Anda di halaman 1dari 35

Pengujian Mekanik

Uji Tarik
Uji tarik mungkin adalah cara pengujian bahan yang paling mendasar. Pengujian ini
sangat sederhana, tidak mahal dan sudah mengalami standarisasi di seluruh dunia,
misalnya di Amerika dengan ASTM E8 untuk logam dan ASTM D68 untuk polymer dan
plastik, di Jepang dengan JIS 2241, serta di Indonesia dengan SNI 07-0371. Dengan

menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bagaimana bahan tersebut
bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana material itu
bertambah panjang.
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan suatu
bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang berlawanan arah dalam
satu garis lurus. Pengujian uji tarik digunakan untuk mengukur ketahanan suatu
material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat. Bila kita terus menarik
suatu bahan (dalam hal ini suatu logam) sampai putus, kita akan mendapatkan
profil tarikan yang lengkap yang berupa kurva sepertidigambarkan pada Gbr.1.
Kurva ini menunjukkan hubungan antara gaya tarikan dengan perubahanpanjang.
Profil ini sangat diperlukan dalam desain yang memakai bahan tersebut.

Biasanya yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan maksimum bahan


tersebut dalam menahan beban. Kemampuan ini umumnya disebut Ultimate

Tensile Strength disingkat dengan UTS, dalam bahasa Indonesia disebut tegangan
tarik maksimum.
Pada grafik hubungan tegangan dan regangan, terdapat suatu titik yang dinamakan
batas proporsional. Pengertian batas proporsional adalah batas dimana tegangan
dan regangan mempunyai hubungan proporsionalitas satu dengan yang lain. Setiap
penambahan tegangan akan diikuti dengan penambahan regangan secara
proporsional dalam hubungan linier. Ditunjukan dengan persamaan Hookes Law:
=E
Daerah elastis adalah daerah dimana material akan kembali ke ukuran semula bila
tegangan luar dihilangkan. Daerah proporsional merupakan bagian dari daerah
elastis. Jika material diberi beban dari luar sehingga tegangan melampaui batas
elastisnya maka material tidak dapat kembali lagi ke ukuran semula. Jadi batas
elastis adalah titik dimana tegangan yang diberikan akan menyebabkan terjadinya
deformasi permanen (plastis) untuk pertama kalinya. Kebanyakan material batas
elastis biasanya berhimpitan dengan batas proporsionalitas.

Titik luluh adalah batas dimana material akan terus mengalami deformasi tanpa
adanya penambahan beban. Tegangan luluh adalah tegangan yang menimbulkan
mekanisme luluh pada suatu material. Gejala luluh material umumnya hanya terjadi
pada logam-logam yang ulet dengan struktur kristal BCC dan FCC yang membentuk
interstitial solid solution dari atom karbon, boron, hidrogen, dan oksigen. Interaksi
antar dislokasi dan atom-atom tersebut menyebabkan baja ulet seperti mild steel

menunjukan titik luluh bawah (lower carbon steel) dan titik luluh atas (upper carbon
steel). Pada baja dengan kekuatan tinggi dan besi tuang yang getas, batas luluh
tidak jelas sehingga digunakan metode offset. Metode offset memperlihatkan batas
penyimpangan/deviasi dari keadaan proposionalitas tegangan dan regangan
sebagai kekuatan luluh. Garis offset diambil 0,1 0,2% dari tegangan total dimulai
pada titik O.

UTS memiliki pengertian yaitu tegangan maksimum yang dapat ditanggung


material sebelum terjadi perpatahan (fracture). Nilai kekuatan maksimum tarik
ditentukan dengan persamaan berikut:
UTS=Fmax/A0
Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji putus (F
) dengan luas penampang awal. Untuk material yang ulet, kekuatan putus

breaking

lebih kecil dari kekuatan maksimum ( breaking < UTS

). Sedangkan untuk

material yang getas kekuatan putus sama dengan kekuatan maksimum ( breaking
= UTS ).
Keuletan adalah sifat yang menunjukan kemampuan material menahan deformasi
plastis sampai terjadi perpatahan. Secara umum dilakukan dengan tujuan:

Untuk menunjukan perpanjangan dimana logam berdeformasi tanpa


terjadinya patah dalam proses pembentukan logam, misalkan pengerolan
dan ekstrusi.

Untuk memberi petunjuk umum mengenai kemampuan logam untuk


mengalir secara plastis sebelum patah.

Sebagai petunjuk adanya perubahan permukaan kemurnian atau kondisi


pengolahan

Modulus young adalah ukuran kekakuan suatu material. Semakin besar harga
modulus young, maka semakin kecil regangan elastis yang terjadi atau dapat
dikatakan material semakin kaku (stif). Makin besar modulus elastisitas maka
makin kecil regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian tegangan. Modulus
elastisitas ditentukan oleh gaya ikatan antar atom, karena gaya ini tidak dapat
diubah tanpa terjadinya suatu perubahan sifat yang sangat mendasar pada material
maka modulus elastisitas merupakan suatu sifat dari material yang tidak mudah
diubah. Sifat ini hanya bisa sedikit diubah dengan penambahan paduan, perlakuan
panas, dan pengerjaan dingin.

