Anda di halaman 1dari 14

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN

BAGAN DUDUK DAUN


DAN
ANATOMI DAUN MONOKOTIL DAN DIKOTIL

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
ACICE (H41112012)
HASTUTI (H411122)
ANDI SITTI RAHMA (H411122)
ABDI KHALIK DJ (H41112252)
ANDI NURMAGPITA (H411122)
HANDAYANI (H411122)
SARDI ANDIS (H411122)
MUH.ADITYA EKANANDA (H411122)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Daun merupakan organ yang pertumbuhannya terbatas dan pada umumnya
simetris dorsiventral. Pipihnya daun berkaitan dengan fungsinya dalam fotosintesis,
karena dengan bentuk daun demikian maka luas daun yang terekspose sinar matahari
bisa lebih luas. Daun yang dorsiventral tidak diragukan lagi hasil evolusi yang sangat
panjang, akan tetapi faktor-faktor ontogenetik yang mengatur sifat tersebut belum
diketahui.
Daun tumbuhan berbunga beragam bentuk dan ukurannya. Selain itu daun juga
memiliki tata letak daun yang beraneka ragam. Dalam materi ini, yang akan dibahas
hanyalah yang berkaitan dengan bagan duduk daun dan sebagai tambahan untuk
menunjang ilmu, kita juga akan membahas anatomi daun tumbuhan dikotil dan
monokotil.

I.2 Tujuan
Tujuan yang akan kita capai dalam pembahasan ini yaitu:
a. Mengetahui bagan tata letak daun pada batang
b. Mengetahui perbedaan dan fungsi bagian-bagian dari anatomi daun tumbuhan dikotil
dan monokotil

BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Bagan Tata Letak Daun


Sebelum mengenal bagannya, terlebih dahulu harus dipahami istilah-istilah yang
berkaitan dengan tata letak daun yaitu:
1) Rumus daun atau divergensi
Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun permulaan garis spiral
mengelilingi batang a kali, dan jumlah daun yang dilewati selama itu adalah b, maka
perbandingan kedua bilangan tadi merupaka pecahan a/b.
2) Ortostik merupakan batang yang memiliki sejumlah b garis-garis tgak lurus (vertikal)
3) Spiral genetik adalah garis spiral yang merupakan suatu garis yang menghubungkan
daun-daun berturut-turut dari atas ke bawah
4) Sudut divergensi
Pecahan a/b menunjukan jarak antar sudut dua daun berturut-turut, apabila
diproyeksikan pada bidang datar maka jaraknya tetap dan besarnya a/b x besar lingkaran
= a/b x 360o.
5) Deret Fibonacci
Tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, ternyata pecahan a/b nya, dapat
terdiri atas pecahan-pecahan : 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst.
Batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya digambar
membujur ortostik-ortostiknya demikian pula buku-buku batangnya. Daun-daun
digambar sebagai penampang melintang helaian daun yang kecil. Pada bagan akan
terlihat misalnya pada daun dengan rumus 2/5 maka daun-daun nomor 1, 6, 11, dst tiap
kali ditambah 5 atau daun-daun nomor 2, 7, 12, dst akan terletak pada ortostik yang
sama. Untuk memperlihatkan itu perlu semua daun diberi nomer urut sepanjang spiral
genetik.

(Contoh bagan duduk daun 2/5)


II.2 Anatomi Daun
Daun merupakan salah satu dari tiga organ pokok tumbuhan selain akar dan
batang. Daun biasanya berbentuk pipih dengan posisi mendatar atau vertikal sehingga
mudah memperoleh sinar matahari dan CO2 untuk mendukung fungsinya yang khusus
sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis. Daun terdiri atas sistem jaringan dermal
(yaitu epidermis), jaringan pembuluh dan jaringan dasar (menempati daerah mesofil).
Jaringan-jaringan pada daun secara umum yaitu:
A.

