Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permasalahan mengenai malpraktik dalam pelayanan kesehatan akhirakhir ini mulai ramai dibicarakan masyarakat dan media massa. Hal ini
ditunjukkan dengan banyaknya pengaduan kasus-kasus malpraktik yang
diajukan oleh masyarakat terhadap profesi dokter yang dianggap telah
merugikan pasien. Dengan meningkatnya jumlah pengaduan ini membuktikan
bahwa masyarakat mulai sadar akan haknya dalam usaha untuk melindungi
dirinya sendiri dari tindakan pihak lain yang merugikannya. Dalam hal ini
yang dimaksudkan adalah tindakan dokter. Dengan menggunakan jasa
pengacara dan dukungan dari lembaga swadaya masyarakat, masyarakat mulai
berani menuntut atau menggugat dokter yang diduga telah melakukan
tindakan yang tidak sesuai atau disebut dengan malpraktik.
Pasien dan tenaga kesehatan merupakan para pihak yang terlibat
dalam suatu pelayanan kesehatan. Di satu pihak pasien menaruh kepercayaan
terhadap kemampuan profesional tenaga kesehatan. Di lain pihak karena
adanya kepercayaan tersebut sekiranya tenaga kesehatan memberikan
pelayanan kesehatan menurut standar profesi dan berpegang teguh pada
kerahasiaan profesi. Bidang kedokteran yang dahulu dianggap profesi mulia,
seakan-akan sulit tersentuh oleh orang awam, kini mulai dimasuki unsur
hukum. Gejala ini tampak menjalar ke mana-mana, baik di dunia Barat yang
memeloporinya maupun Indonesia. Hal ini terjadi karena kebutuhan yang
mendesak akan adanya perlindungan hukum untuk pasien maupun dokternya.
Tidak mengherankan jika banyak putusan profesi dokter yang
menyatakan tidak ada malpraktik yang dilakukan dokter seringkali ditanggapi

secara sinis oleh pengacara. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah
dengan merumuskan bersama mengenai pengertian tentang apa yang
dimaksud dengan malpraktik tersebut.
Berdasarkan uraian diatas maka tulisan ini akan mengkaji tentang
Malpraktik dokter, hukum-hukum yang mengatur didalamnya, dan sanksi apa
saja yang dapat diberikan bagi pelanggaran yang dilakukan. Selain itu dalam
tulisan ini juga akan mengkaji perbedaan malpraktek dengan resiko medis
dari perawatan yang diberikan dokter kepada pasien.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja persyaratan yang diperlukan dalam melakukan praktek
kedokteran ?
2. Apa saja jenis malpraktek beserta contoh kasus dan dasar hukumnya ?
3. Bagaimanakah suatu kasus dapat ditentukan sebagai malpraktek atau suatu
resiko medik ?
1.3 Tujuan Pembelajaran
1. Mampu memahami dan menjelaskan tentang persyaratan yang diperlukan 2.
dalam melakukan praktek kedokteran
2. Mampu memahami dan menjelaskan tentang jenis malpraktek beserta
contoh kasus dan dasar hukumnya
3. Mampu memahami dan menjelaskan tentang perbedaan antara malpraktek
dan resiko medik

1.4 Skenario
Malpraktek Dan Resiko Medis
Drg. Soponyono yang baru lulus dan sudah memiliki STR tetapi belum
memiliki SIP sudah melakukan praktek dokter gigi di desanya. Pada saat

melakukan pencabutan gigi, lupa atau kealpaan tidak melakukan secara cermat
terhadap kondisi kesehatan pasien.
Pada saat pemberian suntikan lokal anastesi tiba0tiba keadaan umum
pasien menurun, kemudian setelah kelihatan tanda-tanda mau muntah drg
tersebut kemudian memberikan suntikan kortison 2 cc IM. Oleh karena
kondisi pasien semakin kritis, drg tersebut memberika suntikan lagi erladryl 2
cc.
Oleh karena kondisi pasien tidak ada perbaikan, maka pasien di rujuk ke
RSUD setempat, sesampai di UGD pasien sudah tidak sadar dan 15 menit
kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Kesimpulan Visum :
a. Kelainan/ cacat/ luka-luka yang tersebut diatas disebabkan oleh karena
reaksi tubuh yang tidak tahan obat yang diterima
b. Sebagaimana akibat tindakan tersebut, yang bersangkutan dinyatakan
meninggal dunia 15 menit setelah mendapatkan pertolongan di RSUD
setempat.
Pelanggaran yang didakwakan
1. UU Praktek Kedokteran
2. KUHP pasal 359 junto pasal 360
3.

