Anda di halaman 1dari 34

PRESENTASI KASUS

TUMOR PAROTIS SUBMANDIBULA

Disusun oleh :
SRI INDAH SARI WIJAYA
1102010273

PEMBIMBING :
Dr. Herry Setya Yudha Utama, SpB, MHKes, FinaCs

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


RSUD ARJAWINANGUN CIREBON
Fakultas Kedokteran YARSI
Arjawinangun 2015

PRESENTASI KASUS

TUMOR PAROTIS
I

IDENTITAS

Nama

: Tn. K

Usia

: 49 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Pekerjaan

: Pedagang

Alamat

: Kedokan Bunder

Tanggal Masuk Rs

: 11 2 2015
2

II ANAMNESIS (ALLOANAMNESIS)

Keluhan Utama

: Benjolan pada leher kanan

Keluhan Tambahan

: Sulit makan dan minum dan keluar air liur terus menerus

Riwayat Penyakit Sekarang:


Tn. K (laki-laki) 49 tahun, pasien mengeluh terdapat benjolan pada leher kanan
yang dirasakan timbul dan semakin memnbesar sejak 6 bulan SMRS. Benjolan juga
dirasakan nyeri dan cukup mengganggu aktivitas seperti makan dan minum. Pasien
menjadi sulit berbicara dan mengeluarkan air liur lebih banyak dari biasanya. Pasien
menyangkal adanya nyeri pada daerah benjolan tersebut, pada benjolan tidak pernah
bengkak merah atau panas.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien belum pernah dilakukan operasi. Pasien menyangkal memiliki riwayat
darah tinggi serta kencing manis. Sebelumnya pasien juga tidak pernah memiliki keluhan
yang sama.

Riwayat Penyakit keluarga :


Pasien mengaku di keluarga belum pernah ada yang mengalami hal yang sama
seperti pasien.

III PEMERIKSAAN FISIK


STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Sakit Sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda Vital

: TD

: 120/80 mmHg

: 88x/menit

: 36,9oC

: 24 x/ menit

Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/Refleks pupil -/-

Leher :
Terdapat massa pada leher sebelah kanan dengan berukuran 5 cm x 3 cm,
berwarna sama dengan sekitarnya, permukaan licin, tidak terdapat ulserasi,
konsistensi kenyal dan berbatas tegas, nyeri tekan (-), tidak terdapat pembesaran
KGB.
4

Thorax
1. Pulmo:

Thoraks:
Cor

I : iktus cordis tidak terlihat


P : iktus cordis teraba pada ICS V garis midclavikula
P : batas jantung mudah dinilai
A : BJ I-II reguler, murmur(-), gallop(-)

Pulmo I : pergerakan torak simetris dalam keadaan statis dan dinamis


P : vokal fremitus hemitoraks kanan dan kiri sama
P : sonor pada kedua lapangan paru
A : vesikular, rhonki -/-, wheezing -/Abdomen
I

: cembung, simetris, luka operasi (-)

: Bising usus (+) normal

: Timpani seluruh lapang abdomen

: lembut, nyeri tekan (+) di kuadran kanan bawah,teraba massa (+)


hepar teraba 8 cm,

Ekstremitas
Superior kanan kiri

: udem (-) , akral hangat

Inferior kanan kiri

: udem (-) , akral hangat

Genitalia

: Testis normal

Status Lokalis : teraba benjolan di leher kanan atas sebesar kepalan tangan
kepalan tangan orang dewasa,keras,sulit digerakkan teraba
benjolan di leher kanan atas sebesar
kepalan tangan orang dewasa,keras,sulit digerakkan
kepalan tangan

orang dewasa,keras,sulit digerakkan

IV PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Rutin
LAB

RESULT

NILAI NoRMAL

13 gr/dl

12-16/13-17

Leukosit

10270 /mm3

4000-10000

Trombosit

410000/mm3

150000-450000

Hematokrit

38,7 %

37-43/40-48

HB

Waktu perdarahan

1-3

Waktu pembekuan

3 30

2-6

Glukosa darah sewaktu : 148 mg/dl

Foto Thorax
Kesan : Tidak tampak spesifik proses aktif
Tidak tampak pembesaran jantung
6

V DIAGNOSIS KERJA

Tumor Parotis

VI. DIAGNOSIS BANDING


Limfadenopati kelenjar tiroid

VII. USULAN PEMERIKSAAN

Biopsi (FNAB)

VIII

PENATALAKSANAAN

- Observasi
- Tindakan operasi (Reseksi dan Kemoterapi

IX. PROGNOSIS
Ad Vitam

: dubia ad bonam

Ad Functionam

: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Tumor parotis adalah tumor yang menyerang kelenjar liur parotis. Dari tiap 5 tumor
kelenjar liur, 4 terlokalisasi di glandula parotis, 1 berasal dari kelenjar liur kecil atau
submandibularis dan 30 % adalah maligna. Disebutkan bahwa adanya perbedaan geografik dan
suku bangsa: pada orang Eskimo tumor ini lebih sering ditemukan, penyebabnya tidak diketahui.
Sinar yang mengionisasi diduga sebagai faktor etiologi.
Dalam rongga mulut terdapat 3 kelenjar liur yang besar yaitu kelenjar parotis, kelenjar
submandibularis, dan kelenjar sub lingualis. Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur utama yang
terbesar dan menempati ruangan di depan prosesus mastoid dan liang telinga luar. Tumor ganas
parotis pada anak jarang didapat. Tumor paling sering pada anak adalah karsinoma
mukoepidermoid, biasanya jenis derajat rendah. Massa dalam kelenjar liur dapat menjadi ganas
seiring dengan bertambahnya usia. Prevalensi tumor ganas yang biasanya terjadi pada orang
dengan usia lebih dari 40 tahun adalah 25 % tumor parotis, 50 % tumor submandibula, dan satu
setengah sampai dua pertiga dari seluruh tumor kelenjar liur minor adalah ganas.
Keganasan pada kelenjar liur sebagian besar asimtomatik, tumbuhnya lambat, dan
berbentuk massa soliter. Rasa sakit didapatkan hanya 10-29% pasien dengan keganasan pada
kelenjar parotisnya. Rasa nyeri yang bersifat episodik mengindikasikan adanya peradangan atau
obstruksi daripada akibat dari keganasan itu sendiri. Massa pada kelenjar liur yang tidak nyeri
dievaluasi dengan aspirasi menggunakan jarum halus (Fine Needle Aspiration) atau biopsi.
Pencitraan menggunakan CT-Scan dan MRI dapat membantu. Untuk tumor ganas, pengobatan
dengan eksisi dan radiasi menghasilkan tingkat kesembuhan sekitar 50%, bahkan pada
keganasan dengan derajat tertinggi.
8

BAB II
KELENJAR PAROTIS
2.1 Anatomi Kelenjar Parotis
Kelenjar parotis adalah kelenjar liur yang berpasangan, berjumlah 2. Kelenjar parotis merupakan
kelenjar liur yang terbesar. Masing-masing beratnya rata-rata 25 gram dan bentuknya irregular,
berlobus, berwarna antara hijau dan kuning (yellowish) terletak dibawah meatus akustik
eksternus diantara mandibula dan otot sternokleidomastoideus.

