Anda di halaman 1dari 11

TRANSLASI

RESUME
disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Genetika
yang dibina oleh Prof. Dr. Zubaidah,M.Pd

Oleh :
Kelompok 9 Off C 2013
Rizka Permatasari
(130341614841)
Wawan Yuliati Ningsih
(130341614844)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2015

1.
2.
3.
4.

TRANSLASI
Proses biosintesis protein merupakan proses penerjemahan urutan kodon
menjadi 20 unsur-unsur pokok asam amino. RNA yang dihasilkan dari proses
transkripsi akan mengalami proses lebih lanjut untuk dapat mengkespresikan gen.
Proses lanjut dari RNA ini adalah proses translasi. Informasi pada RNA berupa
kode-kode genetik yang akan ditranslasikan sesuai dengan kode genetik yang
tercantum pada mRNA ke dalam urutan asam amino dalam polipeptida sebagai
produk gen yang kompleks. Setiap tipe molekul tRNA menghubungkan kodon
mRNA tertentu dengan asam-asam amino tertentu pula.
Ketika sampai di ribosom, molekul tRNA membawa asam amino spesifik
pada salah satu ujungnya (ujung 3). Pada ujung lainnya terdapat triplet nukleotida
yang disebut antikodon yang berdasarkan aturan pemasangan basa akan
mengikatkan diri pada kodon komplementer di mRNA. Pesan genetik ditranslasi
kodon demi kodon, ketika tRNA menyimpan asam amino berdasarkan perintah
yang telah ditentukan, dan ribosom menggabungkan asam-asam amino menjadi
rantai polipeptida.
Proses translasi ini menuntut fungsi dari sejumlah makromolekul yang
besar.
Melibatkan lebih dari 50 polipeptida dari 3-5 molekul RNA yang ada pada tiap
ribosoma (bervariasi tiap species).
Minimal membutuhkan 20 enzime yang mengaktifkan asam amino (aminoacyltRNA synthethase).
Berasal dari 40-60 molekul tRNA yang berbeda.
Minimal terdapat 9 protein larut air yang terlibat pada inisiasi, elongasi, dan
terminasi rantai polipeptida.
Banyaknya makromolekul yang ada di dalam sel menyebabkan sistem translasi
merupakan suatu sistem yang sangat penting di dalam setiap sel. Contohnya pada
sintesis protein menunjukkan betapa kompleksnya makromolekul yang terlibat di
dalam proses tersebut.
Proses translasi terjadi pada ribosoma, partikel kompleks yang
memfasilitasi perangkaian secara teratur asam amino polipeptida. Proses ini
melibatkan tiga tipe RNA yaitu mRNA, rRNA, dan tRNA. Ribosom memudahkan
pemasangan yang spesifik antara kodon mRNA dengan antikodon tRNA selama
sintesis protein. Ribosoma tersusun atas protein dan RNA serta disusun atas dua
macam subunit yaitu subunit besar dan subunit kecil yang akan memisah setelah
polipeptida selesai terbentuk dan menyatu kembali saat inisiasi pada proses
translasi.
Secara kimia ikatan langsung antara asam amino dengan kodon pada
mRNA tidak mungkin terjadi. Untuk itu dibutuhkan suatu adapter berupa molekul
yang menjadi media untuk menghubungkan asam amino dengan kodon selama
sinthesis protein. Molekul adaptor tersebut adalah berupa tRNA yang tersusun
atas 70-80 nukleotida. tRNA tersebut mengandung urutan tiga basa nukleotida
yang disebut antikodon dan akan berpasangan dengan kodon pada mRNA selama
proses sintesis protein (Gardner, 1991: 258).

Tiga kodon alanin (mRNA)


5-G-C-U-3
5-G-C-A-3
5-G-C-C-3
Anti kodon dari tRNAalaragi
3-C-G-I-5
3-C-G-I-5
3-C-G-I-5
Pengenalan antara antikodon suatu tRNA alanin ragi dan tiga kodon alanin
Kodon fenilalanin (mRNA)
5-U-U-U-3
5-U-U-C-3
Anti kodon dari tRNAalaragi
3-A-A-G-5
3-A-A-G-5
Pengenalan antara antikodon suatu tRNA fenilalanin dengan dua kodon asam amino

