Anda di halaman 1dari 35

Koasistensi Laboratorium Bakterologi - Mikologi - Virologi

LAPORAN BAKTERIOLOGI dan MIKOLOGI

Program Profesi Dokter Hewan Rotasi Laboratorium


di Laboratorium Bakteriologi dan Mikologi Universitas Airlangga

Oleh:
Awang Yoga Pratama

130130100111002

Bornea Pertiwi Putri

130130100111003

Furqon Adimas Yudistira

130130100111004

Fanny Rufaida

130130100111010

Rendy Ocky Prasetya

130130100111017

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Jamur merupakan organisme bersifat heterotrof, dinding sel spora mengandung kitin,
tidak berplastid, tidak berfotosintesis, tidak bersifat fagotrof, umumnya memiliki hifa yang
berdinding yang dapat berinti banyak (multinukleat), atau berinti tunggal (mononukleat), dan
memperoleh nutrien dengan cara absorpsi (Madigan et al., 2012)..
Spesies jamur beraneka ragam tersebar di seluruh dunia. Terdapat fungi yang
merugikan dan ada pula fungi yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan adalah
berbagai jenis jamur yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, misalnya untuk
menghancurkan sampah organik, menghasilkan antibiotik untuk obat atau jamur yang
bermanfaat dalam pembuatan roti, tempe, tape, taoco, oncom (Waluyo, 2007).
Spesies jamur yang merugikan adalah berbagai jamur yang menyebabkan kayu cepat
lapuk, kerusakan makanan hingga penyebab penyakit pada makhluk hidup misalnya
menyebabkan mikosis. Mikosis adalah infeksi yang disebabkan jamur pada suatu organisme.
baik akibat keracunan saat dikonsumsi, menjadi sumber penyakit kulit (Waluyo, 2007).
Jenis jamur pathogen yang menyebabkan penyakit pada hewan diantaranya Candida,
Saccharomyces, Rhizopus, Mucor, Aspergillus, Trichopyton, dan Microsporum serta yang
tergolong dalam fungi dimorfik yaitu histoplasm, Blastomyces, Sporothrix. Penanggulangan
infeksi mikosis memerlukan pengobatan yang tepat untuk setiap spesiesnya sehingga perlu
dilakukan isolasi dan identifikasi spesies jamur yang menyebabkan kerugian. Proses isolasi
dan identifikasi diperlukan pengetahuan cara penanaman serta identifikasi kelompok jamur
pada sampel tertentu (Gandjar dkk, 2006).
1.2 Tujuan
1

Untuk mengetahui cara penanaman, pemeriksaan dan identifikasi sampel jamur

Mengetahui morfologi koloni secara makroskopis dan mikroskopis sampel jamur

1.3 Manfaat
1

Mahasiswa PPDH (Pendidikan profesi dokter hewan) dapat mengetahui cara


penanaman, pemeriksaan dan identifikasi sampel jamur.

Mahasiswa PPDH (Pendidikan profesi dokter hewan) dapat mengetahui morfologi


koloni secara makroskopis dan mikroskopis sampel jamur

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Jamur
Jamur merupakan tanaman yang berinti, berspora, tidak berklorofil berupa sel atau
benang-benang bercabang. Jamur mengambil makanan yang sudah dibuat oleh organisme
lain yang telah mati sehingga digolongkan makhluk heterotrof (Strobel, 2004). Jamur atau
fungi hidup dengan cara pengurai sampah organik (saprofit), merugikan organisme lain
(parasit) dan saling menguntungkan (simbiosis). Jamur dapat hidup lingkungan yang asam,
lingkungan konsentrasi gula tinggi dan memiliki nutrisi yang diperlukan untuk hidup (Ganjar
dkk, 2006).
Fungi bersifat khemoorganotrof dan memperoleh nutrisinya secara absorpsi dengan
bantuan enzim ekstraseluler untuk memecah biomolekul kompleks seperti karbohidrat,
protein, dan lemak menjadi monomernya yang akan diasimilasi menjadi sumber karbon dan
energi. Bahan makanan ini akan diurai dengan bantuan enzim yang diproduksi oleh hifa
menjadi senyawa yang dapat diserap dan digunakan untuk tumbuh dan berkembang.
Penyerapan makanan dilakukan oleh hifa yang terdapat pada permukaan tubuh fungi
(Madigan et al., 2012).
Jamur memiliki dinding sel yang berfungsi menentukan bentuk jamur. Pada sebagian
besar tersusun atas jalinan rantai polisakarida (chitin, glucan mannan, selulosa), mikrofibril
yang berfungsi mencegah lisis osmotik, melindungi kerusakan mekanik dan masuknya
molekul membahayakan. Berdasarkan morfologinya, jamur dibedakan menjadi dua, yaitu
multiseluler (kapang/mold) dan uniseluler (khamir/yeast) (Waluyo, 2007).
2.2 Kapang
Kapang

adalah merupakan jamur multiseluler dan biasanya ditemukan pada

permukaan makanan yang membusuk atau hangat, dan tempat-tempat lembab. Kapang
memiliki talus terdiri dari filamen panjang yang bergabung bersama membentuk hifa
(Gambar 2.1) (Tortora et al, 2007). Hifa dapat tumbuh banyak sekali, hifa fungi tunggal di
oregon dapat mencapai 3,5 mm. Kumpulan dari hifa disebut dengan miselium. Hifa tumbuh
dari spora yang melakukan germinasi membentuk suatu tuba germ, dimana tuba ini akan
tumbuh terus membentuk filamen yang panjang dan bercabang yang disebut hifa, kemudian
seterusnya akan membentuk suatu massa hifa yang disebut miselium. Pembentukan miselium

merupakan sifat yang membedakan grup-grup didalam fungi (Waluyo, 2007). Hifa pada
kapang terdiri dari hifa bersepta dan tidak bersepta.
\

Gambar 2.1 Morfologi Kapang


Kapang tidak bersepta antara lain:
a. Kelas Oomycetes (spora seksual disebut oospora) terdiri dari ordo saprolegniales
(spesies Saprolegnia) dan ordo Peronosporales (spesies Pythium).
b. Kelas Zygomycetes (spora seksual zigospora) terdiri dari ordo Mucorales (spora
aseksual adalah sporangiospora) seperti : Mucor mucedo, Zygorrhynchus, Rhizopus,
Absidia dan Thamnidium.
Kapang bersepta antara lain:
a. Kelas fungi tidak sempurna (imperfecti) tidak mempunyai spora seksual
1). Ordo Moniales
a). Famili Monialiaceae : Aspergillus, Penicillium, Trichothecium, Geotrichum,
Neurospora, Sporatrichum, Botrytis, Cephalosporium, Trichoderma, Scopulariopsis,
Pullularia.
b). Famili Dematiceae : Cladosporium, Helminthosporium, Alternaria, Stempylium.
c). Famili Tuberculariaceae : Fusarium
d). Famili Cryptococcaceae (fungsi seperti khusus atau false yeast) : Candida (khamir),
Cryptococcus
e). Famili Rhodotorulacee : Rhodotorula (khamir)
2). Ordo Melanconiales : Colletotrichum, Gleosporium, Pestalozzia.
3). Ordo Sphaeropsidales (konidia berbentuk botol, dinamakan piknidia) : Phoma, Dlipodia.

