Anda di halaman 1dari 146

DETERIORASI DAN

PERBAIKAN SIFAT KAYU

MUSRIZAL MUIN
ASTUTI ARIF
SYAHIDAH

FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS HASANUDIN

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR

........................................................................

BAB I KETAHANAN ALAMI KAYU

................................................

................................................

........................................................................

A. Pengertian Ketahanan Alami Kayu


B. Bahan Diskusi

D. Bahan Bacaan Pengayaan


E. Latihan/ Soal-Soal

............................................................

........................................................................

BAB II FAKTOR ABIOTIK PERUSAK KAYU


A. Faktor Fisik

iii

....................................

........................................................................

B. Faktor Kimia ....................................................................................

18

C. Faktor Mekanis

.........................................................................

20

.............................................................

21

........................................................................

21

D. Tugas/ Bahan Diskusi


E. Latihan/ Soal-Soal

F. Bahan Bacaan Pengayaan

............................................................

21

BAB III FAKTOR PERUSAK BIOTIK

................................................

54

A. Organisme Pendegradasi Kayu

.................................................

54

B. Jamur Penghuni Kayu .........................................................................

59

C. Serangga Perusak Kayu

.............................................................

69

D. Binatang laut .....................................................................................

97

E. Bahan Diskusi

106

.........................................................................

F. Bahan Bacaan Pengayaan


G. Latihan/ Soal-Soal

............................................................

106

.........................................................................

107

BAB IV MENDETEKSI DETERIORASI KAYU

......................................

108

A. Metode Konvensional ..........................................................................

109

B. Metode Alternatif

..........................................................................

113

C. Bahan Tugas

.........................................................................

114

D. Bahan Bacaan Pengayaan

............................................................

114

.........................................................................

114

BAB V TUJUAN DAN MANFAAT PERBAIKAN SIFAT KAYU..............

115

E. Latihan/ Soal-Soal

A. Bahan Diskusi

.........................................................................

B. Bahan Bacaan Pengayaan


C. Latihan/ Soal-Soal

121

............................................................

122

.........................................................................

122

BAB VI PERBAIKAN SIFAT KEKUATAN KAYU


A. Metode-Metode Perbaikan Sifat Kekuatan Kayu

..........................

123

...........................

125

B. Bahan Tugas

.........................................................................

133

C. Latihan/ Soal-Soal

.........................................................................

133

BAB VII PERBAIKAN SIFAT KEAWETAN KAYU

..........................

134

A. Teknik-Teknik Perbaikan Sifat Keawetan Kayu

...........................

135

B. Bahan Diskusi

.........................................................................

C. Bahan Bacaan Pengayaan


D. Latihan/ Soal-Soal

DAFTAR PUSTAKA

141

..............................................................

141

.........................................................................

143

............................................................................

144

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur disampikan ke hadirat Allah SWT atas berkah dan hidayah-Nya
sehingga buku ajar mata kuliah Deteriorasi dan Perbaikan Sifat Kayu ini dapat
diselesaikan. Buku ini disusun oleh Tim Pengajar untuk menjadi salah satu sumber
belajar bagi mahasiswa di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Sebagai
sumber belajar, buku ini disusun dengan menggunakan rumusan bab per bab dengan
tujuan khusus masing-masing. Buku ini memuat aspek-aspek Ketahanan Alami Kayu,
Faktor Perusak Kayu, Teknik dan Peranan Perbaikan Sifat Kayu serta Bagaimana
Mendeteksi Deteriorasi Kayu.
Walaupun buku ini hanya menyangkut aspek-aspek umum dari Deteriorasi
dan Perbaikan Sifat Kayu, penulis berharap buku ajar ini dapat menjadi buku
pegangan mahasiswa Program Sarjana dalam menempuh studi dan mengembangkan
pengetahuan di Fakultas Kehutanan. Beberapa bahan pengayaan didalam buku ini
juga diharapkan dapat dijadikan acuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang
berhubungan dengan deteriorasi dan perbaikan sifat kayu atau dalam mengembangkan
ilmu secara spesifik. Dengan selesainya buku ajar ini, penulis mengucapkan terima
kasih dan penghargaan kepada Pimpinan Fakultas atas bantuan dana yang disediakan.

Penulis

iii

BAB I
KETAHANAN ALAMI KAYU

Tujuan Umum : Bab ini secara umum bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada
mahasiswa tentang: (1) pengertian ketahanan alami kayu, (2) variasi ketahanan alami
kayu, dan (3) hubungan ketahanan alami kayu dengan tujuan penggunaannya.
Tujuan Khusus : Bab ini secara khusus memberikan kemampuan kepada mahasiswa
untuk dapat menjelaskan dan mengemukakan contoh tentang bagaimana sifat-sifat dasar
kayu mempengaruhi ketahanan kayu (kekuatan dan keawetan).

A. Pengertian Ketahanan Alami Kayu


Kayu yang dikenal sebagai produk alami karena dihasilkan dari proses
pertumbuhan pohon pada dasarnya adalah bahan polimer yang tersusun atas berbagai tipe
sel dan jenis bahan kimia yang satu sama lain saling berhubungan. Dengan demikian,
kayu memiliki sifat anatomi, fisik, kimia, dan mekanis yang juga khas secara alami
sehingga akan bervariasi antar jenis, antar pohon dalam satu jenis, dan antar bagian
dalam satu pohon. Perbedaan sifat-sifat tersebut tentu saja berimplikasi pada perbedaan
ketahanan alami dari kayu. Olehnya itu, mudah dimengerti bahwa setiap faktor perusak
kayu akan memiliki dampak atau mengakibatkan deteriorasi dengan tingkat yang berbeda
pada setiap potong kayu. Adanya serangan organisme perusak kayu pada suatu struktur
bangunan tidak berarti bahwa seluruh kayu yang ada dalam struktur tersebut akan
diserang secara merata. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan ketahanan dari setiap
potong kayu yang menyusun struktur tersebut. Meskipun demikian, adanya serangan
tersebut dapat mempengaruhi ketahanan struktur secara keseluruhan sehingga apapun
tipe dan bentuk gangguan dari faktor perusak yang muncul seharusnya dihindari sedini
mungkin.
Ketahanan kayu pada dasarnya diklasifikasikan atas kekuatan (kelas-kelas kuat)
dan keawetan (kelas-kelas awet). Kekuatan kayu adalah daya tahan kayu terhadap beban
yang mengenainya, sedangkan keawetan kayu adalah daya tahan kayu terhadap

organisme perusak kayu. Meskipun demikian, ketahanan kayu juga dapat diartikan secara
umum sebagai daya tahan kayu terhadap faktor-faktor perusak, baik faktor biotik maupun
faktor abiotik. Untuk memahami pengertian ini diperlukan pengetahuan tentang
bagaimana hubungan antara kayu sebagai produk alam dengan faktor-faktor perusak
dalam suatu kondisi penggunaan kayu.
Kayu sebagai produk alam harus dipahami sebagai biopolimer yang tersusun atas
sel-sel, mengandung persenyawaan kimia berupa selulosa, hemiselulosa, lignin, dan
bahan ekstraktif. Pembentukan biopolimer tersebut juga membutuhkan waktu bertahuntahun dengan keterlibatan tempat dan lingkungan tumbuh. Olehnya itu mudah dimengerti
bahwa kayu dapat terurai kembali menjadi komponen-komponen pembentuknya.
Kayu merupakan bahan organik yang melimpah di bumi. Pohon membentuk kayu
melalui proses fotosintesis dan jamur beserta agen perusak lainnya merusak kayu melalui
proses respirasi yang berperan dalam siklus biosintesis dan biodekomposisi. Hubungan
tersebut digambarkan oleh reaksi sederhana berikut yang merupakan bagian dominan
dalam siklus karbon:

fotosintesis oleh pohon


dan tanaman lain

6n CO2 + 5n H2O + 677.000 n kalori (C6H10O5) n + 6n O2 ............ (1)


respirasi oleh jamur
dan organisme perusak lainnya

Istilah kerusakan kayu seringkali dinyatakan dengan berbagai istilah, yaitu dekomposisi,
degradasi atau deteriorasi. Dekomposisi dan degradasi merujuk pada perubahan satu atau
lebih struktur polimer kayu menjadi molekul yang lebih sederhana. Degradasi dapat juga
digunakan untuk menjelaskan deteriorasi, yaitu penurunan nilai kayu untuk berbagai
penggunaan, dan degradasi digunakan untuk pengertian yang lebih sempit.

Ada dua tipe utama sel kayu yang terbentuk dari pembelahan kambium, yaitu sel
serat (fiber) yang berdinding tebal yang membuat kayu kuat dan sel parenkim
(parenchyma) berdinding tipis yang menyimpan cadangan makanan. Serat kayu akan
mati beberapa hari atau minggu setelah terbentuk dan kehilangan isi sitoplasmanya dan
berubah fungsi menjadi pengangkut air. Sel serat dewasa seluruhnya terdiri atas polimer
dinding sel yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Oleh karena itu, sel serat kayu dapat
didegradasi hanya oleh organisme yang mempunyai kemampuan mendekomposisi bahan
struktural berpolimer tinggi. Sebaliknya, sel parenkim tetap hidup selama beberapa tahun
dan hanya kehilangan kandungan sitoplasmanya bila kayu gubal dirubah menjadi kayu
teras. Gula, pati, asam amino, dan protein dalam sel parenkim membuat kayu gubal
sangat rentan (susceptible) terserang oleh sejumlah besar jamur dan bakteri yang dapat
menggunakan bahan cadangan makanan tetapi tidak menyerang polimer dinding sel yang
kompleks.
Kayu teras dari spesies tertentu memiliki ketahanan (resistant) sedang sampai tinggi
terhadap dekomposisi oleh organisme yang dapat mendegradasi dinding sel. Daya tahan
tersebut disebabkan oleh fenol, terpena, alkaloid, dan substansi lain yang menumpuk
dalam kayu teras dan merupakan racun bagi jamur perusak kayu, bakteri, serangga dan
marine borer. Karena substansi beracun tersebut tidak terdapat dalam kayu gubal, kayu
gubal mati pada semua spesies sangat mudah mengalami dekompoisi biologis. Pada kayu
gubal pohon yang masih hidup pada dasarnya tahan terhadap pelapukan karena aktifnya
mekanisme pertahanan, sebaliknya kayu teras lebih mudah terserang dari kayu gubal
yang masih hidup. Meskipun sejumlah besar jamur dan beberapa jenis serangga dapat
menyebabkan dekomposisi jaringan kayu teras mati, jarang ada organisme yang
melakukan dekomposisi produk kayu setelah pohon ditebang, teutama setelah
dikeringkan.
Pada sisi lain, faktor-faktor perusak harus dilihat sebagai komponen yang muncul
sebagai hasil interaksi antara kayu dengan lingkungan penggunaannya, baik lingkungan
biotik maupun lingkungan abiotik. Lingkungan biotik dapat mempengaruhi ketahanan
kayu karena organisme perusak berinteraksi dengan kayu dalam bentuk menjadikannya

sebagai bahan makanan atau tempat perlindungan. Sedangkan lingkungan abiotik mampu
mempengaruhi ketahanan kayu karena adanya interaksi fisik, mekanis maupun kimia
yang dapat merombak/ merubah komposisi kimia dan bentuk kayu.
Beberapa studi menitikberatkan ketahanan kayu lebih pada daya tahannya
terhadap organisme perusak sehingga banyak pustaka yang selalu menggandengkan
pengertian ketahanan kayu dengan organisme perusak. Hal ini mudah dimengerti karena
daya tahan kayu terhadap serangan organisme perusak (keawetan) dapat mempengaruhi
kekuatan kayu secara nyata pada saat serangan tersebut merombak atau mengurangi
unsur penyusun kayu, yang biasa diistilahkan dengan kehilangan berat (weight loss).
Sebaliknya, daya tahan kayu terhadap beban yang diberikan (kekuatan) relatif tidak
berhubungan dengan keawetan kayu. Namun demikian, selain serangan organisme
perusak, ada faktor-faktor abiotik yang juga mampu merombak atau mengurai unsurunsur penyusun kayu dan mempengaruhi umur pakai kayu (keawetan) serta kekuatannya.
Hanya saja faktor abiotik ini relatif membutuhkan waktu yang lama untuk melihat
dampaknya secara nyata dibanding dengan faktor biotik.
Kemampuan memahami bentuk dan lingkungan interaksi kayu dengan faktorfaktor perusaknya sangat diperlukan untuk dapat melakukan pengendalian atau
perlakuan-perlakuan yang diperlukan bagi optimalisasi penggunaan kayu dalam suatu
lingkungan tertentu. Hal ini sangat relevan mengingat besarnya potensi jenis-jenis kayu
kita dan tingginya kesesuaian lingkungan kita bagi keberadaan dan berkembangnya
berbagai faktor perusak. Negara kita Indonesia memiliki 4.000-an jenis kayu dan
diperkirakan hanya 15 20 % saja yang secara alami mempunyai daya tahan yang tinggi
terhadap organisme perusak kayu, sedangkan 80 - 85% termasuk dalam kelas awet
rendah. Meskipun demikian, ini tidak berarti bahwa kayu-kayu yang secara alami tidak
awet ini juga memiliki kekuatan yang rendah. Bahkan, sebagian besar kayu-kayu tersebut
cukup memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan karena memiliki
kekuatan yang memadai. Hanya saja, akibat rentannya kayu tersebut terhadap serangan
organisme perusak dapat berakibat pada menurunnya kekuatan kayu dalam
penggunaannya. Hubungan ini akan lebih nyata lagi bila keadaan lingkungan
penggunaannya sangat kondusif bagi munculnya faktor-faktor perusak kayu yang mampu

merombak komponen utama pembentuk kayu seperti lignin dan selulosa, serta
menurunkan kekuatan kayu.
Ketahanan alami kayu yang bervariasi menunjukkan adanya faktor-faktor bawaan
yang mempengaruhinya. Faktor-faktor ini perlu diketahui sebagai bahan referensi dalam
memperkirakan atau menentukan kelas ketahanan kayu, baik kekuatan maupun
keawetannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan alami kayu secara umum
adalah seluruh sifat-sifat dasarnya yang meliputi struktur anatomi, sifat fisis, dan unsur
kimia penyusunnya. Faktor-faktor ini juga memiliki hubungan yang kuat satu sama lain.

B. Bahan Diskusi
Pada bagian ini, mahasiswa secara sendiri-sendiri atau kelompok diminta untuk
mendiskusikan dan menyampaikan pendapat tentang bagaimana sifat-sifat dasar kayu
mempengaruhi ketahanan kayu (kekuatan dan keawetan). Secara umum, diskusi
dijalankan dengan menggunakan skema pertanyaan berikut.

Struktur Anatomi

Sifat Fisis

Komponen Kimia

Kekuatan

Keawetan

Diskusi dalam kelas dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut:


1. Peserta mata kuliah dibagi atas tiga kelompok, yaitu: (1) Anatomi; (2) Fisis; dan (3)
Kimia.
2. Setiap kelompok memilih ketua kelompok yang akan memimpin diskusi internal
kelompoknya untuk mengidentifikasi sifat-sifat dasar, sesuai kelompoknya, yang
dapat mempengaruhi kekuatan dan keawetan kayu.
3. Diskusi dilanjutkan dengan membahas bentuk pengaruh dari sifat-sifat yang telah
diidentifikasi tersebut.

4. Ketua kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas untuk


ditanggapi oleh kelompok lainnya.

C. Bahan Bacaan Pengayaan

D. Latihan/ Soal-Soal

1. Jelaskan hubungan antara sifat anatomi kayu dengan kekuatan dan keawetannya,
berikan salah satu contoh kasus !
2. Jelaskan hubungan antara sifat kimia kayu dengan kekuatan dan keawetannya,
berikan salah satu contoh kasus !
3. Jelaskan hubungan antara sifat fisis kayu dengan kekuatan dan keawetannya, berikan
salah satu contoh kasus !

BAB II
FAKTOR ABIOTIK PERUSAK KAYU
Tujuan Umum : Bab ini secara umum bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada
mahasiswa tentang faktor abiotik perusak kayu, kondisi dan tingkat serangan, serta
penanganannya secara awal.
Tujuan Khusus : Bab ini secara khusus memberikan kemampuan kepada mahasiswa
untuk dapat menganalisis potensi kerusakan kayu akibat faktor abiotik.
Deteriorasi kayu akibat faktor abiotik dapat dilihat pada unsur kayu bangunan yang
mengalami perubahan warna setelah digunakan dalam jangka waktu tertentu. Kerusakan
ini akan semakin besar jika kayu tersebut tidak diberikan perlakuan/perlindungan
sebagaimana mestinya, terlebih lagi jika digunakan pada kondisi yang terekspos terhadap
lingkungan luar. Banyak faktor yang menyebabkan kondisi tersebut dapat terjadi.
Umumnya, hal tersebut disebabkan oleh pengaruh cuaca (weathering), dimana kayu akan
mengalami oksidasi dan fotodegradasi oleh sinar ultraviolet dari matahari.
Selain akibat cuaca, faktor lain yang juga dapat menyebabkan deteriorasi adalah api
dimana seringkali terjadi suatu bangunan mengalami kebakaran yang akibatnya akan
menghabiskan konstruksi tersebut. Faktor lain adalah adanya zat kimia yang mengenai
kayu terutama pada peralatan penampungan bahan kimia maupun meja-meja
laboratorium yang terbuat dari kayu. Keberadaan faktor-faktor ini sangat penting untuk
dipahami agar dapat diupayakan suatu tindakan pencegahan deteriorasi kayu akibat
faktor abiotik tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor abiotik ialah faktor
yang disebabkan oleh unsur pengaruh alam dan keadaan alam itu sendiri, yang terdiri
atas:
1. Faktor fisik, ialah keadaan atau sifat alam yang mampu merusak komponen kayu
sehingga umur pakainya menjadi pendek. Yang termasuk faktor fisik antara lain: suhu
dan kelembaban udara, panas matahari, api, udara dan air. Semua yang termasuk
faktor fisik itu mempercepat kerusakan kayu bila terjadi penyimpangan. Misalnya bila
kayu tersebut terus-menerus kena panas maka kayu akan cepat rusak.
7

2. Faktor mekanik, terdiri atas proses kerja alam atau akibat tindakan manusia. Yang
termasuk faktor mekanik antara lain: pukulan, gesekan, tarikan, tekanan dan lain
sebagainya. Faktor mekanik berhubungan erat sekali dengan tujuan pemakaian.
3. Faktor kimia, juga mempunyai pengaruh besar terhadap umur pakai kayu. Faktor ini
bekerja mempengaruhi unsur kimia yang membentuk komponen seperti selulosa,
lignin dan hemiselulosa. Unsur kimia perusak kayu antara lain: pengaruh garam,
pengaruh asam dan basa.
Secara khusus, pada bab ini akan dibahas faktor perusak kayu yang berasal dari
unsur-unsur alam (faktor abiotik) yaitu faktor fisik (air, cuaca/weathering, panas/thermal
decomposition), faktor kimia (chemical decomposition) dan faktor mekanis (mechanical
wear).

A. Faktor Fisik
A.1. Air
Air sebagai salah satu kebutuhan dalam pertumbuhan pohon akan mengisi dinding
sel dan rongga sel kayu. Seperti diketahui bahwa air pada sel dapat berupa air terikat, air
bebas dan uap air. Air terikat (bound water) adalah air yang terdapat pada dinding sel,
sedangkan air bebas (free water) dan uap air adalah air yang terdapat pada rongga sel.
Air bebas akan mempengaruhi berat kayu sedangkan air terikat akan mempengaruhi berat
dan dimensi kayu. Dengan demikian, kadar air kayu sangat mempengaruhi sifat-sifat
kayu seperti stabilitas dimensi, sifat mekanik dan ketahanan terhadap kerusakan.
Telah diketahui bahwa kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, karena
polimer dinding selnya mengandung gugus hidroksil yang reaktif. Pada lingkungan yang
mengandung uap air, kayu kering akan menyerap uap air sampai kadar air kesetimbangan
dengan lingkungan. Begitu juga kayu yang jenuh air ketika ditempatkan ditempat yang
kelembaban relatifnya lebih rendah akan kehilangan uap air sampai kadar air
kesetimbangan dengan lingkungan. Dimensi kayu akan berubah sejalan dengan
perubahan kadar air dalam dinding sel, karena di dalam dinding sel terdapat gugus OH
(hidroksil) dan oksigen lain yang bersifat menarik uap air melalui ikatan hidrogen.
8

Kembang susut kayu yang paling besar berturut-turut adalah pada bidang tangensial,
radial dan aksial. Stabilitas dimensi kayu adalah kemampuan kayu itu untuk menahan
perubahan dimensi karena perubahan kondisi kadar air.
Ada beberapa cara untuk mengurangi perubahan dimensi kayu yang disebabkan
oleh air yaitu:
1.

Menghalangi penyerapan uap air dengan pelapisan produk, berupa pelapisan


dengan cat dan resin sintetis. Cara ini merupakan cara yang umum tapi tidak
efektif, karena hanya akan memperlambat laju difusi dan tidak mampu
menghalangi gerakan uap air secara sempurna.

2.

Menghalangi perubahan dimensi dengan penahanan yang membuat gerakan


menjadi sukar atau tidak mungkin.

Masalah pada cara ini adalah terjadinya

tekanan-tekanan internal apabila kayu berusaha mengembang tetapi dihalangi,


sehingga dapat mengakibatkan gangguan bentuk atau cacat kayu.
3.

Memperlakukan kayu dengan bahan yang menggantikan semua atau sebagian air
terikat di dalam dinding sel. Dilakukan pada kayu yang masih segar dan bahan
perlakuan tetap tinggal dalam dinding sel ketika kayu tersebut dikeringkan.
Bahan yang pertama digunakan adalah resin fenol formaldehid (PF) melalui
proses impregnasi. Bahan lainnya adalah polietilen glikol (PEG), berupa seperti
lilin yang dilarutkan dengan air.

4.

Menghasilkan kayu untuk menghasilkan saling ikatan silang antara gugus


hidroksil dalam dinding sel kayu. Ikatan silang dapat mengurangi higroskopisitas
kayu dengan mengurangi tempat ikatan untuk air di dalam dinding sel.

5.

Pengisian dengan monomer-monomer plastik seperti metil metakrilat dan stiren


akrilonitril.

Monomer tersebut dapat dipolimerisasikan dengan radiasi atau

pemanasan dengan katalisator yang sesuai.


Sebagai contoh, suatu penelitian modifikasi kimia pada kayu karet dengan styrene
yang dikombinasikan dengan crosslinker Glycidyl Methacrylate (GMA) menunjukkan
bahwa perlakuan ini mampu memperbaiki stabilitas dimensi dalam hal % pengembangan

volume, anti-shrink efficiency dan mengurangi penyerapan air.

Ketahanan kimia sampel

yang diberi perlakuan juga lebih tinggi dibandingkan sampel tanpa perlakuan.
A.2. Pencuacaan (Weathering)
Weathering

adalah proses yang terjadi pada permukaan kayu dan melibatkan

cahaya yang menyebabkan kerusakan lignin sehingga terurai dan dapat larut dalam air.
Apabila hal tersebut terjadi, lignin akan tercuci dari permukaan kayu dan meninggalkan
permukaan yang kaya komponen selulosa. Ada beberapa pendapat bahwa degradasi
lignin kemungkinan berasosiasi dengan kerusakan karbohidrat dalam proses weathering.
Faktor kunci yang menyebabkan weathering kayu adalah cahaya UV dan air, meskipun
terdapat juga indikasi keterlibatan cahaya tampak. Selain itu juga terdapat peran radikal
bebas dalam proses oksidatif yang terjadi selama weathering, dan beberapa polutan di
udara seperti sulfur dioksida dan nitrogen dioksida memperburuk proses weathering kayu.
Adanya fakta weathering pada kayu mengakibatkan dibutuhkannya proteksi permukaan
seperti cat atau lapisan penutup lainnya dalam berbagai aplikasi.
Faktor perusak kayu yang disebabkan oleh cuaca (weathering) terutama berupa
fotodegradasi oleh sinar ultra violet (UV) dan oksidasi. Fakta-fakta yang terkait dengan
pencuacaan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. kerusakan fotokimia komponen dinding sel kayu oleh gelombang pendek dan
gelombang panjang UV,
2. reaksi oksidasi dari produk dekomposisi komponen dinding sel,
3. pencucian produk dekomposisi yang mudah larut, dan
4. kerusakan mekanik elemen permukaan yang terkait dengan pengembangan dan
penyusutan kayu akibat pembasahan (wetting) dan pengeringan (drying).
Permukaan kayu yang diekspos terhadap cuaca akan terdekomposisi, dimana di
antara komponen utama kayu, lignin mempunyai absorpsi sinar UV terbesar
dibandingkan dengan komponen kayu lainnya. Dengan demikian lignin juga merupakan
komponen pertama yang akan terdekomposisi oleh radiasi UV.

Radiasi UV

menyebabkan terjadinya perubahan warna alami kayu dimana warna kayu berangsur10

angsur akan menjadi lebih terang karena ligninnya terdekomposisi sehingga akan mudah
tercuci oleh air hujan dan yang tertinggal adalah komponen selulosa dan proses ini akan
berulang terus-menerus yang pada akhirnya akan membuat kayu menjadi rusak.
Evans et al. (1992) dalam Plackett et. al (1996) meneliti tingkat delignifikasi
permukaan radiata pine (Pinus radiata D. Don) menggunakan finir yang diekspos pada
kondisi cuaca alami dan menunjukkan kehilangan lignin secara substansial setelah 3 hari
dipaparkan. Kehilangan berat sampel yang terjadi ternyata karena rusaknya lignin akibat
pencucian oleh air hujan. Penelitian yang dilakukan oleh Norrstrom (1969) dalam
Plackett et. al (1996) menunjukkan bahwa degradasi kayu yang disebabkan oleh UV 80
90% terjadi pada lignin, 5 20% pada karbohidrat, dan hanya 2% pada ekstraktif.
Berdasarkan Scanning electron microscopy (SEM) dan transmission electron microscopy
(TEM) ternyata bahwa lignin pada sudut dinding sel dan lamella tengah lebih dahulu
terdegradasi pada tahap awal penyinaran UV pada percobaan laboratorium. Degradasi
dinding sel secara massif tidak terjadi saat permukaan kayu diekspos pada cahaya UV
selama lebih dari 10 hari.
Hon dan Chang (1984) dalam Plackett et. al (1996) menunjukkan bahwa kandungan
lignin pada permukaan southern yellow pine turun dari 28% menjadi 14,5 % pada
pemaparan dengan cahaya UV. Dikatakan juga bahwa absorpsi cahaya UV oleh lignin
dapat menghasilkan transfer energi dan berkontribusi terhadap pemecahan sellulosa.
Hemisellulosa memiliki karakteristik absorpsi UV yang hampir identik dengan selulosa
(Hon, 1981) dan dapat menghasilkan degradasi produk yang lebih larut dalam air
dibandingkan dengan sellulosa pada derajat polimerisasi yang sama.
Di antara semua faktor lingkungan yang dapat menyebabkan degradasi pada kayu,
sinar UV dari cahaya matahari merupakan penyebab kerusakan terbesar. Dari komponen
utama kayu, lignin berkontribusi 80-95% terhadap koefisien penyerapan UV oleh kayu,
sementara karbohidrat 5-12% dan ekstraktif 2% (Kuo dan Hu, 1991 dalam Pastore et al.
2004). Lignin merupakan komponen pertama yang didekomposisi oleh radiasi UV (Hon
dan Feist, 1986 dalam Pastore et al. 2004) melalui mekanisme kompleks oleh radikal
bebas (Moore dan Owen, 2000 dalam Pastore et al. 2004). Selanjutnya Pastore et al.
(2004) menyatakan bahwa warna alami kayu akan berubah dengan cepat jika diekspos
11

terhadap weathering. Pertama akan menjadi gelap, kemudian kuning atau coklat dan
akhirnya warna perak keabua-abuan akan dominan.

Penelitian oleh Kalnins (1966)

mengindikasikan bahwa ekstraktif dalam Douglas fir adalah antioxidan dan karena itu
ekstraktif kemungkinan memberikan efek perlindungan terhadap fotodegradasi kayu.
Miniutti (1964) dalam Plackett et. al (1996) menggunakan SEM untuk
menunjukkan bahwa perubahan utama yang terjadi pada kayu yang disinari UV adalah
rusaknya noktah pada pinggir dinding sel radial dan pembentukan microcheck sepanjang
sudut fibril dalam dinding sel tangensial. Dalam studi yang sama, SEM juga digunakan
untuk menjelaskan degradasi awal lignin pada sudut sel dan dalam lamella tengah selama
tahap awal penyinaran UV. Groves dan Banana (1986) menggunakan SEM untuk
meneliti weathering alami Pinus radiata dan menemukan bahwa deteriorasi
mikrostruktur kayu terjadi setelah 4 bulan dipaparkan. Degradasi permukaan dan
pengikisan permukaan kayu terjadi setelah 6 bulan dipaparkan.
Feist (1982) dalam Plackett et. al (1996) menyimpulkan bahwa aspek signifikan
weathering kayu pada aplikasi struktural menimbulkan pengaruh estetik seperti
perubahan warna, kekasaran, retak permukaan, timbulnya kotoran, dan pertumbuhan
lumut/jamur. Perubahan tersebut dapat terjadi sangat cepat, tapi sering juga hanya sedikit
perubahan nyata lebih lanjut selama beberapa tahun dengan ketiadaan perusak. Hon
(1983) dalam Plackett et. al (1996) mereview reaksi weathering dan proteksi permukaan
kayu dan menyatakan bahwa pada umumnya cuaca menyebabkan terjadinya diskolorisasi
pada kayu antara 3 dan 4 bulan setelah pertama kali dipaparkan (Gambar 1).

12

Gambar 1. Perubahan warna akibat pencuacaan di luar ruangan western


red cedar, redwood, southern yellow pine, dan Douglas fir di
USA
Penelitian di New Zealand yang melakukan pemaparan Pinus radiata dan western
red cedar (Thuja plicata) memberikan hasil yang sama (Gambar 2).

Gambar 2.

Perubahan warna akibat pencuacaan di luar ruangan radiata


pine dan western red cedar di New Zealand

Bila kayu tidak dilindungi dengan pelapisan (coating) dan terpapar ke atmosfer dan
matahari, disintegrasi fisik dan kimia secara perlahan akan terjadi pada permukaan kayu.
Permukaan kayu segar mulai berubah warna setelah beberapa minggu terpapar di luar
ruangan (outdoor). Pertama kali kayu tercuci (leaching) dan kemudian berubah secara

13

perlahan menjadi coklat. Setelah beberapa tahun terpapar di luar ruangan, permukaan
kayu perlahan-lahan akan berwarna abu-abu.
Pada awalnya, warna kayu berubah menjadi coklat sebagai hasil dekomposisi
fotokimia lignin dan zat ekstraktif membentuk radikal bebas yang menimbulkan
dekomposisi lanjut karbohidrat struktural dan oksidasi sebagian fenolik. Permukaan
yang tercuci lalu mengeluarkan produk dekomposisi yang mudah terlarut, memaparkan
karbohidrat struktural yang lebih tahan terhadap penyinaran (photoresistant) yang juga
didegradasi secara fotokimia dan dioksidasi oleh produk dekomposisi dan agen atmosfer.
Xilan didekomposisi dan lebih mudah tercuci dibandingkan dengan selulosa atau
hemiselulosa kaya glukan. Residu selulosa dan permukaan yang ditumbuhi oleh jamur
berpigmen seperti Aureobasidium pullulans membentuk warna abu-abu. Laju pencuacaan
akan berkurang bila lapisan luar (outer shell)

yang mengalami pencuacaan telah

terbentuk dan melindungi permukaan kayu dari kerusakan fotokimia lebih lanjut. Namun
pembasahan dan pengeringan yang berkesinambungan dari permukaan yang tercuacakan
menimbulkan keretakan permukaan, kerusakan mekanik terlokalisasi dan pengelupasan
kulit secara perlahan dari permukaan. Variasi laju pencuacaan dapat disebabkan oleh
perbedaan geografis, lokasi, metode pengujian dan spesies kayu.

Pencuacaan

diperkirakan menghilangkan permukaan kayu 6 -7 mm per abad di zona temparate


(Browne, 1960; Kuhne et al., 1972) dalam Arif (2002) dan 1 mm per abad untuk kayu
yang terpapar di kutub utara.
Coating atau film yang mengabsorpsi atau merefleksikan sinar UV dan mengurangi
perubahan kadar air permukaan merupakan metode pencegahan pencuacaan konvensional
pada kayu yang terpapar di luar ruangan. Perlakuan dengan penolak air (water repellent
treatment) juga mengurangi fluktuasi kadar air pada pemakaian kayu di luar ruangan.
Perlakuan kayu dengan bahan kimia seperti Cr2O3 mengurangi pencuacaan dan
dilaporkan dua kali lipat masa pakai dari lateks dan cat berbasis minyak (Feist dan Ellis,
1978) dalam Arif (2002).

14

A.3. Faktor Panas (Thermal Decomposition)


Lignoselulosa terbakar karena polimer dinding sel mengalami reaksi pirolisis
dengan meningkatnya suhu yang menguapkan zat-zat volatil dan gas-gas yang mudah
terbakar.

Polimer selulosa dan hemiselulosa lebih dahulu terdegradasi oleh panas

sebelum lignin. Komponen lignin berperan terhadap pembentukan arang dan lapisan
arang ini melindungi komposit dari degradasi panas. Hubungan antara panas dengan
kerusakan kayu yang terjadi dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :

Gambar 3. Hubungan antara panas dengan kerusakan kayu yang terjadi

Dekomposisi kayu karena panas, seperti banyak senyawa karbon, mudah terjadi
pada suhu tinggi. Pada awalnya, perubahan perlahan mulai sekitar suhu 100oC. Terdapat
perubahan warna, kehilangan kekuatan yang serius, pengurangan sifat higroskopisitas,
kehilangan berat, dan evolusi gas seperti CO, CO2, CH2 dan uap air. Perubahan tersebut
tergantung waktu dan meningkat cepat pada suhu yang lebih tinggi.

Pembakaran

(combustion) dengan pancaran cahaya dan panas terjadi pada suhu sekitar 275oC.

15

Proses pada Suhu Rendah (<200oC)


Pengaruh suhu rendah pada kayu sangat penting karena kehilangan kekuatan yang
nyata terjadi pada kisaran suhu ini. Dekomposisi panas kayu mulai pada suhu 100oC.
Kayu berubah coklat, permukaan menjadi rapuh (brittle), dan perlahan terjadi kehilangan
berat dan kehilangan kekuatan. Pengaruh suhu ini dapat diamati pada balok yang
diletakkan pada oven (104oC) selama beberapa minggu atau papan gergajian yang
dikeringkan secara berlebih di kilang pengering (kiln dry). Warna kecoklatan dan
permukaan brashness dari kayu, mirip tahap awal dari beberapa pelapuk coklat (brown
rot).

Keseragaman pewarnaan dan tidak adanya struktur

jamur memudahkan

memisahkan kerusakan akibat panas dengan pelapukan tahap awal.


MacLean (1951) dalam Arif (2002) menetapkan kehilangan berat kayu terkait
dengan variasi suhu dan periode keterpaparan, rata-rata dari 11 spesies komersil, sebagai
berikut :

Periode Keterpaparan
1 tahun
470 hari
400 jam
102 jam

Suhu (oC)
93
121
149
167

Kehilangan Berat (%)


2,7
26,8
14,8
21,4

Kekuatan cepat berkurang oleh pemaparan pada suhu tinggi (Gambar 3). Tidak ada
asap atau penyalaan kayu dihasilkan bila kayu dipaparkan pada suhu di bawah 200oC.
Gas-gas utama yang dilepaskan adalah CO2 dan uap air.
Proses pada Suhu Tinggi (>200oC)
Pirolisis (pemanasan tanpa adanya O2) dikenal selama proses distilasi kayu (wooddistillation process) dimana dihasilkan gas-gas yang mudah terbakar yaitu CH4 dan CO.
Juga banyak senyawa dilepaskan seperti asam asetat, metanol, asam format, furfural,
fenol dan kresol. Asam-asam menyebabkan mata perih oleh asap dan produk furfural

16

menyumbang karakteristik bau dari asap kayu. Produk akhir yang tersisa adalah arang /
karbon (charcoal) yang telah banyak dimanfaatkan oleh banyak industri.
Pada pembakaran, kayu akan cepat terdekomposisi pada suhu di atas 200oC dengan
adanya O2 dan melepaskan gas-gas yang mudah terbakar seperti CH4 dan CO. Pada suhu
sekitar 275oC, suhu nyala dan panas yang dilepaskan mempercepat pembakaran dan
proses dekomposisi.
Urutan pemutusan komponen dinding sel dengan bertambahnya suhu adalah
hemiselulosa, selulosa dan lignin.

Hemiselulosa kurang stabil terhadap panas dan

mengalami dekomposisi pada kisaran suhu 225-325oC.

Lignin terdekomposisi pada

kisaran suhu 250-500oC, sedangkan selulosa pada suhu lebih tinggi dan terbatas pada
kisaran 325-375oC (Shafizadeh dan Chin, 1977) dalam Arif (2002).

Kayu yang

terkarbonisasi pada tahap akhir dekomposisi secara tekstural mirip brown rot dan
menarik untuk dicatat bahwa lignin juga merupakan komponen kayu terakhir yang
dikonsumsi sempurna pada beberapa pelapukan jamur.
A.4. Fire Retardant
Daya tahan bakar kayu dapat ditingkatkan misalnya dengan membuat kayu itu
menjadi anti api (fire proof), antara lain sebagai berikut :
1.

Menutup kayu itu dengan bahan lapisan yang tidak mudah terbakar yang
berfungsi melindungi lapisan kayu di bawahnya terhadap api, misalnya asbes
atau pelat logam

2. Menutup kayu

itu dengan bahan-bahan kimia yang bersifat mencegah

terbakarnya kayu, misalnya jenis cat tahan api, persenyawaan garam antara lain
amonium dan boor zuur
3. Mengimpregnir kayu itu dengan macam-macam bahan kimia yang bersifat
mengurangi terbakarnya kayu. Ada juga bahan-bahan lain yang menghasilkan
gas yang dapat mencegah api tersebut

17

4. Bahan kimia penahan yang efektif adalah ammonium fosfat, ammonium sulfat,
boraks, dan seng klorida. Bahan tersebut telah diteliti secara empirik namun
mekanisme perlindungannya kurang dipahami.

B. Faktor Kimia
Sebagai bahan struktural, kayu memperlihatkan ketahanan terhadap serangan
kebanyakan bahan kimia. Untuk alasan ini, kayu sering digunakan untuk pembuatan tong
penyimpan, tangki, tangki pendingin, atau struktur dimana berhubungan dengan bahan
kimia kaustik yang menyebabkan terjadinya kondensasi, aerosol atau percikan. Sebagai
contoh, bukti deteriorasi kayu yang dilaporkan pada beberapa pabrik pulp kraft akibat
kayu terpapar dalam waktu lama terhadap asam lemah dan basa lemah pada suhu dan
kelembaban tinggi (Barton, 1982) dalam Arif (2002). Karena kayu merupakan bahan
baku kimia utama untuk industri kertas dan turunan selulosa, banyak informasi telah
dihasilkan pada reaksi kayu dan komponennya terhadap banyak bahan kimia. Informasi
ini membentuk dasar bagi proses industri dalam kisaran yang luas. Informasi pada topik
tersebut tersedia dalam buku kimia kayu, kimia selulosa dan pembuatan kertas.
Smith (1980) dalam Arif (2002) menyusun daftar spesies kayu yang
direkomendasikan untuk penggunaan pada lingkungan yang bersifat korosif seperti
kontainer untuk asam, terpapar ke asap asam atau kontainer untuk cairan korosif ringan.
Kayu konifer pada umumnya lebih tahan terhadap serangan bahan kimia korosif daripada
kebanyakan kayu daun lebar. Kriteria untuk kayu tahan bahan kimiawi adalah spesies
yang kaya selulosa dan lignin serta rendah xilan.
Asam terutama mendegradasi karbohidrat kayu, dan ketahanan lignin yang tinggi
terhadap asam kuat merupakan dasar untuk penentuan analisis lignin melalui pelarutan
karbohidrat kayu dengan 72% H2SO4. Residu yang tidak larut dari hasil penyaringan
didefinisikan sebagai lignin Klason. Asam menghidrolisis ikatan (1-4) glikosida
selulosa dan hemiselulosa menghasilkan pengurangan kekuatan tarik (tensile strenght)
secara drastis. Kayu pada tahap awal dekomposisi berubah coklat dan menjadi brittle dan

18

brash.

Mekanisme depolimerisasi dan reduksi awal beberapa sifat kekuatan analog

dengan degradasi brown rot.


Alkali menyerang kayu lebih hebat pada kondisi waktu-suhu dan konsentrasi yang
setara dengan asam.

