Anda di halaman 1dari 109

KATA PENGANTAR

Pemahaman secara komprehensif terhadap persoalan kesenjangan antardaerah perlu


menjadi acuan dalam perumusan perencanaan pembangunan, sehingga dapat mendukung
kebijakan nasional dalam upaya pemerataan pembangunan di Indonesia. Untuk memberikan
landasan dalam menentukan arah kebijakan mengurangi kesenjangan antardaerah, diperlukan
data dan informasi objektif, serta teknik pengolahan data tertentu sehingga dapat memberi
gambaran berbagai aspek yang menunjukkan adanya kesenjangan. Aspek-aspek yang memiliki
urgensi tinggi untuk dilihat pada konteks kesenjangan adalah kesenjangan perekonomian daerah
dan kesejahteraan masyarakat, serta aspek-aspek yang mempengaruhinya.
Berdasarkan hasil pengumpulan data dari berbagai sumber yang kompeten dan
pengolahan data, telah dihasilkan berbagai informasi penting yang menggambarkan adanya
kesenjangan. Informasi kesenjangan yang disajikan dalam buku ini dibagi menjadi 5 (lima)
bagian yang meliputi: Bagian Pertama, berisi uraian yang menjadi latar belakang penyusunan
buku ini, dan penjelasan sistematika penyajian buku. Bagian Kedua, berisi uraian Metodologi
dan analisis kesenjangan antardaerah, bagian ketiga berisi uraian kesejangan perekonomian
antardaerah, bagian keempat, berisi uraian Kesenjangan infrastruktur Antarwilayah, bagian
kelima berisi uraian kesenjangan analisis Pendapatan dan Belanja Daerah. Data yang digunakan
dalam publikasi ini bersumber dari informasi yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik, PT.
PLN, Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Kementerian/ Lembaga dan sumber data lainnya.
Informasi kesenjangan ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan pemahaman
terhadap kondisi dan perkembangan kesenjangan di Indonesia dilihat dari beberapa aspek yang
dibahas. Dengan demikian melalui informasi dari hasil analisis kesenjangan ini diharapkan
dapat menjadi benchmarking, sehingga kondisi atau kinerja tiap daerah bisa diperbandingkan
dengan daerah yang lain. Selanjutnya berdasarkan informasi kesenjangan antar daerah ini
diharapkan dapat memberikan orientasi terhadap berbagai kebijakan dan program pengurangan
kesenjangan antardaerah.
Kami mengucapkan terimakasih atas segala dukungan berbagai pihak dalam
penyusunan dan penerbitan buku ini. Kami sangat menghargai kritik dan saran dari berbagai
pihak guna menyempurnakan publikasi ini pada edisi yang mendatang.
Jakarta, Desember 2013
Deputi Bidang Pengembangan Regional
dan Otonomi Daerah

Dr. Ir. Max H. Pohan, CES, MA

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Tim Penyusun
PENGARAH:
Dr. Ir. Max H. Pohan, CES, MA
Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah

PENANGGUNG JAWAB :
Ir. Arifin Rudiyanto M.Sc, Ph.D
Direktur Pengembangan Wilayah
TIM PENYUSUN :
Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D; Awan Setiawan, SE, MM, ME
Yudianto, ST, MT, MPP; Supriyadi, S.Si, MTP; Rudi Alfian, SE;
Agung Widodo, SP, MIDEC; Fidelia Silvana, SP, M.Int.Econ & F;
Septaliana Dewi Prananingtyas, SE, M.Bus,Ec; Bimo Fachrizal Arvianto, S.Si;
Hari Dwi Korianto, S.Kom, M.Si; Gatot Pambudhi Poetranto, S.Kom, MPM;
Ronny Komala Winoto, S.Kom.
TIM AHLI:
Bambang Waluyanto; Nana Mulyana; Aziz Faizal Fachrudin; Setya Rusdianto;
Tri Supriyana; Iskandar Zulkarnaen
TIM PENDUKUNG:
Anna Astuti; Eni Arni ; Sapto Mulyono;
Zulkarnaen, S.Kom; Cecep Supriyadi; Donny Yanuar.

Komentar, saran dan kritik dapat disampaikan ke:

Direktorat Pengembangan Wilayah


Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)
Jl. Taman Suropati No. 2 Jakarta Pusat 10310
Telp/Fax. (021) 3193 4195
Email. dit.pw@bappenas.go.id

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

iii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar

i
v
vii
xi

1.

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

1.2. Sistematika Penyajian

METOLOGI ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH

2.1.

5
6

2.

3.

4.

Analisis Kesenjangan Perekonomian Antarwilayah


2.1.1.
Metode Analisis Pendapatan Regional
2.1.2.
Metode Analisis Kesenjangan berdasarkan Pola dan Struktur
Pertumbuhan Ekonomi

2.2.

Analisis Kesenjangan kesejahteraan Infrastruktur antarwilayah

2.3.

Analisis Pendapatan dan Belanja Daerah

2.4.

Metode Penyajian Kesenjangan.

10

KESENJANGAN EKONOMI ANTARWILAYAH

13

3.1.

Kesenjangan Ekonomi Wilayah


3.1.1.
Disparitas Nilai PDRB dan PDRB Antarwilayah.
3.1.2.
Disparitas PDRB Perkapita Antarwilayah (Dispersion Ratio)
3.1.3.
Kesenjangan Wilayah (Williamson Index)
3.1.4.
Kesenjangan Pendapatan (Gini Ratio)

13
13
15
21
24

3.2.

Kesenjangan Sosial

26

KESENJANGAN INFRASTRUKTUR ANTARWILAYAH

29

4.1.

Kesenjangan Infrastruktur Jalan


4.1.1.
Wilayah Sumatera
4.1.2.
Wilayah Jawa Bali
4.1.3.
Wilayah Nusa Tenggara
4.1.4.
Wilayah Kalimantan
4.1.5.
Wilayah Sulawesi
4.1.6.
Wilayah Maluku dan Papua

30
31
32
34
35
37
38

4.2.

Kesenjangan Infrastruktur Energi Listrik


4.2.1.
Wilayah Sumatera
4.2.2.
Wilayah Jawa Bali
4.2.3.
Wilayah Nusa Tenggara
4.2.4.
Wilayah Kalimantan
4.2.5.
Wilayah Sulawesi
4.2.6.
Wilayah Maluku dan Papua

40
41
42
43
43
44
45

4.3.

Kesenjangan Infrastruktur Telekomunikasi


4.3.1.
Wilayah Sumatera
4.3.2.
Wilayah Jawa Bali
4.3.3.
Wilayah Nusa Tenggara

46
46
47
48

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

4.3.4.
4.3.5.
4.3.6.

5.

Wilayah Kalimantan
Wilayah Sulawesi
Wilayah Maluku dan Papua

50

ANALISIS PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH

51

5.1.

Analisis Pendapatan Daerah


5.1.1.
Rasio Kemandirian Daerah
5.1.2.
Rasio Pajak (Tax Ratio)
5.1.3.
Ruang Fiskal Daerah

51
51
54
56

5.2.

Analisis Belanja Daerah


5.2.1.
Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah
5.2.2.
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja
5.2.3.
Rasio Belanja Modal Per Total Belanja
5.2.4.
Rasio Belanja PerJumlah Penduduk
5.2.5.
Rasio Belanja Modal PerJumlah Penduduk

59
59
62
65
74
76

5.3.

Perimbangan Kondisi Keuangan Daerah Dengan Kondisi Sosial Masyarakat

68

LAMPIRAN

vi

48
49

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

73

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

2.1.
3.1.
3.2.
3.3.
3.4.

Matrik Tipologi Klassen


Distribusi Nilai PDRB ADHB menurut Pulau Tahun 2008-2012
Distrubusi Nilai PDRB ADHB Menurut Usaha Berdasarkan Pulau Tahun 2012
Index Williamson Menurut Provinsi di wilayah Sumatera, Tahun 2007-2011
Index Williamson Menurut Provinsi di wilayah Jawa Bali, Tahun 2007-2011

7
13
14
22
22

3.5.

Index Williamson Menurut Provinsi di wilayah Kalimantan , Tahun 20072011


Index Williamson Menurut Provinsi di wilayah Sulawesi, Tahun 2007-2011
Index Williamson Menurut Provinsi di wilayah Nusa Tenggara,Maluku dan
Papua Tahun 2007-2011
Perkembangan Kesenjangan Golongan Pendapatan (Gini Ratio) Menurut
Provinsi Tahun 2008-2012

23

Panjang Jalan, Luas wilayah dan Kerapatan Jalan Antar KBI dan KTI Tahun
2010
Kondisi Jalan Nasional tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Kondisi Jalan Nasional tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Kondisi Jalan Nasional tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Kondisi Jalan Nasional tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Kondisi Jalan Nasional tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Kondisi Jalan Nasional tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Kondisi Jalan Nasional tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Perbandingan Ketersedian Infrastruktur Energi Listrik Antarwilayah di
Indonesia, Tahun 2011
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrisasi dan
Konsumsi Listrik Perkapita di Wilayah Sumatera
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrisasi dan
Konsumsi Listrik Perkapita di Wilayah Jawa Bali
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrisasi dan
Konsumsi Listrik Perkapita di Wilayah Nusa Tenggara
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrisasi dan
Konsumsi Listrik Perkapita di Wilayah Kalimantan
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrisasi dan
Konsumsi Listrik Perkapita di Wilayah Sulawesi
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrisasi dan
Konsumsi Listrik Perkapita di Wilayah Maluku dan Papua
Perbandingan Pengunaan Alat Telekomunikasi Antarwilayah, Tahun 2010
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Telepon dan
Penerimaan Sinyal Telepon Selular Diwilayah Sumatera
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Telepon dan
Penerimaan Sinyal Telepon Selular Diwilayah Jawa-Bali
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Telepon dan
Penerimaan Sinyal Telepon Selular Diwilayah Nusa Tenggara
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Telepon dan
Penerimaan Sinyal Telepon Selular Diwilayah Kalimantan
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Telepon dan
Penerimaan Sinyal Telepon Selular Diwilayah Sulawesi
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan menurut Keberadaan Telepon dan
Penerimaan Sinyal Telepon Selular Diwilayah Maluku dan Papua

30

3.6.
3.7.
3.8.

4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.
4.6.
4.7.
4.8.
4.9.
4.10.
4.11.
4.12.
4.13.
4.14.
4.15.
4.16.
4.17.
4.18.
4.19.
4.20.
4.21.
4.22

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

23
24
25

32
33
35
36
38
40
40
41
41
42
43
44
44
45
46
47
47
48
49
49
50

vii

5.1.

Kabupaten/Kota Menurut Dua Puluh (20) Peringkat Tertinggi dan Terendah


untuk Rasio PAD terhadap Total Pendapatan Tahun 2012
Rasio Pajak Kabupaten/Kota Menurut Dua Puluh (20) Peringkat Tertinggi dan
Terendah, Tahun 2011.
20 Kabupaten/Kota Tertinggi dan 20 Kabupaten/Kota Terendah menurut ruang
fiskal
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Kabupaten dan Kota Menurut 20
Peringkat Tertinggi dan Terrendah
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung (PNSD)Terhadap Total Belanja
Kabupaten dan Kota Tahun 2012
Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Kabupaten dan Kota Tahun 2012
Hasil Analisis Kuadran Rata-rata Belanja Urusan Kesehatan Pemerintah Provinsi
dan Kabupaten/kota se-Provinsi dengan Kondisi Pendidikan Menurut Rata-rata
Lama Sekolah (RLS)
Hasil Analisis Kuadran Rata-rata Belanja Urusan Pendidikan Pemerintah
Provinsi dan Kabupaten/kota se-Provinsi dengan Kondisi Kesehatan Menurut
Umur Harapan Hidup (UHH)

5.2.
5.3.
5.4.
5.5.
5.6.
5.7.

5.8.

viii

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

53
56
58
62
65
67
70

72

DAFTAR GAMBAR
Nomor
3.1.
3.2
3.3.
3.4
3.5.
3.6
3.7.
3.8.
3.9.
3.10.
3.11.
3.12.
3.13.
3.14.
3.15.
3.16.
4.1
4.2
4.3
4.4.
4.5.
4.6.
4.7.
4.8.
4.9.
4.10.

Halaman
Perbandingan PDRB Perkapita (ADHB) dengan Migas Antarprovinsi, Tahun
2012 (dalam juta/jiwa)
Perbandingan PDRB Perkapita (ADHB) Tanpa Migas dan Dengan Migas
Berdasarkan Dispersion Ratio Tahun 2012
Disparitas PDRB Perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Sumatera Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita Tanpa Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Sumatera Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Jawa+Bali Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita Tanpa Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Jawa+Bali Tahun 2007-2011.
Disparitas PDRB Perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Kalimantan Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita Tanpa Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Kalimantan Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Sulawesi Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita Tanpa Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Sulawesi Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio per
provinsi di wilayah Nusa tenggara, Maluku dan Papua Tahun 2007-2011
Disparitas PDRB Perkapita tanpa Migas menurut Dispersion Ratio per provinsi
di wilayah Nusa tenggara, Maluku dan Papua Tahun 2007-2011
CVw dari PRB Perkapita menurut Provinsi di wilayah Jawa-Bali, Tahun 20072011
Perbandingan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin menurut Provinsi
Tahun 2013(Februari)
Perbandingan IPM antarprovinsi Tahun 2011
Perbandingan Prosentase Proses Kelahiran ditolong Tenaga Medis Tahun 2011

15

Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan Antar wilayah Pulau, Tahun 2010
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) AntarProvinsi Di
Wilayah Sumatera
Rasio jumlah Kendaraan Roda-4 Per KM, dan Panjang Jalan Per 1000
Penduduk AntarProvinsi Di Wilayah Sumatera
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) AntarProvinsi Di
Wilayah Jawa Bali
Rasio jumlah Kendaraan Roda-4 Per KM, dan Panjang Jalan Per 1000
Penduduk AntarProvinsi Di Wilayah Jawa- Bali
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) AntarProvinsi Di
Wilayah Nusa Tenggara
Rasio jumlah Kendaraan Roda-4 Per KM, dan Panjang Jalan Per 1000
Penduduk AntarProvinsi Di Wilayah Nusa Tenggara
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) AntarProvinsi Di
Wilayah Kalimantan
Rasio jumlah Kendaraan Roda-4 Per KM, dan Panjang Jalan Per 1000
Penduduk AntarProvinsi Di Wilayah Kalimantan
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) AntarProvinsi Di
Wilayah Sulawesi

30
31

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
26
27
27

31
32
33
34
34
35
36
37

ix

4.11.
4.12.
4.13.

5.1.
5.2.
5.3.
5.4.
5.5.
5.6.
5.7.
5.8.
5.9.
5.10.
5.11.
5.12.
5.13.
5.14.

Rasio jumlah Kendaraan Roda-4 Per KM, dan Panjang Jalan Per 1000
Penduduk AntarProvinsi Di Wilayah Sulawesi
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) AntarProvinsi Di
Wilayah Maluku dan Papua
Rasio jumlah Kendaraan Roda-4 Per KM, dan Panjang Jalan Per 1000
Penduduk AntarProvinsi Di Wilayah Maluku dan Papua

37

Rasio PAD terhadap Total Pendapatan Pemerintah Provinsi , Tahun 2008 dan
2012
Rasio PAD terhadap total pendapatan Kabupaten/Kota se-Provinsi,Tahun 2007
dan 2011
Tax Rasio Pemerintah Provinsi Tahun 2008-2012
Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi Tahun 2008-2012
Ruag Fiskal Pemerintah Provinsi, Tahun 2012
Rata-rata Ruang Fiskal Kabupaten dan Kota Menurut Provinsi, Tahun 2012
Rasio Belanja pegawai terhadap Total Belanja masing-masing Pemerintah
Provinsi di Indonesia Tahun 2008-2012
Rasio Belanja Pegawai Kabupaten dan Kota Se-Provinsi terhadap Total
Belanja Pemerintah Di Indonesia Tahun 2008-2012
Rasio Belanja Pegawai Tidak langsung terhadap Total Belanja masing- masing
Pemerintah Provinsi Di Indonesia Tahun 2008-2012
Rasio Belanja Pegawai Tidak langsung terhadap Total Belanja masing- masing
Pemerintah Kabupaten dan Kota Di Indonesia Tahun 2008-2012
Rasio Belanja Modal terhadap Total Belanja masing-masing Pemerintah
Provinsi Di Indonesia Tahun 2008-2012
Rasio Belanja Modal terhadap Total Belanja masing-masing Pemerintah
Kabupaten dan Kota Se-Provinsi Di Indonesia Tahun 2008-2012
Perimbangan Indeks harapan Hidup dengan Belanja Pemerintah Urusan
Kesehatan
Perimbangan Rata-rata Lama Sekolah dengan Belanja Pemerintah Urusan
Pendidikan

52

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

39
39

53
55
55
57
58
60
61
63
64
66
67
69
71

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Kesenjangan antarwilayah di Indonesia tidak terlepas dari adanya keragaman


potensi sumber daya alam, letak geografis, kualitas sumber daya manusia, ikatan etnis
atau politik. Keberagaman ini dapat menjadi sebuah keunggulan dalam satu sisi, namun
disisi lain dapat berpotensi menjadi sumber instabilitas sosial dan politik nasional. Untuk
itu, maka penyelenggaraan pembangunan secara terencana dan berorientasi terhadap
pengurangan kesenjangan antarwilayah menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Pemahaman secara komprehensif terhadap persoalan kesenjangan tersebut perlu menjadi
acuan dalam perumusan perencanaan pembangunan, sehingga dapat mendukung upaya
pemerataan pembangunan di Indonesia.
Kesenjangan pendapatan di suatu daerah akan menimbulkan berbagai
permasalahan, seperti peningkatan migrasi dari daerah yang miskin ke daerah yang lebih
maju, kriminalitas, dan konflik antar masyarakat. Dalam konteks kenegaraan kesenjangan
akan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang kemudian akan
mengancam keutuhan suatu negara. Maka dari itu, kesenjangan harus diatasi oleh
pemerintah dengan mendorong daerah yang miskin untuk mampu mengejar
ketertinggalan perekonomiannya terhadap daerah yang sudah kaya
Meskipun tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, kesenjangan antar daerah tetap
harus diupayakan untuk dikurangi. Salah satu prinsip dasar yang harus dipegang para
pengambil kebijakan adalah bahwa kesenjangan perekonomian antar daerah masih dapat
ditoleransi sejauh tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional dan tidak
menciptakan ketidakmerataan pendapatan yang luar biasa dalam masyarakat. Dengan kata
lain, upaya melakukan redistribusi pendapatan masyarakat haruslah mendapatkan
prioritas utama dibandingkan redistribusi perekonomian daerah. Satu hal lagi yang harus
dilakukan dalam upaya mengurangi kesenjangan perekonomian antar daerah adalah
mengurangi jarak antara daerah terkaya dengan daerah termiskin, melalui upaya
khusus untuk mengangkat daerah termiskin secara signifikan.
Penyebab terjadinya kesenjangan yang terjadi antardaerah di Indonesia
diantaranya dapat diakibatkan oleh kesenjangan ketersediaan infrastruktur dan
kemampuan keuangan antardaerah. Infrastruktur merupakan suatu input dalam proses
produksi yang dapat memberikan peningkatan produktivitas marjinal pada output.
Infrastruktur yang layak dan tepat dapat membantu mendorong berbagai kegiatan
ekonomi melalui fungsinya yang dapat melancarkan proses produksi dan mobilitas
manusia, barang, dan jasa. Sementara itu kesenjangan dari sisi kemampuan keuangan
antardaerah dapat dilihat dari aspek jumlah pendapatan daerah, dan kualitas belanja
daerah. Kedua aspek di atas memiliki pengaruh nyata terhadap kinerja perekonomian
daerah.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Selain kedua aspek tersebut diatas, masalah klasik dan mendasar terjadinya
kesenjangan antardaerah tersebut potensi ekonomi yang tidak sama. Ada beberapa wilayah
atau provinsi yang memiliki berbagai sumber daya alam berlimpah, tidak akan
permasalahan dalam membangun kegiatan ekonomi sebagai pusat perumbuhan dan
kesenjangan pembangunan antardaerah terutama terjadi antara perdesaan dan perkotaan, antara
Pulau Jawa dan luar Jawa, antara antara pusat-pusat pertumbuhan dengan kawasan hinterland
dan kawasan perbatasan, serta antara Kawasan Barat Indonesia dan Kawasan Timur
Indonesia. Berbagai permasalahan yang masih dihadapi adalah masih terdapatnya
ketimpangan pembangunan antar wilayah di Indonesia. Indikasi ketimpangan pembangunan
tersebut dapat dilihat dari perbedaan tingkat kesejahteraan dan perkembangan ekonomi antar
wilayah. Data BPS tahun 2012 menunjukah bahwa perkembangan aktivitas ekonomi masih
terkonsentrasi di wilayah Jawa-Bali dan Sumatera dengan share terbesar 82,64 persen, dan
kemiskinan tahun 2013 terkonsentrasi di wilayah Jawa-Bali, yaitu sebanyak 15,52 juta
jiwa dan berikutnya di wilayah Sumatera sebanyak 6,2 juta jiwa. Namun, secara
persentase, angka kemiskinan di DKI Jakarta menunjukkan angka yang paling kecil, yaitu
hanya sekitar 3,5 persen sedangkan angka persentase kemiskinan di wilayah Papua
mencapai persentase terbesar, yaitu 30,22 persen. Ketimpangan pelayanan sosial dasar yang
tersedia, seperti pendidikan, kesehatan, dan air bersih juga terjadi antar wilayah, khususnya
di Kawasan Timur Indonesia ketersediannya minim sekali.
Untuk memberikan orientasi dalam memperkuat kebijakan upaya mengurangi
kesenjangan tersebut, diperlukan data dan informasi objektif, serta teknik pengolahan data
tertentu sehingga dapat memberi gambaran adanya kesenjangan antarwilayah. Informasi
yang dikembangkan dalam anlisis kesenjangan ini mencakup dimensi internal dan
eksternal. Dimensi internal memberikan gambaran tentang keadaan di dalam tiap daerah,
sedangkan dimensi eksternal menggambarkan posisi relatif keadaan daerah terhadap
daerah lainnya. Dengan demikian informasi ini mengandung sifat benchmarking,
sehingga kondisi atau kinerja tiap daerah bisa diperbandingkan dengan daerah yang lain.
Lebih lanjut juga diharapkan bisa diketahui corak keadaan tiap daerah atau kelompok
daerah.
Atas dasar hal tersebut di atas, maka Direktorat Pengembangan Wilayah
berinisiatif menyusun Buku Analisis Kesenjangan Antarwilayah. Melalui berbagai
temuan dari hasil anlisis kesenjangan ini diharapkan dapat memberikan alternatif dalam
penguatan perencanaan yang berbasis wilayah.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

1.2.

Sistematika Penyajian

Buku ini menyajikan data dan informasi yang terkait dengan kesenjangan
antarwilayah, dengan lingkup informasi mengenai beberapa teori pembangunan dan
kesenjangan antarwilayah, serta informasi mengenai hasil analisis kesenjangan dilihat dari
perspektif perekonomian daerah, kesejahteraan masyarakat, serta kemampuan keuangan
daerah. Rincian dari informasi tersebut disajikan dalam 5 Bab, dengan gambaran singkat
dari setiap bab adalah sebagai berikut:
BAB I
BAB II

BAB III
BAB IV
BAB V

: berisi mengenai latar belakang dari penyajian buku analisis


kesenjangan antarwilayah;
: berisi mengenai metodologi pendekatan untuk melihat kesenjangan
antarwilayah dalam aspek perekonomian daerah, analisis
kesejahteraan
masyarakat,
analisis
kemampuan
keuangan
antarwilayah, serta metode penyajian kesenjangan antarwilayah
: berisi mengenai hasil analisis perekonomian daerah
: berisi mengenai hasil analisis kesenjangan infrastruktur antardaerah
: berisi mengenai hasil analisis kesenjangan kemapuan keuangan
daerah

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

BAB 2
METODOLOGI ANALISIS
KESENJANGAN ANTARWILAYAH
Kesenjangan berarti suatu gambaran terhadap fakta (kondisi) yang tidak homogen,
yang di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang membutuhkan perhatian. Atas dasar
pengertian tersebut, analisis kesenjangan antarwilayah dimaksudkan untuk memberi
gambaran fakta-fakta perbedaan perkembangan kondisi hasil pembangunan antarwilayah,
juga terkandung informasi mengenai perbandingan antarwilayah dan informasi adanya
gap (kesenjangan) antaradaerah yang maju dan tertinggal.
Peta kesenjangan antarwilayah ini dibangun melalui pendekatan pengolahan dan
teknik penyajian data, sehingga dapat memberi gambaran fakta kesenjangan antarwilayah.
Berdasarkan temuan fakta kesenjangan ini, selanjutnya diharapkan dapat menjadi dasar
dalam menentukan isu dan permasalahan strategis yang perlu direspon melalui kebijakan
dan program pembangunan.
Bertitik tolak dari fakta kesenjangan tersebut, melalui publikasi analisis
kesenjangan antarwilayah ini, akan menyajikan beberapa fakta kesenjangan antarwilayah
yang meliputi: (1) Kesenjangan perekonomian antarwilayah, (2) Kesenjangan
kesejahteraan antarwilayah, (3) Kesenjangan kemampuan fiskal antarwilayah, dan (4)
Keseimbangan antara kondisi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat dengan
kemampuan fiskal daerah.

2.1.

Analisis Kesenjangan Perekonomian Antarwilayah

Untuk merepresentasikan pendapatan regional, digunakan parameter output


regional (pendekatan produksi) yang sangat terkait dengan area tertentu, dalam hal ini
kabupaten/kota digunakan sebagai satuan terkecil.Data yang digunakan ialah Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut kabupaten/kota. Dalam hal ini, PDRB
menunjukkan total nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh perekonomian suatu daerah
(kabupaten/kota) selama satu tahun. Data yang digunakan berasal dari regional account
menurut kabupaten/kota yang mulai dipublikasikan oleh BPS secara konsisten sejak tahun
1993. Selanjutnya digunakan nilai PDRB per kapita untuk menunjukkan nilai output
dibagi jumlah penduduk di area tersebut. Semakin tinggi nilai PDRB per kapita berarti
semakin tinggi kekayaan daerah (region prosperity) di daerah tersebut, dengan kata lain
nilai PDRB per kapita dianggap merefleksikan tingkat kekayaan daerah. Untuk melihat
tingkat kesenjangan PDRB perkapita antar kabupaten/kota menurut masing-masing
provinsi dilakukan dengan analisis Dispersion Ratio, yaitu PDRB perkapita tertinggi
terhadap PDRB perkapita terendah dengan mengunakan data series. Dispersion rasio
dengan angka persebaran tinggi maka menunjukan bahwa kesenjangan PDRB perkapita
antardaerah tinggi dan sebaliknya.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2.1.1. Metode Analisis Pendapatan Regional


Metode analisis kesenjangan regional dapat ditunjukkan berdasarkan perhitungan
disparitas PDRB Perkapita antarwilayah, perhitungan yang digunakan dalam analisis
kesenjangan pendapatan antarwilayah adalah Indeks Williamson (CVw). Indeks
Williamson ini sederhana dan populer digunakan untuk mengukur kesenjangan
pendapatan regional, khususnya pendapatan dalam pengertian indikator PDRB per kapita.

1.

Pendapatan per Kapita


Pendapatan per kapita didekati dari angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)
per kapita, yaitu perhitungan PDRB di suatu kabupaten/kota dibagi oleh populasi
kabupaten/kota tersebut. Formulasi untuk menghitung pendapatan per kapita adalah:
Pendapatan Perkapita

Nilai PDRB Kabupaten/ Kota


Jumlah Penduduk Kabupaten/ Kota

Data yang digunakan untuk mengolah variabel ini berasal dari buku PDRB
Kabupaten dan Kota serta Kabupaten dalam Angka.

2.

CVw (CV Williamson)


Indeks Williamson merupakan pendekatan untuk mengukur derajat ketimpangan
antar wilayah berdasarkan PDRB perkapita. Formula ini pada dasarnya sama dengan
coefficient of variation (CV) biasa dimana standar deviasi dibagi dengan rataan.
Williamson (1965) memperkenalkan CV ini dengan menimbangnya dengan proporsi
penduduk, yang disebut CVw. Formulanya adalah sebagai berikut:

Dimana:

CVw

= Weighted coefficient of variation

ni

= Penduduk di daerah i

= Penduduk total

Yi

= PDRB perkapita di daerah i

= Rata-rata PDRB perkapita untuk semua daerah

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2.1.2.

Metode Analisis Kesenjangan Berdasarkan Pola dan Struktur Pertumbuhan


Ekonomi.

Tipologi Klassen juga merupakan salah satu alat analisis ekonomi regional yang
digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi
suatu daerah. Pada pengertian ini, Tipologi Klassen dilakukan dengan membandingkan
pertumbuhan ekonomi daerah dengan pertumbuhan ekonomi daerah yang menjadi acuan
atau nasional dan membandingkan pertumbuhan PDRB per kapita daerah dengan PDRB
per kapita daerah yang menjadi acuan atau PDB per kapita (secara nasional).
Melalui Analisis Tipologi Klassen ini selain dapat dapat digunakan untuk
mengidentifikasi posisi perekonomian suatu daerah dengan memperhatikan perekonomian
daerah yang diacunya, dan mengidentifikasi sektor, subsektor, usaha, atau komoditi
unggulan suatu daerah, juga dapat memberi gambaran adanya kesenjangan antarwilayah
berdasarkan posisi perekonomian yang dimiliki suatu daerah terhadap perekonomian
nasional maupun daerah yang diacunya.
Berdasarkan tujuan-tujuan tersebut, pengguna analisis tipologi Klassenakan
mendapatkan manfaat sebagai berikut: (1) Dapat membuat prioritas kebijakan daerah
berdasarkan keunggulan sektor, subsektor, usaha, atau komoditi daerah yang merupakan
hasil analisis tipologi Klassen; (2) Dapat menentukan prioritas kebijakan suatu daerah
berdasarkan posisi perekonomian yang dimiliki terhadap perekonomian nasional maupun
daerah yang diacunya; dan (3) Dapat menilai suatu daerah baik dari segi daerah maupun
sektoral.
Tabel 2.1:
Matriks Tipologi Klassen
Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi

Rata-rata PDRB
Perkapita

Tinggi

Rendah

Rendah

Tinggi

Kuadran II
Daerah Maju tetapi
Tertekan (high income but
low growth)

Kuadran I
Daerah Cepat Maju dan
Cepat-Tumbuh (high growth
and high income)

Kuadran III
Daerah Relatif Tertinggal
(low growth and low
income).,

Kuadran IV
Daerah sedang Berkembang
(high growth but low income)

Penjelasan dari matriks di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:


1.

Daerah yang maju dan tumbuh dengan pesat (Kuadran I). Kuadran ini merupakan
kuadran daerah dengan laju pertumbuhan PDRB yang lebih besar dibandingkan
pertumbuhan daerah yang menjadi acuan atau secara nasional dan memiliki
ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

pertumbuhan PDRB per kapita yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDRB
per kapita daerah yang menjadi acuan atau secara nasional.
2.

Daerah maju tapi tertekan (Kuadran II). Daerah yang berada pada kuadran ini
memiliki nilai pertumbuhan PDRB yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan
PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional, tetapi memiliki pertumbuhan
PDRB per kapita yang lebih besar dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita
daerah yang menjadi acuan atau secara nasional.

3.

Daerah yang masih dapat berkembang dengan pesat (Kuadran III). Kuadran ini
merupakan kuadran untuk daerah yang memiliki nilai pertumbuhan PDRB yang lebih
tinggi dari pertumbuhan PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional,
tetapi pertumbuhan PDRB per kapita daerah tersebut lebih kecil dibandingkan
dengan pertumbuhan PDRB per kapita daerah yang menjadi acuan atau secara
nasional.

4.

Daerah relatif tertingggal (Kuadran IV). Kuadran ini ditempati oleh daerah yang
memiliki nilai pertumbuhan PDRB yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan
PDRB daerah yang menjadi acuan atau secara nasional dan sekaligus pertumbuhan
PDRB per kapita yang lebih kecil dibandingkan pertumbuhan PDRB per kapita
daerah yang menjadi acuan atau secara nasional.

2.2. Analisis Kesenjangan Infrastruktur Antarwilayah


Untuk melihat adanya kesenjangan infrastruktur antarwilayah, dilakukan
perbandingan ketersediaan dan dukungan infrastruktur sesuai dengan jenisnya. Jenis
infrastruktur yang akan menunjukkan adanya kesenjangan meliputi infrastruktur jalan,
energi listrik dan telekomunikasi. Indikator yang digunakan meliputi kuantitas dan
kualitas dari ketersediaan infrastruktur, serta beberapa indikator yang dihitung
berdasarkan formula sebagai berikut:
1. Rasio Kerapatan Jalan
Rasio kerapatan jalan ditunjukkan oleh rasio panjang jalan (Km) terhadap Luas
wilayah (Km2). Rasio kerapatan jalan memiliki makna tinggi rendahnya tingkat
aksesibilitas antardaerah, yaitu semakin besar angka rasio kerapatan jalan maka
kemudahan dalam menjangkau antardaerah yang dihubungkan oleh infrastruktur jalan
disuatu wilayah semakin besar, dan sebaliknya.
2. Energi Terjual Perkapita (kWh/ Kapita)
Energi Terjual Perkapita menunjukkan energi yang terjual kepada pelanggan atau
energy (kWh) yang terjual kepada pelanggan TT (tegangan Tinggi), TM (Tegangan
Menengah) dan TR (Tegangan Rendah dibagi dengan jumlah penduduk.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

3. Rasio Elektrifikasi
Merupakan rasio antara jumlah rumah tangga pengguna energi listrik PLN dibagi
dengan total jumlah rumah tangga (di kali 100%).

