Anda di halaman 1dari 46

TUTORIAL B4

CASE 4: NEOPLASMA

Disusun Oleh :
M. Abdurrahman Salim
Dinno Anza Ario Putra
Yara Cantika
Teta Dea Kurnia Kusuma Wardhani
Stella Arzsa Sarahnaz
Gina Terasa Sitepu
Bia Yuniar Hatsari
Nila Paharagita Purnama
Helmy Sudarmin
M. Irfan Prabowo

1310211198
1410211035
1410211042
1410211046
1410211052
1410211136
1410211142
1410211148
1410211157
1410211182

Tutor : Meiskha Bahar S.si, M.Biomed

Fakultas kedokteran UPN Veteran Jakarta


Tahun Akademik 2014/2015

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan KuasaNya
kami dapat menyelesaikan makalah kasus pertama kami di blok FBS 3-4 yaitu jejas, adaptasi sel,
dan pemulihan jaringan. Makalah ini kami buat berdasarkan apa yang telah kami pelajari dan
kami telah presentasikan dalam tutorial. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini
jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya.
Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu untuk lebih memahami dan
memperluas pengetahuan tentang jejas sebagai pokok pembahasan, sehingga kami dapat
memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik, aamiin.

Jakarta, 10 Desember 2014

Tutorial B-4

Halaman 1
Nn. N (25 th) dating ke praktek dokter karena menemukan benjolan di payudara
kanannya. Benjolan ini baru diketahui mingguyang lalu saat memeriksapayudaranya setelah
selesai menstruasi. Nn. N merasa benjolan tersebut membesar walaupun tidak terasa nyeri.
Keluhan ini tidak diikuti dengan penurunan berat badan maupun adanya benjolan di tempat lain.
Nn. N mengatakan, ibunya dulu pernah mengalami hal serupa sebelum menikah. Walaupun
demikian Nn. N merasa sangat khawatir benjolan itu adalah suatu tumor ganas.

Halaman 2
Pada pemeriksaanfisik ditemukan massa berukuran diameter2 cm, batas tegas,
konsistensi kenyal, mudah digerakkan dari dasarnya dan tidak tampak kemerahan di daerah
sekitarnya serta tidak nyeri. Perabaan daerah sekitar regio aksila tidak ditemukan pembesaran
kelenjar getah bening. Dokter menyarankan dilakukan biopsi jarum halus (FNAB) dan pada hasil
histopatologi tampak jaringan tumor yang berasal dari mesenkim (jaringan ikat fibrosa) dan dari
epitel (epitel kelenjar) yang berbentuk lobus lobus ; lobuli terdiri dari jaringan fibrokolagen
dan saluran kelenjar yangbercabang (intrakanalikuler); dan dibatasi sel sel yang berbentuk
kuboid atau kolumnar pendek uniform serta mitosis (-), pleomorfik (-) dan inti hiperkrmatik (-).
Dokter mendiagnosis suatu Fibroadenoma Mammae.

LEARNING PROGRESS REPORT


Terminologi :

Payudara (breast) : bagiam anterior thoraks


Tumor : Pertumbuhan baru suatu jaringan dengan multiplikasi sel sel yang tidak terkontrol
dengan progresif ; disebut juga neoplasma.
Regio aksila
FNAB
Biopsi : Pengambilan dan pemeriksaan, biassanya mikroskopik, dari jaringan tubuh yang hidup,
yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis pasti.
Histopatologi :
Mesenkim : jalinan jaringan ikan embrionik dalam mesoderm dimana terbentuk jaringan ikat
tubuh serta pembuluh darahdan pembuluh limfatik.
Epitel :
Lobus ; lobuli : Segmen kecil
Fibrokolagen : fibrosa dan kolagenosa ; berkaitan dengan atau terdiri dari jaringan fibrosa yang
terutama terbentuk dari kolagen
Intrakanalikuler : di dalam kanalikuli
Kuboid / kolumnar :
1. Pleomorfik : perubahan pada inti sel dengan berbagai macam bentuk dan ukuran.

Uniform :
FAM (fibroudenoma Mammae) :

PROBLEM
1. Benjolan apa yang terdapat pada
payudara?
2. Mengapa
benjolan
tersebut
dapat muncul di payudara Nn.N?
3. Apa
hubungan
menstruasi
dengan tumbuhnya benjolan?
4. Mengapa
benjolan
tersebut
dapat membesar dan terasa
tidak nyeri?
5. Mengapa benjolan tersebut tidak
memengaruhi penurunan berat
badan? Dan mengapa tidak
timbul benjolan di tempat lain?
6. Apakah benjolan ersebut ada
hubungan
dengan
factor
genetic?
7. Apa yang dimaksud dengan

HIPOTESIS
Benjolan tersebut dikhawatirkan sebaga tumor
Karena multiplikasi sel-sel pada jaringan di
payudara Nn. N
IDK
Idem (2) dan IDK
IDK

Mungkin (IDK)
Pertumbuhan baru suatu jaringan dengan

tumor?
8. Apakah
bejolan
termasuk tumor ganas?

multiplikasi sel sel yangtidak terkontrol


dengan progresif ; disebut juga neoplasma
tersebut IDK

MEKANISME
Nn. N (perempuan)
25 th

Menemukan benjolan di payudara


kanan

Ke dokter

Benjolan membesar dan tidak nyeri

Tidak turun BB, tidak ada benjolan di


tempat lain

Ibunya Nn. N pernah mengalami hal


serupa

MORE INFO

Pemeriksaan fisik :
- Konsistensi
- Mobilisasi
- Diameter
- Nyeri / tidak
- Tampak
- Jumlah

Khawatir tumor ganas

I DONT KNOW

Defini
Klasifikasi
Sifat
Factor penyebab
Efekyang ditimbulkan
Gejala pasien (symptoms) &
tanda (dokter, hasil penelitian)
Komplikasi :
-dapat menyebabkan makalah
di tempat lain
-masalah ditempat yagsama,
tapi sifat lain
-dampak sistemik maupun
local
Pemeriksaan Penunjang :

LEARNING ISSUES
TUMOR

-lab, rontgent, dll


-biopsi
-derajat
Prognosis (perkiraan perjalanan
penyakit)
-arah penyakit
-kelangsungan hidup pasien

NEOPLASIA

A. Definisi
Kumpulan sel abnormal yg terbentuk oleh sel-sel yg tumbuh terus-menerus secara tidak
terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan disekitarnya dan tidak berguna dengan tubuh.
(Handout Lab Act PA dr. Retno)
Pertumbuhan baru suatu jaringan dengan multiplikasi sel-sel yang tidak terkontrol dengan
progresif. (Dorland Medical Dictionary)
Massa abnormal jaringan yang pertumbuhannya berlebihan dan tidak terkoordinasikan
dengan pertumbuhan jaringan normal serta terus demikian walaupun rangsangan yg memicu
perubahan telah berhenti. (PA Robbin Kumar)
Dalam penggunaan istilah kedokteran yang umum, neoplasma sering disebut sebagai
tumor, dan ilmu tentang tumor disebut onkologi (onko = tumor, logos = ilmu).
Tumor dikatakan jinak (benigna) apabila gambaran mikroskopik dan makroskopiknya
dianggap relatif tidak berdosa tumor tersebut tetap terlokalisasi, tidak dapat menyebar ke
tempat lain, dan pada umumnya dapat dikeluarkan dengan tindakan bedah lokalpasien
umumnya selamat.
Tumor dikatakan ganas (maligna) apabila gambaran mikroskopik dan makroskopiknya
sudah menyebar ke tempat lain. Disebut juga kanker, yg berasal dari kata Latin untuk kepiting
tumor melekat erat ke semua permukaan yg dipijaknya, seperti kepiting.

