Anda di halaman 1dari 7

Reaksi Kupling Diazonium : Sintesis Kombinatorial Azo-Dyes

Rosalia Rani
10513077; K-01; 5
rosaliarani@yahoo.co.id

Abstrak
Kehidupan kita tidak lepas dari zat pewarna sintetik. Pakaian, furniture, kosmetik dan barang-barang
yang sering kita gunakan hampir semuanya diwarnai menggunakan pewarna sintetik. Salah satu zat
pewarna sintetik yang sering digunakan di industri adalah azo-dyes atau lebih dikenal dengan zat
pewarna azo. Sekitar 60%-70% pewarna tekstil yang digunakan saat ini adalah senyawa azo dan
turunannya [1]. Sintesis zat pewarna azo-dyes cukup mudah untuk dilakukan. Selain itu, biaya yang
dibutuhkan untuk membuat zat pewarna ini cukup terjangkau dan zat pewarnanya pun merupakan
pewarna yang tidak mudah luntur. Oleh karena itu, kami mencoba untuk membuat zat pewarna azodyes dari bahan-bahan yang umum dan mudah ditemukan di laboratorium.
Kata kunci: Azo-dyes, Pewarna, Sintetik, Industri, Tekstil

Abstract
Our lives are not separated from synthetic dyes. Clothes, furnitures, cosmetics and goods that we use
almost all colored with synthetic dyes. One of synthetic dyes are often used in industry are azo-dyes.
Approximately 60 % -70 % of textile dyes used today are azo compounds and their derivatives [ 1 ].
Synthesis of azo-dyes fairly easy to do. In addition, the costs required to make the dyes is quite
affordable and also the color of dye substances are not easily to fade. Therefore, we try to make the
azo-dyes from the common substance that easy to find in the laboratory .
Keywords: Azo-dyes, Dyes, Synthetic, Industry, Textile

1. PENDAHULUAN
Azo-dyes atau yang sering dikenal dengan zat
pewarna azo adalah salah satu jenis zat pewarna yang
telah banyak digunakan sebagai pewarna tekstil sejak
abad lalu. Sekitar 60%-70% pewarna tekstil yang
digunakan saat ini adalah senyawa azo dan
turunannya. Azo-dyes banyak digunakan karena
proses pembuatannya yang relatif mudah dan murah,
hemat energi, dan pewarna yang dihasilkan
merupakan pewarna yang tidak mudah luntur [2].
Pada dasarnya, pembuatan zat pewarna azo-dyes ini
merupakan reaksi penggabungan dua senyawa
organik dengan ion nitrosil sehingga menghasilkan
gugus azo (-N=N-). Berikut adalah contoh zat
pewarna azo yang sering digunakan dalam industri.

Gambar1.AnillineYellow

Gambar2.Chrysoineresorcinol
Pada percobaan ini, kami diminta untuk mensintesis
zat pewarna azo-dyes dengan mereaksikan garam
diazonium dengan berbagai macam zat pengupling.
Namun, sebelum kami mensintesis zat pewarna azodyes, kami terlebih dahulu diminta untuk mensintesis
garam diazonium dari senyawa 4-nitroanilin, HCl dan
natrium nitrit (NaNO2). Kemudian, garam diazonium
ini direaksikan dengan berbagai macam zat
pengupling, dalam hal ini 1-naftol, 2-naftol,
resorsinol, asam salisilat dan 4-nitrofenol. Berhasil
atau tidaknya sintesis zat pewarna azo dyes ini dilihat
dari spektrum IR dari masing-masing zat pewarna
yang terbentuk. Selain itu, pada percobaan ini, kami
juga diminta untuk melakukan elusi kromatografi
kertas terhadap masing-masing zat pewarna azo-dyes
yang kami hasilkan pada percobaan ini untuk
menentukan kepolaran dari masing-masing zat
pewarna azo-dyes.

2. METODE PERCOBAAN
A. DIAZOTISASI 4-NITROANILIN
Pertama, ke dalam gelas kimia 100 mL
dimasukkan 11 mL air dan kemudian ditambahkan
11 mL HCl pekat. Kemudian, tabung reaksi ini
didinginkan dalam penangas es. Sementara ke
dalam gelas kimia lain, dimasukkan 4,9 g 4nitroanilin , 2,66 g natrium nitrit (NaNO 2) dan 11
mL air. Kemudian larutan ini diaduk dengan
batang pengaduk kaca. Setelah itu, gelas kimia
pertama yang berisi air dan HCl dingin
dimasukkan ke dalam rabung reaksi ini sedikit
demi sedikit sambil diaduk. Setelah semua air dan
HCl dingin dituangkan, larutan disaring dengan
corong buchner sebanyak empat kali. Kemudian,
filtrat yang mengandung garam diazonium ini
dipindahkan ke dalam beberapa tabung reaksi
untuk digunakan sebagai reagen dalam reaksi
kupling.

