Anda di halaman 1dari 21

Makalah

Pedoman Hidup Sehat untuk Lanjut Usia

Pembimbing :
dr. Juliandi Harahap, M. A.
Disusun oleh :
Grace Dio Margaretha
100100081
Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat
Ilmu Kedokteran Pencegahan / Ilmu Kedokteran Komunitas
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Medan
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, penulis menyajikan makalah yang berjudul Pedoman Hidup
Sehat untuk Lanjut Usia. Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan pula terima kasih yang sebesarbesarnya kepada dr. Juliandi Harahap, MA atas kesediaan beliau sebagai pembimbing dalam
penulisan makalah ini. Besar harapan, melalui makalah ini, pengetahuan dan pemahaman kita
mengenai pedoman hidup sehat untuk lanjut usia semakin bertambah.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih belum sempurna, baik dari
segi materi maupun tata cara penulisannya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini. Atas
bantuan dan segala dukungan dari berbagai pihak baik secara moral maupun spiritual, penulis
ucapkan terima kasih. Semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan bagi
perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang kesehatan.

Medan, 02 Maret 2015

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ................................................................................
DAFTAR ISI ..............................................................................................

i
ii

BAB 1 PENDAHULUAN..........................................................................

1.1. Latar Belakang..........................................................................


1.2. Tujuan........................................................................................
1.3. Manfaat.....................................................................................

1
2
2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA.................................................................


2.1 Lanjut Usia ...............................................................................
2.1.1. Definisi Lanjut Usia.............................................................
2.1.2. Klasifikasi Lanjut Usia.........................................................
2.2. Proses Menua............................................................................
2.3. Perubahan Akibat Proses Menua...............................................
2.4. Pedoman Hidup Sehat untuk Lanjut Usia.................................
2.4.1. Kesehatan Fisik ...................................................................
2.4.2. Kesehatan Mental.................................................................
2.4.3. Kebutuhan Nutrisi................................................................
2.4.4. Pemeriksaan Kesehatan dan Manajemen Penyakit.............
2.4.5. Pengindaran Faktor Risiko yang Dapat Menggangu
Kesehatan.............................................................................
2.4.6. Hubungan Sosial...................................................................
2.4.7. Kesejahteraan Material.........................................................
2.4.8. Vitalitas Spiritual..................................................................
2.4.9. Sikap Positif.........................................................................

3
3
3
3
4
5
9
9
12
12
13

BAB 3 KESIMPULAN..............................................................................

17

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................

18

15
15
16
16
16

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Angka Harapan Hidup/Usia Harapan Hidup (AHH/UHH) penduduk di suatu negara
merupakan gambaran tingkat keberhasilan pembangunan negara tersebut. Peningkatan UHH
menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan karena negara berhasil meningkatkan
derajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk.1 Berdasarkan laporan Perserikatan BangsaBangsa (PBB) 2011, pada tahun 2000-2025 UHH adalah 66,4 tahun (persentase pupulasi
lansia tahun 2000 adalah 7,74%) dan angka ini akan meningkat pada tahun 2045-2050 yang
diperkirakan UHH menjadi 77,6 tahun (dengan persentase populasi lansia tahun 2045 adalah
28,68%). Begitu pula dengan Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan terjadi
peningkatan UHH di Indonesia. Pada tahun 2000 UHH di Indonesia adalah 64,5 tahun
(dengan persentase populasi lansia adalah 7,18%), dan angka ini meningkat menjadi 69,65
tahun pada tahun 2011 (dengan persentase populasi lansia adalah 7,58%).2
Selain peningkatan UHH, indikator keberhasilan pencapaian pembangunan manusia
secara global dan nasional adalah peningkatan jumlah penduduk usia lanjut. Secara global
populasi lansia terus mengalami peningkatan semenjak tahun 1950, sedangkan Indonesia
sendiri mulai berstruktur tua pada tahun 2000 yang dapat dilihat dari persentase penduduk
lansia tahun 2008, 2009, dan 2012 yang telah mencapai 7% dari keseluruhan penduduk. Hal
ini berkaitan dengan adanya perbaikan kualitas kesehatan dan kondisi sosial masyarakat.2
Terdapat berbagai dampak dari peningkatan jumlah lansia di bidang kesehatan. Salah
satunya ialah transisi epidemiologi, yaitu bergesernya pola penyakit infeksi menjadi penyakit
degeneratif, seperti: diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, dan osteoartritis, yang
dalam penanganannya memerlukan waktu lama dan membutuhkan biaya yang cukup besar.3
Konsekuensi lain dari peningkatan populasi usia lanjut adalah meningkatnya jumah pasien
geriatri yang karakteristiknya perlu dibedakan dari sekedar warga lansia yang sehat.
Karakteristik pasien geriatri yang dimaksud diantaranya adalah multipatologis dan kronis,
penurunan cadangan faali sehingga rentan jatuh dalam keadaan gagal pulih, berubahnya tanda
dan gejala penyakit yang klasik, kerapnya terjadi gangguan nutrisi, serta adanya gangguan
status fungsional pasien sehingga tidak dapat mandiri.4

Untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul akibat peningkatan jumlah lansia,
diperlukan suatu pedoman kesehatan bagi kaum lanjut usia. Pedoman kesehatan ini bertujuan
untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang
bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaanya
dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya. Hal ini dapat
diwujudkan salah satunya melalui pedoman hidup sehat khusus bagi lansia.

1.2. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman mengenai pedoman hidup sehat bagi kaum lanjut usia serta untuk memenuhi
persyaratan dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Departemen
Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

1.3. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan maanfaat kepada penulis dan pembaca
khususnya yang terlibat dalam bidang kesehatan dan masyarakat secara umumnya agar dapat
menambah wawasan tentang pedoman hidup sehat bagi kaum lanjut usia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Lanjut Usia

2.1.1.

Definisi Lanjut Usia


Lanjut usia dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan dalam daur kehidupan

manusia. Menurut pasal 1 ayat (2) UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesehatan dikatakan
bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. 5 Sementara
Durmin menyatakan bahwa lansia adalah mereka yang telah berusia 65 tahun ke atas.6
2.1.2.

Klasifikasi Lanjut Usia


World Health Organization (WHO) selanjutnya membagi usia lanjut menjadi empat

kriteria berikut:

Usia pertengahan (middle age): 45-59 tahun


Lanjut usia (elderly): 60-74 tahun
Lanjut usia tua (old): 75-90 tahun
Usia sangat tua (very old): diatas 90 tahun5
Maryam, dkk. dalam bukunya Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya,

menyebutkan lima klasifikasi lansia:

Pralansia (prasenilis): seseorang yang berusia 45-59 tahun


Lansia: seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
Lansia risiko tnggi: seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih atau seseorang yang

berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan


Lansia Potensial: lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan

yang dapat menghasilkan barang/jasa


Lansia tidak potensial: lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya
begantung pada bantuan orang lain.6

2.2.

Proses Menua
Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat

diramalkan yang terjadi pada semua orang saat mereka mencapai usia tahap kronologis
tertentu yang tidak dapat dihindari dan akan dialami oleh setiap orang. Menua didefinisikan
sebagai proses menghilangnya secara perlahan-lahan (gradual) kemampuan jaringan untuk
memperbaiki diri atau mengganti serta mempertahankan struktur dan fungsi secara normal,
ketahanan terhadap cedera, termasuk adanya infeksi.5 Menua juga didefinisikan sebagai
proses yang mengubah seorang dewasa sehat menjadi seorang yang frail (lemah, rentan)
dengan berkurangnya sebagian besar cadangan sistem fisiologis dan meningkatnya
kerentanan terhadap berbagai penyakit dan kematian secara eksponensial. Proses penuaan
sebenarnya berlangsung sejak maturitas dan berakhir dengan kematian. Namun demikian,
efek penuaan tersebut umumnya menjadi lebih terlihat setelah usia 40 tahun.7
Terdapat beberapa istilah yang digunakan oleh gerontologis ketika membicarakan
proses menua:
1. Aging (pertambahan umur): menunjukkan efek waktu; suatu proses perubahan,
biasanya bertahap dan spontan
2. Senescence (menjadi tua): hilangnya kemampuan sel untuk membelah dan berkembang
(dan seiring waktu akan menyebabkan kematian)
3. Homeostenosis: penyempitan/berkurangnya cadangan homeostasis yang terjadi selama
penuaan pada setiap sistem organ7
Membicarakan fisiologi proses penuaan tidak dapat dilepaskan dengan pengenalan
konsep homeostenosis. Seiring bertambahnya usia jumlah cadangan fisiologis untuk
menghadapi berbagai perubahan yang mengganggu homeostasis (challange) berkurang.
Setiap challenge terhadap homeostasis merupakan pergerakan menjauhi keadaan dasar
(baseline) dan semakin besar challenge yang terjadi maka akan semakin besar cadangan
fisiologis yang diperlukan untuk kembali homeostasis. Di sisi lain dengan semakin
berkurangnya cadangan fisiologis, maka seorang lanjut lebih mudah untuk mencapai suatu
ambang, precipe, yang berupa keadaan sakit atau kematian akibat challenge tersebut.

