Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terapi komplementer akhir-akhir ini menjadi isu di banyak negara. Masyarakat
menggunakan terapi ini dengan alasan keyakinan, keuangan, reaksi obat kimia dan
tingkat kesembuhan. Perawat mempunyai peluang terlibat dalam terapi ini, tetapi
memerlukan dukungan hasil-hasil penelitian (evidence-based practice). Pada dasarnya
terapi komplementer telah didukung berbagai teori, seperti teori Nightingale, Roger,
Leininger, dan teori lainnya. Terapi komplementer dapat digunakan di berbagai level
pencegahan. Perawat dapat berperan sesuai kebutuhan klien.
Pengobatan komplementer atau alternatif menjadi bagian penting dalam
pelayanan kesehatan di Amerika Serikat dan negara lainnya (Snyder & Lindquis,
2002). Estimasi di Amerika Serikat 627 juta orang adalah pengguna terapi alternatif
dan 386 juta orang yang mengunjungi praktik konvensional (Smith et al., 2004). Data
lain menyebutkan terjadi peningkatan jumlah pengguna terapi komplementer di
Amerika dari 33% pada tahun 1991 menjadi 42% di tahun 1997 (Eisenberg, 1998
dalam Snyder & Lindquis, 2002).
Klien yang menggunakan terapi komplemeter memiliki beberapa alasan. Salah
satu alasannya adalah filosofi holistik pada terapi komplementer, yaitu adanya
harmoni dalam diri dan promosi kesehatan dalam terapi komplementer. Alasan
lainnya karena klien ingin terlibat untuk pengambilan keputusan dalam pengobatan
dan peningkatan kualitas hidup dibandingkan sebelumnya. Sejumlah 82% klien
melaporkan adanya reaksi efek samping dari pengobatan konvensional yang diterima
menyebabkan memilih terapi komplementer (Snyder & Lindquis, 2002).
Terapi komplementer yang ada menjadi salah satu pilihan pengobatan
masyarakat. Di berbagai tempat pelayanan kesehatan tidak sedikit klien bertanya
tentang terapi komplementer atau alternatif pada petugas kesehatan seperti dokter
ataupun perawat. Masyarakat mengajak dialog perawat untuk penggunaan terapi
alternatif (Smith et al., 2004). Hal ini terjadi karena klien ingin mendapatkan
pelayanan yang sesuai dengan pilihannya, sehingga apabila keinginan terpenuhi akan

berdampak ada kepuasan klien. Hal ini dapat menjadi peluang bagi perawat untuk
berperan memberikan terapi komplementer.
1.2 Tujuan Penulisan
Untuk memahami bagaimana keterlibatan perawat dalam pemberian terapi
komplementer.
1.3 Manfaat Penulisan
Diharapkan makalah ini dapat menjadi sumber literature pembelajaran bagi
pembaca.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Fungsi Perawat
Fungsi adalah suatu pekerjaan yang harus dilaksanakan sesuai dengan
perannya, fungsi dapat berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Ruang
lingkup dan fungsi keperawatan semakin berkembang dengan fokus manusia
tetap sebagai senral pelayanan keperawatan. Bentuk asuhan yang menyeluruh
dan utuh, dilandasi tentang keyakinan tentang manusia sebagai makhluk biopsiko-sosio-spiritual yang unik dan utuh.
Ilmu keperawatan memfokuskan pada fenomena khusus dengan
menggunakan cara khusus dalam memberi landasan teoretik dan fenomena
keperawatan yang teridentifikasi. Dengan denikian, perawat bertanggung jawab
dan bertanggung gugat terhadap hal-hal yang dilakukan dalam praktik
keperawatan. Dalam hal ini praktik keperawatan harus berlandaskan prinsip
ilmiah dan kemanusiaan serta berilmu pengetahuan dan terampil melaksanakan
pelayanan keperawatan dan bersedia dievaluasi. Inilah ciri-ciri yang
menunjukkan profesionalisme perawat yang sangat vital bagi pelaksanaan
fungsi keperawatan mandiri, ketergantungan, dan kolaboratif (Kozier, 1991
dalam Kusnanto, 2004)
Pengertian fungsi keperawatan mandiri, ketergantungan, dan kolaboratif
kerap dipergunakan untuk menggambarka, suatu tindakan keperawatan atau
strategi keperawatan yang diperankan oleh perawat.
a. Pelaksanaan Fungsi Keperawatan Mandiri
Tindakan keperawatan mandiri (independen) adalah aktivitas keperawatan
yang dilaksanakan atas inisiatif perawat itu sendiri dengan dasar pengetahuan
dan keterampilannya, Mundinger (1985) menyebutnya sebagai autonomous
nursing practice to independent nursing. Ia menuliskan bahwa mengenai
mengapa, kapan dan bagaimana posisi seta kondisi klien, dan melakukan suatu
tindakan dengan keterampilan penuh adalah fungsi terapi autonomous.
Dalam hal ini perawat menentukan bahwa klien membutuhkan intervensi
3