Alkali melarutkan hemiselulosa dan mengubah lignin menjadi

bentuk kompleks lignin-alkali yang mudah larut. Selulosa pada dasarnya tidak berubah.
Kebanyakan proses pulping kayu mengupayakan tipe reaksi alkali ini.
Pada konsentrasi tinggi, bahan kimia alkali kuat menyebabkan kayu menjadi serat
dan tercuci seperti halnya kayu yang terserang jamur pelapuk putih (white rot). Kayu
mengembang dan terjadi pengurangan kekuatan yang tajam.
Wangaard (1966) dalam Arif (2002) menggambarkan perbedaan antara pengaruh
asam kuat dan basa kuat pada berbagai konsentrasi dan suhu terhadap kekuatan kayu
konifer dan kayu daun lebar (Tabel 1)
Tabel 1. Pengaruh asam kuat dan basa kuat pada berbagai konsentrasi dan suhu terhadap
kekuatan kayu konifer dan kayu daun lebar
MOR (sebagai % kontrol)
Jenis

2% HCl

10% HCl

2% NaOH

10% NaOH

20oC

50oC

20oC

50oC

20oC

50oC

20oC

50oC

Douglas fir

91

85

76

57

56

40

39

28

White oak

70

51

39

30

26

22

20

15

Kayu

Sumber : Wangaard, 1966


Erikson dan Reese (1940) memperlihatkan bahwa kayu yang terpapar pada alkohol,
aseton dan benzene menurunkan pengembangan (swelling) dan meningkatkan kehilangan
kekuatan yang dinyatakan dengan berat molekul dan kompleksitas struktur dari senyawa
organik tersebut. Perlakuan kayu dengan ammonia secara temporal menyebabkan
banyaknya reduksi pada ketahanan bengkok (bending resistance) dan memungkinkan
kayu menjadi bengkok pada sudut tajam menjadi berbagai sudut tanpa patah.
Perlakuan kayu dengan sejumlah garam dilaporkan meningkatkan ketahanan rusak
(crushing resistance). Perlakuan dengan garam asam seperti Na2CrO3 telah dilaporkan
19

menurunkan kekuatan (Ross, 1956).

Perlakuan kayu dengan garam jenis pengawet

seperti garam oksida atau garam asam dari copper, kromium, dan arsenit (CCA), tidak
menampakkan pengaruh serius terhadap kekuatan (Thompson, 1982) kecuali bila kayu
kemudian dikeringkan pada suhu tinggi (Barnes dan Winandy, 1986).
Kontak yang

lama antara kayu dengan besi menyebabkan embrittlement dan

hilangnya kekuatan tarik (Baker, 1974). Terdapat laporan bahwa dekomposisi kayu dari
besi menurunkan sifat daya pegang paku, dimana paku pada awalnya dipasangkan ke
dalam kayu gergajian segar. Penggunaan paku tergalvanisasi (dilapisi seng) atau kayu
gergajian kering akan meminimalkan masalah ini. Karena besi beroksidasi (berkarat)
membentuk besi hidroksida yang mengkatalisis reaksi oksidasi dan depolimerisasi
selulosa menjadi oksiselulosa.

C. Faktor Mekanis
Faktor mekanis (mechanical wear) dari kayu merupakan sumber minor deteriorasi
kayu dan melibatkan gaya-gaya yang merobek dan melepaskan bagian kecil permukaan
kayu. Penting hanya pada sedikit kasus penggunaan kayu khusus dimana terjadi gesekan
dan sobekan permukaan yang hebat, seperti anak tangga, menara pendingin, lantai pabrik
sekitar mesin berat, dan kontak paku dan plat pada bantalan kereta api. Partikel pasir
yang diterbangkan angin dapat menyebabkan kerusakan mekanis terhadap tiang, tunggak
dan kayu yang tidak dicat di daerah gurun dan sepanjang pantai. Contoh lain kerusakan
mekanis sering terlihat pada galangan kapal muat atau panggung/peron. Muatan yang
berat dengan sudut tajam menyebabkan abrasi dan keretakan pada permukaan kayu, yang
sepanjang waktu mengembangkan tekstur berserat mirip yang terdapat pada tahap akhir
pelapukan oleh jamur. Metode pencegahan mencakup pemilihan kayu dengan kekerasan
permukaan tinggi, susunan serat sisi/pinggir kayu pada bagian yang mengalami gesekan
kuat dan perlindungan zona kerusakan tinggi dengan plat logam atau penggunaan polimer
pengeras kayu.

20

D. Tugas/ Bahan Diskusi


Semua peserta mata kuliah ditugaskan untuk membuat sebuah paper mengenai
biodeteriorasi kayu yang diakibatkan oleh salah satu faktor abiotik sebagaimana yang
telah dipaparkan di atas menggunakan berbagai sumber pustaka terbaru !

E. Latihan Soal
Menurut Anda, faktor perusak mana yang paling sulit dicegah di antara faktor-faktor
perusak abiotik tersebut di atas ?
1.

Faktor mana yang menimbulkan kerugian paling besar ?

2.

Upaya apa yang paling praktis dilakukan untuk mencegah kerusakan kayu akibat
faktor abiotik !

F. Bahan Bacaan Pengayaan

Tinjauan Hasil-hasil Penelitian Faktor-faktor Alam yang Mempengaruhi Sifat Fisik


dan Mekanik Kayu Indonesia
Wahyu Dwianto1 dan Sri Nugroho Marsoem2
1. UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
2. Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada

Abstract
This review deals with several topics concerning natural factors affecting physical and
mechanical properties of wood, i.e. (1) wood species; (2) age and location of growing; (3)
position of wood sample in the stem; (4) diameter; (5) humidity, moisture content, and
temperature; (5) weathering and fungi; (6) forest fired; that have been done by
researchers who are members of Indonesian Wood Research Society. The purposes of
this review are (1) to evaluate the research results that have been done, (2) to promote the
applicable and feasible utilization of research results to the users, (3) to provide
information concerning previous researches that might be useful for further researches.
More than 60 wood species have been reported in this review. Besides the major and
minor commercial wood species; lesser known species, i.e. Balsa (Ochroma spp.), Randu

21

(Ceiba pentandra Gaertn.), Merkubung (Macaranga sp.), Cengkeh (Eugenia aromatica


L.), Afrika (Maesopsis eminii), Kisereh (Cinnamomum porrectum (Roxb) Kosterm),
Kibawang (Melia excelsa Jack.), Pulai Konggo (Alstonia kongoensis Engl.), Sengon Buto
(Enterolobium cyclocarpum Griserb.), Salamander (Grevillea robusta A.Cunn.), Kilemo
(Litsea cubeba Pers.), Tahongai (Kleinhovia hospita Linn.), Sukun (Arthocarpus altilis),
Arang (Diospyros borneensis), Berumbung (Adina minutifolia), Tisuk/Waru (Hibiscus
macrophyllus), Urograndis (Eucalyptus urograndis), Kelapa (Cocos nucifera L.), Kelapa
Sawit (Eleais guineensiis Jacq.), Laban (Vitex Pubescens Vahl.), Rambai (Baccaurea
motleyana Muell.), Ki Sampang (Evodia latifolia DC.), Nangka (Artocarpus integra
Merr.), Kalapi (Kalappia celebica), Gofasa (Vitex coffasus), Ketileng (Vitex glabrata),
Cemara (Gymnostoma sp.), and Lamtoro (Leucaena glauca (Willd) Benth). have also
been observed. The researches were generally done in relation to the utilization prospect
of lesser known species, crops estate species, fast growing species, timber estate species,
rural forest species, commercial species, for contruction/structural materials, handy-craft,
musical instruments, or out-door exposures.
Wood properties were interaction between specific gravity or density, moisture content,
shrinkage and mechanical properties of wood. However, the values of those physical and
mechanical properties in the papers could not directly compared to each other, because
there were various testing standard and strength classification used. And unfortunately,
researches on acoustic, thermal, electrical, creep, relaxation, and fatigue behaviour of
Indonesian wood species were very rare or almost none.
Key words: lesser known species, physical and mechanical properties, testing standard
and strength classification.
Pendahuluan
Makalah ini menguraikan hasil-hasil

Peneliti Kayu Indonesia (Mapeki). Seluruh


makalah

yang

akan
di

dibahas

Seminar

telah

penelitian sifat fisik dan mekanik jenis-

dipresentasikan

Nasional

jenis kayu Indonesia yang telah dilakukan

Mapeki ke I s/d VIII (1998 ~ 2005).

oleh para peneliti anggota Masyarakat

Tujuan tinjauan makalah ini adalah untuk


22

(1) mengevaluasi hasil-hasil penelitian

andalan/unggulan setempat (JAS), kayu

yang telah dilakukan; (2) mempromosikan

dari hutan rakyat (rural forest species),

hasil penelitian yang bersifat aplikatif

kayu perdagangan (commercial species),

sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan

kayu langka/ terancam punah, dan kayu

oleh pihak pengguna; (3) agar penelitian

alternatif

yang telah dilakukan menjadi acuan bagi

konstruksi/struktural,

penelitian selanjutnya.

pertukangan, mebel, kerajinan/ ukiran, alat

Lebih

kurang

60

makalah

yang

untuk

bahan

bangunan

kayu

perkakas/

musik, atau penggunaan di luar ruangan.

berhubungan dengan penelitian sifat fisik


dan mekanik kayu telah diterbitkan di
Prosiding

Seminar

Nasional

Tinjauan

hasil-hasil

Mapeki.

Menurut Badan Inventarisasi dan Tata

pada

Guna Hutan, Departemen Kehutanan, di

makalah ini didasarkan pada faktor-faktor

Indonesia terdapat 3124 jenis kayu yang

alam yang mempengaruhi sifat fisik dan

terdiri dari kayu komersial, non komersial,

mekanik

tersebut

tak dikenal, maupun jenis kayu budidaya

dapat dikelompokkan menjadi (1) jenis

(Anonim 1986). Jenis kayu non komersial

kayu; (2) umur dan tempat tumbuh; (3)

maupun tak dikenal biasanya memiliki

letak dalam batang; (4) diameter; (5)

berat jenis (BJ) rendah, tidak kuat dan

kelembaban, kadar air dan suhu; (6) cuaca

tidak

dan jamur; serta (7) kebakaran hutan.

penggunaannya. Sebagai contoh kayu

kayu.

penelitian

Jenis Kayu Kurang Dikenal

Faktor-faktor

awet,

sehingga

membatasi

Balsa dengan BJ 0.15 ~ 0.28 termasuk


kelas kuat dan kelas awet V (Anonim

Jenis Kayu
Penelitian sifat fisik dan mekanik yang
telah

dilakukan

Prayitno

(1998)

melaporkan

dengan

struktur anatomi, sifat-sifat fisik, mekanik,

prospek pemanfaatan jenis-jenis kayu

penyebaran dan kegunaan kayu Balsa

kurang dikenal (lesser known species),

(Ochroma spp.), Randu (Ceiba pentandra

kayu dari tanaman perkebunan (crops

Gaertn.), Kemiri (Aleurites moluccana

estate species), kayu cepat tumbuh (fast-

Willd.), dan Merkubung (Macaranga sp.).

growing species), kayu Hutan Tanaman

Sifat fisik dan mekanik yang diteliti

Industri/HTI (timber estate species), kayu

meliputi BJ, kadar air (KA), kembang-

dari

susut, warna kayu teras, tekstur, arah serat,

areal

sehubungan

1979).

agro-forestry,

kayu

23

kekerasan,

keteguhan

lentur

(MOE),

20 tahun (diameter 10 ~ 30 cm) yang

keteguhan patah (MOR), keteguhan tekan

berasal dari kebun rakyat dan petak

sejajar dan tegak lurus serat, serta tarik

percobaan Institut Pertanian Bogor di

tegak lurus serat.

Sukamantri. BJ rata-rata kayu Cengkeh

Widiati (2002) meneliti kayu Tahongai


(Kleinhovia

dan

kekerasan rata-rata adalah 575.25 (473.75

melaporkan bahwa kayu ini mempunyai

~ 698.70) kg/cm2. Berdasarkan hasil

rasio penyusutan arah tangensial dan

tersebut maka kayu Cengkeh termasuk

radial (T/R rasio) sebesar 1.47, sedangkan

kelas kuat II; sekelas dengan kayu Jati

berdasarkan BJ-nya maka termasuk kelas

yang memiliki BJ 0.70, bahkan lebih keras

kuat III. Sifat mekanik kayu ini termasuk

dari kayu Jati yang memiliki kekerasan

kelas kuat II untuk keteguhan tekan sejajar

440 kg/cm2.

hospita

Linn.)

adalah 0.79 (0.74 ~ 0.84), sedangkan

serat; kelas kuat IV untuk nilai MOE; dan


kelas kuat II untuk nilai MORnya.
Berdasarkan sifat-sifat tersebut maka kayu
ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku
kayu lapis, mebel dan konstruksi ringan.

Jenis Kayu dari Tanaman Perkebunan


Salah satu upaya untuk mengatasi
menurunnya bahan baku kayu adalah
dengan memanfaatkan jenis kayu yang
berasal

dari

tanaman

perkebunan.

Beberapa jenis kayu perkebunan yang


telah dimanfaatkan adalah kayu Karet
(Hevea brasiliensis Muel. Arg.), kayu
Kelapa (Cocos nucifera L.) dan kayu
Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.).
Rachman dan Malik (1999) meneliti BJ,
kekerasan dan sifat permesinan kayu
Cengkeh (Eugenia aromatica L.) berumur

Jenis Kayu Cepat Tumbuh, Kayu HTI


dan Kayu dari Areal Agro-forestry
Dimasa

depan,

kayu-kayu

cepat

tumbuh akan menggantikan kayu-kayu


dari hutan alam; oleh karena itu sangat
diperlukan

data-data

karakterisasinya.

Firmanti et al. (2000) meneliti sifat


kekuatan kayu Akasia (Acacia mangium
Willd.), kayu Afrika (Maesopsis eminii),
Tusam (Pinus merkusii Jungh. et de Vr.)
dan Gmelina (Gmelina arborea) contoh
uji skala penuh (6 cm x 12 cm x 300 cm).
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
BJ kayu-kayu tersebut berkisar antara 0.35
~ 0.70; MOR antara 15 ~ 90 MPa; dan
MOE antara 3.5 ~ 21 GPa. Dengan
rentang sifat kekuatan yang tinggi, maka
jenis-jenis kayu cepat tumbuh tersebut
dapat

dimanfaatkan

sebagai

bahan
24

bangunan struktural.
Sutapa

lahan agro-forestry Loa Kulu, Kabupaten


penelitian-

Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

penelitian mengenai kualitas batang dan

Pengujian sifat fisik dan mekaniknya

sifat fisik kayu Mindi (Melia azedarach

dilakukan

L.) dari areal agro-forestry tradisional di

(Deutsche Institut Fuer Normung) pada

Cankringan, Yogyakarta. Penelitian ini

bagian pangkal, tengah, ujung batang,

dilakukan terhadap pohon Mindi dengan

serta bagian cabang. Hasil pengujiannya

umur rata-rata 18 tahun dan diameter rata-

menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan

rata

kering tanur =

34.4

mengadakan

cm.

Hasil

penelitiannya

berdasarkan

standar

DIN

0.31 gr/cm3; T/R rasio

menunjukkan bahwa jumlah rata-rata mata

batang = 1.82; T/R rasio cabang = 1.97;

kayu pada batang bagian bawah sampai

MOE = 50.05 ton/cm2; MOR = 318.28

ketinggian

0.36/m,

kg/cm2; keteguhan tekan sejajar serat =

sedangkan pada batang bagian tengah dari

95.86 kg/cm2; keteguhan geser = 6.27

ketinggian 3 ~ 6 m sebanyak 0.96/m.

kg/cm2; kekerasan samping = 91.09

Ukuran diameter mata kayu tersebut

kg/cm2; kekerasan ujung = 205.98 kg/cm2;

antara 18 ~ 40 mm. Perbedaan KA antara

dan keteguhan pukul = 18.95 x 10-3 J/mm2.

kayu gubal dan kayu teras dari pohon yang

Berdasarkan

baru ditebang sebesar 15.8%. Perbedaan

(Soenardi 2001), dengan kerapatan kering

KA yang relatif kecil ini memperkecil

udara 0.31 gr/cm3 maka kayu Sukun

kemungkinan

akibat

termasuk jenis kayu ringan (< 0.36 gr/cm3).

pengeringan (Sutapa 2002). Rata-rata BJ

Stabilitas dimensi kayu ini tergolong

kayu ini adalah 0.53 dengan perbedaan

rendah. Martawijaya (1990) menyebutkan

nyata antara bagian dalam (0.52) dan

bahwa dengan rasio penyusutan yang

bagian luar batang (0.55). Besarnya

besar akan cenderung lebih mudah pecah

penyusutan tangensial (T) = 7.5%, dan

atau berubah bentuk yang mengakibatkan

penyusutan radial (R) = 4.5%, sehingga

cacat. Menurut klasifikasi kelas kekuatan

didapatkan T/R rasio sebesar 1.7 (Sutapa

kayu yang didasarkan atas hubungan nilai

2004).

kerapatan

sebanyak

terjadinya

retak

klasifikasi

kering

udara,

berat

MOR

kayu

dan

Kholik dan Prabawa (2004) meneliti

keteguhan tekan sejajar serat (Anonim

mengenai sifat dan kualitas kayu Sukun

1976), maka kayu Sukun termasuk kelas

(Arthocarpus altilis) berumur 21 tahun di

kuat IV; sehingga tidak dapat digunakan

25

sebagai bahan bangunan konstruksi.

Kibawang,

Pulai

Salamander,

dan

Konggo,
Kilemo

Kapur,

mempunyai

kestabilan dimensi rendah (T/R rasio > 2),

Jenis Kayu Andalan Setempat


Dalam upaya memberdayakan jenis-

sedangkan

kayu

lainnya

mempunyai

jenis kayu di daerah Jawa Barat sebagai

kestabilan dimensi tinggi. Sebagai bahan

Jenis kayu Andalan Setempat (JAS),

baku konstruksi, selain dilihat berdasarkan

Abdurachman

(2001)

kelas kuatnya, perlu juga dipertimbangkan

melakukan penelitian mengenai sifat fisik

rasio kekuatan terhadap berat kayunya

dan mekanik kayu Kisereh (Cinnamomum

(strength to weight ratio), karena semakin

porrectum (Roxb) Kosterm.) BJ = 0.627;

tinggi rasio tersebut maka semakin sesuai

Surian atau Suren (Toona sureni Merr.) BJ

untuk bahan baku konstruksi. Berdasarkan

= 0.465; Kibawang (Melia excelsa Jack.)

nilai BJ, MOR, dan keteguhan tekan

BJ = 0.492; Pulai Konggo (Alstonia

sejajar seratnya maka kayu Kisereh,

kongoensis Engl.) BJ = 0.412; Tusam

Tusam, Salamander, dan Kapur termasuk

(Pinus merkusii Jungh. et de Vr.) BJ =

dalam kelas kuat II, sedangkan lainnya

0.734;

(Enterolobium

kelas kuat III. Jenis-jenis kayu dengan

cyclocarpum Griserb.) BJ = 0.486; Kapur

kelas kuat II dan mempunyai rasio

(Dyobalanops aromatica Burck.) BJ =

kekuatan terhadap berat yang cukup tinggi

0.788; Salamander (Grevillea robusta

dapat dimanfaatkan untuk bahan baku

A.Cunn.) BJ = 0.614; Mahoni (Swietenia

konstruksi.

macrophylla King.) BJ = 0.577; dan

Jenis Kayu Perdagangan

dan

Sengon

Hadjib

Buto

Kilemo (Litsea cubeba Pers.) BJ = 0.460.

Kholik

dan

Gunawan

(2004)

Sifat fisik dan mekanik yang diuji meliputi

melaporkan sifat dan kegunaan 6 jenis

KA, penyusutan, keteguhan pada batas

kayu Kalimantan Timur. Jenis-jenis kayu

proporsi, MOE, MOR, keteguhan tekan

yang digunakan adalah kayu Sungkai

dan geser sejajar dan tegak lurus serat,

(Peronema

keteguhan

pukul,

serta

(Alstonia

keteguhan

tarik

serat,

(Artocarpus

kekerasan,
tegak

lurus

canescens
scholaris

R.

elasticus),

Jack.),

Pulai

Br.),

Terap

kayu

Arang

berdasarkan standar ASTM (American

(Diospyros

Society for Testing Materials) D 143-94.

(Dipterocarpus verrucosus) dan Bintangur

Dari jenis-jenis kayu yang diteliti, Kisereh,

(Calophylum depresinervosum). Contoh

borneensis),

Balau

26

kayu diambil dari pohon dengan diameter

jenis kayu yang digunakan untuk alat

minimal 20 cm (dbh), tinggi bebas cabang

musik

minimal 5 m dan bebas cacat. Pengujian

(Adina minutifolia). Kayu ini berasal dari

sifat fisik dan mekaniknya berdasarkan

hutan

standar DIN 52182, 52184, 52185 dan

berkurang, sehingga perlu ditemukan jenis

52186. Berdasarkan klasifikasi berat kayu

kayu lain yang memiliki sifat akustik yang

(Soenardi 2001), kayu Pulai termasuk

sama dengan kayu tersebut. Sebagai bahan

jenis kayu ringan (kerapatan kering udara

baku untuk alat musik, sifat akustik yang

< 0.36 gr/cm3); kayu Sungkai, Terap,

dibutuhkan adalah damping factor (tan ),

Arang dan Bintangur termasuk jenis kayu

specific dynamic Youngs modulus (E/),

sedang (kerapatan kering udara antara

kerapatan (), kestabilan dimensi dan sifat

0.36 ~ 0.56 gr/cm3); kayu Balau termasuk

mekanik yang tinggi. Selain Berumbung,

jenis kayu berat (kerapatan kering udara >

jenis kayu yang digunakan pada penelitian

0.56 gr/cm3). Dibandingkan dengan jenis-

ini adalah Merawan (Hopea mengarawan

jenis kayu yang diteliti lainnya, kayu

Mig.)

Balau memiliki kestabilan dimensi paling

macrophyllus). E/ dan tan dideteksi

tinggi (T/R rasio = 1.19). Berdasarkan

dengan metode free-free flexual vibration.

hasil pengujian sifat mekaniknya (MOE,

Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

MOR dan keteguhan tekan sejajar serat)

kayu Berumbung mempunyai nilai

dan klasifikasi menurut Anonim (1979)

tinggi (0.85), E/ sedang (19.81 GPa) dan

maka kayu Balau termasuk kelas kuat II,

tan rendah (0.00684). Nilai dan tan

dapat digunakan sebagai bahan konstruksi

kayu Merawan dan Tisuk lebih rendah

dan pertukangan; kayu Terap, Arang dan

dari kayu Berumbung, sehingga tidak

Bintangur, termasuk kelas kuat III, masih

dapat menggantikan kayu Berumbung

dapat digunakan sebagai bahan konstruksi

sebagai bahan baku alat musik kolintang.

dan pertukangan namun terbatas pada

Kayu Merawan dapat digunakan sebagai

beban yang lebih ringan; kayu Sungkai

soundboards gitar dan piano karena

dan Pulai termasuk kelas kuat IV, dapat

mempunyai nilai sedang (0.57), E/

digunakan sebagai komponen mebel.

tinggi (29.43 GPa) dan tan sangat rendah

Hadjib dan Sarwono (2004) meneliti


mengenai sifat akustik kayu. Salah satu

kolintang
alam

dan

(0.00413).

dan

adalah

Berumbung

jumlahnya

Tisuk/Waru

Sedangkan

semakin

(Hibiscus

kayu

Tisuk

mempunyai nilai rendah (0.39) dan tan

27

rendah (0.00666) dapat digunakan sebagai

silvikultur, data dan pola penyebaran,

plat gitar bagian atas.

tingkat kerapatan, tingkat asosiasinya

Fernandes et al. (2004) melaporkan


perambatan

panas

kayu

pohon

Nilai

Tampomas dan Gunung Kareumbi Masigit,

konduktivitas termal kayu merupakan

serta hutan rakyat di beberapa wilayah

faktor penting pada proses perekatan yang

Kab. Sumedang. Contoh uji kayu untuk

menggunakan

panas.

karakterisasi diperoleh dari Kec. Sukasari,

Konduktivitas termal adalah bilangan

berumur 30 tahun dengan diameter 33 cm

yang disetarakan dengan besarnya panas

dan tinggi 20 m. Nilai kerapatan kering

yang mengalir pada suatu balok dengan

udaranya berkisar antara 0.41 ~ 1.13

panjang 1 m dan selisih suhu 1C (Siau

gr/cm3 dengan rata-rata 0.56 gr/cm3.

perdagangan

jenis

dengan jenis-jenis pohon lain dan habitat

Indonesia.

kempa

1995). Jenis kayu yang digunakan adalah

ini

di

Pada

tahun

hutan

2004,

alam

kayu

Gunung

Ramin

kayu (Tectona grandis L.f.), Sengon

(Gonystylus

(Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen),

disetujui untuk masuk dalam Konvensi

Meranti (Shorea spp.), dan Keruing

Perdagangan Internasional Species Flora

(Dipterocarpus cornutus Dyer.). Hasil

dan Fauna (CITES) appendix II yang

penelitian menunjukkan bahwa setiap

mengatur dan mengawasi perdagangan

jenis kayu memiliki nilai konduktivitas

jenis-jenis kayu yang akan terancam

termal yang berbeda nyata pada taraf uji

punah. Kayu Ramin mempunyai BJ 0.63

1%.

(0.48 ~ 0.84), berwarna putih kekuning-

Jenis Kayu Langka dan Terancam


Punah

kuningan atau kuning gading dengan arah

Pohon
javanica

Gadog/Gintung
Blume)

atau

(Bischofia

dengan

nama

perdagangan Bishop wood merupakan


salah satu jenis pohon di Jawa Barat yang
mulai langka. Sehingga diperlukan suatu
kajian penelitian mengenai penyebaran
serta

pengujian

sifat-sifat

kayunya.

Suwandhi et al. (2004) mengadakan


penelitian

mengenai

morfologis

dan

bancanus

Kurz.)

telah

serat lurus, tekstur halus dan merata, serta


permukaan kayu mengkilat dan licin.
Untuk memenuhi kebutuhan beberapa
industri

kayu

yang

selama

ini

menggunakan bahan baku kayu Ramin,


maka perlu dicari jenis kayu alternatif
sebagai pengganti Ramin dari jenis-jenis
kayu yang kurang dikenal. Rulliaty (2005)
melakukan pengamatan beberapa jenis

28

kayu

pengganti

dilakukan

Ramin.

terhadap

Pengamatan

jenis-jenis

kayu

kayu hasil tebangan. Pengujian sifat fisik


dan

mekaniknya

berdasarkan

standar

koleksi yang terdapat di Laboratorium

ASTM D 143-94. Hasil pengujian sifat

Anatomi Kayu, Pusat Penelitian dan

fisik dan mekaniknya dapat dilihat pada

Pengembangan Hasil Hutan, Bogor yang

Tabel 1.

memiliki kesamaan, terutama dalam hal

Umur dan Tempat Tumbuh

warna, BJ, arah serat dan tekstur kayu.

Penelitian-penelitian mengenai faktor

Berdasarkan hasil pengamatan, terdapat 25

umur dan tempat tumbuh terhadap sifat

jenis kayu yang memiliki kesamaan

fisik

dengan kayu Ramin.

terhadap jenis-jenis kayu kurang dikenal,

Jenis Kayu Alternatif

yaitu Urograndis (Eucalyptus urograndis);

dan

mekanik

telah

dilakukan

Damar Mata Kucing (Shorea javanica

kayu cepat tumbuh dan kayu HTI, yaitu

K. et V.) merupakan pohon penghasil resin

Mindi (Melia azedarach L.), Akasia

damar.

(Acacia mangium Willd.) dan Gmelina

Sarwono

(2004)

melakukan

penelitian mengenai kayu ini dengan

(Gmelina

tujuan

perdagangan, yaitu Jati (Tectona grandis

untuk

menganalisis

alternatif

pemanfaatan paska produksi getahnya

arborea);

serta

kayu

L.f).

dengan mengamati sifat fisik dan mekanik


Table 1. Physical and mechanical properties of Damar Mata Kucing (Shorea javanica K.
et V.) wood.
Physical and Mechanical Properties
Density (gr/cm3)
Air-dry moisture content (%)
Shrinkage (%)
Stress at proportional limit (kg/cm2)
Stress at rupture limit (kg/cm2)
MOE (kg/cm2)
Impact bending (kgm/dm3)
Compression parallel to grain (kg/cm2)
Compression perpendicular to grain (kg/cm2)
Edge hardness (kg)
Surface hardness (kg)
Shear strength (kg/cm2)
Tears strength (kg/cm2)
Tensile strength perpendicular to grain (kg/cm2)
Source: Sarwono (2004).

Average
0.78
9.23

Radial

Tangential

4.074

8.149

16.71

17.75

106.91
53.30
34.49

96.94
46.68
38.23

367.07
520.38
96010
336.34
63.60
521.66
320

29

keteguhan geser sejajar serat (R dan T),

Jenis Kayu Kurang Dikenal


Penelitian sifat fisik dan mekanik
jenis

kayu

(Eucalyptus

lebih tinggi dibandingkan dengan klon

urograndis) dilakukan terhadap tanaman

lainnya; sehingga dapat dipertimbangkan

berumur 2 dan 3 tahun (Hadjib 2000).

untuk dikembangkan sebagai salah satu

Hasil pengujiannya dirangkum pada Tabel

tanaman pada HTI.

2. Dari hasil pengamatan, belum terdapat

Jenis Kayu Cepat Tumbuh dan Kayu


HTI

perbedaan

Urograndis

kekerasan sisi, nilai MOE dan MOR yang

yang

nyata

pada

BJ

berdasarkan jarak empulur ke arah kulit


dan dari pangkal ke ujung batang bebas
cabang. Menurut klasifikasi kekuatan kayu
Indonesia, kayu tersebut tergolong kelas
kuat III sehingga dapat digunakan untuk
bahan baku mebel atau konstruksi ringan.
Wulandari et al. (2002) meneliti
variabilitas sifat fisik dan mekanik kayu
Urograndis dari beberapa klon. Kayu
Urograndis merupakan hasil persilangan
antara E. urophylla S.T. Blake dan E.
grandis W. Hill ex Maiden. Kayu yang
digunakan pada penelitian ini terdiri dari 4
klon, yaitu klon 1837; 382.01 No.15; 1841
No.1; dan 1841 No.20 berasal dari
Kalimantan Timur dan berusia 3 tahun 6
bulan.

Pengujian

sifat

fisik

dan

mekaniknya berdasarkan ASTM D143-94


contoh uji bebas cacat. Berdasarkan
klasifikasi Den Berger (1923), kayu
Urograndis dari 4 klon tersebut termasuk
kelas kuat III-IV. Klon 1837 memiliki
nilai

keteguhan

tekan

sejajar

serat,

Kayu Mindi (Melia azedarach L.)


merupakan jenis kayu cepat tumbuh
dengan riap sekitar 20 m3/ha/tahun dan
mulai dikembangkan sebagai salah satu
jenis kayu HTI. Penelitian yang dilakukan
oleh

Kasmudjo

dan

Sunarto

(1999)

bertujuan membandingkan sifat-sifat kayu


Mindi pada umur 12 dan 18 tahun.
Pengujian sifat fisik dan mekaniknya
dilakukan berdasarkan standar ASTM D
143-94. Hasil pengujiannya dapat dilihat
pada Tabel 3. BJ dan sifat mekanik yang
diuji meningkat dengan bertambahnya
umur

pohon,

sedangkan

KA

dan

penyusutan tidak berbeda nyata. Dengan


T/R rasio yang sedang, kayu ini cenderung
mudah retak dan pecah pada proses
pengeringan awal. Dari sifat mekanik
yang menengah, kayu ini kurang memadai
untuk

penggunaan

yang

memerlukan

prioritas kekuatan.
Gunawan

et

al.

(2001a)

telah

melakukan penelitian mengenai variasi

30

sifat kayu HTI berdasarkan umur dan

MOR dan keteguhan tekan sejajar serat.

lokasi tanaman terhadap kayu Akasia

Penyusutan T dan MOR kayu Akasia yang

(Acacia mangium Willd.) dan Gmelina

ditanam

di

Sebulu

(Gmelina arborea) dengan umur 2, 3, 4, 5,

dibandingkan

dengan

dan 6 tahun yang tumbuh di areal HPHTI

Untuk kayu Gmelina, hampir seluruh sifat

PT Sumalindo Lestari Jaya di Sebulu dan

kayu yang diamati berbeda nyata pada

Menamang. Pengujian sifat fisik dan

tingkat kepercayaan 5% terhadap umur

mekaniknya menggunakan standar DIN,

tanaman dan lokasi tempat tumbuh,

meliputi kerapatan, penyusutan, MOE,

kecuali

MOR, keteguhan geser, keteguhan tekan

Kerapatan, MOR dan keteguhan geser

sejajar serat dan kekerasan. Dari uji

arah radial kayu Gmelina yang tumbuh di

statistik menunjukkan bahwa sifat kayu

Sebulu lebih tinggi dibandingkan dengan

Akasia yang berbeda nyata pada tingkat

di Menamang pada umur 2 tahun,

kepercayaan 5% terhadap umur tanaman

sedangkan pada umur 6 tahun kerapatan,

adalah penyusutan T, MOR dan kekerasan

MOR dan keteguhan tekan sejajar seratnya

bidang R; sedangkan terhadap lokasi

menjadi lebih rendah, tetapi keteguhan

tempat tumbuh adalah penyusutan T,

geser dan kekerasannya lebih tinggi.

penyusutan

lebih
di

rendah

Menamang.

dan

MOE.

Table 2. Physical and mechanical properties of 2 and 3 years-old Urograndis (Eucalyptus


urograndis) wood.
Physical and Mechanical Properties
Specific gravity
MOR in wet (kg/cm2)
MOR in dry (kg/cm2)
Source: Hadjib (2000)

2 years-old
0.451 ~ 0.612
454.10 ~ 713.50
548.16 ~ 953.28

3 years-old
0.521 ~ 0.700
502.54 ~ 872.78
702.15 ~ 1074.07

Table 3. Physical and mechanical properties of 12 and 18 years-old Mindi (Melia


azedarach L.) wood.
Physical and Mechanical Properties
Specific gravity
Air-dry moisture content (%)
T/R ratio
Compression parallel to grain (kg/cm2)
Compression perpendicular to grain (kg/cm2)
Hardness (kg/cm2)
Source: Kasmudjo and Sunarto (1999)

12 years-old
0.47
13.8
1.59
312.3
76.5
337.2

18 years-old
0.55
12.8
1.58
326.8
88.0
369.1

31

menunjukkan bahwa KA rata-rata bagian

Jenis Kayu Perdagangan


Daur kayu Jati (Tectona grandis L.f)
yang

ditanam

Perum

Perhutani

pangkal lebih tinggi; sedangkan pada arah


horizontal

tidak

ada

kecenderungan

berdasarkan kriteria silvikultur dan sifat

tertentu untuk ketiga KU tersebut. KA

kayu (fisik, mekanik, kimia, pengerjaan)

rata-rata keseluruhan menunjukkan bahwa

yang

kayu

semakin tinggi KU maka KA-nya semakin

perkakas, ditetapkan antara 60 ~ 80 tahun.

rendah (KU IV = 94.79%; KU VI =

Namun

82.45%;

bertujuan

menghasilkan

berdasarkan

pertimbangan

KU

VIII

44.90%).

finansial, daur yang sesuai berkisar antara

Kemungkinan

40 ~ 60 tahun. Penerapan daur yang lebih

mempengaruhi

pendek

pengaruhnya

adalah: (1) KU VIII telah mengalami

terhadap sifat-sifat kayu. Menurut Bhat

teresan selama 2 tahun; (2) kandungan

(1991) kerapatan dan kekuatan kayu Jati

ekstraktif kayu Jati KU VI lebih tinggi

yang berumur lebih muda tidak selalu

daripada KU IV (Ismariana 1993); (3)

lebih rendah dari yang berumur lebih tua.

kandungan ekstraktif pada kayu teras lebih

Sulistyo dan Marsoem (1999) meneliti

tinggi (Panshin dan de Zeeuw 1980); (4)

mengenai pengaruh umur terhadap sifat

BJ kayu cenderung semakin besar ke arah

fisik dan mekanik kayu Jati. Bahan

kulit dan menyebabkan kandungan kadar

penelitian ini berasal dari hutan tanaman

airnya semakin rendah (Wangaard 1950;

bonita IV di KPH Madiun, BKPH Dungus,

Koch 1972). Pada penelitian ini tidak

Perum perhutani Unit II Jawa Timur;

terlihat perbedaan BJ yang disebabkan

dengan kelas umur (KU) VIII (tahun

oleh KU. BJ KU IV = 0.675; KU VI =

tanam 1917), KU VI (tahun tanam 1942)

0.556; dan KU VIII = 0.604. Tetapi nilai

dan

1958).

MOE dan MOR menurun dengan semakin

Pengambilan contoh uji kayu dilakukan

tingginya KU. Meningkatnya BJ ke arah

secara aksial (vertikal), yaitu pangkal,

pangkal-kulit menyebabkan meningkatnya

tengah dan ujung batang; dan secara radial

nilai MOR pada arah yang sama. Tetapi

(horizontal), yaitu dekat hati/empulur,

penyusutan arah R dan T semakin rendah

tengah

ke arah kulit dan semakin tingginya KU.

perlu

KU

dan

IV

melihat

(tahun

dekat

tanam

kulit;

berdasarkan

faktor-faktor
variasi

perbedaan

yang
KA

standar BS (British Standard) 373 (1957).

Pandit (2000) melakukan pengamatan

Hasil pengukuran pada arah vertikal

sifat makroskopis kayu Jati dengan tujuan

32

untuk mengetahui rasio kayu teras dan

Laban

gubal, rasio kayu juvenil dan kayu dewasa,

berdasarkan letak ketinggian dalam batang.

serta mutu tekstur kayu Jati dari berbagai

Sifat fisik dan mekanik yang diteliti

kelas

pengamatannya

adalah KA, kerapatan, perubahan dimensi,

menunjukkan bahwa persentase kayu teras

keteguhan tekan sejajar serat, keteguhan

dari KU I ke KU V rata-rata meningkat

pukul, MOE, MOR, keteguhan geser

secara nyata. Persentase kayu juvenil dari

sejajar

sekitar 88.05% pada KU I turun menjadi

menggunakan

sekitar 22.24% pada KU IV. Mutu tekstur

pengujian sifat-sifat fisik dan mekanik

pada

kasar

kayu ini dapat dilihat pada Tabel 4. Dari

dibandingkan dengan KU yang lebih

hasil pengujian tersebut kayu Laban

tinggi.

termasuk

umur.

KU

Hasil

yang

rendah

lebih

(Vitex

serat

dan

kelas

Vahl.)

Pubescens

kekerasan

standar

kuat

dengan

DIN.

dan

Hasil

dapat

dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi.


Penelitian mengenai sifat fisik dan

Letak dalam Batang


Penelitian-penelitian

mengenai

mekanik

kayu

Rambai

(Baccaurea

pengaruh letak dalam batang terhadap sifat

motleyana

fisik dan mekanik telah dilakukan terhadap

ketinggian dalam batang dilakukan oleh

jenis-jenis kayu kurang dikenal, yaitu kayu

Torambung dan Dayadi (2005). Contoh uji

Laban (Vitex Pubescens Vahl.) dan kayu

diambil dari pohon berdiameter antara 38

Rambai (Baccaurea motleyana Muell);

~ 44 cm dan tinggi bebas cabang antara

kayu dari tanaman perkebunan, yaitu kayu

3.2 ~ 4.0 m. Sifat fisik dan mekanik yang

Kelapa Sawit (Eleais guineensiis Jacq) dan

diteliti adalah KA (DIN 52183-77),

kayu Kelapa (Cocos nucifera L.); kayu

kerapatan (DIN 52182-76), perubahan

cepat tumbuh dan kayu HTI, yaitu kayu

dimensi, keteguhan tekan sejajar serat

Gmelina (Gmelina arborea); serta kayu

(DIN 52185-76), keteguhan pukul (DIN

andalan setempat, yaitu kayu Surian

52189-48), keteguhan lentur statis (MOE

(Toona sureni Merr.).

dan MOR, DIN 52186-78), keteguhan

Muell)

berdasarkan

letak

geser sejajar serat (DIN 52187-79) dan


kekerasan. Hasil pengujian sifat fisik dan

Jenis Kayu Kurang Dikenal


Widiati

dan

Susanto

(2005)

melaporkan sifat fisik dan mekanik kayu

mekaniknya dapat dilihat pada Tabel 5.


Secara

keseluruhan,

sifat

fisik

dan

33

mekanik kayu tersebut menurun dari

kayu Rambai termasuk ke dalam kelas

bagian pangkal menuju ujung batang.

kuat II-III.