Epidermis
Merupakan lapisan daun yang paling luar. Jaringan epidermis ada dua yaitu;

epidermis atas dan epidermis bawah. Epidermis umumnya transparan karena tidak
memiliki kloroplas. Di epidermis terdapat stomata (tunggal: stoma) yang berperan
sebagai alat respirasi tumbuhan. Stomata umumnya terletak di epidermis bawah. Pada
tumbuhan air, biasanya stomata banyak terdapat di epidermis atas.
Atas dasar susunan sel tetangga di sekitar sel penutup, stomata pada daun
dibedakan atas :
1. Tipe anomositik : yaitu sel tetangga serupa dengan sel epidermis lainnya,
2. Tipe anisositik : yaitu sel penutup dikelilingi tiga sel tetangga yang tidak sama.
3. Tipe parasitik : yaitu sel penutup didampingi satu atau lebih sel tetangga yang sumbu
memanjangnya sejajar dengan sumbu sel penutup.

4. Tipe diasitik : tiap stomata dikelilingi oleh dua sel tetangga yang dinding bersamanya
tegak lurus pada sumbu sel penutup.
5. Tipe aktinositik : stoma dikelilingi oleh beberapa sel tetangganya yang tersusun
melingkar.

Selain itu terdapat trikoma yang merupakan derivate epidermis. Trikoma adalah
tonjolan epidermis yang terdiri dari satu atau lebih sel. Trikoma dapat dikelompokkan
dalam beberapa golongan.
a. Trikoma non glandular (bukan rambut kelenjar)
Bentuk dan susunannya bermacam-macam, dapat berupa sel tunggal sederhana,
berbentuk sisik, berupa sederet sel yang berbentuk percabangan atau gabungan dari
beberapa deret sel.

b. Trikoma glandular (rambut kelenjar)


Trikoma ini mengeluarkan berbagai zat misalnya garam, gula, terpen dan lainlain sehingga dinamakan kelenjar.
Jenisnya bermacam-macam misalnya
:

Trikoma hidatoda
Kelenjar garam
Kelenjar madu
Rambut gatal

B. Mesofil
Mesofil adalah jaringan dasar daun yang dikelilingi epidermis, atau yang terletak
diantara epidermis atas dan epidermis bawah, dan diantara tulang-tulang daun terdiri
atas parenkima berdinding tipis. Mesofil biasanya terspesialisasi sebagai jaringan
fotosintetik. Mesofil umumnya berdiferensiasi menjadi parenkim palisade dan sponsa.
Jaringan palisade terdiri atas sel-sel memanjang tegak lurus terhadap epidermis dan
teratur seperti deretan tiang. Parenkim sponsa tampak kurang teratur.
1. Selubung Berkas Vaskular
Berkas

vascular

daun

dibungkus

dengan

struktur

yang

disebut

selubung/seludang berkas vaskular kecuali pada beberapa tumbuhan air dan tumbuhan
paku yang lembut. Selubung berkas pengangkut tersusun dari sel-sel parenkim yang
memanjang dengan sumbu tulang daun.
2. Komponen Berkas Vaskular
Komposisi berbagai ukuran berkas vaskular menunjukan perbedaan secara
kuantitatif dan kualitatif. Berkas yang paling besar mengandung xilem dan floem yang
jumlahnya sebanding dengan yang ada pada tangkai daun atau lacak daun. Pada berkas
yang kolateral xilem terletak disisi adaksial dan floem disisi abaksial.
3. Struktur Penguat
Pada banyak daun struktur penguat tidak begitu nampak berkembang dibanding
dengan yang ada di batang dan sebagian besar kekuatan daun tergantung pada tatanan
sel-sel dan jaringan. Pada daun dengan helaian yang pipih mesofil yang lunak
memperoleh kekuatan sebagian dari sistem vaskular yang menyebar kesemua tempat.
Epidermis mempuyai peran dalam pemberian kekuatan melalui tatanannya yang
rapat dan dinding kuat yang kaya kutin dan pada permukaan luarnya berlapis kutikula
yang keras. Pada beberapa tumbuhan khususnya rerumputan epidermis berlignin dan
bersilika.
4. Struktur Sekretori
Struktur sekretori yang berperan dalam sekresi air dan zat-zat lainnya

