Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Latar belakang
Bumi sebagian besar terdiri atas air karena luas daratan lebih kecil dibandingkan luas lautan. Dimana air
juga menjadi kebutuhan pokok semua makhluk hidup. Hampir semua poses kehidupan yang terjadi di
bumi, membutuhkan air. Tidaklah berlebihan jika kemudian kita mengatakan bahwa, tidak ada kehidupan
jika tak ada air.
Begitu pentinganya air, sehingga perhatian khusus untuk zat satu ini perlu ditingkatkan. Di perkotaan
misalnya, air digunakan untuk mandi, mencuci, transportasi, dan minum tentunya. Dipedesaan air
bertambah fungsi sebagai sumber mata pencaharian seperti nelayan dan pengairan pertanian. Dunia
industri juga banyak memanfaatkan air dalam prosesnya, seperti air ketel uap penggerak turbin,
pembangkit listrik dll.
Akan tetapi, kegiatan manusia tersebut telah membuat berkurangnya kualitas air, bahkan membuat kulitas
air hingga ketititk pencemaran air, sehingga air tak dapat lagi digunakan karena berbahaya bagi
kesehatan. Hal ini dimulai dari pengambilan debit air dalam jumlah yang besar yang dapat mengganggu
keseimbangan ekosistem air, sampai pada pengolahan air dalam industri dan perumahan yang
menghasilkan berbagai macam limbah.
Apabila pengelolah kegiatan industri memperhatikan dan melaksanakan pengolahan air limbah hasil
industri dan masyarakat umum juga tidak lagi membuang limbahnya secara langsung ke lingkungan,
maka masalah pencemaran air tidak perlu dikhawatirkan. Namun, kenyatannya masih banyak industri
atau suatu pusat kegiatan kerja dan masyarakat umum yang membuang limbahnya langsung ke
lingkungan melalui sungai, danau, atau langsung ke laut. Pembuangan secara langsung inilah yang
menjadi penyebab utama terjadinya pencemaran air.
Disisi lain, kegunaan dari pengolahan limbah cair belum secara menyeluruh dipahami oleh semua pihak
yaitu pemerintah dan masyarakatnya. Ini bisa dilihat dari beberapa aturan pemerintah yang terkesan tidak
dilaksanakan dengan baik sehingga menimbulkan berbagai masalah negatif bagi lingkungan dikemudian
hari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian
Menurut Ehless dan Steel, Air limbah atau air buangan adalah sisa air dibuang yang berasal dari rumah
tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya, dan pada umumnya mengandung bahan-bahan
atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mangganggu lingkungan hidup.
Batasan lainnya mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal
dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air
pemukiman dan air hujan yang mungkin ada (Haryoto Kusnoputranto, 1985).
Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan
manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan, dan sebagainya.
Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena kurang lebih 80% dari air yang digunakan
bagi kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor
(tercemar). Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan kembali ke sungai dan laut dan akan digunakan oleh
manusia lagi. Oleh karena itu, air buangan ini harus dikelola dan atau diolah secara baik.
Hukum dan Perundang-undangan
Pengelolaan Lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup
yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan,
pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup (UU Nomor 23 th. 1997, Pasal 1 : 2).
Pengrusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau
tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak
berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan(UU No.23/1999/Pasal 1 : 14). Sedangkan,
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang
memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya alam, kedalam proses pembanguna untuk
menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan(UU
No.23/1999/Pasal 1 : 3).
Sementara itu, Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah sisa suatu usaha dan atau
kegiatan yangmengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya
dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan ataumerusak
lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,kelangsungan hidup
manusia serta makhluk hidup lainnya (PP No. 18 Tahun 1999 Jo PP No. 85Tahun 1999). Sedangkan B3
adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan ataujumlahnya, baik secara langsung maupun

tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusaklingkungan hidup, dan atau membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidupmanusia serta makhluk hidup lainnya (PP No. 74 Tahun
2001)Limbah B3 maupun bahan berbahaya dan beracun tidak saja dihasilkan/digunakan oleh kegiatan
industri tetapi juga dari berbagai aktifitas manusia lainnya misalnya dari kegiatan pertanian, rumahtangga
dan rumah sakit.
BAB III
PEMBAHASAN
Sumber Air Limbah
Air limbah ini dapat berasal dari berbagai sumber, secara garis besar dapat dikelompokkan
menjadi sebagai berikut:
1. Air buangan yang bersumber dari rumah tangga (domestic wastes water), yaitu air limbah yang berasal
dari pemukiman penduduk.
Air limbah rumah tangga terdiri dari 3 fraksi penting, yaitu :
a. Tinja (faeces), berpotensi mengandung mikroba pathogen
b. Air seni (urine), umumnya mengandung Nitrogen (N) dan Fosfor, serta kemungkinan kecil mikroorganisme.
c. Grey water, merupakan air bekas cucian dapur, mesin cucidan kamar mandi. Grey water sering juga
disebut dengan istilah sullage.
Campuran faeces dan urine disebut sebagai excreta, sedangkan campuran excreta dengan air bilasan toilet
disebut sebagai black water. Mikroba pathogen banyak terdapat pada excreta. Excreta ini merupakan cara
transport utama bagi penyakit bawaan.
2. Air buangan industri (industrial wastes water), yang berasal dari berbagai jenis industry akibat proses
produksi. Zat-zat yang terkandung di dalamnya sangat bervariasi sesuai dengan bahan baku yang dipakai
oleh masing-masing industri, antara lain: nitrogen, sulfide, amoniak, lemak garam-garam zat pewarna,
mineral, logam berat, zat pelarut dan sebagainya. Oleh sebab itu, perlu dilakukan pengolahan jenis air
limbah ini, agar tidak menimbulkan polusi lingkungan menjadi lebih rumit.
3. Air buangan kotapraja (municipal wastes water), yaitu air buangan yang berasal dari daerah;
perkantoran,perdagangan, hotel, restoran, tempat-tempat umum, tempat-tempat ibadah, dan sebagainya.
Pada umumnya zat-zat yang terkandung dalam jenis air limbah ini sama dengan jenis air limbah rumah
tangga.
Parameter Limbah Cair
Sebelum mempelajari metode pengolahan limbah cair, terlebih dahulu kira perlu mengetahui pengertian
pencemaran air. Standar untuk menyatakan bahwa air tercemar atau tidak, sangatlah relatif. Namun,
bukan berarti kita tidak dapat mengetahui keadaan air dikatakan tercemar atau tidak. Dengan mengamati
indikator pencemaran air, kita bisa menyatakan tercemar atau tidaknya keadaan air tersebut.

Beberapa Indikator pencemaran air dapat kita amati melalui :


1. Adanya Perubahan Suhu air
Sumber air (misal, sungai) yang suhunya naik akan dapat mengganggu kehidupan hewan air dan
organisme air lainnya karna kadar oksigen yang terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan
suhu. Padahal disatu sisi kehidupan memerlukan oksigen untuk bernafas. Oksigen yang terlarut dalam air
berasal dari udara yang secara lambat terdifusi ke dalam air. Makin tingggi kenaikan suhu air makin
sedikit oksigen yang terlarut didalamnya.
2. Perubahan pH atau konsentrasi Ion Hidrogen
Air normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan organisme mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5. Air
yang mempunyai pH diatas normal akan bersifat bersifat basa sedang air yang mempunyai pH dibawah
normal akan bersifat asam.
3. Perubahan Warna, Bau dan rasa Air
Pada keadaan normal, pada dasarnya air tidak berwarna, baud an rasa (kecuali air laut).
Timbulnya warna, bau dan rasa pada air secara mutlak dapat dipakai sebgai sebagai salah satu tanda
terjadinya tingkat pencemaran.
4. Timbulnya Endapan, koloidal dan bahan Terlarut
Endapan dan kolodial biasanya berasal dari pembuangan industri yang berbentuk padat. Bahan buangan
tersebut yang tidak dapat larut dengan sempurna akan terendap didasar sumber air sedangkan bahan
buangan yang terlarut sebagian akan menjadi koloidal. Kalau bahan buangan industri berupa bahan yang
dapat larut, air akan mendapat mendapat tambahan-tambahan ion logam yang berasal dari bahan
anorganik tersebut. Banyak bahan anorganik yang memberikan ion-ion logam berat yang pada umumnya
bersifat racun, seperti Cd, Cr, Pb dll.
5. Mikrorganisme
Mikroorganisme sangatlah berperan penting dalam proses degradasi bahan buangan dari kegiatan industri
ke lingkungan air. Jika bahan yang akan didegradasi cukup banyak maka akan lebih banyak lagi
mikroorganisme yang berkembang biak. Pada perkembangbiakkan ini tidak menutup kemungkinan juga
berkembangnya mikroba patogen. Mikroba patogen adalah penyebab munculnya berbagai penyakit.
Pengelolaan Air Limbah
Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengolahan terlebih dahulu. Untuk
dapat melaksanakan pengolahan air limbah yang efektif diperlukan rencana pengelolaan yang baik.
Pengelolaan air limbah dapat dilakukan secara alamiah maupun dengan bantuan peralatan. Pengolahan air

limbah secara alamiah biasanya dilakukan dengan bantuan kolam stabilisasi sedangkan pengolahan air
dengan bantuan peralatan misalnya dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah/ IPAL (Waste Water
Treatment Plant / WWTP).