Berdasarkan nilai-nilai sifat mekaniknya,


Table 4. Physical and mechanical properties of Laban (Vitex Pubescens Vahl.) wood
based on the bottom and upper parts of stem.
Physical and Mechanical
Properties
Green moisture content (%)
Air-dry moisture content (%)
Air-dry density (gr/cm3)
Oven-dry density (gr/cm3)
Compression parallel to grain
(N/mm2)
Impact bending (N/mm2)
MOE (N/mm2)
MOR (N/mm2)
Radial shear strength (N/mm2)
Tangential shear strength
(N/mm2)
Swelling (%)
Shrinkage (%)
Hardness (N)
Source: Widiati and Susanto (2005)

Bottom

Upper

Average

89.72
12.89
0.939
0.893
85.17

82.23
12.55
0.898
0.850
80.70

86.03
12.70
0.916
0.872
82.99

0.095
15529.02
124.79
15.30
15.66

0.087
14074.16
115.96
14.19
14.51

0.091
14803.18
120.39
14.70
15.03

Radial
5.68
5.37
7990.74

Tangential
9.41
8.59
9033.33

Longitudinal
0.20
0.20
10079.63

Table 5. Physical and mechanical properties of Rambai (Baccaurea motleyana Muell)


wood based on the bottom, middle and upper parts of stem.
Physical and Mechanical
Bottom
Properties
Air-dry moisture content (%)
12.83
Oven-dry density (gr/cm3)
0.601
Compression parallel to grain
53.79
(N/mm2)
Impact bending (J/mm2)
0.0790
2
MOE (N/mm )
10071.96
MOR (N/mm2)
89.00
Shear strength parallel to grain
12.45
(N/mm2)
Source: Torambung dan Dayadi (2005)

Middle

Upper

Average

12.45
0.592
51.89

12.43
0.587
49.38

12.57
0.593
51.69

0.0707
9337.61
85.19
11.70

0.0681
9141.30
81.28
11.29

0.0726
9516.96
85.16
11.81

34

Widiastuti (1999) melaporkan hasil

keteguhan geser tidak ada perbedaan nyata.

pengujian sifat fisik dan mekanik kayu

Hasil keteguhan tekan dan MOR tersebut

Kelapa

dikelompokkan

(Cocos

nucifera

L.)

dengan

kelas

kekuatannya

membandingkan bagian pangkal, tengah

berdasarkan Persyaratan Umum Bahan

dan ujung batang. Hasil pengujiannya

Bangunan Indonesia (1982) dan SII 0458-

dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil uji

81 (Tabel 7). Berdasarkan kriteria tersebut

statistik

ada

maka kayu Kelapa bagian ujung termasuk

perbedaan yang sangat nyata dari BJ, KA,

kelas kuat V, bagian tengah kelas kuat II-

keteguhan tekan dan MOR; sedangkan

III, dan bagian pangkal kelas kuat II.

menunjukkan

bahwa

Table 6. Physical and mechanical properties of Kelapa (Cocos nucifera L.) wood based
on the bottom, middle and upper parts of stem.
Part of
Stem

Specific
gravity

Upper
0.603
Middle
0.733
Bottom
0.803
Source: Widiastuti (1999)

Moisture
content
(%)
81.77
68.01
46.36

Shear
strength
(kg/cm2)
41.10
45.91
89.64

Compression
strength
(kg/cm2)
188.81
315.00
453.97

MOR
(kg/cm2)
233.38
749.16
838.80

Table 7. Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia and SII 0458-81 standard.
Class
I
II
III
IV
V

Compression strength (kg/cm2)


650
425 ~ 650
300 ~ 425
215 ~ 300
< 215

Penelitian mengenai sifat fisik dan

MOR (kg/cm2)
1100
725 ~ 1100
500 ~ 725
360 ~ 500
< 360

bawah sampai 0.20 pada bagian pusat atas

mekanik kayu Kelapa Hibrida untuk

batang.

mengetahui BJ, KA, stabilitas dimensi,

antara 13.1% pada bagian BJ tinggi dan

keteguhan lentur dan kekerasan pada

21.2% pada bagian BJ rendah. Laju

berbagai ketinggian dan kedalaman batang

stabilitas dimensi terbesar terjadi pada

dilakukan oleh Coto dan Rahayu (2005).

bagian BJ tinggi, yaitu 0.79% dan terkecil

Hasil

BJ

terjadi pada bagian BJ rendah, yaitu

bervariasi dari 0.72 pada bagian tepi

0.19%. Sifat mekanik sangat tergantung

penelitian

menunjukkan

KA

keseimbangan

bervariasi

35

pada BJ yang sangat bervariasi terutama

mempunyai ciri-ciri BJ dan kekuatan yang

dari bagian luar ke dalam batang.

rendah karena memiliki dinding sel yang


tipis; lingkaran tumbuh yang lebih besar

Jenis Kayu Cepat Tumbuh dan Kayu


HTI
Gmelina

(Gmelina

arborea)

merupakan salah satu jenis kayu yang


mulai banyak ditanam dalam rangka
pembangunan HTI. Menurut Mandang dan
Pandit (1997), BJ kayu Gmelina berkisar
antara 0.42 ~ 0.61; termasuk kelas kuat IIIV dan kelas awet IV-V. Riap kayu
Gmelina bervariasi dari 8.4 m3/ha/tahun
pada tanah tandus dan iklim kering,
sampai 45 m3/ha/tahun pada tanah yang
subur (Alrasjid dan Widiarti 1992).
Kasim et

al.

(2003)

melaporkan

penelitian mengenai kayu Gmelina yang


berasal

dari

daerah

sekitar

kampus

Jatinangor, Sumedang dengan diameter 30


cm. Pengujian sifat fisik dan mekanik pada
berbagai variasi ketinggian dan bagian
kayu dilakukan berdasarkan standar BS
373

(1957).

Hasil

penelitian

ini

menunjukkan bahwa BJ pada bagian


pangkal batang adalah sekitar 0.50 ~ 0.53,
sedangkan pada bagian ujung batang
adalah sekitar 0.38 ~ 0.43. BJ semakin
menurun ke arah kulit, baik pada bagian
pangkal maupun ujung batang. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena masih
adanya

kayu

juvenil.

Kayu

juvenil

dan sel-sel kayu akhir yang sedikit


(Haygreen dan Bowyer 1996). Tidak ada
perbedaan nyata antara penyusutan pada
bagian pangkal maupun ujung batang,
tetapi penyusutan semakin besar ke arah
empulur. KA kayu segar pada bagian
ujung batang lebih tinggi (158.24 ~
174.72%) daripada bagian pangkal batang
(140.16 ~ 151.83%), namun KA kering
udaranya relatif seragam (13.43 ~ 13.68%).
Tingginya

KA

berhubungan

dengan

proporsi kayu gubal dan juvenil. Sel-sel


kayu gubal mempunyai fungsi fisiologis,
yaitu menyalurkan air dan unsur hara dari
akar ke daun untuk proses fotosintesis,
sehingga banyak mengandung air. Nilai
MOR pada bagian pangkal batang lebih
tinggi (716.43 ~ 726.10 kg/cm2) daripada
bagian ujung batang (655.17 ~ 714.13
kg/cm2). Demikian pula dengan kekerasan
kayunya.

Jenis Kayu Andalan Setempat


Yunianti dan Bakri (2004) melakukan
penelitian kualitas kayu Surian (Toona
sureni Merr.) sebagai kayu unggulan di
Lahan Uji Coba KPHP Kab. Tana Toraja.
Pembuatan

contoh

uji

dilakukan

36

berdasarkan standar ISO 3130-1975. Hasil

pengaruh diameter terhadap sifat fisik dan

pengujiannya menunjukkan bahwa KA

mekanik telah dilakukan terhadap jenis

kering udara meningkat (18.22 ~ 21.24%);

kayu

kerapatan kering udara menurun (0.49 ~

Basswood (Ochroma bicolor Rowlee).

Hopea

(Hopea

cernua)

dan

0.43 g/cm ), penyusutan T (7.66 ~ 6.06%)

Dalam penggunaan kayu sebagai bahan

dan R (3.80 ~ 2.47%) menurun dari

bangunan,

pangkal ke ujung batang. Sedangkan nilai

daripada kayu gubal karena mengandung

MOR (509.05 ~ 507.78 kg/cm2) dan

ekstraktif yang bersifat racun terhadap

keteguhan tekan sejajar serat (253.77 ~

organisme perusak kayu, sehingga lebih

252.52 kg/cm2) tidak berbeda nyata.

awet (Haygreen dan Bowyer 1996).

Berdasarkan SNI 01-6244 (Badan Standar

Keberadaan cadangan makanan di dalam

Nasional 2000) mengenai Kayu Gergajian

sel kayu gubal dapat mempengaruhi

untuk Komponen Mebel, kayu Surian ini

peningkatan kerusakan akibat serangan

tidak memenuhi syarat untuk mebel

serangga dan jamur (Panshin dan de

karena KA kering udara maksimum yang

Zeeuw 1980).

dipersyaratkan

adalah

teras

lebih

disukai

Dengan

Gunawan et al. (2001b) melakukan

kerapatan kering udara rata-rata 0.47

penelitian perkembangan kayu teras pada

g/cm3, maka kayu ini tergolong jenis kayu

jenis kayu Hopea. Bahan penelitian yang

sedang (Soenardi 2001). T/R rasio sebesar

digunakan berasal dari areal HPH PT.

2.24

ini

Inhutani I Unit Berau, Kalimantan Timur;

memiliki kestabilan dimensi yang rendah.

dengan kelas diameter 10, 20, 30, 40 dan

Berdasarkan SNI 01-3527 (Badan Standar

50

Nasional 1994) mengenai Mutu Kayu

menunjukkan bahwa persentase kayu teras

Bangunan, maka kayu ini tergolong kelas

meningkat dengan bertambahnya kelas

kuat III dan IV. Dari hasil pengujian-

diameter, yaitu dari 30% pada diameter 10

pengujian tersebut, kayu Surian dapat

cm menjadi 80% pada diameter 50 cm.

dimanfaatkan untuk bahan konstruksi

Pada penelitian ini dikemukakan bahwa

ringan.

model regresi hubungan antara diameter

menunjukkan

14%.

kayu

bahwa

kayu

cm

(dbh).

Hasil

pengukuran

(X) dengan prosentase kayu teras (Y)


adalah Y = 45.38 + 30.44 ln(X).

Diameter
Penelitian-penelitian

mengenai

Berdasarkan persamaan ini diperkirakan

37

pembentukan kayu teras pada jenis kayu

Kelembaban, Kadar Air dan Suhu

Hopea cernua terjadi setelah diameter

Perubahan kelembaban nisbi akan

pohon sekitar 4.4 cm. Peningkatan kayu

menyebabkan perubahan KA kayu yang

teras untuk penambahan diameter setiap 1

bersifat higroskopis. Perubahan KA kayu

cm adalah 1.58% Sebagai pembanding,

akan mengakibatkan perubahan dimensi

pembentukan kayu teras pada jenis kayu

kayu. Coto (2005) melakukan penelitian

Rasamala (Altingia excelsa Noronhoa)

mengenai

terjadi setelah diameter pohon sekitar 15

perubahan kelembaban. Penelitian ini

cm (Sukartana 1989); Shorea ovalis

bertujuan

untuk

setelah 7.4 cm, Shorea parvifolia setelah

perubahan

KA

8.3 cm, dan Koompassia malaccensis

(Dyobalanops

setelah 6.4 cm (Rahmanto 1997).

Keruing (Dipterocarpus cornutus Dyer.),

kepekaan

kayu

terhadap

mengetahui
jenis

kayu

aromatica

laju

Kamper
Gaertn.),

Wahyudi (2005) melaporkan pengaruh

Karet (Hevea brasiliensis Muel. Arg.), Jati

diameter batang terhadap kualitas kayu

(Tectona grandis L.f.), Mangium (Acacia

Basswood berumur 8 tahun yang ditanam

mangium

di kawasan Darmaga, Bogor. Diameter

moluccana (Blume) Backer) dan Lamtoro

yang diamati adalah 28 cm, 38 cm, dan 51

(Leucaena glauca (Willd) Benth) pada

cm (dbh). Kerapatan, keteguhan lentur

arah R, T dan L, serta 3 variasi ketebalan

statis (MOE dan MOR) secara vertikal dan

(1 cm, 2 cm dan 3 cm). Hasil penelitian

horizontal diuji berdasarkan standar BS

menunjukkan bahwa laju perubahan KA

373 (1957). Hasil pengujian menunjukkan

dipengaruhi oleh jenis, arah serat dan

bahwa

MOR

ketebalan kayu. Laju perubahan KA

dipengaruhi oleh diameter batang, tetapi

tercepat terjadi pada contoh uji kayu

nilai MOE tidak. Nilai kerapatan dan

Kamper arah T ketebalan 1 cm dan

keteguhan lentur statis bervariasi secara

terlambat pada kayu Keruing arah R

vertikal maupun horizontal, tetapi variasi

ketebalan 3 cm.

nilai

kerapatan

dan

vertikal lebih kecil dari variasi horizontal.

Basri

Willd.),

et

al.

Gmelina

(2000)

(Gmelina

melaporkan

Nilai-nilai tersebut menurun dari pangkal

ketergantungan Kadar Air Keseimbangan

ke ujung batang dan dari kayu teras ke

(KAK) terhadap jenis kayu dan suhu

kayu gubal.

lingkungan. Jenis kayu yang digunakan


adalah kayu Kalapi (Kalappia celebica),

38

Gofasa (Vitex coffasus) dan Ketileng

KA basah yang lebih tinggi karena

(Vitex

tersebut

memiliki ukuran rongga sel yang lebar

kemudian

sehingga lebih banyak menampung air.

dikondisikan pada 4 lingkungan dengan

Sedangkan KA pada TJS dan KU relatif

suhu dan kelembaban berbeda. Hasil

seragam. Penurunan KA kayu di bawah

penelitiannya menunjukkan bahwa proses

TJS menyebabkan penurunan berat dan

adsorpsi terjadi pada suhu kamar atau

susut. Berat kayu dipengaruhi oleh KA

lebih rendah, sebaliknya proses desorpsi

dalam rongga sel, sedangkan kembang

terjadi di atas suhu kamar. Perbedaan

susut

besarnya KAK pada setiap jenis kayu

perubahan KA pada dinding sel. Susut dan

terutama terjadi pada proses adsorpsi.

penurunan

berat

hubungan

linear

glabrata).

dikeringkan

Kayu

hingga

Selanjutnya

9%,

Sadiyo

dan

Daniyati

kayu

lebih

dipengaruhi
kayu

oleh

mempunyai

sehingga

dapat

(2005) mengajukan model regresi linier

dinyatakan dengan model matematika.

sederhana hubungan antara susut dengan

Tetapi model matematika untuk ke 10

berat kayu 10 jenis kayu Indonesia: Jenis-

jenis kayu yang diteliti berbeda-beda

jenis kayu yang digunakan antara lain

akibat adanya karakteristik pada masing-

adalah kayu Afrika (Maesopsis eminii),

masing jenis, sehingga tidak dapat dibuat

Kapur (Dyobalanops aromatica Gaertn.),

satu

Jati plus (Tectona grandis L.f.), Meranti

matematika ini hanya berlaku untuk setiap

Merah

jenis kayu menurut ukuran contoh uji

(Shorea

Sengon

spp.),

(Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen),

model.

Penggunaan

model

tertentu.

dan Tusam (Pinus merkusii Jungh. et de


Vr.).

Pengukuran

berat

dan

susut

dilakukan dari kondisi basah/segar, titik

Cuaca dan Jamur


Cuaca

jenuh serat (TJS), kering udara (KU),

Proses

sampai kering tanur (KT). Hasil penelitian

(weathering)

menunjukkan bahwa KA rata-rata 10 jenis

kerusakan pada permukaan kayu. Faktor

kayu tersebut menurun dari kondisi basah

terpenting dari proses pelapukan adalah

(58.67%) ke kondisi TJS (25.72%) dan

radiasi

menurun lagi pada kondisi KU (18.35%).

kemampuan

Kayu yang berkerapatan rendah memiliki

sangat

pelapukan

oleh

akan

sinar

matahari

penetrasinya

terbatas.

cuaca

menyebabkan

walaupun
pada

kayu

Penetrasinya

sinar

39

ultraviolet (UV) yang paling merusak

5.76%, 3.50%, dan 3.52%. Perubahan

tidak lebih dari 75 m, sedangkan

warna mulai terlihat setelah minggu ke 2

penetrasi sinar yang dapat dilihat oleh

penjemuran. Selain perubahan warna,

mata manusia dengan panjang gelombang

permukaan

400 ~ 700 nm hanya sampai 200 m (Feist

muncul

dan Hon 1984).

semakin memanjang dan mengakibatkan

kayu

menjadi

guratan-guratan

kasar
kecil

dan
yang

Sudiyani et al. (1998) melaporkan

retak. Hal ini lebih cepat terjadi pada kayu

perubahan dimensi dan penampilan 3 jenis

Ki Sampang, yaitu setelah 8 minggu

kayu tropis setelah pelapukan oleh cuaca.

penjemuran.

Selain

Jenis kayu yang digunakan pada penelitian

permukaan

kayunya

ini adalah Ki Sampang (Evodia latifolia

jamur.

DC.), Puspa (Schima noronhae Reinw.)

Informasi

itu

hasil

kedua

telah

sisi

ditumbuhi

penelitian tentang

dan kayu Nangka (Artocarpus integra

penggunaan kayu untuk luar ruangan di

Merr.) berumur lebih dari 20 tahun.

Indonesia masih terbatas dan jenis yang

Contoh uji diletakkan dengan kemiringan

populer di masyarakat untuk fungsi luar

5 menghadap sinar matahari dengan

ruangan (pagar, pintu, mebel taman)

posisi 654 lintang selatan dan 10642

adalah

bujur timur di Pusat Penelitian Fisika,

menguraikan

Serpong. Periode pengamatan dilakukan

pengembangan

dari

Hasil

siklus kering-basah (wetting and drying

minggu

cyclic test) dan kondisi 3 jenis kayu

penjemuran menunjukkan bahwa kayu Ki

Pasang setelah mengalami pencuacaan

Sampang mengalami kehilangan berat

(weathering).

5.81%, sedangkan kayu Puspa dan Nangka

digunakan adalah kayu Pasang-1 (Quercus

hanya

Sampang

sp.), Pasang-2 (Lithocarpus sp.) dan

mengalami penurunan KA dari 9.03%

Cemara (Gymnostoma sp.) dari Sumatera

menjadi 8.60%, sedangkan kayu Puspa

Utara. Pembuatan contoh uji mengacu

dan Nangka terjadi peningkatan sekitar 0.5

pada penelitian sebelumnya (Malik dan

~ 2.0%. Pada minggu ke 24 penyusutan

Balfas

yang terjadi masing-masing untuk kayu Ki

pengembangan dilakukan pada menit ke 5,

Sampang, Puspa dan Nangka adalah

10, 15, 30, 1 jam, 4 jam, 8 jam, dan 24

sampai

pengukuran

2.30%.

24

setelah

Kayu

minggu.
24

Ki

kayu

Jati.
hasil

Malik
penelitian

(swelling),

Jenis-jenis

2002).

(2004)
sifat

pengujian

kayu

Pengukuran

yang

sifat

40

jam menggunakan alat Swellow-meter.

cairan

Pengujian

siklus

menempati gugus ikatan cairan pada kayu

dilakukan

kering

siklus

dan

pada

basah
kondisi

karena

(Gallagher

komponen

1989).

tylosis

Karena

respon

ruangan/suhu kamar, oven, pembasahan

pengembangan yang lebih lambat maka

dengan perendaman, dan freezing masing-

kayu Pasang akan mengalami perubahan

masing 24 jam. Sedangkan pencuacaan

dimensi secara perlahan dibandingkan

dilakukan selama 2 bulan. Hasil penelitian

kayu Cemara. Menurut Rowell (1983)

menunjukkan bahwa kerapatan kering

kayu yang memiliki sifat pengembangan

udara (gr/cm3) kayu Pasang-1 adalah 0.92

awal yang cepat akan menimbulkan

(T) ~ 0.98 (R), kayu Pasang-2 adalah 0.69

kerusakan fisik pada permukaan kayu,

(T) ~ 0.64 (R), dan kayu Cemara adalah

seperti retak atau pecah. Hasil pengujian

0.81 (T) ~ 0.77 (R). Tingkat absorpsi (%)

siklus kering-basah menunjukkan bahwa

kayu Pasang-1 adalah 37.41 (T) ~ 31.44

tingkat

(R), kayu Pasang-2 adalah 55.65 (T) ~

bentuk/cacat mengalami peningkatan; hal

55.55 (R), dan kayu Cemara adalah 35.54

ini akibat adanya pelarutan komponen

(T) ~ 45.60 (R). Kerapatan berpengaruh

ekstraktif polar dalam proses perendaman

terhadap

dan

sehingga memberikan tempat ikatan yang

stabilitas kayu. Semakin tinggi kerapatan

lebih besar pada siklus berikutnya. Kayu

kayu maka tingkat absorpsinya semakin

Pasang sedikit mengalami cacat retak dan

rendah, karena kayu dengan kerapatan

pecah, tetapi mengalami perubahan bentuk

tinggi

(mencawan) dibanding kayu Cemara.

besarnya

cenderung

absorpsi

air

memiliki

tempat

absorpsi

air

dan

perubahan

penampung air lebih sedikit daripada kayu

Hasil

berkerapatan lebih rendah (Panshin dan de

menunjukkan

Zeeuw 1980). Laju pengembangan kedua

mengalami retak dan pecah, Kayu Pasang-

jenis kayu Pasang tersebut lebih lambat

2 mengalami retak, sedangkan kayu

dibandingkan dengan kayu Cemara; hal

Pasang-1 tidak mengalami retak atau

ini kemungkinan disebabkan oleh ukuran

pecah.

diameter pembuluh kayu Cemara yang

perubahan

warna,

tetapi

secara

lebih besar, serta banyaknya tylosis pada

makroskopis

belum

dijumpai

adanya

kayu

serangan

Pasang.

Adanya

tylosis

dapat

mengganggu sifat absorpsi kayu terhadap

pengamatan
bahwa

Seluruh

jamur

pencuacaan
kayu

kayu

maupun

Cemara

mengalami

serangga.

Disimpulkan bahwa kedua jenis kayu

41

terhadap

tanaman Karet (Hevea brasilliensis Muel.

pencuacaan yang lebih baik dari kayu

Arg.), Cokelat (Theobroma cacao) dan

Cemara, tetapi ketiga jenis kayu tersebut

Eucalyptus

relatif mudah mengalami kerusakan fisik

digunakan didapat dari tanaman Akasia di

dan perubahan bentuk bila digunakan

hutan tanaman Bukit Suharto Samarinda

untuk luar ruangan. Untuk mengatasi hal

berumur 10 tahun dengan diameter 15 cm.

itu sortimen kayu dapat dibuat lebih tipis

Pengujian sifat fisik dan mekaniknya

dan direkatkan sehingga menghasilkan

meliputi KA, kerapatan, MOE, MOR,

sortimen yang lebih tebal.

keteguhan pukul, keteguhan tekan sejajar

Pasang

memiliki

ketahanan

Contoh

spp.

uji

yang

serat dan keteguhan geser berdasarkan


standar

Jamur
Budi

et

al.

(1998)

melaporkan

DIN.

menunjukkan

Hasil
bahwa

pengamatan
jamur

ini

pengaruh serangan jamur Upas (Curticium

mengakibatkan perubahan warna, tekstur,

salmonicolor Berk. & Br.) terhadap sifat

dan penurunan kekerasan pada kayu.

anatomi, fisik dan mekanik batang Acacia

Warna

mangium Wild. Jamur ini menyerang

menjadi coklat kehitaman. Perubahan

batang bagian atas tanaman Akasia dari

warna ini disebabkan oleh zat ekstraktif

berbagai umur di berbagai tempat di

dari sel-sel parenkimatis di sekitar luka

Indonesia, melalui luka pada kulit atau

dan masuk ke dalam bagian kayu melalui

kulit kayu yang tipis. Akibatnya kulit kayu

noktah. Sedangkan tekstur menjadi kasar

menjadi

akibat

pecah-pecah

dan

terkelupas;

bagian

kayu

penebalan

yang

dinding

terserang

sel

dan

matinya jaringan kulit bagian dalam;

penyempitan diameter lumen. Prosentase

gangguan

dalam

kerusakan pada bidang radial (horizontal)

dapat

lebih besar daripada bidang transversal

terbentuk kallus atau kanker. Setelah

(vertikal) dan bagian kayu yang terserang

menginfeksi, jamur ini lebih dominan

menjadi melunak. Seluruh sifat mekanik

menyerang kayu teras karena terdapat

yang diuji menunjukkan penurunan drastis.

rongga-rongga sel yang berisi udara (O2),

MOE turun dari 6977.75 N/mm2 menjadi

dibandingkan dengan kayu gubal yang

5894.92 N/mm2; MOR dari 52.67 N/mm2

rongga-rongga selnya terisi air. Selain

menjadi 43.42 N/mm2; keteguhan pukul

Akasia, hifa jamur ini juga menyerang

dari 0.059 N/mm2 menjadi 0.030 N/mm2;

terhadap

menghasilkan

kambium

phloem;

bahkan

42

keteguhan tekan sejajar serat dari 28.08

menyerang ke 4 jenis kayu tersebut adalah

N/mm2

dan

dari jenis Ceratocystis dan Penicillium,

keteguhan geser dari 8.14 N/mm2 menjadi

dengan serangan antara 0% ~ 100%.

N/mm2.

Intensitas serangan pada KA kayu antara

menjadi

Selanjutnya

23.32

N/mm2;

penelitian

mengenai

11%

20%

mengakibatkan

luas

pengaruh serangan jamur Biru terhadap

pewarnaan

perubahan sifat fisik dan kekuatan kayu

mencapai 100%, Karet 90%, Agathis 80%

dilaporkan oleh Sarwono et al. (2005).

dan

Jamur ini merupakan salah satu jamur

serangan 75%, MOR kayu Ramin dan

yang menyebabkan pewarnaan dan hanya

Karet cenderung mengalami kenaikan. Hal

menyerang kayu yang masih basah. Pada

ini kemungkinan sebagai akibat dari

umumnya

aktivitas

kayu

gubal

lebih

banyak

noda

Perupuk

pada

20%.

enzim

kayu

Pada

jamur

Ramin

intensitas

Biru

yang

terserang dibandingkan kayu teras. Boyce

mempengaruhi pemadatan polimer pada

(1965) berpendapat bahwa jamur ini

dinding

hanya mengisi ronggal sel, tetapi menurut

ditunjukkan pada bekas patahan saat

Baldwin dan Streisel (1985) jamur ini

pengujian lentur yang rapuh (brittle).

berperan menghancurkan lignin. Jenis

Tetapi secara umum serangan jamur ini

kayu yang diamati pada penelitian ini

menyebabkan penurunan kualitas kayu

adalah Perupuk (Lophopethalum sp.),

dan setelah serangan jamur ini, kayu akan

Karet (Hevea brasiliensis Muel. Arg.),

mudah diserang jamur pelapuk yang akan

Agathis (Agathis borneensis) dan Ramin

merusak

(Gonystylus

sehingga akan menurunkan sifat fisik dan

bancanus

Kurz.)

yang

diperoleh dari industri pengolahan kayu di

sel

kayu.

komponen

Keadaan

tersebut

dinding

selnya

mekaniknya.

PT Inhutani I Jawa Timur yang telah


terserang jamur Biru dengan berbagai

Kebakaran Hutan

tingkat intensitas serangan. Sifat yang

Liansyah (2000) melakukan penelitian

diuji meliputi KA, BJ, keteguhan lentur

mengenai sifat fisik dan mekanik kayu

statis, keteguhan tekan sejajar serat dan

pasca kebakaran jenis Meranti Merah

keteguhan geser dengan menggunakan

(Shorea

standar BS 373 (1957). Hasil pengamatan

(Dipterocarpus

menunjukkan bahwa jamur Biru yang

Bangkirai (Shorea laevis Ridl.). Pengujian

smithiana

Sym.),

cornutus

Keruing

Dyer)

dan

43

sifat fisik dan mekaniknya berdasarkan

yang telah mati dan kayu normal masih

standar

pengujian

berkisar antara 11 ~ 12%. Sedangkan

menunjukkan bahwa kebakaran hutan

kerapatan kering udara kayu Jabon (0.56

berpengaruh

terhadap

g/cm3), Medang (0.63 g/cm3) dan Simpur

penurunan KA basah; BJ; pengembangan/

(0.80 g/cm3) mengalami penurunan antara

penyusutan R. T dan L; keteguhan geser;

6 ~ 9%. Hasil pengukuran kembang susut

keteguhan patah sejajar serat; keteguhan

R, T dan L menunjukkan bahwa kayu

lentur pada batas proporsi dan maksimum;

terbakar yang masih hidup maupun kayu

kekerasan radial dan transversal; dan

terbakar yang telah mati mengalami

keteguhan pukul pada ketiga jenis kayu

peningkatan jika dibandingkan dengan

tersebut. Hasil pengujiannya dipengaruhi

kayu normalnya. Sifat mekanik kayu

juga

uji

terbakar yang masih hidup dan yang telah

berdasarkan letak vertikal dan horizontal

mati mengalami penurunan MOE sebesar

batang.

12 ~ 25%, MOR 20 ~ 25%, keteguhan

DIN.

oleh

Hasil

sangat

nyata

pengambilan

contoh

(2001)

geser 6 ~ 20%, keteguhan tekan 3 ~ 15%,

melaporkan sifat fisik mekanik kayu pasca

keteguhan pukul 20 ~ 45%, dan kekerasan

kebakaran dari jenis Jabon (Anthocepalus

10 ~ 20% dibandingkan dengan kayu

chinensis Lamk.), Medang (Litsea spp)

normal untuk ke 3 jenis kayu tersebut.

dan Simpur (Dillenia grandifolia Wall.):

Suhu

Penelitian

untuk

kemungkinan mengubah struktur sel dan

membandingkan sifat fisik dan mekanik

komponen kimia dari kayu yang terbakar,

(1) kayu terbakar yang masih hidup, (2)

sehingga menyebabkan menurunnya sifat

kayu terbakar yang telah mati dan (3) kayu

fisik dan mekanik kayu. Tetapi kisaran

yang

normal).

nilai sifat fisik dan mekanik pasca

Pengujian sifat fisik dan mekaniknya

kebakaran tersebut masih di dalam kisaran

menggunakan standar DIN, meliputi KA,

kelas kuat kayu normalnya, yaitu kelas

kerapatan, kembang susut, MOE, MOR,

kuat III untuk kayu Jabon dan Medang,

keteguhan

tekan,

serta kelas kuat II untuk kayu Simpur

keteguhan pukul dan kekerasan. Dari ke 3

(Anonim 1979), sehingga masih layak

jenis kayu yang dibandingkan tersebut,

digunakan sebagai bahan baku kayu

KA kering udara antara kayu terbakar

konstruksi.

Selanjutnya

tidak

ini

Torambung

bertujuan

terbakar

geser,

(kayu

keteguhan

pada

saat

kebakaran

hutan

44

penelitian sifat fisik dan mekanik ini telah

Pembahasan
Tidak diketahui secara pasti jumlah

diteliti lebih dari 60 jenis kayu. Dari

dan potensi keanekaragaman jenis-jenis

jumlah tersebut tercatat 28 jenis telah

kayu di Indonesia saat ini mengingat

dilaporkan di Atlas Kayu Indonesia. Jenis-

semakin

liar.

jenis tersebut adalah Kemiri (Aleurites

Menurut Badan Inventarisasi dan Tata

moluccana (L.) Willd.), Tusam (Pinus

Guna Hutan, Departemen Kehutanan, di

merkusii Jungh. et de Vr.), Gmelina

Indonesia terdapat 3124 jenis kayu yang

(Gmelina moluccana (Blume) Backer),

terdiri dari kayu komersial, non komersial,

Surian atau Suren (Toona sureni Merr.),

tak dikenal, maupun jenis kayu budidaya

Kapur/Kamper (Dyobalanops aromatica

(Anonim

klasifikasi

Gaertn.), Mahoni (Swietenia macrophylla

Prosea, di Indonesia terdapat 51 genera

King.), Mindi (Melia azedarach L.),

yang

major-commercial

Sungkai (Peronema canescens Jack.),

timbers, 64 genera minor-commercial

Pulai (Alstonia scholaris R. Br.), Terap

timbers dan 309 genera lesser-known

(Artocarpus gomezianus Wall. ex Trecul),

timbers

maraknya

1986).

penebangan

Menurut

tergolong

(Soerianegara

dan

Lemmens

Balau

(Shorea

Bintangur

spp.),

1994; Lemmens et al. 1995; Sosef et al.

(Calophylum spp.),

1998).

telah

mengarawan Mig.), Jati (Tectona grandis

merangkum sebanyak 92 jenis kayu dari

L.f.), Sengon (Paraserianthes falcataria

berbagai hasil penelitian, meliputi sifat

(L.) Nielsen), Meranti Merah (Shorea

fisik dan mekaniknya (Martawijaya et al.

spp.), Keruing (Dipterocarpus cornutus

1986;

Dyer.),

Atlas

Kayu

Martawijaya

Indonesia

et

al.

1989;

Abdurrohim et al. 2004).

Gadog

Merawan

(Hopea

(Bischofia

javanica

Blume), Ramin (Gonystylus bancanus

Belum ada kata baku mengenai sifat

Kurz.),

Puspa

(Schima

noronhae

fisik, sifat fisika atau sifat fisis; demikian

Bloemb.), kayu Pasang-1 (Quercus spp.),

pula dengan sifat mekanik, sifat mekanika

kayu

atau sifat mekanis. Namun pada tinjauan

Perupuk (Lophopethalum spp.), Agathis

makalah ini digunakan istilah sifat fisik

(Agathis borneensis Warb.), Bangkirai

dan mekanik untuk mewakili kata-kata

(Shorea laevis Ridl.), Jabon (Anthocepalus

tersebut dengan pengertian yang sama.

chinensis (Lamk.) A. Rich. ex Walp.),

Pada

tinjauan

capaian

hasil-hasil

Medang

Pasang-2

(Litsea

(Lithocarpus

spp.)

dan

spp.),

Simpur

45

(Dillenia grandifolia Wall. ex Hk.f.).

bicolor Rowlee), Rambai (Baccaurea

Dalam

untuk

motleyana Muell.), Ki Sampang (Evodia

studi

latifolia DC.), kayu Nangka (Artocarpus

pemilihan

penelitian

jenis

sebaiknya

pustaka

terhadap

kayu

dilakukan

penelitian-penelitian

Merr.),

integra

sebelumnya, sehingga dapat dijadikan

celebica),

sebagai pembanding.

Ketileng

Kalapi

Gofasa
(Vitex

(Kalappia

(Vitex

coffasus),
Cemara

glabrata),

yang

(Gymnostoma sp.), kayu Karet (Hevea

belum ada di Atlas Kayu Indonesia adalah

brasiliensis Muel. Arg.) dan Lamtoro

kayu Balsa (Ochroma spp.), Randu (Ceiba

(Leucaena glauca (Willd) Benth). Dengan

Gaertn.),

Merkubung

ditelitinya jenis-jenis ini maka diharapkan

(Makaranga sp.), kayu Cengkeh (Eugenia

akan menambah pustaka diversifikasi

aromatica L.), Akasia (Acacia mangium

pemanfaatan kayu.

Sedangkan

jenis-jenis

pentandra

kayu

Informasi yang perlu disertakan pada

Willd.), kayu Afrika (Maesopsis eminii),


cernua),

Kisereh

setiap penelitian mengenai sifat fisik dan

porrectum

(Roxb)

mekanik

excelsa

umur/dimeter pohon, (2) tempat tumbuh,

Jack.), Pulai Konggo (Alstonia kongoensis

(3) jumlah dan cara pengambilan contoh

Engl.),

(Enterolobium

uji, (4) standar pengujian yang digunakan,

Salamander

dan (5) acuan yang digunakan untuk

Hopea

(Hopea

(Cinnamomum
Kosterm),

Kibawang

Sengon

(Litsea

robusta
cubeba

(Kleinhovia

A.Cunn.),
Pers.),

hospita

(Arthocarpus
(Diospyros

Buto

Griserb.),

cyclocarpum
(Grevillea

(Melia

Kilemo
Tahongai

kelas

faktor

kuat

(1)

kayu.

Pengambilan contoh uji dari pohon yang

Sukun

berumur

kayu

Arang

terdapat kayu juvenil. Sedangkan tempat

Berumbung

tumbuh berhubungan dengan riap tumbuh

borneensis),

(Adina minutifolia), Tisuk/Waru (Hibiscus


Damar

mengklasifikasikan

adalah

Linn.),

altilis),

macrophyllus),

kayu

Mata

Kucing

yang

muda

akan

kemungkinan

mempengaruhi

pembentukan

struktur

masih

kecepatan
kayu.

(Shorea javanica K. et Vr.), Urograndis

Umur/diameter dan letak dalam batang

(Eucalyptus urograndis), kayu Kelapa

berhubungan dengan persentase kayu teras

(Cocos nucifera L.), kayu Kelapa Sawit

dan

(Eleais guineensiis Jacq.), Laban (Vitex

memiliki sifat fisik dan mekanik yang

Pubescens Vahl.), Basswood (Ochroma

berbeda. Kayu Kelapa (Cocos nucifera L.)

kayu

gubal

dimana

keduanya

46

dan Kelapa Sawit (Eleais guineensiis

sedangkan kerapatan ditulis dengan satuan

Jacq) memiliki sifat fisik dan mekanik

gr/cm3. BJ diterjemahkan sebagai specific

yang sangat berbeda berdasarkan letak

gravity

pada batang karena memiliki struktur

berdasarkan berat dan volume kering tanur,

batang yang berbeda dengan struktur kayu

sedangkan

pada umumnya.

sebagai

dimana

perhitungannya

kerapatan
density

dimana

diterjemahkan
berat

dan

Standar pengujian pada penelitian-

volumenya dihitung pada kadar air tertentu.

penelitian yang telah dilakukan sangat

Klasifikasi berat kayu masih banyak

beragam, demikian pula dengan acuan

mengacu pada tinggi-rendahnya kerapatan

yang digunakan untuk mengklasifikasikan

kayu (Soenardi 2001).

kelas kuat kayu. Selain itu standar

Selain

dipengaruhi

oleh

faktor

pengujian dan acuan klasifikasi kelas kuat

eksternal, yaitu kelembaban dan suhu;

tersebut

tinggi-rendahnya

banyak

KA

kayu

juga

yang

tidak

daftar

pustaka,

dipengaruhi oleh BJ atau kerapatan, umur

sehingga nilai-nilai sifat fisik dan mekanik

pohon dan letak dalam batang yang

yang telah diteliti tidak dapat serta-merta

berhubungan dengan proporsi kayu gubal

dibandingkan satu dengan lainnya.

dan juvenil sebagai faktor internal. Sel-sel

mencantumkannya

di

Tiga parameter sifat fisik yang banyak

kayu gubal mempunyai fungsi fisiologis,

diteliti adalah Bj atau kerapatan, KA dan

yaitu menyalurkan air dan unsur hara dari

penyusutan; selain warna, arah serat dan

akar ke daun untuk proses fotosintesis,

tekstur kayu yang berhubungan dengan

sehingga banyak mengandung air.

penampilan kayu. BJ atau kerapatan

Penyusutan kayu disebabkan oleh

merupakan salah satu sifat fisik kayu yang

perubahan KA di bawah titik jenuh serat

sangat penting, karena tinggi-rendahnya

(TJS). Jika kayu kehilangan air di bawah

akan mempengaruhi sifat fisik lainnya dan

TJS atau air terikat di dalam dinding sel

sifat mekanik, serta pemanfaatan kayu

maka akan terjadi penyusutan, sedangkan

yang bersangkutan. BJ atau kerapatan

jika air masuk ke dalam dinding sel maka

menunjukkan rasio antara volume dinding

akan terjadi pengembangan (Haygreen dan

sel terhadap pori-pori setiap jenis kayu.

Bowyer

Pada

tangensial

penelitian-penelitian

yang

telah

dilakukan, BJ ditulis tanpa satuan unit

1996).
dan

Rasio
radial

penyusutan
(T/R

rasio)

menunjukkan stabilitas dimensi kayu.

47

Semakin

rendah

perubahan

dimensi

konstruksi, selain dilihat berdasarkan kelas

absolutnya dan T/R rasionya maka kayu

kuatnya, perlu juga dipertimbangkan rasio

tersebut semakin stabil (Panshin dan de

kekuatan terhadap berat kayunya (strength

Zeeuw 1980). Apabila nilai tersebut lebih

to weight ratio), karena semakin tinggi

dari 2 maka dikatakan sebagai kayu yang

rasio tersebut maka semakin sesuai untuk

mempunyai kestabilan dimensi rendah

bahan baku konstruksi (Abdurachman dan

(Abdurachman

Hadjib 2001).

dan

Hadjib

2001).

