Anda di halaman 1dari 11

PERTANYAAN DISKUSI

1. Penyebab selisih perhitungan fisik persediaan:

a. Indeks harga yang digunakan adalah indeks harga lama sehingga harga pasaran saat
ini tidak sama dengan indeks harga yang digunakan.
b. Diskon kas yang diberikan oleh Samsang dan diskon bulanan yang dihitung
mengalami salah perhitungan sehingga pencatatan dengan fisik persediaan tidak sama.
c. Ada persediaan yang cacat, hilang atau rusak sehingga harus diakui sebagai kerugian.
d. Saat persediaan dikeluarkan dari gudang atau terjadi penjualan, pencatatan tidak
dilakukan. Atau sebaliknya, saat pencatatan dilakukan tidak ada persediaan yang
dilakukan.
e. Penggunanaan metode yang berbeda
Material tidaknya selisih perhitungan fisik persediaan tergantung pada nilai materialitas
untuk akun persediaan yang telah ditetapkan sebelumnya oleh pemeriksa (tolerable error)
serta pertimbangan profesional auditor atas nilai materialitas awal.

Selisih > TE, maka material sehingga pemeriksa melakukan investigasi lebih lanjut
Selisih < TE, maka tidak material sehingga pemeriksa tidak perlu melakukan

investigasi lebih lanjut


2. Dengan saldo persediaan akhir yang tinggi, maka laba operasi sebagai akibat HPP
mengecil akan menjadi besar/meningkat.
Permasalahan signifikan yang muncul, yaitu timbulnya faktor resiko kecurangan yang
didorong,
Rencana untuk mengubah jenis usaha perusahaan menjadi perusahaan terbuka yang
sahamnya diperdagangkan di lantai bursa guna mendapatkan tambahan dana publik
Kepentingan perusahaan untuk mendapatkan pendanaan dari bank
3. Alasan manajemen perusahaan merendahkan jumlah persediaan akhir bisa saja untuk
mempengaruhi nilai utang agar lebih rendah. Jika nilai utangnya rendah maka kewajiban
perusahaan akan berkurang. Ini akan mempengaruhi likuiditas perusahaan karena rasio
lancar perusahaan akan terlihat baik. Tentunya ini akan menambah kepercayaan kreditor
dan investor.
Ini dapat menjadi permasalahan signifikan dalam melakukan audit, apalagi apabila hal ini
terlambat diketahui. Menjadi beban berat dalam pertanggungjawaban auditor. Selain itu,
laporan auditor akan menunjukkan kesesatan jika ini tak diketahui karena PT Maju
Makmur dalam rangka menuju perusahaan go public.
4. KAP harus melakukan perhitungan fisik ulang atau menambah sampel toko. Maksudnya

adalah dari 6 toko yang ada, audit harus melakukan perhitungan fisik pada 4 atau 5 toko

untuk memperkecil salah saji dan dampak pada laporan keuangan semakin kecil. Pada
PSA No. 26 SA paragraf 43 menyatakan bahwa jika auditor menyimpulkan bahwa hasil
sampel tidak mendukung tingkat risiko pengendalian yang direncanakan atas suatu asersi,
maka ia harus menilai kembali sifat, waktu, dan lingkup prosedur substantif berdasarkan atas
pertimbangan yang telah direvisi atas tingkat risiko pengendalian yang ditetapkan untuk
asersi laporan keuangan yang relevan.
5. Keputusan terkait materialitas persediaan, yaitu menambah jumlah sample perhitungan
fisik persediaan yang dilakukan sendiri oleh pemeriksa pada kedua toko yang telah
ditetapkan.
6. Tujuan review retur penjualan pada akhir tahun fiskal, yaitu untuk memastikan bahwa atas