Sintesis polipeptida terjadi pada ribosom dimana mRNA dan tRNAaminoasil bersama-sama mempengaruhi translasi dari informasi genetika.
Ribosom 70 S dari E. Coli terdiri dari dua sub unit. Sub unit 30 S (kecil) yang
mengandung 21 protein dan suatu 16 S RNA, dan sub unit 50 S (besar)
mempunyai 32 protein dan dua RNAs; 23 S dan 5 S. Analog pada E. Coli, suatu
ribosom 80 S mammalia terdiri dari sub unit 40 S (kecil) dan sub unit 60 S
(besar).
Sintesis polipeptida terjadi pada daerah kepala dan anjungan dari subunit
30 S dan paruh atas dari subunit 50S (daerah penterjemahan). mRNA dan tRNA
melekat terhadap sub unit 30 S dan tempat peptidil transferase (dimana terjadi
pembentukan ikatan peptida) berkaitan dengan gangguan sentral 50S. Sintesis
polipeptida berlangsung dalam empat fase yaitu: aktivasi, permulaan/inisiasi,
pemanjangan, dan terminasi, yang masing-masing memerlukan suatu set
biomolekul spesifik.

Tabel 1. Komponen yang diperlukan untuk masing-masing fase dalam sintesis polipeptida (E coli).

Fase
Aktivasi asam amino

Komponen
Asam amino
tRNAs
sintetase tRNA-aminoasil
ATP, Mg2+
Permulaan sintesis (inisiasi)
tRNA-fMet
kodon pemula AUG dari mRNA.
Subunit ribosom 30S
Subunit ribosom 50S
Faktor pemula (IF1, IF2, dan IF3)
GTP, Mg2+
Pemanjangan rantai polipeptida Ribosom 70S
(elongasi)
Kodon dari mRNA
tRNAs-aminoasil
faktor pemanjangan (EFT, EFTs, dan EFG)
GTP, dan Mg2+
Terminasi sintesis
Ribosom 70S
Kodon terminasi (UAA, UAG, dan UGA)
dari mRNA
Faktor pelepasan (RF1 dan RF2)
GTP dan Mg2+
Aktivasi Asam Amino
Asam-asam amino tidak memiliki afinitas khusus terhadap asam nukleat,
oleh karena itu asam-asam amino yang tepat harus dikombinasi dengan tRNA
yang tepat dan pengaruh sintetase aminoasil-tRNA. Sekali asam amino
dicantelkan pada tRNA, semua spesifitas untuk mengenali mRNA, ribosom, dan
enzim-enzim pembentuk ikatan peptid, merupakan sifat tRNA, bukan sifat asam
amino. Jadi sintetase aminoasil-tRNA seharusnya sangat bersifat khusus untuk
asam amino dan untuk tRNA. Hanya L-asam amino yang dikenali bukan Disomer. Sintetase manapun tidak akan berfungsi dengan peptid atau asam amino
dengan gugus-gugus -amino bebas.
Dengan sedikit perkecualian, terdapatlah satu sintetase aminoasil-tRNA
untuk setiap asam amino; namun satu sintetase dapat mengenali semua akseptor
tRNA untuk L-asam amino tertentu. Misalnya sintetase metionil-tRNA mengenali
hanya metionin, namun ia dapat mengaminoasetil baik tRNA untuk
metionin;tRNAF maupun tRNAM
tRNA menjalankan fungsi ini melalui strukturnya; tRNA ini memiliki
sebuah antikodon pada satu ujungnya dan area pelekatan asam amino pada ujung
lainnya. Asam amino melekat pada tRNA melalui ikatan energi tinggi antara
gugus karboksil pada asam amino dan 3-hidroksil pada tRNA. Reaksi aminoasil
tRNAs disusun melalui 2 tahap, yaitu tahap yang dikatalis oleh enzim yang
spesifik yaitu aminoasil-tRNA synthetase. Tahap pertama pada aminoasil
syntethase melibatkan aktivasi pada asam amino yang menggunakan eneri dari
ATP (mengikat dan mengaktifkan asam amino tertentu). Pada tahap kedua
mengikat t-RNA yang tepat untuk asam amino tersebut dan mengkatalisasi
pembentukan aminoasil-tRNA (asam amino teraktivasi). Untuk jelasnya dapat
dilihat pada gambar dibawah ini.

