Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah suatu organisasi kesehatan

fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga


membina peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara
menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk
kegiatan pokok1. Menurut PMK (Peraturan Menteri Kesehatan) no. 75 tahun
2014, Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah
fasilitas

pelayanan

kesehatan

yang

menyelenggarakan

upaya

kesehatan

masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih


mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya5.
Pelayanan kesehatan yang diberikan puskesmas merupakan pelayanan yang
menyeluruh

yang

meliputi

pelayanan

kuratif

(pengobatan),

preventif

(pencegahan), promotif (peningkatan kesehatan) dan rehabilitatif (pemulihan


kesehatan). Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk dengan tidak
membedakan jenis kelamin dan golongan umur, sejak dari pembuahan dalam
kandungan sampai tutup usia1, 5.
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah
tercapainya kecamatan sehat. Kecamatan sehat mencakup 4 indikator utama, yaitu
lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu dan
derajat kesehatan penduduk. Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan
Puskesmas adalah dengan mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan
nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri dalam hidup sehat.Untuk

mencapai

visi

tersebut,

Puskesmas

menyelenggarakan

upaya

kesehatan

perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, Puskesmas perlu ditunjang dengan


pelayanan kefarmasian yang bermutu2.
Obat merupakan salah satu komponen yang tak tergantikan dalam
pelayanan kesehatan. Obat adalah bahan atau paduan bahan-bahan yang
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan
patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi termasuk produk biologi3.
Pelayanan kefarmasian meliputi pengelolaan sumber daya (Sumber Daya
Manusia (SDM), sarana prasarana, sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan serta
administrasi) dan pelayanan farmasi klinik (penerimaan resep, peracikan obat,
penyerahan obat, informasi obat dan pencatatan/penyimpanan resep) dengan
memanfaatkan tenaga, dana, sarana,prasarana, dan metode tatalaksana yang sesuai
dalam upaya mencapai tujuan yang ditetapkan4.
Dalam upaya mendukung pelayanan kefarmasian di Puskesmas diperlukan
prasarana dan sarana yang memadai disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing Puskesmas dengan memperhatikan luas cakupan, ketersediaan ruang rawat
inap, jumlah karyawan, angka kunjungan dan kepuasan pasien.Prasarana adalah
tempat, fasilitas dan peralatan yang secara tidak langsung mendukung pelayanan
kefarmasian, sedangkan sarana adalah suatu tempat, fasilitas dan peralatan yang
secara langsung terkait dengan pelayanan kefarmasian4.
Obat dan perbekalan kesehatan merupakan salah satu subsistem dari
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2004 yang bertujuan agar tersedia obat
dan perbekalan kesehatan yang aman, bermutu, bermanfaat serta terjangkau oleh
masyarakat untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna
meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Perbekalan kesehatan

adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk
menyelenggarakan kesehatan2.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal bagi masyarakat. Konsep kesatuan upaya kesehatan (promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitatif) menjadi pedoman dan pegangan bagi semua fasilitas
kesehatan termasuk Puskesmas yang merupakan unit pelaksana kesehatan tingkat
pertama (primary health care). Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah
pelayanan yang bersifat pokok (basic health services) yang sangat dibutuhkan
oleh sebagian besar masyarakat termasuk didalamnya pelayanan kefarmasian
di Puskesmas4.
Dengan bergesernya paradigma kefarmasian yang semula hanya berfokus
pada pengelolaan obat menjadi pelayanan yang komprehensif, maka diharapkan
dengan tersusunnya laporan Manajemen Obat dan Alat Kesehatan di Puskesmas
Peterongan ini akan terjadi peningkatan mutu pelayanan kefarmasian yang
bermutu kepada masyarakat agar tercapai penggunaan obat yang rasional4.