Gambar 1. Skema homeostenosis7

2.3.

Perubahan Akibat Proses Menua


Perubahan akibat akibat proses menua terjadi pada berbagai aspek fisik, mental, dan

sosial. Perubahan fisik yang dapat diamati pada seseorang adalah rambut memutih, kulit
keriput, tipis, kering, dan longgar, mata berkurang penglihatan oleh kelainan refraksi ataupun
katarak, daya penciuman menurun, daya pengecap kurang peka terhadap rasa manis dan asin,
pendengaran berkurang, persendian kaku dan sakit, lepas BAK/BAB (inkontinensia).
Perubahan mental yang dialami karena perasaan kehilangan terutama pasangan hidup
maupun sanak-keluarga atau teman dekat (bereavement), sering menyendiri, perasaan
ketersendirian sampai menjadi lupa (demensia). Perubahan sosial yang paling menonjol
dengan meningkatnya keusialanjutan adalah ketidakmampuan merawat diri sendiri dalam hal
kegiatan hidup sehari-hari (ADL/IADL) misalnya: mandi, BAB/BAK, berpakaian, menyisir
rambut, makan sehingga lambat laun orang tersebut harus dibantu oleh seorang pengasuh
baik informal maupun formal. Sedangkan untuk kegiatan hidup instrumental misalnya
menghitung uang, menggunakan telepon ataupun komputer, menggunakan mesin cuci dan
lain sebagainya akan semakin berkurang kemampuannya seiring kapasitas hidup yang
menurun.8
Akibat proses menua yang terjadi dapat terlihat pada berbagai sistem organ yang
terangkum pada tabel berikut:

Pengaruh proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah, baik secara biologis,
mental, maupun ekonomi.5 Masalah yang kerap muncul pada usia lanjut, yang sering disebut
sebagai a series of Is, meliputi immobility (imobilisasi), instability (instabilitas dan jatuh),
incontinence (inkontinensia), intellectual impairment (gangguan intelektual), infection
(infeksi), impairment of vision and hearing (gangguan penglihatan dan pendengaran),
isolation (depresi), Inanition (malnutrisi), Insomnia (gangguan tidur), hingga immune
deficiency (menurunnya kekebalan tubuh), dan Iatrogenic.9

2.4.

Pedoman Hidup Sehat untuk Lanjut Usia


Menua sukses/sehat diyakini dapat dicapai, walaupun definisi dan faktor-faktor yang

berperan di dalamnya belum sepenuhnya disepakati. Sebenarnya, konsep menua sukses tidak
hanya terpaku pada kesehatan (baik fisik maupun mental) saja, namun juga faktor intelektual,
emosional, sosial, dan kultural juga penting dan terbukti berpengaruh pada terciptanya menua
yang sukses. Suatu penelitian besar, Mac Arthur Longitudinal Study on Succesful Aging,
menyimpulkan bahwa menua yang sukses terdiri dari 3 komponen, yaitu:
1. Rendahnya risiko untuk mengalami sakit dan disabilitas akibat penyakit
2. Kapasitas kognitif dan fisik yang tinggi
3. Kehidupan yang selalu aktif, terdiri atas hubungan interpersonal yang baik serta
aktivitas yang produktif7
Diperlukan langkah-langkah yang dapat dilakukan untu mencapai menua sukses yang
terangkum dalam pedoman hidup sehat bagi lanjut usia. Pedoman hidup sehat adalah suatu
acuan yang berisi upaya-upaya untuk memberdayakan seseorang agar sadar, mau, serta
mampu melakukan perilaku hidup sehat.
2.4.1. Kesehatan Fisik7,11
Walaupun dianjurkan dilakukan sejak muda, latihan fisik teratur yang dilakukan saat
usia tuapun tetap memberikan banyak manfaat. Dalam melakukan latihan fisik seyognyanya
disertai dengan kontak yang erat dan sehat dengan lingkungan. Keuntungan dari melakukan
aktivitas fisik teratur adalah meningkatkan kebugaran jasmani, menyehatkan jantung, otot,
dan tulang, membuat lansia lebih mandiri dan percaya diri, meningkatkan mood dan
mencegah depresi, meningkatkan kualitas tidur, serta menjaga berat badan agar tetap ideal.
Jenis latihan fisik yang dapat dilakukan oleh lansia sebaiknya tetap memenuhi kriteria
FITT (frequency, intensity, time, dan type). Frekunsi adalah seberapa sering aktivitas