keperawatan yang pasti, salah satunya adalah membantu memecahkan masalah


yang dihadapi atau mendelegasikan anggota keperawatan yang lain dan
bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya (akuntabilitas). Contoh dari
tindakan keperawatan madiri adalah seorang perawat merencanakan dan
mempersiapkan perawatan khusus pada mulut klien setelah mengkaji keadaan
mulutnya. (Kusnanto, 2004)
b. Pelaksanaan Fungsi Keperawatan Ketergantungan
Tindakan keperawatan ketergantungan (dependen) adalah aktivitas
keperawatan yang dilaksanakan atas instruksi dokter atau di bawah pengawasan
dokter dalam melaksanakan tindakan rutin yang spesifik. Contoh dari tindakan
fungsi ketergantungan adalah dalam memberikan injeksi antibiotic. Aktivitas
ketergantungan dalam praktik keperawatan dilaksanakan sehubungan dengan
penyakit klien dan hal ini sangat penting untuk mengurangi keluhan yang
diderita klien. (Kusnanto, 2004)
c. Pelaksanaan Fungsi Keperawatan Kolaboratif
Tindakan keperawatan kolaboratif (interdependen) adalah aktivitas yang
dilaksanakan atas kerja sama dengan pihak lain atau tim kesehatan lain.
Tindakan kolaboratif

terkadang

menimbulkan adanya

tumpang tindih

pertanggungjawaban di antara personal kesehatan dan hubungan langsung


kolega antar-profesi kesehatan. Sebagai contoh, perawat dan ahli terapi
pernapasan bersama-sama membuat jadwal latihan bernapas pada seorang klien.
Seorang ahli terapi pada awalnya mengajrkan latihan pada klien, dan perawat
menguatkan pemahaman dan membantu klien pada saat diterapi tidak ada.
American

Nurses

Association

(Kozier, 1991)

menggambarkan

bahwa

kolaboratif merupakan kerja sama sejati, di dalamnya terdapat kesamaan


kekuatan dan nilai-nilai dari kedua belah pihak, dengan pengakuan dan
penerimaan

terpisah

serta

kombinasi

dari

lingkup

aktivitas

dan

pertanggungjawaban bersama-sama, saling melindungi kepentingan setiap


bagian dan bersama-sama mencapai tujuan yang telah disepakati oleh setiap
bagian.
Untuk melaksanakan praktik keperawatan kolaboratif secara efektif,
perawat harus mempunyai kemampuan klinis, mempunyai pengetahuan dan

keterampilan yang memadai dan rasa pertanggungjawaban yang tinggi dalam


setiap tindakan. (Kusnanto, 2004)
2.2 Terapi Komplementer
2.2.1 Pengertian Terapi Komplementer
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Terapi merupakan usaha
untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit,
perawatan penyakit. Komplementer adalah bersifat melengkapi, bersifat
menyempurnakan.
Menurut
WHO

