Anda di halaman 1dari 39

POLIP NASI year

Polip nasi

pembimbing :
dr. H. EDY RIYANTO B., Sp.tht
dr. Ismi cahyadi

DISUSUN OLEH :
Debby henameliza
04310019
BAGIAN ILMU KESEHATAN THT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WALED
KABUPATEN CIREBON
2011

KATA PENGANTAR

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 1

POLIP NASI year


Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya makalah
dengan judul polip nasi dapat saya selesaikan penyusunannya dalam rangka
memenuhi salah satu tugas saya sebagai coass yang sedang menjalani kepaniteraan
klinik di bagian THT di RSUD WALED tahon 2011.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai waktunya. Makalah ini
masih jauh dari sempurna,oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat
untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Cirebon , Januari 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 2

POLIP NASI year


Halaman
Kata pengantar.......................................................................................................2
Daftar isi..................................................................................................................3
Status THT..............................................................................................................4
Polip Nasi
BAB I
Pendahuluan..16
BAB II
Anatomi Dan Fisiologi Hidung..18
BAB III
Definisi.............................................................................................................25
Histopatologi polip nasi..26
Etiologi..............................................................................................................27
Patofisiologi......................................................................................................30
Gejala Klinis.......................................................................................................30
Diagnosa32
Diagnosis banding..............................................................................................34
Penatalaksanaan.................................................................................................35
Prognosis..........................................................................................................37
Kesimpulan........................................................................................................39
Daftar Pustaka...................................................................................................40

STATUS PASIEN

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 3

POLIP NASI year


I.

Identitas
Nama

: Tn.T

Usia

: 33 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jangkuang

Pendidikan

II.

: SD

Pekerjaan

: Buruh / Kuli Bangunan

Agama

: Islam

Berat Badan

: 49 Kg

Penghasilan

: 30.000 / hari (UMR)

Tanggal pemeriksaan

: 6 Januari 2011

Anamnesis
Keluhan Utama :
Hidung tersumbat
Riwayat penyakit sekarang :
Os datang ke Rumah Sakit Waled di bagian poli THT hari senin tanggal 6 januari
2011 jam 10.00 WIB. Os mengeluh hidung tersumbat. Pasien mengeluh hidung tersumbat
bertambah parah sejak 1 minggu yang lalu. Sumbatan di hidung pasien menetap dan tidak
hilang timbul. Pasien mengeluhkan teraba ada benjolan di hidung sebelah kanan
berbentuk lonjong berwarna pucat. Selain itu Pasien sering pilek. Saat pilek sukar
membuang ingus,karena itu pasien harus menutup mulutnya untuk membuang ingus.
Ingus berwarna jernih keputihan,sedikit kental,tidak berbau busuk dan tidak berdarah.
Pasien

pernah

tertelan

lendir

dan

terasa

ada

cairan

mengalir

ke

tenggorokkan,cairan dirasa pasien berasal dari hidung. sering merasa ingin buang dahak
setiap hari lebih dari 5 kali dalam sehari. Jika menunduk wajahnya terasa sakit terutama
disekitar pipi. Penciuman pasien berkurang. Pasien merasa bindeng. Saat tidur pasien
mendengkur dan terkadang sulit tidur dan ketika bangun tidur pasien sering sakit kepala.
Semua keluhan tersebut pasien rasakan sejak 8 bulan yang lalu. Awalnya gejala yang
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 4

POLIP NASI year


dirasakan ringan,sehingga pasien merasa cukup sehat dengan hanya beristirahat tanpa
harus berobat. Tetapi lama-kelamaan keluhan terasa memberat dan menganggu
aktivitasnya sehari-hari.
Pasien mengatakan dulu pernah mengalami kecelakaan kerja. Pasien terjatuh dari
bangunan setinggi 3 meter dan membentur hidungnya lebih kurang 14 tahun yang lalu.
Riwayat sakit gigi tidak ada,os juga tidak pernah mengeluh mimisan. Os tidak
pernah mengalami gangguan menelan. Riwayat sakit telinga disertai keluar cairan dari
telinga tidak ada dan riwayat gangguan pendengaran pasien sangkal. Riwayat alergi
seperti gatal-gatal setelah minum obat tertentu tidak ada. Riwayat menggunakan obat
aspirin disangkal.
Pasien jarang tidur di rumah,karena pasien lebih sering di proyek bangunan. Jadi
lebih sering tidur di luar dan di lantai. Pasien tidak pernah memiliki riwayat pengobatan
sebelumnya. Pasien menyangkal memiliki asma,dan keluarga pasien tidak ada yang
memiliki penyakit seperti yang di alami pasien.
III.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital: TD