B. REAKSI KUPLING
Pertama, sebanyak 0,0051 mol zat pengupling,
yaitu 1-naftol, 2-naftol, resorsinol, asam salisilat
dan 4-nitrofenol ditimbang dan dimasukkan ke
dalam labu erlenmeyer 50 mL. Namun untuk
resorsinol, jumlah yang digunakan adalah dua kali
dari prosedur asli, yaitu 0,0102 mol. Lalu,
ditambahkan 10 mL larutan NaOH 2,5 M ke
dalam labu erlenmeyer tersebut dan kemudian
diletakkan di dalam penangas es. Lalu, larutan
garam diazonium yang telah dibuat sebelumnya
ditambahkan ke dalam labu erlenmeyer sambil
diaduk. Campuran reaksi tersebut dibiarkan
selama kurang lebih 10 menit di dalam penangas
es, dicatat juga perubahan warna yang terjadi
setelah penambahan garam diazonium. Kemudian,
ke dalam campuran tersebut ditambahkan 1,5 mL
HCl pekat tetes demi tetes sampai pH larutan
berkisar antara 3 4. Lalu, ditambahkan 1 g NaCl
dan dipanaskan diatas pemanas listrik sampai
mendidih. Khusus untuk resorsinol, pemanasan
harus dilakukan lebih lama. Kemudian, pindahkan
labu erlenmeyer dari pemanas listrik dan dibiarkan
sebentar sampai suhu labu erlenmeyer tidak terlalu
panas, lalu didinginkan di aliran air keran. Setelah
itu, barulah labu diletakkan di dalam penangas es
sampai terbentuk endapan. Apabila belum terdapat
endapan, panaskan lagi labu erlenmeyer di atas
pemanas listrik dan ulangi prosedur diatas. Lalu,
endapan tersebut disaring dengan menggunakan
corong buchner. Kemudian, padatan dicuci dengan
2 mL air dan dikeringkan diatas pemanas listrik
menggunakan kaca arloji. Setelah padatan kering,
padatan ditimbang. Selanjutnya, masing-masing
padatan pewarna azo-dyes dilarutkan dalam
larutan NaOH 2,5 M. Larutan NaOH yang
digunakan sesedikit mungkin, agar larutan yang
terbentuk cukup pekat. Kemudian, totolkan pada
kertas saring berukuran 6 x 10 cm yang

sebelumnya telah ditandai batas atas dan batas


bawahnya berturut-turut 2 cm dan 0,5 cm. Lalu,
masukkan kertas saring yang telah ditotoli
pewarna azo-dyes ke dalam wadah berisi larutan
isopropanol 80% dan dilakukan elusi kromatografi
kertas. Setelah pelarut menyentuh batas atas
kertas, keluarkan kertas dari dalam wadah, dan
keringkan di udara. Lalu, diukur jarak noda dan
dihitung Rf dari masing-masing pewarna azodyes.
Kemudian
dilakukan
pengukuran
spektrofotometri IR dan UV-Vis untuk tiap produk
yang terbentuk.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL PERCOBAAN
Tabel 1. Perubahan Warna Ragen Pengupling
Warna
Massa
Reagen
Padatan
Pengupling
Awal
Akhir
(g)
1-naftol
Hitam
Ungu tua
0,4
2-naftol
Coklat
Merah
0,16
Resorsinol
Coklat
Ungu
0,1
Asam salisilat Bening
Merah
0,35
hati
4-nitrofenol
Kuning Hijau tua
0,32
Tabel 2. Nilai Rf Azo-Dyes
Reagen
Jarak Noda
Pengupling
(cm)
1-naftol
2,7
2-naftol
1,5
Resorsinol
1,4
Asam salisilat
1,4
4-nitrofenol
2,4
Jarak pelarut : 4,4 cm
Pelarut
: Isopropanol 80%

Rf
0,61
0,34
0,32
0,32
0,54

Gambar3.Azodyesdariasamsalisilat

proses sintesis garam diazonium, ion nitrit akan


diubah menjadi asam nitrit (HNO2) yang
kemudian akan diubah menjadi kation nitrosil.
Lalu, kation nitrosil ini akan bereaksi dengan 4nitroanilin sehingga membentuk garam diazonium
4-nitrobenzen.