Martawijaya (1990) menyebutkan bahwa

Selain tempat tumbuh, faktor eksternal

dengan rasio penyusutan yang besar akan

yang

cenderung

atau

mekanik kayu adalah kelembaban dan

berubah bentuk yang mengakibatkan cacat.

suhu udara lingkungan, pelapukan oleh

Sifat mekanik sangat dipengaruhi oleh

cuaca, serangan jamur dan kebakaran

BJ atau kerapatan kayu, sehingga faktor-

hutan. Semakin tinggi BJ atau kerapatan

faktor

atau

maka tingkat absorpsi kayu semakin

umur/diameter

rendah, karena kayu dengan BJ atau

lebih

yang

kerapatan

mudah

pecah

mempengaruhi

(jenis

kayu,

BJ

mempengaruhi

sifat

fisik

dan

pohon, tempat tumbuh, letak dalam batang,

kerapatan

kelembaban, kadar air dan suhu) akan

tempat

berpengaruh pula terhadap sifat mekanik

daripada kayu dengan BJ atau kerapatan

kayu. Dari beberapa hasil penelitian, nilai-

lebih rendah (Panshin dan de Zeeuw

nilai sifat mekanik kayu pada umumnya

1980); oleh karena itu kayu dengan BJ

meningkat dengan bertambahnya umur

atau kerapatan rendah memiliki KA basah

pohon; serta menurun dari pangkal ke

yang lebih tinggi karena memiliki ukuran

ujung batang (secara vertikal) dan dari

rongga sel yang lebar sehingga lebih

kayu

banyak menampung air.

teras

ke

kayu

gubal

(secara

horizontal). Namun pengaruh ini berlaku

tinggi

cenderung

penampung

Faktor

air

terpenting

memiliki

lebih

dari

sedikit

proses

hanya jika contoh uji yang digunakan

pelapukan adalah radiasi sinar matahari.

bebas cacat. Hasil pengujian sifat mekanik

Proses

ini dapat menjadi bias dengan adanya

menyebabkan

faktor-faktor mata kayu yang tidak terlihat,

penyusutan; kehilangan berat; kerusakan

orientasi lingkaran tumbuh, arah serat atau

pada permukaan kayu, ditunjukkan oleh

adanya kayu reaksi. Sebagai bahan baku

munculnya guratan-guratan kecil yang

pelapukan

oleh

cuaca

perubahan

akan
warna;

48

semakin memanjang dan mengakibatkan

keterbatasan peralatan atau kurangnya

retak/pecah; dan berpotensi tumbuhnya

daya tarik terhadap tema penelitian ini.

jamur (Sudiyani et al. 1998; Malik 2004).

Selain sifat akustik dan sifat termal kayu,

Serangan jamur termasuk faktor yang

sifat fisik kayu yang belum banyak diteliti

mempengaruhi sifat fisik dan mekanik

adalah sifat kelistrikan kayu (electrical

kayu. Serangan jamur Upas (Curticium

properties). Sedangkan sifat-sifat mekanik

salmonicolor Berk. & Br.) mengakibatkan

yang belum banyak diteliti adalah perilaku

perubahan warna, tekstur, dan penurunan

creep, relaxation dan fatigue terhadap

kekerasan pada kayu dan sifat mekanik

jenis-jenis kayu Indonesia.

lainnya (Budi et al. 1998). Sedangkan


jamur biru menyebabkan pewarnaan dan
hanya menyerang kayu yang masih basah.
Tetapi setelah serangan jamur biru, kayu
akan mudah diserang jamur pelapuk yang
akan merusak komponen dinding selnya
sehingga akan menurunkan sifat fisik dan
mekaniknya (Sarwono et al. 2005).
Kebakaran hutan berpengaruh sangat
nyata terhadap penurunan sifat fisik dan
mekanik kayu pada arah vertikal maupun
horizontal batang (Liansyah 2000). Suhu
pada saat kebakaran hutan kemungkinan
mengubah struktur sel dan komponen
kimia dari kayu yang terbakar, sehingga
menyebabkan menurunnya sifat fisik dan
mekanik kayu (Torambung 2001).
Dari tinjauan ini hanya ada dua
makalah yang meneliti sifat akustik
(Hadjib dan Sarwono 2004) dan sifat
termal kayu (Fernandes et al. 2004). Hal
ini

kemungkinan

disebabkan

oleh

Daftar Pustaka
Abdurachman dan N. Hadjib. Sifat Fisis
dan Mekanis Jenis Kayu Andalan
Setempat Jawa Barat. Prosiding
Seminar Nasional IV Mapeki.
Samarinda, 6-9 Agustus 2001. pp
II125-II135.
Abdurrohim, S; Y.I. Mandang; U. Sutisna.
2004. Atlas Kayu Indonesia Jilid III.
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Hasil Hutan, Badan Litbang
Kehutanan, Departemen Kehutanan.
Alrasjid, H. dan A. Widiarti. 1992. Teknik
Penanaman dan Pemungutan Gmelina
arborea (Yamane). Informasi Teknis
No. 36, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan, Bogor.
Anonim. 1976. Vademecum Kehutanan
Indonesia.
Direktorat
Jenderal
Kehutanan. Departemen Pertanian.
Jakarta.
Anonim. 1979. Mengenal Sifat-sifat Kayu
Indonesia dan Penggunaannya. PIKA.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Anonim. 1986. Jenis-jenis Pohon Disusun
Berdasarkan Nama Daerah dan Nama
Botaninya Di Seluruh Indonesia.
Badan Inventarisasi dan Tata Guna
Hutan.
Departemen
Kehutanan.
Jakarta.

49

Badan Standar Nasional. 1994. SNI No.


01-3527-1994. Mutu Kayu Bangunan.
Jakarta.
Badan Standar Nasional. 2000. SNI No.
01-6244-2000. Kayu Gergajian untuk
Komponen Mebel. Jakarta.
Baldwin, R.G. and R.C. Streisel. 1985.
Detection of Fungal Degradation of
Low Weight Loss by Differential
Scanning Colorimetry. Wood and
Fiber Science 17 (3). Journal of the
Society of Wood Science and
Technology. Wisconsin. USA.
Basri, E.; E.M. Alamsyah; E. Rasyid;
Jarkasih. Ketergantungan Kadar Air
Keseimbangan terhadap Jenis Kayu
dan Suhu Lingkungan. Kumpulan
Abstrak Seminar Nasional III Mapeki.
Jatinangor, 22-23 Agustus 2000. pp.
77.
Bhat, K.M. Managing Teak Plantations for
Super Quality Timber. International
Teak Symposium. Department of
Forest, Kerala, India, 2-4 December
1991. pp 377.
Boyce, J.S. 1961. Forest Pathology. Mc
Graw Hill Book Company Inc. N. Y.
436-507. pp. British Standard Institute,
1957.
British Standard 373. 1957. Methods of
Testing Small Clear Specimen of
Timber. London.
Budi, A.S.; S. Hariyanto; M. Samani; D.
Mardji. Pengaruh Serangan Jamur
Upas (Curticium salmonic) terhadap
Sifat Anatomi, Fisik dan Mekanik
Batang Acacia mangium Wild.
Prosiding Seminar Nasional I Mapeki.
Bogor, 24 September 1998. pp 39-47.
Coto, Z. Kepekaan Kayu terhadap
Perubahan Kelembaban. Prosiding
Seminar Nasional VIII Mapeki.
Tenggarong, 3-5 September 2005. pp
A53.
Coto, Z. dan I.S. Rahayu. Sifat Fisis dan
Mekanis Kayu Kelapa Hibrida.
Prosiding Seminar Nasional VIII

Mapeki. Tenggarong, 3-5 September


2005. pp A88.
Den Berger, L.G. 1923. De Grondslagen
voor de Classificatie van Nederlansch
Indische Timmerhout-soorten. Tectona
Vol. XVI.
Feist, W.C. and D.N.S. Hon. 1984.
Chemistry
of
Weathering
and
Protection of Wood in Rowell, R. (ed):
The Chemistry of Solid Wood. Amer.
Chem. Soc. P 401-451.
Fernandes, A.; V.E. Prasetyo; T.A.
Prayitno. Perambatan Panas pada
Empat Jenis Kayu Perdagangan di
Indonesia. Prosiding Seminar Nasional
VII Mapeki. Makassar, 5-6 Agustus
2004.
Firmanti, A.; U. Dirgantara; N. Aini.
Penurunan Nilai Karakteristik Kayukayu Cepat Tumbuh. Kumpulan
Abstrak Seminar Nasional III Mapeki.
Jatinangor, 22-23 Agustus 2000. pp.
11.
Gallagher, L. 1989. Moisture in Wood,
Part 2, Principles of Moisture
Movement. Asean Mobile Workshop
on Wood Drying Asean Timber
Technology Center, Malaysia.
Gunawan, R.H.R.; I.F. Dodi; A. Iskandar.
Variasi Sifat Kayu HTI karena Umur
dan Lokasi Tanaman. Prosiding
Seminar Nasional IV Mapeki.
Samarinda, 6-9 Agustus 2001a. pp
II41-II50.
Gunawan, R.H.R.; I.F. Dodi; A. Iskandar.
Perkembangan Kayu Teras pada Jenis
Hopea cernua. Prosiding Seminar
Nasional IV Mapeki. Samarinda, 6-9
Agustus 2001b. pp II51-II55.
Hadjib, N. Sifat Fisis dan Mekanis Kayu
Urograndis (Eucalyptus urograndis)
serta Kemungkinan Pemanfaatannya.
Kumpulan Abstrak Seminar Nasional
III Mapeki. Jatinangor, 22-23 Agustus
2000. pp. 12.
Hadjib, N. dan E. Sarwono. The
Acoustical Properties of Berumbung,
50

Merawan and Tisuk Wood. Prosiding


Seminar Nasional VII Mapeki.
Makassar, 5-6 Agustus 2004. pp
A118-A120.
Haygreen, J.G. and J.L. Bowyer. 1996.
Forest Products and Wood Science,
An Introduction. Third Edition. Iowa
University Press. Iowa, USA.
Ismariana. E. 1993. Pengaruh Umur dan
Arah Aksial terhadap Titik Jenuh Serat
Kayu Jati (Tectona grandis L.f).
Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah
Mada. Yogyakarta. Skripsi. Tidak
dipublikasikan.
Kasim, F.; G. Bachtiar; Z. Coto. Sifat Fisis
dan Mekanis Kayu Gmelina (Gmelina
arborea) pada Berbagai Variasi
Ketinggian
dan
Bagian
Kayu.
Prosiding Seminar Nasional VI
Mapeki. Bukittinggi, 1-3 Agustus
2003. pp 98-110.
Kasmudjo dan S. Sunarto. Sifat-sifat Kayu
Mindi dan Peluang Penggunaannya.
Prosiding Seminar Nasional II Mapeki.
Yogyakarta, 2-3 September 1999. pp
8-18.
Kholik, A. dan S.B. Prabawa. Sifat dan
Kualitas Kayu Sukun (Arthocarpus
altilis) Asal Kalimantan Timur.
Prosiding Seminar Nasional VII
Mapeki. Makassar, 5-6 Agustus 2004.
pp A1-A7.
Kholik, A. dan R.H.R. Gunawan. Sifat dan
Kegunaan
Enam
Jenis
Kayu
Kalimantan Timur. Prosiding Seminar
Nasional VII Mapeki. Makassar, 5-6
Agustus 2004. pp A25-A30.
Koch, P. 1972. Utilization of Southern
Pines Vol I: The Raw Material. U.S.
Department of Agriculture. Forest
Service.
Liansyah, E. Sifat Fisik dan Mekanik
Kayu Pasca Kebakaran Jenis Meranti
Merah (Shorea smithiana Sym),
Keruing (Dipterocarpus cornutus
Dyer) dan Bangkirai (Shorea laevis
Ridl). Kumpulan Abstrak Seminar

Nasional III Mapeki. Jatinangor, 22-23


Agustus 2000. pp. 27.
Lemmens, R.M.H.J.; I. Soerianegara; W.C.
Wong. 1995. Plant Resources of
South-East Asia No. 5 (2). Timber
trees: Minor Commercial Timber.
Prosea Publisher, Bogor Indonesia.
Mandang, Y.I. dan I.K.N. Pandit. 1997.
Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di
Lapangan. Yayasan Prosea Bogor.
Malik, J. dan J. Balfas. 2002. Modifikasi
Kayu Mangium (Acacia mangium
Willd.) dan Kemungkinannya untuk
Penggunaan Eksterior Dibandingkan
dengan Kayu Jati dan Bangkirai.
Prosiding Seminar Hasil Penelitian
Teknologi
Hasil
Hutan.
Pusat
Penelitian
dan
Pengembangan
Teknologi Hasil Hutan, Bogor.
Malik, J. Sifat Pengembangan dan
Pencuacaan Tiga Jenis Kayu Pasang.
Prosiding Seminar Nasional VII
Mapeki. Makassar, 5-6 Agustus 2004.
pp A70-A75.
Martawijaya, A; I. Kartasujana; K. Kadir;
S.A. Prawira. 1986. Indonesian Wood
Atlas Volume I. Forest Products
Research and Development Centre,
Agency for Forestry Research and
Development, Depertment of Forestry.
Martawijaya, A; I. Kartasujana; Y.I.
Mandang; S.A. Prawira; K. Kadir.
1989. Atlas Kayu Indonesia Jilid II.
Badan
Litbang
Kehutanan,
Departemen Kehutanan.
Martawijaya, A. 1990. Sifat Dasar
Beberapa Jenis Kayu yang Berasal
dari Hutan Alam dan Hutan Tanaman.
Prosiding Diskusi Hutan Tanaman
Industri. Badan Litbang Kehutanan,
Departemen Kehutanan. Jakarta.
Pandit, I.K.N. Sifat Makroskopis Kayu
Jati (Tectona grandis L.f) pada
Berbagai Kelas Umur. Kumpulan
Abstrak Seminar Nasional III Mapeki.
Jatinangor, 22-23 Agustus 2000. pp.
16.
51

Panshin, A.J. and C. de Zeeuw. 1980.


Textbook of Wood Technology.
Volume I. Mc Graw-Hill Book Co.
New York, USA.
Prayitno, T.A. Penggunaan Kayu Tak
Dikenal, Bermutu Rendah. Prosiding
Seminar Nasional I Mapeki. Bogor, 24
September 1998. pp 57-73.
Rachman, O. dan J. Malik. Prospek
Pemanfaatan Kayu Cengkeh (Eugenia
aromatica L.) sebagai Bahan Baku
Mebel
dan
Barang
Kerajinan.
Prosiding Seminar Nasional II Mapeki.
Yogyakarta, 2-3 September 1999. pp
118-131.
Rahmanto, R.G.H. 1997. Studi tentang
Perkembangan Kayu Teras untuk Jenis
Dominan di Hutan Alam. Buletin
Penelitian Kehutanan BPK Samarinda
10 (3).
Rowell,
R.M.
1983.
Chemical
Modification of Wood. Forest Product
Abstract 6 (12): 363-382.
Rulliaty, S. Beberapa Jenis Kayu
Alternatif Pengganti Ramin. Prosiding
Seminar Nasional VIII Mapeki.
Tenggarong, 3-5 September 2005. pp
A41-A45.
Sadiyo, S dan E. Daniyati. Model Regresi
Linier Sederhana Hubungan antara
Susut dengan Berat Kayu Sepuluh
Jenis Kayu Indonesia. Prosiding
Seminar Nasional VIII Mapeki.
Tenggarong, 3-5 September 2005. pp
A46.
Santoso, A. dan P. Sutigno. 1998. Sifat
Papan Partikel dari Limbah Sawit.
Laporan Proyek Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial
Ekonomi Kehutanan, Bogor.
Sarwono, E. Kayu Damar Mata Kucing
(Shorea javanica K. et V.) sebagai
Bahan Baku Kayu Permebelan dan
Aspek Kemasyarakatan di Sekitar
Wilayah Hutannya. Prosiding Seminar
Nasional VII Mapeki. Makassar, 5-6
Agustus 2004. pp C28-C33.

Sarwono, E.; D. Martono; N. Hadjib.


Pengaruh Serangan Jamur Biru
terhadap Perubahan Sifat Fisis dan
Kekuatan Kayu. Prosiding Seminar
Nasional VIII Mapeki. Tenggarong, 35 September 2005. pp A96-A100.
Siau. 1995. Wood Influence of Moisture
on Physical Properties. Department of
Wood Science and Forest Product,
Virginia
Polytechnique
Institute,
Keene, New York.
Soenardi, P. 2001. Sifat-sifat Fisika Kayu.
Bagian Penerbitan Fakultas Kehutanan
UGM. Yogyakarta.
Soerianegara I. and R.H.M.J. Lemmens.
1994. Plant Resources of South East
Asia No. 5 (1). Timber Trees: Major
Commercial Timber. Prosea Publisher,
Bogor Indonesia.
Sosef,
M.S.M.;
L.T.
Hong;
Prawirohatmodjo.1998.
Plant
Resources of South East Asia No. 5
(3). Timber Trees: Lesser Known
Timber. Prosea Publisher, Bogor
Indonesia.
Sudiyani, Y.; W.S. Subowo; M. Gopar; R.
Yusiasih; A. Syampurwadi. Perubahan
Dimensi dan Penampilan Tiga Jenis
Kayu Tropis setelah Pelapukan oleh
Cuaca. Prosiding Seminar Nasional I
Mapeki. Bogor, 24 September 1998.
pp 49-55.
Sukartana, P. 1989. Pendugaan Ukuran
Kayu Teras Pohon Rasamala. Duta
Rimba XV: 103-104.
Sulistyo, J. dan S.N. Marsoem. Pengaruh
Umur terhadap Sifat Fisika dan
Mekanika Kayu Jati (Tectona grandis
L.F). Prosiding Seminar Nasional II
Mapeki. Yogyakarta, 2-3 September
1999. pp 49-63.
Supriadi, A.; O. Rachman; E. Sarwono.
1999. Karakteristik Dolok dan Sifat
Penggergajian Kayu Sawit (Eleais
guineensiis Jacq.). Buletin Penelitian
Hasil Hutan. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.
52

Supriadi, A. Potensi Kayu Sawit sebagai


Sumber Kayu Alternatif. Prosiding
Seminar Nasional VII Mapeki.
Makassar, 5-6 Agustus 2004. pp D114
- 118.
Sutapa, J.P.G. Kualitas Batang Kayu
Mindi (Melia azedarach L.) dari Areal
Agro-forestry. Kumpulan Abstrak
Seminar Nasional V Mapeki. Bogor,
30 Agustus 1 September 2002. pp.
48.
Sutapa, J.P.G. Penelitian Beberapa Sifat
Fisika Kayu Mindi (Melia azedarach
L.)
dari
Areal
Agro-forestry
Tradisional.
Prosiding
Seminar
Nasional VII Mapeki. Makassar, 5-6
Agustus 2004. pp A76.
Suwandhi, I.; E. Rasyid; A. Darwis;
Rosmiati. Penyebaran Pohon Gadog
(Bischofia javanica Blume) di Jawa
Barat dan Uji Karakteristik Kayunya
(Seri Eksplorasi Pohon Khas dan
Langka Jawa Barat). Prosiding
Seminar Nasional VII Mapeki.
Makassar, 5-6 Agustus 2004. pp
A210-214.
Torambung, A.K. Sifat Fisika Mekanika
Kayu Pasca Kebakaran dari Jenis
Jabon (Anthocepalus chinensis Lamk.),
Medang (Litsea spp.) dan Simpur
(Dillenia grandifolia Wall.). Prosiding
Seminar Nasional IV Mapeki.
Samarinda, 6-9 Agustus 2001. pp II15II18.
Torambung, A.K. dan I. Dayadi. Sifat
Fisika dan Mekanika Kayu Rambai
(Baccaurea
motleyana
Muell)
Berdasarkan Letak Ketinggian dalam
Batang. Prosiding Seminar Nasional
VIII Mapeki. Tenggarong, 3-5
September 2005. pp A131-A138.
Wahyudi, I. Effect of Stem Diameter Size
on Qualities of Eight Year-Old
Basswood Planted in Darmaga Area.
Prosiding Seminar Nasional VIII
Mapeki. Tenggarong, 3-5 September
2005. pp A115.

Wangaard, F.F. 1950. The Mechanical


Properties of Wood. John Wiley and
Sons. New York.
Widiastuti, R. Prospek Pemanfaatan Kayu
Kelapa sebagai Bahan Baku Industri
Mebel. Prosiding Seminar Nasional II
Mapeki. Yogyakarta, 2-3 September
1999. pp 103-115.
Widiati,
K.Y.
Pemanfaatan
Kayu
Tahongai (Kleinhovia hospita Linn.)
Berdasarkan
Sifat
Fisika
dan
Mekanika serta Nilai Turunan Serat.
Kumpulan Abstrak Seminar Nasional
V Mapeki. Bogor, 30 Agustus 1
September 2002. pp. 6.
Widiati, K.Y. dan A. Susanto. Sifat Fisika
dan Mekanika Kayu Laban (Vitex
Pubescens Vahl) Berdasarkan Letak
Ketinggian dalam Batang. Prosiding
Seminar Nasional VIII Mapeki.
Tenggarong, 3-5 September 2005. pp
A83-A87.
Wulandari, F.; N. Hajib; N. Nugroho.
Variabilitas Sifat Fisis dan Mekanis
Kayu
Urograndis
(Eucalyptus
urograndis) dari Beberapa Klon.
Kumpulan Abstrak Seminar Nasional
V Mapeki. Bogor, 30 Agustus 1
September 2002. pp. 5.
Yunianti, A.D. dan Bakri. Kualitas Kayu
Surian sebagai Kayu Unggulan di
Lahan Uji Coba KPHP Kab. Tana
Toraja. Prosiding Seminar Nasional
VII Mapeki. Makassar, 5-6 Agustus
2004. pp A31-A33.

53

54

BAB III
FAKTOR PERUSAK BIOTIK
Tujuan Umum : Bab ini secara umum bertujuan untuk memberikan pemahaman
kepada mahasiswa tentang: (1) faktor-faktor biotik perusak kayu, (2) kondisi terjadinya
serangan organisme tersebut, dan (3) teknik pencegahan dan pengendaliannya.
Tujuan Khusus : Bab in secara khusus memberikan kemampuan kepada mahasiswa
dalam mengidentifikasi jenis-jenis organisme perusak kayu, kondisi penyerangan, dan
mengemukakan teknik pengendalian dan cara pencegahan yang sesuai.

A. ORGANISME PENDEGRADASI KAYU


Zabel dan Morrel (1992) mengelompokkan agen perusak utama dan jenis
dekomposisi kayu yang disebabkan oleh faktor biotik sebagai berikut:
a. Serangan binatang gangguan secara mekanis
-

Penggerekan (boring) dan parutan permukaan (rasping) oleh marine borer

Pembuatan terowongan (tunneling) dan penggalian (excavation) oleh serangga


(rayap, kumbang dan hymenoptera seperti semut) dan marine borer (cacing laut,
pholad, isopod)

b. Pelapukan dan Pewarnaan


-

Penggoresan (etching) dinding sel dan pembuatan terowongan oleh bakteria

Pewarnaan permukaan (molding) oleh jamur mold

Pewarnaan kayu gubal (staining) oleh jamur stain

Pelapukan (decay) oleh jamur (soft rot, brown rot dan white rot)

Kirk and Cowling (1984) merangkum tipe utama deteriorasi kayu dan organisme
penyebab seperti terlihat pada Tabel 2.

54

Tabel 2. Tipe deteriorasi biologis kayu dan organisme penyebab


Tipe deteriorasi

Organisme

Deteriorasi tanpa dekomposisi


Kehilangan cadangan makanan

Sel kayu hidup dalam kayu gubal

Pemboran mekanik, pecking, pemotongan

Serangga, burung dan mamalia

Stain

Jamur

Pewarnaan permukaan

Jamur

Destruksi membran noktah

Bakteria, jamur

Dekomposisi struktur polimer


Mekanobiokimia

Serangga, binatang laut

Biokimia (pelapukan)

Jamur

Deteriorasi tanpa dekomposisi


Apabila kayu yang baru ditebang yang diperuntukkan untuk kayu gergajian atau
vinir dikeringudarakan, cadangan makanan pada kayu gubal akan segera kosong karena
proses respirasi sel parenkim kayu itu sendiri. Tetapi bila pengeringan terlambat
dilakukan, kayu yang baru ditebang dapat diserang oleh jamur sap-stain dan algae, atau
oleh bakteri dan mold yang berkembang pada permukaan atau berpenetrasi ke dalam
kayu gubal yang tumbuh dari sel parenkim yang satu ke yang lainnya melalui sel jarijari. Organisme ini menggunakan isi sel parenkim sebagai makanan tetapi tidak
mempengaruhi kekuatan kayu secara serius. Jamur ini terutama menyebabkan
pengotoran kayu atau merubah permeabilitas kayu.
Bila kayu yang baru ditebang segera dikeringkan dengan kilang pengering, sel
hidup pada kayu gubal mati oleh panas dan cadangan makanan tetap tersimpan dalam
sel penyimpan makanan. Jika kayu telah dikeringkan menjadi basah kembali, cadangan
makanan tersebut dapat menjadi substrat kembali untuk pertumbuhan jamur pewarna
dan bakteria. Bila log yang baru ditebang cepat diubah menjadi serpih (chips) dalam
tumpukan besar. Sel hidup dengan cepat merubah cadangan makanan menjadi
karbondioksida (CO2), air, dan panas (lihat reaksi 1: respirasi). Jika panas metabolik
tersebut ditiadakan, tumpukan menjadi panas, dan pada kondisi ventilasi sangat jelek
dapat menimbulkan pembakaran secara spontan.
55

Ada dua jenis organisme yang umumnya menyebabkan pewarnaan pada kayu,
yaitu (1) mold dengan spora berwarna, dan algae yang tumbuh pada permukaan kayu,
dan (2) jamur dengan hifa berwarna gelap yang melakukan pewarnaan pada bagian
dalam kayu dengan melakukan penetrasi ke dalam kayu gubal. Aspergillus spp. dan
Penicillium spp. adalah mold yang umum ditemukan pada kayu. Pewarnaan yang
disebabkan oleh jamur ini biasanya dapat dikeluarkan melalui penyikatan, pengetaman,
atau pengamplasan. Ceratocystis spp. adalah contoh jamur sapstain. Pewarnaan ini
biasanya tidak dapat dikeluarkan meskipun dengan bahan kimia pemutih.
Bacillus polymyxa (Prazmowski) Mac, bakteri tertentu, jamur dan beberapa mold
seperti Trichoderma viridae Pers.ex Fr. dapat mendegradasi membran pektin noktah
berhalaman antar sel kayu. Degradasi ini meningkat permeabilitas kayu terhadap air
dan pelarut organik. Peningkatan permeabilitas merupakan masalah dalam pengerjaan
akhir kayu, tetapi dapat membantu penetrasi bahan kimia pulp dan pengawet ke dalam
kayu gubal.
Disintegrasi kayu secara mekanik dapat disebabkan oleh sejumlah species
serangga, burung, dan mamalia. Dalam beberapa kasus, disintegrasi ini dapat menjadi
cukup serius.
Deteriorasi dengan Dekomposisi
Mudah tidaknya polimer dinding sel terdekomposisi secara biologis banyak
ditentukan aksesibilitasnya terhadap enzim dan produk metabolik lain yang dikeluarkan
oleh jamur perusak kayu, atau dalam kasus serangga tertentu dan marine borer melalui
organisme yang yang hidup pada saluran pencernaan hewan tersebut. Kontak fisik
langsung antara enzim atau metabolik lain dan polimer dinding sel adalah prasyarat
terjadinya degradasi secara hidrolitik dan oksidatif. Karena selulosa, hemiselulosa, dan
lignin merupakan polimer dinding sel yang tidak larut air dan tersusun dalam dinding
sel kayu dengan campuran fisik yang erat satu sama lain. Kontak fisik yang diperlukan
dapat dicapai hanya melalui difusi atau enzim atau metabolik lain masuk ke dalam
matriks kompleks tersebut atau menguyah halus kayu sebelum dicerna.
Komponen struktural kayu yang sangat penting yang membantu menahan
dekomposisi biologis kayu adalah lignin. Pada kayu, mikrofibril selulosa dilapisi atau
56

ditutupi oleh hemiselulosa yang diikat oleh lignin. Lignin terikat secara kovalen dengan
hemiselulosa, dan juga bergabung secara fisik. Apapun jenis hubungan nyata antara
lignin dan hemiselulosa, lignin secara fisik dapat mencegah akses enzim terhadap
hemiselulosa dan selulosa. Digestibility atau mudah tidaknya kayu utuh dan jaringan
berlignin lain (lignoselulosa) dicerna merupakan fungsi kadar lignin (Gambar 4).

Gambar 4. Digestibilitas kayu melalui campuran selulosa dan hemiselulosa sebagai fungsi kadar
lignin (Baker, 1973 dalam Kirk and Cowling, 1984).

Mekanisme biologis yang terlibat dalam mengatasi lignin sebagai perintang fisik
(physical barrier), yaitu:
1) Serangga dan binatang laut merusak secara fisik lignin dengan menggerus kayu
menjadi sangat halus,
2) Beberapa organisme terutama jamur tingkat tinggi mendekomposisi lignin dan
kemudian mengekspos polisakarida,
3) Jamur tingkat tinggi tertentu mensekresi agen pendepolimerisasi selulosa non enzim
yang melakukan penetrasi ke dalam selubung lignin.
Mekanisme 1 memungkinkan terjadinya mechano-bio-chemical decomposition kayu
utuh; sedangkan mekanisme 2 dan 3 memungkinkan biochemical decomposition.

57

Mechano-bio-chemical Decomposition
Untuk menghindari lignin barrier oleh pencernaan enzimatik polisakarida kayu
harus digiling halus. Pada ukuran partikel tertentu, polisakarida (selulosa dan
hemiselulosa) dapat dicerna secara maksimal oleh enzim.

Ukuran partikel sedikit

bervariasi berdasarkan kadar dan penyebarab lignin serta jenis kayu. Kemampuan cerna
maksimum dicapai pada beberapa kayu (sweetgum, red oak, aspen) melalui vibratory
ball milling, tetapi penggunaan teknik penggilingan ini pada jenis kayu lain (red alder,
conifer) memiliki efek lain yang berkebalikan dengan efek pencernaan. Virtanen et.al
pertamakali mendemonstrasikan pengaruh reduksi ukuran partikel terhadap kemampuan
cerna bakteri selulotik yang tidak dapat dapat mendegradasi kayu utuh, tetapi dapat
memanfaatkan serbuk gergaji yang halus. Pew juga mendemonstrasikan bahwa
penggilingan halus membuat kayu lebih mudah dicerna oleh campuran enzim selulose
dan hemiselulase.
Pengaruh penggerusan halus juga sudah diperlihatkan oleh beberapa serangga dan
binatang laut yang pada bagian mulut dilengkapi organ penggiling internal (internal
milling organ), yang mereduksi kayu menjadi ukuran partikel yang dapat dicerna.
Enzim selulose dan hemiselulase pada usus mencerna polisakarida dan mengeluarkan
eksresi yang kaya lignin. Kebanyakan serangga yang tidak melakukan pencernaan
secara sempurna mencerminkan gagalnya pengerusa kayu menjadi cukup halus, yang
disebabkan ketiadaan enzim pelengkap, waktu tinggal tidak cukup, atau faktor lain.
Serangga pembor kayu (wood-boring insect) tertentu seperti kumbang ambrosia,
kumbang lyctus, semut, dan lebah tidak mencerna struktur polimer kayu.

Kayu

melewati usus kumbang lyctus, tetapi hanya mencerna bahan non struktural yang
sederhana, terutama pati pada sel parenkim. Demikian pula pada kumbang ambrosia,
semut dan lebah.
Beberapa serangga, seperti Indian longhorn beetle (Stromatium barbatum
Fabricus) dan binatang laut (umumnya Limnoria tripunctata Menzies dan Bankia
setacea Tryon) memiliki enzim selulase endogenous [dan mungkin juga enzim hidrolase
polisakarida lainnya]. Rayap dan kebanyakan serangga pencerna kayu lainnya
mengandalkan mikroba polisakarolitik yang ada pada usus.

Kumbang Stromatium

58

barbatum dan binatang laut Bankia setacea dapat memanfaatkan keduanya, yaitu enzim
selulase dan mikroba usus.
Serangga pengurai kayu dan binatang laut umumnya hanya mencerna selulosa dan
hemiselulosa, sedangkan dekomposisi lignin terbatas hanya pada beberapa jenis
serangga. Dalam salah satu laporan disebutkan bahwa perubahan lignin
14

CO2 pada usus rayap Nasutitemes exitiosus Hill.

14

C menjadi

Dekomposisi anaerobik lignin

dimungkinan oleh adanya oksigen yang terdapat pada usus Nasutetermes dan serangga
tertentu lainnya.
Bio-chemical Decomposition
Jamur pelapuk kayu dapat dibagi atas 3 berdasakan tipe pelapukan yang
ditimbulkannya, yaitu: white, brown, dan soft rot. Di Amerka Utara, white dan brown
rot disebabkan oleh 1.700 spesies jamur pelapik kayu pada kelas basidiomycetes; lebih
90% diantaranya menyebabkan pelapukan tipe white rot. Soft rot disebabkan jamur
pada kelas Ascomycetes dan Jamur imperfecti. Secara normal kebanyaan ditemukan
pada tanah atau lingkungan perairan.
B. JAMUR PENGHUNI KAYU (WOOD INHIBITING FUNGI)
Jamur merupakan salah satu dari 5 kingdom makhluk hidup, yaitu Monera,
Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia. Jamur dicirikan oleh sel eukaryotik berfilamen
yang multiseluler. Karena tidak memiliki klorofil, jamur bersifat heterotropik dan
menfaatkan senyawa karbon sebagai sumber energi. Badan jamur (thallus) terdiri atas
seri sel kecil berbentuk tabung yang saling berhubungan yang disebut hifa. Sistem hifa
jamur memiliki kemampuan adaptasi untuk berpenetrasi, mencerna secara eksternal,
mengabsorpsi, dan memetabolisme berbagai bahan organik (contoh: bahan tumbuhan,
kayu). Massa hifa disebut miselium. Jamur menghasilkan spora yang terbentuk melalui
pragmentasi hifa.
Hifa merupakan unit seluler dasar dari struktur jamur. Individu hifa kecil dan
hanya terlihat dengan pembesaran, keculai pada beberapa jenis jamur hifanya dapat
terlihat dengan mata biasa. Diameter individu hifa berkisar 0,520 m atau lebih,
59

kebanyakan berkisar 210 m (Gambar 5). Gambaran khas hifa meliputi dinding sel,
septa, vakuola, glubula lemak dan kristal, serta inti. Sel hifa dapat berinti satu atau
berinti banyak, tetapi kebanyakan jamur pelapuk kayu umumnya berinti dua (binukleat).
Bahan kimia dindig sel hifaa terdiri dari 80-90% polisakarida, sisanya adalah protein
dan lipid. Chitin, selulosa dan sedikit chitosan membentuk mikrofibril untuk
memberikan kerangka skeletal dinding sel.

Gambar 5. Sistem

pertumbuhan

apikal

dan

percabangan

hifa.

Salah

satu

cabang

memperlihatkan septum dan gambaran protoplasma. N nukleus, ER endoplasma


reticulum, D dictyosome, V vakuola, M mitokondria, tubuh woroning (gelap)
(Schmidt, 2006)

Jamur memainkan tiga peran utama dalam ekosistem. Beberapa jamur adalah
patogen yang menyerang tumbuhan atau hewan hidup yang menyebabkan penyakit.
Jamur lain adalah simbion mutualisme dan telah mengembangkan asosiasi dengan
organisme lain (contoh: mycoriza, lichens). Kebanyakan jamur adalah saproba dan
merupakan agen utama dalam ekosistem yang melapukkan tumbuhan, melepaskan CO2,
dan mendukung proses fotosintesis pada tumbuhan hijau.

Pelapukan pada kayu

dilakukan oleh jamur saproba.

60

B.1.

Ruang Lingkup Jamur Penghuni Kayu


Pewarnaan (discoloration) dan pelapukan (decay) pada kayu disebabkan oleh

jamur, dan sedikit oleh bakteri, merupakan sumber utama timbulnya kerugian produksi
kayu gergajian dan penggunaan kayu. Mikroorganisme ini merupakan organisme unik
yang mengembangkan sistem untuk melakukan penetrasi, menginvasi/menyerang,
mencerna secara eksternal, dan mengabsorpsi bahan-bahan yang mudah larut dari
substrat yang kompleks seperti kayu. Peranan utama jamur dan bakteri dalam ekosistem
adalah untuk menguraikan dan melepaskan CO2 dan unsur penting lainnya untuk
fotosintesis tumbuhan dan melanjutkan kehidupan dalam ekosistem.
a. Jamur pewarna kayu (Wood staining fungi)
Jamur ini terutama menimbulkan pewarnaan, yaitu perubahan dari warna normal
kayu yang dihasilkan dari pertumbuhan jamur pada kayu atau perubahan kimia sel atau
isi sel. Jamur pewarna ini dapat dibedakan atas:
Mold
Jamur yang tumbuh pada permukaan kayu yang sangat basah, memanfaatkan senyawa
karbon sederhana yang ada. Pertumbuhan dan sekresi hifa jamur pada permukaan kayu
menghasilkan warna seperti hitam, abu-abu, hijau, ungu, dan merah; dan pada dasarnya,
sejumlah besar dari spora yang ada berpotensi menimbulkan alergi. Mold secara normal
dapat dikeluarkan melalu penyikatan atau pengetaman dan dapat menyebabkan kerugian
kualitas kayu yang utama.
Stain
Jamur pewarna yang menyerang kayu gubal dari kebanyakan kayu komersil selama
penyimpanan log atau pengeringan alami kayu gergajian. Jamur stain terutama
menyerang jaringan parenkim pada kayu gubal, dan pewarnaan dihasilkan dari massa
hifa berpigmen pada sel kayu. Meskipun jamur stain menyebabkan kerusakan kecil
terhadap sel parenkim pada kayu, beberapa sifat lain yang dipengaruhinya selain
pewarnaan adalah sifat keliatan dan permeabilitas. Stain secara normal tidak dapat
dikeluarkan melalui penyikatan atau pengetaman.

61

b. Jamur pelapuk kayu (Wood decaying fungi)


Jamur ini menyebabkan pelapukan dan pelunakan pada kayu. Pelapukan
menghasilkan perubahan sifat fisik dan kimia kayu terutama oleh aktivitas enzimatik
dari mikroorganisme. Jadi hanya terbatas pada kelompok jamur memiliki kemampuan
enzimatik mencerna kayu. Beragam kelompok jamur menyerang bahan dinding sel
kayu dengan cara berbeda dan mengakibatkan berbagai tipe pelapukan.
Soft rot

: disebabkan oleh mikrofungi yang menyerang secara selektif lapisan S2


dinding sel. Kadar air yang tinggi dan berhubungan dengan tanah sangat
sesuai untuk perkembangan soft-rot.

Brown rot : disebabkan oleh kelompok jamur yang terutama menyerang karbohidrat
dinding sel.
White rot : disebabkan oleh kelompok jamur yang menyerang karbohidarat dan
lignin dinding sel.
Jamur white rot dan brown rot termasuk dalam subdivisi Basidiomycotina. Pada tahap
akhir pelapukan, semua jamur pelapuk menghasilkan perubahan drastis pada kekuatan
dan sifat penggunaan lainnya. Kerusakan yang disebabkan oleh jamur pelapuk dapat
dilihat Gambar 6.

Gambar 6. Diagram yang memperlihatkan berbagai model pengrusakan dinding sel oleh jamur
tipe white rot, brown rot, dan soft rot (Zabel and Morrell, 1992)

62

2.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jamur


Ekologi jamur terkait dengan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan

kemampuan bertahan jamur dalam kayu. Seperti halnya semua organisme hidup, jamur
memiliki kebutuhan tertentu untuk pertumbuhan dan kemampuan bertahan. Kebutuhan
pertumbuhan utama jamur penghuni kayu (Zabel and Morrel, 1992), yaitu:
1. Air air bebas pada permukaan rongga sel
2. Oksigen oksigen atmosfir pada level relatif rendah untuk kebanyakan jamur dan
level sangat rendah atau oksigen kimia hanya untuk beberapa jamur mikroaerobik
dan anaerobik fakultatif.
3. Kisaran suhu yang sesuai suhu optimum untuk kebanyakan jamur penghuni kayu
berkisar 1545oC
4. Substrat yang dapat dicerna (kayu dan lain-lain) menyediakan energi dan hasil
metabolit untuk sintesis melalui metabolisme
5. Kisaran pH yang sesuai pH optimum untuk kebanyakan jamur penghuni kayu
berkisar pH 3-6
6. Faktor kimia pertumbuhan senyawa nitrogen, vitamin, dan unsur-unsur penting
(esensial).
Dua faktor terakhir seringkali tercakup dengan substrat. Keberadaan zat ekstraktif
beracun, meskipun tidak dibutuhkan, perlu untuk pertumbuhan kebanyakan jamur pada
kayu. Cahaya tampak dibutuhkan oleh beberapa jamur untuk perkembangan struktur
penghasil spora dan dapat memainkan peranan dalam fungsi fisiologis lainnya. Sinar
UV pada level tinggi menimbulkan kematian pada kebanyakan jamur.
Pada tingkat molekular melalui reaksi enzimatik, setiap faktor pertumbuhan di
atas berperan sebagai:
1. Air adalah medium difusi untuk enzim dan O2, reaktan dalam reaksi hidrolisis
komponen kimia kayu, dan medium pelarut untuk semua bahan kimia sel.
2. Oksigen (bebas) elekton utama dan akseptor hidrogen pada reaksi oksidasireduksi aerob yang menghasilkan energi, membentuk H2O.

63

3. Suhu mengendalikan laju reaksi dan pada level lebih tinggi merusak stabilitas
struktur enzim.
4. Substrat menyediakan energi dasar, tempat produk metabolit untuk sintesis, dan
juga sumber nitrogen dan vitamin bagi jamur.
5. Logam minor dan vitamin memainkan peranan penting sebagai cofaktor atau
coenzim pada berbagai reaksi enzimatik.
6. Konsentrasi ion hidrogen (pH) memberikan level optimal bagi berbagai reaksi
enzim dan stabilitas protein.
3.