1.5 Mapping

Praktek kedokteran gigi


(pasien meninggal)

Tidak terpenuhi syarat praktek


kedokteran gigi

Tidak punya SIP

Tidak sesuai SOP

Malpraktek Administratif

Malpraktek Pidana

UU No. 29 tahun 2004 tentang praktek


Kedokteran pasal 76

KUHP pasal 359 jo 360

Sanksi

BAB II
PEMBAHASAN

3.1 Syarat Praktek Kedokteran


Dalam menjalankan praktek kedokteran ada beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi.
1. Surat Tanda Registrasi (STR)

STR dokter Surat Tanda Registrasi (STR), merupakan dokumen


hukum/tanda bukti tertulis bagi dokter dan dokter spesialis bahwa yang
bersangkutan telah mendaftarkan diri dan telah memenuhi persyaratan yang
ditetapkan serta telah diregistrasi pada Konsil Kedokteran Indonesia. Masa
berlaku STR dokter dan dokter spesialis di Indonesia adalah 5 (lima) tahun.
Sementara STR yang diberikan kepada dokter dan dokter spesialis warga
negara asing yang

melakukan kegiatan dalam rangka pendidikan,

pelatihan,penelitian, pelayanan kesehatan di bidang kedoktran yang bersifat


di bidang kedokteran yang bersifat sementara di Indonesia berlaku selama 1
(satu) tahun. STR Bersyarat diberikan oleh KKI kepada peserta program
pendidikan dokter spesialis warga negara asing yang mengikuti pendidikan
dan pelatihan di Indonesia.
Menurut UU No 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran , untuk
memperoleh surat tanda registrasi dokter dan surat tanda registrasi dokter
gigi harus memiliki persyaratan :
a. Memiliki ijazah dokter, dokter spesialis, dokter gigi, atau dokter gigi
spesialis;
b. Mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janjji dokter atau
dokter gigi;
c. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
d. Memiliki sertifikat kompetensi; dan
e. Membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi.
Menurut pasal 33 UU. No 29 tahun 2004, Surat Tanda Registrasi (STR) tidak
a.
b.
c.
d.
e.

berlaku apabila :
Habis masa berlakunya dan yang bersangkutan tidak mendaftar ulang
Dicabut atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan
Atas permintaan yang bersangkutan
Yang bersangkutan meninggal dunia
Dicabut oleh Konsil Kedokteran Indonesia

Ketentuan hukum yang mengatur tentang surat registrasi terdapat pada UU


No 29 tahun 2004 pasal 75 yang berisi setiap dokter atau dokter gigi yang dengan

sengaja melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki STR dapat dikenai


hukuman pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak
100.000.00 (seratus juta rupiah).

Alur proses permohonan STR

2. Surat Izin Praktek (SIP)


Surat izin praktek merupakan surat izin untuk menjalankan praktek
kedokteran maupun kedokteran gigi yang resmi dikeluarkan oleh dinas kesehatan
daerah setempat. Menurut UU No 29 tahun 2004 tentang praktek kedokteran,
syarat yang harus dipenuhi untuk mengurus SIP adalah berikut :
a. Mempunyai STR yang masih berlaku
b. Mempunyai tempat praktik
c. Memiliki rekomendasi dari organisasi profesi
Surat izin praktek masih tetap berlaku selama surat tanda registrasi masih berlaku
dan tempat praktik masih sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin praktik.
SIP dokter atau dokter gigi hanya diberikan untuk paling banyak 3 tempat dan
setiap 1 SIP hanya berlaku untuk 1 tempat.

Ketentuan pidana bagi dokter atau dokter gigi yang tidak memiliki SIP
yang

dengan sengaja melakukan praktek kedokteran akan dikenai hukuman

pidana penjara paling lama 3 tahun atau denda paling banyak 100.000.000
(seratus juta rupiah). Kepengurusan SIP kurang lebih 3 bulan, dalam proses
menunggu SIP, dinas kesehatan akan memberikan surat tugas kepada yang
bersangkutan untuk menjalankan praktek. Sedangkan bagi calon dokter/dokter
gigi, surat yang digunakan dalam menjalankan praktek profesi adalah surat
keterangan

studi

bukan

SIP. Bagi

calon

dokter/dokter

gigi

spesialis

(residen/PPDS) surat yang digunakan dalam masa studinya berupa SIP khusus
untuk menempuh spesialis.
Menurut

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Nomor

512/MENKES/PER/IV/2007 tentang izin praktik dan pelaksanaan praktik


kedokteran pasal 9 menyatakan bahwa dokter atau dokter gigi yang telah memiliki
SIP yang memberikan pelayanan medis atau memberikan konsultasi keahlian
dalam hal sebagai berikut :
a. Diminta oleh suatu sarana pelayanan kesehatan dalam rangka pemenuhan
pelayanan medis yang bersifat khusus, tidak terus menerus dan tidak memiliki
jadwal tetap
b. Dalam rangka melakukan bakti sosial
c. Dalam rangka melakukan tugas kenegaraan
d. Dalam rangka melakukan pertolongan terhadap bencana atau pertolongan darurat
lainnya
e. Dalam rangka memberikan pertolongan pelayanan medis kepada keluarga,
tetangga, teman, pelayanan kunjungan rumah, pertolongan masyarakat yang
sifatnya insidentil.
3. Rekam Medis
Rekam medis merupakan suatu berkas yang berisikan catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan
pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Menurut UU No 29
tahun 2004 pasal 46 yang mengatur tentang rekam medis, menyatakan
bahwa setiap dokter atau dokter gigi yang menjalankan praktek kedokteran