: 120/80mmHg
N

: 90x/menit

: 19x/menit

: 37,5oC

STATUS GENERALIS
Kepala

: Mata : -

Leher

konjungtiva tidak anemis


sklera tidak ikterik

: JVP tidak meningkat


KGB tidak teraba membesar

Mulut

: Lihat status lokalis

Thorak
Paru

I : Bentuk dan gerak simetris

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 5

POLIP NASI year


P : vocal fremitus kanan = kiri ( dbn )
P : Sonor semua lapang paru, ( dbn )
A : vesikuler dikedua lapang paru, wheezing ( - / - ), ronkhi ( - / - )
jantung

I : ictus cordis tidak terlihat


P : ictus cordis teraba
P : Batas jantung kanan

: ICS IV linea parasternal dextra

Batas jantung kiri

: ICS V linea midclavicula sinistra

Batas jantung atas

: ICS II linea sternalis sinistra

Batas pinggang jantung

: ICS III linea parasternalis sinistra

A : BJ I, II reguler murni
Abdomen

I : datar , lembut
P : tidak ada nyeri tekan pada 4 kwadran
Hepar : tidak teraba Pembesaran
Lien

: tidak teraba Pembesaran

Ginjal : tidak teraba ballotement pada kedua ginjal


Ekstremitas

: Dalam batas normal, akral hangat, CRT < 2 detik.

Neurologis

: Refleks fisiologis +/+


Refleks patologis -/STATUS LOKALIS
Telinga

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 6

POLIP NASI year


Bagian

Kelainan

Preaurikula

Aurikula

Retroaurikula

CAE Tes

Auris

Kongenital

Dextra
-

Sinistra
-

Radang & tumor

Trauma
Kongenital

Radang & tumor

Trauma
Edema

Hiperemis

Nyeri tekan

Sikatriks

Fistula

Fluktuasi
Kongenital

Kulit Dextra

Auris

Sinistra
Normal

Pendengaran
Normal
dapat mendengar dan penderita dapat mendengar dan
Test bisik penderita
Sekret
mengulang
Serumen suara pemeriksa mengulang suara pemeriksa dengan
+
+
dengan berbisik
berbisik
Edema
Tes Rinne
+
- +
Jaringan Tidak ada lateralisasi, kanan = kiri
Tes Weber
Tes
Sama
dengan pemeriksa
Sama dengan
pemeriksa
granulasi
Schwabach

Warna

Putih

Putih keabuan

Intak

keabuan

Intak

Intak

+
Nasal

Membran Timpani
Refleks cahaya
Pemeriksaan

Hidung

Bentuk & Ukuran

Dextra
Dbn

Sinistra
Dbn

Rhinoskopi

Mukosa

Hiperemis,edema

dbn

anterior

Sekret

+,secret mukoid

Krusta

Concha inferior

hipertropi

Eutropi

Keadaan
Luar

Septum

Deviasi septum kanan ke kiri

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 7

POLIP NASI year

Rhinoskopi
posterior

Polip/tumor

Ada,konsistensi lunak

Tidak ada

Pasase udara

+/- kadang tersumbat

Mukosa

Hiperemis,edema

Koana

terbuka

terbuka

Sekret

+ di nasofaring

+ di nasofaring

Torus tubarius

tenang

tenang

Fossa rosenmuller

tenang

tenang

Adenoid

tidak membesar

tidak membesar

Post nasal drip

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 8

POLIP NASI year


Laring
Laring

Epiglotis

Tenang,masa (-)

(laringoskopi

Cartilago

Tenang (+/+),masa(-)

indirect)

aritenoid

Tenang (+/+),masa(-)

Plika ariepiglotis Tenang (+/+),masa(-)


Plika

Tidak ada kelainan (+/+)

vestibularis

Simetris

Plika vokalis

Terbuka

Fungsi gerak

Ditengah

Rima glotis
Cincin trakea

Mulut Dan Orofaring


Bagian
Mulut

Kelainan
Mukosa mulut

Keterangan
Normal

Lidah

Bersih, basah, gerakan normal kesegala arah


simetris

Palatum molle

tenang, tidak hiperemis, simetris

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 9

POLIP NASI year


Gigi geligi

8 7 6 5 4 3 2 1 | 1 2 3 4 5 6 7
8 7 6

5 4 3 2 1| 1 2 3 4 5 6 78

O = karies
Uvula

Simetris

Halitosis
Mukosa
Besar
Kripta :
Detritus :
Perlengketan

(-)
Hiperemis
T1 T1
Normal
(- /- )
(-/-)

Mukosa
Granula
Post nasal drip

Normal
Tidak ada
(+)

X= tanggal

Tonsil

Faring

Maksilofasial
Bentuk

: Simetris

Parese N.Kranialis

: Tidak ada

Sinus paranasal

sinus maksilaris

sinus frontal

Ka

Ka

Ki

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Ki
Page 10

POLIP NASI year


nyeri tekan

transluminasi

Leher
Kelenjar getah bening

: tidak ada pembesaran

JVP

: tidak meningkat

Massa

: tidak ada

IV.

