Anda di halaman 1dari 29

A.

Judul Percobaan

: Larutan Penyangga

B. Tanggal Percobaan : Senin, 02 April 2012; 07:00 WIB


C. Selesai Percobaan

: Senin, 02 April 2012; 09:40 WIB

D. Tujuan

: mempelajari pengaruh penambahan asam kuat, basa kuat, dan

pengenceran terhadap pH larutan penyangga

E. Kajian Teori
Pengertian Larutan Penyangga
Larutan penyangga adalah larutan yang tahan terhadap perubahan pH bila
sejumlah kecil asam kuat ditambahkan ke dalam larutan ini maka akan terjadi
penetralan terhadap basa lemah. Apabila ditambahkan basa kuat maka asam
lemah akan ternetralkan.
Komponen Larutan Penyangga

Secara umum, larutan penyangga digambarkan sebagai campuran


yang terdiri dari:
Asam lemah (HA) dan basa konjugasinya (ion A-), campuran ini
menghasilkan larutan bersifat asam.
Basa lemah (B) dan asam konjugasinya (BH +), campuran ini
menghasilkan larutan bersifat basa.

Komponen larutan penyangga terbagi menjadi:


Larutan penyangga yang bersifat asam
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah asam (pH < 7).
Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari asam lemah dan
garamnya yang merupakan basa konjugasi dari asamnya. Adapun
cara lainnya yaitu mencampurkan suatu asam lemah dengan suatu
basa kuat dimana asam lemahnya dicampurkan dalam jumlah
1

berlebih. Campuran akan menghasilkan garam yang mengandung


basa konjugasi dari asam lemah yang bersangkutan. Pada
umumnya basa kuat yang digunakan seperti natriumNa), kalium,
barium, kalsium, dan lain-lain.
Larutan penyangga yang bersifat basa
Larutan ini mempertahankan pH pada daerah basa (pH > 7).
Untuk mendapatkan larutan ini dapat dibuat dari basa lemah dan
garam, yang garamnya berasal dari asam kuat. Adapun cara
lainnya yaitu dengan mencampurkan suatu basa lemah dengan
suatu asam kuat dimana basa lemahnya dicampurkan berlebih.
Cara kerja larutan penyangga
Larutan penyangga mengandung komponen asam dan basa dengan asam dan
basa konjugasinya, sehingga dapat mengikat baik ion H+ maupun ion OH-.
Sehingga penambahan sedikit asam kuat atau basa kuat tidak mengubah pH-nya
secara signifikan. Berikut ini cara kerja larutan penyangga:
Larutan penyangga asam
Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang
mengandung CH3COOH dan CH3COO- yang mengalami kesetimbangan.
Dengan proses sebagai berikut:
Pada penambahan asam
Penambahan asam (H+) akan menggeser kesetimbangan ke kiri.
Dimana ion H+ yang ditambahkan akan bereaksi dengan ion CH 3COOmembentuk molekul CH3COOH.
CH3COO-(aq) + H+(aq) CH3COOH(aq)
Karena sebagian besar ion hidrogen yang baru dihilangkan, pH tidak
akan berubah terlalu banyak, tetapi karena kesetimbangan ikut terlibat, pH
akan sedikit menurun.
Pada penambahan basa
Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka ion OH- dari basa itu
akan bereaksi dengan ion H+ membentuk air. Hal ini akan
menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan sehingga konsentrasi
ion H+ dapat dipertahankan. Jadi, penambahan basa menyebabkan
2

berkurangnya komponen asam (CH3COOH), bukan ion H+. Basa yang


ditambahkan tersebut bereaksi dengan asam CH 3COOH membentuk
ion CH3COO- dan air.
CH3COOH(aq) + OH-(aq) CH3COO-(aq) + H2O(l)

Ion hidroksida dapat bergabung dengannya untuk membentuk air.


Selama hal itu terjadi, ujung kesetimbangan menggantikannya. Hal ini tetap
terjadi sampai sebagian besar ion hidrogen dihilangkan.

Karena kesetimbangan yang terlibat, tidak semua ion hidroksida


dihilangkan, karena terlalu banyak. Air yang terbentuk terionisasi kembali
menjadi tingkat yang sangat kecil untuk memberikan beberapa ion hidrogen
dan ion hidroksida.

Larutan penyangga basa


Adapun cara kerjanya dapat dilihat pada larutan penyangga yang
mengandung NH3 dan NH4+ yang mengalami kesetimbangan. Dengan proses
sebagai berikut:
Pada penambahan asam
Jika ditambahkan suatu asam, maka ion H+ dari asam akan mengikat
ion OH-. Hal tersebut menyebabkan kesetimbangan bergeser ke kanan,
sehingga konsentrasi ion OH- dapat dipertahankan. Disamping itu
penambahan ini menyebabkan berkurangnya komponen basa (NH3),
bukannya ion OH-. Asam yang ditambahkan bereaksi dengan basa NH 3
membentuk ion NH4+.
NH3(aq) + H+(aq) NH4+(aq)
3

Ion hidrogen dapat bergabung dengan ion hidroksida tersebut untuk


menghasilkan air. Selama hal itu terjadi, ujung kesetimbangan menggantikan
ion hidroksida. Hal ini terus terjadi sampai sebagian besar ion hidrogen
dihilangkan.