1.2

Tujuan

1.3
1.3.1

Tujuan Umun

1.3.2
a) Mengetahui struktur organisasi obat dan alkes, serta pembagian tugas tiap-tiap
bagian di Puskesmas Peterongan.

b) Mengetahui perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan di Puskesmas


Peterongan.
c) Mengetahui tentang pengadaan obat dan alat kesehatan di Puskesmas
Peterongan.
d) Mengetahui tentang penyimpanan obat dan alat kesehatan di Puskesmas
Peterongan.
e) Mengetahui tentang pemantauan obat dan alat kesehatan di Puskesmas
Peterongan.
f) Mengetahui tentang mekanisme pemeliharaan dan perbaikan alat kesehatan di
Puskesmas Peterongan.
g) Mengetahui tentang form-form yang dipergunakan di apotek Puskesmas
Peterongan.
h) Mengetahui tentang obat-obatan yang tersedia di apotek Puskesmas
Peterongan.
1.4

Manfaat

a. Bagi Dokter Muda


Memperluas wawasan Dokter Muda mengenai manajemen obat dan alat
kesehatan dan mampu menjalankan pelayanan kesehatan untuk masyarakat
dengan menggunakan sumberdaya yang tersedia.
b. Bagi Puskesmas Peterongan
Sebagai masukan untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang lebih baik
khususnya di bidang pelayanan obat dan alat kesehatan di Puskesmas Peterongan,
Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.

BAB 2
MANAJEMEN OBAT DAN ALAT KESEHATAN

2.1 Struktur Organisasi Manajemen Obat dan Pembagian Tugasnya


Puskesmas Peterongan memiliki kamar obat dimana terdapat tim yang
menangani manajemen obat dan alat kesehatan yang terdiri atas kepala Puskesmas
sebagai penanggung jawab, apoteker pengelola, dan pengelola obat unit layanan

Kepala Puskesmas

Apoteker Penanggung Jawab


Gudang Obat Puskesmas

AA
Kamar Obat

POLINDES

AA
UGD &
Rawat Inap

Penanggung
Jawab Obat
Pustu

Penanggung
Jawab Obat
Pustu

Penanggung
Jawab Obat
Ponkesdes

Sumber: Protap ISO 2012

Bagan 2.1
Struktur Organisasi Manajemen Obat di Puskesmas Peterongan

Pada Puskesmas Peterongan, gudang obat menjadi pusat kegiatan


manajemen obat dan Bahan Medis Habis Pakai, pendistribusian dilakukan ke
seluruh sub unit puskesmas yaitu kamar obat, puskesmas pembantu, polindes,
UGD, laboratorium, Poli Gigi dan Balai Pengobatan (BP) pada jenis-jenis
tertentu, utamanya untuk obat dan alat kesehatan yang dibutuhkan segera. Pasien
yang telah mendapat pelayanan dari BP, Poli Gigi, KIA dan UGD akan
mendapatkan resep obat yang dapat diambil di kamar obat. Berikut adalah alur
distribusi obat dan alat kesehatan dari Gudang Farmasi Kabupaten (GFK) di
puskesmas Peterongan.
Gudang Farmasi Kabupaten

Gudang Obat Puskesmas

PUSTU

UGD

Kamar Obat
Puskesmas Induk

Ponkesdes

BP, Poli Gigi,


Laboratorium,
Sumber: Protap ISO 2012

Bagan 2.2
Alur Distribusi Obat di PuskesmasPeterongan

Obat yang telah diterima dari GFK masuk ke gudang obat puskesmas
induk. Setelah diperiksa oleh penanggungjawab obat puskesmas, lalu dilakukan
penyimpanan dan pencatatan. Obat-obatan tersebut

didistribusikan ke kamar

obat, unit-unit seperti poli gigi, UGD, KIA, laboratorium, rawat inap dan pustupustu sesuai dengan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO).
Dengan LPLPO, sub unit puskesmas melaporkan penggunaan obatnya pada bulan
tersebut sekaligus juga melakukan permintaan dengan mempertimbangkan jumlah
penggunaan bulan sebelumnya, kenaikan kunjungan, dan buffer stock untuk
memenuhi kebutuhan 1 bulan ke depan.

