Anda di halaman 1dari 19

4.

0 AGAMA HINDU
4.1 Pendahuluan

induisme (bahasa Sanskrit: Dharma Santana (abadi), juga dikenali


sebagai Dharma Vaidika (Veda)) ialah satu agama atau falsafah yang
berasal dari benua India dan kawasan sekeliling yang berhampiran.
Agama ini adalah agama tertua yang diketahui di dunia. Kitab utama
agama ini ialah Veda yang dibahagikan kepada empat kitab utama iaitu Rig Veda,
Yajur Veda, Sama Veda dan Atharva Veda.
Istilah Hinduisme merangkumi berbagai-bagai aliran fikiran dan falsafah, serta
upacara-upacara amal yang amat berbeza. Sebahagian besar penganut Hindu
bersembahyang kepada pelbagai dewa-dewi, dan menganggap dewa-dewi ini
sebagai penjelmaan-penjelmaan untuk satu Roh Kosmo monistik yang agung
(Brahman), sedangkan banyak penganut yang lain menumpukan kepada satu
konsep mufrad untuk Brahman (Tuhan), umpamanya Vaishnavisme, Saivisme dan
Syaktisme.
Hinduisme ialah agama yang ketiga terbesar di dunia, dengan lebih kurang
900 juta penganut (angka 2005). Kira-kira 890 juta daripada bilangan itu tinggal di
India.
4.2 Asal-usul Agama Hindu dan Pembawanya
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Santana Dharma "Kebenaran
Abadi", dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama
yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama
Weda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya).
Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan
merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Agama ini
merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan
jumlah umat sebanyak hampir 1 miliar jiwa. Dalam bahasa Persia, kata Hindu
berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta).
Dalam Reg Weda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta
Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah
satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata HaptaHendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) sastra suci dari
kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang
hidup di wilayah sungai Sindhu. Hindu sendiri sebenarnya baru terbentuk setelah
Masehi ketika beberapa kitab dari Weda digenapi oleh para brahmana. Pada zaman

munculnya agama Buddha, agama Hindu sama sekali belum muncul semuanya
masih mengenal sebagai ajaran Weda.
Agama Hindu sebagaimana nama yang dikenal sekarang ini, pada awalnya
tidak disebut demikian, bahkan dahulu ia tidak memerlukan nama, karena pada
waktu itu ia merupakan agama satu-satunya yg ada di muka bumi. Sanatana
Dharma adalah nama sebelum nama Hindu diberikan. Sanatana dharma yang
memiliki makna "kebenaran yg kekal abadi" dan jauh belakangan setelah ada
agama-agama lainnya barulah ia diberi nama untuk membedakan antara satu
dengan yang lainnya. Sanatana dharma pada zaman dahulu kala dianut oleh
masyarakat di sekitar lembah sungai shindu, penganut Weda ini disebut oleh orangorang Persia sebagai orang indu (tanpa kedengaran bunyi s), selanjutnya lamakelamaan nama indu ini menjadi Hindu. Sehingga sampai sekarang penganut

sanatana dharma disebut Hindu.


Agama hindu adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada kitab suci
yang disebut Weda. Weda diyakini sebagai pengetahuan yang tanpa awal tanpa
akhir dan juga dipercayai keluar dari nafas Tuhan bersamaan dengan terciptanya
dunia ini. Karena sifat ajarannya yng kekal abadi tanpa awal tanpa akhir maka ia
disebut sanatana dharma. Apabila membahas tentang Agama Hindu, kita harus
mengetahui sejarah tempat munculnya agama tersebut. India adalah sebuah Negara
yang penuh dengan rahasia dan cerita dongeng, masyarakatnya berbangsa-bangsa
dan berkasta-kasta, malah ada masyarakat dalam masyarakat, serta sungguh
banyak ditemui agama-agama. Bahasa dan warna kulit pun bermacam-macam.
Pembicaraan mengenai India berarti adalah pembicaraan yang bercabangcabang. Dipandang dari sudut ethnologi, India adalah tanah yang beraneka
penduduknya, dan akibatnya orang dapat melihat kebudayaan yang beraneka pula.
Semuanya ini tercermin dalam agamanya. Oleh karena itu barangsiapa mulai
mempelajari agama Hindu ia akan segera merasa terlibat dalam sejumlah ajaranajaran, sehingga hampir tidak dapat menemukan jalan untuk mengadakan

penyelidikan. Sepanjang orang dapat menyelidikinya, maka sejarah kebudayaan


India mulai pada zaman perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang besar di
Mesopotamia dan Mesir. Antara 3000 dan 2000 tahun sebelum Masehi, ruparupanya di lembah sungai Sindhu (Indus) tinggallah bangsa-bangsa yang
peradabannya menyerupai kebudayaan bangsa Sumeria di daerah sungai Efrat dan
Tigris. Berbagai cap daripada gading dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan
lukisan-lukisan binatang, menceritakan kepada kita bahwa di dalam zaman itu di
sepanjang pantai dari Laut Tengah sampai ke Teluk Benggala terdapat sejenis
peradaban yang sama dan yang sudah meningkat pada perkembangan yang tinggi.
Sisa-sisa kebudayaan tersebut terutama terdapat di dekat kota Harappa di Punjab
dan di sebelah utara Karachi. Bahkan disitu diketemukan sisa-sisa sebuah kota,
Mohenjodaro namanya, di mana ternyata orang telah mempunyai rumah-rumah
yang berdinding tebal dan bertangga.

Penduduk India pada zaman itu terkenal sebagai bangsa Drawida. Mula-mula
mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di
sebelah selatan dan memrintah negerinya sendiri, karena mereka di sebelah utara
hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada bangsa-bangsa yang merebut
negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan berhidung pipih,
berperawakan kecil dan berambut keriting. Nama India diambil dari sungai Indus.
Perkataan Ind dan Hindu keduanya berarti bumi yang terletak di belakang Sungai
Indus, dan penduduknya dinamakan orang-orang India atau orang-orang Hindu.