B. Tata Nama atau Nomenklatur


Suatu tumor, jinak dan ganas, memiliki dua komponen dasar :
a. Parenkim yang terdiri dari sel yg telah mengalami transformasi atau neoplastik
b. Stroma penunjang dari sel host dan terdiri atas jaringan ikat dan pembuluh darah
Parenkim neoplasma menentukan perilaku biologisnya dan juga menentukan nama tumor.
Stroma mengandung pembuluh darah dan jaringan ikat fibrovaskular, memberikan
dukungan bagi pertumbuhan sel parenkim dan sangat penting untuk pertumbuhan neoplasma.

1. Nomenklatur Tumor Jinak


Penamaan tumor jinak (benigna) biasanya berakhiran oma.

Tumor jinak yg berasal dari jaringan fibrosa disebut fibroma


Tumor tulang rawan yg jinak disebut kondroma
Polip adalah suatu massa yg menonjol diatas permukaan mukosa, seperti pada usus,
untuk membentuk struktur yg terlihat dengan mata telanjang. Polip selain digunakan
untuk kata pada tumor jinak, namun dapat juga digunakan untuk tumor ganas, contohnya
pada kolon papilloma kolon.

Tumor Jinak Sel Epitel


Adenoma neoplasma sel jinak yg berasal dari kelenjar yang mengeluarkan sekret,
contoh payudara, thyroid, hati, ginjal
Papilloma neoplasma sel jinak yg tumbuh di suatu permukaan dan menghasilkan
tonjolan, contoh kulit, lidah, vagina, kandung kemih
Mola hidatidosa tumor jinak epitel yg menyerang vili korialis (uterus)

Pengecualian : basalioma karsinoma sel basal.

2. Nomenklatur Tumor Ganas

Sarkoma neoplasma ganas yg berasal dari jaringan mesenkim turunannya.


Karsinoma neoplasma ganas yg berasal dari jaringan epitel.

Contoh : kondrosarkoma, fibrosarkoma, karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma.

C. Istilah-istilah dalam Neoplasma


2. Pleomorfik : perubahan pada inti sel dengan berbagai macam bentuk dan ukuran.
3. Infiltratif : sukar digerakan dari dasar ; tumbuh bercabang-cabang (menyebuk ke dalam
jaringan sehat disekitarnya, menyerupai jari-jari kepiting (cancer).
4. Residif : kambuh
5. Metastasis : anaksebar
6. Hiperkromasi : warna lebih gelap pada kromatin inti karena jumlahnya bertambah.
7. Anaplasia : hilangnya differensiasi sel-sel.
8. Displasia : perubahan bentuk pada sel menjadi tidak beraturan.

Pada case, Nn. N menemukan benjolan di payudara kanan. Ia khawatir benjolan itu adalah suatu
tumor ganas.

Dokter mendiagnosis bahwa adanya suatu fibroadenomma mammae dextra. Ciri khas dari
tumor ini adalah pertumbuhan jaringan ikat diikuti pertumbuhan/proliferasi jaringan kelenjar dan
lumen tertutup. Tumor ini termasuk ke dalam tumor jinak dan dapat diangkat.

Karakteristik Neoplasma Jinak dan ganas


Neoplasma jinak

Diferensiasi

Neoplasma jinak terdiri atas sel berdiferensiasi baik yang mirip


dengan padanan normal. Misalnya lipoma terdiri atas sel lemak matur
yang dipenuhi oleh vakuol lemak dalam sitoplasmanya dan kondroma
terbentuk dari sel tulang rawan matur yang menyintesis matriks tulang
rawan normal.

(gambar. Lipoma)

(gambar. Kondroma)

Laju pertumbuhan
Tumor jinak biasanya tumbuh lambat daripada tumor ganas.
Tetapi laju pertumbuhan tumor jinak tidak tetap kadang-kadang tumor
jinak tumbuh lebih cepat daripada tumor ganas. Karena bergantung

kepada hormon yang mempengaruhi dan adanya penyediaan darah


yang memadai.

Invasi lokal

Tumor jinak tidak memiliki kemampuan untuk menginfiltrasi,


menginvasi atau menyebarkan ketempat jauh. Hal itu terjadi karena
tumbuh dan menekan perlahan-lahan maka biasanya dibatasi jaringan
ikat yang disebut kapsul, yang memisahkan jaringan tumor dari
jaringan sehat sekitarnya.
Dikarenakan memiliki kapsul maka tumor jinak berbatas tegas,
mudah digerakkan dan mudah dikeluarkan pada operasi. Tetapi tidak
semua tumor jinak berkapsul, ada tumor jinak yang tidak berkapsul
misalnya hemangioma.

(gambar. Hemangioma)

NEOPLASMA GANAS
Neoplasma ganas (maligna/kanker), menunjukkan bahwa lesi dapat
menyerbu dan merusak struktur di dekatnya dan menyebar ke tempat jauh
(metastasis) serta menyebabkan kematian.

Karakteristik neoplasma ganas :

Diferensiasi beragam, dari yang berdiferensiasi baik sampai yang


sama sekali tidak berdiferensiasi. Neoplasma ganas yang tidak
berdiferensiasi bersifat anaplastik. Tidak adanya diferensiasi
(anaplasia) dianggap sebagai tanda utama keganasan.
Sel anaplastik memperlihatkan pleomorfisme (variasi yang nyata
dalam bentuk dan ukuran). Umumnya inti sel sangat hiperkromatik dan
besar. Rasio inti sel terhadap sitoplasma dapat mendekati 1 : 1
dibandingkan dalam keadaan normal yang besarnya 1 : 4 atau 1 : 6.
Mungkin terbentuk sel raksasa. Inti sel anaplastik memiliki ukuran dan
bentuk sangat beragam. Kromatin kasar dan bergumpal, dan ukuran
nukleolus sangat besar. Mitosis banyak ditemukan dan jelas atipikal,
mungkin ditemukan gelondong gelondong yang kacau dan kadangkadang tampak sebagai bentuk tripolar atau kuadripolar.

Karsinoma sel skuamosa yang berdiferensiasi baik menghasilkan


keratin.

Laju pertumbuhan neoplasma ganas umumnya lebih cepat


daripada neoplasma jinak. Laju pertumbuhan neoplasma ganas
berkaitan dengan tingkat diferensiasinya.
Neoplasma ganas tumbuh dengan cara infiltrasi, invasi,
destruksi, dan penetrasi progresif ke jaringan sekitar (invasi
lokal). Kanker tidak membentuk kapsul yang jelas.