penjualan yang telah diretur diikuti dengan mutasi masuk kembali persediaan yang
sebelumnya telah dikirim kepada pelanggan sehingga akan menambah kembali saldo akhir
persediaan.
7. Nomor label terakhir yang digunakan perusahaan adalah nomor dari persediaan yang telah
dipastikan ada di gudang dan telah diawasi secara langsung oleh Indah Sanjaya. Nomor
label ini telah bebas dari tanda kerusakan, usang atau penjualan di bawah harga normal,
bukan barang konsinyasi, barang tidak disembunyikan atau dihitung lebih. Nantinya
nomor label ini akan dicocokkan dengan catatan perusahaan.
8. Jika barang rusak atau usang maka tindakan yang dilakukan adalah mencatat barang
tersebut sebagi kerugian atau Persediaan dengan kondisi rusak atau usang tidak dilaporkan
dalam neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Persediaan yang
telah usang adalah persediaan yang tidak dapat dimanfaatkan untuk kegiatan operasional
bukan hanya karena usianya tapi juga karena sudah ketinggalan teknologi atau
ketidaksesuaian spesifikasi.
9. Evaluasi efektifitas dan efisiensi prosedur stock opname PT Maju Makmur,

Memenuhi asersi cut off, stock opname sebaiknya dilakukan tepat pada 31 Desember
Untuk reliabilitas data, stock opname baik pada toko ataupun pada gudang sebaiknya
dilakukan oleh tim khusus stock opname yang terdiri dari gabungan karyawan yang
bersangkutan dengan divisi lainnya, contoh karyawan controller/akuntansi.
Hal ini dilakukan untuk menghindari munculnya faktor resiko kecurangan yang
dilakukan oleh manajer dan asisten manajer pada toko ataupun karyawan departemen

operasional dan logistik untuk bagian gudang.


Pengelompokan persediaan berdasarkan item yang serupa dilakukan tidak hanya pada
saat stock opname, tetapi dilakukan sejak awal tiba di gudang atau toko.

LATIHAN
1

Dalam melaksanakan pekerjaan auditnya, auditor dapat menerapkan program audit untuk
menguji kewajaran saldo persediaan barang dagang PT Maju Makmur antara lain dengan:
Program Audit

1.

Meminta daftar rincian persediaan kepada klien secara


lengkap
Lakukan perhitungan nilai persediaan pada laporan
penerimaan barang dan perhatikan cut-off nya.
Lakukan perhitungan nilai persediaan pada catatan bill
of lading dan perhatikan cut-off nya.
Lakukan pemeriksaan terhadap catatan persediaan
perpectual perusahaan meliputi persediaan barang
masuk dan keluar.
Lakukan pengecekan ulang mengenai baik persediaan
yang diterima maupun yang dikirim pada awal bulan
januari atau periode setelah neraca.
Hitung dan periksa diskon pembelian yang diberikan
samsang dengan menyampling beberapa item
persediaan
Periksa ketepatan pemberian nomor label dan nomor
seri yang dilakukan klien
Lakukan perhitungan kembali dengan cara memfooting
maupun crossfooting atas catatan persediaan fisikgudang yang dimiliki klien

2.
3.
4.

5.

6.

7.
8.

Waktu
pelaksanaan

NO

Paraf

Dokumen audit atas prosedur yang telah dilaksanakan :


PT MAJU MAKMUR
Prosedur Audit Persediaan
31 Desember 2010

No
.

Nomor
Label

Deskripsi

1
2

136
139

Stereo Systems
CD Players

3
4

144
147

DVD Players
Headphones

5
6

150
108

Speakers
Receivers

Dokume

Nomor
Seri
AB15M
TU62-T
DS45W
PO88-Q
YG28Y
CS33-P

Kuantitas

Biaya/Unit

Biaya Total
(dalam Rp.000)