dilakukan. Intensitas adalah seberapa keras suatu aktivitas dilakukan biasanya diklasifikasikn
menjadi intensitas ringan, sedang, dan berat. Waktu mengacu pada durasi yakni seberapa
lama aktivitas tersebut dilakukan dalam satu pertemuan.
Lansia direkomendasikan melakukan aktivitas fisik setidaknya selama 30 menit
dengan intensitas sedang hampir setiap hari (paling tidak 5 hari) dalam seminggu. Namun
sebaiknya olahraga dilakukan secara bertahap, dimulai dengan intensitas rendah (40-50%
denyut nadi istirahat) selama 10-20 menit, kemudian ditingkatkan sesuai dengan kemampuan
adaptasi indvidu. Jenis-jenis aktivitas fisik pada lansia meliputi latihan aerobik (meingkatkan
kerja jantung dan paru untuk memenuhi kebutuhan oksigen), penguatan otot, fleksibilitas dan
latihan keseimbangan. Latihan aerobik untuk usia lebih dari 65 tahun disarankan melakukan
olah raga yang tidak terlalu membebani tulang seperti berjalan, sepeda statis, latihan dalam
air (berenang).

Untuk latihan penguatan otot bertujuan agar otot dapat membentuk kekuatan untuk
menggerakkan atau menahan beban, misalnya aktivitas yang melawan gravitasi seperti
gerakan berdiri di atas kursi kemudian ditahan beberapa detik, berulang-ulang 10-15 repetisi.
Dapat juga melakukan aktivitas dengan tahanan berupa tali elastik.

Latihan fleksibilitas adalah aktivitas untuk membantu mempertahankan kisaran gerak


sendi (ROM), yang diperlukan untuk melakukan aktivitas dan tugas sehari-hari secara teratur.
Latihan ini disarankan 2-3 hari perminggu dengan melibatkan peregangan otot dan sendi dan
memperhatikan rasa tidak nyaman atau nyeri. Latihan dilakukan sebanyak 3-4kali dengan
masing-masing tarikan dipertahankan 10-30 detik, dimulai dari otot-otot kecil kemudia ke
otot-otot besar. Latihan ini ddapat berupa yoga.

Latihan keseimbangan dilakukan untuk membantu mencegah lansia jatuh. Latihan


keseimbangan setidaknya dilakukan 3 hari dalam seminggu yang dilakukan pada intensitas
rendah. Kegiatan berjalan, Tai Chi dan penguatan otot dapat memperlihatkan perbaikan
keseimbangan pada lansia. Olahraga dilakukan dengan cara menyenangkan disertai dengan
modifikasi, termasuk denga mengombinasikan beberapa aktivitas sekaligus, misalnya berupa
berjalan yang bersifat rekreasi atau kombinasi latihan fisik dengan musik atau menari bisa
dilakukan.
Olahraga pada lansia dilakukan dengan mempertimbangkan keamanan, masalah
kesehatan, dan kelemahan yang mungkin ada. Masalah kesehatan tersebut diantaranya:

Osteoartritis: olahraga yang direkomendasikan adalah yang bersifat tidak membebani


tubuh, misalnya bersepeda dan latihan dalam air. Latihan fleksibilitas dilakukan

dengan melibatkan sendi yang terkena atritis namun dengan batasan ROM yang bebas
nyeri. Kontraindikasinya yaitu latihan berat, berulang-ulang pada sendi yang tidak

stabil, serta melatih sendi saat tanda-tanda radang masih aktif.


Osteoporosis: latihan jasmani yang dipilih bersifat melawan gravitasi (weight

bearing), misalnya berjalan


Penyakit kardiovaskular: latihan aerobik 30-60 menit perhari untuk menurunkan
tekanan darah dengan latihan penguatan yang dilakukan denga tahanan lebih rendah

namun lebih banyak repetisi.


