Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUTORIAL

BLOK XI
Perilaku Kesehatan
Modul 5
Tutor
drg. Hartinisyah

Oleh :
Kelompok 6
Ketua

: Silmi Gusdayuni

(1210342023)

Sekretaris 1

: Annesha Metly

(1210342003)

Sekretaris 2

: Hilmiy Mefida Darfi

(1210341009)

Anggota

: Cytha Nilam Chairani

(1210342018)

Roni Fitarsa

(1210342022)

Audia Tria Putri

(1210342031)

Nurul Ikhsan

(1210342040)

Athika Khairunnisa

(1210343003)

Asti Finda An-nissa

(1210343015)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2013/2014

Skenario 5
Merokok......gagah ya....
Togar (32 tahun) dibawa keluarga ke Puskesmas Sukamaju dengan keluhan batuk tidak
sembuh sejak 6 bulan lalu. Dari anamnesa dan pemeriksaan diketahui bahwa Togar perokok berat,
berat badan 45 kg, HB 7.
Togar sudah mulai belajar merokok sejak kelas VI SD dan ayahnya yang seorang tokoh
masyarakat juga seorang perokok. Togar melihat orang yang merokok kelihatan lebih gagah seperti
yang dia lihat pada iklan di televisi.
Sandra sebagai penanggung jawab program Promkes di Puskesmas merencanakan untuk
memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat di wilayah kerjanya agar mempunyai perilaku
atau gaya hidup yang lebih sehat. Sandra bingung apakah perilaku yang sudah mendarah daging itu
dapat dirubah. Bagaimana cara merubah perilaku masyarakat tersebut?

TERMINOLOGI
1. Perilaku kesehatan
- Perilaku berarti respon atau reaksi terhadap ramgsangan
- Perilaku kesehatan adalah respon yang berkaitan dengan sakit dan sehat
- Perilaku kesehatan adalah respon seseorang terhadap objek atau rangsangan yang berkaitan
dengan sakit/penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman, serta lingkungan

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Bagaimanakah klasifikasi dari perilaku sehat?
2. Apa saja teori tentang perubahan perilaku kesehatan?
3. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku?
4. Apa saja indikator yang mempengaruhi perubahan perilaku?
5. Bagaimanakah bentuk-bentuk perubahan perilaku?
6. Apa saja langkah-langkah/ proses perubahan perilaku kesehatan?
7. Bagaimana metode dalam pendidikan kesehatan?

ANALISA MASALAH
1. Klasifikasi dari perilaku sehat
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan
Merupakan perilaku atau usaha seseorang untuk menjaga/memelihara kesehatan agar tidak
sakit atau merupakan upaya penyembuhan selama sakit.
Perilaku ini terbagi dalam 3 aspek :
- Perilaku pencegahan penyakit
- Perilaku peningkatan kesehatan
- Perilaku gizi (makanan dan minuman)
b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan
Perilaku ini menyangkut upaya/ tidakan seseorang saat menderita penyakit. Contohnya
mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan atau mengobati diri sendiri.
c. Perilaku kesehatan lingkungan

Perilaku seseorang dalam merespon lingkungan meliputi lingkungan fisik, sosial budaya dan
sebagainya.
Klasifikasi lain :
a. Perilaku hidup sehat
Merupakan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan
kesehatannya. Contohnya dengan berolahraga dan tidak merokok.
b. Perilaku sakit
Merupakan respon seseorang terhadap sakit/penyakit.
2. Teori perubahan perilaku kesehatan
a. Teori S-O-R (Stimulus-Organisme-Respon)
Teori ini menyatakan bahwa perubahan perilaku terjadi karena meningkatnya atau
bertambahnya jumlah stimulus. Ketika rangsangan datang, maka akan ada 2 kemungkinan
respon yakni diterima atau ditolak. Jika rangsangan/stimulus diterima maka individu akan
memperhatikan dan memahami stimulus, mengolah stimulus dan nantinya akan diwujudkan
dengan kesediaan bertindak (attitude) atau berperilaku dengan dukungan fasilitas yang ada
(practice).
b. Teori Dissonance
Perilaku seseorang pada saat tertentu karena adanya keseimbangan antara sebab dan akibat
atau keputusan yang diambil (conssonance) Perubahan perilaku terjadi karena stimulus dari
luar lebih kuat sehinggan terjadi ketidakseimbangan (dissonance). Jika stimulus tersebut
direspon postif (diterima dan dilakukan) maka berarti terjadi perilaku baru (hasil perubahan)
dan akhirnya terjadi keseimbangan kembali.
c. Teori Katz
Teori ini merujuk pada 4 fungsi :
- Perilaku merupakan fungsi instrumental
- Perilaku merupakan pertahanan diri dalam menghadapi lingkungan
- Perilaku sebagai penerima obyek dan pemberi obyek
- Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dalam menjawab situasi
d. Teori Driving forces
Perilaku merupakan keseimbangan antara kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan
penahan (restraining forces). Perubahan perilaku terjadi apabila ada ketidak seimbangan
antara kedua kekuatan tersebut.
Kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan perilaku:
- Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan tetap
- Kekuatan pendorong tetap, kekuatan penahan menurun.
- Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun.