Karena kesetimbangan yang terlibat, tidak semua ion hidrogen


dihilangkan, hanya sebagian besar.
Pada penambahan basa
Jika yang ditambahkan adalah suatu basa, maka kesetimbangan
bergeser ke kiri, sehingga konsentrasi ion OH - dapat dipertahankan.
Basa yang ditambahkan itu bereaksi dengan komponen asam (NH4+),
membentuk komponen basa (NH3) dan air. Karena itu reaksi sedikit
reversibel. Hal ini berarti bahwa sebagian besar (tetapi tidak semuanya)
ion hidrogen dihilangkan dari larutan.
NH4+(aq) + OH-(aq) NH3(aq) + H2O(l)

Pengaruh pengenceran terhadap larutan penyangga


Pengenceran larutan akan mengubah semua konsentrasi spesi yang ada
dalam larutan, tetapi karena perubahan konsentrasi dirasakan oleh semua spesi
maka perbandingan konsentrasi molar pasangan konjugat asam basa tidak
berubah. Akibatnya, pH larutan tidak berubah.

Indikator Buatan
Indikator buatan adalah indikator siap pakai yang sudah dibuat di laboratorium
atau pabrik alat-alat kimia. Contoh indikator buatan adalah kertas lakmus yang terdiri
dari lakmus merah dan lakmus biru, indikator universal, fenolptalin, metal jingga, dll.

Indikator Universal

Indikator Universal adalah suatu pH indikator

untuk menandai

kadar

keasaman atau kadar kebasaan suatu larutan. Indikator universal adalah gabungan
dari beberapa indikator. Larutan indikator universal yang biasa digunakan dalam
laboratorium terdiri dari metal jingga (trayek : 2,9-4,0), metal merah (trayek : 4,2-6,3),
bromtimol biru (trayek : 6,0-7,6), dan fenolftalein (trayek : 8,3-10,0). Indikator-indikator
itu memberi warna yang berbeda bergantung pada pH larutan.

Asam Sitrat
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan
buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan
pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada
makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa
antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam mitokondria, yang penting dalam
metabolisme makhluk hidup.
Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan
pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering, pada jeruk lemon dan
limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut).
Sifat-sifat fisis asam sitrat dirangkum pada tabel di sebelah kanan. Keasaman
asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton
dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Sitrat sangat
baik digunakan dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan.
Kandungan Buah

Nanas
Nanas dimakan segar atau kalengan atau dijus. Hal ini populer digunakan
dalam makanan penutup, salad, sebagai pelengkap hidangan daging dan koktail
buah. Popularitas nanas karena rasanya manis-asam yang mengandung gula 15%
dan buah asam malat dan sitrat. Hal ini juga tinggi vitamin B1, B2, B6 dan C.

Jeruk Nipis
Jeruk nipis mengandung unsur-unsur senyawa kimia yang bermanfaat.
Misalnya: limonen, linalin asetat, geranil asetat, fellandren dan sitral. Selain
5

memiliki kandungan vitamin C yang tinggi, jeruk nipis juga mengandung asam
sitrat, asam amino (triptofan, lisin), minyak atsiri (sitral, limonen, felandren,
lemon kamfer, kadinen, gerani-lasetat, linali-lasetat, aktilaldehid, nildehid) damar,
glikosida, asam sitrun, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang vitamin B1 dan C.
Asam sitrat secara alamiahnya terdapat pada buah-buahan. Dahulu asam sitrat ini
diisolasi dari buah-buahan yang mempunyai rasa asam seperti buah jeruk. Asam
sitrat dihasilkan dalam bentuk Kristal monohidrat (C6H8O7H2O) yang tidak
berwarna, tidak berbau, mempunyai rasa yang sangat asam, dan mudah larut
dalam air dingin (Suriawira,1985).
Dalam kandungan 100 g jeruk nipis, terdapat kalori 51 kal, protein 0,9 g,
lemak 0,2 g, karbohidrat 11,4 g, mineral 0,5 g, kalsium 33 mg, fosfor 23 mg, besi
0,4 mg dan asam askorbat 49 mg.

Tomat
Buah tomat mengandung alkaloid solanin (0,007%), saponin, asam folat, asam
malat, asam sitrat, bioflavonoid (termasuk rutin), protein, lemak, gula (glukosa,
fruktosa), adenine, trigonelin, kholin, tomating, mineral, (Ca, Mg, P, K, Na, Fe,
sulfur, chlorine), vitamin (B1, B2, B6, C, E, likopen, niasin), dan histamine. Rutin
dapat memperkuat dinding pembuluh darah kapiler. Klorin dan sulfur adalah trace
element yang berkasiat detoksikan. Klorin alamiah menstimulir kerja hati dari
terjadinya sirosis hati dan penyakit hati lainnya. Likopen adalah pigmen kuning
betakaroten pada tomat. Tomatin berkasiat antibiotic.

Mentimun
Kandungan zat gizi per 100 gram berat mentimun: energi 12 kalori, protein
0.7gr, lemak 0.1gr, karbohidrat 2.7gr, kalsium 10mg, fospor 21mg, besi 0.3mg,
vitamin A 0 RE, vitamin C 8.0mg dan vitamin B 0.3mg. Kandungan mineral yg
ada pada mentimun adalah potassium, magnesium, kalium, zat besi dan fospor.
Karena kandungan potasium, magnesium dan fosfor ini mentimun bagus sebagai
obat alami hipertensi.
Kandungan air mentimun sangat tinggi (hingga 90%), sehingga mentimun
memiliki efek memperlancar buang air kecil, membantu menghilangkan dan
6

menetralkan toksin (racun), membantu melunturkan bakter-bakteri di sepanjang


usus dan dinding kandungan kemih.