Gambar1.Reaksi pembentukan kation nitrosil


Gambar4.Azodyesdari2naftol

Gambar5.Azodyesdari4nitrofenol

Gambar6.Azodyesdari1nitrofenol

B. PEMBAHASAN

i.

DIAZOTISASI 4-NITROANILIN
Pada percobaan ini, kami mencoba untuk
membuat garam diazonium dari senyawa 4nitroanilin. Dalam proses sintesisnya, senyawa 4nitroanilin direaksikan dengan natrium nitrit
((NaNO2) dan HCl pekat yang sebelumnya telah
dicampur dengan air dan kemudian diletakkan
dalam penangas es. Pada dasarnya, reaksi yang
terjadi dalam sintesis garam diazonium ini adalah
reaksi antara senyawa 4-nitroanilin, HCl dan
natrium nitrit (NaNO2). Air yang digunakan dalam
percobaan hanya berfungsi sebagai pelarut. Pada

Gambar1.Reaksi pembentukan garam diazonium


Dalam proses pembuatan garam diazonium ini,
larutan HCl pekat yang telah ditambah air harus
didinginkan di dalam penangas es. Hal ini
dikarenakan reaksi yang terjadi antara HCl,
natrium nitrit (NaNO2), dan 4-nitroanilin
merupakan reaksi eksoterm, sehingga akan terjadi
kenaikan suhu ketika reaksi ini terjadi. Apabila
larutan HCl ini tidak didinginkan, dikhawatirkan
akan terjadi kenaikan suhu yang cukup berarti
yang akan membahayakan praktikan selama
percobaan ini dilakukan. Pencampuran larutan
HCl dingin dengan campuran 4-nitroanilin,
natrium nitrit (NaNO2) dan air dilakukan perlahanlahan sambil diaduk. Hal ini dikarenakan dalam
proses pencampuran dihasilkan buih yang cukup
banyak. Hasil dari pencampuran ini adalah larutan
yang mengandung emulsi berwarna kuning cerah
yang merupakan senyawa garam diazonium 4nitrobenzene.

Gambar7.Garam diazonium 4-nitrobenzene

ii.

REAKSI KUPLING
Dalam percobaan ini, kami membuat berbagai
macam zat pewarna dengan mereaksikan garam
diazonium 4-nitrobenzene yang telah disintesis
sebelumnya dengan berbagai macam zat
pengupling. Dalam hal ini, kami menggunakan
lima jenis zat pengupling, yaitu 1-naftol, 2-naftol,
resorsinol, asam salisilat, dan 4-nitrofenol. Zat
pengupling yang digunakan adalah sebanyak
0,0051 mol, kecuali untuk resorsinol. Jumlah yang
resorsinol yang direaksikan dengan garam
diazonium 4- nitrobenzene adalah dua kali dari
jumlah zat pengupling lainnya, yaitu sebanyak
0,0102 mol. Hali ini dikarenakan resorsinol adalah
senyawa yang cukup stabil sehingga reaksi akan
berlangsung lebih lama. Dalam kata lain, apabila
jumlah resorsionol yang direaksikan sama dengan
jumlah zat pengupling lain, maka zat pewarna azodyes yang dihasilkan akan sangat sedikit. Reaksi
antara garam diazonium 4-nitrobenzene dengan
zat pengupling menghasilkan zat pewarna azodyes dengan berbagai macam warna, seperti yang
tercantum pada Tabel 2 dan Gambar 3-6.
Semakin banyak jumlah ikatan rangkap
terkonjugasi yang terdapat pada zat pewarna yang
dihasilkan, maka semakin cerah pula warna zat
pewarna tersebut. Dalam proses sintesis zat
pewarna azo-dyes, setelah zat pewarna
ditambahkan HCl dan NaCl, perlu dilakukan
pemanasan di atas pemanas listrik agar sebagian
pelarut menguap sehingga padatan yang diperoleh
pun akan lebih banyak. Setelah padatan diperoleh,
padatan di larutkan dalam NaOH 2,5 M untuk
dielusi dengan kromatografi kertas. Pelarut yang
dipilih untuk melarutkan zat pewarna azo-dyes
adalah larutan NaOH 2,5 M dikarenakan zat
pewarna azo-dyes yang terbentuk bersifat asam.
Sehingga apabila zat pewarna azo-dyes ini
dilarutkan dalam NaOH yang bersifat basa, akan
terbentuk garam yang akan larut dalam air. Setelah
zat pewarna azo-dyes dilarutkan dalam NaOH 2,5
M, zat pewarna azo-dyes ini lalu dielusi dengan
kromatografi kertas dengan eluen isopropanol
80% untuk mengetahui kepolaran dari masingmasing zat pewarna azo-dyes. Dalam hal ini, yang
menjadi fasa diamnya adalah kertas, yang
notabene tersusun dari selulosa. Sedangkan fasa
geraknya adalah isopropanol 80%. Karena fasa
diamnya adalah senyawa yang relatif lebih
nonpolar dibanding fasa geraknya, maka apabila
dilakukan kromatografi kertas, noda yang paling
atas adalah yang paling polar. Sebaliknya, noda
yang paling bawah adalah noda yang paling
nonpolar. Dalam kata lain, semakin besar nilai Rf,
maka semakin zat pewarna azo-dyes tersebut
semakin polar. Sebaliknya, semakin kecil nilai Rf,
maka semakin nonpolar zat pewarna azo-dyes
tersebut.

