Anda di halaman 1dari 8

HUKUM PERKAWINAN ADAT

1)

2)

3)

1.

2.

Hukum Perkawinan adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berhubungan
dengan perkawinan dengan segala akibatnya, perceraian dan harta perkawinan. Dalam hukum
adat hukum perkawinan adalah hidup bersama antara seorang laki-laki deangan seorang atau
beberapa orang perempuan sebagai suami istri dengan maksud untuk melanjutkan generasi.
Menurut hukum adat, perkawinan bukan merupakan urusan pribadi dari orang yang
kawin, tetapi juga menjadi urusan keluarga, suku, masyarakat, dan kasta. Perkawinan berarti
pemisahan dari orang tuanya dan untuk seterusnya melanjutkan garis hidup orang tuanya. Bagi
suku, perkawinan merupakan suatu usaha yang menyebabkan terus berlangsungnya suku itu
dengan tertibnya.
Bagi masyarakat (persekutuan), perkawinan juga merupakan sutu peristiwa penting yang
mengakibatkan masuknya warga baru yang ikut mempunyai tanggungjawab penuh terhadap
persekutuannya. Bagi kasta, perkawinan juga penting, karena kasta dalam masyarakat (dahulu)
sering mempertahankan kedudukannya dengan mengadakan tertib perkawinannya sendiri.
Oleh karena perkawinan ini memiliki arti yang sangat penting, maka pelaksanaannya
senantiasa disertai dengan upacara-upacara adat, kadang lengkap dengan sesajen-sesajennya.
Agar mempelai berdua selamat mengarungi hidup baru sampai akhir hayatnya atau sering
disebut dengan sampai kaken-kaken dan ninen-ninen. Segala upacara-upacara ini merupakan
upacara peralihan, upacara yang melambangkan perubahan status dari mempelai berdua; yang
tadinya hidup berpisah, setelah melalui upacara-upacara itu menjadi hidup bersama dalam suatu
keluarga (somah) sebagai suami istri. Semula mereka milik orang tuanya, kemudian menjadi
keluarga mandiri.
UNSUR-UNSUR HUKUM PERKAWINAN ADAT
Peminangan
Meminang berafrti permintaan yang menurut hukum adat berlaku dalam bentuk
pernyataan kehendak dari satu pihak kepada pihak lain untuk maksud mengadakan ikatan
perkawinan. Biasanya dilakukan oleh pihak pria kepada wanita.
Pertunangan
Pertunangan ialah hubungan hukum yang dilakukan antara orang tua pihak pria dan orang
tua pihak wanita untuk maksud mengikat tali perkawinan anak-anak mereka dengan jalan
peminangan. Dalam hal ini nampaknya masuk pula pengaruh kebudayaan Barat dimana
peresmian pertunangan itu disertai acara tukar cincin. Walaupun menurut adat kebiasaan di
kalangan masyarakat adat ini tidak membawa akibat hukum bagi hukum adat itu sendiri.
Perkawinan
SISTEM PERKAWINAN
Dalam hukum adat, umumnya terdapat 3 macam sistem :
Endogami, sistem perkawinan dimana seseorang hanya diperbolehkan kawin dengan orang dari
sukunya sendiri. Sistem semacam ini antara lain terdapat di daerah Toraja atau di daerah yang
masih menghargai darah kebangsaan.
Exogami, sistem perkawinan dimana seseorang hanya diperbolehkan kawin dengan orang dari
luar sukunya. Sistem semacam ini antara lain masih terdapat pada suku bangsa Batak, Gayo,
Alas, dan Sumatra Selatan.