F. Rancangan Percobaan yang terdiri dari :


1) Alat dan Bahan
Alat-alat :
1. Tabung reaksi
2. Rak tabung reaksi
3. Gelas ukur 10 ml dan 50 ml
4. Gelas kimia 50 ml
5. Lumping dan alu
6. Indicator universal
Bahan :
1. HCl

0,5 M

2. CH3COOH

0,5 M

3. CH3COONa

0,5 M

4. NaOH

0,5 M

5. NH4OH

0,5 M

6. NaCl

0,5 M

7. NH4Cl

0,5 M

8. Aquades
9. Buah nanas
10. Buah jeruk (jeruk nipis)
11. Tomat
12. Mentimun
13. Minuman (sprite)

2) Langkah-langkah Percobaan
1. Pembuatan larutan dari buah-buahan
Buahbuahan

Peras buah untuk mendapatkan sari

Tampung pada gelas


kimia

Sari

Ditambahkan aquades sebanyak 10 kali volume sari

Disaring sari buah yang telah diencerkan

Diberi label

buah

berlabel

yang

Pada percobaan pembuatan larutan dari buah-buahan hal yang dilakukan pertama
adalah menyiapkan buah-buahan yang akan dibuat larutannya yaitu nanas, jeruk
nipis, tomat, dan timun. Setelah itu buah-buah tersebut diperas untuk mendapatkan
sarinya dan menampungnya dalam gelas kimia 50 ml lalu menambahkan aquades
sebanyak 10 kali volume sari buah yang diperoleh. Jika buahnya keras potong kecilkecil dan tumbuk dalam lumpang. Setelah diencerkan sari buah tersebut disimpan
dalam gelas kimia yang telah diberi label sesuai nama buah.

2. Pengaruh penambahan asam kuat


2
ml
CH3COOH
+
2ml

2
ml
NH4OH
+
2 ml NH4Cl

2
ml
NaCl
+
2
ml

2
NaCl
+
2

ml
ml

4 ml
Larut
an
nanas

4 ml
Laruta
n
jeruk

4 ml
Laruta
n
tomat

Ditambahkan 2 tetes indicator universal

Dikocok dan dicatat warna larutan

Dicatat harga pH dengan membandingkan dengan larutan pembanding

Ditambahkan tetesan HCl 0,5 M sampai terjadi perubahan

4 ml
Laruta
n
timun

4 ml
Larutan
Minuma
n
(sprite)

4 ml
aquade
s

Jumlah tetesan HCl yang ditambahkan


hingga terjadi perubahan warna

Pada percobaan pengaruh penambahan asam kuat hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan 10 tabung reaksi yang bersih dan
memasukkan masing-masing ke dalam tabung tersebut larutan sebagai berikut:
Tabung 1

: 2 ml CH3COOH + 2ml CH3COONa

Tabung 2

: 2 ml NH4OH + 2 ml NH4Cl

Tabung 3

: 2 ml NaCl + 2 ml HCl

Tabung 4

: 2 ml NaCl + 2 ml NaOH
10

Tabung 5

: 4 ml larutan nanas

Tabung 6

: 4 ml larutan jeruk nipis

Tabung 7

: 4 ml larutan tomat

Tabung 8

: 4 ml larutan timun

Tabung 9

: 4 ml larutan minuman (sprite)

Tabung 10

: 4 ml aquades

Lalu menambahkan pada masing-masing larutan diatas 2 tetes indicator universal. Kocok dan catat warna larutan serta harga pH-nya
dengan cara membandingkan dengan larutan pembanding. Setelah itu menambahkan ke dalam masing-masing tabung diatas tetes demi
tetes larutan HCl 0,5 M sambil mengocoknya ditiap tetesan dan menghitung jumlah tetesan HCl yang ditambahkan hingga terjadi
perubahan warna.
3. Pengaruh penambahan basa kuat
2
ml
CH3COOH
+
2ml

2
ml
NH4OH
+
2 ml NH4Cl

2
ml
NaCl
+
2
ml

2
NaCl
+
2

ml
ml

4 ml
Larut
an
nanas

4 ml
Laruta
n
jeruk

4 ml
Laruta
n
tomat

Ditambahkan 3 tetes indicator universal

Dikocok dan dicatat warna larutan

Dicatat harga pH dengan membandingkan dengan larutan pembanding

4 ml
Laruta
n
timun

4 ml
Larutan
Minuma
n
(sprite)

4 ml
aquade
s

11

Ditambahkan tetesan NaOH 0,5 M sampai terjadi perubahan

Jumlah tetesan HCl yang ditambahkan


hingga terjadi perubahan warna

12

Pada percobaan pengaruh penambahan basa kuat hal pertama yang dilakukan
adalah menyiapkan 10 tabung reaksi yang bersih dan memasukkan masing-masing
ke dalam tabung tersebut larutan sebagai berikut:
Tabung 1

: 2 ml CH3COOH + 2ml CH3COONa

Tabung 2

: 2 ml NH4OH + 2 ml NH4Cl

Tabung 3

: 2 ml NaCl + 2 ml HCl

Tabung 4

: 2 ml NaCl + 2 ml NaOH

Tabung 5

: 4 ml larutan nanas

Tabung 6

: 4 ml larutan jeruk nipis

Tabung 7

: 4 ml larutan tomat

Tabung 8

: 4 ml larutan timun

Tabung 9

: 4 ml larutan minuman (sprite)

Tabung 10

: 4 ml aquades

Lalu menambahkan pada masing-masing larutan diatas 3 tetes indicator universal.


Kocok dan catat warna larutan serta harga pH-nya dengan cara membandingkan
dengan larutan pembanding. Setelah itu menambahkan ke dalam masing-masing
tabung diatas tetes demi tetes larutan NaOH 0,5 M sambil mengocoknya ditiap
tetesan dan menghitung jumlah tetesan NaOH yang ditambahkan hingga terjadi
perubahan warna.