Pada E. coli terdapat terdapat dua ruas tRNA metionil yang khas, dan
keduanya mempunyai anti kodon 3-UAG-5 yang mengenali kodon 5AUG-3
yang unik untuk metionin. Jika metionin melekat, maka salah satu dari dua spesies
molekuler dari tRNA diformilasi melalui suatu formilase spesifik yang
menggunakan N10-formiltetrahidrofolat sebagai donor satu karbon sehingga
dihasilkan tRNA fmet-aminoasil.
Masing-masing asam amino dikodekan oleh setidaknya satu molekul
tRNA sehingga terdapat setidaknya 20 sintetase berbeda, dan tRNA yang terisi
disebut teraktivasi atau bermuatan. Lengkungan (loop) basa-basa yang tak
berpasangan di dekat bagian tengah tRNA mengangkut sebuah triplet basa-basa
yang bersebelahan, disebut anti kodon. Bagian-bagian lain tRNA diduga
membentuk pasangan-pasangan basa komplementer dengan rRNA ribosom
selama sintesis protein atau berperan sebagai situs-situs pengenalan bagi aminoasil sintetase spesifik.
Penemuan Aminoasil-tRNA Selama Sintesis Protein
Meskipun asam amino memasuki proses sintesis-protein yang melekat
pada tRNA, secara teoritis ada kemungkinan ribosom menemukan asam amino itu
sendiri selama translasi. Sebuah eksperimen sederhana telah dilakukan untuk
menentukan apakah asam amino atau tRNA telah ditemukan.
Pada tahun 1962, F. Chapeville dan rekan mengisolir tRNA dengan
cysteine yang melekat. Mereka secara kimia merubah cysteine menjadi alanine
dengan menggunakan nikel Raney, sebuah bentuk nikel katalitis yang mengangkat
kelompok SH cysteine. Ketika tRNA ini digunakan dalam sintesis protein, alanine
dimasukkan pada posisi yang biasanya ditempati oleh cysteine, yang
menunjukkan bahwa tRNA, bukan asam amino, telah ditemukan selama sintesis
protein. Synthetase menempatkan asam amino khusus pada tRNA khusus; lalu
selama sintesis protein, antikodon pada tRNA bukan asam amino itu sendiri
menentukan asam amino mana yang dimasukkan.
Inisiasi
Tahap inisiasi dari translasi membawa bersama-sama mRNA, sebuah
tRNA yang memuat asam amino pertama dari polipeptida, dan dua unit ribosom.
Pertama sub unit ribosom kecil mengikatkan diri pada mRNA dan tRNA inisiator
khusus. Sub unit ribosom kecil melekat pada segmen leader pada ujung 5 dari
mRNA. Pada arah downstream dari mRNA terdapat kodon inisiasi, AUG (daerah
diantara 5 hingga ditemukan AUG merupakan daerah yang tidak diterjemahkan),
yang memberikan sinyal dimulainya proses translasi.
Disini bergabung tRNA yang besar dan inisiator khusus tRNA. Semua
rantai protein mulai dengan asam amino yang sama, metionin pada kedudukan
akhiran-N untuk sel eukariotik dan N-formyl methionin untuk prokariotik. Sangat
sering sisa metionin dipotong sesudah rantai polipeptid yang tumbuh telah agak
panjang; sebagai akibatnya, protein terasing dari sel-sel mengandung asam-asam
amino selain metionin pada akhiran-N-nya. Metionin mempunyai dua akseptor
tRNA-tRNA, tRNAM dan rRNAF. Hanya Met-tRNAF yang terlibat pada inisiasi.
Penyatuan mRNA, tRNA inisiator, dan sub unit ribosom kecil diikuti oleh
perekatan sub unit ribosom besar. Faktor inisiasi dibutuhkan untuk membawa
komponen tersebut bersama-sama. Saat penyelesaian proses inisiasi, tRNA