Diabetes: latihan fisik mempertimbangkan efek insulin dam kadar gula darah. Insulin
disuntikkan 1 jam sebelum latihan. Monitor gula darah dilakukan sebelum, selama,
dan sesudah latihan untuk menentukan perlunya penyesuaian dosis insulin.

2.4.2. Kesehatan mental7


Dengan bermain dan bercengkrama dengan cucu-cucu, selain bermanfaat secara fisik,
hubungan sosial dan kondisi mentalpun akan tetap terjaga bahkan meningkat sampai tahap
optimal. nikmati berbagai aktivitas yang menjaga ketajaman pikiran, seperti: membaca,
menulis, mengisi teka-teki silang, atau terlibat dalam pembicaraan atau diskusi yang santai
namun serius. Tidur yang cukup sangat dibutuhkan tubuh untuk tetap sehat fisik maupun
psikis. PAPDI mennganjurkan paling tidak tidur selama 6 jam setiap hari.
2.4.3. Kebutuhan Nutrisi7,10,12
Walaupun status nutrisi yang buruk lebih mudah didapatkan pada mereka yang
berusia lanjut, namun bukan hal yang tidak mungkin mereka mampu mendapatkan nutrisi
yang cukup dan seimbang untuk mempertahankan kesehatan dan kebugaran fisik. Pemenuhan
kebutuhan nutrisi tidak semata-mata terbatas pada jenis dan jumlah makanan, tetapi yang
tidak kalah penting adalah aktivitas makan yang tentu melibatkan hubungan sosial dan
rekreasi yang manfaatnya juga akan sangat dirasakan.
Kebutuhan nutrisi sehat untuk lansia yaitu:
o Kebutuhan kalori untuk lansia akan berkurang dibandingkan dewasa karena
penurunan

kecepatan

basal

metabolik

dan

aktivitas

fisik

seiring

bertambahnya usia. Menurut Angka Kecukupan Gizi Indonesia, laki-laki


lansia membutuhkan 2200 Kkal/hari dan perempuan lansia sekitar 1850
Kkal/hari
o Kebutuhan kalori tersebut dipenuhi dari sumber energi karbohidrat 45-65%,
lemak 20-35% dengnan lemak jenuh tidak lebih dari 10% dan kolesterol

tidak lebih dari 200mg/dl, serta protein sisanya dan dipengaruhi oleh fungsi
ginjal
o Porsi makan kecil dan sering, dianjurkan makan besar 3 kali dan selingan 2
kali sehari, sayuran dipotong lebih kecil, bila perlu dimasak sampai empuk,
daging dicincang dan buah dapat dijus/diblender
o Untuk memenuhi kebutuhan cairan minum 6-8 gelas air putih setiap hari
o Menggunakan bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, jahe,
kunyit, lada, gula, untuk meningkatkan cita rasa makanan. Namun tidak
menggunakan bumbu yang merangsang seperti pedas atau asam karena
mengganggu kesehatan lambung dan alat pencernaan
o Mengurangi pemakaian garam dapur yakni tidak lebih dari 4 gram (satu
sendok teh) perhari untuk mengurangi risiko darah tinggi
o Mengurangi santan, daging yang berlemak dan minyak agar kolesterol darah
tidak tinggi. Menggunakan sedikit minyak untuk menumis dan kurangi
makanan yang digoreng. Memperbanyak makanan yang diolah dengan
direbus karena makanan lebih mudah dicerna
o Memperbanyak makanan yang berkalsium tinggi seperti susu dan ikan. Pada
lanjut usia khususnya ibu-ibu yang menopause sangat perlu mengonsumsi
kalsium untuk mengurangi risiko keropos tulang. Bila perlu dengan
suplementasi kalsium hingga memenuhi kebutuhan kalsium >1200mg/ hari
bagi yang berusia di atas 51 tahun. Dapat juga dengan berjemur di bawah
matahari selama 15 menit setiap pagi hari untuk meningkatkan aktivasi
vitamin D dalam tubuh.
o Memperbanyak makanan serat, sayuran dan buah-buahan paling tidak 5porsi
sehari agar pencernaan lancar dan tidak sembelit
o Menggurangi mengonsumsi gula dan makanan