wajib membuat rekam medis. Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi
nama, waktu dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan.
Rekam medis harus dijaga kerahasiaannya oleh dokter atau dokter gigi dan
pimpinan sarana pelayanan kesehatan. Dokumen rekam medis merupakan
milik dokter, dokter gigi atau saranan pelayanan kesehatan, sedangkan isi
rekam medis milik pasien.
Rekam medis harus dibuat tertulis, jelas, lengkap atau secara
elektronik. Ketentuan sanksi bagi dokter atau dokter gigi yang tidak
membuat rekam medis diatur dalam pasal 79b dimana dokter atau dokter
gigi yang dengan sengaja tidak membuat rekam medis akan dipidana
dengan pidana kurungan paling lama 1 tahun atau denda paling banyak
50.000.000 (lima puluh juta rupiah).
Peraturan menteri kesehatan Nomor 269/MENKES/PER/III/2008
yang mengatur tentang rekam medis, pada pasal 3 diterangkan mengenai
isi dari rekam medis yang diantaranya :
1. Rekam medis bagi pasien rawat jalan , sekurang-kurangnya
memuat :
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu
c. Hasil anamnesa yang mencakup sekurang-kurangnya
d.
e.
f.
g.
h.
i.

keluhan pasien dan riwayat penyakit yang diderita


Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
Diagnosis
Rencana penatalaksanaan
Pengobatan atau tindakan
Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram

klinik
j. Persetujuan tindakan bila diperlukan
2. Rekam medis bagi pasien rawat inap, sekurang-kurangnya memuat:
a. Identitas pasien
b. Tanggal dan waktu
c. Hasil anamnesa
d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
e. Diagnosis

f.
g.
h.
i.
j.
k.

Rencana penatalaksanaan
Pengobatan atau tindakan
Persetujuan tindakan bila diperlukan
Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan
Ringkasan pulang
Nama dan tanda tangan doketr atau dokter gigi atau tenaga

pelayanan kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan


l. Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan
tertentu
m. Untuk kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik
3. Rekam medis bagi pasien gawat darurat sekurang-kurangnya
memuat :
a. Identitas pasien
b. Kondisi saat pasien tiba di sarana pelayanan kesehatan
c. Identitas pengantar pasien
d. Tanggal dan waktu
e. Hasil anamnesa
f. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang
g. Diagnosis
h. Pengobatan dan tindakan
i. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan
unit gawat darurat dan rencana tindak lanjut
j. Nama dan tanda tangan dokter atau dokter gigi atau tenaga
kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan
k. Sarana transportasi yang digunakan bagi pasien yang akan
dipindahkan ke sarana pelayanan kesehatan lain
l. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien
4. Informed Consent
Informed consent merupakan surat persetujuan atas setiap tindakan
kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan kepada pasien. Surat
persetujuan ini diberikan setelah pasien mendapatkan penjelasan yang
lengkap dari dokter atau dokter gigi. Penjelasan yang dimaksud sekurangkurangnya mencakup :
a.
b.
c.
d.

Diagnosis dan tata cara tindakan medis


Tujuan tindakan medis yang akan dilakukan
Alternatif tindakan lain dan resikonya
Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi

e. Prognosis terhadap tindakan yang akan dilakukan


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Medik Pasal 1 ayat (1)
dijelaskan bahwa Persetujuan tindakan medik kedokteran adalah persetujuan
yang diberikan oleh pasien atau keluarganya setelah mendapatkan penjelasan
secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan
dilakukan terhadap pasien. Pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.

290/MENKES/PER/III/2008

tentang

Persetujuan

Tindakan

Medik,

pengaturan mengenai informed consent pada kegawatdaruratan lebih tegas dan


lugas. Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 4 ayat (1) dijelaskan bahwa
Dalam keadaan darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah
kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
Disahkannya Permenkes No. 290/MENKES/PER/III/2008 sekaligus
mengggugurkan

Permenkes

sebelumnya

yaitu

pada

Permenkes

No

585/Men.Kes/Per/IX/1989 masih terdapat beberapa kelemahan. Pada pasal 11


hanya disebutkan bahwa yang mendapat pengecualian hanya pada pasien pingsan
atau tidak sadar. Jika ditinjau dari hukum kedokteran yang dikaitkan dengan
doktrin informed consent, maka yang dimaksudkan dengan kegawatdaruratan
adalah suatu keadaan dimana :

Tidak ada kesempatan lagi untuk memintakan informed consent, baik dari
pasien atau anggota keluarga terdekat (next of kin)

Tidak ada waktu lagi untuk menunda-nunda

Suatu tindakan harus segera diambil untuk menyelamatkan jiwa pasien


atau anggota tubuh.
Seperti

yang

telah

dijelaskan

pada

Permenkes

No

209/Menkes/Per/III/2008 pada pasal 4 ayat (1) bahwa tidak diperlukan informed


consent pada keadaan gawat darurat. Namun pada ayat (3) lebih di tekankan
bahwa dokter wajib memberikan penjelasan setelah pasien sadar atau pada
keluarga terdekat. Berikut pasal 4 ayat (3) Dalam hal dilakukannya tindakan
kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dokter atau dokter gigi wajib

memberikan penjelasan sesegera mungkin kepada pasien setelah pasien sadar atau
kepada keluarga terdekat. Hal ini berarti, apabila sudah dilakukan tindakan untuk
penyelamatan pada keadaan gawat darurat, maka dokter berkewajiban sesudahnya
untuk memberikan penjelasan kepada pasien atau kelurga terdekat.
Selain ketentuan yang telah diatur pada UU No. 29 Tahun 2004 Tentang
Praktik

Kedokteran

dan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

No.