Mengenai penamaan Negara India, Gustav Le Bon berkata: Orang-orang


Barat berpendapat bahwa nama Sungai Indus telah dipinjamkan kepada negara
yang mengandung berbagai rahasia yang terletak di sebelah belakangnya. Alasan
ini tidak diterimanya bulat-bulat sebab nama India itu harus diambil dari nama Tuhan
Indra. Peradaban India telah berlangsung lama. Negara india telah menghasilkan
beberapa Filosof agung sebelum Socrates dilahirkan. Di Negara India ini sudah
tersebar tanda-tanda ilmu pengetahuan dan bangunan-bangunan yang megah pada
suatu masa dahulu ketika Kepulauan Inggris masih dalam keadaan terbelakang.
India adalah negara yang penuh dengan keajaiban dan pertentangan, hingga boleh
dianggap sebagai sebuah Negara yang mengandung negara-negara. India adalah
salah satu pusat peradaban kuno di dunia.
Dalam hal ini, India menandingi Mesir, Cina, Assyria, dan Bailonia. Tetapi,
peradaban India yang mendahului zaman Arya hanya baru dapat diketahui dan
ditemukan dengan pengungkapan-pengungkapan baru dalam tingkatan kemajuan
yang pernah dicapai oleh India dalam bidang arsitektur, pertanian, dan
kemasyarakatan sejak masa 300 tahun SM, yaitu 1500 tahun sebelum kedatangan
bangsa Arya. Antara 2000 dan 1000 tahun SM masuklah ke India dari sebelah utara
kaum Arya, yang memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran dan yang

memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan Hindu-Kush. Bangsa Arya itu


serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani dan Romawi dan bangsa-bangsa lainnya
di Eropa dan Asia. Mereka tergolong dalam apa yang kita sebut rumpun-bangsa
Indo-German. Hinduisme dapat disamakan dengan rimba raja yang penuh dengan
pohon-pohonan, tanam-tanaman, tumbuh-tumbuhan dan kembang-kembangan,
pendeknya suatu serba ragam yang sulit sekali. Karena Hinduisme memperlihatkan
berbagai
bentuk
dan
bermacam-macam
gejala-gejala
agama.
Suatu
penyampuradukkan dari pada tokoh-tokoh dewa, bentuk-bentuk kultur, sel-sel
agama dan mazhab-mazhab agama berdasarkan filsafat.

Suatu perbedaan yang rumit antara pernyataan-pernyataan mistik yang


sangat murni dan luhur atau pernyataan cinta yang mesra terhadap dewata pemurah
yang tunggal dan bentuk-bentuk keagamaan dimana nafsu-nafsu manusia yang
rendah dengan sejarah kasar menampakkan dirinya. Gambaran yang diberikan
Hinduisme dalam keseluruhannya memang beraneka warna dan mengacaukan.
Pesan pertama yang kita dapat ialah bahwa dalam Hinduisme boleh dikatakan
terhimpun seluruh sejarah agama dengan segala ragam dan bentuk kesalahannya.
Tetapi hal ini justru menambah kesulitan untuk mencoba apa yang mau dilakukan
dalam karangan ini, yaitu menggambarkan Hinduisme secara ringkas. Kendati
demikian kita harus mencoba membentuk pengertian tentang wujud Hinduisme.
Biarpun kita tak dapat berbuat lebih dari pada hanya memberikan sesuatu gambaran
dalam garis-garis besar dengan harapan semoga gambaran ini menyerupainya.
Hinduisme ialah agama dari pada jutaan penduduk India.

Tidaklah mudah untuk menentukan dengan kata-kata singkat, apa


sebenarnya Hinduisme itu. Oleh karena itu, Hinduisme hamper sama sekali tak
mempunyai bentuk dan terlalu merupakan suatu himpunan unsur-unsur yang tak
sama. Tetapi terutama sekali oleh karena terhadap Hinduisme tak dapat dipakai
rumusan-rumusan yang biasa dipakai untuk merumuskan apakah agam itu.
Pertama-tama Hinduisme tak ada pendirinya sehingga kita tak dapat
menyimpulkan dari ajaran atau khutbahnya siapa sebetulnya Hinduisme itu.
Penganut-penganutnya tak diharuskan mempunyai suatu keyakinan tertentu
mengenai Tuhan, manusia dan dunia. Dalam Hinduisme tidak ada suatu pengakuan
iman yang dapat dirumuskan dengan jelas yang disetujui oleh semua penganutnya.
Juga tidak ada suatu atau bermacam-macam organisasi keagamaannya yang
menghimpun semua penganutnya. Lebih tepat rasanya jika Hinduisme kita namakan
suatu system sosial yang diperkuat oleh cita-cita keagamaan dan dengan demikian
lalu mempunyai tendensi keagamaan. Tak ada seorang pun yang dapat menjadi
seorang Hindu dengan jalan menganut suatu agama tertentu. Seseorang adalah
Hindu berkat kelahirannya. Keadaan ini meletakkan kewajiban untuk megikuti
peraturan-peraturan upacara-upacara tertentu, pada umumnya peraturan-peraturan

yang berhubungan dengan pembagian kasta dan khsusunya pemberian korban dan
upacara upacara keagamaan dan timbul dari pada pembagian kasta tadi. Ikatanikatan batin pada upacara yang turun temurun ini sangat kuat. Hal ini nyata sekali
pada diri Gandi yang jelas bersimpati terhadap agama Kristen, tetapi tetap tinggal
Hindu karena pertaniannya dengan bangsanya dan bubungan batinnya dengan
kebudayaan agama sukunya. Bangsa Arya yang turun ke lembah Indus kira-kira
1500 tahun SM yang memberi corak pada kebudayaan India. Bangsa Arya ini satu
suku dengan bangsa Iran yang bernabikan Zarathustra.