1.
2.
3.
4.

Tujuan Pengelolaan Air Limbah


Adapun tujuan dari pengelolaan air limbah itu sendiri, antara lain:
Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.
Melindungi hewan dan tanaman yang hidup didalam air.
Menghindari pencemaran tanah permukaan.
Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vektor penyakit.
Syarat Sistem Pengelolaan Air Limbah
Sementara itu, sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi persyaratan berikut:

1. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air minum.


2. Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.
3. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang hidup di air di dalam penggunaannya seharihari.
4. Tidak dihinggapi oleh vektor atau serangga yang mengakibatkan penyakit.
5. Tidak terbuka dan harus tertutup.
6. Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap.
Metode Pengelolaan Air Limbah
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengelolah air limbah, diantaranya:
a. Pengenceran (disposal by dilution)
Air limbah dibuang ke sungai, danau, atau laut agar mengalami pengenceran. Dengan cara ini air limbah
akan mengalami purifikasi alami. Namun, cara semacam ini dapat mencemari air permukaan dengan
bakteri pathogen, larva dan telur cacing, serta bibit penyakit lain yang ada di dalam air limbah itu.
Apabila hanya cara ini yang dapat diterapkan, maka persyaratan berikut harus dipenuhi:
1. Air sungai atau danau tidak boleh digunakan untuk keperluan lain.
2. Volume air mencukupi sehingga pengenceran berlangsung kurang dari 30-40 kali
3. Air harus cukup mengandung oksigen. Dengan kata lain air harus mengalir (tidak boleh stagnan) agar
tidak menimmbulkan bau.
b. Cesspool
Bentuk cesspool ini menyerupai sumur tetapi digunakan untuk pembuangan air limbah. Dibuat pada tanah
yang berpasir agar air buangan mudah meresap kedalam tanah. Bagian atas ditembok agar tidak tembus
air. Apabila ceespool sudah penuh (60bulan), lumpur didalamnya dapat dihisap keluar atau dari semula
dibuat cesspool secara berangkai, sehingga bila yang satu penuh, air akan mengalir ke cesspool
berikutnya. Jarak cesspool dengan sumur air bersih adalah 45 meter dan minimal 6 meter dari pondasi
rumah.
c. Sumur resapan (seepage pit)

Sumur resapan merupakan sumur tempat menampung air limbah yang telah mengalami pengolahan dalam
system lain, misalnya dari aqua privy atau septic tank. Dengan cara ini, air hanya tinggal mengalami
peresapan ke dalam tanah. Sumur resapan ini dibuat pada tanah yang berpasir, dengan diameter 1-2,5
meter dan kedalaman 2,5 meter. Lama pemakaian dapat mencapai 6-10 tahun.
d. Septic tank
Septic tank, menurut WHO, merupakan metode terbaik untuk mengelolah air limbah walau biayanya
mahal, rumit, dan memerlukan tanah yang luas. Septic tank memiliki 4 bagian, antara lain:
1. Ruang pembusukan
Dalam ruang ini, air kotor akan tertahan 13 hari dan akan mengalami penguraian oleh bakteri pembusuk
yang akan menghasilkan gas, cairan, dan lumpur. Gas dan cairan akan masuk kedalam dosing chamber
melalui pipa. Lumpur akan masuk ke ruang lumpur.
2. Ruang lumpur
Ruang lumpur merupakan tempat penampungan lumpur. Apabila ruang sudah penuh, lumpur dapat
dipompa keluar.
3. Dosing chamber
Dalam dosing chamber terdapat siphon McDonald yang berfumgsi untuk mengatur kecepatan air yang
akan dialirkan ke bidang resapan agar merata.
4. Bidang resapan
Bidang ini akan menyerap cairan keluar dari dosing chamber dan menyaring bakteri pathogen maupun
bibit penyakit lain. Panjang minimal bidang resapan ini 10meter dan dibuat pada tanah berpasir.
e. System Riool (sewage)
System riool menampung semua air kotor dari rumah maupun perusahaan, dan terkadang menampung
kotoran dari lingkungan. Apabila dipakai untuk menampung air hujan, sistem riool ini disebut combined
system, sedangkan jika bak penampung air hujannya dipisahkan maka disebut separated system. Agar
tidak merugikan kepentingan lain, air kotor dialirkan ke ujung kota, misalnya ke daerah peternakan,
pertanian, atau perikanan darat. Air kotor itu masih memerlukan pengolahan.
Proses pengolahan yang dilakukan, antara lain:
1. Penyaringan (screening)
Penyaringan ditujukan untuk menangkap benda-benda yang terapung diatas permukaan air.
2. Pengendapan (sedimentation)
Pada proses ini, air limbah dialirkan ke dalam bak besar (sand trap) sehingga aliran menjadi lambat dan
lumpur serta pasir mengendap.
3. Proses biologis
Proses ini menggunakan mikroba untuk memusnahkan zat organic di dalam limbah baik secara aerob
maupun anaerob.
4. Disaring dengan saringan pasir (sand filter)
5. Desinfeksi
Desinfeksi dengan kaporit (10kg/1 juta air limbah) untuk membunuh mikroba patogen.
6. Pengenceran
Terakhir, air limbah dibuang ke sungai, danau atau laut sehingga mengalami pengenceran.
Semua proses pengolahan air limbah ini dilakukan dalan suatu instalasi khusus yang dibangun diujung
kota.