Resume
Keluhan Utama :
Hidung tersumbat
Riwayat penyakit sekarang :
Os datang ke Rumah Sakit Waled di bagian poli THT hari senin tanggal 6 januari
2011 jam 10.00 WIB. Os mengeluh hidung tersumbat. Pasien mengeluh hidung tersumbat
bertambah parah sejak 1 minggu yang lalu. Sumbatan di hidung pasien menetap dan tidak
hilang timbul. Pasien mengeluhkan teraba ada benjolan di hidung sebelah kanan

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 11

POLIP NASI year


berbentuk lonjong berwarna pucat. Selain itu Pasien sering pilek. Saat pilek sukar
membuang ingus,karena itu pasien harus menutup mulutnya untuk membuang ingus.
Ingus berwarna jernih keputihan,sedikit kental,tidak berbau busuk dan tidak berdarah.
Pasien

pernah

tertelan

lendir

dan

terasa

ada

cairan

mengalir

ke

tenggorokkan,cairan dirasa pasien berasal dari hidung. sering merasa ingin buang dahak
setiap hari lebih dari 5 kali dalam sehari. Jika menunduk wajahnya terasa sakit terutama
disekitar pipi. Penciuman pasien berkurang. Pasien merasa bindeng. Saat tidur pasien
mendengkur dan terkadang sulit tidur dan ketika bangun tidur pasien sering sakit kepala.
Semua keluhan tersebut pasien rasakan sejak 8 bulan yang lalu. Awalnya gejala yang
dirasakan ringan,sehingga pasien merasa cukup sehat dengan hanya beristirahat tanpa
harus berobat. Tetapi lama-kelamaan keluhan terasa memberat dan menganggu
aktivitasnya sehari-hari.
Pasien mengatakan dulu pernah mengalami kecelakaan kerja. Pasien terjatuh dari
bangunan setinggi 3 meter dan membentur hidungnya lebih kurang 14 tahun yang lalu.
Riwayat sakit gigi tidak ada,os juga tidak pernah mengeluh mimisan. Os tidak
pernah mengalami gangguan menelan. Riwayat sakit telinga disertai keluar cairan dari
telinga tidak ada dan riwayat gangguan pendengaran pasien sangkal. Riwayat alergi
seperti gatal-gatal setelah minum obat tertentu tidak ada. Riwayat menggunakan obat
aspirin disangkal.
Pasien jarang tidur di rumah,karena pasien lebih sering di proyek bangunan. Jadi
lebih sering tidur di luar dan di lantai. Pasien tidak pernah memiliki riwayat pengobatan
sebelumnya. Pasien menyangkal memiliki asma,dan keluarga pasien tidak ada yang
memiliki penyakit seperti yang di alami pasien.
Hidung
Pemeriksaan
Keadaan

Bentuk & Ukuran

Nasal
Dextra
Dbn

Sinistra
Dbn

Luar

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 12

POLIP NASI year


Mukosa

Hiperemis,edema

dbn

Sekret

+,secret mukoid

Krusta

Concha inferior

hipertropi

Eutropi

Septum
Rhinoskopi
anterior

Rhinoskopi
posterior

Polip/tumor

Deviasi septum kanan ke kiri


Ada,konsistensi lunak

Tidak ada

Pasase udara

+/- kadang tersumbat

Mukosa

Hiperemis,edema

Koana

terbuka

terbuka

Sekret

+ di nasofaring

+ di nasofaring

Torus tubarius

tenang

tenang

Fossa rosenmuller

tenang

tenang

Adenoid

tidak membesar

tidak membesar

Post nasal drip

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 13

POLIP NASI year


Laring
Laring

Epiglotis

Tenang,masa (-)

(laringoskopi

Cartilago aritenoid

Tenang (+/+),masa(-)

indirect)

Plika ariepiglotis

Tenang (+/+),masa(-)

Plika vestibularis

Tenang (+/+),masa(-)

Plika vokalis

Tidak ada kelainan (+/+)

Fungsi gerak

Simetris

Rima glotis

Terbuka

Cincin trakea

Ditengah

Faring

Mukosa
Granula
Post nasal drip

Normal
Tidak ada
(+)

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 14

POLIP NASI year


V.

Diagnosis Kerja

Polip nasi dextra + sinusitis maxillaris kronik dextra +hipertropi concha +


septum deviasi

VI.

Usulan pemeriksaan :
1. darah rutin
2. radiologi : foto rotgen waters
3. Pemeriksaan nasoendoskopi

VII.