36
87

Rp
Rp

Rp
Rp

2,055.84
488.00

74,010.24
42,456.00

Prosedu

114
49

Rp
Rp

884.00
711.76

Rp
Rp

100,776.00
34,876.24

71
6

Rp
Rp

2,199.60
5,591.84

Rp
Rp

156,171.60
33,551.04

7
8
9
10
11
12

111
117
125
126
138
104

Amplifiers
Televisi
Televisi
Stereo Systems
Stereo Systems
DVD Players

XY76R
AR65C
BM09H
JH88-A
FU87-R
CZ55-H

48

Rp

1,759.60

Rp

84,460.80

Rp 10,552.00

Rp

21,104.00

3
77
60
46

Rp
Rp
Rp
Rp

6,498.80
2,592.00
1,804.80
1,655.84

Rp
Rp
Rp
Rp

19,496.40
199,584.00
108,288.00
76,168.64

RISET KELOMPOK

Skandal Manipulasi Laporan Keuangan PT. Kimia


Farma Tbk.
Permasalahan
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) memastikan ada indikasi manajemen
lama PT Kimia Farma Tbk terlibat dalam upaya memperbaiki perfomance laporan
keuangan 2001. Hal ini terlihat dari terjadinya selisih laba bersih Rp32,668 miliar akibat
kesalahan pencatatan laba bersih yang seharusnya Rp99,594 miliar menjadi Rp132,263
miliar.
Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang
ada dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur
produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada
tanggal 1 dan 3 Februari 2002. Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan
nilainya dan dijadikan dasar penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per
31 Desember 2001. Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah
dengan dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut
dilakukan pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil
dideteksi. Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit
laporan keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun
gagal mendeteksi kecurangan tersebut.
Pihak Bapepam selaku pengawas pasar modal mengungkapkan tentang kasus
PT.Kimia Farma. Dalam rangka restrukturisasi PT.Kimia Farma Tbk, Ludovicus Sensi
W selaku partner dari KAP Hans Tuanakotta dan Mustofa yang diberikan tugas untuk
mengaudit laporan keuangan PT.Kimia Farma untuk masa lima bulan yang berakhir 31
Mei 2002, tidak menemukan dan melaporkan adanya kesalahan dalam penilaian
persediaan barang dan jasa dan kesalahan pencatatan penjualan untuk tahun yang
berakhir per 31 Desember 2001.
Selanjutnya diikuti dengan pemberitaan di harian Kontan yang menyatakan
bahwa Kementerian BUMN memutuskan penghentian proses divestasi saham milik
Pemerintah di PT KAEF setelah melihat adanya indikasi penggelembungan keuntungan

(overstated) dalam laporan keuangan pada semester I tahun 2002. Dimana tindakan ini
terbukti melanggar Peraturan Bapepam No.VIII.G.7 tentang Pedoman Penyajian
Laporan Keuangan poin 2 Khusus huruf m Perubahan Akuntansi dan Kesalahan
Mendasar poin 3) Kesalahan Mendasar, sebagai berikut:
Kesalahan mendasar mungkin timbul dari kesalahan perhitungan matematis,
kesalahan dalam penerapan kebijakan akuntansi, kesalahan interpretasi fakta dan
kecurangan atau kelalaian. Dampak perubahan kebijakan akuntansi atau koreksi atas
kesalahan mendasar harus diperlakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian
kembali (restatement) untuk periode yang telah disajikan sebelumnya dan melaporkan
dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian sebagai suatu penyesuaian pada saldo
laba awal periode. Pengecualian dilakukan apabila dianggap tidak praktis atau secara
khusus diatur lain dalam ketentuan masa transisi penerapan standar akuntansi keuangan
baru.

Pembahahasan :
Dalam kasus PT Kimia Farma Tbk lembaga Bapepam harus menyelidiki lagi
secara serius masalah yang timbul yakni perbedaan nilai pencatatan Laporan Keuangan
dimana terjadinya selisih laba bersih Rp32,668 miliar akibat kesalahan pencatatan laba
bersih yang seharusnya Rp99,594 miliar menjadi Rp132,263 miliar. Dalam penanganan
kasus ini baik pihak manajemen perusahaan dan tim auditor maupun lembaga
Bapempam sama-sama menyelidiki dan mencari cara penyelesaian terhadap kasus ini.
Hasil pemeriksaan harus yang sesuai dengan keadaan dan transaksi yang terjadi.
Walaupun struktur perusahaan Kimia Farma yang tidak sederhana, prosedur
obat-obatan, perusahaan ini juga menjadi distributor yang luas jaringannya di Indonesia
dan tingkat kerawanan akan kesalahan pencatatan sangat memungkinkan karena spin
control-nya sangat luas semua pihak yang terkait dalam pembuatan dan pemeriksaaan
laporan keuangan harus menyelesaikannya secara tuntas, karena tidak ada masalah yang
tidak dapat diselesaikan dengan ilmu pengetahuan yang ada.

