Anda di halaman 1dari 17

Bab I

Pendahuluan

Komplemen adalah sistem enzim kompleks, pengaturan protein,


dan reseptor permukaan sel yang terlibat dalam pertahanan tubuh, inflamasi, dan
modulasi respon kekebalan. Sistem ini memiliki mekanisme yang cepat untuk
identifikasi kation dan pembuangan zat-zat asing, memberikan perlindungan
sebelum sistem adaptif imun berperan. Hal ini juga terlibat dalam berbagai macam
proses homeostatis termasuk pembersihan kompleks imun, sel yang rusak, dan
selular dari jaringan yang rusak. Sistem komplemen berkontribusi dalam inflamasi
dengan menginduksi perubahan lokal di aliran darah dan influx sel inflamatori ke
dalam daerah yang terkena dampaknya. Fragmen komplemen juga menyebabkan
pelepasan mediator tambahan, sitokin, dan enzim dari sel dekat sisi aktivasi.
Sistem komplemen adalah suatu sistem yang terdiri dari seperangkat
kompleks protein yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Pada kedaan normal
komplemen beredar di sirkulasi. darah dalam keadaan tidak aktif, yang setiap saat
dapat diaktifkan melalui dua jalur yang tidak tergantung satu dengan yang lain,
disebut jalur klasik dan jalur alternatif. Aktivasi sistem komplemen menyebabkan
interaksi berantai yang menghasilkan berbagai substansi biologik aktif yang
diakhiri dengan lisisnya membran sel antigen. Aktivasi sistem komplemen
tersebut selain bermanfaat bagi pertahanan tubuh, sebaliknya juga dapat
membahayakan bahkan mengakibatkan kematian, hingga efeknya disebut seperti
pisau bermata dua. Bila aktivasi komplemen akibat endapan kompleks antigenantibodi pada jaringan berlangsung terus-menerus, akan terjadi kerusakan jaringan
dan dapat menimbulkan penyakit.
Komplemen

Unsur pokok sistem komplemen diwujudkan oleh sekumpulan komponen


protein yang terdapat di dalam serum. Protein-protein ini dapat dibagi
menjadi protein fungsional yang menggambarkan elemen dari berbagai
jalur dan protein pengatur yang menunjukkan fungsi pengendalian.

Komplemen sebagian besar disintesis di dalam hepar oleh sel hepatosit


dan sel fagosit mononuklear yang berada dalam sirkulasi darah.
Komplemen C-l juga dapat disintesis oleh sel epitel lain di luar hepar.
Komplemen yang dihasilkan oleh sel fagosit mononuklear terutama akan
disintesis di tempat dan waktu terjadinya aktivasi.

Sebagian dari komponen protein komplemen diberi nama dengan huruf C:


Clq, Clr, CIs, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8 dan C9 berurutan sesuai dengan
urutan penemuan unit tersebut, bukan menurut cara kerjanya.

Komponen C3 mempunyai fungsi sangat penting pada aktivasi


komplemen, baik melalui jalur klasik maupun jalur alternatif. Konsentrasi
C3 jauh lebih besar dibandingkan dengan fraksi lainnya, hal ini
menempatkan C3 pada kedudukan yang penting dalam pengukuran kadar
komplemen di dalam serum. Penurunan kadar C3 di dalam serum dapat
dianggap menggambarkan keadaan konsentrasi komplemen yang menurun
serta dijadikan sebagai gambaran adanya aktivasi pada sistem komplemen.

Sistem ini diatur secara ketat yang dirancang untuk produksi minimum
"kerusakan kolateral" yang mungkin timbul dalam kerusakan jaringan dan