Penatalaksanaan
Konsultasi

: dokter spesialis penyakit THT

Medikamentosa

: kortikosteroid oral : dexametason 3 x 1 0,5 mg / tablet


Dekongestan : oral pseudoefedrin + cetirizine 2 x 1 tab / hari

Rencana Operasi : -Exterpasi polip by FESS ( Functional Endoscopic Sinus


Surgery )
-Septoplasty
-Konchotomi
VIII. Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functional

: ad bonam

BAB I
PENDAHULUAN
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 15

POLIP NASI year

Bila anda mengalami hidung tersumbat yang menetap dan semakin lama
semakin berat ditambah dengan ingus yang selalu menetes serta gangguan fungsi
penciuman, kemungkinan besar anda menderita polip hidung. Polip hidung terjadi
karena munculnya jaringan lunak pada rongga hidung yang berwarna putih atau
keabuan. Jaringan ini bisa diamati langsung dengan mata telanjang setelah lubang
hidung diperbesar dengan alat spekulum hidung.
Polip nasi merupakan salah satu penyakit yang cukup sering ditemukan di
bagian THT . Keluhan pasien yang datang dapat berupa sumbatan pada hidung yang
makin lama semakin berat. Kemudian pasien juga mengeluhkan adanya gangguan
penciuman dan sakit kepala. Untuk mengetahui massa di rongga hidung merupakan
polip atau bukan selain perlu dikuasai anatomi hidung juga perlu dikuasai cara
pemeriksaan yang dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosa lain. Di dalam
makalah ini akan dijelaskan mengenai anatomi, fisiologi hidung serta patofisiologi,
gejala klinis, pemeriksaan dan penatalaksanaan pada polip nasi.
Polip nasi sudah dikenal sejak 4000 tahun yang lalu. Polip nasi digambarkan
sebagai buah anggur yang turun melalui hidung. Istilah polip nasi berasal dari kata
Yunani poly-pous yang berarti berkaki banyak. Polip nasi adalah kelainan mukosa
hidung dan sinus paranasal terutama kompleks osteomeatal di meatus nasi medius
berupa massa lunak yang mengandung banyak cairan, bertangkai, bentuk bulat atau
lonjong, berwarna putih keabu-abuan. Permukaannya licin dan agak bening karena
banyak mengandung cairan. Sering bilateral dan multiple. Polip nasi juga merupakan
kantung dari edema mukosa dan kebanyakan berasal dari mukosa sinus ethmoid.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 16

POLIP NASI year

INSIDEN DAN EPIDEMIOLOGI


Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma nonalergi (13%)
dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa
dan lebih sering pada laki laki, dimana rasio antara laki laki dan perempuan 2:1 atau
3:1. Penyakit ini ditemukan pada seluruh kelompok ras.
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah adanya rinitis alergi atau
penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak mendukung teori ini dan para
ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui
dengan pasti.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 17

POLIP NASI year


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

ANATOMI DAN FISIOLOGI


Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke
bawah :
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit,

jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis
pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan
menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar),
antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada
bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh :
-

Superior : os frontal, os nasal, os maksila

Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan
kartilago alaris minor
Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior

menjadi fleksibel.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 18

POLIP NASI year

Perdarahan :
1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A.
Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna).
2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris
interna, cabang dari A. Karotis interna)
3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)
Persarafan :
1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)
2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)
Kavum Nasi
Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua
ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum
nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior
dan fossa kranial media.
Batas batas kavum nasi :
Posterior

: berhubungan dengan nasofaring

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 19

POLIP NASI year


Atap

: os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus


sfenoidale dan sebagian os vomer

Lantai

: merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal,


bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada
bagian atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh
palatum durum

Medial

: septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan

(dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh
kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang
terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna =
kolumela.
Lateral

: dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os

etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.


Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari
tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang
terpisah. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus
sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka
nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 20

POLIP NASI year

Perdarahan :
Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina
yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang
merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang
terletak submukosa yang berjalan bersama sama arteri.
Persarafan :
1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N.
Etmoidalis anterior
2. Posterior

kavum

nasi

dipersarafi

oleh

serabut

saraf

dari

ganglion

pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N.


Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 21

POLIP NASI year


Mukosa Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan
fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa
pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya
dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya
terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara
mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital
skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu
basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya.
Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang
penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi
akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya
untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing
yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan
menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung
tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara
yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan
sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu
dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya
dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor
penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.