yang

mengandung

karbohidrat tinggi agar gula darah normal khususnya bagi penderita kencing
manis agar tidak terjadi komplikasi lain
o Makan bersama teman agar lebih meningkatkan selera makan dan hubungan
sosial dengan teman
2.4.4. Pemeriksaan Kesehatan dan Manajemen Penyakit7,10,13
Semenjak usia 40 tahun, setiap orang sangat dianjurkan untuk melakukan
pemeriksaan kesehatan secara berkala, terutama jika memiliki faktor risiko penyakit tertentu
dari keluarga. Upaya ini dapat diakukan untuk mencegah, menunda, atau menemukan dan
mengenali secara dini berbagai penyakit atau gangguan kesehatan, serta mengatasi penyakit

yang muncul untuk mencegah komplikasi. Penyakit yang paling sering dialami kaum lanjut
usia diantaranya adalah: penyakit jantung dan pembuluh darah, hipertensi, diabetes melitus,
pernyakit kanker, dan penyakit sendi dan tulang. Deteksi dini diperlukan agar dapat
menatalaksana penyakit sedini mungkin pula. Hal ini dapat berupa:
o Kanker: pemeriksaan pap smear setiap 1-3 tahun, pemeriksaan payudara
sendiri (sadari), setiap bulan setelah selesai menstruasi, dan pemeriksaan
payudara oleh dokter setiap tahun setelah usia 40 tahun, mamografi setiap
tahun setelah usia 40 tahun. Pemeriksaan rektal (colok dubur) setiap tahun
pada orang dewasa setelah usia 40 tahun. Endoskopi pada semua usia lanjut
setelah usia 50 tahun, setiap 5 tahun. Pemeriksaan pemeriksaan PSA setiap
tahun antara 50 sampai dengan 70 tahun
o Pemeriksaan kolesterol tiap 3-5 tahun
o Pemeriksaan rutin kimia darah, darah perifer lengkap, dan pemeriksaan urin
lengkap
o Pemeriksaan tekanan darah setiap 3 tahun sebelum usia 40 tahun dan setiap
tahun setelah berusia 40 tahun bila. Bila pasien telah menderita darah tinggi,
sangat dianjurkan untuk mengevaluasi tekanan darah 2-4 minggu setelah
terapi dimulai atau setelah adanya perubahan terapi. Target tekanan darah
bagi lansia diatas 60 tahun tanpa penyakit penyerta (gagal ginjal kronis dan
diabetes): sistole: <150 mmHg dan diastole <90 mmHg. Bila lansia dengan
penyerta target sistole adalah <140 mmHg.
o Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG): berikan 1 kopi hasil EKG tersebut
kepada pasien. Manakala pasien mengalami masalah jantung (nyeri dada),
hasil EKG tersebut dapat diberikan ke dokter yang melayaninya untuk
digunakan oleh sang dokter dalam membuat penilaian klinis
o Pemeriksaan ketajaman penglihatan dan penapisan glaukona setiap 1-3 tahun
setelah usia 50 tahun.
o Evaluasi fungsi pendengaran setiap 3 tahun setelah berusia 50 tahun
o Pemeriksaan dan perawatan gigi-geligi paling tidak enam bulan sekali. Bila
perlu menggunakan gigi palsu
o Pengkajian fungsi fisik dan mental
Apabila pasien terbukti mengidap penyakit atau gangguan kesehatan, maka
pengelolaan penyakit secara seksama harus dilakukan. Diperlukan kerjasama yang baik
antara tenaga kesehatan dan pasien serta keluarganya agar penyakit atau gangguan kesehatan
yang diderita pasien dapat terkelola dan terkendali dengan baik. Untuk itu amat dibutuhkan

kepatuhan pasien dalam mengontrol penyakit-penyakit yang diderita agar tidak timbul
komplikasi atau penyulit.
Pada umumnya berbagai penyakit kronik degeneratif memerlukan kedisiplinan dan
ketekunan dalam diet atau latihan jasmani, demikian pula di dalam pengobatan yang
umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan bisa seumur hidup. Tidak jarang
pasien merasa bosan dan akhirnya menghentikan pengobatannya sehingga penyakit menjadi
tidak terkendali dan kemudian timbul berbagai komplikasi yang tidak jarang sampai
mengancam nyawa.
2.4.5. Penghindaran Faktor Risiko yang Dapat Menggangu Kesehatan7
Hal ini dapat berupa penghindaran stres (meningkatkan rasa percaya diri, selalu
berfikir positif, mengatur waktu dengan baik, mengetahui dan menerima keterbatasan diri,
hilangkan ketegangan, dan berbuat sesuatu yang positif), penghindaran diri dari kecelakaan
(tidak bepergian seorang diri terutama bagi yang sudah memiliki gangguan keseimbangan,
gangguan penglihatan, dan pendengaran), mengurangi dan berhenti merokok dan
mengonsumsi alkohol.
2.4.6. Hubungan sosial7
Sahabat-sahabat sejati serta anggota keluarga yang mendukung tentu merupakan obat
yang mujarab, terutama pada masa akhir-akhir kehidupan. Dengan membina hubungan yang
positif dengan berbagai pihak, kita akan semakin sehat, panjang umur, dan makin menikmati
hidup.