2.3. Analisis Pendapatan dan Belanja Daerah


Analisis keuangan diarahkan untuk mengetahui sisi pendapatan daerah dan belanja
pembangunan. Analisis dari sisi pendapatan, meliputi:
Tax Ratio merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak suatu daerah
terhadap pendapatan suatu output perekonomian atau produk Domestik Regional
Bruto (PDRB). Terkait dengan rasio pajak, PDRB menggambarkan jumlah
pendapatan potensial yang dapat dikenai pajak. PDRB juga menggambarkan kegiatan
ekonomi masyarakat yang jika berkembang dengan baik merupakan potensi yang
baik bagi pengenaan pajak di wilayah tersebut.
Ruang Fiskal merupakan rasio yang menggambarkan besarnya pendapatan yang
masih bebas digunakan oleh daerah untuk mendanai program/kegiatan sesuai
kebutuhannya. Penghitungan Ruang Fiskal diperoleh dengan mengurangkan seluruh
pendapatan dengan pendapatan yang sudah ditentukan penggunaannya (earmarked)
dan belanja wajib seperti belanja pegawai dan bunga.
Rasio kemandirian daerah dicerminkan oleh rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD)
terhadap total pendapatan, serta rasio transfer terhadap total pendapatan. Dua rasio
tersebut memiliki sifat berlawanan, yaitu semakin tinggi rasio PAD semakin tinggi
kemandirian daerah dan sebaliknya untuk rasio transfer. Posisi tertinggi dan terendah
rasio transfer umumnya berkebalikan dengan posisi provinsi yang bersangkutan pada
rasio PAD
Analisis dari sisi belanja daerah, meliputi:
Rasio belanja pegawai terhadap total belanja. Semakin tinggi angka rasionya maka
semakin besar proporsi APBD yang dialokasikan untuk belanja pegawai dan begitu
sebaliknya semakin kecil angka rasio belanja pegawai maka semakin kecil pula
proporsi APBD yang dialokasikan untuk belanja pegawai APBD. Belanja pegawai
yang dihitung dalam rasio ini melipui belanja pegawai langsung dan belanja pegawai
tidak langsung.
Rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap total belanja. Rasio belanja pegawai
tidak langsung terhadap total belanja daerah mencerminkan porsi belanja daerah
terhadap pembayaran gaji pegawai (PNSD). Semakin besar rasionya maka semakin
besar belanja daerah yang dibelanjakan untuk membayar gaji pegawai daerah dan
sebaliknya, semakin kecil angka rasionya maka semakin kecil belanja daerah
yang dipergunakan untuk membayar gaji pegawai daerah.
Rasio belanja modal per total belanja. Rasio belanja modal terhadap total belanja
daerah mencerminkan porsi belanja daerah yang dibelanjakan untuk belanja modal.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Belanja Modal sendiri ditambah belanja barang dan jasa, merupakan belanja
pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu
daerah selain dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri. Oleh karena itu,
semakin tinggi angka rasionya, semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan
ekonomi. Sebaliknya, semakin rendah angkanya, semakin buruk pengaruhnya
terhadap pertumbuhan ekonomi.
Semua rasio tersebut menunjukkan kecenderungan pola belanja daerah, apakah
suatu daerah cenderung mengalokasikan dananya untuk belanja yang terkait erat
dengan upaya peningkatan ekonomi, seperti belanja modal, atau untuk belanja yang
sifatnya untuk pendanaan aparatur, seperti belanja pegawai tidak langsung.

2.4. Metode Penyajian Kesenjangan


Kesenjangan berarti suatu gambaran terhadap fakta (kondisi) yang tidak homogen,
yang di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan yang membutuhkan perhatian. Atas dasar
pengertian tersebut, penyusunan profil kesenjangan antarwilayah dimaksudkan untuk
memberi gambaran fakta-fakta perbedaan perkembangan kondisi hasil pembangunan
antarwilayah, juga terkandung informasi mengenai perbandingan antarwilayah yang maju
dan tertinggal.
Kondisi kesenjangan antarwilayah ini akan dilakukan melalui pendekatan analisis
data dengan perhitungan indeks yang sudah lajim digunakan, dan dibangun melalui
pendekatan pengolahan dan teknik penyajian data. Penyajian dengan cara ini diharapkan
akan lebih memberikan informasi yang lebih utuh baik secara kuantitatif maupun dimensi
ruangnya. Dalam Profil Kesenjangan Kesejahteraan Masyarakat Antarwilayah ini lingkup
unit-unit yang akan diperbandingkan dipilih sedemikian rupa sehingga akan
menunjukkan:
1. Kesenjangan antarwilayah
Kesenjangan bentuk ini adalah komparatif antarwilayah (kabupaten/kota) yang
disajikan dalam suatu pengamatan yang agregat terhadap seluruh kabupaten/kota
yang ada di wilayah Indonesia.
2. Kesenjangan antarwilayah dalam kelompok terdefinitif (cluster pada
integrasi spasial, provinsi, pulau, dsb.)
Dalam bentuk ini kesenjangan dilihat dalam suatu lingkup wilayah yang
terdefinitif seperti kesenjangan antarwilayah dalam lingkup satu provinsi, satu
pulau, dan lainnya. Misalnya kesenjangan antarwilayah (kabupaten/kota) dalam
suatu provinsi, kesenjangan antarwilayah (kabupaten/kota) di Pulau Jawa, dan
sebagainya.
Untuk menggambarkan perbandingan melalui pendekatan di atas, akan disajikan melalui
format sebagai berikut:

10

Grafik, berisi ilustrasi hasil pengolahan data tabular seperti perankingan kabupaten
dan kota berdasarkan olahan suatu variabel. Grafik ini juga untuk menggambarkan
ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

nilai-nilai ekstrim seperti grafik 10 kabupaten/kota tertinggi dan 10 kabupaten/kota


terrendah dan mengambarkan perbandingan antara kabupaten/kota tertinggi dengan
kabupaten terrendah seperti grafik perbandingan 10 kabupaten/kota tertinggi dengan
10 kabupaten/kota terrendah.

Diagram Pencar (Scatter Plot), berisi pemetaan kondisi dan kedudukan


kota/kabupaten dilihat dari dua atau tiga aspek variabel yang saling terkait dan
dinilai mampu memberikan makna yang lebih berarti.lihat Boks 1.
BOKS 1.
KETERANGAN SALIB SUMBU

Kuadran II

10.00

VARIABEL 2

9.00

8.00

Kuadran I
Nilai Rata-rataVariabel 1

11.00

Nilai Rata-rata Variabel 2

7.00

6.00

Kuadran IV

Kuadran III
0.00

20.00

40.00
VARIABEL 1

60.00

80.00

Variabel 1 merupakan variabel yang dipertimbangkan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap variabel 2, dan
variabel 2 dapat merupakan variabel output, outcome atau impact.
Kuadran I: merupakan kelompok provinsi yang berada di atas rata-rata niai variabel 1 dan 2.
Kuadran II: merupakan kelompok provinsi yang berada di atas rata-rata variabel 2, dan berada di bawah rata-rata
variabel 1.
Kuacran III: merupakan kelompok provinsi yang berada di bawah rata-rata niai variabel 1 dan 2.
Kuadran IV: merupakan kelompok provinsi yang berada di bawah rata-rata variabel 2, dan berada di atas rata-rata
variabel 1.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

11

BAB 3
KESENJANGAN EKONOMI
ANTARWILAYAH
3.1.

Kesenjangan Ekonomi Wilayah

3.1.1. Disparitas Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Antarwilayah


Distribusi nilai PDRB antar provinsi tahun 2011, menunjukkan tingkat
kesenjangan yang cukup tinggi, berdasarkan data PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
(ADHB) dari tahun 2008-2012 menunjukan nilai PDRB selama periode tersebut share
terbesar masih terkonsentrasi di Wilayah Jawa-Bali dan Wilayah Sumatera. Kontribusi
PDRB dari wilayah tersebut tahun 2012 mencapai sekitar 82,64 persen terhadap
perekonomian nasional, sementara untuk wilayah lainnya relatif rendah terutama wilayah
Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua hanya sebesar 3,32 persen.
Tabel 3.1:
Distribusi Nilai PDRB ADHB menurut Pulau Tahun 2008-2012.
Wilayah
Sumatera
Jawa-Bali
Kalimantan
Sulawesi
Nustra, Maluku, & Papua
Luar Jawa+Bali

2008
22.90
59.21
10.36
4.19
3.34
40.79

2009
22.69
59.88
9.21
4.46
3.76
40.12

2010
23.12
59.33
9.15
4.52
3.88
40.67

2011
23.57
58.81
9.55
4.61
3.46
41.19

2012
23.77
58.87
9.30
4.74
3.32
41.13

Sumber: BPS tahun 2012.

Besarnya kontribusi pendapatan wilayah Jawa-Bali dan Sumatera ditunjukan


dengan tingkat perkembangan aktivitas ekonomi di Wilayah Jawa-Bali dan Sumatera jauh
lebih maju dibandingkan terhadap wilayah di luar Jawa-Bali dan Sumatera.
Perkembangan ekonomi di Jawa-Bali dan Sumatera didominasi oleh sektor sekunder dan
tersier yang pertumbuhannya relatif cepat dan lebih berorientasi ke industri pengolahan
dan manufaktur, dan pelayanan jasa. Sementara untuk perekembangan aktivitas ekonomi
di luar wilayah Jawa-Bali dan Sumatera masih didominasi oleh sektor primer, yaitu
pertanian dan pertambangan, sementara untuk sektor sekunder dan tersier
pertumbuhannya relatif lambat.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

13

Tabel 3.2:

Pertanian

Pertambangan
& Penggalian

Industri
Pengolahan

Listrik,Gas &
Air Bersih

Kontruksi

Perdagangan,
Hotel &
Restoran

Pengangkutan
& Komunikasi

Keuangan,Real
Estate & Jasa
Perusahaan

Jasa-Lainnya

Distribusi Nilai PDRB ADHB menurut Lapangan Usaha Berdasarkan Pulau Tahun 2012.

P. Sumatera

21.32

16.13

19.48

0.56

6.93

15.42

6.83

4.64

8.70

P. Jawa+Bali

10.30

1.26

27.22

1.60

6.67

23.96

7.96

10.70

10.34

P. Kalimantan

11.84

35.75

19.47

0.37

4.50

12.37

5.34

3.74

6.62

P. Sulawesi

27.18

5.43

9.50

0.82

8.10

16.57

8.39

6.70

17.32

P. Nustra, Maluku & Papua


Wil. Jawa+Bali dan
Sumatera
Luar Jawa Bali &
Sumatera

20.60

21.94

12.71

0.34

9.08

12.39

6.49

3.69

12.76

13.47

5.54

24.99

1.30

6.74

21.50

7.63

8.96

9.86

17.71

24.83

15.46

0.49

6.36

13.52

6.39

4.54

10.72

Kesenjangan perekonomian antarwilayah dapat digambarkan dari output regional


berdasarkan PDRB perkapita. Kesenjangan pendapatan antar provinsi menunjukan angka
cukup tinggi atau disparitas cukup tinggi, diakibatkan adanya nilai PDRB perkapita
dibeberapa provinsi yang jauh lebih besar dari rata-rata PDB perkapita nasional,
berdasarkan data BPS tahun 2012 PDRB perkapita dengan migas sebanyak lima provinsi
dengan PDRB perkapita jauh berada diatas rata-rata nasional dengan nilai tertinggi
mencapai 112,14 juta rupiah per jiwa di Provinsi DKI Jakarta dan sebanyak 28 provinsi
dengan PDRB perkapita jauh dibawah rata-rata nasional dengan PDRB perkapita paling
rendah adalah sebesar 6,37 juta rupiah per jiwa di Provinsi Maluku Utara. Tingginya
PDRB perkapita di Kalimantan Timur dan Riau disebabkan wilayah tersebut memiliki
sumber daya alam yang berlimpah seperti minyak dan gas bumi, bahan tambang, dan
sumberdaya hutan. Di Kepulauan Riau disebabkan adanya Kota Batam yang merupakan
pusat kegiatan industri dan perdagangan antar Negara. Sementara DKI Jakarta merupakan
pusat kegiatan sektor industri, jasa dan perdagangan.
Sementara perkembangan tingkat kesenjangan dilihat berdasarkan Dispersion ratio
atau rasio antara PDRB perkapita tertinggi terhadap PDRB perkapita terendah (Gambar
3.2), menunjukan bahwa tingkat perkembangan kesenjangan antarprovinsi selama periode
tahun 2002-2008 cenderung meningkat atau kesenjangan semakin tinggi, baik untuk
PDRB perkapita dengan migas dan tanpa migas. Namun perkembangan dalam empat
tahun terakhir tingkat kesenjangan cenderung menurun, terutama untuk PDRB perkapita
dengan migas.

14

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Gambar 3-1.
Perbandingan PDRB Perkapita (ADHB) dengan Migas Antarprovinsi, Tahun 2012. (dalam juta/jiwa)
120,00

109,66

PDRBPerkapitaProv.
PDRBPerkapita_33Prov.
PDBPerkapita

100,00

112,14

80,00
60,00
40,00

33,75

20,00

27,26
6,37
DKIJakarta

Riau

Kaltim

Kepri

Pubar

Sumsel

Jatim

Sumut

Babel

Papua

Jambi

Kalteng

Sumbar

Bali

Jabar

Aceh

Sulut

Sulsel

Kalsel

Banten

Sulteng

Jateng

Lampung

DIY

Kalbar

Sultra

Bengkulu

NTB

Sulbar

NTT

Gorontalo

Malut

Maluku

0,00

Gambar 3-2.
Perbandingan PDRB Perkapita (ADHB) Tanpa Migas dan Dengan Migas Berdasarkan Dispersion
Ratio Tahun 2012.
26,00
24,00
22,00
20,00

PDRBPerkapitadgn
Migas

18,00
16,00

PDRBPerkapita
tanpaMigas

14,00
12,00
10,00
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

3.1.2. Disparitas PDRB Perkapita Antarwilayah (Dispersion Ratio)

Wilayah Sumatera.

Perkembangan tingkat kesenjangan ekonomi antarwilayah (kabupaten/kota)


menurut dispersion ratio untuk setiap provinsi di wilayah Sumatera dalam kurun waktu
2007-2011 (Gambar 3.3). Tingkat kesenjangan paling tinggi yaitu di Provinsi Aceh, dan
tingkat kesenjangan paling rendah di Provinsi Kep. Bangka Belitung. Dilihat dari
perkembangan tingkat kesenjangan selama 2007-2011, terlihat tingkat kesenjangan
hampir diseluruh provinsi menurun kecuali di Provinsi Riau meningkat dari tahun 2009
hingga tahun 2011.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

15

Gambar 3-3.
Disparitas PDRB perkapita dengan Migas Menurut Dispersion Ratio Per Provinsi
di Wilayah Sumatera, Tahun 2007-2011
16,000
14,000
12,000

DispersionRatio

10,000
8,000
6,000
4,000
2,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

2011**

Aceh

14,316

13,834

12,529

11,598

10,701

SUMATERAUTARA

5,833

6,249

6,323

6,223

6,166

SUMATERABARAT

3,219

3,224

3,084

3,023

2,937

RIAU

5,252

5,930

5,195

6,360

6,716

JAMBI

3,975

4,562

5,014

4,996

4,871

SUMATERASELATAN

6,909

6,938

5,853

5,618

5,381

BENGKULU

3,461

3,430

3,384

3,250

3,303

LAMPUNG

2,680

2,896

3,194

3,269

3,136

KEP.BANGKABELITUNG

2,001

2,101

2,116

2,114

2,090

KEPULAUANRIAU

6,805

6,199

6,429

6,100

5,629

Gambar 3-4.
Disparitas PDRB perkapita Tanpa Migas Menurut Dispersion Ratio Per Provinsi
di Wilayah Sumatera, Tahun 2007-2011
8,000
7,000

DispersionRatio

6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
0,000

16

2007

2008

2009

2010*

2011**

Aceh

5,351

5,810

6,201

6,513

6,754

SUMATERAUTARA

5,833

6,249

6,323

6,223

6,166

SUMATERABARAT

3,219

3,224

3,084

3,023

2,937

RIAU

2,688

2,659

2,612

2,452

2,536

JAMBI

2,073

2,067

2,252

2,301

2,221

SUMATERASELATAN

2,813

2,854

2,849

2,871

3,056

BENGKULU

3,461

3,430

3,384

3,250

3,303

LAMPUNG

2,680

2,896

3,194

3,269

3,136

KEP.BANGKABELITUNG

2,136

2,214

2,259

2,204

2,176

KEPULAUANRIAU

4,921

4,725

4,311

4,226

4,232

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Wilayah Jawa-Bali

Perkembangan tingkat kesenjangan ekonomi antarwilayah (kabupaten/kota)


menurut dispersion ratio untuk setiap provinsi di wilayah Jawa+Bali dalam kurun waktu
2007-2011 (Gambar 3.5). Tingkat kesenjangan paling tinggi yaitu di Provinsi Jawa
Timur, dan paling rendah di Provinsi Bali. Dilihat dari perkembangan tingkat kesenjangan
selama 2007-2011, terlihat tingkat kesenjangan di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, DI
Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,
sementara tingkat kesenjangan di Provinsi Bali dan Banten relatif menurun dari tahun
sebelumnya.
Gambar 3-5.
Disparitas PDRB perkapita dengan Migas Menurut Dispersion Ratio Per Provinsi
di Wilayah Jawa+Bali, Tahun 2007-2011.
40,000
35,000
30,000

DispersionRatio

25,000
20,000
15,000
10,000
5,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

DKIJAKARTA

4,222

4,445

4,550

4,620

2011**
4,675

JAWABARAT

5,606

5,391

4,952

4,864

12,681

JAWATENGAH

11,386

12,566

11,770

11,414

11,437

DIYOGYAKARTA

3,156

3,188

3,210

3,323

3,354

JAWATIMUR

33,732

33,692

34,215

34,516

35,167

BANTEN

12,250

12,189

12,063

11,948

11,903

BALI

2,614

2,570

2,648

2,634

2,582

Gambar 3-6.
Disparitas PDRB perkapita dengan Tanpa Migas Menurut Dispersion Ratio Per Provinsi
di Wilayah Jawa-Bali, Tahun 2007-2011.
40,000
35,000

DispersionRatio

30,000
25,000
20,000
15,000
10,000
5,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

DKIJAKARTA

13,562

14,668

14,459

14,761

2011**
14,971

JAWABARAT

5,506

5,293

4,865

4,839

12,681

JAWATENGAH

9,048

8,962

8,506

8,150

7,975

DIYOGYAKARTA

3,156

3,188

3,210

3,323

3,354

JAWATIMUR

33,732

33,692

34,215

34,516

35,167

BANTEN

12,250

12,189

12,063

11,948

11,903

BALI

2,614

2,570

2,648

2,634

2,582

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

17

Wilayah Kalimantan

Perkembangan tingkat kesenjangan ekonomi antarwilayah (kabupaten/kota)


menurut dispersion ratio untuk setiap provinsi di wilayah Kalimantan dalam kurun waktu
2007-2011 (Gambar 3.7). Tingkat kesenjangan paling tinggi yaitu di Provinsi
Kalimantan Timur, dan paling rendah di Provinsi Kalimantan Tengah. Dilihat dari
perkembangan tingkat kesenjangan selama 2007-2011, terlihat tingkat kesenjangan di
seluruh provinsi menurun.
Gambar 3-7.
Perkembangan Disparitas PDRB perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio Per
Provinsi di Wilayah Kalimantan. Tahun 2007-2011.
30,000
25,000

DispersionRatio

20,000
15,000
10,000
5,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

2011**

KALIMANTANBARAT

3,858

3,941

4,198

4,130

4,060

KALIMANTANTENGAH

2,575

2,389

2,232

2,161

2,153

KALIMANTANSELATAN

4,884

4,792

4,621

4,445

4,409

KALIMANTANTIMUR

25,053

27,382

20,514

18,053

17,888

Gambar 3-8.
Perkembangan Disparitas PDRB perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio Per
Provinsi di Wilayah Kalimantan. Tahun 2007-2011.
12,000
10,000

DispersionRatio

8,000
6,000
4,000
2,000
0,000

18

2007

2008

2009

2010*

2011**

KALIMANTANBARAT

3,858

3,941

4,198

4,130

4,060

KALIMANTANTENGAH

2,575

2,389

2,232

2,161

2,153

KALIMANTANSELATAN

4,884

4,792

4,621

4,445

4,409

KALIMANTANTIMUR

8,625

9,600

9,558

9,577

9,598

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Wilayah Sulawesi

Perkembangan tingkat kesenjangan ekonomi antarwilayah (kabupaten/kota)


menurut dispersion ratio untuk setiap provinsi di wilayah Sulawesi dalam kurun waktu
2007-2011 (Gambar 3.9), menunjukan bahwa tingkat kesenjangan di Provinsi Sulawesi
Utara dan Sulawesi Tengah cenderung meningkat, sementara untuk provinsi lainnya
menunjukan trend menurun. Tingkat kesenjangan tertinggi di wilayah Sulawesi adalah di
Provinsi Sulawesi Selatan dan terendah di Sulawesi Barat.
Gambar 3-9.
Perkembangan Disparitas PDRB perkapita dengan Migas Menurut Dispersion Ratio Per
Provinsi di Wilayah Sulawesi. Tahun 2007-2011.
8,000
7,000
DispersionRatio

6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

2011**

SULAWESIUTARA

3,190

3,170

3,554

3,555

3,417

SULAWESITENGAH

2,260

2,152

2,094

2,097

3,136

SULAWESISELATAN

7,502

6,518

4,918

5,144

5,095

SULAWESITENGGARA

3,161

2,932

2,679

2,646

2,616

GORONTALO

2,000

1,960

1,929

1,842

1,797

SULAWESIBARAT

1,505

1,604

1,558

1,565

1,565

Gambar 3-10:
Perkembangan Disparitas PDRB perkapita tanpa Migas Menurut Dispersion Ratio Per
Provinsi di Wilayah Sulawesi. Tahun 2007-2011.
8,000

DispersionRatio

7,000
6,000
5,000
4,000
3,000
2,000
1,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

2011**

SULAWESIUTARA

3,190

3,170

3,554

3,555

3,417

SULAWESITENGAH

2,260

2,152

2,094

2,097

3,136

SULAWESISELATAN

7,502

6,518

4,918

5,144

5,095

SULAWESITENGGARA

3,161

2,932

2,679

2,646

2,616

GORONTALO

2,000

1,960

1,929

1,842

1,797

SULAWESIBARAT

1,505

1,604

1,558

1,565

1,565

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

19

Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Perkembangan tingkat kesenjangan ekonomi antarwilayah (kabupaten/kota)


menurut dispersion ratio untuk setiap provinsi di wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan
Papua dalam kurun waktu 2007-2011 (Gambar 3.11), menunjukan bahwa tingkat
kesenjangan di Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Barat menurun, sebaliknya
kesenjangan di Provinsi Papua Barat meningkat. Jika diperbandingkan Dispersion ratio
antarprovinsi, provinsi dengan tingkat kesenjangan paling tinggi adalah di Provinsi Papua
dan dan terendah di Nusa Tenggara Timur dan Maluku Utara.
Gambar 3-11.
Perkembangan Disparitas PDRB perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio Per
Provinsi di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Tahun 2007-2011
250,000

DispersionRatio

200,000
150,000
100,000
50,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

2011**

NUSATENGGARABARAT

32,985

23,952

29,433

28,878

18,016

NUSATENGGARATIMUR

4,300

4,309

4,211

4,263

4,229

MALUKU

3,714

3,712

3,674

3,725

3,845

MALUKUUTARA

2,499

2,590

2,931

3,002

3,029

PAPUABARAT

8,402

9,386

16,187

29,284

44,720

226,150

163,307

197,264

169,029

88,181

PAPUA

Gambar 3-12.
Perkembangan Disparitas PDRB perkapita dengan Migas menurut Dispersion Ratio Per
Provinsi di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Tahun 2007-2011.

DispersionRatio

250,000
200,000
150,000
100,000
50,000
0,000

2007

2008

2009

2010*

2011**

NUSATENGGARABARAT

32,985

23,952

29,433

28,878

18,016

NUSATENGGARATIMUR

4,300

4,309

4,211

4,263

4,229

MALUKU

4,035

4,029

3,990

4,021

4,153

MALUKUUTARA

2,499

2,590

2,931

3,002

3,029

PAPUABARAT

2,800

2,710

3,951

3,994

4,000

226,150

163,307

197,264

169,029

88,181

PAPUA

20

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

3.1.3. Kesenjangan Wilayah (Williamson Index).


Hasil analisis ketimpangan berdasarkan Indeks Williamson dapat dikelompokan ke
dalam kategori wilayah dengan tingkat ketimpangan rendah dengan nilai indeks
williamson < 0,3, tingkat ketimpangan sedang dengan nilai indeks williamson antar 0,30,7, dan tingkat ketimpangan tinggi dengan nilai indeks williamson >0,7. Hasil indeks
williamson untuk ketimpangan pembangunan secara nasional menunjukan bahwa
ketimpangan pembangunan sangat tinggi atau pembangunan antarprovinsi tidak merata
dengan indeks williamson dari tahun 2000-2012 rata-rata > 1. Sementara ketimpangan
pembangunan antarprovinsi menurut masing-masing pulau, yang ditunjukan pada Gambar
3.12, menunjukan bahwa ketimpangan pembangunan sangat tinggi di Pulau Sumatera,
Jawa+Bali, Kalimantan, dan Nustra-Maluku-Papua atau pembangunan antarprovinsi di
wilayah tersebut tidak merata, sebaliknya untuk wilayah Sulawesi ketimpangan
pembangunan sangat rendah atau pembangunan antarprovinsi di Sulawesi relatif merata.
Dilihat berdasarkan perkembangan ketimpangan antarpulau, Wilayah Sumatera dan
Kalimantan menunjukan trend menurun dari tahun 2002 hingga 2012.
Gambar 3-13.
CVw dari PDRB Perkapita Menurut Provinsi di Wilayah Jawa-Bali, Tahun 2007-2011.
1,60
1,40
1,20
IW

1,00
0,80
0,60
0,40
0,20
0,00

2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

P.Sumatera

0,98

0,94

0,93

1,44

1,47

1,45

1,45

1,44

1,45

1,41

1,41

1,38

1,38

P.Jawa+Bali

0,85

0,86

0,88

0,88

0,88

0,87

0,86

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

0,87

P.Kalimantan

1,00

1,00

0,98

0,92

0,90

0,87

0,85

0,81

0,79

0,76

0,74

0,72

0,69

P.Sulawesi

0,21

0,20

0,20

0,19

0,19

0,20

0,20

0,20

0,20

0,21

0,21

0,21

0,21

P.Nustra+Maluku+Papua 0,58

0,60

0,80

0,78

0,58

0,67

0,54

0,53

0,50

0,54

0,55

0,61

0,66

Nasional_Pulau

0,23

0,23

0,22

0,22

0,23

0,21

0,22

0,21

0,21

0,20

0,20

0,20

0,20

Nasional_Provinsi

1,27

1,28

1,28

1,30

1,30

1,30

1,29

1,29

1,29

1,29

1,28

1,28

1,28

Wilayah Sumatera

Ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota untuk masing-masing provinsi


di Wilayah Sumatera dari tahun 2007-2011 yang ditunjukan pada Tabel 3.3, menunjukan
bahwa Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan memiliki tingkat
ketimpangan pembangunan tinggi atau pembangunan antar kabupaten/kota di wilayah
tersebut belum merata. Ketimpangan pembangunan di Provinsi Jambi, Bengkulu,
Lampung, dan Kepulauan Riau tergolong ketimpangan pembangunan sedang, sementara
di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ketimpangan pembangunan yang terjadi sangat
rendah atau ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota cukup merata.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

21

Tabel 3.3:
Indeks Willamson Menurut Provinsi di Wilayah Sumatera, Tahun 2007-2011.
Kabupaten/Kota

2007

2008

2009

2010*

2011**

Aceh

0,84

0,81

0,72

0,68

0,65

Sumatera Utara

0,66

0,68

0,71

0,78

0,72

Sumatera Barat

0,38

0,38

0,35

0,35

0,34

Riau

0,68

0,69

0,57

0,60

0,66

Jambi

0,40

0,46

0,48

0,48

0,47

Sumatera Selatan

0,80

0,81

0,77

0,78

0,74

Bengkulu

0,41

0,41

0,41

0,41

0,40

Lampung

0,30

0,35

0,37

0,35

0,43

Kep. Bangka Belitung

0,27

0,29

0,29

0,28

0,28

Kepulauan Riau

0,52

0,41

0,43

0,38

0,38

Sumber:, Data BPS tahun 2012, Diolah Bappenas 2012

Wilayah Jawa-Bali

Ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota untuk masing-masing provinsi


di Wilayah Jawa-Bali dari tahun 2007-2011 yang ditunjukan pada Tabel 3.4,
menunjukan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur memiliki tingkat ketimpangan
pembangunan tinggi atau pembangunan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa tengah dan
jawa Timur belum merata. Sementara untuk provinsi lainnya DKI Jakarta, Jawa Barat,
DI. Yogyakarta, Banten dan Bali termasuk kategori kelompok ketimpangan sedang.
Berdasarkan tingkat perkembangan ketimpangan pembangunan, Provinsi Jawa Tengah
dan Banten menunjukan kinerja yang cukup baik dibandingka provinsi, dimana trend
ketimpangan provinsi tersebut menurun dari tahun 2008 hingga 2011.
Tabel 3.4:
Indeks Willamson menurut Provinsi di Wilayah Jawa-Bali, Tahun 2007-2011.
Kabupaten/Kota

2007

2008

2009

2010*

2011**

DKI Jakarta

0,50

0,52

0,53

0,53

0,53

Jawa Barat

0,58

0,61

0,56

0,56

0,60

Jawa Tengah

1,04

1,10

1,07

1,05

1,05

D I Yogyakarta

0,47

0,48

0,48

0,49

0,49

Jawa Timur

1,11

1,10

1,10

1,10

1,11

Banten

0,57

0,63

0,72

0,65

0,64

Bali

0,33

0,33

0,35

0,34

0,35

Sumber:, Data BPS tahun 2012, Diolah Bappenas 2012

22

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Wilayah Kalimantan

Ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota untuk masing-masing provinsi


di Wilayah Kalimantan dari tahun 2007-2011 yang ditunjukan pada Tabel 3.5,
menunjukan bahwa ketimpangan pembangunan di seluruh provinsi di wilayah Kalimantan
cenderung meningkat, kecuali di Provinsi Kalimantan Timur. Ketimpangan pembangunan
antar kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Timur tinggi dengan indeks willamson > 1.
Sementara tingkat ketimpangan pembangunan paling rendah di Provinsi Kalimantan
Tengah dengan indeks williamson berkisar antara 0,17-0,19.
Tabel 3.5:
Indeks Williamson menurut Provinsi Tahun 2007-2011 di Wilayah Kalimantan.
Kabupaten/Kota

2007

2008

2009

2010*

2011**

Kalimantan Barat

0,36

0,36

0,38

0,39

0,38

Kalimantan Tengah

0,19

0,17

0,17

0,17

0,18

Kalimantan Selatan

0,44

0,43

0,43

0,45

0,46

Kalimantan Timur

1,18

1,20

1,07

1,00

1,01

Sumber:, Data BPS tahun 2010, Diolah Bappenas 2012

Wilayah Sulawesi.

Ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota untuk masing-masing provinsi


di Wilayah Sulawesi dari tahun 2007-2011 yang ditunjukan pada Tabel 3.6, menunjukan
bahwa ketimpangan pembangunan provinsi di Sulawesi masih dalm kategori kelompok
ketimpangan sedang dan rendah, Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi
Tenggara termasuk kelompok ketimpangan sedang, dan Gorontalo, Sulawesi Tengah dan
Sulawesi Barat termasuk kelompok ketimpangan rendah. Gambaran ini menunjukan
bahwa pembangunan antar kabupaten/kota di Wilayah Sulawesi cukup merata, khususnya
di Provinsi Sulawesi Barat dan Gorontalo yang merupakan provinsi hasil pemekaran
relative lebih tinggi dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Namun dilihat dari trend
perkembangan tingkat ketimpangan selama 2007-2011, ketimpangan pembangunan di
Provinsi Gorontalo, dan Sulawesi Tenggara kecenderungan meningkat.
Tabel 3.6:
Indeks Williamson menurut Provinsi Tahun 2007-2011. di Wilayah Sulawesi.
Kabupaten/Kota

2007

2008

2009

2010*

2011**

Sulawesi Utara

0,44

0,43

0,45

0,45

0,44

Sulawesi Tengah

0,22

0,22

0,22

0,22

0,34

Sulawesi Selatan

0,63

0,58

0,53

0,54

0,54

Sulawesi Tenggara

0,40

0,37

0,33

0,34

0,35

Gorontalo

0,25

0,22

0,18

0,19

0,20

Sulawesi Barat

0,15

0,17

0,16

0,16

0,16

Sumber:, Data BPS tahun 2010, Diolah Bappenas 2012

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

23

Wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua

Ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota untuk masing-masing provinsi


di Wilayah Nusa Tenggara-Maluku dan Papua dari tahun 2007-2011 yang ditunjukan
pada Tabel 3.7, bahwa ketimpangan pembangunan yang terjadi di Wilayah Nusa
Tenggara dan Papua tergolong kelompok tingkat pembangunan tinggi dan sedang.
Sementara ketimpangan pembangunan antar kabupaten/kota yang terjadi di Wilayah
Maluku tergolong ketimpangan rendah atau pembangunan antara kabupaten/kota cukup
merata. Ketimpangan pembangunan tinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan
Papua Barat, dengan indeks williamson mencapai > 1 dengan trend yang meningkat dari
tahun 2007-2013. Sementara ketimpangan untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat memliki
tingkat ketimpangan pembangunan dengan kategori ketimpangan tinggi.
Tabel 3.7:
Indeks Williamson menurut Provinsi di Wilayah Nusa Tenggara, Maluku dan Papua,
Tahun 2007-2011.
Kabupaten/Kota

2007

2008

2009

2010*

2011**

Nusa Tenggara Barat

1,13

1,03

1,17

1,17

0,97

Nusa Tenggara Timur

0,52

0,53

0,53

0,54

0,55

Maluku

0,27

0,26

0,26

0,25

0,25

Maluku Utara

0,22

0,23

0,25

0,26

0,27

Papua Barat

0,69

0,77

0,91

1,17

1,43

Papua

3,02

2,81

3,54

3,62

2,77

Sumber:, Data BPS tahun 2010, Diolah Bappenas 2012

3.1.4. Kesenjangan Pendapatan (Gini Ratio).


Tingkat kesenjangan pendapatan penduduk di Indonesia dalam periode 2008-2012
kecenderungan kesenjangan tingkat pendapatan meningkat, hal ini ditunjukan dengan
Indeks Gini dari tahun 2008 hingga 2012 semakin meningkat. Pada tahun 2012 tercatat
Indeks Gini sebesar 0,41 lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Sementara untuk perkembangan Indeks Gini masing-masing provinsi pada tahun
2008-2012, secara keseluruhan dapat dikategorikan rendah dan berfluktuatif dengan
kecenderungan meningkat, hal ini menunjukan bahwa tingkat kesenjangan pendapatan di
setiap provinsi rata-rata semakin tinggi. Di Wilayah Sumatera, tercatat lima provinsi
memiliki Indeks Gini meningkat setiap tahunnya, yaitu Provinsi Sumatera Barat, Riau,
Jambi, Sumatera Selatan, dan Kepulauan Riau, sementara kesenjangan tingkat pendapatan
di Provinsi Sumatera Utara dan Kep. Bangka Belitung kecenderungan semakin menurun.
Wilayah Jawa-Bali, tercatat empat provinsi memiliki Indeks Gini meningkat setiap
tahunnya, yaitu Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, dan Bali, sementara
kesenjangan tingkat pendapatan di Provinsi Banten kecenderungan semakin menurun.
Wilayah Kalimantan, tercatat pada Provinsi Kalimantan Selatan memiliki Indeks Gini
yang meningkat setiap tahunnya, sementara untuk provinsi lainnya pada tahun 2012
berfluktuatif dan untuk Provinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur cenderung

24

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Sulawesi, tercatat empat provinsi memiliki


Indeks Gini yang meningkat setiap tahunnya, yaitu Provinsi Sulawesi Utara, Sulawesi
Tengah, Sulawesi Selatan, dan Gorontalo. Sementara tingkat kesenjangan pendapatan
Provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat cenderung menurun. Wilayah Nusa
Tenggara-Maluku-Papua, tercatat tingkat kesenjangan pendapatan di provinsi Papua dan
Papua Barat meningkat setiap tahunnya, namun sebaliknya perkembangan kesenjangan
pendapatan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur cenderung semakin
menurun.
Jika diperbandingkan indeks Gini antarprovinsi dan nasional tahun 2012, tercatat
bahwa Provinsi Papua Barat, Papua, Gorontalo, dan D.I. Yogyakarta, tingkat kesenjangan
pendapatan pada provinsi tersebut lebih tinggi dibandinhgkan provinsi laiinya dan ratarata berada di atas Indeks Gini Nasional.

