Anda di halaman 1dari 19

Presentasi Kasus dan Portofolio

TUBERKULOSIS PARU

Oleh:
dr. Desi Oktariana
Pendamping:
dr. Bambang Wahyu Nugroho
Wahana:
Puskesmas Prabumulih Barat

KOMITE INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


PUSAT PERENCANAAN DAN PENDAYAGUNAAN SDM KESEHATAN
BADAN PPSDM KESEHATAN
KEMENTERIAN KESEHATAN RI
2015
1

PORTOFOLIO
Kasus-1
Topik : Tuberkulosis Paru
Tanggal (Kasus) : 6 November 2014
Presenter : dr. Desi Oktariana
Tanggal Presentasi : 29 Januari 2015
Pendamping : dr. Bambang Wahyu N
Tempat Presentasi : Puskesmas Prabumulih Barat
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan
Diagnostik

Manajemen
Anak
Remaja

Bayi

Masalah
Dewasa

Neonatus
Deskripsi : Laki-laki, 30 tahun, TBC Paru
Tujuan : Tatalaksana TBC Paru
Bahan Bahasan :
Tinjauan
Riset
Cara membahas

Pustaka
Diskusi

Presentasi dan Diskusi

Data

Nama: Tn. H

Umur: 30 tahun

Pasien:

Alamat: Desa Padang Bindu

Agama: Islam
Bangsa: Indonesia
Nama Puskesmas: Prabumulih Barat Telp :
Data utama untuk bahan diskusi :
1. Diagnosis/Gambaran Klinis:

Lansia

Pustaka
Istimewa
Bumil

Kasus

Audit

Email

Pos

Pekerjaan: Wiraswasta

No. Reg : -

Terdaftar sejak :

Keadaan umum tampak sakit sedang dengan keluhan utama batuk terus-menerus
selama 3 bulan, disertai dahak warna kuning kental 1 sendok teh tiap kali batuk.
Sesak napas ada. Demam terutama pada malam hari, demam tidak terlalu tinggi.
Berkeringat malam hari ada. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun ditandai
dengan celana yang dipakai terasa longgar.
2. Riwayat Pengobatan :
Pasien hanya membeli obat batuk warung selama sakit
Riwayat menjalani pengobatan selama 6 bulan disangkal
3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :
3 bulan sebelum berobat ke puskesmas, pasien mengeluh batuk disertai dahak
warna kuning kental < sendok teh tiap kali batuk, darah ( - ). Sesak tidak ada. Nyeri
dada tidak ada. Pasien juga mengeluh demam terutama pada malam hari, demam tidak
terlalu tinggi. Pasien berkeringat pada malam hari. Pasien menyangkal adanya keluhan
2