e.
f.

Teori Behaviour Intention


Faktor behave, social dan access of information mempengaruhi kebiasaan
Teori Talk and feeling
Perilaku sesorang dipengaruhi oleh budaya

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku


Faktor Penentu ( Determinan ) perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
Faktor pembawa ( predisposing factor ) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai nilai dan lain sebagainya
Faktor pendukung ( enabling factor ) yang terwujut dalam lingkungan fisik, sumber daya,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.

Faktor pendorong ( reinforcing factor ) yang terwujut di dalam sikap dan perilaku petugas
kesehatan maupun petugas lain , teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok
referensi dari perilaku masyarakat.Dari faktor faktor di atas dapat disimpulkan bahwa
perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan olehpengetahuan, sikap,
kepercayaan, tradisi dari orang yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas
kesehatan dan perilaku petugas kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya
perilaku

4. Indikator yang mempengaruhi perubahan perilaku


Terdiri dari faktor internal dan eksternal
Faktor internal meliputi : ras, jenis kelamin, kepribadian, intelegensi, emosi, inovasi dan bakat
a. Ras
Ras mempengaruhi perilaku seseorang. Contohnya individu yang merupakan ras negroid
umumnya bersikap kasar, ras mongoloid umumnya bersikap ramah.
b. Jenis kelamin
Perempuan umumnya lebih ramah dan lembut dibandingkan laki-laki.
Faktor eksternal terdiri dari : pendidikan, agama, kebudayaan, sosial
Indikator lain : pengetahuan, sikap dan tindakan mengenai perilaku sakit/penyakit, pemulihan
kesehatan dan kesehatan lingkungan
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun
melalui pengalaman orang lain. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui penyuluhan baik secara
individu maupun kelompok untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk
tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya mewujudkan
derajat kesehatan optimal.
Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan mempunyai enam tingkatan yaitu:
1. Tahu (know)
2. Pemahaman (Comprehension)
3. Aplikasi (Aplication)
4. Analisis (Analysis)
5. Sintesis (Synthesis)
6. Evaluasi (Evaluation)
Sikap
Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk merespon (secara positif atau
negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap mengandung suatu penelitian
emosional/afektif (senang, benci, sedih dan sebagainya). Selain bersifat positif dan negatif, sikap
memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda (sangat benci, agak benci, dan sebagainya). Sikap
itu tidaklah sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang.
Sebab sering kali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan tindakan yang
bertentangan dengan sikapnya. Sikap sesorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan
informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya.
Sikap ini terdiri dari 4 (empat) tingkatan yaitu :
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperlihatkan stimulus yang diberikan
(objek). Misalnya sikap orang terhadap gizi dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu
terhadap ceramah-ceramah tentang gizi.
2. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya. Mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan
adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau
mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti
orang menerima ide tersebut.

3. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu
indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya: seorang ibu yang mengajak ibu yang lain untuk pergi
menimbangkan anaknya ke posyandu, atau mendiskusikan tentang gizi, adalah suatu bukti
bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap gizi anak.
4. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan
sikap yang paling tinggi.
Ciri-ciri sikap adalah :
1. Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang
itu dalam hubungan dengan objeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis
seperti lapar, haus atau kebutuhan akan istirahat.
2. Sikap dapat berubah-ubah karena sikap dapat dipelajari dan karena itu pula sikap dapat berubahubah pada orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap
pada orang itu.
3. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek.
Dengan kata lain sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa.
4. Objek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan
kumpulan dari hal-hal tersebut.
5. Sikap mempunyai segi motivasi dari segi-segi perasaan. Sifat ilmiah yang membedakan sikap dan
kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang (Purwanto, 1999).
5. Bentuk-bentuk perubahan perilaku
a. Perubahan alamiah (natural change): Perubahan perilaku karena terjadi perubahan alam
(lingkungan) secara alamiah
b.
Perubahan terencana (planned change): Perubahan perilaku karena memang direncanakan
oleh yang bersangkutan
c. Kesiapan berubah (Readiness to change): Perubahan perilaku karena terjadinya proses
internal (readiness) pada diri yang bersangkutan, dimana proses internal ini berbeda pada
setiap individu.
Perubahan perilaku diiringi dengan 3 dimensi :
- Mengubah perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat (perubahan positif)
- Mengembangkan perilaku positif
- Memelihara perilaku yang sudah positif/ sehat
6. Proses perubahan perilaku kesehatan
Strategi atau metode untuk mengubah :
a. Inforcement
b. Persuasi
c. Fasilitasi
d. Edukasi
Perubahan perilaku menurut Model Transteoretikal
a. Prekontemplasi
b. Kontemplasi
c. Preparasi
d. Aksi (Tindakan)
e. Pemeliharaan
f.
Relaps

6 tahap perubahan :
a. Mengetahui mengetahui pengetahuan yang dimiliki
b. Memahami paham akan maksud objek
c. Aplikasi mempraktekkan apa saja yang diketahui
d. Analisa menjalankan objek
e. Sintesis merangkum objek
f. Evaluasi
Perubahan perilaku kesehatan dapat dikarenakan :
Penilaian sosial Persepsi
Penilaian epidemiologidihubungkan dengan kualitas masyarakat
Penilaian lingkungan
- Identifikasi
- Penilaian
- Implementasi
7. Metode pendidikan kesehatan
Meliputi :
a. Kekuatan
b. Informasi
c. Implementasi
1. Metode Pendidikan Individu (perseorangan)
Bentuk pendekatan ini antara lain :
a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling)
Cara ini memungkinkan kontak antara petugas dan klien lebih intensif, sehingga petugas
dapat membantu penyelesaian masalah klien.
b. Interview (wawancara)
Metode ini bertujuan untuk menggali informasi dari klien mengenai perilaku klien
2. Metode pendidikan kelompok
Metode ini meliputi ceramah, diskusi kelompok, curah pendapat, bola salju, kelompok kecil,
memainkan peran (role playing), permainan stimulasi
3. Metode Pendidikan Massa
Ceramah umum, siaran TV, siaran radio, media cetak
Strategi pendidikan kesehatan :
a. Ekspository
Informasi berupa teori atau bukti
b. Discovery
Merupakan proses mental klien untuk menganalisa konsep beerupa proses mengamatimenganalisa-mengelompokkan data
c. Inquery
Merupakan strategi lanjutan dari discovery
Sasaran pendidikan kesehatan
1. Sasaran primer

2.
3.

Merupakan strategi pemberdayaan masyarakat. Contoh


hamil/menyusui, anak-anak
Sasaran sekunder
Meliputi pemberdayaan tokoh masyarakat, tokoh adat/agama
Sasaran tersier
Meliputi pemberdayaan pembuat kebijakan

sasaran

seperti

KK,

ibu

SKEMA

Togar

Penanggung
jawab
promkes

Puskesmas
Sukamaju

Pendidikan
kesehatan

Perokok
berat
BB 45 KG,
HB 7

Perilaku
Kesehatan

Konsep dan
peranan
terhadap
derajat
kesehatan
masyarakat

Faktorfaktor yang
mempengar
uhi

Perubahan
perilaku

Strategi dan
metode
pendidikan
kesehatan

Tujuan Pembelajaran
1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep dan peranan perilaku kesehatan terhadap
derajat kesehatan masyarakat
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
kesehatan