3. Eleutherogami, sistem perkawinan dimana seseorang diperbolehkan kawin dengan orang dari
dalam dan luar sukunya. Sistem semacam ini antara lain terdapat di Jawa, Madura, Bali,
Lombok, Timor, Minahasa, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Aceh, Sumatra Timur, Bangka dan
Belitong.
SIFAT PERKAWINAN
Di sebagian besar daerah Indonesia berlaku adat kebiasaan bahwa upacara perkawinan
dilakukan di tempat keluarga mempelai wanita, meskipun adakalanya dilakukan di tempat
keluarga mempelai pria. Mengenai tempat tinggal suami istri setelah upacara perkawinan, dalam
hokum adat dikenal berbagai macam cara tergantung sifat perkawinannya :
1. Perkawinan patriokal, perkawinan yang menyebabkan kedua mempelai setelah melangsungkan
upacara perkawinan kemudian bertempat tinggal sementara atau untuk selamanya pada keluarga
pengantin pria (antara lain di Batak).
2. Perkawinan matrilokal, perkawinan yang menyebabkan kedua mempelai setelah
melangsungkan upacara perkawinan kemudian bertempat tinggal sementara atau untuk
selamanya pada keluarga pengantin wanita (anatara lain terdapat di Minangkabau dan
Lampung/semenda negeriken)
3. Cara lain ialah, upacara dilaksanakan di tempat keluarga memplai wanita atau pria, tetapi setelah
itu kedua suami istri ini kemudian berumah tangga sendiri terpisah dari keluarga istri atau
suaminya.
4) Acara perkawinan Adat
Perkawinan adat di berbagai lingkungan msayarakat adat di Indonesia acara
pelaksanaannya berbeda-beda, dikarenakan perbedaan adat kekerabatan dan bentuk perkawinan
yang dilakukan. Maka disini akan dikemukakan contoh acara perkawinan adat yang berlaku di
beberapa lingkungan masyarakat adat[1].
Perkawinan Adat Batak
Di lingkungan masyarakat adat batak dalam perkawinan berlaku adat naso gok, yaitu tata
cara perkawinan antar pria dan wanita tanpa melalui acara peminangan karena mangalua[2].
Dan adat
na
gok,
yaitu
dengan
peminangan
disertai
upacara terpasu-pasu.
Kemudian mahursip/mahuri-huri yaitu persiapan perkawinan. Dengan membicarakan uang jujur
(Tuhoi) dan pulung saut yaitu pihak pria mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk
pauknya. Kemudian pihak wanita membagikan jambar[3] kepada marga ibu (hula-hula), marga
ayah (dongan tubu) dan orang-orang tua (pengetuai).
Proses perkawianannya, melalui Tnting I[4], Tinting II[5] dan Tinting III (manjalu pasupasu : sah nya perkawinan). Makan bersama, penerimaan hadiah dari hadirin yang kemudian
dibagikan kepada kerabat yang disebutmerbagi jambar dijabu. Kemudian mangihut di
ampang yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat pria, dengan diiringi bakul tertutup ulos yang
berisi bahan makanan.
Perkawinan Adat Minangkabau
Masyarakat adat Minang, jika bujang gadis sudah berkenalan, maka penjajakkan dan
peminangan dilakukan oleh orang tua. Bisa dilakukan oleh mamak dari pria atau wanita, dan
biaya perkawinan ditanggung oleh keluarga yang meminang (sia datang sia kanai). Di Pariaman,
pihak wanita harus memenuhi permintaan pihak pria, kemudian acara menjapui dengan memakai

7 keris, 7 batu cincin berwarna, 7 tepak sirih, dan 7 kembang. Kerabat wanita menyambut
kedatangan pria dengan ditandai tembakan senjata api 7 kali, diiringi seni pencak silat dan tari
piring. Acara perkawinan dilakukan di mesjid, mempelai pria diakadnikahkan dengan ijab kabul
dengan wali mempelai wanita, dan mempelai wanita tidak perlu hadir di mesjid.
Perkawinan Adat Palembang
Dalam prosesi memadik (meminang), pihak pria diharuskan membawatenong[6]. Maka
jika pihak wanita melihat beberapa orang membawa tenong, biasanya sudah mengerti bahwa
maksudnya adalah untuk memadik. Untuk menjawab pinangan pihak pria, maka pihak wanita
merundingkannya dengan keluarga, jika diterima, pihak wanita harus mengirimkan utusan
kepada pihak pria untuk menyatakan bahwa pinangan diterima. Jika tidak ada utusan maka
pinangan ditolak. Bila kedua belah pihak sepakat dalam hal persyaratan yang dirundingkan,
maka pihak pria akan mengirim utusan sebanyak 7 orang untukmutus rasan dan menyampaikan
tanda pengikat berupa kain, baju, dan selendang dan membicarakan gawe nak dimulai.
Kemudian, pihak pria melakukan adat berangkat dengan membawa sejumlah uang
hangus, 12 nampan bahan-bahan untuk membuat kue dan makanan, 6 nampan kain songket, 1
nampan lapis mas kawin (dodot), 6 nampan manggis-manggisan yang terbuat dari kertas dan
diisi uang. Yang nantinya dikembalikan lagi kepada pihak pria dengan diisi oleh kue-kue.
Jikaadat berangkat tidak bisa dilaksanakan, maka dilakukan dengan buntel kadut[7].
Menjelang hari perkawinan, berlaku adat ngocek bawang kecik,ngocek bawang besak,
saampai pada hari munggah, yaitu hari pelaksanaan perkawinan. Kedua mempelai
menggunakan penganggon[8], akad nikah dilaksanakan di tempat pria. Selesai akad nikah, pria
membawa bungo langsi, diiring beramai-ramai ke tempat wanita. Disambut dengan siraman
beras kunyit, lalu pria dipersilakan masuk ke kamar mempelai wanita. Kemudian sepah pingang/
sirih pengantin. Kostum pengantin menggunakan kain songket dan gondik (mahkota siger)
dikepalanya, sedang pria menggunakan kain songket dengan ikat pending emas tanpa baju tetapi
berselendang dan mahkota pasingkong di kepalanya.
Perkawinan Adat Lampung
Ada 2 jenis adat yaitu peminggir yang berlaku di masyarakat adat Krui, Ranau, Komering
samapi kayuagung. Dan pepadun yang berlaku Abung, Pubiyan, Waykanan-Sungkai, dan
Tulangbawang. Tatacara dan perkawinan adat pepadun pada umumnya berdasarkan kesepakatan,
bisa dengan cara adat hibal serba, bumbang aji, intar padang, intar manom, dansebambangan.
Hibal serba, dimulai dengan acara pineng dan nunang serta nyamban dudul (memberi
dodol) oleh pihak pria kepada pihak wanita. Tempat upacarabegawai cakak
pepadun di sesat (balai adat). Sebelum upacara mengambil mem[elai dari rumahnya masingmasing, keduanya harus sudah lengkap berpakaian adat. Pria memakai sarung, bidak, sakelang,
selappai pinang, sabik inukh, sabik rial, gelang burung, kopiah mas, keris, buah manggus,
sedangkan wanita menggunakan tapis balak, rambai ringgit, bungo seretti, bubbet ringgit, sabik
inukh, gelang melayu, gelang mekkah, gelang ruwei, gelang kanou, siger, kipas, dll.
Bumbang aji, upacara yang pihak wanita cukup melepas anaknya dengan upacara
sederhana, misalnya hanya menyembelih kambing. Dan mempelai pria yang datang mengambil
hanya berpakaian kain, berjas dan peci atau kikat akkin (ikat kepala kain Lampung) atau
berpakaian Haji.