Keterkaitan Manajemen Risiko Etika disini adalah pada pelaksanaan audit oleh
KAP HTM selaku badan independen, kesepakatan dan kerjasama dengan klien (PT
Kimia Farma Tbk.) dan pemberian opini atas laporan keuangan klien.
Dalam kasus ini, jika dipandang dari sisi KAP HTM, maka urutan stakeholder
mana ditinjau dari segi kepentingan stakeholder adalah:
1

Klien atau PT Kimia Farma Tbk.

Pemegang saham

Masyarakat Luas

Dalam kasus ini, KAP HTM menghadapi sanksi yang cukup berat dengan
dihentikannya jasa audit mereka. Hal ini terjadi bukan karena kesalahan KAP HTM
semata yang tidak mampu melakukan review menyeluruh atas semua elemen laporan
keuangan, tetapi lebih karena kesalahan manajemen Kimia Farma yang melakukan aksi
manipulasi dengan penggelembungan nilai persediaan.
Kasus yang menimpa KAP HTM ini adalah risiko inheren dari dijalankannya suatu
tugas audit. Sedari awal, KAP HTM seharusnya menyadari bahwa kemungkinan besar
akan ada risiko manipulasi seperti yang dilakukan PT. Kimia Farma, mengingat KAP
HTM adalah KAP yang telah berdiri cukup lama. Risiko ini berdampak pada reputasi
HTM dimata pemerintah ataupun publik, dan pada akhirnya HTM harus menghadapi
konsekuensi risiko seperti hilangnya kepercayaan publik dan pemerintah akan
kemampuan HTM, penurunan pendapatan jasa audit, hingga yang terburuk adalah
kemungkinan di tutupnya Kantor Akuntan Publik tersebut.
Diluar risiko bisnis, risiko etika yang dihadapi KAP HTM ini cenderung pada
kemungkinan dilakukannya kolaborasi dengan manajemen Kimia Farma dalam
manipulasi laporan keuangan. Walaupun secara fakta KAP HTM terbukti tidak terlibat
dalam kasus manipulasi tersebut, namun hal ini bisa saja terjadi.
Sesuai dengan teori yang telah di paparkan diatas, manajemen risiko yang dapat
diterapkan oleh KAP HTM antara lain adalah dengan mengidentifikasi dan menilai

risiko etika, serta menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis
dengan stakeholder.

Mengidentifikasi dan menilai risiko etika


Dalam kasus antara KAP HTM dan Kimia Farma ini, pengidentifikasian dan penilaian
risiko etika dapat diaplikasikan pada tindakan sebagai berikut:

Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder HTM


HTM selayaknya membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para stakeholder
yang berkepentingan beserta harapan mereka. Dengan mengetahui siapa saja
para stakeholder dan apa kepentingannya serta harapan mereka, maka KAP
HTM dapat melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stakeholder melalui
pembekalan kepada para auditor senior dan junior sebelum melakukan audit
pada Kimia Farma.

Mempertimbangkan

kemampuan

SDM

HTM

dengan

ekspektasi

para

stakeholder, dan menilai risiko ketidak sanggupan SDM HTM dalam


menjalankan tugas audit.

Mengutamakan reputasi KAP HTM


Yaitu dengan berpegang pada nilai-nilai hypernorm, seperti kejujuran,
kredibilitas, reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi
kerangka kerja dalam melakukan perbandingan.