13

G. Hasil Pengamatan
H.

NO.

I.

HIPOTESIS

J.

HASIL PENGAMATAN

K.

KESIMPULAN

PERCOBAAN
L.

1.

M. Warna awal ekstrak:


N.
-

T.

2.
-

Larutan nanas
: kuning (++)
Larutan jeruk nipis : kuning (+)
Larutan tomat
: merah
Larutan mentimun : hijau
Setelah diencerkan dan disaring:

O. Warna awal ekstrak:


P.

Larutan nanas
: kuning (++)
Larutan jeruk nipis : kuning (+)
Larutan tomat
: merah
Larutan mentimun : hijau
Setelah diencerkan dan disaring:

Larutan nanas
: tidak berwarna
Larutan jeruk nipis : tidak berwarna
Larutan tomat
: tidak berwarna
Larutan mentimun : tidak berwarna

- Larutan nanas
: tidak berwarna
- Larutan jeruk nipis : tidak berwarna
- Larutan tomat
: tidak berwarna
- Larutan mentimun : tidak berwarna
Q.

U. Warna larutan sebelum ditetesi


indicator universal:

Z.
Warna larutan setelah ditetesi
indicator universal:
AA. Tabung 1
: jingga, pH= 4
AB. Tabung 2
: ungu, pH= 11
AC. Tabung 3
: jingga, pH= 3
AD. Tabung 4
: ungu, pH= 11-12
AE. Tabung 5
: jingga, pH= 4
AF.
Tabung 6
: jingga, pH= 3-4
AG. Tabung 7
: jingga. pH= 4
AH. Tabung 8
: hijau, pH= 6-7
AI.
Tabung 9
: jingga, pH= 4
AJ.
Tabung 10
: hijau, pH= 7

CH3COOH + CH3COONa
:
tidak berwarna
NH4OH + NH4Cl
:
tidak berwarna
NaCl + HCl
:
tidak berwarna
NaCl + NaOH
:
tidak berwarna
Larutan Nanas
: tidak berwarna

R. Hasil percobaan sesuai dengan


hipotesis yaitu Warna awal ekstrak:
-

Larutan nanas
: kuning (++)
Larutan jeruk nipis : kuning (+)
Larutan tomat
: merah
Larutan mentimun : hijau

S.
-

Setelah diencerkan dan disaring:


Larutan nanas
: tidak berwarna
Larutan jeruk nipis : tidak berwarna
Larutan tomat
: tidak berwarna
Larutan mentimun : tidak berwarna

AY. Hasil percobaan sesuai dengan


hipotesis.
AZ. Larutan penyangga membutuhkan
banyak tetesan HCl untuk merubah warna
atau pH.
BA.
Yang termasuk larutan penyangga
adalah:
-

CH3COOH + CH3COONa
NH4OH + NH4Cl
Larutan Nanas
14

Larutan Jeruk nipis: tidak berwarna


Larutan Tomat
: tidak berwarna
Larutan Mentimun : tidak berwarna
Larutan Sprite
: tidak berwarna
Aquades
: tidak berwarna

V.
Warna larutan setelah ditetesi
indicator universal:
-

CH3COOH + CH3COONa
jingga
NH4OH + NH4Cl
ungu
NaCl + HCl
jingga
NaCl + NaOH
ungu
Larutan Nanas
: jingga
Larutan Jeruk nipis: jingga
Larutan Tomat
: jingga
Larutan Mentimun : kuning
Larutan Sprite
: jingga
Aquades
: hijau

:
:
:

AK.
AL.
AM.
AN.
AO.
AP.
AQ.
AR.
AS.
AT.
AU.
AV.
AW.
AX.

Jumlah tetesan HCl:


Tabung 1
: 21 tetes, pH= 2-3
Tabung 2
: 17 tetes. pH= 10
Tabung 3
: 8 tetes, pH= 3
Tabung 4
: 4 tetes, pH= 11
Tabung 5
: 21 tetes, pH= 3-4
Tabung 6
: 18 tetes, pH= 3
Tabung 7
: 21 tetes, pH= 3-4
Tabung 8
: 1 tetes, pH= 3-4
Tabung 9
: 22 tetes, pH= 2-3
Tabung 10
: 1 tetes, pH= 4

Larutan Jeruk nipis


Larutan Tomat
Larutan Sprite

BB.
BC. Yang bukan termasuk larutan
penyangga adalah yang tidak membutuhkan
banyak tetesan NaOH untuk merubah warna
atau pH diantaranya sebagai berikut:
- Tabung 3 yaitu NaCl + HCl
- Tabung 4 yaitu NaCl + NaOH
- Larutan mentimun
- Aquades
BD.

W.
Yang termasuk larutan penyangga
adalah:
-

CH3COOH + CH3COONa
NH4OH + NH4Cl
Larutan Nanas
Larutan Jeruk nipis
Larutan Tomat
Larutan Sprite
15

X.
Y.
Yang bukan termasuk larutan
penyangga adalah:
- Tabung 3 yaitu NaCl + HCl
- Tabung 4 yaitu NaCl + NaOH
- Larutan mentimun
- Aquades
BE.

3.