(World

Health

Organization), Pengobatan

komplementer adalah pengobatan non-konvensional yang bukan berasal dari


negara yang bersangkutan, misalnya jamu yang merupakan produk Indonesia
dikategorikan sebagai pengobatan komplementer di negara Singapura. Di
Indonesia sendiri, jamu dikategorikan sebagai pengobatan tradisional.
Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari
zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara turun temurun pada suatu
negara.
Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang
dilakukan sebagai pendukung atau pendamping kepada pengobatan medis
konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis
yang konvensional. (Andriana, dana; 2013)
2.2.2 Tujuan Terapi Komplementer
Terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem
sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh dapat
menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita sebenarnya
mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita
mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan nutrisi yang
baik lengkap serta perawatan yang tepat. (Exka Saputra, 2013)
2.2.3 Jenis Jenis Terapi Komplementer

Jenis pelayanan pengobatan komplementer alternatif berdasarkan


Permenkes RI Nomor : 1109/Menkes/Per/2007 adalah :
1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) : Hipnoterapi,
meditasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga
2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif : akupuntur, akupresur, naturopati,
homeopati, aromaterapi, ayurveda
3. Cara penyembuhan manual : chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu
osteopati, pijat urut
4. Pengobatan farmakologi dan biologi : jamu, herbal, gurah
5. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan : diet makro nutrient,
mikro nutrient
6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan : terapi ozon, hiperbarik, EECP
2.2.4 Obat Obat Terapi Komplementer
1. Bersifat natural yaitu mengambil bahan dari alam, seperti jamu jamuan,
rempah yang sudah dikenal (jahe, kunyit, temu lawak dan sebagainya);
2. Pendekatan lain seperti menggunakan energi tertentu yang mampu
mempercepat proses penyembuhan, hingga menggunakan doa tertentu yang
diyakini secara spiritual memiliki kekuatan penyembuhan. (Exka Saputra,
2013)
2.2.5 Aspek Legal Terapi Komplementer
1. Undang Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan
a. Pasal 1 butir 16, pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan
atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman
dan

keterampilan

turun temurun

secara

empiris

yang

dapat

dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang


berlaku di masyarakat;
b. Pasal 48 tentang pelayanan kesehatan tradisional;
c. Bab III Pasal 59 s/d 61 tentang pelayanan kesehatan tradisonal.
2. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1076/Menkes/SK/2003 tentang
pengobatan tradisional;
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 120/Menkes/SK/II/2008 tentang
standar pelayanan hiperbarik;

4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang


penyelenggaraan

pengobatan

pelayanan kesehatan;
5. Keputusan
Direktur
HK.03.05/I/199/2010

komplementer alternatif di

Jenderal
tentang

Bina

pedoman

Pelayanan
kriteria

fasilitas

Medik,

penetepan

No.
metode

pengobatan komplementer alternatif yang dapat diintegrasikan di fasilitas


pelayanan kesehatan.
2.2.6 Kendala Terapi Komplementer
1. Masih lemahnya pembinaan dan pengawasan;
2. Terbatasnya kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan bimbingan;
3. Terbatasnya anggaran yang tersedia untuk pelayanan kesehatan
komplementer;
4. Belum memadainya regulasi yang mendukung pelayanan kesehatan
komplementer;
5. Terapi komplementer

belum

menjadi

program

prioritas

dalam

penyelenggaraan pembangunan kesehatan. (Anira dalam wordpress.com)

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Keterlibatan Perawat dalam Pelaksanaan Terapi Komplementer
Terapi komplementer dapat di aplikasikan oleh perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan bagi klien, keluarga dan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan dasar
manusia yang mengacu pada hirarki Maslow.

1. Tingkatan Hirarki Maslow yang paling mendasar adalah pemenuhan kebutuhan


fisiologis diantaranya :
a Nutrisi : dalam memenuhi kebutuhan nutrisi klien, perawat dapat
mengaplikasikan terapi komplementer jenis diet mikro nutrient dan makro
nutrient. Tujuannya yaitu untuk memenuhi nutrisi yang baik dan tepat sesuai
dengan indikasi klien dan juga untuk memepercepat proses penyembuhan bagi
klien. Perawat dalam memberikan terapi diet ini dilaksanakan dengan fungsi
b

keperawatan kolaboratif yaitu dengan berkolaborasi dengan ahli gizi.