Terdapat metastasis (implan sekunder yang terpisah dari tumor


primer, mungkin di jaringan yang jauh).

Invasi lokal dan metastasis menunjukkan secara pasti bahwa suatu


neoplasma bersifat ganas.
Neoplasma ganas menyebar melalui salah satu dari tiga jalur :
1. Penyemaian di dalam rongga tubuh, neoplasma menginvasi suatu
rongga alami tubuh.
2. Penyebaran limfatik, khas untuk karsinoma.
3. Penyebaran hematogen, khas untuk sarkoma. Hati dan paru adalah
tempat sekunder yang paling sering terkena pada penyebaran
hematogen ini.

PERBEDAAN TUMOR JINAK


DAN GANAS
Karateristik

Jinak

Diferensiasi/ana
plasia

Berdiferensiasi baik,
struktur mungkin khas
jaringan asal

Laju
pertumbuhan

Biasanya progressif &


lambat,mungkin berhenti
tumbuh atau menciut

Invasi lokal

Biasanya kohesif dan


ekspansil, massa berbatas
batas yang tidak
menginfiltrasi jaringan
normal disekitarnya

metastasis

Tidak ada

ganas
Sebagian tidak
memperlihatkan
diferensiasi disertai
anaplasia ; struktur sering
tidak khas
Tidak terduga dan mungkin
cepat atau lambat
Invasif lokal, menginfiltrasi
jaringan normal di
sekitarnya; kadang
mungkin tampak kohesif
dan ekspansil tetapi
dengan invasi mikroskopik
Sering ditemukan, semakin
besar dan semakin kurang
berdiferensiasi tumor
primer,semakin besar
kemungkinan metastasis

Karsinogenesis
Karsinogenesis adalah suatu proses transformasi/perubahan dari sel normal menjadi sel
neoplastik yang disebabkan oleh perubahan genetik yang menetap atau mutasi.
Beberapa gen yang jika bermutasi akan menyebabkan kanker , antara lain:
Onkogen
Gen supressor tumor
Gen DNA repair
Gen regulator apoptosis
Pada karsinogenesis terdapat 3 tahap, antara lain:

1. Inisiasi
Tahap inisiasi merupakan tahap pertama karsinogenesis, dimana gen pada sel normal
bertransformasi menjadi transform cell. DNA dirusak oleh zat-zat inisiator seperti radiasi
dan radikal bebas dapat mengganggu proses reparasi normal, sehingga terjadi mutasi
DNA dengan kelainan pada kromosomnya.
2. Promosi
Pada tahap ini, terjadi perubahan dari transform cell menjadi premaligna cell. Morfologi
premaligna sel sudah berbeda dengan sel normal. Pada tahap ini belum ada gejala klinis
yang timbul pada pasien.
3. Progresi

Pada tahap ini terjadi perubahan dari premaligna menjadi maligna yang mempunyai tanda
tanda keganasan. Terjadi instabilitas genetik yang menyebabkan perubahan-perubahan
mutagenik dan epigenetik. Proses ini akan menghasilkan klon baru sel-sel tumor yang
memiliki aktivitas proliferasi, bersifat invasif (menyerang) dan potensi metastatiknya
meningkat.

Onkogenesis dan Kanker

Onkogen adalah adalah gen yang termodifikasi sehingga meningkatkan keganasan sel tumor.
Menghasilkan Onkoprotein.
Protoonkogen adalah gen yang berfungsi untuk mendorong dan meningkatkan pertumbuhan
normal dan pembelahan sel. Protoonkogen dapat berubah menjadi onkogen apabila mengalami
mutasi.
Terdapat 3 cara pengaktifan onkogen, antara lain:
1. Translokasi

Pada translokasi dari lokus satu ke lokus


baru,
dibawah kontrol promoter yang baru.
Promotor ini dapat menyebabkan produksi
penstimulasi berlebih.
2. Mutasi Titik
Mutasi ini mengubah protein gen menjadi protein yang
lebih aktif atau lebih resisten terhadap degradasidaripada
protein normal.
3. Amplifikasi
Amplifikasi adalah perbanyakan kopi dari satu gen dalam
genom dari suatu sel. Amplifikasi menyebabkan beberapa
ratus kopi dari satu gen yang mengakibatkan peningkatan
ekspresi gen yang menjurus pada transformasi ganas.

Produk dari aktifnya onkogen antara lain:


1. Faktor pertumbuhan

Sel kanker memiliki kemampuan untuk tumbuh sediri karena mempu menyintesis faktor
pertumbuhan yang sama kepada mana sel tersebut responsif (autokrin). Tidak hanya
karena mutasi pada gen faktor pertumbuhan, pada banyak kasus, gen faktor pertumbuhan
tidak berubah/mengalami mutasi. Tetapi produk onkogen lain (misal: RAS) menyebabkan

ekspresi berlebihan gen faktor pertumbuhan. Contoh: PDGF (platelet-derived growth


factor)
2. Reseptor Faktor Pertumbuhan

Reseptor faktor pertumbuhan normalnya membutuhkan untuk berikatan dengan faktor


pertumbuhan untuk dapat melakukan aktivitas. Tetapi, dalam dalam proses ini, onkogen
memproduksi reseptor yang tidak memerlukan growth factor untuk dapat aktif. Reseptor
produksi onkogen ini aktif secara terus menerus tanpa berikatan dengan growth factor.
3. Protein Transduksi Sinyal (Mutasi RAS)

Normalnya, saat dirangsang faktor pertumbuhan, RAS inaktif yang terikat GDP
diaktifkan menjadi yang terikat GTP. RAS aktif merekrut RAF-1 dan merangsang jalur
MAP-Kinase untuk menyalurkan sinyal pendorong pertumbuhan ke nukleus. Protein
RAS yang mengalami mutasi atau mutan mengalami aktivasi terus menerus (terus
menyalurkan sinyal) karena tidak mampu menghidrolisis GTP.
4. Faktor Transkripsi Nukleus
Protein inti seperti PKC & P34 penting dalam siklus pertumbuhan sel. Protein ini dikode
pertumbuhannya oleh gen MYC, JUN, FOS, dan REL. Jika terjadi mutasi pada gen
tersebut, maka akan menimbulkan kenaikan ekspresi gen dan dapat pula menimbulkan
siklus pertumbuhan ynag persisten.
Gen Supresor Tumor

1. Gen Rb

Produk gen Rb mengatur perkembangan sel dari fase G1 menjadi fase S dalam siklus
sel. Gen Rb dapat diibaratkan sebagai lampu lalu lintas dimana sel baru dapat lampu
hijau saat ada faktor pertumbuhan. Jika Rb mengalami mutasi, maka sel akan
melanjutkan siklus walau tanpa adanya faktor pertumbuhan.
2. Gen p53

Gen p53 berfungsi untuk mencegah perbanyakan sel yang secara genetik sudah rusak.
Bila DNA sudah rusak, transkripsi p53 normal akan diperbanyak dan menghasilkan
transkripsi beberapa gen yang menyebabkan penghentian siklus sel (p21) serta
perbaikan DNA (GADD45). Penghentian siklus sel dilakukan pada fase G1. Jika
selama pemberhentian dapat dilakukan perbaikan DNA, sel tersebut boleh lanjut ke
fase S. Jika tidak dapat diperbaiki, p53 menimbulkan apoptosis dengan meningkatkan
transkripsi gen proapoptotik BAX

Selain Gen Rb dan Gen p53, terdapat banyak gen supresor tumor lain seperti yang tertera pada
tabel berikut:

Menghindar dari Apoptosis


Akumulasi sel neoplastic dapat terjadi pula akibat adanya mutasi pada gen yang
mengendalikan apoptosis, baik yang mendorong maupun yang menghambat apoptosis. Gambar
di bawah ini merupakan rangkaian kejadian apoptosis oleh sinyal melalui reseptor kematian
CD95 (Fas) dan oleh kerusakan DNA.