mual dan muntah. Pasien juga mengeluh nafsu makan berkurang, berat badan menurun
ditandai dengan celana yang dipakai terasa longgar. Suara serak tidak ada. BAK dan
BAB tidak ada keluhan. Pasien hanya membeli obat batuk warung selama sakit.
1 minggu sebelum berobat ke puskesmas, pasien mengeluh sesak napas. Sesak
tidak dipengaruhi aktivitas, cuaca, dan emosi. Terbangun malam hari karena sesak tidak
ada. Sembab di kaki tidak ada. Kepala pusing tidak ada, pandangan berkunang tidak ada.
Batuk bertambah sering, dahak warna kuning kental jumlah 1 sendok teh tiap kali batuk,
darah tidak ada. Pasien mengeluh demam terutama di malam hari, demam tidak terlalu
tinggi. Keringat malam hari ada. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun. BAK
dan BAB tidak ada keluhan. Pasien kemudian berobat ke puskesmas
4. Riwayat Keluarga :
Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal
5. Riwayat Pekerjaan : Wiraswasta
6. Lain-lain :
Riwayat kontak dengan penderita batuk lama atau TB paru disangkal
Pasien perokok aktif
Daftar Pustaka:
1. Aditama TY, Basri C, Surya A, dkk. 2012. Pedoman Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis edisi ke-2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
2. Ahmad Z. 2002. Tuberkulosis dalam Naskah Lengkap Workshop Pulmonology.
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang.
3. Departemen Kesehatan Indonesia dan Ikatan Dokter Indonesia. 2010. Panduan
Tatalaksana Tuberkulosis edisi ke-1. Departemen Kesehatan Indonesia dan Ikatan
Dokter Indonesia, Jakarta.
4. Guyton. 2008. Fisiologi Kedokteran edisi ke-9. Jakarta: EGC.
5. Isbaniyah F, Thabrani Z, Priyanti S, dkk. 2011. Tuberkulosis; Pedoman Diagnosis
dan Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta.
6. Santoso, Danu. 2013. Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: EGC.
7. Snell, R. 2008. Thorax: Bagian II cavitas Thoracis dalam Anatomi klinik untuk
mahasiswa kedokteran edisi ke-6. Jakarta: EGC.
Hasil Pembelajaran
1. Definisi dan Etiologi
2. Klasifikasi TBC Paru
3. Penegakan diagnosis TBC Paru
4. Penatalaksanaan TBC Paru

1. Subjektif :
Pada anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluh batuk terus-menerus selama 3
bulan, disertai dahak warna kuning kental 1 sendok teh tiap kali batuk. Sesak
napas ada. Demam terutama pada malam hari, demam tidak terlalu tinggi.
Berkeringat malam hari ada. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun.
Keluhan tersebut dicurigai dapat disebabkan oleh tuberkulosis paru.
2. Objektif :
Hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan sputum, dan foto rontgen thorax AP sangat
mendukung diagnosis tuberkulosis paru. Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan
penemuan:

Gejala klinis (batuk 3 minggu, sesak nafas, demam ringan, keringat pada
malam hari, nafsu makan dan berat badan menurun)

Pada pemeriksaan fisik ditemukan laju pernapasan yang meningkat, ronkhi


sedang di kedua lapangan paru, dan BMI di bawah normal.

3.

Pada pemeriksaan sputum ditemukan BTA (+)

Gambaran rontgen yang khas


Assessment :

Seorang laki-laki berumur 30 tahun berobat ke puskesmas dengan keluhan batuk 3


minggu, sesak nafas, keringat dan demam lama pada malam hari, serta nafsu makan
dan berat badan menurun. Gejala batuk berdahak merupakan respon tubuh untuk
mengeluarkan produk ekskresi dari peradangan. Sesak terjadi jika kerusakan sudah
meluas dan mengganggu proses ventilasi sehingga udara yang sampai ke alveoli
akan berkurang. Gejala sistemik merupakan akibat dari proses peradangan yang
sudah kronik.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan laju pernapasan yang meningkat,ronkhi sedang di
kedua lapangan paru, dan BMI di bawah normal.
Pada pemeriksaan foto toraks standar ditemukan gambaran lesi yang menyokong ke
arah Tb paru aktif yaitu berupa infiltrat. Berdasarkan luas lesi pada paru, ATS
(American Thoracic Society) membaginya atas lesi minimal, lesi sedang dan lesi
luas. Pada foto toraks pasien ini tampak gambaran lesi berupa infiltrat di 2/3 medial
paru kanan dan 1/3 medial paru kiri. Berdasarkan gambaran lesi tersebut, luas lesi
4

paru pada pasien ini termasuk dalam lesi luas.