209/Menkes/Per/III/2008, apabila pasien dalam keadaan gawat darurat sehingga


dokter tidak mungkin mengajukan informed consent, maka KUHP Perdata Pasal
1354 juga mengatur tentang pengurusan kepentingan orang lain. Tindakan ini
dinamakan zaakwaarneming atau perwalian sukarela yaitu Apabila seseorang
secara sukarela tanpa disuruh setelah mengurusi urusan orang lain, baik dengan
atau tanpa sepengetahuan orang itu, maka secara diam-diam telah mengikatkan
dirinya untuk meneruskan mengurusi urusan itu sehingga orang tersebut sudah
mampu mengurusinya sendiri.
Dalam keadaan yang demikian perikatan yang timbul tidak berdasarkan
suatu persetujuan pasien, tetapi berdasarkan suatu perbuatan menurut hukum yaitu
dokter berkewajiban untuk mengurus kepentingan pasien dengan sebaik-baiknya.
Maka dokter berkewajiban memberikan informasi mengenai tindakan medis yang
telah dilakukannya dan mengenai segala kemungkinan yang timbul dari tindakan
itu.
Informed consent harus memuatkan pilihan untuk pasien menerima atau
menolak tindakan medik yang bakal dilakukan dokter selain mencantumkan
pilihan terapi lain. Pasien yang kompeten boleh memilih untuk menolak tindakan
medik walaupun tanpa tindakan ini dapat mengancam nyawa pasien. Terdapat dua
kondisi di mana informed consent dikecualikan yaitu:
1. Pasien menyerahkan sepenuhnya keputusan tindakan medik terhadap
dirinya kepada dokter. Apabila pasien menyerahkan semua keputusan
kepada dokter yang merawatnya, dokter tetap harus menerangkan secara
lengkap tindakan yang bakal dilakukan.
2. Keadaan apabila pemberitahuan tentang kondisi penyakit pasien dapat
berdampak besar terhadap pasien secara fisik, psikologis dan emosional.

Contohnya adalah apabila pasien cenderung untuk membunuh diri apabila


mengetahui tentang penyakitnya. Namun, dokter pada awalnya harus
menganggap bahwa semua pasien dapat menerima berita tentang
penyakitnya dan memberikan informasi selengkapnya sesuai dengan hak
pasien.

3.2 Jenis Malpraktek


Ada berbagai macam pendapat dari para sarjana mengenai pengertian
malpraktik. Masing-masing pendapat itu diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Veronica menyatakan bahwa istilah malparaktik berasal dari malpractice
yang pada hakikatnya adalah kesalahan dalam menjalankan profesi yang
timbul sebagai akibat adanya kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan
oleh dokter.
b. Hermien Hadiati menjelaskan malpractice secara harfiah berarti bad
practice, atau praktek buruk yang berkaitan dengan praktek penerapan
ilmu dan teknologi medik dalam menjalankan profesi medik yang
mengandung ciri-ciri khusus. Karena malpraktik berkaitan dengan how to
practice the medical science and technology, yang sangat erat
hubungannya dengan sarana kesehatan atau tempat melakukan praktek dan
orang yang melaksanakan praktek. Maka Hermien lebih cenderung untuk
menggunakan istilah maltreatment.
c. Menurut J. Guwandi merumuskan pengertian malpraktik medik tersebut,
yakni:
a. melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh tenaga
kesehatan;

b. Tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan atau melalaikan


kewajiban (negligence).
c. Melanggar sesuatu ketentuan menurut atau berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
d. Danny Wiradharma memandang malpraktik dari sudut tanggung jawab
dokter yang berada dalam suatu perikatan dengan pasien, yaitu dokter
tersebut melakukan praktek buruk.
e. Amri Amir menjelaskan malpraktik medis adalah tindakan yang salah oleh
dokter pada waktu menjalankan praktek, yang menyebabkan kerusakan
atau kerugian bagi kesehatan dan kehidupan pasien, serta menggunakan
keahliannya untuk kepentingan pribadi.
Beberapa sarjana sepakat untuk merumuskan penggunaan istilah medical
malpractice (malpaktek medik) sebagaimana disebutkan dibawah ini :
1. John D. Blum memberikan rumusan tentang medical malpractice sebagai
a form of professional negligence in which measerable injury occurs to a
plaintiff patient as the direct result of an act or ommission by the defendant
practitioner (malpraktik medik merupakan bentuk kelalaian profesi dalam
bentuk luka atau cacat yang dapat diukur yang terjadinya pada pasien yang
mengajukan gugatan sebagai akibat langsung dari tindakan dokter).
2. Black Law Dictionary merumuskan malpraktik sebagai any professional
misconduct, unreasonable lack of skill or fidelity in professional or
judiacry duties, evil practice, or illegal or immoral conduct (perbuatan
jahat dari seorang ahli, kekurangan dalam keterampilan yang dibawah
standar, atau

tidak

cermatnya

seorang

ahli

dalam

menjalankan

kewajibannya secara hukum, praktek yang jelek atau ilegal atau perbuatan
yang tidak bermoral).
Dari beberapa pengertian tentang malpraktik medik diatas semua
sarjana sepakat untuk mengartikan malpraktik medik sebagai kesalahan
tenaga kesehatan yang karena tidak mempergunakan ilmu pengetahuan
dan tingkat keterampilan sesuai dengan standar profesinya yang akhirnya
mengakibatkan pasien terluka atau cacat atau bahkan meninggal dunia.