Gambar
poptosis oleh
melalui
reseptor
kematian
(Fas) & oleh
kerusakan

sinyal

CD95
DNA.

Saat
CD95
berikatan dengan ligannya (CD95L), CD95 mengalami trimerisasi dan sinyal yang dihasilkan
menarik protein adaptor intrasel FADD. FADD dapat menarik prokapkase 8 sehingga
terbentuklah kompleks sinyal penginduksi kematian (kompleks sinyal penginduksi kematian
terdiri atas gabungan dari protein FADD dengan prokapkase 8). Prokaspase 8 setelah diaktifkan
akan menjadi kaspase 8 yang dimana kaspase 8 dapat mengaktifkan kaspase 3 yang merupakan
kaspase eksekutor yang berfungsi untuk memecah DNA dan substrat lain yang menyebabkan
kematian sel. Selain itu, kaspase 8 juga dapat mengaktifkan protein proapoptotik BID. Dalam
beberapa tumor, sel menunjukan adanya pengingkatan kadar FLIP yang berfungsi untuk
menonaktifkan kompleks pemicu kematian ( FADD dan prokaspase 8) sehingga dapat mencegah
pengaktifan kaspase 8.
Jalur lain apoptosis adalah melalui kerusakan DNA yang menyebabkan penurunan jumlah
gen TP53, dimana di sisi lain TP53 berfungsi untuk mengatur kadar CD95, sehingga penurunan
jumlah gen TP53 menyebabkan kadar CD95 menjadi menurun pula.
Mitokondria berperan penting pada proses apoptosis dengan cara mengeluarkan
sitokrom C yang nantinya sitokrom C akan membentuk kompleks dengan apoptosis inducing
factor 1 (APAF-1)prokaspase 9, dan ATP. Prokaspase kemuadian aktif dan menjadi kaspase 9
yang dapat memicu kaspase 3 untuk melakukan pemecahan DNA dan substrat lain yang
berujung pada kematian sel.

Dalam mitokondria terdapat family gen BCL2 yang berfungsi untuk mengendalikan
apoptosis. Gen BCL2 terdiri atas gen yang menghambat apoptosis ( BCL2, BCL-XL) dengan cara
menjegah pengeluaran kromosom C. Sementara gen yang memacu apoptosis adalah BAD, BAX
dan BID dengan cara mendorong pelepasan/pengeluaran sitokrom C. Penurunan TP53
menyebabkan peningkatan sintesis gen BCL2 maupun BCL-X L yang menghambat pengeluaran
sitokrom C sehingga sel tumor terlindungi dari apoptosis. Dalam proses ini, gen BCL2 ini lah
yang paling berpengaruh terhadap sel tumor untuk dapat menghindar dari apoptosis.

Instabilitas Genom hal yang memungkinkan keganasan


Walaupun secarah harfiah manusia berenang dalam agen lingkungan yang mutagenic
(misalnya zat kimia, radiasi, sinar matahari) yang memicu pada kerusakan DNA, tidak semua
manusia mengidap kanker / mutasi sel, keadaan tersebut terjadi karena adanya kemampuan sel
normal untuk memperbaiki kerusakan DNA dengan mempertahankan integritas genom. Pada sel
yang mengalami mutasi, sel tersebut tidak mampu untuk memperbaiki kerusakan DNA, sehingga
tidak dapat mempertahankan integritas genom sel itu sendiri yang diakibatkan karena gangguan
herediter terhadap gen pengkode protein untuk perbaikan sel / kerusakan DNA. Orang yang lahir
dengan mutasi herediter protein perbaikan DNA sangat beresiko untuk mengalami kanker.
Contoh mutasi dari instabilitas genom yaitu :

Kanker payudara herediter karena mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2


Sindrom karsinoma kolon nonpoliposis herediter (hereditary nonpoliposis colon
carcinoma, HNPCC) karena defek pada gen yang berperan pada perbaikan
ketidakcocokan DNA
Xeroderma pigmentosum beresiko tinggi mengalami kanker kulit akibat terpajan sinar
UV karena adanya gangguan perbaikan DNA yang menyebabkan ikatan sialng residu
pirimidin yang menghambat replikasi DNA normal.
Sekelompok gangguan resesif autosomal : Sindrom Bloom, dan ataksia-telangi-ektasia
(karena adanya kepekaan berlebihan terhadap gen perusak DNA misalnya radiasi
pengion) ;anemia fanconi (karena adanya zat yang menyebabkan ikatan silang pada
DNA, misalnya nitrogen mustard)

Dasar Molekular Proses Multilangkah pada Karsinogenesis

Sebelum onkogen dan gen penekan tumor ditemukan, para ahli epidemiologi
memostulasikan bahwa diperlukan lima atau enam tahap independent untuk
tumorigenesis.
Setelah onkogen dan gen penekan tumor ditemukan, analisis memperlihatkan bahw
perubahan genetic multiple melibatkan aktivasi beberapa onkogen dan hilangnya dua atau

lebih gen penekan tumor. Tahao tersebut mencerminkan tahap krusial dalam
perkembangan dari sel normal menjadi sel ganas. Sel normal yang menjadi sel tumor
terjadi melalui beberapa jalur yang tersendiri dan sejajar.

Gambar jalur dasar molecular proses multilangkah karsinogenesis


Menurut mekanisme ini, inaktivasi gen penekan tumor APC terjadi pertama kali, diikuti
oleh pengaktifan RAS dan ahirnya hilangnya gen penekan tumor pada gen 1q dan TP53

Perubahan Kariotipe pada Tumor


Kerusakan genetic dapat dideteksi melalui kariotipenya. Pada neoplasma tertentu kelainan
kariotipe bersifat tidak acak dan sering ditemukan, misanya pada sebagian besar leukemia dan
limfoma dan semakin banyak ditemukan pada tumor nonhematopoietik. Jenis kelainan struktur
non acak yang umum ditemukan pada sel tumor adalah :
1. Translokasi Seimbang (balanced translocation)
Translokasi seimbang sangat sering ditemukan terutama pada neoplasma darah.
Misalnya :

leukemia mielogenosa kronik translokasi seimbang pada kromosom


Philadelphia nomor 22 dengan no 9
Limforma burkit Translokasi seimbang antara kromosom 8 dan 14
Limfoma sel B folikular translokasi seimbang antara kromosom 14 dan 8

2. Delesi
Delesi lebih sering ditemukan pada tumor padat nonhematopoietik.
Misalnya :
Retinoblastoma delesi kromosom 13q pita 14
Kanker kolorektum Delesi 17p, 5q, dan 18q
Karsinoma paru sel kecil delesi 3p
3. Amplifikasi Gen
Terdapat dua manifestasi kariotipik amplifikasi gen : region yang terwarnai homogeny di
kromosom tunggal dan double minutes yang tampak sebagai potongan kecil berpasangan
kromatin.
Neuroblastoma dan kanker payudara adalah contoh amplifikasi genyang melibatkan gen
N-MYC dan HER-2

Gambar amplifikasi gen N-MYC pada manusia.