b. Kelas Ascomycetes. Spora seksual adalah askospora, sperti : jenis Endomyces, Monascus,
Sclerotinia. Yang termasuk dalam fungi imperfecti : Neurospora, Eurotium (tahap seksual
dari Aspergillus), dan Penicillium (Waluyo, 2007).
Sebagian besar kapang bereproduksi secara aseksual, tetapi ada beberapa spesies
yang bereproduksi secara seksual dengan menyatukan dua jenis sel untuk membentuk zigot
dengan produk uniselular sel yang disebut dimorfik (Viegas, 2004).
2.3 Khamir
Yeast merupakan sel tunggal (uniseluler) yang membentuk tunas dan pseudohifa
(Webster dan Weber, 2007). Hifanya panjang, dapat bersepta atau tidak bersepta dan tumbuh
di miselium. Yeast memiliki ciri khusus bereproduksi secara aseksual dengan cara pelepasan
sel tunas dari sel induk. Beberapa khamir dapat bereproduksi secara seksual dengan
membentuk aski atau basidia dan dikelompokkan ke dalam Ascomycota dan Basidiomycota.
Dinding sel yeast adalah struktur yang kompleks dan dinamis dan berfungsi dalam
menanggapi perubahan lingkungan yang berbeda selama siklus hidupnya (Hoog et al., 2007)

BAB 3 METODOLOGI
3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penanaman, pemeriksaan dan identifikasi jamur dilakukan di laboratorium
mikrobiologi dan bakteriologi FKH Universitas Airlangga, dilaksanakan pada tanggal 31
Oktober 2014
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan untuk pembiakan dan identifikasi adalah cawan petri, tabung
erlemeyer, inoculating loop (ose bulat), mikroskop, bunsen, timbangan, inkubator, autoclave,
refrigerator, object glass, cover glass, pinset.
Bahan yang digunakan untuk pembiakan meliputi media Saboraud Dextrose Agar
(SDA) + Chloramphenicol, alkohol, kapas, kertas label, tissue dan cotton bud steril, bahan
pewarna (kristal violet, dan safranin), NaCl fisiologis steril, minyak emersi dan sampel jamur
berupa ; biakan kultur (microsporum, sp dan Aspergillus sp.), tempe, fermipan, cat food, roti
spons cake, roti kukus, kerokan kulit sapi, kerokan kulit kucing, bungkil kelapa sawit.
3.3 Metode inokulasi
Inokulasi sampel jamur dilakukan dengan cara langsung dan suspensi. Inokulasi
dengan suspensi dilakukan untuk menumbuhkan khamir, sedangkan metode langsung
dilakukan untuk menumbuhkan kapang. Sampel disuspensi menggunakan NaCl fisiologis
steril dengan perbandingan 1:10 dan kemudian di tanam pada media SDA dengan metode
streak. Streak dilakukan dengan kawat inokulasi (Ose bulat) yang terlebih dahulu dipijarkan
sedangkan sisanya tungkai cukup dilewatkan nyala api saja setelah dingin kembali kawat itu
disentuhkan lagi dalam nyala. Kemudian di inokulasikan ke bagian media SDA. Inokulasi
jamur dengan metode langsung dilakukan dengan melatakkan secara langsung sampel jamur
menggunakan ose bulat pada media SDA.
4

Identifikasi dan pembiakan jamur


Pembiakan jamur dilakukan untuk menumbuhkan semua jamur yang ada di dalam

sampel. Media yang digunakan dalam pembiakan ini adalah media SDA + antibiotik sebagai
penghambat pertumbuhan bakteri dengan demikian diharapkan hanya jamur yang tumbuh
pada media tersebut. Penanaman jamur melalui suspensi diinkubasi pada suhu 37 oC,

sedangkan penanaman jamur melalui metode langsung diletakkan pada suhu kamar yang
dikondisikan lembab.
Identifikasi berdasarkan panduan kunci identifikasi Pengenalan Kapang Tropik
Umum (Gandjar, 1999), Illustrated Genera of Imperfecti Fungi (Barnett, 1969) dan Pictorial
Atlas of Soil and Seed Fungi (Watanabe, 1994). Identifikasi kapang dilakukan dengan
mengamati beberapa karakter morfologi baik secara makroskopis maupun secara
mikroskopis. Secara makroskopis karakter yang diamati meliputi; warna koloni dan warna
sebalik koloni. (reverse side), permukaan koloni: berupa granular, seperti tepung,
menggunung, licin. tetes-tetes eksudat, garis-garis radial dari pusat koloni ke arah tepi dan
lingkaran-lingkaran konsentris. Pengamatan secara mikroskopis dengan cara membuat
preparat biakan di atas kaca objek kemudian dilihat karakternya meliputi; hifa, pigmentasi
hifa, bentuk dan ornamentasi spora (vegetatif dan generatif), bentuk dan ornamentasi tangkai
spora, dan lainnya.

BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Mucor, sp
Hasil pengamatan sampel dari kue spons, kue kukus dan bungkil kelapa sawit secara
morfologi makroskopis pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) menunjukkan hasil
berupa koloni seperti kapas berwarna lebih putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk
warna hitam, tekstur lebih padat dan baliknya putih (Gambar 4.1, Gambar 4.2 dan Gambar
4.3). Setelah dilakukan pengamatan secara mikroskopis didapatkan hasil terlihat hifa tidak
bersepta, tidak mempunyai stolon dan rhizoid, sporangiofor panjang dan bercabang,
sporangiospora terbungkus oleh kotak spora yang disebut sebagai sporangium (Gambar 4.4).
Hasil indentifikasi tersebut menunjukkan pada sampel kue spons, kue kukus dan bungkil
kelapa sawit tumbuh kapang jenis Mucor sp.

Gambar 4.1 Morfologi Makroskopis pada kue kukus suhu ruangan (a)Koloni kapang hari
ke-1, (b) Koloni kapang hari ke-2, (c) Koloni kapang hari ke-3

Gambar 4.2 Morfologi Makroskopis pada kue spons suhu ruangan (a)Koloni kapang hari ke1, (b) Koloni kapang hari ke-2, (c) Koloni kapang hari ke-3

Gambar 4.3 Morfologi Makroskopis pada bungkil kelapa sawit suhu ruangan (a)Koloni
kapang hari ke-1, (b) Koloni kapang hari ke-2, (c) Koloni kapang hari ke-3

Gambar 4.4 Morfologi Mikroskopis jenis Mucor sp (a) Kue kukus perbesaran 100x, (b)kue
spons perbesaran 1000x, (c) Bungkil kelapa sawit perbesaran 1000x
Mucor merupakan genus fungi yang berasal dari ordo Mucorales yang merupakan
fungi tipikal saprotrop pada tanah dan serasah tumbuhan. Mucor ini termasuk fungi
multiselular yang mempunyai filament, yang pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat
karena penampakannya yang berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-mula akan
berwarna putih, tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk warna hitam. Hifa vegetatifnya
bercabang-cabang, bersifat coenositik dan tidak bersepta. Mucor berkembangbiak secara
aseksual dengan membentuk sporangium yang ditunjang oleh batang yang disebur
sporangiofor. Ciri khas pada Mucor adalah memiliki sporangium yang berkolom-kolom atau
kolumela (Singleton dan Sainsbury, 2006). Mucor umumnya tidak berperan dalam patogen
penyakit tetapi jenis ini sering menyebabkan kerusakan pada bahan makanan (Erni dkk,
2011).

Gambar 4.5 Siklus hidup Mucor sp (Collins, et al. 2004)


Perkembangbiakan kapang Mucor sp ini terjadi secara aseksual dan seksual (Gambar
4.5). Reproduksi secara

aseksual terjadi dengan cara menghasilkan sporangiofora yang

sporangianya berada pada bagian ujung. Sporangia biasanya mempunyai sebuah kolumela
dan spora dilepas dengan cara pecahnya dinding sporangia. Spora akan berkecambah
memnbentuk hifa somatik baru. Sedangkan reproduksi secara seksual terjadi dengan cara
yaitu koloni dengan jenis kelamin berbeda membentuk cabang aerial (zygosfora) yang
tumbuh kearah pasangannya untuk kemudian menghasilkan progametangia pada bagian
ujung. Progametangia kemudian mengalami perkembangan lanjut hingga terbentuk zigosfora.
Bagian subterminal (dibawah ujung) progametangia dapat menggembung membentuk
suspensor. Pada zigosfora terjadi meiosis dan akan berkecambah untuk menghasilkan sebuah
sporangiofora atau hif
4.2 Absidia, sp
Pada kerokan kulit sapi dilakukan inokulasi, penanaman, isolasi dan idenditifikasi
jamur. Hasil identifikasi makroskopik ditemukan jamur dengan warna putih, koloni seperti
benang wool, dan tumbuh berkoloni dengan ukuran 3 cm (Gambar 4.6)

(a)

(b)

Gambar 4.6 Gambaran Makroskopik Absidia, sp pada media SDA yang di inkubasi pada
suhu ruang (a) dan inkubator (b)
Hasil identifikasi mikroskopik menunjukkan spora tertutup, memiliki hifa tidak
bersepta, memiliki rizho yang mengarah pada jamur jenis absidia (Gambar 4.7).