Malpraktik ditinjau dalam hukum pidana , diantaranya :


a. Pasal 322 KUHP yaitu membocorkan rahasia kedokteran yang diadukan
oleh penderita .
b. Pasal 359,360, 361 KUHP yaitu karena kelalaiannya sehingga
mengakibatkan kematian atau luka luka .
c. Pasal 531 KUHAP yaitu tidak memberikan pertolongan kepada orang
yang berada dalam keadaan bahaya maut.
Perbuatan perbuatan tersebut harus memenuhi rumusan delik
pidana yaitu pertama , perbuatan tersebut baik positif maupun negatif
merupakan perbuatan tercela ( Actus Reus ). Kedua dilakukan dengan
sikap batin yang salah yaitu berupa kesengajaan ( Intensional ) ,
kecerobohan (Recklessness) atau kealpaan ( Negligence ) sehingga
tanggung jawab selalu bersifat individual dan personal . oleh sebab itu
tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah sakit
Ngesti Lestari dan Soedjatmiko membedakan malpraktik medik
menjadi dua bentuk, yaitu malpraktik etik (ethical malpractice) dan
malpraktik yuridis (yuridical malpractice), ditinjau dari segi etika profesi
dan segi hukum.
1. Malpraktek Etik
Yang

dimaksud

dengan

malpraktik

etik

adalah

tenaga

kesehatanmelakukan tindakan yang bertentangan dengan etika profesinya


sebagai tenaga kesehatan. Misalnya seorang dokter yang melakukan
tindakan yang bertentangan dengan etika kedokteran atau KODEKI.
Ngesti Lestari berpendapat bahwa malpraktek etik ini berhubungan dengan
dampak negatif kemajuan teknologi kedokteran. Kemajuan teknologi
kedokteran yang sebenarnya adalah untuk memberikan kemudahan dan
kenyamanan bagi pasien dan membantu dokter untuk mempermudah
menentukan diagnosa dengan lebih cepat dan akurat sehingga rehabilitas
pasien lebih cepat, ternyata memberikan efek samping yang tidak
diinginkan.

Efek samping ataupun dampak negatif dari kemajuan teknologi


kedokteran tersebut diantaranya :
a. Kontak atau komunikasi antara dokter dengan pasien semakin
berkurang
b. Etika kedokteran terkontaminasi dengan kepentingan bisnis
c. Harga pelayanan medis semakin tinggi, dsb
Albert R. Jonsen dkk menganjurkan 4 hal yang harus selalu
dipergunakan sebagai pedoman bagi para dokter untuk mengambil
keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan moral.
Adapun 4 pedoman tersebut sebagai berikut :
a. Menentukan indikasi medisnya
b. Mengetahui apa yang menjadi pilihan pasien untuk dihormati
c. Mempertimbangkan dampak tindakan yang akan dilakukan terhadap
mutu kehidupan pasien
d. Mempertimbangkan hal-hal kontekstual yang terkait dengan situasi
kondisi pasien, misalnya aspek sosial, ekonomi, hukum, budaya dan
sebagainya.
2. Malpraktek Yuridis
Malpraktek yuridis terbagi menjadi 3 yaitu malpraktek yuridis
pidana

(criminal

malpractice),

malpractice),

malpraktek

malpraktek

yuridis

yuridis

administratif

perdata

(civil

(adminictrative

malpractice).
A. Malpraktik pidana (criminal malpractice)
Terjadi apabila pasien meninggal dunia atau mengalami cacat
akibat tenaga kesehatan kurang hati-hati. Atau kurang cermat dalam
melakukan upaya perawatan terhadap pasien yang meninggal dunia atau
cacat tersebut.
Malpraktik pidana ada tiga bentuk yaitu:
a. Malpraktik pidana karena kesengajaan(intensional), misalnya pada
kasus aborsi tanpa insikasi medis, tidak melakukan pertolongan pada

kasus gawat padahal diketahui bahwa tidak ada orang lain yang bisa
menolong, serta memberikan surat keterangan yang tidak benar.
b. Malpraktik pidana karena kecerobohan (recklessness), misalnya
melakukan tindakan yang tidak lege artis atau tidak sesuai dengan
standar profesi serta melakukan tindakan tanpa disertai persetujuan
tindakan medis.
c. Malpraktik pidana karena kealpaan (negligence), misalnya terjadi cacat
atau kematian pada pasien sebagai akibat tindakan tenaga kesehatan
yang kurang hati-hati.