Para peneliti berpendapat, dan ini lebih tepat, bahwa bangsa Arya ini berasal
dari Asia, dahulunya mereka hidup di Asia Tengah di negeri Turkistan berdekatan
dengan Sungai Jihun, kemudian berpindah pula dalam kelompok-kelompok yang
besar menuju ke India melalui Parsi, dan mereka juga menuju Eropa. Nyatalah
bahwa kedatangan bangsa Arya ke India terjadi pada abad ke-15 SM. Bangsa Arya
ini telah memerangi kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh bangsa berkulit kuning di
India itu dan berhasil mengalahkan sebagaian besar dari mereka serta menjadikan
kawasan-kawasan yang dikalahkannya itu sebagai wilayah yang tunduk di bawah
pengaruh mereka.
Bangsa Arya tidak bercampur dengan penduduk India dengan jalan
perkawinan, malah mereka menjaga dengan sungguh-sungguh keturunan mereka
yang berkulit putih itu, dan menggiring penduduk asli Negara India ke hutan-hutan
dan ke gunung-gunung atau menjadikan mereka sebagai orang-orang tawanan yang
dinamakan dalam sastra lama Bangsa Arya sebagai Bangsa Hamba Sahaya.
Bangsa Arya ini telah meminta pertolongan dari Tuhan mereka Indra untuk
mengalahkan penduduk India. Di antara bacaan doa mereka adalah wahai Indra
Tuhan kami! Suku-suku kaum Dasa (budak) telah mengepung kami dari segenap
penjuru dan mereka tidak memberikan korban apa-apa, mereka bukan manusia dan
tidak berkepercayaan. Wahai Penghancur musuh! Binasakanlah mereka dari
keturunannya. Tentang sejauh mana pengaruh bangsa-bangsa berkulit kuning
(Bangsa Turan) dan berkulit putih (Bangsa Arya) di India telah diterangkan oleh
Gustav Le Bon: Bangsa Turan adalah bangsa penyerang yang kuat sekali
mengubah penduduk negeri India dari segi fisik dan bangsa Arya juga meninggalkan
kesan yang mendalam terhadap bangsa India dari segi budaya. Dari bangsa Turan,
penduduk India mengambil ciri ukuran tubuh dan raut muka, dan dari bangsa Arya
mereka mengambil ciri bahasa, agama, undang-undang, dan adat-istiadat.
Pertemuan bangsa Arya dan bangsa Turan dengan penduduk asli telah
menimbulkan kasta-kasta masyarakat di India dan merupakan suatu faktor yang
sangat penting dalam sejarah negara ini. Dari bangsa Arya terbentuk golongan ahliahli agama (Brahmana) dan golongan prajurit (Ksatria).

Dari bangsa Turan terbentuk pula golongan saudagar dan ahli-ahli tukang
(Waisya). Pada mulanya orang-orang Hindu yang bergaul dengan bangsa Turan
tidak termasuk dalam pembagian ini, tetapi dalam beberapa zaman kemudian
peradaban Arya meresap ke dalam sebagian diri mereka, lalu bangsa Arya pun
terbentuk dari kalangan orang-orang Hindu golongan keempat, yaitu golongan
pesuruh dan hamba sahaya (Sudra). Penduduk-penduduk asli yang tidak tersentuh
dengan peradaban Arya adalah disebabkan karena mereka memisahkan diri dari
bangsa-bangsa pendatang itu. Maka, tinggallah mereka jauh dari pembagian ini dan
terus menjadi orang-orang yang tersingkir atau terhalau dari masyarakat (out-casts).

Untuk lebih jauh penjelasan tentang golongan-golongan ini akan dijelaskan


pada makalah lain yang akan berbicara tentang golongan-golongan tersebut.
Mungkin sekali bangsa-bangsa Arya itu ketika masuk ke India kurang beradab
daripada bangsa Drawida yang ditaklukkannya. Tetapi mereka lebih unggul dalam
ilmu peperangan daripada bangsa Drawida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke
India, mereka itu masih merupakan bangsa setengah nomad (pengembara)., yang
baginya peternakan lebih besar artinya daripada pertanian. Bagi bangsa Arya, kuda
dan lembu adalah binatang-binatang yang sangat dihargai, sehingga binatangbinatang itu dianggap suci. Dibandingkan dengan bangsa Drawida yang tinggal di
kota-kota dan mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan di
sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu bolehlah dikatakan primitive. Dahulu orang
tidak tahu dengan tepat dan selalu memandang kebudayaan yang dibawa oleh
bangsa Arya. Tetapi terutama sesudah penggalian-penggalian tersebut di atas,
berubahlah pandangan orang dan makin banyak diketahui, bahwa bermacammacam unsure di dalam kebudayaan India berasal dari kebudayaan Drawida yang
tua itu. Umpamanya saja bangsa Arya belum mempunyai patung-patung dewa,
bangsa Drawida sudah. Sebuah gejala yang tipik atau khas di dalam agama Hindu
ialah pengakuan adanya dewa-dewi induk. Itupun suatu gejala pra-Arya. Demikian
pula banyak gejala-gejala Agama Hindu yang rupa-rupanya tidak berasal dari agama
bangsa Arya, melainkan berasal dari aama bangsa Drawida. Jadi dapatlah
dikonstatir dengan jelas bahwa Agama Hindu sebagai agama tumbuh dari dua
sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan fikiran keagamaan dua bangsa
yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal sangat berlainan, tetapi
kemudian lebur menjadi satu. Di dalam tulisan-tulisan Hinduistis yang tertua, unsurunsur Arya lah yang sangat besar pengaruhnya. Hal itu tidak mengherankan karena
tulisan-tulisan itu berasal dari zaman bangsa Arya memasuki India dengan
kemenangan-kemenangan, jadi pengaruh Drawida tentunya belum begitu besar.
Agama bangsa Arya kita kenal dari kitab-kitabnya yang mengenai agamanya, yakni
kitab-kitab Weda (Weda artinya tahu). Oleh karena itu masa yang tertua dari agama
Hindu disebut masa Weda. Maulana Mohamed Abdul Salam al-Ramburi juga
berkata: Umat India mudah menerima apa saja pemikiran dan kepercayaan yang
ditemuinya. Di kalangan mereka banyak terdapat pendapat dan kejahilan. Orang-