Gambar 4.7 Gambaran mikroskopis Absidia, sp dengan perbesaran 100x


Keterangan gambar:
Panah biru : Rhizo
Panah kuning : Sporangium
Panah hijau : Stolon
Absidia adalah genus fungi dari family mucoraceae ordo mucorales. Jamur ini dapat
mengganggu kesehatan. Taksonomi dari Absidia adalah sebagai berikut:

Kingdom: Fungi
Phylum: Zygomycota
Subphylum: Zygomycotina
Class: Zygomycetes
Order: Mucorales Family: Mucoraceae
Genus: Absidia (Mandell et al, 2000)
Secara mikroskopis, absidia memiliki hifa tidak bersepta, memiliki struktur yang
hampir sama dengan rizhopus, sporangiofor berada pada ujung stolon dan diantara rhizoids.
Patogenisitas dari Absidia, sp menyebabkan penyakit sistemik yang dapat menginvasi hingga
central nervous system, pembuluh darah arteri, paru, saluran gastrointestinal, dan sistem
organ lainnya. Infeksi dapat terlokalisasi pada jaringan subkutan. Jamur ini apabila
mengkontaminasin kulit dapat merusak kulit, hidung, dagu dan mata karena jamur ini
merupakan pemakan daging (Morales-Aguirre et al, 2004)
Absidia, sp bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi seksual (fase
teleomorf) pada spesies heterotolik dari ordo mucorales menggunakan miselium yang
membentuk zygospores. Reproduksi seksual melibatkan 3 tahap yaitu plasmogami (peleburan
plasma), karyogami (peleburan nukleus), dan meiosis yang kemudian menghasilkan spora.
Reproduksi aseksualnya dengan sporangiospora yang banyak menghasilkan zygote.
Sporangiol yang berukuran kecil berisi 1-30 spora. Spora tunggal pada sporangial disebut
kandida ini terbentuk bersama dinding sel. Reproduksi sexsualnya menggunakan
Zygosporase. Spora yang terbentuk akan ditiup angina dan mengkontaminasi inang yang
memiliki luka, sehingga spora dapat menembus kedalam tubuh inang (Santos et al, 2005).

Gambar 4.8 Siklus Reproduksi Absidia, sp


Sporangiospora merupakan spora yang dibentuk di dalam sporangium. Inti-inti yang
ada di dalam kolumela (ujung sporangiofor) akan keluar menembus dinding kolumela masuk
ke dalam suatu kantung yaitu sporangium. Sporangium merupakan karpus untuk reproduksi
aseksual mirip kantung yang berbentuk bulat atu semibulat. Sporangium semula berwarna
bening atau agak kekuningan karena mengandung senyawa - karoten kemudian berwarna
hitam karena senyawa karoten mengalami polimerisasi yang disebabkan proses oksidasi (Ho
et al, 2004). Apabila jumlah sporangiospora telah mencapai jumlah maksimum untuk spesies
tersebut maka sporangium akan pecah dan sporangiospora akan lepas ke lingkungan. Sisa
dinding sporangium akan terlihat menggantung pada dasar kolumela (Gambar 6) (Santos et
al, 2005)..

Gambar 4.9 Bagian- bagian Sporangium

4.3 Saccaromyces, sp
Identifikasi makroskopik Saccharomyces cerevisiae pada fermipan
Taksonomi
Domain

Saccharomyces pada fermipan


Eukaryota

Kingdom

Fungi

Sub kingdom

Dikarya

Filum

Ascomycota

Sub filum

Saccharomycotina

Kelas

Saccharomycetes

Order

Saccharomycetales

Famili

Saccharomycetaceae

Genus

Saccharomyces

Spesies

Cerevisiae

Khamir jenis Saccharomyces cereviceae merupakan jenis khamir yang paling umum
digunakan pada pembuatan roti.Khamir ini sangat mudah ditumbuhkan, membutuhkan nutrisi
yang sederhana, laju pertumbuhan yang cepat, sangat stabil, dan aman digunakan (foodgradeorganism). Dengan karakteristik tersebut, S. Cereviceae lebih banyak digunakan dalam
pembuatan roti dibandingkan penggunaan jenis khamir yang lain. Dalam perdagangan khamir
ini sering disebut dengan bakers yeast atau ragi roti (Subandi. 2010). Secara morfologi
Saccharomycescerevisiae merupakan khamir yang tergolong eukariot yang secara morfologi
hanya membentuk blastospora berbrntuk bulat lonjong, silindris, oval, atau bulat telur. Dapat
berkembang biak dengan membelah diri melalui budding cell. Reproduksinya dipengaruhi
oleh keadaan lingkungan serta jumlah nutrisi yang tersedia bagi pertumbuhan sel. Penampilan
makroskopis mempunyai banyak koloni bentukbulat, warna kuning muda, permukanan
berkilau, licin, tekstur lunak, dan bentuk seperti koloni bakteri tetapi lebih besar (Volk dan
Wheeler. 1993).
Khamir adalah mikroorganisme eukariotik bersel tunggal yang tergolongfungi. Berukuran antara 5
dan 20 mikron. Khamir termasuk organisme uniseluleryang bersifat aerob. Tetapi jenis khamir
fermentatif dapat hidup secara anaerobmeski pertumbuhannya lambat. Khamir termasuk organisme
uniseluler namunmemiliki ukuran yang lebih besar daripada bakteri. Dapat membentuk miselium palsu
sehingga disebut sebagai pseudomiselium. Berdasarkan alat perkembangbiakannya, khamir dibagi
menjadi: 1) khamir sejati (true yeast) yang berkembang biak dengan spora dan khamir yang tidak
membentuk spora dan; 2) khamir palsu (false

yeast)

yang berkembang biak dengan

pertunasan,pembelahan atau kombinasi pertunasan dan pembelahan.Klasifikasi khamir menggunakan


karakteristik ascospore, sel dan koloni.Karakteristik Fisiologis juga digunakan untuk
mengidentifikasi spesies. Salahsatu karakteristik yang terkenal adalah kemampuan untuk
memfermentasi gulauntuk produksi etanol. Budding yeast adalah khamir sejati dari filum
ascomycetes kelas saccharomycetes (disebut Hemiascomycetes juga). Khamirsejati dipisahkan
menjadi satu urutan utama Saccharomycetales
.