Modulus resilience adalah ukuran kemampuan material untuk menyerap energi dari
luar tanpa terjadinya kerusakan. Nilai modulus resilience adalah luas segitiga pada
area elastis kurva tegangan-regangan.

Modulus of thoughness adalah ukuran kemampuan material untuk menyerap energi


dari luar tanpa terjadinya kerusakan. Nilai modulus resilience adalah luas segitiga
pada area elastis kurva tegangan-regangan.

Kurva tegangan-regangan rekayasa (engineering stress-strain curve) dibuat


berdasarkan dimensi awal yaitu luas area dan panjang dari benda uji. Sementara
untuk mendapatkan kurva tegangan-regangan sesungguhnya (true stress-strain
curve) diperlukan luas area dan panjang aktual pada saat pembebanan yang
terukur. Perbedaan kurva tegangan-regangan rekayasa dan sesungguhnya tidak
terlalu besar pada regangan yang kecil, tetapi akan terdapat perbedaan yang
signifikan jika terjadi pengerasan regangan (strain hardening), yaitu setelah titik
luluh terlampaui. Secara umum perbedaan menjadi besar di dalam daerah necking.

Setelah benda uji mengalami kegagalan, pengukuran panjang akhir di daerah gauge
length dan diameter gauge length dilakukan. Dari sini kita dapat mengetahui
bagaimana sifat keuletan dan kegetasan material.
Jenis perpatahan ada dua, yaitu perpatahan ulet dan perpatahan getas. Perpatahan
ulet terjadi karena adanya deformasi elastis dan plastis pada material sampai
akhirnya putus, sedangkan perpatahan getas tidak mengalami deformasi elastis
sampai akhirnya mengalami perpatahan. Kedua jenis perpatahan ini memiliki
karakteristik yang berbeda. Dibawah ini adalah gambar sampel hasil pengujian tarik
yang menunjukan beberapa tampilan perpatahan.

Bentuk bahan yang diuji, untuk logam biasanya dibuat spesimen dengan dimensi
sesuai standar.

Berikut beberapa contoh spesimen uji tarik berdasarkan standar SNI 07-0371-1989
dan ASTM E-8 seperti pada Gambar berikut.
1. Batang Uji No.4 (SNI 07-0371-1989)
Untuk bahan dari : Baja Cor, Baja Tempa, Baja Canai, Besi Cor Meleabel
dan Besi Cor Nodular (FCD), juga untuk Logam Bukan Besi dalam bentuk
batangan serta paduannya.
Bentuk benda uji :

Nomor

Diamet

Panjang

P.Bagian

Batang

er
(D)

Ukur
(L)

Paralel
(P)

14 mm

50 mm

Uji
4

Radius
(R)

P.

Sekitar 60

min. 15

min. 250

mm

mm

mm

Radius
(R)

P.

Keseluruhan
(PT)

2. Batang Uji No. 8 (SNI 07-0371-1989)


Untuk uji bahan dari : Besi Cor
Bentuk benda uji :

Nomor

Diamet

Panjang

P. Bagian

Batang

er
(D)

Ukur
(P)

Paralel

8 mm

8 mm

Sekitar 13

min. 16

min. 250

12,5

12,5 mm

mm
Sekitar 20

mm
min. 25

mm

8B
8C

mm
20 mm

20 mm

mm
Sekitar 30

mm
min. 40

8D

32 mm

35 mm

mm
Sekitar 45

mm
min. 64

mm

mm

Uji
8A

Keseluruhan

3. Batang Uji No. 13 (SNI 07-0371-1989)


Batang uji digunakan untuk uji tarik Baja Plat, Baja lembaran (Plat) dan
Baja Profil
Bentuk benda uji :

Nomor
Batang
Uji

Lebar
(W)

Panjang

P. Bagian

Ukur
(L)

Paralel
(P)

Radius
(R)

13A

20 mm

80 mm

Sekitar 120

20 30

13B

12,5

50 mm

mm
Sekitar 60

mm
20 30

mm

mm

mm
Ukuran tebal sesuai benda

4. Batang Uji dengan Bentuk Rectangular (ASTM E8)


Bentuk benda uji :

Batang Uji

Panjang
Ukur
(G)

Lebar
(W)

Radius
(R)

P. Bagian

P.

Paralel
(A)

Keseluruha

Plate-Type

200 mm

40 mm

min. 25 mm

min. 225 mm

n
(L)
min. 450

Sheet-Type

50 mm

12,5

min. 12,5

min. 57 mm

mm
min. 200

25 mm

mm
6 mm

mm
min. 6 mm

min. 32 mm

mm
min. 100

Subsize-Type

mm
Ukuran tebal sesuai benda
5. Batang Uji dengan Bentuk Silider (ASTM E8)
Untuk uji bahan dengan perbandingan panjang ukur benda dan diameter
benda sebesar 4:1
Bentuk benda uji :

Batang Uji

Panjang

Diamet

Jenis ke-1

Ukur
(G)
50 mm

er
(D)
12,5
mm

Radius
(R)
min. 10
mm

P. Bagian

Keterangan

Paralel
(A)
min. 56 mm

Ukuran
Standar

Jenis
Jenis
Jenis
Jenis

ke-2
ke-3
ke-4
ke-5

36
24
16
10

mm
mm
mm
mm

9
6
4
2

mm
mm
mm
mm

min.
min.
min.
min.