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan perubahan perilaku kesehatan


4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan strategi dan metode pendidikan kesehatan
1. Konsep dan peranan perilaku kesehatan terhadap derajat kesehatan masyarakat
Konsep Perilaku
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang
bersangkutan. Jadi perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu
sendiri. Perilaku manusia mempunyai arti yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara,
berpakaian dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi juga
merupakan perilaku manusia. Skinner ( 1933 ) mengemukakan bahwa perilaku merupakan
hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon.
Terdapat dua stimulus :
1. Respondent response atau reflektife response ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan
tertentu. Perangsang semacam ini disebut elicting stimuli karena menimbulkan respon yang
relatif tetap misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat
menyebabkan mata tertutup , menangis karena sedih, muka merah karena marah dan lain
sebagainya.
2. Operant response atau instrumental response ialah respon yang timbul dan berkembangnya
diikuti oleh perangsang tertentu . Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau
reinforcer karena perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh
organisme. Oleh sebab itu perangsang ini mengikuti atau memperkuat perilaku yang sudah
dilakukan. Sebagai contoh apabila seorang anak belajar atau sudah melakukan suatu perbuatan
kemudian dia memperoleh hadiah maka dia akan lebih giat belajar atau lebih baik lagi
melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain respon yang diberikannya akan lebih intensif
dan kuat. Di dalam kehidupan sehari hari respon yang pertama sangat terbatas keberadaanya
hal ini disebabkan hubungan yang pasti antara stimulus dan respon sehingga kemungkinan
untuk memodifikasinya sangat kecil, bahkan hampir tidak mungkin.
Sebaliknya respon yang kedua merupakan bagian besar daripada perilaku manusia dan
kemungkinan untuk memodifikasinya sangat besar.
Bentuk Perilaku
Secara operasional perilaku dapat diartikan sebagai respon organisme terhadap rangsangan
tertentu dari luar subyek. Respon ini berbentuk dua macam yaitu :
1. Bentuk pasif atau covert behaviour adalah respon internal yang terjadi di dalam diri
manusia dan tidak secara langsung bisa dilihat orang lain, misalnya berpikir, tanggapan,
sikap atau pengetahuan. Misalnya seorang ibu yang tahu bahwa membawa anak untuk
diimunisasi dapat mencegah penyakit tertentu akan tetapi dia tidak membawa anaknya ke
puskesmas atau posyandu.
2. Bentuk aktif atau overt behaviour , apabila perilaku ini jelas bisa dilihat. Misalnya pada
contoh di atas si ibu membawa anaknya ke posyandu atau puskesmas untuk diimunisasi.
Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang
berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan.
Secara lebih rinci perilaku kesehatan mencakup :
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan
Merupakan perilaku atau usaha seseorang untuk menjaga/memelihara kesehatan agar tidak
sakit atau merupakan upaya penyembuhan selama sakit.
Perilaku ini terbagi dalam 3 aspek :
- Perilaku pencegahan penyakit
- Perilaku peningkatan kesehatan
- Perilaku gizi (makanan dan minuman)
b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan

Perilaku ini menyangkut upaya/ tidakan seseorang saat menderita penyakit. Contohnya
mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan atau mengobati diri sendiri.
c. Perilaku kesehatan lingkungan
Perilaku seseorang dalam merespon lingkungan meliputi lingkungan fisik, sosial budaya dan
sebagainya.
Becker, 1979 membuat klasifikasi tentang perilaku kesehatan, diantaranya :
a. Perilaku hidup sehat
Merupakan kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya.
perilaku ini mencakup :
- Menu seimbang
- Olahraga teratur
- Tidak merokok
- Tidak minum minuman keras dan narkoba
- Istirahat yang cukup
- Mengendalikan stress
- Perilaku atau gaya hidup lalin yang positif bagi kesehatan
b. Perilaku sakit
Respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap sakit pengetahuan tentang
penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan lain-lain.
c. Perilaku peran sakit
Perilaku ini mencakup :
1. Tindakan untuk memperoleh kesembuhan
2. Mengenal atau mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang
layak
3. Mengetahui hak, misalnya memperoleh perawatan
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan
Terbagi atas 2, yakni :
1. Faktor internal
Karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan, yaitu :
a. Kecerdasan
Makin tinggi tingkat intelegensi seseorang biasanya perilaku orang tersebut lebih baik.
b. Tingkat emosional
c. Jenis kelamin
d. Bakat
2. Faktor eksternal
a. Pendidikan
b. Agama
c. Sosial-budaya
Jika seseorang dalam keadaan sosial yang baik maka biasanya terbentuk perilaku sehat yang
baik pula
d. Politik
e. Ekonomi
Faktor Penentu ( Determinan ) perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
Faktor pembawa ( predisposing factor ) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap, kepercayaan,
keyakinan, nilai nilai dan lain sebagainya