Gen N-MYC yang secara normal terdapat pada kromosom 2p, mengalami amplifikasi
dan tampak sebagai double minutes kromosom tambahan atau sebagai suatu HSR
(homogenous staining region;region berwarna homogeny) yang terintegrasi ke
kromosom lain, misalnya kromosom no 4, 9, atau 13

BIOLOGI TUMOR
KEMAMPUAN INVASI DAN METASTASIS SEL TUMOR
Invasi dan metastasis merupakan dua sifat biologik utama yang dimiliki tumor ganas.
Invasi maksudnya, sel tumor dapat menyebar ke daerah setempat dimana tumor primer tersebut
tumbuh. Sementara itu, metastasis merupakan kemampuan sel-sel tumor untuk menyebar ke
tempat yang letaknya jauh dari tempat tumor primer.
a) Invasi
Invasi berdasarkan Dorland Medical Dictionary: Infiltrasi atau destruksi jaringan sekitar,
yang merupakan ciri khas dari tumor ganas. Jadi dapat dikatakan bahwa penyebaran
lokal sel-sel tumor ke daerah-daerah sekitar tempat tumor primer tersebut tumbuh disebut
dengan invasi.
b) Metastasis
Metastasis berdasarkan Dorland Medical Dictionary: transfer penyakit dari satu organ
atau bagian tubuh tertentu ke organ atau bagian tubuh yang lain yang secara tidak
langsung berhubungan dengannya. Atau juga dapat diartikan sebagai pertumbuhan
mikroorganisme patologik atau sel-sel abnormal yang tempatnya jauh dari tempat utama
yang mengalami proses morbid.
Maksudnya disini adalah, sel-sel tumor tersebut akan pindah dari suatu tempat ke tempat
lain yang jauh dari tempat utama tumor primer, dan nanti akan membentuk anak
sebar/tumor metastatik/tumor sekunder.
Terdapat empat lintasan yang dapat ditempuh dalam penyebaran jauh/metastasis ini:
Penyebaran melalui rongga permukaan tubuh
Contohnya karsinoma lambung, dimana sel-sel tumor akan menembus dinding
lambung, menuju lapisan serosa, dan nanti akan menempel pada serosa misalnya
serosa ovarium, sehingga tumbuh anak sebar di ovarium.
Penyebaran lewat transplantasi
Yaitu lewat sarung tangan atau pisau bedah yang digunakan untuk transplantasi
tumor. Biasanya penyebaran dengan cara ini jarang terjadi.
Penyebaran limfanogen
Merupakan penyebaran melalui aliran getah bening. Sel-sel tumor akan menuju
pembuluh getah bening, masuk dalam aliran getah bening, menuju ke ke
pembuluh aferen, dan akhirnya masuk ke kelenjar getah bening regional. Selain
sel-sel tumor, yang akan terbawa dalam aliran getah bening adalah limbah tumor

dan antigen tumor. Terdapat beberapa alasan mengapa kelenjar getah bening dapat
membesar, yaitu:
1. Karena tumbuh anak sebar
2. Karena terdapat hiperplasi reaktif folikel limfoid
3. Karena terdapat proliferasi sel T akibat rangsangan sel-sel tumor primer.
Contohnya adalah pada karsinoma payudara, maka kelenjar getah bening di
ketiak/ axilla akan mengalami pembesaran.

Penyebaran Hematogen
Merupakan penyebaran melalui aliran darah. Pembuluh darah yang ditembus oleh
sel tumor adalah pembuluh vena karena memiliki dinding yang tipis, sementara
pembuluh arteri memiliki dinding yang tebal dan elastis sehingga sulit ditembus.
Ilustrasi skematik metastasis dengan penyebaran hematogen

Sel-sel tumor yang tumbuh/berproliferasi, akan membentuk subklon metastatik.


Kemudian sel-sel tumor akan menghancurkan membran basal dan berlekatan
dengan matriks ekstraseluler. Membran basal akan hancur karena enzim protease

sementara komponen matriks ekstraseluler akan lisis. Setelah itu, sel-sel tumor
akan menuju pembuluh darah dan masuk ke aliran darah. Di darah, nanti sel
tumor akan membentuk kelompok-kelompok dan mengadakan interaksi dengan
leukosit atau trombosit untuk melindungi dirinya. Setelah itu, sel-sel tumor akan
menuju tempat yang memungkinkan bagi dirinya untuk tumbuh, dan akan keluar
dari pembuluh darah dengan kembali merusak membran basal serta melisiskan
matriks ekstraseluler. Setelah sampai di tempat baru tersebut, terjadi angiogenesis
berkelanjutan yang menunjuang sel-sel tumor untuk tumbuh sebab ada pasokan
oksigen dan nutrisi dari aliran darah lewat pembuluh-pembuluh darah.
Secara umum terdapat 2 mekanisme metastasis:
a) Invasi Matriks Ekstraseluler, terdapat empat mekanisme:
Terlepasnya sel satu sama lain, akibat adanya inaktivasi E-kaderin sebagai zat
perekat antar sel.
Melekatnya sel ke ECM

Menghancurkan membran basal dan merusak komponen ECM, misalnya


dengan aktivasi kolagenase tipe IV yang akan merusak komponen ECM yaitu
kolagen tipe IV
Migrasi sel, yang pergerakannya terarah dan dipengaruhi oleh faktor sitokin

b) Penyebaran vaskular dan sasaran sel tumor, yaitu mengenai pergerakan sel-sel tumor
yang mengalir bersama aliran darah menuju tempat sasarannya sampai nanti
menumbuhkan tumor sekunder di tempat yang baru.

PROGRESI DAN HETEROGENITAS SEL-SEL TUMOR

Progresi tumor maksudnya adalah tumor yang semakin menjadi agresif dan ganas.
Seperti yang kita ketahui, biasanya(tidak selalu) tumor yang tumbuh lama-kelamaan akan
semakin ganas perkembangannya. Keganasan ini bisa diukur dari kinetik pertumbuhannya yang
semakin bertambah cepat, kemampan invasinya, atau kemampuannya untuk
bermetastasi/menyebar ke jaringan yang letaknya jauh. Selain itu erlu diketahui bahwa walaupun
tumor berasal dari monoklonal(satu klon), pada manifestasinya nanti akan terbentuk sel-sel yang
heterogen, artinya tidak seragam semua. Sehingga heterogenitas tersebut akan menghasilkan
subklo-subklon yang berbeda-beda sifatnya. Pada tingkat molekular, hal itu dapat terjadi karena
akumulasi mutasi pada sel yang terus terjadi.

