Anda di halaman 1dari 17

Deri Andika Bangun

13713014

LAPORAN PRAKTIKUM
LABORATORIUM TEKNIK MATERIAL I
MODUL F UJI IMPAK
Oleh :
Nama

: Deri Andika Bangun

NIM

: 13713014

Kelompok

: 6 (enam)

Anggota (NIM) :

:M. Anugrah Perdana (13712013)


Deri Andika Bangun (13713014)
Riansyah Fikri P.A (13713038)
Khalis Khalief M (13713036)
Intan Khalida Lukman (137130

Tanggal Praktikum

: 04 Maret 2015

Tanggal Penyerahan Laporan

: 10 Maret 2015

Nama Asisten (NIM)

: Hadi Winata (13711032)

LABORATORIUM METALURGI DAN TEKNIK MATERIAL


PROGRAM STUDI TEKNIK MATERIAL
FAKULTAS TEKNIK MESIN DAN DIRGANTARA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

Deri Andika Bangun


13713014

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sifat mekanik material timbul ketika suatu material menerima gaya
fisika atau beban. Dalam perencanaan material di industri permesinan,
salah satu aspek yang diperhatikan adalah kemampuan material menerima
beban kejut atau beban kecepatan tinggi. Informasi mengenai kekuatan
material saja tidak cukup untuk memprediksi kegagalannya, karena pada
kondisi tertentu, sebuah material yang biasanya dikenal ulet bisa tiba-tiba
gagal dengan deformasi plastis yang sangat kecil atau patah getas. Uji
mekanik yang digunakan untuk menentukan sifat material tersebut disebut
uji impak.
Uji impak dilakukan pada keadaan yang ditentukan sedemikian
rupa agar dapat merepresetasikan kasus kondisi tersebut, yaitu dilakukan
(1.) Uji pada berbagai macam termperatur, terutama temperature rendah,
(2.) Beban diberikan pada kecepatan pembebanan dan dengan regangan
tinggi. (3.) Beban yang diberikan berupa tegangan triaksial,
(direpresentasikan dengan adanya takikan).
2. Tujuan Praktikum
1. Menentukan temperature transisi material
2. Mengetahui pengaruh struktur kristal terhadap harga impak

Deri Andika Bangun


13713014

BAB II
TEORI DASAR
Pengujian impak digunakan untuk menganalisa kegagalan material berupa
patahan getas atau ulet. Perbeedaan tipe patahan berkaitan dengan deformasi yang
dialami material. Patah getas atau ulet dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu;
a. Tegangan tiga sumbu
b. Temperature rendah
c. Kecepatan pembebanan
Untuk membuat tegangan tiga sumbu maka specimen uji impak dibuat
dengan takikan (notch). Pada alat uji impak terdapat pendulum yang akan
memukul specimen dengan kecepatan tertentu. Untuk mengetahui pengaruh
temperature maka pengujian dapat dilakukan pada temperature yang berbedabeda.
Pengujian impak yang dilakukan pada praktikum ini menggunakan standar
pengujian impak ASTM E23.Ada dua metode pengujian yaitu metode Charpy dan
Izzod. Metode Charpy luas digunakan di Amerika Serikat dan metode Izzod
banyak digunakan di Eropa. Perbedaan antara kedua metode ini ialah :
a. Bentuk specimen
b. Cara peletakan specimen pada alat uji impak
c. Skala energy yang diserap oleh specimen
Prinsip pengujian impak ialah mengukur perbedaan energy yang dimiliki
pendulum dan energy yang diserap oleh material . Perbedaan energy ditandai
dengan perbedaan tinggi pendulum sebelum dan sesudah mengenai specimen.
Ketika pendulum mencapai ketinggian h maka pendulum mempunyai energy
potensial EP=m.g.h . Spesimen akan mnyerap energy kinetic pendulum dan
menyebabkan energy pendulum menjadi berkurang dan ketinggian menjadi h .
perbedaan ketinggian ini akan terbaca di skala sebagai energy yang diserap
material. Prinsip pengujian impak

Gambar 1.
Prinsip
pengujian
impak

Deri Andika Bangun


13713014

ini sama

baik metode Charpy atau Izzod.


Spesimen yang digunakan pada

pengujian

impak ialah specimen yang


mempunyai notch. Pada metode
Charpy dan Izzod terdapat perbedaan
dalam penggunaan specimen.

Gambar 2.
Spesimen
uji impak
Charpy dan
peletakan

Gambar 2.
Spesimen
uji impak
Izzod dan
Perbedaan cara peletakan specimen pada alat uji impak membuat
peletakan
perbedaan skala energy antara Charpy dan Izzod.
Pada metode Charpy, setiap tumpuan spesimen akan mempunya gaya reaksi
sebesar setengah ( F) dari beban impak yang diterima spesimen (F).

Deri Andika Bangun


13713014

Pada metode Izzod, tumpuan spesimen akan


menerima

gaya sebesar beban impak yang diterima spesimen


(F).

Kedua

perbedaan tersebut membuat skala energi pada metode Izzod


mempunyai besar dua kali daripada metode Charpy.

Hal ini pula yang menyebabkak metode Charpy lebih efektif karena rentang
energi yang dapat diukur dapat lebih besar daripada metode Izzod dan gaya reaksi
pada alat uji impak juga lebih kecil.
Kedua perbedaan tersebut membuat skala energi pada metode Izzod
mempunyai besar dua kali daripada metode Charpy. Hal ini pula yang
menyebabkak metode Charpy lebih efektif karena rentang energi yang dapat
diukur dapat lebih besar daripada metode Izzod dan gaya reaksi pada alat uji
impak juga lebih kecil.
Beberapa hal yang mempengaruhi temperature transisi dari sebuah material
adalah :
1.
2.
3.
4.

Komposisi dari material yang diuji


Ukuran butir dari material yang diuji
Struktur dari Kristal material yang diuji
Orientasi Butir material yang diuji.

Sebagai contoh efek komposisi material mempengaruhi temperature transisi


adalah sebagai berikut :

Deri Andika Bangun


13713014

Saat spesimen diberikan beban


sebanyak 20 Joule saat specimen
baja tersebut ditambahkan 0,1%
carbon,
transisinya

maka
akan

temperature
bertambah

sebanyak 14 derajat celcius. Pada


Manganese setiap kenaikan 0,1%
karbon pada 20 J Energi, akan
mengurangi temperature transisi
sebanyak 5 derajat celcius. Salah
satu contoh lain adalah komposisi antara besi dan oksigen. Saat diberikan oksigen
maka takikan akan menjadi menguat. Penambahan 0,001% oksigen menjadi
0.057% oksigen dari besi tersebut bisa mengubah temperature transisi dari 15
derajat celcius menjadi 340 derajat celcius.
Besarnya butir juga bisa mempengaruhi temperature transisi dari sebuah
specimen. Hal ini dikarenakan butir yang lebih besar bisa menyerap energy lebih
banyak dari pada butir yang lebih kecil melalui vibrasi. Sebagai contoh
penambahan satu astm unit besar butir bisa mengurangi 16 derajat celcius
temperature transisi dari baja ringan.

Deri Andika Bangun


13713014

Kurva diatas adalah kurva dari berubahnya temperature transisi


dikarenakan berubahnya orientasi butir dari specimen. Hal ini kembali
dipengaruhi oleh besar butir dari specimen tersebur. Saat specimen sedang di
orientasikan pada arah longitudinal maka besar butir akan membesar.

Deri Andika Bangun


13713014

Hal terakhir yang mempengaruhi temperature transisi adalah struktur


Kristal dari specimen yang diuji. FCC (Face Centered Cubic) tidak mempunyai
temperature transisi dan sangat kuat strukturnya. Hal ini dikarenakan FCC
mempunyai struktur Kristal yang mempunyai bidang selip yang lebih sedikit
dibandingkan dengan struktur BCC (Body Centered Cubic). Bidang selip sangat
berpengaruh terhadap ketangguhan dari material itu sendiri.
Skema dari pengujian impak ini menggunakan prinsip kekekalan energi.
Dengan menghitung energi potensial maksimum saat pendulum berada di
ketinggian maksimum, serta perubahannya menjadi energi kinetik saat bergerak
menumbuk specimen, dan sisa energi kinetik yang ada untuk menggerakkannya
ke ketinggian maksimum pendulum. Sehingga bisa diukur berapa yang diserap
dengan cara membandingkan ketinggian maksimum pendulum setelah menumbuk
specimen dengan ketinggian sebelum bergerak. Untuk mengukurnya kita
menghitung sudut saat jatuh dan sudut saat mengangkat. Dalam pengujian yg kita
lakukan dengan metode charpy, specimen ditaruh di tumpuan 2 titik dan
menumbuk nya tepat di belakang notch.

Deri Andika Bangun


13713014

Setelah melakukan percobaan, sifat mekanik yang dapat kita amati dari uji impak
adalah ketangguhan (toughness) dari material tersebut. Nilai ketangguhan yang
didapat berasal dari energy yang terserap oleh material tersebut sampai patah.
Nilai dari strain rate juga dapat memengaruhi patahan. Keuletan (ductility) adalah
sifat mekanik lain yang dapat kita amati. Keuletan dari material tersebut dapat
dilihat dari bentuk patahan yang bias kita amati pada permukaan patahan. Patahan
yang dapat terlihat dibagi menjadi 3 bentuk patahan, yaitu fibrous, granular, dan
mixed.

Dari sifat mekanik yang dapat diperoleh, yang bersifat kuantitatif adalah
toughness, dan yang bersifat kualitatif adalah keuletan.

Deri Andika Bangun


13713014

BAB III
DATA PERCOBAAN

Tabel data Alumunium


Spesimen

Panjang

Lebar

Tinggi

Notch

Energi (J)

Temperatur

1
2
3
4
5

(cm)
63.63
61.6
62.1
63.9
63.55

(cm)
9.8
9.45
9.8
9.55
9.55

(cm)
9.8
9.5
9.8
9.6
9.5

(cm)
8.067
7.75
8
7.95
8

54
25
58
21
20

( )
26.1
40
80
-40
-20

Energi (J)

Temperatur

Tabel data baja


Spesimen

Panjang

Lebar

Tinggi

Notch

(cm)

(cm)

(cm)

(cm)

63.63

9.8

9.8

8.067

31

26.1

61.6

9.45

9.5

7.75

64

40

62.1

9.8

9.8

72

80

63.9

9.55

9.6

7.95

-40

63.55

9.55

9.5

10

-80

Perhitungan Harga Impak


HI=

energi impak (J )
luas penampang notch(mm2)

Contoh : Alumunium no.1

( )

Deri Andika Bangun


13713014

HI=

54 J
(8.067 x 9.8)(mm2 )
HI=0.683055

Tabel data harga impak alumunium


Spesime
n

Leba
r
(cm)

Tingg
i (cm)

Notc
h
(cm)

Energ

Temperatur

i (J)

e()

9.8

9.8

8.067

54

26.1

9.45

9.5

7.75

25

40

9.8

9.8

58

80

9.55

9.6

7.95

21

-40

9.55

9.5

20

-20

Luas
notch
2

(mm )

HI
(J/mm2)

79.05

0.6830

66
73.23

55
0.3413

75

55
0.7397

78.4
75.92

96
0.2765

25

98
0.2617

76.4

Tabel data harga impak baja


Spesime
n

Leba
r
(cm)

Tingg
i (cm)

Notc
h
(cm)

Energ

Temperatur

i (J)

e()

9.8

9.8

8.067

31

26.1

9.45

9.5

7.75

64

40

9.8

9.8

72

80

9.55

9.6

7.95

-20

9.55

9.5

10

-40

Luas
notch

HI

(mm2)

(J/mm2)

79.05

0.3921

66
73.23

24
0.8738

75

69
0.9183

78.4
75.92

67
0.0526

25

85
0.1308

76.4

Deri Andika Bangun


13713014

Harga Impak pada berbagai temperatur


Alumu

Harga Impaknium
Baja

Temperatur

Patahan Material

Baja No.1

Baja No.2

Baja No.3

Baja No.4

Baja No.5

Alumunium
No.1

Alumunium
No.2

Alumunium
No.4

Alumunium
No.5

Deri Andika Bangun


13713014

BAB IV
ANALISIS DATA
Dari table Harga Impak vs temperature dapat dilihat kurva temperature
transisi baja lebih curam daripada alumunium. Pada kurva harga impak tersebut
terdapat anomaly pada kurva harga impak alumunium. Pada suhu 40 harga
impak alumunium bernilai sangat kecil ( lebih kecil dari 26.1 ) . Nilai energy
impak ini kemungkinan besar disebabkan oleh pembacaan skala yang tidak tepat.
Pada alat uji impak, skala energy charpy bertimpa dengan skala lain yang nilainya
hampir 2 kali lipat dari skala Charpy. Jika menggunakan asumsi tersebut, maka
kurva harga impak yg mungkin terjadi ialah sebagai berikut:

Kurva Harga Impak asumsi


1

harga impak

Alumunium

0.5

Baja

0
-100

100

temperatur

Selain kesalahan pembacaan skala, hal yang berbeda antara kurva dan teori
ialah baik di kedua material, harga impak di temperature -40 lebih besar
daripada harga impak di temperature -20 . Hal ini dapat dijelaskan karena
perbedaan energy impak yang kecil (selisih energy < 10 J sehingga galat dapat
terjadi.
Dari kurva yang telah didapat (bukan kurva asumsi) , terlihat bahwa pada
suhu tinggi energy impak yang dapat ditahan baja lebih besar daripada
alumunium. Tetapi pada temperature rendah, alumunium lebih banyak menahan
energy daripada baja. Fenomena ini disebabkan karena baja mempunyai
ketangguhan yang besar (lebih besar daripada alumunium), maka pada suhu tinggi
baja dapat menahan energy impak lebih besar daripada alumunium. Tetapi karena

Deri Andika Bangun


13713014

alumunium bersifat lebih ulet dari baja, maka pada suhu rendah alumunium dapat
menahan energy lebih besar.
Temperature transisi kedua material didapat dari kurva asumsi. Hal ini
disebabkan di kurva yng sebenarnya, alumunium menunjukkan ketidakwajaran
yang tidak bisa terjadi, yaitu adanya perbedaan harga impak yang tidak konsisten
terhadap temperature. Temperatur transisi baja lebih kecil daripada alumunium.
Artinya material baja dapat berubah sifat dari patah ulet ke patah getas walaupun
penurunan temperature yang sedikit ( antara temperature 20 - 40 ).
Fenomena ini konsisten dengan teori bahwa temperature transisi baja lebih kecil
daripada alumunium. Secara teori, alumunium tidak mempunyai temperature
transisi, tetapi dari kurva didapat alumunium mempunyai temperature transisi
antara -20 - 20 . karena rentang temperature yang besar, kesalahan ini dapat
diakibatkan karena dari rentang suhu tersebut tidak ada data lain yang dimiliki
sehingga pada grafik menunjukkan seolah-olah terdapat temperature transisi pada
material alumunium.
Dari grafik diatas terlihat bahwa alumunium sebagai logam yang memiliki
struktur kristal FCC memiliki termperatur transisi yang lebih besar dan sebaliknya
pada baja sebagai logam BCC mempunyai temperature transisi yang lebih kecil.

Deri Andika Bangun


13713014

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Material baja mempunyai temperature transisi yang kecil dibandingkan
dengan alumunium. Temperature transisi baja berada pada rentang antara
temperatur 20 - 40 sedangkan pada alumunium temperature transisi
berada antara -20 - 20 .
2. Material dengan struktur kristal FCC (alumunium) mempunyai
temperature transisi yang lebih besar daripada material yang mempunyai
struktur kristal BCC (baja).

Saran
Setiap material mempunyai sifat yang berbeda-beda pada temperature
tertentu atau pada pembebanan yang berbeda. Pengujian impak menunjukkan sifat
material ini dapat diketahui dengan berbagai variasi percobaan. Dalam memilih
material terlebih yang bekerja pada suhu yang rendah, sifat material dan jenih
patahan hendaknya sangat diperhatikan karena berdampak sangat besar pada
performa material ketika digunakan.

Deri Andika Bangun


13713014

DAFTAR PUSTAKA
1. American Standard Testing and Materials. 2005. Volume 03 Section E23
Standard Test Methods for Notched Bar Impact Testing of Metallic
Materials. USA
2. Callister, William D. 2011. Materials Science and Engineering : an
Introduction. 8th edition. USA : John Wiley & Sons, Inc.
3. Dieter, G.E. 1988. Mechanical Metallurgy, SI Metric Edition. McGraw
Hill

Deri Andika Bangun


13713014

LAMPIRAN
Tugas
Pengaruh Komposisi terhadap Temperatur Transisi

Salah satu factor yang mempengaruhi nilai temperature transisi ialah komposisi
material. Penambahan atau pengurangan kadar karbon dan mangan menghasilkan
perubahan temperature transisi yang signifikan. Sebagai contoh pada energy 20 J
untuk metoda Charpy temperature transisi bertambah 14 C setiap penambahan
0.1% karbon. Tetapi setiap penambahan 0.1% mangan, temperature transisi
berkurang sekitar 5C .
Bertambahnya kadar karbon juga berdampak pada energy maksimum yang dapat
diterima material dan bentuk kurva temperature transisi.

Selain karbon dan mangan, unsur lain yang berpengaruh pada temperature transisi
ialah fosfor, nikel, silicon dan molybdenum.

Anda mungkin juga menyukai