8
6
4
2

mm
mm
mm
mm

min.
min.
min.
min.

45
30
20
16

mm
mm
mm
mm

Ukuran
Proporsional
terhadap
Ukuran
Standar

Alat uji tarik adalah salah satu alat uji mekanik untuk mengetahui kekuatan bahan
terhadap gaya tarik. Dalam pengujiannya, bahan uji ditarik sampai putus. Sehingga
mampu di analisa ketahanan tarik suatu benda.adapun standarisasinya. Alat
eksperimen untuk uji tarik ini harus memiliki cengkeraman (grip) yang kuat dan
kekakuan yang tinggi (highly stiff).
Berikut adalah contoh mesin uji tarik dengan kontrol komputer yang mampu
dioperasikan dengan rentang beban 10 1000 kN

Perubahan panjang dari spesimen dideteksi lewat pengukur regangan (strain gage)
yang ditempelkan pada spesimen. Bila pengukur regangan ini mengalami

perubahan panjang dan penampang, terjadi perubahan nilai hambatan listrik yang
dibaca oleh detektor dan kemudian dikonversi menjadi perubahan regangan.

Prosedur untuk melakukan uji tarik suatu spesimen adalah sebagai berikut
1) Menyiapkan spesimen sesuaikan dengan mesin uji tarik yang ada
2) Mengukur dimensi spesimen dan menggambar ulang spesimen
3) Memeriksa mesin uji apakah bekerja dengan baik
4) Memasang spesimen pada mesin uji kemudian melakukan pengujian

5) Mengukur ulang dimensi spesimen setelah penarikan terutama panjang dan


diameter terkecil
Uji Keras

Pengujian Kekerasan adalah satu dari sekian banyak pengujian yang dipakai, karena
dapat dilaksanakan pada benda uji yang kecil tanpa kesukaran mengenai
spesifikasi.
Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat mekanik (Mechanical properties) dari
suatu material. Kekerasan didefinisikan sebagai kemampuan suatu material untuk
menahan beban identasi atau penetrasi (penekanan). Mekanisme penetrasi dapat
berupa goresan (scratching), pantulan (rebound), dan indentasi dengan indentor
tertentu sesuai dengan paramater tertentu (diameter, beban dan waktu). Salah satu
standar pengujian kekerasan bahan adalah ASTM E10.
Berdasarkan mekanisme penekanan, uji kekerasan ada tiga metode diantaranya:
1. Metode Goresan
Metode ini diperkenalkan oleh Friederich Mohs yang membagi nilai kekerasan
material di dunia berdasarkan skala kekerasan (skala Mohs). Skala ini
bervariasi dari nilai 1 (talc) untuk kekerasan yang paling rendah sampai nilai
10 (intan) untuk kekerasan yang paling tinggi.
Skala Mohs adalah skala ordinal murni. Misalnya, korundum (9) dua kali lebih
keras daripada topaz (8), namun intan (10) hampir empat kali lebih keras
daripada korundum. Tabel di bawah memperlihatkan perbandingan dengan
kekerasan absolut yang diukur menggunakan sklerometer:
Skala

Nama

Skala Absolut

Mohs
1

Mineral
Talc

Gypsum

Gambar Mineral

Calcite

Fluorite

21

Apatite

48

Orthoclase

72

Quartz

100

Topaz

200

Corundum

400

10

Diamond

1600

Metode ini dilakukan dengan cara menggores permukaan material uji dengan
material pembanding lalu mengukur kedalaman atau lebar goresannya.
Indentor yang biasa digunakan adalah jarum intan. Prinsip pengujiannya jika
suatu material dapat digores oleh orthoclase (6) tetapi tidak mampu digores
oleh apatite (5), maka nilai kekerasan material tersebut berada diantara 5
dan 6. Kekurangan dari metode ini adalah ketidakakuratan. Bila kekerasan
mineral diuji dengan metode lain, ditemukan bahwa nilai-nilainya berkisar
antara 1-9, sedangkan nilai 9-10 memiliki rentangan yang sangat
besar. Dengan demikian metode ini sudah tidak banyak digunakan dalam
dunia metalurgi dan material lanjutan, tetapi masih digunakan dalam dunia
mineralogi.
2. Metode Pantulan
Metode ini menggunakan alat bernama Scleroscope.

Nilai kekerasan diperoleh dengan mengukur tinggi pantulan suatu pemukul


(hammer) dengan berat tertentu yang dijatuhkan dari suatu ketinggian
terhadap permukaan benda uji. Semakin tinggi pantulan, maka semakin
benda uji semakin tinggi. Nilai pantulan diperoleh pada dial yang terdapat
pada alat pengukur.
3. Metode Indentasi
Metode ini menggunakan prinsip kerja penekanan indentor ke permukaan
benda uji selama beberapa detik dan mengukur jejak yang dihasilkan.
Indentor yang digunakan dapat berbentuk bola, piramida, atau kerucut. Nilai
kekerasan yang dihasilkan tergantung pada jenis indentor dan jenis pengujian
yang digunakan.
Berdasarkan cara indentasinya, metode indenter diklasifikasikan sebagai
berikut:
a) Metode Brinell
Standarisasi pengujian kekerasan menggunakan metode Brinell diatur
dalam ASTM E10 dan JIS 2243.