Perubahan Sifat Kayu Akibat Pelapukan


Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, jamur pelapuk kayu dapat

menyerang komponen kimia penyusun dinding sel kayu, yaitu selulosa, hemiselulosa,
dan lignin.

Akibat serangan pada polimer penyusun dinding sel, kayu mengalami

pelapukan yang berdampak pada sifat-sifat kayu, seperti perubahan kimia kayu,
kekuatan, dan fisik kayu.
a.

Perubahan Kimia Kayu


Komponen kimia kayu dimanfaatkan dalam urutan dan laju yang bervariasi oleh

jamur. Jamur pewarna tidak menyebabkan perubahan sifat kimia pada komponen kimia
dinding sel. Sebaliknya jamur pelapuk dapat merubah sifat tersebut dengan derajat yang
berbeda, tergantung tipe jamur pelapuknya.
White rot fungi
Jamur ini mampu menyerang dan memetabolisme seluruh komponen utama kayu. Ciri
khas jamur ini adalah kemampuannya untuk mendepolimerisasi dan memetabolisme
lignin. Komponen utama dinding sel dimanfaatkan dengan urutan dan laju yang
beragam oleh jamur white rot yang berbeda, yang dipengaruhi oleh kemampuan
enzimatiknya. Liese (1970) mengelompokkan jamur ini menjadi:
a. Simultaneous white-rotter: menyerang semua komponen dinding sel secara seragam
pada seluruh tahap pelapukan
Contoh: Coriulus (Trametes) versicolor, Irpex lacteus

64

b. Sequential white-rotter: menyerang semua komponen dinding sel, tetapi pada tahap
awal serangan terjadi secara selektif pada hemiselulosa dan lignin.
Contoh: Phellinus pini, Heterobasidion annosum
Gambaran umum pemanfaatan komponen kayu oleh white rot diringkas sebagai berikut:
1. Semua komponen dinding sel dikonsumsi, dengan pengecualian mineral yang relatif
sedikit. Terdapat variasi urutan dan laju pemanfaatan komponen baik oleh species
maupun strain jamur dalam satu species.

Pada dasarnya, hemiselulosa secara

khusus dimanfaatkan pada tahap awal pelapukan.

Kehilangan berat dapat

mendekati 95-97% dari bahan awal kayu bila ekspos berkepanjangan terjadi pada
kondisi optimal pelapukan.
2. Pada semua tahap pelapukan, sisa kayu memiliki kelarutan NaOH 1% yang rendah
(kelarutan dalam alkali), menandakan bahwa hasil pemutusan komponen kimia oleh
pelapukan dimanfaatkan oleh jamur secara cepat.
3. Selulosa, hemiselulosa dan lignin yang tersisa pada bagian yang tidak mengalami
pelapukan menampakkan tidak terjainya perubahan penting, yang menandakan
bahwa white rot mengkonsentrasikan serangannya pada permukaan dinding sel yang
terpapar. Selanjutnya, enzim secara perlahan-lahan mengikis jalannya ke dalam
dinding sel dari permukaan rongga sel.
Brown rot fungi
Terutama mendekomposisi karbohidrat dinding sel, meninggalkan residu lignin
yang terdemetoksilasi. Karbohidrat dikeluarkan secara selektif pada tahap akhir
serangan brown rot telah digunakan untuk mempelajari distribusi lignin pada dinding
sel (Cot el al., 1966). Hemiselulosa dikeluarkan lebih cepat daripada selulosa pada
tahap awal pelapukan. Highley (1977) memperlihatkan bahwa suplemen karbohidarat
seperti manan diperlukan selama depolimerisasi selulosa murni oleh Postia (Poria)
placenta. Brown rot berbeda dengan white rot dalam mendepolimerisasi karbohidrat
secara ekstensif/meluas pada dinding sel sekunder pada tahap awal proses pelapukan
(Kirk and Highley, 1973).
Brown rot mengubah kayu dengan cara berikut selama perkembangan pelapukan
berlanjut:
65

1. Semua karbohidrat dikonsumsi, meninggal residu lignin termodifikasi pada dinding


sel.
2. Peningkatan kelarutan dalam air dan NaOH 1% yang besar terjadi pada tahap awal
pelapukan, akibat depolimerisasi karbohidrat yang cepat pada tahap awal pelapukan
dan meningkatkan kelarutan lignin pada tahap akhir pelapukan. Brown rot
menampakkan depolimerisasi kayu yang lebih cepat pada tahap awal daripada
produk pelapukan yang dapat dimetabolisme. Produk dekomposisi kayu yang
berlebihan dapat membantu menjelaskan keberadaan scavenger kayu yang lainyang
sering ada pada kayu yang terserang brown rot.
3. Proses pelapukan secara cepat terjadi pada lapisan S1 dan S2 dinding sel, tetapi
berkembang tidak teratur dan tidak ada zona lysis yang terasosiasi hifa khas jamur
white-rot.
4. Terdapat penampakan variasi yang kurang banyak akibat serangan komponen
dinding sel oleh brown rot dibandingkan jamur white rot.
Soft rot fungi
Soft rot menampakkan variasi serangan terhadap komponen dinding sel selama
perkembangan pelapukan. Beberapa spesies menyerang karbohidrat, sedangkan
serangan lignin terbatas pada demetoksilasi yang relatif sedikit. Beberapa soft rot,
secara selektif mengeluarkan lignin lebih banyak daripada karbohidrat dari kayu konifer,
serupa yang terjadipada beberapa white rot (Eslyn et al., 1975). Jamur soft rot tipe 1
dapat mendegradasi kristalin selulosa, yang digambarkan melalui pembentukan lubang
khas (cavities) pada zone S2 dinding sekunder. Kayu yang dilapukkan oleh soft rot ini
menyerupai kayu yang didegradasi oleh white rot karena memiliki kelarutan alkali yang
rendah, yang menunjukkan bahwa produk degradasi digunakan pada laju yang sama
dengan yang dilepaskan. Pada konifer, zone S3 dinding sekunder tahan terhadap
serangan soft rot, tetapi pada dasarnya delignifikasi meningkatkan susceptibilitas
pelapukan dan dapat mengalihkan jamur dari pembentukan lubang/cavities (Tipe 1)
menjadi erosi/pengikisan dinding sel (Tipe 2) (Zabel and Morrel, 1987).

66

b. Perubahan Kekuatan dan Sifat Fisik Kayu


Banyak perubahan yang terjadi pada kayu akibat serangan mikroorganisme
penghuni kayu terhadap kekutan (sifat mekanik) dan sifat fisik kayu. Beberapa sifat
tersebut adalah sebagai berikut:
1) Kehilangan berat (weight loss = biomass loss)
Beberapa jamur terutama memanfaatkan nutrien yang dapat diperoleh pada jaringan
penyimpanan atau zat ekstraktif, yang menyebabkan kehilangan berat yang relatif
kecil (1-3%) dan kerusakan yang minimal. Jamur lain menyerang komponen kimia
yang lebih kompleks pada dinding sel kayu, yang pada akhirnya memetabolismenya menjadi CO2 dan H2O. Kehilangan berat dapat mencapai 70% pada brown rot,
96-97% untuk white rot, dan 3-60% pada soft rot. Kehilangan berat kayu
tergantung pada tipe jamur dan spesies kayu yang diuji. Kehilangan berat
dirumuskan sebagai:
Berat awal berat setelah dilapukkan
WL (%) =

x 100
Berat awal (OD)

2) Kehilangan kerapatan (density loss)


Kerapatan dan berat jenis juga digunakan untuk mengukur pengaruh serangan
mikrobial. Serangan jamur white rot menyebabkan kehilangan berat dengan sedikit
perubahan volume pada kayu, sedangkan pada kayu yang terserang brown rot
pengurangan volume kayu cukup besar.
3) Sifat kekuatan (mekanik) strenght (mechanical) properties
Jamur yang tumbuh pada kayu mengubah struktur kimia dan mengeluarkan massa
kayu, sehingga berakibat pada perubahan sifat mekanik kayu. Kayu menghasilkan
kekuatan sebagai hasil kombinasi orientasi mikrofibril selulosa dan hemiselulosa.
Perubahan salah satu dari karbohidrat ini akan menyebabkan reduksi kekuatan kayu
secara cepat.

67

4) Higroskopitas (hygroscopity)
Karena

enzim

mikrobial

mendegradasi

bahan

ligno-karbohidrat,

jamur

menyebabkan perubahan kapasitas memegang air dinding sel kayu. Secara umum,
EMC (Equillibrium Moisture Content) kayu yang terserang brown rot lebih rendah
daripada kayu segar, sedangkan EMC kayu yang terserang white rot lebih tinggi
bila menyebabkan kehilangan berat >60% (Cowling, 1961). Peningkatan EMC
mulai pada kehilangan berat sekitar 40% pada white rot, sedangkan brown rot
mengalami penurunan EMC yang sangat tajam pada tahap awal pelapukan. Hal ini
disebabkan serangan terutama pada selulosa amorf. Selulosa amorf menahan level
penyerapan air lebih tinggi daripada daerah kristalin selulosa, dan pengeluaran
daerah amorf secara cepat menurunkan kapasitas memegang air pada kayu secara
keseluruhan. Tidak adanya perubahan EMC pada tahap awal serangan white rot
kemungkinan disebabkan pengeluaran secara seragam semua komponen kayu,
sedangkan peningkatan EMC pada tahap akhir pelapukan dapat menggambarkan
bahwa jamur menyerang secara selektif daerah kristalin selulosa.
5) Nilai kalor (calor value)
Karena agen mikrobial mengkolonisasi dan memanfaatkan substrat kayu, jamur
mengeluarkan dan merubah bahan kayu menjadi biomassa mikrobial, CO2, H2O,
dan produk limbah metabolit. Meskipun biomassa mikrobial akan memberikan
konstribusi sedkit terhadap nilai kalor, kandungan net energy dari kayu lapuk
mengalami penurunan. Nilai kalor ini diperlukan untuk menghasilkan sejumlah
panas.
6) Permeabilitas (permeability)
Meskipun beberapa jamur penghuni kayu berpenetrasi secara langsung ke dalam
dinding sel untuk bergerak dari satu sel ke sel lainnya, kebanyakan jamur pelapuk
pada awalnya bergerak berpenetrasi melalui noktah. Karena noktah memainkan
peranan dalam pengaliran cairan pada serat dan tracheid, pengeluaran membran
noktah membuat kayu lebih mudah menerima pergerakan cairan. Sebagai akibat
perubahan tersebut, kayu lapuk mengabsorpsi dan mendesorpsi cairan lebih cepat
daripada kayu segar.
7) Sifat kelistrikan (electrical properties

68

Kayu memiliki konduktivitas listrik yang lebih rendah daripada bahan konstruksi
lain seperti baja, dan karena alasan inilah kayu umumnya digunakan untuk
mendukung sistem distribusi listrik. Pada kayu yang telah terdegradasi,
konduktivitas listriknya meningkat (Richard, 1954). Tahanan listrik kayu segar
lebih tinggi, sedangkan kayu yang telah lapuk atau terdekolorasi tahanan listriknya
50-75% lebih rendah daripada kayu segar, yang diukur dengan Shigometer.
8) Sifat akustik (acustic properties)
Kayu memiliki sifat penghantar gelombang suara dan menghasilkan karakteristik
emisi suara bila kayu ditekan secara mekanik. Kemampuannya akan berubah bila
kayu dikolonisasi oleh agen mikrobial (Pellerin et.al., 1986; Noguchi et.al., 1986).
Perubahan sifat akustik ini dapat digunakan untuk mendeteksi tahapan pelapukan.
Karena gelombang suara bergerak melalui kayu, suara akan melewati lubang akibat
pelapukan. Karakteristik lain dari kayu seperti lingkaran tahun, mata kayu, retak
dan lain-lain dapat mengubah pola gelombang suara.
c.

Teknik Pengendalian
Pada dasarnya, pengendalian jamur menyerang kayu sangat terkait dengan ekologi

jamur atau faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur. Menurut Zabel and
Morrell (1991), pengendalian jamur, terutama jamur pelapuk kayu dapat dilakukan
sebagai berikut:
(1) Infusi dengan bahan beracun atau modifikasi kimia
(2) Menjaga kayu tetap kering, yaitu di bawah kadar air titik jenuh serat
(3) Merendam atau menyemprot kayu dalam air
(4) Memusatkan penyimpanan kayu bulat pada musim dingin; pemanasan sampai steril
(5) Perlakuan pemberian larutan alkali untuk pengendalian stain
(6) Pengawetan kayu; pemanasan kayu untuk menghancurkan vitamin.
(7) Menggunakan kayu awet.
C. SERANGGA PERUSAK KAYU (WOOD DESTROYING INSECTS)
Serangga (kelas: Insecta) termasuk dalam filum hewan terbesar yaitu Anthropoda.
Anthropoda dicirikan oleh exoskeleton yang keras yang bersegmen. Serangga memiliki
69

3 bagian tubuh, yaitu kepala, thorax dan abdomen di mana terdapat sepasang sayap
seperti Gambar 7.

Gambar 7. Gambaran umum kumbang Anobium: Kepala dengan antena (a), prothorax (b),
thorax, kaki, dan abdomen

Kepala serangga bergabung dengan thorax, tempat sepasang antena, mulut yang terdiri
atas sepasang mandibel, dua pasang maxillae, labrum dan labium dan sepasang mata
majemuk. Mandibel larva serangga pengerek kayu terspesialisasi untuk menggerek ke
dalam kayu. Thorax terbagi atas tiga segmen (pro-, meso-, dan metahorax) masingmasing memiliki sepasang kaki.

Setiap kaki terdiri atas 6 segmen dasar.

Pada

kebanyakan serangga dua pasang sayap juga muncul dari thorax. Pada beberapa
serangga sayap tidak berkembang, hanya ada dalam waktu pendek dari siklus hidup atau
tersisa sebagian. Abdomen terdiri atas segmen-segmen, umumnya tanpa alat tambahan
kecuali struktur sensor dan genital (reproduksi) pada segmen terakhir.
Siklus Hidup Serangga
Serangga melewati tahapan perkembangan dari telur sampai dewasa secara seksual,
kawin dan menghasilkan generasi dalam siklus hidupnya. Perubahan ini disebut
metamorfosis. Penampakan dan prilaku setiap tahapan berbeda-beda. Panjang siklus
hidup dihitung mulai dari waktu fertilisasi sampai kematian serangga. Pada kebanyakan
serangga perusak kayu siklus hidup dapat berlangsung beberapa tahun.

70

Pada umumnya, ada dua jenis siklus perkembangan serangga yaitu metamorfosis
tidak sempurna dan metamorfosis sempurna (Gambar 8). Pada metamorfosis tidak
sempurna serangga melewati tiga tahap perkembangan telur, nimfa, dan dewasadan
terjadi pada kelompok kecil serangga penghuni kayu seperti rayap (ordo: Isoptera).
Pada awalnya, nimfa tidak menyerupai serangga dewasa tetapi karena nimfa tumbuh
akhirnya menyerupai serangga dewasa termasuk bentuk mulut. Metamorfosis tidak
sempurna diistilahkan hemimetabolous, dengan perkembangan bentuk sayap di luar
tubuh serangga. Pada metamofosis sempurna serangga melewati 4 tahap telur, larva,
pupa dan dewasa dan terjadi pada banyak kelompok serangga penghuni kayu seperti
Coleoptera, Hymenoptera dan Lepidoptera. Tahap larva memakan kayu dan mengalami
ganti kulit yang memungkinkan ukuran tubuh bertambah selama pertumbuhan. Ada
perubahan yang nyata dalam penampakan dari setiap tahapan dan tipe ini dikenal
Holometabolous, dengan perkembangan bentuk sayap di dalam tahap larva. Pada
kebanyakan serangga perusak kayu, kerusakan terjadi pada tahap larva, meskipun pada
beberapa ada juga yang merusak kayu pada tahap larva dan dewasa.

Gambar 8. Siklus hidup serangga:

(a) metamorfosis tidak sempurna, (b) metamorfosis

sempurna

Nutrisi
Serangga perusak kayu memiliki bagian mulut yang dapat beradaptasi untuk
merobek dan mengunyah bahan padat menjadi partikel ukuran tertentu, yang bervariasi
dari hanya melintang dinding sel pada Hylotrupes sampai bubuk halus pada Lyctus.

71

Ukuran lubang yang dihasilkan oleh larva serangga penggerek kayu tergantung pada
ukuran larva, meskipun jumlah bahan yang dikeluarkan dalam sekali gigitan beberapa
kali lebih besar daripada luasan yang diakibatkan oleh hifa jamur tunggal dan minimal
akan menjangkau beberapa dinding sel pada arah melintang. Proses pemutusan dan
absorpsi makanan terjadi dalam sistem usus serangga (Gambar 9), yang dimulai pada
saat fragmen kayu dicerna ke dalam mulut. Untuk berkembang, serangga perusak kayu
(wood-destroying insect) memerlukan berbagai sumber nutrien, air, nitrogen organik,
dan karbon organik, yaitu air bebas dan air terikat dalam kayu, bahan makanan serta
bahan struktural kayu.

Meskipun mineral dan vitamin juga dibutuhkan umumnya

serangga tidak menganggapnya sebagai faktor pembatas perkembangan serangga dalam


kayu.

Gambar 9. Sistem usus larva Lyctus : O = oesophagus, P = proventuculus, Mga = anterior


midgut, Mpg = posterior mid-gut, Hg = hidgut, R = rectum

Pada umumnya, usus serangga terbagi atas tiga bagian, yaitu usus depan (foregut),
usus tengah (midgut), dan usus belakang (hindgut). Semua segmen usus
memperlihatkan

gerakan

mengaduk

dan

peristaltik,

yang

mencampur

dan

menggerakkan partikel kayu yang melalui usus.


Tembolok pada dasarnya berfungsi sebagai penyimpan, meskipun pengurangan
ukuran partikel untuk meningkatkan luasan partikel makanan dilakukan enzim
pencernaan dapat terjadi pada beberapa serangga perusak kayu dengan memanfaatkan
kapasitas pencernaan yang tinggi (contoh: Anobium punctatum).

Adaptasi foregut

menjadi empedal penggiling (proventriculus) bertujuan untuk proses reduksi partikel.


Sedikit atau tidak ada pemutusan dan adsorpsi terjadi pada daerah usus depan meskipun
beberapa pencernaan dapat terjadi pada tembolok akibat pemuntahan kembali cairan
72

midgut. Untuk mencegah keluarnya partikel yang digiling ke dalam midgut serangga
dilengkapi dengan sphincter.
Kebanyakan proses pencernaan karbohidrat, protein dan lipid terjadi di midgut,
meskipun sebagian pencernaan selulosa yang disebabkan enzim selulase mikroba juga
terjadi di hindgut pada beberapa kelompok serangga, khususnya rayap tingkat rendah.
Enzim selulase serangga umumnya ditemukan di midgut. Absorpsi air, monomer hasil
degradasi polimer (monosakarida, asam amino) dan trigliserida terjadi di midgut,
meskipun beberapa absorpsi juga terjadi di hindgut.
Pada umumnya, kadar air kayu yang mendukung perkembangan kebanyakan
serangga perusak kayu bisa lebih rendah daripada yang dibutuhkan untuk
perkembangan jamur, kecuali serangga penyerang kayu basah. Serangan dapat terjadi
sebelum dilakukan pengeringan udara (seasoning) pada kayu segar (contoh: kumbang
ambrosia hanya menyerang kayu dengan kadar air >30%), atau jamur pelapuk kayu
basah (contoh: Naccerdes malanura). Pada kelembaban terendah, rayap kayu kering
(contoh: Kalotermes) dapat memanfaatkan kayu dengan kadar air 5-6% (Wilkinson,
1979). Di sejumlah daerah temperate, Anobium punctatum bertahan hidup pada kayu
struktural berkadar air 12% (Cymorek, 1968) meskipun perkembangan optimal larva
terjadi pada titik jenuh serat (Hickin, 1975). Anobium dapat bertahan hidup pada
kondisi basah tetapi tidak dapat hidup pada kayu yang secara permanen penuh air,
karena kadar air yang tinggi akan menghambat aktivitas beberapa serangga.
Kandungan nitrogen kayu tertinggi terdapat pada bagan terluar kayu gubal (contoh:
kayu gubal terluar Pinus sylvestris 0,098%, empulur 0,040%) tetapi penyebaran ulang
bahan bernitrogen ke bagian sisi luar dapat terjadi selama pengeringan. King et.al.
(1973) mencatat bahwa setelah pengeringan, permukaan balok Pinus sylvestris
memperlihatkan level nitrogen 0,22%, sedangkan pusat balok 0,041%. Kadar nitrogen
umumnya rendah dalam kayu dan level 0,03% merupakan batas terendah untuk
mendukung hidup Hylotrupes bajulus (Becker, 1963). Kadar nitrogen yang ada dalam
kayu sebenarnya cukup bagi sejumlah serangga penggerek kayu, namun penambahan
pepton pada kayu ternyata dapat meningkatkan laju perkembangan Hylotrupes (Becker,
1943). Larva Anobium punctatum dapat terjaga dalam kayu dengan kadar nitrogen
sangat rendah dan bahkan dilaporkan memiliki kemampuan mengikat nitrogen (Anon.,
73

1968; Baker et.al., 1970). Pengayaan nutrisi melalui pemutusan karbohidrat kayu secara
parsial oleh mikrobial dapat merubah ratio C/N, yang membantu perkembangan
serangga; tetapi adanya aktivitas bakteri pengikat nitrogen membantu memperkaya
nutrien bagi sejumlah rayap.
Jaringan kayu dapat diputuskan atau dirombak menjadi monomer karbohidrat dan
lignin. Serangga memperlihatkan kisaran kemampuan yang luas dalam memutuskan
kayu mulai yang hanya memanfaatkan pati dalam kayu seperti Lyctus (Parkin, 1963)
sampai yang dapat mencerna selulosa, hemiselulosa dan juga lignin seperti Anobium
punctatum (Baker, 1969), meskipun pemutusan lignin tidak seintensif seperti terjadi
pada beberapa jenis rayap (Butler dan Buckerfield, 1979). Serangga lain yang
mendegradasi kandungan sel dan hemiselulosa seperti Scolytidae, sedangkan Anobiidae
dan kebanyakan Cerambycidae dapat memanfaatkan karbohidrat dinding sel termasuk
selulosa (Parkin, 1936; 1940). Preferensi beberapa serangga terhadap jenis kayu sangat
terkait dengan nutrisi atau sumber makanannya. Genus seperti Lyctus berkembang cepat
tetapi hanya dapat menyerang kayu yang kaya pati, sedangkan Anobium berkembang
lambat tetapi dapat mencerna berbagai jenis kayu.
Sejumlah serangga memproduksi enzim selulase sendiri seperti Hylotrupes bajulus
(Falck, 1930). Namun, kebanyakan dibantu berbagai mikroorganisme dalam sistem
pencernaannya, baik dalam hindgut, enzim yang dihasilkan mikrobial yang mencerna
makanan, maupun pada makanan sebelum diserang (rayap tingkat tinggi mencerna
makanan yang sebelumnya telah diserang jamur Termitomycetes) atau yang diberi
perlakuan pendahuluan oleh mikroorganisme sebelum dicerna. Tempat dan sumber
degradasi lignin dalam serangga belum banyak diketahui atau ditemukan meskipun
Butler dan Buckerfield (1979) yang bekerja dengan rayap tingkat tinggi Nasutitermes
exitiosus berspekulasi bahwa polimer lignin diputuskan di usus dan selanjutnya
dimetabolisme anaeorob oleh jaringan rayap.

74

Hubungan Antara Pencernaan Serangga dan Mikroorganisme


Pencernaan dan pencampuran kayu dan nutrisi oleh serangga sering dibantu oleh
mikroorganisme dalam berbagai cara, yang mencakup:
(a) Akuisisi enzim yang dihasilkan mikroba pada substrat yang dicerna,
(b) Pencernaan pendahuluan substrat oleh mikroorganisme sebelum dicerna,
(c) Pengayaan bahan nutrisi dalam bentuk sel mikrobial dan metabolit,
(d) Pengeluaran atau detoksifikasi zat ekstraktif kayu,
(e) Mikroba yang hidup di usus menghasilkan dan melepaskan enzim, dan
(f) Mikroorganisme yang bekerja sebagai pengurai yang melepaskan sumber karbon
utama untuk asimilasi serangga.
Pada beberapa tahun terakhir subjek tentang interaksi serangga-mikrobial telah
diulas oleh Crowson (1981), Martin (1984), Swift dan Boddy (1984) dan Wilding et.al.
(1989).

Hal yang menarik bahwa serangga dapat bertindak sebagai vektor penyakit

pada kayu segar yang diserangnya (Crowson, 1981). Beberapa kumbang ambrosia
(contoh: Xyloterus, Platipodidae; Xyleborus, Scolytidae) mendiami kayu yang baru
dikuliti dan bertahan hidup dengan menumbuhkan dan memakan stain fungi (contoh:
Ambrosiella spp.) dan jamur ragi di dan sekitar lubang gerek.
Woodwasp (Siricidae dan Xiphydriidae) menyerang spora basidiomycetes dalam
kayu selama peletakan telur (Franke-Grossmann, 1939). Larva woodwasp Sirex cyaneus
akan bertahan hidup pada kayu sehat tetapi akan hidup normal pada kultur murni
simbion Amylostereum chailettii (Cartwright, 1929; Stillwell, 1966). Martin (1984)
menekankan bahwa makanan woodwasp terdiri atas jamur dan kayu, dan enzim jamur
membantu mereduksi kandungan selulosa kayu yang dicerna. Jamur basidiomycetes lain
yang berasosiasi dengan woodwasp adalah Stereum sanguinolentum, Amylostereum
areolatum dan Daedalea unicolor (Franke-Grossmann, 1967; Madden dan Coutts,
1979).
Rayap tingkat tinggi (Termitidae, sub-family Macrotermitinae) Macrotermes
natalensis adalah contoh lain serangga yang menumbuhkan jamur (Martin, 1984). Pada
sarangnya, rayap menumbuhkan sisiran jamur dari fragmen kecil tumbuhan atau
jaringan kayu yang dicerna rayap. Berbagai jamur termasuk basiodiomycetes
Termitomycetes dan beberapa jamur xylariaceous ditumbuhkan dan berkembang pada
75

bahan.

Nodula

(mycotetes)

menghasilkan

conidiospora

Termitomycetes

pada

permukaan sisiran yang terurai dan serangga mengkonsumsi jamur serta bahan sisiran
yang terurai. Ketidakadaan bahan sisiran menyebabkan serangga dengan cepat
kelaparan sampai mati, namun dengan adanya bahan sisiran dan kayu segar serangga
akan bertahan hidup untuk periode waktu yang lama. Martin menegaskan bahwa
meskipun serangga mampu mensintesis enzim selulase yang aktif pada selulosa nonkristalin, serangga tetap mengandalkan nodula jamur untuk mengaktifkan enzim
selulase pada selulosa kristalin.
Pada Sirex dan Macrotermes, pra-pencernaan oleh jamur menghasilkan peningkatan
nilai nutrisi bahan maupun akuisisi enzim mikrobial. Death watch beetle Xestobium
rufovillosum (Anobiidae), hanya menyerang kayu keras yang dipra-kondisi melalui
pelapukan (Fisher, 1940, 1941; Bletchly, 1966). Death watch beetle menyerang kayu
willow (Salix sp.) yang dilapukkan oleh berbagai jamur Basidiomycetes (termasuk
Trametes (Coriolus) versicolor, Coniophora putena) dan ascomycetes Xylaria
hypoxylon. Pada kayu aok jamur pelapuk kayu berasosiasi dengan Laetiporus
sulphureus, Fistulina hepatica dan Donkioporia expansa (Phellinus cryptarum). Pada
tingkat pelapukan yang lebih besar, waktu untuk menyelesaikan siklus hidup death
watch beetle dan jumlah kerusakan yang disebabkan oleh larva diperkirakan lebih
pendek (Fisher, 1941). Pada kayu lapuk dengan pengurangan bobot sekitar 40%, siklus
hidup berkurang secara drastis.
Pada larva famili Coleoptera penghuni kayu seperti Bostrychidae (termasuk
Lyctidae), Anobiidae dan beberapa Cerambycidae, organ khusus yang disebut
Mycetoma dihubungkan ke usus. Pada Anobium dan genus Anobiidae lain serta pada
Cerambycida struktur ini mengandung simbion seperti ragi, sedangkan pada
Bostrycidae menampakkan simbion bakteri (Crowson, 1981). Pada sejumlah kasus,
kumbang yang menghasilkan mycetoma telah memperlihatkan perkembangan normal
tanpa adanya simbion meskipun biasanya membutuhkan tambahan nutrien, terutama
vitamin B dan steroid. Peranan simbion adalah untuk menghasilkan nutrisi penting
tertentu.
Meskipun rayap tingkat tinggi (Macrotermes, Termitidae) mempunyai simbion
jamur, rayap kayu kering (Kalotermitidae), rayap kayu basah, dan semua rayap lainnya
76

mempunyai protozoa dan bakteri pada mikrobiota usus belakang (Breznak, 1984) pada
rasio 1 : 100 sel. Pada beberapa kasus, juga ditemukan Actinomycetes. Pada usus
beberapa rayap tingkat tinggi protozoa ditemukan tetapi peranannya kecil. Bakteri juga
ditemukan dalam jumlah kecil pada segmen usus beberapa rayap tingkat rendah dan
bakteri yang secara morfologi dapat diidentifikasi pada kultur murni. Jumlah mikrobial
pada usus rayap Reticulitermes flavipes diperkirakan berkisar 109 1010 per ml bakteri
dan 107 per ml protozoa. Bakteri yang diisolasi meliputi Streptococcus, Bacteriodes,
berbagai Enterobacteriaceae, Staphylococcus dan Bacillus.
Protozoa pada usus rayap bertanggung jawab memutuskan selulosa kayu dan
bakteri memberikan faktor pertumbuhan yang dibutuhkan untuk aktivitas protozoa.
Partikel kayu yang melewati hidgut diendositosis oleh protozoa dan dimetabolisme
secara anaerob menjadi CO2, H2 dan asetat yang dilepaskan oleh protozoa. Asetat
digunakan sebagai sumber energi yang dapat dioksidasi oleh rayap. Protozoa usus rayap
berperan dalam pembiakan bakteri hidgut dan sejumlah total karbon yang diubah
diassimilasi oleh bakteri dan diubah menjadi gas CH4 (metana) dalam persentase kecil.
Breznak (1984) menduga bahwa bakteri dapat menyediakan sumber nutrisi tambahan
untuk protozoa dan membantu dalam menjaga kondisi anaerob yang dibutuhkan oleh
protozoa.
1. Rayap (Termites)
Rayap merupakan serangga sosial yang termasuk ke dalam ordo Isoptera dan
terutama terdapat di daerah-daerah tropis. Sampai saat ini para ahli hama telah
menemukan kira-kira 2.000 jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia (Harris, 1971),
sedangkan di Indonesia sendiri telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap
(Tarumingkeng, 1971). Di Indonesia rayap tergolong ke dalam serangga utama perusak
kayu. Kerugian akibat serangan rayap tidak kecil, karena mampu menghancurkan
bangunan yang berukuran besar dan mengakibatkan kerugian yang besar pula.
Kerusakan bukan hanya terjadi pada kayu, tetapi juga kertas, karton, pakaian, jaringanjaringan tanaman dan berbagai jenis bahan berselulosa lainnya termasuk dokumendokumen dan hasil-hasil kesenian yang sangat berharga (Spear, 1968).

77

a.

Ruang lingkup rayap


Semua jenis rayap hidup di darat, sebagian besar merupakan bagian penting di

dalam golongan fauna tanah. Secara morfologis rayap memiliki tiga bentuk yang sangat
berlainan. Ketiga bentuk tersebut mencerminkan kasta rayap dan setiap kasta memiliki
fungsi dan tugas yang berbeda.
Semut dan Rayap
Di beberapa negara rayap disebut pula sebagai semut putih atau white ant karena
bentuk tubuhnya yang mirip semut. Di kalangan ahli entomologi rayap dan semut
mudah dibedakan. Rayap memiliki antena yang lurus dan berbentuk menyerupai manikmanik, sedangkan semut memiliki bentuk antena yang menyiku. Thorax dan abdomen
rayap bergabung dalam ukuran yang sama, sedangkan thorax dan abdomen semut
bergabung dengan pinggang yang meramping. Sayap-sayap rayap memiliki bentuk,
ukuran dan pola yang serupa disertai pertulangan sayap yang banyak dan berukuran
kecil, sedangkan sayap semut memiliki bentuk, ukuran dan pola yang berlainan dengan
pertulangan yang sedikit.
Sifat-Sifat Rayap
Dalam hidupnya rayap mempunayi beberapa sifat penting, yaitu:
1. Thropalaxis; sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat serta mengadakan
pertukaran makanan.
2. Cryptobiotic; sifat rayap untuk menjauhi cahaya. Sifat ini tidak berlaku pada rayap
bersayap (calon kasta reproduktif) dimana selama periode yang pendek didalam
hidupnya memerlukan cahaya (terang).
3. Canibalism; sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang lemah atau sakit.
Sifat ini lebih menonjol bila rayap berada dalamkeadaan kekurangan makanan.
4. Necrophagy; sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya yang masih segar.

78

Siklus Hidup dan Kasta Rayap


Dalam siklus hidupnya rayap mengalami metamorfosis tidak sempurna. Awal
hidupnya dimulai dari telur, yang menetas menjadi nimfa. Sejak menetas nimfa muda
memiliki bentuk yang serupa dengan rayap dewasa. Nimfa muda kemudian berkembang
menjadi pekerja, prajurit atau nimfa. Nimfa adalah calon raja dan ratu. Pembentukan
kasta pekerja, prajurit, raja dan ratu dari nimfa mudah dikendalikan secara alami oleh
bahan kimia yang disebut feromon. Nimfa muda menjadi raja atau ratu melalui bentuk
nimfa yang memiliki tonjolan sayap, warna tubuh berubah menjadi hitam kelam,
kemudian sayap berkembang lebih sempurna. Kasta rayap bersayap ini disebut laron
atau alate. Laron akan keluar dari sarang atau koloni ada awal musim hujan atau akhir
musim kemarau. Kesinambungan keturunan rayap tergantung kepada laron ini. Bila
laron selamat dari serbuan musuh pada waktu keluar dari sarang, seekor laron betina
akan mengeluarkan bau panggilan sehingga menarik rayap jantan. Sepasang laron
kemudian akan melepaskan sayapnya dan pergi mencari tempat untuk membuat sarang
baru dan berbulan madu. Pada saat akhir bulan madu, perut laron betina akan
mengembung sehingga berukuran jauh lebih besar daripada kepalanya, yang bertugas
menjadi ratu dan sebagai petelur. Laron jantan yang berukuran lebih kecil dari ratu
berfungsi sebagai raja. Siklus hidup koloni rayap dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Siklus hidup rayap (Prasetiyo dan Yusuf, 2005)

79

Rayap adalah serangga yang ukuran badannya kecil-sedang, hidup dalam


kelompok-kelompok sosial dengan sistem kasta yang berkembang sempurna (Borror
and de Long, 1954). Dalam koloni ada serangga bersayap dan serangga tidak bersayap,
ada juga yang hanya mempunyai tonjolan sayap saja. Sayapnya dua pasang yang
menempel pada bagian thorax dan berbentuk seperti selaput, dengan pertulangan
sederhana dan reticulate. Bentuk dan ukuran sayap depan sama dengan sayap belakang,
dan karena itulah ordonya dinamai Isoptera (iso = sama; ptera = sayap).
Dalam setiap koloni terdapat tiga kasta yang menurut fungsinya masing-masing,
yaitu kasta pekerja, prajurit, dan kasta reproduktif (reproduktif primer dan reproduktif
suplementer). Bentuk (morfologis) dari setiap kasta sesuai dengan fungsinya.
(a) Kasta pekerja (worker)
Kasta ini mempunyai anggota terbesar dalam koloni, berbetuk seperti nimfa dan
berwarna pucat dengan kepala hipognat (sumbu kepala sejajar sumbu badan) dengan
mata facet. Mandibelnya relatif kecil dibandingkan dengan kasta prajurit. Fungsi kasta
ini adalah mencari makan, merawat telur, serta membuat dan memelihara sarang.
Selain itu, juga mengatur aktivitas dari koloni dengan jalan membunuh dan memakan
individu-individu yang lemah atau mati untuk menghemat energi dalam koloninya.
Sifat kanibalisme seperti ini umumnya terjadi pada setiap jenis rayap, dan sering erat
hubungannya dengan salah satu sifat lainnya yang disebut trophalaxis yaitu saling tukar
menukar cairan makanan melalui mulut, sekaligus memakan usus depan dan usus
belakang yang dikeluarkan akibat ganti kulit (ecdysis). Famili Kalotermitidae tidak
memiliki kastapekerja dan oleh karena itu tugas kasta pekerja dilakukan oleh nimfa
dewasa (pseudoworkers).
(b) Kasta prajurit (soldier)
Kasta prajurit mudah dikenali karena bentuk kepalanya yang besar dengan
sklerotisasi yang nyata. Anggota-anggota daripada kasta ini mempunyai mandible atau
rostrum yangbesar dan kuat. Berdasarkan pada bentuk kasta prajuritnya, rayap
dibedakan atas dua kelompok, yaitu: tipe mandibulate dan tipe nasuti. Pada tipe
mandibulate prajurit-prajuritnya mempunyai mandibel yang kuat dan besar tanpa
80

rostrum, sedangkan tipe nasuti prajurit-prajuritnya mempunyai rostrum yang panjang


tapi mandibelnya kecil. Fungsi kasta prajurit adalah melindungi koloni terhadap
gangguan dari luar.
(c) Kasta reproduktif (reproductive)
Kasta reproduktif primer terdiri atas serangga-serangga dewasa yang bersayap dan
menjadi pendiri koloni (raja dan ratu). Bila masa kawin telah tiba, imago-imago ini
terbang keluar dari sarang dalam jumlah yang banyak. Saat seperti ini merupakan masa
perkawinan di mana sepasang imago (jantan dan betina) bertemu dan segera
menanggalkan sayapnya serta mencari tempat yang sesuai di dalam tanah atau kayu.
Semasa hidupnya kasta reproduktif (ratu) bertugas menghasilkan telur, sedangkan
makanannya dilayani oleh para pkerja. Seekor ratu dapat hidup selama 620 tahun
bahkan berpuluh-puluh tahun. Apabila reproduktif mati atau koloni membutuhkan
penambahan reproduktif baru untuk perluasan koloninya maka dibentuk reproduktif
sekunder (neotenic). Neoten juga akan terbentuk jika sebagian koloninya terpisah
(terisolasi) dari sarang utama, sehingga suatu koloni baru akan terbentuk. Kasta ini
dapat terbentuk beberapa kali dalam jumlah yang besar sesuai dengan perkembangan
koloni.
Pembentukan koloni rayap terdiri dari tiga cara (Hasan, 1984), yaitu:
1. Pembentukan koloni oleh kasta reproduktif primer (laron), yaitu pembentukan
koloni dari perkawinan sepasang kasta reproduktif primer.
2. Pembentukan koloni dengan cara isolasi, yaitu pembentukan koloni karena
terdapatnya sebagian rayap yang terisolasi dari koloni induk karena lorong-lorong
atau sel-sel sarang yang tersumbat. Rayap yang terisolasi ini kemudian membentuk
koloni baru dengan menjadikan kasta reproduktif suplementer sebagai raja dan ratu.
3. Pembentukan koloni dengan cara migrasi, yaitu pembentukan koloni dengan cara
memisahkan diri dari koloni induk (lama).
Klasifikasi Rayap
Berdasarkan habitatnya, rayap dapat dibagi ke dalam beberapa golongan, yaitu:
rayap kayu basah, rayap kayu kering, rayap pohon, dan rayap tanah. Dalam bidang
81

pengawetan hasil hutan, golongan rayap kayu kering dan rayap tanah merupakan
golongan yang terpenting karena jenis-jenisnya menyebabkan sebagian besar dari
kerusakan-kerusakan yang bersifat zoologis pada bangunan-bangunan kayu di Indonesia.
a) Rayap Basah (dampwood termite)
Golongan rayap ini biasanya menyerang kayu-kayu busuk atau pohon-pohon mati.
Sarangnya terletak di dalam kayu dan tidak mempunyai hubungan dengan tanah.
Contoh: Glyprotermes spp.
b) Rayap kayu kering (drywood termite)
Golongan rayap ini biasa menyerang kayu-kayu kering, misalnya pada kayu yang
digunakan sebagai bahan bangunan, perlengkapan rumah tangga dan lain-lain.
Sarangnya terletak di dalam kayu dan tidak mempunyai hubungan dengan tanah.
Rayap kayu kering dapat bekerja dalam kayu yang mempunyai kadar air 10-12%
atau lebih rendah. Contoh: Cryptotermes spp.
c) Rayap pohon (tree termite)
Golongan rayap ini menyerang pohon-pohon hidup. Rayap ini bersarang di dalam
pohon dan tidak mempunyai hubungan dengan tanah. Contoh: Neotermes spp.
d) Rayap tanah (subterranean termite)
Golongan rayap ini bersarang dalam tanah, tetapi dapat juga menyerang bahanbahan di atas tanah karena selalu mempunyai terowongan pipih terbuat dari tanah
yang menghubungkan sarang dengan benda yang diserangnya. Untuk hidupnya
rayap ini membutuhkan kelembaban yang tinggi, serta bersifat kriptobiotik.
Golongan rayap ini meliputi anggota Fam. Rhinotermitidae dan sebagian dari Fam.
Termitidae (Hunt and Garrat, 1967). Contoh: Coptotermes spp.
Ordo isoptera dibagi atas enam famili, yaitu: Mastotermitidae, Hodotermitidae,
Kalotermitidae, Termopsidae, Rhinotermitidae dan Termitidae (Harris, 1971).
a) Rayap tingkat rendah (lower termites)
Memiliki protozoa dan bakteria di usus, yang membantu memutuskan bahan
lignoselulosa yang dicerna
1. Mastotermitidae rayap tanah, sarang di bawah tanah, spesies tunggal
Mastotermes darwinensis ditemukan di Australia Utara.