Etiologi tumor
Kerusakan genetik merupakan jantung dari terjadinya karsinogenesis.Teridentifikasi 4
golongan agen karsinogenik,yaitu:1.kimia,2.radiasi,3.virus,4.biologik.
Karsinogen kimiawi
Merupakan penyebab dari kanker yg disebabkan oleh zat kimia,dari cara kerjanya terdapat 2
jenis cara kerja yaitu:
a.secara langsung
zat yang berkerja secara langsung,tanpa perlu adanya proses perubahan metabolik untuk menjadi
karsinogenik.zat ini secara umum adalah karsinogen lemah,bahkan zat ini dapat digunakan
sebagai zat kemoterapi kanker yang berhasil menyembuhkan dan mengontrol kanker,namun zat
ini juga dapat merubah kanker tipe pertamana menjadi kanker tipe kedua.resiko induksi kanker
rendah namun tetap harus waspada terhadap zat ini.
b.secara tidak langsung
zat yang berkerja secara tidak langsung,yang artinya zat ini baru dapat berkerja apabila ada
perubahan metabolik terlebih dahulu.contohnya adalah benz(a)antrasena apabila dioleskan
dikulit akan menyebabkan kanker kulit,apabiladisuntikan secara subkutis akan menyebabkan
fibrosarkoma.benzo(a)pirena dan karsinogen lain yg di dalamnya mengandung zat hidrogen
polisiklik yang menyebabkan kanker paru-paru terhadap perokok,dan zat hidrogen polisiklik ini
juga terdapat pada daging atau ikan yang diasap.amino aromatik dan zat warna azo yang di
dalamnya terkandung beta naftilamina merupakan penyebab peningkatan 50 kali insiden
kandung kemih pada para pekerja di industri karet.

Karsinogen radiasi
Radiasi dari manapun sumbernya,berka UV matahari,sinar x,fisi nuklir,radionuklida,sudah
dibuktikan merupakan karsinogen,maka dari itu alangkah lebih baik apabila terhindar atau tidak
terpapar radiasi secara langsung.
Karsinogen virus
Kanker yang disebabkan oleh virus,terdapat 2 jenis tipe karsinogen virus yaitu:
1.Virus DNA

=virus DNA dapat berintegrasi sebagian atau seluruhnya dengan kromosom penjamu.mereka
dapat bergabung dalam jangka waktu lama sehingga dapat menimbulkan mutasi dan
menyebabkan neoplasma.
Contoh:
a.Human papiloma virus(HPV)
:-biasanya ditularkan melalui tindakan seksual intim
-merupakan viru penyebab dari kanker serviks dan kanker

anus

-dikenal 50 jenis HPV dan 20 diantaranya menyebabkan penyakit beresiko rendah karena jenis
tersebut tidak menyebabkan kanker serviks,contohnya HPV tipe 1,2,4,7 merupakan penyebab
papiloma skuamosa jinak(kutil) disekitar kemaluan
b.epstein barr virus(EBV)
-virus EBV masuk kedalam tubuh manusia kemudian bereplikasi dalam sel-sel epitel dan
menjadi laten dalam limfosit B
-infeksi virus terjadi pada dua tempat yaitu sel epitel kelenjar saliva dan sel limfosit
-golongan herpes ini dihubungkan dengan terjadinya karsinoma nasofaring,limfoma burkitt
c.virus hepatitis B(HBV)
-menyebabkan karsinoma sel hati
-menyebabkan peradangan hati yang menahun yang biasanya dapat berlanjut menjadi kanker hati
d.cytomegalovirus(CMV)
-suatu virus herpes yang dihubungkan dengan penderita AIDS yang dapat menyebar melalui
cairan tubuh,seperti darah,air liur,urin,mani,dan air susu ibu.
-ada 3 tipe CMV yaitu
CMV primer(ketika seorang mengalami infeksi untuk pertama kalinya)
CMV rekuren(reaktifasi dari infeksi CMV yang sebelumnya dorman)
CMV kongenital(infeksi CMV yang berasal dari ibu yang terinfeksi CMV)
2.Viru RNA
Virua RNA banyak ditemui pada hewan,namun pada manusia hanya ada virus HLTV-1(virus
leukimia sel T manusia tipe 1)

Mekanisme:setelah virus RNA menginfeksi sel,materi genetik virus RNA diubah menjadi DNA
provirus oleh enzim reverse transcriptase yang kemudian bergabung dengan DNA
penjamu.setelah menginfeksi sel,materi genetik virus dapat membawa bagian materi genetik sel
yang diinfeksi kemudian dipindahkan ke materi genetik sel lain
Karsinogen biologik
-Hormon:berberapa enis hormon berkerja sebagai ko-faktor pada karsinogenesis,contoh:hormon
estrogen yang membantu pembentukan kanker endometrium dan payudara
-Mikotoksin:mikotoksin adalah toksin yang dibuat oleh jamur.contoh:aspergilus flavus adalah
jamur yang terdapat pada kacang-kacangan yang apabila kurang baik pengolahan dan
penyimpanan dapat membuay aflatoksin
-parasit:infeksi schitosoma dihubungkan dengan tejadinya kandung kemih
EPIDEMIOLOGI KANKER
a.insiden kanker
timbulnya bentuk tertentu suatu kanker dapat diproleh dari data insiden dan mortalitas
nasional,dengan adanya pengetahuan insiden kanker,manusia dapat mencegah terjadinya
patogenesis kanker.
b.faktor geografik dan lingkungan
faktor lingkungan merupakan penentu utama bagi sebagian besar kasus kanker.
c.usia
semakin tinggi usia maka sistem imun dalam manusia tersebut akan turun,dan dapat
menyebabkan resiko terjangkit kanker lebih tinggi
d.hereditas
faktor keturunan,muncul bukti bahwa herediter bersifat samar dan tidak lansung sehingga
sesorang dapat terkena kanker apabila dipicu dari faktor lingkungan

GAMBARAN KLINIS NEOPLASMA

EFEK TUMOR PADA PENJAMU


1. Efek lokal
Efek yang berhubungan dengan lokasi tumor tersebut berada yang akan dapat
menekan dan merusak jaringan / organ / sistem organ disekitarnya.
Contoh :
Tumor intrakranial (Adenoma hipofisis )
Apabila terdapat tumor kecil (1cm) adenoma hipofisis dapat
menekan dan merusak kelenjar normal disekitarnya dan mengakibatkan
hipopituitarisme.

Tumor pada dinding arteri renalis ( Leiomioma)


Suatu leiomioma (0,5cm) pada dinding arteri renalis dapat
mengganggu suplai darah, mengakibaatkan iskemia ginjal dan
hipertensi.

Karsinoma pada duktus biliaris


Suatu karsinoma ukuran kecil pada duktus biliaris akan
mengakibatkan obstruksi fatal saluran empedu.