Metode ini diperkenalkan oleh J.A. Brinell pada tahun 1900. Pengujian
dilakukan dengan indenter menggunakan bola baja yang diperkeras
(hardened steel ball) dengan beban dan waktu indentasi tertentu. Hasil
penekanan berupa jejak berbentuk lingkaran bulat yang dihitung
diameternya dibawah mikroskop khusus pengukur jejak. Untuk
mendapatkan nilai yang akurat, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
sebagai berikut:
spesimen uji harus rata
spesimen uji tidak boleh terlalu tipis,
indentasi tidak dilakukan pada tepi/pinggir benda uji,
jarak antara indentasi satu dengan lainnya ialah tiga kali diameter

o
o
o
o
o

indentasi.
permukaan benda uji harus sesuai dengan karakteristik material, tidak

mengalami karburisasi ataupun proses sejenis lainnya.


beban yang digunakan harus steady dan terbebas dari kemungkinan

pembebanan tak diinginkan disebabkan oleh gaya inersia dari beban.


tidak terjadi penggelembungan di bagian belakang material uji
disebabkan penggunaan beban yang terlalu besar.

Pengujian kekerasan Brinell merupakan pengujian standard secara


industri, tetapi karena penekannya terbuat dari bola baja yang berukuran
besar dan beban besar, maka bahan lunak atau keras sekali tidak dapat
diukur kekerasannya. Tabel di bawah menunjukkan skala kekerasan
rockwell

Hardness

Part

Penetrat

Loa

Rang

Scale

No:

or

es

S15N1

15

Diamond

Kg

S30N1

30

Diamond

Kg

S45N1

45

Diamond

Kg

15T Scale

S15T10

1/16" Ball

30T Scale

S30T10

1/16" Ball

45T Scale

S45T10

1/16" Ball

15W

S15W1

Scale

30W

S30W1

Scale

45W

S45W1

Scale

15N Scale
30N Scale
45N Scale

15X Scale
30X Scale
45X Scale

S15X1
0
S30X1
0
S45X1
0

1/8" Ball
1/8" Ball
1/8" Ball
1/4" Ball
1/4" Ball
1/4" Ball

15Y Scale

S15Y10

1/2" Ball

30Y Scale

S30Y10

1/2" Ball

45Y Scale

S45Y10

1/2" Ball

15
Kg
30
Kg
45
Kg
15
Kg
30
Kg
45
Kg
15
Kg
30
Kg
45
Kg
15
Kg
30
Kg
45
Kg

Material

All

Steel

All

Steel

All

Steel

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

All

Brass

b) Metode Vickers
Standarisasi pengujian kekerasan menggunakan metode Vickers diatur
dalam ASTM E92 dan JIS 2244.

Metode ini menggunakan indentor intan berbentuk piramida dengan sudut


136o. Standar pengujian metode Vikers adalah ASTM A 92. Penggunaan
indentor dengan metode Vickers sangat menguntungkan karena dapat
digunakan untuk memeriksa bahan-bahan dengan kekerasan tinggi. Selain
itu, bentuk dan geometri jejak yang dihasilkan tidak banyak terpengaruh
oleh beban yang diberikan sehingga besarnya beban tidak perlu dikontrol
terlalu ketat. Selain untuk pengujian dalam skala makro, metode Vickers
dapat dilakukan untuk pengujian dalam skala mikro dengan pembebanan
yang rendah yaitu 1-1000 gram. Pengujian kekerasan dengan metode
Vickers bergantung pada elastisitas material yang diuji sehingga hasilnya
pun berbeda-beda pada setiap material. Material lunak yang memiliki
keelastisitasan tinggi, hasil indentasinya akan mengempis. Dan material
dengan keelastisitasan rendah, hasil indentasinya akan menggembung.

Keuntungan lain dari metode Vickers dibanding dengan metode Brinell


ialah memiliki pembacaan pada mesin yang lebih akurat dibandingkan
dengan pembacaan diameter lingkaran pada metode Brinell. Mesin
Vickers dapat digunakan pada logam setebal 0,15 mm.
c) Metode Rockwell
Standarisasi pengujian kekerasan menggunakan metode Rockwell diatur
dalam ASTM E18 dan JIS 2245.