82

2. Kalotermitidae koloni kecil yang menyerang kayu kering, tersebar luas di


daerah tropis dan subtropis.
Contoh: Cryptotermes, Kalotermes, Marginitermes
3. Termopsidae rayap kayu basah, tiga subfamili (Podotermitinae, Stolotermitinae,
Termopsinae termasuk Zootermopsis)
4. Hodotermitidae rayap harvester memakan serasah, ditemukan di daerah kering
seperti Afrika, Arabia, Australia dan India.
5. Rhinitermitidae rayap tanah, famili yang besar dengan 6 subfamili,
mengeluarkan cairan lengket dari daerah fontanel kepala.
Contoh: Coptotermes, Reticulitermes, Schedorhinotermes
b) Rayap tingkat tinggi (higher termites)
Memiliki bakteria dan enzim usus dan tidak ada protozoa yang terlibat dalam
pencernaan makanan
1. Termitidae rayap tanah, famili rayap terbesar termasuk mound builder dan nest
builder pada pohon dan tiang.
Contoh: Macrotermes, Microtermes, Nasutitermes
Di antara enam famili di atas, ternyata yang paling banyak menimbulkan kerusakan
adalah famili Rhinotermitidae, Kalotermitidae dan Termitidae. Jenis-jenis rayap yang
banyak merusak kayu di daerah tropis seperti di Indonesia (Roonwal dan Maiti dalam
Nandika, 1975) adalah sebagai berikut:
a) Famili Kalotermitidae
1. Subfamili: Kalotermitidae
a. Genus
Species
b. Genus
Species

: Neotermes
: Neotermes dalbergia Kalshoven
: Cryptotermes
: Cryptotermes cynocephalus Light
Cryptotermes domesticus Haviland
Cryptotermes dudleyi Banks

b) Famili Rhinotermitidae
1. Subfamili: Coptotermitidae
a. Genus

: Coptotermes

83

Species

: Coptotermes curvignatus Holmgren


Coptotermes kalshoveni Kemner
Coptotermes traviana Haviland

2. Subfamili: Rhinotermitidae
a. Genus
Species
b. Genus
Species

: Prorhinotermes
: Prorhinotermes ravani
: Schedorhinotermes
: Schedorhinotermes javanicus Kemner
Schedorhinotermes tarakanensis Oshima
Schedorhinotermes tranlucens Haviland

c) Famili Termitidae
1. Subfamili: Amitermitidae
a. Genus
Species

: Microcerotermes
: Microcerotermes dammermani

2. Subfamili: Termitidae
a. Genus
Species

: Capritotermes
: Capritotermes butenzorg Holmgren
Capritotermes mohri Kemner
Capritotermes santchini Silvestri

3. Subfamili: Macrotermitidae
a. Genus
Species

: Macrotermes
: Macrotermes carbonarius Hagen
Macrotermes gilvus Hagen
Macrotermes malacensis Haviland

b. Genus
Species

: Odontotermes
: Odontotermes grandiceps Holmgren
Odontotermes javanicus Holmgren
Odontotermes makassarensis Kemner

c. Genus
Species

: Microtermes
: Microtermes insperatus Kemner

4. Subfamili: Nasutitermitidae

84

a. Genus
Species

: Nasutitermes
: Nasutitermes acutus Holmgren
Nasutitermes matangensis Haviland
Nasutitermes matangensiformis Holmgren

b. Genus
Species

: Bulbitermes
: Bulbitermes durianensis Roonwal and Maiti
Bulbitermes lakshmani Roonwal and Maiti

c. Genus
Species
d. Genus
Species

: Lacessititermes
: Lacessititermes batavus Kemner
: Hospitalitermes
: Hospitalitermes diurunus Kemner
Hospitalitermes irianensis

b.

Kondisi Serangan
Setiap jenis memiliki pola hidup, kondisi serangan dan tanda serangan yang

berbeda-beda, yang dipengaruhi oleh habitat hidupnya.


1) Rayap kayu kering
Rayap ini memiliki pola hidup, yaitu:
1.

Hidupnya tergantung pada kadar air kayu yang diserangnya (10-12% bahkan
sangat kering <3%).

2.

Tidak ada kontak dengan tanah atau sumber air lainnya. Umumnya ditemukan
pada daerah pantai yang memiliki kelembaban rata-rata lebih tinggi daripada
daerah pedalaman.

Serangan rayap ini dapat ditandai dengan adanya:


1.

Gundukan pellet fecal, warna bervariasi dari abu-abu rerang sampai sangat
coklat gelap bergantung jenis kayu yang dikonsumsi. Pellet ini keras,
memanjang, panjang 1/25 (1 mm), ujung membulat berbentuk persegi 6 dan
sisi tertekan cekung.

2.

Sayap swarmer juga menunjukkan adanya serangan.

3.

Bukti eksternal relatif kurang. Lubang-lubang biasnya tertutup dengan sekresi


dan pellet yang tertutup sempurna. Pembuktian dengan alat tajam atau memukul
85

memungkinkan mengetahui kerusakan tersembunyi, karena biasanya rayap


bekerja di bawah permukaan kayu dan meninggalkan lapisan seperti vinir yang
sangat tipis.
2) Rayap tanah
Rayap ini memiliki pola hidup, yaitu:
1.

Umum terdapat di daerah tropis, khususnya tropical rain forest sebagai


pengurai, dan daerah kering

2.

Koloni ditemukan pada kayu yang terkubur dalam tanah, tetapi kebanyakan
species juga membangun sarang di pohon atau di atas tiang kayu.

3.

Sarang dibangun di atas tanah yang dihubungkan ke sarang utama di dalam


tanah dengan saluran pelindung (shelter tube) yang melindungi dari proses
pengeringan

Serangan rayap ini dapat ditandai dengan adanya:


1.

Tanda awal adalah pemunculan swarmer atau sayap yang tersebar dalam jumlah
banyak.

2.

Adanya shelter tube yang dibangun rayap di atas pondasi dinding, dalam celah
antara sejumlah struktur, atau pada kayu yang terserang.

3.

Kerusakan dalam kayu (internal damage) kadang dideteksi dengan alat tajam
atau dipukul permukaan untuk mendeteksi perbedaan suara (bergema). Secara
elektik, dapat dideteksi dengan alat Termite Acoustic Emmision.

3) Rayap kayu basah


Rayap ini memiliki pola hidup, yaitu:
1.

Koloni bertempat tinggal pada tanah basah dan kadang pada kayu yang telah
lapuk, seperti menyerang kayu bangunan dan jembatan.

2.

Beberapa koloni dapat melakukan aktivitas dalam kayu segar dan juga kayu
yang relatif kering, selama rayap ini dapat melakukan kontak dengan kayu
basah.

3.

Umumnya tidak memiliki hubungan dengan tanah basah, tetapi memerlukan


kayu dengan kadar air tinggi. Rumah di pantai lebih mudah diserang karena
tanah lembab dan kelembaban tinggi.
86

Serangan rayap ini dapat ditandai dengan adanya:


1.

Sayap swarmer tersebar, seperti pada jaring laba-laba, dan lain-lain.

2.

Celah dan retakan dalam kayu yang terserang dapat ditutupi oleh fellet fecal dan
bahan fecal yang lembut, dan pada kayu kering dapat terakumulasi di bawah
kayu yang terserang.

c.

Tindakan Pengendalian
Seperti jenis serangga hama lain, rayap perusak kayu mempunyai hubungan yang

erat dengan lingkungan tempat hidupnya. Di dalam ilmu pengendalian serangga hama,
dikenal tiga mata rantai yang saling berhubungan dan saling berpengaruh. Ketiga mata
rantai tersebut adalah serangga hama (pest insect), inang (host) dan lingkungan
(environment). Kayu dianggap sebagai inang bagi rayap perusak, karena rayap hidup
dan makan di dalam kayu. Lingkungan hidup rayap terdiri atas faktor fisik dan biologis.
Faktor fisik antara lain suhu dan kelembaban, sedangkan faktor biologis terdiri atas
organisme lain yang hidup di sekitarnya.
Keberhasilan usaha

pengendalian rayap tergantung kepada kemampuan

mengendalikan hubungan antara ketiga mata rantai tersebut. Menurut Kofoid (1946)
cara-cara untuk mencegah serangan rayap adalah:
a. Menghindari kontak langsung antara kayu dengan tanah
b. Kayu-kayu yang dipakai sebagai tiang rumah sebaiknya ditunjang dengan beton
pada bagian dasar
c. Menghindari retakan-retakan pada lantai tembok atau pondasi
d. Menggunakan perisai logam di bawah pondasi
e. Mengusahakan terciptanya kekeringan yang maksimum atau kelembaban yang
tinggi dalam kayu pada setiap penggunaan
f. Membuang sisa-sisa kayu, karena kayu dan tonggak yang tertinggal dalam tanah
dapat menjadi sumber penularan
g. Merusak sarang dan membunuh penghuninya
h. Mengadakan kontrol secara kontinu terhadap bangunan atau rumah
i. Menggunakan insektisida seperti DDT 8%, BHC 8%, Chlordane 1% dan Aldrin
0,5% dalam air atau minyak

87

j. Karantina terhadap kayu-kayu yang diimpor.


2. Kumbang (Wood boring beetles)
Kumbang termasuk ordo Coleoptera, yang berasal dari bahasa Yunani sheath
wings artinya selubung sayap karena sayap depannya menutupi sayap belakang. Sayap
depan lebih tebal (ellytra) dan saat beristirahat biasanya sayap membentuk garis lurus
pada pertengahan badan, sehingga memberikan penampakan khas pada kumbang. Ciri
khas lainnya adalah bagian mulut berkembang menjadi tipe penguyah dan mengalami
metamorfosis sempurna.
Kerusakan kayu oleh Coleoptera secara normal dilakukan oleh tahap larva
meskipun ada beberapa ordo yang serangga dewasanya merusak. Beberapa serangga
penggerek menghasilkan apa yang disebut bubuk kayu. Larva dari serangga ini
menggali dalam kayu untuk mendapatkan makanan dan berlindung, dan meninggalkan
bagian-bagian kayu yang tidak dicerna dalam bentuk bubuk-bubuk halus. Jika kayu
yang diserang digerakkan atau digoyangkan, sisa yang berbentuk bubuk ini keluar dari
lubang-lubang yang dibuat pada permukaan kayu oleh kumbang dewasa yang bersayap
ketika muncul untuk meluaskan serangan. Larva-larva menggerogoti kayu dalam bentuk
tak beraturan dan kerap kali berupa saluran-saluran yang besar dan jika serangannya
hebat biasanya hanya meninggalkan sedikit kayu yang sehat sebagai lapisan luar yang
tipis, yang mudah dihancurkan. Di antara kelompok serangga ini yang menyerang kayu
dalam kondisi berbeda banyak, terdapat species-species yang menyerang kayu daun
jarum maupun kayu daun lebar, kayu teras maupun kayu gubal, dan kayu bulat maupun
papan yang basah maupun kayu yang kering. Dalam kebanyakan hal, kerusakan
biasanya dapat dihindarkan dengan cara sanitasi yang baik dan dengan segera
mengerjakan, mengeringkan dan meggunakan produk-produk tersebut.
Salah satu tanda aktivitas Coleoptera pada kayu adalah keberadaan lubang terbang
(lubang keluar) pada permukaan kayu atau lubang gerek dalam kayu.

Identifikasi

serangga yang bertanggung jawab secara tepat seringkali penting karena dalam
beberapa kasus kerusakan tidak terjadi bila dalam penggunaannya kayu dikeringudarakan (dry seasoning) atau dikeringkan kembali (redrying). Pada contoh lain
kemungkinan serangan ulang dapat menjadi pilihan ukuran pengendalian alternatif,
88

misalnya perlakuan pengendalian dengan bahan kimia pengawet. Jenis kumbang dapat
diidentifikasi dari beberapa gambaran serangan, misalnya ukuran dan bentuk lubang
terbang, tipe frass/kotoran, dan karakteristik gallery atau terowongan; tetapi identifikasi
sampai level species seringkali membutuhkan pengujian dari serangga itu sendiri pada
beberapa tahap dari siklus hidupnya. Biasanya serangga dewasa lebih disukai karena
ekstraksi larva secara utuh lebih sulit.
a.

Ruang Lingkup dan Kondisi Serangan Kumbang Penggerek Kayu


Anggota dari ordo Coleoptera sering disebut bubuk, dan dibagi menjadi dua

golongan yaitu bubuk kayu kering dan bubuk kayu basah.


1)

Bubuk Kayu Kering


Disebut bubuk kayu kering (powder post beetle) karena larva dari jenis ini

menggerek kayu dan ekremen-ekremen yang dihasilkan bentuknya halus menyerupai


tepung. Bubuk kayu kering ini hanya terdapat pada jenis kayu yang kering. Lubang
gereknya tidak jauh dari lubang serangga, serangan biasanya sejajar dengan arah serat,
berisi tepung hasil gerekannya. Bubuk kayu kering ini umumnya terdapat pada material
yang sudah tua. Beberapa famili yang terpenting dalam ordo ini (Kollman, 1968)
adalah: Anobidae, Lyctidae, Cerambycidae, dan Bostrichidae
Famili Anobiidae
Pada daerah temperate anobiidae merupakan salah satu dari famili yang terpenting
dari coleoptera penghuni kayu. Ada 13 species yang tercacat sebagai hama kayu yang
penting, termasuk berbagai species anobium (A.puncatatum furniture beetle yang
umum di UK, A.pertinax dan A.australiense), Xestrobium rufofillosum (death watch
beetle) dan Ernobius mollis (kumbang penggerek kulit kayu daun jarum). Di USA
Xyletinus peltatus merupakan anobiid yang umum ditemui. Jenis yang terkenal di
Indonesia adalah Rasioderma serricone, yang merupakan hama tembakau yang sedang
dikeringkan, herbarium material kopra, bungkil, dan lain-lain (Kalshoven, 1951). Famili
ini dikenal sebagai furniture beetles dan death watch beetles. Daerah penyebaran
famili ini dapat diketemukan hampir di seluruh dunia dan merupakan hama yang

89

terpenting bagi produksi dan struktur kayu. Kerusakan yang ditimbulkan tidak jauh
berbeda dengan Lyctus (Kollman, 1968). Kayu yang dirusak biasanya kayu tua
termasuk kayu lapis. Lubang gerek kecil, bulat dan mengeluarkan eksremen berbentuk
tepung. Tepung ini jika dilihat di bawah mikrospkop berbentuk silindris lancip.
Larvanya kecil, panjang rata-rata 1/3 inci atau 8.5 mm, berbentuk huruf c
(eruciform), berwarna keputih-putihan. Bagian punggungnya berduri kecil-kecil, bentuk
kepala bulat, mulut terletak di bagian bawah, kaki pada thorax dan beruas lima.
Famili Lyctidae
Penyebaran famili ini sangat luas, hampir di seluruh tempat di dunia (kosmopolitan).
Anggota famili ini berwarna merah kecoklat-coklatan, panjang badan rata-rata 2-7 mm
tergantung dari speciesnya (Kollman, 1968). Kumbang ini bertelur di dalam kayu, yaitu
memasukkan ovipositor ke dalam pori-pori kayu sedalam 1,5 cm. Beberapa dari
famili lyctidae yang terkenal adalah: (a) Lyctus brunneus, yang menyerang kayu kelas
awet rendah, meubel, papan rumah dan lain-lain; (b) Minthea rugicolis menyerang
bambu dan rotan; dan (c) Xylothrips flavipea yang menyerang kayu laban di Australia.
Kumbang ini hanya merusak kayu gubal serta kayu-kayu yang keawetannya rendah.
Siklus hidup lyctus (mulai telur sampai imago) rata-rata memakan waktu satu tahun.
Imago betina bertelur sebanyak 60 butir dan dimasukkan ke dalam pori kayu sedalam
1/8 inci atau 3,2 mm. Telur ini akan menetas menjadi larva dan larva inilah yang
sebenarnya merusak kayu, karena membuat saluran-saluran ke segala penjuru. Kayu
yang diserang oleh lyctus tidak tampak dari luar, selain di beberapa tempat terdapat
lubang-lubang kecil tempat imago keluar. Diameter lubang ini kira-kira 1,5 cm dan
pada lubang ini terdapat eksremen-eksremen berbentuk tepung yang warnanya
tergantung warna kayu yang diserangnya.
Di antara serangga bubuk kayu yang sangat penting dari segi pengaruh dan
besarnya kerusakan adalah Lyctus brunneus. Serangga ini hanya menyerang kayu daun
lebar dengan diameter pembuluh yang sangat besar untuk menerima telurnya. Kepekaan
kayu terhadap serangan ini ditunjukkan oleh kadar patinya, karena pati adalah zat
makanan pokok bagi larva lyctus. Oleh karena itu, kerusakan terbatas pada kayu gubal
dari species-species yang peka, yang menunjukkan variasi yang besar dalam kehebatan
90

serangan, tergantung pada kecepatan pengeringan kayu dan juga bergantung pada
musim pada waktu kayu ditebang. Jika pengeringan ditangguhkan atau kayunya
direndam dalam air sesudah kayu ditebang, maka sel-sel parenkim dalam kayu gubal
meneruskan kegiatan dan pati yang dikandungnya mungkin seluruhnya diubah menjadi
zat-zat lain, sehingga kayunyu akan kebal terhadap serangan lyctus. Di lain pihak, jika
kayu dikeringkan cepat atau dikenakan suhu yang tinggi seperti dalam pengukusan,
maka sel-sel parenkim mati sebelum persediaan pati dihabiskan dan karena itu kayu
gubal peka terhadap serangan.

Lagipula, kerusakan karena lyctus biasanya hanya

berasosiasi dengan kayu yang kering angin atau dikeringkan di dalam tanur. Tetapi
penelitian pada kayu gubal oak yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa
meskipun lebih menyukai kayu kering, kumbang lyctus dapat menyerang kayu dengan
kadar air sampai 40%, telur-telur diletakkan dan larva berkembang dalam specimenspecimen dengan kadar air 10-18%. Jika kadar air turun <8%, kayu yang dipakai dalam
percobaa ini tidak diserang.
Papan, meubel, kayu banguan, kayu perkakas dan kayu bantalan kereta, tong-tong
kayu dan lain-lain produk yang dibuat dari kayu gubal dari species yang peka kerapkali
rusak berat dan kayu-kayu yang disimpan untuk waktu yang lama mungkin begitu rusak
sehingga praktis tidak dapat digunakan. Kerusakan dalam produk kayu daun lebar yang
dikeringkan mungkin besarnya 10-50% dari nilai persediaan kayu seorang pengusaha
atau penjual, sedang kerugian finansial di seluruh negara sudah pasti jutaan rupiah.
Famili Bostrychiidae
Famili ini sering juga disebut anger atau shot hole borers. Jenis ini mempunyai
bentuk dan cara hidup yang hampir mirip lyctus, sehingga banyak ahli hama yang
berpendapat bahwa lyctiidae adalah subfamili dari famili bostrichidae. Perbedaan dasar
antara keduanya disajikan pada Tabel 3.

91

Tabel 3. Perbedaan Dasar Kumbang Dewasa Lyctidae dan Bostrichidae (Hickin, 1975)
Lyctidae

Bostrichidae

Antena jarang berbentuk serrate; segmen Antena sering berbentuk serrate; segmen
2 kelompok (club)

3 kelompok

Kumbang berbentuk flat/datar

Kumbang berbentuk silidris

Kepala tidak dikerudungi prothorax

Kepala dikerudungi prothorax

Ellytra tidak berornamen

Ellytra berornamen duri

Serangannya pada kayu menyerupai serangan yang ditimbulkan oleh Lyctus pula,
tetapi ukuran saluran lebih besar, diameter rata-rata 1/101/8 inci atau 2,5 -3,2 mm.
Bentuk larvanya kecil, panjangnya -4/4 inci (6,35-19,1 mm), berwarna putih dan
berbentuk eruciform dan kepalanya berbentuk bulat.
Famili ini menyerang kayu yang mempunyai kelas awet rendah, dan memakan zat
tepung yang terdapat dalam kayu.

Jenis yang terkenal di Indonesia adalah

Heterobostrychus aequalis yang panjangnya 611 mm dan saluran larvanya berdiameter


3 mm (Kalshoven, 1951; Kusmarini, 1971). Jenis ini merusak rotan, bambu, peti-peti
timbunan tripleks, juga pada gaplek. Jenis yang terkenal lainnya adalah dinoderus yaitu
D.minutus, D.brevis, D.ocellaris yang kesemuanya merupakan hama bambu dan rotan.
Famili Cerambycidae Longhorned beetle
Famili ini sering disebut longhorned beetles atau round headed beetles, dan
merupakan famili yang sangat besar (lebih kurang 13.000 species) terutama untuk
serangga hutan (Kollman, 1968). Beberapa species ini menyerang pohon kayu yang
hidup, juga pernah ditemukan menyerang kayu-kayu bangunan. Jenis kumbang ini
dapat ditemukan di Rusia, Afrika Selatan, Australia, Amerika Serikat dan Amerika
Utara.
Larva dewasa panjangnya mencapai 35 mm. Larva ini melubangi kayu gubal dari
beberapa jenis conifer sebelum menjadi pupa. Periode hidup seekor larva tegantung
kepada kualitas dan kuantitas makanan, suhu, serta kadar air kayu yang ditempatinya.
Walaupun larva dapat menghancurkan selulosa, tetapi terbatas pada selulosa kayu gubal
saja. Albumen yang terdapat pada kayu-kayu yang sudah mati sangat dibutuhkan oleh
92

larva untuk berkembang. Jika konsentrasi albumen telah berkurang, larva ini kemudian
akan mati.
Setelah periode pupa dilewati (lebih kurang 3 minggu) serangga akan bertambah
besar dan setelah dewasa berwarna hitam. Kemudian kumbang ini akan keluar dari
lubangnya dan membuat lubang baru mengulangi silus hidupnya. Jenis yang terpenting
dari famili adalah Cholopherus anularis yang terdapat di Sumatera dan banyak
menyerang kayu-kayu kering.
B. Bubuk Kayu Basah
Kumbang ini menyerang kayu yang memiliki kadar air tinggi, sehingga dikenal
sebagai Bubuk Kayu Basah. Beberapa famili yang terpenting dalam ordo ini adalah:
Platypodidae, Scolytidae, dan Curculionidae
Famili Platypodidae dan Scolytidae Ambosia beetle
Kerusakan yang terjadi pada kayu yang baru dikuliti seringkali membingungkan
dengan yang ditimbulkan oleh beberapa serangga penggerek kayu pada kayu yang
sedang dikeringkan, yaitu jenis A. Punctatum dan Lyctus karena menghasilkan ukuran
terowongan yang mirip.

Sejumlah besar kumbang Platypodidae dan Scolytidae

(umumnya dikenal sebagai ambrosia beetles, pinhole atau shothole borers)


menyebabkan kerusakan yang berarti baik pada pohon berdiri atau log yang dikuliti, dan
menyebabkan kerusakan pada kayu gergajian yang diperuntukkan untuk mebel dan vinir.
Kumbang ini penting pada kayu daun lebar tropis, meskipun juga terdapat pada kayu
daun jarum di daerah temperate.
Kumbang dewasa bersembunyi dalam kayu tetapi tidak aktif setelah kayu
dikeringkan. Kumbang ini cenderung membuat terowongan yang tegak lurus serat
tetapi membentuk lubang pendek, buntu, lateral dan kamar-kamar yang dierami larva,
serta lubang percabangan membentuk sudut siku-siku dengan lubang utama. Ukuran
diameter kerusakan oleh pinhole borers adalah >1,5 mm, sedangkan pada shothole
borers dapat mencapai 3 mm. Pewarnaan lubang sering terlihat disebabkan oleh
jamur sapstain. Jamur sapstain merupakan sumber makanan utama bagi larva dan juga
membentuk asosiasi dengan serangga.

Bila kelembaban tidak cukup untuk


93

pertumbuhan jamur maka penyerangan akan berhenti. Umumnya untuk dapat hidup
kumbang membutuhkan kayu berkadar air 40%, sedangkan pada kadar air dibawah 25%
kumbang akan mati. Tidak ada frass terlihat seperti yang terdapat pada Anobium dan
Lyctus.
Meskipun penampakan kayu yang terserang kumbang ambrosia serupa dengan
kerusakan oleh anobium dan lyctus, serangan serangga yang terakhir tidak dicirikan
oleh terowongan yang berwarna, memiliki arah terowongan yang acak dan
menghasilkan frass. Hal ini tidak terlihat pada serangan kumbang ambrosia.
Kayu gergajian yang terserang ambrosia seringkali masih dapat digunakan karena
tidak menyebabkan masalah dalam pemakaian, terutama kekuatannya tidak banyak
terpengaruh. Namun, kerusakan pada log vinir dapat menurunkan harga vinir karena
adanya lubang-lubang yang kotor.
Famili Curculionidae Wood boring weevil
Diperkiraan sekitar 200.000 species weevil yang tersebar diseluruh dunia dan
hanya 35.00 species yang telah dideskripsikan (Hum, et.al., 1980).

Maskipun

merupakan famuli terbesar dari Coleoptera tetapi hanya sedikit yang dapat
menimbulkan kerusakan pada kayu struktural. Weevil penghuni kayu yang ditemukan
di Britania hanya menyerang kayu yang telah dilapukkan atau ditemukan pada daerah
yang terkait erat dengan kayu lapuk. Weevil berbeda dengan tipe serangga penghuni
kayu lain yang telah diuraikan sebelumnya karena serangga dewasa hidup dalam
periode yang panjang, yaitu sekitar 16 minggu seperti Pentarthrum huttoni. Serangga
dewasa aktif dapat ditemukan di- dan sekitar kayu yang terserang sepanjang tahun dan
baik serangga dewasa maupun larva dapat meyebabkan kerusakan pada kayu.
Serangga dewasa dapat dikenali dengan adanya moncong atau rostrum yang
terdapat pada bagian depan mata dan ujungnya kecil tapi bagian mulutnya kuat. Weevil
ini dapat membingungkan dengan weevil pada beras dari genus Sitophylus yang
memiliki ukuran dan warna yang mirip. Tetapi pada Sitophylus ellytra hanya sedikit
lebih panjang daripada pronotum (atas thorax), sedangkan weevil penggerek kayu
ellytranya hampir duakali lebih panjang.

94

Hum et.al. (1980) dan Hickin (1981) mendeskripsikan 3 species weevil yang
umum menggerek kayu yaitu Euophryum confine, E.rufum dan Pentarthrum huttoni.
Selain itu, ada species Caulotrupodes aeneopiceus yang tidak umum. Meskipun
serangan weevil seringkali membingung-kan dengan serangan anobium, tetapi kayu
yang terserang weevil dapat dilihat dari penampakan visual weevil, frass dan kayunya.
Frass weevil memiliki tekstur lebih halus dan kurang bulat bila dibandingkan yang
diproduksi anobium, meskipun tidak memiliki tekstur berbentuk tepung seperti frass
lyctus. Pada kayu galleri lebih kecil dan lubang keluar hanya sedikit oval, mendekati
bulat, dengan batas luar yang tidak jelas.
Baik kayu daun lebar maupun kayu daun jarum dapat diserang weevil bila kayu
gergajian telah dilapuk jamur. Karena kayu yang terserang weevil adalah kayu yang
lapuk, perawatan sumber kelembaban dan mengeluarkan kayu yang telah lapuk atau
perlakuan dengan biosida yang sesuai diperlukan untuk mengendalikan serangan weevil.
b.

Tindakan Pengendalian
Kumbang yang menyerang kayu terutama pada stadium larva, karena larva inilah

yang merusak kayu. Pencegahan serangan bubuk ini dapat dilakukan dengan berbagai
cara, antara lain:
1) Merendam kayu adalam air beberapa waktu agar zat pati (karbohidrat) yang
terdapat dalam kayu larut dalam air sehingga kumbang tidak akan bertelur di sana.
2) Pengeringan kayu terutama kayu-kayu gergajian.
3) Pengawetan kayu dengan menggunakan berbagai insektisida seperti:
a) Gas hydrocyanida yang dimasukkan ke dalam kayu
b) Larutan DDT 5% atau pentachlorofenol 5% dalam larutan minyak ringan.
c) Penggunaan garam-garam Wolman dengan metode perendaman
d) Pada kayu yang masih segar, perlu diberikan zat pengawet pada kedua ujungnya.

95

3. Hymenoptera
a.

Ruang Lingkup
Ordo hymenoptera merupakan ordo terbesar ketiga dalam kelas insekta dengan

jumlah species kira-kira 103.000. Ciri utama dari ordo ini adalah:
a. Mempunyai dua pasang sayap yang berupa selaput tipis (membran)
b. Bagian mulut berkembang menjadi tipe pengunyah dan penusuk
c. Biasanya mempunyai ovipositor yang berkembang sempurna
d. Bermetamorfosisi sempurna
Di antara 71 famili yang ada di USA, kebanyakan menguntungkan bagi manusia,
hanya 3 famili saja yang penting dalam perusakan kayu, yaitu: Formicidae (semut; tipe
kerusakan honey-combing), Xylocopodae (tawon kayu dan horntail; tipe kerusakan grub
holes), dan Siricidae (tawon kayu; tipe kerusakan grub holes). Jenis yang terpenting
dari ordo ini yaitu: Xylocopa spp., sedangkan famili siricidae merupakan hama bagi
hutan. Famili ini sering disebut horntail. Salah satu dari jenis serangga yang terkenal
adalah Sirex gigae dan Xeris spectrum (Kollman, 1968).
b.

Kondisi Serangan
Ordo hymenoptera ini adalah serangga yang termasuk jenis lebah. Binatang ini

sebenarnya tidak menggunakan kayu sebagai makanannya, tetapi hanya sebagai


sarangnya. Ordo ini disebut juga dengan lebah penggerek kayu (carpenter bees).
Lebah ini biasanya menggerek kayu-kayu yang kering dimana diameter lubang
gerek berkisar 0,51 inci (1,22,54 mm). Sedangkan dalam lubang gerek dapat
mencapai 6 inci (15 cm) (Kollman, 1968). Telurnya diletakkan di dalam lubang gerek
yang telah diisi dengan serbul-serbuk kayu bercampur dengan madu atau benang sari
bunga. Selama menjadi larva dan pupa lebah ini akan tinggal di dalam kayu, satdium
larvanya berumur 7-8 minggu dengan bentuk eruciform. Siklus hidup lebah penggerek
ini memerlukan waktu satu tahun.

96

c.

Tindakan Pencegahan
Pencegahan serangan lebah penggerek dapat dilakukan dengan cara:

1) Pengecatan kayu
2) Penggunaan insektisida melalui:
a) fumigasi insektisida dimasukkan ke dalam penggerek
b) penyemprotan langsung dengan DDT.
D. BINATANG LAUT (MARINE BORERS)
Jenis-jenis binatang yang biasa menyebabkan kerusakan pada kayu di dalam
lingkungan air laut pada umumnya disebut marine borers atau binatang laut.
Binatang ini hidup tersebar hampir di seluruh bagian dunia, tetapi kerusakan yang besar
terutama terjadi di daerah-daerah berair hangat.
Walaupun sejarah kerusakan kayu oleh jasad hidup ini telah dicatat lebih dari 2.000
tahun yang lalu, namun sampai saat ini pengetahuan tentang cara pengendaliannya
masih sangat terbatas (Hochman, 1973). Kerugian akibat serangannya cukup besar.
Sebagai contoh, di daerah perairan pantai Amerika setiap tahunnya menderita kerugian
kira-kira US$ 500 juta akibat serangan jasad hidup ini terhadap konstruksi kayu di
pantai.

Di lain pihak, khususnya di daerah perairan pantai tropis terdapat banyak

species binatang dengan kerugian yang belum dapat diantisipasi secara pasti besarnya.
Kayu memiliki sifat-sifat dan kerugian tertentu sebagai bahan konstruksi di pinggir
laut, akan tetapi juga memiliki kelemahan karena terserang oleh marine borer. Kondisi
ini menjadi suatu tantangan bagi ahli di bidang teknologi kayu, bagaimana cara
pengawetan yang tepat yang harus dilakukan sehingga umur pakai kayu dapat
diperpanjang.
Keberhasilan riset terhadap biologi marine borer merupakan kunci penentu di
dalam upaya mencegah kerusakan yang ditimbulkannya. Marine borer menggerek kayu
dengan dua aslasan yaitu sebagai bahan makanan dan tempat berlindung. Akan tetapi
bukan berarti bahwa semua marine borer menggerek kayu demi kedua alasan tersebut.
Ada beberapa jenis yang mampu memproduksi enzim selulase. Enzim ini dipergunakan
untuk melunakkan kayu dan selanjutnya digunakan sebagai bahan makanan.
97

a.

Ruang Lingkup dan Kondisi Serangan Binatang Laut


Marine borer yang tergolong ke dalam famili Terenidae (teredo, bankia, dan

nausitora) dan Ordo Isopoda (Limnoria) menggerek kayu bukan untuk dimakan.
Kebutuhan unsur nitrogen bagi beberapa jenis marine bore diperoleh dari plankton, dan
diduga bahawa beberapa jenis jamur berperan dalam kehidupan marine borer (Becker,
1958).
Spesies marine borer yang menimbulkan kerusakan terhadap kayu struktural di
perairan pantai, dapat dibedakan atas dua kategori yaitu: Mollusca dan Crustaceae.
Famili terenidae memiliki 3 genera, sedangakan famili pholadidae ada 1 genera yang
mempunyai arti penting dari segi ekonomi kerusakan kayu. Selanjutnya 2 kategori
crustaceae masuk dalam ordo isopoda dan selebihnya merupakan anggota ordo
Amphiphoda.
D.1. Mollusca
Ada dua kelompok mollusca bivalve (dua katup) penggerek kayu: terenid (fam.
terenidae) atau cacing laut (Shipworm) dan pholad (fam. pholadidae) atau piddock.
Terenidae merupakan kelompok yang besar dengan anggota yang tersebar luas di
seluruh dunia pada berbagai kisaran iklim. Pholadidae lebih terbatas penyebarannya
dan terutama ditemukan pada daerah temperate yang hangat dan daerah tropis,
meskipun species Xylophaginae terdapat di air dingin yang dalam atau dekat permukaan
pada daerah lintang tinggi. Beberapa pholad cukup toleran terhadap air payau dan
terdapat di estuarina maupun air laut. Mollusca penggerek kayu yang umum disajikan
padaTabel 4.
Tabel 4. Beberapa mollusca penggerek kayu di laut (Eaton, 1986)
Terenid (shipworm)
Bactronophorus
Bankia
Dicyanthifer
Lyrodus
Nausitora
Neoteredo
Nototeredo

Pholad (piddock)
Psiloteredo
Teredo
Teredora
Teredothyra
Spathoteredo
Uperotus

Lignopholas
Martesia
Xylophaga

98

a) Famili Terenidae
Terenid memiliki badan seperti cacing yang lunak dengan 2 kerang atau katup
pada bagian ujung depan (anterior) yang mampu menggerek kedalam kayu untuk
membuat terowongan (tunnel). Binatang ini tinggal dalam tunnel yang sama sepanjang
hidupnya dan biasanya endapan berkapur diletakkan sepanjang tunnel. Tunnel setiap
swipworm berbeda dan biasanya menghindari memasuki tunnel tetangganya selama
bertumbuh dan menyerang kayu. Pada air hangat species ini dapat bertumbuh dengan
panjang 1-2 meter. Di dalam kayu bervolume tertentu binatang ini tidak muncul lagi
dari dalam kayu tetapi melanjutkan menggerek sepanjang kayu lain sampai kayu rusak
dan mulai menjadi fragmen.

Bagian belakang (posterior) menjaga kontak dengan

lingkungan luar air laut melalui lubang yang halus (diameter 1-2 mm) pada permukaan
kayu pada bagian ujung tunnel. Melalui lubang ini 2 siphon dapat ditonjolkan keluar ke
air laut; siphon masuk (inccurent siphon) masuk kedalam air yang memungkinkan
cacing laut melakukan respirasi dan memakan mikroorganisme air; siphon keluar
(excurrent siphon) melepaskan bahan sisa dan unit reproduksi baik gamet atau larva.
Kadang-kadang siphon ditarik dan jalan masuk ke dalam saluran ditutup rapat dengan
sepasang lembaran kulit kerang (pallet), seperti disajikan pada Gambar 11, sehingga
binatang terlindung terhadap serangan musuh atau terhadap masuknya air yang tidak
baik kadar garamnya.

Gambar 11.

Pallet dari (a) Teredo navalis, (b) Nausitora hedleyi, (c) Bankia fimbriatula, (d)
Bankia gouldi, (e) Nototeredo norvagica, (f) Lyrodus pedicellatus, (g) diagram
shipworm kayu (Turner, 1971)

99

Kecepatan dan besarnya kerusakan binatang ini sangat tergantung jumlah dan
species penggerek, intensitas penggerekan, banyaknya bahan makanan yang tersedia,
kondisi suhu, kadar air garam dan faktor-faktor lain yang mendukung. Apabila cacingcacing penyerang berjumlah banyak, maka kayu terserang akan penuh dengan serangan
sehingga pertumbuhan binatang menjadi terhambat dan panjang badan tidak lebih dari
beberapa cm dengan diameter hanya beberapa mm. Cacing penggerek biasanya masuk
dalam kayu dengan arah tegak lurus arah serat, kemudian membentuk saluran dalam
arah longitudinal, selanjutnya dengan arah yang tidak teratur. Jika serangan sangat
hebat, beberapa saluran terpaksa masuk agak dalam ke arah pusat kayu sebelum
mengikuti arah serat. Akibat pelubangan kayu beberapa sarang lebih maka kekuatan
kayu menjadi sangat berkurang. Pola serangan dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Pola serangan cacing laut pada kayu

b) Famili Pholadidae
Penggerek mollusca dari genus Martesia panjang badannya hanya 3-4 cm saja.
Seluruh tubuh ditutupi dengan zat kapur (kulit kerang) seperti Gambar 13. Genus
martesia mirip kerang kecil, tetapi aktivitas serangannya terhadap kayu miri cacing
kapal. Lubang gereknya umum terdapat hanya pada permukaan, dimana ukuran lubang
gerek kurang lebih 1/8 inci. Ukuran binatang-bintang ini pada keadaan dewasa adalah;
panjang 2,5 inci dan diameter 1 inci. Binatang ini sekali berada dalam kayu akan
melanjutkan aktifitas pengeboran terhadap kayu, guna mendapatkan ruang tumbuh bagi
tubunya yang terkunkung.

100

Gambar 13. Penampakan (a) lateral dan (b) dorsal Martesia striata dewasa;
penampakan (a) lateral dan (b) dorsal Martesia striata muda
2. Crustaceae
Kebanyakan kelompok udang-udangan (crustaceae) penggerek kayu dan penghuni
kayu adalah anggota dari Isopoda. Kelompok ini berbeda dengan mollusca penggerek
kayu dalam penampakan, mobilitas/pergerakan, dan bentuk liang gereknya. Organisme
dewasa memiliki badan bersegmen dan kaki serta dapat merangkap pada permukaan
kayu yang bergerak di antara lubang gerek. Sebaliknya kondisi statis ditemukan pada
moluska yang hanya berkembang dalam kayu dengan memperbesar liang atau
terowongan sampai mereka dewasa. Kelompok crustaceae dapat berpindah ke kayu
basah, sedangkan mollusca tinggal dalam liang untuk hidup.
a) Genus Limnoria
Genus limnoria termasuk kepiting penggerek, banyak ditemukan sepanjang
perairan Teluk Atlantik dan pantai Pasifik Amerika Serikat.
Menurut Menzies (1959) lebih 20 species anggota Limnoria tersebar di seluruh
perairan dunia. Binatang ini dapat dengan mudah dikenal dari ciri-cirinya sebagai
berikut : (a) tubuh beruas, (b) memiliki tujuh pasang kaki dengan kuku-kuku runcing
dan berkait yang memungkinkan pergerakannya bebas dan melekat pada kayu, (c)
memiliki insang yang bentuknya pipih berguna untuk pernafasan dan (d) rahang bawah
sangat kuat dilengkapi dengan gigi untuk mengunyah kayu, (e) tubuhnya berakhir
dengan lempeng ekor yang lebar, digunakan untuk menutup saluran terhadap gangguan.
101

Panjang binatang Limnoria jika dewasa kira-kira 1/8-1/4 inci, sehingga bentuk
serangannya pada kayu berupa saluran berukuran 1 inci. Penampakan limnoria
dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14.