hilangnya fungsi. Patologi berhubungan dengan aktivasi yang tidak terkendali


atau fungsi pelengkap tidak bekerja dengan baik sering menghasilkan defisiensi
atau gangguan dari salah satu komponen. Sistem pelengkap terdiri jalur inisiasi
utama yaitu klasik, alternatif, dan lektin, serta jalur terminal (TP) umum untuk
semua. Setiap jalur dipicu oleh berbagai jenis aktivator, biasanya sel, mikroba,
atau molekul agregat yang menunjukkan pola muatan yang "diakui" oleh jalur
inisiasi komponen individu, membuat satu komplemen dari sistem imun bawaan
utama yang menggunakan pola mekanisme untuk mendeteksi bukan dari dirinya
sendiri. Jalur ini memiliki beberapa kesamaan.
Mereka dipicu oleh (1) mengikat salah satu komponen dengan aktivator,
(2) aliran aktivasi enzim, dan (3) efek biologis generasi. Meskipun komplemen
sering disebut sebagai konstituen plasma, komponen juga ditemukan dalam cairan
tubuh lain dan jaringan. Tidak hanya difusi dari molekul yang terjadi antara
intravaskular dan kompartemen ekstravaskuler, tetapi sintesis lokal juga terjadi.
Terdapat mekanisme fisik dan kimia serta regulator spesifik yang mencegah
aktivasi yang tidak terkendali dan kerusakan sel-sel lokal dan jaringan. Sebuah
fase cair dan kumpulan sel regulator protein dan reseptor spesifik yang
berinteraksi dengan komponen komplemen dan produk mereka yang terbelah, dan
terlibat dalam pengendalian aktivasi komplemen pada permukaan sel, serta
berbagai macam peristiwa sinyal sel.

Bab II
Sistem Komplemen
Bab ini akan membahas struktur komponen komplemen dan jalurnya,
aktivasi komplemen dan kontrol proses, serta penyakit yang berkaitan dengan
defisiensi atau pengaturan yang tidak tepat dari sistem komplemen.

2.1 Aktivasi Komplemen


Sistem komplemen dapat diaktifkan melalui 3 jalur, yaitu jalur lektin, jalur
klasik, dan jalur alternatif. Jalur klasik diaktifkan oleh kompleks imun sedangkan
jalur lektin dan jalur alternatif tidak. Jalur lektin diawali dengan pengenalan
manosa dari membran patogen oleh lektin dan jalur alternatif diawali oleh
pengenalan permukaan sel asing. Meskipun aktivasi sistem komplemen diawali
oleh tiga jalur yang berbeda, namun semua jalur berakhir dalam produksi C3b.

2.1.1 Aktivasi Komplemen Jalur Lektin


Lektin adalah protein larut yang mengenal dan mengikat residu manosa
dari hidrat arang yang merupakan bagian dinding sel mikroba. Oleh karena itu,

jalur lektin disebut juga jalur ikatan manan. Lektin adalah golongan famili
kolektin, yang merupakan protein fase akut dan kadarnya meningkat pada respon
inflamasi. Aktivasi jalur lektin diawali oleh terjadinya ikatan antara polisakarida
mikroba dengan lektin dalam sirkulasi. Sesudah itu, semua tahap jalur lektin
adalah sama dengan jalur klasik C4.
2.1.2 Aktivasi Komplemen Jalur Klasik
Aktivasi komplemen melalui jalur klasik dimulai dengan dibentuknya
kompleks antigen-antibodi larut atau dengan ikatan antibodi dan antigen pada
sasaran yang cocok, seperti sel bakteri. Pengaktivan komplemen ini dimulai oleh
kompleks protein utama yaitu C1-C9. Selama aktivasi, protein-protein tersebut
diaktifkan secara berurutan. Kemudian, produk yang dihasilkan menjadi
katalisator dalam reaksi berikutnya.
Permukaan patogen tidak memiliki inhibitor komplemen. Setiap sel yang
tidak dilindungi oleh inhibitor komplemen akan diserang oleh komplemen.
Aktivasi komplemen yang berlebihan tidak diinginkan oleh karena menimbulkan
inflamasi dan kematian sel yang luas. Untuk mencegah hal tersebut dibutuhkan
inhibitor komplemen.
2.1.3 Aktivasi Komplemen Jalur Alternatif
Aktivasi jalur alternatif memproduksi produk aktif seperti halnya dengan
jalur klasik, tetapi untuk awal reaksi tidak diperlukan kompleks antigen-antibodi.
Aktivasi jalur alternatif dimulai dengan C3 yang merupakan molekul tidak stabil
dan terus menerus ada dalam aktivasi spontan derajat rendah dan klinis yang tidak
berarti. Aktivasi spontan C3 diduga terjadi pada permukaan sel, meskipun sel
normal mengekspresikan inhibitor permukaan yang mencegah aktivasi C3.

2.2 Reseptor Komplemen


Aktivasi komplemen jalur alternatif dan klasik menghasilkan beberapa
fragmen komplemen yang diikat oleh reseptornya yang ditemukan pada berbagai
jenis sel. Berikut ini adalah contoh beberapa reseptor komplemen beserta efek
biologisnya.

