Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENAGANAN HASIL


PERIKANAN TRADISIONAL
PENGERINGAN DAN PENGGARAMAN

Oleh :
Norayati Siregar
05111006026
Kelompok VII

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2012

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia yang tiga perempat wilayahnya berupa laut (5,8 juta km2) dan
merupakan ikan laut seluruhnya 6,4 juta ton/tahun atau sekitar 7% dari total potensi
lestari ikan laut di dunia. Artinya, jika kita dapat mengendalikan tingkat penangkapan
ikan laut lebih kecil dari 6,4 juta ton/tahun maka kegiatan usaha perikanan tangkap
semestinya dapat berlangsung secara lestari. Dalam dua puluh lima tahun terakhir
banyak sekali penemuan ilmiah dari para ahli gizi dan kesehatan dunia yang
membuktikan bahwa ikan dan jenis seafood lainnya sangat baik untuk kesehatan
serta kecerdasan manusia (Heru, 2004).
Ikan merupakan salah satu sumber zat gizi penting bagi proses kelangsungan
hidup manusia. Manusia telah memanfaatkan ikan sebagai bahan pangan sejak
beberapa abad yang lalu. Sebagai bahan pangan ikan mengandung zat gizi utama
berupa protein, lemak, vitamin dan mineral. Penanganan ikan setelah penangkapan
atau pemanenan memegang peranan penting untuk memperoleh nilai jual ikan yang
maksimal. Salah satu faktor yang menetukan nilai jual ikan dan hasil perikanan yang
lain adalah tingkat kesegarannya, mutunya, tahan lama, dan tidak cepat membusuk
(Junianto, 2003)
Proses yang dapat dilakukan untuk mempertahankan mutu dan ketahanan
ikan adalah dengan cara mengawetkan ikan yang dilakukan dengan penggaraman
dan pengeringan. Pengeringan merupakan salah satu cara pengawetan pangan yang
paling tua dan paling luas digunakan. Cara ini merupakan suatu proses yang ditiru
dari alam.

Pengeringan ikan didefinisikan sebagai pemanasan ikan dalam

lingkungan yang terkendali untuk membuang sebagian besar air yang terkandung
pada ikan melalui peristiwa penguapan (Sasi, 2000).
Pengawetan bahan pangan dengan cara pengeringan menggunakan matahari
merupakan pengeringan yang lebih sering dilakukan, terutama untuk hasil produk
perikanan. Pengeringan dengan menggunakan matahari dapat menghasilkan bahan
dengan kepekatan tinggi dengan kualitas yang lebih tahan (Desroirer, 2008).

Pengeringan yang akan dibahas adalah pengeringan dengan proses


penggaraman pada ikan. Pengeringan dilakukan setelah proses penggaraman.
Pengeringan

pada

ikan

dapat

dilakukan

dengan

penggaraman

atau

pengasinan. Pengasinan merupakan cara pengawetan ikan yang produknya paling


gampang ditemui diseluruh pelosok Indonesia. Pengeringan ikan sebenarnya tidak
harus dilakukan dengan bantuan sinar matahari secara langsung (penjemuran)
namun dapat juga dilakukan dengan pengasapan ataupun pengovenan. Teknologi
pengeringan tanpa sinar matahari ini dapat digunakan pada semua jenis ikan air
tawar maupun ikan air laut. Yang harus diperhatikan justru kesamaan ketebalan
daging ikan dalam proses pengeringan tersebut. Karena semakin tebal daging ikan
akan membuat

kecepatan

pengeringan semakin lambat dan justru

dapat

mengurangi kualitas dari ikan yang dikeringkan tersebut (Sasi, 2000).