Oksigen : dalam memenuhi kebutuhan oksigen bagi klien, terapi komplementer
yang dapat perawat terapkan adalah jenis terapi ozon, terapi ozon ini sangat
jarang digunakan di Rumah sakit namun biasanya dilakukan di klinik tertentu
yang menyediakan alat tersebut . Selain terapi ozon, adapun terapi lain yang
berguna dalam memenuhi kebutuhan oksigen yaitu terapi hiperbarik. Menurut
8

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 120/Menkes/SK/II/2008, pelayanan


hiperbarik adalah pengobatan oksigenasi hiperbarik yang dilaksanakan
disarana pelayanan kesehatan dengan menggunakan Ruang Udara Bertekanan
Tinggi (RUBT) dan pemberian pernapasan oksigen murni (Oksigen 100%)
pada tekanan lebih dari satu atmosfer dalam jangka waktu tertentu. Terapi ini
dapat digunakan untuk klien yang mengalami penyakit dekompresi, emboli
udara, luka bakar, crush injury, keracunan gas karbon monoksida.
Dalam melaksanakan fungsinya, perawat dapat melakukan pemberian terapi
ozon dan hiperbarik dengan berkolaborasi dengan dokter dan teknisi RUBT,
namun dengan syarat perawat sebelumnya harus mengikuti pelatihan atau
pendidikan formal hiperbarik agar memiliki kewenangan untuk melakukan
terapi tersebut.
2. Tingkatan hirarki Maslow selanjutnya adalah pemenuhan kebutuhan rasa aman
dan nyaman.
a. Jamu dan obat herbal
Dalam pemenuhan rasa aman dan nyaman, jenis terapi komplementer
yang digunakan dan dilakukan oleh perawat adalah terapi pemberian jamu dan
obat herbal terhadap klien. Tujuan dari diberikannya jamu tersebut sebagai
khasiat kesehatan dan kehangatan tubuh. Dan fungsi dari obat herbal sebagai
pemberi aroma, perasa, atau untuk pengobatan.
Tindakan pemberian jamu dan herbal dapat di lakukan oleh perawat
secara mandiri, instruksi ataupun berkolaborasi dengan tenaga kesehantan lain
farmasi, ataupun dokter. Perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan
kepada klien mengenai obat-obat herbal yang dapat digunakan atau dibuat
sendiri di rumah. Misalnya saja penggunaan daun sirih, jeruk nipis dan kecap
sebagai obat batuk alami.

b. Hipnoterapi, meditasi, yoga, spiritual dan doa


Hipnoterapi, meditasi, yoga, spiritual dan doa dapat diterapkan dalam
asuhan keperawatan untuk klien dalam kondisi nyeri, cemas, dan stress.
Hipnoterapi adalah suatu metode dimana pasien dibimbing untuk
melakukan relaksasi, dimana setelah kondisi relaksasi dalam ini tercapai maka
9