B. Malpraktek Perdata (Civil Malpractice)


Malpraktik

perdata

terjadi

apabila

terdapat

hal-hal

yang

menyebabkan tidak terpenuhinya isi perjanjian (wanprestasi) didalam


transaksi terapeutik oleh tenaga kesehatan, atau terjadinya perbuatan
melanggar hukum (onrechtmatige daad), sehingga menimbulkan kerugian
kepada pasien.
Adapun isi daripada tidak dipenuhinya perjanjian tersebut dapat berupa:
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatan wajib dilakukan.
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi
terlambat melaksanakannya.
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan, tetapi
tidak sempurna dalam pelaksanaan dan hasilnya.
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya
dilakukan.
Ketentuan yang mengatur tentang segala hal yang berhubungan dengan
kasus perdata diatur dalam KUH Perdata baik ketentuannya maupun
sanksi yang akan diterima,
C. Malpraktek Administratif

Malpraktik

administrastif

terjadi

apabila

tenaga

kesehatan

melakukan pelanggaran terhadap hukum administrasi negara yang berlaku,


misalnya menjalankan praktek tanpa lisensi atau izin praktek, melakukan
tindakan yang tidak sesuai dengan lisensi atau ijinnya, menjalankan
praktek dengan ijin yang sudah kadaluarsa dan menjalankan praktek tanpa
membuat catatan rekam medik. Jenis jenis lisensi memerlukan basic dan
mempunyai batas kewenangan sendiri sendiri. Tidak dibenarkan
melakukan tindakan medik melampaui batas kewenangan yang telah
ditentukan. Jika ketentuan tersebut dilanggar, maka dokter dianggap
melakukan

administrative

malpractice

dan

dapat

dikenai

sanksi

administratif.
2.3 Malpraktek dan Resiko Medis
Perbedaan antara resiko medis dengan malpraktek medis dilakukan
dengan terlebih dahulu menegaskan pengertian kedua hal tersebut. Pengertian
dan kualifikasi resiko medis, serta pengertian malpraktek telah diuraikan pada
alenia sebelumnya. Berikut adalah pembahasan mengenai unsur-unsur
malpraktek.
Kelalaian menurut Jusuf Hanafiah maksudnya adalah sikap kurang
hati-hati yaitu tidak melakukan apa yang sewajarnya dilakukan, atau
sebaliknya melakukan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Kelalaian juga
merupakan tindakan kedokteran di bawah standar pelayanan medis. Kelalaian
bukanlah suatu pelanggaran hukum atau kejahatan, jika kelalaian tersebut
tidak sampai membawa pada kerugian atau cedera pada orang lain dan orang
lain itu dapat menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hukum

de minimis

noncurat lex yang berarti hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap
sepele. Tetapi jika kelalaian itu mengakibatkan kerugian materi, mencelakakan
bahkan merenggut nyawa orang lain, maka ini

diklasifikasikan

sebagai

kelalaian berat (culpa lata) serus dan kriminal. Jika suatu peristiwa terjadi

karena unsur kelalaian maka hal itu termasuk kesalahan (sculhd) dalam arti
negligence.
Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika:
a. dokter kurang menguasai iptek kedokteran yang sudah berlaku umum di
kalangan profesi kedokteran
b. memberikan pelayanan kedokteran di bawah standar profesi
c. melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan yang tidak
hati-hati
d. melakukan tindaan medik yang bertentangan dengan hukum
W.L. Prosser dalam buku The Law of Torts yang dikutip oleh Dagi, T.F
dalam tulisannya yang berjudul Cause and Culpability di Journal of Medicine
and Philosophy , menyebutkan beberapa unsur malpraktek yaitu:
a.

Adanya perjanjian dokter-pasien;

b.

Adanya pengingkaran perjanjian;

c.

Adanya

hubungan

sebab

akibat

antara

tindakan

pengingkaran itu dengan musibah yang terjadi;


d.

Tindakan pengingkaran itu merupakan penyebab utama dari


musibah

e.

Musibah

itu

dapat

dibuktikan

keberadaannya

(www.hukumonline.com)
Asri Rasad menyebutkan unsur-unsur malpraktek adalah kelalaian,
kesalahan medis, dan kerugian bagi pasien. Secara perdata, malpraktek
dapat dimintakan sebagai perbuaan melawan hukum apabila memenuhi 4
syarat dalam Pasal 1365 KUH Perdata :
1. Pasien menderita kerugian
2. Ada kesalahan/kelalaian
3. Ada hubungan kausalitas antara kerugian dengan kesalahan
4. Perbuatan itu melanggar hukum

Kualifikasi malpraktek juga dimiliki oleh hukum pidana. Unsur-unsur


untuk sesuatu dikategorikan sebagai malpraktek menurut hukum pidana
adalah :
1. Harus ada perbuatan yang dapat dipidana
2. Perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum
3. Harus ada kesalahan.
Unsur kesalahan atau kelalaian adalah kesalahan atau kelalaian penilaiannya
adalah terhadap seorang dokter dalam tingkat kepandaian dan ketrampilan
rata-rata bukan dengan dokter yang terpandai.
Kualifikasi malpraktek medis diukur dengan standar medis. Sampai
saat ini standar medis yang berlaku secara universal tidak ada. Pengertian
standar profesi medis juga tidak ditemukan dalam peraturan perundangundangan di Indonesia. Karena sumber hukum peraturan perundang-undangan
di Indonesia belum ada yang mengatur mengenai standar profesi medis secara
khusus maka harus dicari sumber hukum yang lain seperti doktrin atau ajaran
hukum. Leenen memberikan ukuran standar profesi medis sebagai bertindak
hati-hati seperti seorang dokter yang mempunyai kemampuan rata-rata dalam
bidang keahlian

yang sama, dalam situasi dan kondisi yang sama untuk

mencapai tujuan pengobatan secara konkrit.