Limnoria (a) penampakan lateral, (b) pleomer dan pleotelson kelima dari L.
Lignorum, (c) L. Cristata dalam kayu

b) Genus Sphaeroma
Genus ini lebih destruktif dibanding dengan Limnoria, umumnya erdapat di
perairan tropik dan sub-tropik. Struktur badannya hampir sama dengan Limnoria, akan
tetapi ukurannya jauh lebih besar. Saluran serangan pada kayu lebih besar dan dapat
mencapai kedalaman 3-4 inci.
Permukaan kayu yang telah terserang oleh Teredo kadang-kadang diserang pula
secara sekunder oleh Sphaeroma. Kepiting ini diduga menggerek kayu untuk makanan
dan tempat tinggal. Menzies dan Turner (1959) menyebutkan pada satu tumpukan kayu
berukuran sedang didalam air bisa dijumpai sejumlah 200.000 ekor kepiting dewasa,
setiap ekor mampu memakan kayu yang tidak diawetkan seberat 0,54 gram.
c) Genus Chelura
Genus chelura terutama aktif di perairan yang suhunya tidak begitu panas sampai
sedang. Binatang ini dari hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan diketahui banyak
menyerang bangunan di piggir pantai perairan Eropa Utara dan Amerika Utara. Ada

102

kalanya binatang ini hidup bekerjasama dengan Limnoria atau hidup bersama pada
bangunan-bangunan di perairan laut.

Gambar 15. Chelura : (a) penampakan lateral C. insulae, (b) Chelura sp di dalam kayu

b.

Tindakan Pengendalian

Untuk mencegah serangan marine borer terhadap sistem konstruksi kayu di perairan
asin, banyak cara yang dapat diterapkan, antara lain:
(1) Penggunaan Kayu dengan kelas awet alami yang tinggi
Kayu dengan kelas awet alami yang tinggi biasanya mengandung sejumlah zat
ekstraktif yang berfungsi sebagai racun terhadap marine borer. Kayu seperti ini
tidak

mudah diserang oleh cacing dan kerang laut.

Akan tetapi di dalam

pemakaian lambat laun kayu mengalami proses pelapukan, maka akan dengan
mudah diserang oleh marine borer.
(2) Mengawetkan kayu sebelum digunakan
Metode pengawetan yang memberi hasil memuaskan adalah dengan vakum dan
tekan. Bahan pengawet yang digunakan terdiri dari campuran kreosot-ter batubara
atau kreosot dengan larutan aspal. Proporsi ter batu bara di dalam campuran bahan
pengawet berkisar 20-40%. Retensi bahan pengawet dianjurkan sebesar 225-320
kg/m3 (Hunt and Garrat, 1967).

Pengawetan kayu dengan spesifikasi seperti

dikemukakan diatas, akan memperpanjang umur pakai kayu 20-30 tahun lebih lama
dibandingkan umur pakai kayu yang tidak menadapat perlakuan.

103

(3) Mengunakan berbagai jenis pelapis luar


Pelapis luar diharapkan berfungsi sebagai perintang masuknya cacing/kerang laut
ke dalam kayu. Penggunaan pelapis luar dapat dibedakan atas beberapa cara yaitu:
Membiarkan kulit batang tetap melekat pada kayu
Cara ini merupakan salah satu cara kuno, dimana kayu yang digunakan pada
sistem konstruksi di dalam air asin, kulitnya tidak dilepas.

Metode ini

dianggap kurang efektif mencegah cacing laut atas dasar pengalaman berikut :
a. Kulit kayu tidak selalu menutup batang dengan sempurna. Adakalanya
bagian tertentu batang terbuka, misalnya karena bekas potongan cabang
atau luka. Bagian yang terbuka ini merupakan tempat masuknya cacing
laut ke dalam kayu.
b. Kulit kayu tidak selalu utuh melekat pada batang karena pengaruh
hempasan ombak, sehingga kulit terkelupas dan bagian batang menjadi
terbuka.
Bagian-bagian tertentu diberi paku
Bagian tertentu batang khususnya yang mudah diserang oleh cacing atau
kerang laut dipsang paku-paku berkepala gepeng. Metode ini juga dianggap
tidak efektif dan efisien karena :
a. Larva-larva cacing kapal ukurannya sangat kecil, sehingga bisa saja masuk
ke dalam kayu melalui celah antar kepala paku.
b. Biaya pemasangan paku pada batang menyebabkan naiknya harga tiang
kayu.
c. Pembusukan pada tiang tidak dapat dihambat dengan pemasangan paku.
Bagian luar batang dilapis dengan lembaran logam
Lapisan logam yang digunakan terbuat dari tembaga atau campuran tembaga
dengan seng (logam kuning atau logam Muntz). Agar lapisan logam dapat
memberi fungsi lindung yang baik, maka kayu-kayu perlu dipersiapkan lebih
dahulu, misalnya permukaannya dibuat serata mungkin, kemudian diberi
lapisan goni jenuh dengan aspal. Selajutnya lembaran logam dipaku pada
seluruh permukaan kayu. Kelemahan metode ini karena :
104

a. Lapisan logam dapat rusak oleh angin atau ombak besar, akibatnya ikatan
logam terhadap kayu menjadi lepas dan kayunya hanyut, sehingga cacing
laut menyerangkayu dan merusaknya.
b. Ada kalanya lembaran logam pelapis dicuri oleh orang-orang tertentu di
pelabuhan.
Sebagian batang dimasukkan ke dalam pipa besi tuang
Pipa besi ditancapkan jauh kedalam lumpur. Ruang antar kayu dengan logam
diisi pasir atau campuran semen pasir. Tiang kayu sebelum ditancapkan ke
dalam pipa besi tuang terlebih dahulu dilapis dengan kreosot. Kelemahan
sistem ini adalah :
a. Biaya menjadi mahal
b. Bagian atas pancang tidak dapat terhindar dari proses pembusukan
c. Penggunaan hanya dibenarkan untuk bangunan-bangunan yang sangat
penting dimana usaha perbaikan konstruksi sangat jarang frekuensinya.
Bagian panjang diselubungi tanah liat yang diperkeras
Metodanya hampir sama dengan cara selubung besi tuang, tetapi kurang
berhasil karena mudahnya pecah oleh pengaruh hempasan ombak dan angin.
Tiang kayu diberi selubung beton
Dalam hal ini sekeliling tiang kayu diberi penguat yang terbuat dari kawat
kasa berlubang 5 cm. Tiang kayu diletakkan berdiri sedemikian rupa sehingga
berjarak kurang lebih inci terhadap masing-masing sisa kasa penguat.
Ruang antar tiang dengan sisi-sisi kasa penguat diberi lapisan campuran pasir
semen.
Tiang kayu diberi lapisan cat
Dengan perlakuan ini biasanya umur pakai tiang dalam air laut tidak terlalu
lama, antara 6 bulan 2 tahun. Cat yang biasa digunakan berupa aspal atau
bahan-bahan yang mengandung bitumin.

Adakalanya tiang kayu diberi

lapisan cat, kemudian dilapis lagi dengan goni yang diiisi atau jenuh dengan
aspal danselanjutnya dilapis lagi dengan cat tebal. Lalu tiang kayu diberi

105

lapisan kayu berbentuk persegi setebal inci. Pada akhirnya lapisan luar
kayu ini deiberi lapisan cat tebal.
E. Bahan Diskusi
Mahasiswa diharapkan menyiapkan makalah (10-15 halaman) untuk setiap jenis
organisme perusak kayu, yang mencakup deskripsi organisme, kondisi serangan dan
teknik pengendaliannya. Makalah diharapkan mengacu pada bahan bacaan pengayaan
dan penelusuran dari internet dan jurnal.

Kebaharuan pustaka menjadi salah satu

penilaian utama.
F. Bahan Bacaan Pengayaan
Untuk pengayaan materi yang telah diuraikan di atas, mahasiswa dapat
mempelajari secara mandiri bahan bacaan berikut:
(1)

Archer, K. and S. Lebow. 2006.

Wood Preservation. In: Primary Wood

Processing: Principles and Practice. Walker, J.C.F. (Eds.). Springer. Netherland.


P: 297-338.
(2)

Alexopoulos, C.J. 1961. Introductory Mycology. John Wiley & Sons, Inc. New
York.

(3)

Hunt, G.M. and G.A. Garratt.

1986.

Pengawetan Kayu.

Alih Bahasa:

Mohammad Jusuf. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta.


(4)

Borror, D.J., C.A. Triplehorn, and N.F. Johnson. 2007. Pengenalan Pelajaran
Serangga. Edisi Keenam. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

(5)

Zabel, R.A. and J.J. Morrell.

1992.

Wood Microbiology: Decay and its

Prevention. Edisi Pertama. Academic Press, Inc. San Diego. California.


(6)

Eaton, R.A. and M.D.C. Hale. 1993. Wood: Decay, Pests and Protection. Edisi
Pertama. Chapman & Hall. London.

(7)

Kirk, T.K. and E.B. Cowling. 1984. Biological Decomposition of Solid Wood.
In: The Chemistry of Solid Wood. R.Rowell (Eds.). Advances in Chemistry
Series 207. American Chemical Society. Washington. p:455-488.
106

G. Latihan/ Soal-Soal
Agar kompetensi yang diharapkan dapat dicapai diakhir masa pembelajaran,
mahasiswa diharapkan mengerjakan latihan/soal-soal yang tercantum dalam bahan ajar
ini, sebagai berikut:
(1)

Mengapa perubahan volume kayu akibat serangan white rot relatif lebih kecil
dibandingkan oleh serangan brown rot?

(2)

Uraikan secara ringkas organisme yang dapat merusak kayu dan teknik
pengendaliannya.

(3)

Kemukakan pendapat anda, jenis organisme mana yang paling berpotensi merusak
jika ditinjau dari dampak kerusakan yang ditimbulkannya terhadap kayu.

107

BAB IV
MENDETEKSI DETERIORASI KAYU

Tujuan Umum : Bab ini secara umum bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada
mahasiswa tentang teknik-teknik mendeteksi deteriorasi kayu.
Tujuan Khusus : Bab ini secara khusus memberikan kemampuan kepada mahasiswa
untuk dapat menerapkan teknik mendeteksi deteriorasi kayu dengan memperhatikan
kondisi penggunaannya.

Pada prinsipnya, deteriorasi kayu dapat dilihat sebagai salah satu bentuk
mekanisme penurunan sifat yang berhubungan dengan penurunan ketahanan kayu.
Deteriorasi ini secara signifikan banyak dijumpai pada struktur atau bangunan yang
memanfaatkan kayu. Hal ini dapat terjadi dengan atau tanpa dapat dilihat secara langsung
pada permukaan kayu hingga pada suatu kondisi dimana struktur kayu tersebut betulbetul mengalami kerusakan yang sangat parah.
Pengamatan terhadap bangunan-bangunan dari kayu yang mengalami kerusakan
dapat memperjelas bahwa kerusakan atau penurunan ketahanan kayu dalam struktur
bangunan dapat disebabkan oleh organisme perusak. Organisme perusak umumnya
menjadikan kayu sebagai sumber makanan atau tempat perlindungan. Sebagai contoh
dapat dilihat pada kayu yang diserang oleh jamur. Serangan tersebut diawali oleh hifa
dari jamur yang mensekresi enzim. Enzim yang dikeluarkan mampu menguraikan
(depolimerisasi) komponen-komponen kimia penyusun kayu sehingga dapat menurunkan
kerapatan, kekuatan, dan kekerasan kayu bangunan. Kondisi ini tentu secara nyata akan
menurunkan daya tahan kayu dalam menerima beban dan akhirnya dapat roboh. Olehnya
itu, mendeteksi deteriorasi kayu secara akurat dan lebih dini sangat diperlukan untuk
memperpanjang umur pakai kayu dan menjamin keselamatan umum yang berhubungan
dengan struktur bangunan kayu bersangkutan. Saat ini, ada beberapa manual untuk
mengakses kondisi bangunan yang terbuat dari kayu. Pada bagian berikut ini
dikemukakan metode-metode umum yang dapat dilakukan untuk mendeteksi deteriorasi
pada kayu.

108

A. Metode Konvensional
Metode konvensional untuk mendeteksi deteriorasi kayu dapat dilakukan terhadap
kerusakan permukaan maupun kerusakan bagian dalam kayu. Dalam hal ini, cara-cara
atau alat-alat khusus biasanya diperlukan untuk tipe kerusakan tertentu dengan tetap
mempertimbangkan struktur bangunan. Meskipun berbagai cara dapat dilakukan untuk
mendeteksi kerusakan pada kayu, pada prakteknya seorang dapat melakukan inspeksi
tanpa harus menggunakan berbagai macam alat. Metode atau alat yang digunakan
tergantung pada ketersediaan dana, pengalaman sebelumnya, atau masalah yang harus
ditangani.
A.1 Metode Mendeteksi Deteriorasi Bagian Luar Kayu
Deteriorasi bagian luar kayu (eksterior) dapat dengan mudah dideteksi karena
kerusakan yang terjadi dapat kita akses langsung. Tingkat kemudahannya tergantung
pada besar kecilnya kerusakan dan metode inspeksi yang dilakukan. Metode yang umum
dilakukan dalam hal ini adalah visual inspection dan probing. Teknik ini tentu saja masih
memerlukan inspeksi lanjutan dengan metode lain untuk mengetahui tingkat kerusakan
yang sebenarnya terjadi.
Visual inspection (Inspeksi secara kasat mata)
Visual inspection adalah metode paling sederhana untuk mengetahui lokasi
terjadinya kerusakan pada struktur bangunan kayu. Dalam metoda ini, inspeksi dilakukan
terhadap struktur bangunan untuk mengetahui dan memetakan tempat-tempat yang secara
nyata atau pun potensial dapat mengalami kerusakan. Pada saat melakukan inspeksi,
seseorang memerlukan keadaan ruangan inspeksi yang terang untuk mampu mendeteksi
kerusakan-kerusakan permukaan kayu akibat organisme perusak, penumpukan air, dan
kekuatan mekanis. Visual inspection tidak dapat mendeteksi kerusakan yang baru terjadi
pada tahap awal. Selama Visual inspection, beberapa hal perlu diketahui untuk digunakan
sebagai tanda terjadinya deteriorasi seperti:

109

a. Badan buah (fruiting bodies) sebagai indikasi positif adanya serangan jamur,
meskipun tanda tersebut belum dapat menjadi indikasi besar dan tingkat
kerusakan. Beberapa jenis jamur membentuk badan buah segera setelah terjadi
sedikit kerusakan, sedangkan jenis lainnya hanya membentuk badan buah setelah
terjadi kerusakan yang menyebar luas.
b. Permukaan kayu yang berkerut (sunken faces) atau mengalami depresiasi dapat
menjadi tanda terjadinya kerusakan di bawah permukaan. Pada struktur bangunan,
sambungan-sambungan kayu tidak dapat dihindari. Pada bagian inilah biasanya
terdapat bagian permukaan kayu yang tertekan. Perubahan warna pada bagian
struktur ini dapat menjadi tanda bahwa bagian tersebut berpotensi untuk menjadi
perangkap bagi air yang mengenainya dan sangat cocok untuk pertumbuhan jamur.
Perubahan warna seperti karatan pada kayu akibat sambungan atau hubungan
dengan besi juga dapat menjadi indikasi terjadinya pembasahan (wetting) pada
bagian tersebut.
c. Adanya aktivitas serangan serangga dapat ditandai oleh lubang-lubang gerek,
saluran kembara rayap, butiran-butiran kayu (frass), bubuk kayu, dan sejenisnya.
Adanya serangan serangga juga menjadi indikasi adanya masalah kelembaban
yang berpotensi terjadinya serangan jamur.

Probing (Penyelidikan)
Probing dilakukan dengan menggunakan alat-alat seperti jarum tusuk atau pisau
untuk mendeteksi kerusakan di bawah permukaan kayu. Kerusakan yang terjadi dapat
ditandai dengan kurangnya ketahanan kayu terhadap tusukan sebagai akibat adanya
pelunakan kayu. Meskipun metode ini cukup sederhana, dalam prakteknya sangat
memerlukan pengalaman untuk dapat menginterpretasi hasil dengan baik. Dalam hal ini,
perlu kehati-hatian untuk dapat membedakan kayu yang rusak karena jamur dengan kayu
yang lunak karena air yang biasanya masih kuat dan tidak mengalami kerusakan
meskipun lebih lunak dari kayu kering. Kesulitan interpretasi juga dapat terjadi pada saat

110

kayu yang menjadi obyek inspeksi adalah kayu yang secara alami memang memiliki
struktur yang lunak.

A.2 Metode Mendeteksi Deteriorasi Bagian Dalam (Interior) Kayu

Berbeda dengan deteriorasi bagian luar kayu, deteriorasi bagian dalam kayu
(interior) sulit untuk dideteksi karena tanda-tandanya dapat saja tidak tampak secara
visual. Sejumlah metode dan alat telah dikembangkan mulai dari yang sederhana seperti
palu hingga yang kompleks dan canggih seperti sinar-X dan radiografik. Alat-alat lain
seperti pengukur kadar air (moisture meters) juga biasa digunakan sebagai alat bantu
dalam

mengidentifikasi

bagian-bagian

kayu

yang

kondisinya

potensil

bagi

berkembangnya kerusakan internal.

Sounding (Membunyikan)

Membunyikan kayu dengan mengetuknya menggunakan palu atau alat lain adalah satu
cara yang paling umum digunakan untuk mendeteksi deteriorasi yang terjadi di bagian
interior kayu. Seorang pendeteksi yang berpengalaman dapat menginterpretasi suara yang
timbul saat kayu diketuk, apakah masih utuh (sound) atau ada suara kosong yang dapat
mengindikasikan terjadinya kerusakan atau deteriorasi parah. Meskipun sounding ini
sudah digunakan secara luas, cara tersebut sering mengalami kesulitan interpretasi karena
adanya faktor-faktor lain yang turut menentukan variasi kualitas suara yang timbul.
Selain itu, sounding hanya memberikan gambaran parsial dari adanya kerusakan yang
meluas yang tidak dapat mendeteksi kerusakan kayu yang masih dalam tahap awal
hingga serangan sedang. Meskipun demikian, sounding masih tetap memiliki ruang
tersendiri untuk keperluan inspeksi atau identifikasi kerusakan berat kayu bangunan
secara cepat. Penemuan adanya gejala kerusakan dengan cara ini memerlukan verifikasi
dengan menggunakan metode lain seperti pengoboran (drilling) dan penerasan (coring).

111

Drilling dan coring (Pengoboran dan Penerasan)


Drilling dan coring adalah metode paling umum untuk mendeteksi deteriorasi internal,
khususnya pada bangunan seperti jembatan. Kedua metode tersebut digunakan untuk
mendeteksi rongga yang terjadi akibat deteriorasi dan menentukan ketebalan kayu yang
masih utuh. Drilling dan coring memiliki kemiripan dalam respon sehingga dapat
dibahas secara bersama-sama.
Drilling biasa dilakukan dengan bor elektrik maupun manual dengan mata bor
3

berukuran diameter 10-19 mm (3/8 to /4 inch). Drilling menggunakan tenaga elektrik


akan lebih cepat, tetapi dengan menggunakan tenaga manual seorang dapat merasakan
perubahan keadaan kayu sehingga dapat mendeteksi deteriorasi kayu dengan lebih baik.
Secara umum, teknik ini dilakukan dengan mengebor struktur kayu, mencermati keadaan
dimana pengeboran terasa lebih mudah, dan mengamati kayu-kayu hasil pengeboran
untuk melihat terjadinya kerusakan pada bagian kayu bersangkutan. Adanya kerusakan
kayu secara alami seperti mata kayu, saluran resin, dan serat-serat abnormal harus
diantisipasi untuk tidak membuat kesalahan interpretasi. Jika ditemukan deteriorasi kayu,
lobang-lobang pengeboran dapat digunakan untuk melakukan perlakuan-perlakuan
perbaikan terhadap struktur kayu tersebut. Sedangkan Coring dilakukan dengan
menggunakan alat yang dapat mengeluarkan kayu yang dibor secara utuh (core) sehingga
dapat mengamati keadaan kerusakan kayu lebih seksama.
Drilling dan coring umumnya digunakan untuk mengkonfirmasi adanya bagianbagian kayu yang diduga sebagai tempat berkembangnya jamur perusak setelah
melakukan inspeksi dengan menggunakan moisture meters atau metode lainnya. Pada
saat kerusakan kayu terdeteksi, drilling dan coring juga dapat digunakan untuk
menentukan luas dan batas-batas daerah serangan/kerusakan. Dalam inspeksi kerusakan,
drilling sangat cocok untuk tahap awal inspeksi hingga ditemukannya tanda-tanda adanya
kerusakan. Apabila kerusakan sudah dapat dideteksi, coring dapat dilakukan untuk
mengetahui batas-batas infeksi atau untuk digunakan sebagai contoh uji untuk
pengamatan dan analisis lanjutan. Dalam melakukan metode ini sangat diperlukan
penggunaan alat yang tajam, baik untuk drilling maupun untuk coring. Penggunaan alat
112

yang tumpul dapat merusak serat-serat kayu dan menyebabkan salah interpretasi dengan
bentuk kerusakan kayu.
B. Metode Alternatif
Shigometer
Shigometer adalah suatu alat yang menggunakan getaran-getaran gelombang untuk
mengukur perubahan dalam konduktivitas elektrik kayu akibat adanya kerusakan. Untuk
tujuan tersebut, suatu lubang kecil dibuat dengan bor ke dalam kayu kemudian kawat
pendeteksi yang dihubungkan dengan pengukur getaran dimasukkan ke dalam lubang
tersebut. Apabila kawat detektor menemukan bagian kayu yang mengalami deteriorasi,
maka alat pengukur akan menunjukkan penurunan getaran. Bagian yang menunjukkan
adanya penurunan getaran yang besar (50-75%) dapat kemudian dilakukan drilling atau
coring untuk menentukan deteriorasi yang sesungguhnya. Shigometer telah terbukti
mampu mendeteksi kerusakan kayu pada pohon hidup dan penggunaannya untuk kayu
bangunan atau bahan konstruksi lainnya masih dibatasi oleh rendahnya kadar air kayu.
Meskipun demikian, beberapa studi menunjukkan bahwa Shigometer cukup baik untuk
mendeteksi kerusakan apabila digunakan pada kondisi yang tepat dan oleh orang yang
berpengalaman dalam mengoperasikannya dan menginterpretasi hasilnya.
X-rays and tomography scanners
Sinar-X (X-rays) pernah digunakan secara umum untuk mendeteksi adanya ronggarongga pada bagian dalam (internal) kayu. Pada saat Sinar-X digunakan ke seluruh
bagian kayu, adanya mata kayu atau kerusakan lainnya akan merubah kerapatan
gelombang radiograph yang direkam. Metode penggunaan sinar-X ini untuk mendeteksi
kerusakan pada kayu saat ini sudah sangat terbatas karena memiliki beberapa masalah
seperti biaya yang mahal, faktor keselamatan akibat radiasi, dan memerlukan tenaga ahli
untuk menginterpretasi hasilnya. Meskipun dibatasi oleh adanya masalah-masalah
tersebut, sinar-X secara khusus sangat bermanfaat untuk mendeteksi serangan-serangan
organisme perusak seperti rayap dan penggerek laut.

113

Metoda perambatan gelombang tekanan (Stress wave propagation method)


Metoda lain yang sukses digunakan untuk mendeteksi kerusakan internal kayu adalah
mengalirkan suatu gelombang tekanan ke dalam struktur kayu dan mengukur penurunan
gelombang tekanan dan waktu yang diperlukan bagi gelombang tekanan tersebut untuk
menembus struktur kayu bersangkutan. Apabila terjadi kerusakan dalam struktur kayu
tersebut, maka penurunan dan waktu yang diperlukan untuk melewati struktur kayu
tersebut akan bertambah. Waktu perambatan pada kayu yang mengalami kerusakan dapat
beberapa kali waktu perambatannya pada kayu utuh tanpa kerusakan.
C. Bahan Tugas
Pada bagian ini, mahasiswa secara sendiri-sendiri diminta untuk melakukan inspeksi
kerusakan kayu pada lingkungan tempat tinggal masing-masing dan mempresentasikan
teknik yang dilakukan dan bagaimana hasilnya. Dalam hal ini, diskusi dalam kelas
dilaksanakan dengan mekanisme sebagai berikut:
1. Peserta mata kuliah dibagi atas tiga kelompok
2. Setiap kelompok mengidentifikasi teknik-teknik yang dilakukan setiap anggota dan
mendiskusikan kelebihan dan kekurangan masing-masing teknik inspeksi yang
dilakukan.
3. Ketua kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas untuk
ditanggapi oleh kelompok lainnya.

D. Bahan Bacaan Pengayaan

E. Latihan/ Soal-Soal

1. Jelaskan kapan waktu yang cocok untuk melakukan inspeksi kerusakan pada
bangunan dan bagaimana teknik melakukannya !
2. Jelaskan hubungan antara kegiatan inspeksi dengan umur pakai kayu pada bangunan !

114

BAB V
TUJUAN DAN MANFAAT PERBAIKAN SIFAT KAYU

Tujuan Umum : Bab ini secara umum bertujuan untuk menjelaskan peranan perbaikan
sifat kayu serta tujuan dan manfaatnya.
Tujuan Khusus : Bab ini secara khusus memberikan kemampuan kepada mahasiswa
dalam menjelaskan nilai ekonomis dan ekologis dari usaha-usaha perbaikan sifat kayu.

Perbaikan sifat kayu yang meliputi kekuatan dan keawetannya pada dasarnya
ditujukan untuk memperpanjang umur pakai kayu, baik sebagai bahan bangunan maupun
sebagai produk industri kayu lanjutan. Hal ini tentu saja bermanfaat untuk efisiensi
pemanfaatan sumberdaya hutan serta memberikan nilai ekonomis dan ekologis. Dengan
demikian, berbagai cara dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Cara-cara yang
dimaksud tentu saja dapat berupa perbaikan sifat kekuatan dan perbaikan sifat keawetan
kayu. Cara-cara tersebut akan dijelaskan dalam bab-bab berikut. Pada bagian ini
dikemukakan bagaimana suatu usaha perbaikan sifat dapat meningkatkan efisiensi
pemanfaatan sumberdaya hutan, meningkatkan nilai ekonomis, dan bermanfaat secara
ekologi.

Efisiensi Pemanfaatan Sumberdaya Hutan

Efisiensi pemanfaatan sumberdaya hutan dapat diartikan sebagai pemanfaatan hasil hutan
yang berhasil guna, tidak boros, dan memenuhi keperluannya. Dari aspek efisiensi
pemanfaatan sumberdaya hutan ini, manfaat perbaikan sifat kayu dapat dianalisis
berdasarkan perbandingan kebutuhan kayu dan produktivitas lahan. Sebagai contoh
sederhana dapat kita lihat dari kebutuhan kayu untuk perumahan. Meskipun sampai saat
ini besarnya permintaan potensial akan kayu bangunan di Indonesia belum pernah
dilaporkan, data Biro Pusat Statistik tahun 2000 menunjukkan pembangunan perumahan
yang terus meningkat, yaitu sebanyak 1.709.831 unit pada tahun 1989, 2.215.956 unit
pada tahun 1992, dan 2.544.196 unit pada tahun 1994. Keadaan tersebut menunjukkan

119

bahwa dengan kebutuhan kayu rata-rata lebih dari 3 m3 untuk setiap unit, jumlah kayu
gergajian untuk perumahan diperkirakan saat ini dapat mencapai 9 juta m3/tahun. Apabila
sebanyak 85% dari kebutuhan kayu gergajian tersebut merupakan kayu yang memiliki
keawetan alami rendah dan hanya dapat bertahan selama 5 tahun, maka dalam kurun
waktu 15 tahun pertama total kayu gergajian yang diperlukan untuk membangun dan
mengganti kayu yang rusak adalah sekitar 249,75 juta m3, dengan perincian 135 juta m3
untuk membangun baru dan 114,75 juta m3 untuk mengganti yang rusak. Dari
perhitungan tersebut berarti bahwa dengan usaha pengawetan kayu, selama 15 tahun
pertama, kayu yang digunakan untuk perumahan dapat dihemat sekitar 7,7 juta m3 per
tahunnya. Bila diketahui rendemen pengolahan kayu bulat menjadi kayu gergajian adalah
sekitar 50%, maka jumlah tersebut setara dengan menghemat pengambilan kayu bulat
(logs) dari hutan sekitar 15,4 juta m3 per tahun. Dengan asumsi produktivitas hutan yang
ada sebesar 35 m3 per hektar per tahun, maka luas hutan yang bertahan karena tidak
ditebangi atas adanya usaha pengawetan kayu dapat mencapai 440.000 ha. Hal ini dapat
menjadi bukti bagaimana sumberdaya hutan berupa kayu tersebut dapat diefisiensikan
penggunaannya dengan usaha perbaikan sifat berupa pengawetan.

Manfaat Ekonomi

Peranan perbaikan sifat kayu dapat pula dilihat dari aspek ekonomi. Sebagai contoh
dengan usaha pengawetan kayu, nilai ekonomi yang diterima oleh masyarakat pengguna
kayu-kayu awet sangat besar. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, diketahui bahwa
biaya tahunan rata-rata untuk kayu yang tidak diawetkan adalah sebesar Rp. 487.398 per
m3, sedangkan kayu yang diawetkan memang lebih besar, yaitu sebesar Rp. 701.105 per
m3. Namun demikian, biaya pembelian kayu yang tidak diawetkan untuk kurun waktu 15
tahun dapat menjadi lebih besar, yaitu Rp. 121,73 triliun (total kayu gergajian yang
diperlukan untuk membangun dan mengganti kayu yang rusak sebanyak 249,75 juta m3
dikalikan dengan biaya Rp. 487.398 per m3). Dibanding dengan menggunakan kayu yang
diawetkan, biaya tersebut hanya Rp. 94,65 triliun (135 juta m3 x Rp. 701.105) atau dapat
menghemat sebesar Rp. 27,08 triliun dalam 15 tahun atau lebih 1,81 triliun per tahun.

120

Manfaat ekologi

Peranan perbaikan sifat kayu seperti usaha pengawetan tidak hanya sampai di situ. Dalam
hubungannya dengan isu lingkungan global seperti gejala pemanasan global, sumbangan
penghematan lebih dari 15 juta m3 per tahun memiliki arti terbukanya potensi carbon
storage dan ketersediaan oksigen di alam. Hal ini dapat dilihat berdasarkan persamaan
proses fotosintesis yang memberikan gambaran bahwa untuk menghasilkan satu ton
massa kayu diperlukan 1,467 ton CO2 dan melepaskan 1,067 oksigen. Apabila berat jenis
kayu yang digunakan rata-rata 0,6, maka sumbangan penghematan 15,4 juta m3 per tahun
setara dengan 9,24 juta ton massa kayu dengan potensi penyerapan CO2 sebanyak 13,55
juta ton dan pelepasan oksigen sebanyak 9,86 juta ton per tahun. Dengan demikian,
penggunaan kayu yang telah diawetkan sungguh merupakan suatu hal yang harus secara
bersama-sama

dilakukan

dalam

pembangunan

rumah

untuk

mendukung

dan

meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan global.

A. Bahan Diskusi

Pada bagian ini, mahasiswa secara berkelompok diminta untuk mendiskusikan dan
menyampaikan pendapat tentang bagaimana efisiensi pemanfaatan sumberdaya hutan,
manfaat ekonomi, dan manfaat ekologis dari perbaikan sifat kayu berpengaruh terhadap
kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat. Diskusi dalam kelas dilaksanakan
dengan mekanisme sebagai berikut:
1. Peserta mata kuliah dibagi atas tiga kelompok
2. Kelompok I memilih ketua kelompok yang akan memimpin diskusi internal
kelompoknya untuk mengidentifikasi hubungan antara perbaikan sifat kayu
efisiensi pemanfaatan sumberdaya hutan kesempatan kerja kesejahteraan
masyarakat.
3. Kelompok II memilih ketua kelompok yang akan memimpin diskusi internal
kelompoknya untuk mengidentifikasi hubungan antara perbaikan sifat kayu manfaat
ekonomi kesempatan kerja kesejahteraan masyarakat.

121

4. Kelompok III memilih ketua kelompok yang akan memimpin diskusi internal
kelompoknya untuk mengidentifikasi hubungan antara perbaikan sifat kayu manfaat
ekologis kesempatan kerja kesejahteraan masyarakat.
5. Ketua kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas untuk
ditanggapi oleh kelompok lainnya.

C. Bahan Bacaan Pengayaan

Batubara, R. 2006. Teknologi Pengawetan Kayu dan Perumahan dan Gedung dalam
Upaya Pelestarian Hutan. Karya Tulis. Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sumatera Utara.

D. Latihan/ Soal-Soal

1. Jelaskan hubungan antara usaha perbaikan sifat kayu dengan kelestarian hutan !
2. Jelaskan hubungan antara usaha perbaikan sifat kayu dengan perbaikan lingkungan !
3. Jelaskan hubungan antara usaha perbaikan sifat kayu dengan perbaikan ekonomi
masyarakat !

122

BAB VI
PERBAIKAN SIFAT KEKUATAN KAYU

Setiap

jenis

kayu

mempunyai

ciri

tersendiri

baik

sifat

kimia

maupun

fisik/mekaniknya. Sebagai contoh kayu jenis fast growing species mempunyai sifat
mekanik yang lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis non fast growing species.
Seperti telah diuraikan pada bab terdahulu bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
kekuatan kayu di antaranya adalah faktor biologis (mikroorganisme yang menyerang
kayu), kadar air dan berat jenis kayu. Faktor-faktor tersebut pada dasarnya dapat
dimanipulasi sehingga upaya pencegahan gangguan kekuatan kayu dapat dipertahankan,
misalnya upaya pengawetan dengan zat kimia, pengeringan dan rekayasa percepatan
tumbuh. Dengan diketahuinya kekuatan untuk jenis kayu tertentu, maka konsumen akan
memilih jenis kayu yang tepat sesuai penggunaannya. Sifat fisik/mekanik kayu yang
penting adalah berat jenis, kembang susut, kadar air dan kekuatan mekanik.
Kayu merupakan komponen polimer tiga dimensi dengan penyusun utama selulosa,
hemiselulosa dan lignin. Ketiga komponen ini berpengaruh terhadap sifat fisik dan kimia
kayu. Perubahan dimensi, pengaruh lingkungan dan degradasi dapat menghasilkan
penurunan terhadap kekuatan sifat kayu (Deka dan Saikia, 2000). Beberapa perubahan
kimia dalam polimer dinding sel kayu mengakibatkan perubahan sifat fisik dan mekanik
kayu. Sifat-sifat ini dapat bervariasi mulai dari yang sederhana berupa perubahan warna
kayu sampai pada perubahan besar dalam hal sifat-sifat modulus, kemampuan menahan
beban maksimum, kerapuhan, kekerasan, keteguhan dalam kondisi basah, kekakuan
dalam kondisi basah, keteguhan pukul, keteguhan tekan, permeabilitas gas, kerapatan,
dan daya serap air.
Perubahan kandungan kadar air dinding sel yang dihasilkan dari modifikasi kimia
memiliki pengaruh yang besar terhadap sifat mekanis. Setiap persen perubahan kadar air
akan menimbulkan pengaruh terhadap perubahan sifat mekanis kayu sebagaimana yang
dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini :

123

Tabel 5. Perkiraan Perubahan Sifat-Sifat Mekanik dari Kayu Bebas Cacat Saat
Terpengaruh Perubahan Kadar Air
Sifat-Sifat
Lentur statis
Tegangan serat pada batas proporsi
Modulus patah (MOR)
Modulus lentur (MOE)
Kerja pada batas proporsi
Kerja pada beban maksimum
Lentur pukul
Ketinggian jatuh yang menyebabkan
kerusakan
Tekan sejajar serat
Tegangan serat pada batas proporsi
Keteguhan hancur maksimum
Tekan tegak lurus serat
Tegangan serat pada batas proporsi
Geser sejajar serat
Keteguhan geser maksimum
Kekerasan
Ujung
Samping

Perubahan per 1% perubahan


kadar air (1%)
5
4
2
8
0.5
0.5

5
6
5.5
3
4
2.5

Sumber : Rowell, 1996 dalam Hon 1996

Tabel 5 menunjukkan bahwa tegangan serat pada batas proporsi, kerja pada batas
proporsi, dan keteguhan hancur (crushing) maksimum adalah sifat-sifat mekanik yang
sebagian besar dipengaruhi oleh perubahan kadar air saja + 1 % di bawah TJS.
Sedangkan perubahan sifat mekanik dari segar ke kering oven disajikan pada Tabel 6.

124

Tabel 6. Hubungan Antara Beberapa Sifat Mekanik Kayu dan Kadar Air
Kadar Air
Sifat-Sifat

Segar

19%

12%

8%

KeringOven

Douglas fir
Modulus patah (MOR)

62

76

100

117

161

Tekan sejajar serat

52

68

100

124

192

Modulus lentur (MOE)

80

88

100

108

125

Aspen
Modulus patah (MOR)

61

75

100

118

165

Tekan sejajar serat

50

67

100

126

199

Modulus lentur (MOE)

73

83

100

111

137

Sumber : Rowell, 1996 dalam Hon 1996

* Semua nilai dinyatakan sebagai persentase sifat pada kadar air 12%

A. Metode-Metode Perbaikan Sifat Kekuatan Kayu


A.1. Pengeringan Kayu

Kadar air berpengaruh terhadap sifat-sifat mekanik jika berada di bawah titik jenuh
serat (TJS). Jika kadar air berkurang maka kekuatan akan meningkat. Peningkatan ini
terjadi karena adanya perubahan dalam dinding sel, yaitu menjadi lebih kompak. Unitunit struktural, misalnya mikrofibril mendekat satu sama lain dan kekuatan rantai
molekul selulosa menjadi lebih kuat.

Setiap 1% perubahan kadar air menyebabkan

perubahan 6% pada kekuatan tarik aksial, keteguhan pukul (MOR) 5%, kekerasan 2,5
4% (umumnya dalam arah aksial), MOE (pada keteguhan pukul statis) 2% dan
sebagainya (Tsoumis, 1991).

Hubungan antara kadar air dan kekuatan kayu dapat

dilihat pada Gambar 16 berikut :

125

Hubungan antara kadar air dengan kekuatan kayu

Gambar 16. Hubungan antara kadar air dengan kekuatan kayu

23

Berdasarkan Gambar 16 di atas, terlihat bahwa semakin kecil kadar air, maka
kekuatan kayu juga akan meningkat.

Dengan demikian, salah satu metode untuk

meningkatkan kekuatan kayu adalah dengan mengurangi kadar air kayu melalui proses
pengeringan.

A.2. Modifikasi Kimia Kayu

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Deka dan Saikia (2000) mengenai stabilitas
dimensi kayu menggunakan resin thermosetting yaitu phenol formaldehyde (PF),
melamine formaldehyde (MF) dan urea formaldehyde (UF) dengan WPG sebesar 33-35,
konsentrasi resin 30% pada suhu

90100C dan tekanan udara 75 psi. Perlakuan

tersebut dapat meningkatkan modulus of rupture (MOR) 1220%, modulus of elasticity


(MOE) 512% dan stabilitas dimensi masing-masing 70,59%, 68,23% dan 48,5%.
Modifikasi kimia dengan reaksi esterifikasi yang menggunakan pelarut asetat
anhidrid dikenal sebagai proses asetilasi, karena dalam proses ini menghasilkan asam
asetat sebagai produk sampingnya. Rowell (1996) telah mereview beberapa penelitian
mengenai reaksi kayu dengan asetat anhidrid pada kira-kira 15-20 Weight Percent Gain
126

(Persen Penambahan Berat) yang memberikan peningkatan beberapa sifat kayu antara
lain:
-

kerapatan sekitar 5% sampai 20%

keteguhan geser sejajar serat meningkat dari 12% menjadi 24%

pada uji kelenturan statis, MOE bervariasi dari -6% sampai +2% [Dreher, Goldstein,
Cramer (1964), Narayanamurti & Handa (1953)],

modulus patah (MOR) bervariasi dari -8% sampai +17% bergantung pada kayu yang
diuji [Dreher, Goldstein, Cramer (1964), Militz (1991), Larrson (1993)],

tegangan serat pada batas proporsi meningkat dari +7% sampai 20% [Dreher,
Goldstein, Cramer (1964)]

usaha pada batas proporsi meningkat dari 25% sampai 42% [Dreher, Goldstein,
Cramer (1964)].

kekerasan bola meningkat dari 22% sampai 31% [Dreher, Goldstein, Cramer (1964)]

kekerasan Brinell tangensial meningkat 25% dan radial 20% [Larrson (1993)].

keteguhan pukul (impact strength) bervariasi dari -13% sampai +16% [Koppers
(1961), Goldstein, Jeroski, Lund, Nielson, Weater (1961)]

keteguhan tekan tegak lurus serat meningkat 22-31% [ Dreher, Goldstein, Cramer
(1964)],

keteguhan tekan sejajar serat meningkat 10% [ Militz (1991)]

keteguhan tekan basah pada batas proporsi meningkat 93 144 % [ Koppers (1961),
Goldstein, Jeroski, Lund, Nielson, Weater (1961)]

keuletan bervariasi dari -7% sampai +17% [Tarkow and Stamm (1950), Goldstein,
Jeroski, Lund, Nielson, Weater (1961)]

usaha sampai rusak (work to failure) meningkat 5 12% dan keteguhan tarik
meningkat 1-4% [Rowell and Banks (1985)]

elongasi rusak tekan bervariasi dari -17% sampai +42% [Tarkow and Stamm (1950)].