Cara lain pengolahan air limbah


Pengolahan air limbah dapat juga dilakukan dengan cara:
1. Dilution (pengenceran)
Air limbah diencerkan sampai mencapai konsentrasi yang cukup rendah,kemudian baru dibuang ke
badan-badan air. Tetapi, dengan makin bertambahnya penduduk, yang berarti makin meningkatnya
kegiatan manusia, maka jumlah air limbah yang harus dibuang terlalu banyak, dan diperlukan air
pengenceran terlalu banyak pula, maka cara ini tidak dapat dipertahankan lagi. Di samping itu, cara ini
menimbulkan kerugian lain, diantaranya: bahaya kontaminasi terhadap badan-badan air masih tetap ada,
pengendapan yang akhirnya menimbulkan pendangkalan terhadap badan-badan air, seperti selokan,
sungai, danau, dan sebagainya. Selanjutnya dapat menimbulkan banjir.
2. Irrigation (irigasi)
Air limbah dialirkan ke dalam parit-parit terbuka yang digali, dan air akan merembes masuk ke dalam
tanah melalui dasar dan dinding parit-parit tersebut. Dalam keadaan tertentu air buangan dapat digunakan
untuk pengairan lading pertanian atau perkebunan dan sekaligus berfungsi untuk pemupukan. Hal ini
terutama dapat dilakukan untuk air limbah dari rumah tangga, perusahaan susu sapi, rumah potong
hewan, dan lain-lain di mana kandungan zat-zat organikdan protein cukup tinggi yang diperlukan oleh
tanaman.
3. Self purification/oxidation ponds (kolam oksidasi)
Pada prinsipnya cara pengolahan ini adalah pemanfaatan sinar matahari, ganggang (algae), bakteri dan
oksigen dalam proses pembersihan alamiah. Air limbah dialirkan ke dalam kolam besar berbentuk segi
empat dengan kedalaman antara 1-2 meter. Dinding dan lapisan kolam tidak perlu diberi lapisan apapun.
Lokasi kolam harus jauh dari daerah pemukiman, dan di daerah yang terbuka, sehingga memungkinkan
sirkulasi angin dengan baik.
Cara kerjanya antara lain sebagai berikut:
Empat unsur yang berperan dalam pembersihan alamiah ini adalah: sinar matahari, ganggang, bakteridan
oksigen. Ganggang dengan butir klorofilnya dalam air limbah melakukan proses fotosintesis dengan
bantuan sinar matahari, sehingga tumbuh dengan subur. Pada proses sintesis untuk pembentukan
karbohidrat dari H2O dan CO2 oleh klorofil di bawah pengaruh sinar matahari terbentuk O 2. Kemudian
oksigen ini digunakan oleh bakteri aerobik untuk melakukan dekomposisi zat-zat organik yang terdapat
dalam air buangan. Di samping itu, terjadi pengendapan. Sebagai hasilnya BOD dari air limbah tersebut
akan berkurang, sehingga relatif aman apabila akan dibuang ke dalam badan-badan air (kali, danau, dan
sebagainya).
1. Pengolahan air limbah secara primer dan sekunder
Pengolahan secara primer terdiri atas:
a. Screen (saringan). Kotoran yang besar disaring.
b. Grit Chamber. Detritus berupa lapisan air, kerikil dan pasir, aliran air diperhambat dengan grit channel.

