Anda di halaman 1dari 11

Status Hewan

Jenis hewan yang digunakan sebagai sampel adalah ayam lokal dan
broiler. Ayam lokal merupakan salah satu ayam broiler yang dipelihara di Unit
Rehabilitasi Reproduksi (URR) IPB, sedangkan ayam broiler dipelihara di Unit
Pengelolahan Labolatorium (UPHL) IPB (Gambar 1). Sampel yang diamati untuk
identifikasi endoparasit adalah sampel feses dan darah. Selain itu juga dilakukan
koleksi spesimen ektoparasit baik yang terdapat pada ayam maupun yang ada
disekitar kandang. Spesimen ektoparasit yang dikoleksi yaitu kutu di permukaan
kulit ayam dan tungau dari cabutan bulu.
Anamnese
Kondisi ayam broiler tampak lemah dengan bulu yang kusut, penurunan
napsu makan, pertumbuhan badan lambat dan feses berwarna hijau gelap,
sedangkan ayam lokal tidak menunjukkan adanya gejala kesakitan.

Gambar 1. Ayam broiler sampel (kiri) dan ayam lokal sampel (kanan)
Signalement
Nama
Jenis hewan
Jenis kelamin
Umur
Ras
Warna

: Ike
: Ayam
: Jantan
: 1.5 bulan
: Broiler
: Putih

Nama
Jenis hewan
Jenis kelamin
Umur
Ras
Warna

: Sony
: Ayam
: Jantan
: 9 bulan
: Lokal
: Merah-hitam

Hasil Pemeriksaan
Kedua sampel feses dan darah diambil untuk dilakukan pemeriksaan.
Peemeriksaan feses dilakukan dengan beberapa metode untuk melihat adanya
telur cacing maupun ookista. Pemeriksaan feses yang dilakukan berupa
pemeriksaan dengan metode natif, pengapungan sederhana, McMaster, dan
sedimentasi. Untuk pemeriksaan darah, dilakukan dengan pewarnaan Giemsa
pada preparat ulas darah. Hasil pemeriksaan feses dan ulas darah dari kedua
sampel ditampilkan pada tabel 1:

Tabel 1. Hasil pemeriksaan sampel feses dan ulas darah ayam


Hewan
Ayam 1

Ayam 2

Natif
+
Ascarid,
Trichuris
- Telur
cacing

Pemeriksaan
Pengapungan McMaster
+
Ascarid, + Ascarid
Trichuris
7,
Trichuris 9
+
Ookista +
Ookista + Ookista
Eimeria sp.
Eimeria sp
Eimeria sp
2506
Lugol/Eosin
-

Sedimentasi Ulas darah


+ Ascarid, + Plasmodium
Trichuris
sp.
-

Adapun gambar dari hasil sampel feses dan ulas darah yang telah
identifikasi ditampilkan pada tabel 2.
Tabel 2. Identifikasi sampel feses dan ulas darah ayam
Hewan

Hasil pemeriksaan mikroskopis

Ayam 1

Telur Ascarid

Telur Ascarid

Uji yang
dilakukan
Pengapungan

Hasil
identifikasi
Telur
Ascarid dan
Trichuris

McMaster

Telur
Ascarid
700/gram
tinja dan
Trichuris
900/gram
tinja
Plasmodiu
m sp.
(1.2%)

Telur Trichuris

Telur Trichuris
Ulas darah
dengan
pewarnaan
Giemsa

Ayam 2

Pengapungan

Ookista
Eimeria sp.

McMaster

Ookista
Eimeria sp.
Jumlah
ookista
250600

Pada tabel 3 ditampilkan hasil identifikasi ektoparasit yang diperoleh dari


tubuh ayam (kutu dan tungau) dan ektoparasit di sekitar kandang.
Tabel 3. Identifikasi ektoparasit
Hasil pemeriksaan mikroskopis

Uji yang
Dilakukan

Hasil
Identifikasi

Mikroskopi
s

Menopon
gallinae

Mikroskopi
s

Megninia
sp.

Mikroskopi
s

Musca
domestica

Mikroskopi
s

Chrysomia
sp.