Tabel 3-8:
Perkembangan Kesenjangan Golongan Pendapatan (Gini Rasio) menurut Provinsi
Tahun 2008-2012.
Provinsi
Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Kep. Bangka Belitung
Kepulauan Riau
Bengkulu
Lampung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Maluku

2008

2009

2010

2011

2012

0.27
0.31
0.29
0.31
0.28
0.30
0.26
0.30
0.33
0.35
0.33
0.35
0.31
0.36
0.33
0.34
0.30
0.31
0.29
0.33
0.34
0.28
0.33
0.36
0.33
0.34
0.31
0.33
0.34
0.31

0.29
0.32
0.30
0.33
0.27
0.30
0.29
0.29
0.30
0.35
0.36
0.36
0.32
0.38
0.33
0.37
0.31
0.32
0.29
0.35
0.38
0.31
0.34
0.39
0.36
0.35
0.30
0.35
0.36
0.31

0.30
0.35
0.33
0.33
0.30
0.34
0.30
0.29
0.37
0.36
0.36
0.36
0.34
0.41
0.34
0.42
0.37
0.37
0.30
0.37
0.37
0.37
0.37
0.40
0.42
0.43
0.36
0.40
0.38
0.33

0.33
0.35
0.35
0.36
0.34
0.34
0.30
0.32
0.36
0.37
0.44
0.41
0.38
0.40
0.37
0.40
0.41
0.40
0.34
0.37
0.38
0.39
0.38
0.41
0.41
0.46
0.34
0.36
0.36
0.41

0.32
0.33
0.36
0.40
0.34
0.40
0.29
0.35
0.35
0.36
0.42
0.41
0.38
0.43
0.36
0.39
0.43
0.38
0.33
0.38
0.36
0.43
0.40
0.41
0.40
0.44
0.31
0.35
0.36
0.38

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

25

Maluku Utara
Papua Barat
Papua
INDONESIA

0.33
0.31
0.40
0.35

0.33
0.35
0.38
0.37

0.34
0.38
0.41
0.38

0.33
0.40
0.42
0.41

0.34
0.43
0.44
0.41

Sumber: Indikator Kesejahteraan Rakyat, BPS

3.2. Kesenjangan Sosial


Kesenjangan sosial antarwilayah dapat digambarkan dengan beberapa indikator
seperti kondisi tingkat kemiskinan, tingkat partisipasi pendidikan masyakarat dengan
menggunakan Angka Rata-rata Lama Sekolah (RLS), Angka Melek Huruf (AMH), dan
Angka Partisipasi Sekolah, dan kualitas kesehatan masyarakat dengan menggunakan
Angka Harapan Hidup (AHH) dan kualiats gizi masyarakat.
Berdasarkan data BPS tahun 2013, jumlah penduduk miskin terbesar di Wilayah
Jawa-Bali yang terkonsentrasi di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat,
Sementara jumlah penduduk miskin paling rendah terdapat di Provinsi kepulauan Bangka
Belitung terpusat di wilayah. Dari sisi persentase penduduk miskin, sebanyak 16 provinsi
memiliki persentase kemiskinan diatas persentase kemiskinan nasional, dan sebagian
besar provinsi dengan persentase kemiskinan paling tinggi berada di Kawasan Timur
Indonesia, yaitu di Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara Timor.
Sementara untuk tingkat kemiskinan paling rendah yaitu di Provinsi DKI Jakarta hanya
sebesar 3,55 persen.
Gambar 3-14:
Perbandingan Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin menurut Provinsi Tahun 2013
(Februari).
persen
35
30

JumlahpddMiskin
PersentaseKemiskinan_Nasional

PersentaseKemiskinan_Prov

6000

31,13

5000

26,67

25
20

RibuJiwa

4000
20,03

15

19,49

3000
11,37

10

2000
1000

JawaTimur
JawaTengah
JawaBarat
SumateraUtara
Lampung
SumateraSelatan
Papua
NusaTenggaraTimur
Aceh
NusaTenggaraBarat
SulawesiSelatan
Banten
DlYogyakarta
Riau
SumateraBarat
SulawesiTengah
KalimantanBarat
DKIJakarta
Bengkulu
Maluku
SulawesiTenggara
Jambi
KalimantanTimur
PapuaBarat
Gorontalo
SulawesiUtara
KalimantanSelatan
Bali
SulawesiBarat
KalimantanTengah
KepulauanRiau
MalukuUtara
KepulauanBangka

Tingkat kesenjangan dilihat dari aspek kualitas sumberdaya di masing-masing


daerah yang ditunjukan pada Gambar 3.15, bahwa masih banyak provinsi-provinsi yang
memiliki kualitas sumberdaya manusia dibawah rata-rata nasional. Berdasarkan data IPM
2011, sebanyak 18 provinsi memiliki nilai Indek Pembangunan Manusia (IPM) berada
dibawah IPM nasional dan provinsi dengan IPM paling rendah adalah Papua, Nusa
26

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Tenggara Barat, Nusa Tenggara Barat, sementara provinsi dengan IPM paling tinggi
adalah di Provinsi DKI Jakarta.
Gambar 3-15.
Perbandingan IPM antar Provinsi Tahun 2011.
80,00
78,00
76,00
74,00
72,00
70,00
68,00
66,00
64,00
62,00
60,00

77,97

IPMProvinsi
IPMNasional

72,77

DKIJAKARTA
SULAWESIUTARA
RIAU
DIYOGYAKARTA
KALIMANTANTIMUR
KEPULAUANRIAU
KALIMANTANTENGAH
SUMATERAUTARA
SUMATERABARAT
SUMATERASELATAN
BENGKULU
KEP.BANGKABELITUNG
JAMBI
JAWATENGAH
BALI
JAWABARAT
JAWATIMUR
ACEH
SULAWESISELATAN
LAMPUNG
MALUKU
SULAWESITENGAH
BANTEN
GORONTALO
SULAWESITENGGARA
KALIMANTANSELATAN
SULAWESIBARAT
KALIMANTANBARAT
PAPUABARAT
MALUKUUTARA
NUSATENGGARATIMUR
NUSATENGGARABARAT
PAPUA

65,36

Tingkat kesenjangan wilayah dilihat dari aspek pelayanan kesehatan pada masingmasing daerah yang ditunjukan pada Gambar 3.16, bahwa tingkat pelayanan kesehatan
untuk proses kelahiran yang dibantu oleh tenaga medis, sebanyak 20 provinsi memiliki
persentase proses persalinan dibantu tenaga medis berada dibawah persentase nasional
dan persentase paling rendah adalah provinsi-provinsi di Kawasan Timur Indonesia
( seperti: Papua, Maluku Utara, Maluku, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur).
Sementara persentase tertinggi untuk proses kelahiran dibantu tenaga medis adalah di
Provinsi DI. Yogyakarta, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, dan Bali.
Gambar 3-16.
Perbandingan Persentase Proses Kelahiran ditolong Tenaga Medis Tahun 2011.
120

Persalinanditolongtenagamedis_prov

100

Persalinanditolongtenagamedis_prov

98,79

83,5
80
60

50,38

40

SulawesiBarat
Papua
MalukuUtara
Maluku
SulawesiTenggara
NusaTenggaraTimur
Gorontalo
SulawesiTengah
KalimantanBarat
KalimantanTengah
PapuaBarat
JawaBarat
Banten
SulawesiSelatan
Jambi
Lampung
Riau
NusaTenggaraBarat
SulawesiUtara
SumateraSelatan
KalimantanSelatan
Bengkulu
KepulauanBangka
SumateraUtara
KalimantanTimur
JawaTengah
Aceh
SumateraBarat
JawaTimur
Bali
KepulauanRiau
DKIJakarta
DlYogyakarta

20

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

27

BAB 4
KESENJANGAN INFRASTRUKTUR
ANTARWILAYAH
Salah satu penyebab kesenjangan yang terjadi antardaerah di Indonesia dapat
diakibatkan oleh kesenjangan ketersediaan infrastruktur. Infrastruktur merupakan suatu
input dalam proses produksi yang dapat memberikan peningkatan produktivitas marjinal
pada output. Infrastruktur yang layak dan tepat dapat membantu mendorong berbagai
kegiatan ekonomi melalui fungsinya yang dapat melancarkan proses produksi dan
mobilitas manusia, barang, dan jasa. Dengan demikian, infrastruktur berperan sebagai
prasyarat dalam meningkatkan perekonomian. Perbedaan ketersediannya antardaerah
dapat menciptakan perbedaan kemampuan antardaerah dalam menciptakan pendapatan.
Selanjutnya, hal itu akan berdampak pada kesenjangan pendapatan antardaerah.
Salah satu peran infrastruktur adalah menjadi faktor daya tarik investasi di tiap
daerah. Dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai tentunya akan memudahkan
para investor dalam melakukan kegiatan usaha. Contohnya adalah infrastruktur jalan,
energi listrik dan telekomunikasi. Dengan ketersediaan infrastruktur jalan yang baik
tentunya akan menjadikan proses distribusi barang maupun jasa menjadi lebih cepat dan
efisien dalam hal biaya dan waktu. Ketersediaan energi listrik akan meningkatkan
kapasitas pengembangan industri, dan pengembangan telekomunikasi akan meningkatkan
interaksi dan komunikasi antardaerah dan dunia global.
Infrastruktur memiliki hubungan yang erat dengan Produk Domestik Bruto (PDB)
dan keputusan pelaku usaha untuk melakukan investasi/Ketersediaan dan kualitas
infrastruktur merupakan penentu faktor penentu keputusan pelaku usaha karena sangat
menentukan biaya distribusi input dan output produksinya. Karenanya, ketersediaan
infrastruktur dapat menjadi faktor pendorong produktivitas suatu daerah.
Kinerja Indonesia dalam hal infrastruktur relatif rendah bila dibandingkan dengan
Negara-negara tetangganya. The Global Competitiveness Report 2010-2011 (The World
Economis Forum, 2010) menunjukkan bahwa kinerja infrastruktur Indonesia amat rendah.
Dari 139 negara yang dikaji, Indonesia menempati peringkat 90 untuk aspek infrastruktur
secara keseluruhan, sementara Malaysia dan Thailand masing-masing berada pada
peringkat 27 dan 46. Dalam hal kualitas jalan, peringkat Indonesia adalah 84, jauh lebih
rendah daripada Malaysia (peringkat 21) dan Thailand (36). Demikian juga halnya dengan
kualitas listrik, Indonesia menempati peringkat 97, sementara Malaysia 40 dan Thailand
42.
Kesenjangan infrastruktur di Indonesia sangat nyata dihadapi antar Kawasan Barat
Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI), antarwilayah Pulau, serta antar
provinsi. Kesenjangan infrastruktur tersebut diantaranya dapat ditunjukkan dari
ketersediaan infrastruktur jalan, energi listrik dan telekomunikasi.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

29

4.1. Kesenjangan Infrastruktur Jalan.


Kesenjangan ketersediaan infrastruktur jalan antar KBI dan KTI dapat ditunjukkan
melalui indikator Rasio Kerapatan Jalan yang menggambarkan panjang jalan pada setiap
luas wilayah 1 Km2. Rasio kerapatan jalan di KBI mencapai 0,46 Km/Km2, sementara
KTI 0,15 Km/Km2. Perbedaan yang cukup nyata dari kerapatan jalan di kedua kawasan
tersebut, disebabkan panjang jalan di KBI meliputi 59 persen dari total panjang jalan di
Indonesia, sementara luasan wilayahnya hanya meliputi 32 persen.
Tabel 4.1:
Panjang Jalan, Luas Wilayah dan Kerapatan Jalan Antar KBI dan KTI, Tahun 2010
Panjang Jalan

KAWASAN
INDONESIA

(Km)
281.128
197.540
478.668

KBI
KTI
TOTAL

persen
59
41
100

Luas Wilayah
(Km)
616.012
1.294.920
1.910.931

persen
32
68
100

Rasio Kerapatan
Jalan (Km/Km2)
0,46
0,15
0,25

Sumber: Hasil Pengolahan data Bina Marga, Kementerian PU.

Kerapatan pada tingkat antarwilayah pulau, Jawa Bali memiliki kerapatan


tertinggi (0,89 Km/Km2), sementara terendah di wilayah Papua yang hanya mencapai
0,06 Km/Km2. Kerapatan di wilayah KTI tertinggi berada di wilayah Sulawesi (0,43
Km/Km2, lebih tinggi dari kerapatan jalan di wilayah Sumatera yang berada di KBI.

Km

Gambar 4-1.
Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan Antarwilayah Pulau, Tahun 2010
180.000
160.000
140.000
120.000
100.000
80.000
60.000
40.000
20.000

0,89

0,34

1,00
0,90
0,80
0,70
0,60
0,43
0,40
0,50
0,40
0,30
0,16
0,10
0,06 0,20
0,10

Km/km2)

PanjangJalan(Km)
KerapatanJalan(Km/Km2)

Sumber: Hasil Pengolahan data Ditjen Bina Marga, Kementerian PU.

4.1.1. Wilayah Sumatera


Kerapatan jalan di wilayah Sumatera sebesar 0,34 Km/Km, lebih tinggi dari
kerapatan jalan tingkat nasional sebesar 0,25 Km/Km. Kerapatan jalan antarprovinsi,
tertinggi terdapat di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 0,55 Km/Km, dan terendah di
provinsi Sumatera Selatan sebesar 0,18 Km/Km.

30

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Gambar 4-2.
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) Antar Proviinsi Di Wilayah Sumatera
0,49 0,49

4523

4526

17003

16635

0,34

0,28

0,21 0,18
10372

23450

20763

10.000

0,27
35448

20.000

20795

Km

30.000

0,55

0,49
0,39

0,36

7811

40.000

0,60
0,50
0,25 0,40
0,30
0,20
0,10

Km/Km2
TotalPanjangJalan(Km)
KerapatanJalan
(Km/Km2)

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Berdasarkan jumlah kendaraan roda-4 (mobil penumpang, Bus dan truk) untuk
setiap Km panjang jalan yang menunjukkan kerapatan kendaraan per Km, Provinsi
Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan kerapatan tertinggi (43,18 unit/Km), dan
berada di atas rata-rata nasional (33,42 unt/Km). Kerapatan kendaraan terendah berada di
Provinsi Bengkulu sebesar 10,58 unit/Km. Sementara itu, dilihat dari sisi ketersediaan
panjang jalan per jumlah penduduk yang ditunjukkan melalui indikator panjang jalan per
1000 penduduk (Km/1000 orang), seluruh provinsi di wilayah Sumatera menunjukkan
nilai rasio lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Hal ini menunjukkan kebutuhan
penduduk terhadap infrastrukur jalan masih dibawah rata-rata nasional, khususnya di
Provinsi Aceh dan Bengkulu.
Gambar 4-3.
Rasio Jumlah Kendaraan Roda-4 Per Km, dan Panjang Jalan Per 1000 Penduduk Antar Proviinsi
Di Wilayah Sumatera
4,55

3,19

Km/1000Orang

4,00

33,42

2,01 3,00
35,49

10,58

35,41

27,68

16,15

20,00

21,75

40,00

2,69

2,23

2,23

11,05

2,73

60,00

33,81

80,00

5,00

3,70

3,35

22,07

4,284,23

43,18

4,63

11,98

Unit/Km

100,00

2,00
1,00

RasioJumlahKendaraan
Roda4denganPanjangJalan
(Unit/Km)
RasioPanjangjalandengan
JumlahPenduduk(Km/1000
Orang)

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Kualitas jalan Nasional antarprovinsi, jalan Tidak Mantap tertinggi terdapat di


Provinsi Sumatera Utara yaitu meliputi panjang 556 Km 25,02persen dari total panjang
jalan, dengan komposisi 46,72 persen Rusak Ringan dan 53,28 persen Rusak Berat.
Berikutnya di Provinsi Kepulauan Riau dengan panjang jalan Tidak Mantap sepanjang
69,22 Km 20,73 persen, dengan komposisi sebesar 15,88 persen Rusak Ringan dan 84,12
persen Rusak Berat. Sementara kondisi jalan Nasional Tidak Mantap terendah terdapat di

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

31

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yaitu sepanjang 1,28 Km atau 0,25 persen dari total
panjang jalan, dengan komposisi 85,94 persen Rusak Ringan dan 14,06 persen Rusak
Berat.
Tabel 4.2:
Kondisi jalan Nasional Tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
Panjang
Jalan
Nasional
(Km)

PROVINSI

KUALITAS JALAN NASIONAL


Panjang Jalan Mantap
(Km)

persen

Panjang Jalan Tidak


Mantap
(Km)
persen

Komposisi Jalan
Tidak Mantap
persen
persen
Rusak
Rusak
Ringan
Berat
33,63
66,37

Aceh

1.803,36

1.667,56

92,47

135,80

7,53

Sumatera Utara

2.224,51

1.667,91

74,98

556,60

25,02

46,72

53,28

Sumatera Barat

1.212,88

1.103,21

90,96

109,67

9,04

76,46

23,55

Riau

1.082,12

954,77

88,23

127,35

11,77

62,39

37,61

333,99

264,77

79,27

69,22

20,73

15,88

84,12

Kepulauan Riau
Jambi

936,48

824,23

88,01

112,25

11,99

68,73

31,27

Bengkulu

782,87

728,67

93,08

54,20

6,92

55,61

44,39

1.418,38

1.400,49

98,74

17,89

1,26

85,69

14,31

509,59

508,31

99,75

1,28

0,25

85,94

14,06

1.159,57

1.017,22

87,72

142,35

12,28

70,64

29,36

SUMATERA

.463,75

10.137,14

88,43

1.326,61

11,57

53,09

46,91

INDONESIA

.189,43

31.522,09

82,54

6.667,34

17,46

48,28

51,72

Sumatera Selatan
Kep. Bangka Belitung
Lampung

Sumber:

Monitoring Data IRMS Berdasarkan Roughness Tahun Anggaran 2010. Direktorat Jenderal Bina Marga
(Status 18 Agustus 2010)

4.1.2. Wilayah Jawa-Bali


Berdasarkan rasio panjang jalan dengan luas wilayah yang mengindikasikan
kerapatan jalan (Road Density) pada tahun 2010, kerapatan jalan di wilayah Jawa Bali
sebesar 0,89 Km/Km, lebih tinggi dari kerapatan jalan tingkat nasional sebesar 0,25
Km/Km. Kerapatan jalan antarprovinsi, tertinggi terdapat di Provinsi DKI Jakarta
sebesar 9,65 Km/Km, dan terendah di provinsi Banten sebesar 0,67 Km/Km.

39854

Gambar 4-4.
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) Antar Provinsi Di Wilayah Jawa Bali

0,73 0,89

1,52

6,00
7306

6409

20.000
10.000

8,00
4753

30.000

4,00

TotalPanjangJalan(Km)

0,83 0,67 1,26 0,89


0,25

2,00

KerapatanJalan(Km/Km2)

32

Km/Km2

10,00

6474

40.000

12,00

29203

9,65
25803

Km

50.000

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Berdasarkan jumlah kendaraan roda-4 (mobil penumpang, bus dan truk) untuk
setiap Km panjang jalan yang menunjukkan kerapatan kendaraan per Km, Provinsi DKI
Jakarta menunjukkan kerapatan tertinggi (550,49 unit/Km), dan menduduki peringkat
kerapatan tertinggi secara nasional. Kerapatan kendaraan terendah berada di Provinsi
Banten sebesar 27,88 unit/Km. Sementara itu, dilihat dari sisi ketersediaan panjang jalan
per jumlah penduduk yang ditunjukkan melalui indikator panjang jalan per 1000
penduduk (Km/1000 orang), seluruh provinsi di wilayah Jawa-Bali berada dibawah nilai
rasio nasional. Hal ini menunjukkan tingginya kebutuhan dukungan infrastruktur jalan
bagi mobilitas penduduk.
Gambar 4-5.
Rasio Jumlah Kendaraan Roda-4 Per Km, dan Panjang Jalan Per 1000 Penduduk Antar Proviinsi
Di Wilayah Jawa-Bali
2,01

1,88

400,00

RasioJumlahKendaraanRoda4
denganPanjangJalan(Unit/Km)

1,00
33,42

70,94

37,60

100,00

0,61
85,68

46,34

0,67 0,60

0,85
27,88

200,00

1,50

1,06

0,90

106,22

300,00

2,50 Km/1000Orang
2,00

1,37

31,24

Unit/Km

500,00

RasioPanjangjalandenganJumlah
Penduduk(Km/1000Orang)

0,50

Kualitas jalan Nasional antarprovinsi, persentase jalan Tidak Mantap tertinggi


terdapat di Provinsi DI. Yogyakarta dan Banten masing-masing sebesar 26,00 persen dan
25,67 persen.Kondisi Jalan tidak mantap di DI. Yogyakarta sebesar 99,66 persen Rusak
Ringan, sementara di Provinsi Banten sebesar 60,61 persen dan 39,38 persen rusak berat.
Sementara kondisi jalan Nasional Tidak Mantap terendah terdapat di Provinsi Jawa Timur
sebesar 1,59 persen, dengan komposisi 87,39 persen Rusak Ringan dan 12,61 persen
Rusak Berat.
Tabel 4.3:
Kondisi jalan Nasional Tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010

PROVINSI

Panjang
Jalan
Nasional
(Km)

Panjang Jalan
Mantap
(Km)

DKI Jakarta**)
Banten
Jawa Barat
Jawa Tengah
D.I. Yogyakarta
Jawa Timur
Bali
JAWA - BALI
INDONESIA

142,65
476,49
1.341,05
1.390,58
223,16
1.995,30
535,18
6.104,41
38.189,43

138,44
354,16
1.226,60
1.334,76
165,14
1.963,58
502,49
5.685,17
31.522,09

persen
97,05
74,33
91,47
95,99
74,00
98,41
93,89
93,13
82,54

KUALITAS JALAN
Panjang Jalan
Tidak Mantap
(Km)
4,21
122,33
114,45
55,82
58,02
31,72
32,69
419,24
6.667,34

persen
2,95
25,67
8,53
4,01
26,00
1,59
6,11
6,87
17,46

Komposisi Jalan
Tidak Mantap
persen
persen
Rusak
Rusak
Ringan
Berat
97,62
2,38
60,61
39,39
85,59
14,41
95,16
4,84
99,66
0,34
87,39
12,61
48,73
51,27
78,90
21,10
48,28
51,72

Monitoring Data IRMS Berdasarkan Roughness Tahun Anggaran 2010. Direktorat Jenderal Bina Marga (Status 18 Agustus 2010)

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

33

4.1.3. Wilayah Nusa Tenggara


Berdasarkan rasio panjang jalan dengan luas wilayah yang mengindikasikan
kerapatan jalan (Road Density) pada tahun 2010, kerapatan jalan di wilayah Nusa
Tenggara sebesar 0,40 Km/Km, lebih tinggi dari kerapatan jalan tingkat nasional sebesar
0,25 Km/Km. Kerapatan jalan di Provinsi NTT dan NTB sebesar 0,40 Km/Km.

20000
10000

0,40

0,40

19.640

30000

7.434

Km

Gambar 4-6.
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) Antar Proviinsi Di Wilayah Nusa
Tenggara
0,50
0,40
0,30
0,20
0,10

0,40
0,25

0
NusaTenggara NusaTenggara
Barat
Timur

NUSA
TENGGARA

Km/Km2
TotalPanjangJalan(Km)
KerapatanJalan(Km/Km2)

NASIONAL

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Berdasarkan jumlah kendaraan roda-4 (mobil penumpang, Bus dan truk) untuk
setiap Km panjang jalan yang menunjukkan kerapatan kendaraan per Km, Provinsi NTB
menunjukkan kerapatan lebih tinggi dibanding NTT, namun masih berada di bawah ratarata nasional (33,42 unt/Km). Sementara itu, dilihat dari sisi ketersediaan panjang jalan
per jumlah penduduk yang ditunjukkan melalui indikator panjang jalan per 1000
penduduk (Km/1000 orang), Provinsi NTB menunjukkan dukungan infrastruktur jalan
untuk kebutuhan mobilitas penduduk lebih tinggi dibanding dengan Provinsi NTT.
Gambar 4-7.
Rasio Jumlah Kendaraan Roda-4 Per Km, dan Panjang Jalan Per 1000 Penduduk Antar
Provinsi Di Wilayah Sumatera
4,19

80,00

2,01

1,65

33,42

20,00

2,95

17,64

40,00

4,00

12,24

60,00

5,00

31,90

Unit/Km

100,00

Nusa
Tenggara
Barat

Nusa
Tenggara
Timur

NUSA
TENGGARA

NASIONAL

3,00
2,00
1,00

Km/1000Orang
RasioJumlahKendaraanRoda
4denganPanjangJalan
(Unit/Km)
RasioPanjangjalandengan
JumlahPenduduk(Km/1000
Orang)

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Kualitas jalan Nasional antarprovinsi, persentase jalan Tidak Mantap tertinggi


terdapat di Provinsi Nusa Tenggara Barat yaitu sebesar 16,26 persen dari total panjang
jalan, dengan komposisi 38,31 persen Rusak Ringan dan 61,69 persen Rusak Berat.
Sementara panjang jalan tidak mantap sebagian besar berada di Provinsi Nusa Tenggara

34

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Timur sepanjang 150,57 Km dengan komposisi 79,83 persen rusak ringan dan 20,17
persen rusak berat.
Tabel 4.4:
Kondisi Jalan Nasional Tidak Mantap antarprovinsi, Tahun 2010
KUALITAS JALAN
Panjang
Jalan
Nasional
(Km)

PROVINSI

Nusa Tenggara Barat


Nusa Tenggara Timur
NUSA TENGGARA
INDONESIA

Panjang Jalan
Mantap

Panjang Jalan
Tidak Mantap

(Km)

(Km)

persen

persen

623,90

522,44

83,74

101,46

16,26

1.406,68
2.030,58
38.189,43

1.256,11
1.778,55
31.522,09

89,30
87,59
82,54

150,57
252,03
6.667,34

10,70
12,41
17,46

Komposisi Jalan
Tidak Mantap
persen
persen
Rusak
Rusak
Ringan
Berat
38,31
61,69
79,83
63,12
48,28

20,17
36,88
51,72

Sumber: Monitoring Data IRMS Berdasarkan Roughness Tahun Anggaran 2010. Direktorat Jenderal Bina Marga (Status 18 Agustus
2010)

4.1.4. Wilayah Kalimantan


Berdasarkan rasio panjang jalan dengan luas wilayah yang mengindikasikan
kerapatan jalan (Road Density) pada tahun 2010, kerapatan jalan di wilayah Kalimantan
sebesar 0,10 Km/Km, lebih tinggi dari kerapatan jalan tingkat nasional sebesar 0,25
Km/Km. Kerapatan jalan antarprovinsi, tertinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan
sebesar 0,28 Km/Km, dan terendah di provinsi Kalimantan Timur sebesar 0,06 Km/Km.

10000

0,09

5000
0

0,25

12499

0,10

15000

0,28
10943

14344

Km

20000

15007

Gambar 4-8.
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) Antar Proviinsi
Di Wilayah Kalimantan

0,10
0,06

0,30
0,25
0,20
0,15
0,10
0,05

Km/Km2

TotalPanjangJalan(Km)
KerapatanJalan(Km/Km2)

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Berdasarkan jumlah kendaraan roda-4 (mobil penumpang, Bus dan truk) untuk
setiap Km panjang jalan yang menunjukkan kerapatan kendaraan per Km, Provinsi
Kalimantan Timur menunjukkan kerapatan tertinggi (43,32 unit/Km), lebih tinggi dari
kerapatan nasional (33,42 unit/Km). Kerapatan kendaraan terendah berada di Provinsi
Kalimantan Tengah sebesar 22,48 unit/Km. Sementara itu, dilihat dari sisi ketersediaan
panjang jalan per jumlah penduduk yang ditunjukkan melalui indikator panjang jalan per
1000 penduduk (Km/1000 orang), seluruh provinsi di wilayah Kalimantan berada di atas

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

35

nilai rasio nasional. Hal ini menunjukkan dukungan infrastruktur jalan terhadap
kebutuhan mobilitas penduduk lebih rendah dibanding nasional, hal ini dapat disebabkan
adanya dukungan jalur transportasi sungai, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat dan
Kalimantan Tengah.

9,40

43,32

3,83
2,01
33,42

3,52

32,87

3,02
36,90

6,86

22,48

100,00
80,00
60,00
40,00
20,00

31,15

Unit/Km

Gambar 4-9.
Rasio Jumlah Kendaraan Roda-4 Per Km, dan Panjang Jalan Per 1000 Penduduk Antar
Proviinsi Di Wilayah Kalimantan
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00

Km/1000Orang
RasioJumlahKendaraan
Roda4denganPanjangJalan
(Unit/Km)
RasioPanjangjalandengan
JumlahPenduduk(Km/1000
Orang)

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Kualitas jalan Nasional antarprovinsi, jalan Tidak Mantap tertinggi terdapat di


Provinsi Kalimantan Barat yaitu meliputi panjang 612,07 Km (36,73persen dari total
panjang jalan), dengan komposisi 66,6 persen Rusak Ringan dan 33,4 persen Rusak Berat.
Berikutnya di Provinsi Kalimantan Tengah dengan panjang jalan Tidak Mantap sepanjang
573,97 Km (34,43persen), dengan komposisi sebesar 8,44 persen Rusak Ringan dan 91,56
persen Rusak Berat. Sementara kondisi jalan Nasional Tidak Mantap terendah terdapat di
Provinsi Kalimantan Selatan, yaitu sepanjang 25,56 Km atau 2,95 persen dari total
panjang jalan, dengan komposisi 88,81 persen Rusak Ringan dan 11,19 persen Rusak
Berat.
Tabel 4.5:
Kondisi JalanNasional Tidak Mantap Antarprovinsi,Tahun 2010

PROVINSI

Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Timur
Kalimantan Selatan
KALIMANTAN
INDONESIA

Panjang
Jalan
Nasional
(Km)
1.666,43
1.666,95
2.118,17
866,08
6.317,63
38.189,43

Panjang Jalan
Mantap
(Km)
1.054,36
1.092,98
1.782,09
840,52
4.769,95
31.522,09

persen
3,27
5,57
84,13
97,05
75,50
82,54

KUALITAS JALAN
Panjang Jalan Tidak
Komposisi Jalan Tidak
Mantap
Mantap
persen
persen
(Km)
persen
Rusak
Rusak
Ringan
Berat
612,07
36,73
66,60
33,40
573,97
34,43
8,44
91,56
336,08
15,87
75,87
24,13
25,56
2,95
88,81
11,19
1.547,68
24,50
47,41
52,59
6.667,34
17,46
48,28
51,72

Sumber: Monitoring Data IRMS Berdasarkan Roughness Tahun Anggaran 2010. DirektoratJenderalBinaMarga (Status 18 Agustus
2010)

4.1.5.

Wilayah Sulawesi

Kerapatan jalan di wilayah Sulawesi sebesar 0,43 Km/Km, lebih tinggi dari
kerapatan jalan tingkat nasional sebesar 0,25 Km/Km. Kerapatan jalan antarprovinsi,
tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 0,70 Km/Km, dan terendah di
provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,28 Km/Km.
36

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

0,70

0,80

0,52

7423

0,25
4464

10831

32681

0,28

Km/Km2

0,60

0,40 0,44 0,43

0,30
18329

35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000
0

7195

Km

Gambar 4-10.
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) Antar Proviinsi Di Wilayah
Sulawesi

0,40
0,20

TotalPanjangJalan(Km)
KerapatanJalan(Km/Km2)

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Berdasarkan jumlah kendaraan roda-4 (mobil penumpang, Bus dan truk) untuk
setiap Km panjang jalan yang menunjukkan kerapatan kendaraan per Km, Provinsi
Gorontalo menunjukkan kerapatan tertinggi (32,54 unit/Km), dan menduduki peringkat
kerapatan tertinggi secara nasional. Kerapatan kendaraan terendah berada di Provinsi
Sulawesi Barat sebesar 7,94 unit/Km. Sementara itu, dilihat dari sisi ketersediaan panjang
jalan per jumlah penduduk yang ditunjukkan melalui indikator panjang jalan per 1000
penduduk (Km/1000 orang), seluruh provinsi di wilayah Sulawesi berada di atas nilai
rasio nasional. Hal ini menunjukkan ketersediaan infrastruktur jalan dalam mendukung
kebutuhan mobilitas penduduk masih lebih rendah dibanding rata-rata nasional, terutama
di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah.

10,69
6,41
18,42

4,66
7,94

32,54

4,85 4,29
14,47

18,78

4,07

33,42

8,68

16,56

100,00
80,00
60,00
40,00
20,00

29,53

Unit/Km

Gambar 4-11.
Rasio Jumlah Kendaraan Roda-4 Per Km, dan Panjang Jalan Per 1000 Penduduk Antar
Proviinsi Di Wilayah Sulawesi

2,01

12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00

Km/1000Orang

RasioJumlahKendaraanRoda4
denganPanjangJalan(Unit/Km)
RasioPanjangjalandenganJumlah
Penduduk(Km/1000Orang)

Sumber Data: Ditjen Bina Marga, Kementerian PU

Kualitas jalan Nasional antarprovinsi, jalan Tidak Mantap tertinggi terdapat di


Provinsi Sulawesi Barat yaitu meliputi panjang 520,14 Km 37,23persen dari total panjang
jalan, dengan komposisi 43,43 persen Rusak Ringan dan 56,57 persen Rusak Berat.
Berikutnya di Provinsi Sulawesi Selatan dengan panjang jalan Tidak Mantap sepanjang
390,21 Km (36,58persen), dengan komposisi sebesar 13,86 persen Rusak Ringan dan
86,14 persen Rusak Berat. Sementara kondisi jalan Nasional Tidak Mantap terendah
terdapat di Provinsi Gorontalo yaitu sepanjang 24,39 Km atau 4,26 persen dari total

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

37

panjang jalan, dengan komposisi 60,68 persen Rusak Ringan dan 39,32 persen Rusak
Berat.
Tabel 4.6:
Kondisi Jalan Nasional Tidak Mantap Antarprovinsi, Tahun 2010
KUALITAS JALAN
Panjang
Jalan
Nasional
(Km)

PROVINSI

Panjang Jalan
Mantap

Panjang Jalan Tidak


Mantap

Komposisi Jalan
Tidak Mantap

11,44

persen
Rusak
Ringan
47,05

persen
Rusak
Berat
52,95

24,39

4,26

60,68

39,32

86,59

230,50

13,41

61,28

38,72

876,86

62,77

520,14

37,23

43,43

56,57

1.066,65
511,89

676,44
478,89

63,42
93,55

390,21
33,00

36,58
6,45

13,86
48,48

86,14
51,52

SULAWESI

7.426,84

5.981,45

80,54

1.445,39

19,46

39,32

60,68

INDONESIA

38.189,43

31.522,09

82,54

6.667,34

17,46

48,28

51,72

(Km)

persen

(Km)

persen

2.160,97

1.913,82

88,56

247,15

571,99

547,60

95,74

Sulawesi Tengah

1.718,34

1.487,84

Sulawesi Barat

1.397,00

Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara

Sulawesi Utara
Gorontalo

Monitoring Data IRMS Berdasarkan Roughness Tahun Anggaran 2010. Direktorat Jenderal BinaMarga (Status 18 Agustus 2010)

4.1.2.

