besara 1o
(dibaca 1 derajat)=108 km. Saat ini pemerintah indonesia
memperbarui peta topografi wilayah indonesia. Peta-peta tersebut
diterbitkan oleh badan koordinasi survey dan pemetaan nasional
(Bakosurtanal) yang berkantor di jalan raya jakarta-bogor km. 46 telp
(021) 8752062, fax (021) 8763067 jakarta, dengan menambahkan
tampilan pada bentang alam khusunya hasil rekayasa manusia yang
paling mutakhir. Peta geologi yang merupakan data dasar dalam
eksplorasi geologi tidak lain merupakan salah satu dari jenis peta
thematik dengan penekanan pada aspek geologi, yaitu peta dengan
tema geologi, lebih di kenal dengan nama singkat peta geologi.

5.3 PETA GEOLOGI


Peta geologi merupakan salah satu bentuk peta thematik yang lebih
dikenal dengan sebutan dengan sebutan pada peta thematik geologi
(yang kemudian lebih umum disebut sebagai peta geologi). Peta
geologi merupakan peta yang menggambarkan penyebaran dan variasi
lithologi, keadaan stratigrafi dan struktur geologi meliputi perliputan,
patahan dan kekar serta potensi sumber daya alam suatu daerah.
Keadaan bentang alam permukaan, yang memberikan gambaran
keadaan geologi setempat, dapat dilihat dan dicermati lewat program
google earth dengan memakai piranti komputer, atau dapat dilihat dan

dicermati pada foto udara dengan piranti stereoscop. Kedua hal


tersebut hanya mampu memberikan gambaran secara garis besar
kenampakan pada permukaan dan masih diperlukan ground check
(pengecekan di lapangan).

Google Earth mampu menunjukan kenampakan bentang alam


permukaan, relief atau topografi, kenampakan rona batuan dan
kenampakan striktur geologi. Google Earth sesuai untuk pendataan
awal dalam pembuatan peta geologi tinjau melalui Google Earth
anda dapat membuat peta geologi tinjau dengan lingkup satu pulau,
lingkup satu proinsi, atau lingkup satu kabupaten. Kenampakan
yang dapat dilihat adalah struktur geologi mayor (bentuk perlipatan,
dan patahan), kenampakan topografi dan rona batuan. Kemampuan
melihat dan menginterprestasi kenampakan pada google earth
tersebut sangat tergantung pada pengalaman masing-masing
geologist. Pada umumnya geologist senior yang memiliki jumlah
jam terbang akan lebih jeli di bandingkan geologist junior. Teknik
menampilkan atau mengoperasikan program google earth, dapat
dicermati dengan memanfaatkan piranti yang tersedia pada
komputer.
Foto udara dapat juga di manfaatkan sebagai foto geologi suatu
daerah, dibuat atas dasar pesanan pemakai (stakeholder) pada
suatu lajur daerah tertentu. Lajur-lajur foto udara ini dibuat dalam
posisi yang overlap agar dapat dilihat dalam bentuk tiga dimensi
dengan pertolongan stereoscope. Pemotretan dilakukan dengan
pesawat terbang yang di ubah fungsi menjadi pesawat pemotret.
Hambatan yang sering di jumpai, kadang-kadang pada foto udara
terdapat tutupan bewarna putih yang menggerobol. Tutupan putih
tersebut adalah cerminan awan yang ikut terpotret pada saat
pesawat terbang melaksanakan tugasnya. Foto udara akan
mempunyai arti geologi apabila singkapan batuanya tampak jelas
tidak tertutup oleh vegetasi.
Saat ini telah dikembangkan teknologi dengan remote sensing.
Pengambilan gambar bentang alam suatu daerah dilakukan via
satelit atas dasar pesanan untuk lajur tertentu sesuai dengan
keinginan pemakai. Seperti hanya pada foto udara, pada permukaan
foto remote sensing atau foto satelit, sering di dapatkan warna putih
menggerombol, yang merupakan manifetasi keberadaan awan yang
ikut terekam pada saat pemotretan. Keberadaan awan yang
terekam ini akan dapat mengganggu interprestasi kenampakan
permukaan pada foto yang dibuat.

Dengan melihat pada foto udara hasil remote sensing, anda sebagai
geologist mampu membuat deliniasi batas lithologi, struktur geologi
mayor berdasarkan pada kenampakan relief dan rona lithologi yang
tampak pada permukaan. Tingkat kebenaran interpretasi harus di uji
dengan mengunjungi (ground check) ke tempat-tempat terpilih.

Berbagai teknik interpretasi foto satelit dapat dipelajari pada berbagai


buku yang membahas tentang remote sensing. Foto geologi ini akan
memiliki fungsi guna apabila rona lithologi dapat dilihat dengan jelas,
sedikit tertutup oleh vegetasi. Untuk daerah seperti indonesia
pemotretan dalam rangka membuat foto geologi

Keterangan
Sumber bagley,1959
Penyebaran lithologi dinyatakan dengan simbol gambar
Gambar 5.1. Peta geologi freeland-Lamartine Distict, Central City,
Colorando
(Perhatikan tampilan simbol lithologi)

Dilakukan pada musim kemarau dengan pertimbangan tutupan


vegetasi banyak berkurang, dan tutupan awan pada musim kemarau
relatif sedikit. Google Earth dan foto geologi dapat dimanfaatkan untuk
mendeliniasi kenampakan geologi sampai pada batas-batas tertentu
sesuai dengan skala peta dan keperluan serta tingkat ketelitian
interpretasi yang diinginkan. Google Earth yang selalu di update akan
dapat menampakan bangunan fisik yang dibuat oleh manusia, misal
lapangan terbang, jalan rel kereta api, pelabuhan laut dan lain
sebagainya. Dengan demikian kata rahasia pada bangunan-bangunan
strategis militer, dengan teknik Google Earth tidak sepenuhnya berlaku
lagi.

5.4. MACAM PETA GEOLOGI BERDASARKAN ATAS TINGKAT


KETELITIAN
Secara garis besar dikenal empat macam peta geologi, yaitu peta
geologi tinjau dan peta geologi recognise (recognition) dan peta geologi
semi detail serta peta geologi detail. Uraian berikut akan mampu
memperjelas hal tersebut.
(1). Peta geologi tinjau
Jenis peta geologi yang merupakan hasil pengamatan sepintas. Peta
geologi tinjau dibuat untuk mengetahui sebanyak mungkin perihal geologi
suatu daerah yang masih belum banyak dikenal dengan memanfaatkan
waktu yang sangat singkat. Peta tersebut dibuat pada skala 1:50.000 atau
kurang, kadang-kadang dengan skala yang lebih kecil lagi. Peta dasar
yang dipergunakan merupakan peta situasi. Beberapa peta geologi tinjau