Sebambangan, belarian bujang gadis untuk mengikat perkawinan berdasarkan kehendak


mereka sendiri. Yang merupakan perbuatan yang melanggar adat dan berakibat dikenakan
hukuman/denda. Penyelesaiannya bukan lagi dengan lamaran, akan tetapi dengan permintaan
maaf dari pihak pria kepada pihak wanita, dimana sudah tidak ada kekuatan yang mengikat
untuk meminta uang adat, dll. Karena si wanita sudah berada di pihak pria.
Perkawinan Adat Pasundan
Dalam lingkungan masyarakat Pasundan (Jawa Barat) dimulai dengannuendeun
omong yaitu perundingan pihak pria dan wanita yang berwujud penyampaian peminangan. Jika
disepakati maka selanjutnya adalahpanyancang yaitu tanda pengikat pertunangan pria dan wanita
yang bersangkutan. Sebelum akad nikah dilakukan ngeujeuk seureuh kemudianmiceun seureuh
ka jarian. Akad nikah dilakukan di mesjid, setelah akadsaweran (uang logam dan beras) dengan
diiringi nyanyian sunda yang dilantunkan oleh seorang tukang sawer.
Setelah itu mempelai wanita berdiri di pendapa rumah dan diberikan kendi berisi air yang
dipegangnya dengan tangan kanan, dan tangan kirinya memegang harupat yaitu obor dengan api
menyala, dihadapannya papan alat tenun dan sebuah telur. Setelah semua siap, mempelai pria
dipersilakan menginjak telur hingga pecah. Wanita mengangkat harupat dan meniupnya hingga
mati sekaligus, lalu berjongkok untuk membersihkan kaki mempelai pria dengan air di
kendinya.
Perkawinan Adat Jawa
Setelah ada kesepakatan dalam acara lamaran dan pihak wanita telah
menerima panjer atau paningset, maka berlakulah masa pertunangan dan ditentukan hari baik
untuk melangsungkan perkawinan. Menjelang perkawinan di tempat mempelai wanita, diadakan
persiapan dan upacara selamatan pengakhiran masa gembleng, masa menyepikan diri di kamar
dan berpuasa beberapa hari sebagai ilo-ilo agar mendapat perlindungan dari para ghaib. Biasanya
hal
ini
dilakukan
setelah
pihak
pria
mengantarkanjodangan[9]. Kemudian
para penesepuh[10] memandikan
mempelai
wanita
dengan
air
siraman kembang
setaman. Setelah itu barulah ia dihias terutama bentuk rambut dan mukanya.
Pada malam harinya berlangsung acara midodareni, yaitu acara tirakatan sampai jauh
malam yang dihadiri oleh para anggota keluarga dan tetangga. Kemudian esoknya panggih
temanten, kedua mempelai saling berhadapan memegang bingkisan sirih jambe
sinigar.kemudian melangkahirintangan atau pasangan yang dilanjutkan dengan ritual injak
telur. Kemudian bertukar kembang mayang dan biasanya dimeriahkan oleh kesenianwayang
kulit dan gamelan dibunyikan dengan irama kebo giro[11].
5) Putusnya perkawinan
Tujuan perkawinan adalah untuk dapat melanjutkan keturunan dan membentuk keluarga
rumah tangga yang bahagia, kekal serta berguna bagi kehidupan kekerabatan yang rukun dan
damai. Namun demikian, walaupun sejak sebelum kawin orang tua/keluarga sudah memberikan
petunjuk dalam menilai bibit, bobot dan bebet bakal calon suami istri itu, sejarah rumah tangga
seseorang adakalanya mengalami nasib buruk sehingga berakibat terjadinya putusnya
perkawinan. Menurut hukium adat yang merupakan sebab-sebab terjadinya perceraian dari suatu
perkawinan adalah Perzinahan, Tidak member nafkah, Penganiayaan, Cacat Tubuh/Kesehatan,
dan Perselisihan.