Wilayah Maluku dan Papua

Kerapatan jalan di wilayah Maluku sebesar 0,16 Km/Km, lebih rendah dari
kerapatan jalan tingkat nasional sebesar 0,25 Km/Km. Kerapatan jalan antarprovinsi,
tertinggi terdapat di Provinsi Maluku Utara sebesar 0,18 Km/Km, dan terendah di
provinsi Maluku sebesar 0,15 Km/Km. Kerapatan jalan di wilayah Papua sebesar 0,06
Km/Km, lebih rendah dari kerapatan jalan tingkat nasional sebesar 0,25 Km/Km.
Kerapatan jalan antarprovinsi, tertinggi terdapat di Provinsi Papua Barat sebesar 0,08
Km/Km, dan terendah di provinsi Papua sebesar 0,05 Km/Km.

Km

Gambar 4-12.
Total Panjang Jalan dan Kerapatan Jalan (Road Density) Antar Proviinsi Di Wilayah
Maluku dan Papua
20000
15000

0,25

0,15

0,18

0,16

10000
7301

Maluku
Utara

Papua
Barat

0,06

0,05
16535

5698

5000

7216

0,08

0
Maluku

Papua

WIL.
MALUKU

WIL. NASIONAL
PAPUA

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

38

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

0,30 Km/Km2
0,25
0,20
0,15
TotalPanjangJalan(Km)
0,10
KerapatanJalan(Km/Km2)
0,05

Berdasarkan jumlah kendaraan roda-4 (mobil penumpang, Bus dan truk) untuk
setiap Km panjang jalan yang menunjukkan kerapatan kendaraan per Km, setiap provinsi
di wilayah Maluku dan Papua masih lebih rendah dibanding dengan kerapatan kendaraan
rata-rata secara nasional. Kerapatan kendaraan terendah berada di Provinsi Maluku Utara
sebesar 0,72 unit/Km. Hal ini disebabkan kondisi geografis wilayah merupakan kepulauan
dan tingginya mobilitas penduduk yang menggunakan sarana transportasi laut. Sementara
itu, dilihat dari sisi ketersediaan panjang jalan per jumlah penduduk yang ditunjukkan
melalui indikator panjang jalan per 1000 penduduk (Km/1000 orang), seluruh provinsi di
wilayah Maluku dan Papua berada di atas nilai rasio nasional. Hal ini menunjukkan
ketersediaan infrastruktur jalan dalam mendukung kebutuhan mobilitas penduduk masih
lebih rendah dibanding rata-rata nasional, terutama di Provinsi Papua Barat.
Gambar 4-13.
Rasio Jumlah Kendaraan Roda-4 Per Km, dan Panjang Jalan Per 1000 Penduduk Antar
Proviinsi Di Wilayah Maluku dan Papua
12,00 Km/1000Orang
10,00

9,60

80,00
60,00

4,71

5,84

5,49

6,63

6,00
7,16

5,02

9,67

1,48

0,72

8,41

40,00
20,00

8,00

5,02
2,01
33,42

Unit/Km

100,00

4,00
2,00

RasioJumlahKendaraanRoda4
denganPanjangJalan(Unit/Km)
RasioPanjangjalandenganJumlah
Penduduk(Km/1000Orang)

Sumber: Hasil Pengolahan Data BPS, 2012.

Kualitas jalan Nasional antarprovinsi, jalan Tidak Mantap tertinggi terdapat di


Provinsi Maluku yaitu meliputi panjang 220,63 Km (16,72 persen dari total panjang
jalan), dengan komposisi 74,60 persen Rusak Ringan dan 25,40 persen Rusak Berat.
Sementara kondisi jalan Nasional Tidak Mantap di Provinsi Maluku Utara adalah
sepanjang 61,59 Km atau 10,15 persen dari total panjang jalan, dengan komposisi 51,42
persen Rusak Ringan dan 48,58 persen Rusak Berat.
Tabel 4.7:
Kondisi jalan Nasional Tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010

PROVINSI

Prov. Maluku
Prov. Maluku Utara
MALUKU
INDONESIA

Panjang
Jalan
Nasional
(Km)
1.319,23
606,69
1.925,92
38.189,43

Panjang Jalan
Mantap
(Km)
1.098,60
545,10
1.643,70
31.522,09

persen
83,28
89,85
85,35
82,54

KUALITAS JALAN
Panjang Jalan
Tidak Mantap
(Km)
220,63
61,59
282,22
6.667,34

persen
16,72
10,15
14,65
17,46

Komposisi Jalan
Tidak Mantap
persen
persen
Rusak
Rusak
Ringan
Berat
74,60
25,40
51,42
48,58
69,54
30,46
48,28
51,72

Monitoring Data IRMS Berdasarkan Roughness Tahun Anggaran 2010. Direktorat Jenderal Bina Marga (Status 18 Agustus 2010)

Kualitas jalan Nasional antarprovinsi, jalan Tidak Mantap tertinggi terdapat di


Provinsi Papua yaitu meliputi panjang 965,49 Km (49,33 persen dari total panjang jalan),
ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

39

dengan komposisi 47,57 persen Rusak Ringan dan 52,43 persen Rusak Berat.Sementara
di Provinsi Papua Baratmemiliki panjang jalan Tidak Mantap sepanjang 428,68 Km
(44,50 persen), dengan komposisi sebesar 15,64 persen Rusak Ringan dan 84,37 persen
Rusak Berat.
Tabel 4.8:
Kondisi jalan Nasional Tidak Mantap antar provinsi, Tahun 2010
KUALITAS JALAN

PROVINSI

Prov. Papua
Prov. Papua Barat
PAPUA
INDONESIA

Panjang
Jalan
Nasional
(Km)

1.957,07
963,23
2.920,30
38.189,43

Panjang Jalan
Mantap

Panjang Jalan
Tidak Mantap

(Km)

(Km)

991,58
534,55
1.526,13
31.522,09

persen
50,67
55,50
52,26
82,54

persen

965,49
428,68
1.394,17
6.667,34

49,33
44,50
47,74
17,46

Komposisi Jalan
Tidak Mantap
persen
Rusak
Ringan
47,57
15,64
37,75
48,28

persen
Rusak
Berat
52,43
84,37
62,25
51,72

Monitoring Data IRMS Berdasarkan Roughness Tahun Anggaran 2010. Direktorat Jenderal Bina Marga (Status 18 Agustus 2010)

4.2.

Kesenjangan Infrastruktur Energi Listrik

Kesenjangan ketersediaan infrastruktur energi listrik antar KBI dan KTI dapat
ditunjukkan melalui indikator Total KWh Jual, Rasio Elektrifikasi, dan KWh Jual
Perkapita. Di wilayah KBI memiliki jumlah KWh jual mencapai 143.832.982 KWh (91
persen) atau sebesar 742,7 KWh/kapita. Sementara di wilayah KTI hanya mencapai
14.159.164 KWh (9 persen) atau sebesar 298,3 KWh/kapita. Sementara berdasarkan rasio
eleltrifikasi. wilayah KBI sudah mencapai 74 persen, sementara KTI baru mencapai 58,1
persen.
Tabel 4.9:
Perbandingan Ketersediaan Infrastruktur Energi Listrik Antar Wilayah Di Indonesia,
Tahun 2011
WILAYAH

Jumlah Pelanggan
RT

persen

Rasio
Elektrifikasi
( persen)

kWh Jual

persen

kWh

kWh
jual/kapita

Sumatera

8.407.689

19,7

23.015.992

14,6

68,6

446,3

Jawa Bali

28.066.341

65,9

120.816.990

76,5

75,8

850,3

912.186

2,1

1.324.083

0,8

41,5

141,8

Kalimantan

2.113.628

5,0

5.828.978

3,7

64,8

414,3

Sulawesi

2.510.172

5,9

5.636.868

3,6

65,6

319,8

Maluku

329.053

0,8

541.344

0,3

58,4

205,0

Papua

238.473

0,6

827.892

0,5

36,8

218,5

KBI

36.474.030

85,7

143.832.982

91,0

74,0

742,7

KTI

6.103.512

14,3

14.159.164

9,0

58,1

298,3

42.577.542

100,0

157.992.146

100,0

71,2

655,2

Nusa Tenggara

INDONESIA

Sumber: Hasil Pengolahan Data PLN 2011

40

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

4.2.1. Wilayah Sumatera


Penggunaan energi untuk pelanggan rumah tangga di setiap satua PLN/provinsi
bertumbuh dengan kisaran tertinggi sebesar 58 persen (Wilayah Kep. Bangka Belitung),
sedangkan terendah sebesar 10 persen (wilayah Sumatera Utara dan PT. PLN Batam).
Rasio Elektrifikasi tertinggi pada tahun 2011 adalah di wilayah Aceh sebesar 87,76
persen, dan terendah di wilayah Wilayah Sumsel, Jambi, dan Bengkulu sebesar 56,68
persen, sementara terendah menurut provinsi adalah di Provinsi Jambu sebesar 32,74
persen. Perkembangan rasio elektrifikasi dalam periode 2009-2011, peningkatan tertinggi
terjadi di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 24,47 persen, dan terendah di PT. PLN Batam
sebesar -9,62 persen.
Tabel 4.10:
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrifikasi dan Konsumsi
Listrik Perkapita di Wilayah Sumatera.
Satuan PLN/Provinsi
Wilayah Aceh

Pelanggan Rumah Tangga (RT)


2009
2011
Laju
(persen)

Rasio Elektrifikasi ( persen)


2009
2011

(11-09)

2009

kWh jual/kapita
2011

(11-09)

853.659

951.165

11

87,76

87,21

-0,55

292,53

343,54

51,01

Wilayah Sumatera Utara

2.290.474

2.511.003

10

76,81

80,11

3,3

460,2

548,84

88,64

Wilayah Sumatera Barat

775.637

860.130

11

67,21

76,21

415,6

489,82

74,22

Wilayah Riau

575.003

778.161

35

40,59

57,39

16,8

361,47

436,38

74,91

- Riau

479.841

655.068

37

38,88

54,8

15,92

336,58

411,42

74,84

95.162

123.093

29

52,17

76,64

24,47

541,41

620,1

78,69

1.369.350

1.726.583

26

49,13

56,68

7,55

310,23

360,67

50,44

947.325

1.197.649

26

56,11

65,18

9,07

367,57

390,19

22,62

- Jambi

206.414

258.184

25

29,9

32,74

2,84

209,9

332,55

122,65

- Bengkulu

215.611

270.750

26

52,74

64,48

11,74

232,39

283,41

51,02

Wilayah Bangka Belitung

127.830

202.340

58

45,56

66,18

20,62

350,36

424,33

73,97

Wilayah Lampung

877.400

1.182.013

35

47,75

61,88

14,13

270,16

315,38

45,22

PT PLN Batam

178.888

196.294

10

78,76

69,14

-9,62

1.659,2
1

1.534,30

-124,91

- Kepulauan Riau
Wilayah Sumsel, Jambi,
dan Bengkulu
- Sumatera Selatan

Sumber: Hasil Pengolahan data PT. PLN 2012

4.2.2. Wilayah Jawa Bali


Penggunaan energi untuk pelanggan rumah tangga di setiap satua PLN/provinsi
bertumbuh dengan kisaran tertinggi sebesar 16 persen (Provinsi Baten), sedangkan
terendah sebesar 7 persen (Provinsi DI. Yogyakarta). Rasio Elektrifikasi tertinggi pada
tahun 2011 adalah di wilayah Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang sebesar 103,52
persen, dan terendah di Provinsi Banten sebesar 55,27 persen. Perkembangan rasio
elektrifikasi dalam periode 2009-2011, peningkatan tertinggi di wilayah Distribusi Jakarta
Raya dan Tangerang sebesar 13,09 persen, dan terendah di Provinsi Banten sebesar -13,89
persen.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

41

Tabel 4.11:
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrifikasi dan Konsumsi
Listrik Perkapita di Wilayah Jawa Bali.
Rasio Elektrifikasi ( persen)
Satuan PLN/Provinsi

2009

2011

(11-09)

kWh jual/kapita
2009

2011

(11-09)

Dist. Jawa Timur

64,73

73,66

8,93

564,77

637,28

72,51

Dist. Jawa Tengah dan Yogyakarta

69,92

78,75

8,83

414,78

478,44

63,66

- Jawa Tengah

69,85

78,91

9,06

407,59

472,29

64,7

- D.I. Yogyakarta

70,54

77,43

6,89

482,27

535,52

53,25

Dist. Jawa Barat dan Banten

66,85

68,73

1,88

755,42

826,26

70,84

- Jawa Barat

66,63

70,47

3,84

683,82

776,9

93,08

- Banten

69,16

55,27

-13,89

1.326,02

1.176,07

-149,95

Dist. Jakarta Raya dan Tangerang

90,43

103,52

13,09

2.102,29

2.419,10

316,81

Jawa

69,48

76,02

6,54

755,21

851,38

96,17

Distribusi Bali

72,77

68,63

-4,14

785,31

811,12

25,81

Sumber: Hasil Pengolahan data PT. PLN 2012

Konsumsi energi listrik perkapita pada tahun 2011, tertinggi di Dist. Jakarta Raya
dan Tangerang sebesar 2.419,10 kWh/kapita, dan terendah di Provinsi DI. Yogyakarta
sebesar 535,52 kWh/kapita. Perkembangan konsumsi listrik selama periode 2009-2011,
tertinggi di Dist. Jakarta Raya dan Tangerang sebesar 316,81 kWh/kapita dan terendah di
Provinsi Banten yang berkurang sebesar 149,95 kWh/kapita.

4.2.3. Wilayah Nusa Tenggara


Penggunaan energi untuk pelanggan rumah tangga di setiap satuan PLN/provinsi
selama periode 2009-2011 bertumbuh cukup tinggi, yaitu sebesar 69 persen di NTB dan
53 persen di NTT. Rasio Elektrifikasi tertinggi pada tahun 2011 di wilayah NTB sebesar
47,2 persen, dan di wilayah NTT sebesar 34,52 persen. Perkembangan rasio elektrifikasi
dalam periode 2009-2011, peningkatan tertinggi di wilayah NTB sebesar 17,92 persen,
dan terendah di wilayah NTT sebesar 11,71 persen.
Konsumsi energi listrik perkapita pada tahun 2011, tertinggi di wilayah NTB
sebesar 184,17 kWh/kapita, dan terendah di wilayah NTT sebesar 101,63 kWh/kapita.
Perkembangan konsumsi listrik selama periode 2009-2011, tertinggi di wilayah NTB
sebesar 28,8 kWh/kapita dan terendah di wilayah NTT sebesar 18,79 kWh/kapita.

42

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Tabel 4.12:
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrifikasi dan Konsumsi
Listrik Perkapita di Wilayah Nusa Tenggara.
Satuan PLN/Provinsi

Wilayah Nusa
Tenggara Barat
Wilayah Nusa
Tenggara Timur

Pelanggan Rumah Tangga (RT)

Rasio Elektrifikasi
( persen)
2009
2011

(11-09)

2009

2011

Laju
(persen)

336.805

569.042

69

29,28

47,2

224.869

343.144

53

22,81

34,52

kWh jual/kapita
2009

2011

(11-09)

17,92

155,37

184,17

28,8

11,71

82,84

101,63

18,79

Sumber: Hasil Pengolahan data PT. PLN 2012

4.2.4. Wilayah Kalimantan


Penggunaan energi untuk pelanggan rumah tangga di setiap satuan PLN/provinsi
selama periode 2009-2011 bertumbuh dengan kisaran tertinggi sebesar 38 persen di
PT.PLN Tarakan, dan terendah di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 17 persen. Rasio
Elektrifikasi tertinggi pada tahun 2011 di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 73,95
persen, dan terendah di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar 52,97 persen. Perkembangan
rasio ekektrifikasi dalam periode 2009-2011, peningkatan tertinggi di wilayah Kalimantan
Barat sebesar 14,54 persen, dan terendah di wilayah Kalimantan Timur sebesar 4,46
persen.
Konsumsi energi listrik perkapita pada tahun 2011, tertinggi di wilayah PT.PLN
Tarakan sebesar 601,28 kWh/kapita, dan terendah di Provinsi Kalimantan Tengah sebesar
288,91 kWh/kapita. Perkembangan konsumsi listrik selama periode 2009-2011, tertinggi
di wilayah Kalimantan Barat sebesar 56,37 kWh/kapita dan terendah di wilayah PT.PLN
Tarakan sebesar 16,87 kWh/kapita.
Tabel 4.13:
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrifikasi dan Konsumsi
Listrik Perkapita di Wilayah Kalimantan.
Satuan PLN/Provinsi

Pelanggan Rumah Tangga (RT)


2009
2011
Laju
(persen)

Rasio Elektrifikasi ( persen)


2009
2011

(11-09)

2009

kWh jual/kapita
2011

(11-09)

Wilayah Kalimantan Barat

486.764

589.263

21

50,32

64,86

14,54

267,56

323,93

56,37

Wilayah Kalsel dan Kalteng

832.531

997.163

20

57,89

66,4

8,51

316,89

356,09

39,2

- Kalimantan Selatan

609.802

711.010

17

66,06

73,95

7,89

357,6

397

39,4

- Kalimantan Tengah

222.729

286.153

28

43,25

52,97

9,72

248,66

288,91

40,25

Wilayah Kalimantan Timur

408.307

494.266

21

57,02

61,48

4,46

579,12

601,28

22,16

23.905

32.936

38

57,3

67,14

9,84

857,95

874,82

16,87

PT PLN Tarakan

Sumber: Hasil Pengolahan data PT. PLN 2012

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

43

4.2.5.

Wilayah Sulawesi

Penggunaan energi untuk pelanggan rumah tangga di setiap satuan PLN/provinsi


selama periode 2009-2011 bertumbuh dengan kisaran tertinggi sebesar 30 persen di
Provinsi Sulawesi Tenggara, dan terendah di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 14 persen.
Rasio Elektrifikasi tertinggi pada tahun 2011 di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 77,99
persen, dan terendah di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 33,56 persen. Perkembangan
rasio ekektrifikasi dalam periode 2009-2011, peningkatan tertinggi di wilayah Gorontalo
sebesar 27,29 persen, dan terendah di wilayah Sulawesi Barat sebesar -2,43 persen.
Konsumsi energi listrik perkapita pada tahun 2011, tertinggi di Provinsi Sulawesi
Utara sebesar 429,59 kWh/kapita, dan terendah di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 127,4
kWh/kapita. Perkembangan konsumsi listrik selama periode 2009-2011, tertinggi di
Provinsi Sulawesi Utara sebesar 69,25 kWh/kapita dan terendah di Provinsi Sulawesi
Barat sebesar 23,55 kWh/kapita.
Tabel 4.14:
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrifikasi dan Konsumsi
Listrik Perkapita di Wilayah Sulawesi.
Satuan PLN/Provinsi

Pelanggan Rumah Tangga (RT)


2009
2011
Laju
(persen)

Rasio Elektrifikasi ( persen)


2009
2011

(11-09)

2009

kWh jual/kapita
2011

(11-09)

Wilayah Sulut, Sulteng dan


Gorontalo

735.828

879.626

20

51,43

69,66

18,23

249,45

297,45

48

- Sulawesi Utara

361.559

424.321

17

61,22

77,99

16,77

360,34

429,59

69,25

- Gorontalo

100.356

119.934

20

40,09

67,38

27,29

191,7

222,53

30,83

273.913

335.371

22

46,45

62,03

15,58

172,7

214,07

41,37

Wilayah Sulsel, Sultra dan


Sulbar

1.401.300

1.630.546

16

55,88

63,59

7,71

286,01

331,41

45,4

- Sulawesi Selatan

1.131.868

1.289.257

14

62,97

71,97

342,69

400,02

57,33

183.727

238.932

30

38,91

51,08

12,17

164,47

193,55

29,08

85.705

102.357

19

35,99

33,56

-2,43

103,85

127,4

23,55

- Sulawesi Tengah

- Sulawesi Tenggara
- Sulawesi Barat

Sumber: Hasil Pengolahan data PT. PLN 2012

4.2.6.

Wilayah Maluku dan Papua

Penggunaan energi untuk pelanggan rumah tangga di setiap satuan PLN/provinsi selama
periode 2009-2011 bertumbuh sebesar 18 persen di Maluku dan 14 persen di Maluku
Utara. Rasio Elektrifikasi tertinggi pada tahun 2011 di Provinsi Maluku sebesar 61,8
persen, dan di Maluku Utara sebesar 53,48 persen. Perkembangan rasio ekektrifikasi
dalam periode 2009-2011, peningkatan tertinggi di wilayah Maluku Utara sebesar 7,03
persen.Konsumsi energi listrik perkapita pada tahun 2011, tertinggi di Maluku sebesar
213.49 kWh/kapita, dan terendah di wilayah Maluku Utara sebesar 192,43 kWh/kapita.
Perkembangan konsumsi listrik selama periode 2009-2011, tertinggi di wilayah Maluku
Utara sebesar 32,74 kWh/kapita.

44

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Tabel 4.15:
Perkembangan Jumlah Pelanggan Rumah Tangga, Rasio Elektrifikasi dan Konsumsi
Listrik Perkapita di Wilayah Maluku dan Papua.
Satuan
PLN/Provinsi

Pelanggan Rumah Tangga (RT)

kWh jual/kapita

2009

2011

279.407

329.053

18

56,29

58,45

2,16

182,74

205

22,26

182.849

207.846

14

63,37

61,8

-1,57

199,52

213,49

13,97

- Maluku Utara

96.558

121.207

26

46,45

53,48

7,03

159,69

192,43

32,74

Wilayah Papua

187.598

238.473

27

27,9

36,79

8,89

232,79

218,47

-14,32

Wilayah Maluku
dan Maluku Utara
- Maluku

- Papua
- Papua Barat

Laju
(persen)

Rasio Elektrifikasi
(persen)
2009
2011

(11-09)

2009

2011

148.631

30,79

174,25

89.842

54,29

386,54

Penggunaan energi untuk pelanggan rumah tangga di wilayah Papua selama


periode 2009-2011 bertumbuh sebesar 27 persen. Rasio Elektrifikasi tertinggi pada tahun
2011 di Provinsi Papua Barat sebesar 54,29 persen, dan di Provinsi Papua sebesar 30,79
persen. Perkembangan rasio ekektrifikasi di wilayah Papua dalam periode 2009-2011,
meningkat sebesar 8,89 persen.Konsumsi energi listrik perkapita pada tahun 2011,
tertinggi di Papua Barat sebesar 386,54 kWh/kapita, dan terendah di wilayah Papua
sebesar 174,25 kWh/kapita. Perkembangan konsumsi listrik selama periode 2009-2011 di
wilayah Papua, menurun sebesar 14,32 kWh/kapita.

4.3. Kesenjangan Infrastruktur Telekomunikasi


Ketersediaan infrastruktur telekomunikasi memiliki peran penting dalam
mendukung interaksi sosial dan ekonomi masyarakat. Sejalan dengan perkembangan
teknologi, disamping penggunaan Telepon Kabel juga telah marak digunakan Telepon
Seluler hingga sampai di perdesaan. Namun demikian, distribusi infrastruktur
telekomunikasi tersebut masih belum merata, sehingga masih banyak desa-desa yang
belum memperoleh pelayanan Telepon Kabel, atau belum mampu menjangkau sinyal
telepon seluler. Untuk mendukung jangkauan sinyal telepon seluler tersebut, pada
dasarnya dapat diindikasikan oleh adanya Base Transceiver Station (BTS) atau Manara
Telepon Seluler di sekitar wilayah tersebut.
Kesenjangan dalam penggunaan ketersediaan infrastruktur telekomunikasi antar
KBI dan KTI dapat dilihat dari indikator jumlah desa/kelurahan yang terjangkau
pelayanan telepon kabel, dan penerimaan sinyal telepon genggam atau Hand Phone (HP).
Pada tahun 2010, Persentase desa/kelurahan yang ada di wilayah KBI telah mencapai 35
persen, sementara di wilayah KTI baru mencapai 13 persen. Sementara untuk penerimaan
sinyal kuat, wilayah KBI telah mencapai 78,5 persen dari total desa, sementara di KTI
baru mencapai 49 persen.
ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

45

(1109)

Tabel 4.16:
Perbandingan Penggunaan Alat Telekomunikasi Antarwilayah, tahun 2010
WILAYAH
Sumatera
Jawa Bali
Nusa Tenggara
Kalimantan
Sulawesi
Maluku
Papua
KBI
KTI
INDONESIA

Ada Pelanggan
Telepon Kabel
Desa
3884
13901
531
881
1966
177
148
17785
3703
21488

persen
16,0
53,6
13,1
12,7
19,7
8,4
2,8
35,5
13,0
27,3

Penerimaan Sinyal HP
Sinyal Lemah
Sinyal Kuat
Desa
persen
Desa
persen
6197
25,6
17091
70,6
3512
13,5
22291
85,9
1340
33,1
2382
58,8
2170
31,2
3896
56,0
2938
29,4
5879
58,9
567
27,0
793
37,7
548
10,2
1006
18,8
9709
19,4
39382
78,5
7563
26,6
13956
49,0
17272
22,0
53338
67,9

Sumber Podes, 2011 (BPS)

4.3.1. Wilayah Sumatera


Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal
telepon Seluler antarprovinsi di wilayah Sumatera, layanan telepon kabel terbanyak
adalah di Provinsi Sumatera Utara sebanyak 1.026 desa (17,7 persen), sementara
berdasarkan persentase tertinggi adalah di Provinsi Sumatera Barat sebanyak 37,9 persen.
Berdasarkan desa/kelurahan di wilayah Sumatera yang menerima sinyal telepon seluler
dengan intensitas sinyal lemah sampai kuat sudah mencapai di atas 90 persen, namun
diantaranya terdapat 25,6 persen yang menerima sinyal lemah.
Tabel 4.17:
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Menurut Keberadaan Telepon Kabel dan
Penerimaan Sinyal Telepon Seluler di Wilayah Sumatera
PROVINSI

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kep. Bangka Belitung
Kepulauan Riau
SUMATERA

Ada Pelanggan
Telepon Kabel
Desa
persen
714
11,0
1026
17,7
391
37,9
210
12,7
180
13,1
480
15,1
215
14,2
469
19,0
99
27,4
100
28,3
3.884
16,0

Sinyal Lemah
Desa
persen
1486
22,9
1520
26,2
236
22,8
430
26,0
397
28,9
994
31,2
376
24,9
645
26,2
41
11,4
72
20,4
6.197
25,6

Sumber: Hasil Pengolahan data PODES 2011 (BPS)

46

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Penerimaan Sinyal HP
Sinyal Kuat
Lemah - Kuat
Desa
Desa
persen
persen
4803
74,1
6289
97,0
3891
67,1
5411
93,3
751
72,7
1014
98,2
1172
70,8
1602
96,8
918
66,9
1315
95,8
2119
66,5
3113
97,7
1097
72,7
1473
97,6
1762
71,5
2407
97,7
318
88,1
359
99,4
260
73,7
332
94,1
17.091
70,6
23.315
96,3

4.3.2. Wilayah Jawa-Bali


Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal
telepon Seluler antarprovinsi di wilayah Jawa Bali, layanan telepon kabel terbanyak
adalah di Provinsi Jawa Timur sebanyak 5.605 desa (65,9 persen), sementara berdasarkan
persentase tertinggi adalah di Provinsi DKI Jakarta sebanyak 97,8 persen. Berdasarkan
desa/kelurahan yang menerima sinyal telepon seluler dengan intensitas sinyal lemah
sampai kuat sudah mencapai hamper 100 persen di seluruh provinsi, namun diantaranya
terdapat 13,2 persen yang masih menerima sinyal lemah.
Tabel 4.18:
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Menurut Keberadaan Telepon Kabel dan
Penerimaan Sinyal Telepon Seluler di Wilayah Jawa Bali.

PROVINSI

D.K.I. Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
D.I. Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
JAWA-BALI

Ada Pelanggan
Telepon Kabel
Desa

persen

261
3434
3364
229
5605
577
431
13.901

97,8
58,2
39,2
52,3
65,9
37,6
60,2
53,6

Penerimaan Sinyal HP
Sinyal Lemah

Sinyal Kuat

Lemah - Kuat

Desa

persen

Desa

persen

Desa

persen

579
1193
39
1406
244
51
3.512

9,8
13,9
8,9
16,5
15,9
7,1
13,5

267
5282
7356
398
7041
1285
662
22.291

100,0
89,4
85,8
90,9
82,8
83,7
92,5
85,9

267
5861
8549
437
8447
1529
713
25.803

100,0
99,3
99,7
99,8
99,4
99,6
99,6
99,5

Sumber: Hasil Pengolahan data PODES 2011 (BPS)

4.3.3. Wilayah Nusa Tenggara


Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal
telepon Seluler antarprovinsi, layanan telepon kabel terbanyak adalah di NTB sebanyak
283 desa/kelurahan (26,1 persen). Berdasarkan desa/kelurahan yang menerima sinyal
telepon seluler dengan intensitas sinyal lemah sampai kuat sudah mencapai di atas 90
persen di seluruh provinsi, namun diantaranya terdapat (1.340 desa/kelurahan) atau 33,1
persen yang masih menerima sinyal lemah, khususnya di wilayah NTT yang mencapai
41,3 persen.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

47

Tabel 4.19:
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Menurut Keberadaan Telepon Kabel dan
Penerimaan Sinyal Telepon Seluler di Wilayah Nusa Tenggara.
PROVINSI

Ada Pelanggan
Telepon Kabel

Penerimaan Sinyal HP
Sinyal Lemah

Sinyal Kuat

Lemah - Kuat

Jumlah
Desa/kel

Nusa Tenggara Barat

Desa
283

persen
26,1

Desa
115

persen
10,6

Desa
926

persen
85,4

Desa
1041

persen
96,0

1084

Nusa Tenggara Timur

248

8,4

1225

41,3

1456

49,1

2681

90,4

2966

NUSTRA

531

13,1

1.340

33,1

2.382

58,8

3.722

91,9

4.050

Sumber: Hasil Pengolahan data PODES 2011 (BPS)

4.3.4. Wilayah Kalimantan


Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal
telepon Seluler antarprovinsi, layanan telepon kabel terbanyak adalah di Kalimantan
Selatan sebanyak 374 desa/kelurahan (18,7 persen). Berdasarkan desa/kelurahan yang
menerima sinyal telepon seluler dengan intensitas sinyal lemah sampai kuat sudah
mencapai di atas 80 persen di seluruh provinsi, namun diantaranya terdapat 2,170
desa/kelurahan atau 31,2 persen yang masih menerima sinyal lemah, khususnya di
wilayah Kalimantan tengah yang mencapai 40,9 persen.
Tabel 4.20:
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Menurut Keberadaan Telepon Kabel dan
Penerimaan Sinyal Telepon Seluler di Wilayah Kalimantan.

PROVINSI
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
KALIMANTAN

Ada Pelanggan
Telepon Kabel

Penerimaan Sinyal HP
Sinyal Lemah

Sinyal Kuat

Lemah - Kuat

Desa

persen

Desa

persen

Desa

persen

Desa

persen

188
84
374
235
881

9,6
5,5
18,7
16,0
12,7

673
625
423
449
2.170

34,2
40,9
21,2
30,6
31,2

928
625
1513
830
3.896

47,2
40,9
75,7
56,7
56,0

1601
1250
1936
1279
6.066

81,4
81,8
96,8
87,3
87,2

Sumber: Hasil Pengolahan data PODES 2011 (BPS)

4.3.5. Wilayah Sulawesi


Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal
telepon Seluler antarprovinsi, layanan telepon kabel terbanyak adalah di Sulawesi Selatan
sebanyak 853 desa/kelurahan (28,6 persen), dan menurut persentasenya adalah di Provinsi
Sulawesi Utara sebesar 35,1 persen. Berdasarkan desa/kelurahan yang menerima sinyal
telepon seluler dengan intensitas sinyal lemah sampai kuat, jumlah desa/kelurahan
terbanyak di Provinsi Sulawesi Selatan (94,7 persen) dan terendah di Provinsi Sulawesi
Tengah sebesar 78,3 persen. Persentase desa/kelurahan dengan penerimaan sinyal lemah,
terbanyak di Provinsi Sulawesi Barat yang mencapai 37 persen.
48

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Tabel 4.21:
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Menurut Keberadaan Telepon Kabel dan
Penerimaan Sinyal Telepon Seluler di Wilayah Sulawesi

PROVINSI

Ada Pelanggan
Telepon Kabel

Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
SULAWESI

Desa
595
162
853
138
171
47
1.966

Penerimaan Sinyal HP
Sinyal Lemah

persen
35,1
8,9
28,6
6,5
23,4
7,4
19,7

Desa
415
484
891
683
229
236
2.938

Sinyal Kuat

persen
24,5
26,7
29,9
32,2
31,3
37,0
29,4

Desa
1149
938
1934
1130
445
283
5.879

Lemah - Kuat

persen
67,9
51,7
64,9
53,3
60,9
44,4
58,9

Desa
1564
1422
2825
1813
674
519
8.817

persen
92,4
78,3
94,7
85,5
92,2
81,3
88,3

Sumber: Hasil Pengolahan data PODES 2011 (BPS)

4.3.6. Wilayah Maluku dan Papua


Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal
telepon Seluler antarprovinsi, layanan telepon kabel terbanyak adalah di Maluku Utara
sebanyak 95 desa/kelurahan (8,8 persen). Berdasarkan desa/kelurahan yang menerima
sinyal telepon seluler dengan intensitas sinyal lemah sampai kuat baru mencapai sekitar
64,7 persen, namun diantaranya terdapat 567desa/kelurahan atau 27 persen yang masih
menerima sinyal lemah, khususnya di wilayah Maluku Utara yang mencapai 29,8 persen.
Tabel 4.22:
Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Menurut Keberadaan Telepon Kabel dan
Penerimaan Sinyal Telepon Seluler

PROVINSI
Maluku

Ada
Pelanggan
Telepon Kabel

persen
Desa
82
8,0

Penerimaan Sinyal HP
Sinyal Lemah

Desa
245

Sinyal Kuat

Lemah - Kuat

persen

Desa

persen

Desa

persen

23,9

387

37,8

632

61,7

Maluku Utara

95

8,8

322

29,8

406

37,6

728

67,5

MALUKU

177

8,4

567

27,0

793

37,7

1.360

64,7

Papua Barat
Papua

60
88

4,2
2,2

206
342

14,3
8,7

301
705

20,9
18,0

507
1047

35,2
26,7

PAPUA

148

2,8

548

10,2

1.006

18,8

1.554

29,0

Sumber: Hasil Pengolahan data PODES 2011 (BPS)

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

49

Berdasarkan ketersediaan layanan telepon kabel dan kemampuan menerima sinyal


telepon Seluler antarprovinsi, layanan telepon kabel terbanyak adalah di Provinsi Papua
sebanyak 88 desa/kelurahan, dan menurut persentasenya adalah sebesar 4,2 persen di
Provinsi Papua Barat. Berdasarkan desa/kelurahan yang menerima sinyal telepon seluler
dengan intensitas sinyal lemah sampai kuat baru mencapai sekitar 89,9 persen, namun
diantaranya terdapat 17.272 desa/kelurahan atau 22 persen yang masih menerima sinyal
lemah, khususnya di wilayah Papua Barat yang mencapai 14,3 persen.

50

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

BAB 5
ANALISIS PENDAPATAN DAN
BELANJA DAERAH
5.1.