Hukum hanya mensyaratkan standar profesi yang wajar , bukan yang
istimewa. Apabila ada Apabila terjadi keatian atau cacat disebabkan karena
lalai, kuran hati-hati, maka dokter dapat dimintakan pertanggungjawabannya.
Tindakan seperti ini dinamakan tidak memenuhi standar profesi medis.
Seorang dokter dikatakan melakukan kesalahan profesional apabila ia tidak
memeriksa, tidak menilai, tidak berbuat atau mengabaikan hal-hal yang oleh
dokter pada umumnya dianggap baik dalam situasi yang sama diperiksa,
dnilai, diperbuat, atau diabaikan. Kesalahan profesional di bidang medik
(medical malpractice) adalah kesalahan dalam menjalankan profesi medik
sesuai dengan standar profesi medik sesuai dengan profesi medis, atau

tindakan medik

menurut ukuran tertentu yang didasarkan pada ilmu

pengetahuan medik dan pengalaman yang rata-rata dimiliki seorang dokter


meurut situasi dan kondisi dimana tindakan medik itu dilakukan .
Dari unsur-unsur tersebut maka perbedaan antara resiko medis dengan
malpraktek medis adalah bahwa dalam malpraktek medis, subyek yang
bertanggung jawab adalah dokter karena dokter dalam hal ini yang melakukan
tindakan di luar standar profesinya. Dokter dimintai pertanggungjawaban
karena ada unsur kesalahannya yaitu lalai tidak mendsarkan tindakannya pada
standar profesi medis. Dalam resiko medis, subyek yang bertanggung jawab
justru pasien. Pasienlah yang harus menanggung kerugian. Kewajiban
menanggung ini didasari bahwa dokter sudah menjalankan tindakan medis
sesuai dengan standar profesi medis. Dokter telah menjalankan aktivitasnya
sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya
dilakukan.
Kesesuaian ini lebih dipertegas bahwa di sana tidak ada unsur
kesalahan dari dokter dalam melakukan tindakan medis. Tidak adanya
kesalahan baik itu kesengajaan maupun kekhilafan menjadi syarat dalam
resiko medis ini. Malpraktek medis seharusnya tidak diprediksikan akan
terjadi, karena asumsi dasarnya dokter melakukan tindakan berdasarkan
standar profesi medis. Sedangkan dalam resiko medis, dokter sudah dapat
memprediksikan meskipun belum tentu akan terjadi karena asumsi dasarnya
dokter menjalankan sesuai standar profesi medis.
Pasal 359 KUHP yang berbunyi : Barangsiapa karena kealpaannya
menyebabkan matinya orang lain, diancam dengan pidana penjara paling lama
lima tahun atau kurungan paling lama satu tahun
Sebagaimana diuraikan di atas, di dalam suatu layanan medik dikenal
gugatan ganti kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian medik. Suatu
perbuatan atau tindakan medis disebut sebagai kelalaian apabila memenuhi
empat unsur di bawah ini.

Duty
Kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan medis
atau untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien
tertentu pada situasi dan kondisi yang tertentu. Dasar dari adanya
kewajiban ini adalah adanya hubungan kontraktual-profesional antara
tenaga medis dengan pasiennya, yang menimbulkan kewajiban umum
sebagai akibat dari hubungan tersebut dan kewajiban profesional bagi
tenaga medis tersebut. Kewajiban profesional diuraikan di dalam sumpah
profesi, etik profesi, berbagai standar pelayanan, dan berbagai prosedur
operasional. Kewajiban-kewajiban tersebut dilihat dari segi hukum
merupakan rambu-rambu yang harus diikuti untuk mencapai perlindungan,
baik bagi pemberi layanan maupun bagi penerima layanan; atau dengan
demikian untuk mencapai safety yang optimum.

Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban.


Dengan melihat uraian tentang kewajiban di atas, maka mudah
buat kita untuk memahami apakah arti penyimpangan kewajiban. Dalam
menilai kewajiban dalam bentuk suatu standar pelayanan tertentu, haruslah
kita tentukan terlebih dahulu tentang kualifikasi si pemberi layanan (orang
dan institusi), pada situasi seperti apa dan pada kondisi bagaimana. Suatu
standar pelayanan umumnya dibuat berdasarkan syarat minimal yang
harus diberikan atau disediakan (das sein), namun kadang-kadang suatu
standar juga melukiskan apa yang sebaiknya dilakukan atau disediakan
(das

sollen).

Kedua

uraian

standar

tersebut

harus

hati-hati

diinterpretasikan. Demikian pula suatu standar umumnya berbicara tentang


suatu situasi dan keadaan yang normal sehingga harus dikoreksi terlebih
dahulu untuk dapat diterapkan pada situasi dan kondisi yang tertentu.
Dalam hal ini harus diperhatikan adanya Golden Rule yang menyatakan
What is right (or wrong) for one person in a given situation is similarly
right (or wrong) for any other in an identical situation.