inisiator berada pada tempat P ribosom, dan tempat A yang kosong siap untuk
tRNA aminoasil berikutnya.
Sub-sub unit ribosom (30S dan 50S) biasanya saling memisah ketika tidak
terlibat dalam translasi. Untuk memulai translasi, sebuah senyawa inisiator akan
terbentuk: sub-unit ribosom 30S sebuah mRNA, N-formyl methionine tRNA
bermuatan (fMET-tRNAtMet), dan faktor-faktor inisiasi (IF1, IF2, IF3). Faktorfaktor inisiasi (dan juga elongasi serta terminasi) merupakan protein yang terkait
secara longgar dengan ribosom. Faktor-faktor ini ditemukan ketika ribosom
terisolir dan dicuci, sehingga kehilangan kemampuannya dalam melakukan
sintesis protein.
Komponen-komponen yang membentuk senyawa inisiasitor berinteraksi
dalam serangkaian tahap. IF32 terbukti terikat pada sub-unit 30 S ribosomal,
sehingga membuat sub unit 30 S mengikat mRNA. Dalam kondisi ini, sebuah
senyawa membentuk IF3, N-formyl methionine tRNA bermuatan (fMETtRNAfMet) dan GTP (guanosine triphosphate). Adalah IF2 yang membawa tRNA
pembentuk kedalam ribosom. IF2 hanya mengikat tRNA pembentuk yang
bermuatan, dan tanpa IF2, tRNA pembentuk tidak akan bisa mengikat ribosom.
Langkah terakhir dalam pembentukan senyawa inisiasitor adalah menyatukan dua
komponen pertama.
Hidrolisis GTP menjadi GDP + P i (phosfat inorganic, PO4-3 menghasilkan
perubahan-perubahan konformasional; perubahan-perubahan ini membuat
senyawa inisiasitor menggabungkan 50S sub-unit ribosomal untuk membentuk
ribosom utuh, lalu membuat faktor-faktor inisiasi dan GDP bisa dilepaskan.
Seringkali hidrolisis dari sebuah nucleoside triphosphate (misalnya, ATP, GTP)
dalam sebuah sel muncul untuk melepaskan energi dalam ikatan posfat yang
digunakan dalam proses metabolis. Namun dalam proses translasi, hidrolisis
merubah bentuk GTP sehingga GTP dan faktor-faktor inisiasi dapat dilepaskan
dari ribosom setelah partikel 70S terbentuk. Sehingga hidrolisis GTP dalam
translasi dimaksudkan untuk perubahan konformasional, bukan untuk
pembentukan ikatan kovalen.
Inisiasi sintesis protein pada prokariot
Pada sel-sel bakteri dan pada mitokondria, formilmetionil-tRNAF memulai
sintesis setiap rantai-rantai protein. Pada E coli Terjadi transformilase dari E coli.
Di samping fMet-tRNAF, inisiasi sintesis protein pada sel-sel bakteri juga
membutuhkan tiga protein yang diikat pada ribosom, tetapi umumnya dipandang
bukan merupakan bagian struktural ribosom sendiri. Satu faktor, faktor inisiasi 3
(IF-3) diperlukan untuk pengenalan mRNA, IF-1 dan IF-2 diperlukan untuk
mendudukkan mRNA dan fMet-tRNA pada ribosom-ribosom. Sampai sejauh
eksperimen-eksperimen analog telah dilakukan, dalam hal fungsional IF-IF dari
sel-sel mamalia menyerupai bakteri.
Walaupun banyak eksperimen, namun sedikit yang diketahui dari langkahlangkah dini pada inisiasi sintesis protein. Satu pandangan menyatakan bahwa
mRNA pertama mengikat ke subunit ribosomal terkecil. Pada skema ini subunit
30S membawa IF-3. Pada penambahan berikutnya dari IF-2 dan GTP, fMet-tRNA
mengikat urutan AUG pada mRNA, membentuk kompleks yang mantap.
bEksperimen lain menyatakan bahwa ribosom 30S pertama berinteraksi dengan

