Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA

PEGUJIAN KESETIMBANGAN
HARDY-WEINBERG
Tanggal praktikum 25 November 2014

Disusun oleh :
1. Nur Khikmah Fitri
(4401412113)
2. Muhamad Alifian F.
(4401412114)
3. Rizki Amaliyah
(4401412098)
KELOMPOK 8 (CROSSING OVER)
PENDIDIKAN BIOLOGI (4)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
KEGIATAN 14
PENGUJIAN KESETIMBANGAN

HARDY-WEINBERG

A. Tujuan
1. Mempelajari dan memahami hukum kesetimbangan Hardy-Weinberg
2. Menguji kesetimbangan Hardy-Weinberg dengan menghitung frekuensi alel dan
frekuensi genotip
B. Permasalahan
1. Bagaimanakah frekuensi alel dan frekuensi genotip dari dua generasi yang saudara
hasilkan?
2. Jika berbeda, berbeda nyata atau tidak?
C. Landasan Teori
Pada tahun 1908 G.H Hardy dan W. Weinberg menemukan dasar teoritis yang
ada hubungannya dengan frekuensi gen pada suatu populasi. Prinsip ini kemudian
dikenal sebagai hukum Hardy-Weinberg yang berbunyi bahwa frekuensi gen dominan
dan gen resesif pada suatu populasi yang cukup besar tidak akan berubah dari satu
generasi ke generasi seterusnya jika perkawinan terjadi secara acak, tidak ada seleksi,
tidak ada migrasi, tidak ada mutasi dan tidak terjadi genetik drift. (Widianti, 2014)
Suatu populasi terdiri atas individu-individu sejenis yang saling berinteraksi.
Dalam suatu poulasi menurut hukum Hardy-Weinberg adalah tetap. Menurut hukum
Hardy-Weinberg jika individu-individu dalam populasi melakukan atau mengadakan
persilangan secara acak dan beberapa asumsi terpenuhi, maka frekuensi alel dalam
populasi akan tetap dalam keseimbangan yang stabil, yaitu tidak berubah dari generasi
ke generasi berikutnya. Tiap gamet yang terbentuk akan sebanding dengan frekuensi
masing-masing alelnya dan frekuensi tiap tipe zigot akan sama dengan hasil kali dari
frekuensi gamet-gametnya, (Stanfield, 1991).
Beberapa asumsi yang mendasari perolehan kesimbangan genetik seperti
diekspresikan dalam persamaan Hardy-Weinberg adalah:
1.
Populasi itu tidak terbatas besarnya dan melakukan secara acak (panmiktis).
2.
Tidak terdapat seleksi, yaitu setiap genotype yang dipersoalkan dapat bertahan
3.
4.

hidup sama seperti yang lain (tidak ada kematian diferensial).


Populasi itu tertutup yaitu tidak terjadi perpindahan (migrasi).
Tidak ada mutasi dari satu alelik kepada yang lain. Mutasi diperbolehkan jika laju
mutasi maju dan kembali adalah sama atau ekuivalen.

5.

Terjadi meiosis normal, sehingga hanya peluang yang menjadi faktor operatif
dalam gametogenesis.
Jika dalam suatu populasi terjadi perubahan dalam keseimbangan populasi

tersebut maka akan terjadi pelanggaran batasan hukum Hardy-Weinberg akan


menyebabkan poulasi tersebut bergerak menjauhi frekuensi keseimbangan gametik dan
zigotik, (Stanfield, 1991).

Hukum Hardy Weinberg memudahkan kita dalam asumsi apakah suatu populasi
berada

dalam

keseimbangan

yang

stabil

frekuensi

alelnya

yakni

dengan

membandingkan populasi alel dalam lokasi pada lokasi berada, kita dapat menentukan
apakah terjadi penyimpangan atau keseimbangan. Hardy Weinberg sadar bahwa
keseimbangan alel dalam suatu populasi dapat digambarkan dengan rumus sederhana,
penjabaran binomial (Crowder, 1986).
Frekuensi merupakan perbandingan antara banyaknya individu dalam suatu kelas
dengan jumlah seluruh individu. Setiap individu memiliki sifat-sifat kualitatif dan
kuantitatif. Timbulnya berbagai variasi dalam sifat keturunan tertentu merupakan
pengaruh dari gen-gen ganda (multiple gen atau poligen). Poligen merupakan salah
satu dari seri gen ganda yang menentukan pewarisan secara kuantitatif, (Suryo, 1984).
Jika frekuensi genotipe dalam suatu populasi menyimpang dari hukum Hardy-Weinberg,
hanya dibutuhkan satu generasi perkawinan acak untuk membawa mereka ke proporsi
ekuilibrium, asalkan asumsi-asumsi di atas berlaku, bahwa frekuensi alel sama pada
jantan dan betina (atau yang lain yang individu adalah hermafrodit), dan bahwa lokus
autosomal. Jika frekuensi alel berbeda antara jenis kelamin, dibutuhkan dua generasi
perkawinan acak untuk mencapai kesetimbangan Hardy-Weinberg. Sex-linked lokus
membutuhkan beberapa generasi untuk mencapai keseimbangan karena satu jenis
kelamin memiliki dua salinan gen dan jenis kelamin yang lain hanya memiliki satu.
D. Alat dan Bahan
1. Kancing genetika 2 macam warna dengan perbandingan 2 : 3
2. Dua kotak untuk tempat kancing genetika
E. Cara Kerja
memasukkan dua macam warna kancing misalnya 20 kancing merah dan 30 kancing
putih pada masing-masing kotak