Ikan hasil pengeringan tanpa bantuan sinar matahari secara langsung justru
memiliki kelebihan dibanding dengan ikan yang dikeringkan secara langsung dengan
matahari. Karena pada ikan-ikan yang dikeringkan dibawah sinar matahari (dijemur)
sangat rawan terhadap serangan lalat dan kontaminasi kotoran selama penjemuran
sehingga hal ini justru dapat mempengaruhi daya simpan ikan. Bila pengeringan
dengan dijemur itu tidak sempurna justru dapat menyebabkan ikan mudah busuk
terutama karena serangan jamur, belatung dan kutu (Desroirer, 2008).
B. Tujuan Praktikum
1. Untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai konsentrasi garam terhadap
mutu ikan asin yang dihasilkan, dan mengetahui metode penggaraman.
2. Melihat perubahan kadar air dan perubahan fisik pada setiap proses pengeringan
(pengeringan matahari dan pengeringan mekanis).

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sistematika Ikan
1. Sepat Siam ( Trichogaster pectoralis)
Sistematika Ikan Sepat Siam ( Trichogaster pectoralis ) menurut Junianto
(2003) adalah sebagai berikut :
filum
: Chordata
sub filum
: Vertebrata
class
: Pisces
sub class
: Teleostei
ordo
: Percomorphoidei
sub ordo
: Anabantoidei
family
: Anabantidae
genus
: Trichogaster
species
: Trichogaster pectoralis
Ikan sepat (Trichogaster pectoralis) merupakan ikan yang berasal dari Asia
Tenggara yaitu dari lembah sungai Mekong di Laos, Thailand, Kamboja, dan
Vietnam. Jenis ikan ini diintroduksi ke Indonesia pada tahun 1934 untuk
dikembangkan pembudidayaannya di kolam-kolam, sawah dan rawa. Pada tahun
1937 ikan sepat ini dimasukkan ke danau Tempe di Sulawesi dan berhasil
mendominasi 70% hasil tangkapan di danau tersebut selama 2 tahun. Hal ini tentu
saja prospektif jika diintroduksi ke seluruh kawasan di Indonesia dengan dukungan
penguasaan teknologi serta sistem budidaya yang memadai, sehingga dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat serta memenuhi kebutuhan gizi khususnya
dikalangan masyarakat pedesaan (Junianto, 2003).
Ikan sepat siam memiliki bentuk tubuh yang memanjang dan pipih. Bermulut
kecil dengan bibir yang tipis, satu sirip perut yang terdepan berubah menjadi
semacam cambuk yang dapat digerakkan. Punggung berwarna hijau kehitaman, tapi
pada bagian perut berwarna lebih terang. Pada bagian tubuh ikan sepat siam terdapat
satu garis hitam horizontal dari mata sampai ujung batang ekor, juga garis vertikal
yang tidak lurus mulai dari awal sirip dada sampai ekor, ikan sepat siam memiliki
sisik kecil-kecil dan panjang maksimumnya adalah sekitar 25 cm. Ikan sepat siam
hidup disungai dan rawa-rawa, mudah untuk dipelihara dikolam. Sepat siam dapat

tumbuh dengan cepat bila dipelihara di kolam dengan pakan alami berlimpah. Selain
makan plankton, ikan ini juga memakan tanaman air yang lunak (Junianto, 2003).
B. Penggaraman

Teknologi

penggaraman

biasanya

tidak

digunakan

sebagai

metode

pengawetan tunggal, biasanya masih dilanjutkan dengan proses pengawetan lain


seperti pengeringan ataupun dengan perebusan. Istilah penggaraman yang lebih
akrab dikenal dengan sebutan pengasinan merupakan cara pengawetan ikan yang
produknya paling gampang ditemui diseluruh pelosok Indonesia. Secara umum
pengertian penggaraman adalah suatu rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
mengawetkan produk hasil perikanan dengan menggunakan garam. Garam yang
digunakan adalah jenis garam dapur (NaCl), baik berupa Kristal maupun larutan
(Budiman, 2004).
Pengertian penggaraman adalah suatu rangkaian proses pengawetan ikan
dengan cara mencampurkan garam dengan ikan baik dalam bentuk Kristal maupun
larutan garam. Garam yang dicampurkan dengan ikan akan menyerap kandungan air
dalam tubuh ikan sehingga kegiatan metabolisme bakteri didalam tubuh ikan akan
dapat dihambat atau dihentikan. Pada dasarnya, metode penggaraman ikan dapat
dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu penggaraman kering (Dry Salting),
penggraman basah (Wet Salting) dan Kench Salting (Budiman, 2004).