Metode ini menggunakan kedalaman penetrasi untuk mengukur kekerasan


suatu material tidak seperti metode Brinell dan Vickers dimana nilai
kekerasan suatu bahan dinilai dari diameter/diagonal jejak yang
dihasilkan. Metode ini sering digunakan pada pabrik-pabrik, dikarenakan
nilai kekerasan suatu material didapatkan dengan pembacaan langsung
(direct-reading) pada layar display. Standar pengujian kekerasan dengan
metode Rockwell ini terdapat pada ASTM E 18 (Standard Test for Rockwell
Hardness and Rockwell Superficial Hardness of Metallic Materials). Variasi
beban dan indentor yang digunakan membuat metode ini banyak
macamnya. Namun, metode yang paling umum dipakai adalah Rockwell B
(indentor bola baja diameter 1/6 inci dan beban 100 kg) dan Rockwell C
(indentor cone intan dengan beban 150 kg). Walau demikian, metode

Rockwell lainnya juga biasa digunakan. Jenis indentor dan beban


menentukan skala kekerasan yang digunakan. Pengujian ini terdiri dari
dua tahap, yaitu:
(1) Tahap pemberian beban awal (pre load) untuk menentukan titik awal
(starting point) serta pemberian beban utama (major load).
(2) Tahap pengangkatan beban sehingga ada jejak indentasi yang
tertinggal.
Pengujian Rockwell cocok untuk semua material yang keras dan yang
lunak, penggunaannya sederhana dan penekanannya dapat dilakukan
dengan leluasa. Tabel di bawah menunjukkan bagaimana memilih skala
rockwell.
Skal
a

A
B
C
D
E
F
G
H
K
L
M
P
R
S
V

Beban
Penekan

Kerucut Intan 120


Bola Baja 1,588 mm
(1/6)
Kerucut Intan 120
Kerucut Intan 120
Bola Baja 3,175 mm
(1/8)
Bola Baja 1,588 mm
(1/6)
Bola Baja 1,588 mm
(1/6)
Bola Baja 3,175 mm
(1/8)
Bola Baja 3,175 mm
(1/8)
Bola Baja 6,35 mm
(1/4)
Bola Baja 6,35 mm
(1/4)
Bola Baja 6,35 mm
(1/4)
Bola Baja 12,7 mm
(1/2)
Bola Baja 12,7 mm
(1/2)
Bola Baja 12,7 mm
(1/2)

Awa
l

Utam
a

Jumlah

Skala
Kekeras
an

10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

50
90
140
90
90
50
140
50
140
50
90
140
50
90
140

60
100
150
100
100
60
150
60
150
60
100
150
60
100
150

100
130
100
100
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130

Warna
Angka

Hitam
Merah
Hitam
Hitam
Merah
Merah
Merah
Merah
Merah
Merah
Merah
Merah
Merah
Merah
Merah

d) Metode Knoop
Salah satu metode microhardness, yaitu uji kekerasan untuk benda uji
yang kecil. Standarisasi pengujian kekerasan menggunakan metode
Microvickers and Knoop diatur dalam ASTM E384 dan JIS 2251. Nilai
kekerasan Knoop diperoleh dengan membagi pembebanan dengan luas
penampangnya yang mengalami deformasi permanen. Syarat-syarat pada
pengujian kekerasan ialah sebagai berikut.
o Permukaan benda uji harus rata, bersih, kering, dan tidak berkarat.
o Tidak boleh terjadi pelenturan, lendutan terutama untuk benda
o

berongga.
Setelah pengujian, bagian belakang benda uji tidak boleh

o
o
o

menggembung.
Ketebalan benda uji harus dipertimbangkan.
Tidak melakukan pengujian di tepi/pinggir benda uji.
Semakin halus permukaan, maka hasil pengujian akan semakin akurat

Jejak yang dihasilkan sekitar 0,01 mm 0,1 mm. Beban yang diberikan
berkisar antara 5 gram 5 kg. Permukaan benda uji dengan metode ini
harus benar-benar halus.

Nilai kekerasan dari uji dengan metode-metode pengujian yang ada


memiliki nilai yang berbeda. berikut ini konversi nilai kekerasan material:

Alat Uji Kekerasan adalah sebuah perangkat untuk uji kemampuan suatu bahan
atau material untuk bertahan apabila jika bahan tersebut ditekan dengan gaya yang
relative besar. Singkatnya uji ketahanan benda terhadap tekanan. Untuk melakukan
uji kekerasan suatu spesimen, digunakan alat khusus sesuai dengan metode
indentasi pengujian yang dilakukan. Namun skema dan bentuk mesin uji kekerasan
pada dasarnya sama seperti berikut

Rockwell
Prosedur dalam melakukan uji kekerasan dengan metode rockwell adalah senagai
berikut

1 Sebelum pengujian dimulai, penguji harus memasang indentor terlebih dahulu


sesuai dengan jenis pengujian yang diperlukan, yaitu Kerucut intan dengan besar
sudut 120 yang disebut sebagai Rockwell Cone atau Bola baja dengan berbagai
ukuran dan disebut sebagai Rockwell Ball.
2 Setelah indentor terpasang, penguji meletakkan specimen yang akan diuji
kekerasannya di tempat yang tersedia
3 Penguji melakukan setting beban yang akan digunakan untuk proses penekanan.
4 Untuk mengetahui nilai kekerasannya, penguji dapat melihat pada jarum yang
terpasang pada alat ukur berupa dial indicator pointer.