Hubungan

sosial

dapat

ditingkatkan

dengan

ikut

bergabung

dengan

kelompok/komunitas khusus bagi lanjut usia, salah satunya Karang/Panti Wreda. Panti Wreda
merupakan wadah bagi para usia lanjut yang berada di wilayah desa/kelurahan dengan
anggota para usia lanjut di wilayah tersebut. Kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya
merupakan disupervisi puskesmas setempat. Di kultur masyarakat kita, sebenarnya peran
sosial orang tua sudah sangat jelas. Sebagai seorang yang dituakan, umumnya seorang
berusia tua selalu diminta nasihat dan pemikiran-pemikirannya dalam berbagai masalah.
Perasaan telah memberikan manfaat bagi orang lain ternyata sangat membantu baik dari segi
mental maupun kesehatan fisik.

2.4.7. Kesejahteraan Material7


Walaupun kekayaan dan kesejahtraan material bukan merupakan hal penting dalam
kehidupan, kemampuan pemenuhan kebutuhan material baik untuk diri sendiri maupun
keluarga berdampak pada kesehatan fisik, mental, maupun sosial. Bagi seorang yang akan
memasuki usia pensiun, adalah sangat tepat dan bermanfaat bila dapat merencanakan masamasa pensiunnya tanpa harus kekurangan materi.
2.4.8. Vitalitas Spiritual7,10
Kehidupan spiritual yang baik, di masyarakat dan kultur kita, telah diyakini dapat
memberikan makna lebih dalam menjalani kehidupan, terutama bagi mereka yang menuju
usia senja. Hal yang samapun juga terjadi di negara barat yang selama ini terkesan cenderung
memisahkan agama dari kehidupan. Larry Dorsey, seorang peneliti, dokter, dan penulis buku
terkemuka, setelah mengamati berbagai studi menyimpulkan bahwa paling tidak terdapat 250
studi yang menunjukkan bahwa mereka yang taat menjalankan ibadahnya lebih sehat selama
kehidupannya dibanding mereka yang tidak, terbukti dari jarangnya sakit, jarangnya
kunjungan ke dokter, dan biaya yang rendah untuk biaya kesehatan pada mereka yang taat
beribadah.
Sikap Positif7

2.4.9

Dalam perjalanan hidup menjadi tua, tentu banyak tantangan dan kehilangan yang
terjadi yang mendera orang tua. Tetapi jangan berkecil hati, karena berbagai masalah yang
selama ini dihadapi tersebut merupakan pelajaran berharga agar dapat bersikap positif
terhadap kehidupan. Seorang yang bersikap positif umumnya lebih menerima berbagai
peristiwa apapun yang terjadi, serta dapat mengendalikan emosi pada keadaan apapun.
Bersikap positif diyakini akan memberikan manfaat yang lebih dalam kehidupan seorang
lanjut yang berkualitas. Dalam menjalani hidup, seyogyanya keinginan yang berasal dari
lubuk hati yang paling dalam harus diperhatikan; tidak memaksakan kehendak dan jangan
membiarkan apapun menggangu keinginan hati.Nikmati setiap waktu dari kehidupan anda
sambil menerima segala perubahan yang terjadi pada diri kita. Setiap ada kehilangan,
hendaknya selalu berusaha untuk bangkit, dengan mencoba mencari teman-teman baru atau
mengembangkan hobi serta berekreasi.