Pengaraman Kering (dry salting)


Metode penggaraman kering menggunakan kristal garam yang dicampurkan

dengan ikan. Dalam proses penggaraman ikan ditempatkan didalam wadah yang
kedap air. Ikan disusun rapi dalam wadah selapis demi selapis dengan setiap lapisan
ikan ditaburi garam. Lapisan paling atas dan paling bawah wadah merupakan lapisan
garam. Garam yang digunakan pada proses penggaraman umumnya berjumlah 10% 35% dari berat ikan yangdigarami. Pada waktu ikan bersentuhan dengan kulit/daging
ikan (yang basah/berair), garam itu mula-mula akan membentuk larutan pekat.
Larutan ini kemudian akan meresap kedalam daging ikan melalui proses osmosa.

Jadi, kristal garam tidak langsung menyerap air, tetapi terlebih dahulu berubah jadi
larutan. Semakin lama larutan akan semakin banyak dan ini berarti kandungan air
dalam tubuh ikan semakin berkurang (Budiman, 2004).

Pengaraman Basah (wet salting/brine salting)


Penggaraman basah menggunakan larutan garam 30% - 35% (dalam 1liter air

terdapat 30 35 gram garam). Ikan yang akan digaramidimasukkan kedalam larutan


garam tersebut, kemudian bagian atas wadah ditutup dan diberi pemberat agar semua
ikan terendam. Lama waktu perendaman tergantung pada ukuran ketebalan tubuh
ikan dan derajat keasinan yang diinginkan. Dalam proses osmosa, kepekatan larutan
garam akan semakin berkurang karena adanya kandungan air yang keluar dari tubuh
ikan, sementara itu molekul garam masuk kedalam tubuh ikan. Proses osmosa akan
berhenti apabila kepekatan larutan diluar dan didalam tubuh ikan sudah seimbang
(Adawiyah, 2007).

Kench Salting
Pada dasarnya, teknik penggaraman ini sama dengan pengaraman kering (dry

salting) tetapi tidak mengunakan bak /wadah penyimpanan. Ikan dicampur dengan
garam dan dibiarkan diataslantai atau geladak kapal, larutan air yang terbentuk
dibiarkan mengalir dan terbuang. Kelemahan dari cara ini adalah memerlukanjumlah
garam yang lebih banyak dan proses penggaraman berlangsung sangat lambat
(Adawiyah, 2007).
C. Pengeringan
Pengeringan merupakan suatu proses metode pengawetan produk yang
pertama dilakukan oleh manusia. Selama proses pengeringan, ikan akan mengalami
pengurangan kadar air yang mengakibatkan proses metabolisme bakteri pembusuk
dalam tubuh ikan menjadi terganggu. Sehingga proses kemunduran mutu ikan dapat
dihambat atau dihentikan (Sasi, 2000).
Dasar pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena
perbedaan kandungan uap air antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Dalam
hal ini, kandungan uap air udara lebih sedikit atau udara mempunyai kelembaban