merupakan ciri umum daun. Banyak struktur sekretori daun terdapat pada epidermis.
Zat-zat yang dihasilkan sruktur sekretori dapat dilepaskan dari sel atau tetap berada
dalam sel dan baru terlepas apabila selnya mengalami disintegrasi.
Kelenjar banyak terdapat pada daun berhelaian dan katafil. Kehadiran kelenjar
tersebut pada tangkai daun dan pada gigi-gigi tepi helaian daun mempunyai arti yang
besar dalam taksonomi karena posisinya tetap pada spesies, atau bahkan pada varitas.
C. Tangkai Daun
Jaringan penguat tangkai daun adalah kolenkim dan sklerenkim. Ciri-ciri
anatomi utama tangkai daun:
1.

Epidermis
Epidermis tangkai daun tersusun dari sel-sel rapat, memanjang secara radial atau

membujur tanpa ruang antar sel. Dinding luar sel-sel epidermis biasanya mengalami
kutikularisasi.
2.

Hipodermis
Umumnya hipodermis berlapis yang terdiri atas sel-sel kolenkima terdapat tepat

dibawah epidermis tangkai daun.


3.

Jaringan dasar
Tepat di bawah hipodermis terdapat jaringan dasar yang tersusun dari sel-sel

parenkima berdinding tipis denga ruang antar sel nyata.


II.2.1 Anatomi Daun Tumbuhan Dikotil
Jaringan penyusun daun tumbuhan dikotil yaitu:
1. Epidermis
Daun ditutupi kedua permukaannya masing-masing oleh selapis epidermis.
Dinding luar epidermis biasanya tebal dan dilapisi substansi berlilin yang disebut kutin.
Permukaan luar epidermis seringkali dilapisi kutikula yang tebal ataupun tipis. Lapisan
kutikula ini dibentuk dari kutin. Adanya lapisan kutikula menyebabkan air tidak dapat
melewati epidermis dan transpirasi bisa berkurang, hanya sejumlah kecil air yang
menguap melalui transpirasi. Epidermis juga mencegah masuknya patogen ke bagian
dalam daun. Fungsi lain epidermis adalah melindungi jaringan internal yang lunak dari
kerusakan mekanis. Pada daun tertentu pada daun xerofit, sel-sel epidermal memanjang

secara radial dan mengalami lignifikasi. Pada daun Nerium, lapisan epidermis berlapis
banyak.
Pada lapisan epidermal terdapat stomata. Stomata paling banyak ditemukan pada
permukaan bawah daun dorsiventral. Stomata sedikit/jarang pada permukaan atas dan
bahkan tidak ada sama sekali. Pada daun yang terapung, stomata terdapat pada
permukaan atas. Pada daun yang tenggelam, tidak ada stoma.
Masing-masing stoma dikelilingi dua sel penutup. Sel-sel penutup merupakan
sel hidup dan mengandung kloroplas. Sel penutup ini yang mengatur membukan
menutupnya stoma. Letak stomata tersebar pada permukaan daun.

Gb. Anatomi Daun dikotil


2. Jaringan Mesofil
Jaringan daun di antara epidermis atas dan epidermis bawah terdiri atas jaringan
parenkim berdinding tipis disebut jaringan mesofil. Jaringan mesofil memiliki porsi
terbesar jaringan internal daun. Pada umumnya sel-sel mesofil terdiri atas dua tipe,
jaringan palisade dan jaringan spong. Jaringan mesofil selalu mengandung kloroplas.
Jaringan palisade biasanya terdiri dari parenkim yang silindris dan panjang dan
posisinya tegak lurus dengan permukaan epidermis. Pada penampang melintang, sel
selnya nampak padat, dan dipisahkan satu sama lain oleh ruang antar sel di antaranya.
Jaringan palisade bisa selapis atau lebih. Daun yang menerima sinar matahari secara
langsung jaringan palisade lebih rapat daripada yang teduh.