4x

4x

PEMBAHASAN
Endoparasit pada feses ayam
Hasil koleksi dan identifikasi endoparasit menunjukkan bahwa beberapa
jenis endoparasit yang banyak ditemukan yaitu jenis Eimeria sp., telur Ascarid,
telur Trichuris, dan Plasmodium gallinaceum. Pada sampel feses ayam 1

ditemukan telur ascarid dan telur trichuris. Cacing dengan tipe telur ascarid dapat
berupa cacing Ascaridia galli dan Heterakis gallinarum, sedangkan cacing dengan
tipe telur trichuris dapat berupa cacing Trichuris sp. dan Capillaria sp.. Pada
ayam 2 tidak ditemukan telur cacing, namun ditemukan Eimeria sp. yang dapat
menyebabkan koksidiosis pada ayam. Berdasarkan perhitungan TTGT, jumlah
telur ascarid pada ayam 1 berjumlah 700/gram tinja, nilai ini masih termasuk
infeksi ringan. Nilai TTGT telur trichuris ayam 1 adalah 900/gram tinja, angka ini
menunjukkan bahwa ayam mengalami infeksi sedang cacing trichuris. Pada ayam
2 nilai OGT sebesar 250600/gram tinja. Angka ini cukup tinggi atau termasuk
infeksi berat.
Ascaridia galli merupakan cacing yang sering ditemukan pada unggas.
Cacing ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi akibat dari penurunan bobot
ayam dan menurunkan produksi telur (Tiuria 1991). Hal ini disebabkan oleh
Ascaridia galli dapat mengganggu efisiensi absorpsi nutrisi yang berlangsung
dalam usus halus (Balqis 2009). Telur cacing ini dikeluarkan bersama feses inang
dan akan mencapai stadium infektif dalam waktu 10 hari atau lebih pada suhu
rendah. Telur infektif dapat bertahan selama 3 bulan atau lebih pada kondisi
lingkungan yang mendukung, namun akan mati akibat kekeringan atau cuaca
panas (Soulsby 1982). Stadium telur infektif memiliki peranan penting dalam
siklus hidup cacing ini. Telur infektif akan menetas dalam inang dan setelah 10
hari larva akan penetrasi ke dalam jaringan mukosa dan kembali ke lumen setelah
tujuh hari. Cacing akan berkembang menjadi dewasa setelah 5-8 minggu.
Penetrasi Ascaridia galli ke jaringan akan menyebabkan kerusakan vili-vili pada
duodenum, jejunum, dan ileum. Ascaridia galli ini dapat menghasilkan telur
berkisar antara 4000-10000. Banyaknya jumlah telur yang dihasilkan merupakan
cara mempertahankan kelangsungan hidupnya (Balqis 2009). Penularan cacing ini
biasanya melalui pakan, air minum, dan bahan lain yang tercemar oleh feses yang
mengandung telur infektif (Tabbu 2002).
Heterakis gallinarum merupakan cacing nematoda yang berhabitat pada
sekum unggas. Telur cacing ini sullit untuk dibedakan dengan telur Ascaridia
galli. Heterakis gallinarum ini dapat menjadi perantara bagi Histomonas
meleagridis yang menyebabkan histomoniasis (Prayoga 2014). Telur akan
mencapai tahap infektif setelah dua minggu, tergantung pada kondisi lingkuungan.
Cacing betina menghasilkan telur yang berbentuk elips, berkulit halus, berukuran
65-80 m x 35-48 m, dan sulit dibedakan dengan telur Ascaridia galli (Permin
dan Hansen 1998). Larva akan menetas pada usus. Tahap larva dan dewasa
kemudian bermigrasi menuju sekum (Prayoga 2014).
Selain telur Ascarid, ditemukan pula telur tipe Trichuris. Cacing dengan
tipe telur seperti ini dapat berupa cacing Capillaria sp. dan Trichuris sp.. Telur
Capillaria berdinding tebal, kedua sisinya datar dan pada ujung anterior sampai
posterior terdapat operkulum (selaput penutup). Ukuran telurnya 30-45 m,
bentuk ujung telur tidak menonjol. Sedangkan telur Trichuris memperlihatkan
bentuk oval, berdinding tebal, memiliki operkulum dan tidak mempunyai
blastomer (Rismawati et al. 2013 ). Telur Trichuris pada ayam kampung
memiliki ukuran panjang 19 m dan lebar 11 m. Telur ini dapat tetap
hidup di luar tubuh inang dalam beberapa bulan apabila dalam kondisi lembab dan
akan mati pada daerah kering. Telur infektif (telur yang mengandung larva)
Trichuris dapat bertahan di lingkungan yang sesuai selama beberapa tahun. Telur