Selain itu, diagnosis Tb paru ditegakkan berdasarkan hasil laboratorium.
Pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam). Dahak terbaik adalah dahak pagi hari
sebelum makan, kental, purulen, dengan jumlah minimal 3-5 ml. Dahak diperiksa 3
hari berturut-turut dengan pewarnaan Ziel Neelsen atau Kinyoun Gabbet. BTA
dikatakan positif bila BTA dijumpai setidaknya pada dua dari tiga pemeriksaan
BTA. Hasil pemeriksaan BTA sputum pasien positif pada BTA I, II, III.
Terminologi tipe penderita Tb dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kasus baru,
kasus kambuh, kasus gagal, kasus pindahan, kasus berobat setelah lalai, dan kasus
kronik. Terminologi diagnosis dibagi dalam 3 kelompok, yaitu Tb paru BTA positif,
Tb paru BTA negatif dan bekas Tb paru. Yang termasuk Tb paru BTA positif apabila
sputum BTA positif 2 kali, sputum BTA positif 1 kali dengan kultur positif atau
sputum BTA positif 1 kali dengan klinis/radiologist sesuai dengan Tb paru. Tb
paru negatif apabila klinis dan radiologist sesuai dengan Tb paru, sputum BTA
negatif dan kultur negatif atau positif. Bekas Tb paru apabila sputum dan kultur
negatif, gejala klinis tidak menunjang dan gambaran radiologis menunjukkan
gambaran tak aktif.
Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, pasien ini
didiagnosis sebagai kasus baru Tb paru dengan lesi luas BTA positif. Diagnosis
banding berupa kasus baru tumor paru didasarkan pada temuan klinis berupa sesak
napas, batuk, dan riwayat merokok. Penyingkiran diagnosis banding kanker paru
didapat dari pemeriksaan fisik berupa tidak ditemukan sisi paru yang tertinggal,
tidak ditemukannya pekak pada perkusi paru serta bunyi vesikuler yang menurun
pada auskultasi. Selain itu, hasil pemeriksaan sputum BTA positif dan rontgen
thorax memperkuat diagnosis Tn. H berupa kasus baru Tb paru dengan lesi luas
BTA positif.
4. Plan :
Diagnosis : Tuberkulosis Paru
Non-farmakologis
5

Istirahat

Edukasi kepada pasien agar tidak berhenti minum obat

Farmakologis

OBH syrup 3x1 Sdm

Vitamin B komplek 1 x 1 tablet

Oat kategori 1 fix drug combination (FDC)

LAPORAN KASUS
IDENTIFIKASI

Nama

: Tn. H

Umur

: 30 tahun

Jenis kelamin

: Laki - laki

Alamat

: Desa Padang Bindu, Prabumulih

Status

: Belum Menikah

Pekerjaan

: Wiraswasta

Agama

: Islam

ANAMNESIS
Keluhan utama
Batuk terus-menerus selama 3 bulan

Riwayat perjalanan penyakit


3 bulan sebelum berobat ke puskesmas, pasien mengeluh batuk disertai dahak
warna kuning kental < sendok teh tiap kali batuk, darah ( - ). Sesak tidak ada. Nyeri
dada tidak ada. Pasien juga mengeluh demam terutama pada malam hari, demam tidak
terlalu tinggi. Pasien berkeringat pada malam hari. Pasien menyangkal adanya keluhan
mual dan muntah. Pasien juga mengeluh nafsu makan berkurang, berat badan menurun
ditandai dengan celana yang dipakai terasa longgar. Suara serak tidak ada. BAK dan
BAB tidak ada keluhan. Pasien hanya membeli obat batuk warung selama sakit.
1 minggu sebelum berobat ke puskesmas, pasien mengeluh sesak napas. Sesak
tidak dipengaruhi aktivitas, cuaca, dan emosi. Terbangun malam hari karena sesak tidak
ada. Sembab di kaki tidak ada. Kepala pusing tidak ada, pandangan berkunang tidak ada.
Batuk bertambah sering, dahak warna kuning kental jumlah 1 sendok teh tiap kali batuk,
darah tidak ada. Pasien mengeluh demam terutama di malam hari, demam tidak terlalu
tinggi. Keringat malam hari ada. Nafsu makan berkurang, berat badan menurun. BAK
dan BAB tidak ada keluhan. Pasien kemudian berobat ke puskesmas.