Faktor pendukung ( enabling factor ) yang terwujut dalam lingkungan fisik, sumber daya,
tersedia atau tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.
Faktor pendorong ( reinforcing factor ) yang terwujut di dalam sikap dan perilaku petugas
kesehatan maupun petugas lain , teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensi
dari perilaku masyarakat.Dari faktor faktor di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku
seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan olehpengetahuan, sikap, kepercayaan,
tradisi dari orang yang bersangkutan. Disamping itu ketersediaan fasilitas kesehatan dan
perilaku petugas kesehatan juga mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku.
Indikator lain : pengetahuan, sikap
Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu.). Pada dasarnya pengetahuan terdiri dari sejumlah fakta dan teori
yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah
yang dihadapi. Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman langsung ataupun melalui
pengalaman orang lain. Pengetahuan dapat ditingkatkan melalui penyuluhan baik secara
individu maupun kelompok untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan yang bertujuan untuk
tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat dalam upaya mewujudkan
derajat kesehatan optimal.
Menurut Notoatmodjo (1993), pengetahuan mempunyai enam tingkatan yaitu:
1. Tahu (know)
Sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam
pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dari
seluruh bagian yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan,
mendefenisikan, mengatakan.
2. Pemahaman (Comprehension)
Berarti sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui
dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah memahami
terhadap objek atau materi atau harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyampaikan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan buku, rumus, metode,
prinsip dalam konteks, atau situasi lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam
komponen-komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu
sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti dapat
menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5. Sintesis (Synthesis)
6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan-kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini berdasarkan kriteria yang
telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada.
Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau
objek. Sikap tidak langsung dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku
yang tertutup.(Notoadmojo, 1993).
Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk merespon (secara positif atau
negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap mengandung suatu penelitian
emosional/afektif (senang, benci, sedih dan sebagainya). Selain bersifat positif dan negatif, sikap
memiliki tingkat kedalaman yang berbeda-beda (sangat benci, agak benci, dan sebagainya). Sikap
itu tidaklah sama dengan perilaku dan perilaku tidaklah selalu mencerminkan sikap seseorang.
Sebab sering kali terjadi bahwa seseorang dapat berubah dengan memperlihatkan tindakan yang

bertentangan dengan sikapnya. Sikap sesorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan
informasi tentang objek tersebut melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya.
Allport (1954) dalam Soekijo (1993), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai tiga komponen
pokok yaitu :
a. Kepercayaan (kenyakinan), ide dan konsep terhadap suatu obyek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu obyek.
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)
Sikap ini terdiri dari 4 (empat) tingkatan yaitu :
1. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperlihatkan stimulus yang diberikan
(objek.
2. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya. Mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan
adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau
mengerjakan tugas yang diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah, adalah berarti
orang menerima ide tersebut.
3. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu
indikasi sikap tingkat tiga.
4. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan
sikap yang paling tinggi.
3. Perubahan perilaku kesehatan
Bentuk-bentuk Perubahan Perilaku
a) Perubahan alamiah (natural change): Perubahan perilaku karena terjadi perubahan alam
(lingkungan) secara alamiah
b) Perubahan terencana (planned change): Perubahan perilaku karena memang direncanakan oleh
yang bersangkutan
c) Kesiapan berubah (Readiness to change): Perubahan perilaku karena terjadinya proses internal
(readiness) pada diri yang bersangkutan, dimana proses internal ini berbeda pada setiap
individu.
Pendekatan Untuk Mengubah Perilaku
a. Informasi
b. Pemasaran
c. Insentif
d. Restriksi (memberikan pembatasan untuk mencegah perilaku tertentu)
e. Indoktrinasi (Memberikan paksaan untuk perilaku tertentu)
f. Peraturan
Strategi Perubahan Perilaku
a) Inforcement (Paksaan):
- Perubahan perilaku dilakukan dengan paksaan, dan atau menggunakan peraturan atau
perundangan.
- Menghasilkan perubahan perilaku yang cepat, tetapi untuk sementara (tidak langgeng)
b) Persuasi
Dapat dilakukan dengan persuasi melalui pesan, diskusi dan argumentasi.
c) Fasilitasi
Strategi ini dengan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung. Dengan penyediaan
sarana dan prasarana ini akan meningkatkan Knowledge (pengetahuan) Untuk melakukan
strategi ini mmeerlukan beberapa proses yakni kesediaan, identifikasi dan internalisasi. Ketika