akan menetas dalam usus selama 3-10 hari dan menjadi dewasa dalam waktu 3
bulan (Kusumamihardja 1993)
Pada ayam 2, didapatkan Eimeria sp. yang dapat menyebabkan
koksidiosis. Koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa
Eimeria sp. yang menyerang saluran pencernaan terutama epitel usus (Salfina et
al. 1996). Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Kerugian yang ditimbulkan meliputi kematian, morbiditas yang cukup tinggi,
masa bertelur yang terlambat dan produksi menurun, pertumbuhan yang
terhambat, dan biaya pengobatan yang tinggi. Penyakit ini dapat menyerang
semua kelompok umur pada berbagai peternakan ayam. Terdapat sembilan spesies
Eimeria yang ditemukan pada ayam, yaitu: Eimeria tenella, E. necatrix, E.
maxima, E. brunetti, E. acervulina, Emitis, E. mivati, E. praecox, dan E. hagani.
Adapun spesies yang merupakan parasit paling patogen pada unggas yaitu E.
tenella dan E. necatrix (Tampubolon 2004). Berikut klasifikasi dari Eimeria sp:
Filum
Kelas
Ordo
Subordo
Famili
Genus
Species

: Apicomplexa
: Coccidia
: Eucoccidiorida
: Eimeriorina
: Eimeriidae
: Eimeria
: Eimeria sp.

Eimeria memiliki siklus hidup yang kompleks dan menciri, yang


berlangsung sekitar 7 hari, meliputi beberapa stadium aseksual dan seksual.
Eimeria memiliki satu generasi ookista, 2-4 stadium aseksual (skisogoni atau
merogoni), dan satu stadium seksual (sporogoni). Ookista harus bersporulasi
untuk menjadi infektif. Waktu yang dibutuhkan untuk bersporulasi bervariasi
antara 12-30 jam pada suhu kamar. Sporulasi ookista yang optimal berlangsung
pada suhu 25-30C dengan kelembaban dan kadar oksigen yang tinggi. Satu
ookista yang telah bersporulasi dapat menghasilkan 100000 anak ookista. Proses
sporulasi untuk menghasilkan stadium infektif dalam waktu 48 jam. Ookista yang
infektif mengandung 4 sporokista, yang selanjutnya mengandung 2 sporozoit. Jika
ookista diingesti, maka dinding ookista akan digerus di dalam ventrikulus dan
sporozoit akan dibebaskan dari sporokista. Kemudian sporozoit akan memasuki
sel epitel di daerah mukosa usus dan memulai siklus sel yang berlanjut menjadi
proses reproduksi (Tabbu 2002).
Pada fase seksual, sejumlah mikrogamet yang motil akan mencari dan
bersatu dengan makrogamet. Zigot yang dihasilkan akan menjadi dewasa untuk
menjadi ookista yang akan dibebaskan dari mukosa usus dan bercampur dengan
feses. Ookista biasanya bersifat resisten terhadap kondisi lingkungan dan berbagai
desinfektan, meskipun kemampuan bertahan bervariasi menurut keadaan. Ookista
dapat bertahan dalam tanah selama berminggu-minggu, tetapi ketahanan ookista
dalam litter hanya beberapa hari karena pengaruh amoniak, bakteri, dan jamur.
Ookista akan mati pada suhu 55C atau pada keadaan beku. Protozoa ini juga
dapat mati pada temperatur 37C selama 2-3 hari. kejadian koksidiosis ini
biasanya lebih rendah pada cuaca panas dan kering dibandingkan pada cuaca
dingin dan lembab (Tabbu 2002). Skematis siklus hidup Eimeria sp. ditampilkan
pada gambar 2.

Gambar 2 Siklus Hidup Eimeria sp.