Riwayat penyakit dahulu:


-

Pasien hanya membeli obat batuk warung selama sakit

Riwayat menjalani pengobatan selama 6 bulan disangkal

Riwayat kencing manis disangkal

Riwayat darah tinggi disangkal

Riwayat kebiasaan
-

Riwayat merokok bungkus sehari sejak 10 tahun yang lalu

Riwayat kontak dengan pasien batuk-batuk lama/TBC disangkal

Riwayat penyakit keluarga


-

Riwayat penyakit paru dalam keluarga disangkal.

Riwayat anggota keluarga yang menderita TBC disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
Keadaan umum

: tampak sakit

Keadaan sakit

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 104x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup

Pernafasan

: 26x/menit, thoracoabdominal, reguler

Suhu

: 38,2 C

Gizi

: BB=37 kg, TB=160 cm


Berat badan idaman : (TB-100)-10%(TB-100)= 58,5 kg
RBW= BB/BBI x 100%= 77 % (Underweight)

Dehidrasi

: (-)

Keadaan spesifik
Kulit
Warna sawo matang, turgor kembali cepat, ikterus pada kulit (-), sianosis (-), scar (-),
pucat pada telapak tangan dan kaki (-), pertumbuhan rambut normal.
KGB
Tidak ada pembesaran KGB pada daerah axilla, leher, inguinal dan submandibula serta
tidak ada nyeri penekanan.
Kepala
Bentuk oval, simetris, ekspresi sakit sedang, deformasi (-).
Mata

Eksophtalmus dan endopthalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra pucat (-),
sklera ikterik (-), pupil isokor, reflek cahaya normal, pergerakan mata ke segala arah
baik.
Hidung
Bagian luar tidak ada kelainan, septum dan tulang-tulang dalam keadaan baik, tidak
ditemukan penyumbatan maupun perdarahan, pernapasan cuping hidung (-).
Telinga
Tophi (-), nyeri tekan processus mastoideus (-), pendengaran baik.
Mulut
Tonsil tidak ada pembesaran, pucat pada lidah (-), atrofi papil (-), gusi berdarah (-),
stomatitis (-), rhageden (-), bau pernapasan khas (-), faring tidak ada kelainan.
Leher
Pembesaran kelenjar tiroid tidak ada, JVP (5-2) cmH 2 0, kaku kuduk (-).
Dada
Bentuk dada simetris, nyeri tekan (-), nyeri ketok (-), krepitasi (-)
Paru-paru
Bagian anterior
I : Statis : simetris antara kanan dan kiri
dinamis : gerakan paru kanan dan kiri simetris
sela iga tidak melebar
P : Stemfremitus kanan dan kiri normal
P : Sonor pada kedua lapangan paru
A: Ronkhi sedang pada kedua lapangan paru, wheezing (-)
Bagian Posterior
I : Statis : simetris antara kanan dan kiri
9

dinamis : gerakan paru kanan dan kiri simetris


sela iga tidak melebar
P : Stemfremitus kanan dan kiri normal
P : Sonor pada kedua lapangan paru
A: Ronkhi sedang pada kedua lapangan paru, wheezing (-)
Jantung
I : ictus cordis tidak terlihat
P : ictus codis tidak teraba, thrill (-)
P : batas jantung atas ICS II, batas jantung kanan LS dextra, batas jantung kiri
LMC sinistra
A: HR = 100x/menit, murmur (-), gallop (-)
Perut
I : Datar
P : Lemas ,nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
P : timpani, nyeri ketok (-)
A: BU(+) normal
Alat kelamin : tidak diperiksa
Extremitas atas
Kekuatan +5, nyeri sendi (-), edema (-), jaringan parut (-), pigmentasi normal, acral
hangat, turgor kembali cepat, clubbing finger (-).
Extremitas bawah
Kekuatan +5, nyeri sendi (-), edema pretibial (-), jaringan parut (-), pigmentasi normal,
acral hangat, turgor kembali cepat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium (06 November 2014)
Pada pemeriksaan sputum S-P-S ditemukan BTA +++
10