Tumor pada traktus gastrointestinal


Suatu tumor pada traktus gastrointestinal dapat mengalami ulserasi
ke permukaan, dengan akibat perdarahan dan infeksi sekunder
neoplasma jinak atau ganas yang tumbuh ke dalam lumen saluran cerna
dapat terjebak gerakan peristaltik, dan menyebabkan intususepsi dan
obstruksi intestinum atau infark.

2. Efek hormonal
Tumor pada kelenjar endokrin dapat menghasilkan hormon; keadaan ini lebih sering
ditemukan pada tumor jinak dibandingkan pada tumor ganas.
Contoh :
Adenoma dan Karsinoma pada sel beta pulau Langerhans
Adenoma dan karsinoma yang berasal dari sel beta pulau
Langerhans akan menyebabkan hiperinsulinisme.

3. Kaheksia

Adenoma dan Karsinoma korteks kelenjar adrenal


Akan menghasilkan kortikosteroid yang akan berpengaruh pada pasien.

Kaheksia adalah kehilangan lemak tubuh dan massa jaringan tubuh secara progresif
disertai rasa lemah yang berat, anoreksia dan anemia. Dasar terjadinya kaheksia
bersifat multifactorial :
a. Kehilangan selera makan
b. Perubahan metabolisme yang tidak dipahami ( abnormalitas metabolisme) dengan
baik sehingga terjadi penurunan sintesis serta penyimpanan lemak dan
peningkatan mobilisasi asam asam lemak dari adiposit.
c. Produksi tumor necrosis factor (TNF) oleh sel-sel makrofag aktif.
* TNF
Sebagai respons terhadap tumor yang memicu kaheksia
Menekan nafsu makan
Mencegah kerja LPL ( lipoprotein lipase)
Mencegah keluarnya asam lemak bebas dari LPL
d. Produksi faktor humoral lannya seperti proteolysis inducing factor (PIF)/ faktor
mobilisasi protein yang dapat meningkatkan katabolisme jaringan otot
(pemecahan protein otot skeletal) dan adiposa.
4. Sindrom Paraneoplastik
Sindrom paraneoplastik adalah sekelompok gejala yang terjadi pada pasien kanker
dan tidak dapat dijelaskan, apakah akibat penyebaran lokal atau penyebaran jauh atau
elaborasi hormone yang tidak berasal dari jaringan asal tumor. Timbul pada 10%
hingga 15% yang dapat menjadi manifestasi klins paling dini yang terlihat pada
sebuah neoplasma dan bisa menyerupai penyebaran tumor yang jauh.
Sindrom yang paling sering ditemukan adalah :
a. Hiperkalsemia
Hiperkalsemia dapat terjadi karena resorpsi tulang yang disebabkan oleh
pelepasan peptida mirip hormone partiroid atau pada sebagian kasus, karena
pelepasan TGF- oleh tumor tertentu (misalnya, kanker sel skuamosa pada paru,
leukemia/limfoma sel T). Hiperkalsemia yang terkait kanker dapat pula terjadi
karena osteolisis yang disebabkan oleh metastasis pada tulang (sebuah proses
yang tidak dianggap sebagai sindrom paraneoplastik)
b. Sindrom cushing
Timbul sebagai fenomena paraneoplastik yang berhubungan dengan produksi
ACTH ektopik atau polipeptida yang mirip ACTH oleh sel kanker, sebagaimana
yang terjadi pada kanker paru jenis sel kecil.
c. Endokarditis trombotik nonbakteri (vegetasi pada katup jantung
Kelainan trombosis akibat substansi tromboplastik oleh sel-sel tumor dapat
bermanifestasi sebagai koagulasi intravaskuler.
d. Jari jari clubbing dan osteoartropati hipertofik

Keadaan ini menyertai kanker paru dan lesi torakal lainnya.

Penentuan Derajat dan stadium Kanker

Penentuan derajat dan stadium pada kanker bertujuan untuk :


1. Perencanaan pengobatan
2. Petunjuk prognosis
3. Pertukaran informasi antar berbagai pusat pengobatan kanker

Penentuan derajat suatu kanker (grading) merupakan upaya untuk memperkirakan


agresivitas atau tingkat keganasan berdasarkan diferensiasi sitologik. Kanker dapat
diklasifikan sebagai derajat I,II,III,IV berdasarkan peningkatan anaplasia.

Derajat I : bila lebih dari 75% sel-selnya berdiferensiasi baik

Derajat II : bila 50-75% sel-selnya berdiferensiasi baik

Derajat III : bila 25-50% sel-selnya berdiferensiasi baik

Derajat IV : bila 0-25% sel-selnya berdiferensiasi baik

Penentuan stadium kanker (Staging) didasarkan pada ukuran lesi primer, luas penyebaran
ke kelenjar getah bening regional dan ada tidaknya metastasis. Penentuan stadium ini
dapat menggunakan 2 metode yaitu:

-Sistem TNM
The TNM Klasifikasi Tumor ganas (TNM) adalah sebuah sistem staging kanker yang
menggambarkan tingkat kanker dalam tubuh pasien. T menggambarkan ukuran tumor dan
apakah menginvasi jaringan di dekatnya, N menggambarkan kelenjar getah bening
regional yang terlibat, dan M menggambarkan metastasis jauh (penyebaran kanker dari

satu bagian tubuh yang lain). Sistem pemanggungan yang TNM untuk semua tumor padat
disusun oleh Pierre Denoix antara 1943 dan 1952, dengan menggunakan ukuran dan
perluasan tumor primer, keterlibatan para limfatik, dan adanya metastasis untuk
mengklasifikasi perkembangan kanker. TNM dikembangkan dan dikelola oleh
International Union Against Cancer (UICC) untuk mencapai konsensus di salah satu
standar yang diakui secara global untuk mengklasifikasi sejauh mana penyebaran kanker.
Wajib parameter ( "T", "N", dan "M")

* T (0-4): ukuran atau tingkat langsung tumor utama


T0 : tidak ditemukam tumor primer
T1 : ukuran tumor diameter 2cm/kurang dari 2 cm
T2 : ukuran tumor 2-5 cm
T3 : ukuran tumor lebih dari 5 cm
T4 : ukuran berapa saja tetapi telah terjadi pembengkakan ,
kemerahan & terdapat benjolam diluar tumor .
* N (0-3): derajat menyebar ke kelenjar getah bening regional
N0: tumor belum menyebar pada kelenjar getah bening regional
N1: sel tumor menyebar ke terdekat atau jumlah kecil kelenjar getah
bening regional
N2: sel tumor menyebar ke luas antara N1 dan N3.
N3: sel tumor menyebar ke paling jauh atau banyak kelenjar getah
bening regional
* M (0 / 1): kehadiran metastasis
M0: tidak ada metastasis jauh
M1: metastasis ke organ jauh (di luar kelenjar getah bening
regional)
-Sistem AJC
Menggabungkan ukuran lesi primer, adanya penyebaran kelenjar, dan
jauh menjadi satu sehingga menghasilkan suatu klasifikasi yang

metastasis

disebut stadium ( Stadium I

IV )
Sebagai contoh stadium-stadium yang terdapat pada Breast carcinoma
Stadium 0 Disebut Ductal Carsinoma In Situ atau Noninvasive Cancer.