fMet-tRNA. Pada langkah berikutnya mRNA mengikat. mRNA diikat dengan cara
fungsional pada reaksi yang juga membutuhkan dua faktor inisiasi lain. Subunit
yang lebih besar ditambahkan pada suatu reaksi di mana GTP dipecah
memberikan GDP dan fosfat anorganik; IF-2 bekerja sebagai GTPase pada reaksi
ini. Hidrolisis GTP pada proses ini menghasilkan perubahan bangunan pada
partikel 50S sehingga kompleks inisiasi menyesuaikan diri untuk menerima
pencantelan aminoasil-tRNA yang berikutnya yang diprogramkan oleh pesuruh.
Untuk produksi suatu kompleks pemula 30 S, daerah terminal 3 dari
komponen 16 S RNA dari subunit ribosom 30 S merupakan tempat pengikatan
untuk mRNA. Rangkaian kaya pirimidin pada ujung 3 dari ikatan hidrogen 16 S
rRNA, dalam suatu model antiparalel, dari suatu rangkaian komplementer dari
purin pada sisi 5 (ke hulu) kodon AUG pemula dari suatu pesan. Suatu rangkaian
purin minimum terdiri dari AGGA dan disebut rangkaian Shine-Dalgarno adalah
diperlukan untuk interaksi mRNA dengan tempat pengikatan ribosom.
Terdapat tiga tempat pengikatan-tRNA pada subunit kecil dari ribosom.
Kompleks tRNA-aminoasil yang baru masuk berikatan dengan suatu tempat R
(pengenalan), kemudian tRNA-aminoasil dengan cepat ditransfer ke tempat A.
setelah menerima rantai peptida yang bertumbuh dari tRNA pada tempat P
Inisiasi sintesis protein pada eukariot
Proses dalam eukariot umumnya sama, tapi lebih rumit. Singkatan dari
faktor inisiasitor atau pembentukan eukariotik dilambangkan dengan e, yang
menunjukkan eukariotik (eIF1, eIF2, dsb). Setidaknya, 9 faktor inisiasitor
dilibatkan, yaitu eIF1, eIF2, eIF3, eIF4A, eIF4B, eIF4C, eIF4D, eIF4E, eIF5 dan
sebuah protein ikatan penutup khusus, eIF4E. Salah satu faktor-faktor ini sangat
besar, mempunyai beberapa subunit dan berat molekul lebih besar dari 300.000.
Di antara faktor-faktor ini yang lebih menarik ialah eIF-2.
Untuk pembentukan kompleks pemula pada eukariotik Faktor ini
mengikat GTP dan Met-tRNAf, membawa bahan-bahan ini ke ribosom. Aktivitas
eIF-2 dihambat sebagai akibat difosforilasinya oleh kinase protein bergantungcAMP. Biasanya kinase protein ini dipertahankan dalam pengendalian sebagai
protein tidak aktif. Kinase eIF-2 menjadi diaktifkan oleh sejumlah senyawa yang
dikenal menghambat sintesis protein in vitro. Misalnya, kadar-kadar rendah
glutation atau pengambilan hem dari lisat retikulo-sit akibat aktivasi kinase eIF-2.
Pada sel-sel yang diperlakukan dengan interferon, dibuat kinase eIF-2 khusus
yang tidak aktif sampai dipacu oleh RNA beruntai-ganda.
Dalam beberapa kondisi, eukariotik ribosom bisa mendorong terjadinya
sintesis protein di dalam RNA pembawa pesan jika RNA pembawa pesan
mengandung sebuah urutan yang disebut sebagai area masuk ribosom internal.
Urutan-urutan ini ditemukan dalam poliovirus RNA dan dalam beberapa RNA
pembawa pesan seluler. Mereka setidaknya memiliki empat ratus panjang
nukleotida. Sehingga meskipun scanning mempengaruhi pembentukan sebagian
besar dari RNA pembawa pesan eukariotik dalam 5ujungnya, beberapa
pembentukan bisa terjadi secara internal dalam RNA pembawa pesan yang
memiliki area masuk ribosom internal.
Pengikatan mRNA pada ribosom
Suatu mRNA dicantelkan pada ribosom sehingga urutan inisiasi
digambarkan pada kerangka baca yang cocok. Asam amino yang pertama

disisipkan pada gandengan peptid ialah sisa metionil yang disandi oleh kodon
AUG dan GUG. Tidak semua urutan AUG pada program mRNA merupakan
pemulai rantai protein baru, karena urutan-urutan AUG juga menyandi untuk sisa
metionil yang terdapat pada kedudukan dalam rantai pelipeptid. Ribosom
mengenali urutan-urutan primer pada mRNA di samping Kodon-kodon inisiasi.
Urutan-urutan ini harus terletak pada sisi 5' kodon inisiasi. Urutan-urutan pada sisi
3' diharapkan banyak beragam di antara mRNA-mRNA yang berbeda, karena
daerah-daerah inilah yang mengandung kata-kata sandi untuk sintesis protein.
Setiap mRNA bakteri yang telah diurutkan mengandung berkas kaya polipurin
dari kira-kira lima sampai tujuh base terletak kurang lebih 10 nukleotid dari sisi 5'
dari AUG pemulai. Pasangan-base polipurin ini dengan urutan komplementer
terdapat dekat ujung 3' dari RNA 16S dari unit kecil:
Daerah-daerah ini kadang-kadang disebut urutan-urutan Shine-Dalgamo
diambil dari nama ahli-ahli yang pertama mengusulkan bahwa mRNA dikenali
dengan cara ini oleh ribosom. mRNA hewan tidak mengandung berkas polipurin
ini, namun karena mRNA hewan monosistronik, dipercaya bahwa ribosom
mengenali topi 5', atau sesuatu analog dengan topi dan memulaikan pada urutan
AUG paling dekat dengan ujung 5'.
Rangkaian
Shine-dalgamo