II. Fisiologi hidung


1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi
konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga
aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 22

POLIP NASI year


masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara
inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain
kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari
nasofaring.
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan
udara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan
cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir.
Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari
lapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh
darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang
luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan
demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih 37 o C.
3. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri
dan dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia
c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada
palut lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan dengan
refleks bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh
gerakan silia.
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut
lysozime.
4. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa
olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 23

POLIP NASI year


atas septum. Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi
dengan palut lendir atau bila menarik nafas dengan kuat.
5. Resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan
hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga
terdengar suara sengau.
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng)
dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle
turun untuk aliran udara.
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan
saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung
menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 24

POLIP NASI year

BAB III
PEMBAHASAN
I.

DEFINISI

Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung yang terjadi
akibat inflamasi mukosa. Kebanyakan polip berwarna putih bening atau keabu abuan,
mengkilat, lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa). Polip yang
sudah lama dapat berubah menjadi kekuning kuningan atau kemerah merahan,
suram dan lebih kenyal (polip fibrosa). Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau
multipel, unilateral atau bilateral
Polip yang berasal dari sinus maksila sering tunggal dan tumbuh ke arah
belakang, muncul di nasofaring dan disebut polip koanal. Polip dapat timbul pada
penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut. Bila ada
polip pada anak di bawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan meningokel
atau meningoensefalokel.
Polip hidung adalah massa polypoidal yang timbul terutama dari selaput lendir
hidung dan sinus paranasal. Polip hidung bukan penyakit yang murni berdiri sendiri.
Pembentukannya sangat terkait erat dengan berbagai problem THT lainnya seperti
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 25

POLIP NASI year


rinitis alergi, asma, radang kronis pada mukosa hidung-sinus paranasal, kista fibrosis,
intoleransi pada aspirin, dll.

II. Histopatologi polip nasi


Secara makroskopik polip merupakan massa dengan permukaan licin, berbentuk
bulat atau lonjong, berwarna pucat keabu-abuan, lobular, dapat tunggal atau multipel
dan tidak sensitif (bila ditekan/ditusuk tidak terasa sakit). Warna polip yang pucat
tersebut disebabkan oleh sedikitnya aliran darah ke polip. Bila terjadi iritasi kronis atau
proses peradangan warna polip dapat berubah menjadi kemerah-merahan dan polip
yang sudah menahun warnanya dapat menjadi kekuning-kuningan karena banyak
mengandung jaringan ikat.
Tempat asal tumbuhnya polip terutama dari tempat yang sempit di bagian atas
hidung, di bagian lateral konka media dan sekitar muara sinus maksila dan sinus
etmoid. Di tempat-tempat ini mukosa hidung saling berdekatan. Bila ada fasilitas
pemeriksaan dengan endoskop, mungkin tempat asal tangkai polip dapat dilihat. Dari
penelitian Stammberger didapati 80% polip nasi berasal dari celah antara prosesus
unsinatus, konka media dan infundibulum.
Ada polip yang tumbuh ke arah belakang dan membesar di nasofaring, disebut
polip koana. Polip koana kebanyakan berasal dari dalam sinus maksila dan disebut juga
polip antro-koana. Menurut Stammberger polip antrokoana biasanya berasal dari kista
yang terdapat pada dinding sinus maksila. Ada juga sebagian kecil polip koana yang
berasal dari sinus etmoid posterior atau resesus sfenoetmoid.
III. Etiologi Polip Hidung
Etiologi polip hidung belum diketahui secara pasti. Namun ada 3 faktor yang
berperan dalam terjadinya polip nasi, yaitu :
1. Peradangan. Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik, berulang.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 26

POLIP NASI year


2. Vasomotor. Gangguan keseimbangan vasomotor.
3. Edema. Pngkatan tekanan cairan interstitial sehingga timbul edema mukosa hidung.

Terjadinya edema ini dapat dijelaskan oleh fenomena Bernoulli..Fenomena


Bernoulli merupakan penjelasan dari hukum sunnatullah yaitu udara yang mengalir
melalui tempat yang sempit akan menimbulkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya
sehingga jaringan yang lemah ikatannya akan terisap oleh tekanan negatif tersebut.
Akibatnya timbullah edema mukosa.
Keadaan ini terus berlangsung hingga terjadilah polip hidung. Ada juga bentuk
variasi polip hidung yang disebut polip koana (polip antrum koana). Polip koana (polip
antrum koana) adalah polip yang besar dalam nasofaring dan berasal dari antrum sinus
maksila. Polip ini keluar melalui ostium sinus maksila dan ostium asesorisnya lalu
masuk ke dalam rongga hidung kemudian lanjut ke koana dan membesar dalam
nasofaring.
Fenomena ini menjelaskan mengapa polip kebanyakan berasal dari area yang
sempit di kompleks osteomeatal di meatus medius.
Mula mula ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di daerah
meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler, sehingga mukosa
yang sembab menjadi polipoid. Bila proses ini terus berlanjut, mukosa yang sembab ini
akan semakin besar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil
membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip.
Pembentukan polip sering juga dihubungkan dengan inflamasi kronik, disfungsi
saraf otonom serta predisposisi genetic. Menurut teori Bernsteis, terjadi perubahan
mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang bertubulensi, terutama di
daerah sempit di kompleks osteomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh
reepitelisasi dan pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan
natrium oleh permuksaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip.
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 27

