Anda di halaman 1dari 95

SSN 1412-9183

Volume 9 Nomor 1, Maret 2010

JURNAL ILHIAH
LINGUA
PUSAT PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI BAHASA ASING LIA JAKARTA
Penasihat
Prof. Dr. Ida Sundari Husen
Penanggung Jawab
Dr Askalani M unir.
Penyunting Penyelia
Askalani Munir, M. Pd.
Penyunting Pelaksana
Agus Wahyudin, M.Pd.
Penyunting TamulPenelaah Ahli
Dr. Agus Aris Munandar
Sekretaris
Agus Wahyudin, M.Pd.
Tata Usaha
Tety Kurniati
Alamat Redaksi
Jalan Pengadegan Timur Raya No.3
Pancoran, Jakarta 12770
Telepon (021) 79181051, Faksimile (021) 79181048
E-mail: askalanimunir@Yahoo.com

ISSN 1412-9183

Masalah Pilihan Kata dalam PeneIjemahan: Menciptakan


Kata Barn atau Menerima Kata Pinjaman?
(Ida Sundari Husen)

1-15

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang


Mengikuti Ujian Kemampuan Bahasa Jepang
Periode 2005-2007 (Puspa Mirani Kadir)

16--39

Pemahaman Kata yang Menunjukkan Tempat dan Arah dalam


Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia (Dewi Kania Izmayanti)

40-46

Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner


tentang Variasi dan Perubahan Bahasa (Wahya)

47-68

Nilai Moral Shudanshugi dan Munculnya Fenomena Ijime


(Ekayani Tobing)

69-88

>

Sejumlah tulisan kembali hadir dalam volume 9, Nomor 1, Maret 2010.


Terbitan kali ini memuat lima tulisan dengan topik-topik yang menarik. Semua
itu disajikan untuk para pembaca setia UNGt/A.
Tulisan tentang Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan dapat
dijadikan referensi bagi para peneIjemah. Memilih kata temyata bukan hal yang
mudah dalam peneIjemahan. Salah memilih kata dapat mengakibatkan
kesalahan dalam mengalihkan pesan. Temyata, banyak kesulitan dialami para
penerjemah. Apa saja itu? Ikuti kajian secara detail dari Prof. Dr. Ida Husen ini.
Tulisan berikut juga menarik untuk diperhatikan sebab jika berkeinginan
untuk mengikuti UKBJ (Uji Kemampuan Bahasa Jepang), Anda harns
memerhatikan (1) kemahiran kosakata, (2) kemampuan menyimak, (3)
keterampilan tata bahasa, dan (4) kemampuan memahami teks. Anda berminat?
Silakan pahami lebih lanjut dalam tulisan ini.
Tidak hanya itu yang perlu Anda baca, berikutnya Kata yang

Menunjukkan Tempat dan Arah dalam Bahasa Jepang dan Indonesia harns
dipahami. Jika tidak memahami, Anda akan salah mengartikan.
Walaupun mengambil judul sekilas, temyata Mengenal Sekilas

Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi dan Perubahan Bahasa


dibahas tidak sekilas. Seperti apa variasi dan perubahan bahasa yang sekilas itu?
Dr. Wahya akan menjelaskan kajian tersebut dalam tulisannya.
Dari awal dibicarakan tentang linguistik beserta aplikasinya, kini giliran
budaya Jepang dengan judul Nilai Moral Shudanshugi dan Fenomena

Munculnya ijime. Apa yang dimaksud dengan shudanshugi dan ijime itu?
Bagaimana hubungan antara nilai moral shudanshugi dan fenomena ijime?
Redaksi

MASALAH PILIHAN KATADALAM PENERJEMAHAN:


MENCIPTAKAN KATA BARU ATAU MENERIMA KATA
PIN.TAMAN?
Ida Sundari Husen
Ketua Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Jakarta
idahusen@Stbalia.ac.id

Abstak
Pilihan kata merupakan unsur yang penting dalam penerjemahan. Salah memilih kata
dalam penerjemahan akan mengakibatkan kesalahan pesan yang disampaikan kepada pembaca.
Persoalan memilih kata sering dialami setiap penerjemah sekalipun sudah berpengalaman.
Kesulitan-kesulitan itu di antaranya penentuan kata dengan bobot dan konotasi yang tepat,
penyerapan bahasa asing, atau pemilihan istilah atau ungkapan yang tidak ada padanannya
dalam bahasa Indonesia. Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut diperlukan kemampuan
berbahasa Indonesia, salah satunya terampil memilih kata (diksi) sehingga terjemahannya
dapat berterima.
Kata Kunci: pilihan kata, penerjemahan, pesan

Abstract
Word choice is an important element in translation. Poor diction in translation may
transfer different message to readers. Good diction is still a problem to translators even to
the experienced ones. These difficulties include the determination ofwords with the equivalent
quality and connotation, the naturalization, and term and phrase selection that have no
equivalence in Indonesian. To overcome these constraints, translators are required to master
in diction to produce natural translation.

Key Words: word choice, translation, message

Pendahuluan
Sebelum membahas apa yang menjadi topik pembicaraan, saya mgm
mengingatkan kembali apa yang dimaksud dengan penerjemahan. Beberapa
pakar linguistik yang mengkhususkan diri pada peneiitian penerjemahan
mempunyai pendapat yang mirip, tetapi diformulasikan dengan cara yang
berbeda-beda. Catford (1965), misalnya, mengatakan bahwa menerjemahkan
adalah mengganti teks dalam bahasa sumber dengan teks sepadan dalam
bahasa sasaran, sedangkan menurut Newmark (1985): "menerjemahkan makna
Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan: Mencari Kata Bam atau Menerima
Kata Pinjaman (Ida Sundari Husen)

suatu teks ke dalam bahasa lain sesuai dengan yang dimaksudkan pengarang."
Unsur-unsur yang diteliti adalah penulis teks asal, teks asal (TA), penerjemah,
teks terjemahan (TT), dan pembaca. Dalam perkembangan selanjutnya unsur
yang diteliti bertambah dengan situasi komunikasi, citra mental penerjemah,
latar belakang budaya penulis, dan pembaca potensial.
Dengan kata sederhana dapat didefinisikan bahwa menerjemahkan adalah
mema-hami suatu teks (berbahasa asing) untuk membuat orang lain paham
(dalam bahasa sendiri). Penerjemah adalah perantara yang mengomunikasikan
gagasan dan pesan penulis teks asli yang ditulis dalam bahasa sumber kepada
pembaca melalui bahasa lain (bahasa sasaran). Pembaca teks hasil terjemahan
harus memahami dan memperoleh kesan atau pengertian sama seperti pembaca
teks asli. Karena bahasa adalah produk budaya, kegiatan penerjemahan pada
hakikatnya adalah kegiatan antarbudaya. Dalam pengalihan pesan dari bahasa
sumber ke bahasa sasaran, terjadi pula transfer budaya yang membuat pembaca
teks terjemahan mengerti atau tidak mengerti amanat yang
Setiap bahasa memiliki sistem dan struktur sendiri (sui generis). *
Penerjemah tidak dapat memaksakan sistem dan struktur bahasa sumber pada
bahasa

sasaran

yang

dipakai

dalam

kegiatan

penerjemahan.

Untuk

mengalihkan pesan, penerjemah tidak mungkin mengalihbahasakan kata demi


kata, tetapi memindahkan secara wajar seluruh pesan/amanat ke dalam bahasa
sasaran, seperti contoh berikut.
How do you do?/How are you?
(Sd.)
Comment allez-vous?

Apa kabar?

Kumaha damang?

Dear Sir/Madam
Monsieur, Madame,

Dengan hormat,

Lihat Hoed, B.H. (1995 dan 2000)

LINGUA Vo\.9 No.1, Maret 1-15

Seperti telah dikemukakan di atas, kesulitan penerjemahan ditemukan


pada tahap pengalihan pesan, pengalihan bentuk (struktur, ungkapan, dan
pemilihan kata). Walaupun

"bentuk" dapat dikorbankan demi pengalihan

pesan,

sastra

penerjemah

teks

misalnya,

perlu

berusaha

keras

mengalihbahasakan ungkapan atau kata yang dipilih penulis teks asli karena
konotasi tertentu yang dikehendakinya. Oleh karena itu, dalarn penerjemahan
teks sastra, penerjemah sering mengalarni ketegangan (tension) karena
menghadapi masalah intraduisibilite [ketakterjemahan]. Narnun, penerjemah
wajib menghormati penulis dengan memilih kata, ungkapan, bahkan kalau
mungkin gaya penulis asli. Tentu saja semua harus dilakukan dalarn batas
kewajaran bahasa Indonesia. Penerjemah tidak boleh melanggar hak cipta dan
tetap sadar bahwa ia sedang menerjemahkan, bukan menulis karya sendiri
sehingga menimbulkan pemeo "La Belle infidele" 'Si Cantik yang tidak setia'.
Untuk teks yang lebih teknis sifatnya, operasional, atau fungsional, yang
harus diutarnakan adalah pesan. Adapun penerjemah karya ilmiah perlu
memiliki pengetahuan tentang teks yang akan diterjemahkannya, atau paling
sedikit ia harus berusaha untuk mencari teks-teks dalarn bahasa Indonesia
tentang topik yang sarna dan sering berkonsultasi dengan pakar dalarn bidang
tersebut. t Penerjemah tidak dapat mengandalkan karnus karena penjelasan
dalarn karnus sering tidak sesuai dengan apa yang diungkapkan dalarn karya
ilmiah. Gillest menyimpulkan bahwa penerjemahan karya sastra harus "author
oriented", sedangkan penerjemahan teks teknis harus "client oriented". Untuk

yang dimaksud dengan "klien", beberapa penulis teori mengacu pada pembaca
potensial, sedangkan yang lain mengartikan editor, penerbit, atau sponsor.

Baca: Paulus Sanjaya (2002), Anna Karina (2002) dan Esther Mokodampit (2003)
Diungkapkan pada Seminar Penerjemahan yang diselenggarakan oleh Pusat
:
Penerjemahan FIB UI April 1995

Masalah Pilihan Kata dalarn Penerjemahan: Mencari Kata Bam atau Menerima
Kata Pinjarnan (Ida Suudari Husen)

Berkaitan dengan klien ini, kegiatan penerjemahanjuga bergantung pada


ideologi (Lihat Venuti seperti yang dikutip Hoed, 2004: 39). Dalam artikel
tersebut contoh yang diberikan adalah politik domestikasi teks asli untuk
kepeduan penerjemahannya di Amerika Serikat. Saya ingin mengingatkan
hadirin tentang penerjemahan karya Shakespeare di Prancis pada abad ke-18
yang direkayasa sedemikian rupa sehingga berbau karya Racine atau Comeille
yang sedang dikagumi masa itu. Metode penerjemahannya disebut traductionannexion [penerjemahan-aneksasi] atau traduction -immitation [penerjemahan-

tiruan].

Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan

Seperti telah dikemukakan di bagian terdahulu, penerjemah hams


mengalihkan pesan atau amanat bukan mengalihbahasakan kata per kata.
Namun, pada praktiknya, dalam pengalihan pesan sering terjemahan suatu kata
pula ungkapan.

atau istilah menjadi kendala yang agak sulit diatasi,

Terkadang kedua bahasa sedemikian berbeda sehingga penerjemah dihadapkan


pada

ketidakmungkinan

(intraduisibilite!untranslatability)

menerjemahkan
Di

sinilah

suatu

dipedukan

kata

kekebijakan,

kemampuan berbahasa Indonesia, keterampilan menemukan kata yang tepat,


serta kreativitas seorang penerjemah agar teks terjemahannya dapat berterima.
Di samping itu, penerjemah pun hams mengenali apakah suatu kelompok kata
merupakan frasa, klausa, ungkapan, atau peribahasa. Misalnya, berdasarkan
konteks, ia hams segera mengerti bahwa terjemahan "Les petits ruisseaux font
les grandes rivieres" (Inggris: Great oaks from little acorns grow) bukanlah

'Selokan-selokan kecillama-lama menjadi sungai besar', melainkan 'Sedikit-

Lihat "Laporan Seminar Penerjemahan Karya Sastra" dalam Lintas Bahasa, no. 5 tahun
1996, halaman 6.

LINGUA Vo\.9 No.1, Maret 1-15

sedikit lama-lama menjadi bukit'. Terjemahan kalimat "Tel pere tel fils"
(lnggris: Like father like son) bukanlah 'Begitu bapaknya begitulah anaknya",
melainkan 'Air di cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga', sedangkan

"Tomber de Charybde en Scyilla"

'Jatuh dari Charybde ke dalam Scylla'

adalah padanan dari 'Lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya'.
Terkadang peribahasa bahasa Indonesia merupakan terjemahan harfiah dari
peribahasa Prancis atau Inggris, misalnya: "Les chiens aboient, la caravane

passe" 'Anjing menggonggong, kafilah jalan terus'; "When there is a will,


there is a way" 'Di mana ada kemauan, di sana ada jalan'.
Masalahnya muncul jika penerjemah tidak tahu padanan peribahasa
Indonesia atau memang dalam bahasa Indonesia tidak ada padanannya. Salah
satu solusi adalah mener-jemahkan makna peribahasa itu berdasarkan kamus:

"De la discussionjaillit la lumiere" 'Dari diskusi terpancar cahaya' dipadankan


menjadi 'Berkat adu pendapat muncullah solusi'.
Penerjemah juga harus mengenali (berdasarkan konteks) bahwa frasa
yang ditemu-kannya adalah ungkapan, seperti di bawah ini.

II trouve sa maison sens dessus dessous (arah atas bawah): Ia menemukan


rumah-nya berantakan.
Apres quelques jours de tete a tete (kepala pada kepala), ils sont obliges
de se separer: Setelah berduaan beberapa hari, mereka terpaksa harus berpisah.
Setelah melihat contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa seorang
penerjemah harus menguasai bahasa sumber dan bahasa sasaran. Ia tidak hanya
dituntut untuk memahami bahasa sumber tertulis, tetapi juga sigap menemukan
padanan dalam bahasa sasaran serta mampu menuangkannya dalam tulisan
yang tepat.
Apabila kata-kata yang terangkai dalam klausa atau kalimat memiliki
padanan

dalam

bahasa

Indonesia,

penerjemah

Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan: Mencari Kata Barn atau Menerima
Kata Pinjaman (Ida Sundari Husen)

dengan

mudah
5

menerjemahkannya. Yang menjadi masalah dalam pemilihan padanan dalarn


hal ini adalah

pencarian padanan kata yang memiliki "bobot" atau yang

disebut Machali "kekuatan" (Machali, 2000: 81-82) yang sarna. Hal ini tidak
hanya berlaku untuk karya sastra, tetapi juga dalarn teks umum, seperti contoh
berikut.
The Non-aligned is determined to actively participate [.... ]

Gerakan Nonblok merasa terpanggil untuk ikut serta [....]


Gerakan Nonblok berketetapan untuk secara aktifberperan serta [.....]
Ia berpendapat bahwa kata ''terpanggil'' tidak memiliki kekuatan yang sarna
seperti "is determined", lebih baik digantikan oleh "berketetapan".
Ketika perselisihan antara Indonesia dan Portugal masih berlangsung,
koran-koran Indonesia biasa menulis "Timor Timur berintegrasi dengan
Indonesia pada tahun 1975", tetapi berita yang sarna akan muncul di surat
kabar Eropa (kawan-kawan Portugis) sebagai berikut "Timor Timur dianeksasi
oleh Indonesia pada tahun 1975". Dalarn hal ini tarnpak jelas bahwa
penerjemahan kata "bergabung" sangat dipengaruhi oleh ideo-logi yang
menyebabkan pilihan kata yang berbeda konotasinya.
Kata-kata yang sulit dicarikan padanannya biasanya menyangkut unsur
budaya materi, religi, sosial, organisasi sosial, adat istiadat, kegiatan, prosedur,
bahasa isyarat, ekologi (Newmark: 1988: 95, seperti yang dikutip oleh
Nababan, 2004). Masalahnya, terkadang padanan kata itu ada dalarn bahasa
Indonesia, tetapi konotasinya berbeda. Kata tersebut dalarn teks asal memiliki
berbagai makna yang harns dipilih dengan jeli oleh penerjemah. Memang
persoalan memilih makna kata itu merupakan masalah permanen dalarn
penerjemahan yang dapat membuat kesal penerjemah. Penerjemah telah paharn
apa yang dimaksud pengarang, tetapi mendapat kesulitan bagaimana
menuangkannya dalarn bahasa Indonesia dalarn satu kata atau istilah. Contoh6

LfNalJA Vol.9 No.1, Maret 1-15

contoh berikut kita akan dihadapkan pada kasus pencanan padanan yang
menyangkut kebiasaan sehari-hari (pranata sosial, makanan-minuman, dlL),
istilah keagamaan, istilah kekerabatan, kata ganti orang, nama diri, sebutan,
gelar, kata sapaan, nama peralatan, tumbuh-tumbuhan, bunga-bungaan, buahbuahan, dan hewan.
1. Istilahlkata yang Memiliki Padanan dalam Bahasa Indonesia
a. Beberapa kata sebenarnya ada padanannya dalam bahasa Indonesia, tetapi

dengan makna yang lebih luas, misalnya ricelriz yang dapat berarti
padiiberaslnasi. Dalam hal ini, konteks sangat menentukan padanan kata

yang dimaksud.
b. Suatu kata dari bahasa sumber dapat memiliki makna ganda dan

mempunyai dua padanan dalam bahasa Indonesia, misalnya table yang


dapat berarti meja atau tabel. PeneIjemah harus memilih mana yang paling
cocok dengan konteksnya.
c. Banyak juga kata-kata yang sebetulnya memiliki padanan dalam bahasa

Indonesia, tetapi dengan konotasi khusus, misalnya:


(1) cafeinelkitchen

dapur;

(2) fa

warung kopi;

(3) cuis undry

binatu, tukang cuci;

(4) lingerie

baju dalam;

(5) boutique

toko kecil/warung

-7 butik

toko dengan

barang-barang yang eksklusif.


Rasa rendah diri dan kebiasaan berbahasa orang Indonesia tampaknya
ikut me-nentukan dalam pengadopsian atau peminjaman istilah-istilah
asing tersebut. Istilah "dapur" digunakan untuk dapur tradisional yang
kotor, sedangkan kalau dapur itu bersih dan modem namanya kitchen.
Dari istilah itu muncul kitchen-set di mana-mana. Sama halnya dengan
Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan: Mencari Kata Barn atau Menerima
Kata Pinjaman (Ida Sundari Husen)

keempat istilah lain di atas. Ada yang dipinjam secara utuh dalam bentuk
aslinya, ada pula yang secara perlahan-lahan diserap menjadi bahasa
Indonesia, seperti cafe atau kafe.
Dalam

petunjuk-petunjuk

peneljemahan

senng

dikatakan

bahwa

penerjemah hams menggunakan padanan istilah yang digunakan di Indonesia.


Namun, terkadang penerje-mah dihadapkan pada pilihan yang sulit, misalnya
teljemahan istilah "ministere" dari bahasa Prancis yang padanannya adalah
"kementrian". Di Indonesia kini digunakan istilah "departemen", sedangkan di
Prancis pun mempunyai istilah "departement" yang mengacu kepada lembaga
yang lain sama-sekali. Simpulannya, yang mungkin dapat dipilih adalah istilah
"kementrian" untuk menunjukkan bahwa di Prancis istilah itulah yang dipakai.

2.

IstilahIKata yang Tidak Ada Padanannya dalam Bahasa Indonesia


Terkadang istilah budaya itu tidak ada padanannya dalam bahasa

Indonesia, misalnya sebagai berikut.

a. La dot

diteljemahkan dengan parafrasa "bekal perkawinan", disertai

penjelasan pada catatan kakilbelakang: warisan keluarga yang diberikan


kepada seorang gadis pada hari perkawinannya.
b. Istilah-istilah budaya yang menyangkut adatlkebiasaan, bangunan, uang,

makanan dan minuman:


(1) vendetta

= vendetta (dicetak miring) + catatan kaki;

(2) chateau

chateau (dicetak miring) + catatan kaki;

(3) franc, louis, sou, pound sterling dipinjam dengan dicetak miring dan
catatan kaki;
(4) croissant, rhum, genievre, dipinjam dengan dicetak miring dan catatan

kaki.

LfNGIJAVo1.9No.I,Maret 1-15

c.

Nama Diri, Julukan, Gelar, dan Sapaan


Nama diri biasanya dialihkan sebagairnana adanya, untuk rnenunjukkan
bahwa nama-nama itulah yang dipakai di negeri berbahasa sumber,
rnisalnya: Aucassin, Nicolette, Therese, dU. (bukan Nikoleta dan Teresa).
Khusus untuk nama Superchat dari suatu cerita anak-anak, dibuat kreasi
baru dengan rnenciptakan Superkucing yang dengan rnudah rnengingatkan
anak-anak

pada

Superman.

Julukan

terkadang

terkadang

tidak

ditetjernahkan, rnisalnya:
Le Tondu

Si Gundul;

Le petit caporal

Si Kopral yang kontet Gulukan untuk Napoleon).