Gambar 2.1
Proyeksi Kelenjar Parotis Terhadap Organ Lain

Kelenjar parotis bentuknya bervariasi, jika dilihat dari lateral 50% berbentuk segitiga, 30%
bagian atas dan bawahnya membulat. Biasanya kelenjar parotis berbentuk seperti piramida
terbalik dengan permukaan-permukaannya sebagai berikut: permukaan superior yang kecil,
9

superficial, anteromedial, dan posteromedial. Bentuk konkav pada permukaan superior


berhubungan dengan bagian tulang rawan dari meatus akustik eksternus dan bagian posterior dari
sendi temporomandibular. Disini saraf auriculotemporal mempersarafi kelenjar parotis.
Permukaan superfisialnya ditutup oleh kulit dan fascia superficial yang mengandung cabang
fasial dari saraf aurikuler, nodus limfatikus parotis superficial, dan batas bawah dari platisma.

Gambar 2.2
Penampang samping letak kelenjar parotis6

Bagian anterior kelenjar berbatasan dengan tepi posterior ramus mandibula dan sedikit
melapisi tepi posterior muskulus masseter. Bagian posterior kelenjar dikelilingi oleh telinga,
prosesus mastoid, dan tepi anterior muskulus stemokleidomastoideus. Bagian dalam yang
merupakan lobus medial meluas ke rongga parafaring, dibatasi oleh prosesus stiloideus dan
ligamentum stilomandibular, muskulus digastrikus, serta selubung karotis. Di bagian anterior
lobus ini terletak bersebelahan dengan bagian medial ptetygoideus. Bagian lateral hanya ditutupi
oleh kulit dan jaringan lemak subkutaneus. Jaringan ikat dan jaringan lemak dari fasia leher
dalam membungkus kelenjar ini. Kelenjar parotis berhubungan erat dengan struktur penting di
sekitarnya yaitu vena jugularis interna beserta cabangnya, arteri karotis eksterna beserta
cabangnya, kelenjar limfa, cabang auriculotemporalis dari nervus trigerninus dan nervus fasialis.

10

Pendarahan kelenjar parotis berasal dari arteri karotis eksterna dan cabang-cabang di
dekat kelenjar parotis. Darah vena mengalir ke vena jugularis eksterna melalui vena yang keluar
dari kelenjar parotis.
Nodul kelenjar lime ditemukan pada kulit yang berada di atas kelenjar parotis (kelenjar
preaurikuler) dan pada bagian dari kelenjar parotis itu sendiri. Ada 10 kelenjar limfatik yang
terdapat pada kelenjar parotis, sebagian besar ditemukan pada bagian superficial dari kelenjar
diatas bidang yang berhubungan dengan saraf fasialis. Kelenjar limfe yang berasal dari kelenjar
parotis mengalirkan isinya ke nodus limfatikus servikal atas.
Persarafan kelenjar parotis oleh saraf preganglionic yang berjalan pada cabang petrosus
dari saraf glossopharyngeus dan bersinaps pada ganglion otik. Serabut postganglionic mencapai
kelenjar melalui saraf auriculotemporal.
Kelenjar parotis memiliki saluran untuk mengeluarkan sekresinya yang dinamakan
Stensens duct yang akan bermuara di mulut dekat gigi molar 2; lokasi biasanya ditandai oleh
papilla kecil.

Gambar 2.3
Muara dari duktus parotis5

11

2.2 Fisiologi Kelenjar Parotis


Setiap hari diproduksi 1 sampai 2 liter air liur dan hampir semuanya ditelan dan direabsorbsi.
Proses sekresi dibawah kendali saraf otonom. Makanan dalam mulut merangsang serabut saraf
yang berakhir pada nucleus pada traktus solitaries dan pada akhirnya merangsang nukleus saliva
pada otak tengah. Pengeluaran air liur juga dirangsang oleh penglihatan, penciuman melalui
impuls dari kerja korteks pada nukleus saliva batang otak. Aktivitas simpatis yang terus menerus
menghambat produksi air lir seperti pada kecemasan yang menyebabkan mulut kering. Obatobatan yang menghambat aktivitas parasimpatis juga menghambat produksi air liur seperti obat
antidepresan, tranquillizers, dan obat analgesic opiate dapat menyebabkan mulut kering
(Xerostomia).
Air liur terdiri atas air dan mucin, membentuk seperti lapisan gel pada mukosa oral dan
membasahi makanan (lubrikasi). Lubrikasi penting untuk mengunyah dan pembentukan bolus
makanan sehingga memudahkan untuk ditelan. Air liur juga mengandung amylase, yang
berperan dalam pencernaan karbohidrat. Air lir mengandung enzim antibakteri seperti lysozyme
dan immunoglobulin yang membantu mencegah infeksi serius dan mengantur flora bakteri yang
menetap di mulut. Saluran air liur relative impermeabel terhadap air dan mensekresi kalium,
bikarbonat,kalsium, magnesium, ion fosfat dan air. Jadi produk akhir dari kelenjar air liur adalah
hipotonik, cairan yang bersifat basa yang kaya akan kalsium dan fosfat. Komposisi ini penting
untuk mencegah demineralisasi enamel gigi.

12

Gambar 2.4
Struktur mikroskopis kelenjar air liur7

BAB III
TUMOR PAROTIS
3.1 Definisi
Menurut kamus kedokteran Dorland edisi 29, Tumor didefinisikan sebagai pertumbuhan baru
suatu jaringan dengan multiplikasi sel-sel yang tidak terkontrol dan progresif, disebut juga
neoplasma. Kelenjar Parotis adalah kelenjar air liur terbesar yang terletak di depan telinga.
3.2 Epidemiologi
Tumor pada kelenjar liur relatif jarang terjadi, persentasenya kurang dari 3% dari seluruh
keganasan pada kepala dan leher. Keganasan pada tumor kelenajar liur berkaitan dengan paparan
radiasi, faktor genetik, dan karsinoma pada dada. Sebagian besar tumor pada kelenjar liur terjadi
pada kelenjar parotis, dimana 75% - 85% dari seluruh tumor berasal dari parotis dan 80% dari
tumor ini adalah adenoma pleomorphic jinak (benign pleomorphic adenomas).
3.3 Presentasi