Analisis Pendapatan Daerah

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dialokasikan untuk


melaksanakan program atau kegiatan sesuai dengan kemampuan pendapatannya, serta
didukung oleh pembiayaan yang sehat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah
yang diikuti dengan pemerataan pembangunan. Pencapaian tujuan tersebut diharapkan
dapat dilakukan melalui peningkatan potensi penerimaan pajak dan retribusi daerah
ditambah dengan dana transfer dari pemerintah Pusat yang digunakan untuk mendanai
penyelenggaraan layanan publik dalam jumlah yang mencukupi dan juga berkualitas.
Selanjutnya melalui belanja yang berkualitas diharapkan APBD dapat menjadi injeksi
bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Namun demikian, kenyataan yang dihadapi dalam pengelolaan keuangan publik,
selalu terjadi kendala penganggaran, yang tercermin dari banyaknya kebutuhan yang
dihadapkan pada keterbatasan sumber-sumber pendapatan daerah. Dengan demikian,
prioritas belanja dan perencanaan yang baik dapat menjadi kunci untuk menyiasati
kendala penganggaran. Terkait dengan hal tersebut, melalui analisis keuangan APBD
diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna dalam memotret kondisi
keuangan APBD baik dari sisi pendapatan dan belanja.
Disisi pendapatan, analisis kesehatan keuangan APBD akan melihat aspek
kemandirian daerah dan ruang fiskal (fiscal space), sementara dari sisi belanja daerah
akan meliputi rasio belanja pegawai terhadap total belanja, rasio belanja pegawai tidak
langsung terhadap total belanja, rasio belanja modal per total belanja, dan rasio belanja
modal per jumlah penduduk. Semua rasio tersebut menunjukkan kecenderungan pola
belanja daerah, apakah suatu daerah cenderung mengalokasikan dananya untuk belanja
yang terkait erat dengan upaya peningkatan ekonomi, seperti belanja modal, atau untuk
belanja yang sifatnya untuk pendanaan aparatur, seperti belanja pegawai tidak langsung.
Analisis dari sisi pendapatan, meliputi analisis rasio kemandirian daerah, Tax Effort,
Pajak perkapita, serta ruang fiskal (fiscal space).

5.1.1. Rasio Kemandirian Daerah


Rasio kemandirian ditunjukkan oleh rasio Pendapatan Asli Daerah (PAD)
terhadap total pendapatan. Semakin besar angka rasio PAD, maka kemandirian daerah
semakin besar, dan sekaligus memiliki rasio transfer yang rendah. Penghitungannya
dilakukan dengan menjumlahkan PAD seluruh pemda pada satu daerah kemudian
membaginya dengan total pendapatan untuk wilayah yang sama.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

51

Rasio PAD terhadap Total Pendapatan Pemerintah Provinsi


Perkembangan rasio PAD dibandingkan dengan total pendapatan pada tahun 2012
secara umum menunjukkan peningkatan dibanding dengan Rasio PAD pada tahun 2008,
kecuali untuk Provinsi Papua Barat, Provinsi Papua, Maluku Utara, Aceh, NTT,
Kepulauan Riau, NTB, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Bali, Jawa
Barat dan Lampung. Rasio PAD tertinggi dicapai oleh pemerintah provinsi Jawa Timur
sebesar 78,70 persen dan terendah dimiliki oleh pemda provinsi Papua Barat sebesar 3,45
persen. Sementara itu Rasio PAD terhadap total Pendapatan antarprovinsi yang berada di
atas rata-rata antarprovinsi 37,09 Persen, meliputi sebanyak 16 provinsi. Data tersebut
ditunjukkan pada Gambar 5-1.
Gambar 5-1.
Rasio PAD terhadap Total Pendapatan Pemerintah Provinsi Tahun 2008 dan 2012.
Rasio PAD thd Pendapatan Pemprov Rasio PAD thd Pendapatan Pemprov 2008
Rasio PAD thd Pendapatan Pemprov Rasio PAD thdp pendapatan PemProv 2012
Rasio PAD thd Pendapatan Pemprov Rata-rata Rasio PAD thdp Pendapatan PemProv2012
90,00

78,70

80,00
70,00
60,00
50,00

37,09

40,00
30,00
20,00
10,00

3,45
Papua Barat
Papua
Maluku Utara
Aceh
Sulawesi Barat
Maluku
NTT
Gorontalo
Sulawesi Tengah
Kepulauan Riau
Sulawesi Tenggara
Bangka Belitung
Bengkulu
Kalimantan Tengah
Sulawesi Utara
NTB
Riau
Sumatera Selatan
Kalimantan Barat
Jambi
DI Yogyakarta
Sumatera Barat
Kalimantan Timur
Sulawesi Selatan
Jawa Tengah
Bali
Sumatera Utara
Jawa Barat
Lampung
DKI Jakarta
Kalimantan Selatan
Banten
Jawa Timur

Rasio PAD terhadap Total Pendapatan Kabupaten dan Kota Se Provinsi


Perkembangan rasio PAD terhadap Total Pendapatan Kabupaten dan Kota Se Provinsi
pada tahun 2008 dibandingkan dengan total pendapatan pada tahun 2012 secara umum
menunjukkan peningkatan, kecuali untuk Provinsi Aceh, Riau, dan Kepulauan Riau.
Rasio PAD tertinggi dicapai oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta sebesar 60,98 persen
dan terendah dimiliki oleh pemda provinsi Papua Barat sebesar 3,33 persen. Sementara
itu Rasio PAD terhadap total Pendapatan yang berada di atas rata-rata kabupaten/kota seprovinsi (15,88 persen), meliputi sebanyak 12 provinsi. Data tersebut ditunjukkan pada
Gambar 5-2.

52

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Gambar 5-2:
Rasio PAD terhadap Total Pendapatan Kabupaten dan Kota Se Provinsi
70,00

Rasio PAD thdp Pendapatan Se-Prov 2008

60,98

60,00

Rasio PAD thdp Pendapatan Se-Prov 2012

50,00

rata-rata Rasio PAD thdp Pendapatan Se-Prov 2012

40,00
30,00
15,88

20,00
10,00

3,33
Papua Barat
Papua
Maluku
Sulawesi Barat
Aceh
Nusa Tenggara Timur
Maluku Utara
Sulawesi Tengah
Gorontalo
Kalimantan Tengah
Sulawesi Utara
Sulawesi Tenggara
Bengkulu
Jambi
Bangka Belitung
Riau
Kalimantan Barat
Nusa Tenggara Barat
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Lampung
Sulawesi Selatan
Kepulauan Riau
Kalimantan Timur
Jawa Tengah
Kalimantan Selatan
DI Yogyakarta
Sumatera Utara
Jawa Barat
Jawa Timur
Banten
Bali
DKI Jakarta

Rasio PAD terhadap Total Pendapatan Untuk Tingkat Kabupaten dan Kota
Rasio PAD terhadap Total Pendapatan untuk tingkat Kabupaten dan Kota, tertinggi di
Kabupaten Badung Provinsi Bali dengan nilai Rasio 68,25 persen, sementara rasio
terendah di Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat sebesar 0,14 persen dan Kabupaten
Puncak Provinsi Papua sebesar 0.19 persen. Berdasarkan pemeringkatan nilai Rasio PAD
pada 20 kabupaten/kota tertinggi, sebagian besar terdapat di kota-kota wilayah Jawa Bali
dan Sumatera. Sementara untuk Rasio PAD pada 20 kabupaten/kota terendah, sebagian
besar berada di kabupaten-kabupaten di Provinsi papua dan Papua Barat. Rincian untuk
20 Kabupaten/Kota menurut peringkat tertinggi dan terendah untuk Rasio PAD terhadap
total pendapatan, dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel. 5.1:
Kabupaten/Kota Menurut Dua Puluh (20) Peringkat Tertinggi dan Terendah untuk Rasio
PAD terhadap Total Pendapatan Tahun 2012.
20 Peringkat Terendah Tingkat Kemandirian Daerah
No.
Provinsi

Kab/Kota

PAD/
Pendapatan
(%)
0,14

20 Peringkat Tertinggi Tingkat Kemandirian


Daerah
PAD/
Pendapatan
Provinsi
Kab/Kota
(%)
Bali
Badung
68,25

Papua Barat

Maybrat

Papua

Puncak

0,19

Jatim

Kota Surabaya

51,10

Papua

Mamberamo Tengah

0,22

Sumut

Kota Medan

38,73

Papua

Dogiyai

0,24

Bali

Kota Denpasar

30,67

Maluku

Buru Selatan

0,34

Jatim

Sidoarjo

30,02

Papua Barat

Tambrauw

0,38

Jateng

Kota Semarang

29,97

Papua

Intan Jaya

0,40

Jawa Barat

Bogor

26,88

Papua

Yalimo

0,48

DIY

Kota Yogyakarta

26,81

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

53

Papua

Deiyai

0,53

Kepri

Kota Batam

26,70

10

Papua

Sarmi

0,73

Jawa Barat

Kota Depok

26,55

11

Papua

Mamberamo Raya

0,88

Banten

26,13

12

Papua

Lanny Jaya

0,89

Banten

Kota Tangerang
Selatan
Kota Cilegon

13

Papua

Nduga

0,91

Jawa Barat

Bekasi

24,04

14

Papua

Supiori

0,94

Jawa Barat

Kota Bekasi

23,84

15

Maluku Utara

Pulau Morotai

0,95

Kepri

Karimun

23,19

16

Lampung

Tulang Bawang Barat

1,02

Sumsel

Kota Palembang

22,98

17

Sulut

Minahasa Selatan

1,03

Banten

Tangerang

22,84

18

Papua

Paniai

1,05

Jatim

Gresik

22,46

19

Papua

Pegunungan Bintang

1,07

Jawa Barat

Kota Bandung

22,28

20

Papua

Tolikara

1,10

Sulsel

Kota Makassar

22,21

5.1.2. Rasio Pajak (Tax Ratio)


Tax Ratio merupakan perbandingan antara jumlah penerimaan pajak suatu daerah
terhadap pendapatan suatu output perekonomian atau produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). Terkait dengan rasio pajak, PDRB menggambarkan jumlah pendapatan potensial
yang dapat dikenai pajak. PDRB juga menggambarkan kegiatan ekonomi masyarakat
yang jika berkembang dengan baik merupakan potensi yang baik bagi pengenaan pajak di
wilayah tersebut. Oleh karena itu, mengetahui angka-angka rasio pajak di berbagai
wilayah di Indonesia akan membantu kita dalam menganalisis secara sederhana hubungan
antara pajak daerah wilayah tersebut dengan PDRB-nya, mengetahui jenis-jenis pajak apa
saja yang potensial serta sektor ekonomi yang terkait, dan menilai kondisi suatu daerah
dengan membandingkannya dengan daerah lain.
Rasio Pajak Pemerintah Provinsi
Perkembangan Rasio Pajak pemerintah provinsi tahun 2012 secara umum
menunjukkan penurunan dibanding dengan Rasio Pajak pada tahun 2008. Rasio Pajak
tertinggi dicapai oleh pemerintah provinsi Sulawesi Selatan 10,00 persen dan terendah
dimiliki oleh pemda provinsi Sulawesi Tengah sebesar 0,67 persen Tingginya angka rasio
pajak tersebut disebabkan angka pembaginya, yaitu PDRB-nya rendah, kemudian
rendahnya rasio tersebut disebabkan karena penerimaan pajak daerah yang sangat rendah.
Sementara itu Rasio pajak antarprovinsi yang berada di atas rata-rata antarprovinsi (2,8
persen) meliputi 14 provinsi. Data tersebut ditunjukkan pada Gambar 5-3.

54

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

25,33

Gambar 5-3.
Tax Rasio Pemerintah Provinsi Tahun 2008 dan 2012
16,00
Tax Ratio PROVINSI Rasio Pajak thdp PDRB Pemprov 2008

14,00

Tax Ratio PROVINSI Rasio Pajak thdp PDRB PemProv 2012

12,00

Tax Ratio PROVINSI Rasio Pajak thdp rata-rata PDRB PemProv2012

10,00

10,00

8,00
6,00
4,00
2,00

2,80
0,67
Sulawesi Tengah
Papua Barat
Kepulauan Riau
Papua
Riau
Sulawesi Barat
Aceh
NTT
Sulawesi Tenggara
Jawa Timur
Jawa Barat
Maluku Utara
Jawa Tengah
Sulawesi Utara
Sumatera Selatan
Sumatera Barat
NTB
Sumatera Utara
Kalimantan Barat
Banten
Kalimantan Tengah
DI Yogyakarta
Kalimantan Timur
Jambi
Bangka Belitung
Lampung
DKI Jakarta
Bengkulu
Maluku
Gorontalo
Kalimantan Selatan
Bali
Sulawesi Selatan

Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi


Perkembangan Rasio Pajak pemerintah provinsi tahun 2012 secara umum
menunjukkan peningkatan diseluruh provinsi dibanding dengan Rasio Pajak pada tahun
2008. Rasio pajak pemkab dan pemkot se-Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan angka
yang paling tinggi yaitu sebesar 12,52 persen. Penyebab tingginya rasio tersebut adalah
tingginya pajak daerah pemkab dan pemkot se-provinsi tersebut berasal dari sektor
pariwisata yang mencapai hingga 51 persen. Sementara itu, rasio pajak terendah terdapat
pada pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Sulawesi tengah, yaitu sebesar 0,82
persen Rendahnya angka tersebut disebabkan oleh rendahnya potensi penerimaan pajak
daerah. Provinsi-provinsi yang memiliki Rasio pajak di atas rata-rata antarprovinsi (3,71
persen), meliputi 11 provinsi. Data tersebut ditunjukkan pada Gambar 5-4.
Gambar 5-4:
Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi Tahun 2008 dan 2012.
14,00

12,52
Tax Ratio Rasio Pajak thdp PDRB Se-Prov 2008
Tax Ratio Rasio Pajak thdp PDRB Se-Prov 2012
Tax Ratio Rasio Pajak thdp rata-rata PDRB Se-Prov 2012

12,00
10,00
8,00
6,00
4,00
2,00

3,71
0,82
Sulawesi Tengah
Papua Barat
Riau
Sulawesi Barat
Papua
Aceh
Sulawesi Tenggara
Kepulauan Riau
NTT
Jawa Timur
Jawa Tengah
Jawa Barat
Sumatera Barat
Sumatera Selatan
Sulawesi Utara
Kalimantan Tengah
Kalimantan Timur
NTB
Maluku Utara
DKI Jakarta
Jambi
Kalimantan Barat
Lampung
Sumatera Utara
Bangka Belitung
Banten
DI Yogyakarta
Bengkulu
Kalimantan Selatan
Maluku
Gorontalo
Bali
Sulawesi Selatan

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

55

Rasio Pajak Pemerintah Kabupaten dan Kota


Rasio Pajak untuk tingkat Kabupaten dan Kota, tertinggi di Kabupaten Badung
Provinsi Bali dengan nilai Rasio 15,94 persen dan Kota Tomohon Provinsi Sulawesi
Utara sebesar 14,28 persen, sementara rasio terendah di Kabupaten Puncak Provinsi
Papua sebesar 0,004 persen, Kabupaten Sorong Provinsi Papua dan Kabupaten Mesuji
Provinsi Lampung sebesar 0,03 persen. Tingginya kontribusi pajak di Kabupaten Badung
sebagian besar bersumber dari Pajak Hotel dan Restoran yang mencapai 84 persen dari
total pajak yang diterima daerah. Sementara relatif tingginya Rasio pajak di Kota
Tomohon lebih disebabkan oleh rendahnya nilai PDRB kota tersebut. Berdasarkan
pemeringkatan nilai Rasio pajak pada 20 kabupaten/kota tertinggi, sebagian besar terdapat
di kota-kota wilayah Jawa Bali dan Sulawesi. Sementara untuk Rasio Pajak pada 20
kabupaten/kota terendah, sebagian besar berada di kabupaten-kabupaten di wilayah
Kalimantan dan Papua. Rincian untuk dua puluh (20) Kabupaten/Kota menurut peringkat
tertinggi dan terendah untuk Rasio Pajak, dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel. 5.2
Rasio Pajak Kabupaten/Kota Menurut Dua Puluh (20) Peringkat Tertinggi dan
Terendah, Tahun 2011
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

20 Kab/Kota dengan Rasio Pajak tertinggi


Provinsi
kabupaten/
kota
Bali
Badung
Sulawesi Utara
Kota Tomohon
Kepulauan Riau
Karimun
Sulawesi Tenggara
Buton Utara
Banten
Kota Tangerang Selatan
Bali
Kota Denpasar
Kepulauan Riau
Kepulauan Riau
Nusa Tenggara Barat Lombok Barat
Bali
Gianyar
Jawa Barat
Kota Bogor
Gorontalo
Kota Gorontalo
Sulawesi Selatan
Maros
Maluku Utara
Kota Ternate
Jawa Barat
Kota Depok
Jawa Barat
Kota Bekasi
Jawa Timur
Kota Surabaya
Kalimantan Barat
Kayong Utara
D I Yogyakarta
Kota Yogyakarta
Maluku
Maluku Tenggara
D I Yogyakarta
Sleman

(%)
15.94
14.28
6.76
4.27
3.96
3.79
3.23
3.00
2.85
2.57
2.41
2.36
2.14
2.10
2.02
1.93
1.82
1.81
1.79
1.78

20 Kab/Kota dengan Rasio Pajak terendah


Provinsi
kabupaten/
(%)
kota
Papua
Puncak
0.00
Papua Barat
Sorong
0.03
Lampung
Mesuji
0.03
Sumatera Utara
Nias Utara
0.04
Kalimantan Timur
Kutai Timur
0.04
Sumatera Utara
Nias
0.05
Kalimantan Timur
Pasir
0.06
Kalimantan Timur
Kutai
0.06
Kalimantan Selatan Balangan
0.07
Papua
Deiyai
0.07
Sulawesi Utara
Manado
0.07
Jambi
Tanjung Jabung Timur
0.07
Sumatera Utara
Batu Bara
0.07
Riau
Rokan Hilir
0.08
Jawa Timur
Kota Kediri
0.08
Papua
Dogiyai
0.08
Kalimantan Timur
Kota Bontang
0.08
Papua
Waropen
0.09
Kalimantan Barat
Bengkayang
0.09
Sulawesi Tenggara
Konawe Utara
0.09

5.1.3. Ruang Fiskal Daerah


Perencanaan dan penganggaran yang dituangkan dalam APBD suatu daerah
memegang peranan sangat penting. Pemerintah daerah diharapkan memiliki terobosan
untuk memanfaatkan ruang fiskal yang ada guna memacu pertumbuhan ekonomi. Ruang
fiskal diperoleh dari pendapatan umum setelah dikurang pendapatan yang sudah

56

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

ditentukan penggunaannya (earmarked) serta belanja yang sifatnya mengikat seperti


belanja pegawai dan belanja bunga. Efektivitas penggunaan anggaran di suatu daerah juga
menunjang terciptanya ruang fiskal yang cukup memberi ruang dalam pembangunan
suatu daerah.
Ruang fiskal antarprovinsi, menunjukkan Pemprov. Papua Barat memiliki ruang
fiskal yang tertinggi yaitu sebesar 93,8 persen hal ini dapat disebabkan dana transfer yang
besar yang dialokasikan oleh pemerintah pusat, sedangkan Pemprov. Gorontalo
mempunyai ruang fiskal yang terendah yaitu sebesar 38,7 persen. Hal ini dapat
disebabkan karena pendapatan daerah yang rendah, disisi lain pendapatan Dana Alokasi
Umum (DAU) sebagian besar digunakan untuk belanja pegawai. Gambaran selengkapnya
tentang ruang fiskal masing-masing Pemerintah provinsi di Indonesia dapat dilihat pada
Gambar 5-5.
Gambar 5-5.
Ruang Fiskal Pemerintah Provinsi, Tahun 2012.

Ruang Fiskal (Realisasi) Tahun 2012

93,8

Gorontalo
Sulawesi Utara
Bengkulu
Maluku
Sulawesi Tenggara
DI Yogyakarta
Jambi
Bali
Sulawesi Tengah
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Barat
Sumatera Barat
Kalimantan Selatan
Lampung
Maluku Utara
Kep. Bangka Belitung
Kalimantan Tengah
Kalimantan Barat
Sulawesi Barat
Sulawesi Selatan
Riau
Jawa Timur
Sumatera Selatan
Jawa Tengah
Jawa Barat
Aceh
Kepulauan Riau
Kalimantan Timur
Papua
Sumatera Utara
Banten
Papua Barat

100,0
90,0
80,0
70,0
60,0
50,0
38,7
40,0
30,0
20,0
10,0
-

Rata-rata Ruang fiskal seluruh pemkab dan pemkot pada suatu provinsi dapat
digambarkan pada Gambar 5-6. Dari hasil analisis ini, rata-rata ruang fiskal tertinggi
untuk kabupaten dan kota terdapat di Provinsi Riau yaitu sebesar 85,1 persen Adapun
ruang fiskal terendah terdapat pada kabupaten dan kota yang berada di Provinsi DI
Yogyakarta, yaitu sebesar 36,2 persen.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

57

Gambar 5-6.
Rata-rata Ruang Fiskal Kabupaten dan Kota Menurut Provinsi, Tahun 2012.
90,0

Rata-rata Ruang Fiskal (realisasi) Kab/Kota per Prov 2012

80,0
70,0
60,0
50,0
40,0

85,1

Rata-rata Ruang Fiskal (Realisasi) Kab/Kota 2012


54,21
36,2

30,0
20,0
10,0
DI Yogyakarta
Bali
Jawa Tengah
Nusa Tenggara Barat
Jawa Timur
Sulawesi Selatan
Jawa Barat
Lampung
Sulawesi Tengah
Sulawesi Utara
Sumatera Utara
Sulawesi Barat
Kalimantan Selatan
Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Tenggara
Sumatera Barat
Banten
Gorontalo
Aceh
Maluku
Kalimantan Barat
Bengkulu
Kalimantan Tengah
Jambi
Sumatera Selatan
Maluku Utara
Kepulauan Riau
Kep. Bangka Belitung
Kalimantan Timur
Papua
Papua Barat
Riau

Ruang Fiskal Kabupaten dan Kota


Ruang fiskal untuk tingkat Kabupaten dan Kota, tertinggi di Kabupaten
Membramo Raya Provinsi Papua dengan Ruang Fiskal sebesar 89,3 persen , dan Ruang
fiskal terendah di Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 26,4 persen, dan
Kabupaten Karanganyar Provinsi Bali sebesar 28,2 persen. Berdasarkan pemeringkatan
nilai Ruang Fiskal pada 20 kabupaten/kota tertinggi, sebagian besar terdapat di
kabupaten-kabupaten di wilayah Provinsi Papua, Papua Barat dan Kalimantan Timur.
Sementara untuk Tax Ratio pada 20 kabupaten/kota terendah, sebagian besar berada di
kabupaten-kabupaten di wilayah Jawa-Bali dan sebagian Sumatera. Rincian untuk 20
Kabupaten/Kota menurut peringkat tertinggi dan terendah untuk Tax Ratio, dapat dilihat
pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4.
20 Kabupaten/Kota tertinggi dan 20 Kabupaten/Kota Terendah Menurut Ruang Fiskal
No.

RUANG FISKAL TERENDAH

Provinsi
1
2
3
4
5
6
7

58

Sulawesi Tenggara
Bali
Jawa Tengah
Jawa Timur
Sumatera Utara
Maluku
Jawa Barat

RUANG FISKAL TERTINGGI

Kabupaten/Kota Ruang
Fiskal
Kota Kendari
Karanganyar
Klaten
Ngawi
Kota Tebing Tinggi
Kota Ambon
Kuningan

26,4
28,2
28,3
29,9
30,0
30,0
30,3

Provinsi
Papua
Papua Barat
Papua Barat
Papua
Papua Barat
Papua
Papua

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kabupaten/Kota
Mamberamo Raya
Tambrauw
Kaimana
Puncak
Teluk Bintuni
Sarmi
Intan Jaya

Ruang
Fiskal
89,3
86,8
84,1
83,7
83,1
82,4
82,0

Sumatera Barat
Jawa Tengah
Jawa Tengah
Jawa Barat
Jawa Tengah
Sumatera Barat
Jawa Barat
Maluku
Sumatera Barat
Sumatera Barat
DI Yogyakarta
Aceh
Jawa Timur

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Agam
Purworejo
Sragen
Ciamis
Wonogiri
Tanah Datar
Tasikmalaya
Maluku Tengah
Padang Pariaman
Solok
Bantul
Aceh Barat
Magetan

30,7
30,7
31,0
31,4
31,6
31,6
31,7
31,8
32,2
32,2
32,9
33,0
33,0

Papua
Papua
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur
Papua
Kepulauan Riau
Papua
Papua
Papua Barat
Kalimantan Timur
Papua
Kalimantan Timur

Waropen
Mamberamo Tengah
Penajam Paser Utara
Tana Tidung
Kutai Barat
Boven Digoel
Natuna
Keerom
Mappi
Teluk Wondama
Kutai Timur
Supiori
Kota Bontang

5.2. Analisis Belanja Daerah


Belanja daerah merupakan gambaran alokasi anggaran untuk melaksanakan
program/kegiatan dan pembiayaan Pembangunan. Pembangunan dimaksud meliputi
berbagai program untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, pembangunan di
berbagai sektor, termasuk untuk mendanai penyelenggaraan layanan publik dalam jumlah
yang mencukupi dan juga berkualitas. Dengan demikian, belanja yang berkualitas
diharapkan dapat menjadi injeksi bagi peningkatan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat.
Melalui Profil Belanja daerah ini diharapkan dapat memberikan gambaran kualitas
belanja berdasarkan pendekatan rasio antar beberapa komponen penting belanja daerah.
Komponen penting tersebut akan dilihat dari indikator sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Rasio belanja pegawai terhadap total belanja.


Rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap total belanja.
Rasio belanja pegawai terhadap jumlah penduduk.
Rasio belanja modal terhadap total belanja.
Rasio belanja modal terhadap jumlah penduduk.

5.2.1. Rasio belanja pegawai terhadap total belanja


Rasio belanja pegawai terhadap total belanja dapat memberikan indikasi terhadap
porsi belanja pegawai atau di luar belanja pegawai yang khususnya untuk mendukung
pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi
APBD yang dialokasikan untuk belanja pegawai dan begitu sebaliknya semakin kecil
angka rasio belanja pegawai maka semakin kecil pula proporsi APBD yang dialokasikan
untuk belanja pegawai APBD. Belanja pegawai yang dihitung dalam rasio ini melipui
belanja pegawai langsung dan belanja pegawai tidak langsung.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

59

81,9
81,8
81,2
81,0
80,5
80,5
79,9
79,2
78,8
77,8
77,6
77,3
77,3

Rasio belanja pegawai terhadap total belanja Pemerintah Provinsi.


Rasio belanja pegawai pemerintah provinsi di Indonesia pada tahun 2008 rata-rata
sebesar 27,33 persen, menurun menjadi sebesar 21,05 persen pada tahun 2012. Pada
tahun 2012, sebanyak 15 provinsi memiliki rasio belanja pegawai yang lebih rendah
dibandingkan rata-rata rasio provinsi tersebut dan sedangkan 18 provinsi lainnya di atas
rata-rata. Dengan demikian, sebagian besar pemerintah provinsi masih memiliki rasio
belanja pegawai relatif tinggi. Pemerintah provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai
terbesar adalah Pemprov DKI Jakarta dengan rasio sebesar 33,72 persen, sedangkan
pemerintah provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai terkecil adalah Pemprov Papua
Barat yang sebesar 9,17 persen. Perbaikan rasio belanja pegawai tidak langsung selama
periode 2008-2012 diperlihatkan oleh pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang
menurun tajam dari 69,63 persen pada tahun 2008 menjadi 18,90 persen pada tahun 2012.
Gambaran selengkapnya tentang rasio belanja pegawai terhadap total belanja masingmasing Pemerintah provinsi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5-7.
Gambar 5-7.
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Masing-Masing Pemerintah
Provinsi Di Indonesia Tahun 2008 dan 2012.
Rasio Belanja Pegawai (langsung+tidak langsung) Pemprov 2008
Rasio Belanja Pegawai (langsung+tidak langsung) Pemprov 2012

80,00

Rasio Belanja Pegawai (langsung+tidak langsung) Rata-rata Pemprov 2012

70,00
60,00
50,00
40,00
30,00
20,00
10,00

33,72
21,05
9,17

Papua Barat
Sumatera Utara
Kalimantan Timur
Banten
Papua
Jawa Barat
Aceh
Jawa Tengah
Sumatera Selatan
Kepulauan Riau
Riau
Sulawesi Selatan
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Bangka Belitung
Sumatera Barat
Jawa Timur
Maluku Utara
Kalimantan Selatan
Bali
Lampung
Sulawesi Barat
NTB
Sulawesi Tengah
Jambi
Sulawesi Tenggara
NTT
DI Yogyakarta
Gorontalo
Sulawesi Utara
Bengkulu
Maluku
DKI Jakarta

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Pemerintah Kabupaten Dan Kota
Se-Provinsi.
Rasio belanja pegawai pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi di Indonesia
pada tahun 2008 rata-rata sebesar 40,13 persen, meningkat menjadi sebesar 43,32 persen
pada tahun 2012. Pada tahun 2012, sebanyak 13 Provinsi memiliki rasio belanja pegawai
yang lebih rendah dibandingkan rata-rata rasio Provinsi tersebut dan sedangkan 20
Provinsi lainnya di atas rata-rata. Dengan demikian, sebagian besar pemerintah kabupaten

60

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

dan kota se-Provinsi masih memiliki rasio belanja pegawai relatif tinggi. Pemerintah
kabupaten dan kota se-Provinsi yang memiliki rasio belanja pegawai terbesar adalah DI.
Yogyakarta dengan rasio sebesar 56,41 persen, sedangkan rasio belanja pegawai terkecil
adalah pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Kalimantan Timur sebesar 25,64
persen. Gambaran selengkapnya tentang rasio belanja pegawai terhadap total belanja
masing-masing pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi di Indonesia dapat dilihat pada
Gambar 5-8.
Gambar 5-8.
Rasio Belanja Pegawai Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Terhadap Total Belanja
Pemerintah Di Indonesia Tahun 2008 dan 2012.

60,00
50,00

56,41

Rasio Belanja Pegawai (langsung+tidak langsung) Se-Prov 2008


Rasio Belanja Pegawai (langsung+tidak langsung) Se-Prov 2012
Rasio Belanja Pegawai (langsung+tidak langsung) Rata-rata Se-Prov 2012

43,32

40,00
25,64

30,00
20,00
10,00

DI Yogyakarta
Aceh
Jawa Tengah
Bali
Sulawesi Selatan
Jawa Barat
Jawa Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku
Gorontalo
Sumatera Utara
Kepulauan Riau
Sumatera Barat
Sulawesi Tengah
Bengkulu
Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Barat
Lampung
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Bangka Belitung
Banten
Papua
Kalimantan Tengah
Sumatera Selatan
Papua Barat
Jambi
Riau
Maluku Utara
DKI Jakarta
Kalimantan Timur

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota.
Rasio belanja pegawai untuk tingkat Kabupaten dan Kota, tertinggi di Kota
Langsa Provinsi Aceh dengan Rasio Belanja sebesar 76,69 persen , dan Rasio Belanja
terendah di Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat sebesar 14,66 persen.
Berdasarkan pemeringkatan Rasio Belanja pada 20 kabupaten/kota tertinggi, sebagian
besar terdapat di kabupaten-kabupaten di wilayah Jawa dan Sumatera. Sementara untuk
Rasio belanja pada 20 kabupaten/kota terendah, sebagian besar berada di kabupatenkabupaten di wilayah Indonesia bagian timur, khususnya di Provinsi Papua dan Papua
Barat. Distribusi kabupaten-kabupaten dengan rasio belanja pegawai tinggi tersebut,
umumnya dipengaruhi oleh banyaknya pagawai, sejalan dengan banyaknya jumlah
penduduk. Sementara kondisi sebaliknya untuk di wilayah Papua yang berpenduduk
sedikit. Rincian untuk 20 Kabupaten/Kota menurut peringkat tertinggi dan terendah
untuk Rasio belanja, dapat dilihat pada Tabel 5.5

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

61

Tabel 5.5:
Rasio Belanja Pegawai Terhadap Total Belanja Kabupaten dan Kota Menurut 20 Peringkat
Tertinggi dan Terendah.
No.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

20 Peringkat Terendah Rasio Belanja Pegawai


(langsung+tidak langsung)

20 Peringkat Tertinggi Rasio Belanja Pegawai


(langsung+tidak langsung)

Provinsi

Kabupaten/Kota

(%)
2012

Provinsi

Papua Barat
Kaltim
Papua
Papua
Papua
Kaltim
Papua
Papua
Kaltim
Papua
Papua
Kepri
Papua
Papua Barat
Riau
Papua Barat
Papua Barat
Kaltim
Kaltim
Papua

Kab. Tambrauw
Kab. Tana Tidung
Kab. Mamberamo Tengah
Kab. Mamberamo Raya
Kab. Puncak
Kab. Penajam Paser Utara
Kab. Supiori
Kab. Intan Jaya
Kab. Malinau
Kab. Yalimo
Kab. Boven Digoel
Kab. Natuna
Kab. Nduga
Kab. Teluk Bintuni
Kab. Bengkalis
Kab. Teluk Wondama
Kab. Kaimana
Kab. Kutai Kartanegara
Kab. Kutai Timur
Kab. Keerom

14,66
15,03
16,31
16,77
16,87
21,37
22,10
22,42
23,07
23,83
24,07
24,09
24,24
24,65
25,05
25,20
26,07
26,65
26,72
27,10

Aceh
Jawa Barat
Maluku
Jatim
DIY
Aceh
Jateng
Aceh
Gorontalo
Jateng
Sumut
NTB
Jawa Barat
Sulteng
Bengkulu
Sumut
Jateng
Aceh
NTT
Jateng

5.2.2.

Kabupaten/Kota
Kota Langsa
Kab. Kuningan
Kota Ambon
Kab. Ngawi
Kab. Bantul
Kab. Bireuen
Kab. Klaten
Kab. Aceh Barat
Kota Gorontalo
Kab. Karanganyar
Kota Padang Sidimpuan
Kab. Lombok Tengah
Kab. Ciamis
Kota Palu
Kota Bengkulu
Kota Pematang Siantar
Kab. Purworejo
Kab. Pidie
Kota Kupang
Kab. Sragen

(%)
2012
76,69
73,99
73,39
72,97
71,94
71,81
71,61
70,93
70,31
70,12
70,00
69,82
69,45
69,31
68,93
68,66
68,58
68,52
68,39
67,98

Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja.

Rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap total belanja. Rasio belanja
pegawai tidak langsung terhadap total belanja daerah mencerminkan porsi belanja
daerah terhadap pembayaran gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD). Semakin besar
rasionya maka semakin besar belanja daerah yang dibelanjakan untuk membayar gaji
pegawai daerah dan sebaliknya, semakin kecil angka rasionya maka semakin kecil
belanja daerah yang dipergunakan untuk membayar gaji pegawai daerah.
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja Pemerintah
Provinsi
Rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap belanja daerah pemerintah Provinsi
memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio belanja pegawai tidak langsung pada tahun
2008 sebesar 21,14 persen, menurun menjadi 17.15 persen pada tahun 2012. Berdasarkan
angka rata-rata rasio belanja pegawai tidak langsung pada tahun 2012, sebanyak 16

62

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Provinsi memiliki rasio yang lebih kecil dari angka tersebut, dan 17 Provinsi memiliki
rasio yang lebih besar. Dengan demikian, sebagian besar pemerintah Provinsi masih
memiliki rasio belanja Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) relatif tinggi. DKI Jakarta
memiliki rasio tertinggi sebesar 29.69 persen, sedangkan yang terendah, adalah Pemprov
Papua Barat, memiliki rasio sebesar 6,01 persen. Perbaikan rasio belanja pegawai tidak
langsung selama periode 2008-2012 diperlihatkan oleh pemerintah Provinsi Sulawesi
Selatan yang menurun tajam dari 65,30 persen pada tahun 2008 menjadi 15,51 persen
pada tahun 2012. Gambaran selengkapnya tentang rasio belanja pegawai tidak langsung
terhadap total belanja masing-masing Pemerintah Provinsi di Indonesia dapat dilihat pada
Gambar 5.9.
Gambar 5-9.
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja Masing-Masing
Pemerintah Provinsi Di Indonesia Tahun 2008 dan 2012.
Rasio Belanja Pegawai tidak langsung Pemprov 2008
Rasio Belanja Pegawai tidak langsung Pemprov 2012

70,00

Rasio Belanja Pegawai tidak langsung Rata-rata Pemprov 2012

60,00
50,00
40,00
30,00
20,00
10,00

29,69
17,15
6,01
Papua Barat
Sumatera Utara
Kalimantan Timur
Banten
Papua
Jawa Barat
Aceh
Jawa Tengah
Sumatera Selatan
Kepulauan Riau
Riau
Sulawesi Selatan
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Bangka Belitung
Sumatera Barat
Jawa Timur
Maluku Utara
Kalimantan Selatan
Bali
Lampung
Sulawesi Barat
NTB
Sulawesi Tengah
Jambi
Sulawesi Tenggara
NTT
DI Yogyakarta
Gorontalo
Sulawesi Utara
Bengkulu
Maluku
DKI Jakarta

0,00

Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja Pemerintah


Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi.
Rasio belanja pegawai tidak langsung terhadap belanja daerah pemerintah
kabupaten dan kota se-Provinsi memperlihatkan bahwa secara rata-rata rasio belanja
pegawai tidak langsung pada tahun 2008 sebesar 33,57 persen, meningkat menjadi 38,45
persen pada tahun 2012. Berdasarkan angka rata-rata rasio belanja pegawai tidak langsung
pada tahun 2012, sebanyak 22 Provinsi memiliki rasio yang lebih kecil dari angka
tersebut, dan 11 Provinsi memiliki rasio yang lebih besar. Dengan demikian, sebagian
besar pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi telah memiliki rasio belanja Pegawai
Negeri Sipil Daerah (PNSD) yang relatif rendah. Kabupaten dan kota se-Provinsi DI.
Yogyakarta memiliki rasio tertinggi sebesar 51,02 persen, sedangkan yang terendah,
adalah Kabupaten dan kota se-Provinsi Kalimantan Timur, memiliki rasio sebesar 19,37
persen. Peningkatan rasio belanja pegawai tidak langsung selama periode 2008-2012

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

63

diperlihatkan oleh setiap Provinsi. Gambaran selengkapnya tentang rasio belanja pegawai
tidak langsung terhadap total belanja masing-masing Pemerintah kabupaten dan kota seProvinsi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5-10.
Gambar 5-10.
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung Terhadap Total Belanja Masing-Masing
Pemerintah Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Di Indonesia Tahun 2008 dan 2012.
60,00

51,02

Rasio Belanja Pegawai tidak langsung Se-Prov 2008


Rasio Belanja Pegawai tidak langsung seProv 2012
Rasio Belanja Pegawai tidak langsung Rata-rata Se-Prov 2012

50,00
40,00

38,45

30,00
19,37

20,00
10,00

DI Yogyakarta
Aceh
Jawa Tengah
Bali
Sulawesi Selatan
Jawa Barat
Jawa Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku
Gorontalo
Sumatera Utara
Kepulauan Riau
Sumatera Barat
Sulawesi Tengah
Bengkulu
Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Barat
Lampung
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Bangka Belitung
Banten
Papua
Kalimantan Tengah
Sumatera Selatan
Papua Barat
Jambi
Riau
Maluku Utara
DKI Jakarta
Kalimantan Timur

0,00

Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung (PNSD) Terhadap Total Belanja


Pemerintah Kabupaten dan Kota.
Rasio belanja pegawai tidak langsung atau untuk Pegawai Negeri Sipil Daerah
(PNSD) pada tingkat Kabupaten dan Kota, tertinggi di Kota Ambon dengan Rasio Belanja
sebesar 71,11 persen , dan Rasio Belanja terendah di Kabupaten Memberamo Raya
Provinsi Papua sebesar 10,29 persen. Berdasarkan pemeringkatan Rasio Belanja pada 20
kabupaten/kota tertinggi, belanja untuk PNSD sebagian besar terdapat di kabupatenkabupaten di wilayah Jawa dan Sumatera. Sementara untuk Rasio belanja terendah
sebagian besar berada di kabupaten-kabupaten di wilayah Indonesia bagian timur,
khususnya di Provinsi Papua dan Papua Barat. Distribusi kabupaten-kabupaten dengan
rasio belanja PNSD tinggi tersebut, umumnya dipengaruhi oleh banyaknya PNSD, sejalan
dengan banyaknya jumlah penduduk. Sementara kondisi sebaliknya untuk di wilayah
Papua yang berpenduduk sedikit memiliki jumlah PNSD yang sedikit pula. Rincian untuk
20 Kabupaten/Kota menurut peringkat tertinggi dan terendah untuk Belanja PNSD, dapat
dilihat pada Tabel 5.6.

64

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Tabel 5.6:
Rasio Belanja Pegawai Tidak Langsung (PNSD) Terhadap Total Belanja Kabupaten
dan Kota Tahun 2012.
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

20 Peringkat Terendah Rasio Belanja Pegawai tidak


langsung
Provinsi
Papua
Papua
Papua
Kaltim
Papua Barat
Papua Barat
Kaltim
Papua Barat
Kepri
Kaltim
Papua
Papua
Papua
Papua
Papua
Kepri
Kaltim
Kaltim
Papua
Kaltim

5.2.3.

Kabupaten/Kota
Kab. Mamberamo Raya
Kab. Puncak
Kab. Mamberamo Tengah
Kab. Tana Tidung
Kab. Tambrauw
Kab. Kaimana
Kab. Penajam Paser Utara
Kab. Teluk Bintuni
Kab. Natuna
Kab. Malinau
Kab. Sarmi
Kab. Waropen
Kab. Intan Jaya
Kab. Supiori
Kab. Boven Digoel
Kab. Lingga
Kab. Kutai Barat
Kab. Kutai Timur
Kab. Yalimo
Kota Bontang

(%)
10,29
11,21
11,24
11,90
12,35
15,88
16,19
16,38
16,61
17,05
17,21
17,60
18,03
18,09
18,43
19,50
19,83
20,16
20,24
20,28

20 Peringkat Tertinggi Rasio Belanja Pegawai


tidak langsung
Provinsi
Maluku
Jatim
Jateng
Jawa Barat
Jateng
DIY
Jawa Barat
Aceh
NTB
Jateng
Aceh
Jateng
Aceh
Maluku
Sumut
Sulut
Sumbar
Jawa Barat
Sumut
Sumbar

Kabupaten/Kota
Kota Ambon
Kab. Ngawi
Kab. Klaten
Kab. Kuningan
Kab. Karanganyar
Kab. Bantul
Kab. Ciamis
Kab. Aceh Barat
Kab. Lombok Tengah
Kab. Sragen
Kab. Bireuen
Kab. Purworejo
Kab. Pidie
Kab. Maluku Tengah
Kota Padang Sidimpuan
Kab. Minahasa
Kab. Agam
Kab. Tasikmalaya
Kota Tebing Tinggi
Kab. Padang Pariaman

(%)
71,11
70,43
70,41
68,93
66,97
66,96
66,58
66,39
66,23
66,14
65,84
65,66
65,62
64,94
64,67
64,33
64,33
64,12
64,12
64,06

Rasio Belanja Modal Per Total Belanja

Rasio belanja modal terhadap total belanja daerah mencerminkan porsi belanja
daerah yang dibelanjakan untuk belanja modal. Belanja Modal merupakan belanja
pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi suatu
daerah selain dari sektor swasta, rumah tangga, dan luar negeri. Oleh karena itu, semakin
tinggi angka rasionya, semakin baik pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sebaliknya, semakin rendah angkanya, semakin buruk pengaruhnya terhadap
pertumbuhan ekonomi
Rasio Belanja Modal Per Total Belanja Pemerintah Provinsi
Rasio belanja modal pemerintah Provinsi terhadap total belanja daerahnya pada
tahun 2008 sebesar 25,35 persen menurun menjadi 17,44 persen. Berdasarkan angka ratarata rasio belanja modal pada tahun 2012, sebanyak 18 Provinsi memiliki rasio yang lebih
kecil dari angka tersebut, dan 15 Provinsi memiliki rasio yang lebih besar. Dengan
demikian, sebagian besar pemerintah Provinsi masih memiliki rasio belanja modal relatif
rendah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki rasio tertinggi sebesar 32,35 persen,
sedangkan yang terendah, adalah Pemprov Jawa Tengah memiliki rasio sebesar 5,88
persen. Selama periode 2008-2012, sebagian besar pemerintah Provinsi mengalami

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

65

penurunan rasio modal dibanding total belanja. Gambaran selengkapnya tentang rasio
belanja modal terhadap total belanja masing-masing Pemerintah Provinsi di Indonesia
dapat dilihat pada Gambar 5-11.
Gambar 5-11:
Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Masing-Masing Pemerintah Provinsi
Di Indonesia Tahun 2008 dan 2012.
Rasio Belanja Modal Thdp Total Belanja PemProv 2008
Rasio Belanja Modal Thdp Total Belanja PemProv 2012

60,00

Rata-rata Rasio Belanja Modal Thdp Total Belanja PemProv 2012

50,00
40,00

32,35

30,00
20,00
10,00

17,44
5,88

Jawa Tengah
Sulawesi Selatan
Jawa Barat
Jawa Timur
NTT
DI Yogyakarta
Aceh
Maluku
Sumatera Utara
Bali
Kalimantan Barat
Kepulauan Riau
Papua
Sulawesi Barat
Sulawesi Tengah
Gorontalo
Kalimantan Selatan
NTB
Sulawesi Utara
Sulawesi Tenggara
Bengkulu
Papua Barat
Sumatera Selatan
Bangka Belitung
Kalimantan Tengah
Sumatera Barat
Riau
Banten
Jambi
Kalimantan Timur
Lampung
Maluku Utara
DKI Jakarta

0,00

Rasio Belanja Modal Per Total Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota SeProvinsi
Rasio belanja modal pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi terhadap total
belanja daerahnya pada tahun 2008 sebesar 29,99 persen menurun menjadi 22,68 persen
pada tahun 2012. Berdasarkan angka rata-rata rasio belanja modal pada tahun 2011,
Sebanyak 16 Provinsi memiliki rasio belanja modal lebih besar dari rata-rata, sedangkan
21 Provinsi memiliki rasio belanja modal terhadap belanja pegawai yang lebih kecil dari
rata-rata. Pemerintah kabupaten dan kota di Prov. Kalimantan Timur memiliki rasio
belanja modal yang terbesar yaitu sebesar 36,27 persen, sedangkan pemerintah kabupaten
dan kota di Prov. DI Yogyakarta memiliki rasio terkecil yaitu 11,70 persen. Selama
periode 2008-2012, sebagian besar pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi mengalami
penurunan rasio modal terhadap total belanja. Gambaran selengkapnya tentang rasio
belanja modal terhadap total belanja masing-masing Pemerintah kabupaten dan kota seProvinsi di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5-12.

66

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Gambar 5-12.
Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Masing-Masing Pemerintah
Kabupaten Dan Kota Se-Provinsi Di Indonesia Tahun 2008 dan 2012.
Rasio Belanja Modal Thdp Total Belanja Se-Prov 2008
Rasio Belanja Modal Thdp Total Belanja Se-Prov 2012
Rata-rata Rasio Belanja Modal Thdp Total Belanja Se-Prov 2012

50,00
45,00
40,00

36,27

35,00
30,00
25,00
20,00
15,00 11,70
10,00
5,00

22,68

DI Yogyakarta
Aceh
Jawa Tengah
Bali
Sulawesi Selatan
Jawa Barat
Jawa Timur
Nusa Tenggara Barat
Maluku
Gorontalo
Sumatera Utara
Kepulauan Riau
Sumatera Barat
Sulawesi Tengah
Bengkulu
Nusa Tenggara Timur
Sulawesi Barat
Lampung
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Utara
Kalimantan Selatan
Kalimantan Barat
Bangka Belitung
Banten
Papua
Kalimantan Tengah
Sumatera Selatan
Papua Barat
Jambi
Riau
Maluku Utara
DKI Jakarta
Kalimantan Timur

0,00

Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Pemerintah Kabupaten dan


Kota
Rasio belanja modal pada tingkat Kabupaten dan Kota, tertinggi di Kabupaten
Tana Tidung Provinsi Kalimantan Timur dengan Rasio Belanja sebesar 63,32 persen , dan
Rasio Belanja terendah di Kota Tebing tinggi Provinsi Sumatera Utara sebesar Rp 5,88
persen. Berdasarkan pemeringkatan Rasio Belanja pada 20 kabupaten/kota tertinggi,
persentase belanja modal tertinggi sebagian besar terdapat di kabupaten-kabupaten di
wilayah Indonesia Timur. Sementara untuk Rasio belanja modal terendah sebagian besar
berada di kabupaten-kabupaten di wilayah Jawa dan Bali. Distribusi kabupaten-kabupaten
dengan rasio belanja modal tinggi tersebut, berbanding terbalik dengan rasio belanja
pegawai. Rincian untuk 20 Kabupaten/Kota menurut peringkat tertinggi dan terendah
untuk Belanja modal, dapat dilihat pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7.
Rasio Belanja Modal Terhadap Total Belanja Kabupaten dan Kota Tahun 2012.
No.

20 Peringkat Terendah Rasio Belanja Modal


Thdp Total Belanja
Provinsi

1
2
3
4
5

Sumut
Jawa Barat
Jawa Barat
Aceh
Jateng

Kabupaten/Kota
Kota Tebing Tinggi
Kota Tasikmalaya
Kab. Sukabumi
Kab. Aceh Barat
Kab. Karanganyar

(%)
5,88
7,82
7,97
8,89
9,06

20 Peringkat Terendah Rasio Belanja Modal Thdp


Total Belanja
Provinsi

Kabupaten/Kota

(%)

Kaltim
Papua Barat
Kaltim
Papua
Maluku Utara

Kab. Tana Tidung


Kab. Tambrauw
Kab. Penajam Paser Utara
Kab. Mamberamo Tengah
Kab. Kepulauan Sula

63,32
57,94
56,89
54,60
49,27

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

67

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

5.3.

DIY
DIY
Aceh
Aceh
Jawa Barat
Bengkulu
Jatim
Jawa Barat
Sumut
Jawa Barat
DIY
Bali
Jateng
NTT
Jateng

Kab. Sleman
Kota Yogyakarta
Kab. Aceh Besar
Kota Banda Aceh
Kab. Kuningan
Kota Bengkulu
Kab. Ngawi
Kota Sukabumi
Kota Padang Sidimpuan
Kota Cirebon
Kab. Bantul
Kab. Buleleng
Kab. Temanggung
Kota Kupang
Kab. Purbalingga

9,07
9,11
9,40
9,45
10,28
10,29
10,30
10,40
10,53
10,57
10,61
10,73
10,86
11,08
11,51

Riau
Papua
Papua
Sumut
Papua
Sumsel
Papua Barat
Sultra
Kaltim
Papua
Kaltim
Papua
Kaltim
NTT
Sumut

Kab. Rokan Hilir


Kab. Intan Jaya
Kab. Mamberamo Raya
Kab. Nias Barat
Kab. Puncak
Kab. Musi Banyuasin
Kab. Teluk Bintuni
Kab. Buton Utara
Kota Tarakan
Kab. Yalimo
Kab. Kutai Kartanegara
Kab. Supiori
Kab. Malinau
Kab. Sabu Raijua
Kab. Nias

48,11
45,93
45,83
45,74
45,43
44,56
44,50
44,39
44,29
43,81
42,63
42,19
42,05
41,83
41,78

Perimbangan Kondisi Keuangan Daerah Dengan Kondisi Sosial


Masyarakat

Infomasi perimbangan kondisi keuangan daerah dengan kondisi sosial ekonomi


masyarakat dapat memberikan indikasi keberpihakan alokasi anggaran dan kinerja
kemampuan keuangan daerah terhadap peningkatan kondisi sosial masyarakat. Gambaran
terhadap kondisi sosial masyarakat ini akan dijelaskan dari aspek pendidikan dan
kesehatan, yaitu dengan berdasarkan indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Umur
Harapan Hidup (UHH). Untuk melihat kondisi keuangan daerah dapat diperkirakan
dengan menggunakan struktur APBD menurut urusan, yaitu untuk sektor pendidikan dan
kesehatan.
Pengolahan data dilakukan berdasarkan data yang tersedia, yaitu untuk indikator
kesehatan dan pendidikan menggunakan data yang bersumber dari Badan Pusat Statistik
(BPS), dan data struktur APBD yang bersumber dari Direktorat Jenderal Perimbangan
Keuangan (Kementerian Keuangan). Rata-rata belanja untuk urusan pendidikan dan
kesehatan dihitung dari total belanja dari pemerintah Provinsi ditambah dengan belanja
dari pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi. Dengan demikian, informasi ini akan
menggambarkan kondisi perimbangan pada agregat Provinsi.
Pada Gambar 5.13, tampak perimbangan Umur Harapan Hidup dengan belanja
pemerintah urusan kesehatan. Pada Kuadran I, sebanyak 5 Provinsi yang berada pada
kelompok Umur Harapan Hidup di atas rata-rata nasional dan dukungan belanja
pemerintah urusan kesehatan juga berada di atas rata-rata nasional. Provinsi tersebut
meliputi: Provinsi Bengkulu, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur,
dan Provinsi Sulawesi Selatan. Untuk kelima Provinsi tersebut sudah mengindikasikan
adanya keberpihakan dalam alokasi anggaran untuk urusan kesehatan yang sudah berada
di atas rata-rata nasional.

68

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kondisi sebaliknya yang menunjukkan kurangnya keberpihakan alokasi belanja untuk


urusan kesehatan dapat ditunjukkan pada daerah yang menempati Kuadran III, yaitu
sebanyak 9 Provinsi. Rincian Provinsi dimaksud dapat dilihat pada Gambar 5-13. dan
Tabel 5.8.
Gambar 5-13.
Perimbangan Indeks Harapan Hidup dengan belanja pemerintah Urusan
kesehatan.
Kuadran II

74.00

Kuadran I
Dl Yogyakarta

DKI Jakarta

Sulawesi Utara

72.00

Usia Harapan Hidup tahun 2010 (Tahun)

Jawa Tengah

Riau

Kalimantan Tengah

Kalimantan Timur

Bali
Bengkulu

70.00

Sulawesi Selatan

Jawa Timur
Kep. Riau
Lampung

Sumatera Barat
Jambi

Kep. Bangka Belitung

Aceh

Papua

Jawa Barat

68.00

NTT

Sulawesi Barat
Maluku

Sulawesi Tenggara

Papua Barat

Gorontalo

Sulawesi Tengah
Kalimantan Barat

Maluku Utara

66.00

Kuadran III

Kuadran
IV

Banten

Kalimantan Selatan

64.00

NTB

62.00

0.00

200000.00

400000.00

600000.00

800000.00

Rata-rata Belanja Urusan Kesehatan Perkapita, tahun 2007-2010 (Rp/Kapita)

Keterangan:

Kuadran I :

Rata-rata Belanja Menurut urusan Kesehatan pada periode 2007-2010 (Rp./Kapita) dan
Umur Harapan Hidup Provinsi berada di atas rata-rata Provinsi (Nasional). Memberikan indikasi adanya
keberpihakan alokasi anggaran urusan kesehatan terhadap kondisi kesehatan masyarakat.

Kuadran II :

Rata-rata Belanja Menurut urusan Kesehatan pada periode 2007-2010 (Rp./Kapita) berada
di bawah rata-rata Provinsi dan Umur Harapan Hidup Provinsi berada di atas rata-rata Provinsi (Nasional).
Memberikan indikasi keberpihakan alokasi anggaran urusan kesehatan masih belum optimal, walaupun
kondisi kesehatan masyarakat sudah berada di atas rata nasional.

Kuadran III : Rata-rata Belanja Menurut urusan Kesehatan pada periode 2007-2010 (Rp./Kapita) dan
Umur Harapan Hidup Provinsi berada di bawah rata-rata Provinsi (Nasional). Memberikan indikasi
rendahnya keberpihakan alokasi anggaran urusan kesehatan terhadap kondisi kesehatan masyarakat yang
masih rendah.

Kuadran IV : Rata-rata Belanja Menurut urusan Kesehatan pada periode 2007-2010 (Rp./Kapita) berada
di atas rata-rata Provinsi dan Umur Harapan Hidup Provinsi berada di bawah rata-rata Provinsi (Nasional).
Memberikan indikasi adanya keberpihakan alokasi anggaran urusan kesehatan untuk melakukan perbaikan
kondisi kesehatan masyarakat yang masih rendah.

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

69

Tabel. 5.8.
Hasil Analisis Kuadran Rata-rata Belanja Urusan Kesehatan Pemerintah Provinsi
dan Kabupaten/kota se-Provinsi dengan Kondisi Kesehatan Menurut Umur
Harapan Hidup (UHH).
N0

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

PROVINSI

(0)
Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kep. Bangka Belitung
Kep. Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
Dl Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
RATA-RATA PROVINSI

Rata2 Belanja
Menurut urusan
Kesehatan 07-10
(Rp./Kapita)
(1)
476.997
146.788
248.397
244.418
246.600
204.723
382.845
111.088
674.055
418.179
294.043
82.103
126.808
154.236
136.283
94.821
240.110
155.998
206.306
228.628
373.238
336.147
650.860
220.171
180.550
435.456
461.125
216.813
210.231
320.034
363.805
875.987
777.977

UHH 2010

311.995

69,43

(2)
68,70
69,50
69,50
71,40
69,10
69,60
69,90
69,50
68,90
69,80
73,20
68,20
71,40
73,22
69,60
64,90
70,72
62,11
67,50
66,60
71,20
63,81
71,20
72,22
66,60
70,00
67,80
66,81
67,80
67,40
66,01
68,51
68,60

kuadran
(1) Vs (2)

(3)

IV
II
II
II
III
II
I
II
IV
I
II
III
II
II
II
III
II
III
III
III
I
IV
I
II
III
I
IV
III
III
IV
IV
IV
IV

Pada Gambar 5-14, menunjukkan perimbangan antara pencapaian Rata-rata lama sekolah
dengan belanja pemerintah urusan pendidikan. Pada Kuadran I, sebanyak 11 Provinsi
yang berada pada kelompok Rata-rata Lama Sekolah di atas rata-rata nasional dan

70

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

memiliki dukungan belanja pemerintah urusan pendidikan juga berada di atas rata-rata
nasional. Untuk kelima Provinsi tersebut sudah mengindikasikan adanya keberpihakan
dalam alokasi anggaran untuk urusan pendidikan yang sudah berada di atas rata-rata
nasional.
Kondisi sebaliknya yang menunjukkan kurangnya keberpihakan alokasi belanja untuk
urusan pendidikan dapat ditunjukkan pada daerah yang menempati Kuadran III, yaitu
sebanyak 8 Provinsi. Rincian Provinsi dimaksud dapat dilihat pada Gambar 5-14. dan
Tabel 5.9
Gambar 5-14.
Perimbangan Rata-rata Lama Sekolah dengan belanja pemerintah Urusan Pendidikan.
12.00

Kuadran II

Kuadran I

Rata-rata Lama Sekolah (RLS) tahun 2011 (Tahun)

DKI Jakarta

10.00

Jambi
Jawa Timur

Sumatera Utara
Jawa Tengah

8.00

Riau

Bengkulu
Sulawesi Tengah
Lampung
Gorontalo
Sulawesi Barat
Dl Yogyakarta
NTB

Sulawesi Tenggara

Kalimantan Tengah

Kep. Riau

Kep. Bangka Belitung


Sulawesi Selatan

Kalimantan Selatan

NTT Kalimantan Barat

6.00

4.00

Papua Barat

Aceh

Maluku

Maluku Utara Bali


Sumatera Barat

Jawa Barat
Banten

Kalimantan Timur

Sulawesi Utara

Papua

Kuadran III
250000.00

Kuadran IV
500000.00

750000.00

1000000.00

1250000.00

1500000.00

Rata-rata Belanja Urusan Pendidikan Perkapita, tahun 2007-2011 (Rp/Kapita)

Keterangan:
Kuadran I :
Rata-rata Belanja urusan pendidikan pada periode 2007-2011 (Rp./Kapita) dan
Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Provinsi berada di atas rata-rata Provinsi (Nasional). Memberikan
indikasi adanya keberpihakan alokasi anggaran urusan pendidikan terhadap kondisi pendidikan
masyarakat.
Kuadran II :
Rata-rata Belanja Menurut urusan pendidikan pada periode 2007-2011
(Rp./Kapita) berada di bawah rata-rata Provinsi dan RLS Provinsi berada di atas rata-rata Provinsi
(Nasional). Memberikan indikasi keberpihakan alokasi anggaran urusan pendidikan masih belum
optimal, walaupun kondisi pendidikan masyarakat sudah berada di atas rata nasional.
Kuadran III : Rata-rata Belanja Menurut urusan pendidikan pada periode 2007-2010
(Rp./Kapita) dan RLS Provinsi berada di bawah rata-rata Provinsi (Nasional). Memberikan

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

71

indikasi rendahnya keberpihakan alokasi anggaran urusan pendidikan terhadap kondisi pendidikan
masyarakat yang masih rendah.
Kuadran IV : Rata-rata Belanja Menurut urusan pendidikan pada periode 2007-2010
(Rp./Kapita) berada di atas rata-rata Provinsi dan RLS Provinsi berada di bawah rata-rata Provinsi
(Nasional). Memberikan indikasi adanya keberpihakan alokasi anggaran urusan pendidikan untuk
melakukan perbaikan kondisi pendidikan masyarakat yang masih rendah.

Tabel. 5.9.
Hasil Analisis Kuadran Rata-rata Belanja Urusan Pendidikan Pemerintah Provinsi
dan Kabupaten/kota se-Provinsi dengan Kondisi Pendidikan Menurut Rata-Rata
Lama Sekolah
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

72

Provinsi

(0)
Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kep. Bangka Belitung
Kep. Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
Dl Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
RATA-RATA PROVINSI

Rata2 Belanja urusan


Pendidikan 07-11
(Rp./Kapita)
(1)
1.111.010
471.855
760.279
782.251
681.016
540.985
728.320
422.716
1.151.102
977.241
890.651
296.102
398.655
548.403
336.768
273.519
662.249
451.006
544.617
536.350
965.901
738.733
1.227.845
791.363
427.213
1.181.944
1.085.702
534.202
531.094
799.672
662.084
1.415.724
1.057.507
726.790

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

RLS 2011

kuadran (1) Vs
(2)

(2)

(3)
I
II
I
I
II
II
IV
III
I
IV
I
II
II
III
II
III
II
III
III
III
I
IV
I
I
II
IV
I
III
III
I
II
I
IV

8,80
8,80
8,40
8,60
9,70
8,00
7,80
7,50
8,30
7,70
10,40
7,90
8,40
7,20
9,10
7,30
8,30
6,90
6,80
6,80
8,00
7,60
9,10
8,90
8,00
7,70
8,20
7,30
7,00
8,70
8,20
8,80
5,80
7,90

LAMPIRAN:PDRBPERKAPITAADHBMENURUTKABUPATEN/KOTA(RP.JUTA/JIWA)
Kode
Kabupaten/Kota
2007
2008
2009
1101 Simeulue
4.718
5.394
6.022
1102 AcehSingkil
5.557
5.972
6.430
1103 AcehSelatan
9.231
10.359
11.067
1104 AcehTenggara
6.504
6.946
7.580
1105 AcehTimur
19.462
21.620
17.490
1106 AcehTengah
11.898
12.732
13.934
1107 AcehBarat
12.898
14.696
15.967
1108 AcehBesar
12.078
13.399
14.848
1109 Piddie
7.460
8.467
9.531
1110 Bireuen
10.307
11.985
13.709
1111 AcehUtara
22.853
26.357
21.301
1112 AcehBaratDaya
8.178
9.391
10.588
1113 GayoLues
7.953
9.095
9.922
1114 AcehTamiang
7.840
8.484
8.572
1115 NaganRaya
14.639
16.712
17.382
1116 AcehJaya
8.341
9.647
10.914
1117 BenerMeriah
10.173
11.437
12.981
1118 PidieJaya
7.061
7.820
8.554
1171 KotaBandaAceh
22.233
26.157
30.343
1172 KotaSabang
12.931
14.281
15.785
1173 KotaLangsa
8.587
9.883
11.173
1174 KotaLhokseumawe
59.483
62.281
61.303
1175 Subulussalam
4.155
4.502
4.893
1100 Aceh
16.849
17.056
16.337
1201 Nias
6.942
7.953
7.494
1202 MandailingNatal
6.585
7.554
8.422
1203 TapanuliSelatan
8.795
9.611
10.422
1204 TapanuliTengah
5.540
6.034
6.548
1205 TapanuliUtara
10.076
11.418
12.263
1206 TobaSamosir
14.069
15.939
17.702
1207 LabuhanBatu
14.655
16.775
16.312
1208 Asahan
12.512
14.433
15.724
1209 Simalungun
9.291
10.241
11.313
1210 Dairi
10.622
11.561
12.574
1211 Karo
13.454
14.911
16.350
1212 DeliSerdang
15.793
17.753
19.583
1213 Langkat
11.951
13.769
15.330
1214 NiasSelatan
5.989
6.506
7.007
1215 HumbangHasundutan
10.435
11.830
12.901
1216 PakpakBarat
6.051
6.644
7.300
1217 Samosir
10.543
11.480
12.615
1218 SerdangBedegai
10.792
12.552
14.272
1219 BatuBara
31.073
35.551
38.857

2010*
6.728
6.984
11.942
8.338
18.640
15.300
17.321
16.353
10.786
15.468
21.186
11.807
10.766
9.255
18.208
12.532
14.454
9.303
34.752
17.254
12.341
61.887
5.336
17.351
8.681
9.181
11.922
7.348
13.635
19.810
18.334
17.855
12.671
13.989
19.022
22.232
17.759
7.749
14.396
8.193
13.954
16.315
44.137

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2011**
7.204
7.672
13.099
9.092
19.202
16.799
18.418
17.776
12.107
16.581
21.940
13.020
11.372
9.713
19.364
13.779
15.883
10.172
39.342
18.060
13.116
62.336
5.825
18.606
9.801
10.147
13.419
8.120
14.750
22.075
20.407
20.237
14.088
15.505
21.551
24.970
20.249
8.353
16.114
9.128
15.197
18.178
50.066

73

Kode
1220
1221
1222
1223
1224
1225
1271
1272
1273
1274
1275
1276
1277
1278
1200
1301
1302
1303
1304
1305
1306
1307
1308
1309
1310
1311
1312
1371
1372
1373
1374
1375
1376
1377
1300
1401
1402
1403
1404
1405
1406
1407
1408

Kabupaten/Kota
PadangLawasUtara
PadangLawas
LabuhanBatuSelatan
LabuhanBatuUtara
NiasUtara
NiasBarat
KotaSibolga
KotaTanjungBalai
KotaPematangSiantar
KotaTebingTinggi
KotaMedan
KotaBinjai
KotaPadangSidempuan
GunungSitoli
SUMATERAUTARA
KepulauanMentawai
PesisirSelatan
Solok
SawahLunto/Sijunjung
TanahDatar
PadangPariaman
Agam
LimapuluhKoto
Pasaman
SolokSelatan
DharmasRaya
PasamanBarat
KotaPadang
KotaSolok
KotaSawahLunto
KotaPadangPanjang
KotaBukitTinggi
KotaPayakumbuh
KotaPariaman
SUMATERABARAT
KuantanSengingi
IndragiriHulu
IndragiriHilir
Pelalawan
Siak
Kampar
RokanHulu
Bengkalis

74

2007
5.327
5.393

12.717
14.344
13.315
11.463
26.909
13.873
8.794

14.442
12.770
7.364
10.031
10.841
11.357
11.423
10.057
12.414
9.128
6.761
10.188
12.036
21.767
13.526
13.711
13.844
13.611
11.649
14.788
12.808
30.044
29.006
23.199
40.708
101.297
26.902
19.287
94.209

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2008
5.689
5.918

14.609
16.440
14.855
12.833
31.479
15.832
9.775

16.813
15.052
8.496
11.765
12.414
12.996
13.279
11.632
14.698
10.408
7.712
11.671
13.918
24.864
15.548
15.463
15.466
16.124
13.274
16.526
15.002
36.333
35.609
28.655
47.229
128.910
33.415
21.739
123.089

2009
6.145
6.494
20.103
19.137
7.883
6.210
16.104
18.097
16.008
14.142
34.813
17.672
10.261
14.253
18.331
16.889
9.602
13.396
13.581
14.345
14.445
12.918
16.013
11.528
8.612
12.597
15.426
26.556
16.775
17.473
17.466
17.523
14.395
17.912
18.022
40.964
42.157
32.112
52.025
120.668
36.632
23.229
110.673

2010*
7.093
7.718
22.649
21.654
8.914
7.205
18.274
20.444
1.774
15.854
39.719
20.091
10.964
15.482
21.237
18.894
10.761
15.233
15.045
16.023
16.036
14.495
18.064
12.963
9.758
13.989
17.310
29.496
18.448
19.724
19.549
19.600
16.144
20.007
17.995
46.112
48.363
41.471
56.070
119.460
40.446
24.798
157.709

2011**
8.138
8.678
25.339
24.250
10.070
8.152
19.916
22.111
19.155
17.795
44.214
22.947
11.918
18.464
23.975
21.115
12.050
17.261
16.739
17.766
17.637
16.104
20.303
14.598
11.117
15.839
19.537
32.655
20.413
22.142
21.875
21.701
18.250
22.293
20.169
51.874
58.884
49.090
61.618
135.679
46.783
30.803
206.862


Kode
1409
1410
1471
1473
1400
1501
1502
1503
1504
1505
1506
1507
1508
1509
1571
1572
1500
1601
1602
1603
1604
1605
1606
1607
1608
1609
1610
1611
1671
1672
1673
1674
1600
1701
1702
1703
1704
1705
1706
1707
1708
1709
1771
1700

Kabupaten/Kota

RokanHilir
KepulauanMeranti
KotaPekanBaru
KotaDumai
RIAU
Kerinci
Merangin
Sarolangun
Batanghari
MuaraJambi
TanjungJabungTimur
TanjungJabungBarat
Tebo
Bungo
KotaJambi
KotaSungaiPenuh
JAMBI
OganKomeringUlu
OganKomeringHilir
MuaraEnim(Liot)
Lahat
MusiRawas
MusiBanyuasin
Banyuasin
OganKomiringUluSelatan
OganKomiringUluTimur
Oganllir
EmpatLawang
KotaPalembang
KotaPrabumulih
KotaPagarAlam
KotaLubukLinggau
SUMATERASELATAN
BengkuluSelatan
RejangLebong
BengkuluUtara
Kaur
Seluma
Mukomuko
Lebong
Kepahiang
BengkuluTengah
Bengkulu
BENGKULU