DAFTAR PUSTAKA
Hadikusuma, Hilman, Hukum Perkawinan Adat, Bandung : Penerbit alumni, 1982
_____________, Pokok-Pokok Pengertian Hukum Adat, Bandung : Penerbit alumni, 1980
Poesponoto, Soebakti, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat, Jakarta : Pradnya Paramita, 1980
Vergouwen, Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba, cet I, Yogyakarta : LKiS, 2004

[1] Hilman Hadikusuma, hukum Perkawinan Adat, Bandung : Penerbit alumni, 1982, hal. 105-110
[2] Wanita sudah berada di pihak pria
[3] Hewan ternak yang sudah disembelih
[4] Pengajuan waktu ke pihak gereja
[5] Orang tua kedua mempelai melakukan martupol, yaitu kesaksian dan tanda tangan persetujuan perkawinan
[6] keranjang yang berisi bahan makanan mentah
[7] Pihak pria hanya membawa sejumlah uang saja tanpa barang-barang dan kain songket
[8] Baju berlengan panjang dan berkain songket
[9] Usungan barang-barang berupa kotak yang berisi bahan makanan mentah termasuk bumbu-bumbu dan ternak
yang di antar beramai-ramai.
[10] Wanita berumur yang bertugas mengurus persiapan mempelai.
[11] Irama khusus untuk tamunya temanten

Macam-macam Sistem Perkawinan Adat


Menurut
hukum
adat,
sistem
perkawinan
ada
3
macam
yaitu
(Soerjono Soekanto, Intisari Hukum Keluarga, Bandung, Sitra Aditya Bakti, 1992, hlm
131)
a.

Sistem Endogami
Dalam sistem ini orang hanya diperbolehkan kawin dengan
seorang dari suku keluarganya sendiri. Sistem perkawinan ini kini
jarang
terjadi
di Indonesia.
Menurut
Van
Vollenhoven
hanya
ada
satu
daerah saja yang secara praktis mengenal sistem endogamy ini, yaitu daerah Toraja. Tetapi
sekarang,
di
daerah
ini
pun
sistem
ini
kan
lenyap
dengan sendirinya kalau hubungan daerah itu dengan daerah lainnya
akan menjadi lebih mudah, erat dan meluas. Sebab sistem tersebut di
daerah ini hanya terdapat secara praktis saja; lagi pula endogamy sebetulnya tidak sesuai
dengan sifat susunan kekeluargaan yang ada di daerah itu, yaitu parental.

(Soerjono Soekanto, Intisari Hukum Keluarga, Bandung, Sitra Aditya Bakti, 1992, hlm
132)
b. Sistem Exogami
Dalam sistem ini, orang diharuskan menikah dengan suku
lain. Menikah dengan suku sendiri merupakan larangan. Namun
demikian, seiring berjalannya waktu, dan berputarnya zaman lambat laun mengalami proses
perlunakan
sedemikian
rupa,
sehingga
larangan
perkawinan itu diperlakukan hanya pada lingkungan kekeluargaan yang sangat kecil saja.
Sistem ini dapat dijumpai di daerah Gayo, Alas, Tapanuli, Minangkabau, Sumatera Selatan, Buru
dan
Seram.
(Soerjono Soekanto, Intisari Hukum Keluarga, Bandung, Sitra Aditya Bakti, 1992, hlm
132)

c.