13

Tumor kelenjar liur baik itu jinak atau ganas akan muncul sebagai suatu massa berbentuk soliter,
berkembang diantara sel-sel pada kelenjar yang terkena. Pembesaran menyeluruh atau berulang
dari kelenjar yang terkena sepertinya akibat kalkulus atau peradangan dan pembesaran kelenjar
air liur global yang jarang dapat dilihat pada penyakit sistemik seperti diabetes mellitus,
myxoedema, sindroma Cushing, dan peminum alcohol. Pembesaran kelenjar parotis juga dapat
dilihat pada anorexia nervosa. Pasien dengan tumor jinak atau keganasan derajat rendah dapat
menampilkan gejala pertumbuhan massa yang lambat untuk beberapa tahun.
Pertumbuhan yang cepat dari massa dan rasa sakit pada lesi itu berkaitan dengan perubahan ke
arah keganasan, tetapi bukan sebagai alat diagnostik. Keterlibatan saraf fasialis (N.VII)
umumnya sebagai indikator dari keganasan,walaupun gejala ini hanya nampak pada 3% dari
seluruh tumor parotis dan prognosisnya buruk. Tumor ganas pada kelenjar parotis dapat meluas
ke area retromandibular dari parotis dan dapat menginvasi lobus bagian dalam, melewati ruangan
parapharyngeal. Akibatnya, keterlibatan dari saraf kranial bagian bawah dapat terjadi berupa
disfagia, sakit dan gejala pada telinga. Lebih lanjut lagi dapat melibatkan struktur disekitarnya
seperti tulang petrosus, kanal auditorius eksternal, dan sendi temporomandibular.Error! Bookmark not
defined.

Tumor ganas dapat bermetastasis ke kelenjar limfe melalui ruangan parapharyngeal dan ke

rangkaian jugular bagian dalam, dan ke pre-post facial nodes.


Menurut Armstrong et al, sebanyak 16 % dari pasien dengan tumor parotis dan 8% pasien
dengan tumor pada submandibula atau sub lingual secara klinis menunjukkan keterlibatan
kelenjar limfe pada penampilannya.
3.4 Pemeriksaan
Pada anamnesis harus ditanyakan mengenai radiasi terdahulu pada daerah kepala-leher, operasi
yang pernah dilakukan pada kelenjar ludah dan penyakit tertentu yang dapat menimbulkan
pembengkakan kelenjar ini (diabetes,sirosis,hepatitis, alkoholisme). Juga obat-obat seperti
opiate, antihipertensi, derivate fenotiazin, diazepam, dan klordiazepoksid dapat menyebabkan
pembengkakan, karena obat-obat ini menurunkan fungsi kelenjar ludah.

14

Dengan inspeksi dalam keadaan istirahat dan pada gerakan dapat ditentukan apakah ada
pembengkakan abnormal dan dimana, bagaimana keadaan kulit dan selaput lendir di atasnya dan
bagaimana keadaan fungsi nervus fasialis. Kadang-kadang pada inspeksi sudah jelas adanya
fiksasi ke jaringan sekitarnya, dan langsung tampak adanya trismus. Penderita juga harus
diperiksa dari belakang, untuk dapat melihat asimetrisitas yangmungkin lolos dari perhatian kita.
Palpasi yang dilakukan dengan teliti dapat mengarah ke penilaian lokalisasi tumor dengan tepat,
ukuran (dalam cm), bentuknya, konsistensi, dan hubungan dengan sekelilingnya. Jika mungkin
palpasi harus dilakukan bimanual. Palpasi secara sistematis dari leher untuk limfadenopati dan
tumor Warthin yang jarang terjadi juga harus dilakukan. Berikut ini kelainan patologi yang dapat
terjadi :
1. Penyakit dengan metastase ke kelenjar lymph
2. Reactive lymph nodes
3. HIV infection
4. Sarcoidosis
5. Masseteric hypertrophy
6. Prominent transverse cervical process of C1
7. Chronic parotitis
8. Lymphangioma (paediatric)
9. Haemangioma.
3.5 Pemeriksaan Pelengkap
Pemeriksaan sitologik (biopsi jarum kecil) sangat penting dalam diagnostic pembengkakan yang
dicurigai tumor kelenjar ludah. Dengan metode ini pada umumnya dapat dicapai diagnosis kerja
sementara. Dan pada mayoritas tumor klinis dan sitologik benigna, tidak diperlukan lagi
pemeriksaan tambahan dengan pencitraan.

15

Foto rontgen kepala dan leher dapat menunjukkan ada atau tidak ada gangguan tulang, tau
mungkin penting juga untuk diagnostic diferensial (batu kelenjar ludah; kelenjar limfe yang
mengalami kalsifikasi). Foto toraks diperlukan untuk menemukan kemungkinan metastasis
hematogen. Dengan ekografi atau CT, tetapi lebih baik lagi dengan MRI dapat diperoleh
gambaran mengenai sifat pembatasan dan hubungan ruang tumornya: ukuran, lokalisasi, letaknya
di dalam atau di luar kelenjar limfe. Adenoma pleomorf dapat dibedakan dari tumor kelenjar
ludah yang lain dengan MRI. Metode ini tidak dapat membedakan antara tumor benigna dan
maligna. Pemeriksaan dengan rontgen kontras glandula parotidea dan glandula submandibularis
(sialografi) diperlukan untuk pemeriksaan lebih lanjut inflamasi (kronik) atau kalsifikasi dan
dapat mempunyai arti untuk diagnosis diferensial.
3.6 Tumor Jinak Kelenjar Liur
A. Pada Anak-Anak
Tumor kelenjar jinak yang paling sering pada anak-anak adalah hemangioma kelenjar parotis.
Kulit terletak di bawah massa mempunyai perubahan warna kebiru-biruan, dan kemungkinan
terdapat fluktuasi dalam ukuran dari massa bila anak menangis. Tumor ini akan menunjukkan
peningkatan ukuran yang sedikit demi sedikit selama empat sampai enam bulan pertama
kehidupan, tetapi mulai tampak resolusinya pada usia dua tahun. Yang mirip dengan
hemangioma adalah limfangioma, yang juga timbul pada daerah kelenjar parotis. Adenoma
pleomorfik merupakan tumor ketiga terbanyak yang ditemui, dan paling sering tumor padat,
ditemukan pada anak-anak. Tumor jinak lain termasuk neurofibroma dan lipoma. Tumor kelenjar
liur pada anak-anak paling sering mengenai kelenjar parotis, sedang daerah submandibula dan
kelenjar liur minor jarang terjadi.
B. Pada Dewasa
B.1 Adenoma Pleomorfik
Tumor campur jinak ini menyebabkan 75 % kelenjar parotis, baik jinak maupun ganas pada
dewasa. Kelainan ini paling sering pada daerah parotis, dimana tampak sebagai pembengkakan
tanpa nyeri yang bertahan untuk waktu lama di daerah depan telinga atau daerah kaudal kelenjar
16

parotis. Tumor ini tidak menimbulkan rasa nyeri atau kelemahan saraf fasialis. Pada daerah
parotis, meskipun diklasifikasikan sebagai tumor jinak, dalam ukurannya tumor dapat bertambah
besar dan menjadi destruktif setempat. Reseksi bedah total merupakan satu-satunya terapi.
Perawatan sebaiknya dilakukan untuk mencegah cedera pada saraf fasialis dan saraf dilindungi
walaupun jika letaknya sudah berdekatan dengan tumor.
Tumor dapat berkembang pertama kali pada lobus profunda dan meluas ke daerah
retromandibula. Pada keadaan ini saraf fasialis dilindugi secara hati-hati dan di retraksi dengan
lembut sehingga tumor dapat diangkat dari lokasinya yang dalam ke ruang parafaringeal.
Kadang-kadang adenoma pleomorfik lobus profunda tampak di dalam mulut. Hal ini dapat kita
sadari dengan adanya deviasi palatum mole dan arkus tonsilaris ke garis tengah oleh massa
lateral dari daerah tonsil. Reseksi sebaiknya dilakukan melalui leher daripada melalui dalam
mulut. Ketika mengangkat tumor parotis, seluruh lobus superficial, atau bagian kelenjar lateral
dari saraf fasialis, diangkat sekaligus untuk keperluan biopsy, dipotong dengan mempertahankan
saraf fasialis. Pemeriksaan patologis dari pemotongan beku tidak dapat memberikan asal tumor
yang sebenarnya dan operasi radikal mungkin dibutuhkan jika hasil pemotongan permanen sudah
diperoleh. Pelepasan adenoma pleomorfik pada lobus superficial kelenjar parotis tidak
dianjurkan karena kemungkinan kekambuhan yang tinggi.

Gambar 2.5
Adenoma pleomorfik

Secara histologi, adenoma pleomorfik berasal dari bagian distal saluran liur, termasuk
saluran intercalated dan asini. Campuran dari epitel, mioepitel dan bagian stroma diwakilkan
17

dengan namanya: tumor campur jinak. Dari ketiga jenis diatas dapat lebih mendominasi
dibandingkan jenis lain namun ketiga jenis tersebut harus ada untuk mengkonfirmasi diagnosis.
Pada saat operasi massa tumor tampak berkapsul, tetapi pemeriksaan patologis
menunjukkan perluasan keluar kapsul. Jika seluruh tumor dengan massa kelenjar parotis yang
normal mengelilingi tumor direseksi, insidens kekabuhannya kurang dari 8 persen. Seadandainya
adenoma pleomorfik kambuh, terdapat kemungkinan cedera yang besar pada paling sedikit satu
dari bagian saraf fasialis ketika tumor direseksi ulang.
Meskipun tumor ini dianggap jinak, terdapat kasus kekambuhan yang berkali-kali dengan
pertumbuhan yang berlebihan di mana tumor meluas dan mengenai daerah kanalis eksterna dan
dapat meluas ke rongga mulut dan ruang parafaringeal. Tumor yang kambuh dapat mengalami
degenerasi maligna, tetapi insidens ini kurang dari 6 persen. Terapi iradiasi terhadap tumor yang
kambuh berulang kali dan tidak dapat direseksi diberikan pengobatan paliatif.
Diagnosis banding untuk adenoma pleomorfik adalah neoplasma maligna: karsinoma
kistik adenoid, adenokarsinoma polimorfik derajat rendah, neoplasma adnexa dalam, dan
neoplasma mesenkimal. Komplikasi yang jarang dari adenoma pleomorfik adalah perubahan ke
arah ganas yaitu karsinoma ex-pelomorfik adenoma (carcinoma ex-pleomorphic adenoma) atau
nama lainnya tumor campur jinak yang bermetastasis (benign metastazing mixed tumors).
Prognosis adenoma pleomorfik adalah sempurna, dengan angka kesembuhan mencapai
96 %.
B.2 Limfomatosum Adenokistoma Papilar (Tumor Warthin)
Tumor jinak kelenjar liur lain yang relative sering. Tumor ini paling sering terjadi pada
pria usia 50-60 tahun dan ada hubunganya dengan faktor resiko merokok. Tumor ini juga
merupakan tumor yang paling sering terjadi bilateral. Tumor ini dikenali berdasarkan
histologinya dengan adanya struktur papil yang tersusun dari lapisan ganda sel granular eusinofil
atau onkosit, perubahan kistik, dan infiltrasi limfostik yang matang.

18

Tumor ini berasal dari epitel duktus ektopik. CT-Scan dapat menunjukkan suatu massa dengan
batas jelas pada bagian postero-inferior dari lobus superficial parotis. Jika pemeriksaan
radiosialografi dilakukan maka dapat dilihat peningkatan aktivitas yang berhubungan dengan
adanya onkosit dan peningkatan isi dari mitokondrianya. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan histology.

Gambar 2.6
Tumor Warthin

Terapi terdiri dari reseksi bedah dengan melindungi saraf fasialis. Tumor ini berkapsul
dan tidak mungkin kambuh.
Tumor jinak kelenjar liur lain yaitu:
1. Adenoma oksifil (sel asidofilik)
2. Adenoma sel serosa
3. Onkositoma
Terapi serupa pada adenoma pleomorfik.
Ruang parafaringeus merupakan daerah asal primer untuk tumor jinak. Paling sering
adalah tumor kelenjar liur yang timbul dari lobus profunda kelenjar parotis dan meluas ke dalam
ruang parafaringeal. Tumor yang berasal neurogenik seperti schwanoma mungkin berasal pada
19

daerah ini dari saraf vagus atau jaras simpatetik servikalis. Tumor ini nampak sebagai massa
lunak yang menekan dinding faring lateral ke arah medial. Tumor ini sebaiknya dilakukan
pendekatan melalui leher daripada dalam mulut karena adanya pembuluh darah yang besar dan
saraf kranialis yang penting pada ruang ini. Arteriogram pendahuluan tidak hanya menunjukkan
efek tumor pada lokasi dari arteri karotis interna tapi juga berguna dalam mendeteksi tumor
kemodektoma atau tumor neurogenik dalam ruangan ini.
Tumor yang paling sering pada ruang parafaringeal adalah adenoma pleomorfik. Kedua
yang tersering adalah karsinoma adenokistik maligna. Kelompok terbesar dari tumor-tumor lain
adalah yang berasal dari neurogenik, seperti schwanoma dan neuroma. Beberapa tumor dari
ruangan parafaringeal sebaiknya ditangani, melalui pendekatan trans-servikal eksternal.
Tindakan ini akan memberikan control yang lebih baik terhadap pembuluh darah utama pada
daerah ini. Juga mencegah metastasis tumor, yang dapat terjadi pada pendekatan melalui
transoral. Karena edema pasca operasi yang luas dapat terjadi, sering dibutuhkan trakeostomi.
Tabel 3.1 Perbedaan Massa-Massa Pada Kelenjar Liur