kodon awal

5-ACAGGAAAACAGCUAUG3-AUUCCUCCACUAGRibosom: tapak sintesis protein


Ribosom fungsional terdiri dari 2 partikel agak besar. Pada sel-sel hewan
subpartikel-subpartikel ini mempunyai koefisien pengendapan sebesar 40S dan
60S. Pada bakteri dan mitokondria subpartikel-subpartikel mengalami sedimentasi
pada 30S dan 5A0. subunit-subunit diperoleh dari partikel fungsional, di semua
bagian sel mammalia adalah 80S kecuali mitokondria, dimana ia adalah 70S.
Sintesis protein mulai dengan mencantelkan ribosom pada atau dekat
ujung mRNA. Ingat bahwa ini merupakan ujung mRNA yang disintesis pertama
dari cetakan DNA. Jadi pada sel-sel bakteri molekul mRNA tidak perlu disintesis
lengkap sebelum ia mulai dibaca. Pada sel-sel hewan, yang mRNA-nya dibuat
dalam inti, perekaman dan penerjemahan tidak dirangkaikan. Selama ribosom
mengarahkan penambahan gugus-gugus aminoasil pada peptidil-tRNA yang
tumbuh, ia bergerak sepanjang mRNA menguraikan isi sandinya dari ujung 5' dan
3' sampai ia bergerak cukup jauh dari ribosom lain untuk diikat pada tapak inisiasi
yang baru dikosongkan. Segera mRNA dimuati sepenuhnya dengan ribosomribosom. Poliribosom-poliribosom ini dapat dilihat dengan mikroskop elektron,
dan jumlah ribosom padanya dapat dihitung. Jumlah ribosom pada poliribosom
berbanding lurus dengan ukuran protein yang disintesiskan. Jadi rantai globin
untuk hemoglobin terdiri dari kira-kira 150 sisa-sisa asam amino dan
poliribosomnya memegang lima monomer ribosom. Rantai utama miosin
mengandung kira-kira 1.800 sisa-sisa asam amino dan poliribosomnya memegang
60 sampai 100 ribosom monomer.
Perpanjangan rantai protein (elongasi)
Terdapat dua tapak untuk mencantelkan tRNA pada ribosom. Satu
biasanya mengandung peptidil tRNA; ia terdapat paling dekat dengan ujung 5'
dari mRNA dan dinamakan tapak "P". Sesudah reaksi inisiasi fMet-tRNA ada di