Namun, saya rnernbiarkan "La Marquise" dan "Mademoiselle Fiji" karena


ber-pendapat bahwa tetjernahan istilah akan rnenghilangkan "bobot"
julukan itu. Di samping itu, untuk La Marquise saya rnendapat kesulitan
untuk rnernilih gelar kebangsawanan yang "sepadan": Bu Raden Ayu? Bu
Rangkayo? Sernentara itu, istilah Madame dan Monsieur ditetjernahkan

"Ibu" dan "Bapak", tetapi terkadang tidak, bergantung pada situasi. Gelar
Maitre, Baron, Comte, Marquis, tidak ditetjernahkan karena tidak ada

padanannya dalam bahasa Indonesia. Sernua kata asing dicetak miring dan,
jika perlu, diberi penjelasan pada catatan kaki.
d. Masalah juga tirnbul dalam penetjernahan istilah keagamaan, seperti frere/
brother, pasteur, abbe karena pernakaian istilah di seluruh Indonesia tidak

seragarn, rnisalnya istilah "rorno" hanya dipakai di Jawa. Berhubung bukan


Katolik, saya harus minta penjelasan dari ternan-ternan yang beragama
Katolik. Dernikian juga untuk rnencari padanan istilah untuk upacara,
benda-benda, serta bagian-bagian gereja. Untuk yang terakhir, kamus
visual sangat rnernbantu.

Masalah Pilihan Kata dalam Peneljemahan: Meneari Kata Bam atau Menerima
Kata Pinjaman (Ida Sundari Husen)

c.

Istilah kekerabatan juga menjadi persoalan. Di Indonesia, orang yang lebih


muda selalu menambahkan sebutan abang, kakak, mas, bapak, ibu,

paman/om, dll. jika ia menyapa orang yang lebih tua, sedangkan di Barat,
hal itu sering tidak diperlukan. Saya merasakan keganjilan ketika istilah

"Aa" (dalam bahasa Sunda) tidak diterjemahkan atau dipinjam dalam


terjemahan "Perjaianan Pengantin " dalam bahasa Prancis. Pesan memang
sampai, tetapi ada unsur budaya yang tidak dialihkan. Sebaliknya, dalam
penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia, saya bingung memilih, istilah
kekerabatan daerah mana yang harus dipilih? Sebetulnya saya segan
memilih "am" karena istilah Belanda, tetapi menggunakan istilah "paman"
untuk lingkungan tertentu kesannya sangat artifisial, tidak sesuai dengan
kenyataan.
f.

Kata ganti orang pertama dan kedua yang tampaknya sederhana dan
banyak dipakai dalam kegiatan sehari dalam penerjemahan karya sastra
menimbulkan masalah karena pemakaiannya di Indonesia belum seragam.
Saya pribadi biasa memakai pasangan "saya--canda" dan "aku-kamu".
Namun, pilihan itu pemah dikoreksi oleh seorang editor yang
menambahkan "engkau". Demikian juga pemakaian "ia" dan "dia"
tampaknya belum seragam. Dalam menerjemahkan cerita anak-anak, saya
menyadari sepenubnya bahwa anak-anak masa kini menggunakan kata
ganti "gue dan [u/io" dalam percakapan mereka. Saya berpendapat bahwa
salah satu misi penerjemah adalah juga membina kebiasaan berbahasa
yang baik. Saya mengharapkan bahwa dengan seringnya membaca, anakanak akan berbahasa lebih baik. Televisi pun seharusnya memberikan
dukungan dengan mewajibkan semua orang yang tampil di layar kaca
menggunakan bahasa Indonesia yang "baik" sekalipun hal itu mungkin
sekarang tampak "artifisial" berhubung perusakan bahasa percakapan

10

UN4lJA Vo\.9 No.1, Maret 1-15

resmi semakin memprihatinkan. Dalam buku anak-anak Prancis pun


digunakan bahasa yang "resmi", yang baik dan benar. Dalam
kenyataannya, walaupun sudah belajar bahasa Prancis se1ama puluhan
tahun, mungkin saya tidak dapat memahami percakapan anak-anak di
negeri itu, apalagi percakapan remaja karena mereka

bahasa

"gaul". Saya pernah mengalami kesulitan dalam pemilihan kata ganti


dalam suatu karya sastra. Tokoh suami-istri dalam karya itu, dari kalangan
borjuis kelas atas di Paris, menggunakan kata ganti "vous" (anda) untuk
saling menyapa. Sebetulnya padanannya mungkin "maslabanglakang",
tetapi karena istilah itu tidak berlaku umum di seluruh Indonesia, saya
memutuskan untuk menggunakan "anda".
g.

Untuk nama tumbuh-tumbuhan, bunga, dan hewan tidak ada jalan lain
selain memin-jamnya

dengan tulisan miring, dan kalau perlu dengan

catatan kaki, misalnya bunga marguerite, anemon, tilleul, ikan truite, dan
salmon. Pada kesempatan ini perlu disampaikan bahwa ada beberapa kata

dalam bahasa Indonesia yang masuk atau dipinjam dalam kamus Prancis,
antara lain durian, bambou, dan orang outang. Seperti telah disampaikan
di bagian terdahulu, penerjemahan teks teknik dan ilmiah menuntut cara
menerjemahkan yang berbeda. Penerjemah hams. memakai teks sejenis
dalam bahasa Indonesia untuk mengetahui istilah yang dipakai berhubung
informasi yang diungkapkan dalam kamus sering tidak memadai. Hal yang
lebih mungkin adalah ensiklopedi. Di samping itu, penerjemah juga harus
sering berkonsultasi dengan pakar bidang ilmu untuk memahami teks yang
sedang diterjemahkan. Idealnya penerjemah adalah pakar bidang tersebut.
Para pakar ilmu sering tidak begitu menguasai bahasa asing teks asal.
Sebaiknya, mereka bekerja sama dengan penerjemah yang menguasai
bahasa teks tersebut. Solusi lain adalah agar penerjemah mengkhususkan
Masalah Pilihan Kata dalam Peneljemahan: Mencari Kata Barn atau Menerima
Kata Pinjaman (Ida Sundari Busen)

11

diri dalam. satu bidang ilmu karena sebenarnya struktur dan istilah yang
dipakai lebih terbatas sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama akan
dapat menerjemahkan dengan lancar dan mudah. Mengenai petunjuk
pemakaian suatu alat, sebaiknya penerjemah melihat sendiri alat tersebut
dan mengerti cara berfungsinya agar hasil terjemahannya benar-benar operasional.
Saya pribadi belum banyak pengalaman dalam penerjemahan teks
teknik. Menurut pengalaman yang masih terbatas itu, ada beberapa catatan.
1. Istilah teknik yang dipakai di Indonesia belum seragam, misalnya istilah
dapur dan tanur. Dalam hal ini, penerjemah perlu meminta bahan dari

beberapa industri atau perguruan tinggi untuk mencari istilah yang lebih
populer.
2. Sering para ilmuwan atau kalangan industri lebih menyukai istilah
Inggrisnya. Usaha penerjemah untuk mengindonesiakan istilah dari bahasa
asing selain Inggris dipandang sebagai berbau

dan tidak sesuai

dengan kenyataan.
3. Terkadang ada istilah asing yang diadopsi dalam bahasa Indonesia melalui
bahasa asing lain dan memiliki makna berbeda. Hal ini saya alami waktu
menerjemahkan Indochina dari bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia.
Saya menemukan istilah yang mengacu pada hiasan dekorasi candi yang
bentuknya tetap seperti kata Prancis, tetapi datang di Indonesia melalui
Belanda maknanya berbeda.
Agar contohnya lebih mutakhir, saya akan mengambil contoh-contoh
dari laporan penelitian tiga orang lulusan Program Spesialisasi 1 Penerjemahan
FIB UI tentang istilah kedirgantaraan (PT IPTN), perlistrikan, dan teknologi
komunikasi seluler.Tampaknya yang sudah membuat standardisasi hanyalah
bidang perlistrikan berkat tim khusus yang dibentuk Direktorat Jenderal Listrik
12

LINGUA Vo1.9 No.1, Maret 1-15

dan Pengembangan Energi. TeIjemahan istilah teknik tidak mengalami


kesulitan. Istilah yang bermasalah adalah yang "dipinjam" dari khazanah istilah
umum, misalnya alimentation (makanan), transfer, hand over (penga-lihan). Di
samping itu, usaha yang juga menghambat untuk memopulerkan istilah barn
adalah kebiasaan buruk orang Indonesia menggunakan istilah Inggris. Dengan
kata lain, orang Indonesia keengganan memopulerkan istilah bam dalam
bahasa Indonesia, misalnya sector mapping 'pemetaan sektor', mounting
cabling 'pemasangan kabel', hand over 'pengalihan frekuensi'.

Pada beberapa tahun terakhir banyak diterbitkan kamus istilah berbagai


bidang. Mudah-mudahan istilah-istilah yang ditawarkan sudah dapat diterima
oleh semua kalangan, termasuk perguruan tinggi.

Penutup

Memilih kata yang tepat pada hakikatnya merupakan pekeIjaan rutin


peneIjemah dalam usahanya mengalihkan pesan dari teks berbahasa sumber ke
dalam

teks

terjemahan

yang

akan

ditulisnya.

Seorang

peneIjemah

berpengalaman sekalipun pasti selalu mengalami kesulitan mencari kata yang


tepat, dengan bobot dan konotasi yang tepat, yang akan mendorongnya untuk
menciptakan kata bam, mengindonesiakan kata asing atau "meminjam" kata
tersebut. Teks bam akan memberinya kesulitan lain. Bedanya dengan
peneIjemah bam adalah bahwa pengalaman telah memberinya cara untuk
meng-atasi kesulitan itu lebih cepat.
Berhubungan dengan hal di atas, pekeIjaan meneIjemahkan adalah
pekeIjaan yang memerlukan keuletan, kesabaran, dan terutama kecintaan pada
pekeIjaan yang dapat me-maksanya untuk duduk beIjam-jam di depan
komputer atau beIjalan ke sana ke mari untuk berkonsultasi atau mencari bahan
pendukung pekeIjaannya.
Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan: Mencari Kata Baru atau Menerima
Kata Pinjaman (Ida Sundari Husen)

13

DAFTAR PUSTAKA
Anna Karina. 2002. Analisis Peristilahan Peluncur Roket dalam Lintas Bahasa
no. 20,211X/12/2002. Jakarta: Penerbitan Pusat Penerjemahan FIB UI.
Catford, J.C. 1965. A Linguistic Theory of Translation. London: Oxford
University Press.
Durieux, C. 2000. "Kreativitas dalam Penerjemahan Teknik" dalam Enseigner
la Traduction, no. 1, April. Jakarta: PPKB, LPUI & Kedutaan Besar
Prancis, hlm. 77-87.
Hoed, B.H. et al. 1993."Pedoman Umum Penerjemahan" dalam Lintas Bahasa
edisi khusus, no. 1 Juli 1993. Jakarta: Pusat Penerjemahan FIB UI.
Hoed, B.H.1995. "Prosedur Penerjemahan dan Akibatnya" dalam dalam Lintas
Bahasa no. 2, 3 Maret 1995. Jakarta: Pusat Penerjemahan FIB UI.
2002. "Penerjemahan Unsur Budaya" dalam Lintas Bahasa no. 20, 21,
10 Desem-ber 2002. Jakarta: Pusat Penerjemahan FIB UI.
2004. "Liberte en Traduction, Skopos et Ideologie" dalam La
Francophonie dans les Pays non Francophones. Acte du Colloque
International 2004. Association des Professeurs de Franyais
d'Indonesie.
Husen, Ida Sundari. 1996. Laporan Seminar Penerjemahan Karya Sastra dalam
Lintas Bahasa no. 5, 4 April 1996. Jakarta: Pusat Penerjemahan FIB
UI.
Hidayat, Rahayu Surtiati. 1996. Penerjemahan sebagai tindak Komunikatif
(Pidato Ilmiah pada HUT FIB tanggal 5 Desember 1996)
2002. "Deverbalisasi sebagai Proses Terjemahan" dalam Lintas Bahasa
no. 20, 21, 10 Desember 2002. Jakarta: Pusat Penerjemahan FIB UI.
Machali, Rochayah. 2000. Pedoman Bagi Penerjemah. Jakarta: PT Grasindo.
Mokadampit, Esther. 2003. Analisis Peristilahan Telekomunikasi Seluler dalam
Lintas Bahasa no. 23/XI/8/2003. Jakarta: Penerbitan Pusat
Penerjemahan FIB UI.
Nababan, M.R. 2004. "Penerjemahan dan Budaya" in Proceeding Seminar
Nasional Linguistik. Peran Bahasa sebagai Perekat Keberagaman Etnik.
Yogyakarta: Cine Club. Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Yogyakarta.

14

LINGUA Vol.9 No.1, Maret 1-15

Newmark, P. 1988. A Text Book o/Translation. New York: Prentice Hall.


Paulus Sandjaja. 2002. Analisis Peristilahan Tenaga Listrik dalam Lintas
Bahasa no. 20,210012/2002. Jakarta: Penerbitan Pusat Penerjemahan
FIB VI.

Masalah Pilihan Kata dalam Penerjemahan: Mencari Kata Baru atau Menerima
Kata Pinjaman (Ida Sundari Husen)

15

KAJIAN KELULUSAN MAHASISWA JURUSAN SASTRA JEPANG


YANG MENGIKUTI UJIAN KEMAMPUAN BAHASA JEPANG
PERI ODE 2005-2007 *
Puspa Mirani Kadir
Pengajar Program Stud; Sastra Jepang, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran
puspamiranik@yahoo.cojp

Abstrak
Uji kemampuan bahasa Jepang (UKBJ) akan memberikan pengaruh yang besar pada
mahasiswa yang akan mempelajari ketrarnpilan yang dipersyaratkan oleh sekolah tinggi yang
bersangkutan. Mahasiswa yang merasa perlu terhadap UKBJ, walaupun tahun tertentu gagal,
akan mencobanya kembali pada tahun berikutnya. Terdapat empat kriteria yang harns
dipertimbangkan dalam Uji kemarnpuan bahasa Jepang: (1) kemahiran kosa kata, (2)
kemampuan menyimak, (3) keterarnpilan tata bahasa, dan (4) kemampuan memahami teks.
Semua kriteria tersebut saling berhubungan satu sarna lain. Kemahiran dalam kosa kata dan
kemarnpuan dalam hurufkanji Jepang akan mempengaruhi kemampuan menyimak. Demikian
pula halnya dengan ketrampilan tata bahasa. Ketrampilan tata bahasa yang rendah akan
mengakibatkan kemarnpuan pemahaman teks yang rendah pula.
Uji kemarnpuan bahasa Jepang (UKBJ) untuk tingkat dasar dibagi menjadi empat
kelompok: Level 4 adalah untuk tingkat dasar, level 3 untuk tingkat menengah, dan level 2 dan
level 1 untuk tingkat atas. Tingkat kesulitan ini sangat beragam, khususnya untukujian dari
Level 3 ke Level 2. Terdapat perbedaan yang sangat besar antara jumlah mahasiswa yang lulus
level 2 dengan jumlah mahasiswa yang lulus level 4. Jumlah mahasiswa yang lulus level 2
pada tahun 2006 sebanyak 42% dari mahasiswa yang mengilkuti ujian dan kemudian menurun
secara drastis pada tahun 2007 sebanyak 18%.
.
Kata Kunci: Uj; kemampuan bahasa Jepang, kemahiran kosa kala, kemampuan menyimak,
ketrampilan tata bahasa, kemampuan memahami teks.

Abstract
Japanese language proficiency test (UKBJ) will be a big impact for students who
want to learn more skills that have been acquired while studying in a college. Students who
feel the importance of this UKBJ and fail that year, will try the following year. Four criteria
must be considered in this Japanese language proficiency: (1) mastery of vocabulary, (2) the
ability of hearing, (3) grammar skills, and (4) reading comprehension. All these mentioned
criteria basically interrelated with each other. The mastery of vocabulary and the low ability
ofJapanese kanji will affect the ability of listening. Similarly, low grammar skill will definitely
causes low text comprehension ability.
Japanese Language Proficiency Test (UKBJ) is divided into four groups: Level 4 is to
test basic level, level 3 is for middle level, and level 2 and 1 for the upper level. This difficulty
level is very diverse, especially for the exam from Level 3 to Level 2. There is a far different
number of students (Students of Padjadjaran University at Japanese Language Department
from the years 2005 in 2007) who passes the test between the one passing level 3 and level 2.

Makalah telah disampaikan dalam Seminar Program Stud; Sastra Jepang, Unpad

16

LINGUA Vo\.9 No.1, Maret 16---39

The number of passing students for level 2 in year 2006 reached 42%, but in the year 2007
decreased drastically to 18%.
Key Words: Japanese Language Proficiency Test, vocabulary mastery, the listening,

grammar skills, reading comprehension.

I.Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Kemampuan seseorang dalam mempelajari suatu bahasa, khususnya


bahasa asing, dapat dilihat dari bermacam-macam tes yang diadakan oleh
lembaga yang sudah ditunjuk atau diakui untuk menyelenggarakan tes
kemampuan bahasa tersebut, misalnya tes TOEFL untuk tes kemampuan
berbahasa Inggris yang dilaksanakan oleh Pusat Bahasa Fakultas Sastra
Universitas Padjadjaran, Pusat Bahasa Institut Teknologi Bandung, dan UPI.
Ujian kemampuan berbahasa Jepang yang diadakan setiap akhir tahun
serempak di setiap negara. Pembuatan soal dan perhitungan nilai masih
dilaksanakan oleh The Japan Foundation Pusat di Tokyo.
Ujian kemampuan bahasa Jepang (UKBJ) akan berpengaruh besar bagi
siswa yang ingin lebih jauh mengetahui kemampuan yang sudah diperoleh
selama belajar di bangku kuliah. Mahasiswa yang merasakan pentingnya UKBJ
ini, biasanya akan terns mencoba jika gagal tahun ini, dan dia akan mencoba
pada tahun berikutnya.
Empat

kriteria yang hams diperhatikan dalam kemampuan berbahasa

Jepang ini yaitu (1) penguasaan kosakata, (2) kemampuan pendengaran, (3)
kemampuan tata bahasa, dan (4) kemampuan pemahaman teks. Semua kriteria
yang disebutkan pada dasarnya saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Kemampuan kosakata dan kanji bahasa Jepang yang rendah akan berpengaruh
besar pada kemampuan pendengaran. Demikian pula, kemampuan tata
bahasanya rendah maka sudah pasti kemampuan pemahaman teksnya pun akan
Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

17

rendah. Keterkaitan keempat kriteria tersebut dapat dilihat dari hasil penelitian
hasil UKBJ dari tahun 2005-2007 yang dipaparkan di bawah ini.

1.2 Perumusan Masalah

Sejak dimulai adanya UKBJ pada 1984 oleh The Japan Foundation
pusat, setiap tahun peserta semakin bertambah di setiap tempat pelaksanaan
UKBJ di beberapa kota di dunia.

Bersamaan dengan itu pula, perlunya

kepemilikan sertifikasi kelulusan bagi peserta UKBJ ini sangat berpengaruh


besar terhadap mereka untuk terjun ke masyarakat, khususnya di dunia kerja
yang menggunakan bahasa Jepang sebagai media komunikasi, baik secara lisan
maupun tulisan.
Di era multimedia

sekarang ini sangat perlu memacu pembelajar

bahasa Jepang untuk terus lebih meningkatkan diri dalam kemampuan


berbahasanya mengingat pada akhir belajamya diharapkan mampu bersaing
dengan lulusan dari universitas atau lembaga

lainnya

dalam

memperoleh kerja yang sesuai dengan keahliannya. Bahkan, perusahaanperusahaan Jepang yang cukup besar, seperti Nasional Gobel dan Toyota Astra,
memberikan syarat bagi lulusan bahasa Jepang harus mampu berkomunikasi
secara aktif dan memiliki sertifikasi level 2. Hal inilah yang membuat
pembelajar pada saat belajar di perguruan tinggi atau sejenisnya untuk terus
meningkatkan diri mulai pada tingkat pertama sampai tingkat akhir sehingga
kepemilikan sertifikasi itu dapat tercapai.
Banyak

universitas

atau lembaga

seJems lainnya yang sudah

memberlakukan syarat kelulusan pembelajar, yaitu minimal harus memiliki


sertifikasi level 3. Namun, tidaklah mudah dalam melaksanakan perubahan
mendasar yang akan berdampak positif pada kemampuan pembelajar di akhir
perkuliahan tersebut. Adapun salah satu langkah yang dapat ditempuh dengan
18

LlNQUA Vol.9 No.1, Maret 16--39

efektif yakni selalu dapat mengevaluasi kurikulum yang diberlakukan saat ini
agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Kurikulum yang berbasis kompetensi
yang dimiliki sebuah perguruan tinggi hams seimbang dan sejalan dengan
keinginan pasar keIja yang menginginkan lulusan itu memiliki keahlian
yang tidak diragukan lagi. Selain itu, pemantauan hasil UKBJ yang setiap
tahun dilaksanakan akan sangat membantu untuk perbaikan kurikulum secara
bertahap sehingga evaluasi yang rutin dan berkala akan menemukan segi
kelebihan dan kelemahan kurikulum yang berlaku.
Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (UKBJ) ini terbagi dalam empat
kelompok, yaitu ujian tingkat dasar (Level 4), tingkat menengah (Level 3), dan
tingkat atas yang terdiri dari Level 2 dan Levell. Tingkat kesulitan ini sangat
beragam, khususnya untuk ujian dari Level 3 ke Level 2, sebagaimana tampak
dari hasil Ujian mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Universitas Padjadjaran pada
2005-2006 di bawah ini.
TAHUN

JUMLAH YANG LULUS/JUMLAH SISWA YANG IKUT SERTA


LEVELl

LEVEL 4

2005

217 (28,6%)

67/139 (48,2%)

2006

1110 (10%)

106/173 (61,3%)

Tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah kelulusan siswa pada Level 3


sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan jumlah kelulusan siswa pada
Level 2. Hal ini perlu diteliti sampai tingkat mana kesulitan siswa dalam UKBJ
untuk Level 2 dan Level 3 ini mengingat tingkatan soal ujian yang diberikan
sesuai dengan mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Unpad mulai semester 5
sampai dengan 8, baik itu kemampuan dalam mengingat kosakata, kemampuan
pendengaran, kemampuan tata bahasa maupun kemampuan pemahaman teks
cerita.
Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

19

Mengenai data kemampuan berbahasa Jepang mahasiswa Sastra Jepang


Universitas Padjadjaran sampai saat ini masih belum ada data yang lengkap
dan belum diteliti, baik dalam mengingat kosakata bahasa Jepang, kemampuan
pendengaran, dan kemampuan tata bahasa, maupun kemampuan pemahaman
teks, secara terpisah. Hasil kelulusan peserta yang telah diproses The Japan
Foundation ini berupa gabungan ujian dari tiap-tiap kemampuan siswa. Oleh
sebab itu, penelitian ini ingin mengetahui sampai dengan tingkat mana saja
kelulusan siswa dalam Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (UKBJ) berdasarkan
kriteria kemampuan-kemampuan di atas.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, dapat
diidentifikasi masalah sebagai berikut.
1.

Bagaimana tingkat kelulusan mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Unpad


yang mengikuti UKBJ pada 2006---2007?

2.

Bagaimana gambaran kelulusan mahasiswa tersebut berdasarkan pada


kriteria

kemampuan

dalam

mengingat

kosakata

bahasa

Jepang,

kemampuan pendengaran, kemampuan tata bahasa, dan pemahaman teks?

2. Tinjauan Pustaka
2.1 Empat Tingkat Tingkatan dalam UKBJ
Dalam presentasi yang disampaikan The Japan Foundation Pusat
(Kaneda, Januari 2006) diperoleh gambaran tentang nilai ukur spesifik untuk
ujian kemampuan bahasa Jepang, baik Level 4 maupun Levell.

20

LINGUA Vol.9 No.1, Maret 16---39

UJ o)TJi
4f& 0) UJ {.5": 11 \
{.5": 11 \)
.A

I- 4.0

111
f;l

:I: 3.0
(/)

i 2.O

,j:l

1.0
0.0

-9.0 -8.0 -7.0 -6.0 -5.0 -4.0 -3.0 -2.0 -1.0 0.0

1.0

2.0

3.0

4.0

5.0

6.0

7.0 8.0

9.0

Grafik di atas memperlihatkan bahwa Level 4 jumlah (kuantitas)


informasi tes secara keseluruhan sangat rendah jika dibandingkan dengan ujian
Level 3, 2, atau 1, sedangkan Level 3 dan 2 kuantitas informasi tes itu harnpir
sarna.
Dari hasil grafik lain diperoleh data bahwa di satu sisi soal untuk
kemarnpuan pemaharnan teks dan tata bahasa (Dokkai-Bunpo) pada Level 4
kuantitas informasi tes sangat tinggi, sedangkan di sisi lain tes kosakata (Goi)
dan tes kemarnpuan pendengaran (Chokai) informasi tes rendah. Semua ini
disebabkan masih sedikitnya jumlah materi yang terkandung dalarn level 4.
Temuan di atas dapat dijadikan acuan untuk penelitian ini, khususnya
perbandingan bagaimana kelulusan mahasiswa di Level 3 dan Level 2. Level
ini harus setara dengan kemarnpuan mahasiswa tingkat 3 atau tingkat 4
(semester akhir).

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

21

2.2 Kisi-kisi

Tingkatan (Level) .

Pada buku yang membahas tentang kisi-kisi setiap level (Nihongo


Noryoku Shiken Shutsudai Kijun(NNSSK)) menjelaskan secara rinci bagianbagian yang perlu dipelajari di dalam setiap kriteria, baik untuk kriteria
kosakata, pendengaran, tata bahasa, maupun pemahaman wac ana. Tabel di
bawah merupakan jumlah yang pasti untuk setiap level, baik itu jumlah
kosakata maupun kanji yang hams dikuasai oleh setiap pembelajar.
NO.

LEVEL

1.

JUMLAH

JUMLAH

KOSAKATA

HURUFKANJI

10.000 *

1.926 *

TAT A BAHASA DAN


EMAHAMAN WACANA
Nihongo

Noryoku

Shiken

Shutsudai Kijun

2.

6.000 *

1.000 *

3.

1.500 *

300 *

4.

800 *

100 *

- idem- idem- idem-

NB: (*) : Dapat dilibat di buku sumber Nihongo Noryoku Shiken Shutsudai Kijun Edisi

1996

Kisi-kisi level 4 dan level 3 yang ada di dalam buku ini, khusus untuk
tata bahasa dan pemahaman wacana, telah memperlihatkan sebuah tabel yang
mengacu kepada buku pegangan yang ada yang dipakai di universitas, baik
yang di dalam maupun Iuar negeri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pada buku pegangan Nihongo Shoho yang dipakai di Universitas Padjadjaran
hampir memenuhi kisi-kisi yang sudah ditentukan, hanya beberapa pola
kalimat atau tata bahasa yang tidak tercantum dalam buku ini, yaitu pola
kalimat dan tata bahasa.
Pola kalimatltata bahasa yang tercantum di atas perlu dicermati dengan
baik oleh pengajar bahasa Jepang tingkat dasar, baik pada pelajaran Nihongo
Kiso I-II, Hyougen I maupun Enshu 1-11

22

ltN4UA VoL9 No.1, Maret

Kisi-kisi untuk level 2 dan level 1 pada buku NNSSK ini tidak
memberikan gambaran tentang perbedaan isi materi-materi buku pelajaran
yang dipakai untuk tingkat menengah (Chukyuu) atau tingkat atas (Jokyuu) ,
tetapi hanya memberikan contoh kata yang berfungsi secara tata bahasa (xt:ft

IJ it.

yang diambil dari buku pelajaran bahasa Jepang tingkat

menengah (Chukyuu ) yang masih banyak dipakai sampai sekarang ini,


kemudian dari buku lainnya yang bersifat keilmuan, hasil karya sastra,
terjemahan, dari surat kabar, dan majalah. Di bawah ini akan dipaparkan 25
buah buku yang telah dijadikan objek penelitian oleh penyusun buku NNSSK
In!.
<<t>*&ll&MtB)

[ 1]

[2]

//

[ 3 ]

Y!7 -

[ 4 ]

--b: Y

B :$:mM

!7 ---

[8J

::1:LLL!

J{:!J'J

Jr B :$: (;1'-> .1j!;l,:mJJ

[9J

Jj(fii

*'l!--

If' B:$:A C

[10J

<f>Fftfll=lill>

[llJ

3\:,,

If' ?

I jj

-.?C

(UP
-:>

Tc.1? e: ? -t"" Q Jb.JJ

Y.l JJ

C-"iifj":$:) >
J;lIJfF
If' C:" =

UJl B

E?B<:.y =

<DIIlXJ
'7 "

[23J r7:; 7 :;

[25J

-'"

ffl5L. -lill>

[ISJ
[I4]

[24J

I J

m'T-

[12J

'"

JrB:>f;:mnjj

[5 ]

[7

rm,f\;;
If" B

I, 71" - ;v J

1989if12}1 1 B

1989if12}1-1990if 1 }1
1989if12}1-1990if 1}1

t::.o

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

23

Dari tujuh pegangan yang tercantum di atas, buku

*& I

rs

J merupakan buku yang masih dipakai di Universitas Padjadjaran sampai saat


Inl.

Batasan yang tepat mengenai standar kisi-kisi di atas yang membuat


tujuan pembatasan level 1 dan level 2 itu menjadi hal yang penting. Akan
tetapi, perbedaan kedua level tertinggi ini tidak dapat dituturkan secara umum
seperti level 3 atau 4 karena untuk satu kejadianlperistiwa tidak mungkin dapat
dipisahkan dengan jelas, misalnya bacaan dari koran atau majalah khusus
untuk level 1 atau 2. Jadi, di dalam buku kisi-kisi ujian kemampuan bahasa
Jepang ini khusus untuk kisi-kisi tata bahasa levell dan level 2 telah dibuatkan
tabel kelompok kata yang berfungsi secara tata bahasa. Contoh kata yang
berfungsi secara tata bahasa ini disampaikan dengan contoh kalimat sederhana
seperti berikut.

fflfJu
'" lb

<j-.....-lb <

<
iJ

0 to -t t1 lb 0

[p]l:L---=>"'Jlbo

"'---=>---=>lbo

'""'-' if3 0 --C / '" if3 v\/'"'-' if3 '5 nc

,C if3

--C

0)

if3 0

if30tc
"-' t,r- b

t,r- b

L --C

tc =-

t,r- b

Contoh kata dan kalimat di atas memberikan gambaran kepada


pembelajar bahasa Jepang tentang kata-kata yang berfungsi secara tata bahasa
dalam kalimat walaupun tidak dijelaskan secara terperinci kelas katanya.
Dalam hal ini perlu kiranya ada petunjuk cara penggunaan buku tentang kisi24

LINGUA Vol.9 No.1, Maret 16-39

kisi ujian ini, baik dalam pelajaran Imiron (Semantik), Keitairon (Morfologi),
maupun Togoron(Sintaksis).
3.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang

dan

perumusan masalah yang telah

dikemukakan, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:


a.

mengkaji kelulusan mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Unpad yang


mengikuti UKBJ pada 2005-2007.

b. mendeskripsikan gambaran kelulusan mahasiswa tersebut berdasarkan pada


kriteria kemampuan dalam mengingat kosakata bahasa Jepang, kemampuan
pendengaran, kemampuan tata bahasa, dan pemahaman teks.

3.2 Kontribusi Penelitian

Secara praktis dan institusional, penelitian ini diharapkan menjadi


masukan yang sangat berharga, baik itu untuk siswa dalam perbaikan cara
belajar bahasa Jepang pada umumnya maupun untuk pengajar dalam
peningkatan efektivitas pengaJarannya.

Dengan demikian, kemampuan

mahasiswa dapat lebih dioptimalkan.


Di dalam pengajaran Percakapan Bahasa Jepang, pengajar agak sulit
mengevaluasi kemampuan Percakapan (Kaiwa), baik itu level dasar,
menengah, maupun atas. Di dalam UKBJ pun tidak ada tes langsung yang
dapat diharapkan, kecuali dalam kemampuan pendengaran saja. Dalam
penelitian ini, memperoleh empat kriteria kemampuan yang diujikan dalam
UKBJ ini sedikitnya dapat membantu pengajar Kaiwa untuk lebih
mengoptimalkan dalam pengajaran sehingga keterkaitan antara empat
kemampuan tersebut dan kemampuan Kaiwa- nya pun akan lebih meningkat.

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (Puspa Mirani Kadir)

25

4. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif (sinkronis). Dalarn


kaitan ini, hasil kelulusan siswa dibandingkan dalarn peri ode satu tahun mulai
2005-2006 dan penganalisisan data tidak bersifat menilai (evaluatif).
Pengumpulan data dilakukan melalui evaluasi hasil UKBJ pada 2007 yang
diperbandingkan dengan hasil UKBJ pada 2005 dan 2006. Jumlah peserta
Level 2 pada 2005 sebanyak 92 orang, telah dibandingkan dengan peserta
Level 2 pada 2006 sebanyak 66 orang, dan peserta level 3 pada 2004 sebanyak
250 orang telah dibandingkan dengan peserta Level 3 pada 2006 sebanyak 221
orang. Peserta UKBJ Level 2 dan Level 3 tahun 2007 yang dilaksanakan pada
3 Desember 2007 akan disertakan angket yang sudah dikeluarkan pada tanggal
yang sarna.
Analisis data dilaksanakan secara kualitatif dan kuantitatif, dengan
menghitung frekuensi dan membuat tabulasi silang. Selain itu, untuk
menunjang hasil penelitian ini dilakukan pembagian angket sebanyak 2 kali:
pertarna kepada seluruh peserta UKBJ level 2 dan 3 pada 2007 dan kedua
kepada peserta UKBJ sebanyak 10% dari level 2 dan 3.
5. Pembahasan

5.1 Perbandingan Kelulusan pada 2005-2007


Ujian Kemampuan Bahasa Jepang (UKBJ) ini terbagi dalarn empat
kelompok, yaitu ujian tingkat dasar (Level 4), menengah (Level 3), dan atas
yang terdiri dari Level 2 dan Level 1. Tingkat kesulitan ini sangat beragarn,
khususnya untuk ujian dari Level 3 ke Level 2, sebagaimana tarnpak dari hasil
ujian pada 2005-2007 di bawah ini.

26

LINGUA Vol.9 No.1, Maret 16-39

TAHUN

JUMLAH YANG LULUS/JUMLAH SISWA YANG IKUT SERTA


LEVELl

LEVEL 4

2005

217 (28,6%)

67/139 (48,2%)

2006

1110 (10%)

106/173 (61,3%)

2007

1110 (10%)

89/192 (46,35%)

Dari tabel di atas dapat dilihat jumlah kelulusan siswa di level 3


angkatan 2007 mengalami peningkatan, yakni mencapai setengah atau 59,2%
dari siswa yang mengikuti ujian. Hal ini menunjukkan keseriusan siswa yang
sudah mengikuti ujian level 4 di tahun sebelumnya, terutama yang sudah
memperoleh sertifIkasi kelulusan sebanyak 61,3%.
Dari tabel di atas dapat dilihat pula jumlah kelulusan siswa pada Level
3 sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan jumlah kelulusan siswa pada
Level 2. Hal ini perlu diteliti apa saja kesulitan siswa dalam UKBJ untuk Level
2 dan Level 3 ini mengingat tingkatan soal ujian yang diberikan sesuai dengan
mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Unpad mulai semester 5 sampai 8 (semester
akhir), baik itu kemampuan dalam mengingat kosakata, kemampuan
pendengaran, kemampuan tata bahasa maupun kemampuan pemahaman teks
cerita.
Perbedaan yang sangat jauh antara hasil kelulusan siswa pada level 3
dan level 2 dapat dilihat dari bobot soal huruf kanji sebanyak 300 buah dan
kosakata 1500 buah untuk level 3, sedangkan untuk level 2 bobot soal huruf
kanji harns hafal 1.000 buah dan kosakata sebanyak 4.800 buah (Lihat kisi-kisi
setiap level).

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (Puspa Mirani Kadir)

27

5.2 Pengolahan Data Presentase Kelulusan Berdasarkan Kriteria

Mengenai data kemampuan berbahasa Jepang mahasiswa Sastra Jepang


Universitas Padjadjaran sampai saat ini masih belum ada data yang lengkap
dan belum diteliti, baik dalam mengingat kosakata bahasa Jepang, kemampuan
pendengaran, kemampuan

tatabahasa, maupun kemampuan teks secara

terpisah. Untuk lebih jelasnya, hasil perolehan kelulusan siswa untuk setiap
kriteria tersebut telah dicoba untuk menganalisis dengan menghitung frekuensi
dan membuat tabulasi silang seperti berikut ini.
PRESENT ASE KELULUSAN SISWA UNIVERSITAS
KELOMPOK
KRITERIA
YANG LULUS

Kosakata saja
B
Pendengaran saja

PADJADJARAN BERDASARKAN KELOMPOK KRITERIA


PADA 2005-2007
TAHUN2005

TAHUN2006

TAHUN2007

LEVEL 2

LEvEL 3

LEvEL 2

LEVEL 3

LEvEL 2

LEvEL 3

(0=92)

(0=250)

(0=66)

(0=221)

(0=64)

(0=211)

3,3%

12,1%

14,9%

9,4%

19,6%

4,6%

11,3%

3,1%

19,6%

4,4%

C
Tata Bahasa dan

2,2%

Pernaharnan Teks

A +B
Kosakata +
Pendengaran

A +C
Kosakata + Tata
Bahasa dan
Pernaharnan Teks

B +C
Pendengaran +

28

4,4%

8%

3,00/0

6,3%

30,5%

UNQUA Vol.9 No.1, Maret 16-39

Tata Bahasa dan


Pemabaman Teks
A+B+C
Kosakata +
Pendengaran +

2,2%

8%

3,0%

9,5%

3,1%

29,0%

Tata Bahasa dan


Pemahaman Teks

HasH di atas rnenunjukkan bahwa rnahasiswa yang lulus kosakata saja


umumnya sudah lebih dari 50% untuk level 3, bahkan kecenderungan
rneningkat pada 2007 rnencapai 72,4% dari 210 siswa. Demikian pula untuk
kriteria C, yaitu tatabahasa dan pernaharnan teks, sudah rnencapai setengahnya
dari siswa yang ikut ujian, dan rnencapai 66,2 % pada 2007. Untuk kriteria A
kosakata dan kriteria C untuk tatabahasa dan pernahaman teks setelah
ditabulasi silang rnenghasilkan 58,1% pada 2007. Hal ini rnerupakan suatu
peningkatan yang cukup berarti dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Meskipun dernikian, kelernahan dari tiap siswa rnasih terlihat pada kriteria B,
yaitu pendengaran, siswa yang lulus baru rnencapai 32,9% pada 2007 yang
kecenderuligan rneningkat dibanding pada 2005 dan 2006. Kelernahan itu
sangat berpengaruh pada kelulusan ketiga kriteria A, B, dan C, yang setelah
dilakukan tabulasi silang hanya sekitar 29% yang lulus pada 2007. Walaupoo
tahun ini rnenjadi lebih baik dibandingkan dengan tahoo sebelumnya, hasil
yang dicapai rnasih rendah.
Capaian yang diperoleh di level 2 rnenunjukkan

siswa yang lulus

kosakata saja pada 2006 pemah rnencapai 42,4 %,. Akan tetapi, pada 2007
rnenurun kernbali secara drastis, yakni hanya rnencapai 18% yang harnpir
sarna dengan 2005. Pada tampilan di atas tabulasi silang antara kriteria A+B,

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (Puspa Mirani Kadir)

29

A+C, dan B+C untuk level 2 memiliki kecenderungan presentase yang rendah
sesuai dengan masing-masing kelulusan kriteria.
Sesuai dengan yang diutarakan Kaneda (Asean Summit Bandung,
2007) bahwa persiapan untuk level 2 hams benar-benar mantap, baik itu belajar
mandiri maupun belajar di kelas, mengingat perbedaan yang sangat jauh dari
isi soal antara level 2 dan level 3. Dalam belajar mandiri ada buku yang dapat
dijadikan patokan atau kisi-kisi untuk mempersiapkan UKBJ tersebut, baik
untuk jumlah kosakata, contoh soal untuk pendengaran, tatabahasa, maupun
pemahaman teks. Buku kisi-kisi ini dapat dijadikan referensi pengajar untuk
perbaikan bahan ajar dalam memberikan materi pelajaran, khususnya yang
berkaitan dengan empat kriteria di atas.
Dalam pembahasan berikut,

sebagai penunJang penelitian . ini,

membahas angket yang diiisi oleh peserta ujian: pertama pada waktu UKBJ
dilaksanakan dan kedua pada waktu peserta memperoleh hasil kelulusan.
Angket yang pertama telah disebarkan kepada 275 peserta ujian terdiri
dari laki-laki 78 orang (28,4%) dan perempuan 197 orang (71,6%). Usia
terbanyak kelompok umur 20-24 tahun (80%), sisanya di bawah 20 tahun
(17,5%) dan di atas 25 tahun (2,5%). Ditinjau dari pendidikan peserta ujian
didominasi oleh mahasiswa program S-l, yaitu 143 orang (52%), D-3 97
orang (35,3%), dan program Ekstensi 35 orang (12,7%). Level yang diikuti
hampir sebagian besar level 3,21 orang (76,7%).

30

LINGUA Vo\.9 No.1, Maret 16-39

Gambaran karakteristik subjek penelitian berdasarkan level yang diikuti


disajikan pada tabel berikut ini.

LEVEL
KARAKTERISTIK

I Jumlah

Jumlah
%

0/0

USIA
<20Tahun
20-24 Tahun
25+ Tahun

JENIS KELAMIN
Laki-laki
Perempuan

PENDIDIKAN
ProgramD-3
Program Ekstensi
Progra!r.. S-1

Pernah Mengikuti Kursus


Ya
Tidak

2
3,1
60
93,8
2
3,1

46
21,8
160
75,8
5
2,4

19
29,7
45
70,3

59
28,0
152
72,0

13
20,3
20
31,3
31
48,4

84
39,8
15
7,1
112
53,1

8
12,5
56
87,5

30
14,2
181
85,8

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

31

LEVEL
KARAKTERISTIK

IJumlah
%

Jumlah
%
Mengikuti UKBJ sebanyak:
Belumpemah
1 Kali
2 Kali
3 Kali
4 Kali
5 Kali
8 Kali

1
1,6
3
4,7
18
28,1
32

50,0

6
9,4
4
6,3

34
16,1
33
15,6

111
52,6

29
13,7
3
1,4
1
5,0

Terakhir mengikuti UKBJ


Belumpemah
Tahun2002
Tahun2003
Tahun2004
Tahun 2005
Tahun2006

1
1,6
7

10,9
56
87,5

34
16,1
1
5,0
1
1,6

2,4
168
79,6
Selanjutnya akan dibahas hasil angket tentang penilaian peserta
terhadap persiapan ujian, baik itu untuk kriteria kosakata, pendengaran, tata
bahasa, maupun pemahaman wacana. Selain itu, dibahas pendapat peserta
terhadap pemakaian buku ajar yang dipakai selama ini.