c. Primary sedimentation tank. Endapan crude sludge dialirkan ke sludge digestion tank dan menghasilkan
gas metana.
d. Cairan yang tertinggal dialirkan sebagai primary effluent ke pengolahan sekunder.
Pengolahan sekunder terdiri dari;
a. Cairan yang bersal dari primary treatment dialirkan ke bak biological treatment kemudian dialirkan ke
tangki pengendapan terakhir (final sedimentation tank). Dari total volume endapan lumpur aktif
(activated sludge) yang dihasilkan, 25%-nya akan digunakan kembali sehingga dimasukkan lagi kedalam
tangki aerasi, sedangkan yang 75%-nya akan dibuang ke laut, ditimbun di rawa-rawa, atau dijadikan
pupuk.
b. Air yang tertinggal cukup jernih sehingga dapat langsung disalurkan ke badan-badan air setelah
mengalami proses klorinasi.
c. Crudge sludge dialirkan ke sludge digestion tank untuk diubah menjadi gas metana yang akan digunakan
untuk menghasilkan tenaga listrik.
d. Endapan lumpur dalam sludge digestion tank dikeringkan dengan alat pengering lumpur.
Purifikasi Air Limbah
Tujuan purifikasi air limbah, antara lain;
1. Untuk menstabilkan bahan-bahan organik melalui proses stabilisasi. Materi organik akan diurai oleh
bakteri menjadi bahan-bahan sederhana yang tidak akan didekomposisi.
2. Untuk menghasilkan effluent yang bebas dari keadaan patogen.
3. Air dapat digunakan tanpa menimbulkan risiko gangguan kesehatan.
Dekomposisi materi organik di dalam air limbah terjadi melalui proses aerob dan anaerob, seperti berikut.
a. Proses aerob
Proses aerob merupakan proses paling efisien untuk menurunkan kandungan materi organik di dalam air
limbah. Proses ini memerlukan pasokan oksigen terlarut yang kontinu. Bahan-bahan organik dipecah
menjadi bahan yang lebih sederhana, seperti CO 2, air, ammonia, nitrit, nitrat, dan sulfat melalui kerja
bakteri, jamur dan protozoa.
b. Proses anaerob
Proses ini sangat efektif untuk air limbah yang mengandung banyak benda padat. Reaksi dekomposisi
anaerob berlangsung lebih lambat dan sangat kompleks. Produk akhir dari dekomposisi tersebut adalah
metana, ammonia, CO2, dan H2.
a.
1.
2.
b.

Dalam melakukan purifikasi air limbah, terdapat 3 cara berikut yang dapat dipilih.
Modern sewage treatment,terdiri dari:
Pengolahan primer, yang meliputi screening, grit chamber, dan primary sedimentation.
Pengolahan sekunder, yang meliputi biological treatment, secondary sedimentation dan klorinasi.
Traditional sewage treatment (oxidation pond)

c. Land treatment atau sewage farming. Metode ini memanfaatkan sebidang tanah yang dikelilingi parit
berisi air limbah yang mengalir secara intermiten. Tanah tersebut ditanami tumbuhan semacam kentang
dan pohon buah-buahan.
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
1. Air buangan/ air limbah adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga
maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan, dan sebagainya.
2 . Sumber air limbah yaitu air limbah rumah tangga, air limbah industri dan air limbah kotapraja.
3. Dampak pengelolaan air limbah antara lain : gangguan kesehatan, penurunan kualitas lingkungan,
gangguan terhadap keindahan, gangguan terhadap kerusakan benda.
4. Pengelolaan air limbah pun dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu secara alamiah maupun dengan
bantuan peralatan. Dengan cara alamiah yaitu dengan kolam stabilisasi sedangkan dengan peralatan
biasanya dilakukan pada IPAL, yang prosesnya dapat dikelompokkan menjadi primary treatment,
secondary treatment,dan tertiary treatment.
Saran
1) Pembangunan instalasi pengolahan air limbah sudah mutlak dan harus dimiliki oleh setiap industri atau
badan pengolah yang ditunjuk agar setiap air limbah yang dibuang ke badan air sudah masuk dalam baku
mutu yang telah ditetapkan oleh pemrintah.

2) Keseriusan dari semua pihak sangat diperlukan agar limbah industri yang ada benar-benar tidak
mengganggu kehidupan dan kesehatan manusia, kalau hal ini tidak kita mulai dari sekarang maka akan
sama-sama kita lihat bahaya apa yang akan muncul ke depan yang menghadang kita.
3) Untuk mencegah penurunan kualitas hidrosfir yang disebabkan oleh air limbah diperlukan pemilihan
sistem pengolahan air limbah yang tepat agar tidak memberikan dampak yang buruk bagi lingkungan
khususnya pada kesehatan masyarkat.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://ans-olahlimbah.blogspot.com/2013/02/penangan-limbah-cair.html
2. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_5.htm
3. http://wastewater.blogdetik.com/a/pengolahan-limbah-cair