2.3 Fungsi Biologis Komplemen


2.3.1 Inflamasi
Tubuh mengerahkan elemen-elemen sistem imun ke tempat benda asing dan
mikroorganisme yang masuk tubuh atau jaringan yang rusak sebagai langkah awal
untuk menghancurkan benda asing serta membersihkan jaringan yang rusak
Fagositosis merupakan komponen penting pada inflamasi. Ada 3 proses
pada inflamasi yaitu:
1. Peningkatan pasokan darah ke tempat benda asing atau jaringan
yang rusak.
2. Peningkatan permeablilitas kapiler yang ditimbulkan
oleh
pengerutan sel endotel yang memungkinkan molekul yang lebih besar
seperti antibodi.

3. Fagosit bergerak ke luar pembuluh darah menuju tempat benda


asing (diapedesisi).
selanjutnya leukosit terutama fagosit
polimorfonuklear dan monosit dikerahkan dari sirkulasi ke tempat asing

2.3.2 Pengerahan Sel- kemokin


Kemokin adalah molekul yang dapat menarik dan mengerahkan sel-sel
fagosit. C3a, C5a, C5-6-7 merupakan kemokin yang mengerahkan sel-sel fagosit
baik mononuclear serta polimorfonuklear ke tempat infeksi.
C5a adalah kemoatraktan untuk neutrofil yang juga merupakan
anafilatoksin. Makrofag yang diaktifkan melepas berbagai mediator yang ikut
berperan dalam reaksi inflamasi.
2.3.3 Fagositosis-Opsonin
Opsonin adalah molekul yang dapat diikat di satu pihak oleh kuman dan di
lain pihak oleh reseptornya pada fagosit sehingga memudahkan fagositosis
bakteri.
C3 dan C4b mempunyai sifat opsonin, C3 yang sering diaktifkan pada
aktivasi komplemen merupakan sumber opsonin utama (C3b).

Fungsi biologis komplemen:


Sitolisis direk, opsonisasi, aktivasi dan migrasi direk
pembersihan kompleks imun, dan peningkatan respons imun humoral.

leukosit,

Pada aktivasi jalur alternative dan klasik dilepas berbagai fragmen


komplemen yang ikut berperan dalam pertahanan imun. Selain pelepasan fragmen
proteolitik, aktivasi komplemen pada kedua jalur dapat menimbulkan lisis (MAC)
di permukaan sel bakteri.
Molekul C3b dalam bentuk inaktif (iC3b) juga berperan sebagai opsonin
dalam fagositosis karena fagosit memiliki reseptor iC3b.
IgG berfungsi sebagai opsonin bila berikatan dengan Fc pada permukaan
fagosit. Fagosit tidak memiliki reseptor Fc untuk IgM, opsonisasi yang dibantu
komplemen merupakan hal penting selama terjadi respons antibodi primer yang
didominasi IgM yang menjadi aktivator komplemen poten.

2.3.4 Adherens Imun


C3b berfungsi sebagai adherens imun yaitu peristiwa dari partikel antigen
yang melekat pada berbagai permukaan lalu dilapisi antibodi dan mengaktifkan
komplemen. Akibatnya antigen akan difagositosis
2.3.5 Eliminasi Kompleks Imun
C3a/ic3b dapat diendapkan di permukaan kompleks imu dan merangsang
eliminasi kompleks imun. Sel darah merah dan neutrofil memiliki CR1-R dan
mengikat C3b & iC3b. sel darah merah mengangkut kompleks imun yang
diikatnya ke organ yang mengandung banyak fagosit residen seperti hati dan
limpa. Lewat reseptor komplemen dan Fc, fagosit residen menghancurkan
kompleks dari sel darah merah, pada proses ini sel darah merah tidak dirusak.
Neutrofil dapat menyingkirkan kompleks imun kecil dalam sirkulasi. Jika
antigen yang diikat antibodi tidak larut dalam darah dan tidak disingkirkan akan
memacu inflamasi dan penyakit kompleks imun.
2.3.6 Lisis Osmosis Bakteri
Aktivasi C3 akan mengaktifkan bagian akhir komponen komplemen C5C9. Aktivasi komplemen pada permukaan sel bakteri akan membentuk MAC.
Akhirnya menimbulkan lisis osmotic sel.
C5 dan C6 memiliki aktivitas enzim yang memungkinkan C7-C9
memasuki membran plasma dari sasaran. Molekul C9 akan menimbulkan lubanglunang kecil di membran plasma dan mematikan sel. MAC dapat langsung
menyerang pathogen.