orang berada dalam kebingungan dan bersedia menerima dan mengukuhkan semua
ini. Kepercayaan mereka bermacam-macam, pemikiran mereka bercabangcabang, gejala ketuhanan merebak, begitu juga ilmu-ilmu kebatinan. Sarana-sarana
untuk berfikir dan menyepi telah disediakan di seluruh penjuru negeri India oleh para
Pendeta dan Cendekiawan. Lahirlah beberapa pengkajian moral yang diikuti oleh
segenap golongan masyarakat. Tersebar jugalah latihan-latihan badan yang berat
dan sulit untuk mendapatkan suatu kekuatan yang dapat menguasai kekuatan alam.
Pertapaan di gua-gua sebagai suatu pengawasan atas diri adalah menjadi tumpuan,
begitu juga pengasingan diri ke hutan-hutan rimba untuk melemaskan tubuh supaya
dapat naik mencapai kekuatan rohani. Oleh karena itu, Negara India terkenal
mempunyai banyak agama dan kepercayaan yang menyamai atau hamper-hampir
sama banyaknya dengan jumlah bahasa India. Agama Hindu adalah yang
termasyhur di antara agama-agama ini dan luas sekali penyebarannya, malah dialah
agama umum yang meliputi kebanyakan atau semua orang India. Kadang-kadangn
sekiranya mereka atau sebgian dari mereka bangkit menentangnya, penentangpenentang itu lambat laun akan kembali ke pangkuannya. Buku Hinduism telah
menerangkan sebab-sebab terjadinya hal demikian dengan menuliskan: Amat sulit
untuk dikatakan bahwa Hinduisme itu adalah suatu agama dalam pengertiannya
yang sangat luas. Hinduisme lebih meliputi dan lebih dalam daripada agama. Ini
merupakan suatu sifat bagu bentuk masyarakat India dengan aturan berkasta-kasta
dan kedudukan tiap-tiap kasta itu di dalam masyarakat. Ini merupakan kehidupan
India dengan caranya tersendiri yang dianggap sebagai satu dari semua masalah
suci dan masalah hina karena di dalam pemikiran Hindu tidak ada batas yang
memisahkan keduanya. Ini merupakan aliran-aliran rohani, moral dan perundangan.
Di samping itu, ia juga merupakan prinsip-prinsip, ikatan-ikatan, dan kebiasaankebiasaan yang menguasai dan mengendalikan kehidupan Hindu. Agama Hindu
adalah suatu agama yang berevolusi dan merupakan kumpulan adat-istiadat dan
kedudukan yang timbul dari hasil penyusunan bangsa Arya terhadap kehidupan
mereka yang terjadi pada satu generasi ke generasi yang lain sesudah mereka
datang berpindah ke India dan menundukkan penduduk asli itu. Kedudukan bangsa
Arya sebagai penakluk negeri yang lebih tinggi daripada kedudukan penduduk asli
serta pergaulan mereka telah melahirkan adat-istiadat Hindu itu yang dianggap
menurut perputaran sejarah, sebagai suatu agama yang dianut dan dipegang tata
susilanya oleh orang-orang India. Kiranya dapat dikatakan bahwa asas Agama
Hindu adalah kepercayaan bangsa Arya yang telah mengalami perubahan sebagai
hasil dari percampuran mereka dengan bangsa-bangsa lain, terutama sekali adalah
bangsa Parsi, yaitu sewaktu dalam masa perjalanan mereka menuju India.
Kemudian, kepercayaan-kepercayaan ini menerima kesan pula di negeri India
setelah berbenturan dengan pemikiran-pemikiran penduduk asli dan dengan
falsafah-falsafah dan pemikiran-pemikiran yang telah ada di India dalam beberapa
tingkatan sejarah yang berjauhan hingga Agama Hindu itu menyimpang jauh dari
kepercayaan asli bangsa Arya. Agama Hindu lebih merupakan suatu cara hidup
daripada merupakan kumpulan kepercayaan. Sejarahnya menerangkan mengenai
isi kandungannya yang meliputi berbagai kepercayaan, hal-hal yang harus

dilakukan, dan yang boleh dilakukan. Agama ini tidak mempunyai kepercayaan yang
membawanya turun hingga kepada penyembahan batu dan pohon-pohon, dan
membawanya naik pula kepada masalah-masalah falsafah yang abstrak dan halus.
Seandainya Agama Hindu tidak mempunyai pendiri yang pasti maka begitu pula
halnya dengan Weda. Kitab suci ini yang mengandung kepercayaan-kepercayaan,
adat-istiadat, dan hukum-hukum juga tidak mempunyai pencipta yang pasti. Para
penganut agama Hindu mempercayai bahwa kitab ini adalah suatu kitab yang ada
sejak dahulu yang tidak mempunyai tanggal permulaan. Kitab ini diwangsitkan sejak
awal kehidupan, setara dengan awal yang mewangsitkannnya. Mari kita baca
sekilas tentang bangsa Dravida dan bangsa Arya.

Bangsa Dravida di India


Penduduk India yang asli pada waktu bangsa Arya menyerbu ke India
terutama masuk bangsa Dravida. Bangsa ini ialah penduduk asli yang diketemukan
menduduki kota Harappa di Punjab dan di sebelah utara kota Karachi pada tahun
3000-2000 SM. Mula-mula mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tapi lama
kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah negerinya sendiri,
karena mereka sebelah utara hidup sebagai orang taklukkan dan bekerja pada
bangsa yang merebut negeri itu. Mereka adalah bangsa yang berkulit hitam dan
berhidung pipih, berperawakan kecil dengan rambut keriting. Bangsa Dravida
mempunyai peradaban tinggi waktu itu, ternyata di daerah Punjab dan lereng sungai
gangga terdapat daerah yang subur yang sudah dikerjakan oleh bangsa Dravida.
Dan di kota-kota yang terkenal disebut Mohenjodaro dan Harappa pun sudah dibuat
rumah-rumah batu yang dikerjakan oleh mereka. Mereka bercocok tanam dan
pandai berlayar menyusur pantai.