(Semua nilai rata-rata ini membandingkan kayu terasetilasi dengan kayu tidak
terasetilasi).

127

Suatu penelitian modifikasi kimia kayu karet dengan styrene yang dikombinasikan
dengan crosslinker Glycidyl Methacrylate (GMA) yang dilakukan oleh Devi et al. (2003)
menunjukkan bahwa perlakuan ini mampu memperbaiki stabilitas dimensi dalam hal %
pengembangan volume, anti-shrink efficiency dan mengurangi penyerapan air.

Selain

itu perlakuan juga dapat memperbaiki sifat mekanis (kekuatan) menyangkut modulus of
rupture (MOR) dan modulus of elasticity (MOE). Kekerasan sampel dengan perlakuan
styrene dan styrene-GMA juga lebih tinggi dibandingkan dengan sampel tanpa perlakuan.
Selain itu, penelitian lain mengenai modifikasi kimia kayu untuk meningkatkan
daya tahan terhadap kerusakan dan panas (thermal), menunjukkan bahwa kayu yang
direaksikan dengan fosforamid yang dihasilkan secara in situ melalui reaksi fosfor
pentoksida dengan amina (butylamine) tahan terhadap degradasi jamur dan panas.
Analisis termal dengan DSC (Differential Scanning Calorimetry) dalam nitrogen dari
kayu yang direaksikan dengan fosforamid memperlihatkan bahwa mekanisme ketahanan
terhadap api berhubungan dengan dehidrasi. Pirolisis kayu termodifikasi melalui reaksi
dehidrasi menyebabkan penurunan produksi volatil dan meningkatkan pembentukan
arang.

Nilai oksidasi arang juga menurun.

TGA (Thermography Analysis) dalam

nitrogen atau udara menunjukkan bahwa kayu termodifikasi menghasilkan arang lebih
banyak daripada kayu yang diimpregnasi dengan diamonium fosfat.

A.3. Pemadatan/Densifikasi Kayu

Pemadatan kayu adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kekuatan dan
keawetan kayu berkerapatan rendah dengan cara mengempa papan kayu menjadi lebih
padat. Pada kondisi lebih padat daripada sebelumnya, maka kekuatan kayu meningkat.
Pemadatan kayu dapat dilakukan dengan dua langkah utama, yaitu perlakuan perendaman,
perebusan dan pengukusan agar kayu tersebut bersifat plastis dan perlakuan pemadatan
pada arah tegak lurus serat. Pemadatan kayu dipengaruhi oleh jenis kayu, plastisitas kayu,
kadar air, suhu kempa, dan penerapan besarnya tekanan kempa. Proses plastisasi dan
pemadatan kayu yang sesuai akan meningkatkan sifat fisik dan sifat mekanik kayu
terpadatkan dan berkualitas tinggi. Kualitas yang dimaksud adalah kemudahan proses

128

pemadatan, stabilitas dimensi, keseragaman dan peningkatan kekuatan papan kayu,


kehalusan corak permukaan papan dan fiksasi permanen (Djoko, Hilmato dan Tusi, 2007).
Menurut Amin dan Dwianto (2006), teknik densifikasi kayu adalah teknik
pengempaan kayu utuh (solid) yang bertujuan untuk meningkatkan kekerasan permukaan
dan kekuatan kayu. Teknik ini dapat diterapkan pada jenis-jenis kayu cepat tumbuh yang
pada umumnya berkualitas rendah melalui peningkatan kerapatannya. Kayu kompresi
secara komersial telah dibuat di Jerman dengan nama Lignostone (Stamm 1964). Tetapi
hasil pengempaannya belum bersifat permanen, karena masih kembali ke ketebalan
semula bila mendapat pengaruh kelembaban atau perendaman (recovery). Hasil
pengempaan yang permanen mutlak diperlukan untuk memanfaatkan kayu-kayu
kompresi tersebut sebagai pengganti kayu-kayu komersial.
Densifikasi kayu yang bersifat permanen dapat dilakukan dengan mengunakan
metode :
1. perekatan atau modifikasi kimia,
2. perlakuan suhu tinggi pada kondisi kayu kering dan
3. perlakuan uap air suhu tinggi pada kondisi kayu basah (steam).

Prinsip densifikasi kayu metode (1) adalah dengan memasukkan perekat (Stamm
dan Seborg 1941) atau bahan kimia (Fujimoto 1992) ke dalam kayu dan proses curing
atau polimerisasinya terjadi pada saat pengempaan dalam kondisi kayu terdeformasi.
Pada metode ini dapat digunakan perekat fenol, melamin, urea, tanin atau perekat yang
berasal dari lateks. Sedangkan modifikasi kimia dapat menggunakan metode formalisasi,
esterifikasi atau asetilasi.
Densifikasi kayu metode (2) dapat diterapkan dengan menggunakan alat kempa
panas atau oven pengering, tetapi membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai fiksasi
kayu yang permanen, yaitu sekitar 20 jam pada suhu 180C (Dwianto et al. 1997),
disamping itu cukup banyak menurunkan sifat mekanik kayu tersebut. Beberapa pendapat
mengenai sifat permanen kayu dengan metode ini antara lain adalah akibat
terdegradasinya lignin sehingga menyebabkan menurunnya internal stress (Seborg et al.
1945) dan menurunnya sifat higroskopis kayu (Inoue dan Norimoto 1991).

129

Metode (3) adalah memanaskan kayu dengan menggunakan uap air suhu tinggi
(steam treatment). Metode ini dilakukan dengan memasukkan uap air panas dari boiler ke
dalam autoclave yang dilengkapi dengan alat kempa tahan panas (Inoue et al. 1993).
Kelebihan dari metode ini adalah fiksasi yang bersifat permanen dari kayu yang dikempa
dapat dicapai lebih cepat jika dibandingkan dengan metode (2), dan tidak banyak
mempengaruhi atau menurunkan sifat mekanik kayu. Fiksasi yang permanen pada suhu
180C dapat dicapai hanya dalam waktu sekitar 10 menit. Pendapat-pendapat mengenai
sifat permanen dengan metode ini antara lain adalah akibat perubahan struktural selulosa
(Ito et al. 1998) dan terjadinya hidrolisa hemiselulosa yang mengakibatkan menurunnya
internal stress pada kayu (Hsu et al. 1988). Tetapi metode (3) tersebut sulit untuk
diterapkan pada skala pemakaian karena membutuhkan perangkat yang sangat mahal,
yaitu boiler, autoclave dan alat kempa tahan panas yang dimasukkan ke dalam autoclave;
serta tidak dapat dilakukan terhadap kayu dengan ukuran besar. Metode ini dapat
dimodifikasi dengan prinsip Close System Compression.
Rommel (2001) melakukan penelitian mengenai pengaruh tekanan steam pada
peningkatan karakteristik dan kualitas kayu glugu. Dengan perlakuan steam diharapkan
terjadi pemampatan pori-pori pada serat kayu sehingga akan meningkatkan berat jenis
dan mengurangi kadar lengas kayu yang merupakan parameter-parameter yang
berpengaruh terhadap kekuatan kayu. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan steam
menyebabkan penambahan berat jenis hingga 0,75 gr/cm3 atau naik hingga 64% dan
pengurangan kadar lengas sampai 2,086% dari contoh uji tanpa perlakuan. Pemberian
tekanan steam pada kayu glugu meningkatan karakteristik kekuatan tarik // serat (560,86
kg/cm2) ; kekuatan tarik serat

(88,69 kg/cm2) ; kekuatan tekan serat (629,36%) ;

kekuatan geser (171,55 kg/cm2), sedangkan kekuatan lenturnya tidak meningkat. Sifat
daktilitas kayu dengan pemberian steam hanya meningkat pada arah tegangan-regangan
tarik // serat saja. Kayu glugu yang diberi perlakuan steam ternyata dapat meningkatkan
kekuatan kayu dari kelas kuat III (dimana kuat tekan absolut sebesar 300 s/d 425 kg/cm2)
menjadi kelas kuat II (dimana kuat tekan absolut sebesar 425 s/d 650 kg/cm2).

130

A.4. Kayu Laminasi

Glulam adalah susunan beberapa lapis kayu direkatkan satu sama lain secara
sempurna menjadi satu kesatuan tanpa terjadi diskontinuitas perpindahan tempat (Gurdal
et al. 1999 dalam Sulistyawati, Nugroho, Surjokusumo, dan Hadi (2008). Arah serat
seluruh lapisan paralel terhadap panjang balok. Dua prinsip desain laminasi adalah
memaksimalkan dimensi dan meminimalkan material, apabila kedua prinsip tersebut
dapat dilakukan secara simultan maka tujuan penggunaan laminasi dapat dicapai secara
maksimal, sehingga laminasi merupakan desain ekonomis dengan tetap memenuhi
prinsip struktural (Bodig dan Jayne, 1993). Juga dinyatakan bahwa kayu sebagai material
alamiah berupa balok atau log mungkin belum merupakan produk yang efisien sebagai
komponen struktural; sebuah balok kayu utuh dengan adanya cacat kayu, kapasitas
memikul beban menjadi lebih kecil; dengan memotong menjadi beberapa lapis lebih tipis
yang biasa disebut lamina dan kemudian melekatkan kembali dengan menghilangkan
cacat kayu atau mengatur posisi cacat kayu secara tepat maka sifat mekanisnya akan
meningkat.
Lapisan kayu dapat diatur dengan mutu disesuaikan dengan fungsi ditinjau dari segi
kemampuan struktural di dalam menerima beban. Dengan susunan lapisan yang
mempunyai mutu berbeda pada lapis tertentu akan meningkatkan sifat mekanis kayu
antara lain kekuatan dan kekakuannya. Dengan menyusun lapisan kayu dan memberikan
lapisan yang mempunyai mutu lebih tinggi pada daerah dengan tegangan besar dan mutu
yang lebih rendah pada daerah lainnya, penampang laminasi akan bekerja efektif di
dalam menerima beban lentur sehingga akan mempengaruhi kekuatan lentur maupun
kekakuan dari satu kesatuan laminasi tersebut. Ritter dan Williamson (1995) dalam
Sulistyawati, Nugroho, Surjokusumo, dan Hadi (2008), menyatakan bahwa glulam dapat
dibuat secara horisontal yang disebut glulam horisontal dengan penempatan laminasi
dengan kualitas tinggi pada posisi teratas dan terbawah balok; di dalam perkembangan
desain juga dikembangkan glulam vertikal untuk sistem dek jembatan.
Ditinjau dari segi ekonomis kelebihan laminasi adalah mempunyai kemampuan
meningkatkan dimensi, yaitu dari persediaan material yang lebih kecil atau tipis dapat

131

disusun menjadi satu kesatuan laminasi dengan dimensi yang lebih besar; mempunyai
kemampuan membuat bentuk struktural seperti lengkung, yang mana hal ini sulit apabila
menggunakan material lainnya; mempunyai nilai keindahan ditinjau dari segi arsitektural.
Hal-hal tersebut di atas menjadikan laminasi mempunyai nilai tambah atau nilai jual yang
lebih tinggi.

A.5. Pelapisan Permukaan Kayu dengan Teknologi Radiasi

Teknologi polimerisasi radiasi adalah salah satu teknologi nuklir yang dapat
diaplikasikan pada industri polimer yaitu untuk mengolah bahan mentah menjadi bahan
setengah jadi atau bahan jadi, dengan bantuan sinar radiasi sebagai sumber energi.
Radiasi berfungsi sebagai alat untuk mempermudah, mempercepat, atau memperbaiki
reaksi kimia yang diperlukan di dalam proses polimerisasi.
Pada umumnya tujuan pelapisan permukaan papan kayu ada dua macam yaitu
menambah keindahan dan meningkatkan kualitas permukaan misalnya lebih tahan bahan
kimia, tahan panas dan sebagainya. Sumber radiasi yang digunakan pada teknik pelapisan
permukaan ini ialah sinar berkas elektron. Proses pelapisan permukaan papan kayu
memerlukan dua tahap pekerjaan, yaitu pelapisan dasar (base coating) dan pelapisan atas
(top coating). Kayu lapis, parket, papan partikel diampelas, lalu dilapisi dengan oligomer
dan diiradiasi dengan sinar berkas elektron sebagai pelapis dasar, kemudian diampelas
lagi, selanjutnya dilapisi dengan pelapis atas dan diiradiasi lagi.
Keuntungan penggunaan teknologi radiasi pada pelapisan permukaan ini, bila
dibandingkan dengan cara konversional ialah :
1. Kecepatan produksi relatif tinggi, sehingga ruang operasi yang digunakan relatif
lebih sempit.
2. Bebas dari bahan pelarut yang menguap, sehingga mengurangi masalah polusi udara.
3. Prosesnya dapat dilakukan pada suhu kamar, sehingga dapat diterapkan pada substrat
yang sensitif terhadap panas, misalnya kertas dan sebagainya.
4. Daya rekat yang memuaskan, karena adhesinya merupakan ikatan kimia.

132

Dengan teknologi polimerisasi radiasi keawetan kayu dapat ditingkatkan. Kayu


divakumkan dalam wadah tertutup kemudian dalam keadaan vakum kayu tersebut diberi
monomer, lalu dibungkus supaya kedap udara, dan kayu yang mengandung monomer ini
diiradiasi. Kayu yang sudah diproses dengan metode polimerisasi radiasi ini disebut kayu
plastik. Kayu plastik ini di samping sifat fisik dan mekaniknya meningkat misalnya lebih
keras dan mudah dipelitur, juga keawetannya lebih baik dibandingkan dengan kayu
aslinya karena lebih tahan terhadap serangga pemakan kayu. Kayu plastik ini tahan
terhadap cuaca, sehingga kayu plastik tersebut dapat digunakan untuk bahan bangunan di
luar rumah dan untuk dekorasi interior, karena tidak mengganggu kesehatan (Batan,
2006).

B. Bahan Tugas

Buat sebuah paper mengenai perbandingan antara 2 metode perbaikan sifat kayu yang
berbeda, terutama mengenai kelebihan dan kekurangannya masing-masing !

C. Latihan/ Soal-Soal

1. Apa yang Anda pahami mengenai konsep kekuatan kayu baik dari segi anatomi
maupun fisik ?
2. Misalkan di suatu daerah kayu-kayu yang tersedia hanya kayu-kayu dengan
keawetan alami yang rendah. Sementara pembangunan perumahan di daerah
tersebut sangat mendesak untuk dilaksanakan. Solusi apa yang dapat Anda
tawarkan untuk kasus tersebut ?
3. Di antara upaya perbaikan sifat kekuatan kayu di atas, menurut Anda mana yang
paling praktis dilakukan di lapangan ?

133

BAB VII
PERBAIKAN SIFAT KEAWETAN KAYU
Tujuan Umum : Bab ini secara umum bertujuan untuk menjelaskan teknik-teknik
perbaikan sifat keawetan kayu
Tujuan Khusus : Bab in secara khusus memberikan kemampuan kepada mahasiswa
dalam menguraikan hubungan sifat keawetan kayu dan teknik perbaikannya

Meskipun kayu gubal jarang yang tahan terhadap serangan organisme, kayu teras
dari kebanyakan spesies memperlihatkan derajat ketahanan terhadap serangan jamur
dan serangga. Keawetan alami tersebut dapat dihubungkan dengan suatu kombinasi
bahan ekstraktif beracun yang terdapat dalam kayu dan sifat permeabilitas inherent yang
rendah. Sebagai akibat dari keawetan alami tersebut beberapa kayu dapat digunkan di
luar ruangan (outdoors) dan dalam beberapa kasus dapat kontak dengan tanah atau
terendam dalam air. Kayu dari species yang awet secara alami seringkali lebih disukai
dari segi lingkungan daripada kayu yang diberi perlakuan kimia, dan kebanyakan dari
jenis kayu tersebut memiliki penampakan yang atraktif, atau dengan kata lain memiliki
nilai dekoratif tinggi. Di samping itu, beberapa jenis seperti black locust, greenheart
dan ipe juga memiliki sifat kekuatan yang sangat baik (Green et al., 1999). Meskipun
demikian, berbagai faktor membatasi penggunaan kayu dengan keawetan alami tinggi.
Di negara maju, volume growing stock spesies yang awet secara alami relatif rendah
dibandingkan dengan permintaan produk kayu awet, sehingga kebutuhan tersebut harus
dipenuhi dari negara yang sedang berkembang. Sebagai akibatnya, penebangan dan
ekspor species tropis dari negara sedang berkembang ke negara industri meningkatkan
keprihatinan terhadap eksploitasi, deforestasi dan kerusakan habitat.
Mengingat ketersediaan kayu dengan keawetan alami yang tinggi relatif sedikit
dibandingkan dengan kayu yang kurang awet, maka berbagai upaya-upaya agar
optimalisasi pemanfaatan kayu yang kurang awet tersebut perlu dilakukan. Hal ini tentu
saja sebagai salah satu cara untuk mengurangi tingginya tekanan terhadap hutan alam
akibat penebangan terhadap species tertentu saja, seperti jenis meranti dan merbau saja.
134

Data menunjukkan bahwa di Indonesia, dari 4000 jenis kayu yang dikenal, sekitar
85,7% termasuk ke dalam kelas keawetan rendah sehingga untuk dapat dipergunakan
dengan memuaskan harus diawetkan (Martawijaya, 1996). Oleh karena itu, bila kayu
tidak awet tersebut tidak diupayakan pemanfaatannya akan berdampak pada
pemborosan dan ineffisiensi sumberdaya alam.
A. Teknik-Teknik Perbaikan Sifat Keawetan Kayu
Ketahanan kayu terhadap serangan organisme disebabkan oleh faktor internal dan
eksternal.

Faktor eksternal mencakup faktor lingkungan seperti suhu, pH, tekanan

oksigen dan karbon dioksida parsial, dan kadar air (highley dan Kirk, 1979 dalam
Febrianto, dkk., 2000). Sedangkan faktor internal antara lain kandungan zat ekstraktif,
bagian dalam batang (teras dan gubal), dan umur pohon (Martawijaya, dkk., 2001).
Pada dasarnya, kayu yang dapat menahan serangan organisme tersebut dalam periode
waktu tertentu, misalkan 5-10 tahun di daerah tropis (Eaton and Hale, 1993), dapat
dikatakan sebagai kayu yang awet. Demikian pula sebaliknya, kayu yang terserang
dalam jangka waktu singkat dapat dikatakan sebagai kayu yang sangat rentan. Untuk
memperbaiki ketahanan kayu terhadap organisme perusak kayu, berbagai teknik-teknik
perbaikan sifat keawetan kayu dapat dilakukan antara lain:
A.1. Pengeringan Kayu
Air menyediakan beragam fungsi dalam kehidupan organisme dan proses
pelapukan. Air merupakan reaktan, agen pengembang, dan medium difusi baik oleh
enzim pendegradasi dan degradasi kayu. Air dalam kayu terdapat dalam bentuk air
bebas dan air terikat. Air bebas terdapat dalam rongga sel dan dalam rongga-rongga
lebih besar pada dinding sel kayu. Air terikat berinteraksi secara kimia dengan dinding
sel dan lebih sulit untuk dikeluarkan. Titik di mana air bebas tidak ada dan air mengisi
semua dinding sel diistilahkan dengan titik jenuh serat atau fiber saturation point (FSP).
Kebanyakan jenis kayu memiliki TJS antara 27 30% (Morrel, 2002); di bawah titik
ini air yang ada diasumsikan terikat dengan kayu dan merupakan air yang sebagian
besar tidak dapat diakses oleh organisme perusak. Kebanyakan organisme perusak yang
mendegradasi kayu membutuhkan kadar air (MC, moisture content) di atas TJS,
135

meskipun beberapa kumbang dapat menyerang kayu di bawah TJS, dan beberapa jamur
pelapuk dapat memperoleh air dari tanah untuk meningkatkan kadar air yang
memungkinkan untuk pertumbuhannya. Kadar air udara kayu pada kebanyakan
bangunan berkisar antara 6 12%.
Kebanyakan jamur membutuhkan kayu pada level kadar air di atas TJS, tetapi
sekali jamur mengkolonisasi substrat, jamur dapat melanjutkan pertumbuhan pada kadar
air 20% (Scheffer, 1973). Pastinya, jamur tidak akan tumbuh baik pada kadar air lebih
rendah (kadar air optimum antara 40-60%), namun keberadaannya dalam kayu harus
dipertimbangkan dalam strategi remediasi. Beberapa serangga juga memiliki
kemampuan serupa, pada awalnya memasuki pohon yang baru saja ditebang tetapi
selanjutnya melengkapi siklus hidupnya pada kondisi kayu kering atau produk akhir.
Pada dasarnya, kayu utuh dan kebanyakan produk hutan lainnya dikeringkan
sebelum digunakan untuk berbagai alasan, terutama untuk mengontrol kadar air produk.
Sebagaimana diketahui bahwa kadar air kayu yang baru ditebang bervariasi dari lebih
200% sampai 40%. Mulai kayu pertama kali dikuliti sampai kering, maka kayu akan
perlahan-lahan mengeluarkan air sampai mencapai kadar air yang sama dengan
lingkungannya, biasanya sebesar 20% pada lingkungan basah dan sekitar 6% pada iklim
panas yang kering. Pengeringan kayu dapat dilakukan dengan menggunakan kiln
maupun dengan pengeringan alami. Jadi, meskipun tujuan utama pengeringan kayu
adalah menurunkan kadar air, namun secara tidak langsung dapat menghambat
timbulnya serangan organisme karena ketersediaan unsur pendukung kehidupannya
tidak terpenuhi dari kayu.
A.2. Pengawetan Kayu
Pada prinsipnya, sistem pengawetan kayu dikembangkan untuk menyediakan
perlindungan yang efektif bagi kayu terhadap serangan mikroorganisme, serangga dan
api. Untuk maksud tersebut, impregnasi berbagai jenis bahan yang memiliki sifat
proteksi yang dimasukkan ke dalam kayu, baik dari bahan alam maupun bahan sintesis.
Pemberian bahan pengawet ini dapat diaplikasikan pada kayu utuh maupun produk kayu
komposit.

Pada produk komposit, pemberian bahan pengawet dapat diaplikasikan

sebelum atau sesudah pengempaan (pressing) pada bahan kayu maupun perekatnya.
136

a) Pengawetan dengan bahan alam (biosida)


Adanya issu kesehatan manusia dan lingkungan telah menjadikan pengawetan
kayu konvensional yang selama ini digunakan untuk melindungi kayu dari
kerusakan oleh serangga dan mikrobial saat ini mendapat perhatian yang serius.
Pencarian bahan pengawet alternatif dan ekonomis yang lebih ramah lingkungan
telah banyak dilakukan oleh peneliti, meskipun efektivitas menahan serangan
organisme belum sebaik jika menggunakan bahan pengawet yang berasal dari
bahan kimia.
Salah satu bahan alam yang cukup banyak menarik perhatian adalah tanaman
perdu guayule (Parthenieum argentatum Gray) sebagai bahan pengawet
(Nakayama, 2005). Bahan resin yang diekstrak sebagai by-produk dari proses
ekstraksi getah ditemukan memiliki sifat anti-rayap dan anti-jamur.

Hasil uji

laboratorium untuk menentukan ketahanan produk kayu dan papan komposit yang
diimpregnasi dengan bahan resin yang diekstraksi dengan pelarut organik terhadap
rayap tanah Reticulitermes spp. dan jamur brown rot Gleophyllum trabeum dan
Poria placenta (Fr.) Cook menunjukkan bahwa tanaman ini berpotensi untuk
menjadi alternatif bahan pengawet alami dan terbaharukan (Nakayama et al., 2001).
Hal ini ditunjukkan oleh mortalitas rayap yang tinggi pada kayu maupun papan
komposite yang diimpregnasi dengan resin content >50%, demikian pula dengan
kayu pinus yang diimpregnasi dengan ekstrak resin memperlihatkan pengurangan
bobot yang rendah pada kadar resin yang berbeda, yaitu 10,3% atau lebih untuk G.
trabeum dan 51,8% atau lebih untuk P. placenta.
Sejumlah penelitian sejenis dengan bahan alam yang berbeda juga diteliti untuk
mendapatkan bahan pengawet yang ramah lingkungan, antara lain: pengembangan
bahan pengawet kayu benign yang ramah lingkungan yang berbasis kombinasi
biosida organik dengan antioksidan dan peng-chelat logam (Schultz and Nicholas,
2002); perbaikan ketahanan kayu dengan perlakuan metil alkenoat sussinat
anhidrida (M-ASA) yang berasal dari tumbuhan (Morard et al., 2007); serta
ketahanan papan partikel yang dibuat dari partikel yang diimpregasi dengan
ekstaktif kulit Pinus brutia terhadap jamur (Nemli et al., 2006).

137

b) Pengawetan dengan bahan kimia sintesis


Sejauh ini penggunaan bahan kimia sintesis untuk melindungi kayu dan produk
turunan kayu dari serangan orgaisme perusak kayu masih mendominasi industri
perkayuan, meskipun dalam beberapa dekade terakhir ini mulai banyak menuai
perhatian karena dampaknya yang membahayakan bagi lingkungan dan kesehatan
manusia, terutama bahan pengawet berbasis arsenit/kromium. Namun ditinjau dari
efektivitasnya dalam melindungi bahan berlignoselulosa, bahan pengawet kimia ini
belum banyak tergantikan oleh bahan pengawet alami yang juga beberapa tahun ini
juga mulai ramai dilirik oleh peneliti.
Pada dasarnya, bahan kimia yang dapat dijadikan bahan pengawet harus
memiliki persyaratan-persyaratan tertentu. Bahan pengawet kayu yang baik untuk
penggunaan komersial umumnya harus beracun terhadap perusak-perusak kayu,
permanen, mudah meresap, aman untuk digunakan, tidak merusak kayu dan logam,
banyak tersedia, dan murah. Untuk pengawetan kayu-kayu bangunan atau barangbarang kerajinan, atau untuk tujuan-tujuan khusus lainnya diperlukan juga bersih,
tidak berwarna, tidak berbau, dapat dicat, tidak mengembangkan kayu, tahan api,
kalis lembab, atau mempunyai kombinasi-kombinasi tertentu dari sifat-sifat ini.
Keefektifan suatu bahan pengawet sebagian tergantung daya racunnya atau
kemampuan menjadikan kayu itu beracun terhadap organisme-organisme yang
makan kayu atau masuk ke dalamnya untuk memperoleh perlindungan. Beberapa
bahan nampaknya dapat kalis terhadap serangga tanpa bersifat meracun, tetapi
untuk perlindungan terhadap cendawan dan cacing laut sifat racun merupakan hal
yang sangat penting.
Secara umum, bahan pengawet kimia yang selama ini banyak digunakan untuk
memperpanjang masa pakai kayu dengan cara melindungi kayu dari serangan
organisme perusak, dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: pengawet larut air
dan pengawet larut minyak. Secara detail penjelasan dari kedua jenis pengawet ini
dan keefektifannya melindungi kayu dari organisme perusak dapat dilihat pada
bahan pengayaan Hunt and Garrat (1986).

138

Berbagai penelitian dengan menggunakan bahan pengawet kimia sintesis yang


lebih ramah lingkungan juga terus dilakukan, antara lain penggunaan bahan
pengawet organik/produk konsolidant linfosolid (Lionetto and Frigione, 2009)
kombinasi asam borat dan tall oil (Temiz et al., 2008), serta penggunaan bahan
pengawet bebas arsenit/kromium (Lin, et al., 2009).
c)

Pengawetan dengan impregnasi SCF (supercritical fluid)


Impregnasi SCF merupakan peluang yang cukup menjanjikan di masa depan
untuk menghasilkan produk kayu maupun produk komposit yang tahan terhadap
organisme perusak. SCF memiliki sifat yang mirip gas dan cairan. Karbondiokasida
(CO2) adalah SCF yang umumnya banyak digunakan karena murah dan tidak
mudah terbakar (Gambar 1). Penelitian pendahuluan (Morrell et al., 1997)
menyarankan bahwa SCF merupakan media yang ideal untuk membawa biosida ke
dalam kayu.

Gambar 17. Diagram fase perubahan karbondiokasida

Penelitian terhadap daya tahan lima jenis panel kayu komersial yang
diperuntukkan untuk tujuan konstruksi (softwood plywood, hardwood plywood,
particleboard, medium density fiberboard, dan oriented strandboard) menunjukkan
bahwa daya tahan panel kayu terhadap jamur maupun rayap setelah diawetkan
dengan IPBC dan/atau Silafluofen mengunakan CO2 pada suhu dan tekanan yang
cukup rendah (35oC dan 80 kg/cm2) meningkat secara nyata (Muin dan Tsunoda,
2003; 2004). Suatu hal yang menarik dari hasil penelitian tersebut adalah bahwa
139

dengan penggunaan tekanan yang jauh lebih rendah dari yang digunakan oleh Acda
dkk (1996) dapat dihasilkan keawetan yang tinggi. Keadaan ini memberikan
indikasi bahwa kondisi perlakuan pengawetan yang diterapkan termasuk siklus
prosesnya dapat dimodifikasi untuk menghasilkan tingkat keawetan yang berbeda
dari jenis bahan kayu yang sama.
1. Modifikasi Kimia
Modifikasi kimia sebagai strategi inovatif untuk melindungi kayu yang ramah
lingkungan dilengkapi dengan reaksi antara bahan kimia tertentu dengan makromolekul
kayu tanpa meninggalkan residu beracun dalam kayu (Morard et al., 2002). Modifikasi
kimia kayu adalah reaksi kimia antara bagian reaktif komponen kayu dan pereaksi kimia
sederhana membenuk ikatan kovalen di anatar keduanya (Rowell, 1991). Modifikasi
kimia dapat dilakukan dengan berbagai perlakuan kimia seperti esterifikasi dan
eterifikasi.

Oleh karena itu, ikatan kovalen yang terbentuk adalah ester dan eter

(Matsuda, 1996).

Pada kayu, polimer lignin (non-krostalin, aksesibel semua),

hemiselulosa (non-kristalin, hampir aksesibel semua), selulosa non-kristalin, dan


permukaan kristalin selulosa adalah komponen dinding sel yang bertanggung jawab
terhadap penyerapan air (Rowell and Rowell, 1988). Bagian inilah yang merupakan
tempat reaktif untuk modifikasi kimia.
Modifikasi kimia untuk meningkatkan ketahanan biologis didasarkan pada teori
bahwa enzim harus berhubungan langsung dengan substrat dan harus mempunyai
konfigurasi khusus. Meningkatnya ketahanan didasarkan pada ketidakmampuan enzim
menguraikan turunan selulosa dan ketidakmampuan dinding sel mengabsorpsi air yang
dibutuhkan oleh jamur pelapuk (Stamm and Baechler, 1960). Karena air merupakan
kebutuhan hidup organisme, maka salah satu cara mengubah substrat secara kimia
adalah mengubah sifat hidrofilik kayu (Rowell, 1984). WPG (Weight Percent Gain)
merupakan ukuran peningkatan bobot kayu selama proses reaksi yang umumnya
digunakan dalam modifikasi kimia.
Berbagai penelitian secara ektensif dilakukan untuk menentukan ketahanan biologis
dari kayu yang telah diberi perlakuan asetat anhidrida dan anhidrida lainnya (asetilasi).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu terasetilasi memperlihatkan ketahanan yang
140

baik terhadap jamur pelapuk brown rot, white rot dan soft rot (Takahashi, 1996),
meskipun ketahanan terhadap kolonisasi jamur tingkat rendah termasuk mold dan stain
terbukti tidak memuaskan (Beckers et al., 1994). Selain jamur, kayu terasetilasi juga
memperlihatkan ketahanan terhadap serangan rayap tanah (Imamura dan Nishimoto,
1986) dan marine borer (Johson and Rowell, 1988).
Perbaikan ketahanan kayu terhadap biodeteriorasi juga telah dilakukan dengan
proses modifikasi kimia lainnya, termasuk epoksidasi (Rowell et al., 1979), furfurilasi
(Arif et al., 1998), reaksi dengan isosianat (Ellis and Rowell, 1984), ikatan silang
dengan aldehida (Yusuf et al., 1994) dan oligoesterifikasi (Matsuda, 1993).
B. Bahan Diskusi
Mahasiswa diharapkan menyiapkan makalah (10-15 halaman) untuk masingmasing teknik perbaikan sifat keawetan kayu. Makalah diharapkan mengacu pada bahan
bacaan pengayaan dan penelusuran dari internet dan jurnal.

Kebaharuan pustaka

menjadi salah satu penilaian utama.


C. Bahan Bacaan Pengayaan
Untuk pengayaan materi yang telah diuraikan di atas, mahasiswa dapat
mempelajari secara mandiri bahan bacaan berikut:
1) Textbook
(1) Archer, K. and S. Lebow. 2006. Wood Preservation. In: Walker, J.C.F. (Eds.),
Primary Wood Processing: Principles and Practice. Springer. Netherland. p:
297-338.
(2) Hunt, G.M. and G.A. Garratt.

1986.

Pengawetan Kayu.

Alih Bahasa:

Mohammad Jusuf. Penerbit Akademika Pressindo. Jakarta.


(3) Zabel, R.A. and J.J. Morrell.

1992.

Wood Microbiology: Decay and its

Prevention. Edisi Pertama. Academic Press, Inc. San Diego. California.


(4) Eaton, R.A. and M.D.C. Hale. 1993. Wood: Decay, Pests and Protection.
Edisi Pertama. Chapman & Hall. London.
141

(5) Kirk, T.K. and E.B. Cowling.


Wood.

1984.

Biological Decomposition of Solid

In: R.Rowell (Eds.), The Chemistry of Solid Wood. Advances in

Chemistry Series 207. American Chemical Society. Washington. p:455-488.


(6) Schniewind, A.P. 1978. Concise Encyclopedia of Wood and Wood-based
Materials.

Pergamon Press and the MIT Press.

Oxford-Cambridge,

Massachusetts. USA.
(7) Takahashi, M. 1996. Biological Properties of Chemically Modified Wood. In:
Hon, S. (ed), Chemical Modification of Lignocellulosic Materials. Marcell
Dekker Inc. New York. p:331-359.
2)

Journal
(1) Nakayama, F.S. 2005. Guayule Future Development. Industrial Crops and
Products 22: 3-13.
(2) Nakayama, F.S.. S.H. Vinyard, P. Chow, D.S. Bajwa, J.A. Youngquist, J.H.
Muehl, and A.M. Krzysik. 2001. Guayule as a Wood Preservative. Industrial
Crops and Products 14: 105-111.
(3) Schultz, T.P. and D.D. Nicholas. 2002. Development of EnvironmentallyBenign Wood Preservatives Based on the Combination of Organic Biocides
with Antioxidants and Metal Chelators. Phytochemistry 61: 555-560.
(4) Morard, M., C. Vaca-Garcia, M. Stevens, J. Van Acker, O. Pignolet, and E.
Borredon. 2007. Durability Improvement of Wood by Treatment with Methyl
Alkenoate Succinic Anhydrides (M-ASA) of Vegetable Origin. International
Biodeterioration and Biodegradation 59: 103-110.
(5) Muin, M. dan K. Tsunoda. 2003. Termiticidal Performance of Wood-based
Composites Treated with Silafluofen Using Supercritical Carbon Dioxide.
Holzforschung 57, 585-592.
(6) Muin, M. dan K. Tsunoda. 2004. Biological Resistance of Wood-based
Composites Treated with an IPBC-silafluofen Formulation Using Supercritical
Carbon Dioxide. Journal of Wood Science (in press).

142

(7) Morrell, J.J.

2002.

Wood-based Building Components: What Have We

Learned?. International Biodeterioration and Biodegradation 49: 253-258.


(8) Nemli, G., E.D. Gezer, S.Yildiz, A. Temiz, and A. Aydin. 2006. Evaluation of
the Mechanical, Physical Propeties and Decay Resistance of Particleboard
Made from Particles Impregnated with Pinus brutia Bark Extractives.
Bioresource Technology 97: 2059-2064.
(9) Lionetto, F. And M. Frigione. 2009. Mechanical and Natural Durability
Properties of Wood Treated with a Novel Organic Preservative/Consolidant
Product. Material and Design 30: 3303-3307.
(10) Arif, A., Y.S. Hadi., S. Yusuf, and H. Adijuwana. 1998. Ketahanan Kayu
Asetilisasi dan Kayu Furfurilasi terhadap Serangan Coptotermes gestroi
Wasmann. The Fourth Pasific Rim Bio-Based Composite Symposium (Poster),
Bogor. Indonesia
D. Latihan/ Soal-Soal
Agar kompetensi yang diharapkan dapat dicapai di akhir masa pembelajaran,
mahasiswa diharapkan mengerjakan latihan/soal-soal yang tercantum dalam bahan ajar
ini, sebagai berikut:
(1)

Apa yang anda pahami tentang sifat keawetan kayu? serta kepentingannya untuk
dipelajari.

(2)

Uraikan hubungan antara setiap teknik yang telah diuraikan dengan sifat keawetan
kayu.

(3)

Uraikan pendapat anda, teknik mana yang paling mudah, ekonomis, efektif dan
aman digunakan dalam memperpanjang masa pakai kayu.

143

DAFTAR PUSTAKA
Arif A. 2002. Handout Pengawetan Kayu. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian dan
Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Amin Y. dan Wahyu D. 2006. Pengaruh Suhu dan Tekanan Uap Air terhadap
Fiksasi Kayu Kompresi dengan menggunakan Close System Compression. J.
Ilmu & Teknologi Kayu Tropis Vol. 4(2). jurnalmapeki.biomateriallipi.org/jurnal/04022006/04022006-19-24.pdf. [7 Juni 2009]
BATAN. 2006. Teknologi Polimerisasi Radiasi untuk Peningkatan Mutu Kayu.
Pusat Diseminasi Iptek Nuklir.
www.warintek.ristek.go.id/nuklir/polimerisasi_kayu.pdf. [7 Juni 2009]
Bodig J. And B.A. Jayne. 1993. Mechanics of Wood and Wood Composites. Krieger
Publishing Company. Florida.
Chang HT, Chang ST. 2002. Moisture Excluding Efficiency and Dimensional
Stability of Wood Improved by Acylation. Bioresource Tech. (85) 201 204.
Deka, M & CN Saikia. 2000. Chemical modification of wood with thermosetting
resins: effect on dimensional stability and strength property.
Regional Research Laboratory, Council of Scientific and Industrial Research,
Jorhat-India. [4 November 2007].
Devi RR., T.K. Maji, A.N. Banerjee. 2003. Studies on Dimensional Stability and
Thermal Properties of Rubber Wood Chemically Modified with Styrene and
Glycidyl Methacrylate. Bioresour. Technol. 88(185).
Djoko G., R. Hilmato, A. Tusi. 2007. Rekayasa Pemadatan dan Pengawetan Kayu
Non Komersial Menggunakan Limbah Oli Bekas untuk
Bangunan
Pertanian.
Laporan Penelitian Proyek Pengkajian dan Penelitian Ilmu
Pengetahuan Terapan. Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada
Masyarakat, Dirjen Dikti, Depdiknas. Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Lampung.
Haygreen, JG & JL Bowyer. 1996. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu: Suatu Pengantar.
Terjemahan SA Hadikusumo. Ed: S Prawirohatmodjo. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Hill CAS. 2006. Wood Modification: Chemical, Thermal and Other Processes.
John Wiley & Sons, Ltd. England.

144

Kalnins M.A. 1966. Surface Characteristics of Wood as They Affect Durability of


Finishes. US Forest Serv. Res. Pap. FPL 57.
Plackett DV., Elisabeth AD., Adya P. Singh. 1996. Weathering of Chemically
Modified Wood, in Chemical Modification of Lignocellulosic Materials. David
N. -S. Hon. (Edt). Marcel Dekker, Inc. New York.
Pastore, TCM., Kelly O.S., Joel C.R. 2004. A Spectroscopy Study on Effect of
Ultraviolet Irradiation of Four Tropical Hardwoods. Bioresource Tech
93(37-42).
Rommel, E. 2001. Pengaruh Tekanan Steam pada Peningkatan Karaktersitik dan
Kualitas Kayu Glugu. Perpustakaan Perguruan Tinggi Kesatuan Bogor.
digilib.stiekesatuan.ac.id/gdl.php?mod...op...jiptumm...kayu (22 Juni 2009).
Rowell, RM. 1996. Physical and Mechanical Properties of Chemically Modified
Wood. In Chemical Modification of Lignocellulosic Materials. Hon DNS
(Edt). Marcel Dekker, Inc. New York.
Sulistyawati I, N. Nugroho, S. Surjokusumo, Y.S. Hadi. 2008. Kekuatan Lentur Glued
Laminated (Glulam) Kayu Vertikal dan Horizontal dengan Metode
Transformed Cross Section . J. Tropical Wood Science and Technology Vol. 6
(2). jurnalmapeki.biomaterial-lipi.org/jurnal/06022008/06022008-49-55.pdf. [7
Juni 2009]
Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood: Structure, Properties,
Utilization. Van Nostrand Reinhold. New York.
Zabel RA. and Morrell JJ. 1992. Wood Microbiology: Decay and Its Prevention.
Academic Press, Inc. New York.

145