2007
47.444

25.038
26.410
41.958
9.920
6.193
11.133
10.183
8.123
23.498
15.425
5.912
8.030
11.642

11.151
14.062
6.982
21.792
11.135
10.868
42.560
11.379
6.160
6.209
6.976
6.634
24.854
14.116
7.218
7.730
15.541
6.601
10.568
5.480
3.833
3.435
6.222
8.290
9.059

11.887
7.866

2008
59.285

29.844
37.186
53.335
11.454
7.143
11.529
12.372
9.687
31.594
19.373
6.925
10.253
13.582

13.922
16.176
7.934
25.951
12.972
12.782
49.348
13.565
7.113
7.198
7.914
7.655
30.023
16.387
8.319
8.563
18.565
7.242
11.735
5.872
4.272
3.819
7.577
9.127
10.389
6.827
13.100
8.967

2009
63.176

34.636
44.342
55.387
11.604
8.456
13.536
13.556
10.547
37.782
20.762
7.536
11.304
15.025
15.740
14.597
16.263
8.608
25.451
13.710
13.039
46.039
14.057
8.232
7.866
8.635
8.441
31.756
16.434
9.001
9.470
18.736
7.634
12.898
6.155
4.545
4.099
8.056
9.836
11.543
7.584
13.870
9.693

2010*
66.539
45.038
40.939
53.759
62.412
13.377
9.752
16.412
16.059
11.677
43.946
24.152
8.797
13.308
17.124
18.451
17.404
17.949
9.550
28.461
15.474
14.673
49.647
15.893
9.488
8.837
9.815
9.432
36.016
13.299
9.927
10.642
21.145
8.546
14.755
6.627
4.848
4.540
9.001
10.835
12.968
8.832
14.753
10.871

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2011**
74.840
51.165
48.652
61.341
72.031
14.953
11.297
18.489
19.005
13.178
49.389
27.487
10.140
15.303
19.381
20.600
19.960
20.276
10.790
31.932
17.509
16.546
53.905
17.648
10.737
10.018
11.179
10.422
39.572
20.814
11.178
12.035
23.980
9.497
16.487
7.321
5.187
4.991
10.044
11.829
15.606
9.913
15.858
12.141

75

Kode
1801
1802
1803
1804
1805
1806
1807
1808
1809
1810
1811
1812
1871
1872
1800
1901
1902
1903
1904
1905
1906
1971
1900
2101
2102
2103
2104
2105
2171
2172
2100
3101
3171
3172
3173
3174
3175
3100
3201
3202
3203
3204
3205

Kabupaten/Kota
LampungBarat
Tanggamus
LampungSelatan
LampungTimur
LampungTengah
LampungUtara
WayKanan
TulangBawang
Pesawaran
Pringsewu
Mesuji
TulangBawangBarat
KotaBandarLampung
KotaMetro
LAMPUNG
Bangka
Belitung
BangkaBarat
BangkaTengah
BangkaSelatan
BelitungTimur
KotaPangkalPinang
KEP.BANGKABELITUNG
Karimun
KepulauanRiau
Natuna
Lingga
KepulauanAnambas
KotaBatam
KotaTanjungPinang
KEPULAUANRIAL)
Kep.Seribu
KotaJakartaSelatan
KotaJakartaTimur
KotaJakartaPusat
KotaJakartaBarat
KotaJakartaUtara
DKIJAKARTA
Bogor
Sukabumi
Cianjur
Bandung
Garut

76

2007
4.659
5.465
7.222
7.683
8.073
8.515
4.846
9.984

12.487
5.496
8.200
13.007
13.155
26.024
15.438
15.507
15.317
13.320
15.989
15.157
26.338
59.464
8.738

42.999
19.927
35.485
144.377
65.017
38.537
162.684
39.299
68.505
61.336
11.731
6.441
6.547
11.257
7.699

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2008
5.497
6.625
8.460
8.702
9.648
9.694
5.531
12.609
8.592

15.921
6.220
9.912
14.706
15.294
30.891
17.811
17.484
17.942
15.027
18.564
16.603
27.844
60.855
9.817

46.383
22.634
38.230
170.074
75.769
44.702
198.706
45.799
80.417
72.318
12.959
7.038
7.275
12.619
3.715

2009
6.146
7.533
9.879
9.477
11.750
11.401
6.324
12.113
10.449

19.630
7.160
11.616
15.563
16.601
32.935
18.491
17.934
19.553
16.160
19.331
13.269
29.051
57.525
10.732
68.995
46.267
24.882
39.753
167.793
83.154
48.964
222.774
50.542
87.043
79.843
14.232
7.448
7.778
13.273
9.391

2010*
6.744
8.978
11.193
11.060
14.222
13.950
7.388
14.269
12.866
8.110
15.704
12.841
22.043
8.031
14.245
17.208
18.623
36.386
20.452
20.018
22.313
18.614
21.716
20.172
31.095
60.044
11.852
72.296
50.088
27.632
42.649
192.767
92.508
54.509
251.814
56.381
97.698
89.728
15.466
7.942
8.491
14.501
10.334

2011**
7.981
10.286
12.202
12.412
18.356
17.684
8.431
18.163
15.000
3.971
17.088
15.660
25.031
8.976
16.696
18.911
20.712
39.517
22.199
21.728
24.438
20.703
23.979
21.548
32.596
60.295
12.532
70.546
53.036
29.252
45.469
259.726
103.615
60.743
283.985
63.482
109.847
100.985
17.093
8.459
9.308
15.852
11.234


Kode
3206
3207
3208
3209
3210
3211
3212
3213
3214
3215
3216
3217
3271
3272
3273
3274
3275
3276
3277
3278
3279
3200
3301
3302
3303
3304
3305
3306
3307
3308
3309
3310
3311
3312
3313
3314
3315
3316
3317
3318
3319
3320
3321

Kabupaten/Kota

Tasikmalaya
Ciamis
Kuningan
Cirebon
Majalengka
Sumedang
Indramayu
Subang
Purwakarta
Karawang
Bekasi
KabBandungBarat
KotaBogor
KotaSukabumi
KotaBandung
KotaCirebon
KotaBekasi
KotaDepok
KotaCimahi
KotaTasikmalaya
KotaBanjar
JAWABARAT
Cilacap
Banyumas
Purbalingga
Banjarnegara
Kebumen
Purworejo
Wonosobo
Magelang
Boyolali
Klaten
Sukoharjo
Wonogiri
Karanganyar
Sragen
Grobogan
Blora
Rembang
Pati
Kudus
Jepara
Demak

2007
5.760
8.323
5.956
6.362
6.270
8.537
20.981
8.491
13.979
17.824
32.289
8.639
9.624
11.131
21.769
26.482
11.995
6.877
18.196
10.303
7.591
12.895
39.839
4.749
4.666
5.458
3.916
6.645
3.937
5.040
6.173
7.393
8.674
4.830
8.626
5.257
3.499
3.797
6.176
5.675
31.660
6.087
4.133

2008
6.376
9.529
6.858
7.613
7.153
9.622
25.125
9.398
16.070
20.589
34.376
9.936
11.089
12.764
25.749
30.578
13.474
7.807
20.549
11.474
8.347
15.235
49.937
5.424
5.299
8.391
4.556
7.618
4.422
5.634
8.956
8.402
9.842
5.618
9.541
6.024
3.974
4.387
6.929
6.495
35.615
6.939
4.730

2009
7.177
10.370
7.926
8.324
7.730
10.334
25.296
10.159
16.892
23.035
35.542
10.671
12.789
14.928
29.626
33.551
13.894
8.400
21.973
12.340
9.179
16.293
51.918
5.940
6.116
6.949
5.038
8.388
4.752
6.082
7.691
9.167
10.868
6.145
10.353
6.840
4.411
4.815
7.562
7.054
37.520
7.554
5.083

2010*
7.622
11.466
8.818
9.274
8.708
11.216
27.895
10.848
18.717
26.911
37.077
11.616
14.636
17.327
34.241
36.882
15.281
9.286
23.736
13.327
10.103
17.922
56.681
6.649
6.797
7.712
5.590
9.299
5.203
6.789
8.707
9.975
12.025
7.250
11.343
7.801
4.966
5.390
8.404
7.880
40.471
8.310
5.620

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2011**
3.167
12.400
9.504
9.971
9.259
12.155
31.321
11.479
20.160
29.371
39.876
12.589
16.009
19.474
39.220
40.161
17.052
10.122
25.712
14.338
10.929
19.646
62.322
7.384
7.672
8.557
6.206
10.257
5.719
7.412
9.689
10.769
13.333
7.712
12.634
8.819
5.449
5.860
9.187
8.767
43.454
9.210
6.165

77

Kode
3322
3323
3324
3325
3326
3327
3328
3329
3371
3372
3373
3374
3375
3376
3300
3401
3402
3403
3404
3471
3400
3501
3502
3503
3504
3505
3506
3507
3508
3509
3510
3511
3512
3513
3514
3515
3516
3517
3518
3519
3520
3521
3522

Kabupaten/Kota
Semarang
Temanggung
Kendal
Batang
Pekalongan
Pemalang
Tegal
Brebes
KotaMagelang
KotaSurakarta
KotaSalatiga
KotaSemarang
KotaPekalongan
KotaTegal
JAWATENGAH
KulonProgo
Bantul
GunungKidul
Sleman
KotaYogyakarta
DIYOGYAKARTA
Pacitan
Ponorogo
Trenggalek
Tulungagung
Blitar
Kediri
Malang
Lumajang
Jember
Banyuwangi
Bondowoso
Situbondo
Probolinggo
Pasuruan
Sidoarjo
Mojokerto
Jombang
Nganjuk
Madiun
Magetan
Ngawi
Bojonegoro

78

2007
9.034
5.226
8.657
5.571
6.135
4.559
3.961
5.518
12.584
13.848
8.239
20.360
10.811
7.818
9.739
6.955
7.343
7.214
9.635
21.947
9.798
4.321
5.781
5.969
11.482
7.836
7.520
9.085
9.742
7.501
10.328
6.790
9.079
9.589
7.243
21.670
12.628
8.240
7.606
7.377
8.239
6.153
9.425

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2008
10.160
5.883
9.714
6.225
7.038
5.197
4.587
6.428
14.174
15.832
9.230
22.750
11.579
8.937
11.407
7.872
8.372
8.146
10.852
25.095
11.229
4.976
6.656
6.903
13.257
8.970
8.435
10.391
11.139
8.784
11.899
7.762
10.344
10.966
8.305
24.113
14.413
9.508
8.776
8.440
9.589
7.056
11.397

2009
10.913
6.385
10.654
6.660
7.698
5.676
5.103
7.231
15.741
17.788
9.842
25.011
12.415
9.970
12.323
8.481
9.060
8.865
11.633
27.220
12.084
5.532
7.527
7.728
14.734
9.899
9.314
11.430
12.330
9.744
13.368
8.537
11.447
12.128
9.154
26.328
15.804
10.468
9.702
9.257
10.596
7.880
13.940

2010*
11.896
7.154
11.972
7.455
8.622
6.312
5.690
8.438
17.807
19.909
10.857
27.891
13.516
10.999
13.732
9.121
9.958
9.809
12.432
30.306
13.196
6.200
8.710
8.704
16.460
11.023
10.431
12.832
13.797
10.839
14.956
9.488
12.776
13.589
10.301
29.105
17.801
11.694
10.818
10.417
11.899
8.861
18.352

2011**
13.235
7.898
13.447
8.287
9.566
7.014
6.299
9.461
19.625
21.985
11.915
31.102
14.872
11.866
15.376
9.859
10.983
10.644
13.693
33.069
14.849
6.879
9.772
9.800
18.416
12.276
11.590
14.502
15.397
12.102
16.850
10.568
14.254
15.205
11.608
33.018
20.137
13.187
12.032
11.678
13.268
9.869
22.696


Kode
3523
3524
3525
3526
3527
3528
3529
3571
3572
3573
3574
3575
3576
3577
3578
3579
3500
3601
3602
3603
3604
3671
3672
3673
3674
3600
5101
5102
5103
5104
5105
5106
5107
5108
5171
5100
5201
5202
5203
5204
5205
5206
5207

Kabupaten/Kota

Tuban
Lamongan
Gresik
Bangkalan
Sampang
Pamekasan
Sumenep
KotaKediri
KotaBlitar
KotaMalang
KotaProbolinggo
KotaPasuruan
KotaMojokerto
KotaMadiun
KotaSurabaya
KotaBatu
JAWATIMUR
Pandeglang
Lebak
Tangerang
Serang
KotaTangerang
KotaCilegon
KotaSerang
KotaTangerangSelatan
BANTEN
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karangasem
Buleleng
KotaDenpasar
BALI
LombokBarat
LombokTengah
LombokTimur
Sumbawa
Dompu
Bima
SumbawaBarat

2007
11.688
6.757
21.623
6.061
5.015
4.547
7.691
145.758
10.764
25.858
15.616
10.084
16.285
19.901
52.569
11.734
14.629
5.515
5.229
8.977
7.295

23.872
64.057

12.500
9.768
8.475
18.428
10.653
11.036
7.664
7.051
8.275
11.264
12.018
4.844
3.625
3.958
8.509
6.610
4.838
119.569

2008
13.655
7.726
24.805
6.850
5.589
5.117
8.686
167.653
12.343
30.388
17.881
11.528
18.639
23.113
59.520
13.578
16.807
6.175
5.770
9.758
7.858
7.912
25.306
70.333

13.852
11.283
9.784
20.988
12.268
12.766
8.714
8.167
9.552
12.832
13.886
5.453
4.175
4.475
7.405
7.277
5.518
100.000

2009
15.257
8.778
28.644
7.462
6.077
5.580
9.602
189.276
13.759
33.344
19.704
12.687
20.566
25.707
64.898
15.157
18.446
6.734
6.333
11.286
8.301
8.778
28.184
76.398
8.182
14.707
12.649
10.838
24.673
13.878
14.423
9.926
9.319
10.799
14.123
15.794
6.019
4.801
5.022
8.373
8.168
6.278
141.307

2010*
17.024
9.986
32.300
8.234
6.517
6.177
10.744
213.205
15.387
37.553
21.966
14.203
23.287
29.225
74.186
17.119
20.775
7.563
6.993
12.279
9.012
9.791
31.648
83.554
9.002
16.148
13.775
12.008
27.473
15.617
16.115
10.960
10.432
12.107
15.848
17.141
6.580
5.411
5.622
9.540
9.062
6.996
156.260

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2011**
19.054
11.353
36.646
9.192
7.293
7.015
12.037
241.917
17.130
41.494
24.339
15.862
26.560
33.091
84.513
19.334
23.460
8.143
7.526
13.732
9.880
10.850
34.506
89.579
10.024
17.595
14.740
12.874
29.578
16.932
17.365
11.737
11.454
13.011
17.215
18.502
7.250
6.208
6.323
11.053
10.559
7.801
111.845

79

Kode
5208
5271
5272
5200
5301
5302
5303
5304
5305
5306
5307
5308
5309
5310
5311
5312
5313
5314
5315
5316
5317
5318
5319
5320
5371
5300
6101
6102
6103
6104
6105
6106
6107
6108
6109
6110
6111
6112
6171
6172
6100
6201
6202

Kabupaten/Kota
LombokUtara
KotaMataram
KotaBima
NUSATENGGARABARAT
SumbaBarat
SumbaTimur
Kupang
TimorTengahSelatan
TimorTengahUtara
Belu
Alor
Lembata
FloresTimur
Sikka
Ende
Ngada
Manggarai
RoteNda
ManggaraiBarat
SumbaBaratDaya
SumbaTengah
Nageko
ManggaraiTimur
SabuRaijua
KotaKupang
NUSATENGGARATIMUR
Sambas
Bengkayang
Landak
Pontianak
Sanggau
Ketapang
Sintang
KapuasHulu
Sekadau
Melawai
KayongUtara
KubuRaya
KotaPontianak
KotaSingkawang
KALIMANTANBARAT
KotawaringinBarat
KotawaringinTimur

80

2007

8.077
5.025
7.697
4.613
4.650
4.660
3.574
3.039
4.168
3.379
2.472
4.802
4.103
4.593
4.725
2.817
4.436
3.525
2.395
3.212
3.538

10.298
4.331
8.497
8.057
6.599
10.696

9.737
10.139
7.679
7.740
4.883
4.000
7.074
15.433
9.876
10.158
15.034
14.535

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2008

9.323
5.618
8.017
5.164
5.342
5.183
4.100
3.341
4.435
3.574
2.782
4.939
4.532
5.236
5.400
3.444
4.229
3.944
2.630
3.716
4.507
2.796

11.333
4.804
9.513
9.127
7.453
8.137
13.985
10.696
11.654
8.627
8.845
5.441
4.421
8.059
17.424
11.037
11.363
16.390
16.545

2009
6.372
10.461
6.330
9.881
5.781
5.834
5.793
4.573
3.678
4.842
3.925
3.101
5.437
4.972
5.852
5.963
3.848
4.541
4.263
2.934
4.201
4.892
3.036

12.355
5.257
10.634
10.067
8.154
8.714
15.318
11.613
12.126
9.608
9.686
6.036
4.841
8.807
20.321
12.063
12.445
17.678
18.636

2010*
7.029
11.988
7.016
11.013
6.494
6.471
6.921
5.064
4.064
5.291
4.399
3.476
6.068
5.542
6.560
6.696
4.185
4.982
4.581
3.267
4.750
5.417
3.428
4.474
13.927
5.922
11.900
10.945
8.983
9.484
17.567
12.573
13.830
10.732
10.682
6.695
5.485
9.904
22.654
13.510
13.763
19.125
21.267

2011**
7.758
13.534
7.822
10.720
7.282
7.240
7.664
5.651
4.405
5.622
4.859
3.960
7.744
6.105
7.706
7.320
4.401
5.553
4.903
3.688
5.239
5.859
3.829
5.263
15.597
6.533
13.301
12.186
10.013
10.449
19.774
13.954
15.760
12.003
11.734
7.465
6.133
11.092
24.898
15.095
15.081
21.394
24.310


Kode
6203
6204
6205
6206
6207
6208
6209
6210
6211
6212
6213
6271
6200
6301
6302
6303
6304
6305
6306
6307
6308
6309
6310
6311
6371
6372
6300
6401
6402
6403
6404
6405
6406
6407
6408
6409
6410
6471
6472
6473
6474
6400
7101

Kabupaten/Kota

Kapuas
BaritoSelatan
BaritoUtara
Sukamara
Lamandau
Seruyan
Katingan
PulangPisau
GunungMas
BaritoTimur
MurungRaya
KotaPalangkaRaya
KALIMANTANTENGAH
TanahLaut
KotaBaru
Banjar
BaritoKuala
Tapin
HuluSungaiSelatan
HuluSungaiTengah
HuluSungaiUtara
Tabalong
TanahBumbu
Balangan
KotaBanjarmasin
KotaBanjarBaru
KALIMANTANSELATAN
Pasir
KutaiBarat
Kutai
KutaiTimur
Berau
Malinau
Bulongan
Nunukan
PenajamPaserUtara
TanaTidung
KotaBalikpapan
KotaSamarinda
KotaTarakan
KotaBontang
KALIMANTANTIMUR
BolaangMongondow

2007
10.002
12.405
14.051
19.987
13.525
14.179
13.484
7.762
10.068
11.350
15.863
11.600
13.279
10.469
24.569
9.537
10.595
9.568
7.180
5.922
5.030
16.656
16.961
17.528
11.232
7.425
11.502
29.685
25.427
128.591
84.476
34.682
19.423
19.884
21.516
16.623

54.987
24.070
24.446
416.450
69.787
6.425

2008
11.693
14.221
15.545
20.640
14.460
14.969
15.178
8.639
11.015
12.418
17.147
13.344
15.307
11.286
27.038
10.848
11.208
10.989
8.233
6.861
5.642
17.712
18.906
19.081
12.380
8.205
13.114
40.468
66.060
178.177
106.237
37.401
23.189
21.446
25.099
20.343

73.192
27.456
29.782
557.022
95.096
7.639

2009
13.126
15.788
17.263
21.285
15.248
15.749
16.430
9.538
11.667
13.551
19.230
14.423
17.066
12.370
29.688
12.352
11.936
12.088
9.160
7.909
6.425
20.738
21.616
21.033
14.218
8.871
14.440
44.752
36.341
148.760
114.826
40.490
26.215
21.794
24.809
18.461
21.359
67.323
29.841
32.358
378.700
83.139
8.254

2010*
14.975
17.896
19.365
23.298
17.135
17.683
18.198
10.780
13.148
15.094
21.672
16.356
19.267
13.984
33.308
13.697
13.113
13.230
10.197
8.821
7.493
28.036
24.179
25.635
15.556
9.457
16.495
57.344
41.375
160.016
133.971
45.115
32.263
22.694
27.288
20.453
22.777
73.997
33.147
35.610
369.240
90.597
9.170

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2011**
16.675
20.093
21.827
25.846
19.175
19.745
20.388
12.003
14.796
16.914
24.936
18.430
21.818
15.588
36.977
15.238
14.220
14.163
10.969
9.948
8.387
31.843
26.815
30.608
17.602
10.328
18.466
69.728
47.144
189.712
172.298
51.652
39.368
23.197
31.860
25.902
24.038
77.923
36.297
39.567
414.942
105.849
10.396

81

Kode
7102
7103
7104
7105
7106
7107
7108
7109
7110
7111
7171
7172
7173
7174
7100
7201
7202
7203
7204
7205
7206
7207
7208
7209
7210
7271
7200
7301
7302
7303
7304
7305
7306
7307
7308
7309
7310
7311
7312
7313
7314
7315
7316

Kabupaten/Kota
Minahasa
Kep.SangiheTalaud
KepulauanTalaud
MinahasaSelatan
MinahasaUtara
BolaangMongondowUtara
MinahasaTenggara
Kep.SiauTagulandangBiaro
BolaangMongondowSelatan
BolaangMongondowTimur
Manado
KotaBitung
KotaTomohon
KotaKotamobago
SULAWESIUTARA
BanggaiKepulauan
Banggai
Morowali
Poso
Donggala
ToliToli
Buol
ParigiMoutong
TojoUnaUna
Sigi
KodyaPalu
SULAWESITENGAH
Selayar
Bulukumba
Bantaeng
Jeneponto
Takalar
Gowa
Sinjai
Maros
PangkajeneKepulauan
Barru
Bone
Soppeng
Wajo
SidenrengRappang
Pinrang
Enrekang

82

2007
9.821
7.145
7.061
9.125
9.811
6.915
11.725
5.803

18.509
16.328
10.729
5.920
10.993
5.700
7.669
11.040
8.162
9.070
8.249
6.679
10.287
5.265

11.897
9.309
5.437
5.699
5.946
3.843
4.914
4.639
7.125
4.896
10.646
6.184
6.263
7.130
8.565
7.463
8.888
6.119

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2008
11.015
8.368
7.528
10.434
11.318
7.793
13.327
6.805

21.572
17.827
12.389
6.943
12.939
6.788
9.076
13.583
8.882
10.789
9.789
7.874
12.142
6.625

14.257
11.302
6.471
6.967
7.140
4.611
5.885
5.530
8.763
5.730
12.777
7.460
7.541
8.719
10.258
9.057
10.810
7.210

2009
12.414
9.851
8.269
11.728
12.720
8.790
15.215
7.900
7.237
10.625
25.721
19.167
13.444
8.023
14.712
7.675
10.705
14.720
9.467
11.721
11.193
8.783
13.554
7.719
12.961
16.074
12.533
7.601
8.305
8.728
5.493
6.891
6.723
10.536
6.823
15.188
8.723
8.985
10.360
12.149
10.949
12.891
8.558

2010*
13.976
11.682
9.189
13.255
14.083
10.003
17.027
9.293
8.170
12.060
29.043
20.587
14.475
9.247
16.256
8.708
12.765
18.011
10.189
13.485
12.754
9.881
15.344
8.719
14.602
18.261
14.163
9.273
9.537
10.367
6.634
7.623
7.784
12.294
8.144
17.595
10.037
10.493
12.190
14.047
12.382
15.068
10.099

2011**
15.492
13.220
10.476
15.195
15.236
11.597
19.463
11.413
9.480
13.716
32.393
22.303
16.002
10.350
18.075
9.834
15.218
21.846
11.552
15.595
14.409
11.167
17.204
9.804
16.235
30.746
16.514
11.243
10.755
12.209
7.731
8.696
8.994
13.995
9.432
20.767
11.359
12.189
14.196
17.111
15.350
17.529
11.926


Kode
7317
7318
7322
7325
7326
7371
7372
7373
7300
7401
7402
7403
7404
7405
7406
7407
7408
7409
7410
7471
7472
7400
7501
7502
7503
7504
7505
7571
7500
7601
7602
7603
7604
7605
7600
8101
8102
8103
8104
8105
8106
8107
8108

Kabupaten/Kota

Luwu
TanaToraja
LuwuUtara
LuwuTimur
TorajaUtara
KotaMakasar
KotaParePare
KotaPalopo
SULAWESISELATAN
Buton
Muna
Konawe/KabKendari
Kolaka
KonaweSelatan
Bombana
Wakatobi
KolakaUtara
KonaweUtara
ButonUtara
KotaKendari
KotaBauBau
SULAWESITENGGARA
Boalemo
Gorontalo
Pokuwato
BoneBolango
GorontaloUtara
KotaGorontalo
GORONTALO
Majene
PolewaliMamasa
Mamasa
Mamuju
MamujuUtara
SULAWESIBARAT
MalukuTenggaraBarat
MalukuTenggara
MalukuTengah
Buru
KepulauanAm
SeramBagianBarat
SeramBagianTimur
MalukuBaratDaya

2007
6.979
4.155
6.676
28.831

16.301
3.565
8.461
8.907
4.689
6.486
6.858
14.820
6.029
5.437
4.983
11.194
10.047
12.713
10.849
9.778
8.528
4.431
3.511
6.065
4.570
3.032
5.910
4.878
5.655
4.759
5.066
6.458
7.164
5.765
3.917
3.257
2.416
2.861
3.791
2.733
2.220

2008
8.265
5.172
8.254
30.056

20.066
10.316
9.926
10.825
5.801
7.958
8.348
17.008
7.534
6.700
6.137
12.970
12.234
15.519
13.360
11.880
10.335
5.121
4.493
7.330
5.271
3.740
6.814
5.921
6.747
5.683
6.550
7.898
9.116
7.525
4.279
3.545
2.648
3.018
4.106
2.990
2.405

2009
9.698
5.729
9.400
27.014
5.869
23.690
11.901
11.410
12.567
6.796
9.122
9.728
17.563
8.962
7.483
7.608
14.474
14.231
18.207
15.387
13.985
11.705
5.658
5.923
8.284
5.944
4.295
7.620
6.933
7.549
6.543
7.586
8.803
10.192
8.311
4.708
3.867
2.929
2.825
4.435
3.276
2.592
4.679

2010*
11.181
6.658
10.674
34.123
6.917
27.645
13.894
13.160
14.669
7.535
9.736
10.465
19.706
9.951
8.075
8.673
15.546
15.486
19.935
16.730
15.204
12.707
6.150
6.755
9.367
6.455
5.086
8.854
7.745
9.720
9.587
9.555
11.293
14.956
9.482
5.140
4.327
3.282
3.035
4.806
3.619
2.789
5.245

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2011**
12.956
8.054
12.298
39.387
8.319
32.118
15.882
15.291
16.929
8.633
10.650
11.394
22.585
10.962
8.846
9.819
17.245
17.173
22.004
18.601
16.742
14.068
6.713
7.399
10.836
7.030
6.031
9.986
8.612
9.720
9.587
9.555
11.293
14.956
10.844
5.761
5.008
3.791
3.454
5.306
4.112
3.193
5.855

83

Kode
8109
8171
8172
8100
8201
8202
8203
8204
8205
8206
8207
8271
8272
8200
9101
9102
9103
9104
9105
9106
9107
9108
9109
9110
9171
9100
9401
9402
9403
9404
9408
9409
9410
9411
9412
9413
9414
9415
9416
9417
9418
9419
9420

Kabupaten/Kota
BuruSelatan
KotaAmbon
KotaTual
MALUKU
HalmaheraBarat
HalmaheraTengah
KepulauanSula
HalmaheraSelatan
HalmaheraUtara
HalmaheraTimur
PulauMorotai
KotaTernate
KotaTidoreKepulauan
MALUKUUTARA
FakFak
Kaimana
TelukWondama
TelukBintuni
Manokwari
SorongSelatan
Sorong
RajaAmpat
Tambrauw
Maybrat
KotaSorong
PAPUABARAT
Merauke
Jayawijaya
Jayapura
Nabire
YapenWaropen
BiakNamfor
Paniai
PuncakJaya
Mimika
BovenDigoel
Mappi
Asmat
Yahukimo
PegununganBintang
Tolikara
Sarmi
Keerom

84

2007

2008

3.887
8.244
4.022
2.480
6.197
2.916
3.139
3.058
4.395

3.296
3.329
3.264
14.716
13.073
8.790
15.139
9.953
5.342
44.882
20.016

11.211
15.143
12.852
2.554
10.790
7.540
6.733
9.016
2.732
3.440
252.610
18.783
5.243
5.037
1.117
3.561
2.912
14.366
11.136

4.132
8.928
4.307
2.743
7.105
3.389
3.699
3.438
5.190

3.935
3.888
3.895
17.524
15.311
12.098
18.557
12.466
6.713
63.008
23.048

13.743
19.690
14.278
2.773
12.425
8.659
7.638
9.929
3.171
4.384
251.819
22.233
6.659
6.373
1.542
5.946
3.285
16.876
12.633

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2009
4.040
4.407
9.523
4.726
3.062
8.974
3.906
4.106
4.139
5.907

4.609
4.384
4.619
19.646
17.071
14.221
38.401
14.122
9.356
82.118
25.386
5.787
5.073
14.921
24.660
16.415
5.167
14.643
12.739
8.165
10.930
3.280
5.706
302.998
25.135
8.254
6.969
1.960
7.993
3.742
19.167
14.909

2010*
4.341
4.819
10.390
5.272
3.421
10.271
4.422
4.521
4.910
6.580
3.898
5.341
4.935
5.192
22.571
19.215
14.978
165.485
15.697
10.364
87.309
26.383
6.591
5.651
16.780
35.348
18.677
5.783
17.265
14.328
9.288
12.280
3.077
6.120
324.705
28.259
9.254
8.104
2.469
9.911
4.385
21.814
17.321

2011**
4.932
5.513
12.276
6.088
3.762
11.395
4.894
4.933
5.440
7.232
4.278
6.024
5.330
5.697
24.862
20.759
16.975
277.934
17.135
11.808
93.337
27.117
7.145
6.215
18.431
45.843
19.782
6.289
18.918
15.155
9.375
12.676
3.238
6.188
224.861
30.905
10.262
9.198
2.900
10.906
4.682
24.516
18.837


Kode
9426
9427
9428
9429
9430
9431
9432
9433
9434
9435
9436
9471
9400

Kabupaten/Kota

Waropen
Supiori
MembramoRaya
Nduga
LannyJaya
MamberamoTengah
Yalimo
Puncak
Dogiyai
IntanJaya
Deiyai
KotaJayapura
PAPUA

2007
6.904
17.548
6.729

16.944
22.747

2008
8.030
19.919
8.180

21.012
23.985

2009
9.718
21.627
11.106
1.536
1.605
2.778
2.137
4.179
5.365

25.904
28.459

2010*
12.035
23.476
15.047
1.921
2.014
3.967
2.964
5.099
6.484
4.633
3.657
23.986
30.979

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

2011**
14.242
24.130
19.942
2.550
2.811
5.418
3.850
6.121
7.173
5.785
4.252
33.267
25.531

85

LAMPIRAN:PERSENTASEPENDUDUKMISKINKABUPATEN/KOTATAHUN20072011,(DALAM%).