BF.Warna larutan sebelum ditetesi


indicator universal:
-

CH3COOH + CH3COONa
:
tidak berwarna
NH4OH + NH4Cl
:
tidak berwarna
NaCl + HCl
:
tidak berwarna
NaCl + NaOH
:
tidak berwarna
Larutan Nanas
: tidak berwarna
Larutan Jeruk nipis: tidak berwarna
Larutan Tomat
: tidak berwarna
Larutan Mentimun : tidak berwarna
Larutan Sprite
: tidak berwarna
Aquades
: tidak berwarna

BG.
Warna larutan setelah ditetesi
indicator universal:
-

CH3COOH + CH3COONa
jingga
NH4OH + NH4Cl

:
:

BK. Warna larutan setelah ditetesi


indicator universal:
BL. Tabung 1
: jingga, pH= 4
BM. Tabung 2
: ungu, pH= 11
BN. Tabung 3
: jingga, pH= 3
BO. Tabung 4
: ungu, pH= 11-12
BP.
Tabung 5
: jingga, pH= 4
BQ. Tabung 6
: jingga, pH= 3-4
BR. Tabung 7
: jingga. pH= 4
BS.
Tabung 8
: hijau, pH= 6-7
BT.
Tabung 9
: jingga, pH= 4
BU. Tabung 10
: hijau, pH= 7
BV.
BW.

BX.
BY.
BZ.
CA.
CB.
CC.
CD.
CE.
CF.
CG.

Jumlah tetesan NaOH:


Tabung 1
: 20 tetes, pH= 4-5
Tabung 2
: 20 tetes. pH= 11-12
Tabung 3
: 7 tetes, pH= 4-5
Tabung 4
: 11 tetes, pH= 12-13
Tabung 5
: 3 tetes, pH= 11-12
Tabung 6
: 15 tetes, pH= 6-7
Tabung 7
: 2 tetes, pH= 12-13
Tabung 8
: 1 tetes, pH= 12
Tabung 9
: 7 tetes, pH= 6-7

CJ.
Terdapat ketidaksesuaian antara hasil
pengamatan dengan hipotesis yaitu pada
larutan nanas, tomat, dan sprite.
CK.
Yang termasuk larutan penyangga
adalah:
-

CH3COOH + CH3COONa
NH4OH + NH4Cl
Larutan Nanas
Larutan Jeruk nipis
Larutan Tomat
Larutan Sprite

CL.
CM. Yang bukan termasuk larutan
penyangga adalah yang tidak membutuhkan
banyak tetesan NaOH untuk merubah warna
atau pH diantaranya sebagai berikut:
- Tabung 3 yaitu NaCl + HCl
- Tabung 4 yaitu NaCl + NaOH
- Larutan mentimun
- Aquades
CN.
16

ungu
NaCl + HCl
jingga
NaCl + NaOH
ungu
Larutan Nanas
: jingga
Larutan Jeruk nipis: jingga
Larutan Tomat
: jingga
Larutan Mentimun : kuning
Larutan Sprite
: jingga
Aquades
: hijau

CH.
CI.

Tabung 10

: 1 tetes, pH= 13

BH.
Yang termasuk larutan penyangga
adalah:
-

CH3COOH + CH3COONa
NH4OH + NH4Cl
Larutan Nanas
Larutan Jeruk nipis
Larutan Tomat
Larutan Sprite

BI.
BJ.
Yang bukan termasuk larutan
penyangga adalah:
- Tabung 3 yaitu NaCl + HCl
- Tabung 4 yaitu NaCl + NaOH
- Larutan mentimun
- Aquades

17

CO. Analisa Data


CP.

Pada percobaan pertama yaitu pembuatan larutan dari buah-buahan, kami

menyiapkan buah-buahan seperti nanas, jeruk, tomat, dan mentimun lalu ditumbuk dan
disaring untuk mendapatkan ekstraknya. Hasil ekstrak yang kami dapatkan adalah 5 ml
yang kemudian diencerkan dengan aquades sampai 50 ml. Hasil pengenceran tersebut
yang akan digunakan untuk mengetahui apakah ekstrak tersebut termasuk larutan
penyangga atau tidak.

CQ. Pada percobaan yang kedua yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan
asam kuat pada larutan penyangga, maka pada setiap tabung ditambahkan tetes demi
tetes larutan HCl 0,5 M. Namun, sebelumnya ke 10 tabung diberikan indicator universal
sebanyak 2 tetes. Untuk larutan yang termasuk larutan penyangga membutuhkan tetesan
HCl lebih banyak daripada larutan yang bukan termasuk larutan penyangga, maka
didapatkan hasil percobaan sebagai berikut:
Setelah ditetesi indicator

Pada tabung 1 berisi larutan CH3COOH(aq) + CH3COONa (aq) : larutan berwarna


jingga dengan pH= 4

Pada tabung 2 berisi larutan NH4OH(aq) + NH4Cl(aq) : larutan berwarna ungu


dengan pH= 11

Pada tabung 3 berisi larutan NaCl(aq) + HCl(aq)

: larutan berwarna jingga

dengan pH= 3-4

Pada tabung 4 berisi larutan NaCl(aq) + NaOH(aq) : larutan berwarna ungu


dengan pH= 11-12

Pada tabung 5 berisi larutan nanas : larutan berwarna jingga dengan pH= 4

Pada tabung 6 berisi larutan jeruk nipis : larutan berwarna jingga dengan pH=
3-4

Pada tabung 7 berisi larutan tomat : larutan berwarna jingga dengan pH= 4

18

Pada tabung 8 berisi larutan mentimun : larutan berwarna hijau dengan pH= 67

Pada tabung 9 berisi larutan sprite : larutan berwarna jingga dengan pH= 4

Pada tabung 10 berisi aquades : larutan berwarna hijau dengan pH= 7

Setelah ditetesi HCl

Pada tabung 1 : setelah ditetesi 21 tetes larutan HCl, larutan CH 3COOH(aq) +


CH3COONa (aq) mengalami perubahan pH dari pH= 4 menjadi 2-3. Larutan ini
termasuk larutan penyangga karena membutuhkan tetesan HCl lebih banyak.
Berikut reaksinya:
CR.