Rontgen Foto thorax PA

Parenkim paru : infiltrat pada paru kanan dan kiri


Kesan : TB paru lesi luas
DIAGNOSIS KERJA
Kasus baru Tb paru lesi luas
DIAGNOSA BANDING
Tumor paru
PENATALAKSANAAN
Non-farmakologis

Istirahat

Edukasi kepada pasien agar tidak berhenti minum obat

Farmakologis

OBH syrup 3x1 Sdm


11

Vitamin B komplek 1x1 tablet


Oat kategori 1 fix drug combination (FDC)

PROGNOSIS
Vital

: Dubia ad bonam

Functional : Dubia ad bonam


Sanationam : Dubia ad bonam

FOLLOW-UP SELAMA RAWAT JALAN


Tanggal

11/11/2014

Pemeriksaan/diagnosis

Pengobatan
Antacid 3x1

Keluhan: mual (+)

Molaneuron 1x1

Diagnosis: Gastritis ec obat Tb

OBH syrup 3x1


FDC
Antacid 3x1

18/11/2014

Keluhan: kontrol ulang

Molaneuron 1x1
OBH syrup 3x1
FDC
Antacid 3x1

25/11/2014

Keluhan: kontrol ulang

Molaneuron 1x1
OBH syrup 3x1
FDC

12

Antacid 3x1
02/12/2014

Keluhan: kontrol ulang

Molaneuron 1x1
OBH syrup 3x1
FDC

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
TB paru adalah infeksi kronik pada paru yang disebabkan oleh basil
Mycobacterium tuberculosis (MTB), ditandai dengan pembentukan granuloma dan
adanya reaksi hipersensitifitas tipe lambat. Sumber penularan umumnya adalah penderita
Tb yang dahaknya mengandung Basil Tahan Asam (BTA).
ETIOLOGI
Mycobacterium tuberculosis adalah suatu jenis kuman yang berbentuk batang
dengan ukuran panjang 1-4/um dan tebal 0,3-0,6/um, mempunyai sifat khusus yaitu
tahan terhadap asam pada pewarnaan. Mycobacterium tuberculosis (MTB) memiliki
dinding yang sebagian besar terdiri atas lipid, kemudian peptidoglikan dan
arabinomannan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan asam dan ia juga lebih
13

tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat hidup dalam udara kering
maupun dalam keadaan dingin ( dapat tahan bertahun - tahun dalam lemari es ) dimana
kuman dalam keadaan dormant. Dari sifat ini kuman dapat bangkit kembali dan
menjadikan penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi.
KLASIFIKASI TUBERKULOSIS
Hingga saat ini belum ada kesepakatan diantara para klinikus, ahli radiologi, ahli
patologi, mikrobiologi dan ahli kesehatan masyarakat tentang keseragaman klasifikasi
tuberkulosis. Menurut American Thoracic Society dan WHO 1964, diagnosis pasti
tuberkulosis paru adalah dengan kuman Mycobacterium tuberculosis (MTB) dalam
sputum atau jaringan paru secara biakan. Tidak semua pasien memberikan biakan
sputum positif Menurut WHO tahun 1991, kriteria pasien TB paru adalah sebagai
berikut:
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi atas:
a.

Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:


- Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif.
- Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
-

radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.


Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan
positif.

b.

Tuberkulosis paru BTA (-) adalah:


- Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis dan
-

kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis paru.


Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan MTB
positif

Berdasarkan tipe pasien:


Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada beberapa tipe
pasien yaitu:
a.

Kasus baru
Pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan Obat Anti Tuberkulosis
(OAT) atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.

14

b.