ada rangsangan yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan keyakinan akan menimbulkan aksi dan
kemudian hal itu menjadikan perbahan perilaku.
d) Education :
Perubahan perilaku dilakukan melalui proses pembelajaran, mulai dari pemberian informasi
atau penyuluhan-penyuluhan. Menghasilkan perubahan perilaku yang langgeng, tetapi makan
waktu lama.
Tahapan Perubahan Perilaku Model Transteoretikal (Simon-Morton, Greene & Gottlieb, 1995)
Terdapat 6 tahapan perubahan :
a. Prekontemplasi
Pada tahap ini klien belum menyadari adanya permasalahan ataupun kebutuhan untuk
melakukan perubahan. Oleh karena itu memerlukan informasi dan umpan balik untuk
menimbulkan kesadaran akan adanya masalah dan kemungkinan untuk berubah. Nasehat
mengenai sesuatu hal/informasi tidak akan berhasil bila dilakukan pada tahap ini.
b. Kontemplasi
Sudah timbul kesadaran akan adanya masalah. Namun masih dalam tahap keraguraguan.
Menimbang-nimbang antara alasan untuk berubah ataupun tidak. Konselor mendiskusikan
keuntungan dan kerugian apabila menerapkan informasi yang diberikan.
c. Preparasi (Jendela kesempatan untuk melangkah maju atau kembali ke tahap kontemplasi).
d. Aksi (Tindakan)
Klien mulai melakukan perubahan. Goalnya adalah dihasilkannya perubahan perilaku sesuai
masalah.
e. Pemeliharaan
Pemeliharaan perubahan perilaku yang telah dicapai perlu dilakukan untuk terjadinya
pencegahan kekambuhan.
f. Relaps
Saat terjadi kekambuhan, proses perubahan perlu diawali kembali. Tahapan ini bertujuan untuk
kembalinya upaya aksi.
TEORI PERUBAHAN PERILAKU
a) Teori S-O-R
Perubahan perilaku didasari oleh: Stimulus Organisme Respons.
Perubahan perilaku terjadi dgn cara meningkatkan atau memperbanyak rangsangan (stimulus).
Oleh sebab itu perubahan perilaku terjadi melalui proses pembelajaran (learning process).
Materi pembelajaran adalah stimulus.
Proses perubahan perilaku menurut teori S-O-R.:
Adanya stimulus (rangsangan): Diterima atau ditolak
Apabila diterima (adanya perhatian) mengerti (memahami) stimulus.
Subyek (organisme) mengolah stimulus, dan hasilnya:
Kesediaan untuk bertindak terhadap stimulus (attitude)
Bertindak (berperilaku) apabila ada dukungan fasilitas (practice)
b) Teori Dissonance : Festinger
Perilaku seseorang pada saat tertentu karena adanya keseimbangan antara sebab atau alasan dan
akibat atau keputusan yang diambil (conssonance). Apabila terjadi stimulus dari luar yang lebih
kuat, maka dalam diri orang tersebut akan terjadi ketidak seimbangan (dissonance). Kalau
akhirnya stilmulus tersebut direspons positif (menerimanya dan melakukannya) maka berarti
terjadi perilaku baru (hasil perubahan), dan akhirnya kembali terjadi keseimbangan lagi
(conssonance).
c) Teori fungsi: Katz
Perubahan perilaku terjadi karena adanya kebutuhan. Oleh sebab itu stimulus atau obyek
perilaku harus sesuai dengan kebutuhan orang (subyek).
Prinsip teori fungsi:

> Perilaku merupakan fungsi instrumental (memenuhi kebutuhan subyek)


> Perilaku merupakan pertahanan diri dalam menghadapi lingkungan (bila hujan, panas)
> Perilaku sebagai penerima obyek dan pemberi arti obyek (respons terhadap gejala sosial)
> Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dalam menjawab situasi (marah, senang)
d) Teori Driving forces: Kurt Lewin
Perilaku adalah merupakan keseimbangan antara kekuatan pendorong (driving forces) dan
kekuatan penahan (restraining forces).
Perubahan perilaku terjadi apabila ada ketidak seimbangan antara kedua kekuatan tersebut.
Kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan perilaku:
> Kekuatan pendorong meningkat, kekuatanpenahan tetap.
> Kekuatan pendorong tetap, kekuatan penahan menurun.
> Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun
4. Metode dan strategi pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri manusia yang ada hubungannya
dengan tercapainya tujuan kesehatan perseorangan dan masyarakat. Pendidikan kesehatan
bukanlah sesuatu yang dapat diberikan oleh seseorang kepada orang lain dan bukan pula sesuatu
rangkaian tata laksana yangakan dilaksanakan ataupun hasil yang akan dicapai, melainkan suatu
proses perkembangan yang selalu berubah secara dinamis dimana seseorang dapat menerima atau
menolak keterangan baru, sikap baru dan perilaku baru yang ada hubungannya dengan tujuan
hidup sehat (Nyswander, 1947 dalam Azwar 1983 ).
Tujuan dan Sasaran Pendidikan Kesehatan
Tujuan program pendidikan kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan
kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, serta meningkatnya peran serta aktif
masyarakat termasuk dunia usaha dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal
(Dahroni, 1996)
Adapun sasaran program pendidikan kesehatan yang ditetapkan oleh Depkes RI (1998) antara lain:
a. Membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat bagi pribadi, keluarga dan masyarakat umum
sehingga dapat memberikan dampak yang bermakna terhadap derajat kesehatan masyarakat.
b. Meningkatnya pengertian terhadap pencegahan dan pengobatan terhadap berbagai penyakit
yang disebabkan oleh perubahan gaya hidup dan perilaku seperti AIDS, Kanker, penyakit
jantung, ketergantungan obat dan minuman keras sehingga angka kesakitan terhadap penyakit
tersebut berkurang.
c. Meningkatnya peran swasta / dunia usaha dalam berbagai upaya pembangunan kesehatan
terutama pelayanan kesehatan pencegahan dan peningkatan derajat kesehatan yang selama ini
masih dibiayai pemerintah seperti imunisasi, foging untuk DBD, penyediaan air bersih dan
penyehatan lingkungan pemukiman.
d. Meningkatnya kreatifitas, produktifitas dan peran serta generasi muda dalam mengatasi masalah
kesehatan diri, lingkungan dan masyarakat
e. Meningkatnya dan lebih rasionalnya pembiayaan kesehatan yang berasal dari masyarakat
termasuk swasta terutama melaui penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan masyarakat dan
dikelola berdasarkan JPKM.
Metode Pendidikan Keshatan
Pendidikan kesehatan mempunyai beberapa unsur, yaitu: input adalah sasaran pendidikan
(individu, kelompok, masyarakat), dan pendidik (pelaku pendidikan), proses (upaya yang
dilakukan) dan output. Metode pendidikan merupakan salah satu unsur input yang berpengaruh
pada pelaksanaan pendidikan kesehatan ( Soekidjo, 2003)
1. Metode Pendidikan Individu (perseorangan)