32

LlN4lJA Vol.9 No.1, Maret 16-39

Persiapan peserta level 3 sebanyak 93 orang (44,1 %) yang menyatakan


cukup siap untuk menghadapi ujian, sedangkan peserta level 2 sebanyak 41
orang (64,1 %) yang menyatakan kurang siap atau setengah lebih dari peserta
yang ikut UKBJ. Penilaian mereka terhadap buku pegangan sebanyak 134
orang (63,5%) dari peserta level 3 yang menyatakan menunjang, dan level 2
sebanyak 31 orang (48,4%) yang menyatakan kurang menunjang.
Gambaran selanjutnya adalah penilaian kemampuan diri peserta dalam
menjawab soal-soal UKBJ berdasarkan tiga kriteria yang telah disebutkan di
atas. Untuk kelompok kosakata peserta level 2 sebanyak 21 orang (32,8%),
yang menyatakan yakin dapat mengeIjakan 25-50% dan untuk level 3
sebanyak 102 orang (48,3%). Namun, peserta yang menyatakan kurang yakin

dari 25%), berturut-turut untuk level 2 sebanyak 10 orang (25%) dan untuk

level 3 sebanyak 12 orang (5,7%).


Ujian Kemampuan Bahasa Jepang untuk kriteria pendengaran, baik
level 2 maupun level 3, pada prinsipnya mereka cenderung merasa yakin 2550%. Level 2 untuk kriteria ini sekitar 38 orang (59,4%), sedangkan untuk
level 3 sekitar 102 orang (48,3%) atau hampir mendekati setengah darijumlah
peserta UKBJ.
Untuk kriteria tata bahasa dan pemahaman wacana, peserta level 3
sebanyak 122 orang (57,8%) yang merasa yakin telah mengeIjakan soal
tersebut (50-75%), tetapi sangat berbeda dengan level 2 yang menyatakan
tidak yakin (25-50%) sebanyak 27 orang (42,2%).

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

33

Gambaran hasil di atas akan disajikan pada tabel berikut.


LEVEL
KARAKTERISTIK

IJumlah

Jumlah
%
Buku Bahan Ajar
Sangat Menunjang
Menunjang
Kurang Menunjang
Sangat
Tidak
Menunjang

Persiauan dalam Ujian


Sangat siap
Siap
Cukup
Kurang Siap

dalam
Kemamuuan
menjawab
KOSAKATA
Yakin>75%
Yakin 50-75%
Yakin 25-50%
Yakin <25%

34

6
9,4
23
35,9
31
48,4
4
6,3

52
24,6
134
63,5
21
10,0

3
4,7
20
31,3
41
64,1

6
2,8
54
25,6
20
31,3
58
27,5

3
4,7
21
32,8
32
50,0
8
12,5

30
14,2
134
63,5
43
20,4
4
1,9

LlNGlIA Vo1.9 No.1, Maret 16-39

LEVEL
KARAKTERISTIK

Jumlah
%
dalam
Kemamnuan
menjawab
PENDENGARAN
Yakin>75%
Yakin 50-75%
Yakin 25-50%
Yakin <25%

dalam
Kemamnuan
menjawab
Tatabahasa dan Pemahaman
Wac ana
Yakin>75%
Yakin 50-75%
Yakin 25-50%
Yakin <25%

I.JUmlah

9
14,1
38
59,4
16
25,4

14
21,9
27
42,2
l3

20,3

7
3,3
71
33,6
102
48,3
12
5,7
19
9,0
122
57,8
57
27,0
5
2,4

Hasil angket selanjutnya merupakan evaluasi hasil kelulusan mahasiswa


yang disebarkan kepada peserta level 2 sebanyak 10 orang dan untuk level 3
sebanyak 25 orang, baik yang lulus maupun tidak lulus, yang dibagi secara
acak. Bentuk pertanyaan dibuat soal terbuka sehingga memberikan keleluasaan
responden untuk mengungkapkan pendapatnya.
Mahasiswa yang telah mengikuti UKBJ level 2 telah memprediksi hasil
ujiannya: tujuh orang menyatakan sesuai dengan yang sudah diajarkan, tetapi
enam orang menyatakan hasil ujiannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (Puspa Mirani Kadir)

35

Pertanyaan di atas kemudian dilanjutkan dengan saran-saran yang diajukan


untuk peningkatan hasil UKBJ di antarnya untuk pengajaran
a. kosakata: tidak hanya mengajar kosakata, tetapi cara penggunaan dalam
kalimat dan tidak perlu banyak, tetapi kontinyu;
h.

pendengaran: frekuensi pengajaran pendengaran diperbanyak, misalnya


Ckokai dan Kaiwakai;

c. tata bahasa dan pemahaman wacana: diberikan tips menyelesaikan soal


wacana
Pertanyaan berikutnya berupa mendengar pendapat siswa terhadap motivasi
untuk perbaikan nilai UKBJ tersebut. Umumnyajawaban dari responden
adalah
a. memperbanyak membaca dan latihan wacana karena pemahaman wacana
adalah bagian yang memberikan kontribusi nilai yang paling besar;
b. memperkuat dasar kemampuan bahasa Jepang, dan memperbanyak
pengetahuan informasi yang barn dan terkini tentang Jepang;
c. banyak megerjakan soal UKBJ.
Pertanyaan berikutnya adalah tujuan responden dalam mengikuti UKBJ,
baik untuk yang akanmengikuti level 1 atau level 2. Umumnya responden
menjawab agar mudah mencari pekerjaan dan mengukur kemampuan
berbahasa Jepang sebagai motivasi belajar.
Responden level 3 dalam menjawab prediksi mereka tentang hasil ujian,
yakni sesuai dengan persiapan belajar sebanyak 14 orang, dan sesuai dengan
yang diajarkan sebanyak 16 orang. Meskipun demikian, prediksi tentang hasil
kelulusan yang menyatakan tidak sesuai dengan yang diharapkan yakni sekitar
18 orang(72%) dari 25 orang responden.
Saran yang diajukan responden level 3 tidak berbeda jauh dengan level
2, yaitu untuk pengajaran
36

WJal1A VoL9 No.1, Maret 16-39

a. kosakata: memperbanyak tugas, bacaan, kuis untuk mempelajari


kosakata baru;
b. pendengaran: lebih banyak latihan mis, dalam MK kaiwa Lab seminggu
dua kali (diberi kaset dan buku soal);
c. pemahaman teks dan tata bahasa: banyak pelatihan dan lebih variatif +
diberi teks bacaan di luar buku wajib.
Responden level 3 memberikan kiat-kiat yang dapat dilakukan untuk
perbaikan nilai UKBJ, di antaranya, lebih giat menghafal kanji dan kosakata
baru serta belajar lebih lama dan lebih tekun.

6. Simp ulan dan Saran

6.1 Simp ulan


Dari hasil pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan sebagai
berikut.
1. Kelulusan mahasiswa Jurusan Sastra Jepang Unpad yang mengikuti sejak
2005 sampai dengan 2007, khususnya level 3 pada 2007, mengalami
peningkatan. Jumlah kelulusan siswa pada level 3 sangat jauh berbeda jika
dibandingkan dengan kelulusan siswa pada level 2.
2. Mahasiswa yang lulus kosakata (A) saja pada level 3 mengalami
peningkatan dari 59,% pada 2005 menjadi 72,4% pada 2007. Kelulusan
untuk kriteria pendengaran (B) masih sangat lemah (32%). Kelulusan untuk
kriteria tata bahasa dan pemahaman teks (C) terjadi peningkatan sejak 2005
sampai dengan 2007, yaitu dari 38% menjadi 66%.
3. Kelulusan kombinasi antara kriteria A dan kriteria C pada 2007 mencapai
58%. Kelulusan kombinasi antara kriteria A+B, B+C, dan A+B+C masih
relatif rendah.

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemampuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

37

4. Kelulusan kriteria A untuk level 2 pada 2006 mencapai 42%, tetapi pada
tahun 2007

menurun kembali secara drastis, .yakni hanya 18%.

5. Kombinasi antara kriteria A+B, A+C, B+C, dan A+B+C untuk level 2
memiliki kecenderungan presentase yang rendah sesuai dengan masingmasing kelulusan kriteria.

6.2 Saran
Dengan tingkat kelulusan UKBJ

yang relatif rendah, institusi,

khususnya Jurusan Sastra Jepang Fakultas Sastra, Univeritas Padjadjaran perIu


a. selalu mengevaluasi kurikulum yang diberlakukan saat ini agar sesuai
dengan kebutuhan pasar.
b. memiliki kurikulum yang berbasis kompetensi yang seimbang dan sejalan
dengan keinginan pasar kerja yang menginginkan lulusan itu betul-betul
memiliki keahlian yang tidak diragukan lagi.
c. memantau hasil UKBJ yang setiap tahun dilaksanakan akan dapat
membantu untuk perbaikan kurikulum secara bertahap.
d. menemukan segi kelebihan dan kelemahan kurikulum yang berlaku

DAFTARPUSTAKA

Kamada Satoru (2001)


Kokusai

Koryuu

rACTFL-OPI

Kikin

Aruku, Tokyo

(2006)

Japan Foundation, Tokyo.


Swender, E. ed

(1999)

ACTFL

Oral

Proficiency

Interview

Tester

Training Manual. Hastings--on-Hudson. NY : ACTFL.


38

LfN{1tJA Vol.9 No.1, Maret 16-39

Yasuaki

Kaneda(2006)

rs

J The Japan Foundation,

Tokyo.
Zaidan Hojin Nihon Kokusai Kyoiku Shien Kyokai (2006) "The 2005
Japanese Language Proficiency Test Levelland 2 Questions" The

Japan foundation, Tokyo.

Kajian Kelulusan Mahasiswa Jurusan Sastra Jepang yang Mengikuti Ujian Kemarnpuan
Bahasa Jepang Periode 2005-2007 (puspa Mirani Kadir)

39

PEMAHAMAN KATA YANG MENUNJUKKAN TEMPATDAN ARAB


DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA*

Dewi Kania Izmayanti


Staf Pengajar Jurusan Bahasa Jepang Universitas Bung Batta, Padang
.
idewikania@yahoo.com

Abstrak
Pemahaman mahasiswa terhadap penggunaan kata yang menunjukkan tempat dan
arah dalam bahasa Jepang masih kurang. Mereka lebih menguasi bahasa Indonesia karena
dianggap sudah dikenal sebelumnya. Penggunaan partikel dalam bahasa Jepang juga sebatas
hapalan, belum memahami peraturan. Hal ini disebabkan kaidah yang ada dalam pikiran
mahasiswa masih terbiasa dalam pola bahasa Indonesia.
Kata Kunci: pemahaman kata, tempat, arah

Abstract
Student's understanding of the use of words indicating place and direction in
Japanese is still poor. Students are more proficient in Indonesian as it is already familiar to
them. The use of particle in Japanese is just as for memorization without understanding the
usage. The usage that exists in students' mind is still Indonesian usage. Students are still
accustomed to the pattern ofIndonesian.
Key Words: understanding words, place, direction

A. Pendahuluan

Bahasa adalah sistem larnbang uj aran yang digunakan untuk


berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang
berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh
pemakainya. Sistem tersebut mencakup unsur-unsur, di antaranya, larnbang,
unik atau khas, dan tidak sarna dengan larnbang bahasa lain. Larnbang
dibangun

berdasarkan

kaidah

yang

bersifat

universal.

Karena

keuniversalannya, hal itu memungkinkan suatu sistem bahasa bisa sarna


dengan sistem bahasa lain.

Disampaikan dalam Seminar Nasioanl Gakkai di Kampus Binus Jakarta, 12 Februari 2010

40

LfN4VA Vo1.9 No.1, Maret 40-46

Kemarnpuan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang bukan merupakan


suatu hal yang diwariskan, melainkan sesuatu yang diperoleh melalui suatu
pembelajaran. Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa asing yang banyak
diminati dan dipelajari dewasa ini, terbukti dengan semakin meningkatnya
jumlah orang asing yang mempelajari bahasa Jepang dari tahun ke tahun.
Dalarn sepuluh tahun terakhir ini Indonesia menduduki urutan keenarn
pembelajar bahasa Jepang, yang tersebar pada pendidikan dasar dan menengah,
pendidikan tinggi, dan pendidikan nonsekolah (1998)
Bahasa Jepang adalah bahasa yang unik karena hanya satu negara yang
menjadikan bahasa Jepang sebagai bahasa nasionalnya. Hal ini berbeda dengan
bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris yang digunakan di beberapa negara
sebagai bahasa nasionalnya. Demikian juga bahasa Melayu digunakan oleh
orang-orang Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darussalarn. Bahasa Jepang dan
bahasa Indonesia merupakan dua bahasa yang sangat berbeda, baik dari
strukturnya maupun kaidah-kaidahnya. Walaupun demikian, ada bagian-bagian
yang dapat dibandingkall dari kedua bahasa tersebut karena seperti yang sudah
disebutkan di atas bahwa sistem larnbang disusun berdasarkan kaidah-kaidah
yang bersifat universal sehingga memungkinkan suatu sistem bisa sarna dengan
sistem larnbang yang lain. Salah satu kaidah yang bersifat universal tersebut
adalah kata yang mempunyai fungsi menyatakan arah atau tempat.
Partikel he, ni,

0,

dan de merupakan partikel yang sarna-sarna

mempunyai fungsi menunjukkan tempat dan arah, tetapi dalarn penggunaannya


berbeda bergantung pada kata kerjanya, sedangkan dalarn bahasa Indonesia
kata di dan ke yang menunjukkan tempat atau arah disebut dengan kata depan,
dan penggunaannya sarna, tidak bergantung pada kata kerja.

Pemahaman Kata yang Menunjukkan Tempat dan Arah dalam Bahasa Jepang
dan Bahasa Indonesia (Dewi Kania Izmayanti)

41

Hal yang menjadi permasalahan dalam pengajaran bahasa Jepang selama


ini adalah bagaiman mahasiswa memahami penggunaan partikel dan tujuan
yang ingin dicapai sehingga tidak hanya sekadar hapal, tetapi juga mengerti.

B. Arti dan Fungsi Kata Depan di dan ke


Dalam bahasa Indonesia kata yang menunjukkan tempat atau arah
ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya yang disebut dengan kata
depan. Kata depan dalam bahasa Indonesia ada dua, yaitu kata depan di dan
kata depan ke-. Baik kata depan di maupun kata depan ke selalu diikuti dengan
kata benda yang menyatakan arah dan tempat. Kata depan di dan kata depan ke
dapat diganti dengan kata dari yang menyatakan asal. Kata depan di tidak
dapat diposisikan dengan awalan me-, seperti contoh frasa
1. di rumah sakit I ke rumah sakit/dari rumah sakit,
2. di samping I ke samping I dari samping, dan
3. di mukal ke mukal dari muka

c. Arti dan Fungsi Joshi (Partikel)


Mempelajari bahasa Jepang tidak akan pernah terlepas dari penggunaan
joshi (partikel). Selain sebagai salah satu kelas kata dalam bahasa Jepang,joshi
juga merupakan hal penting dalam kaidah bahasa Jepang yang harns dipelajari
dan dipahami oleh pembelajar bahasa Jepang
Joshi adalah kelas kata yang termasuk Juzokugo yang dipakai setelah
suatu kata untuk menunjukkan hubungan antara kata tersebut dan kata lain
serta untuk menambah arti kata tersebut lebih jelas lagi. Karena termasuk
Juzokugo, joshi tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata, satu bunsetsu
apalagi satu kalimat. Joshi akan mempunyai makna apabila telah dipakai
setelah kelas kata lain yang dapat berdiri sendiri (jiritsugo).
42

LlNQUA Yo!.9 No.1, Maret 40-46

Berdasarkan fungsinyajoshi dibagi menjadi empat macam.


1. Kakujoshi dipakai setelah nomina yang berfungsi menunjukkan hubungkan

antara nomina dan kata lainnya, yang termasuk dalam joshi ini adalah ga,
0,

no, ni, e, to, yori, kara, de, danya.

2. Setsuzokushi dipakai setelah yougen (kata keIja dan kata sifat) atau setelah
jodoushi yang berftmgsi melanjutkan kata-kata sebelumnya terhadap kata-

kata berikutnya, yang termasuk dalam joshi ini adalah ba, to, keredo,
keredomo, ga, kara, shi, temo (demo), te (de), nagara,tari (dari), noni, dan
node.
3. Fukujoshi dipakai setelah berbagai macam kata dan mempunyai kaitan

yang erat dengan bagian kata berikutnya, yang termasuk dalam joshi ini
adalah wa, mo, koso, sae, demo, shika, made, bakari, dake, hodo,
kurai(gurai), nado, nari, yara, ka, dan zutsu.
4. Shuujoshi dipakai setelah berbagai macam kata pada bagian akhir kalimat

untuk menyatakan suatu pertanyaan, larangan, seruan, rasa haru, dan


sebagainya, yang termasuk dalamjoshi ini adalah ka, kashira, na, naa, zo,
torno, yo. ne, wa, no, dan sa.
Joshi atau partikel yang mempunyai fungsi sebagai penunjuk tempat atau

arah dalam bahasa Jepang adalah de, ni, dan 0, sedangkan e dan kara termasuk
ke dalam kakujoshi.

D. Pemahaman Mahasiswa

Untuk mengetahui bagaimana mahasiswa memahami penggunaanjoshi


yang menunjukkan tempat dan arah data diambil dari jawaban latihan soal,
terjemahan, contoh kalimat dari mata kuliah bunpo, dan hasillatihan sakubun.
Latihan soal yang berupa kalimat
1.

f.l. 0) -=rftHi7j7)

-lj-

0)

J: ?

'c. 77k

Pemahaman Kata yang Menunjukkan Tempat dan Arah dalam Bahasa Jepang
dan Bahasa Indonesia (Dewi Kania Izmayanti)

VJ

*To
43

Pada umumnya mahasiswa mengisikan partikel ni dan de pada kalimat ini


karena mereka memahaminya dalam bahasa Indonesia menjadi 'Anak saya
berenang di dalam air seperti ikan hiu '. Para mahasiswa memahami kata di
dalam bahasa Jepangnya adalah ni atau de.
2.

Pada umumnya mahasiswa menjawab dengan benar

untuk orite dan ni

untuk notta. Ketika ditanya alasannya, jawabannya karena itu sudah pasti.
3. ::::::m::JiYJ (

Sebagian besar mahasiswa mengisikan ni atau de karena pemahamannya


dalam bahasa Indonesia menjadi kereta lewat di jalur tiga. Kata depan di
dalam bahasa Jepang adalah ni atau de. Demikian halnya dalam kalimat
berikut.
4. ::::::m::JiYJ ( )
'Kereta masuk dijalur tiga'. Mahasiswa mengisikan partikel ni atau de.
5.

0)

ifA (-r, I;:)

it Iv o

Dilarang menggambar di meja sekolah' .


Pada umumnya mahasiswa memilih de karena dalam pemikirannya kata

-r menunjukkan suatu aktivitas dan <;t sebagai tempat


"'J

melakukan aktivitas tersebut.

'Pergi ke Shinjuku nonton film'.


7.

(-r.

;k$;6>;;b0t:. o

'Tadi pagi di Shinjuku ada kebakaran'.


Pada kalimat yang pertama pada umumnya mahasiswa memilih de karena
dalam pemikrannya

-r merupakan suatu aktivitas dan pada

kalimat kedua mahasiswa memilih ni, karena para mahasiswa terpaku

44

LINGUA Vol.9 No.l, Maret 40--46

pada kata ;b It)

yang mereka.pahami bahwa patikel untuk kata ;b It)

yang sebelumnya didahului dengan keterangan tempat adalah ni.

Kemudian hal yang ditemui dalam mata kuliah teIjemahan adalah ketika
meneIjemahkan kalimat berikut.

1. Di luar udaranya sangat dingin.

Pada umumnya mahasiswa

meneIjemahkan menjadi

Yi-

C: --C t

* v\

Yi-

atau

C: --C t

* v\

Dalam

pemahaman mahasiswa kata di dalam bahasa Jepang adalah ni atau de.

2. Di GOR Agus Salim ada konser Nidji. Kalimat ini diterjemahkan


menjadi
GOR Agus Salim

r-

:/(]) ::1

It)

To

Berikut kalimat-kalimat yang terlihat dalam latihan sakubun.

1.

'Lulus dari SD'.

2. ::k':iJ) G tf::l--C

It)

L t::.o 'Ke luar dari kampus'. Dalam

bahasa Indonesia, tempat yang menyatakan asal selalu menggunakan

dari
3.

'Kuliah di universitas'

4.

(' 'Berenang di laut'

5. T'? Y

-{

Iv'Di Dumai tidak ada teman'

tc 'Karena macet di jalan, saya jadi

6.
telat datang di kampus'

E. Simpulan
Dari hasil jawaban yang diberikan mahasiswa temyata pemahaman
mahasiswa terhadap penggunaan.partikel dalam bahasa Jepang barn sebatas
hapalan belum memahami peraturan dan masih terpola pada bahasa Indonesia.

Pemahaman Kata yang Menunjukkan Tempat dan Arah dalam Bahasa Jepang
dan Bahasa Indonesia (Dewi Kania Izmayanti)

45

DAFTAR PUSTAKA

Chisato,

Kamada Osamu,1988, Gaikokujin no tame no Nihongo

Reibun Mondai Shirizu 7, Joshi,Aratake :Tokyo.