Eimeria sp. tidak menular secara langsung dari ayam ke ayam. Penularan
alami koksidiosis hanya terjadi dengan cara menelan ookista yang telah
bersporulasi. Walaupun tidak terdapat hospes intermediete alami untuk Eimeria
sp., ookista dapat disebarkan secara mekanik oleh berbagai jenis hewan,
serangga, peralatan tercemar, burung liar, dan debu. Selain itu, sejenis kumbang
yang hidup di dalam litter juga merupakan carrier mekanik dari ookista.
Ayam yang diambil sampel fesesnya memiliki gejala klinis berupa tubuh
yang kecil akibat pertumbuhan yang lambat, bulu kusut, dan terjadi penurunan
nafsu makan. Pada hasil pemeriksaan natif, sampel feses ayam tidak menunjukkan
adanya ookista Eimeria sp. Tidak adanya ookista pada pemeriksaan natif tidak
menunjukkan bahwa sampel feses bebas dari ookista, maka diperlukan metode
lain agar mendapatkan hasil yang lebih akurat. Hal ini dibuktikan oleh hasil
pemeriksaan metode pengapungan sederhana dan metode McMaster ditemukan
ookista dari Eimeria sp. Jumlah ookista yang didapatkan adalah sebanyak 250600
per gram tinja. Angka ini digunakan untuk menentukan derajat infeksi dari
protozoa tersebut. Jumlah ookista dalam feses di atas 100 000 dapat menimbulkan
tampaknya gejala klinis hingga kematian. Perbedaan derajat infeksi ini dapat
disebabkan oleh umur hewan dan status kekebalan tubuh hewan (Tabbu 2002).
Penularan koksidiosis ini dapat disebabkan oleh alat kandang, pakan, tempat
minum yang terinfeksi ookista, dan dipindahkan melalui vektor mekanik seperti
lalat, serangga, dan kumbang.
Penanggulangan koksidiosis pada ayam dapat dilakukan dengan sanitasi
yang baik, menjaga litter dengan optimal, penggunaan koksidiostat dalam pakan.
Kontak dengan Eimeria sp. dapat ditekan jika litter tetap kering dan diaduk
karena tidak mendukung proses sporulasi. Ayam yang terinfeksi koksidiosis
dipisahkan dari kandang dan ayam sehat diberi koksidiostat. Pengobatan dapat
dilakukan segera setelah diagnosa koksidiosis diketahui. Pengobatan dapat dengan
penggunaan sulfonamid. Sulfonamid ini memiliki kekuatan koksidiostat yang
lebih baik daripada efek koksidiosidal (Tampubolon 2004).

Endoparasit pada darah ayam


Sampel darah yang diuji diperoleh hasil bahwa teridentifikasi adanya
Plasmodium sp (Gambar 3). Berikut tersedia taksonomi Plasmodium sp:
Phylum
: Apicomplexa
Kelas
: Coccidia
Ordo
: Eucococidiorida
Family
: Plasmodidae
Genus
: Plasmodium
Spesies
: Plasmodium sp.

Gambar 3. Plasmodium sp.


Infestasi Plasmodium sp. pada ayam dapat menyebabkan muncul malaria.
Pada kondisi tertentu seperti musim hujan dapat meningkatkan tingkat kejadian
penyakit ini. Dikarenakan pada musim hujan akan banyak terdapat genangan air,
dan hal tersebut menjadi tempat yang ideal untuk berkembangnya nyamuk sebagai
vektor Plasmodium sp. Spesies Plasmodium sp. yang paling sering menyerang
unggas atau ayam adalah Plasmodium gallinaceum (Tampubolon 2004).
Plasmodium dalam perkembangannya cepat berubah dari satu bentuk ke
bentuk lain di dalam vektornya. Sporozoit parasit ini berbentuk seperti pisang
dengan diameter yaitu 1 mikron. Stadium ini selanjutnya berkembang menjadi
skizon yang berbentuk bulat, berukuran 18 x 15 mikron dan pada skizon yang
sudah masak berisi merozoit yang sudah siap dilepaskan ke dalam sel darah merah
(Levine 1990). Makrogametosit (gametosit betina) intinya kecil, kompak bewarna
merah muda, berukuran 20-26 mikron. Sedangkan mikrogametosit (gametosit
jantan) bewarna biru bersifat difuse dan berukuran 20-25 mikron. Hasil
pembuahan makrogamet dan mikrogamet disebut zigot. Zigot dapat bergerak dan
disebut dengan ookinet dan selanjutnya berkembang menjadi ookista yang
berbentuk oval dan berdiameter 50 sampai 60 mikron(Tampubolon 2004).
Siklus hidup parasit ini terdiri dari siklus aseksual yang berlangsung pada
induk semang vertebrata dan siklus seksual yang berlangsung pada induk semang
avertebrata. Dalam siklus aseksual akan berlangsung tahap skizogoni dan
gametogoni. Skizogoni berlangsung dalam tiga tahap yaitu skizon pra eritrosit,
skizon eritrosit, dan skizon eksoeritrosit (Tampubolon 2004). Tahapan sporogoni
akan dimulai dari perkembangan gametosit yang dilanjutkan dengan siklus
seksual yang berlangsung dalam tubuh vektor (Gambar 4).