POLIP NASI year


Teori lain mengatakan ketidakseimbangan saraf vasomotor menyebabkan
terjadinya peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vaskuler yang
mengakibatkan dilepaskan sitokin dari sel mast yang akan menyebabkan edema dan
lama kelamaan menjadi polip.
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi
alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum
diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi dalam hidung atau
sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal
dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian
menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak
mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak
mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang
dewasa dan jarang pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan
gejala dari kistik fibrosis.
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :
1. Alergi terutama rinitis alergi.
2. Sinusitis kronik.
3. Iritasi.
4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan
hipertrofi konka.
Polip hidung sering ditemukan pada penderita:

Rinitis alergika

Asma

Sinusitis kronis

Fibrosis kistik

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 28

POLIP NASI year

IV. PATOFISIOLOGI
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat di
daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler, sehingga
mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang
sembab makin membesar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil
membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip.
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab
tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama,
vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa.
Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk
suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid.
Setelah polip terrus membesar di antrum, akan turun ke kavum nasi. Hal ini terjadi
karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang
yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi
perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim
sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip
akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media.
V. GEJALA KLINIS
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di
hidung. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat keluhannya.
Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia. Bila
polip ini menyumbat sinus paranasal, maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis
dengan keluhan nyeri kepala dan rinore.
Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi
di hidung.
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 29

POLIP NASI year


Ketika baru terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata dan jika telah
matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna keabu-abuan. Penderita
biasanya mengeluhkan hidung tersumbat, penurunan indra penciuman, dan gangguan
pernafasan. Akibatnya penderita bersuara sengau.
GEJALA DAN TANDA
Pada anamnesis kasus polip biasanya timbul keluhan utama adalah hidung
tersumbat. sumbatan ini menetap dan tidak hilang timbul. Semakin lama keluhan
dirasakan semakin berat. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam
hidung dan sukar membuang ingus. Gejala lain adalah hiposmia (gangguan
penciuman). Gejala lainnya dapat timbul jika teradapat kelainan di organ sekitarnya
seperti post nasal drip (cairan yang mengalir di bagian belakang mulut), suara bindeng,
nyeri muka, telinga terasa penuh, snoring (ngorok), gangguan tidur dan penurunan
kualitas hidup.
Secara pemeriksaan mikroskopis tampak epitel pada polip serupa dengan
selaput permukaan hidung normal yaitu epitel bertingkat semu bersilia dengan
subselaput permukaan yang sembab.

Pada pemeriksaan klinis tampak massa putih keabu-abuan atau kuning


kemerahan di cavum nasi. Pada rhinoskopi anterior polip nasi sering harus dibedakan
dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaannya

POLIP

KONKA POLIPOID

Bertangkai

Tidak bertangkai

Mudah digerakkan

Sukar digerakkan

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 30

POLIP NASI year


Konsistensi lunak

Nyeri bila ditekan dengan pinset

Tidak nyeri tekan

Mudah berdarah

Tidak mudah berdarah

Dapat mengecil dengan


vasokonstriktor

Pada pemakaian vasokonstriktor tidak


mengecil

VI. DIAGNOSA
Diagnosa polip nasi dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis dan
pemeriksaan penunjang.
Anamnesis
Keluhan utama penderita polip nasi adalah obstruksi nasi mulai dari yang ringan
sampai berat, rhinore yang jernih sampai purulen, hiposmia dan anosmia. Dapat juga
disertai bersin bersin, rasa nyeri pada hidung dan sakit kepala di daerah frontal. Bila
disertai dengan infeksi sekunder, didapatkan post nasal drips dan rhinore purulen.
Gejala lain yang dapat timbul adalah bernapas melalui mulut, rinolalia, gangguan tidur
dan penurunan kualitas hidup. Gejala pada saluran napas bawah didapati pada kurang
lebih sepertiga kasus polip, dapat berupa batuk kronik dan mengi, terutama pada
penderita polip nasi dengan asma.
Selain itu harus ditanyakan riwayat rintis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan
alergi obat lainnya serta alergi makanan
Pemeriksaan Fisis

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 31

POLIP NASI year


Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior, polip nasi terlihat sebagai massa yang
berwarna pucat yang berasal dari meatus nasi medius dan mudah digerakkan.
Mackay dan Lund (1997) membagi stadium polip nasi menjadi 4 yaitu:
Stadium 0 : Tidak ada polip, atau polip masih berada dalam sinus
Stadium 1 : Polip masih terbatas di meatus medius dan perlu endoskop untuk
melihatnya.
Stadium 2 : Polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi
belum memenuhi rongga hidung, dapat dilihat dengan speculum
hidung
Stadium 3 : Polip yang massif yang mengisi hamper seluruh rongga hidung.
Pemeriksaan penunjang
Tes Alergi
Melalui tes ini dapat diketahui kemungkinan pasien memiliki riwayat alergi.
Naso-endoskopi
Polip nasi stadium 1 dan 2 kadang kadang tidak terlihat pada pemeriksaan
rhinoskopi anterior, tetapi tampak pada pemeriksaan nasoendoskopi.Pada kasus
polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium
asesorius sinus maksila.
Radiologik
Radiologi dengan posisi Waters dapat menunjukkan opasitas sinus. CT scan
potongan koronal merupakan pemeriksaan yang terbaik untuk mengevaluasi pasien
dengan polip nasi. CT scan koronal dari sinus paranasal sangat baik untuk
mengetahui

jaringan

yang

mengalami

kerusakan,

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

luasnya

penyakit

dan

Page 32

POLIP NASI year


kemungkinan adanya destruksi tulang.Foto polos sinus paranasal (posisi Waters,
AP, Caldwell dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya
batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermafaat pada kasus
polip nasi karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negatif palsu, dan tidak
dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan variasi
anatomis di daerah kompleks ostio-meatal. Pemeriksaan tomografi komputer (TK,
CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan
sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan
pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal
diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada
perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. Biasanya untuk tujuan
penapisan dipakai potongan koronal, sedangkan pada polip yang rekuren diperlukan
juga potongan aksial.

VII. DIAGNOSIS BANDING

Polip didiagnosabandingkan dengan konka polipoid, yang ciri cirinya sebagai


berikut :
-

Tidak bertangkai

Sukar digerakkan

Nyeri bila ditekan dengan pinset

Mudah berdarah

Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin).

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan
konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati hati
pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan
vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien
dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 33

POLIP NASI year

VIII. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhankeluhan yang dirasakan oleh pasien. Selain itu juga diusahakan agar frekuensi infeksi
berkurang, mengurangi/menghilangkan keluhan pernapasan pada pasien yang disertai
asma, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip.
Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga
polipektomi medikamentosa. Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan
kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini
diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada
perbaikan maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. Perlu diperhatikan bahwa
kortikosteroid intranasal mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian
pasien, sehingga dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. Dosis
kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku, pemberian masih secara empirik
misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15
mg per hari selama seminggu.Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan,
Lidholdt untuk polip dapat diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi
dalam beberapa dosis, yaitu 60 mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan tapering off
5 mg per hari. Menurut Naclerio pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali
dalam setahun. Pemberian suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan
lagi mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli. Kalau ada
tanda-tanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Pemberian antibiotik pada kasus
polip dengan sinusitis sekurang-kurangnya selama 10-14 hari.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 34

POLIP NASI year


Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang
sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Terapi bedah yang dipilih tergantung
dari luasnya penyakit (besarnya polip dan adanya sinusitis yang menyertainya), fasilitas
alat yang tersedia dan kemampuan dokter yang menangani. Macamnya operasi mulai
dari polipektomi intranasal menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal
dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan
dengan analgesi lokal; etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk
polip etmoid; operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia
fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk polipektomi saja,
atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid sampai
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. Alat mutakhir untuk membantu operasi
polipektomi endoskopik ialah microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat
menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung
cepat dengan trauma yang minimal.
Untuk persiapan prabedah, sebaiknya lebih dulu diberikan antibiotik dan
kortikosteroid untuk meredakan inflamasi sehingga pembengkakan dan perdarahan
berkurang, dengan demikian lapang-pandang operasi lebih baik dan kemungkinan
trauma dapat dihindari.
Pasca bedah perlu kontrol yang baik dan teratur mengunakan endoskop, dan
telah

terbukti

bahwa

pemberian

kortikosteroid

intranasal

dapat

menurunkan

kekambuhan.
Pembedahan dilakukan jika:

Polip menghalangi saluran pernafasan

Polip menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi


sinus

Polip berhubungan dengan tumor

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 35

POLIP NASI year


Polip cenderung tumbuh kembali jika penyebabnya (alergi maupun infeksi) tidak
terkontrol. Pemakaian obat semprot hidung yang mengandung corticosteroid bisa
memperlambat atau mencegah kekambuhan. Tetapi jika kekambuhan ini sifatnya berat,
sebaiknya dilakukan pembedahan untuk memperbaiki drainase sinus dan membuang
bahan-bahan yang terinfeksi. Sayangnya bila faktor yang menyebabkan terjadinya polip
tidak teratasi maka polip hidung ini rawan untuk kambuh kembali demikian berulang
ulang. Oleh sebab itu sangat diharapkan kepatuhan pasien untuk menghindari hal hal
yang menyebabkan alergi yang bisa menjurus untuk terjadinya polip hidung.
Untuk polip yang ukurannya sudah besar dilakukan ektraksi polip (polipektomi)
dengan menggunakan senar polip. Selain itu bila terdapat sinusitis, perlu dilakukan
drenase sinus. Oleh karena itu sebelum operasi polipektomi perlu dibuat foto sinus
paranasal untuk melihat adanya sinusitis yang menyertai polip ini atau tidak. Selain itu,
pada pasien polip dengan keluhan sakit kepala, nyeri di daerah sinus dan adanya
perdarahan pembuatan foto sinus paranasal tidak boleh dilupakan.
Prosedur polipektomi dapat mudah dilakukan dengan senar polip setelah pemberian
dekongestan dan anestesi lokal.
Pada kasus polip yang berulang ulang, perlu dilakukan operasi etmoidektomi oleh
karena umumnya polip berasal dari sinus etmoid. Etmoidektomi atau bedah sinus
endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan tindakan pengangkatan polip sekaligus
operasi sinus. Kriteria polip yang diangkat adalah polip yang sangat besar,
berulang,dan jelas terdapat kelainan di kompleks osteomeatal Etmoidektomi ada dua
cara, yakni :
1. Intranasal
2. Ekstranasal
IX. PROGNOSIS
Polip hidung sering tumbuh kembali, oleh karena itu pengobatannya juga perlu
ditujukan kepada penyebabnya, misalnya alergi. Terapi yang paling ideal pada rinitis
alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi.
SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 36

POLIP NASI year


Secara medikamentosa, dapat diberikan antihistamin dengan atau tanpa
dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung kortikosteroid atau
tidak. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama
dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitisasi dan hiposensitisasi, yang
menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.
Prognosis dan perjalanan alamiah dari polip nasi sulit dipastikan. Terapi medis
untuk polip nasi biasanya diberikan pada pasien yang tidak memerlukan tindakan
operasi atau yang membutuhkan waktu lama untuk mengurangi gejala. Dengan terapi
medikamentosa, jarang polip hilang sempurna. Tetapi hanya mengalami pengecilan
yang cukup sehingga dapat mengurangi keluhan. Polip yang rekuren biasanya terjadi
setelah pengobatan dengan terapi medikamentosa maupun pembedahan.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 37

POLIP NASI year

BAB IV
KESIMPULAN
1. Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan keluhan
sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat
dirasakan.
2. Etiologi polip di literatur terbanyak merupakan akibat reaksi hipersensitivitas
yaitu pada proses alergi, sehingga banyak didapatkan bersamaan dengan
adanya rinitis alergi.
3. Pada anamnesis pasien, didapatkan keluhan obstruksi hidung, anosmia,
adanya riwayat rinitis alergi, keluhan sakit kepala daerah frontal atau sekitar
mata, adanya sekret hidung.
4. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan massa yang lunak,
bertangkai, mudah digerakkan, tidak ada nteri tekan dan tidak mengecil
pada pemberian vasokonstriktor lokal.
5. Penatalaksanaan untuk polip nasi ini bisa secara konservatif maupun
operatif, yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan
keluhan dari pasien sendiri.
6. Pada pasien dengan riwayat rinitis alergi, polip nasi mempunyai
kemungkinan yang lebih besar untuk rekuren. Sehingga kemungkinan
pasien harus menjalani polipektomi beberapa kali dalam hidupnya.

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 38

POLIP NASI year

DAFTAR PUSTAKA

Soepardi, Efiaty. Iskandar, Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok edisi V cetakan III. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta 2003

Posted by sodikin on March 30th, 2010. uni 29, 2009 Disimpan dalam Berita
Kesehatan Tagged alergi, bersin, hidung, polip, puskesmas simpang empat,
sinusitis

Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I hal. 113 114. Penerbit Media
Aesculapius FK-UI 2000

Posted in Info Penyakit on 03 Jul 2007 Cetak www.google.com

e-NEWSLETTER www.google.com

Adams, George. Boies, Lawrence. Higler, Peter. Buku Ajar Penyakit Telinga
Hidung Tenggorok. W.B. Saunders, Philadelphia 1989 www.yahoo.com

SMF Ilmu Penyakit THT KL Debby Henameliza 04310019

Page 39