2.2 Perencanaan Kebutuhan Obat dan Alat Kesehatan


Perencanaan obat adalah kegiatan seleksi obat untuk menentukan jenis
dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan puskesmas. Tujuan
perencanaan antara lain:
a. Mendapat perkiraan jenis dan jumlah obat yang mendekati kebutuhan
b. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional
c. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat6
Perencanaan obat dilakukan dengan menghitung jumlah pemakaian obat
selama 1 bulan dikali 3 dikurangi stok akhir, seperti pada rumus berikut:
Kebutuhan = pemakaian bulan lalu x 3 stok akhir

Dasar yang digunakan untuk merencanakan permintaan obat dan alat


kesehatan di Puskesmas Peterongan:
Data pemakaian obat periode (bulan) sebelumnya
Data kunjungan resep
Data penyakit
7

Daftar distribusi obat yang ditentukan oleh GFK (per 2 bulan)


Untuk alat-alat kesehatan, perencanaan dimulai dari diterimanya usulan
barang yang dibutuhkan dari poli/unit pelayanan oleh pihak petugas bendahara
barang. Petugas lalu membuat rekap macam-macam alat kesehatan sesuai dengan
jenis, jumlah, dan kebutuhan. Usulan tersebut kemudian diteruskan kepada kepala
puskesmas untuk disetujui ataukah tidak.

2.3 Pengadaan Obat dan Alat Kesehatan


Permintaan dan pengadaan dimaksudkan agar obat tersedia dalam jenis
dan jumlah yang tepat. Pengadaan meliputi kegiatan permintaan kepada
kota/kabupaten melalui mekanisme Lembar Pemakaian dan Lembar Permintaan
Obat (LPLPO). Permintaan dan pengadaan obat di Puskesmas merupakan bagian
dari tugas distribusi obat oleh Gudang Farmasi Kota (GFK), sehingga
ketersediaan obat di puskesmas sangat tergantung dari kemampuan GFK dalam
melakukan distribusi berdasarkan laporan pemakaian dan permintaan obat di
seluruh puskesmas.
Pengadaan atau permintaan obat di puskesmas Peterongan dilakukan untuk
memperoleh jenis dan jumlah obat yang tepat dengan mutu yang tinggi, sehingga
menjamin tersedianya obat dengan cepat dan tepat waktu. Oleh karena itu
pengadaan atau permintaan obat harus memperhatikan dan mempertimbangkan
bahwa obat yang diminta atau diadakan sesuai dengan jenis dan jumlah obat yang
telah direncanakan. Pengadaan atau permintaan obat di puskesmas, dilakukan
dengan mengajukan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO)
setiap bulan dengan daftar distribusi obat dari GFK tiap 2 bulan sekali. Pengadaan
obat swadana dapat dilakukan jika terjadi kekosongan di GFK. Pengadaan
8

dilakukan oleh pengelola obat dengan persetujuan dari kepala Puskesmas dengan
mempertimbangkan urgensinya.

Gudang Farmasi
Kabupaten
Penerimaan, Pencatatan, Penyimpanan

Pelaporan,Permintaan
Gudang
ObatPuskesmas
Pelaporan,Permintaan

Penerimaan, Pencatatan, Penyimpanan

PUSTU

Kamar obat
Puskesmas
Induk

UGD

Sumber: Protap ISO 2012

Ponkesdes

Bagan 2.3
Alur Distribusi Pengadaan Obat Di Puskesmas Peterongan
Pelaporan,Permintaan

Poli gigi, KIA, Laborat, Posyandu

Untuk alat kesehatan, pengadaan dilakukan setelah usulan permintaan barang

yang dibutuhkan dari poli/unit pelayanan disetujui kepala puskesmas. Setelah


disetujui, kepala puskesmas akan mengeluarkan disposisi kepada petugas
bendahara barang untuk melakukan permintaan/pembelian alat-alat kesehatan
tersebut. Permintaan ditujukan kepada gudang Dinas Kesehatan (Dinkes)
sedangkan pembelian ditujukan kepada suplayer luar apabila peralatan tidak
tersedia di gudang Dinkes. Namun, sebelum meminta/membeli petugas harus
berkoordinasi terlebih dahulu dengan

bendahara keuangan dan koordinator

poli/unit layanan terkait.


