Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tiga wilayah lokasi yang berbeda yakni, Kab. Bangkalan, Kab. Jember
dan Kab. Gresik ditinjau dari letak geografis terlihat bahwa ketiga wilayah
tersebut memiliki kesamaan yaitu dekat pesisir pantai dan juga memiliki
pegunungan kapur. Hal ini yang menyebabkan ketiga wilayah tersebut
memilki sumber daya alam yang cukup baik, dan semestinya hal ini harus
ditunjang dengan pengelolaan yang baik pula. Batuan kapur mendominasi
dataran wilayah tersebut yang ikut mempengaruhi sosial dan budaya dalam
kehidupan

masyarakat

sekitar,

sehingga

banyak

sekali

dilakukan

penambangan batu kapur di wilayah ini.


Dalam penambangan terbuka, disain kestabilan lereng merupakan salah
satu permasalahan dan tantangan utama dalam setiap perancangan dan
operasi penambangan. Hal tersebut memerlukan pengetahuan yang khusus
tentang parameter atau karakteristik batuan yang seringkali sangat kompleks
dan bervariasi. Pemahaman aspek praktis dalam implementasi desain juga
dibutuhkan (Wyllie, D.C., and Christopher W. Mah, 2004).
Tujuan umum dari disain penambangan terbuka adalah memperoleh
konfigurasi penggalian yang optimum, baik dalam konteks keamanan,
pengambilan bahan tambang dan pengembalian modal. Investor dan operator
tambang mengharapkan desain lereng untuk membangun dinding lereng akan
selalu stabil sampai umur penambangan terbuka berlangsung. Karena itu
ketidakstabilan lereng harus dikelola secara serius dari lereng tunggal hingga
keseluruhan lereng (Wyllie, D.C., and Christopher W. Mah, 2004).
Tingkat kestabilan pada lereng sangatlah penting dipastikan dalam
penambangan terbuka untuk meminimalkan resiko yang berhubungan dengan
keselamatan tenaga kerja dan peralatan serta resiko ekonomi terhadap
cadangan galian tambang. Seperti pada Gambar 1.1, pembuatan desain lereng

merupakan masukan yang sangat penting dalam mendesain penambangan


terbuka pada setiap tahapan evaluasi penentuan cadangan mineral dari konsep
desain awal hingga desain dalam jangka pendek sampai jangka panjang
operasi penambangan terbuka. (Kliche, C.A, 1999)
Dalam penambangan terbuka, disain lereng dan kestabilannya telah
dilakukan berdasarkan evaluasi karakteristik tipe batuan, struktur geologi,
dan kondisi air tanah bawah permukaan. Penentuan kestabilan lereng ini juga
menggunakan

rerata

dari

keseluruhan

informasi

di

atas

tanpa

mempertimbangkan variasi lokal geologi setempat dan pengaruh getaran


dinamis seperti: operasi kendaraan berat, kendaraan angkut, peledakan, dan
aktivitas regional kegempaan di lokasi penambangan. Akibat pengaruh
getaran dinamis pada batuan area penambangan dapat menyebabkan rekahan
dan retakan batuan, membuka existing discontinue batuan hingga
menyebabkan kelongsoran lereng galian. Dengan kata lain perhitungan
kestabilan lereng pada tambang terbuka menggunakan konsep statis. (Kliche,
C.A, 1999)
Mineral
awal
Tingkat
pekerjaan
Resiko
ekonomi

Pengambilan
tim ahli

Lingkungan
/politik
Menambah
tingkatan

Tinjau ulang

Desain
galian

Desain
tambang

Sumber
tambang

Abaikan

Meninjau

Terima

Berhenti

Gambar 1.1 Diagram alir pengembangan (Kliche, C.A, 1999)

Penelitian meliputi uji pengaruh pembasahan-pengeringan terhadap


karakteristik fisis, mekanis, dan dinamis batuan. Sample batuan diambil pada
setiap kedalaman pada lereng galian pertambangan. Analisa kandungan kimia
juga dilakukan pada semua batuan di lokasi studi, hasil analisa kimia ini dapat
digunakan sebagai gambaran awal kekuatan batuan.
Penelitian ini dapat diaplikasikan dalam melakukan monitoring dan
evaluasi kondisi kestabilan galian pertambangan yang selama ini dilaksanakan
sehingga kelongsoran badan galian di penambangan terbuka batu kapur akibat
perubahan getaran dinamis dapat dihindari.

1.2

Perumusan dan Batasan Masalah

1.2.1 Perumusan Masalah


Permasalahan di dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana

pengaruh

pembasahan

dan

pengeringan

terhadap

perubahan parameter sifat fisik batuan yang antara lain: kadar air (w),
angka pori (e), dan derajat kejenuhan (Sr) pada kondisi kadar air awal
(initial) lapangan.
2. Bagaimana pengaruh pembasahan dan pengeringan batuan terhadap
perubahan tegangan air pori negatif, sifat mekanis, sifat kimiawi, dan
sifat dinamis pada kondisi kadar air awal (initial) lapangan.
3. Bagaimana pengaruh akibat adanya beban dinamis kendaraan
pertambangan yang dimodelkan dengan bantuan program Plaxis
terhadap kestabilan lereng galian.
4. Bagaimana pengaruh adanya kegempaan terhadap kestabilan lereng di
penambangan kapur terbuka yang dimodelkan dengan bantuan
program Plaxis.