Buffer asam : CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(s) + H2O(l)

CS.

Ditambah sedikit asam yaitu HCl yang bereaksi adalah garam dari

asam lemah

CT.

CH3COO-(aq) + H+ CH3COOH(aq)

CU.

Kesetimbangan bergeser kearah kiri yaitu reaktan

Pada tabung 2 : setelah ditetesi 17 tetes larutan HCl, larutan NH4OH(aq) +


NH4Cl(aq) mengalami perubahan pH dari pH=11 menjadi 10. Larutan ini
termasuk larutan penyangga karena membutuhkan tetesan HCl lebih banyak.
Berikut reaksinya:
CV.

Buffer basa : NH4OH(aq) + HCl(aq) NH4Cl(aq) + H2O(l)

CW.

Ditambah sedikit asam yaitu HCl yang bereaksi adalah basa lemahnya

CX.

NH4OH(aq) + H+ NH4+ + H2O tetapi biasa ditulis NH3 + H+ NH4+

CY.

Kesetimbangan bergeser kearah kanan yaitu produk

Pada tabung 3 : setelah ditetesi 8 tetes larutan HCl, larutan NaCl(aq) + HCl(aq)
mengalami perubahan pH dari pH=3-4 menjadi 3. Larutan ini bukan termasuk
larutan penyangga tetapi membutuhkan tetesan HCl lebih banyak.

19

Pada tabung 4 : setelah ditetesi 4 tetes larutan HCl, larutan NaCl(aq) + NaOH(aq)
mengalami perubahan pH dari pH=11-12 menjadi 11. Larutan ini bukan
termasuk larutan penyangga sehingga membutuhkan tetesan HCl lebih sedikit.
Pada tabung 5 : setelah ditetesi 21 tetes larutan HCl, larutan nanas mengalami
perubahan pH dari pH= 4 menjadi 2-3. Larutan ini termasuk larutan
penyangga karena membutuhkan tetesan HCl lebih banyak.
Pada tabung 6 : setelah ditetesi 18 tetes larutan HCl, larutan jeruk nipis
mengalami perubahan pH dari pH=3-4 menjadi 3. Larutan ini termasuk larutan
penyangga karena membutuhkan tetesan HCl lebih banyak.
Pada tabung 7 : setelah ditetesi 21 tetes larutan HCl, larutan tomat mengalami
perubahan pH dari pH=4 menjadi 3-4. Larutan ini termasuk larutan penyangga
karena membutuhkan tetesan HCl lebih banyak.
Pada tabung 8 : setelah ditetesi 1 tetes larutan HCl, larutan timun mengalami
perubahan pH dari pH=6-7 menjadi 3-4. Larutan ini bukan termasuk larutan
penyangga sehingga membutuhkan tetesan HCl lebih sedikit.
Pada tabung 9 : setelah ditetesi 22 tetes larutan HCl, minuman sprite
mengalami perubahan pH dari pH=4 menjadi 2-3. Larutan ini termasuk larutan
penyangga karena membutuhkan tetesan HCl lebih banyak.
Pada tabung 10 : setelah ditetesi 1 tetes larutan HCl, aquades mengalami
perubahan pH dari pH=7 menjadi 4. Larutan ini bukan termasuk larutan
penyangga sehingga membutuhkan tetesan HCl lebih sedikit.

CZ. Pada percobaan yang ketiga yaitu untuk mengetahui pengaruh penambahan
basa kuat pada larutan penyangga, maka pada setiap tabung ditambahkan tetes demi tetes
larutan NaOH 0,5 M. Namun, sebelumnya ke 10 tabung diberikan indicator universal
sebanyak 3 tetes. Untuk larutan yang termasuk larutan penyangga membutuhkan tetesan
NaOH lebih banyak daripada larutan yang bukan termasuk larutan penyangga, maka
didapatkan hasil percobaan sebagai berikut:
Setelah ditetesi indicator

20

Pada tabung 1 berisi larutan CH3COOH(aq) + CH3COONa (aq) : larutan berwarna


jingga dengan pH= 4

Pada tabung 2 berisi larutan NH4OH(aq) + NH4Cl(aq) : larutan berwarna ungu


dengan pH= 11

Pada tabung 3 berisi larutan NaCl(aq) + HCl(aq)

: larutan berwarna jingga

dengan pH= 3-4

Pada tabung 4 berisi larutan NaCl(aq) + NaOH(aq) : larutan berwarna ungu


dengan pH= 11-12

Pada tabung 5 berisi larutan nanas : larutan berwarna jingga dengan pH= 4

Pada tabung 6 berisi larutan jeruk nipis : larutan berwarna jingga dengan pH=
3-4

Pada tabung 7 berisi larutan tomat : larutan berwarna jingga dengan pH= 4

Pada tabung 8 berisi larutan mentimun : larutan berwarna hijau dengan pH= 67

Pada tabung 9 berisi larutan sprite : larutan berwarna jingga dengan pH= 4

Pada tabung 10 berisi aquades : larutan berwarna hijau dengan pH= 7

Setelah ditetesi NaOH

Pada tabung 1 : setelah ditetesi 20 tetes larutan NaOH, larutan CH 3COOH(aq) +


CH3COONa (aq) mengalami perubahan pH dari pH= 4 menjadi 4-5. Larutan ini
termasuk larutan penyangga karena membutuhkan tetesan NaOH lebih banyak.
Berikut reaksinya:
DA.

Buffer asam : CH3COOH(aq) + NaOH(aq) CH3COONa(s) + H2O(l)

DB.

Ditambah sedikit basa yaitu NaOH yang bereaksi adalah asam

lemahnya.
DC.