2.4 Penyimpanan Obat dan Alat Kesehatan

Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan
pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari
kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan
yang ditetapkan. Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di puskesmas dapat
dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan 6.

Di puskesmas Peterongan, setelah obat diterima dari GFK dengan jenis


dan jumlah yang sesuai dengan yang ditulis pada SBBM, maka setiap jenis obat
harus segera dicatat dalam kartu persediaan obat di Puskesmas (kartu stok).
Selanjutnya semua obat tersebut dilakukan kegiatan penyimpanan obat yaitu
disimpan di ruangan khusus (gudang obat), yang disusun di rak berdasarkan
bentuk sediaan, dan disusun secara alfabetis.
Obat di gudang obat disimpan di rak, obat bentuk sirup dalam botol
diletakkan di atas pallet. Obat di kamar obat, disimpan di lemari kaca. Obatobatan narkotika dan psikotropika disimpan di lemari kayu yang terkunci. Gudang
obat puskesmas dalam keadaan terkunci.
Obat yang disusun di dalam rak atau lemari dilakukan dengan sistem
FEFO (First Expired First Out), dimana obat yang lebih awal kadaluwarsanya
harus dikeluarkan lebih dahulu dari obat yang kadaluwarsanya kemudian. Untuk
obat yang mempunyai batas kedaluwarsanya lebih dekat, diletakkan di depan,
sedangkan yang kedaluwarsanya masih jauh diletakkan di belakang.
Khusus untuk obat-obatan narkotika dan psikotropika disimpan di sebuah
lemari kayu dengan kunci tersendiri, sedangkan obat lain yang perlu suhu dingin
diletakkan dalam lemari pendingin.
Khusus untuk vaksin harus disimpan di lemari pendingin.Vaksin disimpan
di dalam lemari pendingin untuk menjaga agar vaksin tetap terjaga kualitasnya.

10

Puskesmas Peterongan memiliki 2 lemari pendingin, 1 buah di UGD dan 1 buah


di ruang imunisasi.
Untuk penyimpanan alat-alat kesehatan, puskesmas Peterongan memiliki
gudang khusus barang. Sebelum disimpan, barang yang mudah pecah/rusak
dipisahkan, tidak dijadikan satu dengan bahan yang lainnya

2.5 Pemantauan Obat dan Alat Kesehatan


Pemantauan obat meliputi pencatatan dan pelaporan data obat dan data
kesakitan. Hal ini bertujuan agar menjamin tersedianya informasi untuk
pengendalian persediaan, perencanaan, pengadaan, perencanaan distribusi baik di
Puskesmas maupun di GFK, sehingga dapat dipenuhi jumlah, jenis dan ketepatan
waktu penyediaan obat di puskesmas serta unit pelayanan kesehatan lainnya untuk
lebih meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Untuk melakukan pencatatan dan pelaporan data, puskesmas menyediakan
buku khusus untuk mencatat keluar masuk obat dan alat kesehatan. Untuk obatobatan disimpan terlebih dahulu di gudang obat (kecuali obat untuk imunisasi
disimpan di lemari pendingin di ruangan imunisasi), sedangkan untuk alat
kesehatan disimpan sementara di gudang barang puskesmas kemudian
didistribusikan pada tiap-tiap unit yang memerlukan.
Mekanisme keluar masuknya obat berdasarkan prinsip FEFO Frist
Expired-First Out yaitu berdasarkan tanggal kadaluwarsa. Obat yang baru
datang,

disimpan

dalam

gudang

dan

diletakkan

berdasarkan

tanggal

kadaluwarsanya. Untuk mencocokkan dengan buku keluar masuk, maka masingmasing obat diberikan kartu data keluar-masuk (checklist). Pencatatan obat pada
kartu stok dilakukan setiap kali ada obat yang masuk maupun keluar di gudang.