Bangsa Arya
Bangsa Arya ialah suatu bangsa yang masuk ke India kira-kira pada tahun
2000-1000 SM, dari sebelah utara. Mereka ialah kaum yang memisahkan diri dari
bangsanya di Iran dan memasuki India melalui jurang-jurang di Pegunungan Hindu
Kush. Bangsa Arya itu serumpun dengan bangsa Jerman, Yunani, Romawi, dan
bangsa-bangsa lainnya di Eropa dan di Asia. Mereka tergolong apa yang disebut
rumpun bangsa Indo-German. Setelah datang di India mereka menetap di daratan
sungai Sinhu yang pada zaman itu masih subur jadi di daerah itu mereka telah
menjumpai suatu peradaban tua. Di dalam beberapa hal mereka berbeda dengan
bangsa Dravida. Mereka berkulit putih dan berbadan tegak, bentuk hidungnya
melengkung sedikit. Kemudian mereka telah jauh memasuki India sampai di tepi
Sungai Gangga dan sampai di sebelah selatan. Dan disitu mereka makin bercampur
dengan bangsa Dravida dan dengan demikian terwujudlah kemudian suatu

kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan Dravida yang tua itu dengan kebudayaan
Arya maka terjadilah kemudian kebudayaan India.

4.3 Agama Lembah Sungai Indus


Peradaban Lembah Sungai Indus
Penduduk asli Lembah sungai Indus adalah bangsa Dravida yang berkulit hitam. Di
sekitar sungai itu terdapat dua pusat kebudayaan yaitu Mohenjo Daro dan Harappa.
Mereka sudah menetap di sana dengan mata pencaharian bercocok tanam dengan
memanfaatkan aliran sungai dan kesuburan tanah di sekitarnya. Menurut teori
kehidupan bangsa Dravida mulai berubah sejak tahun 2000-an SM karena adanya
pendatang baru, bangsa Arya. Mereka termasuk rumpun berbahasa Indo-Eropa dan
berkulit putih. Bangsa Arya ini mendesak bangsa Dravida ke bagian selatan India
dan membentuk Kebudayaan Dravida namun, sebagian lagi ada yang bercampur
antara bangsa Arya dan Dravida yang kemudian disebut bangsa Hindu. Oleh karena
itu, kebudayaannya disebut kebudayaan Hindu.
Peradaban Lembah Sungai Indus
1) Letak Geografis Sungai Indus
a. Di sebelah Utara berbatasan dengan China yang dibatasi Gunung
Himalaya
b. Selatan berbatasan dengan Srilanka yang dibatasi oleh Samudera
Indonesia
c. Barat berbatasan dengan Pakistan
d. Timur berbatasan dengan Myanmar dan Bangladesh
2) Peradaban sungai Indus (2500 SM)
a. Kebudayaan kuno India ditemukan di kota tertua India yaitu daerah
Mohenjodaro dan Harappa.

b. Penduduk Mohenjodaro & Harappa adalah bangsa Dravida


c. Saluran air bagus
d. Terdapat hubungan dagang antara Mohenjodaro dan Harappa dengan
Sumeria.
e. Perencanaan yang sudah maju
f. Rumah-rumah terbuat dari batu-bata

1. Pusat Peradaban
Peradaban Lembah Sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologidiKota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibukota
daerahLembah Sungai Indus bagian selatan dan Kota Harappa sebagai ibukota
Lembah Sungai Indusbagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat
peradaban bangsa India pada masalampau.

2. Tata Kota
Di Kota Mohenjodaro dan terdapat gedung-gedung dan rumah tinggal serta
pertokoandibangun secara teratur dan berdiri kukuh. Gedung-gedung dan rumah
tinggal dan pertokoan itusudah terbuat dari batu bata lumpur. Wilayah kota dibagi
atas beberapa bagian atau blok yang dilengkapi jalan yang adaaliran airnya.

3. Sistem Pertanian dan Pengairan


Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian menjadi
matapencaharian utama masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya,
masyarakat telahberhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus
sampai jauh ke daerahpedalaman. Pembuatan saluran irigasi dan pembangunan
daerah-daerah pertanian menunjukkanbahwa masyarakat Lembah Sungai Indus
telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasilpertanian yang utama adalah padi,
gandum, gula/tebu, kapas, teh, dan lain-lain.

4. Sanitasi (Kesehatan)

Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan sanitasi


(kesehatan)lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang
telah memperhatikanfaktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah
mereka sudah dilengkapi olehjendela.

5. Teknologi
Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan
teknologi,Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan
budaya yang ditemukan,seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai
macam patung, perhiasan emas,perak, dan berbagai macam meterai dengan
lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alatpeperangan seperti tombak, pedang,
dan anak panah
6.Pemerintahan
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Maurya antara lain sebagai berikut :
a. Candragupta Maurya
Setelah berhasil menguasai Persia, pasukan Iskandar Zulkarnaen melanjutkan
ekspansidan menduduki India pada tahun 327 SM melalui Celah Kaibar di
Pegunungan Himalaya.Pendudukan yang dilakukan oleh pasukan Iskandar
Zulkarnaen hanya sampai di daerah Punjab.Pada tahun 324 SM muncul gerakan di
bawah Candragupta. Setelah Iskandar Zulkarnaenmeninggal tahun 322 SM,
pasukannya berhasil diusir dari daerah Punjab dan selanjutnyaberdirilah Kerajaan
Maurya dengan ibu kota di Pattaliputra. Candragupta Maurya Menjadi raja pertama
Kerajaan Maurya. Pada masapemerintahannya, daerah kekuasaan Kerajaan
Maurya diperluas ke arah timur, sehinggasebagian besar daerah India bagian utara
menjadi bagian dari kekuasaannya. Dalam waktusingkat, wilayah Kerajaan Maurya
sudah mencapai daerah yang sangat iuas, yaitu daerahKashmir di sebelah barat
dan Lembah Sungai Gangga di sebelah timur.
b. Ashoka
Ashoka memerintah.Kerajaan Maurya dari tahun 268-282 SM. Ashoka merupakan
cucudari Candragupta Maurya. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Maurya