nisbi yang rendah sehingga terjadi penguapan. Peralatan yang diperlukan selama
proses pengeringan terdiri dari wadah pencucian, para-para (untuk pengawetan
alami), ruang pengeringan (untuk pengeringan mekanis), dan kardus pengepakan.
(Suparmoko, 1999)
Cara pengeringan bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengeringan alami
dan pengeringan mekanis.
a. Pengeringan alami
Pengeringan alami adalah proses pengeringan yang dilakukan dengan
menggunakan media angin dan sinar matahari. Dalam pengeringan alami ikan
dijemur diatas rak-rak yang diletakkan ditempat terbuka supaya terkena sinar
matahari dan hembusan angin secara langsung. Pada proses pengeringan ini, angin
berfungsi untuk memindahkan uap air yang terlepas dari ikan, dari atas ikan
ketempat lain sehingga penguapan berlangsung lebih cepat.selain tiupan angin,
pengeringan alami juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari pada saat
penjemuran berlangsung. Makin tinggi intensitasnya maka proses pengeringan akan
makin cepat berlangsung, begitu juga sebaliknya (Sasi, 2000).
Keunggulan pengeringan alami adalah prosesnya sangat sederhana, murah,
dan tidak memerlukan peralatan khusus sehingga gampang dilakukan oleh semua
orang mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Kelemahannya yaitu proses
pengeringan sering terhambat pada saat musim penghujan karena intensitas cahaya
matahari sangat kurang. Masalah lainnya adalah ikan yang dijemur ditempat terbuka
gampang dihinggapi serangga atau lalat (Sasi, 2000).
b. Pengeringan Mekanis
Pada pengeringan mekanis, ikan disusun diatas rak-rak penyimpanan didalam
ruangan tertutup yang dilengkapi dengan beberapa lubang ventilasi. Pengeringan
mekanis juga dapat dilakukan di oven dengan suhu 60 0 C selama 6 jam. Keunggulan
pengeringan mekanis adalah ketinggian suhu, kelembaban dan kecepatan udara dapat
diatur, sanitasi dan hygiene dapa dikendalikan, tidak memerlukan tempat yang luas,
waktu pengeringan menjadi teratur. Kelemahannya adalah harga oven yang mahal
dan tergantung pada listrik serta tidak semua masyarakat Indonesia dapat
menggunakannya (Budiman, 2004).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada dua, yaitu faktor yang


berhubungan dengan udara pengeringan seperti suhu, kecepatan aliran udara
pengeringan dan kelembapan udara, sedangkan faktor yang berhubungan dengan
sifat bahan yang dikeringkan berupa ukuran bahan, kadar air awal, dan tekanan
parsial dalam bahan (DKP, 2003).
D. Pengaruh penggaraman dan pengeringan terhadap daya awet.
Adapun tujuan utama dari penggaraman sama dengan tujuan pengawetan dan
pengolahan lainnya, yaitu untuk memperpanjang daya tahan dan daya simpan ikan.
Ikan yang mengalami proses penggaraman menjadi awet karena garam dapat
menghambat proses autolisis atau lainnya. Ikan yang mengalami proses
penggaraman menjadi awet karena garam dapat menghambat atau membunuh bakteri
penyebab kebusukan pada ikan (Desroirer, 2008).
Daya awet ikan yang digarami beragam tergantung pada jumlah garam yang
dipakai. Semakin banyak garam yang dipakai semakin panjang daya awet ikan.
Tetapi umumnya orang kurang suka ikan yang sangat asin. Beberapa faktor yang
mempengaruhi kecepatan penetrasi garam ke dalam tubuh ikan, selain tingkat
kemurnian garam yang digunakan, yaitu kadar lemak ikan, ketebalan daging ikan,
kesegaran ikan, temperatur ikan, konsentrasi larutan garam (Sasi, 2000).

III. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat


Kegiatan praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 19 Oktober
2012 pukul 13.30 WIB sampai dengan selesai. Praktikum ini dilaksanakan di
Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya,
Indralaya.
B. Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum Penggaraman dan Pengeringan
ini antara lain baskom, pisau, plastik, telenan, neraca analitik, panci, wadah yang
berlubang. Sedangkan bahan yang digunakan adalah ikan sepat, garam, dan air.
C. Cara Kerja
Adapun cara kerja pada praktikum pengeringan dan penggaraman adalah sebagai
berikut :
a. Peggaraman
1. Ikan di cuci bersih dan disiangi
2. Ikan dibelah bagian tengah dan dibentuk menjadi lebar (butterfly)
3. Lakukan penimbangan bobot ikan.
4. Ikan kemudian direndam pada larutan garam dengan persentase 5%, 10%,
15%, 20%, dan 25%.
5. Kemudian lakukan proses pengeringan sesuai perlakuan.
b. Pengeringan mekanis
1. Ikan yang sudah direndam air garam ditimbang
2. Lakukan pengeringan dengan menggunakan oven
3. Setelah pengeringan selesai, lakukan penimbangan bobot ikan
4. Amati perubahan fisik dan mutu ikan yang telah dikerjakan.
c. Pengeringan matahari
1. Ikan yang sudah direndam air garam ditimbang
2. Letakkan ikan paa wadah yang berlubang di bawahnya
3. Lakukan pengeringan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari selama 3-5
hari.