BAB III
KESIMPULAN

Keberhasilan pembangunan global dan nasional menyebabkan meningkatnya usia


harapan hidup dan jumlah penduduk lanjut usia. Hal ini bukan saja menandakan sebuah
kesuksesan pembangunan, tetapi juga menjadi tantangan pembangunan bagi suatu negara
karena menimbulkan beberapa masalah baru. Masalah tersebut diantaranya adalah transisi
epidemiologi penyakit dan peningkatan jumlah pasien geriatri yang penangannya kompleks.
Hal inilah tidak hanya menjadi masalah global, tetapi juga menjadi masalah negara Indonesia.
Pada kaum lanjut usia proses menua, suatu proses fisiologis yang berlangsung gradual
dan tidak dapat dihindari ditandai dengan penurunan fungsi sistem faal tubuh sehingga rentan
untuk menderita berbagai penyakit. Proses ini tidak hanya menyebabkan perubahan fisik,
tetapi juga menyebabkan perubahan mental dan sosial. Perubahan-perubahan yang dialami
oleh lansia akan menimbulkan banyak masalah, yang sering dikenal dengan a series of Is,
yaitu: immobility, instability, incontinence, intellectual impairment, infection, impairment of
vision and hearing, isolation, inanition, insomnia, immune deficiency, dan iatrogenic.
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, diperlukan suatu pedoman hidup sehat agar
lansia yang berarti lansia menua dengan sukses. Pedoman hidup sehat tersebut terdiri atas
langkah-langkah yang memperhatikan kesehatan fisik, mental, sosial, psikis, serta spiritual.
Langkah tersebut diantaranya: mengupayakan fisik dan mental selalu sehat, mengupayakan
nutrisi yang baik, melakukan pemeriksaan kesehatan berkala sejak usia 40 tahun,
menghindari faktor risiko yang dapat mengganggu kesehatan, memiliki hubungan sosial yang
sehat, meningkatkan kesejahtraan material, meningkatkan vitalitas spiritual, serta sikap yang
positif dengan memperhatikan keinginan hati.

DAFTAR PUSTAKA
1. Djaja S. Analisis Penyebab Kematian dan Tantangan yang Dihadapi Penduduk Lanjut
Usia di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar 2007. Buletin Penelitian Sistem
Kesehatan. 2012 Okt;15(4):323-30.
2. Kemenkes RI. Gambaran Kesehatan Lanjut Usia di Indonesia. Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan. 2013 Juli:1-17.
3. Nasution, Z. Pengaruh Pengetahuan, Sikap, Dukungan Keluarga dan Kader terhadap
Pemanfaatan Posyandu Lanjut Usia di Wilayah Kerja Puskesmas Bandar Dolok
Kecamatan Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang. Thesis. Medan: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Sumatera Utara; 2013. H.1-5.
4. Soejono CH. Pengkajian Paripurna pada Pasien Geriatri. Dalam: Sudoyo AW, Setiohadi
B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 5. Jakarta:
Interna Publishing; 2009. H.768-70.
5. Astari P. Hubungan Coated Tongue dengan Candida sp. dan Faktor-Faktor Resiko
Lainnya Pada Lansia di Panti Jompo Abdi Darma Asih Binjai Sumatera Utara tahun
2009. Skripsi. Medan: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara; 2011. H. 15.
6. Sihombing HC. Karakteristik Kasus Menopause Osteoporosis di Makmal Terpadu
Immunoendrokinologi FK UI Tahun 2006-2008. Skripsi. Depok: Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas Indonesia;2009. H. 1-10.
7. Setiati S, Harimurti K, Govinda AR. Proses Menua dan Implikasi Klinis. Dalam: Sudoyo
AW, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed
5. Jakarta: Interna Publishing; 2009. H.757-66.
8. Abikusno N. Kelanjutusiaan Sehat Menuju Masyarakat Sehat untuk Segala Usia. Buletin
Jendela Data dan Informasi Kesehatan. 2013 Juli:25-28.
9. Asfriyati. Upaya Pembinaan dan Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut. Thesis. Medan:
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara;2003. H. 2-5.
10. PAPDI. Pencegahan Penyakit dan Kiat Tetap Sehat pada Usia Lanjut. Available from:
http://www.pbpapdi.org/papdi.php?pb=detil_berita&kd_berita=19

[Accessed

on

03

March 2015].
11. Ambardini RL.Aktivitas Fisik pada Lanjut Usia. Paper. Yogyakarta: Fakultas Ilmu
Keguruan Universitas Negeri Yogyakarta:2009. H. 4-9.
12. Wellman NS, Kamp JB. Nutrition in Aging. In: Mahan LK, Stump SE. Krauses Food &
Nutrition Therapy. Ed. 12. Canada: Elsevier; 2008. H. 299-300.
13. Eighth Joint National Comitee. 2014 Evidence-Based Guideline for the Management of
High Blood Pressure in Adults. JAMA. 2014; 311(5) 507-20.