dibuat dengan memanfaatkan google earth dan foto geologi, (dengan


melalui pengenalan rona lithologi pada foto udara). Ketelitian membuat
peta geologi tinjau sangat ditentukan oleh tingkat ketelitian dalam
melakukan interpretasi foto geologi atau foto udara. Kegiatan groud check
diperlukan. Peta geologi tinjau dapat dibuat pula dibuat dengan pengeplot-an jenis lithologi dan struktur geologi pada peta dasar dengan
memanfaatkan pesawat terbang kecil. Peta geologi tinjau sering disebut
sebagai peta geologi pandangan burung (eye bird geological map). Peta
ini dapat di manfaatkan untuk mengetahui penyebaran batuan [(misal
penyebaran batu gamping sebagai bahan baku untuk industri semen,
penyebaran batuan beku untuk rencana penyediaan bahan bangunan,
untuk membangun kawasan industri dan permukiman baru, untuk
mengetahui pola aliran sungai pada suatu daerah aliran sungai (dalam
rangka perencanaan waduk).
Perlu diperhatikan, apabila di daerah tersebut sudah tersedia peta
geologinya, maka pembuatan peta geologi tinjau tidak diperlukan lagi.
Perlu dicatat, peta geologi tinjau di buat untuk daerah yang tidak banyak
tersedia informasi geologinya atau merupakan daerah baru yang belum
banyak dikenal. Pada peta geologi tinjau keberadaan sayatan geologi
sebagai penyerta belum diwajibkan. Pada geologi tinjau dasar pemetaan
dapat dilakukan dengan satuan stratigrafi ormal (formasi) ataupun dengan
satuan stratigrafi non formal (satuan batuan) tergantung pada
kepentinganya.
(2) Peta geologi recognize (recognition)
Merupakan tindak lanjut penyempurnaan peta geologi tinjau. Peta
geologi ini dibuat pada peta dasar, dianjurkan memakai peta dasar dalam
bentuk topografi. Pada peta topografi ini dapat diketahui lebih detail
tentang morfologi daerah, pola aliran sungai (drainage pattern).
Pembuatan peta geologi recognize ini dilaksanakan dengan melakukan
penjelajahan secara teristris (didarat) dengan mendatangi singkapan
batuan yang terlihat dilapangan. Pengamatan akan lebih cepat apabila
ditunjang dengan hasil interpretasi foto geologi. Pelu disadari,
kenampakan geologi pada foto geologi dipastikan dapat ditemukan di
lapangan, namun apa yang ditemukan di lapangan belum tentu tampak
terekam pada foto geologi. Pola penyebaran satuan lithologi, dan pola
penyebaran struktur geologi dapat dengan mudah dicermati dan ditelusuri
melalui foto geologi dibandingkan dengan pada apa yang tampak di
lapangan.
Berbagai cara penelitian atau pengamatan di lapangan dapat
diterapkan misal, dengan membuat parit uji, pemboran dangkal, test pit,
dan metode lainya, dalam usaha untuk menghasilkan peta geologi
recognize yang siap disempurnakan. Peta geologi ini dibuat pada peta
dasar pradaan sayatan peta topografi dengan skala 1:50.000. Pada peta
geologi recognize keberadaan sayatan geologi perlu dipertimbangkan.

Pada peta geologi recognize dasar pemetaan dapat dilakukan dengan


satuan stratigrafi formal (formasi) ataupun dengan satuan sratigrafi non
formal (satuan batuan) tergantung pada kepentinganya.
(3) Peta geologi semi rinci (semi detail)
Dibuat untuk memperdalam penelitian yang bersifat khusus dari
hasil akhir pada pembuatan peta geologi recognize. Peta geologi ini dibuat
dengan skala yang lebih besar , misal skala 1:25.000. Beberapa contoh
penggunaan peta geologi semi rinci antara lain untuk mencermati lebih
detail variasi lithologi termasuk penyebaranya, tentang struktur geologi,
dan kemungkinan terdapatnya bahan galian dan bencana alam geologi.
Pada peta geologi semi rinci, keberadaan sayatan geologi sebagai
penyerta peta sudah diwajibkan. Jenis peta ini yang sebaiknya
dipergunakan sebagai tugas akhir mahasiswa.
Pada peta geologi semi rinci dasar pemetaan disarankan dilakukan
dengan satauan stratigrafi non formal. Saran ini diberikan dengan
mempetimbangkan peta geologi semi detail menekankan pada aspek
keberadaan nialai geologi ekonomi suatu wilayah. Namun demikian untuk
keperluan yang sifatnya khusus yang berkaitan degan korelasi antar
cekungan sedimentasi dan tektonik kadang-kadang dipergunakan dasar
pemetaan geologi dengan satuan stratigrafi formal (formasi), misalnya
dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.
(4) Peta geologi rinci
Merupakan tindak lanjut dari proses pembuatan peta geologi semi
rinci untuk kepentingan khusus, antara lain melokalisir proses mineralisasi
suatu bahan galian tertentu, menghitung jumlah cadangan bahan
tambang. Peta ini sudah lebih operasional dibandingkan dengan peta
geologi rinci, dan dibuat dengan skala 1:10.000 atau lebih besar lagi.
Pembuatan sayatan geologi merukan persyaratan mutlak yang tidak boleh
di tawar lagi sebagai penyerta peta geologi. Pada peta geologi detail
dasar pemetaan disarankan dilakukan dengan satuan stratigrafi non
formal. Saran ini diberikan dengan mempertimbankan peta geologi detail
menekankan pada aspek keberadaan nilai geologi ekonomi suatu wilayah.
Namun demikian untuk keperluan yang bersifat khusus, yang berkaitan
dengan korelasi antar cekungan sedimentasi dan tektonik kadang-kadang
dipergunakan dasar pemetaan geologi dengan satuan stratigrfi formal,
misalnya dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.
Di samping itu, ada juga peta geologi yang sifatnya lebih khusus
(dikenal sebagai peta geologi khusus) misalnya untuk membuat rekaman
data geofisika, data geokimia, mekanika batuan, pola dan distribusi kekar,
penambangan bawah tanah. Umumnya peta ini dimanfaatkan lebih pada
kepentingan penilaian ekonomi, teknik penambangan suatu bahan
tambang, atau untuk kepentingan penilaian teknik, dan dibuat pada skala
1:500; 1:1.000, atau dengan skala yang lebih besar lagi.

Disamping itu, juga di kenal peta geologi permukaan (surface


geological map) dan peta geologi bawah permukaan (subsurface
geological map).

Peta geologi permukaan (surface geological map), disusun


berdasarkan pada kenampakan singkapan di permukaan bentang
alam secara langsung.
Peta ggeologi bawah permukaan (subsurface geological map), ini
disusun berdasarkan pada data-data dibawah permukaan, baik yang
diperoleh dengan pengeboran, rekaman ataupun metode penelitian
geologi lainya. Peta ini biasanya dibuat untuk keperluan yang
sifatnya khusus. Peta ini lebih banyak diterapkan pada eksplorasi
minyak dan gas bumi.

5.5 PERSIAPAN AWAL PEMBUATAN PETA GEOLOGI


Yakinkan pada diri anda, bahwa kondisi kesehatah badan anda
dalam keadaan prima. Hal-hal yang perlu ditindak lanjuti dalam rangka
persiapan awal pembuatan peta geologi antara lain:

Persiapksn dengan baik surat-surat izin yang berkaitan dengan


tugas penelitian. Surat itu nantinya diserahkan kepada pemerintah
daerah setempat maupun pada instasi terkait.
Pelajari rute perjalanan mulai dari kampus atau kantor tempat anda
kuliah atau bekerja sampai ke lokasi penelitian. Apabila harus
mempergunakan pesawat terbang atau kapal laut yakinkan tanggal
keberangkatan dan segera pesan tiket untuk keperluan tersebut.
Jangan mengambil resiko anda datang ke bandara udara atau
pelabuhan dalam keadaan tanpa ticket. Besar kemungkinan anda
tidak akan mendapatkan ticket pesawat atau kapal. Pikirkan seribu
kali bila anda harus menyebrang laut dengan perahu atau
speedboat. Apabila tidak terpaksa, lakukan perjalanan pada siang
hari. Selama dalam perjalanan kenakan jaket pelampung, dan
jangan terlalu berani mengambil resiko.
Apabila anda melalui jalan darat dengan kendaraan sendiri,
yakinkan bahwa kondisi kendaraan mobil anda cukup baik.
Berhentilah mengemudi apabila anda terasa mengantuk dan jangan
memaksakan diri. Pelajari dengan teliti tempat-tempat dimana anda
memerlukan transit, rencakan rute singkat tapi aman. Apabila
kepergian anda kelapangan bersama dengan pengemudi,
perhatikan baik-baik kesehatan pengemudi serta keperluan pokok.
Berilah istirahat yang cukup padanya. Jangan izinkan pengumudi
berpergian sendiri tanpa kebdali. Keselamatan anda berada di
tangan pengemudi.