Tiga tahapan ini akan menghasilkan data yang memungkinkan pimpinan KAP HTM
dapat mengawasi adanya peluang dan risiko etika, sehingga dapat ditemukan cara untuk
menghindari dan mengatasi risiko tersebut, serta agar dapat secara strategis mengambil
keuntungan dari kesempatan tersebut.

Menerapkan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan


stakeholder
KAP HTM dapat melakukan pengelompokan stakeholder dan meratingnya dari segi
kepentingan, dan kemudian menyusun rencana untuk berkolaborasi dengan stakeholder
yang dapat memberikan dukungan dalam penciptaan strategi, yang dapat memenuhi
harapan para stakeholder HTM.

Pelanggaran kode etik profesi akuntansi pada PT. Kimia Farma


1. Tanggung jawab
Dalam hal ini Direksi Lama PT Kimia Farma (Persero) Tbk. periode 1998 Juni 2002
telah menyalahi tanggung jawabnya dalam pembuatan laporan keuangan dengan
melakukan kegiatan praktek pengelembungan atas laporan keuangan per 31 Desember
2001. Sehingga dapat menyebabkan kesalahan pengambilan keputusan akibat adanya
laporan keuangan yang tidak aktual.
2. Kepentingan Publik
Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, seorang akuntan harus secara terus
menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.
Dalam hal ini, akuntan didalam PT. Kimia Farma telah mengorbankan kepentingan
public demi kepentingan mereka semata. Dengan kesalahan penyajian pada laporan
keuangan PT. Kimia Farma, menyebabkan pengambilan keputusan yang salah bagi para
investor.
3. Integritas
Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus
terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan
publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Namun, PT. Kimia Farma
terbukti tidak jujur dalam menyusun laporan keuangannya. Sehingga telah melanggar
prinsip kode etik akuntansi.
Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang
jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip. Seperti halnya integritas
yang dapat menerima Sdr. Ludovicus Sensi W, Rekan KAP Hans Tuanakotta dan
Mustofa selaku auditor PT Kimia Farma (Persero) Tbk. karena atas resiko audit yang

tidak berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia
Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah melakukan prosedur audit sesuai dengan
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur
kesengajaan.
4. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional
Baik akuntan, direksi maupun Auditor dari PT. Kimia Farma harus melaksanakan jasa
profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, sehingga tidak adanya
kecurangan dalam penyusunan laporan keuangan. Hal ini mengandung arti bahwa
anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaikbaiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten
dengan tanggung jawab profesi kepada publik. Namun, pada kenyataannya akuntan,
direksi maupun auditor telah melanggar prinsip kompetensi dan kehati-hatian
professional dalam kode etik akuntansi karena adanya laporan keuangan yang tidak
valid.
5. Perilaku Profesional
Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan
menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi. Dalam hal ini, pihak yang
terlibat dalam penyusunan laporan keuangan PT. Kimia Farma pada tahun 2002 telah
berperilaku tidak professional sehingga menimbulkan reputasi perusahaan yang buruk.
Bukan hanya itu saja, kinerja profesionalisme dari seorang auditor pada PT. Kimia
Farma pun dapat merusak reputasi mereka selaku auditor karena resiko audit yang tidak
berhasil mendeteksi adanya penggelembungan laba yang dilakukan oleh PT Kimia
Farma (Persero) Tbk. tersebut, meskipun telah melakukan prosedur audit sesuai dengan
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP), dan tidak diketemukan adanya unsur
kesengajaan
6. Standar Teknis
Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis
dan standar profesional yang relevan. Dalam hal ini seorang akuntan dituntut untuk
melakukan penyusunan laporan keuangan harus sesuai dengan standar teknis yang
berlaku, yakni sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. Namun pada kenyataannya
dalam penyusunan laporan keuangan terjadi adanya praktek pengelembungan dana yang

dilakukan oleh direksi PT. Kimia Farma sehingga melanggar prinsip standar teknik
dalam kode etik akuntansi.