Sistem Eleutherogami
Sistem eleutherogami berbeda dengan kedua sistem di atas, yang memiliki laranganlarangan dan
keharusan-keharusan.
Eleutherogami tidak mengenal laranganlarangan maupun keharusan-keharusan tersebut. Larangan-larangan yang terdapat dalam sistem
ini adalah larangan yang berhubungan dengan ikatan kekeluargaan yang menyangkut nasab
(keturunan), seperti kawin dengan ibu, nenek, anak kandung, cucu, juga dengan saudara
kandung, saudara bapak atau ibu. Atau larangan kawin dengan musyahrah (periparan), seperti kawin dengan ibu tiri, mertua, menantu, anak tiri.48 Sistem ini dapat dijumpai
hampir di seluruh masyarakat Indonesia, termasuk Jawa.

Hukum Perkawinan Adat ~ Pertunangan dalam


Hukum Perkawinan Adat
Hukum Sumber Hukum

Yang dimaksud dalam pertunangan dalam hukum adat adalah suatu stadium
(keadaan)
yang
bersifat
khusus
di
Indonesia,
biasanya
mendahului
dilangsungkannya suatu perkawinan, Stadium pertunangan timbul setelah adanya
persetujuan antara kedua belah pihak (pihak keluarga bakal suami dan keluarga
bakal isteri) untuk mengadakan perkawinan. Persetujuan ini dicapai oleh kedua
belah pihak setelah lebih dahulu ada suatu lamaran, yaitu suatu permintaan atau
pertimbangkan yang dikemukakan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan.
Lamaran atau meminang lazimnya dilakukan oleh seorang utusan, duta yang
mewakili keluarga pihak laki-laki. Pada umumnya yang ditugaskan sebagai duta
untuk mengadakan pembicaraan yang pertama kalinya dengan keluarga pihak

perempuan adalah anggota keluarga yang dekat serta biasanya yang sudah
'berumur', tetap kini sudah banyak pula yang dilakukan oleh orangtua kedua belah
pihak sendiri.
Pertunangan baru mengikat apabila dari pihak laki-laki sudah memberikan suatu
tanda pengikat kepada pihak perempuan yang disebut "panjer" atau "paningset" (di
Jawa), "panyangcang" (di daerah Pasudan), "tanda kong narit" (di Aceh), "bobo
mibu" (di pulau Nias), "sesere" (di Kepulauan Mentawai), "passikog" (di Sulawesi
Selatan), "tapu" (di Halmahera), "mas aye" (di Pulau Bali). Tanda pengikat dimaksud
diberikan kepada keluarga perempuan atau orangtua pihak perempuan atau kepada
bakal istri.
Di daerah Minangkabau, suku Batak, Dayak dan Toraja, tanda pengikat ini diberikan
timbal balik oleh masing-masing pihak. Pada zaman sekarang tanda pengikat masa
pertunangan lazimnya menggunakan cincin yang diberikan timbal-balik oleh kedua
mempelai atau kedua belah pihak. Dengan saling memberikan benda itu sebagai
tanda pengikat maka timbullah kemudian kebiasaan diadakannya upacara
"pertukaran cincin" sebagai saat dimulainya secara resmi stadium pertunangan.
Dasar alasan pertunangan ini di setiap daerah tidaklah sama, akan tetapi lazimnya
adalah:
1. Karena ingin menjamin perkawinan yang dikehendaki dapat dilangsungkan
dalam waktu dekat.
2. Khususnya di daerah-daerah yang ada pergaulan sangat bebas antara mudamudi, sekedar untuk membatasi pergaulan kedua belah pihak yang telah
diikat oleh pertunangan itu.
3. Memberi kesempatan kedua pihak untuk lebih saling mengenal, sehingga
mereka kelak sebagai suami isteri dapat diharapkan menjadi suatu pasangan
yang harmonis.

Pertunangan ini masih dimungkinkan batal apabila dalam hal-hal berikut:


1. Kalau pembatalan dikehendaki kedua pihak yng timbul setelah pertunangan
berjalan beberapa waktu lamanya.
2. Kalau salah satu pihak tidak memenuhinya janjinya, maka tanda itu harus
dikembalikan sejumlah atau berlipat dari yang diterima, sedangkan jika pihak
yang lain tidak memenuhi janjinya, maka tanda pertunangan ini tidak perlu
dikembalikan. Dalam pembatalan yang dilakukan oleh kehendak dua belah

pihak, maka tanda-tanda pertunangan lazimnya saling dikembalikan. Dalam


hukum islam pertunangan tidak dikenal.