CH3COOH(aq) + OH- CH3COO-(aq) + H2O(l)

21

DD.

Kesetimbangan bergeser kearah kanan yaitu produk

Pada tabung 2 : setelah ditetesi 20 tetes larutan NaOH, larutan NH4OH(aq) +


NH4Cl(aq) mengalami perubahan pH dari pH=11 menjadi 11-12. Larutan ini
termasuk larutan penyangga karena membutuhkan tetesan NaOH lebih
banyak. Berikut reaksinya:
DE.

Buffer basa : NH4OH(aq) + HCl(aq) NH4Cl(aq) + H2O(l)

DF.

Ditambah sedikit asam yaitu HCl yang bereaksi adalah garam dari basa

lemahnya
DG.

NH4Cl(aq) + OH- NH4OH(aq) + Cl- tetapi biasa ditulis NH4++ H+

NH4OH(aq)
DH.

Kesetimbangan bergeser kearah kiri yaitu reaktan

Pada tabung 3 : setelah ditetesi 7 tetes larutan NaOH, larutan NaCl(aq) + HCl(aq)
mengalami perubahan pH dari pH=3-4 menjadi 4-5. Larutan ini bukan
termasuk larutan penyangga tetapi membutuhkan tetesan NaOH lebih banyak.
Pada tabung 4 : setelah ditetesi 11 tetes larutan NaOH, larutan NaCl(aq) +
NaOH(aq) mengalami perubahan pH dari pH=11-12 menjadi 12-13. Larutan ini
bukan termasuk larutan penyangga sehingga membutuhkan tetesan NaOH
lebih sedikit.
Pada tabung 5 : setelah ditetesi 3 tetes larutan NaOH, larutan nanas mengalami
perubahan pH dari pH= 4 menjadi 11-12. Larutan ini termasuk larutan
penyangga karena membutuhkan tetesan NaOH lebih banyak.
Pada tabung 6 : setelah ditetesi 15 tetes larutan NaOH, larutan jeruk nipis
mengalami perubahan pH dari pH=3-4 menjadi 6-7. Larutan ini termasuk
larutan penyangga karena membutuhkan tetesan NaOH lebih banyak.
Pada tabung 7 : setelah ditetesi 2 tetes larutan NaOH, larutan tomat
mengalami perubahan pH dari pH=4 menjadi 12-13. Larutan ini termasuk
larutan penyangga karena membutuhkan tetesan NaOH lebih banyak.

22

Pada tabung 8 : setelah ditetesi 1 tetes larutan NaOH, larutan timun mengalami
perubahan pH dari pH=6-7 menjadi 12. Larutan ini bukan termasuk larutan
penyangga sehingga membutuhkan tetesan HCl lebih sedikit.
Pada tabung 9 : setelah ditetesi 7 tetes larutan NaOH, minuman sprite
mengalami perubahan pH dari pH=4 menjadi 6-7. Larutan ini termasuk larutan
penyangga karena membutuhkan tetesan NaOH lebih banyak.
Pada tabung 10 : setelah ditetesi 1 tetes larutan NaOH, aquades mengalami
perubahan pH dari pH=7 menjadi 13. Larutan ini bukan termasuk larutan
penyangga sehingga membutuhkan tetesan NaOH lebih sedikit.
DI.

Terdapat ketidaksesuaian antara hasil pengamatan dengan hipotesis yaitu pada

tabung 5 (nanas), tabung 7 (tomat), dan tabung 9 (sprite) yang seharusnya membutuhkan
tetesan NaOH lebih banyak. Namun ternyata, hanya sedikit tetesan NaOH saja pada
ketiga tabung tersebut sudah mengalami perubahan warna.

DJ. Pembahasan
DK.

Pada percobaan larutan penyangga penambahan asam kuat dibutuhkan tetesan

yang lebih banyak dan yang bukan merupakan larutan penyangga hanya membutuhkan
sedikit tetesan untuk dapat berubah warna. Tetapi, pada tabung ke-3 yang berisi larutan
NaCl(aq) + HCl(aq) bukan merupakan larutan penyangga, namun membutuhkan tetesan
HCl lebih banyak. Hal ini dikarenakan adanya penambahan senyawa yang sama dengan
konsentrasi yang sama pula. Oleh sebab itu, tidak mempengaruhi perubahan pH yang
signifikan.
DL.

Pada percobaan larutan penyangga penambahan basa kuat dibutuhkan tetesan

yang lebih banyak dan yang bukan merupakan larutan penyangga hanya membutukan
sedikit tetesan untuk dapat berubah warna. Tetapi, pada tabung ke-4 yang berisi larutan
NaCl(aq) + NaOH(aq) bukan merupakan larutan penyangga, namun membutuhkan tetesan
NaOH lebih banyak. Hal ini dikarenakan adanya penambahan senyawa yang sama
dengan konsentrasi yang sama pula. Oleh sebab itu, tidak mempengaruhi perubahan pH
yang signifikan.

DM. Nanas, jeruk nipis, tomat dikatakan sebagai larutan penyangga karena
mengandung asam sitrat C6H8O7. Keasaman asam sitrat didapatkan dari tiga
23

gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton dalam larutan. Jika hal ini
terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Sitrat sangat baik digunakan
dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan. Pada buah timun
mengandung asam sitrat, tetapi bukan merupakan larutan penyangga
karena memilki kandungan air sebesar 90%. Minuman sprite termasuk
larutan penyangga karena mengandung Natrium bikarbonat (NaHCO3) atau kerap

disebut dengan Bicnat merupakan senyawa garam yang bersifat basa. Bikarbonat
bereaksi dengan ion H+ membentuk air dan karbon dioksida. Bikarbonat berfungsi
sebagai buffer atau penyangga pada kondisi asidosis. Asidosis merupakan peningkatan
asam didalam darah yang disebabkan oleh berbagai keadaan atau penyakit tertentu.