1.2.2 Batasan Masalah


Pembahasan dalam penelitian ini dibatasi sebagai berikut:
1. Area penambangan terbuka difokuskan pada penambangan batu kapur
di Kab. Jember (Desa Puger), Kab. Gresik (Desa Gosari Kec. Ujung
Pangkah) dan Kab. Bangkalan (Desa Socah).
2. Percobaan ini adalah percobaan laboratorium dimana benda uji yang
digunakan dalam penelitian ini adalah batu kapur yang diambil dari
daerah Kab. Gresik, Kab. Jember dan Kab. Bangkalan.
3. Sample batuan diambil pada pada sisi tepi galian atau pada dindingdinding galian lereng sebanyak 10 sample per kedalaman. Kedalaman
galian yang diambil sample batuan sampai dengan 15 m dengan
dimensi batuan 25 cm x 9 cm x 7 cm.
4. Benda uji dikondisikan kadar airnya dengan proses pengeringan dan
pembasahan. Proses pengeringan dilakukan dengan mengurangi kadar
air benda uji hingga menjadi 25 %, 50 %, 75 % dan 100 % dari kadar
air awal (initial). Proses pembasahan dilakukan dengan cara
menambahkan air ke dalam benda uji, hingga kadar air benda uji
menjadi ; wi + 25 % (wsat wi), wi + 50 % (wsat wi), wi + 75 % (wsat
wi) dan wi + 100 % (wsat wi). wi adalah kadar air asli lapangan dan
wsat adalah kadar air dalam kondisi jenuh.
5. Kuat tekan dilakukan dengan pengujian Versa Tester (UCS), dimana
dilakukan pada batuan asli (batuan yang telah melalui proses
pembasahan dan pengeringan).
6. Pengukuran tegangan air pori negatif (suction), dilakukan dengan
menggunakan kertas filter type Whatman No. 42.
7. Nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam () ditentukan dari tabel
korelasi nilai rating pada sistem rock mass rating (Bieniawski, 1989).
8. Alat yang digunakan untuk menentukan properti dinamik batuan
adalah dengan Tes Elemen Bender di laboratorium Instrumental
Elektronika, Jurusan Fisika MIPA, ITS, Surabaya. Benda uji untuk Tes

Elemen Bender berbentuk silinder, berdiameter 4 cm dan tinggi 3,0


cm.
9.

Alat yang digunakan untuk menentukan tingkat keausan batuan adalah


dengan alat uji yang dirangkai sendiri sesuai peraturan ASTM D464404 di laboratorium Mekanika Tanah, Jurusan Teknik Sipil, ITS,
Surabaya.

10. Perhitungan kestabilan lereng pada tambang terbuka ini dilakukan


dengan menggunakan konsep angka keamanan (safety factor) dengan
menggunakan program Plaxis 2D.
11. Asumsi pemodelan lereng batuan adalah homogen dan tanpa retakan,
dimana

definisi

sifat

homogen

adalah

mengasumsikan

sifat

karakteristik fisis dan mekanis batuan pada area penambangan adalah


sama, baik pada permukaan maupun sampai sisi dasar galian.
12. Pemodelan gempa dilakukan dengan bantuan program Plaxis 2D.
13. Tidak melakukan uji dinamis kendaraan pertambangan dilapangan.
14. Beban kendaraan dimodelkan sebagai beban terpusat.
15. Asumsi desain pemodelan galian akibat pengaruh hujan adalah dengan
merubah parameter berat volume unsaturated mendekati saturated.
16. Parameter batuan untuk input program Plaxis diambil dari nilai ratarata, yakni dari permukaan galian sampai kedalaman -15 meter.
17. Tidak menganalisa dari segi biaya.
1.3 Tujuan
Dari hasil perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh pembasahan dan pengeringan terhadap
parameter sifat fisik batuan yang antara lain: kadar air (w), angka pori
(e), derajat kejenuhan (Sr) pada kondisi kadar air awal (initial)
lapangan.
2. Untuk mengetahui pengaruh pembasahan dan pengeringan batuan
terhadap perubahan tegangan air pori negatif (suction), sifat mekanis,
sifat kimiawi, dan sifat dinamis pada kondisi kadar air awal (initial)
lapangan.

3. Untuk mengetahui angka keamanan (safety factor) terhadap kestabilan


lereng galian akibat adanya aktivitas kendaraan berat pertambangan
yang telah dimodelkan dengan program Plaxis.
4. Untuk mengetahui angka keamanan (safety factor) terhadap kestabilan
lereng di penambangan kapur terbuka akibat adanya kegempaan yang
telah dimodelkan dengan program Plaxis.
1.4 Manfaat
Apabila tujuan tersebut dapat terjawab dengan baik maka hasil tersebut
akan sangat bermanfaat untuk dapat diaplikasikan dalam melakukan monitoring
dan evaluasi kondisi kestabilan lereng yang selama ini dilaksanakan sehingga
kelongsoran lereng di penambangan terbuka batu kapur akibat perubahan getaran
dinamis dapat dihindari.