tanpa melihat dalam kotak, diambil sebuah kancing dari kotak pertama dengan
tangan kanan dan sebuah kancing dari kotak kedua dengan tangan kiri. pengambilan
kancing dari masing-masing kotak ini analog dengan proses kawin acak, pasangan
kancing yang terambil menggambarkan suatu individu baru pada generasi
berikutnya. mencatat genotip yang didapat dalam tabel

mengembalikan kancing yang sudah terambil pada kotaknya. dengan pengembalian


ini frekuensi alel dalam gene pool akan tetap sehingga peluang alel untuk terambil
dalam setiap pengambilan akan tetap sama. selanjutnya mengambil kancing

genetika seperti langkah 2, mengulangi terus sampai mendapatkan 100 individu baru
yang menyusun generasi baru, dan memasukkan hasilnya dalam tabel

menghitung besarnya frekuensi alel menggunakan rumus berikut :

1
(Jumla h genotip AA + jumlah genotip Aa)
2
Frekuensi alel A =
Total

Frekuensi alel B =

1
(Jumlah genotip aa+ jumlah genotip Aa)
2
Total

Membandingkan frekuensi alel dan frekuensi genotip populasi awal terhadap populasi
baru dan menguji menggunakan Chi-kuadrat
F. Hasil Percobaan
Data Kelompok
Pasangan gamet
(genotip individu)
AA
Aa
aa
Total

Frekuensi alel A =

Frekuensi alel B =

Tally

Jumlah

Frekuensi (%)

IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII


IIIII IIIII I
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII
IIIII IIIII IIIII IIIII IIIII i
IIIII IIIII III i

36

36

50,5

50,5

13,5
100

13,5
100

1
(Jumla h genotip AA + jumla h genotip Aa)
2
Total
1
36 + .50,5
2
100

= 0,61 = 61%

1
(Jumlah genotip aa+ jumlah genotip Aa)
2
Total

1
13,5+ .50,5
2
100

= 0,38 = 38%

Data Kelas
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Total

A
47,5
46
57,5
50,75
49,25
52,75
66
61,25
54
62,5
547,5

a
52,5
54
42,5
49,25
50,75
47,25
34
38,75
46
37,5
452,5
1000

G. Analisis Data
Analisis data kelompok
Alel

f0

fh

f0-fh

(f0-fh)2

61,25

50

-11,25

126,5625

38,75

50

11,25

126,5625

( f 0fh )2
x=
fh
2

126,5625/50=
2,53125
126,5625/50=
2,53125

x 2=
5,0625
Db = 2-1

= 0,05

= 2-1

x 2 tabel = 3.84

=1

hitung >

tabel

5,0625 > 3,84 sehingga Ho ditolak


Analisis data kelas
Alel

f0

fh

f0-fh

(f0-fh)2

547,5

500

-47,5

2256

452,5

500

47,5

2256

x 2=

( f 0fh )2
fh

2256,25/500=
4,5125
2256,25/500=
4,5125

x =
9,025
Db = 2-1

= 0,05

= 2-1

x 2 tabel = 3.84

=1

x 2 hitung >

x 2 tabel

9, 025 > 3,84 sehingga Ho ditolak


H. Pembahasan
Pada praktikum ini tentang kesetimbangan Hardy-Weinberg dimana hukum
Hardy-Weinberg ini menyatakan bahwa frekuensi gen dominan dan gen resesif pada
suatu populasi yang besar tidak akan berubah dari generasi ke generasi seterusnya jika
perkawinan terjadi secara acak, tidak ada seleksi, tidak ada migrasi, tidak ada mutasi
dan tidak terjadi genetika drift. Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan dua
kancing yang berbeda, dimana 20 kancing warna merah yang dianggap dominan dan
30 kancing warna putih dianggap resesif. Setiap warna kancing dibagi menjadi dua
untuk dimasukkan kembali. Hal ini terus dilakukan sampai 100x.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh data kelompok bahwa alel A
berjumlah 61,25% da alel a berjumlah 38, 25%. Hasil ini diperoleh dari rumus Frekuensi