Vickers
Pengujian kekerasan suatu material dapat dilakukan dengan prosedur sebagai
berikut
1. Piramida intan bersudut 136 disinggungkan tegak lurus dengan permukaan
material uji. Pembebanan diberikan secara perlahan-lahan sebesar beban yang
dikehendaki. Menurut standar diberikan lama waktu penahanan pembebanan.
2. Ada beberapa pilihan beban yang dapat dipakai dalam pengujian, pemilihan
besar beban uji biasanya berdasarkan bekas penekanan yang menghasilkan
diagonal dan sekurang-kurangnya 0.4 mm.
3. Pada umumnya pusat tempat pengujian berjarak sekurang-kurangnya 2,5
diameter dari tepi material uji atau dari pusat tempat pengujian yang lain.
4. Metode pengujian mikro vickers menggunakan gaya sebesar 200 gr atau 100 gr,
pengujian ini digunakan untuk material yang sangat tipis.
5. Pengujian vickers tidak dapat digunakan untuk material dengan struktur yang
kurang homogen karena hasil pengujiannya tidak akan menghasilkan harga
kekerasan yang sebenarnya.

brinell
Berikut ini merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji kekerasan
logam dengan metode Brinell, yaitu :
1. Memeriksa dan mempersiapkan specimen sehingga siap untuk diuji.
2. Memeriksa dan mempersiapkan mesin yang akan dipakai untuk menguji.
3. Melakukan pemeriksaan pada pembebanan, diameter bola baja yang digunakan,
dan alat pengukur waktu.
4. Membebaskan beban tekan dan mengeluarkan bola dari lekukan lalu memasang
alat optis untuk melihat bekas yang kemudian mengukur diameter bekas
sebelumnya secara teliti dengan mikrometer pada mikroskop.
Pangukuran diameter ini untuk sebuah lekuk dilakukan dua kali secara bersilang
tegak lurus dan baru dari dua nilai diameter yang diperoleh, diambil rata-ratanya.
Kemudian dimasukkan ke dalam rumus Brinell untuk memperoleh hasil kekerasan
Brinell-nya (HB).
5. Melakukan proses pengujian sebanyak lima kali sehingga diperoleh nilai rata-rata
dari uji kekerasan Brinell tersebut.
6. Yang perlu diperhatikan adalah jarak dari titik pusat lekukan baik dari tepi
specimen maupun dari tepi lekukan lainnya minimal 2 dari 3/2 diameter lekukannya

Uji Puntir

Uji puntir pada suatu spesimen dilakukan untuk menentukan elastisitas suatu
material. Specimen yang digunakan pada pengujian puntir adalah batang dengan
penampang lingkaran karena bentuk penampang ini sederhana sehingga mudah
diukur. Spesimen tersebut hanya dikenai beban puntiran pada salah satu ujungnya
karena dua pembebanan akan memberikan ketidakkonstanan sudut puntir yang
diperoleh dari pengukuran. Standarisasi uji puntir dijelaskan dalam ASTM E-143.

Deformasi puntiran tidak menunjukkan tegangan uniform pada potongan lintang


seperti halnya pada deformasi lenturan. Untuk mendapat deformasi puntiran
dengan tegangan yang uniform perlu dipergunakan batang uji berupa silinder tipis.
Patahan karena puntiran dari bahan getas terlihat pada arah kekuatan tarik, yaitu
pada 450 terhadap sumber puntiran, sedangkan bagi bahan yang liat patahan
terjadi pada sudut tegak lurus terhadap sumbu puntiran setelah gaya pada arah
sumbu terjadi dengan deformasi yang besar, dari hal tersebut sangat mudah
menentukan keliatan dan kegetasan.
Alat uji puntir sering juga disebut dengan alat uji torsi atau alat uji torque adalah
suatu alat yang dirancang untuk mengukur seberapa besar gaya puntir yang dapat
dilakukan saat kita melakukan pengujian dari suatu alat. Caranya adalah dengan
memuntir batang uji terus-menerus sampai batang uji itu putus atau mencapai
jumlah puntiran yang ditentukan. Putarannya harus searah. Ada dua jenis mesin uji
puntir, yaitu mesin uji puntir horizontal dan mesin puntir vertikal. Pada mesin uji
puntir horizontal, spesimen dipasang pada alat uji sejajar dalam sumbu horizontal.

Sedangkan pada mesin uji vertikal, spesimen dipasang dalam sumbu vertikal pada
alat uji.

Berikut adalah prosedur dalam melakukan uji puntir


1) Siapkan alat pengujian beserta digital force display, kunci chuck, dan specimen.
2) Hubungkan digital force display dengan sensor pada alat pengujian.
3) Hubungkan digital force display tersebut dengan saklar arus listrik. Lalu periksa
apakah digital force display sudah terpasang dengan baik.
4) Siapkan spesimen uji dan ukur dimensi spesimen tersebut.
5) Letakan kedua ujung spesimen pada chuck yang ada dialat pengujian dengan
ukuran yang sudah ditentukan. Lalu kunci kedua chuck tersebut.