mengalami masayang gemilang. Kalingga dan Dekkan berhasil dikuasainya. Namun,


setelah ia menyaksikankorban bencana perang yang maha dahsyat di Kalingga,
timbul penyesalan dan tidak lagimelakukan peperangan. Mula-mula Ashoka
beragama Hindu, tetapi kemudian menjadi pengikut agama Buddha.Sejak saat itu
Ashoka menjadikan agama Buddha sebagai agama resmi negara. Setelah
Ashokameninggal, kerajaan terpecah-belah menjadi kerajaan kecil. Peperangan
sering terjadi dan barupada abad ke-4 M muncul seorang raja yang berhasil
mempersatukan kerajaan yang terpecahbelah itu. Maka berdirilah Kerajaan Gupta
dengan Candragupta I sebagai rajanya.

7. Kepercayaan
Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau
memujabanyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan
kemakmuran (Dewi Ibu). Masyarakat lembah Sungai Indus juga menyembah
binatang-binatang seperti buaya dangajah serta menyembah pohon seperti pohon
pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkansebagai tanda terima kasih
terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian.

Peradaban lembah sungai Indus diketahui melalui penemuan-penemuan arkeologi di


kota Harappa dan Mohenjodaro. Kota Mohenjodaro diperkirakan sebagai ibu kota
daerah lembah sungai Indus bagian selatan. Dan kota Harappa sebagai Ibu kota
lembah sungai Indus bagian utara. Mohenjodaro dan Harappa merupakan pusat
peradaban bangsa India pada masa lampau.

System kepercayaan masyarakat lembah sungai Indus bersifat politeisme atau


memuja banyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan
kemakmuran. Masyarakat lembah sungai Indus juga menyembah binatang seperti
buaya, gajah, serta menyembah pohon seperti pohon beringin, dan lain-lain.
Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan
yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. Bangsa Arya dan bangsa
Dravida merupakan bangsa yang memiliki ideology keagamaan yang berbeda satu
sama lain, akan tetapi dari kedua ideology agama tersebut, melahirkan suatu agama
persatuan dari keduanya, yakni agama Hindu. Interaksi bangsa Dravida dan bangsa
Arya menghasilkan Agama Hindu.
IV. Kesimpulan

Secara historis, agama Hindu merupakan agama yang berasal dari Negara India.
Agama Hindu juga merupakan salah satu agama yang tertua di dunia. Agama Hindu
dilihat dari sejaraah mulanya, agama ini merupakan hasil persatuan antara
keprcayaan atau agama-agama yang berada di India. Bangsa Dravida merupakan
bangsa yang berasal dari dalam India, akan tetapi setelah datangnya bangsa Arya
yang telah merebut kekuasaan bangsa Dravida pada waktu itu. Bangsa Dravida pun
menghindari dari kecaman bangsa Arya, sehingga bangsa Dravida pergi menuju
pedalaman bahkan bertempat di dataran tinggi India. Interaksi antara keduanya juga
salah satu dari asal-mulanya agama Hindu. Persatuan yang mendesak bangsa
Dravida membuat mereka bercampur dengan bangsa Arya dan melahirkan
kepercayaan yang hingga sekarang ada di dunia, yakni agama Hindu.

5.0 AGAMA SIKH


5.1 Pendahuluan
Sikh adalah bukan yahudi, Aryan, bukan agama Vedik. Walaupun tidak satu
agama utama dunia, ia adalah satu cawangan atau cabang agama Hindu diasaskan
oleh Guru Nanak pada akhir abad ke-15. Ia berasal dari kawasan di Pakistan dan
North West India dipanggil Punjab bermaksud tanah 5 sungai. Guru Nanak
dilahirkan di Kshatriya (pahlawan kasta) keluarga Hindu tetapi telah sangat
dipengaruhi oleh Islam dan umat Islam.
Perkataan 'Sikh' berasal dari perkataan 'Sisya' bermakna murid atau pengikut.
Sikh adalah agama 10 Gurus, Guru yang pertama sebagai Guru Nanak dan ke-10
dan yang terakhir sebagai Guru Gobind Singh. Buku suci Sikh adalah Sri Guru
Granth juga dipanggil Adi Granth Sahib.
5.2 LIMA - 'K'S
Setiap Sikh sepatutnya untuk menjaga lima 'K yang juga bertindak sebagai
identitinya.
(I) Kesh - rambut dipotong; mana semua Gurus disimpan
(Ii) Kangha - sikat; digunakan untuk menjaga rambut yang bersih.
(Iii) Kada - gelang logam atau keluli; untuk kekuatan dan selfrestrain
(Iv) Kirpan - senjata; untuk pertahanan diri
(V) Kaccha - lutut panjang khas seluar dalam untuk ketangkasan

MULMANTRA: - fahaman ASAS Sikh


Definisi terbaik bahawa mana-mana boleh memberi Sikh mengenai konsep Tuhan
dalam agama Sikh adalah memetik "Mantra Mul" - fahaman asas Sikh, yang berlaku
pada awal Guru Granth Sahib.
Ia disebut di Sri Guru Granth Sahib Jilid 1 Japuji, ayat yang pertama
"Tidak wujud tetapi satu Tuhan, yang dipanggil sebenar pencipta, bebas dari
ketakutan dan kebencian, abadi tidak dilahirkan, diri-existant, Besar dan belas
kasihan".Sikh menyuruh kepada umatnya monothiesm ketat. Ia percaya dalam
hanya Satu Tuhan yang Agung adalah, dalam bentuk unmanifest dipanggil 'ek
omkara.