DN. Pada percobaan larutan penyangga penambahan basa kuat dibutuhkan tetesan
yang lebih banyak dan yang bukan merupakan larutan penyangga hanya membutuhkan
sedikit tetesan untuk dapat merubah warna. Terdapat ketidaksesuaian antara hasil
pengamatan dengan hipotesis yaitu pada tabung 5 (nanas), tabung 7 (tomat), dan tabung
9 (sprite) yang seharusnya membutuhkan tetesan NaOH lebih banyak. Namun ternyata,
hanya sedikit tetesan NaOH saja pada ketiga tabung tersebut sudah mengalami
perubahan warna. Hal ini dikarenakan ketidaksesuaian volume larutan dengan molaritas
larutan. Sesuai teori, bahwa setiap larutan yang dikatakan larutan penyangga harus
memiliki sisa asam atau sisa basa. Mungkin, pada larutan mentimun tidak terdapat sisa
asam atau sisa basa, dengan kata lain reaksi yang terjadi adalah hidrolisis.

DO. Simpulan

Penambahan asam kuat, basa kuat dan pengenceran terhadap larutan penyangga tidak
mempengaruhi pH yang signifikan.

Pada larutan penyangga dibutuhkan tetesan asam kuat dan basa kuat untuk dapat
amerubah pH.

Larutan penyangga dapat dibuat dengan cara mencampurkan asam lemah dengan basa
konjugatnya dan basa lemah dengan asam kojugatnya, serta dapat diperoleh secara
alami dalam kehidupan sehari-hari seperti pada buah-buahan dan minuman bersoda.

Yang termasuk larutan penyangga adalah:


CH3COOH + CH3COONa
24

NH4OH + NH4Cl
Larutan Nanas
Larutan Jeruk nipis
Larutan Tomat
Larutan Sprite

Yang bukan termasuk larutan penyangga adalah:


Tabung 3 yaitu NaCl + HCl
Tabung 4 yaitu NaCl + NaOH
Larutan mentimun
Aquades

DP.

DQ. Jawaban Pertanyaan


DR.

Pertanyaan :

1. Berdasarkan hasil percobaan no. 3 dan no. 4 menurut anda larutan apa yang
merupakan larutan peyangga ?

2. Apa yang terjadi jika campuran CH3COOH+ CH3COONa dan campuran


NH4Cl+NH4OH masing-masing ditambahi HCl ?

3. Seperti no. 2 apa tetapi pada campuran yang ditambahkan NaOH ?


DS.

Jawaban :

1. Larutan yang termasuk larutan penyangga adalah


Larutan nanas
Larutan tomat
Larutan jeruk nipis
25

Minuman sprite
Larutan CH3COOH+ CH3COONa
Larutan NH4Cl+NH4OH
2. Jika campuran CH3COOH+ CH3COONa dan campuran NH4Cl+NH4OH
masing-masing ditambahi HCl, maka tidak akan terjadi perubahan warna dan
perubahan harga pH
3. Jika campuran CH3COOH+ CH3COONa dan campuran NH4Cl+NH4OH
masing-masing ditambahi NaOH, tidak akan terjadi perubahan warna dan
perubahan harga pH
DT.
DU.
DV.
DW.
DX.
DY.
DZ.
EA.

EB. Daftar Pustaka


EC.

apotekerbercerita.wordpress.com/2011/04/23/infus-bicnat.diakses 06 April

2012, pukul 20:05 WIB


ED.

chem-is-

try.org/materi_kimia/kimia_fisika1/kesetimbangan_asam_basa/larutan_penyangga.
diakses 29 Maret 2012, pukul 00:56 WIB
EE.

Dasar, T. K. (2012). Penuntun Praktikum KIMIA DASAR LANJUT.

Surabaya:Unipress.
26

EF.

id.wikipedia.org/wiki/Larutan_penyangga. diakses 29 Maret 2012, pukul

00:55 WIB
EG.

kimia.upi.edu/staf/nurul/Web%202011/0802658/materi3.html. diakses 29

Maret 2012, pukul 00:56 WIB

EH.
EI.
EJ.
EK.
EL.
EM.
EN.
EO.
EP.
EQ.
ER.
ES.
ET.
EU.
EV.

LAMPIRAN
EW.

EX.
EY.
27
tabung 1, 2, 3, 4, 5, 6 setelah
ditetesi indicator universal dan
HCl

EZ.
FA.
FB.
FC.
FD.

tabung 7 setelah

FE.

ditetesi indicator

FF.

universal dan HCl

FG.
FH.
FI.
FJ.
FK.
FL.
FM.
FN.
FO.
FP.
FQ.
FR.
FS.
FT.

tabung 8 setelah

tabung 9 setelah

ditetesi indicator

ditetesi indicator

universal

universal

FU.
FV.
FW.
FX.
FY.
FZ.
GA.
GB.
28

GC.
GD.
GE.
tabung 7 dan 8

tabung 9 dan 10

setelah ditetesi

setelah ditetesi

HCl

HCl

tabung 1, 2, 3, 4, 5, 6

tabung 7 dan 9

GF.
GG.
GH.
GI.
GJ.
GK.
GL.
GM.
GN.
GO.
GP.

GQ. setelah ditetesi NaOH


GR.

setelah ditetesi
NaOH

GS.
GT.
Tabung 8 dan 10
GU.
setelah ditetesi
GV.

GW.

NaOH

GX.
GY.
GZ.

29

Anda mungkin juga menyukai