6) Beri pembebanan sesuai gaya atau sudut yang ditentukan. Lalu lihat hasil pada
digital force display (gaya) dan protactor scale (sudut) pada alat uji puntir.
Uji Bending
Pengujian lengkung merupakan salah satu pengujian sifat mekanik bahan yang
dilakukan terhadap speciment dari bahan baik bahan yang akan digunakan sebagai
konstruksi atau komponen yang akan menerima pembebanan lengkung maupun
proses pelengkungan dalam pembentukan. Pelengkuan (bending) merupakan
proses pembebanan terhadap suatu bahan pada suatu titik ditengah-tengah dari
bahan yang ditahan diatas dua tumpuan. Dengan pembebanan ini bahan akan
mengalami deformasi dengan dua buah gaya yang berlawanan bekerja pada saat
yang bersmaan. Gambar dibawah ini memperlihatkan prilaku bahan uji
selama pembebanan lengkung.

Sebagaimana prilaku bahan terhadap pembebanan, semua bahan akan


mengalami perubahan bentuk (deformasi) secara bertahap dari elastis menjadi
plastis hingga akhirnya mengalami kerusakan (patah). Dalam proses pembebanan
lengkung dimana dua gaya bekerja dengan jarak tertentu (1/2L) serta arah yang
berlawanan bekerja secara beramaan (lihat gambar 10.32), maka Momen lengkung
(Mb) itu akan bekerja dan ditahan oleh sumbu batang tersebut atau sebagai
momen tahanan lengkung (Wb). Dalam proses pengujian lengkung yang dilakukan
terhadap material sebagai bahan teknik memilki tujuan pengujian yang berbeda
tergantung kebutuhannya.
Spesimen pengujian bending dapat menggunakan material besi cor, beton, ataupun
kayu. Penggunaan spesimen dalam uji bending telah distandarkan berdasarkan
dengan material yang digunakannya.
o

Standar penggunaan spesimen Besi Cor dalam uji bending telah diatur dalam
ASTM A438 dengan aturan Diameter Spesimen = 20 50 mm dan Panjang
Spesimen

= 375 675 mm

Standar penggunaan spesimen Coran Beton dalam uji bending telah diatur
dalam ASTM C293 dengan aturan Penampang Spesimen bujur sangkar dengan

sisi = 150 mm
Standar penggunaan spesimen Kayu dalam uji bending telah diatur dalam ASTM
D43, dengan aturan Penampang bujur sangkar dengan sisi = 50 mm dan
Panjang = 750 mm

Prosedur
1) Tempatkan spesimen pada alat uji bending dengan ketentuan sebagai berikut

Perhatikan ketebalan benda uji dan ketebalan serta radius dari punch. Kemudian
atur jarak sela antar roll seperti pada gambar diatas.
2) Setting beban pada mesin uji bending kemudian tekan punch dengan memberi
gaya ke arah bawah

3) Benda uji akan bengkok dikarenakan gaya dari punch, hentikan pembebanan
ketika mulai terlihat retakan pada benda uji

4) Ukur sudut tekuk (R) yang terjadi pada benda uji

Uji Impact
Pengujian impak dilakukan dengan memberikan beban kejut pada suatu material.
Pembebanan kejut dapat diberikan pada benda uji yang temperaturnya berbedabeda maupun pada temperatur yang tetap. Standarisasi uji impact untuk
memperkirakan kegetasan material, mengetahui ketahanan material terhadap takik
(notch) dan pengaruh temperatur terhadap kegetasan diatur dalam ASTM A370,
ASTM E23, JIS 2202, dan JIS 2242.

Ada dua metode dalam pengujian impak, yaitu metode Charpy dan metode Izod.
1. Uji Charphy
Benda uji diletakkan secara mendatar dan ditahan pada sisi kiri & kanan. Benda
uji berukuran 10mm x 10mm x 55mm, posisi takik berada ditengah-tengah,
arah pembebanan dari belakang takik dan sampel tidak dijepit. Kemudian benda
dipukul pada bagian belakang takikan.

2. Uji Izod
Benda uji dijepit pada satu ujungnya pada posisi tegak. Benda Uji yang
digunakan berukuran 10mm x 10mm x 75mm, posisi takik 28 mm dari salah
satu ujung sampel, arah pembebanan dari depan takik dan sampel dijepit.

Dari pengujian ini benyaknya energi yang diserap oleh benda uji hingga terjadinya
perpatahan atau deformasi merupakan ukuran kekuatan impak atau ketangguhan
material. semakin tangguh material maka material tersebut memiliki kemampuan
menyerap beban kejut yang besar tanpa terdeformasi atau patah dengan
mudah. Energi yang dierap oleh material dinyatakan dalam satuan joule dan dapat
dibaca langsung pada dial penunjuknya yang dikalibrasi terlebih dahulu sebelum

digunakan. Harga impak bahan diuji dengan metode Charpy diperoleh dengan
persamaan:
HI=E/A
Dimana E adalah jumlah energi yang bisa diserap material hingga patah dan A
adalah luas penampang di bawah takik benda uji. Bentuk perpatahan yang
dihasilkan dari pengujian ini akan beragam karena perngujian yang menggunakan
variasi temperatur tentu akan mengubah bentuk patahan material. Umumnya
material akan bersifat getas jika berada pada temperatur rendah dan akan bersifat
ulet pada temperatur tinggi. Pada beberapa material juga menunjukan terjadinya
fenomena temperatur transisi, dimana bentuk perpatahan akan berubah dari getas
ke ulet atau sebaliknya dengan parameter temperatur.
Bentuk-bentuk patahan:
1. Patahan berserat, ditandai dengan permukaan perpatahan yang berserat dan
banyak terdapat dimple yang menyerap cahaya sehingga patahan akan
berwarna gelap. Perpatahan ini ditandai dengan adanya cekungan yang
berbentuk searah sumbu, parabola, atau elips.
2. Perpatahan granular dihasilkan dari mekanisme pembelahan butir dari logam
yang rapuh. Ditandai dengan permukaan logam yang datar dan mengkilat.
3. Perpataha campuran yang merupakan kombinasi kedua jenis perpatahan.

Grafik perbandingan harga impak dengan temperatur pada struktur kristal berbeda
Dari grafik diketahui bagaimana perilaku material teradap temperatur. Pada logam
berstruktur FCC (Face Center Cubic) seperti Ni, Cu, Al, Ag, Au, Pt memiliki tingkat
keuletan yang sama pada semua temperatur sehingga tidak ada mekanisme

temperatur transisi. Sedangkan pada logam yang memiliki struktur kristal BCC
(Base Center Cubic) seperti Cr, Fe, Mo, W memiliki temperatur transisi. Seiring
dengan peningkatan temperatur, keuletan logam meningkat. Untuk struktur HCP
(High Close Packed) seperti Mg, Ti, Zr sama seperti logam struktur FCC, tidak
mengalami temperatur transisi.
Mesin uji impact adalah mesin uji untuk mengetahui harga impak suatu beban yang
diakibatkan oleh gaya kejut pada bahan uji tersebut. tipe dan bentuk konstruksi
mesin uji bentur beraneka ragam, yaitu mulai dari jenis konvensional sampai
dengan sistem digital yang lebih maju.
Dalam pembebanan statis dapat juga terjadi laju deformasi yang tinggi kalau bahan
diberi takikan. Semakin tajam takikan, maka akan semakin besar deformasi yang
terkonsentrasikan pada takikan, yang memungkinkan peningkatan laju regangan
beberapa kali lipat.
Pada pengujian impact suatu bahan uji yang ditakik, dipukul oleh pendulum
(godam) yang mengayun. Dengan pengujian ini dapat diketahui sifat kegetasan
suatu bahan. Cara ini dapat dilakukan dengan charpy atau cara izod.

Pada pengujian kegetasan bahan dengan cara impact charpy, pendulum diarahkan
pada bagian belakang takik dari batang uji. Sedangkan pada pengujian impact cara
izod adalah pukulan pendulum diarahkan pada jarak 22 mm dari penjepit dan
takikannya menghadap pada pendulum.

Pengerjaan benda uji pada impact charpy dan izod dikerjakan habis pada semua
permukaan. Takikan dibuat dengan mesin fris atau alat notch khusus takik. Semua
dikerjakan menurut standar yang ditetapkan yaitu JIS Z 2202.

Adapun langkah-langkah pengujian impact ini adalah sebagai


berikut :
1. Meletakkan benda uji di tempat benda uji pada alat uji impact. Penempatan
benda uji harus benar-benar sesuai dengan tipe pengujian impact yang digunakan
agar pisau pada pendulum berada sejajar dengan takikan benda tersebut.
2. Menyetel posisi jarum penunjuk pada 0.

3. Mengangkat pendulum sejauh 140 dengan cara memutar berlawanan arah


jarum jam secara perlahan-lahan.
4. Melepaskan pendulum untuk mengayun dan mematahkan benda uji.
5. Melihat dan mencatat hasil data yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada
busur derajat.
6. Melakukan perhitungan dari data pengujian yang telah diperoleh, yaitu
menghitung besarnya usaha (W) dan harga impact (K)
Uji Mulur
Pengujian tarik pada temperatur kamar tidak mampu memprediksi sifat mekanik
suatu logam apabila dikenai beban pada temperature tinggi. Yang dimaksud dengan

temperatur tinggi (elevated temperature) adalah apabila temperatur yang


bekerja 1/3 s/d kali temperatur cair absolut material yang bersangkutan.
Perbedaan dengan pengujian tarik yaitu bahwa pada pengujian mulur beban yang
diberikan tetap/konstan. Dengan demikian creep dapat didefinisikan sebagai
deformasi plastis yang terjadi pada temperatur tinggi akibat adanya beban selang
waktu tertentu. Gambar dibawah menunjukkan cara pengujian creep dan kurva
yang dihasilkan dari pengujian tersebut. Kurva creep dapat dibagi kedalam tiga
bagian. Yaitu :
primary stage yang ditandai dengan adanya penurunan laju regangan,
secondary stage berupa garis lurus dan laju regangan yang tetap, dan yang
terakhir
tertiary stage adanya peningkatan laju regangan sampai akhirnya putus.

Urutan proses pengujian mulur secara umum adalah sebagai berikut:


(1) Memasang beban yang direncanakan pada penggantung beban,
(2) Memasang spesimen pada dudukan dan pemanas dihidupkan. Setelah diperoleh
temperatur
yang konstan, baru diberi beban selama kurun waktu 10.000 detik,
(3) Pemberian beban yang konstan.

Anda mungkin juga menyukai