Anda di halaman 1dari 6

Rosaria Puspasari

240210120119
V.

PEMBAHASAN
Analisis gravimetri dapat diartikan sebagai dari suatu analisis dimana suatu

zat yang akan ditentukan, dipisahkan, kemudian diakhiri dengan menimbang zat
tersebut. Oleh karena itu, penentuan jumlah zat didasarkan pada penimbangan, dalam
hal ini penimbangan hasil reaksi setelah bahan yang dianalisa direaksikan. Hasil
reaksi ini dapat berupa sisa bahan atau suatu gas yang terbentuk atau suatu endapan
yang dibentuk dari bahan yang dianalisa (Harjadi, 1990).
Menurut Khopkar (2007), analisis gravimetri adalah proses isolasi dan
pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Sedangkan gravimetri itu sendiri
adalah analisa kuantitatif yang menggunakan massa sebagai langkah utama dalam
melaksanakan analisanya. Dalam analisis gravimetri endapan yang dihasilkan
ditimbang dan dibandingkan dengan berat sampel. Berdasarkan macam yang
ditimbang itu dapat dibedakan cara-cara gravimetri yaitu evolusi dan pengendapan.
Metode gravimetri untuk analisis ini biasanya selalu didasarkan pada suatu prinsip
reaksi kimia, sebagai berikut :
aA + rR

AaRr

Dalam menimbang suatu zat atau bahan terlebih dahulu kita harus mengetahui
data kualitatif dari bahan tersebut. Pemisahan dapat dilakukan dengan cara :
a) Pembentukkan endapan yang sukar larut, lalu endapan disaring, dicuci,
dikeringkan atau dipijar kemudian ditimbang.
b) Penggunaan sifat volatilitas dan zat yang akan ditentukan diperoleh dengan
cara penyulingan. Hasil reaksi ditampung kemudian ditimbang atau
berkurangnya berat cuplikan karena penyulingan dapat diukur.
c) Pengendapan logam yang murni pada katoda secara elektrolisis.
Praktikum kali ini sampel yang diujikan adalah CuSO4. Percobaan ini
dilakukan untuk menentukan suatu zat yang rumus hidratnya belum diketahui yaitu
CuSO4.xH2O. Nilai x tersebut yang akan dicari dengan menggunakan analisa
gravimetri.Hidrat merupakan istilah yang dipergunakan dalam senyawa organik
maupun senyawa anorganik untuk mengindikasikan bahwa zat tersebut mengandung
air. Metode gravimetri memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada

Rosaria Puspasari
240210120119
konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat digunakan
(Khopkar,1990).
Salah satu masalah yang paling sulit dalam analisis gravimetri dengan metode
pengendapan adalah memperoleh endapan dengan derajat kemurnian yang tinggi. Hal
ini berhubungan dengan adsorpsi pada permukaan partikel dan terperangkapnya zat
asing selama proses pertumbuhan kristal dari partikel primernya. Pengotoran dapat
juga disebabkan karena pengendapan yang terjadi pada permukaan endapan pertama.
Setelah itu dilakukan pencucian endapan, tujuannya adalah untuk menghilangkan
kontaminasi pada permukaan. Untuk pencucian, digunakan larutan elektrolit kuat dan
haru mengandung ion sejenis dengan endapan untuk mengurangi kelarutan endapan.
Selain itu, larutan harus mudah menguap agar untuk menimbang endapannya. Setelah
itu, dilakukan pemanggangan.
Metode yang biasa digunakan dalam pemisahan, diantaranya adalah :
1.

Pembentukan endapan yang sukar larut, lalu endapan disaring, dicuci,


dikeringkan atau dipijar kemudian ditimbang.

2.

Metode penyulingan. Metode ini memanfaatkan sifat volatilitas dari suatu zat
kemudian hasil reaksi ditampung dan ditimbang atau berkurangnya berat
cuplikan karena penyulingan dapat diukur.

3.

Metode elektrolisis dengan mengendapkan suatu logam yang murni pada


katoda.
Dalam menentukan hasil penimbangan atau pengukuran sering terjadi adanya

ketidaksempurnaan, untuk itu terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi


untuk melakukan perhitungan analisis dengan metode gravimetri, yaitu :
1. Komponen yang ditentukan harus dapat mengendap secara sempurna (sisa analit
yang tertinggal dalam larutan harus cukup kecil, sehingga dapat diabaikan),
endapan yang dihasilkan stabil dan sukar larut.
2. Endapan yang terbentuk harus dapat dipisahkan dengan mudah dari larutan
(dengan penyaringan).
3. Endapan yang ditimbang harus mempunyai susunan stoikiometrik tertentu (dapat
diubah menjadi sistem senyawa tertentu) dan harus bersifat murni atau dapat
dimurnikan lebih lanjut (Vogel, 1990).

Rosaria Puspasari
240210120119
Pada praktikum ini sampel yang diujikan adalah CuSO4. Percobaan ini
dilakukan untuk menentukan suatu zat yang rumus hidratnya belum diketahui yaitu
CuSO4.xH2O. Nilai x tersebut yang akan dicari dengan menggunakan analisa
gravimetri.Hidrat merupakan istilah yang dipergunakan dalam senyawa organik
maupun senyawa anorganik untuk mengindikasikan bahwa zat tersebut mengandung
air.
Pertama-tama pada praktikum yaitu dipersiapkan cawan. Cawan lalu
dipanaskan dalam tanur. Pemanasan ini dilakukan untuk menghilangkan pengotor
dalam cawan seperti lemak pada jari-jari tangan saat memegang cawan. Pemanasan
dilakukan selama 15menit. Cawan tersebut didinginkan dalam desikator selama 20
menit. Pendinginan ini dilakukan agar bobot cawan pada saat ditimbang konstan
karena bobot suatu benda di pengaruhi oleh suhunya. Pendinginan dilakukan dalam
desikator agar uap air yang pada udara tidak masuk ke dalam pori-pori cawan.
Desikator memiliki RH yang konstan sehingga udara dalam desikator tidak
mempengaruhi berat cawan.

Cawan ditimbang sampai berat konstan., hal ini

menunjukkan tidak adanya zat pengotor lagi dalam cawan.


Cawan serta sampel dipanaskan dengan masing-masing alat pemanas sampai
berwarna putih yang menandakan air dalam terusi hilang karena Beberapa senyawa
hidrat berbeda warna dengan senyawa anhidratnya. Hidrat CuSO 4.5H2O berwarna
biru sedangkan anhidrat CuSO4 berwarna putih. Jadi perubahan warna ini bisa kita
jadikan sebagai indikasi perubahan dari hidrat ke anhidrat atau sebaliknya. Setelah
berwarna putih, didinginkan dalam desikator selama 20 menit. Cawan ditimbang
sampai berat konstan. Hitung hidrat yang terkandung dalam sampel. Perbandingan
antara mol anhidrat dengan mol air yag dilepaskan oleh hidrat dapat kita jadikan
patokan sebagai cara untuk menentukan formula senyawa hidrat, lalu dilakukan
perhitungan untuk menentukan rumus hidrat yang terkandung dalam sampel, yaitu
dengan menggunakan rumus yang biasa digunakan dalam analisis gravimetri :
W awal sampel
W awal sampelW sampel setela h tanur
=
BM Sampel+ x BM H 2 O
x BM H 2 O
perbandingan mol sama dengan perbandingan koefisien, dimana n= gram/Mr.

Rosaria Puspasari
240210120119
a gram : b gram : (a-b) gram

( ab )
a
b
:
:
Mr sampelx H 2 O Mr Sampe ; Mr H 2 O
1

( ab )
b
x=
1
Mr sampel
Mr H 2 O
x=

( ab )
Mr sampel

Mr H 2 O
b

Tabel 5.1.Penentuan Rumus Hidrat Cawan Porselen


Kel
Sampel
a
b
1
CuSO4
1.9812
1.2529
2
CuSO4
2.018
1.2859
3
CuSO4
1.9988
1.2621
5
CuSO4
1.9903
0.7384
7
CuSO4
2
1.2785
6
MgSO4
2.0059
0.9857
8
MgSO4
2.0065
1.2785
10
MgSO4
1.9813
0.9753
(Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2013)

a-b
0.7283
0.7321
0.7367
1.2519
0.7215
1.0202
0.7280
1.0060

x
5.150888
5.044886
5.172316
15.02333
5.000619
6.900003
3.796115
6.876517

Maka dari hasil perhitungan, didapat rumus hidrat dari sampel CuSO4 untuk
kelimakelompok berturut-turut adalah 5.15, 5.04, 5.17, 15.0 dan 5,00.Berarti rumus
senyawa dalam sampel adalah CuSO4.5H2O(diambil nilai pembulatannya). Pada
analisis ini terjadi perbedaan nilai yang didapat dengan nilai literatur yang seharusnya
bernilai 5. Kemungkinan penyebab adalah air yang belum 100% menguap dan atau
kontaminasi zat pengotor selama proses penyiapan sampel sampai produk.
Menurut Underwood (1986), kesalahan dalam gravimetri dibagi menjadi dua,
yaitu endapan yang tidak sempurna dari ion yang diinginkan dalam cuplikan dan
gagal memperoleh endapan murni dengan komposisi tertentu untuk penimbangan.
Faktorfaktor penyebabnya adalah :
1.
2.
3.
4.

Kopresipitasi dari ion-ion pengotor


Postpresipitasi zat yang agak larut
Kurang sempurna pencucian
Kurang sempurna pemijaran

Rosaria Puspasari
240210120119
5.
6.
7.
8.

VI.

Pemijaran berlebih sehingga sebagian endapan mengurai


Reduksi dari karbon pada kertas saring
Tidak sempurna pembakaran
Penyerapan air atau karbondioksida oleh endapan

KESIMPULAN
1. Analisis gravimetri merupakan cara analisis dimana suatu zat yang akan
ditentukan, dipisahkan, kemudian diakhiri dengan menimbang zat tersebut.
2. Prinsip gravimetri dapat digunakan untuk menentukan rumus hidrat dalam
suatu senyawa.
3. Perubahan warna terusi menjadi putih seluruhnya pada saat dipijarkan dalam
tanur menunjukkan bahwa air yang terkandung di dalamnya telah teruapkan.
4. Pemanasan dengan menggunakan oven kurang baik karena menghasilkan
sampel yang kurang sempurna sehingga perhitungnnya tidak tepat.

Rosaria Puspasari
240210120119
5. Rumus yang digunakan dalam analisis gravimetri adalah
Berat Awal
Berat AwalBerat Ak h ir
=
BM Sampel . x H 2 O
x (18)

DAFTAR PUSTAKA
Harjadi, K.1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia : Jakarta
Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press : Jakarta
Vogel, A.I. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik Edisi 4. EGC : Jakarta