Dalam bentuk yang nyata yang Dia dipanggil sebagai Omkara dan mempunyai
beberapa ciri-ciri seperti:
Kartar - Pencipta
Sahib - The Lord
Akal - Maha Kekal
Sattanama - Nama Suci
Parvardigar - The Tuhan
Rahim - Maha Penyayang
Karim - Maha Ihsan
Beliau juga dikenali sebagai 'Wahe Guru' - Satu-satunya Tuhan yang sebenar.
Selain Sikh yang ketat monoteistik, ia tidak percaya dalam Avataravada - doktrin
penjelmaan. Allah SWT tidak menjelma sendiri dalam apa yang dikenali sebagai
Avatara. Sikh juga kuat terhadap ibadat berhala.

Guru Nanak dipengaruhi oleh Kabir


Guru Nanak telah dipengaruhi oleh kata-kata Sant Kabir sehinggakan beberapa bab
Shri Guru Nanak Sahib mengandungi syair daripada Sant Kabir. Salah satu syair
terkenal Sant Kabir adalah
"Dukh mein Sumirana sabh karein Sukh mein karein na koya Jo Sukh mein
sumirana karein Untuk dukh kaye hoye"
(Semua orang ingat Allah dalam masalah tetapi tiada siapa ingat kepada-Nya dalam
keamanan dan kebahagiaan. Orang yang mengingat Allah dalam keamanan dan
kebahagiaan mengapa dia harus mempunyai masalah?).

5.3 Adat dan Budaya Masyarakat Sikh


Sikhisme atau lebih dikenali sebagai agama sikh adalah sebuah agama monoteistik
yang diasaskan mengikut ajaran Guru Nanak dan Sembilan orang guru lain di
Punjab, India pada abad ke- 15. Agama Sikhisme adalah agama kelima terbesar di
dunia iaitu dengan lebih daripada 23 juta penganut. Sikhisme berasal daripada
perkataan sikh yang dating daripada kata dasar is ya dalam bahasa Sanskrit, yang
bermakna murid atau pelajar atau iks a
yang bermaksud arahan.
1.

Pakaian

Pakaian bagi masyarakat Sikh ialah serban bagi kaum lelaki dan Punjab bagi kaum
wanita. Pemakaian
serban juga ada
beberapa
jenis
ikatan
dan
menggunakan
pelbagai warna. Kain
serban yang sangat
panjang diperlukan
dalam
mengikat
serban kerana perlu
melingkari seluruh
kepala. Jadi, amat
sukar bagi mereka
yang tidak mahir
menggunakannya.
Wanita
pula
kelihatan
ayu
dengan selendang
di kepala dan baju
Punjabi
labuh
dengan
seluar
mengikut
bentuk
kaki. Corak latar
yang
digunakan
pada
pakaian
mereka juga tidak
keterlaluan dengan
warna
terang
menambahkan lagi
kecantikan
wanita
Sikh yang terkenal
dengan hidungnya
yang
mancung.
Pakaian
Punjabi
juga digunakan khas
untuk
majlis
perkahwinan tetapi
dengan corak yang
lebih menarik iaitu
dipenuhi sulaman manik dan benang emas. Itulah antara kelebihan orang Punjabi
kerana kemahiran unik mereka yang terkenal dalam aktiviti menyulam kain dan
sulaman mereka yang berkualiti tinggi.

2.

Kepercayaan

Kepercayaan utama orang Sikh ialah keyakinan dalam WAHEGURU iaitu Tuhan
Universal yang digambarkan menggunakan symbol suci k a kr. Sikhisme
menggalakkan meditasi yang berdisiplin di bawah nama dan mesej Tuhan untuk
memperoleh keselamatan. Agama ini juga menggambarkan Tuhan melalui konsep
yang tidak mengandungi antropomofisme (pemberian sifat manusia kepada dewadewa).

3.

Hari- hari Keagamaan.

Agama Sikh bukan sahaja berbangsa Punjabi malah sesiapa yang mampu
membaca dan memahami isi kandungan Sri Guru Granth Sahib dan mengikuti kod
amalan Sikh boleh menganut agama ini. Upacara masuk agama ini dipanggil Amrit
Sanchaar yang bermula dengan lima khalsa memohon supaya seseorang itu
dimasukkan ke dalam persatuan atau brotherhood khalsa. Selepas itu, mereka
yang ingin memasuki agama ini harus minum air Amrit iaitu sejenis air madu yang
digaul dengan Kirpan. Semasa digaul,kelima- lima khalsa ini akan membaca lima
Banis yang suci iaitu Jap Sahib, Japji Sahib, Tay Prasaad Seveiye, Benti Chaupai
dan Anand Sahib.
Air ini samalah seperti air baptisme dalam agama Kristian. Pertamanya, air dituang
ke telapak tangan kanan dan diminum oleh setiap orang yang masuk agama
ini.Kemudian air direnjis sebanyak lima kali pada mata dan kepala mereka. Akhirnya
setiap calon minum air ini dari mangkuk yang sama sehingga habis.
4.