Jaringan spong tersusun longgar, tidak beraturan dengan ruang antar sel yang
besar di antara sel-selnya. Pada jaringan ini juga terdapat kloroplas, akan tetapi tidak
sebanyak pada jaringan palisade. Banyaknya rongga udara lebih memungkinkan untuk
pertukaran gas antara sel-sel spong dengan udara luar.
3. Jaringan Mekanik pada Daun
Fungsi ibu tulang daun dan vena lateral untuk menguatkan daun. Jaringan yang
berfungsi menguatkan pada daun adalah kolenkim, sklerenkim dan xilem. Pada bagian
tengah ibu tulang daun, di bawah epidermis biasanya terdapat sel-sel berdinding tebal
yang berfungsi untuk menguatkan daun yaitu jaringan kolenkim. Sklerenkim juga
menguatkan daun. Biasanya sklerenkim merupakan suatu berkas bersebelahan dengan
floem. Selain berfungsi untuk mengangkut air, trakea dan trakeid dengan ketebalan
dindingnya juga berperan dalam menguatkan daun.
II.2.2 Anatomi Daun Tumbuhan Monokotil
Daun tumbuhan monokotil beragam dalam bangun dan struktur, dan beberapa
mirip dengan daun dikotil.daun monokotil terdiri atas tangkaian dan helaian daun,
namun kebanyakan berdiferensiasi menjadi helaian dan pelepah, dan helaiannya berupa
relatif sempit. Secara tipikal tulang daun sejajar.
Daun

monokitil

pada

umumnya

orientasinya

tegak

sehingga

kedua

permukaannya mendapat sinar matahari. Struktur internal hampir sama pada kedua
permukaan daun. Stomata terdapat pada kedua sisi. Jaringan mesofil tidak mengalami
diferensiasi menjadi jaringan tiang dan jaringan spong, tetapi terdiri atas sel-sel
parenkim dengan kloroplas dan ruang antar sel di antaranya.

Gb. Daun Monokotil

Struktur anatomi dari daun monokotil, bisa kita lihat pada tanaman jagung Zea
mays.
1. Epidermis
Epidermis pada daun Zea mays terdiri dari epidermis atas dan bawah denan
ukuran dan bentuk yang berbeda. Epidermis ini hanya terdiri satu lapis sel atau yang
disebut epidermis unilateral. Pada lapisan epidermis ini terdapat sel bulliform yang
terletak di epidermis atas. Sel bulliform yaitu sel-sel yang seperti gelembung, berukuran
lebih besar, bervakuola besar, berisi cairan sel dan berdinding tipis yang terdiri dari
kutin dan kutikula. Sel bulliform permukaan pada daun secara menyeluruh terkadang
juga hanya melekuk diantara tulang daun.
Biasanya terdiri dari beberapa sel yang lebar letaknya dengan tulang daun. Sel
bulliform ini tumbuh lebih cepat dari pada sel-sel epidermis, hal ini menyebabkan
terbentuknya daun-daun yang masih menggulungs eperti daun zea mays. Stomata pada
zea mays tersebar secara merata dikedua epidermis. Stoma pada zea mays letaknya
memanjang dan merupakan deretan-deretan yang sejajar. Stomata pada zea mays terdiri
dari sel penutup yang dikelilingi oleh kedua sel tetangga yang sejajar dengannya satu
setiap sisi.
2. Mesofil
Pada zea mays, jaringan mesofil tersusun atas sel parenkim palisade dan
parenkim spons yang berbeda bentuk dan ukurannya. Parenkim palisade pada zea mays
terdapat lobus antar selnya dan tampak bercabang.
Sel parenkim palisade terdapat pada epidermis unilateral. Sel parenkim spons
bentuknya bermacam-macam dan memiliki kekususan dengan adanya lobus yang
terdapat antara sel satu dengan yang lain. Untuk membedakan antara sel parenkim
palisade dengan spons pada zea mays tidak mudah karena bentuk sel mesofil lebih
kurang saama.
3. Berkas pembuluh
Berkas pembuluh yang terdapat pada daun monokotil, khususnya pada zea mays
dibedakan menjadi dua tipe yaitu yang mempunyai satu atau dua lapisan. Lapisan
berkas pengangkut dibagian luar terdiri atas sel parenkim dengan dinding tipis. Sel
selubang berkloroplas sehingga mengandung tepung yang disebut selubung tepung .