Gambar 4. Siklus hidup Plasmodium sp.


Siklus Plasmodium diawali dengan masuknya sporozoit-sporozoit ke dalam
darah melalui suatu gigitan nyamuk. Mereka tinggal dalam peredaran darah
kurang dari satu jam dan cepat masuk ke sel-sel parenkim hati. Di sel-sel
parenkim mereka menjadi merozoit eksoeritrosit pertama yang disebut juga
skizon pre eritosit atau kriptozoit. Skizon membesar dan membagi dirinya secara
pembelahan multiple dan membentuk merozoit-merozoit yang disebut sebagai
metakriptozoit yang akan masuk ke dalam sel-sel parenkim hati baru (pada bangsa
unggas, terjadi di sel-sel endotel dan sebagian besar terjadi didalam sel-sel
haematopoietik) dan menjadi merozoit eksoeritrosit kedua, mengalami
pembelahan ganda dan membentuk metakriptozoit baru . Metakriptozoit baru
keluar dari sel hati, masuk ke dalam peredaran darah kemudian masuk ke dalam
sel eritrosit dan endotel. Metakriptozoit tumbuh dan kemudian disebut skizon
(tropozoit). Pada tahap skizogoni, skizon atau tropozoit membentuk vakuolvakuol makanan berisi sitoplasma sel induk semang yang diperoleh dengan cara
invaginasi dan mengambil bagian-bagian sitoplasma (Levine 1990).
Didalam vakuol makanan terdapat butir-butir pigmen hemozoin karena
pencernaan hemoglobin. Tropozoit pecah dan menghasilkan merozoit. Jumlah
merozoit yang dihasilkan tergantung spesies Plasmodium. Merozoit kemudian
keluar dari eritrosit dan masuk ke eritrosit baru dan mengulangi siklus. Lama
setiap siklus tergantung spesies parasit. Merozoit yang keluar dan melisiskan sel
darah merah induk semang mengeluarkan butir-butir hemozoin dan hasi metabolit
lainnya(Levine 1990). Bahan-bahan tersebut bersifat toksin dan menyebabkan
suatu reaksi hebat atau Paraxysm pada induk semang yaitu panas dingin. Setelah
infeksi berlangsung beberapa hari, maka beberapa merozoiit yang memasuki sel
eritrosit berkembang menjadi makrogamet dan sebagian menjadi mikrogamet.
Parasit tetap bertahan pada stadium ini sampai darah ini ditelan oleh nyamuk yang
lain. Didalam perut nyamuk mikrogametosit (sel jantan) berubah dengan cepat
dalam waktu 10 sampai 15 menit, inti mikrogametosit membelah dan
menghasilkan 6 sampai 8 mikrogamet panjang yang mirip flagelum, proses ini
disebut dengan eksflagelasi. Mikrogamet melepaskan diri yang terdiri dari satu