11

Untuk obat-obat yang telah kadaluwarsa dicatat dalam bentuk berita acara yang
kemudian dikembalikan ke gudang farmasi untuk dilakukan pemusnahan.
Di Puskesmas Peterongan, pemantauan dan manajemen obat dan alat
kesehatan mempunyai masing-masing tim yang bertanggung jawab. Pemantauan
obat dilakukan sebulan sekali, sedangkan alat kesehatan dilakukan 6 bulan sekali.
Pemantauan obat mencakup laporan dari masing-masing unit kerja (kamar obat,
pustu, UGD, ponkesdes). Kemudian pada masing-masing periode pelaporan
diserahkan kepada pengelola obat, kemudian diketahui oleh kepala puskesmas
sebagai penanggung jawab untuk dipantau lebih lanjut. Pemantauan alat-alat
kesehatan dilakukan petugas pengelola barang dengan membuat daftar inventaris
alat-alat yang dimiliki tiap poli/unit. Setiap 6 bulan sekali petugas keadaan sarana
dan prasarana puskesmas (termasuk alat kesehatan) kepada kepala Dinkes dengan
sepengetahuan kepala puskesmas.

PUSTU
POSYANDU

Rawat Inap &


UGD

Kamar obat
Puskesmas
Induk

Ponkesdes

Gudang Obat Puskesmas

Sumber: Protap ISO 2012

Kepala Puskesmas

Bagan 2.4
Alur Pemantauan Obat di PuskesmasPeterongan
DINKES

2.6 Mekanisme Pemeliharaan dan Perbaikan Alat Kesehatan


Tanggung jawab pemeliharaan alat kesehatan dilakukan oleh masingmasing ruangan (BP, KIA, rawat inap, laboratorium, poli gigi). Bila ada kerusakan

12

pada alat kesehatan, laporan ditujukan pada kepala puskesmas, melalui petugas
bendahara barang.
Sistem pemeliharaan alat kesehatan di Puskesmas Peterongan bersifat aktif
atau pasif. Aktif pada pemeliharaan oleh masing-masing unit kerja atau unit
kesehatan lainnya di luar Puskesmas (posyandu, pustu, dll), biasanya kerusakan
bersifat ringan. Sedangkan pasif dilakukan pada saat terdapat pelaporan kerusakan
dari masing-masing unit kerja dan unit kesehatan lainnya (pustu, polindes) kepada
kepala Puskesmas dan biasaya kerusakannya berat. Pelaporan alat kesehatan
diberikan kepada kepala puskesmas sebagai penanggungjawab alat kesehatan.
Apabila terdapat alat ukur yang tidak sesuai, petugas akan melaporkan kepada
kepala puskesmas. Kepala puskesmas yang kemudian akan membuat usulan
perencanaan kalibrasi ke Dinkes.
2.7 Form-Form yang Dipergunakan
a.

Kartu Stok Gudang Obat Puskesmas


Dipergunakan untuk mencatat mutasi obat (penerimaan dan pengeluaran)
dan harus berada di gudang obat Puskesmas.Fungsinya dari kartu stok
gudang puskesmas adalah :
Untuk mencatat mutasi obat (penerimaan dan pengeluaran).
Data pada kartu stok digunakan untuk menyusun laporan pemakaian
obat dengan format Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat
(LPLPO/LB2) dan sebagai data pembanding terhadap keadaan fisik
obat dalam tempat penyimpanan.
Form ini mencatat tanggal transaksi, pihak pemberi (gudang farmasi obat)
atau penerima obat (Polindes/Pustu/Apotek), jumlah obat yang diterima
dari pihak pemberi dan jumlah obat yang dikeluarkan untuk pihak
penerima obat, sisa stok obat pada gudang puskesmas, tanggal kadaluarsa.
Manfaat :
Untuk pengisian LPLPO
Menentukan jenis dan jumlah permintaan obat
13

Mengawasi neraca pemasukan dan pengeluaran obat.