yaitu kanker tidak menyebar keluar dari pembuluh / saluran


payudara dan kelenjar-kelenjar (lobules) susu pada
payudara
Stadium 1 Tumor masih sangat kecil ( kurang dari 2cm ) dan tidak
menyebar serta tidak ada titik pada pembuluh getah bening
Stadium 2a *Diameter tumor lebih kecil atau sama dengan 2 cm dan
telah ditemukan pada titik-titik pada saluran getah bening
di ketiak ( axillary limph nodes )
*Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tapi tidak lebih dari 5
cm,belum menyebar ke titik-titik pembuluh getah bening
pada ketiak ( axillary limph nodes ).
*Tidak ada tanda-tanda tumor pada payudara, tapi
ditemukan pada titik-titik di pembuluh getah bening
ketiak
Stadium 2b Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tapi tidak melebihi
5 cm dan telah menyebar pada titik-titik di pembuluh
getah bening ketiak.
Stadium 3a *Diameter tumor <<< dari 5 cm dan telah menyebar ke
titik-titik pada pembuluh getah bening ketiak.
*Diameter tumor >>> dari 5 cm dan telah menyebar ke
titik-titik pada pembuluh getah bening ketiak.
Stadium 3b Didiagnosis sebagai Inflammatory Breast Cancer ,
mengalami pembengkakan& bernanah
Stadium 3c Sebagaimana stadium IIIB, tetapi telah menyebar ke
lebih dari 10 titik-titik pada pembuluh getah bening
Stadium 4 Ukuran tumor bisa berapa saja, tetapi telah menyebar ke
lokasi yang jauh ( bermetastasis ), yaitu :Tulang, paruparu,liver atau tulang rusuk.

Diagnosis Laboratorium

Metode Morfologik

Potong-Beku
Metode ini digunakan untuk menentukan sifat dari suatu lesi, dan juga untuk
memeriksa tepi kanker yang baru saja diangkat. Dilakukan dengan cara membekukan
sampel secara cepat dipotong lalu dilakukan evaluasi histologik.

FNAB (Fine needle aspiration biopsy)


Metode yang biasa dilakukan pada tumor yang teraba seperti payudara, tiroid,
KGB, dan kelenjar liur. Melakukan pengambilan sediaan dari tumor mengunakan jarum
dilanjutkan dengan apusan sitologik untuk diperiksa.

Apusan Sitologik
Metode ini biasanya dilakukan untuk memeriksa kanker serviks. Prinsip kerjanya
adalah dengan memeriksa bagian sel neoplastik yang tidak kohesif dan lepas ke sekret.
Sel lepas ini akan diperiksa dengan cara membuat sediaan apusan sitologik.

Imunohistokimia
Metode ini merupakan pemeriksaan tambahan. Contoh deteksi ini adalah deteksi
estrogen dan HER-2 neu. Hasil dari pemeriksaan estrogen dan HER-2 neu digunakan
untuk menentukan prognosis dan intervensi terapi untuk penderita kanker payudara.

Flow Cytometri
Metode ini biasa digunakan pada leukimia dan limfoma dan juga untuk
memeriksa kandungan DNA sel tumor yang akan berefek pada prognosis. Metode ini
mengunakan antibode flouresen terhadap molekul permukaan sel dan antigen diferensiasi
unruk memperoleh fenotip sel ganas.

DNA-microarray analysis (chip gen)


Metode ini bertujuan untuk mengukur secara bersama kadar ribuan gen. hal ini
ditujukan untuk dapat menggolongkan tumor dengan fenotip yang sama agar dapat
ditentukan subkelompok dengan prognosis yang berbeda. Prinsip kerjanya adalah isolat
mRNA dari sel normal dan sel tumor diambil dari jenis histologik yang sama. Lalu
dibuatlah salinan cDNA secara sintesis in vitro dengan nukleotida berlabel flourensen.
Untai cDNA dihibridasasi ke probe DNA lalu digunakan pemindai laser beresolusi tinggi
untuk mendeteksi sinyal flouresen. Tiap sampel memberikan ekspresi ribuan gen.

Pemeriksaan Biokimiawi

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan kasus dan pada beberapa kasus untuk
menentukan efektivitas terapi. Hal ini dilakukan dengan cara mendeteksi keberadaan penanda
tumor (tumor marker) pada benjolan dan hormon pada darah (radioimmunoassay). Contohnya
adalah apabila ditemukan kandung PSA yang berlebihan maka dapat dicurigai penderita
mengalami karsinoma prostat.
Diagnosis Molekular

FISH untuk deteksi karakteristik translokasi tumor.

PCR untuk deteksi reseptor sel T atau immunoglobulin.

BCR-ABL pada PCR untuk membedakan proliferasi.

FISH dan PCR untuk mengetahui perluasan onkogen.

Tumor Marker
Sehubungan dengan pemeriksaan biokimiawi yang berusaha menemukan tumor marker,
terdapat dua tumor marker yang sudah pasti yaitu CEA dan -fetoprotein. Apabila dua tumor
marker ini ditemukan secara berlebihan dalam tubuh pasien maka dapat dicurigai bahwa pasien
mengalami tumor namun tidak seluruhnya mutlak, sehingga dibutuhkan pemeriksaan penunjang.

Imunitas Tumor
Apabila terjadi perubahan genetik yang rumit, yang sebagian mungkin menyebabkan
ekspresi protein yang dianggap asing oleh sistem imun. Maka sistem imun akan aktif melakukan
kekebalan tubuh. Diantaranya akan dijelaskan komponen komponen dan cara kerjanya.
Antigen
Terdapat dua jenis antigen tumor sebagai berikut :

Tumor-specific antigens (TSAs): merupakan mutasi somatik atau perubahan dalam


protein (hanya pada tumor).
Tumor-associated antigens (TAAs):Ini mencerminkan produksi protein normal, baik
dalam kelebihan atau dalam pengaturan yang berbeda dari ekspresi normal mereka .
(tumor dan sel normal)

Mekanisme Efektor Antitumor


a. Limfosit T sitotoksik
Limfosit T sitotoksik akan bekerja dengan cara mengenali antigen tumor MHC-1
dan akan melakukan penghancuran terhadap sel tumor, Sel ini bersifat protektif terutama
terhadap neoplasma terkait virus.

b. NK (Natural Killer)
Tanpa memerlukan antigen tumor, NK akan dapat mengenali tumor dan dapat
menghancurkan sel tumor. Maka dari itu NK bisa disebut sebagai lini pertama pertahanan
tubuh terhadap sel tumor.
c. Makrofag

REFRENSI MAKALAH
Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. 2007.Buku ajar patologi. Edisi 7. Volume 1. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Rubin, R. and Strayer, D.S.. 2011. Rubins Pathology: Clinicopathologic Foundation of
Medicine. 6th edtion. Lippincott Williams & Wilkins : Philadelphia
Patologi robin dan kumar edisi 4
Kamus Saku Kedokteran Dorland
Handout Patologi Anatomi
Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara