Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua peralatan laboratorium tahan
terhadap proses sterilisasi dengan pemanasan dan tekanan tinggi terutama
peralatan yang terbuat dari plastik seperti polypropyline, polymethylpentene
yang dapat di autoklaf berulang (Suryowinoto, 1996).

Meskipun peralatan medium dan bahan tanaman yang digunakan telah


diusahakan steril adalah suatu tindakan yang baik bila semua orang yang
hendak menanam dengan teknik kultur jaringan dan tangannya relatif aseptik
selama bekerja (Zulkarnain, 2009).

Pemanasan 160 C selama 1 2 hari menurut Despatch Oven Company


disertakan dengan sterilisasi pada autoklaf pada suhu 121 C atau 132 C
dengan tekanan 15 psi (Hartmann and Kester, 1975).

Meja kerja steril merupakan padatan penting dalam kegiatan kultur


jaringan. Meja kerja steril ditempatkan dalam ruang tanam (ruang transfer) atau
(ruang penaman). Disebut meja kerja steril karena prinsip kerja alat ini
mengandalkan adanya hembusan udara steril yang dihasilkan oleh dinding filter
dengan ukuran sangat kecil (mesh 0,22 0,24 mikron), sehinggga mampu
menahan bakteri dengan jamur diruang kerja steril (Nugroho dan Sugito, 2000).

Sterilisasi alat gelas dan metal dapat dilakukan dengan melalui oven agar
terbebas oleh bakteri (Hartmann, dkk, 2002).
Alat yang digunakan dalam suatu penelitian atau praktikum harus disterilisasi
terlebih dahulu untuk membebaskan semua bahan dan perlatan tersebut dari
semua bentuk kehidupan. Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan
semua organisme yang terdapat dalam suatu benda. Proses sterilisasi dapat
dibedakan menjadi 3 macam yaitu, penggunaan panas, penyaringan , dan
penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam, perasetat, formaldehida dan
gluturaldehida alkalin) (Hadioetomo, 1993).

Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara sterilisasi alat
alat dan bahan tanaman.

Kegunaan Percobaan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal tes di
Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara, Medan.
-

Sebagai bahan informasi bagi pihak pihak yang memerlukan.

TINJAUAN PUSTAKA

Pada saat pembuatan media masing masing larutan stok diambil sesuai
konsentrasinya. Selamjutnya diukur dan diatur pH media sesuai yang dianjurkan.
Setelah itu dimasak sambil diaduk. Sesudah masak, media dimasukkan kedalam
botol kultur sebannyak 10 20 ml / botol dan ditutup dengan aluminium foil atau
kapas. Setelah itu disterilisasi dalam autoclaf pada suhu 121 C selama
15 20 menit (Mariska dan Sukmadjaja, 2003).

Perlu digarisbawahi disini bahwa upaya keras mengatasi kontaminasi organisme


adalah merupakan hal yang sangat penting pada kultur jaringan karena semua
media, botol kultur, dan alat alat yang digunakan untuk menangani jaringan
harus diusahakana sama steril sebagaimana bahan tanamaan yang digunakan
(Santoso dan Nursandi, 2004).

Sterilisasi merupakan kunci keberhasilan dan kesuksesan dalam pengembangan


mikrobiologi. Untuk mendapatkan semua yang sesuai maka
alat alat
yang digunakan haruslah disterilkan terlebih dahulu. Bila alat yang dipakai tidak
steril maka akan terjadi kontaminasi yang merusak hubungan kelangsungan
kerja di laboratorium tersebut (Lay, 1994).

Autoclaf merupakan alat yang mensterilkan bermacam macam alat dan bahan
yang digunakan dalam lingkup mikrobiologi yakni menggunakan uap air yang
bertekanan panas (Gabriel, 1988).

Laminar Air Flom Cabinet (LAFC) terlebih dahulu bagian dalam alat ini disemprot
dengan alkohol 70 %. Setelah sterilisasi dengan alkohol, tutup pintu Laminar Air
Flow Cabinet (LAFC) dan nyalakan lampu ultraviolet (UV) selama sampai 1
jam. Setelah sterilisasi dengan lampu ultraviolet (UV) pekerjaan dapat segera
dimulai (Zulkarnain, 2009).

Penggunaan formalin dalam Laminar Air Flow tidak dibenarkan sama sekali,
karena uap formalin dapat tembus ke arah dada si penabur sehingga berbahaya
bagi kesehatan. Alat alat yang digunakan dalam kultur jaringan setelah dicuci
dan dikeringkan kemudian dibungkus dengan kertas payung dan disterilisasi di
dalam autoklaf dengan suhu 121C dengan tekanan 17,5 psi selama 20 30
menit. Botol botol eksplan yang sudah berisi medium setelah ditutup dengan
aluminium foil, kemudian disterilisasi. Sterilisasi medium lebih sedikit waktunya
dibandingkan dengan sterilisasi alat alat yakni 15 menit tetapi tekanan dan
suhunya sama. Teknik pelaksanaan sterilisasi dengan autoklaf adalah sebagai
berikut: Autoklaf diisi sampai air sampai batas atas, kemudian botol botol
eksplan yang berisi medium dimasukkan ke dalamnya. Setelah autoklaf ditutup
rapat, kemudian dinyalakan (ada yang model listrik tetapi ada pula yang
dipanaskan dengan kompor gas). Setelah autoklaf dinyalakan kemudian ditunggu
sampai air didalamnya mendidih dan tekanan menunjukkan angka 15. Pada saat
angka menunjukkan 15, mulai dihitung waktunya sampai 15 menit, kemudian
autoklaf dimatikan dan ditunggu dahuku sampai agak dingin. Setelah tekanan
menunjukkan angka 0, autoklaf tersebut dibuka dan botol botol
didalamnya dikeluarkan untuk disimpan sampai saat digunakan
(Hendaryono dan Wijayani, 1994).
BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan


Percobaan ini dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 26 September 2009 pukul
08.00 WIB sampai dengan selesai. Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Kultur
Jaringan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dengan
ketinggian 25 m dpl.

Bahan dan Alat

Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah aquadest


yang digunakan sebagai air dalam autoklaf, alkohol 90 % yang berguna untuk
mematikan kuman pada Laminar Air Flow Cabinet (LAFC), clorox 20 % untuk
sterilisasi eksplan, dithane untuk sterilisasi eksplan, Tween 20 untuk sterilisasi
eksplan, clorox 10 % untuk sterilisasi eksplan, betadine 5 % untuk sterilisasi
eksplan dan air untuk mencuci alat alat yang digunakan.

Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah autoklaf


digunakan untuk sterilisasi alat dan media, erlenmeyer digunakan untuk tempat
dan sarana untuk menuangkan air suling sebagai tempat media, gelas ukur
untuk menakar air suling dan bahan kimia yang digunakan, petridish untuk
tempat atau wadah eksplan, pipet atau pengaduk untuk mengambil bahan kimia
dan untuk mengaduk larutan, pinset untuk memegang, memotong dan
menanam eksplan kedalam media, scapel untuk mengiris tanaman yang akan
dijadikan eksplan, lampu bunsen untuk memanaskan pisau supaya steril, botol
alkohol untuk sterilisasi laminar air flow cabinet, sprayer untuk sterilisasi
ruangan, botol kultur untuk tempat percobaan dan aluminium foil untuk menutup
botol.

Prosedur Percobaan
a.

Sterilisasi Alat
Dicuci bersih alat alat yang akan disterilkan.
Dicuci autoklaf setelah itu ditambahkan air ke dalam autoklaf

( aquadest ).

Dimasukkan botol kultur ke dalam autoklaf.

Dimasukkan lagi alat alat yang lain seperti erlmeyer, gelas ukur, gelas
piala, petridish, pipet pengaduk, pinset dan scapel.

Ditutup autoklaf lalu direbus selama 1 jam dengan tekanan 17,5 psi tetapi
sebelum itu ditunggu autoklaf hingga panas.

Setelah 1 jam autoklafnya otomatis mati tetapi jangan langsung dibuka


ditunggu dulu sampai tekanan turun hingga 10 psi.

Lalu autoklafnya dimasukkan kedalam ruangan.

Lalu dikeluarkan satu persatu kedalam keranjang dan sterilisasi selesai.

b.

Sterilisasi Media


Disterilkan media dengan autoklaf pada tekanan 17,5 psi dan suhu 121 C
selam 30 menit.

Diletakkan pada rak simapan media, media yang sudah disterilkan.

c.

Sterilisasi Eksplan

Dicuci potongan organ yang akan dijadikan eksplan dengan air bersih
selam 2 3 kali lalu diletakkan didalam cawan petri atau erlenmeyer.

Ditimbang zat kimia yang akan digunakan, lalu dilarutkan aquadest steril
dengan persentase yang dikehendaki.

Dibawa kedalam LAFC kedua bahan yang LAF terlebih dahulu dibersihkan
dengan alkohol 96 %.

Dimasukkan potongan organ atau eksplan yang akan disterilkan dan


dalam larutan pensteril samp[ai waktu yang dikehendaki. Erlenmeyer digoyang
atau dishaker agar semua organ dapat kontak langsung dengan pensteril.

Dicuci eksplan dengan aquadest steril 2 3 kali kemudian dipotong kecil


kecil dengan ukuran 0,5 1 cm. Eksplan selanjutnya siap untuk ditanam.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Dari hasil percobaan diperoleh bahwa alat alat, media, dan eksplan dalam
keadaan steril. Alat keadaan steril ditandai dengan botolnya tetap bersih, media

dalam keadaan steril ditandai dengan tidak munculnya jamur. Setelah dibuat
seminggu, sterilisasi eksplan ditandai dengan tidak munculnya jamur di eksplan.
Pembahasan
Dari hasil percobaan, dapat diketahui bahwa sterilisasi yang dilakukan
dilaboratorium dengan menggunakan autoklaf ini dikarenakan autoklaf
merupakan alat untuk berbagai macam alat yang akan digunakan dalam
percobaan kultur jaringan. Hal ini sesuai dengan literatur Gabriel (1988) yang
menyatakan bahwa autoklaf merupakan alat untuk mensterilkan berbagai
macam alat dan bahan yang digunakan dalam lingkup mikrobiologi.

Dari hasil percobaan, sterilisasi alat harus dilakukan dalam percobaan kultur
jaringan untuk mencegah terjadinya kontaminasi yang dapat merusak
kelangsungan percobaan yang dilakukan dilaboratorium. Hal ini sesuai dengan
literatur Lay (1994) yang menyatakan bila alat yang dipakai tidak steril maka
terjadi kontaminasi yanng dapat merusak kelangsungan kerja dilaboratorium
tersebut.

Dari percobaan yang telah dilakukan untuk pensterilan ruangan seperti ruangan
untuk penabur atau LAF (Laminar Air Flow) dilakukan dengan menggunakan
lampu Ultraviloet (UV) selama sampai 1 jam. Hal ini sesuai dengan literatur
Zulkarnain (2009) yang menyatakan bahwa Laminar Air Flow (LAF) terlebih
dahulu bagian dalam alat ini disemprot dengan alkohol 70 %. Setelah sterilisasi
dengan alkohol, tutup LAF dan nyalakan lampu UV selama sampai 1 jam.
Setelah sterilisasi lampu UV pekerjaan dapat segara dimulai.

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa media yang
telah dibuat dan dimasukkan kedalam botol kultur ditutup dengan aluminium foil
dan disterilisasikan dalam autoklaf pada suhu 121 C. Hal ini sesuai dengan
literatur Mariska dan Sukmadjaja (2003) yang menyatakan bahwa sesudah
masak media dimasukkan kedalam botol kultur sebanyak 10 20 ml/ botol dan
ditutup aluminium foil atau kapas. Setelah itu, disterilisasi dengan autoclaf pada
121 C selama 15 20 menit.

Sterilisasi eksplan pada percobaan ini dilakukan dengan menggunakan alkohol,


clorox, dithane, dan betadine karena bahan bahan kimia tersebut dapat
membuat kondisi aseptik. Suatu bahan tanaman terutama permukaan luarnya
yang kontak langsung. Hal ini sesuai dengan literatur Doneswamy (1983) yang
menyatakan bahwa sterilisasi permukaan membuat kondisi aseptik suatu bahan
tanaman. Bahan kimiawi yang diperlukan antara lain alkohol, Ca(Ocl)2), NaOCl

yang dipasarkan dalam bentuk clorox, bayclean, dan bahan antibiotika seperti
betadine.

KESIMPULAN

1.
Sterilisasi alat dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan autoklaf
pada suhu 121 C dan pada tekanam 17,5 psi selama 1 jam.
2.
Alat alat yang disterilisasi adalah botol kultur, petridish, pipet tetes, stirer,
erlenmeyer, pinset, scapel, gelas ukur, dan alat alat lain yang diperlukan.
3.
Sterilisasi ruang penabur atau ruang tempat pekerjaan dengan
menggunakan alkohol 96 %.
4.
Sterilisasi media dilakukan dengan menggunakan autoklaf pada suhu
121 C dan pada tekanam 17,5 psi selama 30 menit.
5.
Sterilisasi eksplan dilakukan dengan menggunakan clorox, dithane,
betadine, air dan aquadest.

DAFTAR PUSTAKA

Doreswany, R. Sriniyasarao, N. K dan E. K. Chako., 1983. Tissue Culture


Propagation Of Banana. Scientia. Hortic.

Gabriel, J. F., 1988. Fisika Kedokteran. EGC. Jakarta.


Hadioetomo, R. S., 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia. Jakarta.
Hartmann, H. T and D. E Kester., 1975. Plant Propagation. Prantice Hall,
Engelwood Cliffs. New Jersey.

Hartmann, H. T ; D. E Kester ; F. T Davles and R. L Geneve., 2002. Plant


Propogation. Prantice Hall of India. Private limited. New Delhi.

Lay., 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Mariska, I dan D. Sukmadjaja. D., 2003. Perbanyakan Bibit Abaka Melalui Kultur
Jaringan. BPBSGP. Bogor.

Nugroho, A dan H. Sugito., 2002. Teknik Kultur Jaringan Tanaman.


UGM Press. Malang.

Santoso, U dan F. Nursandi., 2004. Kultur Jaringan Tanaman Secara In Vitro.


Penerbit Kanisius. Jakarta.

Suryowinoto, M. J., 1996. Pemuliaan Tanaman Secara In Vitro. Penerbit Kanisius.


Jakarta.

Zulkarnain., 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.