Bentuk pendekatan ini antara lain :


a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) Cara ini memungkinkan kontak
antara petugas dan klien lebih intensif, sehingga petugas dapat membantu penyelesaian
masalah klien.
b. Interview (wawancara)
Metode ini bertujuan untuk menggali informasi dari klien mengenai perilaku klien
2. Metode pendidikan kelompok
a. Ceramah
Metode ini diperuntukan untuk kelompok besar dan baik untuk sasaran yang berpendidikan
tinggi maupun rendah
b. Diskusi kelompok
Diskusi kelompok ini dimungkinkan apabila peserta kegiatan kurang dari 15 orang dan
termasuk ke dalam metode kelompok kecil
c. Curah Pendapat
Metode ini merupakan modifikasi dari diskusi kelompok dan mempunyai prinsip yang sama
dengan diskusi kelompok. Perbedaannya terletak pada permulaannya, dimana peserta
diberikan suatu masalah dan peserta kemudian memberikan tanggapannya.
d. Bola Salju
Kelompok dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang dan dua orang) kemudian dilontarkan
suatu pertanyaan atau masalah. Kemudian tiap 2 pasang bergabung, mediskusikan masalah
yang sama dan menarik kesimpulan. Begitupun seterusnya sampai terjadi suatu diskusi
seluruh peserta.
e. Kelompok-kelompok kecil (buzz group)
f. Memainkan peran (role playing)
Beberapa anggota kelompok memainkan suatu peran, kemudian mereka memperagakan,
misalnya bagaimana interaksi/komunikasi sehari-hari dalam menjalankan tugas
g. Permainan stimulasi
Metode ini merupakan gabungan dari metode diskusi kelompok dan role play
3. Metode Pendidikan Massa
a. Ceramah umum
Penyajian materi di depan khalayak publik yang berjumlah besar dan terutama disampaikan
secara lisan
b. Siaran Radio
Metodanya sama dengan ceramah, tetapi anak didik tidak berada di dalam ruangan yang
sama
c. Siaran TV
Sama dengan radio, tetapi ditambah dengan gerakan
d. Media cetak
Penyajian materi disampaikan secara tulisan
Strategi Pendidikan Kesehatan
Menurut Soekidjo (2003) untuk mencapai tujuan dan sasaran pendidikan kesehatan dilakukan
strategi kegiatan sebagai berikut :
1. Penyebarluasan Informasi Kesehatan
Kegiatan ini meliputi pengkajian sosial budaya kesehatan, sistem komunikasi dan teknologi
yang tepat dalam pengembangan masyarakat. Pengembangan penciptaan dan penyebarluasan
bahan pendidikan kesehatan melalui media massa agar pesan kesehatan menjadi bagian yang
terpadu dengan pesan pembangunan nasional.

2. Pengembangan Potensi Swadaya Masyarakat di Bidang Kesehatan


Kegiatan ini meliputi pengembangan sikap, kemampuan dan motivasi LSM dan organisasi
kemasyarakatan lainnya dalam pembudayaan hidup sehat dan penyebarluasan metodologi
pengembangan masyarakat melalui ormas dan kelompok potensial lainnya. Pengembanagan
kerja sama yang paling menguntungkan antara pemerintah dan masyarakat berpenghasilan
tinggi guna menopang kesehatan masyarakat miskin serta mengembangkan kelompok keluarga
mandiri sebagai teladan.
3. Pengembangan Penyelenggaraan Penyuluhan
Di selenggarakan melalui pengembanagan sikap, kemampuan dan motivasi petugas kesehatan
baik pemerintah maupun swasta di bidang penyuluhan, institusi pendidikan dan litbang serta
pembentukan kemitraan antara pemerintah, kelompok profesi dan masyarakat dalam
penyelenggaraan penyuluhan.

Kepustakaan

Soekidjo Notoadmodjo. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta. Jakarta
Yayi Suryo Prabandari .2009 Strategi perubahan Perilaku . Pulung Siswantara, 2012, Teori
Perilaku Kesehatan

Zumroh Hasana.2010. Makalah Perubahan Perilaku Sebagai Dampak Adanya Promosi


Kesehatan. UNAIR Surabaya ( http://zumrohhasanah.wordpress.com/, Online, diakses
tanggal 23 April 2014)
Lina Marliana. 2008. Pelaksanaan Program Literatur Pendidikan Kesehatan. FKM UI