Jinak

Kemungkinan Keganasan

Ganas

Meningkat
1.Parotis

1. Submandibula

1. Kelenjar liur minor

2.Usia Muda

2. Paresis

2. Lebih tua

3.Wanita

3. Keras

3. Pria

4.Fungsi saraf fasialis


utuh

4. tumbuh cepat

4. Paralisis

5. Rasa tidak enak

5. Keras seperti batu

5.Kistik
6. Onset cepat (<>
6.Durasinya lama (>2
tahun)

7. Nyeri

7.Asimptomatik

8. Adenopati servikal

20

8.Tidak adenopati

3.7 Tumor Ganas Pada Kelenjar Liur


A. Tumor Ganas Kelenjar Liur pada Anak
A.1 Karsinoma mukoepidermoid
Tumor ganas parotis pada anak jarang. Tumor paling sering pada anak adalah karsinoma
mukoepidermoid, biasanya derajatnya rendah. Tumor ini merupakan jenis terbanyak dari
keganasan kelenjar liur yang diakibatkan oleh radiasi. Insidens kejadian paling tinggi didapat
pada usia antara dekade 30-40. Hampir 75% pasien mempunyai gejala pembengkakan yang
asimtomatis, 13 % dengan rasa sakit, dan sebagian kecil lainnya dengan paralisis nervus fasialis.
Tumor ini berasal dari sel epithelial interlobar dan intralobar duktus saliva. Tumor ini tidak
berkapsul, dan metastasis kelenjar limfe ditemukan sebanyak 30-40 %. Penentuan derajat
keganasan berdasarkan patologi klinik terdiri atas derajat rendah,menengah, dan tinggi.
Tumor derajat rendah menyerupai adenoma pleomorfik (berbentuk oval,batas tegas, dan adanya
cairan mukoid). Tumor derajat menengah dan derajat tinggi ditandai dengan adanya proses
infiltratif. Pasien-pasien usia muda biasanya berderajat rendah.
Pada keadaan tertentu,bahkan setelah dilakukan reseksi adekuat, jika terdapat bukti
penyakit metastasis, terapi radiasi pasca-operasi disarankan. Perlu dipertimbangkan secara hatihati untuk memberikan radiasi pada anak untuk mendapatkan gambaran komplikasi potensial
yang akan datang. Pada keadaan tertentu seperti jika timbul invasive pada saraf atau pembuluh
darah, atau timbulnya penyakit metastasis perlu dilakukan radiasi.
21

A.2 Adenokarsinoma
Merupakan keganasan parotis kedua paling sering pada anak-anak. Tumor ini terdapat pada 4 %
dari seluruh tumor parotis dan 20 % dari tumor saliva minor. Sebagian besar pasien tanapa gejala
(80%), 40 % dari tumor ditemukan terfiksasi pada jaringan diatas atau dibawahnya, 30 % pasien
berkembang metastasis ke nodus servikal, 20 % menderita paralisis nervus fasialis, dan 15 %
merasa sakit pada wajahnya.
Tumor ini berasal dari tubulus terminal dan intercalated atau strained sel duktus.
Jenis jenis yang lain adalah jenis keganasan yang tidak berdiferensiasi yang secara keseluruhan
mempunyai angka harapan hidup yang buruk. Kanker sel asini dan karsinoma adenokistik pada
awalnya hampir mempunyai perjalanan penyakit yang jinak, dengan harapan hidup yang lama,
hanya menunjukkan kekambuhan terakhir pada daerah yang pertama kali timbul atau distal dari
daerah tersebut atau metastasis paru. Terapi tetap reseksi adekuat,total, regional. 22,23,24
B. Tumor Ganas Kelenjar Liur pada Dewasa
Dengan bertambahnya usia, kemungkinan bahwa massa dalam kelenjar liur menjadi ganas
bertambah besar, pada umumnya yang sering terjadi pada orang dengan usia 40 tahun adalah 25
% tumor parotis, 50 % tumor submandibula, dan satu setengah sampai dua pertiga dari seluruh
tumor kelenjar liur minor adalah ganas.
Berdasarkan derajat keganasannya, tumor kelenjar liur dapat dibagi menjadi derajat tinggi,
sedang, dan rendah.
1. Tumor ganas derajat tinggi
Yang termasuk derajat tinggi yaitu:
1. Karsinoma mukoepidermoid
2. Karsinoma sel skuamosa
3. Adenokarsinoma yang tidak berdiferensiasi
22

4. Karsinoma adenokistik (silindroma)


Karsinoma adenokistik (silindroma) merupakan tumor kelenjar liur spesifik yang termasuk tumor
dengan potensial ganas derajat tinggi. Tumor ini di dapat pada 3 % dari seluruh tumor parotis, 15
% tumor submandibular, dan 30 % tumor kelenjar liur minor. Sebagian dari pasien merasa
asimptomatik, walaupun sebagian besar tumor terfiksasi pada struktur di atas atau di bawahnya.
Keterlibatan tulang terdapat pada 1,5 kasus, 25 % terdapat rasa sakit di wajah, 20 % terdapat
keterlibatan nervus fasialis, dan metastasis limfatik terjadi sebanyak 15 %. Tumor ini ditandai
dengan penyebaran perineural awal. Asal tumor ini dipikirkan dari sel mioepitel. Terdapat 3 pola
pertumbuhan yaitu: cribriform, solid, dan tubular. Tumor ini berbeda dari tumor-tumor
sebelumnya karena mempunyai perjalanan penyakit yang panjang ditandai oleh kekambuhan
lokal yang sering, dan kekambuhan dapat terjadi setelah 15 tahun. Penderita dengan karsinoma
adenokistik mempunyai angka harapan hidup tinggi hingga lima tahun, angka harapan hidup
yang secara keseluruhan sepuluh tahun ditemukan kurang dari 20 persen.
Terapi tumor ganas derajat tinggi meliputi reseksi bedah radikal tumor primer, jika perlu struktur
vital yang berdekatan seperti mandibula, maksila, dan bahkan tulang temporalis. Agar eksisi
yang sempurna pada tumor-tumor ganas ini, bagian saraf fasialis yang berdekatan dengan tumor
harus

dieksisi.