Kasus kambuh
Pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah
dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi berobat
dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif. Bila BTA negatif
atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi dicurigai lesi aktif atau perburukan
dan terdapat gejala klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan:
- Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur, keganasan, dll)
- TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang berkompeten
menangani kasus tuberkulosis.

c.

Kasus defaulted atau drop out


Pasien yang telah menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil obat
selama 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.

d.

Kasus gagal pengobatan


Pasien dengan BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi positif
pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau akhir
pengobatan.
e. Kasus khronik
Pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai pengobatan
ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik.

f.

Kasus bekas TB
Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran
radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial
menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat akan
lebih mendukung.
Berdasarkan gambaran radiologi:
a. Lesi TB aktif dicurigai bila:
-

Bayangan berawan / nodular di segmen apical dan posterior lobus atas


paru dan segmen posterior lobus bawah
15

Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan
atau nodular.

Bayangan bercak milier

Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)

b. Lesi TB inaktif dicurigai bila:


-

Fibrotik

Kalsifikasi

Schwarte atau penebalan pleura.

Luas lesi yang tampak pada foto thorax untuk kepentingan pengobatan dinyatakan
sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif):
-

Lesi minimal
Bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih
dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas chondrosternal junction
dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus
vertebra torakalis 5, serta tidak dijumpai kaviti.

Lesi luas
Bila proses lebih luas dari lesi minimal

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN


Diagnosis berdasarkan pemeriksaan fisik sangat tergantung pada luas dan
kelainan struktural paru. Pemeriksaan fisik dapat normal pada lesi minimal, kelainan
umumnya terletak pada daerah apikal/posterior lobus atas dan daerah apikal lobus
bawah. Kelainan yang dapat ditemukan antara lain berupa bentuk dada yang tidak
simetris, pergerakan paru yang tertinggal, peningkatan stem fremitus, redup pada
perkusi, suara napas bronkial/amforik/ vesikuler melemah,/ronkhi basah ataupun tandatanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.
Dari pemeriksaan foto thorax standar pada TB paru yaitu foto thorax PA dan
lateral ditemukan gambaran lesi yang menyokong ke arah TB paru aktif biasanya berupa
16

infiltrat nodular berbagai ukuran di lobus atas paru, kavitas (terutama lebih dari satu),
bercak milier ataupun adanya efusi pleura unilateral. Gambaran lesi tidak aktif biasanya
berupa fibrotik, atelektasis, kalsifikasi, penebalan pleura, penarikan hilus dan deviasi
trakea. Berdasarkan luas lesi pada paru, ATS (American Thoracic Society) membaginya
atas lesi minimal, lesi sedang dan lesi luas.
Pada foto toraks pasien ini tampak gambaran lesi berupa infiltrat di seluruh
lapangan paru kanan dan kiri. Berdasarkan gambaran lesi tersebut, luas lesi paru pada
pasien ini termasuk dalam lesi luas.
Selain itu, kita dapat menegakkan diagnosis paru berdasarkan hasil laboratorium.
Pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam) sangat penting dalam menegakkan diagnosis TB
Paru. Dahak terbaik adalah dahak pagi hari sebelum makan, kental, purulen, dengan
jumlah minimal 3-5 ml. Dahak diperiksa 3 hari berturut-turut dengan pewarnaan Ziel
Neelsen atau Kinyoun Gabbet. Untuk lebih efisien, Depkes RI menganjurkan
pengambilan dahak SPS (Sewaktu, Pagi, Sewaktu) yang dikumpulkan dalam 2 hari. BTA
dikatakan positif bila BTA dijumpai setidaknya pada dua dari tiga pemeriksaan BTA.
Kultur lebih sensitif dibanding BTA, namun membutuhkan waktu lebih lama (6-8
minggu). Metode yang dipakai antara lain Lowenstein Jensen, Ogawa dan Kudoh. Hasil
pemeriksaan BTA sputum Ny.N adalah +2,+2,+1 pada BTA I, II, III.
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang spesifik untuk TB paru. Kelainan yang
sering dijumpai adalah anemia, peningkatan laju endap darah, lekositosis dan
limfositosis. Pada pasien ini ditemukan anemia, leukositosis, dan peningkatan laju endap
darah.
Terminologi tipe penderita Tb dibagi menjadi enam kelompok, yaitu kasus baru,
kasus kambuh, kasus gagal, kasus pindahan, kasus berobat setelah lalai, dan kasus
kronik. Kasus baru adalah penderita Tb paru yang belum pernah mendapat OAT atau
yang pernah mendapat OAT tetapi kurang dari satu bulan. Kasus kambuh adalah
penderita Tb paru dengan BTA positif yang sebelumnya sudah dinyatakan sembuh, tetapi
kini datang lagi dan pada pemeriksaan BTA memberikan hasil positif. Kasus gagal
adalah penderita Tb paru dengan BTA positif yang sudah mendapat OAT, tetapi sputum
BTA positif pada 1 bulan sebelum akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan. Batasan
ini juga berlaku untuk penderita Tb paru dengan BTA negatif yang sudah mendapat
OAT, tetapi sputum BTA justru menjadi positif pada akhir pengobatan fase awal. Kasus
17