Gambar 4.10. (a) Gambaran makroskopis Sacharomyches sp. Pada suhu ruang (b) Koloni
pertumbuhan Sacharomyches sp. pada media SDA (c) Gambaran Mikroskopik
Sacharomyches sp.
Jika dibandingkan dari literatur, menurut (Volk dan Wheeler. 1993) menyatakan
bahwa jamur pada ragi biasanya digunakan dalam pembuatan tape atau roti dan jamur pada
ragi namanya Ascomycota dengan spesimen Saccharomyces cerevisiae dan tampak terlihat
bercak-bercak bulatan kecil yang berwarna kunning, hal ini sesuai dengan hasil pengamatan
dimana hasil pengamatan dengan literatur hasilnya sama dimana pada pengamatan ditandai
yaitu tepinya berwarna kuning/ putih dengan bentuk bulat yang kecil. Sedangkan kapang
pada fernipan digunakan dalam pembuatan kue yang berfungsi untuk mengembangkan
adonan supaya adonan menggelembung. Kapang pada fernipan tampak terlihat putih. Hal ini

sesuai dengan hasil pengamatan dengan dari literature tersebut. Dinding selnya banyak
mengandung glikoprotein, khamir menyebabkan adanya proses fermentasi dengan
menghasilkan enzim yang dapat mengubah glukosa menjadi alcohol.
Saccharomyces adalah genus dalam kerajaan jamur yang mencakup banyak jenis
ragi.Saccharomyces berasal dari bahasa Latin yang berarti gula jamur. Banyak anggota dari
genus ini dianggap sangat penting dalam produksi makanan. Salah satu contoh adalah
Saccharomyces cerevisiae, yang digunakan dalam pembuatan anggur, roti, dan bir. Anggota
lain dari genus ini termasuk Saccharomyces bayanus, digunakan dalam pembuatan anggur,
dan Saccharomyces boulardii, digunakan dalam obat-obatan. Koloni dari Saccharomyces
tumbuh dalam 3 hari. Secara morfologi terlihat rata, mulus, basah, dan cream untuk cream
tannish dalam warna. Ketidak mampuan untuk memanfaatkan nitrat dan kemampuan untuk
berbagai memfermentasi karbohidrat adalah karakteristik khas dari Saccharomyces (Tarigan.
1988)
Saccharomyces sp. yang digunakan untuk fermentasi pada makanan ataupun
minuman. Biasanya bersifat uniseluler, mikroskopis, tidak memiliki badan buah dan
membiak dengan pertunasan (Made, 2004). Pada kondisi optimal khamir dapat membentuk
lebih dari 20 tunas. Tunas-tunas tersebut semakin membesar dan akhirnya terlepas dari sel
induknya. Tunas yang terlepas ini akhirnya menjadi tunas baru. Dalam keadaan makanan
tertentu dapat memperlihatkan hifa, tetapi hifa itu tidak tetap dan dapat terputus-putus
menjadi sel-sel yang terpisah-pisah (Rukmana, 2001). Terdapat pembiakan generative dengan
dua sel dapat berkopulasi dan merupakan suatu zigot, yang selanjutnya menjadi askus dengan
inti yang diploid. Dengan pembelahan reduksi terdapat 4 askospora tetapi ada yang 8. Cara
reproduksi fungi secara seksual terjadi jika repsroduksi aseksual tidak dapat dilakukan,
misalnya bila suplai makanan terganggu atau lingkungan hidupna tidak mendukung. Fungi ini
digunakan dalam pembuatan makanan dan minuman, seperti tempe, tape, dan tuak.
Saccharomyces juga telah digunakan dalam beberapa industri lainnya, seperti industri roti
(bakery), industri flavour, (menggunakan ektrak ragi/yeast extracts), industri pembuatan
alcohol (farmasi) dan industri pakan ternak (subandi, 2010). Pada dog food, pemberian
saccaromyces sp. akan dapat meningkatan bakteri selulotik dan asam laktat pada saluran
pencernaan. Meski tidak semuamemberikan respon positif terhadap pemberian pakan
imbuhan.
Saccharomyces cerevisiae adalah nama spesies yang termasuk dalamkhamir berbentuk oval.
Saccharomyces cerevisiae mempunyai mikrostrukturyang terdiri dari :
a) Kapsul

b) Dinding
Dinding sel khamir pada sel-sel yang muda sangat tipis, namunsemakin lama semakin
menebal seiring dengan waktu. Pada dinding selterdapat struktur yang disebut bekas lahir
(bekas yang timbul daripembentukan oleh sel induk) dan bekas tunas (bekas yang timbul
akibatpembentukan anak sel). Setiap sel hanya dapat memiliki satu bekas lahir,namun bisa
membentuk banyak bekas tunas. Saccharomyces cerevisiaedapat membentuk 9 sampai 43
tunas dengan rata-rata 24 tunas per sel, danpaling banyak lahir pada kedua ujung sel yang
memanjang (Tarigan, 1988). Dinding selkhamir terdiri dari komponen-komponen sebagai
berikut:
1. Glukan Khamir (30-35% berat kering dinding sel)
2. Mannan (30% dari berat kering dinding khamir)
3. Protein (6% berat kering dinding sel)
4. Kitin (1-2 %)
5. Lipid (8.5-13.5 %)
6. Membrane Sitoplasma
7. Nukleus
8. Vakuola
9. Mitokondria
10. Globula Lipid Saccharomyces cerevisiae mengandung lipid dalam jumlahsangat
sedikit. Lipid ini disimpan dalam bentuk globula yang dapat dilihatdengan
mikroskop setelah diberi pewarna lemak seperti Hitam Sudan atauMerah Sudan.
11. Sitoplasma (Tarigan. 1988)
4.4 Aspergillus, sp
4.4.1 Aspergillus Fumigatus
Isolasi dan identifikasi jamur pada pakan ternak ayam ditemukan koloni berwarna
hijau kekuningan yang menyebar berukuran 2 cm. Pengamatan mikroskopis ditemukan jamur
berjenis kapang, memiliki spora terbuka berbentuk rantai, memiliki hifa bersepta dan tidak
memiliki rhizo. Hasil identifikasi menunjukkan jamur mengarah pada Aspergillus Fumigatus
(Gambar 4.11)

Gambar 4.11 Aspergillus fumigatus Pada Pakan Ayam


Spesies Aspergillus merupakan jamur yang umum ditemukan di materi organik.
Meskipun terdapat lebih dari 100 spesies, jenis yang dapat menimbulkan penyakit pada
manusia ialah Aspergillus fumigatus dan Aspergillus niger, kadang-kadang bisa juga akibat
Aspergillus flavus dan Aspergillus clavatus yang semuanya menular dengan

transmisi

inhalasi. Aspergillus fumigatus adalah jamur yang ditemukan dimana mana pada tanaman
yang membusuk. Jamur ini dapat berkelompok kemudian memasuki jaringan kornea yang
mengalami trauma atau luka bakar, luka lain, atau telinga luar (oktitis eksterna). Taksonomi
Aspergillus fumigatus antara lain:
Super kingdom

: Eukaryota

Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Subphylum

: Pezizomycotina

Class

: Eurotiomycetes

Order

: Eurotiales

Family

: Trichocomaceae

Genus

: Aspergillus

Species

: Aspergillus fumigatus (Jawetz. E , Melnick dan

Adelberg,1996)
Aspergillus terdapat di alam sebagai saprofit. Hampir semua bahan dapat
ditumbuhi jamur tersebut, terutama di daerah tropik dengan kelembaban yang tinggi.
Sifat ini memudahkan jamur aspergillus menimbukan penyakit bila terdapat faktor
presdisposisi.

Gambaran mikroskopik dari Aspergillus fumigatus memiliki tangkai tangkai


panjang (conidiophores) yang mendukung kepalanya yang besar (vesicle). Di kepala ini
terdapat spora yang membangkitkan sel hasil dari rantai panjang spora. A. fumigatus ini
mampu tumbuh pada suhu 37C (sama dengan temperatur tubuh). Pada rumput kering
Aspergillus fumigatus dapat tumbuh pada suhu di atas 50 0 (Jawetz. E , Melnick dan
Adelberg,1996).