Di puskesmas Peterongan, kartu stok gudang obat puskesmas

sudah digunakan sesuai dengan fungsinya dan sudah dicatat dengan baik
oleh petugas gudang.

Sumber: Dokumentasi pribadi dari Puskesmas Peterongan 2015

Gambar 2.3
Kartu Stok Gudang Obat Puskesmas

b. Buku Register Harian Obat


Buku digunakan hanya untuk mencatat tanggal dan jumlah obat yang keluar
atau masuk serta sisa obat, mengontrol penggunaan dan pendistribusian
obat,memantau keseimbangan antara stock obat yang tersisa dengan obat yang
keluar. Di puskesmas Peterongan, buku register harian obat puskesmas sudah
digunakan sesuai fungsinya dan sudah dicatat baik oleh petugas kamar obat.

Sumber: Dokumentasi pribadi dari Puskesmas Peterongan 2015

Gambar 2.4
Lembar Register Harian Obat

14

c. Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat Dinas Kesehatan


Untuk mencatat stok awal jumlah penerimaan, pemakaian, stok awal dan sisa
stok obat dan alat kesehatan habis pakai. Pencatatannya dilakukan setiap bulan
oleh pengelola obat. Manfaat LPLPO antara lain dapat mengetahui
penggunaan serta stok obat dan alat kesehatan, sebagai sarana pengadaan obat
danmengusulkan permintaan obat ke gudang farmasi kabupaten.

Sumber: Dokumentasi pribadi dari Puskesmas Peterongan 2015

Gambar 2.5
Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat

d. Daftar Inventaris Peralatan Kesehatan Puskesmas


Digunakan untuk mencatat jumlah alat kesehatan pada masing-masing unit
(ruangan-ruangan di puskesmas, pustu, polindes), keadaan alat kesehatan,
kebutuhan, pengadaan sendiri, permintaan serta penerimaan alat kesehatan.
Pencatatan pada form ini dilakukan setiap tahun.

15

Gambar 2.6
Daftar Inventaris Peralatan Kesehatan Puskesmas Peterongan

2.8 Daftar Nama Obat yang Tersedia di Apotek Puskesmas Peterongan

16

Sumber: Dokumentasi pribadi dari Puskesmas Peterongan 2015

Gambar 2.7
Daftar Nama Obat

17

BAB 3
PEMBAHASAN

Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) nomor 30 tahun 2014 tentang standar


pelayanan

kefarmasian

di

puskesmas

pasal

menyebutkan

bahwa

penyelenggaraan standar pelayanan kefarmasian di puskesmas harus didukung


oleh ketersediaan sumber daya kefarmasian, pengorganisasian yang berorientasi
kepada keselamatan pasien, dan standar prosedur operasional sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan. Pengorganisasian dalam pelayanan kefarmasian
harus menggambarkan uraian tugas, fungsi, dan tanggung jawab serta hubungan
koordinasi di dalam maupun di luar pelayanan kefarmasian yang ditetapkan oleh
pimpinan Puskesmas.
Dalam menjalaknan pelayanan kefarmasian uskesmas peterongan Jombang
sudah sesuai dengan PMK nomor 30 tahun 2014 tentang standar pelayanan
kefarmasian di puskesmas. Puskesmas Peterongan Jombang memiliki dan
mengikuti standar prosedur dalam pelayanan kefarmasian yang tersusun dalam
prosedur tetap pengelolaan obat dan BMHP (Bahan Medis Habis Pakai) di UPTD
puskesmas yang disahkan dan dibina oleh kepala dinas kesehatan sesuai pasal 8
ayat 1 yaitu pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Menteri
ini dilakukan oleh Menteri, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, dan Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
Pelayanan kefarmasian puskesmas Peterongan Jombang dilaksanakan oleh
apoteker dan asisten apoteker. Hal ini sesuai dengan pedoman pelayanan
kefarmasian Departemen Kesehatan (Depkes) Republik Indonesia (RI) tahun 2006