Jangan dilupakan membawa perbekalan pribadi dan obat-obatan


ringan, uang cash secukupnys. Rencanakan uang dengan cermat.
Belun tentu di tiap kota kecamatan ada bank (misal BRI, BNI dsb),
tempat dimana anda dapat menarik uang melalui ATM atau BANK.
Bila penelitian dilakukan pada saat musim hujan, jangan lupa
mebawa jas hujan dan topi lapangan. Pilih tas lapangan yang praktis
dan mudah dibawa.
Persiapkan dengan teliti alat-alat lapangan sesuai dengan misi
penelitian geologi yang akan anda lakukan. Teliti satu persatu dan
buat daftar bahan dengan check list. Misal, bila anda akan
melakukan eksplorasi endapan emas dalam bentuk placer, maka
anda memerlukan alat pendulang. Apabila anda memerlukan
membuat test pit atau parit uji, masyarakat setempat mempunyai
peralatan yang dapat dipinjam sekaligus mereka dapat difungsikan
sebagai tenaga kerja, namun apabila anda ada rencana membuat
pemboran dangkal, alat bor sudah seharusnya dipersiapkan dan
dibawa serta pada saat berangkat kelapangan.
Persiapkan kantong untuk contoh batua secukupnya, apabila
mungki dalam bentuk kain katun yang sudah dibuat khusus untuk
tempat sampel atau kantong plastik ukuran minimal 15 cm x 30 cm,
yang transparan, dan agak tebal dan spidol waterprof secukupnya,
serta karet pengikat dan staples.
Persiapkan alat tulis menulis secara rangkap, alat tulis menulis
harganya memang relatif murah namun belum tentu alat-alat
tersebut dapat diperoleh disetiap toko.
Persiapkan peta topografi skala 1:25.000 sebagai peta dasar untuk
bekerja, masing-masing sheet daerah paling sedikit empat lembar,
satu lembar untuk peta basecamp, satu lembar untuk peta
lapangan , satu lembar untuk membuat peta geologi kompilasi
harian, dan satu lembar untuk cadangan. Peta base camp
dipergunakan untuk memindahkan hasil kerja tiap harinya dari peta
kerja lokasi pengamatan. Pilih peta topografi dengan garis-garis
kontur.
Peta-peta tersebut disimpan pada tempat peta yang tahan air dan
mudah di bawa, sedang peta kerja disimpan dalam kantong peta
(kantong plastik) yang dipersiapkan khusus untuk kepentingan itu.
Jangan dilupakan membawa clipboard sebagai meja kerja
dilapangan. Perlu diingat, geologist tanpa peta dasar, sama halnya
seorang militer yang membawa senjata api tanpa cadangan
amunisi. Peta base camp sangat menolong, apabila peta kerja-peta
lokasi Pengamatan geologi hilang atau rusak. Dengan demikian
semua data geologi dapat diselamatkan.
Jangan dilupakan membawa alat Global Positioning System
[(GPS)(bila ada)], karena alat ini pada saat sekarang dirasa sangat
membantu untuk menentukan lokasi pengamatan geologi atau
lokasi pengambilan contoh batuan secara akurat.

Jangan lupa membawa alat komunikasi. Biala anda bekerja dalam


suatu team, untuk meringankan pekerjaan dalam membuat laporan
nantinya, bawa serta komputer laptop. Pada waktu malam atau
waktu senggang dapat dimanfaatkan untuk memulai membuat
laporan. Pengamatan lapangan, menunjukkan salah satu hiburan
pada saat waktu senggang di base camp adalah membuat laporan.
Saat ini alat foto atau kamera atau tustel bukan lagi merupakan
peralaytan yang mewah (lux) dan sudah dianggap sebagai
pelengkap yang tidak boleh di tinggalkan dalam tugas pekerjaan
geologi.
Sebagai alat komunikasi bawalah handphone, atau handy talky dan
manfaatkan handphone atau handy talky pada saat di perlukan
jangan dilupakan membawa serta charge kabel untuk handphone

Apabila anda sudah sampai di lokasi atau tempat di mana penelitian


akan dilakukan, serta melaporkan diri pada yang berwajib, sampaikan
surat izin, kemudian maksud dan tujuan melakukan penelitian, dan
diberitahukan tempat tinggal sementara selama anda berada di lokasi
penelitian.
Di waktu senggang, coba sosialisi dengan masyarakat setempat dalam
usaha untuk melindungi diri dan mencari perlindungan. Anda jangan
pelit dengan dalam kata pada semua anggota masyarakat yang anda
temui di lapangan. Selalu menggunakan identitas diri, agar mudah dikenal
orang. Ingat, anda adalah orang asing yang belum dikenal oleh
masyarakat setempat, bertindaklah sopan dan hormati budaya setempat.
Bila anda bekerja dalam sebuah team, pilih tempat pemondokan yang
tidak terisolir atau tidak jauh dari rumah warga masyarakat sekitar. Perlu
di ingat, anda belum mengenal keadaan keamanan lingkungan setempat.
Keamanan lingkungan meruapak salah satu faktor penentu pada
keberhasilan tugas anda. Jangan dilupakan, pada saat anda akan
meninggalkan tempat pemondokan (base camp) di lapangan. Anda wajib
pamit diri dengan baik-baik pada tokoh masyarakat dan tetangga dekat
base camp, yang suda anda kenal sebelumnya.

5.6 PELAKSANAAN PEMBUATAN PETA GEOLOGI


Dalam geologi diperoleh dengan cara melakukan observasi di
lapangan. Ketelitian dan kecermatan seorang geologist dalam membaca
data geologi sangat ditentukan dalam pengamatan lapangan. Oleh sebab
itu geologist senior dalam melaksanakan pekerjaan geologist di lapangan
relatif lebih cepat dan lebih cermat bila di bandingkan dengan geologist
junior. Dalam melakukan observasi di lapangan geologist selalu hunting
singkapan (outcrop), yaitu segala kenampakan fisik di lapangan yang
dapat memberikan informasi geologi. Beberapa hal yang perlu di
perhatikan dalam hunting pada geologi antara lain:

Cari singkapan yang segar, sebagai objek obserbasi. Singkapan


yang segar akan dapat di jumpai di alur-alur erosi, di tebing
sungai, di dasar sungai, di tebing bukit.
Dalam hal singkapan di jumpai di tebing sungai atau di tebing
bukit, perhatikan sekitar lokasi, apakah terdapat massa batuan
yang mudah longsor. Apabila di temui keadaan yang demikian,
hindari tempat-tempat tersebut agar tidak terjadi sesuatu yang
tidak diinginkan. Perlu di ingat, kecelakaan kecil di lapangan
dapat mengakibatkan tertundanya pekerjaan, yang semestinya
tidak boleh terjadi.
Seringkali singkapan untuk observasi yang baik dapat dijumai di
gua. Sebelum anda memutuskan untuk memasuki gua,
pergunakan indra penciuman dan bawa serta lampu senter (flash
light). Ular atau binatang buas sering ditemui di dalam gua.
Apabila terjadi hal yang demikian, lebih bai urungkan niat untuk
memasuki gua. Spelegeologist menguasai betul membaca gua
yang berbahaya atau yang aman untuk dimasuki.
Selama pekerjaan dari lokasi pengamatan satu ke lokasi
pengamatan yang lain perhatikan kemungkinan terjadi
perbedaan warna pelapukan batuan, atau kemungkinan terjadi
pencampuran detrital material dari dua jenis batuan yang
berbeda. Jangan pelit dengan melakukan pengukuran jurus dan
kemiringan perlapisan batuan. Pengamatan di suatu singkapan
batuan harus segera dicatat di dalam buku catatan lapangan.
Jangan sekali-kali anda menunda mencatat. Menunda pekerjaan
sama saja dengan menghilangkan data.
Pada saat anda melewati kebun atau pekarangan atau ladang,
usahakan jangan merusak atau menginjak-injak tanaman atau
mengambil sesuatu atau buah tanpa izin.
Bila anda akan mengambil sebuah contoh batuan, anda wajib
memberitahu dan jujur melakukanya.
Selama anda melakukan pengamatan geologi di suatu daerah
sangat dianjurkan, anda untuk didampingi oleh anggota
masyarakat setempat sebagai guide dan pengawal.

5.7 CARA
BATUAN

PENOMORAN

LOKASI

PENGAMATAN

DAN

CONTOH

Pada saat anda melakukan pengamatan atau obrsevasi geologi di


lapangan, anda wajib membawa peta kerja. Pada saat anda mendapatkan
suatu singkapan yang perlu diamati, sesudah diketahui dengan pasti
kedudukannya pada peta kerja. Beberapa cara dalam memberikan nomor
stasiun pengamatan dapat dikelompokan menjadi 2 (dua) cara yaitu :
(1). Cara pertama

Pada peta keja, nomor stasiun pengamatan ditandai dengan


lingkaran kecil, di dalam lingkaran tersebut dituliskan mulai angka romawi
dan huruf abjad), berlanjut ke nomor 2 dan seterusnya. Untuk lebih
jelasnya, bila pada hari pertama kerja di lapangan nomor stasiun dimulai
dimulai angka 1 dan selama seharian berhasil melakukan pengamatan
hingga stasiun 25, maka pada hari ke-2 kerja nomor stasiun dilanjutkan
dengan angka 26. Bila pada kerja hari ke-2 berhasil melakukan
pengamatan hingga stasiun 61, maka pada kerja hari ke-3, nomor stasiun
dilanjutkan dengan nomor 62, dan seterusnya hingga tugas keja di
lapangan selesei.
Bila anda bekerja di lapangan hingga ke-50 (lima puluh hari), dapat
dibayangkan berapa ratus jumlah stasiun pengamatn yang harus anda
tuliskan pada peta kerja. Oleh sebab itu, model ini secara teoritis mudah
dilaksanakan, tetapi di dalam praktek banyak mengalami kendala, yaitu
anda akan mengalami kesulitan dalam mencari urutan nomor lokasi,
membuat bundaran (lingkaran kecil) menjadi makin besar karena di
dalamnya dituliskan angka hingga lebih dari tiga digit.
Untuk stasiun pengamatan dengan pengambilan contoh batuan,
nomor contoh disebutkanb sesuai dengan nomor lokasi, dimulai dengan
inisial diri, misan dengan nomor SR 150 (SR adalah singkatan nama
geologist
yang
melakukan
kerja
atau
tugas
di
lapangan,
SR=Sukandarrumidi). Hal ini di kandung maksud jangan sampai terjadi
kekeliruan, dengan nomornya orang lain, khusunya pada saat proses
analisa laboratorium dilakukan. Stasiun dengan pengambilancontoh
batuan, diberi warna, misalnya warna merah, sedang stasiun pengamatan
tanpa contoh batuan tetap hanya berbentuk lingkaran kecil saja. Untuk
mempermudah kontrol, dari stasiun ke-1, ke-2, dan seterusnya
dihubungkan dengan garis rute perjalanan. Bila pada stasiun tertentu
dilakukan pengukuran strike dan dip lapisan batuan, maka di tempat
nomor tersebut segera digambarkan notasi strike dan dip, dan tulisan
besaran strike dan dip dengan angka, misal 30/15, artinya besaran strike
N

E dan besaran dip

(2). Cara kedua


Pada saat kerja, nomor stasiun pengamatan ditandai dengan
lingkaran kecil, diluar lingkaran tersebut dituliskan mulai angka 1-1
(dituliskan dengan angka arab, bukan angka romawi dan huruf abjad),
berlanjut ke nomor 1-2 dan sterusnya. Angka 1-1, artinya kerja hari ke-1
dengan stasiun pengamatan nomor 1. Untuk kerja hari ke-2 dimulai lagi
dengan nomor stasiun 1, dan dituliskan dengan 2-1, untuk lebih jelasnya,
bila pada hari pertama kerja di lapangan nomor stasiun dimulai angka 1
dan selama seharian berhasil melakukan pengamatan hingga stasiun 25,
makan penomoran stasiun di tulis 1-1, 1-2, 1-3, dan seterusnya hingga
nomor 1-25. Pada hari kerja ke-2 nomor stasiun dituliskan dengan angka

2-1, 2-2, 2-3, dan seterusnya hingga stasiun terakhir. Bila pada kerja hari
ke-2 berhasil melakukan pengamatan hingga stasiun 20, maka nomor
stasiun ditulis 2-20. Pada hari kerja ke-3 nomor stasiun di mulai dengan
nomor 1 dan di tuliskan sebagai 3-1, 3-2, 3-3, 3-4, dan seterusnya. Tata
cara penomoran stasiun pengamatan untuk kerja selanjutnya dilakukan
dengan cara yang sama hingga tugas kerja di lapangan selesei. Model ini
lebih praktis dan implementatif. Oleh sebab itu anda disarankan untuk
mengadopsinya.
Untuk stasiun pengamatan dengan pengambilan contoh batuan,
nomor contoh disebutkan sesuai nomor lokasi, dimulai dengan inisial diri,
misal dengan nomor SR.1-10 (SR singkatan nama geologist yang
melakukan kerja dilapangan, SR=Sukandarrumidi). Hal ini dikandung
maksud jangan sampai terjadi kekeliruan, dengan nomornya orang lain,
khususnya pada saat proses analisa laboratorium dilakukan. Stasiun
dengan pengamatan contoh batuan, diberi warna, misalnya warna merah,
sedang stasiun pengamatan tanpa contoh batuan tetap hanya berbentuk
lingkaran kecil saja. Untuk mempermudah kontrol, dari stasiun ke-1-1, ke2-2, dan seterusnya di hubungkan dengan garis rute perjalan. Bila pada
stasiun tertentu dilakukan pengukuran strike dan dip lapisan batuan,
maka ditempat nomor lokasi tersebut segera digambarkan notasi strike
dan dip, dan tuliskan besaran strike dan dip dengan angka,misal 30/15,
artinya besaran strike N

E dan besaran dip

------------O.(1)-------------O.
(2).------------dst
O= stasiun pengamatan;-----------=rute
(1)=lokasi pengamatan
Model 1. Penomoran lokasi

---------O.(1-1)---------O.(12).------------dst

Model 2. Penomoran lokasi

5.8 PADA SAAT ANDA MELAKUKAN OBSERVASI DI LAPANGAN


Secara ideal terdapat dua cara dalam menentukan rute kegiatan
observasi geologi di lapangan yaitu dengan cara poligon (lintasan)
tertutup dan poligon (lintasan) terbuka.
(1)

Poligon tertutup

Artinya pada saat melakukan observasi geologi pada lokasi pertama


>>> ke lokasi kedua >>> ke lokasi ketiga dan seterusnya, selama
pelaksanaan kerja satu hari, lokasi ke satu akan tetapi didalam
praktek sulit dilkasanakan. Satu dan lain hal berkaitan dengan
keadaan topografi daerah penelitian, mungkin tidak datar dan anda
belum mengenal medan, berkaitan dengan jenis lithologi, struktur
geologi dan kenampakan geologi lainya. Usahakan jalur

pengamatan tegak lurus pada jarak (strike). Dengan demikian anda


dapat mengetahui secara sepintas variasi lithologi (dari yang
berumur stratigrafis muda ke stratigrafis tua, atau sebaliknya).
Pada hari pertama, berbekal pada geologi regional (apabila
ada) daerah penelitian, anda diwajibkan untuk melakukan penelitian
geologi tingkat recognise (sepintas), artinya anda terlebih dahulu
diwajibkan untuk mengenal secara garis besar tentang berbagai
jenis lithologi, stratigrafi, struktur geologi dan kenampakan geologi
yang lain. Apabila hasil recognise pada hari ke-dua dan pada hari
ke-tiga dapat diprogramkan bila masih perlu dilakukan. Untuk
efisinsi kerja selama mmelakukan recognize anda diwajibkan
melakukan pengamatan dari lokasi yang lain (namun jaraknya
belum rapat), mencatat (pada buku catatan lapangan) jenis
lithologi, mengukur jurus (strike) dan kemiringan (dip) perlapisan
batuan, dan melakukan plotting lokasi pada peta kerja. Tata cara
menempatkan lokasi pengamatan di lapangan pada peta dasar,
lihat pada sub bab terdahulu.

Hasil pengamatan tersubut di atas, dimanfaatkan untuk


menentukan rencana rute perjalanan pada penelitian
lapangan secara detail. Secara umum, sistematika penelitian
geologi di daerah batuan beku, batuan sedimen dan batuan
metamorf berbeda.
Apabila anda menjumpai singkapan geologi, awal pertama
yang wajib anda lakukan adalah melakukan penelitian secara
cermat, apakah jenis lithologi yang anda dapatkan itu masih di
tempat (in situ) atau merupan pindahan atau longsoran dari
tempat lain. Apabila masih merupakan lithologi yang in situ,
lakukan tata cara pengamatan seperti berikut ini.
Pada tiap-tiap lokasi pengamatan, perhatikan, cermati dan
catat pada buku lapangan, keadaan singkapan [(dimensi, jenis
batuan, warna lapuk dan warna segar, tebal perlapisan (kalau
ada), arah strike dan dip kekar (bila ada), jenis stuktur
sedimen (kalau ada), dan kenampakan geologi lainya]. Buat
sketsa kolom lithologi singkapan.
Untuk meingkatkan keyakinandiri dalam menghadapi tugas
pemetaan geolgi anda di anjurkan untuk membaca buku A
Field Guide Rocks and Minerals (Pough, 1976) sebuah
buku yang praktis untuk dibawa serta dalam tugas geologi di
lapangan. Apabila anda menjumpai jenis singkapan batuan,
cermati dan catat hal-hal sebagai berikut:
Untuk batuan beku, periksa jenis batuan beku, dimensi
singkapan, warna lapuk, warna segar, kenampakan tercirikan,
bentuk intrusi atau ekstrusi, struktur sheeting joint, struktur
columnar
joint
,
kemungkinan
adanya
mineralisasi,
kemungkinan terdapat mineral logam, baking effect. Warna

pada daerah baking effect, sentuhan dengan batuan sekitar,


akibat terjadinya sentuhan tersebut, amati dan ukur kekar
(bila ada), ambil coontoh batuan dan amati dengan lensa,
ambil contoh, dan tulis nomor kode contoh pada kantong dan
pada permukaan batuan (bila mungkin), dan masukkan dalam
kantong contoh. Tulis pada kantong contoh, nomor kode
contoh. Nomor kode contoh disesuaikan dangan kode nomor
lokasi pengamatan, di tambah dengan initial tertentu, misal
nomor lokasi pengamatan 1-10 (artinya pengamatan hari
pertama pada lokasi pengamatan nomor 10. Pada contoh
batuan tuliskan initial tertentu misal intial SR.1-10, tuliskan
yang sama dicantumkan juga pada kantong contoh. Buat
sketsa kolom lithologi singkapan.
Contoh batuan diambil paling tidak sebesar hand specimen
atau sesuai dengan keperluan. Perlu di perhatikan bahwa
nomor contoh batuan jangan sampai luntur atau terhapus
atau hilang. Bila nomor contoh batuan hilang, contoh tersebut
tidak lagi mempunyai arti dalam geologi. Bila anda
menganggap penting, singkapan yang anda temukan dibuat
gambar sketsa atau difoto. Pada saat anda memotret jangan
lupa meletekkan palu geologi atau penggaris atau spidol
sebagai pembanding ukuran pada singkapan yang difoto.

Untuk batuan sedimen, periksa jenis batuan sedimen, dimensi


singkapan, warna lapuk, warna segar, kenampakan tercirikan,
ketebalan lapisan, struktur sedimen, kontak dengan lapisan
batuan dibawahnya, jurus dan kemiringan lapisan batuan,
ukur arah kekar (joint), buat sketsa pola kekar (bila ada),
ambil contoh batuan dan amati dengan lensa, periksa
foraminifera besar perhatikan apakah terlihat liniasi, teteskan
larutan HCL untuk mengetahui sifat batuan apakah calcareous
atau tidak, ambil contoh batuan, dan tulis nomor kode contoh
pada kantong dan pada permukaan batuan (bila mungkin),
dan masukkan dalam kantong contoh. Buat sketsa kolom
lithologi singkapan.
Tulis pada kantong contoh, nomor kode contoh. Nomor kode
contoh disesuaikan dengan kode nomor lokasi pengamatan,
ditambah dengan initial tertentu, misal nomor lokasi
pengamatan 1-10 (artinya pengamatan hati pertama pada
lokasi pengamatan nomor 10) tuliskan SR.1-10. Pada contoh
batuan tuliskan intial tertentu misal initial SR.1-10, tuliskan
yang sama dicantumkan juga pada kantong contoh. Contoh
diambil paling tidak sebesar hand specimen atau sesuai
dengan keperluan. Perlu di perhatikan betul bahwa tulisan
pada nomor contoh jangan sampai luntur atau terhapus atau
hilang. Bila nomor contoh hilang, contoh tersebut tidak lagi