(Jumla h genotip AA atauaa+


alel A atau a =

Total

1
jumla h genotip Aa)
2

dimana genotip

AA berjumlah 36; Aa berjumlah 50,5; dan aa berjumlah 13,5. Melalui uji Chi-square hasil
yang kelompok kami peroleh salah (Ho ditolak). Bila suatu populasi terdiri dari alel A dan
a dengan frekuensi masing-masing adalah p dan q dimana p+q=1, maka frekuensi
genotip AA, Aa, dan aa dalam keadaan setimbang berturut-turut adalah p 2+2pq+q2=1
(Widianti, 2014). Berdasarkan hasil yang kami dapat frekuensi alel menunjukkan
A+a=1, namun frekuensi genotip tidak menunjukkan persamaan p2+2pq+q2=1.
Sehinggan hasil percobaan ini melanggar hukum Hardy Weinberg.
Melalui uji Chi-square, hasil percobaan dengan data kelas juga salah (Ho ditolak)
dengan jumlah alel A sebanyak 547,5 dan alel a sebanyak 452,5. Frekuensi alel
menunjukkan p+q=1 namun frekuensi genotip tidak menunjukkan persamaan
p2+2pq+q2=1. Sehingga hasil percobaan data kelas juga melanggar hukum Hardy
Weinberg.
Pelanggaran
terhadap
asumsi
Hardy-Weinberg
dapat
menyebabkan
penyimpangan dari harapan . Bagaimana ini mempengaruhi penduduk tergantung pada
asumsi yang dilanggar. Umumnya, penyimpangan dari kesetimbangan Hardy-Weinberg
menunjukkan evolusi dari satu spesies.
1) Random kawin . HWP menyatakan penduduk akan memiliki frekuensi genotipik
diberikan (disebut Hardy-Weinberg proporsi) setelah satu generasi dari perkawinan
acak dalam populasi. Ketika pelanggaran ketentuan ini terjadi, penduduk tidak akan
memiliki proporsi Hardy-Weinberg. Tiga pelanggaran semacam itu:
a. Penangkaran sanak , yang menyebabkan peningkatan homozigositas untuk semua
gen.

b. Asortatif perkawinan , yang menyebabkan peningkatan homozigositas hanya untuk


mereka gen yang terlibat dalam sifat yang assortatively dikawinkan (dan gen dalam
ketidakseimbangan hubungan dengan mereka).
c. Ukuran kecil penduduk , yang menyebabkan perubahan acak pada frekuensi
genotipik.Hal ini disebabkan oleh efek sampling, dan disebut drift genetik ,efek
sampling yang paling penting ketika ukuran populasi kecil atau allele jarang terjadi.
Jika populasi melanggar salah satu dari empat asumsi sebagai berikut, populasi
dapat terus memiliki Hardy-Weinberg proporsi setiap generasi, tetapi frekuensi alel akan
berubah dengan kekuatan itu.
2) Seleksi , secara umum, menyebabkan frekuensi alel berubah, sering kali cukup
.Sementara pemilihan arah akhirnya mengarah pada hilangnya semua alel kecuali
yang disukai, beberapa bentuk seleksi, seperti menyeimbangkan seleksi ,
menyebabkan keseimbangan tanpa kehilangan alel.
3) Mutasi akan memiliki efek yang sangat halus pada frekuensi alel. Tingkat Mutasi
adalah dari urutan 10 -4 10 -8, dan perubahan frekuensi alel akan paling besar urutan
yang sama. mutasi berulang akan mempertahankan alel dalam populasi, bahkan
jika ada seleksi yang kuat terhadap mereka.
4) Migrasi genetik menghubungkan dua atau lebih populasi bersama-sama. Secara
umum, frekuensi alel akan menjadi lebih homogen antara populasi. Beberapa
model untuk migrasi secara inheren mencakup kawin acak ( Wahlund efek ,
misalnya. Bagi mereka model, proporsi Hardy-Weinberg biasanya tidak akan
berlaku.
Bagaimana pelanggaran-pelanggaran ini mempengaruhi uji statistik formal untuk
HWE dibahas kemudian. Sayangnya, pelanggaran asumsi dalam prinsip HardyWeinberg tidak berarti populasi akan melanggar HWE. Misalnya, keseimbangan seleksi
mengarah ke keseimbangan populasi dengan proporsi mutasi adalah dasar bagi banyak
perkiraan tingkat mutasi (panggilan keseimbangan mutasi-seleksi ).
I.

Kesimpulan
1. Berdasarkan hukum Hardy -Weinberg persamaan frekuensi genotip adalah p+q=1
sedangkan persamaan frekuensi alel adalah p2+2pq+q2=1.
2. Berdasarkan hasil percobaan kelompok dan kelas melalui uji Chi-square
menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh frekuensi genotip sesuai hukum Hardy
Weinberg namun frekuensi alel melanggar hukum Hardy-Weinberg (Ho ditolak).

J. Daftar Pustaka
Crowder, L. V. 1986. Genetika Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Stanfield, W. D. 1991. Genetika Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga
Suryo. 1983 Genetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Widianti, Tuti dan Noor Aini H. 2014. Buku Ajar Genetika. Semarang : Jurusan Biologi
FMIPA UNNES
Widianti, Tuti dan Noor Aini H. 2014. Petunjuk Praktikum Genetika. Semarang : Jurusan
Biologi FMIPA UNNES