II.2.3 Perbedaan Anatomi Daun Dikotil Dan Monokotil

Monokotil

Dikoil

1. Dari segi berkas Pembuluhnya


a. Pada tumbuhan dikotil memiliki berkas pembuluh yang terdiri dari xilem dan floem
yang letaknya teratur. Tumbuhan dikotil, di antara xylem dan floem terdapat
kambium.
b. Pada tumbuhan monokotil berkas pembuluh yang terdiri dari xilem dan floem yang
letaknya tidak teratur. Tumbuhan monokotil di antara xylem dan floem tidak di
jumpai kambium.
2. Ditinjau dari epidermis
a. Pada daun dikotil, Epidermis atas tediri dari lapisan dan tidak terdapat stoma. Pada
epidermis bawah hanya terdiri satu lapisan dan dilengkapi dengan stomata kriptofor
yang dijaga oleh sel penjaga berbentuk ginjal. contoh pada penampang daun
Nerium oleander.

b.

Pada daun monokotil, Epidermis terdiri dari epidermis atas dan bawah dengan
ukuran dan bentuk yang berbeda. Epidermis ini hanya terdiri satu lapis sel atau
yang disebut epidermis unilateral. Stomata tersebar secara merata dikedua
epidermis. Stoma letaknya memanjang dan merupakan deretan-deretan yang sejajar.
Stomata terdiri dari sel penutup yang dikelilingi oleh kedua sel tetangga yang
sejajar dengannya satu setiap sisi. Contoh pada daun Zea mays.

3. Ditinjau dari Jaringan mesofil


a. Pada daun dikotil, sel-sel mesofil terdiri atas dua tipe, jaringan palisade dan
jaringan spong. Jaringan mesofil selalu mengandung kloroplas.

b. Pada daun monokotil, Jaringan mesofil tidak mengalami diferensiasi menjadi


jaringan tiang dan jaringan spong, tetapi terdiri atas sel-sel parenkim dengan
kloroplas dan ruang antar sel di antaranya tetapi mengandung sedikit kloroplas.

BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas yaitu:
1. Rumus daun hanya dapat dihitung apabila dalam tiap buku batang hanya terdapat
satu daun. Untuk tanaman yang dalam tiap buku batang terdapat dua helai daun
atau bahkan lebih, tidak dapat ditentukan rumusan daunnya. Hal ini dikarenakan
susunan duduk daun yang terlalau rumit dan sulit menentukan putaran daun yang
saling tegak lurus.
2. Daun merupakan organ tumbuhan yang memiliki peran penting bagi kelangsungan
hidup tumbuhan. Struktur dari pada daun : Epidermis, Mesofil, Sistem vascular,
Penguat daun, Tangkai daun.

III.2 Saran
Saran kami yaitu agar paper ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh
civitas akademik khususnya dalam lingkup Unhas.

DAFTAR PUSTAKA

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196607161991011AMPRASTO/bahan_kuliah/e-learningantum/daun_(11).pdf
Nurjianti, 2012. Filotaksis. http://itnaijrun.wordpress.com. Diakses pada tanggal 6
Oktober 2013.
Tjitrosoepomo Gembong, 2011, Morfologi
University Press.

Tumbuhan, Yogyakarta: Gadjah Mada

Zahro, fatimatuz, dkk., 2012. Tata Letak Daun Pada Batang. Institut
Agama Islam
Negeri Walisongo.