4. Setelah pengeringan selesai, lakukan penimbangan bobot ikan.


5. Amati perubahan fisik dan mutu ikan yang telah dikeringkan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil yang didapat dari praktikum penggaraaman dan pengeringan sebagai


berikut:
Tabel 1. Persentase air yang diuapkan selama proses pengeringan
Konsentras
Pengeringan Oven
Pengeringan Matahari
i garam
Awal
Akhir
%
Awal
Akhir
%
(%)
10%
113,11 gr
58,13 gr 44,60 117,15 gr 37,45 gr 68,03
15%
118,28 gr
55,14 gr 53,38 118,53 gr 31,67 gr 73,28
20%
99,64 gr
50,18 gr 49,63 126,66 gr 33,42 gr 73,61
25%
115,17 gr
51,67 gr 55,13 108,44 gr 48,15 gr 55,59

B. Pembahasan
Pada praktikum Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (TPHPT)
yang berjudul Penggaraman dan Pengeringan ini kami sebagai praktikan dapat
mengetahui proses penggaraman dengan menggunakan garam (garam halus) dan
pengeringan dibawah sinar matahari. Pada praktikum ini kelompok kami melakukan
proses pengeringan dengan sinar matahari yang sebelumnya dilakukan penggaraman
kering dengan kadar garam 20% dari bobot ikan. Namun, sebelum dilakukan
penggaraman telebih dahulu dilakukan penimbangan ikan agar dapat menentukan
seberapa banyak garam yang diperlukan untuk menggarami ikan. Setelah dilakukan
penimbangan didapat berat awal sebesar 126,66 gram sehingga garam yang
diperlukan sebesar 25,332 gram. Garam yang digunakan adalah garam halus. Garam
ditaburi diatas tubuh ikan yang sudah dibentuk butterfly secara merata.
Garam akan membantu menyeimbangkan kembali proses osmoregulasi dan
memicu daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit yang dideritanya. Sampai tahap
tertentu diketahui garam mampu memblokir efek nitrit. Garam mampu membunuh
parasit-parasit bersel tunggal seperti ich (white spot), jamur, dan bakteri lainnya.
Selain itu garam mudah didapat dan dibeli sehingga bisa tersedia setiap saat pada
waktu diperlukan.
Ketika ikan dikeringkan dibawah sinar matahari, ikan ternyata mengalami
penyusutan berat. Hal ini disebabkan karena jumlah air dalam daging berkurang
dengan cara menguap ke udara maupun lingkungan sehingga kadar airnya akan