Gambar 4.12 Gambaran Mikroskopik Aspergillus fumigatus


Aspegillus fumigatus mempunyai suatu haploid genome yang stabil, dengan tidak
mengalami siklus seksual. A. fumigatus bereproduksi dengan pembentukan conidiospores
yang dilepaskan ke dalam lingkungan. A. fumigatus ini mampu tumbuh pada suhu 37C
(sama dengan temperatur tubuh). Spesies Aspergillus secara alamiah ada dimana-mana,
terutama pada makanan, sayuran basi, pada sampah daun atau tumpukan kompos. Konidia
biasanya terdapat di udara baik di dalam maupun di luar ruangan dan sepanjang tahun.
Aspergillus juga bisa tumbuh di daun-daun yang telah mati, gandum yang disimpan, kotoran
burung, tumpukan pupuk dan tumbuhan yang membusuk lainnya. Penyebaran

Melalui

inhalasi konidia yang ada di udara (Jawetz. E , Melnick dan Adelberg,1996).


Penyakit yamg ditimbulkan oleh jamur ini adalah Aspergilosis Bronkopulmoner
Alergika. ABPA terjadi karena terdapat reaksi hipersensitivitas terhadap A. fumigatus akibat
pemakaian kortikosteroid terus menerus. Akibatnya akan terjadi produksi mukus
berlebih karena kerusakan fungsi silia pada saluran pernapasan. Mukus ini

yang

berbentuk

sumbatan yang mengandung spora A. fumigatus dan eosinofil di lumen saluran napas. Akan
terjadi presipitasi antibodi IgE dan IgG melalui reaksi hipersensitivitas tipe I menyebabkan
deposit kompleks imun dan sel-sel inflamasi di mukosa bronkus. Deposit ini nantinya akan
menghasilkan nekrosis jaringan dan infiltrat eosinofil (reaksi

hipersensitivitas tipe III)

hingga membuat kerusakan dinding bronkus dan berakhir menjadi bronkiektasis. Tak jarang

ditemui spora pada mukus penderita aspergilosis paru. Penderita biasanya mengeluh batuk
produktif dengan gumpalan mukus yang

dapat membentuk kerak di bronkus, kadang

menyebabkan hemoptisis. ABPA juga bisa terjadi bersama dengan sinusitis fungal alergik,
dengan gejala sinusitis di dalamnya dengan drainase sinus yang purulen (Jawetz. E , Melnick
dan Adelberg,1996)
4.4.2 Aspergillus flavus
Penanaman jamur pada wet cat food yang dilakukan pada media SDA (Sabaround
Dextrose Agar) ditemukan jamur berwarna hijau tua kehitaman dengan koloni menyebar
berukuran 5 cm. Pengamatan mikroskopis menunjukkan jamur jenis kapang yang memiliki
spora terbuka berantai, terdapat phialid, memiliki hifa bersepta, dan tidak memiliki rhizo.
Hasil identifikasi mengarah pada Aspergillus flavus. Taksonomi Aspergillus flavus antara
lain:
Super kingdom

: Eukaryota

Kingdom

: Fungi

Sub kingdom

: Dikarya

Filum

: Ascomycota

Subfilum

: Pezizomycotina

Kelas

: Eurotiomycetes

Sub kelas

: Eurotiomycetidae

Ordo

: Eurotiales

Famili

: Trichocomaceae

Genus

: Aspergillus

Spesies

: Aspergillus flavus (Jawetz. E , Melnick dan


Adelberg,1996)

Aspergillus flavus pada sistem klasifikasi yang terdahulu merupakan spesies kapang
yang termasuk dalam divisi Tallophyta, sub-divisi Deuteromycotina, kelas kapang Imperfecti,
ordo Moniliales, famili Moniliaceaedan genus Aspergillus. Sistem klasifikasi yang lebih baru
memasukkan
fisiologis,

genusAspergillus dalam Ascomycetes berdasarkan


dan

karakter

biokimia

mencakup

analisis

evaluasi
sekuen

ultrastruktural,
DNA.Sifat

morfologis Aspergillus flavus yaitu bersepta, miselia bercabang biasanya tidak berwarna,
konidiofor muncul dari kaki sel, sterigmata sederhana atau kompleks dan berwarna atau tidak

berwarna, konidia berbentuk rantai berwarna hijau, coklat atau hitam. Tampilan
mikroskopis Aspergillus flavusmemiliki konidiofor yang panjang (400-800 m) dan relatif
kasar, bentuk kepala konidial bervariasi dari bentuk kolom, radial, dan bentuk bola, hifa
berseptum, dan koloni kompak. Koloni dari Aspergillus flavus umumnya tumbuh dengan
cepat dan mencapai diameter 6-7 cm dalam 10-14 hari. Kapang ini memiliki warna
permulaan kuning yang akan berubah menjadi kuning kehijauan atau coklat dengan warna
inversi coklat keemasan atau tidak berwarna, sedangkan koloni yang sudah tua memiliki
warna hijau tua.

Gambar 4.13 Gambaran Mikroskopis Aspergillus flavus


Epidemiologi Aspergillus flavus berbeda, tergantung pada spesies inang (Gambar 4.14).
Gambar ke kiri menunjukkan siklus hidup dari jamur pada jagung. Jamur baik sebagai
miselium atau sebagai struktur tahan dikenal sebagai sclerotia. Para sclerotia baik berkecambah
untuk menghasilkan hifa tambahan atau mereka menghasilkan konidia (spora aseksual), yang
dapat tersebar di dalam tanah dan udara. Sporaini dibawa ke telinga jagung oleh seranggaatau
angin mana mereka berkecambah danmenginfeksi kernel jagung. Tidak seperti kebanyakan
jamur, Aspergillus flavus menyukai kondisi kering panas

Gambar 4.14 Perkembangan Aspergillus flavus


Aspergillus flavus merupakan kapang yang tersebar luas di alam. Kapang ini bisa
muncul di tanah, tumbuhan yang membusuk, biji-bijian yang mengalami kerusakan
mikrobiologis, dan dapat menyerang berbagai jenis substrat organik di mana pun dan kapan
pun asalkan kondisinya mendukung pertumbuhannya. Namun, kapang A. Flavus yang
mencemari suatu komoditi tidak selalu membuat racun sehingga adanya kapang ini belum
tentu memberikan pencemaran racun aflatoksin.
Aspergillus flavus memiliki tingkat sebaran yang tinggi. Hal ini disebabkan karena
produksi konidia yang dapat tersebar dengan mudah melalui udara (airborne) maupun
melalui serangga. Selain itu juga disebabkan oleh kemampuannya untuk bertahan dalam
kondisi yang keras sehingga kapang tersebut dapat dengan mudah mengalahkan organisme
lain dalam mengambil substrat dalam tanah maupun tanaman.
Aspergillus sp. umumnya mampu tumbuh pada suhu 6-60C dengan suhu optimum
berkisar 35-38C. Aspergillus flavus dapat tumbuh pada Rh minimum 80% (aw
minimum=0.80) dengan Rh minimum untuk pembentukan aflatoksin sebesar 83% (aw
minimum pembentukan aflatoksin=0.83). Rh minimum untuk pertumbuhan dan germinasi
spora adalah 80% dan Rh mininum untuk sporulasi adalah 85%. Kenaikan suhu, pH, dan
persyaratan lingkungan lainnya akan menyebabkan aw minimum bertambah tinggi.
Aspergillus flavus dapat tumbuh optimal pada aw 0.86 dan 0.96. Secara umum kapang adalah
organisme aerobik sehingga gas O2 dan N2 akan menurunkan kemampuan kapang untuk
membentuk aflatoksin. Efek penghambatan oleh CO2 dipertinggi dengan menaikkan suhu
atau menurunkan Rh dengan kadar O2 minimum 1% untuk pertumbuhan.