Pencangkokan

saraf

untuk

mengembalikan

kontinuitas

saraf

dapat

dipertimbangkan manfaatnya karena dapat mengembalikan fungsi saraf fasialis tersebut. Jika
telah menunjukkan paralisis saraf fasialis, maka prognosisnya buruk.
Tabel 3.2 Tumor-Tumor Ganas Kelenjar Liur Pada Orang Dewasa1

1. Karsinoma mukoepidermoid
Derajat rendah
Derajat tinggi
2. Karsinoma adenokistik
3. Kanker sel asini
4. Adenokarsinoma

23

Menghasilkan mucus
Tidak berdiferensiasi
5. Karsinoma yang timbul pada adenoma pleomorfik
6. Karsinoma sel clear
7. Karsinoma sel skuamosa

2. Tumor ganas derajat sedang dan rendah


Yang termasuk jenis tumor derajat ini adalah karsinoma mukoepidermoid dan karsinoma sel
asini. Jika tumor-tumor ini terjadi pada daerah kelenjar parotis,dilakukan parotidektomi total dan
saraf fasialis dilindingi jika perlindingan ini tidak membahayakan reseksi total dari keganasan.
Invasi langsung pada saraf akan menghalangi perlindungan bagian saraf tersebut. Potongan beku
harus dilakukan untuk menyingkirkan adanya invasi saraf, dan invasi ini selalu terjadi pada
bagian kranial. Jika memungkinkan dilakukan cangkok saraf pada waktu reseksi bedah.
Pembedahan leher radikal bukan merupakan bagian rutin dari reseksi awal untuk
keganasan parotis tetapi dibutuhkan jika teraba adanya metastasis servikal atau jika terdapat
kekambuhan tumor ganas pada daerah parotis. Pembedahan leher radikal digabung dengan
reseksi parotis radikal yang luas. Jika pada waktu operasi ditemukan bahwa salah satunya
berhubungan dengan tumor ganas parotis, prosedur yang lebih disukai adalah parotidektomi total
denga pengangkatan sekitarnya, jaringan lunak yang berdekatan. Saraf fasialis dilindungi jika
tidak membahayakan reseksi tumor. Cangkok saraf fasialis dilakukan jika mungkin, khususnya
jika jaras saraf harus direseksi. Jika mungkin, bagian dari mata dilindungi, karena ini akan
menyebabkan sejumlah masalah yang besar pasca-operasi. Nodus digastrikus bagian atas dan
nodus-nodus di daerah kelenjar parotis diangkat pada waktu prosedur operasi awal. Jika nodusnodus ini menunjukkan keganasa, dianjurkan pembedahan leher radikal komplit atau pengobatan
radiasi pasca-operasi.
Karsinoma mukoepidermoid derajat tinggi dan karsinoma sel skuamosa merupakan
tumor yang kemungkinan besar dapat menimbulkan metastasis servikal. Terdapat insiden sebesar
24

40 % adanya metastasis untuk karsinoma sel skuamosa dan 16 % untuk karsinoma


mukoepidermoid derajat tinggi. Karsinoma adenokistik, adenokarsinoma, dan karsinoma asini
dapat bermetastasis langsung ke leher tetapi kemungkinan besar menyebar oleh karena perluasan
langsung. Tumor ini juga kemungkinan besar menimbulkan metastasis secara hematogen ke
paru-paru. Dilakukan reseksi untuk tumor-tumor parotis ini dan nodus subdigastrikus. Jika pada
saat itu ditemukan terdapat metastasis, dapat dilakukan pembedahan leher total.
Paralisis saraf fasialis merupakan tanda prognosis buruk, hal ini juga merupakan indikasi
dari kemungkinan terbesar adanya metastasis servikal dan merupakan indikasi untuk dilakukan
pembedahan leher radikal.
Untuk terapi pasca-operasi dianjurkan terapi radiasi untuk kebanyakan tumor parotis
ganas. Terapi radiasi tambahan dapat menurunkan angka kekambuhan total. Terapi radiasi bukan
merupakan terapi pengganti untuk reseksi bedah yang adekuat dan tidak menurunkan angka
kekambuhan jika batas tumor positif.
Prognosis untuk dewasa dengan tumor parotis ganas tergantung dari stadium dan ukuran
tumor pada saat ditemukan, ada atau tidaknya paralisis saraf fasialis, dan menunjukkan
metastasis servikal. Patologi spesifik dari tumor penting dalam memastikan harapan hidup dan
prosedur operasi yang luas diperlukan. Keluhan awal dari nyeri dalam beberapa penelitian
menunukkan tanda prognosis yang buruk.
Tabel 3.3 Klasifikasi TNM dari Tumor Kelenjar Liur1

Tumor Primer (T)


T1 Diameter tumor terbesar 2 cm atau kurang tanpa perluasan lokal yang berarti (*)
T2 Diameter tumor terbesar lebih dari 2 cm tapi tidak lebih dari 4 cm tanpa perluasan lokal
yang berarti
T3 Diameter tumor terbesar lebih dari 4 cm tapi tidak lebih dari 6 cm tanpa perluasan lokal

25

yang berarti
T4a Diameter tumor terbesar lebih dari 6 cm tanpa perluasan lokal yang berarti
T4b Berbagai ukuran tumor dengan perluasan lokal yang berarti (*)
(*) Perluasan lokal yang berarti dijelaskan sebagai tumor yang melibatkan kulit, jaringan lunak,
tulang, atau saraf lingual atasu fasialis
2.1 Karsinoma sel asini
Terjadi pada sekitar 3 % dari tumor parotis. Tumor ini menyerang lebih banyak wanita dibanding
pria. Puncak insidens antara usia dekade 5 dan 6. Terdapat metastasis ke nodus servikal pada
15% kasus. Tanda patologik khas adalah adanya amiloid. Asal mula sel ini dipikirkan dari
komponen serosa asinar dan sel duktus intercalated.
2.2 Karsinoma sel skuamosa
Umumnya terjadi pada pria usia tua dan ditandai dengan pertumbuhan cepat. Insiden metastasis
ke nodus limfatikus sebanyak 47 %. Tumor ini biasanya terdapat pada kelenjar parotis. Tumor ini
dipikirkan berasal dari sel duktus ekskretorius.
2.3 Karsinoma duktus saliva
Tumor ini jarang, menyerupai kanker duktus mammae. Duktus Stensen lebih sering terkena
dibandingkan dengan duktus Wharton. Tumor ini memiliki kecenderungan untuk terjadi berulang
pada tempat yang sama (35%) dan dapat berkembang ke metastasis jauh (62%), dengan hanya 23
% pasien yang dapat hidup selama 3 tahun.
2.4 Karsinoma mioepitel