inti, satu flagel, dan suatu selaput luar sel. Mikrogamet yang lepas bergerak aktif
mencari sel betina (makrogamet) (Levine 1990). Jika Mikrogamet bertemu
dengan makrogamet maka terjadi pembuahan dan berkembang menjadi zigot.
Zigot yang terbentuk dapat bergerak menggunakan ookinet. Ookinet menembus
selaput lendir perut tengah (lambung) sampai dipermukaan luar lambung nyamuk
dan tumbuh menjadi ookista. Inti ookista membelah diri menjadi sporoblast, inti
sporoblas membelah diri dan menjadi ookista yang berisi 10,000 atau lebih
sporozoit yang memiliki satu inti di bagian tengahnya. Sporozoit keluar dari
ookista dan bermigrasi ke kelenjar air liur. Kemudian pindah ke induk semang
baru jika nyamuk menggigit lagi. Proses perkembangan sporozoit memakan
waktu 10-20 hari, tergantung dari spesies dan suhu. Apabila nyamuk pernah
terinfeksi maka akan tetap terinfeksi seumur hidup dan dapat menularkan parasit
setiap kali ia menggigit (Levine 1990).
Pengobatan penyakit ini dapat menggunakan obat-obat anti malaria.
Preparat Fe dan vitamin serta garam-garam mineral diberikan untuk mencegah
keadaan anaemia yang berkelanjutan akibat banyaknya sel darah merah yang
rusak karena parasit. Obat anti malaria yang sering digunakan adalah Chloroquine
rata-rata pemberian 5 mg/Kg BB, paludrine 7.5 mg/ Kg BB selama tiga hari
berturut-turut, Pyrimethamine 0.3 Mg/ Kg BB efektif terhadap P. galliceum.
Informasi terbaru peneliti dari London menemukan enzim yang dapat menggangu
siklus perkawinan parasit. Enzim tersebut berperan sebagai penghambat yang
dapat menghentikan parasit malaria dari perkembangan perkawinannya.
Ektoparasit pada ayam dan sekitar kandang
Berdasarkan temuan dilapang diperoleh hasil bahwa kondisi kandang
kurang terawat kebersihannya dengan feses ayam yang dibiarkan menumpuk
dilantai. Menumpuknya feses menarik lalat untuk bertelur. Jenis lalat hasil koleksi
dapat didentifikasi merupakan Musca domestica dan Chrysomia sp. Musca
domestica atau lalat rumah mengalami metamorfosis sempurna, diawali dengan
tahap telur, larva, pupa dan dewasa. Untuk bertelur, lalat memilih tempattempat
yang lembab dan banyak mengandung zat organik seperti sampah dan bahan
busuk lainnya (Kadarsan 1983). Telur menetas kurang dari 24 jam setelah
diletakkan, tergantung pada keadaan cuaca. Pada suhu 15-20 oC, periode menetas
telur berkisar 24 jam. Sedangkan pada suhu 25-35 oC hanya 8-12 jam. Dalam
waktu sekitar 10-20 jam telur menetas menjadi larva (Kadarsan 1983). Dalam
perkembangan larva terdapat 3 bentuk instar. Instar I dan II lamanya 24 jam.
Instar ketiga lamanya 3 hari atau lebih. Lalat ini dapat berperan sebagai vektor
mekanik berbagai penyakit.
Chrysomya sp. atau sering disebut lalat hijau ini banyak terdapat di
Indonesia. Larva lalat dari genus ini dapat menyebabkan miasis. Ukuran tubuh
lalat ini lebih besar dari lalat rumah. Memiliki warna hijau metalik yang khas
dengan bulu-bulu pendek yang menutupi tubuh. struktur mulutnya tipe penjilat
seperti lalat rumah. Telur lalat Chrysomya sp. ini akan menetas setelah 23-30 jam
yang kemudian menjadi larva. Stadium larva dilalui selama 5-6 hari yang akan
menjadi pupa selama 7-9 hari. Setelah melewati tahap pupa, lalat akan menjadi
dewasa. Lalat ini dapat menimbulkan kesehatan dalam kesehatan masyarakat
seperti halnya lalat rumah (Hadi dan Soviana 2010).