Pertumbuhan Aspergillus flavus ditentukan oleh jenis dan kadar karbohidrat. Jenis
karbohidrat yang paling baik untuk media fungi antara lain: glukosa, galaktosa dan sukrosa.
Kemampuan tumbuh fungi pada media maltosa dan laktosa akan lebih rendah daripada
glukosa, galaktosa dan sukrosa.Keberadaan garam NaCl antara 1 3% sangat mendukung
pembentukanaflatoksin. Pada NaCl 8% dengan suhu 24C pembentukan aflatoksin akan
dihambat, sedangkan pada suhu 28oC dan 35oC tetap terjadi pembentukanaflatoksin. Pada
NaCl berkadar 14% tidak terjadi pembentukan aflatoksin. Selain itu faktor lingkungan yang
mempengaruhi pertumbuhanAspergillus flavus adalah unsur makro (karbon, nitrogen, fosfor,
kalium dan magnesium) dan unsur mikro (besi, seng, tembaga, mangan dan molibdenum).
Faktor lain yang juga berpengaruh antara lain cahaya, kelembaban dan keberadaan kapang
lain.
Aspergillus flavus berkembang dengan cara:
1.

Mycelium dan Sclerotia


Mycelium jamur merupakan struktur yang cukup dominan ditemukan dalam tanah.

Sclerotia juga bisa terbentuk yang membuatnya bisa bertahan hidup cukup lama dalam tanah.

Gambar 4.15 Hifa dari A. flavus

2.

Konidiofor

Sementara A. flavus masih muda dan bertumbuh, mycelium membentuk banyak


konidofor. Konidiofor tumbuh secara tunggal dari badan hifa.

Gambar 4.16 Konidiofor dari A. Flavus


3.

Konidia
Konidiofor yang matang akan membentuk konidia pada ujungnya. Konidia

berbentuk bulat dan unisel dengan dinding yang kasar. Konidia bisa tumbuh, menyebar di
udara, menempel pada tubuh serangga, pada tanaman, pada hasil panen.
4.

Mycelia saprofit
A. flavus biasanya tumbuh dan hidup sebagai saprofit di dalam tanah.

Pertumbuhannya sangat didukung dengan adanya sisa sisa tanaman dan hewan dalam
jumlah besar.
Dampak dari Aspergillus flavus yaitu terbentuknya aflatoksin. Aflatoksin ditemukan
secara tidak sengaja pada insiden kematian seratus ribu ekor kalkun di suatu peternakan di
Inggris pada tahun 1960. Penyakit tersebut dikenal dengan nama Turkey X Disease karena
belum diketahui penyebabnya pada waktu itu. Penyebab penyakit tersebut ditemukan berupa
sejenis toksin yang terdapat dalam tepung kacang tanah pada ransum ternak. Pengujian yang
melibatkan sampel ransum ternak mengungkapkan keberadaan sejenis kapang. Toksin
tersebut berasal dari kontaminasi Aspergillus flavus pada campuran ransum ternak tersebut.
Nama toksin tersebut diambil dari penggalan kata Aspergillus flavustoksin yang
disingkat menjadi aflatoksin karena Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus merupakan
spesies dominan yang bertanggung jawab atas kontaminasi aflatoksin pada tanaman sebelum
dipanen maupun selama penyimpanan.
Produksi aflatoksin merupakan sebuah konsekuensi dari kombinasi berbagai faktor
antara lain karakteristik biologis dan kimiawi spesies, substrat, dan lingkungan seperti iklim

dan faktor geografis. Faktor-faktor yang mempengaruhi meliputi temperatur, kelembaban,


cahaya, aerasi, pH, sumber karbon dan nitrogen, faktor stress, lipida, trace metal salt, tekanan
osmosis, potensi oksidasi-reduksi, dan komposisi kimiawi dari nutrien yang diberikan.
Beberapa

faktor-faktor

tersebut

bisa

mempengaruhi

ekspresi

gen

yang

meregulasikan produksi aflatoksin (aflR) maupun gen struktural kemungkinan dengan


mengubah ekspresi faktor-faktor transkripsi global yang merespons sinyal dari lingkungan
dan nutrisi.
Aflatoksin disintesis dari malonyl CoA dalam dua tahap. Tahap pertama ialah
pembentukkan hexaonyl CoA dilanjutkan tahap kedua berupa pembentukan decaketide
anthraquinone. Beberapa seri reaksi oksidasi-reduksi yang sangat terorganisir kemudian
menghasilkan aflatoksin. Skema produksi aflatoksin yang umum diterima saat ini ialah
sebagai berikut.
Hexanoyl CoA precursor > norsolorinic acid, NOR > averantin, AVN >
hydroxyaverantin, HAVN > averufin, AVF > hydroxyversicolorone, HVN> versiconal
hemiacetal acetate, VHA > versi-conal, VAL > versicolorin B, VERB > versicolorin
A, VERA > demethyl-sterigmatocystin, DMST > sterigmatocystin, ST >
Omethylsterigmatocystin, OMST> aflatoxin B1, AFB1 and aflatoxin G1, AFG1.
Efek berat aflatoksikosis pada hewan (yang diperkirakan bisa juga terjadi pada
manusia) dikategorikan ke dalam dua bentuk utama, yaitu aflatoksikosis akut (jangka pendek)
dan aflatoksikosis kronik (jangka panjang).
1. Aflatoksikosin akut
Aflatoksin akut dapat diakibatkan oleh konsumsi aflatoksin dalam tingkat sedang
hingga tinggi. Beberapa gejala umum aflatoksikosis adalah edema anggota tubuh bagian
bawah, nyeri perut, dan muntah. Secara spesifik, paparan akut aflatoksin dapat menyebabkan
perdarahan, kerusakan hati secara akut, edema, perubahan pada pencernaan, dan
kemungkinan kematian.
Tertelannya aflatoksin dalam jumlah besar umumnya terjadi di peternakan. Organ
target aflatoksin adalah hati. Setelah aflatoksin masuk ke hati, lipid menyusup ke dalam
hepatosit dan menyebabkan nekrosis atau kematian sel hati. Hal ini terutama disebabkan oleh
metabolit aflatoksin yang bereaksi secara negatif dengan protein sel lain, yang menyebabkan
penghambatan metabolisme karbohidrat dan lemak serta sintesis protein. Akibat penurunan
fungsi hati, terjadi gangguan mekanisme pembekuan darah, ikterus (jaundice), dan penurunan
protein serum esensial yang disintesis oleh hati.

2. Aflatoksikosis kronik
Aflatoksikosis kronik disebabkan oleh konsumsi aflatoksin dalam tingkat rendah
hingga sedang. Efek yang ditimbulkan biasanya bersifat subklinis dan sulit dikenali. Gejala
aflatoksikosis kronik dapat berupa penurunan laju pertumbuhan, penurunan produksi susu
atau telur, dan imunosupresi. Beberapa pengamatan menunjukkan adanya karsinogenisitas,
terutama terkait dengan aflatoksin B1. Tampak jelas terjadinya kerusakan hati karena
timbulnya warna kuning yang menjadi karakteristik jaundice, serta timbul pembengkakan
kandung empedu. Imunosupresi disebabkan oleh reaktivitas aflatoksin dengan sel T,
penurunan aktivitas vitamin K, dan penurunan aktivitas fagositosis makrofag. Pada hewan,
efek imunosupresi akibat aflatoksin ini memberi kecenderungan terkena infeksi sekunder dari
jamur lain, bakteri, maupun virus.
4.5 Penicillium, sp
Sampel jamur pada pakan kucing basah didapat dengan membiarkan pakan basah
tersebut pada tempat lembab. Koloni jamur yang terdapat pada pakan adalah bewarna hijau
kehitaman. Penanaman jamur pada sampel pakan kucing dibutuhkan lama waktu dua hari
untuk berkembang. Kemudian hingga pada hari ketiga telah tampak adanya perkembangan
yang sempurna. Hasil pengamatan sampel secara karoskopis, menunjukkan jamur yang
tumbuh adalah golongan Rhizopus spp. pada biakan yang berada dalam inkubator. Sedangkan
pada biakan pada suhu ruang masih belum berkembang dengan sempurna. Kemudian pada
hari keempat biakan pada media yang ditempatkan pada suhu ruang mulai membentuk koloni
dengan warna biru kehijauan gambar 4.17. Ciri khas dari jamur jenis Penicillium spp. adalah
koloni bewarna biru kehijauan. Maka pengujian dilanjutkan pada mikroskopis.