H.S.,Widjono, 2005, Bahasa Indonesia,

Mata

kuliah Pengembangan

Kepribadian di Perguruan Tinggi, Grasindo : Jakarta.


Sudjianto, Ahmad Dahidi, 2007, Pengantar Linguistik Bahasa Jepang,
Kesaint Blanc: Jakarta.
Toshiko,Tanaka,

2001, Nihongo

ga

wakaru:

Bunpo,Goi,Hyoki,Kindai

Bungeisha : Tokyo.

46

UNCitJA Vol.9 No.1, Maret 40-46

MENGENAL SEKILAS DIALEKTOLOGI:


KAJIAN INTERDISIPLINER TENTANG VARIASI
DAN PERUBAHAN BAHASA

Wabya
StafPengajar Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Pacijacijaran
saia. aulia@yahoo.com

Abstrak
Oialektologi adalah bidang kajian linguistik interdisipliner. Oialektologi disebut juga
kajian variasi bahasa. Mengingat variasi bahasa merupakan representasi perubahan bahasa,
dialektologi juga merupakan kajian perubahan bahasa. Objek dialektologi adalah variasi
bahasa. Membahas variasi bahasa berarti membahas sejarah bahasa. Pembahasan sejarah
bersifat diakronis. Hanya mengingat kemudian adanya penyempitan makna pada konsep
dialektologi itu sendiri, variasi bahasa yang dimaksud lebih tertuju pada varisi geografis.
Mengingat hal itu, dalam dialektologi juga dibahas geografi dialek, Geografi dialek adalah
kajian yang berobjek dialek geografis. Oi samping istilah geografi dialek, dikenal pula
geolinguistik. Oalam dialektologi atau geografi dialek data bukan hanya diseskripsikan,
melainkan juga divisualkan dalam bentuk peta.
Kata kunci: dialektologi, geografi dialek, geolinguistik.

Abstract
Dialectology is a study of interdisipliner lingustics. It is also called a study of
language variation. Because language variations represet language change, dialectology is a
study of language change. The research object of dialectology is language variation. It means
to study
history or diachronic study. But the concept ofdialctology then is a study of
goghraphic variation. So the dialectology studies a dialect geography. Geography dialect
studies a geographical dialect. Besides terminology of a dialect geography is also called
geolinguistcs. Dialectology not only describes the data also visualizes data in a map.
Key words: dialectology, dialect geography, geolinguistics.

1. Dialektologi dalam Kajian Linguistik


Linguistik adalah kajian ilmiah tentang bahasa dalam pengertian khusus

(langue). Linguistik merupakan ilmu empiris. Dikatakan empiris karena data


yang dianalisis merupakan fakta bahasa yang dapat diamati di lapangan dan
kebenarannya dapat diveriflkasi. Linguistik memprioritaskan objek kajiannya

Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi


dan Perubahan Bahasa (Wabya)

47

pada bahasa keseharian alamiah manusiayang tidak dibuat-buat, yang lahir apa
adanya untuk memenuhi fungsi-fungsi sosial penuturnya.
Mengingat luasnya konsep bahasa sehingga secara dimensional bahasa
dapat diamati dari berbagai sisi. Oleh karena itu, linguistik memiliki berbagai
subkajian, yang membentuk disiplin tersendiri dan memiliki teori tersendiri
pula. Oleh para linguis, bahasa dipandang sebagi sistem simbol atau lambang.
Bidang linguistik yang memandang bahasa dalam sistem internalnya sematamata disebut mikrolinguistik. Sistem internal ini terdiri atas bunyi (fon), yang
dikaji oleh fonologi; morfem, yang dikaji oleh morfologi; satuan lingual yang
berupa frasa, klausa, dan kalimat yang dikaji oleh sisntaksis. Kajian-kajian ini
merupakan linguistik deskriptif. Termasuk ke dalam mikrolinguistik ini kajian
linguistik diakronis atau linguistik histories atau linguistik historis komparatif.
Di samping mikrolinguistik terdapat makrolinguistik dan sejarah
linguistik. Makrolingusitik terbagi atas bidang interdisipliner dan bidang
terapan. Dialektologi termasuk bidang interdisipliner. Dialektologimerupakan
lintas kajian lingusitik dengan geografi, sejarah, antropologi, sosiologi, dan
sosiolinguistik,

bahkan

untuk

menafsirkan

kata-kata

tertentu

dapat

memanfaatkan filologi,kajian tentang naskah lama.

2. Dialektologi
2. 1 Pengertian Dialektologi
Dalam pengertian umum, sesuai dengan ruang lingkup objek yang
dikaji pada awal-awal pertumbuhannya, dialektologi adalah kajian tentang
dialek atau dialek-dialek (Chambers dan Trudgill, 1980: 3; Francis, 1983: 1;
Walters, 1989: 119; Pei, 1966: 68). Dilaktologi berkaitan dengan aspek
regional dan so sial bahasa (Shuy, 1967: 3). Walaupun kajian ini baru benarbenar memperoleh perhatian dari para ahli bahasa menjelang akhir abad ke-19,
48

LlN411A Vol.9 No.1, Maret 47-68

lama sebelumnya telah banyak dilakukan penulisan tentang hal-hal yang


bertalian dengan masalah ini (Ayatrohaedi, 1983: 14). Penelitian yang
dilakukan oleh Gustav Wenker pada tahun 1867 di Jerman dan Jules Louis
Gillieron pada tahun 1880 di Swis membuka babak bam dalam penelitian
dialektologi ini.
Chambers dan Trudgill (1980: 206) berpendapat bahwa dalam
perkembangan berikutnya, terminologi dialektologi mengalami penyempitan
pengertian, yakni sebagai kajian geografi dialek. Kenyataan ini diakui pula
oleh Petyt (1980: 30). Hal ini dapat diamati pada beberapa pendapat linguis,
misalnya O'grady dkk. (1997: 712) yang menyatakan bahwa dialektologi
merupakan kajian variasi bahasa yang berkaitan dengan distribusi geografis
penutur. Richards dkk. (1987: 80 ) memandang dialektologi sebagai kajian
variasi regional bahasa. Demikian pula Crystal (1989: 26) memandang
dialektologi sebagai kajian sistematis mengenai dialek regional. Oleh karena
itu, secara berdampingan, di samping dialektologi digunakan pula istilah lain,
yaitu goegrafi dialek atau geografi linguistik dan sarjana yang mengkaji bidang
ini disebut geografer dialek atau geografer bahasa atau dialektolog (Shuy,
1967: 3). Menurut Pei (1966: 68), geografi dialek, linguistik area (1), dan
geografi linguistik merupakan istilah yang bersinonim, yakni kajian perbedaan
bahasa lokal dengan wilayah tutur tertentu.
Para linguis atau mereka yang tertarik pada dialektologi memiliki
motivasi tertentu ketika mengkaji objeknya. Menurut Francis (1983: 7), mereka
yang mengkaji dialektologi (kajian dialek) paling tidak memiliki empat sifat
motivasi, yaitu (1) ingin tahu, (2) antropologis, (3) linguistis, dan (4) praktis.
Motivasi pertama tampak ketika seseorang sering ingin mengetahui perbedaan
kata untuk sesuatu yang dikenalnya atau perbedaan makna untuk kata yang
dikenalnya. Demikian pula, keingintahuan tentang perbedaan lafal yang
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wabya)

49

diucapkan. Motivasi kedua berkaitan dengan pandangan bahasa sebagai bagian


penting kebudayaan. Perbedaan bahasa dan variasinya sering merupakan
petunjuk terdalam bagi fenomena sosial dan budaya. Motivasi ketiga berkaitan
dengan data yang diperoleh dialektolog, yang dengan data ini dapat diketahui
sejarah bahasa. Motivasi keempat berkaitan dengan perubahan bahasa dan
pemakaiannya. Dengan data ini, permasalahan pemakaian variasi bahasa,
termasuk dialek baku, dalam masyarakat secara praktis dapat diketahui.
Dialektologi sebagai salah satu cabang linguistik memiliki andil dalam
mengembangkan ilmu tersebut. Dalam hal ini, kajiannya dapat menampilkan
gejala variasi bahasa, yakni variasi yang terdapat di wilayah tertentu ataupun
yang digunakan oleh kelompok sosial tertentu. Menurut Grijns (1991: 54),
salah satu jasa dialektologi yang telah nyata adalah bahwasudah sejak dini dan
dengan sangat umum berhasil menunjukkan kekompleksan distribusi areal ciriciri linguistik dalam bahasa-bahasa manusia. Menurut Robins (1992: 74)
karena sering berkaitan dengan sejarah perkembangan bahasa, kajian dialek
sangat relevan bagi linguistik historis. Dalam hal ini, kajian dialek dapat
dianggap sebagai ilmu bantu linguistik historis. Nothofer (Collins, 1989: xx)
berpandangan bahwa penelitian dialek mempunyai dua tujuan, yakni tujuan
sinkronis dan tujuan diakronis. Jelaslah, kajian dialek memiliki ruang runag
lingkup yang luas sehingga memberikan sumbangan besar bagi kajian
linguistik umumnya.
Sesuai dengan perkembangan objek dan metode kajiannya, Chambers
dan Trudgill (1980: 206) menganggap dalam dialektologi kini (dialektologi
modem) tidak hanya dibahas masalah geografi dialek, tetapi dibahas pula
masalah dialek perkotaan dan geografi kependudukan. Oleh karena itu,
Chambers dan Trudgill mengusulkan istilah geolinguistik untuk kajian yang

50

WJt:;UA Vo\.9 No.1, Maret 47---68

mencakupi masalah itu akibat berbagai konotasi yang dikandung istilah


dialektologi tersebut.

2.2 Pengertian dan Ragam Dialek

Sebelum lebih lanjut dijelaskan mengenai dialek dan ragamnya, akan


disinggung dahulu eksistensi bahasa. Pei (1966: 141) memberikan batasan
bahasa antara lain sebagai suatu sistem komunikasi yang menggunakan bunyi,
yang memanfaatkan alat ucap dan pendengaran di antara anggota masyarakat
tertentu dengan menggunakan simbol vokal secara arbitrer dan arti secara
konvensional. Kridalaksana (1993: 21) membatasi bahasa sebagai sistem
larnbang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh anggota suatu
masyarakat untuk bekerja sarna, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
Kedua batasan bahasa di atas pada dasarnya sejalan, batasan bahasa sarna-sarna
ditinjau dari sudut pandang sebagai sebuah sistem yang memiliki fungsi praktis
sehari-hari dalarn kelompok pemakainya, yakni alat komunikasi. Batasan ini
dapat digunakan pula untuk dialek atau variasi bahasa jika semata-mata dialek
atau variasi bahasa dilihat secara otonom sebagai sebuah sistem yang memiliki
fungsi dalarn kelompok pemakainya karena pada hakikatnya subtansi bahasa
dan variasinya sarna saja (lihat pula Richards dkk. 1987: 154). Akan tetapi,jika
dilihat dari sisi eksternallain, yakni sisi pemakainya, bahasa dapat didentifikasi
sebagai variasi sesuai dengan keberadaan kelompok pemakai tersebut. Dalarn
hal ini variasi adalah dialek, baik pemakainya yang berada di tempat tertentu
dan dalarn kelompok sosial tertentu maupun pada masa tertentu.
Dialek sebagai sistem atau variasi bahasa tecermin dalarn pandanganpandangan berikut. Weijnen dkk. (Ayatrohaedi, 1983: 1, 2002: 1-2)
berpendapat bahwa dialek adalah sistem kebahasaan yang dipergunakan oleh
satu masyarakat untuk membedakannya dari masyarakat lain yang bertetangga
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wabya)

51

yang mempergunakan sistem yang beflainan walaupuin erat hubungannya.


Richards dkk. ( 1987: 80) membatasi dialek sebagai

variasi bahasa yang

digunakan di sebagian negeri (dialek regional), atau oleh penduduk yang


memiliki kelas sosial tertentu

(dialek sosial atau sosiolek), yang berbeda

dalarn beberapa kata, tata bahasa, danlatau pelafalan dari bentuk lain pada
bahasa yang sarna. Pei (1966: 67) membatasi dialek sebagai cabang atau
bentuk tertentu dari bahasa yang digunakan di wilayah geografis tertentu.
Poedjoseodarmo (tanpa tahun) membatasi dialek sebagai varian yang walaupun
berbeda masih dapat dipaharni oleh penutur dari varian lain. Kridalaksana
(1993: 42) membatasi dialek sebagai variasi yang berbeda-beda menurut
pemakai, apakah di tempat tertentu (dialek regional), oleh golongan tertentu
(dialek sosial), ataukah pada waktu tertentu (dialek temporal). Dari beberapa
pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa dialek merupakan sistem atau
variasi bahasa. Variasi ini bisa berwujud variasi regional atau geografis jika
digunakan di tempat tertentu, bisa berwujud variasi sosial (sosiolek) jika
digunakan oleh kelompok sosial tertentu, dan bisa berwujud variasi temporal
jika digunakan pada waktu ter-tentu. Dengan demikian, dialektologi
merupakan kaj ian variasi bahasa.
Para linguis sering menggarnbarkan variasi geografis (variasi regional)
dan variasi sosial dengan arah yang berbeda. Variasi geografis berarah
horizontal, sedangkan varisi sosial berarah vertikal. Variasi sosial cenderung
bertingkat sesuai dengan adanya lapisan-Iapisan sosial, sedangkan varisi
geografis tidak. Bagan berikut mengarnbarkan posisi kedua jenis variasi
tersebut.

52

LlNGlJA Vo1.9 No.1, Maret 47-68

variasi
sosial

ID
l1li

variasi regional

(Trudgill, 1983: 188)

Menurut Meillet (1970: 70), juga dikutip oleh Ayatrohaedi (1983: 2),
dialek memiliki ciri sebagai berikut. Pertarna, perbedaan dalarn kesatuan,
kesatuan dalarn perbedaan. Kedua, dialek adalah seperangkat ujaran setempat
yang berbeda-beda yang memiliki ciri umum dan lebih mirip sesarnamnya
dibandingkan dengan bentuk ujaran lain dari bahasa yang sarna. Ketiga, dialek
tidak hams mengarnbil semua bentuk ujaran setempat dari sebuah bahasa.
Berdasarkan pandangan ini, secara umum dialek merupakan sistem yang
memiliki kekhasan sebagai bagian dari sistem bahasa.
Dalam teminologi sosiolinguistik, dialek dan register, yang keduaduanya sebagai variasi bahasa, dibedakan. Dialek merupakan variasi bahasa
yang berkaitan dengan pemakainya, sedangkan register merupakan variasi
bahasa yang berkaitan dengan pema-kaiannya (Halliday, 1965: 67; Halliday
dan Hasan, 1992: 56; Finegan, 1989: 383-384).
Halliday dan Hasan (1992: 56) di antaranya berpandangan bahwa ada
keterkaitan yang erat antara register dan dialek sehingga tidak ada pemisah
yang jelas antara keduanya. Dialek (variasi dialektal) menyatakan hal yang
sarna dengan cara yang berbeda, sedangkan register menyatakan hal yang
berbeda. Dialek cenderung

berbeda bukan dalarn hal makna yang

diungkapkan, tetapi dalarn hal pemyataan makna dalarn aspek bahasa yang
lain, tata bahasa, kosakata, fonologi, dan fonetik. Register berbeda yang satu
dengan yang lainnya dalarn hal makna. Bahasa Indonesia yang digunakan
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wabya)

53

dalam karya ilmiah merupakan salah satri register bahasa Indonesia. Demikian
pula, penggunaan bahasa Indonesia dalam bidang ilmu tertentu.
Untuk membedakannya dengan bahasa, walaupun sering tidak secara
tegas, para linguis sering membatasi dialek sebagai variasi bahasa yang saling
dapat dipahami oleh pemakainya (mutual intelligibility) (Lehman, 1973: 255:
Chambers dan Trudgill, 1980: 3; McManis dkk., 1988: 341; Steinbergs, 1997:
372; Saussure, 1988: 334). Menurut Robins (1992: 70), linguis cenderung
memusatkan perhatian pada kriteria ini karena berhubungan dengan kenyataan
yang khas linguistis. Namun, istilah ini bukan masalah saling dapat memahami
secara total atau tidak saling memahami sama sekali, melainkan ada tingkatantingkatannya. Adanya kebertingkatan pemahaman ini diakui pula oleh Petyt
(1980: 13).
Batasan bahasa dan dialek kadang-kadang kabur lebih-lebih karena
faktor politik, budaya, sosial, sejarah, dan agama (Steinbergs, 1997: 372;
Chambers dan Trudgill, 1980 : 5; Lyons, 1975: 19; 1995: 35). Kepemilikan
kesusastraan pada dialek tertentu dapat menyulitkan pembedaannya dari
langue (Saussure, 1988: 334). Menurut Robins (1992: 60), dialek merupakan

abstraksi yang sama jenisnya seperti bahasa. Akan tetapi, karena dialek
mencakup lebih sedikit penutur, orang bisa membuat pemyataan yang lebih
mendekati bahasa yang sebenamya digunakan penuturnya. Oleh karena itu,
konsep saling dapat dipahami kadang-kadang sulit dijadikan kriteria pembeda
dialek dan bahasa (Petyt, 1980: 13).
Penulis berpandangan bahwa dialek merupakan bentuk variasi bahasa,
baik dalam lingkungan so sial maupun lingkungan geografis tertentu. Dalam hal
ini, penulis sependapat dengan Chambers dan Trudgill bahwa penggunaan
istilah variasi untuk dialek lebih netral atau aman untuk keperluan teknis
tertentu.
54

LINGUA Vo1.9 No.1, Maret 47--68

Tidak ada seorang pun penutur sebuah bahasa yang lepas sama sekali
dari dialek atau variasi bahasanya Ketika orang itu berbicara, saat itu pula
yang bersangkutan berbicara dalam dialeknya atau variasi bahasanya. Hal ini
sejalan dengan pendapat Pilch (1976: 123). Bahasa, tanpa kecuali, dinyatakan
melalui dialek, berbicara dalam sebuah bahasa berbicara dalam beberapa dialek
bahasa itu. Meskipun terdapat variasi dalam bahasa, tidak

berarti variasi

tersebut terpisah sendiri-sendiri dalam pemakaiannya (Kridalaksana, 1985: 1314).


Beberapa dialek yang semula berasal dari satu bahasa bisa berstatus
bahasa karena faktor politik, misalnya bahasa Melayu di Indonesia disebut
bahasa Indonesia, sedangkan bahasa yang sama di Malaysia disebut bahasa
Malaysia. Kedua bahasa ini dalam penggunaannya pada situasi resmi tidak
jauh berbeda, antara orang Indonesia dan orang Malaysia cenderung masih
dapat berkomunikasi karena adanya faktor saling memahami. Akan tetapi,
dalam penggunaannya pada situasi tidak resmi sangat berbeda, orang Indonesia
cenderung sulit berkomunikasi dengan orang Malaysia, demikian pula
sebaliknya. Oleh karena itu, apa yang dikatakan Chambers dan Trudgill (1980:
10 - 11) dengan adanya konsep otonomi dan heteronomi yang dicoba
diterapkan dalam bahasa dan dialek dapat memperjelas masalah status bahasa
dan dialek ini walaupun pandangannya tidak mengacu pada linguistik. Dalam
situasi tertentu, dialek atau bahasa bersifat otonom, sistem yang tidak
bergantung pada yang lain (otonomi). Akan tetapi, dalam situasi lain, bahasa
atau dialek memiliki kebergantungan pada yang lain sehingga sistem ini tidak
otonom lagi (heteronomi). Fenomena dialek kontinum biasanya menunjukkan
hal ini karena batas dialek atau bahasa tidak ada lagi atau kabur. Biasanya
faktor nonlinguistiklah (misalnya politik) yang kemudian memberikan status
bahasa atau dialek.
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wahya)

55

Menurut hemat penulis, munculriya sebutan bahasa Betawi modem di


satu sisi dan bahasa Indonesia lisan ragarn Jakarta di sisi lain yang mengacu
pada sistem langue yang sama bisa jadi diakibatkan adanya kekaburan status
sistem langue itu. Hal ini bisa pula terjadi karena adanya dialek kontinum
bahasa Indonesia ragam lisan yang bersentuhan dengan bahasa Betawi modem
secara sosiolinguistis sehingga kedua batas ragam itu kabur. Hal ini perlu
diteliti lebih lanjut.

2.3 Pembeda Dialek

Dialek yang satu berbeda dengan dialek yang lain karena masingmasing memiliki kekhasan yang bersifat lingual. Kekhasan inilah yang menjadi
pembeda bagi dialek-dialek tersebut. Ayatrohaedi (1983: 3-5) mengacu pada
pandangan Guiraud (1970) yang berpendapat bahwa pembeda dialek pada garis
besamya ada lima macam, yakni sebagai berikut:
(1) perbedaan fonetis, yaitu perbedaan pada bidang fonologi, misalnya,
careme dan cereme "buah (pohon) cermai, gudang dan kudang 'gudang',
danjendela, gandela, dan janela 'jendela' dalam bahasa Sunda;

(2) perbedaan semantis, yang mencakup (a) sinonimi, yaitu

nama yang

berbeda untuk linambang yang sama pada beberapa tempat yang berbeda,
misalnya, turi dan turuy 'turi' dalam bahasa Sunda, kemudian (b)
homonimi, yaitu nama yang sarna untuk hal yang berbeda pada beberapa
tempat yang berbeda, misalnya, meri 'itik' dan 'anak itik' dalam bahasa
Sunda;
(3) perbedaan onomasiologis, yaitu nama yang berbeda berdasarkan satu
konsep yang diberikan pada beberapa tempat yang berbeda, misalnya,
ondangan,

kondangan,

kaondangan dan nyambungan 'menghadiri

kenduri' dalam bahasa Sunda;


56

UNCjIJA Vo1.9 No.1, Maret 47--68

(4) perbedaan semasiologis, yaitu nama yang sama untuk beberapa konsep
yang berbeda, misalnya, Aceh 'nama suku bangsa', 'nama daerah', 'nama
kebudayaan', 'nama bahasa', dan 'nama' sejenis rambutan';
(5) perbedaan morfologis, yaitu perbedaan dalam bentukan kata, misalnya,
lemper dan lelemper 'lemper'; ogo dan ogoan'manja dalam bahasa Sunda.

Oleh penulis kelima perbedaan dialek di atas dikelompokkan menjadi empat,


yaituperbedaanfonetis, perbedaan (1),perbedaan leksikal, perbedaan (2a) dan

perbedaan (3), perbedaan semantis, perbedaan (2b) dan (4), dan perbedaan
morfologis, perbedaan (5).
Perbedaan-perbedaan di atas dianggap sebagai varian. Perbedaan fonetis, leksikal, dan morfologis berkaitan
dengan varian bentuk, sedangkan perbedaan semantis berkaitan dengan varian makna. Dari varian-varian tersebut
ada yang merupakan bentuk atau makna asal, ada pula bentuk atau makna baru (pembaruan). Bentuk dan makna
baru (hasil pembaruan) dalam tradisi dialektologi disebut bentuk inovatif dan makna inovatif

Istilah nama dan linambang, yang masing-masing merujuk pada


lambang (simbol) dan makna tidak digunakan penulis. Penulis menggunakan
istilah bentuk dan makna karena kedua istilah ini lebih umum dalam linguistik,
misalnya penggunaan istilah inovasi bentuk dan inovasi makna atau bentuk
inovatif dan makna inovatif.

Menurut Chambers dan Trudgill (1980: 5), perbedan dialek ditandai


oleh perbedaan yang bersifat gramatikal dan juga mungkin leksikal, sedangkan
jika perbedaan itu ditandai oleh pelafalan menandakan adanya perbedaan aksen
(1980: 5) atau ditandai oleh perbedaan fonetis atau fonologis regional (Rodman
(1993: 277).

Linguis lain, yakni Southerland dan Katamba (1997: 565),

Crystal (1989: 341), serta Petyt (1980: 16) berpandangan bahwa perbedaan
dialek ditandai dengan perbedaan kosakata, tata bahasa, dan pelafalan,
sedangkan perbedaan aksen ditandai dengan perbedaan pelafalan. Penulis
sendiri berpandangan bahwa perbedaan dialek dapat terjadi pada bidang
fonetik, leksikon, dan tata bahasa, tetapi umumnya perbedaan lebih sering dan
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wabya)

57

menonjol pada bidang fonetik dan leksikon. Perbedaan tata bahasa umumnya
terjadi pada tataran morfologi, bukan pada tataran sintaksis. Jika perbedaan
terjadi pada tata bahasa, perbedaan itu akan sangat terbatas. Perbedaan tata
bahasa, yakni perbedaan yang berkaitan dengan struktur, umumnya tidak
menunjukkan perbedaan dialek, tetapi me-nunjukkan perbedaan bahasa.
Dalam

kajian dialektologi, di samping dikenal istilah dialek,

sebagaimana telah dijelaskan di atas, dikenal pula variasi lain, yakni aksen,
idiolek, dan lek. Pada penjelasan sebelumnya telah disinggung perbedaan
antara dialek dan aksen. Dialek merupakan variasi bahasa yang mengacu pada
perbedaan kosakata dan tata bahasa, sedangkan aksen variasi bahasa yang
mengacu pada perbedaan pelafalan atau fonetis. Meskipun demikian, bukan
berarti dialek yang berbeda tidak ditandai aksen yangberbeda. Perbedaan
dialek dapat ditandai dengan perbedaan aksen, tetapi perbedaan aksen belum
tentu menandai perbedaan dialek.
Idiolek merupakan sistem bahasa yang ditemukan pada seorang penutur
dan mencerminkan kebiasaan berbahasa perseorangan (Rodman, 1993: 276).
Ketika seseorang mengkaji dialek, idiolek merupakan objek pertama kajiannya.
Dialek merupakan abstraksi dari sejumlah idiolek ini sebagaimana bahasa
merupakan abstraksi bagi sejumlah dialek (Crystal, 1989: 24). Idiolek
merupakan batas terendah dialek (Robins, 1992: 61).
Lek merupakan istilah bam yang sepadan dengan istilah variasi, baik
yang berlatar belakang personal, regional, sosial, pekerjaan, atau yang lainnya
(Crystal, 1989: 24). Chambers dan Trudgill (1980: 132-142) menggunakan
istilah ini untuk mendeskripsikan beberapa perbedaan lafal bahasa Inggris yang
ditelitinya. Istilah itu digunakan penulis sebagai variasi leksikal atau variasi
fonetis yang terdapat dalam variasi bahasa, terutama yang menandai variasi

58

LfN4l1A Vo\.9 No.1, Maret 47-68

geografis. Istilah lek dipahami tidak hanya sebagai konsep variasi yang ne-tral,
tetapi variasi yang berkaitan dengan perbedaan geografis dan kelompok sosial.

3. Geografi Dialek
3.1 Pengertian
Geografi dialek kadang-kadang disebut dialektologi regional, linguistik
wilayah, geografi linguistik, dan dialektologi tradisional (Walters, 1989: 120).
Geografi dialek merupakan kajian dialek regional atau dialek geografis
(McManis dkk., 1988: 341). Kajian ini merupakan cabang dialektologi yang
mempelajari hubungan yang terdapat dalam ragam-ragam bahasa dengan
bertumpu kepada satuan ruang atau temp at terwujudnya ragam-ragam tersebut
(Dubois dkk. dalam Ayatrohaedi, 1983: 29). Dari beberapa pendapat di atas,
dapat disimpulkan bahwa geografi dialek merupakan kajian linguistik yang
berobjek dialek regional atau dialek geografis. Istilah geografi dialek bisa
disebut juga geolinguistik. Istilah geolinguistik ini digunakan dalam disertasi
penulis.

3.2 Ruang Lingkup


Dari sisi epistimologi, geografi dialek sebagai penerapan teori
gelombang, yang diusulkan oleh lohan Schmidt pada 1872, muncullebih awal
daripada dialektologi (Keraf, 1984: 143). Pada awal perkembangannya,
geografi dialek merupakan bagian dari linguistik historis (lingusitik komparatif
atau linguistik diakronis), yang secara khusus membahas dialek atau perbedaan
lokal. Keterkaitan geografi dialek dengan linguistik historis ini dinyatakan pula
oleh Bloomfield (1965: 321; 1995: 311) bahwa geografi dialek sebagai kajian
perbedaan lokal dalam wilayah tutur melengkapi metode komparatif.

Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi


dan Perubahan Bahasa (Wahya)

59

Dalam perkembangan selanjutnya, linguistik historis dengan geografi


dialek seakan-akan terpisah menjadi kajian yang berbeda walaupun sebagai
salah satu metode, terutama dalam penjaringan data, geografi dialek tetap
dimanfaatkan dalam

linguistik historis. Menurut Ayatrohaedi, (1983: 29),

linguistik historis di dalam

simpulannya hampir selalu menunjuk kepada

bahasa proto. Geografi dialek menyajikan hal yang berkaitan dengan


pemakaian unsur bahasa yang ada sehingga dapat dibuktikan. Sebagaimana
telah disinggung sebelumnya, dua orang linguis sebagai pelopor dalam
geografi dialek ini sehingga hasil penelitiannya memengaruhi penelitian
geografi dialek di negara lain, adalah Gustav Wenker dan Jules Louis
Gillieron.
Pada awal perkembangnnya, penelitian geografi dialek terutama
diarahkan untuk menetapkan ruang lingkup gejala kebahasaan dengan jalan
mengelompokkan dan memaparkan ciri-ciri dialek. Dalam perkembangan
selanjutnya, penelitian ini diarahkan untuk mencari

yang ada antara

batas-batas dialek atau bahasa dan batas-batas alam ataupun sejarah


(Ayatrohaedi, 1983: 30). Oleh karena itu, jika dikaitkan dengan dialektologi,
geografi dialek memiliki kekhususan sebagaimana diakui Chambers dan
Trudgill (1980: 17).
Dalam kaitannya dengan

linguistik,

geografi dialek memiliki

kedudukan yang penting berdasarkan alasan praktis. Mengutip pendapat


Meillet, Ayatrohaedi (1983: 31) berpendapat bahwa dengan penelitian geografi
dialek, pada saat yang sama telah dapat diperoleh gambaran umum mengenai
sejumlah dialek sehingga hal tersebut sangat menghemat waktu, tenaga, dan
dana. Menurut Bloomfield (1965: 345), geografi dialek tidak hanya
menyumbang kita pemahaman faktor ekstralinguistik yang memengaruhi

60

LfN411A Vo\.9 No.1, Maret 47-68

kelaziman bentuk bahasa, juga memberikan banyak rincian mengenai sejarah


setiap bentuk itu.
Dengan penelitian geografi dialek dapat dikumpulkan data sinkronis
yang berdimensi diakronis. Data tersebut tidak hanya menampilkan fakta
empiris eksistensi variasi bahasa pada saat penelitian, juga sekaligus
menyajikan hasil peIjalanan sejarah variasi tersebut. Data yang diperoleh di
lapangan dapat mencerminkan hasil perubahan yang teIjadi. Oleh karena itu,
data geografi dialek ibarat pedang bermata dua: berdimensi sinkronis dan
diakronis. Dimensi diakronis yang ditampilkannya itulah yang menyebabkan
geografi dialek menjadi bagian penting dari kajian linguistik historis atau
linguistik diakronis.

3.3 Peta Bahasa atau Peta Dialek


Pemetaan sebagaimana disinggung sebelumnya sangat penting dalam
menampilkan gejala kebahasaan. Artinya, pemetaan dan kajian geografi dialek
merupakan suatu kesatuan, antara keduanya tidak dapat dipisahkan.
Ayatrohaedi (1983, :31-32) berpandangan bahwa peta bahasa atau peta dialek
merupakan alat bantu untuk menggambarkan kenyataan yang terdapat dalam
dialek-dialek, baik itu persamaan maupun perbedaan di antara dialek-dialek
tersebut. Sejalan dengan itu, penulis berpandangan bahwa pemetaan dialek
hams selalu diawali dengan pendeskripsian dialek atau ciri-ciri dialek
sebagaimana ditunjukkan oleh tradisi awal penelitian dialektologi yang
dilakukan Gillieron dan Wenker. Hal ini diakui pula oleh Saussure (1988: 332333) bahwa penelitian ciri-ciri dialek adalah titik tolak usaha memetakan
bahasa.
Peta bahasa bisa berupa peta peragaan (display maps) dan peta tafsiran
(interpretive maps). Peta peragaan sungguh-sungguh mentransfer jawaban
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wabya)

61

tertabulasi untuk masalah tertentu ke atas peta, yang meletakkan tabulasi ke


perspektif geografis. Peta tafsiran mencoba membuat pemyataan yang lebih
umum dengan menunjukkan distribusi variasi utama dari satu daerah ke daerah
lain (Chambers dan Trudgill, 1980: 29). Kita dapat membedakan peta peragaan
dari peta tafsiran, di antaranya, pada peta tafsiran terdapat garis isoglos yang
menunjukkan variasi-variasi utama, sedangkan pada peta peragaan tidak. Pada
peta tafsiran varian-varian dikelompokkan berdasarkan etimonnya. Kedua jenis
peta ini biasanya terdapat bersama-sama, peta tafsiran mengikuti peta
peragaan. Walaupun bukan merupakan tujuan utama, pembuatan peta menjadi
penting untuk penelitian yang dilakukan selain memberikan gambaran
perspektif geografis terhadap data yang diteliti, juga bisa menjadi sumber
untuk penelitian lainnya atau menjadi sumber informasi yang berkaitan dengan
distribusi unsur kebudayaan atau unsur kesenian tertentu.

4. Geolinguistik

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Chambers dan Trudgill (1980:


207) memunculkan istilah geolinguistik sebagai altematif bagi dialektologi
(dialektologi tradisional) akibat konsep yang terkandung di dalam dialektologi,
dalam perkembangan berikutnya, mengalami penyempitan. Dialektologi
cenderung hanya mengacu pada kajian geografi dialek, sedangkan kajian
dialek sosial tidak termasuk di dalamnya. Selain itu, istilah tersebut diusulkan
dengan munculnya metode baru dalam penanganan dialektologi, yakni
dialektologi perkotaan yang dipelopori William Labov. Hal ini pun diakui oleh
Lehman (1973: 127 - 128). Kajian Labov, berdasarkan penelitian varietas
bahasa di Kota New York, memperjelas penyebaran perubahan bahasa.
Perubahan bahasa tidak hanya berasal dari daerah geografis tertentu,
sebagaimana pandangan linguistik historis, tetapi dapat pula berasal dari
62

LlN(1lJA Vol.9 No.1, Maret 47-68

kelompok so sial atau golongan ekonomi tertentu. Trudgill

(1983: 2)

meletakkan kajian Labov tersebut sebagai kajian murni linguistik dengan objek
berupa bahasa dan masyarakat.
Oleh Trudgill (1983: 1) geolinguistik dianggap kajian dialek dalam
pengertian yang luas, yakni kajian mengenai variasi so sial dan regional bahasa
beserta perkembangan, difusi, dan evaluasinya. Baginya, geolinguistik
merupakan dialek geografi sosiolinguistis (sociolinguistic dialect geography).
Geolinguistik sebenarnya telah lama dikenal sebelum Chambers dan
Trudgill mengusulkan penggunaan istilah tersebut pada karyanya pada 1980.
Chambers dan Trudgill (1980: 207) sendiri mengakui bahwa istilah ini
biasanya muncul

dalam karya dialektolog Prancis dan Italia, tetapi tidak

umum dipakai di mana pun. Bentuk terikat geo- 'bumi' pada geolinguistik
beranalogi pada istilah seperti geografi dan geologi.
Pei (1966: 104) berpendapat bahwa geolinguistik merupakan kajian
bahasa dalam kehadirannya yang sekarang dengan pengacuan tertentu terhadap
sejumlah penutur, distribusi geografis, ekonomi, pengetahuan, dan kepentingan
budaya; juga identifikasinya dalam bentuk bahasa lisan dan tulis. Pei
selanjutnya mengingatkan bahwa istilah ini tidak boleh dikacaukan dengan
geolinguistika yang kadang-kadang digunakan oleh linguis Italia sebagai

sinonim untuk geografi linguistik. Dalam hal ini, Pei sependapat dengan
Chambers dan Trudgill mengenai telah digunakannya istilah di atas oleh
linguis sebelumnya, terutama di Italia.
Sehubungan dengan uraian ini, penulis berpandangan bahwa terdapat
benang merah pada penggunaan istilah geolinguistik oleh para linguis tertentu,
yakni istilah ini mengacu pada kajian linguistik yang berkaitan dengan variasi
bahasa dengan berbagai faktor yang melingkupinya meskipun pada awal
penggunaannya memiliki konsep yang terbatas. Dalam hal ini, Chambers dan
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wahya)

63

Trudgill

boleh

dikatakan

hanya

mengumandangkan

peresmlan

atau

mengukuhkan penggunaan istilah tersebut dalam kajian linguistik dengan


paradigma barunya. Istilah geolinguistik dalam mtulisan ini mengacu pada
pandangan Chambers dan Trudgill (1980) dan Trudgill (1983) di atas.
Pada pandangan penulis. dialektologi yang merupakan teori variasi
bahasa secara umum, namun sebenarnya memfokuskan kajiannya kepada
variasi geografis, masih dipakai oleh para dialektolog. Geografi dialek menjadi
bagian dari kajian dialektologi tersebut. Istilah geolinguistik, yang jarang
dipakai, kini menjadi padanan geografi dialek itu sendiri.

5. Penutup

Dialektologi

sebagai

bidang

linguistik interdisipliner bukanlah

merupakan kajian barn, Namun, pada pandangan penulis masih jarang


mahasiswa linguistik yang melakukan penelitian untuk karya tulis akhimya
dalam bidang ini. Bidang ini bisa dipilih sebagai altematif untuk penelitian
skripsi, tesis, atau disertasi. Diakui untuk terjun di bidang ini diperlukan syaratsyarat tertentu, misalnya, kekuatan fisik karena harus terjun ke lapangan dalam
waktu yang tidak sebentar. Dialektologi memang merupakan salah satu bidang
linguistik lapangan. Di samping itu, diperlukan kesabaran dan kecermatan
dalam menganalisis data dan memetakan data tersebut. Bidang ini menantang
para mahasiswa linguistik di Indonesia mengingat bumi Indonesia merupakan
laboratorium alami yang sangat kaya dengan bahasa dan variasi geografisnya.
Bidang ini cukup menarik jika Anda sudah terjun di dalamnya.

64

LINGUA Vo1.9 No.1, Maret 47--68

DAFTAR PUSTAKA

Ayatrohaedi. 1979 dan 1983. Dialektologi Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat


Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.
---------. 1985. Bahasa Sunda di Daerah Cirebon. Jakarta: Balai Pustaka.
---------. 2002. Pedoman Penelitian Dialektologi. Jakarta: Pusat Bahasa
Departemen

Pendidikan Nasional.

Bloomfield, Leonard.1965. Language History. New York, Chicago, San


Francisco, Toronto: Holt, Rinehart and Wiston.
Chambers, J.K. and Peter Trudgill.1980. Dialectology. Cambridge, New York,
Melbourne: Cambridge University Press. Ciputat: Logos.
Collins, James T. 1989. Antologi Kajian Dialek Melayu. Kuala Lumpur:
Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.
Crystal, David.1989. The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge
university.
Francis, W.N. 1983. Dialctology An Introduction. New York: Longman.
Grijns, C.D. 1991. Kajian Bahasa Melayu Betawi. Terjemahan Rahayu
Hidayat. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Halliday, M.A.K. dkk. 1965. The Linguistic Sciences and Language

Teaching. Bloomington:

Indiana University Press.

Halliday, M.A.K dan Hasan, Ruqaiya. 1992. Bahasa, Konteks dan Teks AspekAspek Haji Omar, Asmah. 1985. Susur Galur Bahasa Melayu. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia. Bahasa
dalam Pandangan Semiotik Sosial. Terjemahan Asruddin Barori Tou
dari Language, Context, and Text: Aspect of Language in a Social-

Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi


dan Perubahan Bahasa (Wabya)

65

semiotic Perspective (1985). Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.
Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia. The
Problem}. Paris: Mouton The Hague.
Kridalaksana, Harimurti. 1985. Fungsi Bahasa dan Sikap Bahasa. Edisi II, Cet.
I. Ende: Nusa Indah.

---------.2001. Principles ofLinguistic Change. Malden: Blackwell.


Lehman, Winfred P. 1973. Historical Linguistics an Introduction. New York:
Holt, Rinehart and Winston.
Lyons, John. 1975. New Horizons in Linguistics. Penguin Books.
---------. 1995. Pengantar Teori Linguistrik. Terjemahan I. 80etikno dari
Introduction to Theoretical Linguistics (1968). Jakarta: Gramedia.
McManis, Carolyn dkk.1988. Language Files Materials for An Introduction to
Language. Ohio: The Ohio University Press.
Meillet, Antoine. 1970. The Comparative Method in Historical Linguistics.
Paris: Librairie Honore Champion, Editeur.
Nothofer, Bernd. 1975. The Reconstruction of Proto-Malayo-Javanic. '8Gravenhage Martinus Nijhoff.
---------. 1995. "Dialek Melayu di Kalimantan dan di Bangka: Misan atau
Mindoan?" Dalam PELLBA 8. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma
Jaya.
O'grady, William dkk. (ed.) 1997. Cotemporary Linguistics an Introduction.
London and New York: Longman. dari Maleische Spraakkunst. Jakarta:
Djambatan.
Petyt, K.M. 1980. The Study of Dialect An Introduction to Dialectology.
London: Andre Deutsch.
Pilch, Hebert. 1976. Empirical Linguistics. Mu.nchen: Francke Verlag.

66

LlNalJA Vo\.9 No.1, Maret 47-68

Robins, R.H. 1992. Linguistik Umum Sebuah Pengantar. Cet. I. Terjemahan


Soenarjati Djajanegara dari General Linguistics (1989). Yoyakarta:
Kanisius.
---------. 1995. Sejarah Singkat Linguistik. Edisi III. Terjemahan Asril
Marjohan dari A Short History of Linguistics. Third Edition. (1990). Bandung:
Penerbit ITB.
Rodman, Robert. 1993. An Introduction to Language. Fifth Edition. Orlando:
Harcourt Brace Jovanovich.
Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Terjemahan
Rahayu S. Hidayat dari Course de Linguistique Generale (1973).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Shuy, Roger W. 1967. Discovering Americans Dialect. National Council of
Teachers of English.
Sotherland dan Katamba. 1997. "Language in Social Contexts". Dalam

Contemporary Linguistics An Introduction. London and New York:


Longman.
Steinbergs, Aleksandra. 1997. "The Classification of Languages"

Dalam

Contemporary Linguistics An Introduction. London and New York:


Longman.
Sturtevant, E.H. 1962. Linguistic Change. The University of Chicago.
Trudgill, Peter. 1983. On Dialect Social and Geographical Perspectives.
Oxford: Basil Blackwell.
---------. 1986. Dialects in Contact. Oxford: Basil Blackwell.
Wahya. 1995. "Bahasa Sunda di Kecamatan Kandanghaur dan Kecamatan
Lelea Kabupaten Indramayu Kajian Geografi Dialek." Tesis Magister
Humaniora. Bandung: Jurusan Program Pascasarjana Universitas
Padjadjaran.
Mengenal Sekilas Dialektologi: Kajian Interdisipliner tentang Variasi
dan Perubahan Bahasa (Wabya)

67

Bahasa Sunda". Dalam Jurnal

----------.2000. "Fonem /hi dalam

Sastra, Vol. 8. No.5. Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.


----------. 2001. "Kata Serapan Bahasa Cina dalam Bahasa Indonesia dan
Bahasa Sunda". Dalam Jurnal Sastra, Vol. 8 No.5. Fakultasa Sastra
Universitas Padjadjaran.
Walters, Keith. 1989. "Dialectology". Dalam Language: The Socio-cultural

Context. Cambridge University Press.


Weijnen,

A.

1975.

Algemene

en

Vergelijkende

Dialectologie.

Amsterdam: Holland Universiteit Pers.


Weinreich, Uriel. 1970. Languages in Contact. Paris: Mouton.

Daftar Kamus
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Edisi III. Jakarta: Gramedia.
Pei, Mario. 1966. Glossary ofLinguistic Terminology. New York and London:
Columbia University Press.
Richards, Jack dkk. 1987. Longman Dictionary of Applied Linguistics.
Longman.

68

WJ;lJA VoI.9No.l, Maret 47-68

NILAI MORAL SHUDANSHUGIDAN MUNCULNYA FENOMENA


IJIME
Ekayani Tobing
Staf Pengajar Bahasa Jepang Sekolah Tinggi Bahasa Asing LlA Jakarta
ekayanUobing@hotmail.com

Abstrak
Fenomena ijime merupakan hal yang menarik dikaji. Munculnya gejala ini salah
satunya diakibatkan karena kuatnya ikatan solidaritas masayarakat Jepang pada kelompoknya
atau dikenal dengan nakama ishiki. Ijime merupakan kasus tindak kekerasan yang dilakukan
bukan secara individual, melainkan secara kelompok.
Kata kunci: ijime, shudanshugi, solidaritas

Abstract
Ijime phenomenon is a subject that is interesting to study. The occurance of this
phenomenon is caused among other by a strong solidarity cohesiveness in the Japanese society
for its group which is called "nakama ishiki". Ijime is a case of violence act committed not by
individual but corporately by a group.
Key words: ijime, shudanshugi, solidarity

Pendahuluan

Manusia sebagai mahluk sosial dalam kehidupannya tidak dapat


mengelakan dirinya dari berbagai masalah sosial karena masalah-masalah
sosial telah terwujud sebagai hasil dari kebudayaan manusia itu sendiri, sebagai
akibat dari hubungan-hubungan yang teIjalin dengan sesama manusia lain dan
sebagai akibat dari tingkah lakunya. Nisbet dalam Parsudi Suparlan
menjelaskan bahwa yang membedakan masalah-masalah sosial dari masalahmasalah lainnya adalah bahwa masalah-masalah sosial selalu ada kaitannya
yang dekat dengan nilai-nilai moral dan pranata-pranata sosial, serta selalu ada
kaitannya dengan hubungan-hubungan manusia dan dengan konteks-konteks
normatif dalam hubungan-hubungan manusia itu terwujud. i

Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feornena Ijrne (Ekayani Tobing)

69

/jime merupakan salah satu masalah so sial yang teIjadi dalam


masayarakat Jepang, khususnya di antara remaja Jepang, yang salah satu
darnpaknya karena kuatnya ikatan nilai-nilai moral di Jepang, antara lain nilai

shudan shugi 'paharn kelompok' dan amae 'nilai ketergantungan' kepada


kelompoknya yang mengatur interaksi antaranggota yang tidak terlepas dalarn
kaidah

kesadarannya

sebagai

anggota

kelompok

masyarakat

Jepang.

Masyarakat Jepang dikenal sebagai masyarakat yang hidup dalarn kelompok.


Kontak dan interaksi yang dilakukan seseorang untuk saling mengisi dalarn
setiap kegiatan oleh masyarakat Jepang menghasilkan suatu perasaan
kebersarnaan yang kolektif atau yang disebut dalarn bahasa Jepang dengan
i..-1<J>5t::1v

i..-I<J>

shudan shugi (

Kepercayaan yang sarna, perasaan yang

sarna, dan tingkah laku yang sarna telah mempersatukan orang-orang Jepang
dalarn masyarakatnya. Apa yang dianggap baik oleh anggota yang satu, maka
akan dianggap baik pula oleh anggota yang lainny .. Sebaliknya, apa yang
dianggap buruk oleh anggota yang satu, maka akan dianggap buruk pula oleh
anggota yang lain. Berarti dapat dikatakan bahwa segala tindakan kebersarnaan
yang teIjadi dari hasil aksi dan reaksi dari anggota kelompok dan adanya
kebersarnaan yang kolektif dalarn masyarakat Jepang menunjukkan satu
i..-1<J>?t::1v

i..-I<J>

perasaan solidaritas. Shudan shugi (

adalah suatu

ideologi kebersarnaan atau paham berkelompok orang Jepang yang terbentuk


dengan kokoh di antara para anggota kelompok karena adanya ikatan
ttZl'j;

v'i..-<!

emosional, yang disebut dengan nakama ishiki (

yaitu

kesadaran berkelompok. ii
Masyarakat

Jepang

senng

disebut

masyarakat

yang

selalu

Ii

mementingkan dan sangat mengutarnakan Ba (

70

dibandingkan Shikaku

lINCjUA VoI.9 No.1, Maret 69-88

...

atau atribut individu. III

dapat diartikan sebagai

Ba (

kelompok, lembaga, institusi, tempat dan sebagainya yang mengacu pada


kerangka diri individu terkait dan bemaung, berlindung atau berada, serta
menjunjung kesamaan atau homogenitas.

Mereka sangat menghargai

keserasian dan harmoni dalam kelompoknya. Keanggotaan seseorang dalam


masyarakat Jepang di dalam ba (

adalah kelompok, tidak diikat dengan

kontrak, tetapi secara tidak langsung dengan eksistensi, interaksi, dan


partisipasi aktif dalam kelompok. Mereka menganggap kelompok sebagai
suatu kesatuan yang mutlak (keabsolutan). Setiap individu hams menyesuaikan
diri dengan kelompok, yang akhimya menimbulkan rasa keterkaitan dan
ketergantungan antara individu yang satu dan lainnya.

Karena itu, untuk

menjaga rasa kebersamaan dalam kelompok dibutuhkan interaksi yang konstan


atau terus menerus di antara para anggotanya. Karena hidup berkelompok,
seseorang sadar akan keterlibatannya dalam suatu masyarakat, juga terhadap
kewajiban-kewajiban yang mengikat dan komitmen terhadap kelompoknya
yang menjadi dasar untuk membentuk suatu kesatuan sosial yang disebut
masyarakat dan dalam bahasa Jepang disebut dengan shakai (
Masyarakat adalah sekelompok orang yang mempunyai. identitas sendiri, yang
membedakan kelompok yang satu dengan yang lain, dan hidup di dalam
wilayah atau daerah tertentu secara tersendiri.

Kelompok ini, baik dalam

jumlah sedikit (sempit) maupun banyak (luas), mempunyai perasaan akan


adanya persatuan di antara anggota kelompok dan menganggap dirinya berbeda
dengan yang lain. Mereka memiliki pol a tingkah laku yang menyangkut semua
aspek dalam kehidupan bermasyarakat, seperti norma-norma, ketentuanketentuan dan peraturan-peraturan yang hams dipatuhi bersama, yang dalam
batas kesatuan tersebut bersifat khas, dan berkesinambungan sehingga menjadi
Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feornena Ijrne (Ekayani Tobing)

71

sebuah adat-istiadat.

Perangkat-perarigkat dan pranata-pranata tersebut

dijadikan pedoman untuk memenuhi kebutuhan kelompok dalarn arti yang


seluas-luasnya.
Penganiayaan atau dalarn bahasa Jepang disebut dengan ijime (-1 'S/ :J. )
merupakan salah satu masalah sosial yang terjadi dalarn masyarakat Jepang dan
ini merupakan salah satu masalah dari sekian banyak masalah yang dialarni
oleh sebagian orang Jepang yang akan terus bedangsung entah sarnpai kapan.
Koran-koran di Jepang memberitakan banyaknya kejadian mengenai anak-anak
yang mengakhiri hidupnya sendiri karena pedakuan ijime (-1 'S/ :J. ). Seperti
dalarn berbagai pesan tertulis yang berisi "Tidak ada lagi hardikan" atau
"Berhentilah menghardik saya" yang ditulis oleh anak-anak korban ijime (-1 'S/

:J. ) sebelum mereka mengakhiri hidup dengan meloncat dari gedung


bertingkat. Anak-anak ini merupakan contoh dari sekian banyak siswa-siswa
sekolah korban Ijime (-1 'S/ :J.) yang tidak dapat diungkapkan kepada orang
lain, bahkan orang terdekatnya sendiri, yaitu orang tuanya, mengenai semua
siksaan yang diterimanya dari teman-teman sebayanya. iv
\..-.;. 'HOv

\..-.;.;r

Shudan Shugi (

Kehidupan Kolektif atau

Kebersamaan dalam Masyarakat Jepang

Kontak dan interaksi yang dilakukan seseorang untuk saling mengisi


dalarn setiap kegiatan oleh masyarakat Jepang menghasilkan suatu perasaan
\..-.;.? t,,1v

kebersarnaan yang kolektif atau disebut juga dengan shudan shugi (


\,,-.;.l!'

Kepercayaan yang sarna, perasaan yang sarna dan tingkah laku


yang sarna telah mempersatukan orang-orang Jepang dalarn masyarakatnya.
Apa yang dianggap baik oleh anggota yang satu, maka akan dianggap baik pula

72

LINGUA Vol.9 No.1, Maret 69-88

oleh anggota yang lainnya. Begitupun sebaliknya, apa yang dianggap buruk
oleh anggota yang satu, maka akan dianggap buruk pula oleh anggota yang
lain. Berarti dapat dikatakan bahwa segala tindakan kebersamaan yang terjadi
dari hasil aksi dan reaksi dari anggota kelompok dan adanya kebersamaan yang
kolektif dalam masyarakat Jepang menunjukkan satu perasaan solidaritas.
l..-o<J>5t::/v

adalah suatu ideologi kebersamaan atau

Shudan shugi (

paham berkelompok orang Jepang yang terbentuk dengan kokoh di antara para
anggota kelompok karena adanya ikatan emosional yang disebut dengan
nakama ishiki (

Masyarakat

;f*rFl9

1,'

Jepang

yaitu kesadaran berkelompok.


juga

merupakan

masyarakat

yang

selalu

IJ'

mementingkan dan sangat mengutamakan Ba (


(

atau atribut individu. v

dibandingkan Shikaku
dapat diartikan sebagai

Ba (

kelompok, lembaga, institusi, tempat dan sebagainya yang mengacu pada


kerangka diri individu terkait dan bemaung, berlindung atau berada, serta
menjunjung kesamaan atau homogenitas.

Mereka sangat menghargai

keserasian dan harmoni dalam kelompoknya. Keanggotaan seseorang dalam


masyarakat Jepang di dalam ba (

adalah kelompok, tidak diikat dengan

kontrak, tetapi secara tidak langsung dengan eksistensi, interaksi, dan


partisipasi aktif dalam kelompok. Mereka menganggap kelompok sebagai
suatu kesatuan yang mutlak (keabsolutan), setiap individu harus menyesuaikan
diri dengan kelompok, yang akhimya menimbulkan rasa keterkaitan dan
ketergantungan antara individu yang satu dengan yang lainnya. Karena itu,
untuk menjaga rasa kebersamaan dalam kelompok, dibutuhkan interaksi yang
konstan atau terus menerus di antara para anggotanya. Karena dalam
berkehidupan kelompok, seseorang sadar akan keterlibatannya dalam suatu
Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feomena Ijme (Ekayani Tobing)

73

masyarakat, juga terhadap kewajiban-kewajiban yang mengikat dan komitmen


terhadap kelompoknya yang menjadi dasar untuk membentuk suatu kesatuan
so sial yang disebut masyarakat dan dalam bahasa Jepang disebut dengan

Masyarakat (

L-?iJ'"

adalah sekelompok orang yang mempunyai

identitas sendiri, yang membedakan kelompok yang satu dengan yang lain dan
hidup di dalam wilayah atau daerah tertentu secara tersendiri. Kelompok ini,
baik dalam jumlah sedikit (sempit) maupun banyak (luas) , mempunyai
perasaan akan adanya persatuandi antara anggota kelompok dan menganggap
dirinya berbeda dengan yang lain. Mereka memiliki pola tingkah laku yang
menyangkut semua aspek dalam kehidupan bermasyarakat, seperti normanorma, ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang harus dipatuhi
bersama,

yang

dalam

batas

kesatuan

tersebut

bersifat

berkesinambungan sehingga menjadi sebuah adat-istiadat.

khas,

dan

. Perangkat-

perangkat dan pranata-pranata tersebut dijadikan pedoman untuk memenuhi


kebutuhan kelompok dalam arti yang seluas-luasnya.
Sementara itu, kesatuan sosial disebut sebagai kesatuan hidup setempat
yang merupakan kesatuan yang tidak hanya semata-mata ada karena ikatan
kekerabatan, tetapi juga tempat kehidupan. Mereka mempunyai wilayah dan
perasaan kesatuan kelompok dengan memiliki ciri-ciri yang berbeda dari
kelompok lain. Ciri-ciri tersebut, antara lain,
1. interaksi antarwarga dalam bentuk pergaulan antar pribadi (individu);
2. adat istiadat, norma-norma, hukum, serta aturan-aturan yang mengatur
semua pola tingkah laku warga;
3. kontinuitas dalam waktu;
4. rasa identitas yang kuat yang mengikat semua warga. vi

74

LINGUA Vo\.9 No.1, Maret 69-88

Nakane Chie seorang ahli antropologi Jepang juga mengembangkan


suatu insightful model sebagai identitas diri orang Jepang. Dia mengatakan
seperti berikut.
"Self-identity orang Jepang adalah individu yang berpusat pada
suatu lingkaran dan di dalam lingkaran itu, anggota saling
berhubungan (terikat) dalam kelompok tersebut. Interaksi datang
dari tempat masing-masing lingkaran individu bertemu individu lain
di dalam lingkaran hubungan, hal ini dapat dilihat sebagai
kebutuhan akan pengenalan formal dalam semua tingkatan
masyarakat Jepang."vii

Orang Jepang dapat mengenal dirinya apabila berada dalam lingkungan


kelompoknya Di dalam kelompok masyarakat sebagai individu dapat
mengekspresikan emosinya sehingga sebagai anggota suatu kelompok ikatan
satu dengan yang lain sangat kuat. Selanjutnya, Nakane Chie juga
menggambarkan model identitas diri orang Jepang sebagai berikut.

Gambarl

Bagi masyarakat Jepang, frekuensi pertemuan dianggap sebagai ukuran


kedekatan dalm suatu hubungan. Dalam berinteraksi sosial, kedekatan
merupakan cara teIjadinya komunikasi, seperti yang diuraikan oleh Nakane.
"In Japanese society frequent meeting with friends and acquaintance is general

Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feomena Ijme (Ekayani Tobing)

75

norm .... The frequency of meeting is regarded as measure of the closeness and
firmness of relationship".viii
Dalarn masyarakat Jepang pertemuan secara teratur dengan ternan dan
kenalan merupakan suatu norma umum. Pertemuan-pertemuan yang dilakukan
dalarn berbagai kegiatan ini dengan jumlah frekuensi pertemuan, dan hal ini
yang dianggap sebagai kedekatan suatu hubungan.
Interaksi yang terjadi dalarn masyarakat Jepang dibedakan antara uchi (

*) yang berarti dalarn dan sofa (51-) yang berarti luar.

"Vchi is where one is

taken care of, where one receives support and encouragement and where one
owescentral commiyment and effort. It is where one comes from and where
one return". ix

Uchi merupakan wadah bagi seseorang untuk diperhatikan, menerima


dukungan, dan dorongan serta tempat seseorang memiliki komitmen utarna.

Uchi juga dapat diartikan sebagai tempat seseorang berasal dan ke mana
seseorang

kembali. Uchi (*) merupakan hubungan yang terjadi antara

seseorang dan orang lain pada tempat yang sarna, yaitu tempat mereka menjadi
anggota dalarn satu kelompok yang sarna. Uchi (*) seseorang dapat berupa
keluarga, lingkungan ternan atau kerja, atau negara.

Dalarn Uchi (*)

seseorang akan merasa leluasa untuk menarnpilkan Honne (*if), tetapi Uchi (

*) dapat berkembang berdasarkan situasi dan kondisi yang perubahannya


dapat terjadi kapan saja (setiap saat), artinya dalam waktu yang sarna mungkin

uchi (*) akan berubah menjadi sofa (51-). Hal ini disadari (dipaharni) betul
oleh anggota masyarakat Jepang.
Suatu kesepakatan akan terjadi apabila dua pihak yang berkomunikasi
mempunyai pikiran dan perasaan yang sarna. Bagi orang Jepang mengenal
satu sarna lain merupakan tindakan memberikan suatu perasaan atau pengertian
76

LlNlfllA Vo1.9 No.1, Maret 69-88

kebebasan atau keselamatan. Mereka takut apabila berbeda dari individu yang
lainnya. Mereka akan lebih rnengedepankan kepentingan kelornpoknya. Bagi
orang Jepang hidup hanya akan berarti apabila berada dalam kelornpoknya.
Oleh karena itu, rnereka sebagai anggota kelornpok akan senantiasa rnenjaga
diri agar diakui dan diterirna dan berusaha rnenjaga loyalitasnya bagi
kelornpoknya.
Begitu pun dalam rnasyarakat anak, khususnya bagi seorang anak di
Jepang, seorang ternan atau kelornpok berternan rnernberikan harapan dan
kehidupan di dalam rnasyarakat anaknya. Hal ini akan terlihat dengan jelas
dalam sebuah hubungan seorang anak dengan ternannya di sekolah. Apabila
hubungan dengan ternannya tersebut beIjalan dengan baik, ia akan rnerasa
senang pergi ke sekolah. Sebaliknya, jika hubungan perternanannya tidak
beIjalan dengan baik, anak tersebut akan rnenolak untuk pergi ke sekolah, yang
C'):::.')

dalam bahasa Jepang disebut tokokyohi (

;:Je::a ).

Apabila

seorang anak sudah rnulai rnasuk rnasa sekolah, di situlah akan terlihat
kernampuan anak tersebut dalam rnernbentuk dirinya di dalam lingkungan
berkawan dan berkelornpok.
Penekanan hidup berkelornpok dalam rnasyarakat Jepang ini secara
otornatis telah memengaruhi seluruh gaya hubungan antarpribadi individu di
Jepang, termasuk dalam hubungan perternanan dalam kelornpok bermain anak.
Kelornpok anak adalah bagian masyarakat yang rnernpunyai identitas sendiri,
yang dikumpulkan berdasarkan urnur dan berbagai kondisi sosial yang harnpir
sama rnelalui kehidupan di rumah, kehidupan bermain dengan ternan, serta
kegiatan-kegiatan di sekolah sesuai dengan tingkat perkernbangan anak itu
sendiri walaupun anak itu belum rnengerti apa yang disebut dengan rnasyarakat
dalam arti sesungguhnya. Dalam setiap kegiatan yang diikutinya, anak-anak
Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feornena Ijrne (Ekayani Tobing)

77

dengan sendirinya rnernbentuk kelornpok berternan atau nakama shudan

Shimizu Yoshihiro, seorang ahli pendidikan Jepang dari Universitas


itiJ'*

Tokyo, rnenjelaskan rnengenai konsep Nakama Shudan

L-VI>?

), sebagai berikut.
ttil'*

L-VI>?

"Yang dirnaksud dengan Nakama Shudan


adalah kelornpok anak-anak yaitu rnulai dari rnasa kanak-kanak
sarnpai pada rnasa rernaja yang rnulai rnelepaskan diri dari
perlindungan, pengawasan dan perhatian orang dewasa. Misalnya
adanya kelornpok ternan bermain (PlayGroup) pada rnasa kanakkanak, kelornpok ternan berkelornpok (Gang) pada rnasa rernaja dan
kelornpok sebaya (Peer Group) pada rnasa puber".x
Berikut ini adalah garnbar tabel yang rnenyatakan bahwa hubungan
seorang anak dengan kelornpok bermainnya (ternan-ternannya).
Garnbar2
Kapan seorang anak rnerasa 'Hidup' di lingkungannya?