2.3.7 Neutralisasi Infeksi Virus


Komplemen berperan dalam neutralisasi virus melalui berbagai
mekanisme. Sebagian neutralisasi diperoleh melalui pembentukan agregat virus
yang besar. Agregat itu dapat menurunkan jumlah akhir virus. Antibody memang
berperan dalam agregat virus namun c3b juga mempermudah pembentukan
agregat.
Ikatan antibodi dan atau komplemen dengan permukaan virus akan
membentuk protein tebal melapisi virus, dapat terlihat pada pemeriksaan
mikroskop elektron. Hal ini mencegah virus menempel dengan sel pejamu yg
rentan.
Endapan antibodi komplemen di virus memudahkan virus diikat sel yang
memiliki Fc/ reseptor CR1. Pada fagosit ikatan tersebut dapat diikuti fagositosis
dan perusakan intraselular dari virus dalam sel. Akhirnya komplemen eFcktif
melisiskan seluruh/ sebagian virus yang terbungkus ,meninggalkan fragmen
envelop, dan disintegrasi dari nukleokapsid.
2.3.8 Aktivitas Sitolik ADCC
Eosinofil dan sel polimorfonuklear memiliki reseptor untuk C3b dan IgG
sehingga C3b dapat meningkatkan sitotoksisitas sel eFcktor ADCC yang kerjanya
bergantung pada IgG. Sel darah merah yang diikat C3b dapat dihancurkan lewat
kerusakan kontak, merusak membran dengan membentuk saluran-saluran dalam
membran sel yang menimbulkan lisis osmotic.
2.3.9 Imunitas Spesifik dan Non Spesifik
Makrofag / neutrofil dapat diaktifkan oleh C5a secara langsung dengan
bantuan C3b sebagai opsoni. Makrofag yang diaktifkan melepas berbagai
mediator larut seperti IL-1, TNF yang meningkatkan respons inflamasi, ekspresi
molekul adhesi untuk neutrofil di permukaan sel endotel, permeabilitas,
kemotaksis, dan aktivitas sel PMN sendiri. Komplemen berperan dalam imunitas
spesifik karena aktivasi makrofag meningkatkan jumlah APC yang
mempresentasikan antigen ke sel T.

2.4 Regulator Inhibitor Komplemen


Aktivasi komplemen dikontrol melalui tiga mekanisme utama, yaitu 1).
komponen komplemen yang sudah diaktifkan biasanya ada dalam bentuk yang
tidak stabil sehingga bila tidak berikatan dengan komplemen berikutnya akan
rusak, 2) adanya beberapa inhibitor yang spesifik misalnya C1 esterase inhibitor,
faktor I dan faktor H, 3) pada permukaan membran sel terdapat protein yang dapat
merusak fragmen komplemen yang melekat.
2.4.1. Regulasi jalur klasik
Regulasi jalur klasik terutama terjadi melalui 2 fase, yaitu melalui
aktivitas C1 inhibitor dan penghambatan C3 konvertase.
1.

Aktivitas C1 inhibitor Aktivitas proteolitik C1 dihambat oleh C1 inhibitor


(C1 INH). Sebagian besar C1 dalam peredaran darah terikat pada C1 INH.
Ikatan antara C1 dengan kompleks antigen-antibodi akan melepaskan C1
dari hambatan C1 INH.

2. Penghambatan C3 konvertase

Pembentukan C3 konvertase dihambat oleh beberapa regulator.

C4 binding protein (C4bp) dan reseptor komplemen tipe 1 (CR1)


dapat berikatan dengan C4b sehingga mencegah terbentuknya C4b2b
(C3 konvertase). Disamping itu kedua reseptor ini bersama dengan
membrane cofaktor protein (MCP) juga dapat meningkatkan potensi
faktor I dalam merusak C4b.

Decay accelerating faktor (DAF) dapat berikatan dengan C4b


sehingga mencegah terbentulmya C4b2b.

2.4.2. Regulasi jalur alternatif


Jalur altematif juga di regulasi pada berbagai fase oleh beberapa
protein dalam sirkulasi maupun yang terdapat pada permukaan membran.
Faktor H berkompetisi dengan faktor B dan Bb untuk berikatan
dengan C3b. Juga CR1 dan DAF dapat berikatan dengan C3b sehingga
berkompetisi dengan faktor B. Dengan adanya hambatan ini maka
pembentukan C3 konvertase juga dapat dihambat. Faktor I, menghambat
pembentukan C3bBb; dalam fungsinya ini faktor I dibantu oleh kofaktor
H, CR1 dan MCP. Faktor I memecah C3b dan yang tertinggal melekat
pada permukaan sel adalah inaktif C3b (iC3b), yang tidak dapat
membentuk C3 konvertase, selanjutnya iC3b dipecah menjadi C3dg dan
terakhir menjadi C3d.

