Anda di halaman 1dari 2

1.

Fibrosis kistik
Fibrosis kistik adalah kelainan genetic yang bersifat resesif heterogen dengan
gambaran patobiologik yang mencerminkan mutasi pada gen regulator transmembrana
fibrosis kistik
Dasar genetika. Fibrosis kistik merupakan penyakit autosomal resesif akibat
mutasi gen yang terletak pada kromosom 7. Mutasi gen tersebut menyebabkan hilangnya
fenilamin pada rantai asam amino 508 gen fibrosis kistik, yang dikenal sebagai regulator
transmembrana fibrosis kistik (CFTR). Prefalensinya bervariasi menurut asal etnik
populasi.
Manifestasi klinis dari fibrosis kistik merupakan gambaran dari kelainan
multisystem, walaupun keterlibatan paru adalah dominan, dan sering dihubungkan
dengan kematian pada pasien ini. Pasien mengeluh batuk yang kronik dan berdahak, dan
sering berulang, menggambarkan infeksi saluran nafas yang memburuk. Selama fase
eksaserbasi ini, batuk menjadi lebih parah dan dahak makin banyak dan purulen dan
kadang-kadang bercampur darah. Pada keadaan ini juga sering dijumpai anoreksia, berat
badan menurun dan demam. Faal paru terganggu dan dijmpai sesak nafas. Akhirnya
keadaan ini akan menyebabkan hipertensi paru dan kor pulmunal, diikuti gagal nafas dan
kematian.
Pada foto toraks menunjukan hiperinflasi, dengan diafragma yang mendatar.
Dinding bronkus menebal, yang dalam potongan melintang terlihat seperti cincin, dan
dalam posisi longitudinal terlihat seperti garis yang parallel. Pada penyakit yang lebih
lanjut, perubahan-perubahan kistik akan dijumpai pada lobus atas. Jika kista penuh berisi
pus, gabaran kista akan terlihat sebagai nodul.
2. Abses paru
Bermacam-macam factor yang berinteraksi dalam terjadinya abses paru seperti
daya tahan tubuh dan tipe dari mikroorganime pathogen yang menjadi penyebab.
Terjadinya abses paru biasanya melalui dua cara yaitu aspirasi dan hematogen. Yang
paling sering dijumpai adalah kelompok abses paru bronkogenik yang etrmasuk akibat
aspirasi, stasis sekresi, benda sing, tumor dan striktur bronchial. Keadaan ini
menyebabkan obstruksi bronkus dan terbawanya organisme virulen yang akan
menyebabkan terjadinya infeksi pada daerah distal obstruksi tersebut. Abses jenis ini
banyak terjadi pada pasien bronkitis kronik karena banyaknya mucus pada salran nafas
bawahnya yang merupakan kultur media yang sangat baik bagi organisme yang
teraspirasi.
Secara hematogen yang paling sering terjadi adalah akibat septikemi atau
sebagian fenomena septic emboli, sekunder dari focus infeksi dari bagian lain tubuhnya
seperti tricuspid valvule endocarditis. Penyebaran hematogen ini umumnya akan

erbentuk abses multiple dan kecil-kecil adalah lebih sulit dari abses single walaupun
ukrannya besar.
3. Pneumonia
Pathogenesis pneumoni mencakup interaksi antara mikroorganisme penyebab
yang masuk melalui berbaga jalan. Dengan daya tahan tubuh pasien. Kuman mencapai
alveoli melalui inhalasi, aspirasi kuman orofaring, penyebarab hematogen dari focus
infeksi lain, atau penyebaran langsung dari lokasi infeksi. Pada again saluran nafas
bawah, kuman mengadapi daya tahan tubuh berupa system pertahanan mukosilier, daya
tahan seluler makrofag alveolar, limfosit bronchial, dan neutrofil. Juga daya tahan
humoral IgA dan IgG dari sekresi bronchial
Terjadinya pneumonia tergantung pada virulensi mikroorganisme, tingkat
kemudahan dan luasnya daerah paru yang terkena serta penurunan daya tahan tubuh.
Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan imunitas yang jelas. Namun
pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia didapati adanya 1 atau lebih
penyakit dasar yang menggagu daya tahan tubuh. Factor predisposisi antara lain berupa
kebiasaan meroko, pasca infeksi virus, penyakit jantung kronik diabetes mellitus,
keadaan imunodefisiensi, kelainan atau kelemahan struktur organ dada dan penurunan
kesadaran. Juga adanya tndakan invasive seperti infus, intubasi, trakeostomi, atau
pemasangan ventilator. Perlu diteliti factor lingkinga khsusnya tempat kediaman misanya
dirumah jompo, penggunaan antibiotic dan obat suntik IV, serta keadaan alkoholik yang
meningkatkan kemungkinan terinfeksi kuman gram negatife. Anamnesis epidemiologi
haruslah mencakup keadaan linkungan pasien, tempat yang dikunjungi dan kotak dengan
orang atau binatang yang menderita penyakit yang serupa

Anda mungkin juga menyukai