Damage atau kerugian.


Yang dimaksud dengan kerugian adalah segala sesuatu yang
dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan /
kedokteran yang diberikan oleh pemberi layanan. Jadi, unsur kerugian ini
sangat berhubungan erat dengan unsur hubungan sebab-akibatnya.
Kerugian dapat berupa kerugian materiel dan kerugian immateriel.
Kerugian yang materiel sifatnya dapat berupa kerugian yang nyata dan
kerugian sebagai akibat kehilangan kesempatan. Kerugian yang nyata
adalah real cost atau biaya yang dikeluarkan untuk perawatan /
pengobatan penyakit atau cedera yang diakibatkan, baik yang telah
dikeluarkan sampai saat gugatan diajukan maupun biaya yang masih akan
dikeluarkan untuk perawatan / pemulihan. Kerugian juga dapat berupa
kerugian akibat hilangnya kesempatan untuk memperoleh penghasilan
(loss of opportunity). Kerugian lain yang lebih sulit dihitung adalah
kerugian immateriel sebagai akibat dari sakit atau cacat atau kematian
seseorang.

Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata.


Dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab-akibat antara
penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang setidaknya merupakan
proximate cause.
Gugatan

ganti

rugi

akibat

suatu

kelalaian

medik

harus

membuktikan adanya ke-empat unsur di atas, dan apabila salah satu saja
diantaranya tidak dapat dibuktikan maka gugatan tersebut dapat dinilai
tidak cukup bukti.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1.

Dalam menjalankan suatu praktik kedokteran, dokter atau

dokter gigi wajib melengkapi seluruh persyaratan yang tertera dalam


Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang praktik kedokteran.
2.
Malpraktik merupakan suatu kesalahan atau kelalaian
yang dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis yang tidak
menggunakan kemampuannya sesuai dengan standart profesinya
sehingga mengakibatkan kecacatan atau terluka atau kematian.
3.
Malpraktik terdiri dari 2 jenis diantaranya adalah
malpraktik etik dan malpraktek yuridis. Malpraktek yuridis terdiri dari
4.

malpraktek pidana, perdata dan administratif.


Dalam bidang kedokteran dikenal dengan resiko medis.
Perbedaan resiko medis dengan malpraktek adalah dalam resiko medis

tidak ditemukan adanya unsur kelalaian dan tindakan yang dilakukan


sudah sesuai dengan standart prosedur operasional, namun tetap pada
akhirnya menimbulkan kecacatan pada pasien.

3.2 Daftar Pustaka


Prijatmoko, Dwi. 2013. Malpraktek Yuridis, Administratif dan Etika.
Jember : Jember University Press.
Bawono, Bambang Tri. 2011. Kebijakan Hukum Pidana dalam Upaya
Penanggulangan Malpraktik Profesi Medis. Jurnal Hukum Unissula
Hanafian, Jusuf M & Amri Amir.2008. Etika Kedokteran & Hukum
Kesehatan, Edisi 4. Jakarta. EGC
Guwandi, 2007, Hukum Medik (Medical Law), Balai Penerbit FKUI,
Jakarta

LAPORAN TUTORIAL
Skenario II

Malpraktek dan Resiko Medik


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada blok
Etika dan Hukum Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember

Pembimbing :
drg. Sri Lestari, M.Kes
Oleh :
Kelompok Tutorial V

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER

2014
Pembimbing

: drg. Sri Lestari, M.Kes

Ketua

: Aulia Mursyida

(111610101042)

Scriber meja

: Ega Sofiana

(111610101053)

Scriber papan

: Amalia Hayudiarti

(111610101039)

Anggota :
1. Riza jayabela Y. P

(111610101012)

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

(111610101013)
(111610101025)
(111610101026)
(111610101032)
(111610101038)
(111610101052)
(111610101056)
(111610101060)

Dhani Yanuar P.
Neira Najatus S
Rifqi Afdila
Avinandri Mantrasari
Maulida Nusantari
Ria Anugrah P.
Asri dinar P
Sixtine Agustiana F.

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala
bimbingan dan petunjukNya, serta berkat rahmat, nikmat, dan karuniaNya
sehingga kami masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan laporan tutorial
perawatan gigi tiruan ini. Laporan tutorial yang kami buat ini sebagai salah satu
sarana untuk lebih mendalami materi tentang etika dan hukum pelayanan
kesehatan masyarakat. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. drg. Sri Lestari, M.Kes., yang telah memberi kami kesempatan untuk lebih
mendalami materi dengan pembuatan laporan tutorial ini.
2. Teman-teman Kelompok Tutorial V yang telah berperan aktif dalam
pembuatan laporan tutorial ini.
Kami menyadari bahwa laporan tutorial ini mengandung banyak
kekurangan, baik dari segi isi maupun sistematika. Oleh karena itu, kami mohon
maaf jika ada kesalahan karena kami masih dalam proses pembelajaran. Kami
juga berharap laporan tutorial yang telah kami buat ini dapat bermanfaat.

Jember, 10 Juni 2014

Penulis