26

Tumor ini jarang. Tumor ini unik karena terdapat diferensiasi mioepitel dengan struktur
immunohisto-kimia dan struktur ultra yang unik. Diobati dengan radiasi pasca operasi dan
kemoterapi jika diindikasikan.
2.5 Onkositoma maligna
Serupa dengan variasi benigna kecuali ditandai dengan adanya metastasis jauh, metastasis ke
nodus servikal, dan pembuluh darah, saraf, atau invasi ke limfatik.
2.6 Lesi limfoepitel maligna
Tumor ini jarang, ditandai dengan adanya area jinak dan ganas pada satu tumor. Bagian maligna
mewakili kanker anaplastik yang berasal dari duktal. Metastasis ke nodus limfatikus telah
berulang kali ditemukan.
2.7 Limfoma maligna
Limfoma maligna primer dari kelenjar saliva jarang, pada umumnya di dapat pada lelaki usia tua.
Hal ini juga diamati pada sekitar 5-10% pasien dengan tumor Warthin kelenjar parotis. Terapi
optimal adalah biopsy dengan terapi radiasi pada daerah itu. Prognosis lebih baik untuk limfoma
kelenjar saliva daripada limfoma nodus dengan penampilan histology yang mirip.
2.8 Metastasis ke Kelenjar Parotis dari tempat lain
Kelenjar parotis dapat menjadi tempat metastasis dari keganasan yang berasal dari kulit, ginjal,
paru, payudara, prostat, dan saluran pencernaan.
3.8 Kompikasi sesudah parotidektomi
A. Sindroma Frey
Gustatory sweating saat parotidektomi terdapat pada 50 % pasien. Terjadi re-inervasi silang pada
system persarafan otonom kelenjar parotis yang terjadi setelah dilakukan parotidektomi. Serat
parasimpatis, yang dirangsang oleh bau dan rasa dari makanan sekarang menginervasi kelenjar
27

keringat dan pembuluh darah melalui asetilkolin, lalu mengakibatkan keringatan dan kemerahan
pada kulit di atas area tersebut.
B. Paralisis/Paresis nervus fasialis
Kejadian paralisis/paresis nervus paresis setelah operasi tumor saliva jinak biasanya kecil
(<5%).>22.24
3.9 Terapi
Terapi pilihan utama untuk tumor kelenjar liur ialah pembedahan. Radioterapi sebagai terapi
ajuvan pasca bedah diberikan hanya atas indikasi, atau diberikan pada karsinoma kelenjar liur
yang inoperabel. Kemoterapi hanya diberikan sebagai ajuvan, meskipun masih dalam penelitian,
dan hasilnya masih belum memuaskan.
1. Tumor operabel
Terapi utama ( pembedahan). Pilihan pengobatan untuk neoplasma kelenjar parotis adalah
melalui pembedahan. Sebagian besar tumor parotis jinak dan ganas dapat diatasi dengan
parotidektomi superfisial atau total sesuai dengan lokasi tumor dengan preservasi nervus fasilis.
Parotidektomi

superfisial.

Parotidektomi

superfisial

adalah

tindakan

pengangkatan massa tumor dengan kelenjar parotis lobus superfisial. Dilakukan


pada tumor jinak parotis lobus superfisialis.
Parotidektomi total. Parotidektomi total adalah pengangkatan massa tumor
dengan seluruh bagian kelenjar parotis dilakukan pada:
a.Tumor ganas parotis yang belum ada ekstensi ekstraparenkim dan n.VII
b. Tumor jinak parotis yang mengenai lobus profundus
Parotidektomi total diperluas, dilakukan pada: Tumor ganas parotis yang sudah
ada ekstensi ekstraparenkim atau n.VII
Deseksi leher radikal (RND), dikerjakan pada: Ada metastase k.g.b.leher yang
masih operabel
a. Terapi tambahan
28

Meskipun terapi primer tumor ganas kelenjar liur adalah dengan pembedahan,
terapi radiasi juga dianjurkan karena memiliki efek menguntungkan jika
digabungkan dengan pembedahan yaitu meningkatkan hasil terapi. Selain itu
berperan sebagai terapi primer untuk tumor yang sudah tidak dapat direseksi.
Ada keadaan di mana terapi radiasi merupakan indikasi, yaitu:
1. high grade malignancy
2. masih ada residu makroskopis atau mikroskopis
3. tumor menempel pada syaraf ( n.fasialis, n.lingualis, n.hipoglosus, n.
asesorius )
4. setiap T3,T4
5. karsinoma residif
6. karsinoma parotis lobus profundus
Radioterapi sebaiknya dimulai 4-6 minggu setelah pembedahan untuk
memberikan penyembuhan luka operasi yang adekwat, terutama bila telah
dikerjakan alih tandur syaraf.

Radioterapi lokal diberikan pada lapangan operasi meliputi bekas

insisi sebanyak 50 Gy dalam 5 minggu.


Radioterapi regional/leher ipsilateral diberikan pada T3,T4, atau high
grade malignancy
Baik konvensional dan neutron-beam terapi radiasi telah

dianjurkan sebagai single-modalitas pengobatan untuk T1 dan T2


neoplasma ganas kelenjar ludah. Pendekatan ini kontroversial, tetapi dapat
dipertimbangkan jika ada kontraindikasi nyata untuk operasi.

2 .Tumor inoperabel
29

a. Terapi utama
Radioterapi : 65 70 Gy dalam 7-8 minggu
b. Terapi tambahan
Kemoterapi : Indikasi untuk kemoterapi adalah pasien dengan tumor yang inoperable.
Respon parsial atau lengkap telah dicapai pada hingga 50% pasien, yang biasanya berlangsung 58 bulan dan mungkin termasuk kontrol nyeri yang signifikan. Sebagian besar pasien memiliki
karsinoma adenoid kistik, karsinoma mucoepidermoid, atau adenokarsinoma. Saat ini, paclitaxel
adalah agen yang paling sering digunakan. Meskipun kemoterapi saja tidak meningkatkan
tingkat ketahanan hidup, integrasi radiasi dan kemoterapi telah terbukti meningkatkan kontrol
lokal dan menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan keganasan kelenjar ludah.
a. Untuk jenis adenokarsinoma (adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma,
malignant mixed tumor, acinic cell carcinoma)
-adriamisin 50mg/m2 iv pada hari 1
-5 fluorourasil 500mg/m2 iv pada hari 1

diulang tiap 3minggu

-sisplatin 100mg/m2 iv pada hari ke 2

b. Untuk jenis karsinoma sel skuamous (squamous cell carcinoma,


mucoepidermoid carcinoma)
-methotrexate 50mg/m2 iv pada hari ke 1 dan 7

diulang tiap

-sisplatin 100mg/m2 iv pada hari ke 2

3 minggu

1. Metastase Kelenjar Getah Bening (N)


b. Terapi utama
Operabel : deseksi leher radikal (RND)
Inoperabel : radioterapi 40 Gy/+kemoterapi preoperatif, kemudian
dievaluasi
- menjadi operabel RND
30

- tetap inoperabel radioterapi dilanjutkan sampai 70Gy


b. Terapi tambahan
Radioterapi leher ipsilateral 40 Gy
2. Metastase Jauh (M)
Terapi paliatif : kemoterapi
a. Untuk jenis adenokarsinoma (adenoid cystic carcinoma, adenocarcinoma,
malignant mixed tumor, acinic cell carcinoma)
-adriamisin 50mg/m2 iv pada hari 1
-5 fluorourasil 500mg/m2 iv pada hari 1

diulang tiap 3

-sisplatin 100mg/m2 iv pada hari ke 2

b.