Gambar 4.17.Perkembangan koloni


Penicillium spp.

Gambar 4.18. Mikroskopis penicillium


spp.

Keterangan:
1. Konidium
2. Sterigmata
3. Metulla
4. Cabang (penisilus)
5. Konidiofor (Volk, 2003)
Penicillium merupakan anggota kelas Ascomycota. Penicillium memiliki ujung
konidiofor yang tidak melebar, melainkan bercabang-cabang dengan deretan konidium.
Kelompok ini meliputi genus yang membentuk konidium dengan struktur yang disebut
penisilus (Rahayum dkk., 1989). Klasifikasi dari Penicillium adalah sebagai berikut:
Kerajaan

: Fungi

Filum

: Ascomycota

Kelas

: Eurotiomycetes

Bangsa

: Eurotiales

Suku

: Trichocomaceae

Marga

: Penicillium

Spesies

: Penicillium sp. (Volk, 2003)


Ciri-ciri spesifik Penicillium adalah hifa bersekat atau bersepta, miselium bercabang,

biasanya tidak berwarna, konidiofora bersekat dan muncul di atas permukaan, berasal dari
hifa di bawah permukaan, bercabang atau tidak barcabang, kepala yang membawa spora
berbentuk seperti sapu dengan sterigmata muncul di dalam kelompok, konidium membetuk
rantai karena muncul satu per satu dari sterigmata. Konidium pada waktu masih muda
berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kebiruan atau kecoklatan (Fardiaz, 1992).
Morfologi sel dari Penicilium dapat dilihat pada gambar 4.18.
Konidium berbeda dengan sporangium, karena tidak memiliki selubung pelindung
seperti sporangium. Tangkai konidium disebut konidiofor, dan spora yang dihasilkannya
disebut konidia. Konidium ini memiliki cabang-cabang yang disebut phialides sehingga
tampak membentuk gerumbul. Lapisan dari phialides yang merupakan tempat pembentukan
dan pematangan spora yang kemudian disebut sterigma (Purves dan Sadava, 2003).

Pembiakan seksual dengan menghasilkan spora yang disebut askospora., yaitu spora
seksual yang dihasilkan dalam suatu struktur khusus yang disebut askus (gambar 8.15).
Reproduksi aseksual dilakukan dengan menghasilkan konidia.

Gambar 4.19 Siklus hidup Penicillium spp. (Volk, 2003)

Jamur ini berwarna hjjau kebiruan dan tumbuh baik pada buah-buahan yang telah
masak, roti, nasi, serta makanan bergula. Hidup secara saprofit di berbagai tempat, terutama
pada substrat yang mengandung gula (seperti nasi, roti, dan buah yang telah ranum).
Berkembang biak secara vegetatif dengan membentuk konidia. Konidia dibentuk pada ujung
hifa. Hifa pembawa konidia disebut konidiofor. Sehingga setiap konidia dapat dapat tumbuh
membentuk jamur baru. Konidiofornya berbentuk seperti sikat/kuas reproduksi generatif
dengan membentuk askus, namun reproduksi secara generatif sulit ditemukan (Barnett dan
Hunter, 1998).
Penicillium secara mikroskopis memiliki bentuk konidiofor yang khas. Konidiofor
muncul tegak dari

miselium, sering membentuk sinnemata, dan bercabang

mendekati

ujungnya. Ujung konidiofor memiliki sekumpulan fialid dengan konidia berbentuk globus
atau ovoid, tersusun membentuk rantai basipetal (Barnett dan Hunter, 1998).
Jamur ini berbeda dengan Aspergillus terutama pada pendukung konidianya. Pada
Penicillium terdapat pendukung konidia yang bercabang-cabang, tersusun sedemikian rupa
sehingga bentuknya seperti susunan sapu lidi.. Ditinjau dari segi ekonomi, Penicillium juga
penting artinya bagi kehidupan manusia karena banyak digunakan dalam praktek, misalnya
Penicillium regouforti dan Penicillium camemberti merupakan odonan yang dapat
meningkatkan mutu keju. Penicillium banyak terdapat pada bahan bahan organik dan sebagai
sapporofit , misalnya sebagai berikut:

a. Penicillium notatum dan Penicillium chrysogenum penghasil zat antibiotik.


b. Penicillium camneberti dan Penicillium reguefort, dimafaatkan untuk meningkatkan
kualitas keju.
c. Penicillium itanicum, dan Penicillium digitatum perusak buah jeruk.
d. Penicillium ekspansum, menyebabkan buah apel membusuk ditempat penyimpanan.
e. Penicillium islandicum, merusak beras sehingga berubah warna sehingga menjadi
kuning.
Antibiotik penisilin yang berasal dari jamur Penicilium notatum yang ditemukan oleh
Alexander Fleming telah membuka mata dunia tentang manfaat mikroba. Antibiotik
diproduksi dengan cara bioproses. Mikroba yang terkandung akan diberikan kondisi optimum
untuk produksi antibiotik dalam jumlah besar. Antibiotik yang tercipta mampu
menyelamatkan berjuta-juta nyawa manusia dari serangan bakteri patogen. Namun,
pemberian antibiotik harus hati-hati. Pasalnya, jika asupan antibiotik kurang tepat maka
bakteri patogen justru akan menjadi lebih ganas.

4.6 Rhizopus, sp
Sampel tempe didapatkan dari pasar Manukan Tandes Timur dengan keadaan
berjamur dan memiliki warna koloni putih kehitaman. Inokulasi dilakukan pada tanggal 31
Oktober 2014 dan koloni mulai tumbuh pada tanggal 1 November 2014. Hasil pengamatan
sampel tempe secara makroskopis menunjukkan hasil berupa muncul serabut seperti kapas
warna putih dan abu-abu. Setelah dilakukan pengamatan mikroskopis dengan pewarnaan
sederhana di dapatkan hasil terlihat penampakan hifa , rhizoid, sporangioform, sporangium
dan stolon. Hasil identifikasi tersebut menunjukkan pada sampel tempe tumbuh jamur
Rhizopus Sp.
Rhizopus termasuk jamur berfilamen. Jamur berfilamen sering disebut kapang.
Rhizopus merupakan anggota Zygomycetes. Anggota Rhizopus yang sering dipakai dalam
proses fermentasi makanan adalah Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae. Kedua kapang
ini sering digunakan dalam produk fermentasi di Indonesia. Rhizopus oryzae memiliki
karakteristik, yaitu miselia berwarna putih, ketika dewasa maka miselia putih akan tertutup
oleh sporangium yang berwarna abu-abu kecoklatan. Hifa kapang terspesialisasi menjadi 3
bentuk, yaitu rhizoid, sporangiofor, dan sporangium. Rhizoid merupakan bentuk hifa yang
menyerupai akar (tumbuh ke bawah). Sporangiofor adalah hifa yang menyerupai batang

(tumbuh ke atas). Sporangium adalah hifa pembentuk spora dan berbentuk bulat. Suhu
pertumbuhan optimum adalah 30C (Rahmi, 2008).

Gambar 4.20 Perbiakan hari I Rhizopus


spp.

Gambar 4.21 Perbiakan hari II Rhizopus spp.

Gambar 4.22Perbiakan hari III


Rhizopus spp.

Gambar 4.23 Perbiakan hari IV Rhizopus spp.

Gambar 4.24 Mikroskopis Rhizopus spp.