Selain temuan tersebut, hasil koleksi spesimen ektoparasit juga diperoleh


adanya kutu Menopon gallinae dan tungau Megninia sp.
Menopon gallinae termasuk dalam ordo Phthiraptera, subordo Amblycera,
famili Menoponidae, genus Menopon. Kutu ini tergolong sebagai kutu penggigit.
Siklus hidup Menopon gallinae adalah secara langsung dan terjadi pada tubuh
inang. Kutu betina dapat menghasilkan 50-300 butir telur. Telur akan diletakkan
(melekat) pada bulu secara bergerombol dan akan menetas menjadi nimfa setelah
4 7 hari (Murtidjo 1992). Waktu yang dibutuhkan sejak menetas hingga menjadi
dewasa sekitar 10 15 hari. Kutu dewasa kemudian bisa hidup selama 10 hari
hingga beberapa bulan. Namun di luar tubuh ayam, kutu hanya dapat hidup
selama 5-6 hari saja (Medion 2014). Kutu jarang menimbulkan kematian, namun
dapat menurunkan produksi telur pada ayam. Hal ini disebabkan oleh kutu yang
dapat menghisap darah dengan cara menusuk tangkai bulu yang baru tumbuh atau
melukai kulit sehingga mengalami iritasi (Tabbu 2002). Pengendalian yang dapat
dilakukan untuk menanggulangi kasus kutu adalah dengan menjaga sanitasi
kandang dengan baik dan pemberian pestisida. Salah satu cara pengendaliannya
dapat dengan cara penyemprotan atau pencelupan ayam dengan menggunakan
insektisida yang aman bagi ayam.
Salah satu spesies Megninia sp. yang sering ditemukan pada ayam adalah
Megninia ginglymura. Megninia ginglymura merupakan tungau ordo
Acariformes, subordo Astugmata dan family Analgidae. M. ginglymura hidup
pada bulu dan memiliki host spesifik yang luas. Habitat M. ginglymura di dalam
dasar bulu badan dan sayap. Beberapa spesies lainnya dari genus ini terkadang
muncul di bawah kulit (Taylor et al. 2007). Sekitar 440 spesies dari 33 famili
tungau hidup pada dan dalam bulu unggas. Tungau-tungau ini memiliki perbedaan
morfologi yang nyata yang disebabkan oleh banyaknya jumlah inang yang
berbeda dan bentuk adaptasi mereka terhadap habitat mikro yang ada pada bulu.
Biasanya tungau ini dapat mengakibatkan dermatitis pada ternak (Zucca &
Delogu 2008).
Quintero et al. (2006) menemukan bahwa Megninia sp telah lama
ditemukan pada ayam-ayam di Yucatan, Mexico. Dalam penelitian yang dilakukan
pada tahun 2005 dilaporkan bahwa jumlah populasi Megninia mencapai
puncaknya pada bulan Juli dan November. Tungau ini memiliki dua siklus biologi
dalam setahun. Megninia selalu ditemukan sepanjang tahun dengan densitas
populasi terendah pada bulan Maret dan Oktober. Oleh karena itu, pengendalian
untuk tungau ini disarankan dilakukan pada bulan Juni dan awal November,
sebelum jumlah populasi dari tungau ini meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Balqis U, Darmawi, Hambal M, Tiuria R. 2009. Perkembangan telur infektif
Ascaridia galli melalui kultur in vitro. J Ked Hewan. Vol. 3 No.2.
Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit: Pengenalan, Identifikasi, dan
Pengendaliannya. Bogor (ID): IPB Press
Kadarsan SA, Purwaningsih E, Munaf HB, Budiarti I, Hartini S. 1983. Binatang
Parasit. Bogor (ID) : Lembaga Biologi Nasional LIPI.

Kusumamihardja S. 1993. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan


Hewan Piaraan di Indonesia. Bogor (ID): Pusat Antar Universitas
Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.
Levine ND. 1990. Parasitologi Veteriner. Wardiarto GA editor.
Yogyakarta
(ID): Gajah Mada University Pr.
[Medion]. 2014. Mengatasi kutu yang mengganggu. [Internet]. [diakses Maret
2015]. Tersedia pada http://info.medion.co.id
Murtidjo BA. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Yogyakarta (ID):
Kaninus.
Permin A, JW Hansen. 1998. Epidemiology, Diagnostic, and Control Poultry
Parasites. FAO Animal Health Manual. Rome: FAO United Nation.
Prayoga IMA, Suratma NA, Damriyasa IM. 2014. Perbedaan heritabilitas infeksi
Heterakis gallinarum pada ayam lokal dan ras Lohman. Buletin Veteriner
Udayana. Vol.6 No.2.
Rismawati, Yusfiati, Mahatma R. 2013. Endoparasit pada usus ayam kampung
(Gallus domesticus) di pasar tradisional Pekanbaru.
Safina A, Hamdan, Siswansyah DD. 1996. Studi patogenitas Eimeria tenella pada
ayam buras di Kalimantan Selatan. JITV Vol 2 No.4
Soulsby EJL. 1982. Helmints, Arthropods, and Protozoa or Domesticated Animals
7rd Ed. Philadelpia (US):
Tabbu CR. 2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 2. Yogyakarta
(ID): Kaninus.
Tampubolon MP. 2004. Protozoologi. Bogor (ID): Pusat Studi Ilmu Hayati IPB
Tiuria R. 1991. Hubungan antara dosis infeksi, biologi Ascaridia galli dan
produktivitas ayam petelur. [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.