Untuk

jenis

karsinoma

sel

skuamous

(squamous

minggu

cell

carcinoma,

mucoepidermoid carcinoma)
-methotrexate 50mg/m2 iv pd hari ke 1 dan 7

diulang tiap

-sisplatin 100mg/m2 iv pada hari ke 2

3 minggu

Karena banyaknya sub tipe histology dari keganasan parotis, pernyataan umum yang berkaitan
dengan kegunaan terapi tambahan tidak dapat dibuat. Jika dapat di bedah, pembedahan adalah
modalitas utama dalam pengobatan untuk sebagian besar tumor ganas kelenjar parotis. Indikasi
umum untuk terapi radiasi pasca operasi yaitu:
1. Diameter terbesar tumor > 4 cm
2. Tumor derajat tinggi
3. Invasi tumor ke struktur lokal, limfatik, saraf, dan pembuluh darah
31

4. Tumor berada sangat dekat dengan saraf


5. Tumor berasal dari dalam atau luar lobus dalam
6.Tumor muncul kembali setelah dilakukan reseksi ulang
7. Batas yang positif dari pemeriksaan akhir patologi
8. Keterlibatan nodus limfatikus regional
Tidak ada kemoterapi yang telah terbukti efektif sebagai modalitas terapi tunggal. Untuk
beberapa sub tipe histology, beberapa ahli menyarankan kombinasi antara kemoterapi dan
radiasi. Saat ini, penggunaan immunoterapi sedang dalam tahap percobaan.
3.10 Prognosis
Sesudah terapi adekuat pada tumor benigna terjadi residif lokal kurang dari 1% kasus. Namun,
jika tumor benigna tidak diangkat secara luas, sering timbul residif lokal. Hal ini terutama dapat
terjadi jika hanya dikerjakan enukleasi sederhana. Pada operasi ulang terdapat kemungkinan
yang lebih besar kerusakan saraf penting seperti nervus fasialis dan dalam beberapa kasus residif
demikian adalah maligna.
Prognosis pada tumor maligna sangat tergantung pada histology, perluasan lokal dan besarnya
tumor dan jumlah metastasis kelenjar leher. Jika sebelum penanganan tumor maligna telah ada
kehilangan fungsi saraf, maka prognosisnya lebih buruk. Ketahanan hidup 5 tahun kira-kira 5%,
namun hal ini masih tetap tergantung kepada histologinya.
BAB IV
KESIMPULAN
Kelenjar parotis adalah kelenjar liur yang berpasangan, berjumlah 2. Kelenjar parotis
merupakan kelenjar liur yang terbesar. Tumor pada kelenjar liur relatif jarang terjadi,
persentasenya kurang dari 3% dari seluruh keganasan pada kepala dan leher. Keganasan pada
tumor kelenajar liur berkaitan dengan paparan radiasi, faktor genetik, dan karsinoma pada dada.
Sebagian besar tumor pada kelenjar liur terjadi pada kelenjar parotis, dimana 75% - 85% dari
32

seluruh tumor berasal dari parotis dan 80% dari tumor ini adalah adenoma pleomorphic jinak
(benign pleomorphic adenomas).
Tumor kelenjar liur baik itu jinak atau ganas akan muncul sebagai suatu massa berbentuk
soliter, berkembang diantara sel-sel pada kelenjar yang terkena. Pertumbuhan yang cepat dari
massa dan rasa sakit pada lesi itu berkaitan dengan perubahan ke arah keganasan, tetapi bukan
sebagai alat diagnostik. Keterlibatan saraf fasialis (N.VII) umumnya sebagai indikator dari
keganasan,walaupun gejala ini hanya nampak pada 3% dari seluruh tumor parotis dan
prognosisnya buruk.
Tumor parotis dapat dibagi menjadi 2 yaitu jinak dan ganas. Tumor kelenjar jinak yang
paling sering pada anak-anak adalah hemangioma kelenjar parotis. Pada dewasa tumor jinak nya
adalah adenoma Pleomorfik dan Limfomatosum Adenokistoma Papilar (Tumor Warthin). Tumor
jinak kelenjar liur lain yaitu Adenoma oksifil (sel asidofilik), Adenoma sel serosa, dan
Onkositoma. Tumor Ganas Pada Kelenjar Liur dapat terjadi pada anak dan dewasa. Tumor ganas
kelenjar liur paling sering pada anak adalah karsinoma mukoepidermoid, biasanya derajatnya
rendah. Pada dewasa dapat berupa Karsinoma mukoepidermoid,Karsinoma sel skuamosa,
Adenokarsinoma yang tidak berdiferensiasi, Karsinoma adenokistik (silindroma).
Untuk terapi dilakukan reseksi tergantung dari stadiumnya. Terapi tambahan berupa
radiasi pasca operasi atau kemoterapi dapat diberikan dengan mempertimbangkan resiko-resiko
yang harus dihadapi nantinya. Untuk prognosis sesudah terapi adekuat pada tumor benigna
terjadi residif lokal kurang dari 1% kasus. Namun, jika tumor benigna tidak diangkat secara luas,
sering timbul residif lokal.
DAFTAR PUSTAKA
1 Adams LG, Boies RL, Paparella MM. Dalam: Buku Ajar Penyakit THT , Ed.6. Jakarta : EGC,
1997: 305-319
2 Gregory Masters, Bruce Brockstein. Dalam :Head and Neck Cancer. USA: Kluwer Academic
Publishers,2003: 158-161
3 Beers MH, Porter RS. Dalam: Merck Manual of Diagnosis and Theraphy, Ver.10.2.3. USA:
Merck Research Laboratories,2007
33

4 Susan, Standring. Dalam: Grays Anatomy: The Anatomical Basis of Clinical Practice. USA:
Elsevier, 2005: 515-518
5 Grays Anatomy:The Anatomical Basis of Clinical Practice. USA: Elsevier, 2005: 515-518
6 Bates Guide To Physical Examination, hal. 115
7 Satish Keshav. Dalam: The Gastrointestinal System At A Glance. Australia: Blackwell Science
Ltd, 2004: 14-15
8 Leegard T, Lindeman H. Salivary gland tumours. Dalam: Clinical picture and treatment. Acta
Otolaryngologica, 1970; 263: 1559
9 Belsy JL, Tachikawa K, Chihak RW, Yamamato T. Salivary gland tumours in atomic bomb
survivors. HiroshimaNagasaki. 1957
1970. Journal of the American Medical Association, 1972; 2/9: 80468.
10 Anil K. lalwani. Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology-Head & Neck Surgery.
USA:Mc Graw Hill,2004
11 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/cb/Warthin_tumor_%282%29.jpg
12 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c3/Warthin%27s_tumor.jpg
13 Bardia Amirlak. Dalam Parotid Tumors, Malignant:
http://www.emedicine.com/plastic/TOPIC372.HTM#ref12
14. http://www.dokterbedahherryyudha.com/2012/04/parotid-gland-anatomy-of-parotidgland.html

34