tapak P (situs Peptidil). Tapak yang lain, aminoasil-tRNA atau tapak A (situs
aminoasil), terdapat pada sisi 3 tapak P (Gambar 12.17). Aminoasil tRNA
berikutnya yang ditambahkan pada rantai yang tumbuh dicantelkan pada tapak ini
dengan pengaruh GTP dan EF-1, satu dari dua faktor perpanjangan protein yang
bekerja pada ribosom sewaktu langkah-langkah perpanjangan rantai polipeptid.
Pada waktu reaksi ini, GTP di belah menjadi GDP dan Pi.
Gugus formil-metionil dipindahkan pada gugus amino nukleofilik dari
aminoasil-tRNA pada tapak A. Pada langkah-langkah berikutnya gugus peptidil
yang tumbuh dipindahkan dari aminoasil tRNA berikutnya. Reaksi ini dikatalisis
oleh ribosom sendiri, khusus oleh enzim dari subunit yang lebih besar. Hasilnya
ialah peptidil-tRNA, sekarang satu asam amino lebih panjang, bersandar pada
tapak A sedang tapak P mengandung tRNA deasilasi yang semula memegang
rantai peptidil. tRNA terdeasilasi ini dipindahkan pada suatu reaksi yang
membutuhkan EF-2 dan GTP dan itu bersamaan dengan translokasi pada tapak P,
peptidil tRNA yang baru yang masih berikatan hidrogen pada kodonnya pada
mRNA. Daur sekarang telah lengkap, dan suatu kodon baru dibawa untuk
penambahan pada tapak A. Reaksi-reaksi ini di-tunjukkan diagramatik pada
Gambar di bawah ini.
Pembentukan ikatan peptida
Dua asam amino pada dua tRNA kemudian berada di posisinya untuk
membentuk sebuah ikatan peptida antara mereka; kedua asam amino ditempatkan
secara berdampingan pada sebuah pusat enzimatik, peptidyl transferse, dalam 50S
sub-unit. Pusat enzimatik ini, sebuah bagian integral dari 50S sub-unit, pada
awalnya diyakini terbentuk dari bagian-bagian beberapa protein 50S. Namun
kemudian dipercaya bahwa pusat enzimatik ini memiliki aktifitas ribosomik, yaitu
aktifitas enzimatik dari RNA ribosomal suatu ribosom. Aktifitas enzimatik
melibatkan sebuah transfer ikatan dari ujung carboxyl N-formyl methionine
menuju ujung amino dari asam amino kedua. Setiap ikatan peptida selanjutnya
akan identik, apapun asam amino yang ada didalamnya. Energi yang digunakan
terdapat dalam ikatan ester energi-tinggi antara tRNA dalam area P dengan asam
aminonya. Segera setelah pembentukan ikatan peptida, tRNA dengan dipeptida
akan berada dalam area A, dan sebuah tRNA yang telah digunakan berada dalam
area P.
Pada tahap ini polipeptida memisahkan diri dari tRNA tempat perlekatan
semula, dan asam amino pada ujung karboksilnya berikatan dengan asam amino
yang dibawa oleh tRNA di tempat A.
Translokasi
Tahap selanjutnya dalam pemanjangan adalah translokasi ribosom dalam
kaitannya dengan tRNA dan RNA pembawa pesan. Faktor pemanjangan yang
pada awalnya disebut sebagai translokasi ini akan mengkatalisis proses
translokasi. Ribosom harus dirubah dari kondisi pratranslokasi menjadi kondisi
pasca-translokasi melalui aktifitas EF-G, yang secara fisik menggerakkan RNA
pembawa pesan dan tRNA terkait. Pergerakan ini dituntaskan melalui hidrolisis
sebuah GTP menjadi GDP setelah EF-G memasuki ribosom pada area A. Setelah