DiKelas
DiKlub
Aktivitas

Sangat

Cukup

Kadang-

Tidak

Sarna Sekali

Baik

Baik

Kadang

Begitu

Tidak

5.2

9.7

33.6

35.9

15.6

20.8

22.5

27.2

16.1

13.4

36.1

31.4

24.2

5.5

2.8

27.7

24.6

25.8

13.8

8.1

Saat
Bersarna
Ternan
DiRurnah

Source: Monograph vol.54 edited by Educational Research Center, Benesse Corporation

78

LfNt:;UA Vol.9 No.1, Maret 69-88

Di dalarn nakama shudan (

ttil"

Jp

L- 19>

5 tc:1v

rill), masyarakat lebih

mengharapkan adanya rasa solidaritas dan tindakan kebersarnaan di dalarn


kelompok. Oleh karena itu, di dalarn nakama shudan (

ftn"

rdj

L-I9>5tC:1v

anak-anak berusaha agar dapat ikut serta melakukan kegiatan yang bersifat
kelompok dalarn bentuk apa saja meskipun hams mematikan rasa keinginan
(pribadi) mereka sendiri.

Konsep Solidaritas

Rasa solidaritas adalah daya yang ditimbulkan oleh kepercayaan atau


perasaan yang dirasakan oleh sekelompok masyarakat yang sarna dalarn
pergaulan hidup merekaxi Perasaan solidaritas dibutuhkan dalarn kehidupan
berkelompok. Ada dua tipe solidaritas so sial dalam kehidupan masyarakat.
1.

Solidaritas Mekanikal
Solidaritas yang didukung oleh rasa kepercayaan yang sarna, perasaan
yang sarna, dan tingkah laku yang sarna yang mempersatukan satu
individu dengan masyarakat. Sifat dasar masyarakat dalarn solidaritas
mekanikal cenderung memiliki rasa kesukuan dan jelas terlihat pada
masyarakat yang tidak berkembang. Masyarakat pada solidaritas
mekanikal ini, memiliki batas daerah teritorial' yang dibagi menurut
hubungan keluarga. Xii
Pada solidaritas mekanikal, hubungan individu yang satu dengan yang
lain saling terikat secara terisolasi satu sarna lainnya dan pelaksanaan
kerjanya sesuai dengan pelaksanaan kerja sebelumnya. Apabila ada
anggota yang melanggar ketentuan sosial yang berlaku atau dianggap
tidak dapat memuaskan kepentingan bersarna, ia akan dikenakan
hukuman yang dianggap seimbang dengan pelanggaran yang dibuatnya.

Nilai Moral ShudanShugi dan MuncuJnya Feornena Ijrne (Ekayani Tobing)

79

Hukumannya berupa represif, yaitu hukuman yang diberikan atas


pelanggaran yang dianggap sebagai kejahatan. Dengan kata lain, hukum
dalam solidaritas mekanikal lebih menuju ke pemberian sanksi dan
penindasan.
2.

Solidaritas Organikal
Solidaritas dihasilkan oleh adanya pembagian kerja. Tiap-tiap individu
memiliki ruang kerja sendiri sehingga menimbulkan perbedaanperbedaan antara individu yang satu dan yang lain. Sifat yang paling
mendasar di sini adalah menempatkan kembali atau memperbaiki hal
yang sudah dikerjakan oleh masyarakat itu. Kegiatan individu
bergantung pada masyarakatnya karena ia bergantung pada bagian yang
mengaturnya. xiii Hal yang membedakan solidaritas organikal dengan
solidaritas mekanikal adalah dasar-dasar esensial di dalam pelaksanaan
kerja masyarakat modem. Semakin modem suatu masyarakat, semakin
menonjol perbedaan sosialnya sehingga solidaritas organikal ini bersifat
seperti sebuah perjanjian. Jika ada anggota yang melanggar ketentuanketentuan, hukuman yang diberikan lebih bersifat non-represif dan
lebih bertujuan untuk memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya. xiv
Durkheim menjelaskan konsep mengenai kebersamaan yaitu pola-pola

kepercayaan dan tingkah laku yang dibentuk oleh kolek-tivitas. Di dalam


kebersamaan, tindakan-tindakan yang dilakukan kolektivitas akan bertahan
lebih lama daripada tindakan-tindakan yang dilakukan individual yang
dilakukan oleh seorang individu di dalam suatu kelompok. Untuk membentuk
suatu kesatuan sosial, setiap anak akan dipaksa untuk bertindak dengan caracara tertentu secara konsisten hingga membentuk suatu keteraturan tingkah
laku dan wewenang. Keteraturan tingkah laku ini di sebut dengan moral.

80

LtNGlJA Vol.9 No.1, Maret 69-88

Seorang anak dianggap sudah sah (diakui) menjadi anggota dalarn


masyarakatnya setelah anak tersebut berusia tujuh tahun. Pada usia itu mereka
mulai mengadakan hubungan so sial dengan teman-temannya yang seUSIa
dengan membuat kelompok di Iuar kelompok keluarga (

ip.:c<

Nakamaishiki sebagai Bagian dari Shudanishugi 'Kesadaran Hidup


v'C

Berkelompok' dan sebagai Salah Satu Pemicu Munculnya Ijime ( ; W'th)

Nojuu Shinsaku dari Pusat Penelitian Bimbingan Kehidupan Anak-anak


di Jepang menjelaskan bahwa sikap anak-anak di sekolah Jepang memiliki
kecenderungan untuk melakukan tindakan-tindakan dalarn bentuk kebersarnaan
yang kolektif dalarn mencapai suatu tujuan tertentu karena mereka merasa
mempunyai motif kegiatan dan tujuan yang sarna, yang timbul karena begitu
kuatnya rasa solidaritas dan kebersarnaan yang timbul di dalarn diri anak-anak
tersebut. xv Narnun, mereka juga cenderung memiliki perilaku menyimpang
yang disebabkan tekanan dan tuntutan dari lingkungan sekitar tempat siswasiswa sekolah tersebut tumbuh, yang juga dilakukan dalarn bentuk
kebersarnaan yang kolektif. Perilaku menyimpang ini merupakan perwujudan
protes terhadap lingkungan sekitar dan orang-orang dekat, dengan cara
melarnpiaskan rasa ketidaksukaan, ketidakpuasan,' juga keletihan dan
kejenuhan yang dirasakan dengan melakukan tindakan yang disebut dengan
ijime (-{ :; ;J. ).
Ijime 'penganiayaan' merupakan salah satu dari sekian banyak masalah

sosial yang dialarni oleh masyarakat Jepang yang terus berlangsung sarnpai
sekarang. Koran-koran di Jepang memberitakan banyaknya kejadian mengenai
anak-anak yang mengakhiri hidupnya sendiri karena perlakuan ijime (-{ :; ;J. ).
Seperti dalarn berbagai pesan tertulis yang berisi "tidak ada lagi hardikan" atau
Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feomena Ijme (Ekayani Tobing)

81

"berhentilahmenghardik saya" yang ditulis oleh anak-anak korban ijime (-1 -:;
;J. ) sebelurn rnereka rnengakhiri hidup dengan rneloncat dari gedung

bertingkat. Anak-anak ini rnerupakan contoh dari sekian banyak siswa sekolah
korban Jjime (-1 -:; ;J.) yang tidak dapat diungkapkan kepada orang lain,
bahkan orang terdekatnya sendiri, yaitu orangtua, rnengenai sernua siksaan
yang diterirna dari ternan-ternan sebayanya. Nojuu rnenjelaskan bahw yang
dirnaksud dengan ijime (-1-:;) sangatlah berbeda dengan yang disebut dengan
perkelahian karena tindakan ini rnerupakan suatu perbuatan seseorang yang
rnernpunyai kekuatan dalam beberapa bentuk untuk dapat rnelakukan
penyerangan searah terhadap siapa yang rnenjadi lawannya. Orang yang berada
dalam posisi kuat rnenyerang orang yang berada dalam posisi lernah, baik
secara fisik rnaupun mental. Orang yang rnelakukan perbuatan ini pun rnerasa
sangat senang apabila rnelihat lawannya rnenderita atau rnenjadi kesal. Ijime (

-1 -:; ;J. ) juga rnerniliki ciri bahwa tindakan ini tidak akan berakhir dalam satu
kali perbuatan saja, seperti halnya dalam suatu perkelahia'n, tetapi dilakukan
dalam rnasa yang panjang dan dilakukan secara berulang-ulang. xvi
Sebuah perkelahian biasanya dilakukan oleh satu orang rnelawan satu
orang. Namun, dalam ijime (-1 -:; ;J.) satu atau sekelornpok besar orang
rnelawan sekelornpok kecil atau beberapa orang rnelawan satu orang. Ijime (-1
-:; ;J. ) juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan kejam yang rneliputi

penganiayaan, pernerasan, penyangkalan, pencernohan, dan pengolok-olokan


yang terkadang, bahkan, rnengakibatkan hilangnya nyawa seseorang.
Ijime (-1 -:; j. ) sebenamya sudah ada sejak zaman dahulu. Ijime (-1 -:;
j.)

dapat diternui atau ada di dalam segala lapisan rnasyarakat. Walaupun

dikatakan bukan suatu perbuatan yang baik, sebenarnya dalam dunia anak,
ijime

82

(-1 -:; j.) rnerupakan proses evaluasi kehidupan dalam bermasyarakat.


LlNaliA Vo1.9 No.1, Maret 69-88

Maksudnya, ada kalanya seorang anak di-ijime


anak tersebut yang melakukan ijime

;J. ) dan ada kalanya pula

;J. ) kepada temannya.

Kalau diibaratkan sebagai sebuah warna, segala perbuatan yang baik


digambarkan dengan putih, perbuatan yang buruk digambarkan dengan hitam.
;J. ) digambarkan dengan abu-abu. Namun, karena telah meluasnya

Ijime

perilaku mengenai ijime

;J. ) ini, lama-kelamaan ijime

;J. )

cenderung dikelompokkan sebagai suatu perbuatan yang buruk.


Melalui ijime

;J.) seorang anak belajar menyesuaikan diri dalam

masyarakat anak. Misalnya, dengan cara berkelahi seorang anak ingin


menunjukkan apa yang ada di dalam dirinya dan apa yang ia inginkan
sebenarnya. Anak-anak sekolah ini melakukan ijime

;J. ) untuk

mendapatkan rasa memiliki atau popularitas di antara rekan-rekannya,


memelihara kepemimpinan kelompok, dan memengamhi anak lain dengan
ancaman agar bertindak atau berhubungan dengan mereka yang bertujuan
untuk memuaskan diri pelaku ijime

;J.). Kebanyakan tindakan ijime

;J.) di sekolah merupakan suatu bentuk teror psikologis sehingga membuat

anak yang menjadi korban mengalami stres atau depresi.


Mengenai psikologi anak, Durkheim mengatakan bahwa keadaan jiwa
anak-anak adalah alat untuk mengembangkan keyakinan, kebiasaan, keinginan
dan lain-lain. Dalam hubungan ini, seorang pendidik hams mampu memahami
kebutuhan

anak

dalam

setiap tingkatan

umur.

Apa kekuatan

dan

kekurangannya, dan sejauh mana kemampuan yang dimiliki anak tersebut.


Masa kanak-kanak, seharusnya si anak diberi kesempatan untuk "bermainmain" (

ilbt

;J1ffLJ), mengejar kesenangan untuk berbuat. Dalam arti, "anak-anak

hams diberikan kesempatan umtuk mengembangkan keaktifannya secara


bebas". Namun, si anak juga hams diajarkan pula bagaimana menumbuhkan
Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feornena ljrne (Ekayani Tobing)

83

kemampuan pengendalian diri, sehingga ia juga dapat bersikap disiplin.


Dengan kata lain, Durkheim berpendapat bahwa seorang pendidik mempunyai
tugas dan kemampuan untuk "mendidik anak agar mereka mendapatkan
keserasian dengan lingkungan sekitarnya". xvii Sifat alamiah manusia selalu
mempunyai keinginan dan kecenderungan untuk berbuat baik dan ini perlu
dikendalikan atau disalurkan oleh pendidik sejak awal pendidikan anak.
Sejalan dengan perkembangan anak, lama kelamaan ia akan dapat
membedakan tingkah laku yang dilakukan oleh dirinya sendiri dan yang
dilakukan oleh orang lain. Ia juga akan lebih mengerti kedudukan dan perasaan
orang lain dan akhimya dapat melepaskan diri dari sifat individu yang
berlebihan dan sifat kekanak-kanakan, terutama, apabila telah memasuki masa
LJv

yang disebut shishunki (

yaitu masa usia anak sekolah yang

mulai mengalami perubahan fisik sehingga dapat dikategorikan ke dalam


kelompok menjelang usia dewasa. Biasanya anak-anak yang sudah mencapai
...

usia sekitar 12 dapat dikatakan shishunki (

). XVIII Pada masa

ini anak akan lebih bisa melihat secara objektif

shishunki (

terhadap hubungan yang ada di dalam dirinya dengan apa yang ada pada diri
orang lain. Dengan lambat laun ia dapat membentuk pribadinya sendiri.
Dalam ijime (-1 :; ;J. ) ada sikap yang menunjukkan dochokeiko
!::'?"iOJ:?

It,':::.?

yaitu kebersamaan dalam melakukan suatu tindakan

atau perbuatan atau yang dikenal dengan dochokodo


yaitu perbuatan bersama-sama. Dochokeiko

i::""?"iOJ:?

i::""?l?J:?

It,':::'?

:::'?i::""?

adalah

kecenderungan yang bersifat menyerang atau merusak barang atau fisik orang
lain yang muncul di dalam kelompok kelas oleh seluruh anak di dalam kelas itu
yang secara bersama-sama melakukan tindakan penyerangan.
84

Di dalam

LlN4liA Vo\.9 No.1, Mare! 69-88

lingkungan anak-anak yang melakukan penyerangan tersebut tanpa sadar


terlihat ada semacam persaingan di antara mereka, bahwa siapa yang semakin
dapat melakukan tindakan yang lebih kejam dialah yang paling hebat.
C'? t,J;?

ltv'::?

Dochokeiko ( - - ; IPlwm --;{tJ{ rtu) ini membentuk suatu keadaan yang

terlihat seperti semacam loyalitas kelompok dalam melakukan penyerangan


yang dilakukan oleh siapa pun dengan berbagai cara terhadap orang yang
mempunyai sikap lain di dalam kelompok itu".xix
Bagi para psikolog Jepang, salah satu aspek dalam kasus ijime (..{ :;;J)
yang paling menonjol dan sangat tidak masuk akal adalah kenyataan para siswa
yang melakukan ijime (..{ :; ;J ) cenderung tidak merasa berdosa tentang
tindakan kejam yang dilakukan. Pada umumnya, banyak siswa yang sering
menyaksikan ijime (..{ :; ;J ) justru tidak melakukan apa pun untuk
menghentikan peristiwa tersebut dan mereka lebih memilih untuk tidak terlibat.
Seperti yang terjadi pada satu peristiwa seorang siswa SMP
t,..,

meninggal karena di-ijime (..{ :; ;J). Para pelaku tindakan

ijime (..{ :;;J) tidak peduli dan tidak menunjukkan perasaan bersalah terhadap

kejadian tersebut. Akibat seringnya kasus seperti ini telah dilakukan penelitian
mengenai ada atau tidaknya kasus ijime (..{ :; ;J)

<Jj kalangan siswa SD


::?C?

SMP (

dan SMA (

dan respon terhadap pelaku ijime (..{ :; ;J) dengan meneliti 2000 orang anak
SMP (

yang ada di seluruh Jepang. Hasilnya menyatakan

bahwa terdapat sejumlah siswa-sekolah acuh tidak acuh terhadap masalah ijime
(..{ :; ;J) yang teIjadi di lingkungan mereka, serta ada juga siswa yang tidak

memihak (menyetujui) tindakan ijime (..{ :; ;J ) dan tidak membawa hal


Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feornena Ijrne (Ekayani Tobing)

85

tersebut ke dalam kelompok berteman (nakama shudan

;1r:prFl'

'j t:':/V

tetapi mereka juga tidak bertindak apa pun apabila melihat peristiwa ijime (-1
:; j. ) karena tidak ingin terlibat atau dilibatkan.

Simp ulan
Nilai budaya Jepang sangat berperan dalam kehidupan masyarakatnya.
Nilai budaya Jepang mengatur masyarakat Jepang daIm berinteraksi. KeIuarga
sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat Jepang merupakan tempat awal
bagi anak-anak Jepang belajar mengenal dan bersosialisasi dengan nilai-nilai
budaya Jepang yang didasari oleh nilai nakama ishiki, yaitu kesadaran diri dari
bagian kelompok dan tidak pemah menonjolkan keberadaan ego dalam
kelompok itu. Kesadaran hidup berkelompok yang disebut dengan nakama ishi
mulai dipelajari dan diwlljudkan oleh anak-anak Jepang sejak mereka bergaul
dalam kelompok keluarga sampai kepada kelompok yang lebih besar, yaitu
kelompok pertemanan sekolah.
Pembentukan moral anak sekolah dapat dilihat dalam situasi di dalam
kelas karena kelas adalah suatu kelompok masyarakat kecil, dan tidak ada
seorang pun anggota kelompok kecil ini akan bertindak sendiri-sendiri. Di
dalam kelas pun banyak hal yang dapat dipelihara bersama. Hal

Inl

menumbuhkan rasa solidaritas anak, seperti memiliki ide bersama, perasaan


bersama, dan tanggungjawab bersama di antara anak-anak tersebut.
Munculnya fenomena ijime (-1 :; j.) dalam masyarakat merupakan
tindakan yang dilakukan oleh anak ketika mereka belajar untuk menyesuaikan
diri. Ada banyak hal yang dilakukan anak dalam kasus ijime (-1 :; j.), salah
satunya dilakukan dengan cara berkelahi. Seorang anak ingin menunjukkan apa
yang ada di dalam dir sendiri dan apa yang diinginkan sebenarnya. Anak-anak

86

LINGUA Vo!.9 No.1, Maret 69-88

sekolah ini melakukan ijime (-1 :;)) untuk mendapatkan rasa memiliki atau
popularitas di antara rekan-rekannya, memelihara kepemimpinan kelompok,
dan memengaruhi anak lain dengan ancaman untuk bertindak atau
berhubungan dengan mereka yang bertujuan untuk memuaskan diri pelaku
ijime (-1 :;;1-) terhadap pencarian 'kekuasaan relasional'.

Nisbet dalam ParsudiSuparlan, Manusia Indonesia, Individu Keluarga dan


Masyarakat: Masalah-masalahSosial dan Ilmu Sosial Dasar,Jakarta, Rineka
Cipta 1986,hal 62
ii Hamaguchi, Enshu &Kumon Shunbei,Nihonteki Shudan Shugi, Tokyo,1994,
16
iii Nakane Chie, Japanese Society, Tokyo, Minami Shoten,1970, hal. 70.
iv Nojuu, Shinsaku, Kodomo to Iiime, Tokyo: Otsuki Shoten, 1989, hal. 44.
v Nakane Chie, Japanese Society, Tokyo:Minami Shoten,1970, hal. 70.
vi Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi I, Rineka Cipta, 1996, 120-121.
vii Nakane Chie, The Price of Tradition,Tokyo: Minami Shoten,1993, hal 77
viii Chie, Japanese Society, 140-141.
ix Merry White, Japanese Overseas: Can They Go Home Again, New Jersey,
1992, hal 7
xYoshihiro Shimizu, Kodomo no Shitsuke To Gakko Seikatsu, Tokyo:Daigaku
Shuppan,1989,ha1.40
xi Emile Durkheim, Sosiologi dan Filsafat, trans. Soedjono Dirdjosisworo, S.H.
Jakarta: Erlangga, 1989 114.
xii Emile Durkheim, His Life and Work, ed. Steven Kes, 1st (Stanford
University Press, 1985) 149.
Nilai Moral ShudanShugi dan Munculnya Feomena Ijme (Ekayani Tobing)
87

xiii Durkheim 153.


xiv Durkheim, Sosiologi Dan Filsafat, 1988, 12-14.
xv Nojuu Shinsaku, Kodomo to Ijime, Tokyo: Otsuki Shoten, 1989, hal. 44.
xvi Shinsaku, 50.
xvii Emile Durkheim, Pendidikan Moral, Jakarta: PT Gramedia 1986, ha1.150171
xviii Shimizu, Op. Cit., hal. 828
xixN'
OJuu, 62 .

DAFTAR PUSTAKA

Chie, Nakane, Japanese Society, Tokyo, Minami Shoten,1970


Chie, Nakane, The Price o/Tradition, Tokyo: Minami Shoten,.1993
Durkheim, Emile, Pendidikan Moral, ed. Anthony Giddens, Cambridge
University Press, 1986
Emile Durkheim, Sosiologi dan Filsafat, trans. Soedjono Dirdjosisworo, S.H.
Jakarta: Erlangga, 1989
Enshu, Hamaguchi, Kumon Shunbei, Nihonteki Shudan Shugi, Tokyo,1994
Koentjaraningrat, Pengantar AntropologiJ, Jakarta: Rineka Cipta, 1996
Nisbet dalam Parsudi Suparlan, Manusia Indonesia, Individu Keluarga dan
Masyarakat: Masalah-masalahSosial dan flmu Sosial Dasar, Jakarta,
Rineka Cipta 1986
Shinsaku, Nojuu, Kodomo to Ijime .. Tokyo: Otsuki Shoten, 1989
Shimizu, Y oshihiro, Kodomo no Shitsuke To Gakko Seikatsu, Tokyo:Daigaku
Shuppan, 1989
White, Merry, Japanese Overseas: Can They Go Home Again, New Jersey,
1992.

88

LlNt:;lJA Vol.9 No.1, Maret 69-88