Gambar8.Pewarna azo-dyes sebelum


dikromatografi

Gambar9.Pola hasil kromatografi


Dari hasil kromatografi yang kami lakukan
terhadap zat pewarna azo-dyes, dapat dilihat
bahwa urutan kepolaran zat pewarna hasil sintesis
dari yang paling polar adalah : 1-naftol > 4nitrofenol > 2-naftol > asam salisilat = resorsinol.
Selain dilakukan kromatografi kertas, dilakukan
juga pengukuran spektrofotometri IR terhadap zat
pewarna azo-dyes yang dihasilkan pada percobaan
ini. Salah satu indikasi bahwa zat pewarna azodyes telah terbentuk adalah adanya ikatan -N=Npada zat pewarna azo-dyes. Berikut ini adalah
hasil pengukuran spektrofotometri IR terhadap
masing-masing zat pewarna azo-dyes yang telah
kami sintesis.

Gambar10.Spektrum IR zat pewarna azo-dyes


dari 1-naftol

Gambar13.Spektrum IR zat pewarna azo-dyes


dari asam salisilat

Gambar11.Spektrum IR zat pewarna azo-dyes


dari 2-naftol

Gambar14.Spektrum IR zat pewarna azo-dyes


dari resorsinol

Gambar12.Spektrum IR zat pewarna azo-dyes


dari 4-nitrofenol

Dari literatur [3], diungkapkan bahwa serapan


ikatan N=N berada pada panjang gelombang
sekitar 1600an. Dari hasil spektrum IR yang
didapat dari zat pewarna azo-dyes, terdapat
serapan pada sekitar panjang gelombang 1600an.
Pada spektrum IR zat pewarna azo-dyes dari 1naftol, terdapat serapan pada panjang gelombang
1601 cm-1. Demikian pula pada spektrum IR zat
pewarna azo-dyes dari 2-naftol, 4-nitrofenol, asam
salisilat dan resorsinol berturut-turut 1600 cm-1,
1586 cm-1, 1608 cm-1 dan 1628 cm-1. Dari
spektrum IR zat pewarna azo-dyes, dapat
disimpulkan bahwa zat yang terbentuk dari
percobaan ini adalah benar zat pewarna azo-dyes
yang dihasilkan dari reaksi antara garam
diazonium dan zat pengupling.

4. KESIMPULAN
Dari hasil spektrum IR terhadap masing-masing
zat pewarna azo-dyes yang kami sintesis, dapat
disimpulkan bahwa kami berhasil mensintesis zat
pewarna azo-dyes.

UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada semua orang yang telah
membantu dalam percobaan ini, khususnya
Marthasya, Praptaning Budi Utami, dan asisten
praktikum kami, kak Sendy, serta pemimpin
praktikum kami, Deana Wahyuningrum.
Tanpa
bantuan mereka, praktikum ini akan terasa lebih sulit.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Yantis Blog, Zat Pewarna Azo,
http://yantitoluena1.blogspot.com/2011/04/zatwarna-azo.html , 2014.

[2] Chemistry of Dyes, Azo Dyes,


http://www.chm.bris.ac.uk/webprojects2002/pric
e/azo.htm, 2002.

[3] Asian Journal of Biochemical and Pharmaceutical


Reseach, Formation Of Some Novel Acid Azo
Dyes : Synthesis, C haracterisation &
Application Properties : I,
http://www.ajbpr.com/issues/volume2/issue1/FIN
AL%2029.pdf, 2012.