18

dan PMK nomor 30 tahun 2014 pasal 1 ayat 6 yang mengatakan bahwa sumber
daya manusia untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Puskesmas adalah
apoteker. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan
telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker6. Sedangkan asisten apoteker
hendaknya dapat membantu pekerjaan apoteker dalam melaksanakan pelayanan
kefarmasian tersebut4.
Di puskesmas Peterongan Jombang terdapat kekurangan SDM yaitu tenaga
apoteker hanya satu orang. Berdasarkan PKM nomor 30 tahun 2014 tentang
standar pelayanan kefarmasian di puskesmas idealnya satu tenaga apoteker
melayani 50 pasien per hari sedangkan dalam sehari jumlah kunjungan pasien di
puskesmas Peterongan bisa lebih dari 100 pasien.
Menurut PMK nomor 30 tahun 2014 tujuan permintaan Obat dan Bahan Medis
Habis Pakai adalah memenuhi kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di
Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan
diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat.

Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan
pengaturan terhadap Obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari
kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan.
Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di puskesmas dapat
dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Penyimpanan Obat dan
Bahan Medis Habis Pakai dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. bentuk dan jenis sediaan;
b. stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban);
c. mudah atau tidaknya meledak/terbakar; dan

19

d. narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus6

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN

1.1

Kesimpulan
Pengadaan obat di PuskesmasPeterongan berasal dari 2 macam yaitu obat
yang berasal dari pemerintah (DINKES) dan obat yang diadakan sendiri
oleh Puskesmas (SWADANA).
20

Penyimpanan obat di PuskesmasPeterongansudah sesuai dengan syarat


penyimpanan yang sesuai standart antara lain: penyusunan obat
berdasarkan alfabet dan dengan sistem FEFO.
Di PuskesmasPeterongan,manajemen obat dan alat kesehatan sudah
mempunyai penanggung jawab masing-masing dan kepala Puskesmas
1.2

sebagai penaggung jawab umum.


Saran

4.2.1

Untuk Puskesmas

Meningkatkan kualitas ruang gudang penyimpanan obat :

Tempat diperluasmengingat banyaknya jumlah obat


Kardus-kardus obat disusun secara rapi
Menyesuaikan suhu ruangan dengan berbagai jenis obat-obatan
Obat golongan narkotika dan psikotropika masing-masing disimpan

dalam lemari khusus dan terkunci.


Beberapa cairan mudah terbakar seperti aseton, eter dan alkohol
disimpan dalam lemari yang berventilasi baik, jauh dari bahan yang
mudah terbakar dan peralatan elektronik. Cairan ini disimpan terpisah
dari obat-obatan.

Gudang alat kesehatan juga sebaiknya disusun secara rapi agar obat dan
alat kesehatan tidak mudah rusak dan mudah dicari.
Sebaiknya diadakan penambahan petugas, sehingga pendataan dan
pelaporan menjadi informatif, terpercaya, dan menghindari kesalahan dan
penyalahgunaan.
4.2.2

Untuk Dinas Kesehatan

Pengiriman barang dilakukan rutin setiap tahun dengan ditentukan secara


pasti tanggal dan bulannya.
Memeuhi permintaan obat sesuai jumlah yang dikehendaki Puskesmas.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Effendy, N., 2009, Pengantar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta.

2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2004, Sistem Kesehatan


Nasional, Jakarta.
3. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2006, Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 189/MENKES/SK/III/2006 tentang
Kebijakan Nasional, viewed 10 Februari 2015
4. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen
Kesehatan RI, 2006, Pedoman Pelayanan Kefarmasian Di Puskesmas,
viewed 10 Februari 2015.

22

5. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Peraturan Menteri


Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 tentang Puskesmas, viewed 9
Februari 2015
6. Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2014, Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 30 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas, viewed 10 Februari 2015

23