rendah. Makin lama penjemuran maka kadar air dalam tubuh ikan akan semakin
berkurang. Dengan berkurangnya kadar air, maka metabolisme bakteri pembusuk
dalam tubuh ikan akan semakin terhambat ataupun terhenti. Dalam pengeringan ikan
ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti kecepatan udara, suhu, cuaca,
serangga maupun hewan-hewan lainnya.
Semakin cepat udara berhembus maka ikan akan semakin cepat kering.
Demikian dengan suhu, semakin tinggi suhu udara maka semakin cepat pula proses
penguapan air terjadi. Pada proses penjemuran ataupun pengeringan ikan sepat ini
banyak terjadi kesulitan yang menyebabkan pengeringan ikan tidak maksimal. Salah
satunya yaitu faktor cuaca yang terjadi di Indralaya. Musim hujan yang sedang
terjadi di Indralaya menyebabkan ikan lama kering. Selain faktor cuaca, ikan yang
dikeringkan dengan bantuan sinar matahari biasanya rentan dengan gangguan
serangga seperti lalat dan kontaminasi dengan kotoran selama penjemuran sehingga
diperlukan penyimpanan yang baik. Gangguan dari hewan seperti kucing dan ayam
juga dapat merusak proses pengeringan karena kemungkinan ikan akan dimakan oleh
kucing dan ayam tersebut.
Setelah proses pengeringan dibawah sinar matahari selesai selanjutnya
dilakukan kembali penimbangan berat masing-masing ikan sepat dan dilakukan
perhitungan kembali agar diketahui kadar air yang hilang atau menguap dari tubuh
ikan tersebut. Berat akhir ikan kelompok kami adalah 33,42 gram sehingga didapat
persentase air yang menguap sebesar 73,61%. Mengapa air lebih banyak menguap
pada ikan yang dikeringkan dibawah sinar matahari dibandingkan dengan ikan yang
dikeringkan secara mekanis? Hal ini terjadi karena waktu pengeringan dibawah sinar
matahari lebih lama yaitu selama 3 hari dengan suhu sekitar 41 0C sedangkan
pengeringan mekanis dilakukan hanya dalam waktu 6 jam dengan suhu 600C.
Apabila ikan yang dikeringkan di bawah sinar matahari dibandingkan dengan
ikan yang dikeringkan di oven (secara mekanis), maka ikan yang paling baik adalah
ikan yang dikeringkan di oven karena kebersihan dan sanitasi ikan yang dikeringkan
di oven ini lebih terjamin, suhu oven juga dapat diatur, dan pengeringan ini tidak
memerlukan tempat yang luas.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari praktikum Penggaraman dan
Pengeringan ini adalah sebagai berikut:
1. Ada dua metode pengeringan ikan, yaitu pengeringan alami (dengan sinar
matahari) dan pengeringan mekanis (menggunakan oven)
2. Faktor cuaca dan lingkungan memiliki pengaruh besar dalam proses pengeringan
ikan asin.
3. Garam memiliki peranan penting dalam proses mengawetkan ikan
4. Kadar garam yang ditaburi pada tubuh ikan dapat memberikan cita rasa yang
berbeda-beda mulai dari rasa asinnya yang belum terasa sampai ikan yang asin
sekali
5. Kadar garam yang dipakai pada penggaraman ikan sepat adalah 20% dari berat
ikan, yaitu 25,332 gram
6. Ikan asin yang dikeringkan dibawah sinar matahari menyebabkan bobot ikan
mengalami penurunan
7. Berat akhir ikan adalah 33,42 gram dengan persentase air yang menguap sebesar
73,61%.

B. Saran
Sebaiknya praktikan lebih tertib dan tenang selama praktikum berlangsung
karena suasana yang tenang dan kondusif ini menjadi salah satu faktor yang
mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Adawiyah, Rabiatul. 2007. Pengolahan dan Pemgawetan Ikan. Bumi Aksara.


Jakarta.
Budiman, Syarif. 2004. Teknik Penggaraman Dan Pengeringan. Departemen
Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan
Menengah
Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan
[DKP] Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003. Teknologi Pemanfaatan Rumput
Laut. Jakarta: Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial dan Ekonomi
Kelautan dan Perikanan.
Desroirer, Norman W. 2008. Pengawetan dan Pengolahan Bahan Pangan .Uip:
Jakart
Heru. 2004. Perikanan Tawar. Yudhistira: Bandung
Junianto, 2003. Sistematika Ikan. Akademi Perikanan. Jakarta
Sasi, M, dkk.2000. Chilling Fresh Fish in Dry and Wet Ice. http:// biophyspal
journal. com (diakses 20 mei 2010)
Suparmoko. 1999. Metode Penelitian Praktis. BPFE. Yogyakarta.

LAMPIRAN

A. Gambar

B. Perhitungan
Dik : Berat awal 126,66 gr
Berat akhir 33,42 gr
Dit : % Air yang menguap?
% Air yang menguap

Berat awal Berat ak h ir


x 100
Berat awal

126,66 33,42
x 100
126,66

= 73.61%