pascatranslokasi pertama tercapai, tRNA yang telah dipakai dalam area E akan
dilepaskan, sehingga akan menyisakan ribosom yang siap menerima sebuah tRNA
muatan baru dalam area A.
Langkah translokasi membutuhkan energi yang disediakan oleh hidrolisis
GTP. mRNA bergerak melalui ribosom ke satu arah mulai dari ujung 5. Hal yang
penting disini adalah ribosom dan mRNA bergerak relative satu sama lainnya
dengan arah yang sama. Siklus elongasi menghabiskan waktu kurang dari 1/10
detik dan terus diulang rantai polipeptidanya lengkap.
Pengakhiran sintesis protein (Terminasi).
Pengakhiran sintesis protein baik pada hewan maupun sistem bakteri
membutuhkan satu atau lebih faktor-faktor pelepas protein. Faktor-faktor pelepas
mengenali kodon-kodon pengakhiran (terminasi) UAA, UAG, dan UGA. Faktorfaktor pelepas 1 dan 2 (RF-1 danRF-2) terdapat pada E.koli. Salah satu dari
faktor-faktor akan berfungsi melepaskan gugus peptidil dari tRNA yang diikat
ribosom, barangkali dengan membantu pada katalisis reaksi hidrolitik. RF-1
mongenal kodon-kodon pengakhiran UAA atau UAG, dan RF-2 mengenali UAA
atau UGA. Dipercayai bahwa sintesis kebanyakan protein diakhiri oleh syarat
UAA, sehingga salah satu faktor mungkin bertindak untuk menghentikan sintesis
kebanyakan protein. Hanya satu RF tunggal telah diasingkan dari sel-sel mamalia.
Tidak dibutuhkan tRNA khusus, namun pengakhiran dipacu oleh GTP.
Transferase peptidil dari ribosoim barangkali mengkatalisis hidrolisis ikatan ester
peptidil.
Memproses protein-protein sekretorik pasca terjemahan
Banyak protein yang disekresi di sel-sel dipercayai disintesiskan dengan
asam amino ekstra pada akhiran-N-nya. Perpanjangan akhiran-akhiran N ini
mengandung sejumlah luar biasa banyak asam amino hidrofobik yang mampu
berinteraksi dengan bagian-bagian nonpolar membran-membran. Perpanjangan
polipeptida dari 15 sampai 30 sisa-sisa asam amino difikirkan mewakili isyarat
untuk seleksi dan pengikatan pada membran-membran dari protein-protein yang
ditujukan untuk sekresi; karena alasan ini perpanjangan akhiran N disebut peptid
isyarat (sinyal). Peptid isyarat ditemukan dengan menganalisis hasil-hasil protein
yang disintesis oleh penggabungan asam amino bebas-sel yang bergantungmRNA yang relatif bebas dari membran. Peptid-peptid isyarat hampir tidak
mungkin ditemukan pada sel-sel utuh atau jaringan-jaringan karena mereka
dengan cepat dihilangkan oleh peptidase dihubungkan-membran atau pada waktu
proses sekresi atau segera sesudahnya. Protein-protein yang disintesis dengan
peptid-peptid isyarat termasuk beberapa hormon polipeptid (misalnya insulin),
album kolagen, imunoglobulin, dan protein pembungkus virus tertentu.
Perpindahan
rantai
intron
melalui
penyambungan
RNA
Sebagian besar gen eukariot tingkat yang lebih tinggi mengandung noncoding
intervening sequences atau intronsseparating the coding sequences or axons.
Sedangkan transkrip primer mengandung seluruh urutan gen dan noncoding
sequences
yang
di
potong
selama
proses.

Penyambungan pre-mRNA: snRNAs, snRNPs dan Spliceosome


Intron dalam prekusor mRNA nuclear dipotong dalam dua tahap seperti pada
intron sel ragi pre-tRNA dan pre-rRNA. Pada prekusor mRNA, intronnya tidak
dibelah oleh nuclease da ligase melainkan oleh struktur protein yang disebut
spliceosome. Spliceosome mengandung molekul RNA yang disebut snRNA. Lima
snRNA yaitu; U1, U2, U4, U5 dan U6. yang berpengaruh dalam pemotongan premRNA nuclear sebagai komponen dari spliceosome. Tahap pemotongan ini juga
diabgi menjadi dua tahap. Tahap pertama, pembelahan terjadi pada ujung 5intron
dan phosphodiester 2-5yang dibentuk diantara posisi 5G yang ditempatkan
mendekati ujung 3intron. Tahap kedua, gen digabungkan oleh ikatan
phosphodiester 3-5 dan intron yang telah terbentuk dilepaskan.
Question and Answer
1. Apa perbedaan translasi pada prokariot dan eukariot?
Jawaban: Pada prokariot, translasi terjadi sebelum transkripsi sepenuhnya
dirampungkan. Hal ini dimungkinkan karena pada prokariot molekul
mRNA di translasikan berdasarkan arah dari ujung 5` ke ujung 3`. Selain
dari itu, pada prokariot tidak terdapat membran inti, sehingga tidak ada
yang memisahkan transkripsi dan translasi (sebagaimana yang terjadi pada
eukariot) sehingga translasi dapat segera dilakukan. Pada eukariot
transkripsi terjadi tidak bersamaan dengan translasi. Dengan adanya
membran inti, pada eukariot dapat dibedakan tempat terjadinya transkripsi
dan translasi, transkripsi terjadi di dalam inti sedang translasi terjadi di
sitoplasma. Waktunya pun tidak dapat terjadi secara bersamaan, sebab
sebelum dapat melakukan translasi, harus merampungkan terlebih dahulu
proses transkripsi. Proses transkripsi dan translasi pada eukariotpun lebih
kompleks daripada prokariot.
2. Mengapa ribosom digunakan sebagai tempat dari translasi?
Jawaban: ribosom adalah setengah protein dan setengah RNA.
Mereka tersusun dalam subunit besar dan kecil, yang memisah
ketika translasi dari molekul mRNA selesai; mereka bergabung
kembali inisiasi dari translasi.