Anda di halaman 1dari 18

TEACHING HEALTH ETHICS

PENDAHULUAN

Ilmu pengobatan dan pembedahan kuno sudah dikenal sejak jaman Mesir Kuno sekitar
5000 tahun yang lalu. Baru sekitar 500 tahun sebelum masehi, Hippocrates (460-377
SM) memperkenalkan ilmu kedokteran modern yang didasarkan atas rasio dan ilmu
pengetahuan alam, kimia, matematika, biologi dan sebagainya. Ilmu kedokteran modern
dan etik kedokteran bertumpu pada kebudayaan dan etik Barat yang berurat akar pada
kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno.
Istilah etik berasal dari kata Yunani, ethos yang berarti adat istiadat, atau dari
kata ethos yang berarti watak, sikap, kelakuan, sepak terjang, tingkah laku, kesusilaan,
moral. Etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak atau moral. Sedangkan
istilah moral berasal dari kata mos (Latin), atau kata mores (Yunani) yang berarti adat-
istiadat.
Etik kedokteran bertumpu pada etika umum yang ada sejak manusia lahir,
berlaku seumur hidup, dimana pun, dalam segala situasi dan kondisi, di lingkungan
apapun, tetapi selalu dinamis dan harmonis dengan kehidupan kemanusiaan,
kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dalam proses pemeriksaan pasien, seorang dokter harus berpedoman pada etik
kedokteran yang pada umumnya berlaku seperti misalnya: 1) memberi kesempatan
kepada pasien dan keluarganya untuk mengiformasikan keluhan, gejala, pengamatan,
riwayat sakit dan sebagainya tanpa interupsi, 2) tanya jawab untuk penjelasan dan
kejelasan, tanya jawab yang terarah dengan selalu menghormati integritasnya,
kepercayaan dan kerahasiaan dari pasien dan keluarganya, 3) memberi informasi,
penyuluhan dan pembinaan yang cukup dan dapat dimengerti pasien dan keluarganya,
sehingga mampu mengambil keputusan yang perlu untuk informed consent pasien.
Ada dua jenis etika yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Etika jabatan (medical ethics)
Etika jabatan kedokteran menyangkut masalah yang berkaitan dengan sikap para
dokter terhadap teman sejawat, para pembantunya serta terhadap masyarakat dan
pemerintah.
2. Etika asuhan kedokteran (ethics of medical care)

1
Etika asuhan kedokteran merupakan etika kedokteran untuk kehidupan sehari-hari,
yaitu mengenai sikap dan tindakan seorang dokter terhadap penderita yang
menjadi tanggungjawabnya.
Kehidupan pada masa lalu agaknya lebih mudah dibandingkan dengan
kehidupan masa kini. Hal ini disebabkan timbulnya masalah konflik karena terdapat
perbedaan nilai antara karyawan kesehatan dan pasien selaku pihak yang harus
mengambil keputusan. Adanya perubahan yang mendasar dalam ilmu kedokteran dan
pelayanan kesehatan di bawah pengaruh ilmu dan teknologi kedokteran dengan segala
kemungkinannya membawa dampak bagi penilaian etik.
Sesuai dengan perkembangan jaman, maka sampai dengan saat ini paling tidak
telah terjadi tiga jenis transformasi etik kedokteran, yaitu:
1. Transformasi sosial, karena perubahan sosio-budaya masyarakat (dari ilmu
pengobatan kuno ke ilmu kedokteran modern dan dari kedokteran individual ke
kedokteran atau kesehatan masyarakat (community medicine/ community health).
2. Transformasi teknologi, akibat perubahan teknologi kedokteran (dari teknologi
sederhana atau manual ke teknologi canggih atau instrumental/ machinal).
3. Transformasi konseptual, akibat perubahan konsep dari dan dalam ilmu kedokteran
atau kesehatan modern.
Untuk memperjelas sifat radikal dari transformasi konseptual ini, dapat
dikemukakan beberapa paradoks yang telah diakui dan dibenarkan, kadang-kadang
dianggap terlalu jahat dan kadang-kadang juga dianggap melampaui batas.
Paradoks 1: Ilmu kedokteran modern memungkinkan, dan kadang-kadang malah
perlu, mempertahankan orang yang sudah mati agar tetap hidup.
Paradoks 2: Ilmu kedokteran modern berusaha dan mencoba menyembuhkan keadaan
yang tidak ada perasaan sakit atau keadaan yang dirasakan tidak ada
penyakit; artinya menyamakan kondisi medis yang tanpa gejala sebagai
penyakit. Kadang ilmu kedokteran modern malah menggolongkan risiko
sebagai penyakit (seperti misalnya hipertensi ringan). Pada umumnya
ilmu kedokteran modern mengaburkan perbedaan antara penyakit dan
risiko. Bagi awam, hal tersebut seperti menyamakan mendung hitam
dengan angin ribut disertai guntur.
Prof. John Ladd dari Brown University, Providence, Rhode Island (USA) dalam
makalahnya Paradoxes of Modern Medicine, pada 7th World Congress on Medical Law
di Gent, 18-22 Agustus 1985, mengatakan bahwa "Apa yang tidak boleh kita lupakan

2
ialah bahwa tujuan ilmu kedokteran adalah menanggulangi problem-problem manusia,
daripada menanggulangi penyimpangan-penyimpangan yang didapat antara molekul-
molekul, meskipun pengetahuan tentang penyimpangan antara molekul-molekul itu
sering membantu dalam menanggulangi problem manusia".
Sebagian besar orang menganut dua teori etika, yaitu:
1. Teori Deontologi
Deontologi mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari
perbuatannya itu sendiri (I Kant). Deontologi lebih mendasarkan kepada ajaran
agama, tradisi, dan budaya.
2. Teori Teleologi.
Teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat hasilnya
atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Mills). Teleologi lebih ke arah penalaran
(reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian).
Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu
keputusan etik diperlukan empat kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa
rules di bawahnya. Keempat kaidah dasar moral tersebut adalah:
1. Prinsip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang
ditujukan ke kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan
untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih
besar daripada sisi buruknya (mudharat);
2. Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang
memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai "primum non nocere"
atau "above all do no harm".
3. Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama
hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang
kemudian melahirkan doktrin informed consent;
4. Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan
dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive
justice).
Sedangkan hal yang lainnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka),
privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan
pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping).
Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman
dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi

3
sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Nilai-nilai
etika profesi tersebut tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran.
Dalam dunia kedokteran, terdapat beberapa kode etik yang berlaku secara
internasional dan nasional untuk negara tertentu. Kode etik internasional yang
dideklarasikan oleh Ikatan Dokter Sedunia antara lain :
1. Deklarasi Helsinki tahun 1964 tentang penelitian dengan Objek Manusia,
2. Deklarasi Sydney tahun 1968 dan Deklarasi Venice tahun 1983 tentang Kriteria
Mati dan Penyakit Terminal yang dikaitkan dengan Transplantasi Organ,
3. Deklarasi Oslo tahun 1970 tentang Pengguguran Kandungan,
4. Deklarasi Munich tahun 1973 tentang Penerapan Teknologi Administrasi,
5. Deklarasi Tokyo tahun 1975 tentang pengguguran Obat-obatan Terlarang
6. Deklarasi Brussel tahun 1985 tentang Bayi Tabung, dan
7. Deklarasi Madrid tahun 1987 tentang Euthanasia dan Rekayasa Genetika.
Sedangkan di Indonesia Kode Etik Kedokteran Indonesia pertama kali disusun
tahun 1969 dalam musyawarah kerja Susila Kedokteran yang dilaksanakan di Jakarta.
Bahan rujukan yang digunakan adalah Kode Etik Kedokteran Internasional yang telah
disempurnakan pada tahun 1968 melalui Muktamar ke-22 Ikatan Dokter Sedunia. Kode
Etik tersebut mengalami beberapa kali perubahan, pada musyawarah kerja nasioal IDI
XIII, 1993, Kode Etik Kedokteran Indonesia itu telah diubah menjadi 20 pasal yang
dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
1. Kewajiban umum seorang dokter (sembilan pasal)
2. Kewajiban dokter terhadap penderita (lima pasal)
3. Kewajiban dokter terhadap teman sejawat (dua pasal)
4. kewajiban dokter terhadap diri sendiri (dua pasal)
5. Penutup (satu pasal)

KASUS

The conflict between clinical care and a seminar


Physician: In the ward setting we have shortage of doctors. We had patients and there
was another very important programme coming up. We are three doctors and all
required in another activity. So we have to deal with the rest of the activities on a low-
priority basis. Suppose WHO asked us to conduct a seminar. Conducting a seminar at
the expense of patient care in the hospital is big dilemma, which bothers us. If we are
engaged in a seminar, we are supposed to work very hard, morning to evening with full

4
attention because we have to arrange so many things. We have to stay away from OPD.
The inpatients would need attention which we will not be able to give. We have one
instance where a patient had a fracture of the femur. A massive pressure sore went into
the facial plains; it went into the muscle and involve a bone. The bone got fractured
and came out of the skin. The patient was a young boy of 18 years and he was in such a
bad shape. He required dressing 4-5 times a day. In case he had gas gangrene he might
not survive. It was a life-threatening condition. Of course, we were doing all the
necessary things for him but we were not able to pay sufficient attention to this patient
because the impending seminar. At the same time we could not neglect him completely.
As soon as his medical condition stabilized and his infection came under control, which
was some 3-4 weeks before the seminar, we told him that we did not have the means
then because we were engaged in another activity. “In case you can get dressing at
home by another doctor, you would be better off. The danger phase is over, and you
can now go home,” we told him. But had the seminar not been there, we would not
have told him to go.

I. MASALAH MORAL YANG TERJADI

1. Bagaimana peran dokter dalam hubungan dokter-pasien dalam kasus tersebut?


2. Apa hal yang bisa kita lakukan dan seberapa banyak?
3. Bagaimana sikap anda sebagai dokter bila menghadapi kasus tersebut?

II. FAKTA-FAKTA

2.1 Dimensi Sosial

Hubungan dokter-pasien. Jenis hubungan dokter-pasien sangat dipengaruhi oleh etika


profesi kedokteran, sebagai konsekuensi dari kewajiban-kewajiban profesi yang
memberikan batasan atau rambu-rambu hubungan tersebut. Kewajiban-kewajiban
tersebut tertuang di dalam prinsip-prinsip moral profesi, yaitu otonomi, beneficence,
nonmaleficence, dan justice, yang disebut sebagai prinsip utama; dan veracity, fidelity,
privacy, dan confidentiality sebagai prinsip turunannya.
Pada awalnya hubungan dokter-pasien adalah hubungan yang bersifat
paternalistik, dengan prinsip moral utama adalah beneficence. Sifat hubungan
paternalistik ini kemudian dinilai telah mengabaikan nilai otonomi pasien, dan dianggap
tidak sesuai dengan perkembangan moral (orang barat) saat ini, sehingga
berkembanglah teori hubungan kontraktual (sekitar tahun 1972 - 1975). Konsep ini

5
muncul dengan merujuk kepada teori social contract di bidang politik. Veatch (1972)
mengatakan bahwa dokter dan pasien adalah pihak-pihak yang bebas, yang meskipun
memiliki perbedaan kapasitas dalam membuat keputusan, tetapi saling menghargai.
Dokter akan mengemban tanggungjawab atas segala keputusan teknis, sedangkan
pasien tetap memegang kendali keputusan penting, terutama yang terkait dengan nilai
moral dan gaya hidup pasien. Hubungan kontrak mengharuskan terjadinya pertukaran
informasi dan negosiasi seblum terjadinya kesepakatan, namun juga memberikan
peluang kepada pasien untuk menyerahkan pengambilan keputusan kepada dokter.
Walaupun hubungan dokter-pasien ini bersifat kontraktual, namun mengingat
sifat praktek kedokteran yang berdasarkan ilmu empiris, maka prestasi kontrak tersebut
bukanlah hasil yang akan dicapai (resultaat verbintennis) melainkan upayanya yang
sungguh-sungguh (inspanning verbintennis). Hubungan kontrak semacam ini harus
dijaga dengan peraturan perundang-undangan dan mengacu kepada suatu standar atau
benchmark tertentu. Oleh karena itu sejak sebelum Masehi telah ada Code of
Hammurabi yang mengancam dengan pidana bagi dokter yang karena salahnya telah
mengakibatkan cedera atau matinya pasiennya, dan Code of Hittites yang mewajibkan
dokter untuk membayar ganti rugi kepada pasiennya yang terbukti telah dirugikan
karena kesalahannya/kelalaiannya.
Dengan menganggap bahwa teori kontrak telah terlalu menyederhanakan nilai
hubungan dokter dengan pasien, maka Smith dan Newton (1984) lebih memilih
hubungan yang berdasar atas virtue sebagai hubungan yang paling cocok bagi
hubungan dokter-pasien. Hubungan kontrak mereduksi hubungan dokter-pasien
menjadi "peraturan" dan "kewajiban" saja, sehingga seseorang dokter dianggap "baik"
bila ia telah melakukan kewajiban dan peraturan (followed the rules). Hubungan
kontrak tidak lagi mengindahkan empathy. compassion, perhatian, keramahan,
kemanusiaan, sikap saling mempercayai, itikad baik, dan lainnya yang merupakan
bagian dari virtue-based ethics (etika berdasar nilai kebajikan/keutamaan). Pada
hubungan dokter-pasien yang virtue-based dirumuskan bahwa hubungan itu bertumbuh
dan berkembang sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pun ketentuan yang
ditentukan pada permulaan dapat menentukan masa depan. Baik dokter maupun pasien
harus tetap berdialog untuk menjaga berjalannya komunikasi dalam rangka mencapai
tujuan bersama, yaitu kesejahteraan pasien. Tentu saja komunikasi yang baik tersebut
membutuhkan prinsip-prinsip moral di atas, termasuk informed consent yang berasal
dari prinsip otonomi.

6
Keseimbangan Hak dan Kewajiban. Pembahasan filosofis tentang keseimbangan
antara hak dan kewajiban selayaknya mengingat ucapan Mahatma Gandhi: “I learnt
from my illiterate but wise mother that all rights to be deserved and preserved came
from duty well done". Jadi, hak yang patut didapat dan dilindungi adalah imbalan
terhadap kewajiban yang telah dilaksanakan dengan baik. Hak atas kesembuhan dan
kesehatan tidak terdapat dalam hak asasi. Dokter dan rumah sakit tidak dapat
menjanjikan dan menjamin kesembuhan dan kesehatan.
Adapun hak-hak pasien dalam hukum kedokteran yang bertumpu dan
berdasarkan atas dua hak asasi manusia, yaitu :
1. Hak atas pemeliharaan kesehatan (The Right to Health Care)
2. Hak untuk menentukan nasib sendiri (The Right to Self Determination)
Untuk mengatur hal tersebut maka dibuatlah Deklarasi Lisabon 1981 yang
mengatur tentang hak yang dimiliki oleh pasien, yaitu :
1. Pasien berhak memilih dokternya secara bebas.
Seseorang mempunyai hak unutuk memilih dokter yang ia harapkan dapat
memberikan suatu pertolongan. Seseorang memilih dokter mungkin didasarkan atas
beberapa pertimbangan lain, seperti:
a. keadaan sosial ekonomi pasien,
b. kepopuleran dokter,
c. kelengkapan peralatan kedokteran,
d. jarak tempat antara dokter dan pasien, atau
e. prestise pasien.
2. Pasien berhak menerima atau menolak tindakan pengobatan sesudah ia memperoleh
informasi yang jelas. Informasi ini meliputi:
1. tindakan yang diambil,
2. resikonya,
3. kemungkinan akibat yang timbul berikut jenis tindakan yag dilakukan untuk
dapat mengatasinya,
4. Kemungkinan yang akan terjadi bila tindakan tidak dilakukan, dan
5. prognosis.
3. Pasien berhak mengakhiri atau memutuskan hubungan dengan dokternya dan bebas
untuk memilih atau menggantinya dengan dokter lain. Dengan perkataan lain,

7
dokter tidak berhak mencegah/melarang/menghalangi pasien yang ingin berobat ke
dokter lain.
4. Pasien berhak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinis
dan pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
5. Pasien berhak atas privacy yang harus dilindungi, ia pun berhak atas sifat
kerahasiaan data-data mediknya.
6. Pasien berhak mati secara bermartabat dan terhormat.
Hidup adalah anugrah dari Tuhan sehingga kita wajib memelihara dan menjaganya
sebaik mungkin dan selayaknya seorang doktr menghargainya.
7. Pasien berhak menerima/menolak bimbingan moril ataupun spiritual.
8. Pasien berhak mengadukan dan berhak atas penyelidikan pengaduannya serta
berhak diberi tahu hasilnya.

Di sisi lain pasien juga memiliki kewajiban yang harus dipenuhi antara lain:
1. Provision of accurate and complete information, current and past history, yaitu
memberi informasi yang tepat dan lengkap mengenai riwayat sakit yang telah lalu.
2. Respect to professional dignity, privacy and confidentiality, yaitu menghormati
profesi dokter, kepribadian atau kesendirian, atau tidak diganggu dan rahasia dokter.
3. Compliance to recommendations and instructions for medical care, yaitu mentaati
nasehat dan petunjuk pelayanan medis.
4. Respect rules and regulation for health care, yaitu menghormati aturan dan
pengaturan mengenai pelayanan kesehatan.
5. Fulfill all financial obligations of his health care as promptly as possible, yaitu
memenuhi semua kewajiban membayar mengenai pelayanan kesehatan baginya
secepat mungkin.
6. Respect and consideration to other patient and health personnel yaitu menghormati
dan memperhatikan kepentingan milik pasien lain dan petugas kesehatan.
7. Responsible for refusal of treatment, yaitu bertanggung jawab sendiri atas
penolakan pengobatannya.
8. Mentaati segala peraturan dan tata tertib RS.

Dokter juga mempunyai hak, yaitu :


1. Hak untuk menolak bekerja di luar standar profesi medik.
Seseorang dokter dapat saja menolak untuk melakukan tindakan medik tertentu
walaupun pihak pasien mendesaknya. Hal ini perlu ditegakkan agar setiap dokter

8
memperoleh kepastian bahwa tindakan-tindakannya perlu dipercayai sebagai suatu
tindakan medik yang profesional.
2. Hak untuk menolak tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik profesi dokter. Hak
ini dimiliki oleh dokter agar setiap dokter diberi kesempatan untuk menjaga
martabat profesinya.
3. Hak untuk memilih pasien dan mengakhiri hubungan dengan pasien, kecuali dalam
keadaan gawat darurat.
4. Hak atas privacy dokter.
Dalam hubungan dokter dengan pasien dapat saja pasien ingin mengetahui
kehidupan pribadi dokter.
5. Hak untuk menerima balas jasa atau honorarium yang pantas.
6. Menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh pasien dengan ucapan atau
tindakan yang melecehkan atau memalukan.

Selain itu dokter memiliki kewajiban:


1. Mematuhi peraturan RS sesuai dengan hubungan hukum antara dokter dengan RS.
2. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan menghormati hak
pasien.
3. Merujuk pasien ke dokter atau ke RS lain yang mempunyai keahlian dan
kemampuan yang lebih baik, apabila dokter tidak mampu melakukan sesuatu
pameriksaan atau pengobatan.
4. Melakukan pertolongan darurat sebagai tugas perikemanusiaan, kecuali bila dokter
yakin ada orang lain yang bersedia dan mampu memberikannya.
5. Bekerjasama dengan profesi dan pihak lain yang terkait, secara timbal balik dalam
memberikan pelayanan kepada pasien.

Pihak Rumah Sakit berhak:


1. Mensyaratkan bahwa pasien harus mentaati segala peraturan RS.
2. Mensyaratkan bahwa pasien harus mentaati segala instruksi dokter yang diberikan
kepadanya.
3. Menuntut pihak-pihak yang telah melakukan wanprestasi (ingkar janji), termasuk
pasien, pihak ketiga, dan lainnya.
4. Melaksanakan rencana pemeriksaan dan pengobatan yang diperintahkan dokter,
dengan peralatan dan tenaga yang tersedia sesuai peraturan RS.
5. Memegang teguh jadwal pemeriksaan dan pengobatan sesuai perintah dokter.

9
6. Menolak dan mengeluarkan pasien yang menyatakan menolak atas pemeriksaan dan
pengobatan, atau pasien yang tidak mentaati perintah dokter dan perawat.
7. Memperoleh imbalan atas semua biaya pelayanan RS sesuai peraturan RS, dan
dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Pihak Rumah Sakit memiliki kewajiban:


1. Mematuhi peraturan perundang-undangan dan peraturan yang dikeluarkan oleh
pemerintah.
2. Memberikan pelayanan kepada pasien tanpa membedakan suku, ras, agama, seks,
atau status sosial pasien.
3. Merawat pasien dengan sebaik-baiknya dengan tidak membedakan kelas perawatan
(duty of care).
4. Menjaga mutu perawatan dengan tidak membedakan kelas perawatan (quality of
care).
5. Memberikan pertolongan pengobatan di unit gawat darurat tanpa meminta jaminan
materi terlebih dahulu.
6. Melindungi dokter, memberikan bantuan administrasi dan hukum bilamana seorang
dokter dalam melaksanakan tugasnya mendapat perlakuan tidak wajar atau tuntutan
hukum dari pasien atau keluarganya.
7. Menghormati hak dan keluhuran pasien.
8. Memberikan perincian mengenai semua tagihan biaya kepada pasien.

Etika klinik. Jonsen, Siegler, dan Winslade (2002) mengembangkan teori etik yang
menggunakan empat topik yang esensial dalam pelayanan klinik, yaitu:
1. Medical indication
Dalam topik medical indication dimasukkan semua prosedur diagnostik dan terapi
yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya. Penilaian aspek
indikasi medis ini ditinjau dari sisi etiknya, terutama menggunakan kaidah
beneficence dan nonmaleficence. Pertanyaan etika pada topik ini adalah serupa
dengan seluruh informasi yang selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin
informed consent.
2. Patient preferrences
Pada topik patient preferrence kita memperhatikan nilai (value) dan penilaian
pasien tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan
kaidah otonomi. Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi

10
pasien, sifat volunter sikap dan keputusannya, pemahaman atas informasi, siapa
pembuat keputusan bila pasien tidak kompeten, nilai dan keyakinan yang dianut
pasien, dan lainnya.
3. Quality of life
Topik quality of life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran, yaitu
memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa, siapa, dan
bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan pertanyaan etik sekitar
prognosis, yang berkaitan dengan beneficence, nonmaleficence dan otonomi.
4. Contextual features
Dalam contextual features dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang
mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya,
kerahasiaan, alokasi sumber daya dan faktor hukum.

Imbalan jasa. Pertolongan dokter terutama didasarkan pada perikemanusiaan; di-


berikan tanpa perhitungan terlebih dahulu tentang untung ruginya, setiap penderita
harus diperlakukan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. Meskipun demikian hasil dari
pekerjaan itu hendaknya juga dapat memenuhi keperluan hidup sesuai dengan
kedudukan dokter dalam masyarakat. Alat-alat kedokteran seperlunya, kendaraan,
perpustakaan sederhana, santapan rohani, kewajiban sosial, dan lain-lain, semuanya itu
memerlukan anggaran belanja. Jadi sudah selayaknya kalau dokter menerima imbalan
jasa untuk pengabdian profesinya. Karena sifat perbuatan dokter yang mulia, maka
uang yang diterimanya tidak diberi nama upah atau gaji, melainkan honorarium atau
imbalan jasa.
Pedoman dasar imbalan jasa dokter adalah sebagai berikut:
1. Imbalan jasa dokter disesuaikan dengan kemampuan pasien.
2. Karya dan tanggung jawab dokter.
3. Dikomunikasikan dengan jelas. Besarnya imbalan jasa dokter dikomunikasikan
dengan jelas kepada penderita.
4. Tidak dapat diseragamkan. Imbalan jasa dokter sifatnya tidak mutlak dan pada
dasarnya tidak dapat diseragamkan. Imbalan jasa dapat diperingan atau sama sekali
dibebaskan, misalnya: 1. Jika ternyata bahwa biaya pengobatan seluruhnya terlalu
besar untuk penderita, 2. karena penyakit-penyakit yang tidak terduga membuat
biaya pengobatan jauh di luar perhitungan semula. Bilamana pasien yang dirawat di
rumah sakit menanggung biaya pengobatan seluruhnya terlalu berat, imbalan jasa

11
untuk dokter dapat diperingan atau dibebaskan sama sekali.
5. Mengutamakan pertolongan pertama. Bagi pasien yang mengalami musibah akibat
kecelakaan, pertolongan lebih diutamakan daripada imbalan jasa.
6. Pengajuan keringanan. Seorang pasien dapat mengajukan permohonan untuk
mendapat keringanan imbalan jasa dokter, langsung kepada dokter yang
merawatnya.
Dalam hal ketidakserasian mengenai imbalan jasa dokter jika perlu dapat diselesaikan
melalui Ikatan Dokter Indonesia setempat. Dalam hal ini pihak IDI akan mendengarkan
kedua belah pihak sebelum menetapkan keputusannya.

2.2 Dimensi Kedokteran

Selain empat kaidah dasar moral (moral principle) yang harus dijadikan pedoman
dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika
profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct).
Nilai-nilai dalam etika profesi tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik
kedokteran. Sumpah dokter berisikan suatu "kontrak moral" antara dokter dengan
Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan "kontrak
kewajiban moral" antara dokter dengan peer-groupnya, yaitu masyarakat profesinya.
Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah
kewajiban moral yang melekat kepada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut
bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum, namun
kewajiban moral tersebut haruslah menjadi "pemimpin" dari kewajiban dalam
hukum kedokteran.

Lafal Sumpah Dokter Indonesia. Lafal sumpah dokter Indonesia pertama kali
dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1960. Kemudian melalui
Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran ke-2 (1981) dilakukan beberapa
perubahan, dan akhirnya lafal sumpah dokter (Indonesia) disahkan melalui Surat
Keputusan Menteri Kesehatan No. 434/Menkes/SK/X/1983, lafal sumpah dokter ini
wajib diucapkan pada saat pelantikan seorang dokter baru.
“Demi Allah saya bersumpah/berjanji, bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan;
Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhomat dan bersusila, sesuai
dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter;
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan
kedokteran;

12
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya;
Saya akan tidak mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang
bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam;
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita;
Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh
pertimbangan keagamaan, kesukuan, perbedaan kelamin, politik kepartaian, atau
kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita;
Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan;
Saya akan memberikan kepada guru-guru dan bekas guru-guru saya penghormatan dan
pernyataan terima kasih yang selayaknya;
Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin
diperlakukan;
Saya akan menaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia;
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan
kehormatan diri saya.”

Kode Etik Kedokteran Indonesia. Etika kedokteran merupakan pedoman yang ideal
bagi dokter dalam menjalankan profesinya, dan yang semula tidak tertulis, hanya
tersirat dalam sumpah dokter. Oleh World Medical Association (WMA) dalam
Muktamarnya di London pada Oktober 1949, dirumuskan secara tertulis menjadi
Internasional Code of Medical Ethics. Ikatan Dokter Indonesia yang juga menjadi
anggota WMA pada tahun 1960 merumuskannya menjadi Kode Etik Kedokteran
Indonesia (KODEKI).
Surat Keputusan Menteri Kesehatan (SK Menkes) RI No. 80/DPK/I/K/196,
menetapkan KODEKI berlaku bagi semua dokter di Indonesia. Pada Tahun 1981,
KODEKI diubah dan disempurnakan, dan dengan SK Menkes No.
434/MENKES/SK/X/1983, ditetapkan berlakunya bagi para dokter di Indonesia.
Pedoman pelaksanaan KODEKI yang ditetapkan oleh IDI pada tahun 1991 memberi
petunjuk lebih terperinci dalam pelaksanaan KODEKI.
Sumpah dokter dan beberapa ketentuan dalam KODEKI sudah diatur dalam
peraturan perundang-undangan, sedang KODEKI sendiri sudah diberlakukan dengan
keputusan Menteri Kesehatan, sehingga sebagian dari etik kedokteran sudah masuk
dalam wilayah hukum kedokteran. Hal ini membawa konsekuensi bahwa pelanggaran
memang sulit dinilai dan sulit dibuktikan, dan juga tidak dapat dihukum karena adanya
hak dasar individu (the right of self-determination), berdasar The Universal Declaration
of Human Rights.
Bunyi pasal-pasal KODEKI sesuai dengan S.K. P.B. IDI No. 221/PB/A.4/04/2002
adalah sebagai berikut:

13
Pasal 1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan
sumpah dokter.
Pasal 2. Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai
dengan standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3. Dalam melaksanakan pekerjaan seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengkibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4. Setiap dokter harus menghindari diri dari perbuatan yang bersifat memuji
diri.
Pasal 5. Setiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis
maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien,
setelah memperoleh persetujuan pasien.
Pasal 6. Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan
menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yag belum diuji
kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7. Setiap dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah
diperiksa sendiri kebenarannya.
7a. Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya memberikan pelayanan
medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya,
disertai rasa kasih sayang (compasion) dan penghormatan atau martabat
manusia.
7b. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan
sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau
kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam
menangani pasien.
7c. Seorang dokter harus senantiasa menghormati hak-hak pasien, hak-hak
sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga
kepercayaan pasien.
7d. Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup
makhluk insani.
Pasal 8. Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan
kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan
kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif),
baik fisik maupun psikososial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi
masyarakat yang sebenar-benarnya.
Pasal 9. Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan
dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghargai.
Pasal 10. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu
dan keterampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ia tidak mampu
melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan
pasien, ia wajib merujuk pasien kepada dokter yang mempunyai keahlian
dalam penyakit tersebut.
Pasal 11. Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa
dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan
atau dalam masalah lainnya.

14
Pasal 12. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang
seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal.
Pasal 13. Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila yakin ada orang lain bersedia dan mampu
memberikannya.
Pasal 14. Setiap dokter memperlakukan teman sejawat sebagaimana ia ingin
diperlakukan.
Pasal 15. Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien teman sejawat, kecuali
dengan persetujuan berdasarkan prosedur yang etis.
Pasal 16. Setiap dokter harus memelihara kesehatannya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 17. Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi kedokteran/kesehatan.
III. ASSESSMENT

Keadaan Pasien

Pasien laki-laki berumur delapan belas tahun dengan patah tulang paha yang parah Ia
berada dalam kondisi yang buruk, memerlukan penanganan yang cepat karena luka ini
mengancam jiwanya. Ia harus diobati empat sampai lima kali sehari, bila sampai
terbentuk gangrene maka ia tidak akan selamat. Sebagai dokter tentu kami melakukan
seluruh tindakan yang dibutuhkan, akan tetapi karena terdapat seminar dari WHO, kami
tidak bisa fokus kepadanya. Setelah kondisinya stabil dan tidak terdapat infeksi, kami
menyuruhnya untuk pulang dan mencari dokter lain. Kami mengatakan, ”Bila kamu
dapat ditangani oleh dokter lain, kamu lebih baik ke dokter itu. Masa kritis telah lewat,
dan kamu dapat pulang sekarang.” Andaikan seminar itu tidak ada, tentu kami tidak
perlu menyuruhnya untuk pergi.

Otonomi Pasien

Otonomi adalah prinsip yang mengakui hak setiap pribadi untuk memutuskan sendiri
mengenai masalah kesehatannya, kehidupannya, serta kematiannya. Jadi otonomi
merupakan bentuk kebebasan bertindak dari seseorang dalam mengambil keputusan
sesuai dengan rencana yang ditentukannya sendiri.

Tanggung Jawab Profesi Pelayanan Medis

Mengutip dari Deklarasi Geneva, dokter berjanji, ”Kesehatan pasien saya akan selalu
menjadi pertimbangan pertama saya”. Dan dari Deklarasi Helsinki menyebutkan,
”Dalam penelitian kedokteran dengan subjek manusia, pertimbangan mengenai
kesehatan manusia sebagai subjek uji haruslah menjadi pertimbangan awal di atas

15
kepentingan ilmu pengetahuan dan masyarakat”.

Hubungan dokter dengan pasien yang sempurna juga akan semakin terbangun
dengan kesadaran bahwa hak akan pelayanan kesehatan merupakan hasil kontrak antara
kedokteran dan masyarakat serta antara dokter dan pasien. Setiap orang berhak
mendapat kesempatan akan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan seekstensif mungkin
dalam sistem yang sama untuk semua, dan bahkan dokter tidak boleh menolaknya bila
pasien tidak sanggup membayar. Pertolongan dokter terutama didasarkan pada
perikemanusiaan; diberikan tanpa perhitungan terlebih dahulu tentang untung ruginya,
setiap penderita harus diperlakukan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya.
Profesi dokter adalah suatu profesi yang disertai dengan moralitas tinggi,
dimana setiap dokter harus siap setiap saat untuk memberi pertolongan kepada siapa
saja, kapan saja, dan dimana saja. Profesional kedokteran juga mengenal etika profesi
sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct). Nilai--
nilai dalam etika profesi tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik
kedokteran. Sumpah dokter berisikan suatu "kontrak moral" antara dokter dengan
Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan "kontrak
kewajiban moral" antara dokter dengan peer-groupnya, yaitu masyarakat profesinya.

IV. PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Rekapitulasi Masalah Moral

Menyelamatkan kehidupan adalah nilai etik yang baik dan sudah sepantasnya tiap
dokter memperhitungkan hal itu. Akan tetapi, kualitas kehidupan yang bagaimana yang
akan dipertahankan, ternyata telah menimbulkan konflik tersendiri.
Seorang pasien memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan
prosedur yang ada. Dan seorang dokter wajib memberikan pelayanan tersebut kepada
pasien. Dengan itu dokter menjalankan tugas dan kewajiban sesuai dengan profesinya
yang telah diatur dalam undang-undang kedokteran.
Pada kasus di atas, seharusnya dokter tersebut menjalani tugas dan
kewajibannya sesuai standar profesi kedokteran. Situasi di atas merupakan situasi
yang sulit karena dokter dihadapkan pada dua tugas yang sama-sama memiliki
tanggung jawab yang besar. Sebagai seorang dokter yang profesional, ia harus
mampu memilih salah satu tugas yang harus diutamakan.
Dokter yang profesional adalah dokter yang mengutamakan pasiennya. Jika

16
dokter memilih untuk merawat pasien sampai sembuh dan tidak bisa mengikuti
seminar tersebut, dokter harus memberikan penjelasan kepada WHO mengenai
halangannya dan bersedia menerima konsekuensinya. Pilihan kedua, jika dokter
lebih memilih mengikuti seminar WHO karena berbagai alasan, dokter harus tetap
memperhatikan hak pasien dan tidak dapat meninggalkan begitu saja. Dalam situasi
seperti ini, Dokter harus mampu memberikan penjelasan atau informed concent yang
baik kepada pasien dan keluarga sebagai saksi mengenai permasalahan tersebut.
Keputusan yang diambil harus juga disesuaikan dengan keputusan dari pihak pasien
dan keluarganya. Hal ini bertujuan agar menghasilkan keputusan yang benar dan
tidak ada yang dirugikan. Kondisi pasien perlu diperhatikan, jika kondisi pasien
memungkinkan untuk pulang dan dirawat dirumah, dokter harus dapat menjelaskan
dan mengajarkan cara-cara perawatan pasien di rumah. Dokter harus tetap
mengontrol keadaan pasien hingga sembuh walaupun sedang menjalani tugas keluar.
Peran seorang dokter tidaklah mudah karena dalam situasi seperti ini dengan
memperhatikan hak pasien maka kepercayaan seorang pasien kepada dokternya
tetap terjaga.

Argumen

Hubungan dokter dengan pasien yang sempurna akan semakin terbangun dengan
kesadaran bahwa hak akan pelayanan kesehatan merupakan hasil kontrak antara
kedokteran dan masyarakat serta antara dokter dan pasien. Setiap orang berhak
mendapat kesempatan akan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan seekstensif mungkin
dalam sistem yang sama untuk semua, dan bahkan dokter tidak boleh menolaknya
dengan alasan apapun. Hak ini penting karena kesejahteraan masyarakat tergantung
pada kesejahteraan perseorangan, sehingga semua orang wajib mendapat apa yang
dibutuhkan untuk memelihara kesehatannya. Supaya tiap-tiap orang mendapat haknya,
diperlukan keadilan dalam pelayanan kesehatan. Tidak adanya keadilan berarti tidak
adanya perikemanusiaan.

Keputusan Etik

Keputusan saya adalah mengutamakan kepentingan pasien. Alasan saya adalah :


1. Ditinjau dari kode etik kedokteran, seorang dokter wajib melaksanakan tugas
profesinya dan menghormati hak-hak pasien. Dimana pasien memiliki hak-hak
seperti mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan

17
pasien.
2. Ditinjau dari segi indikasi medis, pasien tersebut harus dirawat karena luka yang
diderita mengancam jiwa pasien. Perawatan harus dilakukan oleh dokter yang
bertanggungjawab atas kondisi pasien dan dokter tidak dapat meninggalkan
karena itu sudah merupakan tanggungjawabnya.
3. Ditinjau dari sumpah dokter bahwa seorang dokter senantiasa mengutamakan
kesehatan penderita. Jadi dengan pernyataan tersebut, dokter tidak dapat
meninggalkan pasien dengan kondisi yang sangat membutuhkan perawatan. Jika ini
tetap dilakukan maka dokter tersebut telah melanggar sumpah yang diucapkannya
sendiri.

Evaluasi

Dilema pada kasus ini adalah tindakan apa yang sebaiknya diambil oleh dokter.
Keputusan yang diambil harus berdasarkan etika yang berlaku dilandasi niat yang
murni untuk berbuat kebaikan. Pasien sebagai orang yang mempunyai penyakit harus
mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik, terutama pasien yang berada dalam
keadaan gawat darurat. Segala akibat yang timbul akibat tindakan yang diambil harus
dipertanggungjawabkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gunawan. Memahami Etika Kedokteran. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 1992.
2. Darsono RS. Etik, Hukum Kesehatan Kedokteran (Sudut Pandang Praktikus),
Dalam: Suharto, G dan Prasetyo, A, editor. Semarang: Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal FK Universitas Diponegoro; 2004.
3. Maertens G, Wachter M, Bone E, Harvey JC, Bertens K. Bioetika, Refleksi Atas
Masalah Etika Biomedis. Jakarta: PT Gramedia; 1990.
4. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan Hukum Kedokteran, Pengantar
bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum. Jakarta: Pustaka Dwipar; 2005.
5. Samil, RS. Etika Kedokteran Indonesia. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2001.
6. Bertens K. Etika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama; 1993.
7. Majelis Kehormatan Etika Kedokteran Indonesia. KODEKI dan Pedoman
Penatalaksanaan KODEKI Indonesia. Ikatan Dokter Indonesia; 2002.
8. Williams,J.R.(2005), ”Medical Ethics Manual”, Available from: www.ethics-
network.org.uk/Cases/archive.htm (Accessed: Mei 2008).

18