Adat dan Resam

Mengandung

Ibu mengandung tidak dibenarkan makan buah yang berkembar kerana dikhuatiri
boleh menyebabkan mendapat anak kembar. Mendapat anak kembar bukanlah
suatu pantang larang di dalam masyarakat Sikh tetapi kelahiran anak kembar besar
kemungkinan akan mendatangkan beban kepada sesetengah keluarga terutamanya
keluarga yang susah.
Ibu mengandung juga tidak dibenarkan memegang objek tajam seperti pisau atau
gunting dan tidak boleh memotong apa- apa ketika gerhana matahari. Mengikut
kepercayaan mereka, perbuatan tersebut boleh menyebabkan anak lahir dalam
keadaan calar- balar di muka dan tidak cantik.
Selain itu, terdapat juga persamaan adat resam kaum Sikh dengan Melayu iaitu
sekiranya isteri mengidam sesuatu, suami perlu cuba untuk mendapatkan sesuatu

yang diidam isteri supaya dapat mengelakkan anak yang dilahir terkena tulah
(terkenan) seperti meleleh air liurnya.
Mengikut kepercayaan kaum Sikh, selepas kelahiran sekiranya anak itu tidak
berhenti menangis, keluarganya perlu ke tempat uri ditanam dan dipukul tanah itu
untuk menghentikan tangisan. Hari lahir pula tidak boleh disambut sebelum tarikh
lahirnya, mesti disambut selepas atau pada hari lahirnya kerana ia boleh
menyebabkan pendek umur.
Kelahiran Bayi
Amalan biasa bagi menyambut kelahiran bayi ialah dengan memberi hadiah.
Pemberian nama merupakan upacara penting yang dikenali sebagai Naamkaran.
Bayi yang baru lahir akan diberi nama setelah Granthi membaca Ardas. Kemudian
kitab mereka Sri Guru Granth Sahib akan dibuka secara rambang dan bayi akan
dinamakan mengikut huruf pertama di dalam muka surat tersebut.
Nama akhir atau nama belakang penganut Sikh adalah sama, berbeza hanya
mengikut jantina iaitu Singh bagi lelaki manakal Kaur bagi perempuan. Singh
bermaksud Singa manakala Kaur memberi maksud Puteri. Apabila seseorang
remaja lelaki mencapai umur sebelas hingga enam belas tahun, satu upacara akan
dijalankan iaitu upacara pemakaian serban. Upacara ini dipanggil Dastar Bandhni
lazimnya dilakukan oleh para agama Sikh yang dipanggil Granthi atau ketua
masyarakat.

Perkahwinan
Penganut Sikh dimestikan berkahwin kerana perkahwinan adalah penyatuan dua
roh menjadi satu. Penyatuan ini disamakan dengan penyatuan antara manusia
dengan Tuhan iaitu satu matlamat penting dalam kehidupan setiap penganut Sikh.
Perkahwinan dalam masyarakat Sikh dimestikan kerana cara hidup berkeluarga atau
grihasth asram adalah cara hidup yang paling utama dan semulajadi sifatnya. Bagi
orang Sikh, perkahwinan adalah suci dan mereka percaya pada system monogamy
iaitu tidak berkahwin lebih dari seorang isteri.
Dalam agama mereka, penceraian adalah mustahil dan tidak dibenarkan. Namun
penceraian masih boleh berlaku di mahkamah sivil. Perkahwinan antara individu
yang mempunyai hubungan kekeluargaan atau endogamy dilarang atau tidak
digalakkan. Oleh itu, pemilihan menantu biasanya dibuat oleh ibu bapa masingmasing.
Mengikut adat perkahwinan kaum Sikh, pihak wanita akan mengeluarkan belanja
yang banyak bukan sekadar membayar dowri(hantaran) tetapi juga perlu
menyediakan cincin emas bukan sahaja untuk pengantin lelaki bahkan untuk
ibubapa pengantin lelaki juga. Menjadi kebiasaan keluarga pengantin perempuan

perlu menyediakan set bilik tidur, set sofa dan barang dapur untuk melengkapi
rumah pengantin.
Proses peminangan atau pemilihan jodoh juga bermula dengan pihak perempuan.
Tiada istilah perigi mencari timba kerana adat dalam masyarakat Sikh adalah
perempuan yang meminang lelaki.

5. Kesenian dan Tarian


Kaum Sikh mempunyai pelbagai jenis tarian dan permainan muzik selain turut
menggemari aktiviti permainan tradisional tetapi kebanyakannya berbentuk menguji
kekuatan. Kebanyakan alat muzik yang digunakan dalam masyarakat Sikh secara
asasnya seperti muzik Punjabi yang mana ia menggunakan banyak alat ketukan
iaitu gendang atau rebana yang dikenali sebagai jorri (tabla).
Waja (piano kecil) dan tabla adalah dua alat muzik terpenting dalam masyarakat ini.
Muzik Pujabi berirama rancak dan sarat dengan emosi, menceritakan variasi
perasaan seperti kegembiraan, keceriaan, kesakitan dan semangat mendalam.
Begitu juga dengan kagunya yang turut mempunyai melodi penuh emosi dan
perasaan.
Lazimnya apabila kita melihat tarian dalam filem Hindi, ramai mengaitkannya dengan
bhangra dan realitinya itulah Raja Tarian dalam masyarakat Sikh kerana sehingga
kini ia antara satu daripada tarian yang masih digunakan secara meluas malah
sudah ada yang memodenkan gaya tarian dan irama lagunya seperti yang
digerakkan kumpulan muzik popular kaum Sikh iaitu Goldkartz.
Bhangra membabitkan ramai penari lelaki dan wanita kebiasaannya melebihi enam
orang dengan menggunakan pakaian berlainan warna untuk menaikkan seri dalam
rentak tarian itu yang memerlukan tenaga tinggi penarinya kerana pergerakannya
yang sangat pantah dan lincah.
Jika orang Melayu terkenal dengan joget lambak ketika majlis perkahwinan, begitu
juga masyarakat Sikh yang menjadikan bhangra sebagai tarian bebas yang boleh
disertai sesiapa sahaja apatah lagi tarian itu sendiri tidak mengehadkan pergerakan
dan penarinya bebas melakukan aksi mengikut alunan dhol iaitu gendang atau
rebana.
Kesimpulan.
Kesimpulannya adat resam merupakan lambang atau identiti kepada sesebuah
bangsa atau kaum yang mana perlu dipertahankan dari generasi ke generasi yang
akan datang.