pindahan adalah penderita Tb paru dari kabupaten/kota lain yang sekarang menetap di
kabupaten/kota ini. Kasus berobat setelah lalai adalah penderita Tb paru yang
menghentikan pengobatan (2 bulan atau lebih) dalam keadaan belum dinyatakan sembuh
dan kini datang lagi untuk berobat dengan BTA positif. Kasus kronik adalah penderita
Tb paru dengan BTA yang tetap positif, walaupun sudah mendapatkan pengobatan ulang
yang adekuat dengan pengawasan yang baik. Pasien ini sudah mendapat OAT selama 1
minggu, maka kami mendiagnosis pasien ini dengan kasus baru Tb paru BTA (+) on
therapy.
Terminologi diagnosis dibagi dalam 3 kelompok, yaitu Tb paru BTA positif, Tb
paru BTA negatif dan bekas Tb paru. Yang termasuk Tb paru BTA positif apabila sputum
BTA positif 2 kali, sputum BTA positif 1 kali dengan kultur positif atau sputum BTA
positif 1 kali dengan klinis/radiologist sesuai dengan Tb paru. Tb paru BTA negatif
apabila klinis dan radiologist sesuai dengan Tb paru, sputum BTA negatif dan kultur
negatif atau positif. Bekas Tb paru apabila sputum dan kultur negatif, gejala klinis tidak
menunjang dan gambaran radiologis menunjukkan gambaran tak aktif.
Medikamentosa obat anti Tuberkulosis dibagi 4 kategori.

KategoriKriteria penderita
I

Regimen pengobatan
Fase

Awal
Kasus baru BTA 2 RHZE (RHZS)

(+)

2 RHZE (RHZS)

Kasus baru BTA 2 RHZE (RHZS)*

Fase
lanjutan
6 EH
4 RH
4 R3H3*

(-)

Ro (+) sakit
berat

II

Kasus TBEP

berat
Kasus BTA positif
Kambuh
Gagal

III

5 RHE

1 RHZE

5 R3H3E3*

2 RHZES atau

1 RHZE*
Putus berobat
Kasus baru BTA 2 RHZ

(-)

IV

2 RHZES atau

2 RHZ

TBEP ringan 2 RHZ* 18


Kasus kronik
Obat-obat sekunder

6 EH
4 RH
4 R3H3*

Oleh karena pasien ini termasuk dalam kategori kasus baru, jadi perlu diobati dengan
OAT kategori I, dengan regimen Rifampisin, INH, Pirazinamid, dan Etambutol selama 2
bulan. Kemudian dilanjutkan dengan 4 bulan Rifampisin dan INH.

19