Morfologi jamur Rhizopus oryzae ditunjukkan pada Gambar 4.20. Koloni Rhizopus
oryzae yang ditumbuhkan pada Sabouraud's dextrose agar tumbuh cepat pada suhu ruang,
panjang 5-8 mm, berbentuk seperti kapas putih awalnya kemudian menjadi abu-abu
kecoklatan dan abu-abu kehitaman tergantung pada jumlah sporulasi. Sporangiospora
mencapai panjang hingga 1500m dan lebar 18 m, berdinding halus, tidak bersepta, tunggal
atau bercabang, tumbuh dari stolon berlawanan dengan rhizoid. Sporangia berbentuk globosa,
hitam keabu-abuan, terlihat seperti bubuk, diameter mencapai 175 m dan mengandung
banyak spora. Kolumela dan apofisis bersama-sama berbentuk globosa, subglobosa atau oval,
panjang mencapai 130 m dan segera pecah berbentuk seperti payung setelah spora terlepas
keluar. Sporangiospora berbentuk bulat, subglobosa mendekati elipsoidal, dengan kepadatan
pada permukaan, dan panjang mencapai 8 m. Rhizopus oryzae tidak tumbuh pada 45C,

tumbuh baik pada 40C (Ellis, 1997). Menurut Atlas (1984), klasifikasi Rhizopus oryzae
adalah sebagai berikut:
Divisi : Zygomycota
Kelas : Zygomycetes
Bangsa : Mucorales
Suku : Mucoraceae
Marga : Rhizopus
Jenis : Rhizopus oryzae
Jamur Rhizopus oryzae merupakan jamur yang sering digunakan dalam pembuatan
tempe (Soetrisno, 1996). Jamur Rhizopus oryzae aman dikonsumsi karena tidak
menghasilkan toksin dan mampu menghasilkan asam laktat (Purwoko dan Pamudyanti,
2004). Jamur Rhizopus oryzae mempunyai kemampuan mengurai lemak kompleks menjadi
trigliserida dan asam amino (Septiani, 2004). Selain itu jamur Rhizopus oryzae mampu
menghasilkan protease (Margiono, 1992).
Perkembangbiakan jamur ini terjadi secara aseksual dan seksual. Perkembangbiakan
secara aseksual dibentuk spora dalam sporangium yang terletak pada ujung-ujung hifa
(sporangiosfor). Sporangium yang matang akan menghasilkan spora. Spora akan terbawa
angin dan jatuh ditempat yang jauh dari jamur. Jika spora jatuh ditempat yang sesuai maka
spora akan tumbuh menjadi jamur baru. Perkembangbiakan seksual jamur berlangsung secara
konjugasi, yaitu terjadi perpindahan materi yang berbeda muatan. Hifa yang tampak serupa
memiliki sifat fisiologis yang berbeda yang biasanya ditandai dengan tanda positif (+) dan
tanda negatif (-) yang dinamakan gemetangium dengan sifat haploid (n). Ketika gametangium
positif dan negatif bersinggungan, terjadi peleburan materi genetik sehingga terbentuk
zigosporangium.

Gambar 4.25 Siklus hidup Rhizopus Sp

Zigosporangium akan tumbuh menjadi dewasa hingga memasuki masa dormansi.


Setelah beberapa bulan, jika kondisi lingkungan cukup baik, zigosporangium berkecambah
membentuk sporangiofor, sporangium, stolon dan menghasilkan spora secara seksual.
Pembentukan spora tersebut terjadi secara meiosis.

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penanaman menggunakan media SDA (Sabaround Dextrose Agar),
isolasi dan identifikasi ditemukan kapang yang memiliki spora tertutup dan tidak bersepta
berjenis mucor, sp (tumbuh pada bungkil sawit, roti kukus dan roti spons cake), kapang
absidia, sp (tumbuh pada kerokan kulit sapi) dan rhizopus, sp (tumbuh pada tempe). Kapang
memiliki spora terbuka berjenis aspergillus, sp (tumbuh pada wet cat food) dan penicillium,
sp (tumbuh pada wet cat food). Hasil isolasi dan identifikasi juga ditemukan khamir berjenis
saccaromyces (tumbuh pada ragi),

Daftar Pustaka
Barnett, H.L. and B.B. Hunter. 1998. Illustrated marga of imperfect fungi. 4th ed. USA:
Prentice-Hall, Inc
Collins, C.H, P.M Lynes, J.M. Grange & J.O. Falkinham. 2004. Microbiological Methods.
Arnold: Oxford University Press Inc.
Darkuni, M. Noviar. 2001. Mikrobiologi (Bakteriologi, Virologi, dan Mikologi). Malang:
Universitas Negeri Malang.
Erni, R.S.I, R. Ratih, E.N. Hasutji, Suryanie, T. Wiwiek dan C Sri. 2011. Buku Ajar
Mikrobiologi Veterner I. Universitas Airlangga
Fessenden, Ralp, dan Joan, S, Fessenden. 1991. Kimia Organik Jilid II. Alih Bahasa :
Aloysius Hadiyana Pudjaatmaka. Jakarta : Erlangga.
Ganjar I, Syamsurizal W, Wutari A. Mikologi Dasar dan Terapan. Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta, 2006.
Hoog, J.L., Schwartz C., Noon A.T., Otoole E.T., Mastronarde DN, McIntosh JR, Antony C.
2007. Organization of interphase microtubules in fission yeast analyzed by electron
tomography. Dev Cell. 12(3): 349-61
Hsiao-Man, H., Shu-Cheng. C., and Shiang-Jiuun. C. 2004. Notes on Zygomycetes of Taiwan
(IV): Three Absidia species (Mucoraceae). Fung. Sci. Vol 19(34): 125131
Jawetz. E , Melnick dan Adelberg,1996, Microbiologi Kedokteran, edisi 20, 631 632, EGC,
Jakarta.
Made, Astawan. 2004. Tetap Sehat Dengan Produk Makanan Olahan. Surakarta : Tiga
Serangkai.
Madigan, M.T., J.M. Martinko, D.A. Stahl, and D.P. Clark. 2012. Brock Biology of
Microorganisms. Pearson Education, Inc., San Francisco.
Mandell G, Bennett J, Dolin R. 2000. Agents Of Mucormycosis And Related Species. In:
Principles And Practice Of Infectious Diseases. 5th edn. Philadelphia: Churchill
Livingstone:. 26852695
Morales-Aguirre J, Aguero-Echeverria W, Ornelas-Carsolio M. 2004. Successful Treatment
Of A Primary Cutaneous Zygomycosis Caused By Absidia Corymbifera In A
Premature Newborn. Pediatr Infect Dis. J vol 23:470472
Rukmana. 2001. Aneka Olahan Ubi Kayu. Yogyakarta : Kanisius.
Santos. J.S.M., Sandra., Trufem., Pedrina., and Oliveira. 2005. Sexual Reproduction In
Subcultures Of Absidia Blakesleeana After Years Of Preservation Under Mineral
Oil. Rev Iberoam Micol vol 22: 174-176
Singleton dan Sainsbury. 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology
3rd Edition.John Wiley and Sons. Sussex, England.
Strobel GA.2004. Natural Products From Endophytic Microorganism. Journal of Natural
Products vol 67:257-268.
Subandi. 2010. Teknologi Pengawetan Pangan. Jakarta : UI Press.

Tarigan. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan


Direktorat Jendral Perguruan Tinggi.
Tortora, G.J., B.R. Funke, and C.L. Case. 2007. Microbiology an introduction, 9th ed.
Benjamin Cummings, USA
Viegas, J. 2004. Fungi and Mold. The Rosen Publishing Group, New York.
Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar Jasad V. Jakarta : Erlangga.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang
Webster, J. and R. Weber. 2007. Introduction to Fungi. Cambridge University Press, New
York
Yenny. 2006. Aflatoksin dan Aflatoksikosis pada Manusia. http://www.univmed.org/wpcontent/uploads/2012/04/yenni1.pdf, diakses pada tanggal 3 Mei 2012.