Kode
1100
1101
1102
1103
1104
1105
1106
1107
1108
1109
1110
1111
1112
1113
1114
1115
1116
1117
1118
1171
1172
1173
1174
1175
1200
1201
1202
1203
1204
1205
1206
1207
1208
1209
1210
1211
1212
1213
1214
1215
1216

86

Provinsi/kabupaten/kota
Aceh
Simeulue
AcehSingkil
AcehSelatan
AcehTenggara
AcehTimur
AcehTengah
AcehBarat
AcehBesar
Piddie
Bireuen
AcehUtara
AcehBaratDaya
GayoLues
AcehTamiang
NaganRaya
AcehJaya
BenerMeriah
PidieJaya
KotaBandaAceh
KotaSabang
KotaLangsa
KotaLhokseumawe
KotaSubulussalam
SUMATERAUTARA
Nias
MandailingNatal
TapanuliSelatan
TapanuliTengah
TapanuliUtara
TobaSamosir
LabuhanBatu
Asahan
Simalungun
Dairi
Karo
DeliSerdang
Langkat
NiasSelatan
HumbangHasundutan
PakpakBarat

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
19,48
26,65 23,55
21,8 20,98
22,96
32,26 26,45 24,72 23,61
18,93
28,54 23,27 21,06 19,38
15,52
24,72 19,40
17,5 15,93
16,39
21,60 18,51 16,77 16,78
18,01
28,15 24,05 21,33 18,42
19,58
24,41 23,36 21,43 20,09
23,81
32,63 29,96 27,09 24,42
18,36
26,69 21,52 20,09
18,8
23,19
33,31 28,11 25,87
23,8
19,06
27,18 23,27 21,65
19,5
22,89
33,16 27,56 25,29 23,43
19,49
28,63 23,42 21,33 19,93
23,38
32,31 26,57 24,22
23,9
17,49
22,19 22,29 19,96 17,98
23,38
33,61 28,11 26,22 24,06
19,80
29,28 23,86 21,86 20,17
25,50
26,55 29,21 26,58 26,22
25,43
35,00 30,26 27,97 26,07
9,08
6,61
9,56
8,64
9,19
21,31
27,13 25,72 23,89 21,68
14,66
14,25 17,97
16,2 15,01
13,73
12,75 15,87 15,08 14,07
23,85
30,16 28,99
26,8 24,33
10,83
13,90 12,47 11,51 11,31
19,11
31,74 25,19 22,57 19,97
11,98
18,74 14,46 13,02
12,6
11,40
20,33 13,77 12,67 11,96
15,96
27,47 19,35 17,83 16,73
11,89
20,06 14,15
13,1 12,49
9,67
15,28 11,62 10,07 10,15
10,15
12,33 10,76
9,85 10,67
10,85
13,77 12,89 12,09 11,42
10,21
14,84 14,75 12,67 10,73
9,48
15,82 11,07 10,03
9,97
10,49
14,47 12,86 11,42 11,02
5,10
5,67
5,16
5,17
5,34
10,31
18,23 14,81 12,75 10,84
19,71
33,84 24,36 22,19 20,72
10,09
18,84 12,99 11,31
10,6
13,16
22,42 15,02 13,99 13,78

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kode
1217
1218
1219
1220
1221
1222
1223
1224
1225
1271
1272
1273
1274
1275
1276
1277
1278
1300
1301
1302
1303
1304
1305
1306
1307
1308
1309
1310
1311
1312
1371
1372
1373
1374
1375
1376
1377
1400
1401
1402
1403
1404

Provinsi/kabupaten/kota
Samosir
SerdangBedegai
BatuBara
PadangLawasUtara
PadangLawas
LabuhanBatuSelatan
LabuhanBatuUtara
NiasUtara
NiasBarat
KotaSibolga
KotaTanjungBalai
KotaPematangSiantar
KotaTebingTinggi
KotaMedan
KotaBinjai
KotaPadangSidempuan
KotaGunungSitoli
SUMATERABARAT
KepulauanMentawai
PesisirSelatan
Solok
SawahLunto/Sijunjung
TanahDatar
PadangPariaman
Agam
LimapuluhKoto
Pasaman
SolokSelatan
DharmasRaya
PasamanBarat
KotaPadang
KotaSolok
KotaSawahLunto
KotaPadangPanjang
KotaBukitTinggi
KotaPayakumbuh
KotaPariaman
RIAU
KuantanSengingi
IndragiriHulu
IndragiriHilir
Pelalawan

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
15,67
27,76 18,76 17,55
16,5
10,07
11,84 10,61
9,51 10,59
11,67
17,89 13,64 12,87 12,28
10,64

11,83 11,19
10,56

11,9 11,13
14,86

0,0 15,58
11,77

0,0 12,32
30,44

0,0
31,9
29,32

0,0 30,89
13,18
9,73 17,67 15,82
13,9
15,52
11,52 18,35
17,1 16,31
11,15
9,46 13,36 12,25 11,72
12,44
9,67 16,50 14,58 13,04
9,63
7,17 10,43
9,58 10,05
7,00
5,72
8,12
7,04
7,33
10,08
10,92 11,61
9,77 10,53
32,12

0,0 33,86
8,99
11,90 10,57
9,54
9,5
18,85
15,99 22,86 20,54 19,74
9,75
13,21 11,36 10,56 10,22
11,19
17,59 13,43 12,15 11,74
9,94
15,35 11,51
9,8 10,45
6,57
7,72
7,52
6,93
6,9
11,26
17,12 14,15 12,41 11,86
9,39
12,59 11,20
9,86
9,84
9,96
14,79 11,01
9,98 10,47
10,42
17,920 14,44 12,47 10,96
10,61
17,43 13,41 11,66 11,11
10,09
14,42 12,53
11,4 10,56
9,14
9,59
13,76 10,96
9,61
6,02
4,97
6,40
5,72
6,31
6,72
4,59
7,32
6,76
6,99
2,34
2,25
1,94
2,42
2,47
7,25
5,19
8,24
7,58
7,6
6,49
5,23
7,20
6,19
6,82
10,09
7,77 10,96 10,15 10,58
5,66
5,9
5,87
5,33
5,48
8,17
11,20 10,79
9,48
8,65
10,19
19,03 16,51 14,42 12,57
7,25
14,63 12,05 10,25
8,9
7,65
14,57 13,19 11,11
9,41
11,93
18,07 18,63 16,71 14,51

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

87

Kode
1405
1406
1407
1408
1409
1410
1471
1473
1500
1501
1502
1503
1504
1505
1506
1507
1508
1509
1571
1572
1600
1601
1602
1603
1604
1605
1606
1607
1608
1609
1610
1611
1671
1672
1673
1674
1700
1701
1702
1703
1704
1705

88

Provinsi/kabupaten/kota
Siak
Kampar
RokanHulu
Bengkalis
RokanHilir
KepulauanMeranti
KotaPekanBaru
KotaDumai
JAMBI
Kerinci
Merangin
Sarolangun
Batanghari
MuaroJambi
TanjungJabungTimur
TanjungJabungBarat
Tebo
Bungo
KotaJambi
KotaSungaiPenuh
SUMATERASELATAN
OganKomeringUlu
Ogan Komering Ilir
MuaraEnim(Liot)
Lahat
MusiRawas
MusiBanyuasin
Banyuasin
Ogan Komering Ulu Selatan
Ogan Komering Ulu Timur
Ogan Ilir
EmpatLawang
KotaPalembang
KotaPrabumulih
KotaPagarAlam
KotaLubukLinggau
BENGKULU
BengkuluSelatan
RejangLebong
BengkuluUtara
Kaur
Seluma

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
5,29
6,01
7,09
5,71
6,49
8,52
10,73 11,45 10,04 10,47
10,66
21,86 18,05 15,49 13,03
6,72
10,69
8,94
7,91
8,25
7,58
9,41 10,59
9,32
9,3
34,53

0,0 42,56
3,45
2,24
3,63
3,92
4,2
5,27
6,28
7,42
6,08
6,45
7,90
10,27
9,28
8,77
8,34
7,36
11,30
7,71
7,25
7,83
7,68
12,10
9,50
8,65
8,07
9,10
16,11 11,69
9,85
9,66
9,56
15,42 10,49 10,11 10,19
4,98
7,13
4,35
4,54
5,29
11,60
13,44 13,49 12,21
12,4
10,43
12,79 13,43 11,65 11,08
6,05
8,69
6,34
6,1
6,42
5,35
7,63
5,12
5,32
5,7
9,27
5,04 11,63 10,54
9,9
3,42

0,0
3,64
13,95
19,15 17,67 16,28 15,47
11,58
15,69 14,64 13,17 12,28
15,06
22,50 17,67 16,17 15,98
13,71
19,87 17,98 15,96 14,51
17,92
28,09 23,21 20,98 19,02
18,25
32,93 24,27
21,4 19,38
18,99
33,60 25,45 22,76 20,06
11,66
17,72 15,38 13,72 12,39
10,84
18,96 14,56 12,73 11,53
9,23
16,03 12,12
9,95
9,81
13,18
21,57 17,78 15,65 13,97
13,82
23,50 18,37
15,8 14,73
14,13
15
8,98 16,66 14,75
12,19
7,57 15,39 13,93 12,93
9,24
9,75 10,23
9,66
9,81
14,43
14,25 17,36 15,12
15,3
17,36
22,13 19,12 18,59
18,3
22,55
35,24 27,53 25,08 22,62
16,79
16,38 16,94 15,79 15,11
14,40
22,74 16,43
16,1 14,75
22,26
38,18 26,01 23,49 21,22
20,90
36,45 24,74 23,07 20,81

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kode
1706
1707
1708
1709
1771
1800
1801
1802
1803
1804
1805
1806
1807
1808
1809
1810
1811
1812
1871
1872
1900
1901
1902
1903
1904
1905
1906
1971
2100
2101
2102
2103
2104
2105
2171
2172
3100
3101
3171
3172
3173
3174

Provinsi/kabupaten/kota
Mukomuko
Lebong
Kepahiang
BengkuluTengah
KotaBengkulu
LAMPUNG
LampungBarat
Tanggamus
LampungSelatan
LampungTimur
LampungTengah
LampungUtara
WayKanan
TulangBawang
Pesawaran
Pringsewu
Mesuji
TulangBawangBarat
KotaBandarLampung
KotaMetro
KEP.BANGKABELITUNG
Bangka
Belitung
BangkaBarat
BangkaTengah
BangkaSelatan
BelitungTimur
KotaPangkalPinang
KEPULAUANRIAU
Karimun
KabuaptenBintan
Natuna
Lingga
KepulauanAnambas
KotaBatam
KotaTanjungPinang
DKIJAKARTA
KepulauanSeribu
KotaJakartaSelatan
KotaJakartaTimur
KotaJakartaPusat
KotaJakartaBarat

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
13,28
20,06 15,76 15,39 14,06
12,43
18,08 14,33 13,94 13,01
15,02
17,55 17,03
16,6 14,78
6,49

0,0
6,42
22,23
9,20 18,16 17,57 17,69
16,58
22,19 20,93 20,22 18,94
15,99
24,77 21,74 19,13 17,12
17,06
22,17 20,91 19,79
18,3
19,23
26,94 24,72 22,83 20,61
19,66
27,21 23,35 20,86 21,06
15,76
22,06 19,89 18,67 16,88
26,33
32,16 31,24 28,96 28,19
17,63
25,96 22,34 20,92 18,81
10,11
13,03 11,17 10,48
10,8
19,06

22,73 20,48
11,62

0,0 12,45
8,07

0,0
8,65
7,11

0,0
7,63
13,61
9,44 15,41 14,39 14,58
12,90
11,53 15,91 15,07 13,77
5,16
9,54
7,89
7,37
7,51
5,36
10,53
8,79
7,61
7,81
6,97
11,59 10,62
9,78 10,13
3,59
6,71
5,18
5,22
5,25
5,56
8,07
10,36
8,52
7,84
4,23
7,41
5,60
6,04
6,18
7,13
15,58 12,61 11,07 10,36
4,15
6,850
5,74
5,79
6,02
6,79
10,30
8,73
8,27
8,05
5,93
8,69
7,29
6,48
7,21
6,04
11,73
7,61
7,01
7,33
4,06
8,74
4,83
4,35
4,83
12,98
30,06 18,19 16,56 15,81
3,95

0,0
4,8
6,11
7,65
7,22
6,76
7,26
10,52
12,92 14,30 13,42
12,6
3,64
4,61
3,86
3,8
4,04
11,53
15,12 13,56 12,66 13,01
3,43
3,74
3,41
3,52
3,8
3,06
4,02
3,39
3,42
3,4
3,56
3,99
3,58
3,68
3,97
3,44
4,04
3,41
3,44
3,81

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

89

Kode
3175
3200
3201
3202
3203
3204
3205
3206
3207
3208
3209
3210
3211
3212
3213
3214
3215
3216
3217
3271
3272
3273
3274
3275
3276
3277
3278
3279
3300
3301
3302
3303
3304
3305
3306
3307
3308
3309
3310
3311
3312
3313

90

Provinsi/kabupaten/kota
KotaJakartaUtara
JAWABARAT
Bogor
Sukabumi
Cianjur
Bandung
Garut
Tasikmalaya
Ciamis
Kuningan
Cirebon
Majalengka
Sumedang
Indramayu
Subang
Purwakarta
Karawang
Bekasi
BandungBarat
KotaBogor
KotaSukabumi
KotaBandung
KotaCirebon
KotaBekasi
KotaDepok
KotaCimahi
KotaTasikmalaya
KotaBanjar
JAWATENGAH
Cilacap
Banyumas
Purbalingga
Banjarnegara
Kebumen
Purworejo
Wonosobo
Magelang
Boyolali
Klaten
Sukoharjo
Wonogiri
Karanganyar

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
5,07
7,95
6,02
5,34
5,62
10,57
13,55 12,74 11,96 11,27
9,65
13,10 12,11 10,81
9,97
10,28
15,98 13,26 11,78 10,65
13,82
18,49 15,38 14,14 14,32
8,99
13,14
9,42
8,29
9,29
13,47
19,31 17,87
15,7 13,94
12,36
18,15 14,70
13,5 12,78
9,98
13,94 12,32 11,23 10,34
14,20
17,58 16,75 15,91 14,68
15,56
19,07 20,25 18,22 16,12
14,98
19,77 18,79 17,12 15,51
12,48
15,63 15,18 13,69 12,94
16,01
20,96 19,75 17,99 16,58
13,06
16,84 15,15 14,13 13,54
10,22
14,70 11,61 10,48 10,57
11,80
14,83 14,00
12,9 12,21
5,93
6,66
5,89
5,97
6,11
14,22
18,70 17,61 16,03 14,68
9,16
9,47
9,72
8,82
9,47
8,95
9,24
7,26 10,41
9,16
4,78
3,68
4,42
4,5
4,95
11,56
8,70 14,11 13,06
12
6,12
4,97
6,36
5,78
6,3
2,75
2,42
2,69
2,93
2,84
7,15
7,33
8,35
7,1
7,4
19,98
9,30 26,08 23,55 20,71
8,21
7,86
9,31
8,64
8,47
16,21
20,43 18,99 11,96 11,27
17,15
22,59 21,40 19,88 18,11
21,11
22,46 22,93 21,52
20,2
23,06
30,24 27,12 24,97 24,57
20,38
27,18 23,34 21,36 19,17
24,06
30,25 27,87 25,73
22,7
17,51
20,49 18,22 17,02 16,61
24,21
32,29 27,72 25,91 23,15
15,18
17,37 16,49 15,19 14,14
14,97
18,06 17,08 15,96 13,72
17,95
22,27 21,72 19,68 17,47
11,13
14,02 12,13 11,51 10,94
15,74
24,44 20,71 19,08 15,67
15,29
17,39 15,68 14,73 13,98

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kode
3314
3315
3316
3317
3318
3319
3320
3321
3322
3323
3324
3325
3326
3327
3328
3329
3371
3372
3373
3374
3375
3376
3400
3401
3402
3403
3404
3471
3500
3501
3502
3503
3504
3505
3506
3507
3508
3509
3510
3511
3512
3513

Provinsi/kabupaten/kota
Sragen
Grobogan
Blora
Rembang
Pati
Kudus
Jepara
Demak
Semarang
Temanggung
Kendal
Batang
Pekalongan
Pemalang
Tegal
Brebes
KotaMagelang
KotaSurakarta
KotaSalatiga
KotaSemarang
KotaPekalongan
KotaTegal
DIYOGYAKARTA
KulonProgo
Bantul
GunungKidul
Sleman
KotaYogyakarta
JAWATIMUR
Pacitan
Ponorogo
Trenggalek
Tulungagung
Blitar
Kediri
Malang
Lumajang
Jember
Banyuwangi
Bondowoso
Situbondo
Probolinggo

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
17,95
21,24 20,83
19,7 17,49
17,38
25,14 19,84 18,68 17,86
16,24
21,46 18,79
17,7 16,27
23,71
30,71 27,21 25,86
23,4
14,69
19,79 17,90 15,92 14,48
9,45
10,73 12,58
10,8
9,01
10,32
10,44 11,05
9,6 10,18
18,21
23,50 21,24
19,7 18,76
10,30
12,34 11,37 10,66
10,5
13,38
16,55 16,39 15,05 13,46
14,26
20,70 17,87 16,02 14,47
13,47
20,79 18,08 16,61 14,67
15,00
20,31 19,52 17,93 16,29
20,68
22,79 23,92 22,17 19,96
11,54
18,50 15,78 13,98 13,11
22,72
27,93 25,98 24,39 23,01
11,06
10,01 11,16 10,11 10,51
12,90
13,64 16,13 14,99 13,96
7,80
9,01
8,47
7,82
8,28
5,68
5,26
6,00
4,84
5,12
10,04
6,62 10,29
8,56
9,36
10,81
9,36 11,28
9,88 10,62
16,14
18,99 18,02 17,23 16,83
23,62
28,61 26,85 24,65 23,15
17,28
19,43 18,54 17,64 16,09
23,03
28,90 25,96 24,44 22,05
10,61
12,56 12,34 11,45
10,7
9,62
9,75
9,78 10,81 10,05
13,85
19,98 18,19 16,68 15,26
18,13
23,31 21,17 19,01
19,5
12,29
18,23 16,62 14,63 13,22
14,90
22,79 20,64 18,27 15,98
9,90
17,83 12,41
10,6 10,64
11,29
16,47 14,53 13,19 12,13
14,44
18,98 18,85 17,05 15,52
11,67
15,66 15,08 13,57 12,54
13,01
20,09 18,17 15,83 13,98
12,44
18,57 17,74 15,43 13,27
10,47
15,33 13,91 12,16 11,25
16,66
24,23 22,23 20,18 17,89
15,11
15,60 18,02 15,99 16,23
23,48
27,42 30,13 27,69 25,22

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

91

Kode
3514
3515
3516
3517
3518
3519
3520
3521
3522
3523
3524
3525
3526
3527
3528
3529
3571
3572
3573
3574
3575
3576
3577
3578
3579
3600
3601
3602
3603
3604
3671
3672
3673
3674
5100
5101
5102
5103
5104
5105
5106
5107

92

Provinsi/kabupaten/kota
Pasuruan
Sidoarjo
Mojokerto
Jombang
Nganjuk
Madiun
Magetan
Ngawi
Bojonegoro
Tuban
Lamongan
Gresik
Bangkalan
Sampang
Pamekasan
Sumenep
KotaKediri
KotaBlitar
KotaMalang
KotaProbolinggo
KotaPasuruan
KotaMojokerto
KotaMadiun
KotaSurabaya
KotaBatu
BANTEN
Pandeglang
Lebak
Tangerang
Serang
KotaTangerang
KotaCilegon
KotaSerang
KotaTangerangSelatan
BALI
Jembrana
Tabanan
Badung
Gianyar
Klungkung
Bangli
Karangasem

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
12,26
19,88 18,04 15,58 13,18
6,97
13,05
8,35
6,91
7,45
11,38
14,86 14,61 13,24 12,23
12,88
21,21 16,46 14,46 13,84
13,88
23,79 19,77 17,22 14,91
14,37
20,98 18,50 16,97 15,45
12,01
16,87 15,67 13,97 12,94
16,74
23,33 20,86 19,01 18,26
17,47
26,37 23,87 21,27 18,78
18,78
28,51 25,84 23,01 20,19
17,41
25,79 22,51 20,47
18,7
15,33
23,98 21,43 19,14 16,42
26,22
31,56 32,70 30,45 28,12
30,21
39,42 34,53 31,94 32,47
20,94
32,43 26,32 24,32 22,47
23,10
32,98 29,46 26,89 24,61
8,63
13,67 11,71 10,41
9,31
7,12
12,02
9,34
7,56
7,63
5,50
7,19
7,22
5,6
5,9
17,74
16,19 23,29 21,06 19,03
8,39
9
12,61 11,20
9,34
6,89
7,41
10,46
8,88
7,19
5,66
7,07
6,69
5,9
6,1
6,58
7,07
7,98
8,23
6,72
4,74
9,71
6,18
4,81
5,1
6,26
9,07
8,20
7,64
7,16
9,80
15,64 12,55 12,01 11,14
9,20
14,43 12,05 10,63 10,38
6,42
7,18
7,41
6,55
7,18
5,63
9,47
6,48
5,8
6,34
6,14
6,88
4,92
6,83
6,42
3,98
4,71
3,95
4,14
4,46
6,25

6,19
7,02
1,50

0,0
1,67
4,59
6,63
5,85
5,13
4,88
6,56
9,92
7,97
6,8
8,11
5,62
7,46
6,92
4,99
6,96
2,62
4,28
3,28
3,28
3,23
5,40
5,98
6,61
5,76
6,68
6,10
9,14
7,03
5,23
7,58
5,16
7,48
6,12
5,18
6,41
6,43
8,95
7,67
6,37
7,95

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kode
5108
5171
5200
5201
5202
5203
5204
5205
5206
5207
5208
5271
5272
5300
5301
5302
5303
5304
5305
5306
5307
5308
5309
5310
5311
5312
5313
5314
5315
5316
5317
5318
5319
5320
5371
6100
6101
6102
6103
6104
6105
6106

Provinsi/kabupaten/kota
Buleleng
KotaDenpasar
NUSATENGGARABARAT
LombokBarat
LombokTengah
LombokTimur
Sumbawa
Dompu
Bima
SumbawaBarat
LombokUtara
KotaMataram
KotaBima
NUSATENGGARATIMUR
SumbaBarat
SumbaTimur
Kupang
TimorTengahSelatan
TimorTengahUtara
Belu
Alor
Lembata
FloresTimur
Sikka
Ende
Ngada
Manggarai
RoteNdao
ManggaraiBarat
SumbaBaratDaya
SumbaTengah
Nageko
ManggaraiTimur
SabuRaijua
KotaKupang
KALIMANTANBARAT
Sambas
Bengkayang
Landak
Pontianak
Sanggau
Ketapang

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
5,93
8,68
7,45
5,95
7,35
1,79
2,1
2,19
2,2
2,21
19,67
24,99 23,40 22,78 21,55
19,70
28,97 25,97 24,02 21,59
18,14
25,74 22,32 20,94 19,92
21,71
25,60 25,43 23,96 23,82
19,82
28,78 25,31 23,85 21,74
18,17
28,57 24,52 21,76 19,89
17,66
25,12 21,79 20,42 19,41
19,88
28,63 24,27 23,01 21,81
39,27

0,0 43,12
13,18
9,67 16,13 15,41 14,44
11,69
11,85 14,38 13,65 12,81
20,48
27,51 25,68 23,31 23,03
29,84
42,74 37,85 35,39 31,71
30,63
39,08 37,14 34,68 32,41
19,54
31,32 26,95 24,16 20,78
26,96
37,43 33,55 31,14
28,7
21,33
30,12 27,74 24,96 22,72
14,61
21,02 19,69 17,47 15,48
19,97
28,49 25,14 22,84 21,16
25,17
34,45 29,24 26,39 26,74
9,06
14,38 13,21 11,04
9,61
12,63
19,15 17,34 15,35 13,38
20,37
20,33 24,87 23,01 21,64
11,36
17,28 15,49 13,54 12,05
21,39
31,41 28,57 25,76
22,9
30,99
28,26 36,58 34,09 32,78
19,27
27,96 25,05 22,96 20,39
32,10
42,96 36,45 34,27 34,02
27,93
43,05 38,65 35,83 29,87
12,01
16,05 14,53 13,03
12,7
24,52

25,51 25,93
39,49

0,0 41,13
9,88
7,5 14,66 12,51 10,56
8,48
12,91 10,87
9,3
9,02
9,38
14,00 11,51
9,96 10,08
7,25
11,88
9,41
7,82
7,81
13,13
24,95 18,65 15,48 14,05
5,97
8,26
7,03
5,46
6,41
4,67
7,97
6,25
4,62
5,02
12,75
17,94 15,21 13,08 13,67

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

93

Kode
6107
6108
6109
6110
6111
6112
6171
6172
6200
6201
6202
6203
6204
6205
6206
6207
6208
6209
6210
6211
6212
6213
6271
6300
6301
6302
6303
6304
6305
6306
6307
6308
6309
6310
6311
6371
6372
6400
6401
6402
6403
6404

94

Provinsi/kabupaten/kota
Sintang
KapuasHulu
Sekadau
Melawi
KayongUtara
KubuRaya
KotaPontianak
KotaSingkawang
KALIMANTANTENGAH
KotawaringinBarat
KotawaringinTimur
Kapuas
BaritoSelatan
BaritoUtara
Sukamara
Lamandau
Seruyan
Katingan
PulangPisau
GunungMas
BaritoTimur
MurungRaya
KotaPalangkaRaya
KALIMANTANSELATAN
TanahLaut
KotaBaru
Banjar
BaritoKuala
Tapin
HuluSungaiSelatan
HuluSungaiTengah
HuluSungaiUtara
Tabalong
TanahBumbu
Balangan
KotaBanjarmasin
KotaBanjarBaru
KALIMANTANTIMUR
Pasir
KutaiBarat
Kutai
KutaiTimur

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
9,07
17,1 13,61 11,55
9,76
10,61
15,05 11,44
9,93 11,39
6,30
10,25
7,66
6,42
6,77
12,93
19,50 14,80 12,62 13,76
10,91
18,90 14,50 12,43 11,68
6,67

6,78
7,14
6,15
6,62
6,77
9,29
6,38
5,69
7,02
7,89
6,2
6,12
6,64
9,38
8,36
7,02
6,77
6,19
8,66
7,76
6,87
6,97
7,43
11,33 10,40
8,21
8,36
6,28
9,30
8,25
6,34
7,11
7,56
10,43
9,25
8,14
8,57
6,33
8,61
7,56
6,43
7,18
5,90
9,00
7,92
5,91
6,63
5,18
7,76
6,97
5,57
5,81
8,82
11,25 10,21
8,84
9,98
6,47
8,68
7,74
7
7,56
5,45
9,18
8,20
6,23
6,18
7,12
9,29
8,32
7,43
8,06
9,27
12,34 11,09
9,24
10,5
6,30
8,91
7,95
6,94
7,05
4,69
5,75
4,64
4,76
5,31
5,35
7,01
6,21
5,12
5,21
4,85
7,62
6,06
5,11
5,12
5,18
8,61
6,75
5,55
5,45
3,17
4,24
3,68
3,69
3,34
5,41
8,17
7,18
5,61
5,72
5,29
8,42
6,10
4,93
5,57
7,25
9,68
9,32
7,32
7,66
5,98
8,14
7,12
5,73
6,31
7,31
11,16
8,53
7,29
7,76
6,22
11,25
8,13
6,83
6,53
6,17
8,22
5,79
5,89
6,48
7,31
11,35
7,75
7,22
7,74
4,77
2,90
4,77
4,8
5,04
5,68
4,08
6,07
5,2
5,98
6,63
11,04
8,53
7,73
7,66
7,91
16,00 10,97 10,11
9,48
8,25
14,04 10,60
8,97
9,9
7,21
12,59
9,29
8,03
8,68
9,43
17,51 13,20 11,88 11,38

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kode
6405
6406
6407
6408
6409
6410
6471
6472
6473
6474
7100
7101
7102
7103
7104
7105
7106
7107
7108
7109
7110
7111
7171
7172
7173
7174
7200
7201
7202
7203
7204
7205
7206
7207
7208
7209
7210
7271
7300
7301
7302
7303

Provinsi/kabupaten/kota
Berau
Malinau
Bulongan
Nunukan
PenajamPaserUtara
TanaTidung
KotaBalikpapan
KotaSamarinda
KotaTarakan
KotaBontang
SULAWESIUTARA
BolaangMongondow
Minahasa
SangiheTalaud
KepulauanTalaud
MinahasaSelatan
MinahasaUtara
BolaangMongondowUtara
MinahasaTenggara
Kep.SiauTagulandangBiaro
BolaangMongondowSelatan
BolaangMongondowTimur
KotaManado
KotaBitung
KotaTomohon
KotaKotamobago
SULAWESITENGAH
BanggaiKepulauan
Banggai
Morowali
Poso
Donggala
ToliToli
Buol
ParigiMoutong
TojoUnaUna
Sigi
KotaPalu
SULAWESISELATAN
Selayar
Bulukumba
Bantaeng

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
5,46
9,27
5,81
5,9
6,6
12,67
23,60 18,24 16,55 15,29
12,14
23,31 17,14 15,96 14,57
10,38
20,02 14,96 13,47 12,45
8,67
17,59 12,99 11,38 10,46
11,41

15,42
13,9
3,39
4,07
3,74
3,49
3,58
4,31
6,60
4,67
4,84
5,21
8,41
9,54 10,99
9,65 10,23
5,40
7,87
7,26
6,66
6,67
8,46
11,42
9,80
9,79
9,1
8,60
13,20 10,64 10,16
9,7
7,93
10,31
9,00
8,47
8,99
11,69
17,70 14,01 13,23 13,21
10,05
15,77 12,90 12,16 11,37
9,48
13,61 11,66 11,13 10,74
7,38
10,14
8,35
7,98
8,38
8,98
13,03 10,44
9,93 10,23
10,38
22,21 18,30 17,49 17,64
15,35
16,14 12,68 12,11 11,79
16,57

0,0 18,81
6,93

0,0
7,81
5,40
5,43
6,59
6,32
6,51
8,46
11,14
9,33
8,93
9,52
6,56
7,4
8,65
7,53
7,19
6,64
10,02
7,6
7,16
7,57
16,04
22,42 20,61 18,98 18,07
18,08
27,92 24,66 21,99 19,47
11,25
17,28 16,70
14,6 12,06
18,85
28,27 25,10 22,53 20,27
20,10
28,02 25,75 23,29 21,42
18,03
23,59 21,01 18,91 19,42
15,03
22,18 19,69 17,83 16,16
17,40
25,50 23,11 20,68 18,67
18,70
23,69 21,73 19,72 20,11
22,37
30,22 28,48 26,23 24,06
14,03

0,0 15,09
9,24
9,73 10,10
9,19
9,98
10,27
14,11 13,41 12,31
11,6
13,49
20,45 18,49 16,41 14,98
8,12
13,56 12,26
10,5
9,02
9,21
12,12 10,94
9,96 10,24

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

95

Kode
7304
7305
7306
7307
7308
7309
7310
7311
7312
7313
7314
7315
7316
7317
7318
7322
7325
7326
7371
7372
7373
7400
7401
7402
7403
7404
7405
7406
7407
7408
7409
7410
7471
7472
7500
7501
7502
7503
7504
7505
7571
7600

96

Provinsi/kabupaten/kota
Jeneponto
Takalar
Gowa
Sinjai
Maros
PangkajeneKepulauan
Barru
Bone
Soppeng
Wajo
SidenrengRappang
Pinrang
Enrekang
Luwu
TanaToraja
LuwuUtara
LuwuTimur
TorajaUtara
KotaMakasar
KotaParePare
KotaPalopo
SULAWESITENGGARA
Buton
Muna
Konawe/KabKendari
Kolaka
KonaweSelatan
Bombana
Wakatobi
KolakaUtara
KonaweUtara
ButonUtara
KotaKendari
KotaBauBau
GORONTALO
Boalemo
Gorontalo
Pohuwato
BoneBolango
GorontaloUtara
KotaGorontalo
SULAWESIBARAT

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
17,16
24,55 22,48 20,58 19,09
10,04
13,80 12,68 11,06 11,16
8,55
14,13 12,79 10,93
9,49
9,63
13,87 12,73 11,37 10,68
13,14
20,08 18,55 16,35 14,62
17,36
23,93 21,36 19,35 19,26
9,59
14,73 13,49 11,43 10,68
12,67
18,84 17,35 15,19 14,08
9,36
5,45 11,22
9,95 10,41
8,06
11,36 10,16
8,93
8,96
6,29
8,05
7,64
6,73
6,99
8,12
10,44
9,65
8,7
9,01
15,18
22,79 20,51
18,1 16,84
13,93
21,24 19,44 16,96 15,43
13,22
19,91 18,57 16,14 14,61
14,64
14,03 18,38
16,4 16,24
8,29
10,21 10,98
8,91
9,18
17,06

0,0 19,08
5,29
5,66
5,36
5,52
5,86
5,91
7,65
7,10
6,52
6,53
10,22
12,71 12,83 11,85 11,28
14,61
21,33 19,38 18,93 17,05
16,64
22,94 22,93 20,16 17,95
16,14
25,35 22,42 20,02 17,35
16,24
24,63
22,4 19,97 17,45
17,62
25,35 22,46 20,46
18,9
12,57
18,31 16,74 15,17 13,49
14,68
20,51 18,25 16,63
15,7
17,10
24,51 22,53 20,42 18,49
18,76
26,29 24,08 21,88 20,04
17,34
18,15 16,50 15,19 13,69
12,80
25,09 22,86 20,58 18,78
7,46
10,15
8,53
7,88
8,02
11,24
17,08 14,13 12,72 12,06
18,02
27,35 20,47 25,01 23,19
21,90
29,21 23,17 20,74 19,82
21,31
32,07 24,10 21,48 18,87
21,58
29,74 23,28 21,15 18,73
17,39
30,60
22,7 19,97 17,64
19,22
33,18 23,94
21,5 19,58
5,97
8,11
5,23
5,29
5,49
13,64
19,03 15,27 15,29 13,58

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

Kode
7601
7602
7603
7604
7605
8100
8101
8102
8103
8104
8105
8106
8107
8108
8109
8171
8172
8200
8201
8202
8203
8204
8205
8206
8207
8271
8272
9100
9101
9102
9103
9104
9105
9106
9107
9108
9109
9110
9171
9400
9401
9402

Provinsi/kabupaten/kota
Majene
PolewaliMamasa
Mamasa
Mamuju
MamujuUtara
MALUKU
MalukuTenggaraBarat
MalukuTenggara
MalukuTengah
Buru
Kepulauan Aru
Seram Bagian Barat
Seram Bagian Timur
MalukuBaratDaya
BuruSelatan
KotaAmbon
KotaTual
MALUKUUTARA
HalmaheraBarat
HalmaheraTengah
KepulauanSula
HalmaheraSelatan
HalmaheraUtara
HalmaheraTimur
PulauMorotai
KotaTernate
KotaTidoreKepulauan
PAPUABARAT
FakFak
Kaimana
TelukWondana
TelukBintuni
Manokwari
SorongSelatan
Sorong
RajaAmpat
Tambrauw
Maybrat
KotaSorong
PAPUA
Merauke
Jayawijaya

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
17,06
23,55 18,44 18,09 18,41
19,66
24,96
21,8 21,37 21,24
15,04
25,51 18,06 17,87 16,24
7,59
10,43
8,11
8,13
8,16
5,77
9,22
6,52
6,47
6,2
22,45
31,14 29,24 28,23 27,74
30,13
44,15 40,17 37,23 33,93
27,16
35,98 32,90 30,71
30,7
25,15
36,03 32,61 30,48 28,41
22,00
31,34 29,17 27,57 24,82
30,96
36,88 41,08 38,77 34,96
26,70
37,85 35,19 33,11 30,08
27,94
39,83 36,98 34,67 31,44
34,49

0,0 39,22
19,33

0,0 21,82
6,83
6,51
7,92
7,61
7,67
28,17

30,42 32,01
10,00
11,97 11,51 10,36
9,42
12,93
16,19 16,12 14,34
13,3
22,68
30,18 28,52 26,64 24,56
10,42
8,98
14,07 13,71 11,51
8,11
12,95 12,54 10,97
9,51
8,45
9,63
8,90
7,93
7,82
20,72
21,54 21,13 19,55
19,3
11,61

0,0 10,59
5,16
4,26
4,15
4,22
4,53
7,34
7,43
6,54
6,01
7,07
28,53
39,31 33,49 35,71 34,88
33,18
39,57 37,55 35,29 33,07
20,84
35,22 23,25 23,51 20,77
43,86
53,34 47,36 48,47 44,25
47,44
51,37 50,39 51,91 47,59
33,95
47,34 43,57
40,8 37,27
22,93
28,05 26,66 26,76 28,01
33,38
33,84 33,95 34,45 32,58
23,50
30,07 23,76 23,71 23,58
43,77

44,71
40,16

40,13
14,04
35,71 14,93 15,12 14,02
31,25
40,78 35,53 37,53
36,8
13,22
31,56 15,69 15,44 14,54
39,03
50,31 48,15
46,3 41,84

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013

97

Kode
9403
9404
9408
9409
9410
9411
9412
9413
9414
9415
9416
9417
9418
9419
9420
9426
9427
9428
9429
9430
9431
9432
9433
9434
9435
9436
9471

98

Provinsi/kabupaten/kota
Jayapura
Nabire
YapenWaropen
BiakNumfor
Paniai
PuncakJaya
Mimika
BovenDigoel
Mappi
Asmat
Yahukimo
PegununganBintang
Tolikara
Sarmi
Keerom
Waropen
Supiori
MembramoRaya
Nduga
LannyJaya
MamberamoTengah
Yalimo
Puncak
Dogiyai
IntanJaya
Deiyai
KotaJayapura

PresentasePendudukMiskin(%)
2011
2007
2008
2009 2010
17,30
30,91 21,80 20,77 18,64
30,86
45,56 37,56 35,69 33,68
30,76
43,54 37,31 36,13 33,54
30,31
46,98 37,06 36,51 33,61
37,18
52,18 48,29 47,68 43,47
40,25
49,42 46,92
43,8
20,78
32,73 26,63 24,74 22,57
23,52
29,52 27,49 27,01 25,79
30,14
34,04 36,23 34,94 33,11
32,38
33,49 39,77 38,69
35,4
42,49
48,34 50,63 49,61 46,21
36,23
45,81 43,77 40,08
37,81
45,30 45,08 44,63 41,17
19,42
31,20 24,52 22,63 21,09
21,98
27,07 27,19 25,57 24,12
36,23
46,93 44,50
44 39,88
42,73
53,25 50,92 50,66 45,75
36,38

44,43 39,98
39,49

47,28 42,53
43,68

47,73 46,55
43,69

47,07 43,15
40,65

47,76 44,13
40,77

49,2 44,65
30,40

36,57 33,96
41,53

0,0 47,82
45,76

0,0 49,58
16,03
25,30 18,67 17,87 17,31

ANALISIS KESENJANGAN ANTARWILAYAH 2013