secara alamiah gerbang pikiran bawah sadar sesesorang akan terbuka lebar,
sehingga yang bersangkutan cenderung lebih mudah untuk menerima sugesti
penyembuhan yang diberikan mengunakan relaksasi nafas dalam dan distraksi.
Penyembuhan spiritual (doa) adalah berbagai teknik yang digunakan
dalam budaya menggabungkan pelayanan, kesabaran, cinta, atau empati
dengan target doa. Penyembuhan spiritual dan doa dapat dilakukan oleh
seorang perawat dalam melakukan asuhan keperawatan kepada klien. Dalam
hal ini perawat bisa memanggil tokoh agama ataupun bisa melakukannya
sendiri. Misalnya berdoa bersama-sama dengan klien, membacakan doa
kesembuhan, ataupun memfasilitasi dalam pelaksanaan beribadah klien.
Pemberian tindakan hipnoterapi, meditasi, yoga, spiritual dan doa dapat
digunakan oleh perawat dalam melakukan asuhan keperawatan kepada klien
secara mandiri.
c. Aromaterapi
Aromaterapi dapat perawat gunakan untuk mengatasi klien dengan
gangguan kecemasan atau stress. Aromaterapi ialah istilah generik bagi salah
satu jenis pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang
mudah menguap, Tujuannya untuk memengaruhi suasana hati atau kesehatan
seseorang dengan cara menyediakan macam-macam aromaterapi seperti
minyak essensial aroma terapi, lilin aroma terapi , minyak pijat aroma terapi,
sabun aroma terapi. Perawat dapat melaksanakan terapi aromaterapi ini secara
mandiri, yang menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan klien.
d. Akupuntur
Terapi

komplementer

dalam

bentuk

terapi

akupuntur

dapat

diimplementasikan dalam asuhan keperawatan. Perawat dapat melaksanakan


terapi akupuntur yaitu menusukan jarum-jarum halus di tempat-tempat tertentu
badan. Pelaksana dari akupuntur ini adalah praktisi yang terlatih sesuai dengan
Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1277/Menkes/Sk/Viii/2003 Tentang Tenaga Akupunktur. Akupuntur terdapat di


klinik yang menyediakan pelayanan akupunktur. Jadi dalam hal ini perawat
bisa berperan dalam terapi akupuntur jika mendapat pelatihan mengenai terapi
10

tersebut. Terapi akupuntur dapat memenuhi rasa nyaman klien dengan


memulihkan kebugaran dan mengobati rasa sakit klien, serta rasa aman karena
dilakukan oleh praktisi terlatih. Fungsi pelaksana perawat disini berkolaborasi
dengan dokter dan tenaga akupuntur terapis.
e. Akupresur, shiatsu osteopati, dan pijat urut
Untuk memenuhi rasa nyaman klien dalam mengurangi nyeri,
ketegangan, kelelahan, perawat dapat melaksanakan terapi akupresur, shiatsu
osteopati dan pijat urut. Akupresur, shiatsu dan pijat urut tradisional adalah
salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada
titik-titik tertentu pada tubuh. Pelaksana dari terapi akupresur bisa siapa saja,
termasuk perawat.
Shiatsu digunakan untuk mengatasi kecemasan, sakit kepala dan
insomnia. (Akhmad, 2012)
Pijat Urut juga upaya untuk memulihkan kebugaran tubuh, dikarenakan
kecapekan, stress maupun mempercepat kesembuhan setelah opname di rumah
sakit.
Dalam hal ini perawat berperan sebagai care giver untuk memenuhi rasa
aman dan nyaman klien secara madiri.
3. Tingkatan Hirarki Maslow kebutuhan cinta dan kasih sayang
Terapi komplementer jenis healing touch dapat dilakukan pada klien yang
mengalami cemas dan stress. Dalam memberikan terapi healing touch, perawat
dapat melakukannya dengan cara memberi sentuhan lembut kepada klien, ini
diyakini memiliki kemampuan menenangkan, meredakan emosi, dan juga dapat
memenuhi kebutuhan akan cinta dan kasih sayang klien, karena klien merasa ada
yang memperhatikan, dan empati terhadapnya, sehingga proses penyembuhannya
dapat lebih cepat.
Pelaksanaa fungsi keperawatan dalam terapi

healing touch dapat

dilakukan secara mandiri dengan menerapkan komunikasi terapeutik.