mempunyai arti dalam geologi. Bila anda menganggap


penting, singkapan yang anda temukan dibuat gambar sketsa
atau difoto. Pada saat anda memfoto jangan lupa meletakkan
palu geologi atau penggaris sebagai pembanding ukuran pada
singkapan yang difoto.
Untuk batuan metamorf, periksa jenis batuan metamorf,
dimensi singkapan, warna lapuk, warna segar, kenampakan
tercirikan, ketebalan lapisan, struktur metamorfik, kontak
dengan lapisan batuan dibawahnya, foliasi dan schistose,
liniasi mineral tertentu (misal mineral kuarsite), ukur arah
kekar (joint), buat sketsa pola kekar (bila ada), ambil contoh
batuan dan amati dengan lensa, periksa kemungkinan masih
terlihat adanya fosil, teteskan larutan HCL untuk mengetahui
sifat batuan apakah calcareous atau tidak. Buat sketsa kolom
lithologi singkapan. Ambil contoh batuan, dan tulis nomor
kode contoh pada kantong dan pada permukaan batuan (bila
mungkin), lagi dan masukkan dalam kantong contoh. Tulis
pada kantong contoh, nomor kode contoh. Nomor kode contoh
disesuaikan dengan kode nomor lokasi pengamatan, ditambah
dengan initial tertentu, misal nomor lokasi pengamatan 1-20
(artinya pengamatan hari pertama pada lokasi pengamatan
nomor 10), tulis SR 1-20. Pada contoh batuan tuliskan initial
tertentu misal initial SR. 1-20, tuliskan yang sama
dicantumkan juga pada kantong contoh.
Contoh di ambil paling tidak sebesar hand specimen atau
sesuai dengan keperluan. Perlu diperhatikan betul bahawa
tulisan pada nomor contoh jangan smapai luntur atau
terhapus atau hilang. Bila nomor contoh hilang, contoh
tersebut tidak lagi mempunyai arti dalam geologi. Bila anda
menganggap penting, singkapan yang anda temukan dibuat
gambar sketsa atau difoto. Pada saat anda memfoto jangan
lupa meletakkan palu geologi atau penggaris sebagai
pembanding ukuran pada singkapan yang difoto.
Singkapan
batuan intrusi, periksa jenis batuan yang
diintrusi dan batuan yang menginstrusi, dimensi singkapan,
warna lapuk, warna segar, kenampakan tercirikan, ketebalan
batuan yang menginstrusi, efek intrusi terhadap batuan yang
diinstrusi, kemungkinan terjadinya mineralisasi bahan galian
logam, bahan galian non logam, efek metamorfosa kontak
dengan lapisan batuan disekitarnya, ukur arah instrusi, bentuk
tubuh instrusi (dike, sill, apophyse), buat sketsa pola instrusi
(bila ada), dan buat sketsa kolom lithologi singkapan. Ambil
contoh batuan dan amati dengan lensa, ambil contoh batuan,
dan tulis nomor kode contoh dan pada permukaan batuan
(bila mungkin), dan masukkan dalam kantong contoh. Tulis
pada kantong contoh, nomor kode contoh. Nomor kode contoh

disesuaikan dengan kode nomor lokasi pengamatan, ditambah


dengan initial tertentu, misal nomor lokasi pengamatan 2-30
(artinya pengamatan hari pertama pada lokasi pengamatan
nomor 2-30). Tulis SR, 2-30. Pada contoh batuan tuliskan initial
tertentu misal initial SR.2-30, tulisan yang sama dicantumkan
juga ada kantong contoh. Contoh diambil paling tidak sebesar
hand specimen atau sesuai dengan keperluan. Perlu
diperhatikan betul bahwa tulisan pada nomor contoh jangan
smapai luntur atau terhapus atau hilang. Bila nomor contoh
hilang, contoh tersebut tidak lagi mempunyai arti dalam
geologi. Bila anda menganggap penting, singkapan yang anda
temukan dibuat gambar sketsa atau difoto. Pada saat anda
memfoto jangan lupa meletakkan palu geologi atau penggaris
sebagai pembanding ukuran pada singkapan yang difoto.
Singkapan batuan ekstrusi, periksa jenis batuan yang
dektrusi dan dimensi singkapan, warna lapuk, warna segar,
kenampakan
tercirikan,
kenampakan
struktur
aliran,
kemungkinan terdapat lubang-lubang keluarnya gas. buat
sketsa pola instrusi (bila ada), dan buat sketsa kolom lithologi
singkapan. Ambil contoh batuan dan amati dengan lensa,
ambil contoh batuan, dan tulis nomor kode contoh dan pada
permukaan batuan (bila mungkin), dan masukkan dalam
kantong contoh. Tulis pada kantong contoh, nomor kode
contoh. Nomor kode contoh disesuaikan dengan kode nomor
lokasi pengamatan, ditambah dengan initial tertentu, misal
nomor lokasi pengamatan 2-35 (artinya pengamatan hari
pertama pada lokasi pengamatan nomor 2-35). Tulis SR, 2-35.
Pada contoh batuan tuliskan initial tertentu misal initial SR.235, tulisan yang sama dicantumkan juga ada kantong contoh.
Contoh diambil paling tidak sebesar hand specimen atau
sesuai dengan keperluan. Perlu diperhatikan betul bahwa
tulisan pada nomor contoh jangan smapai luntur atau
terhapus atau hilang. Bila nomor contoh hilang, contoh
tersebut tidak lagi mempunyai arti dalam geologi. Bila anda
menganggap penting, singkapan yang anda temukan dibuat
gambar sketsa atau difoto. Pada saat anda memfoto jangan
lupa meletakkan palu geologi atau penggaris sebagai
pembanding ukuran pada singkapan yang difoto.
Untuk bahan tambang bahan galian, periksa jenis batuan
bahan tambang (logam atau non logam), tentukan nama
bahan galian dimensi singkapan , warna lapuk, warna segar,
kenampakan tercirikan, kenampakan struktur aliran, buat
sketsa pola instrusi (bila ada), ambil contoh batuan dan amati
dengan lensa, ambil contoh batuan, dan tulis nomor kode
contoh dan pada permukaan batuan (bila mungkin), dan
masukkan dalam kantong contoh. Tulis pada kantong contoh,

nomor kode contoh. Nomor kode contoh disesuaikan dengan


kode nomor lokasi pengamatan, ditambah dengan initial
tertentu, misal nomor lokasi pengamatan 2-30 (artinya
pengamatan hari pertama pada lokasi pengamatan nomor 230). Pada contoh batuan tuliskan initial tertentu misal initial
SR.2-30 Tulis SR, 2-30, tulisan yang sama dicantumkan juga
pada kantong contoh.
Contoh diambil paling tidak sebesar hand specimen atau
sesuai dengan keperluan. Perlu diperhatikan betul bahwa
tulisan pada nomor contoh jangan smapai luntur atau
terhapus atau hilang. Bila nomor contoh hilang, contoh
tersebut tidak lagi mempunyai arti dalam geologi. Bila anda
menganggap penting, singkapan yang anda temukan dibuat
gambar sketsa atau difoto. Pada saat anda memfoto jangan
lupa meletakkan palu geologi atau penggaris sebagai
pembanding ukuran pada singkapan yang difoto.
Pada saat anda memotret jangan lupa meletakkan palu
geologi atau penggaris sebagai pembanding ukuran pada
singkapan yang difoto.
Agar anda tidak ragu-ragu dalam mngenal singkapan bahan
galian logam anda di anjurkan untuk membekali diri sebelum
ke lapangan salah satu dengan mencermati buku Geologi
Mineral Logam (Sukandar-rumidi, 2007), sedang untuk
bahan galian non logam anda dianjurkan untuk membekali diri
dengan
membaca
buku
Bahan
Galian
Industri
(Sukarandarrumidi,
2004).
Apabila
anda
memerlukan
membuat test pit atau parit uji rencanakan dengan saksam
untuk dilakukan pada hari berikutnya.
Untuk batubara, umumnya dijumpai didaerah yang relatif
datar sehingga singkapan yang di dapatkan di lapangan juga
sangat jarang. Singkapan umumnya dijumpai pada alur-alur
kecil, itupun singkapan batubara yang didapatkan sangat
terbatas. Di lapangan, batubara didapatkan berasosiasi
dengan
batulempung
yang
padanya
kadang-kadang
ditemukan cetakan tulang daun, atau di dapatkan mineral
harzt (damar selo). Harzt adalah getah tumbuhan yang telah
menjadi fosil. Harzt ini berwarna kuning kotor hingga coklat,
dan bila dibakar dapat menyala. Dijumpainya cetakan tulang
daun pada batulempung dan mineral harzt, sebagai petunjuk
bahwa barubara ditempat itu terbentuk secara authochtonous
Untuk meyakinkan keberadaan batubara lebih lanjut di tempat
itu anda dianjurkan untuk membuat test pit, dan apabila telah
meyakinkan keberadaannya, test pit dapat dilanjutkan
dengam membuat parit uji. Pada saat membuat parit uji anda
harus memperhatikan arah larinya perlapisan batubara. Dari
beberapa test pit atau parit uji anda dapat mengetahui secara

sepintas keberadaan batu bara yang ada dipermukaan. Untuk


meyakinkan lebih lanjut keberadaan perlapisan batubara pada
kedalaman yang lebih besar anda dapat merencanakan dan
melakukan pemboran ini dangkal dan mengambil sampel
dengan mata bor berbentuk tabung. Pengintian boleh
dikatakan berhasil bila 95% dari panjang tabung penginti terisi
dengan batuan atau batubara dan batuan atau batubara
seluruhnya. Dari hasil pemboran ini ini, rekonstruksi dalam
bentuk log bore. Dari beberapa log bore akhirnya diperoleh
gambaran keadaan perlapisan batubara di bawah permukaan
dalam penyebaran berbentuk tiga dimensi. Untuk mengetahui
kualitas dan jenis batubara anda wajib mengambil contoh
paling sedikit 5 kg untuk diperiksa lebih lanjut di laboratorium.
Terdapat berbagai jenis batubara dari hasil kulaitasnya rendah
hingga kualitas tinggi mulai dari gambut, lignit, subbituminus,
bituminous, anthrasite dan grafit. Di laboratorium dengan
contoh ini akan dilakukan analisa proksimat (analisa sifat fisik
batubara) dan analisa ultimat (macam kandungan unsur
pembentuk batubara). Dalam suatu cekungan sedimentasi
bila tidak ada anomali geologi (struktur geologi dan instrusi
batuan beku) pada umumnya mempunyai jenis batubara yang
sama.
Agar anda tidak ragu-ragu dalam melakukan penelitian
tentang batubara dan turunanya anda dianjurkan untuk
membekali diri dengan membaca buku Batubara dan
Gambut (Sukarandarrumidi, 2004), dan buku berjudul
Batubara dan pemanfaatanya (Sukarandarrumidi, 2006).
Untuk singkapan struktur patahan, perhatikan pada peta
kerja apakah tampak terjadi pelurusan sungai, amati
kemungkinan terdapat slicken side, cermin sesar, milonite,
breksiasi, breksiasi pada breksi, drag fault, munculnya mata
air, terjadi tanah longsor lokal, pengeseran perlapisan pada
batuan yang terpatahkan (off set), kenampakan boudinage,
pola kekar akibat patahan, buat sketsa singkapan, buat
fotonya, jangan lupa meletakkan benda lain sebagai
pembanding ukuran. Perlu diperhatikan bahwa kenampakan
patahan di lapangan merupakan jalur daerah yang mengalami
gangguan, namun pada peta geologi digambarkan sebagai
suatu garis. Jalur daerah patahan merupakan daerah yang
labil, oleh sebab itu di tempat tersebut banyak dicirikan oleh
kenampakan tanah longsor. Perlu dicatat, jalur tanah longsor
meruapakan salah satu indikasi terjadinya patahan yang
cukup besar, namun tidak semua tahah longsor sebagai ciri
terjadinya patahan. Daerah jalur patahan yang cukup besar,
sering memberikan kenampakan morfologi dalam bentuk

triangular facet . kenampakan ini hanya dapat dilihat dan


diperhatikan dari jarak jauh.
Untuk mata air (spring), biasanya muncul pada alur-alur
yang agak dalam. Mata air muncul apabila muka air tanah
(water table) terpotong oleh permukaan topografi. Pola
penyebaran muka air tanah akan relatif serupa dengan pola
permukaan topografi. Mata air muncil diantara batuan yang
permeable (topografi berada di bagian atas) dan batuan
impermeable (biasanya batulempung/ berbutir halus) di
bagian bawah.
Di daerah hutan, air dari mata air dimanfaatkan oleh binatang
buas sebagai sumber air minum (terutama pada musim
kemarau). Oleh sebab itu sebelum mencoba untuk melakukan
penelitian lebih lanjut tentang keberadaan mata air tersebut,
cermati daerha sekitar apakah dalam keadaan aman.
Binatang buas akan mendatangi sumber mata air pada
menjelang sore hari untuk minum. Bila anda akan melakukan
pengamatan lebih lanjut tentang keberadaan mata air,
celupkan jari anda ke dalam air dan rasakan dengan lidah,
atau ukur pH air dengan kertas lakmus. Perubahan warna
pada kertas lakmus yang sudah dibasahi dengan air akan
dapat menunjukkan besaran nilai pH. Besaran nila pH = 6
hingga 7, menunjukkan pH yang netral dan air dapat
dipergunakan untuk keperluan rumah tangga.
Buat dan pasang V weir pada outlet sumber mata air, dengan
cara ini besarnya debit mata air dapat diukur. Plot keberadaan
mata air pada peta kerja anda, dan diberi tanda lingkaran
dengan tanda panah menghadap ke atas (simbol mata air).
Bila anda mendapatkan beberapa buah mata air dalam suatu
daerah yang berada pada satu garis lurus, hal tersebut
merupakan salah satu tanda keberadaan patahan.
Perlu di perhatikan, bila tidak terpaksa jangan sekali-kali anda
meminum air dari mata air yang diambil langsung dari mata
air tanpa dimasak terlebih dahulu. Keberadaan bakteri e-colli
sangat besar dan bakteri ini dapat menyebabkan sakit perut
dan diare. Gara-gara diare, beberapa hari anda mungkin tidak
dapat melakukan tugas di lapangan. Apabila diperlkukan
unutk analisa laboratorium, di ambil air minimum 5 liter dan di
tempatkan pada jirigen yang steril dan tidak berbau. Untuk
menghidari terjadinya kontaminasi pada air, cucilah jirigen
tersebut dengan air yang diambil dari mata air yang akan
diambil sebagai contoh. Lebih aman apabila air contoh
ditempatkan pada botol bekas air minum dalam kemasan
(AMDK), dapat dijamin botolnya steril. Pada anda tidak
disarankan untuk menyimpan air dengan jirigen bekas

minyak goreng, karena diyakini jirigen tersebut terbebas


dari minyak goreng.
Untuk mata air panas (hot spring), berkaitan dengan
penelitian potensi panas bumi. Kenampakan di lapangan mata
air panas akan muncul disertai dengan gelembung-gelembung
uap air, dan berbau belerang. Ukur suhu air dengan
termometer. Ambil contoh air panas dan tempatkan pada
botol yang terbuat dari gelas (jangan yang terbuat dari
plastik), selanjutnya di kirim ke laboratorium untuk di analisa.
Di beberapa tempat munculnya air panas telah dimanfaatkan
sebagai daerah wisata, termaksud wisata medis yaitu untuk
penyembuhan penyakit kulit. Hindarkan anda jangan
menghirup uap belerang yang keluar dari mata air panas. Bila
ini terjadi, pernafasan anda menjadi sesek dan timbul rasa
pusing.
Untuk oil seepage, atau rembesan minyak bumi, sering
ditemukan di lapangan di daerah penyebaran batuan
sedimen.
Rembesan
minyak
ini
seperti
air
yang
permukaannya berminyak dengan warna kebiruan, dan bila
ranting kayu sering dicelupkan pada rembesan minyak
kemudian didekatkan pada nyala api, maka kayu tersebut
akan mudah terbakar. Rembesan minyak bumi biasanya
muncul di daerah patahan yang berada pada salah satu sayap
antiklin. Plot tempat ditemukan oil seepage pada peta kerja,
ambil contoh dan masukkan ke dalam botol yang terbuat dari
gelas. Contoh ini kemudian dikirim ke laboratorium minyak
bumi untuk dianalisa.
Dalam melakukan pemetaan geologi permukaan semua
geologist memakai konsep geologi yang sama, yaitu konsep
lithostratigrafi, karena dengan konsep ini semua data yang
dipakai untuk menyusun peta geologi bersifat observable
(dapat dilihat dan diamati di lapangan). Oleh sebab itu
siapapun yang melakukan tugas pembuatan peta geologi
dengan konsep yang sama (lithostratigrafi) di pastikan akan
menghasilkan peta geologi yang serupa. Sebuah peta geologi
di anggap lengkap dan dapat diterima oleh pengguna, apabila
disusun dengan kaidah-kaidah geologi yang sudah disepakati
bersama, mencantumkan keterangan tentang variasi lithologi
secara stratigrafis, struktur geologi dan keteranganketerangan lain yang berkaitan, serta satu buah sayatan
geologi atau lebih sesuai dengan keperluan. Tata cara memilih
arah sayatan geologi, dan melakukan rekonstruksi struktur
geologi dapat dicermati pada sub bab berikutnya.

Tiap kali anda melakukan pengamatan geologi pada tiap-tiap


loasi pengamatan, hal hal yang perlu diperhatikan antara lain:

Untuk singkapan dalam bentuk batuan, disamping hal-hal


tersebut di atas, perlu dibuat sketsa kolom lithologi singkapan,
agar dilakukan seteliti mungkin. Susun kolom lithologi lokal
dari dua lokasi yang berdekatan. Hal yang sama kerjakan
untuk lokasi yang lain. Dengan cara demikian akan diperoleh
urutan kolom lithologi lokal yang lengkap. Jangan dilupakan
membuat gamabr sketsanya.
Untuk singkapan struktur patahan, buat sketsa atau diambil
fotonya. Buat deksripsi singkapan selengkap mungkin.
Hindarkan anda untuk datang kedua kalinya di tempat yang
sama hanya sekedar untuk melengkapi deksripsi yang telah
dibuat pada pengamatan sebelumnya.
Bebera hal yang perlu mendapat perhatian pada saat anda
bekerja di lapangan antara lain :

Semua lokasi pengamatan harus di-plot di peta kerja,


termaksud nomor lokasinya.
Jangan lupa, lokasi pengamatan dengan contoh batuan di beri
warna merah.
Bila ada pengukuran jurus (strike) dan kemiringan lapisan
(dip) perlapisan batuan, segera di-plot, dan tulis besaran nilai
strike dan dip-nya.
Gambarkan pada masing-masing lokasi, kolom lithologi
singkapan.
Makin rapat lokasi pengamatan di lakukan, akan makin baik.
Lakukan kolerasi lithologi antar singkapan atau antar lokasi.
Beri warna yang sama untuk lithologi yang sama.
Rekonstruksi dari gabungan kolom lithologi singkapan,
menjadi kolom lithologi satuan, dan selanjutnya kelompokan
menjadi satuan batuan-satuan batuan.
Tentukan batas-batas antar satuan batuan
Beri warna masing-masing satuan batuan
Hasil akhir terbentuklah peta geologi lapangan, yang
merupakan master draft peta geologi. Tugas selanjutnya,
anda menghaluskan peta geologi lapangan, menjadi peta
geologi sementara dengan mempertimbangkan data-data
yang anda dimiliki. Dalam rangka menyusun peta geologi
yang
merupakan
produk
akhir,
sekarang
anda
memindahkan hasil pengukuran strike dan dip, batas satuan
dan struktur geologi yang terdapat di daerah penelitian. Untuk
menentukan kedudukan sumbu antiklin atau sinklin, buatlah
dua sayatan geologi atau lebih dengan arah sayatan tegak
lurus pada jurus perlapisan batuan. Dari masing-masing
rekonstruksi struktur tentukan di peta geologi lokasi titik-titik
yang dilalui oleh sumbu perlipatan. Plot-kan lokasi titik-titik itu
pada peta geologinya, hubungkan lokasi titik-titik tersebut

dengan garis. Garis itu merupakan ekspresi sumbu perlipatan,


yang selanjutnya dapat di gambarkan pada peta geologi yang
merupakan produk terakhir. Dalam membuat rekonstruksi
struktur geologi usahakan memakai model rekonstruksi
mathematis teknis, dan usahakan hindarkan dengan metode
free-hand. Model yang terakhir ini dapat diterapkan apabila
model rekonstruksi struktur matematis teknis tidak dapat
diaplikasikan.
Catatan
Di antara geologist telah ada semacam konvensi tata
cara memberi dan memilih warna sebagai notasi atau simbol
lithologi. Untuk menghindari penggunaan warna yang berlebihan,
telah disepakati antara lain bahwa untuk:

Warna merah untuk simbol batuan beku. Apabila di


suatu daerah yang dipetakan terdapat lebih dari satu
jenis batuan beku, untuk membedakan jenis tersebut
pada warna yang merupakan simbol batuan beku
dibenarkan untuk di tambahkan notasi yang lain, misal
dapat ditambahkan tulisan diorite. Tulisan yang sama
ditambahkan pada kolom litologi, kolom stratigrafi dan
pada keterangan simbol lithologi peta. Hal serupa dapat
diberlakukan, dan tambahkan tulisan andesite, basalt
dan sebagainya. Tata cara yang lain dapat dilakukan
dengan membuat gradasi warna.
Warna biru untuk simbol batugamping. Dapat dibedakan
batugamping klastik (dengan ditambah tulisan klastik),
dan batugamping non klastik (dengan ditambah tulisan
tulisan non klastik).
Warna kuning untuk simbol batupasir. Hal yang serupa
dapat dituliskan seperti pada batuan beku.
Warna hijau untik simbol batu lempung. Hal yang serupa
dapat dituliskan seperti pada batugamping.
Warna ungu untuk simbol batuan metamorf. Hal yang
serupa dapat dituliskan seperti batuan beku.
Warna muda untuk simbol endapan baru.