2.5 Defisiensi
2.5.1. Defisisansi
Penyakit pada manusia yang berkaitan dengan sistem komplemen
dapat terjadi oleh karena dua keadaan. Pertama adalah adanya defisiensi dari
salah satu protein komplemen atau protein regulator. Kedua, suatu sistem
komplemen yang normal diaktifkan oleh stimulus yang tidak normal seperti
mikroorganisme yang persisten atau suatu reaksi autoimun.
2.5.2. Defisiensi Komplemen
Berhubungan dengan peningkatan insiden infeksi atau penyakit
autoimun Lupus Eritematosis Sistemik (LES). Defisiensi komplemen dapat
menimbulkan berbagai akibat seperti infeksi bakteri yang rekuren,
peningkatan sensitivitas terhadap penyakit autoimun. Kebanyakan defisiensi
komplemen adalah herediter.

2.5.2.1. DEFISIENSI KOMPLEMEN KONGENITAL


Biasanya mengakibatkan infeksi yang berulang atau penyakit
kompleks imun seperti LES.
1. Defisiensi inhibitor esterase C1 (C1 INH deficiency)
Angioedem herediter: edem lokal sementarat seringkali
Menimbulkan aktivitas C1 tidak dapat dikontrol dan produksi
kinin yg meningkatkan permeabilitas kapiler.
C2a dan C4a juga dilepas yg merangsang sel mast melepas
histamin di daerah dekat trauma yang berperan pada edem
lokal.
Kulit, saluran cerna, dan saluran nafas dapat terkena sehingga
menimbulkan edem laring yg fatal.
2. Defisiensi C2 dan C4
Penyakit serupa LES, disebabkan kegagalan eliminasi kompleks
imun yg komplemen dependen.
3. Defisiensi C3
Reaksi berat yg fatal terutama yg berhubungan dgn infeksi
piogenik seperti streptokok dan stafilokok.
4. Defisiensi C5
Kerentanan terhadap infeksi bakteri yang berhubungan dengan
gangguan kemotaksis.
5. Defisiensi C6, C7, C8
Kerentanan terhadap septikemi meningokok dan gonokok.
infeksi neseria, sepsis, artritis dan DIC.

2.5.2.2. DEFISIENSI KOMPLEMEN FISIOLOGIK


Defisiensi Ck, C7, dan C8 menimbulkan peningkatan kerentanan
terhadap septikemi meningokok dan gonokok oleh karena lisis melalui

jalur komplemen merupakan mekanisme kontrol utama. Defisiensi


komplemen fisiogenik hanya ditemukan pada neonatus yang disebabkan
karena kadar C3, C5, dan faktor B yang masih rendah.

2.5.2.3. DEFISIENSI KOMPLEMEN DIDAPAT


Disebabkan oleh depresi sintesis, misalnya pada sirosis hati dan
malnutrisi protein/kalori. Disebabkan oleh depresi sintesis.
Misalnya pada sirosis hati dan malnutris protein / kalori
Meningkat resiko infeksi salmonela dan pneumokok
i. Defisiensi Clqrs
Terjadi bersamaan dgn penyakit autoimun (LES).
Sangat rentan thd infeksi bakteriii. Defisiensi C4.
Ditemukan pd beberapa penderita LESiii. Defisiensi C2.
Paling sering terjadi.
Terdapat pada penderita LES.
ii. Defisiensi C3
Infeksi bakteri rekuren.
Pada beberapa penderita disertai dengan glomerulonefritik kronik.
iii. Defisiensi C5-8
Kerentanan yg meningkat terhadap infeksi terutama Nesseria sp.
iv. Defisiensi C9
Sangat jarang.
Tidak menunjukkan infeksi rekuren, mungkin karena lisis masih
dapat terjadi walau pengaruh C8 tanpa C9 meskipun perlahan-lahan.

Bab III
Penutup

Daftar Pustaka

Baratawidjaja, K. G. & Iris Rengganis. 2010. Imunologi Dasar. Jakarta:


Balai Penebrit FKUI.
Brown E. J., Joiner K. A., Frank M. M.. Complement. In Fundamental
Immunology. 3rd edition. New York: Raven Press.
Brunner, Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8. Jakarta:
EGC.
Children, Indonesian. 2009. Sistem Komplemen . Available online at:
http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/04/24/sistemkomplemen/ [diakses tanggal 8 Maret 2012].