11

12

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang dilakukan
sebagai pendukung atau pendamping kepada pengobatan medis konvensional atau
sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis yang konvensional. Peran
perawat dalam pelayanan kesehatan diantaranya dalam terapi komplementer
sebagai pemberi asuhan keperawatan, pembela untuk melindungi klien, pemberi
bimbingan / konseling klien, pendidik klien, anggota tim kesehatan yang dituntut
untuk dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan lain, coordinator agar dapat
memanfaatkan sumber-sumber dan potensi klien, pembaru yang selalu dituntut
untuk mengadakan perubahan-perubahan, dan sumber informasi yang dapat
membantu memecahkan masalah klien. Fungsi perawat yang dijalankan
dipelayanan kesehatan adalah bertindak secara independen, dependen, dan
interdependen.
Perkembangan terapi komplementer atau alternatif sudah luas, termasuk
didalamnya orang yang terlibat dalam memberi pengobatan karena banyaknya
profesional kesehatan dan terapis selain dokter umum yang terlibat dalam terapi
komplementer. Hal ini dapat meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan
melalui penelitian-penelitian yang dapat memfasilitasi terapi komplementer agar
menjadi lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Perawat sebagai salah satu profesional kesehatan, dapat turut serta
berpartisipasi dalam terapi komplementer. Peran yang dijalankan sesuai dengan
peran-peran yang ada. Arah perkembangan kebutuhan masyarakat dan keilmuan
mendukung untuk meningkatkan peran perawat dalam terapi komplementer karena
pada kenyataannya, beberapa terapi keperawatan yang berkembang diawali dari
alternatif atau tradisional terapi.

13

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad.

2012.

Healing

Touch.

[Online]

Tersedia

di:

www.quranic-

healing.com/2012/07/terapi-sentuhan-yang-menyembuhkan_7089.html

di

akses

pada tanggal 15 November 2014.


Andriana, dana. 2013. Terapi Komplementer dalam Keperawatan Komunitas. [Online]
Tersedia

di:

http://materi-keperawatankomunitas.blogspot.com/2013/05/terapi-

komplementer-dalam-keperawatan.html di akses pada tanggal 10 November 2014.


Anira. Materi Terapi Komplementer. [Online] Tersedia di: file:///H:/%20Anira
%20Forever%20%20%20Materi%20Terapi%20Komplemeneter.wordpress.html
diakses pada tanggal 10 November 2014.
Antari, dewi. 2011. Trend terapi ozon dan Sensor Jantung. [Online] tersedia di:
http://antaridewi.blogspot.com/terapi-ozon-dan-sensor-jantung.html diakses pada
tanggal 15 November 2014.
Budiman, Gregory. [Online] Tersedia di: http://www.slideshare.net/drgreg1974/aspekmedis-pijat-urut-refleksi-akupresur Lecturer at FKUI di akses pada tanggal 15
November 2014.
Hyperbaric Medicine Consultant. 2014. [Online] tersedia di: file:///H:/terapi
%20ozon/HYPERBARIC%20MEDICINE%20CONSULTANT%20%20Manfaat
%20Terapi%20Hiperbarik%20Oksigen%20Percepat%20Penyembuhan
%20Luka.htm di akses pada tanggal 15 November 2014.
http://intisari-online.com/read/chiropractic-metode-pengobatan-tangan
http://www.scribd.com/doc/76628021/Terapi-Komplementer-FOKUS-GROUP
http://buk.depkes.go.id/index.php?
option=com_content&view=article&id=66:pengobatan-komplementer-tradisionalalternatif&Itemid=140
14

http://1001-diet.blogspot.com/2013/02/gizi-makro.html
Kusnanto. 2004. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. EGC:
Jakarta.
Saputra,

Ekxa.

2013.

Terapi

Komplementer.

[Online]

http://exkasaputra.blogspot.com/2012/03/terapi-komplementer.html

Tersedia
di

di:
akses

tanggal 10 November 2014.


Snyder, M.

&

Lindquist,

R.

(2002). Complementary/alternative therapies in

nursing. 4th ed. New York: Springer.


Smith, S.F., Duell, D.J., Martin, B.C. (2004). Clinical nursing skills: Basic to
advanced skills. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Widowati,

Henti.

2012.

Manfaat

terapi

ozon.

[Online]

Tersedia

di:

http://hentiwidowatibiomed.wordpress.com diakses pada tanggal 15 November


2014.

15